Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- CIA dan Daftar Anggota PKI yang Dihabisi
SETELAH peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi pembunuhan massal terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Jumlah korbannya mencapai ratusan ribu orang. Dan Amerika Serikat berperan dalam memberikan daftar orang-orang komunis itu untuk diburu dan dihabisi. Wartawan Kathy Kadane mengungkapnya untuk pertama kali di washingtonpost.com, 21 Mei 1990. Kepada Kathy, mantan pejabat urusan politik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Robert J. Martens, mengakui memberikan daftar orang-orang PKI, dari tokoh atas hingga kader bawah, kepada tentara Indonesia untuk diburu dan dibunuh. Analis yang berpengalaman dalam soal komunis itu mengepalai kelompok pejabat di kedutaan dari Departemen Luar Negeri dan CIA untuk menyusun daftar itu selama dua tahun. Daftar itu memuat lebih dari 5.000 nama.
- Hatta yang Keras Kepala
HIDUP di Boven Digul pada 1935 merupakan takdir yang tidak bisa dihindari Mohammad Hatta. Ia dan beberapa tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) ditangkap pemerintah Belanda karena aktifitasnya dianggap membahayakan. Bersama Sjahrir, Hatta ditangkap di Batavia pada Februari 1934, dan baru ditempatkan di Tanah Merah setahun kemudian, tepatnya pada 28 Januari 1935. Sebelum ditempatkan di desa, Hatta dan penghuni baru Tanah Merah dipanggil ke kediaman pejabat Belanda yang bertanggung jawab atas Digul, Kapten Van Langen. Ia menerangkan tentang pembagian kelompok masyarakat di tempatnya yang harus dipilih oleh para interniran baru itu. Diceritakan Hatta dalam Mengenang Sjahrir, di Digul masyarakatnya terbagi menjadi dua: golongan yang bekerja sama dengan pemerintah (werkwillig), dan golongan yang enggan membantu pemerintah (naturalis). Orang-orang werkwillig setiap bulannya akan diberi ransum berupa beras, kacang hijau, teh, minyak kelapa, dan kebutuhan pokok lainnya. Mereka juga diberi upah 40 sen sehari. Para werkwillig ini bahkan dijanjikan kembali ke tempat asalnya, dalam kondisi tertentu. Sementara kelompok naturalis saban bulan hanya mendapat ransum saja. Mereka juga harus melakukan pekerjaan kasar, seperti mencangkul, menggali selokan, dan pekerjaan lain yang serupa. Para naturalis ini diyakini akan hidup selamanya di tanah Digul. “Tuan pilihlah, ke dalam golongan mana tuan akan masuk,” tanya Van Langen kepada Hatta. “Masukkan saja aku ke dalam golongan naturalis. Jikalau aku kiranya mau masuk golongan werkwillig, dahulu di Jakarta aku sudah memilihnya. Berbagai jabatan sudah ditawarkan pemerintah kepadaku. Aku tentu sudah menjadi tuan besar dan tak perlu aku datang ke Digul untuk menjadi kuli upah 40 sen sehari. Aku tetap sebagai nonkooperator,” tegas Hatta. “Buat tuan diadakan kerja kantor. Tuan tidak akan mengerjakan pekerjaan kuli. Apabila tuan memilih golongan naturalis, tuan akan tetap tinggal di Digul ini. Tidak akan dikembalikan ke daerah asal tuan,” ucap Van Langen. “Itu pendapat tuan. Menurut pendapatku tidak ada yang tetap di dunia ini. Semuanya dalam perubahan, apa yang tidak bisa sekarang, di kemudian hari bisa terjadi. Sebab itu aku tetap pada pendirianku,” kata Hatta. Van Langen yang tahu betul kemampuan Hatta tidak ingin membiarkannya begitu saja. Ia ingin tokoh PNI itu ada di pemerintahannya, mengatur tempat pembuangan itu bersama. Akhirnya Van Langen mempersilahkan Hatta beristirahat. Dan memintanya kembali esok hari, berharap mendapat jawaban yang berbeda dari Hatta. “Baiklah jangan tuan ambil keputusan hari ini. Pikirkanlah semalam apa yang kukatakan ini. Tuan kembali besok pagi,” ucapnya. Setelah Hatta meninggalkan ruangan, kawan-kawan yang lain bergiliran masuk mengahadap Van Langen. Termasuk Sjahrir, para buangan itu memilih masuk golongan naturalis. Mereka tetap pada pendiriannya sebagai golongan nonkooperator. Keesokan harinya Hatta kembali menemui Van Langen. Ia datang masih dengan pendirian yang sama: tidak bersedia membantu pemerintah. Pejabat Belanda itu menyayangkan sikap Hatta yang begitu keras kepala. Menurutnya Hatta tidak memikirkan matang-matang masa depannya di Digul karena bisa saja ia tinggal selama-lamanya di Tanah Merah itu. “Percayalah aku tidak akan tinggal selama-lamanya, karena dunia berubah senantiasa,” kata Hatta sambil melangkah ke luar ruangan itu. Sewaktu Hatta sampai di mulut pintu, Van Langen kembali melayangkan tawarannya: “Aku harap tuan nanti mengubah pendirian tuan.” Sambil berlalu Hatta hanya memberi senyum. Pada Juli 1935, enam bulan sejak Hatta menolak Van Lagen, tawaran untuk mengabdi kepada Belanda kembali datang. Kali ini melalui Residen Haga dari Ambon, yang kebetulan akan mengunjungi Digul dalam tugasnya meninjau seluruh daerah kekuasaannya. Waktu itu Van Lagen sudah tidak memerintah, tugasnya digantikan oleh Kapten Wiarda. Ketika Residen Haga sampai di Digul, diperintahkannya kepada Wiarda supaya Hatta dan Sjahrir datang menghadapnya. Setelah sampai, Hatta dipersilahkan masuk terlebih dahulu. Di dalam ruangan sudah menunggu Residen Haga dan seorang pendampingnya. Percakapan dibuka dengan menanyakan kabar kesehatan Hatta. “Aku mengerti tuan berusaha hidup dari karangan-karangan tuan dalam surat kabar. Berhubung dengan itu, pemerintah bersedia membantu memenuhi keperluan tuan membayar porto pos. Saban bulan juga tuan akan menerima f 7.50,” ucap Haga. “Apa artinya tiga ringgit itu bagiku, tidak besar bedanya dengan harga makanan yang kuterima saban bulan. Kalau aku diberi bantuan di atas jumlah biasa yang diberikan di sini untuk orang interniran, kenapa aku tidak diberi