Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bang BD Telah Berpulang
SUATU senja di tahun 2001. Gunung Gede dibekap hawa dingin yang menghunjam pori-pori. Seorang lelaki paruh baya menapaki jalur sempit pendakian menuju Alun-Alun Suryakancana. Tak ada keistimewaan darinya kecuali penampilan santai lelaki tersebut yang nampak “tak normal” untuk ukuran seorang pendaki gunung: kakinya hanya beralaskan sandal jepit dan tubuhnya hanya dibalut celana pendek serta kaos oblong tanpa jaket. Saya ingat, saat itu memutuskan untuk menemani “orang aneh” ini menuju Alun-Alun. Kami pun berkenalan dan alangkah kagetnya saya begitu tahu bahwa dia adalah Rudy David Mesmana atau lebih beken disebut Rudy Badil, wartawan senior Kompas sekaligus salah seorang sesepuh MAPALA UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia). Saya tahu juga namanya kerap disebut-sebut Soe Hok Gie (penulis sekaligus tokoh gerakan mahasiswa 1966) dalam Catatan Seorang Demonstran (catatan harian Soe yang dibukukan oleh Penerbit LP3ES). “ Lu bangga dong , berkenalan sama orang ngetop macam gue ,” kelakarnya saat itu. Bang BD (dia senang dipanggil demikian) sejak itu menjadi tempat saya bertanya. Bukan hanya sekitar dunia pemberitaan atau pendakian, namun juga apapun. Nyaris semua hal dia tahu. Termasuk ratusan kontak orang ternama di negeri ini. Tapi yang paling penting, saya betah berlama-lama ngobrol dengan Bang BD karena sifat ceplas-ceplos kocaknya dan sikap egaliternya yang sangat kental. Sebagai senior, dia tak pernah malu bertanya jika ada hal yang tak dia pahami. Saya pun bisa mendebatnya tentang sesuatu hal. Kendati pada awalnya dia akan merespon dalam nada tinggi, namun dia kemudian tak ragu membenarkan jika bantahan lawan bicaranya dianggap masuk akal. “Benar itu enggak mengenal umur, Bro,” katanya suatu hari. Kepada saya, lelaki kelahiran Jakarta tahun 1945 itu mengaku sangat menikmati masa-masa mudanya. Sebagai anak kolong dari asrama tentara di Jalan Tenabang II, Jakarta segala macam kenakalan ala anak muda, pernah dia lakukan: mulai berkelahi dengan sesama anak tentara hingga melemparkan seekor kucing (yang mencuri telor ceploknya) dari lantai dua ke kawat listrik. Akibatnya dia dituntut oleh seorang tetangganya untuk memanggil petugas pemadam kebakaran guna menyelamatkan kucing itu. “Tetangga gue itu tak lain adalah Pak Chudori, yang kelak jadi mertuanya Arief (sosiolog Arief Budiman),” kenang lelaki berdarah Dayak, Jawa, Tionghoa dan Manado itu. Kenakalannya juga yang menjadikan “badil” tersemat di namanya. Karena anak kolong yang identik dengan senjata api maka dia sangat senang dipanggil “badil”, istilah senjata api laras panjang dalam bahasa Dayak. Kata dia, nama itu lebih cocok disematkan ke nama lengkapnya dibanding “David” yang lebih mirip nama anak gedongan. Tahun 1965, Si Anak Badung, “anehnya” berhasil masuk Fakultas Hukum UI. Namun entah bagaimana dia tak pernah