bantuan sebanyak bantuan yang diberika kepada kaum intelektual yang diinternir di tempat lain seperti Dr. Tjipto dan Mr. Iwa di Banda Neira atau Ir. Sukarno di Endeh?” kata Hatta. Residen Haga lalu menerangkan jika setiap daerah memiliki kebijakan yang berbeda terkait para interniran, terutama persoalan pendapatan yang mereka terima setiap bulan. Itulah mengapa selama masih berstatus tahanan Digul, Hatta tidak mungkin mendapat upah sebesar kawan-kawannya di tempat lain. “Kalau begitu, biarlah aku menerima bantuan hidup menurut rezim yang berlaku di sini. Bantuan f 7.50 itu untuk ongkos pos mengirim karangan-karanganku tidak perlu tuan berikan,” tegas Hatta. Sesaat Residen Haga terdiam. Ia kemudian meminta Hatta memikirkan tawarannya itu, tidak perlu menjawab terburu-buru. “Betapapun juga baiklah tuan pikirkan semalam, besok pagi tuan datang kembali memberikan jawaban yang terakhir,” ucapnya. “Baiklah, izinkan aku kembali ke kampung pembuangan,” kata Hatta. Setelah berjabat tangan, Hatta pun pamit undur diri. Lalu giliran Sjahrir yang diminta masuk. Sekitar 15 menit berada di dalam, Sjahrir keluar. Sambil berjalan ke tempat tinggal, Hatta menceritakan percakapannya dengan Haga. Ternyata Sjahrir pun diberi tawaran yang sama dan ia juga diminta memberi jawaban keesokan harinya. Esok paginya, Hatta dan Sjahrir kembali ke kantor pemerintahan menemui Residen Haga. Hatta diterima terlebih dahulu. Di dalam, Hatta menegaskan kalau dirinya tetap pada pendirian dan menyesal tidak dapat menerima bantuan pemerintah tersebut. Waktu Hatta keluar, Sjahrir diminta untuk masuk. Sekira 10 menit ia berada di dalam. Tatkala sudah keluar, Sjahrir mengatakan kepada Hatta bahwa dirinya terpaksa menerima bantuan dari pemerintah itu. Selama berada di Digul, dia tidak memiliki pendapatan sepeserpun untuk menafkahi istrinya di Belanda. Hatta dapat memaklumi keputusan Sjahrir. Namun beberapa kawan di Tanah Merah mencela tindakan Sjahrir tersebut. Dia dituduh telah menyerah kepada pemerintah Belanda. Hatta tidak tinggal diam. Ia meyakinkan semua orang bahwa Sjahrir bukan meminta, tetapi hanya menerima dan memang keadaan yang memaksanya melakukan hal itu. Beberapa waktu kemudian, cela-celaan kepada Sjahrir tidak terdengar lagi. “Di Digul aku selalu berpesan kepada kawan-kawan yang dibuang ke sana, yang lama dan yang baru, supaya menjaga kesehatan pikiran dan perasaan, jangan terganggu apa-apa, tetap menerima segalanya dengan hati yang tenang,” kata Hatta.
- Mengokohkan Balet Nasional Indonesia
THE Little Ballet Group, grup balet pertama Indonesia, berhasil menggelar pertunjukan perdananya pada 24 Agustus 1959. Grup ini terdiri dari pebalet Indonesia: Farida Oetoyo, Julianti Parani, Jimmy Tan, Louise Pandelaki, dan Wim Roemers. Hampir semuanya berusia 20-an tahun. Kecuali seorang bernama Nyonya Leska Ong.
- Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang
Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris, sempat mampir ke Mojokerto dalam ekspedisinya di Kepulauan Nusantara. Di sana ia menginap di rumah Mr. Ball, lelaki Inggris yang telah lama tinggal di Jawa. Oleh kenalan barunya itu, Wallace diantarkan ke Desa Mojoagung. Dalam perjalanan mereka berhenti untuk mengamati puing-puing kota kuno Majapahit. Sampai di rumah seorang wedana atau kepala distrik Mojoagung, ia melihat sebuah relief dewi yang terpajang. Relief pada batu andesit itu tingginya tak sampai perut orang dewasa. Tadinya, panil batu itu terkubur di suatu tempat dekat Mojoagung. Wallace mengaguminya. Ketertarikannya itu sampai terlihat di ekspresi wajahnya. Ball pun memintakan relief itu untuknya. "Senang sekali ternyata wedana itu langsung memberikan," kata Wallace. Sosok perempuan dalam relief itu adalah Durga Mahisasuramardini. Ia memiliki delapan tangan dan berdiri di atas punggung seekor mahisa (kerbau). Salah satu tangan kanannya menarik ekor mahisa. Sementara tangan kirinya menjambak rambut asura (raksasa) yang keluar dari kepala mahisa. Tangan lainnya memegang bermacam-macam senjata. "Dewi ini sangat dipuja oleh orang-orang Jawa masa lampau sehingga patungnya sering ditemukan di puing candi-candi yang terdapat di bagian timur Pulau Jawa," lanjut Wallace. Keesokannya, relief yang didapat Wallace secara cuma-cuma itu dikirim ke Mojokerto. "Akan saya bawa nanti kembali ke Surabaya," ujar Wallace. Kisah Wallace mendapatkan cenderamata berupa temuan arkeologis itu dicatat dalam karyanya, The Malay Archipelago yang terbit pada 1869. Perilakunya tak begitu mengejutkan. Kala itu, artefak dari Nusantara memang biasa dijadikan cenderamata, hadiah, bahkan hiasan taman di kediaman para pejabat kolonial. Maka tak mengherankan kalau di antaranya kini terpajang cantik di museum-museum di negeri orang. Dibanding Wallace, masih ada yang lebih parah. Ia adalah Frederik Coyett, orang Eropa pertama yang mengunjungi Borobudur pada 1733. Ia tertarik pada relief dan arca Buddha di candi itu. Ia pun membawa beberapa arca ke Batavia. Menurut Jean Gelman Taylor, sejarawan dari University of New South Wales, Australia dalam “Visual History a Neglected Resource for the Longue Durée”, termuat di Environment, Trade and Society in Southeast Asia a Longue Durée Perspective, oleh-oleh arca itu oleh Coyett kemudian ditempatkan di taman villa yang ia bangun sesaat sebelum kematiannya pada 1736. “Kemudian tanah miliknya pindah kepemilikan kepada komunitas Tionghoa Batavia yang juga tertarik pada arca Buddha, mengubah tempat tinggal Coyett menjadi Kuil Cina dan tanah pemakaman yang dikenal sebagai Klenteng Sentiong,” jelas Taylor. Ada lagi Nicolaus Englehard, gubernur pantai