serius mempelajari ilmu hukum dan terperangkap masuk dalam “provokasi” kawan karibnya, Soe Hok Gie, untuk pindah ke tempat Soe kuliah dan mengajar: fakultas sastra. Maka resmilah pada 1969 dia menjadi mahasiswa FSUI jurusan antropologi. Rudy mengenal Soe karena hoby naik gunung. Tak aneh jika ke mana pun Rudy mendaki, Soe selalu ikut serta. Bukan hanya dalam soal naik gunung, Rudy pun jadi tempat curhat Soe dalam segala hal, termasuk masalah cinta. Tapi menurut Rudy, orang boleh menilai Soe romantis dan pembuat puisi-puisi jempolan, namun soal hubungan dengan perempuan dia termasuk sangat “puritan” dan cenderung “penakut”. “ Gue yang ngajarin dia nonton film porno dan ngantar-ngantar ke mana pun kalau dia lagi demen sama satu cewek,” kenang Bang BD. Rudy juga mafhum, Soe sangat menyukai lagu-lagu Joan Baez dan bisa seharian menganalisa isi lirik lagu Dona-Dona . Tapi untuk soal menyanyi, Soe sangat payah. “Jangankan menyanyi, bersiulnya aja dia fals kok,” ujar Bang BD sambil ngakak. Namun dari Soe, Rudy justru mengenal dunia intelektual. Apapun yang terkait sejarah, sosial, politik dan sastra, dia selalu merasa puas jika mendapatkan penjelasannya dari Soe Hok Gie. Rudy masih ingat, beberapa hari sebelum mereka mendaki Gunung Semeru, di atas kereta api jurusan Jakarta-Surabaya anak muda asal Kebun Jeruk itu dengan semangat tinggi bercerita tentang sejarah panjang perkeretaapian di tanah Jawa. “Kami mendengarkannya dengan takjub,” kenang Rudy. Sejarah kemudian mencatat “kuliah panjang” Soe di atas kereta api itu menjadi yang terakhir untuknya. Karena menghirup secara tidak sengaja gas H2S, (bersama Idan Lubis) Soe Hok Gie gugur di atas puncak Semeru dengan meninggalkan pesan terakhir kepada kawan-kawannya untuk menyampaikan batu dan daun cemara tertinggi (yang diambil dari puncak Semeru) di pulau Jawa kepada mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra UI. Bulan November tahun lalu, saya menemui Bang BD di Bintaro. Kami bicara banyak hal terutama terkait sejarah gerakan mahasiswa 1966 dan Soe Hok Gie yang rencananya akan saya jadikan tema liputan khusus di Historia pada Februari 2019. Alih-alih mendukung, dia malah menyarankan supaya saya mengambil angle yang lain dari gerakan mahasiswa 1966. “ Ngapain lu bahas Hok Gie, udah banyak yang cerita soal dia. Telusuri saja tuh soal Arief Rachman Hakim: siapa dia dan seperti apa kematiannya, kanenggak semua orang tahu. Gua aja kagak ," katanya sambil terkekeh. Tanpa banyak berdebat, saya pun setuju untuk mengganti angle . Delapan bulan telah berlalu. Karena kesibukan yang tak mau berkompromi, saya lalai bersilaturahmi kembali dengan Bang BD. Suatu kelalaian yang hingga detik ini saya sesali karena baru saja pagi tadi saya mendapatkan kabar dari Tante Luki Bekti (kata Bang BD dialah salah satu perempuan yang pernah didemenin Hok Gie) bahwa Si Anak Badung dari Tenabang itu telah berpulang. Pileuleuyan , Bang BD.