timur laut Jawa pada 1801-1808. Setelah sempat melakukan perjalanan ke tiga situs kuno di Yogyakarta: Candi Prambanan, Kota Gede, dan Pesanggrahan Gembirowati, tiba-tiba minat Englehard terhadap tinggalan purbakala tersulut. Begitulah kata sejarawan asal Belanda, Marieke Blombergen dan Martijn Eickhoff dalam “A Wind of Change on Java’s Ruined Temples: Archaeological Activities, Imperial Circuits and Heritage Awareness in Java and the Netherlands (1800-1850)” termuat di BMGN - Low Countries Historical Review (2013). Englehard pun mengisi tahun-tahun berikutnya dengan berbagai “kegiatan arkeologis” lainnya. Contohnya pada 1804, ia mulai mengumpulkan arca-arca kuno di Jawa untuk dipajang di kediamannya, "De Vrijheid", di Semarang. Di antara arca-arca itu ada yang berasal dari Candi Singasari di Malang. Kebetulan, Englehard baru menemukan kembali candi dari abad ke-13 itu setahun sebelumnya. Menurut Ann R. Kinney dalam Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java dari candi yang diyakini sebagai pendharmaan Raja Kertanegara itu,ada enam arca utama yang dibawa Englehard. “(Arca-arca itu, red.) akhirnya membentuk inti dari koleksi seni Indonesia di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden,” jelasnya. “Selama abad ke-19, arca-arca lainnya terus dipindahkan ke Holland atau Batavia, atau diberikan kepada pejabat tinggi yang berkunjung.” Nasib artefak sebagai buah tangan berlanjut pada masa kedudukan Inggris di Jawa. Bahkan menurut Peter Carey, sejarawan asal Inggris, mereka adalah pencuri aset Indonesia nomor wahid. Setidaknya ada dua benda cagar budaya penting asal Indonesia yang kini nasibnya masih di negeri orang karena dibawa oleh Sir Stamford Raffles. Prasasti Sanguran atau dikenal dengan Minto Stone sudah lebih dari 200 tahun berdiri di halaman belakang rumah keluarga Lord Minto dalam keadaan tertutup lumut dan lapuk. Padahal prasasti dari 982 M ini memuat catatan pemberian status sima oleh raja Medang di Jawa Tengah, Dyah Wawa kepada Desa Sanguran, yang mungkin letaknya di sekitar Malang sekarang. Dari tempat ditemukannya di Malang, Prasasti Sanguran dikirim ke Kolkatapada April 1813. Menurut sejarawan asal Inggris, Hadi Sidomulyo (Nigel Bullogh) dan Peter Carey dalam “The Kolkata (Calcutta) Stone” termuat di Jurnal The Newsletter (2016) terbitan International Institute for Asian Studies, prasasti ini dimaksudkan sebagai hadiah dari Raffles kepada pelindungnya, Gubernur Jenderal India, Lord Minto. Minto yang mengakhiri masa jabatannya pada Desember tahun itu, membawanya pulang ke Skotlandia. Prasasti itu kemudian diletakkan di tanah leluhurnya di Roxburghshire. “Paling tidak, itu menunjukkan Minto menghargai barang itu dan bersusah payah memilikinya, diangkut ke tanah miliknya di Skotlandia, meskipun beratnya lebih dari tiga ton,” kata Hadi. Beda nasibnya dengan Prasasti Pucangan atau yang dikenal dengan Calcutta Stone. Kini, kata Hadi, ia tersimpan tak terawatt di Museum India. Padahal Prasasti Pucangan yang berasal dari 1041 M itu unik karena satu-satunya yang menyimpan catatan kronologis tentang pencapaian Airlangga, penguasa di Kahuripan, disertai silsilahnya sebagai pewaris keluarga raja yang sah. “Kolkata Stone, di sisi lain, disimpan di Museum India di mana sekarang hampir dilupakan, mengalami degradasi karena keingintahuan kecil, terperangkap di gudang museum asing seolah-olah akibat kecelakaan historis,” catat Hadi. Menurut Hadi, tak jelas bagaimana dan kapan Prasasti Pucangan menemukan jalannya ke Kolkata. “Yang kita tahu, bahwa itu adalah salah satu dari dua prasasti batu Jawa yang penting, yang dikirim ke India selama periode pemerintahan Raffles,” jelasnya lagi. Kemungkinan, Mackenzie menemukannya ketika bertamasya ke wilayah Mojokerto sekarang pada Maret 1812. Lalu ia membawanya ke Surabaya melalui sungai Kali Mas. "Rincian pengirimannya ke Kolkata belum diketahui, tetapi prasasti itu cukup masuk akal berada di antara barang-barang yang menemani Mackenzie sekembalinya ke India pada Juli 1813," kata Hadi. Arca Prajnaparamita atau dikenal dengan Arca Ken Dedes. Kini menjadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. (Wikipedia). Jadi Koleksi Museum Luar Negeri Belum lagi cerita Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) yang membawa pulang sembilan gerobak penuh arca dan karya seni Jawa Kuno, sebagai ganti patung gajah yang sekarang terpajang di halaman depan Museum Nasional, Jakarta. Pada 1896, baginda berkunjung ke Jawa. Ia meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membawa pulang arca-arca itu. Dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, John Miksic, arkeolog University of Singapore, mengungkapkan oleh-oleh yang diminta sang raja itu termasuk 30 relief, lima arca Buddha dan dua arca singa dari Candi Borobudur, beberapa langgam Kala yang biasanya ada di bagian atas pintu masuk candi, serta arca Dwarapala yang merupakan temuan dari Bukit Dagi, yaitu bukit yang berada sekira beberapa ratus meter di barat laut Candi Borobudur. Namun setidaknya, benda-benda ini masih bernasib baik. Sofwan Noerwidi, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam "Ganesa Pemimpin Para Gana: Dua Arca Ganesa Singasari Koleksi Museum di Negeri Orang", termuat dalam Arca: Sepilihan Teks dan Foto tentang Seni Arca Klasik mengatakan satu paket arca Buddha dari Borobudur itu kini diletakkan di kuil Wat Phra Kaeo, di dalam kompleks istana. Sementara di Museum Nasional Bangkok tersimpan pula koleksi arca dan relief dari Prambanan, Plaosan, dan Jawa Timur. "Di museum inilah kita temukan kembaran arca Ganesha Singasari di Leiden yang ditempatkan di tengah-tengah Java Room, dan dilengkapi dengan altar yang nampaknya digunakan oleh sebagian pengunjung," jelasnya. Museum di Leiden, atau namanya Rijksmuseum Volkenkunde sudah lama diketahui menyimpan banyak harta karun Singhasari. Di sana terpajang cantik arca Brahma, Nandi, Durga, Ganesha, Bhairawa, Mahakala, dan Nandiswara dari Singhasari. "Karena itu, jika kita ke Candi Singasari, kita hanya akan menemukan arca Agastya di bilik selatan, fragmen arca Dewa Candra dan Surya, serta arca Dewi Parwati yang belum selesai di pelataran candinya," kata Sofwan. Yang mungkin bernasib lebih menggembirakan lagi adalah di antara mereka yang kemudian berhasil kembali ke tanah air. Misalnya, keropak Negarakrtagama yang hanya ada satu-satunya di dunia. Lontar ini, kata arkeolog Nunus Supardi, dalam "Ken Dedes Pulang Kampung" termuat di Jurnal Prajnaparamita (2016), dirampas dari Puri Cakraningrat, Lombok, ketika Belanda menyerbu puri itu. Pada 1972, keropak Negarakrtagama resmi diizinkan pulang kampung. Sekarang ia disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ada juga arca Prajnaparamita. Konon, arca yang dikenal sebagai arca Ken Dedes ini berasal dari Candi Cungkup Putri yang lokasinya tak jauh dari Candi Singasari. Sebelum akhirnya kembali ke tanah air, dan menjadi koleksi masterpiece di Museum Nasional, Jakarta, arca Ken Dedes juga pernah menjadi penghuni Rijksmuseum Volkenkunde. Nunus menjelaskan Ken Dedes ditemukan pada 1819 oleh D. Monnereau, seorang pegawai Belanda di dekat Singhasari. Arca itu kemudian diserahkan kepada C.G.C. Reinwardt pada 1820, lalu dibawanya ke Belanda. "105 tahun kemudian, pada 1975 Ken Dede bisa dibawa pulang kembali ke tanah air," kata Nunus. Pada awal tahun 2020, sebanyak 1.500 benda bersejarah yang sebelumnya ada di Museum Nusantara di Kota Delft, Belanda, dipulangkan ke Indonesia melalui proses repatriasi. Dulunya koleksi itu merupakan barang-barang dari Indonesia yang dibawa ke Belanda pada masa kolonial.
- Kegagalan Kepala Stasiun CIA di Jakarta
DALAM rapat mingguan di Gedung Putih pada empat bulan pertama tahun 1957, Direktur CIA Allen Dulles, membawa catatan-catatan ringkas dari telegram yang dikirimkan kepala stasiun CIA di Jakarta. Inti dari pesan telegram itu bernada memanas-manasi: “Situasi kritis… Sukarno seorang komunis terselubung… Kirimkan senjata.”
- Hidup di Kawasan Rawan Banjir
Memasuki tahun 2020, banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Genangan air sempat melumpuhkan berbagai akses jalan dan fasilitas umum, termasuk merendam rel dan landasan bandara. Ini bukan pertama kalinya banjir merendam Jakarta. Menurut Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, selama air dibiarkan masuk dari selatan ke Jakarta tanpa pengendalian di wilayah selatan, banjir akan terus terjadi. "Apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan airnya," kata Anies seusai memantau banjir melalui helikopter dari kawasan Monas. Anies pun mengapresiasi pembangunan dua bendungan di Bogor, Jawa Barat, untuk mengendalikan air masuk ke Jakarta. Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi tengah dibangun Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dua bendungan ini diprediksi rampung pada 2020. "Kuncinya ada di pengendalian air sebelum masuk ke kawasan pesisir," tegas Anies. Seorang anak membawa bonekanya melewati banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Kerugian besar akibat banjir pernah dirasakan Raja Airlangga, penguasa Kahuripan pada 1019-1042, dan rakyatnya. Lewat Prasasti Kamalagyan yang ia keluarkan pada 1037, diketahui kalau Bengawan (Sungai Brantas) sering menjebol tanggul di Waringin Sapta. Luapannya pernah membawa banyak dampak kerugian. "…demikianlah banyaknya tanah pertanian yang sawah-sawahnya tertahan dan terkena (hasil buminya) oleh sungai kecil yang akhirnya menjadi bengawan menerobos di…," catat prasasti itu. "…Waringin Sapta, sehingga kuranglah milik raja dan binasalah sawah-sawahnya." Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia dalam Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI, menjelaskan sungai yang meluap itu tiba-tiba mengalir ke timur. Karenanya tanaman-tanaman rusak. Lalu lintas sungai serta hubungan dengan negeri Janggala dan laut pun terputus. Akibatnya, tak hanya di sektor pertanian karena sawah-sawah warga yang terendam. Tapi juga perdagangan dan agama. "Khususnya perdagangan yang menggunakan aliran Sungai Brantas sebagai jalur perdagangannya," jelas Ninie. Begitu pula nasibnya dengan desa-desa, bangunan-bangunan suci dan pertapaan-pertapaan. Berdasarkan prasasti itu, epigraf Boechari dalam "Perbanditan di Jawa Kuno", termuat di Melacak Sejarah Kuno Lewat Prasasti, menjelaskan desa-desa yang terdampak berada di sebelah hilir, yaitu desa-desa Lasun, Palinjuwan, Sijanatyasan, Panjigantin, Talan, Dasapangkah, dan Pangkaja. Berikut juga semua jenis sima, terutama di antaranya adalah sima bagi Sang Hyang Dharma di Isanabhawana yang bernama Surapura. "Desa dan sima itulah yang selalu ditimpa banjir dan terendam sawah-sawahnya jika Bengawan (Brantas) meluap di Waringin Sapta. Akibatnya sawah hancur. Pemasukan pajak pun berkurang," katanya. Bukan tak tahu risikonya, kata Ninie, Airlangga memang sengaja memindahkan pusat kerajaannya lebih ke pedalaman yang dekat dengan aliran Sungai Brantas. Prasasti Kamalagyan menyebutkan pusat kerajaan berada di Kahuripan. Kemungkinan letaknya di wilayah Mojokerto sekarang. Sebelumnya pusat kerajaan ada di Wwatanmas. Alasan pindahnya karena Airlangga ingin memajukan pertanian sawah sekaligus menghidupkan kembali pelabuhan