- Omar Dani Tak Gentar Pulang
AURI dituduh terlibat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Tudingan ini berkaitan dengan surat perintah Menteri/Panglima AU Laksamana Madya Udara Omar Dani yang dianggap mendukung G30S. “Mendukung Gerakan 30 September yang mengamankan dan menyelematkan revolusi dan Pimpinan Besar Revolusi terhadap subversi CIA,” demikian salah satu isi perintah Omar Dani. Dalam biografinya Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno, Omar Dani mengakui bahwa keputusannya itu adalah keliru. Tekanan dalam surat perintahnya adalah untuk melindungi Presiden Sukarno selaku panglima tertinggi. Namun seruan perintah itu kadung membuat ketegangan antar matra. Gesekan terutama menyulut Angkatan Darat yang menaruh curiga kepada AURI. Apalagi berkembang isu bahwa AURI akan membom markas Kostrad dengan pesawat bomber. Rumor ini sempat bikin Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto ketakutan sekaligus menyimpan dendam kepada Omar Dani. Untuk mengindari friksi lebih lanjut, Presiden Sukarno turun tangan. Omar Dani dicopot dari jabatan Panglima AURI. Posisinya dialihkan menjadi Menteri Panglima Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang (Kopelapip). Omar Dani diinstruksikan melakukan muhibah ke berbagai negara menjajaki kerja sama untuk pengembangan industri dirgantara. Pada 19 Oktober 1965, Omar Dani berangkat ke Kamboja. Di sana, Dani bermukim di ibu kota Pnom Penh, menyewa rumah di Vitnei Monivoung, tidak jauh dari rumah konsul RI. Sejak itu, selama hampir enam bulan Omar Dani tinggal di rumah tersebut. Sementara itu di Jakarta, pengaruh Sukarno mulai goyah. Omar Dani menjadi buruan menyusul Surat Perintah 11 Maret yang memberi kuasa kepada Soeharto. Para intel disusupkan ke Kamboja untuk memata-matai aktifitas Omar Dani. “Dubes Laksamana Muda Udara Budiardjo juga tak dapat berbuat apa-apa, karena Omar Dani waktu itu, resmi masih menjabat sebagai menteri. Demikian pula dari pihak Kamboja tak ada persoalan, karena tampaknya Omar Dani semasa masih Menteri/Pangau, mempunyai hubungan baik dengan pemerintah Kamboja,” tulis Sinar Harapan , 22 Juni 1966. Tinggal lama di negeri orang, Omar Dani pun bergumul secara batin. Dilema melanda antara pilihan pulang ke Indonesia atau menetap di Kamboja. Istri dan lima anaknya ikut serta, apalagi si bungsu masih bayi berusia empat bulan. Jika kembali ke Indonesia, Omar Dani akan dijadikan pesakitan politik oleh kelompok Soeharto. Dia bisa saja cari selamat dengan menetap di luar negeri bersama seluruh keluarga; hidup layak dengan mempergunakan keahliannya sebagai penerbang andal. Atau kalau mau, dia tidak sulit minta suaka perlindungan kepada Pangeran Sihanouk, sahabat karib Bung Karno, untuk tetap tinggal di Kamboja. “Hal ini tidak saya kerjakan justru karena saya berniat untuk mempertanggungjawabkan segala-galanya kepada atasan, kepada rakyat, terutama kepada warga AURI,” kata Omar Dani dalam pidato pembelaannya Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Omar Dani pada akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Dia memilih menanggung tindakan politiknya di depan pengadilan ketimbang melarikan diri ke luar negeri. Pada 20 April 1966, Omar Dani mendarat di Jakarta dengan pesawat C-130 milik AURI. Prediksi Dani soal dugaan untuk mengadili dirinya benar terjadi. Ketika tiba di tanah air, Dani sekeluarga diamankan ke kompleks peristirahatan AURI di Cibogo, Bogor. Dari situ, Dani kemudian ditahan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya untuk dihadapkan ke Mahmakah Militer Luar Biasa (Mahmilub). “Bapak Hakim Ketua dan Bapak-bapak Hakim Anggota yang terhormat, apakah tuduhan, bahwa saya adalah seorang yang tidak berani bertanggung jawab itu masih berlaku?,” tanya Omar Dani di depan para hakim. Putusan Mahmilub memvonis Omar Dani dengan hukuman mati. Beberapa tahun menjalani hidup di bui, hukuman Omar Dani diubah menjadi hukuman seumur hidup. Setelah hampir 30 tahun meringkuk di penjara, pada 1995 Omar Dani akhirnya dibebaskan lantaran sudah sepuh. Dia menjalani masa tua hingga akhir hayat dengan damai dan tanpa dendam.