perdagangan regional dan lokal. "Delta Sungai Brantas adalah daerah yang sangat potensial dengan tingkat kesuburan tinggi untuk mengembangkan pertanian," kata Ninie. Airlangga juga ingin menghidupkan pelabuhan-pelabuhan di tepi sungai di wilayah pedalaman. Fungsi pelabuhan ini untuk mengumpulkan hasil pertanian sebelum dibawa ke pelabuhan yang lebih besar. Warga membawa barang-barang melewati banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Melihat pusat kerajaannya yang baru rawan banjir Airlangga pun mengambil dua cara: membangun bendungan yang menahan air banjir dari Kali Brantas dan memecah aliran sungai menjadi beberapa cabang. Menurut prasasti yang ditemukan di Klagen, Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur itu, Sungai Brantas tak hanya sudah ditambak sekali atau dua kali. Tapi masih saja jebol. "Tak hanya sekali dua kali penduduk Waringin Sapta membuat tanggul luapan bengawan. Tapi tak pernah berhasil," kata Boechari. Karenanya raja turun tangan. Airlangga memerintahkan semua penduduk untuk bekerja bakti membangun bendungan. Ketika selesai, luapan air terhenti. Aliran bengawan dipecah menjadi tiga, mengalir ke utara. Itu sesuai dengan pernyataan dalam prasasti. "Sempurna dan kuat dan jalan air yang menerobos sudah tertutup, sungai bengawan bercabang tiga arusnya dan mengalir ke arah utara," catat keterangan dalam Prasasti Kamalagyan. Jika benar Kahuripan di wilayah Mojokerto sekarang, di tempat ini sekarang Sungai Brantas membelah menjadi dua. Lewat Kali Porong, air mengalir ke timur. Semetara lewat Kali Mas, air mengalir ke utara. Tetapi tak berhenti di situ. Raja memikirkan pula pemeliharaan bendungan selanjutnya. Ia menyadari banyaknya orang yang berniat menghancurkannya. "Karena bendungan itu tak dapat ditinggikan maka hendaknya ia dijaga," jelas Boechari. Untuk itulah penduduk Desa Kamalagyan diperintahkan untuk bertempat tinggal di tepi bangunan di Waringin Sapta. Tugas mereka mengawasi semua orang yang hendak mengancam keselamatan bendungan itu. Sebagai gantinya, raja menjadikan Desa Kamalagyan sebagai desa perdikan (sima). Artinya raja mengurangi beberapa macam pajak yang harus diserahkan kepadanya. Hasil dari sima digunakan untuk kepentingan peneliharaan bendungan di Waringin Sapta. Menurut Boechari, tugas menjaga bendungan itu lebih untuk menghindari dari tindakan sabotase. Rupanya pada masa itu tak banyak yang mendukung pemerintahan Airlangga. "Karena ia anak raja Bali, sekalipun ibunya keturunan Isana. Mereka tahu bahwa ada orang yang lebih berhak atas takhta kerajaan, yaitu anak Dharmawangsa Tguh, yang mungkin masih bayi atau masih dalam kadungan," jelas Boechari. Kendati begitu, berkat bendungan itu penduduk desa bersuka cita karena dapat mengolah kembali sawahnya. Para pedagang juga dapat berperahu dari hulu sungai untuk mengambil dagangan ke Hujung Galuh, tempat transaksi para pedagang dan nakhoda dari pulau lain. "Sehingga sukalah hati orang yang berlayar menuju ke hulu, setelah mengambil muatan di Hujung Galuh…" catat Prasasti Kamalagyan. "Penduduk desa yang sawahnya kebanjiran dan hancur amat bersenang hati sekarang, karena sawah mereka dapat dikerjakan kembali."
- Umi Sardjono, Pendulum Gerwani
Pernah mengetuai organisasi wanita terbesar di Indonesia.
- Operasi Rahasia CIA Paling Sukses di Indonesia
KONFLIK memperebutkan Irian Barat mendorong Indonesia untuk meningkatkan kemampuan militernya. Awalnya, Indonesia akan membeli alutsista ke Amerika Serikat. Namun, Amerika Serikat tak mau menjual alutsista kepada Indonesia karena terikat persekutuan dengan Belanda dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
- Tahun Baru, Ibukota Pindah Yogyakarta
Bulan-bulan terakhir 1945, Ibukota Jakarta tak aman karena rongrongan tentara Belanda. Yogyakarta Menjadi Ibukota baru, tak lama setelah tahun baru 1946.
- Belanda Kembalikan Ribuan Benda Bersejarah
Pada 20 November 2019 yang lalu sebanyak 1.499 benda seni dan bersejarah koleksi Museum Nusantara, Delft, Belanda diangkut menggunakan kapal laut dari pelabuhan Rotterdam, Belanda menuju pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pemulangan tersebut merupakan hasil kesepakatan pemerintah Belanda dengan pemerintah Indonesia yang prosesnya telah dimulai sejak 2015. Sebulan kemudian, pada 24 Desember, benda-benda hasil repatriasi Belanda ke Indonesia tersebut tiba di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Sebelum 1499 benda tersebut tiba di tanah air, sebilah keris Bugis telah diserahkan terlebih dahulu oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte kepada Presiden Joko Widodo dalam kunjungan resminya ke Indonesia 23 November 2016 yang lalu. Keris tersebut menggenapi jumlah benda-benda seni dan bersejarah yang dikembalikan menjadi 1500. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hilmar Farid dalam konferensi pers di Museum Nasional, Kamis, 2 Januari 2020, menyebut repatriasi kali ini merupakan yang terbesar dan bersejarah. 