- Naluri Mengubur Mayat
Lima tahun lalu dunia paleoantropologi dikejutkan dengan temuan sisa belulang misterius di kedalaman gua di Afrika Selatan. Tulang belulang yang memfosil itu dengan cepat dikenali sebagai spesies manusia baru. Ia dikenal sebagai Homo naledi. Naledi punya campuran ciri manusia awal, mirip dengan Homo erectus yang eksis 1,5 juta tahun lalu, sekaligus modern. Termasuk volume otaknya yang cukup kecil. Menariknya, titik di mana sisa tulang itu ditemukan jauh dari mulut gua. Ruangannya hanya bisa diakses lewat lorong sempit yang gelap. Untuk melewati celah selebar 20 cm itu harus memanjat secara vertical dan merangkak. Tentu tempat itu mustahil untuk hidup. Karenanya para peneliti meyakini tulang belulang itu sengaja di bawa ke sana untuk dikebumikan. Kedalaman gua dijadikan kuburan. Dugaan itu pun memulai diskusi baru. Bagi para antropolog, ritual pemakaman berkaitan dengan munculnya sifat unik yang mencirikan manusia. Terutama dalam hal berpikir secara simbolis. “Pemikiran simbolis memberi kita kemampuan untuk melampaui masa kini, mengingat masa lalu, dan memvisualisasikan masa depan,” kata Paige Madison, paleoantropolog dalam laman Sapiens. Ritual pemakaman menunjukkan adanya perilaku spiritual. Ini memungkinkan para ilmuan mengkaitkannya dengan kepercayaan, nilai-nilai, dan ide rumit lainnya. “Bersedih atas kematian melibatkan ingatan masa lalu dan membayangkan masa depan di mana kita juga akan mati. Bayangan ini diyakini cukup kompleks untuk direnungkan,” kata Madison. Asumsinya kemudian adalah ritual kematian hanya bisa dipraktikkan oleh manusia modern yang punya perangkat otak memadai. Ritual itu dilakukan oleh kerabat terdekatnya. Karenanya kemungkinan Naledi yang bervolume otak lebih kecil bisa terlibat dalam ritual pemakaman mayat secara sengaja pun cukup mencengangkan. “Itu mengganggu keseluruhan pemikiran konvensional soal perbedaan antara manusia modern dan spesies manusia sebelumnya dan secara luas, perbedaan antara kita (manusia, red. ) dengan seluruh alam,” jelas Madison. Homo neanderthalensis Sebenarnya, perdebatan sudah dimulai sejak 1908. Pemikiran kalau hanya manusia modern yang bisa memikirkan ide menguburkan kawannya diuji dengan temuan kerangka Neanderthal yang cukup lengkap di dekat La Chapelle-aux-Saints di Prancis. Para penemu berpendapat bahwa kerangka itu jelas telah sengaja dimakamkan. Bagi mereka, tampak seolah-olah kuburan itu telah digali, tubuhnya sengaja diletakkan di dalam posisi seperti janin. “Banyak ilmuwan kontemporer tetap meragukan interpretasi ini dan langsung menolak bukti. Perdebatan tentang penguburan La Chapelle Neanderthal berlanjut hingga hari ini,” catat Madison. Sejak penemuan pertama fosil Neanderthal pada 1856 di Lembah Neander, Jerman, spesies ini telah menempati hubungan yang ambigu dengan manusia. Neanderthal adalah spesies yang paling dekat dengan manusia modern. Awalnya Neanderthal dianggap sebagai makhluk yang jauh dari manusiawi. Mereka dikenal kasar dan bahkan belum berdiri tegak. Namun kemudian berubah. Terutama setelah penemuan pada 1960 di Gua Shanidar, Irak. Di sana muncul bukti adanya pemakaman Neanderthal. Seperti yang diungkap Lutfi Yondri dari Balai