1499 benda koleksi Museum Nusantara, Belanda telah sampai di Museum Nasional 24 Desember 2019 lalu. (Fernando Randy/Historia). “Sebanyak itu, sejumlah 1500 ini untuk pertama kalinya dalam sejarah kita. Jadi ini momen yang sangat bersejarah dan kita ingin membagi kepada publik momen bersejarah ini,” ungkapnya. Hilmar berharap repatriasi kali ini juga bisa membuka jalan bagi pengembalian sejumlah benda di museum-museum lain di Eropa. Pasalnya, di Eropa juga sedang ramai dengan wacana pengembalian koleksi-koleksi museum yang diperoleh secara tidak sah. Hilmar juga menegaskan bahwa repatriasi ini, "bukan semata-mata mengembalikan (benda koleksi). Persoalan kita (untuk) memperluas akses publik." Museum Nusantara di Delft sendiri merupakan tempat penyimpanan benda-benda seni dan bersejarah yang berasal dari kepulauan Nusantara. Benda-benda tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi para calon birokrat Belanda yang akan dikirim ke Hindia Belanda pada masa kolonial. Pada masa itu, orang-orang yang kembali dari Hindia Belanda membawa benda-benda tersebut dan diberikan kepada museum. Namun, sebagian juga ada yang menjadi koleksi pribadi. Sebagian koleksi belum lengkap datanya sehingga memerlukan kajian lebih lanjut. (Fernando Randy/Historia). Tidak semua koleksi dari Museum Nusantara adalah rampasan perang maupun hasil jarahan. Sebagian koleksi merupakan hasil pemberian secara sukarela maupun dibeli atas kesepakatan yang sah. Pada 2013 ketika Eropa dilanda krisis ekonomi, sebagai langkah penghematan, museum yang telah berdiri sejak 1911 itu terpaksa tutup. “(Untuk) koleksinya, pilihanya kemudian apakah dijual, atau dikasih ke museum lain, atau dikembalikan ke Indonesia. Nah kita adalah salah satu opsi tersebut. Dan kita yang secara aktif menyambut tawaran itu,“ ujar Hilmar Farid. Namun, tidak semua koleksi dari Museum Nusantara dikembalikan ke Indonesia. Banyak pula koleksi yang sudah rusak dan tidak sesuai dengan kebutuhan Museum Nasional. “Banyak yang rusak, banyak yang tidak lengkap, itu memang tidak kita pilih. Berdasarkan pertimbangan konservasi, kemudian storyline, kita butuhkan itu. Dari semula 11.000 yang ditargetkan akhirnya sepakat dengan 1500 tadi dengan kondisi yang baik,” jelas Gunawan, Kepala Seksi Registrasi Museum Nasional. Kepala Bidang Pengkajian dan Pengumpulan, Nusi Lisabila Estudiantin, menyebut nantinya benda-benda tersebut akan diklasifikasikan dalam tujuh kelompok yakni prasejarah, etnografi, arkeologi, numismatik dan heraldik, geografi, keramik dan sejarah. Koleksi-koleksi yang dikembalikan telah dipilih sesuai kebutuhan Museum Nasional. (Fernando Randy/Historia). Koleksi tekstil menjadi yang paling banyak jumlahnya. Disusul wayang kulit dan wayang golek, mata uang, litografi, foto, perhiasan, dan senjata. Terdapat pula beberapa model perahu, model rumah adat hingga figurine abad 13 hingga 14 dari Kerajaaan Majapahit. Dari semua koleksi, sebuah kapak berusia sekitar 5000-1000 sebelum masehi (SM) yang berasal dari Kalimantan menjadi koleksi tertua. Sementara koleksi paling muda berasal dari tahun 1940-an. Sebagian koleksi belum memiliki data asal usulnya secara rinci. “Banyak koleksi yang belum jelas provenance-nya (asal usulnya). Perlu kajian khusus untuk memperdalam informasi koleksi itu sendiri,” jelas Nusi. Seluruh koleksi baru ini ditaksir bernilai 1,1 juta Euro atau sekitar 17 milyar Rupiah. Namun nilai ini bukan dalam konteks kepentingan jual beli melainkan untuk memastikan nilai dari asuransi yang harus dikenakan. Untuk menyambut koleksi-koleksi baru ini, Museum Nasional telah menyiapkan gedung baru yang akan menjadi storage Museum Nasional di belakang Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Beberapa koleksi memerlukan perawatan khusus agar tidak rusak karena perbedaan iklim. (Fernando Randy/Historia). “Nanti akan ada untuk pelatihan konservasi, sekolah konservasi, untuk museum-museum di Indonesia dari sana. Semacam workshop,” ujar Siswanto, Kepala Museum Nasional. Museum Nasional juga mengupayakan agar koleksi-koleksi baru ini bisa beradaptasi dengan perbedaan suhu di Eropa dan Indonesia dengan mengatur iklim mikro tempat penyimpanan. “Benda-benda yang selama ini berada di iklim Eropa (supaya) bisa kembali beradaptasi dengan iklim tropis meskipun sebenarnya awalnya dari sini,” sebut Ita Yulita, Kepala Bidang Perawatan dan Pengawetan. Setelah dilakukan kajian konten dan kajian konservasi, Museum Nasional akan menggelar pameran untuk koleksi-koleksi baru ini pada Juni mendatang.
- Petualangan Jurnalis Bernama Gadis
SABTU, 18 September 1948. Insiden Madiun meletus. Pemerintah Sukarno-Hatta menugaskan Divisi Siliwangi untuk secepatnya menangani gerakan yang dipelopori oleh Moeso, Amir Syarifudin, Soemarsono dan tokoh-tokoh kiri lainnya. Bergeraklah batalyon-batalyon Siliwangi yang ada di bawah komando Brigade II pimpinan Letnan Kolonel Sadikin menuju Madiun. Salah satu batalyon itu adalah Yon Kian Santang pimpinan Mayor Sambas Atmadinata. Menurut Himawan Soetanto dalam Perintah Presiden Sukarno: Rebut Kembali Madiun!, pasukan itu bergerak melalui Tawangmangu dengan menggunakan puluhan truk. Di antara prajurit-prajurit yang siap bertempur itu, terseliplah seorang perempuan muda bernama Gadis Rasid, jurnalis dari tabloid Mingguan Siasat. “Ia adalah pemberani; sebagai seorang wanita kadang-kadang turut dengan pasukan terdepan, berjalan kaki sehingga menghabiskan telapak sepatunya,” ujar Mayor Sambas seperti dikutip oleh A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid VIII: Pemberontakan PKI 1948. Menurut Sambas, Gadis adalah saksi satu-satunya dari kalangan sipil yang mengalami secara langsung pertempuran-pertempuran seru antara pasukan Siliwangi dengan Tentara Merah (sebutan untuk pasukan-pasukan yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat). Sebagai jurnalis yang melekat (embedded), dia tahu bagaimana baik-buruknya operasi penumpasan. Termasuk harus menyaksikan berbagai pembantaian demi pembantaian akibat perang saudara itu. Salah satu “kegilaan perang” yang tak pernah dia lupakan adalah saat dirinya ikut bergerak memasuki sebuah kampung di Madiun bernama Gorang-Gareng. Ceritanya, saat memasuki pertengahan kampung mendekati sebuah pabrik gula, tetiba Gadis dikejutkan oleh teriakan seorang prajurit di depannya. “Tolong! Tolong! Palang Merah harap segera datang!” ujarnya. Bukannya merasa gentar, mendengar teriakan itu, Gadis malah bergegas mengikuti para petugas Palang Merah menuju komplek perumahan pabrik gula sesuai petunjuk sang prajurit. Nampaklah sebuah rumah yang terlihat lenggang. “Tuh lihatlah. Maaf saya harus jalan terus,” kata si prajurit. Seperti dikisahkan Gadis dalam majalah Kartini edisi 11-24 Februari 1985, begitu sampai di rumah itu, mereka melihat pemandangan yang sangat mengerikan: tumpukan tubuh manusia disertai genangan darah yang masih segar di lantai. Ada yang sudah tidak bernyawa lagi, ada yang meraung kesakitan, ada yang perutnya tertembus peluru hingga usus-usus mereka terburai dan ada yang wajahnya sama sekali tak bisa dikenal karena dipenuhi luka dan darah. “Lama-lama saya tak tahan juga dan segera mencari tempat yang sunyi guna menenangkan rasa gugup saya,” kenang perempuan yang lahir di Bangkinang pada 1923 itu. Dalam suasana yang menggetirkan itu, tak lama kemudian Gadis melihat seorang lelaki muncul dari tempat persembunyian. Dia menceritakan bahwa tubuh-tubuh yang tergeletak menyedihkan itu adalah para pegawai negeri, guru sekolah, polisi dan tentara yang menolak untuk ikut Tentara Merah. Saat para Tentara Merah itu mendengar kabar bahwa Siliwangi tengah bergerak ke arah pabrik gula, mereka langsung melarikan diri. Namun sebelum pergi, mereka secara membabibuta menembaki seluruh tawanan. Sang saksi sendiri berhasil lolos dari maut karena saat terjadi pembantaian dia berhasil sembunyi di balik sebuah meja dan pura-pura mati. Setelah menyaksikan kejadian itu, Gadis sempat merasa trauma. Bayangan mayat bergelimpangan dan suara orang merintih-rintih seolah tinggal di dalam benaknya. Situasi itu berlangsung berhari-hari dan membuatnya tak nyaman. “Beberapa malam setelah (kejadian) itu, saya selalu mimpi menakutkan,” ujarnya seperti yang pernah disampaikan kepada Ami Wahyu dalam majalah Femina No.16 Tahun 1987. Namun bukan berarti situasi itu menjadikan Gadis kapok. Alih-alih menghindar, sejak itu dia malah kerap terlihat dalam berbagai palagan di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), termasuk saat dirinya harus masuk ke “sarang” para gerilyawan Republik di wilayah Cianjur utara. Laporan-laporan Gadis pun tak pernah absen mengisahkan kondisi rakyat kecil di tengah peperangan dan perjuangan mereka untuk lepas dari cengkaraman penjajahan. Nama Gadis kemudian berkibar sebagai jurnalis perempuan mumpuni di zamannya. Usai perang, petualangan ibu dari Ratna Apisa itu terus berlanjut. Saat bertugas itulah, berbagai negara dia pernah kunjungi termasuk Uni Sovyet dan Amerika Serikat, dua negara yang menjadi biang Perang Dingin. Ketika Presiden Sukarno menerapkan sistem demokrasi terpimpin, Gadis merasakannya sebagai masa-masa suram bagi karier kewartawanannya. Dia merasa tidak cocok jika harus larut dalam jargon “pers terpimpin” dan “pers nasakom”. “Saya memutuskan untuk berhenti menjadi wartawan dan mencari hidup yang lebih aman dan tenteram,”ungkapnya dalam Wartawan Wanita Berkisah. Tetapi jurnalis tetaplah jurnalis. Panggilan untuk meliput dan menulis tetiba muncul kembali dalam dirinya ketika Indonesia digonjang-ganjing berbagai demonstrasi pasca Insiden Gerakan 30 September 1965. “Diam-diam saya menjadi asisten beberapa wartawan luar negeri yang beroperasi di sini. Di antaranya adalah Christians Science Monitor, New York Times dan UPI,” ungkap Gadis. Memasuki 1966, terjadi pengusiran besar-besaran yang dilakukan oleh Presiden Sukarno terhadap jurnalis-jurnalis asing terutama dari Amerika Serikat. Hanya 3 jurnalis Barat yang tinggal di Jakarta. Mereka adalah Fred Emery dari London Times, Don North dari Canada Broadcasting dan John Hughes dari Christians Science Monitor. Untuk ketiganya, Gadis pernah sangat berjasa besar. Kendati hanya seorang asisten, kerja-kerja jurnalistik Gadis selalu dilaksanakan secara maksimal. Bahkan bisa dikatakan, untuk narasumber-narasumber utama, dialah yang kerap mewawancarainya secara langsung. Tentu saja itu bisa terwujud karena akses jejaring Gadis yang sangat luas di kalangan para politisi dan jenderal-jenderal Indonesia. Tidak hanya mewawancarai, Gadis pun termasuk sangat rajin turun meliput berbagai demonstrasi mahasiswa. Tak jarang saat melakukan tugas itu, dia harus menyerempet-nyerempet bahaya seperti harus rela ikut kena gebuk popor bedil para serdadu dari Resimen Tjakrabirawa. Hasil liputan kolaborasi itulah yang kemudian dibaca banyak orang di Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan berkat laporan-laporan dari Indonesia itulah, pada 1967, John Hughes berhasil meraih Pullitzer Prize, penghargaan bergengsi untuk karya-karya jurnalistik kelas dunia. Belakangan Hughes membukukan kumpulan hasil reportase-nya itu dalam sebuah judul: Indonesian Upheaval (Pergolakan Orang-Orang Indonesia). Bayangkan jika Hughes tak memiliki asisten selincah Gadis Rasid…
- Pertempuran Berdarah di Bukit Mardinding
HARI Natal 25 Desember 1948 bukanlah hari yang santai bagi Komandan Resimen IV Divisi X TNI, Letkol Djamin Gintings. Sebagai umat Kristen, sedianya Djamin merayakan hari raya dan mengumandangkan kidung pujian di gereja. Begitu pula pasukannya yang mayoritas beragama Kristen. Namun, hari itu sang komandan justru mengumumkan keadaan bahaya. Siaran Radio Yogyakarta memberitakan agresi militer Belanda untuk kali kedua. Sejumlah pejabat tinggi Republik ditangkapi, termasuk Presiden Sukarno dan wakilnya, Bung Hatta. Selain itu, tersiar kabar daerah Sektor III di bawah pimpinan Mayor Selamat Ginting sudah diserang Belanda. “Saya masih belum mendapat perintah dari atasan langsung (Divisi X) tindakan apa yang harus dijalankan. Tetapi demi keselamatan Negara Republik Indonesia saya merasa bertanggung jawab penuh untuk memulai penyerangan terhadap Belanda,” kenang Djamin Gintings dalam catatan hariannya yang kemudian diterbitkan dalam otobiografi Dari Titi Bambu ke Bukit Kadir. Bersiap untuk Perang Djamin Gintings mengumpulkan seluruh anggota Resimen IV. Disampaikannya misi rahasia untuk melancarkan serangan ke basis tentara Belanda. Menurutnya operasi ini diperlukan sebagai strategi bertahan sekaligus memberi efek kejut bagi Belanda. Langkah ini diambil sebab basis Resimen IV di Tanah Alas, Kuta Cane yang menjadi pintu gerbang menuju Aceh masih belum diduduki Belanda. Sementara Aceh merupakan benteng pertahanan terakhir Republik yang belum disentuh Belanda. “Para Prajurit, Bintara, dan Perwira,” kata Djamin memulai pidatonya, “Saya selaku Komandan Resimen IV memikul pertanggungjawaban ini dan memerintahkan kepada saudara-saudara untuk menyerang daerah yang diduduki Belanda sebelum Belanda menyerang daerah kita. Pertama, kita duduki Mardinding dan Lau Beleng.” Desa Mardinding yang menjadi sasaran penyerangan terletak di Kabupaten Karo. Menurut A.R. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan di Karo Area, Belanda telah menduduki Desa Mardinding sejak awal 1948 sebagai buntut dari Perjanjian Renville. Di sana, Belanda menjadikan rumah besar milik kepala desa sebagai tangsi tempat bertolak patroli mereka. Adapun kekuatan pasukan Belanda di Mardinding sebagaimana tercatat dalam Kadet Brastagi yang dikutip Arifin Pulungan dari Achter de Sinabung: schint toch de zon, terdiri dari satu grup kesatuan mortir, satu seksi (penembak) Vickers, 15 orang Barisan Pengawal. Sedangkan komandannya ialah Sersan Ritzer dari Peleton Mortir. Rumah besar yang dijadikan tangsi dan pos tentara Belanda di Mardinding. (Foto: Repro buku "Kadet Brastagi".) Tugas untuk melancarkan serangan tiba-tiba ke tangsi itu diembankan kepada Batalion XV di bawah pimpinan Kapten Nelang Sembiring. Formasi serangan terbagi atas tiga kompi: Kompi 1dipimpin oleh Letnan I Oroh, Kompi 2 dipimpin oleh Letnan I Rimrim Ginting, Kompi 3 dipimpin oleh Letnan II Radja Sjahnan. Pada 28 Desember 1948, rombongan pasukan tiba di puncak Bukit Mardinding pukul 02.00 pagi. Untuk persiapan serangan, setiap kompi di sebar ke berbagai penjuru. Kompi 1 mengambil posisi sayap kanan, Kompi 2 di bagian tengah, Kompi 3 di sayap kiri, dan di atas bukit bersiaga pasukan mortir yang dipimpin Letnan Laban. Sementara itu, masing-masing kompi di bagi lagi dalam tiga seksi. Direncanakan, serangan dilancarkan secara serentak untuk memberi efek kejut yang lebih besar. Setiap pasukan tidak diperkenankan melepaskan tembakan sebelum aba-aba tembakan dari komandan Kompi 1. Untuk memastikan itu semua, masing-masing kompi mengirimkan kurir yang melaporkan kesiapan kompinya. Waktu penyerangan ditentukan: pukul 13.00 siang. Tembakan Tanpa Perintah Jarak antara pasukan penyerang dengan pos tentara Belanda cukup dekat, sekitar 50 meter. Dalam amatan tim pengintai, tampak sekumpulan tentara Belanda sedang asyik bermain bola di tanah lapang dekat tangsi. Mereka terlihat seperti mangsa empuk. Namun sebelum waktu yang ditentukan, tiba-tiba meletus sebuah tembakan dari seksi pasukan yang dipimpin Letnan Djohan. Menurut Djamin Gintings, seksi Djohan sebenarnya tidak masuk ke dalam formasi penyerangan. Oleh karena itu, Letnan Djohan berikut seksinya diminta supaya jangan terlalu mendekati posisi musuh. Tetapi mereka terus bergerak melalui kedai-kedai penduduk yang digunakan sebagai pelindung. Saat itulah beberapa tentara Belanda yang hendak kencing di belakang warung mendapati keberadaan pasukan Letnan Djohan. Sontak saja Letnan Djohan melepaskan dua tembakan. Seorang tentara Belanda tersungkur dan tewas sedangkan yang lainnya segera kabur menyelamatkan diri menuju pos dan tangsi mereka. Tembakan tanpa perintah itulah yang memulai jalannya pertempuran. Selama setengah jam, pasukan TNI melepaskan bertubi-tubi tembakan yang membuat sekumpulan tentara Belanda kocar-kacir. Kendati demikian, pihak Belanda masih menangguhkan balasan. Melihat tentara Belanda yang pasif, Komandan Seksi 2 dari Kompi 1, Letnan Kadir Saragih mengerahkan pasukannya untuk maju menyerbu. Pada saat yang sama, tentara Belanda keluar dari tangsi persembunyian. Sewaktu tembak-menembak berlangsung, terdengar deru tank dan panser Belanda yang langsung melepaskan peluru ke arah pasukan TNI. Terjangan tank dan panser itu diikuti dengan serangan mortir yang memuntahkan pelurunya berpuluh kali lipat ke Bukit Mardinding. “Rupanya Belanda menunggu pasukan kita berada di posisi itu baru memulai tembakan balasan,” catat Djamin Gintings. Pertempuran yang berlangsung selama berjam-jam itu berhenti pada pukul 17.00 sore. Pasukan TNI diperintahkan mundur ke perbukitan untuk menghindari tekanan panser dan tank Belanda. Pada pukul 21.00 malam pasukan tiba di puncak bukit. Djamin Gintings kemudian memutuskan untuk melanjutkan pertempuran dengan mengguakan taktik gerilya. Sebanyak 8 prajurit TNI gugur dalam pertempuran itu, termasuk Letnan Kadir Saragih yang dimakamkan di Bukit Mardinding. Sementara di pihak Belanda, menurut berita dari penduduk setempat yang tercatat dalam Sejarah Perjuangan Komando Daerah Militer II Bukit Barisan, disebutkan 8 orang yang tewas. Untuk mengenang keberanian Letnan Kadir, Letkol Djamin Gintings menamakan puncak Bukit Mardinding dengan nama Bukit Kadir.





