Arkeologi Bandung di “Situs Bawahparit: Jejak Penguburan Masa Transisi” yang diterbitkan Jurnal Lektur Keagamaan , di antaranya ada satu makam yang sangat menarik. Di sekeliling individu yang dimakamkan, terdapat sampel tanah yang mengandung serbuk sari dan bekal kubur berupa alat-alat. Ralph Solecki, pemimpin tim dan antropolog Universitas Columbia, menganalisis serbuk sari itu sebagai bukti kalau tadinya bunga berwarna-warni ditempatkan di kuburan ketika Neanderthal dimakamkan. “Ini merupakan gaya manusia yang sangat modern,” sebut Madison. Sayangnya, hipotesis itu runtuh ketika akhirnya diketahui kalau serbuk sari di sekitar fosil terbawa oleh tikus tanah. Kendati pada akhirnya para ilmuan berkomentar mungkin keberadaan sisa-sisa bunga itu pun bukan kebetulan belaka. Saat ini, sebagian besar ilmuwan setuju bahwa Neanderthal memang menguburkan mayat mereka. Setidaknya beberapa Neanderthal melakukannya. Pertanyaannya, apakah Neanderthal juga berpikir tentang kematian dengan cara yang mirip dengan manusia modern, yaitu dengan pikiran spiritual? Atau apakah pemakaman dijadikan solusi praktis agar mayat tak membusuk di tengah manusia hidup? Para antropolog pun sepakat lewat bukti bekal kubur yang juga menyertai kuburan Neanderthal itu, artinya memang ada tanda-tanda ritual yang menyertainya. Madison mengungkapkan, bukanlah muluk-muluk jika membayangkan bahwa Neanderthal memiliki kapasitas untuk menguburkan mayat mereka dengan alasan yang sama seperti yang manusia modern lakukan. Mereka memiliki otak yang sangat besar. Volume otak Homo Neanderthalensis dewasa bisa mencapai 1.520 sentimeter kubik. Adapun Homo sapiens dewasa hanya 1.195 sentimeter kubik. “Dapat dibayangkan bahwa mereka juga sama kompleksnya dengan manusia,” kata dia. Sampai sini, argumen kalau hanya hominin berotak besar yang mampu melakukan aktivitas simbolik ini masih bisa bertahan. Hakikat Manusia Namun, dengan temuan Homo naledi cerita baru pun muncul. Otaknya kurang dari setengah ukuran otak manusia modern. Karenanya, Madison melanjutkan, lebih mudah untuk membayangkan bahwa makhluk-makhluk ini membuang mayat mereka untuk alasan praktis daripada alasan simbolik. Pertanyaan selanjutnya, untuk apa naledi harus melalui semua kesulitan membawa mayat melalui kegelapan gua yang sempit? Mungkin artinya, naledi yang mirip Homo erectus itu pun sebenarnya berperilaku kompleks dan sangat emosional. Dari sini, bisa jadi ritual penguburan mayat sebenarnya tak sedemikian unik, sehingga bukan hanya makhluk yang disebut manusialah yang bisa melakukannya. Lebih jauh lagi, Madison memaparkan, dalam beberapa dekade terakhir para ilmuwan telah menyadari bahwa ciri-ciri khas "manusia" sebenarnya muncul sedikit demi sedikit. Artinya, itu bukan datang dalam satu paket melainkan berkembang sejalan dengan proses evolusi. Ini bukan pertama kalinya perilaku khas “manusia” ternyata juga dimiliki spesies lain. Sampai 1960-an, pembuatan alat secara luas dianggap sebagai sesuatu yang mencirikan manusia. Anggapan itu hilang setelah ahli etologi, Jane Goodall menemukan kalausimpanse pun mampu memodifikasi bahan untuk membuat alat mereka sendiri. “Dengan melepaskan kepercayaan pada keunikan perilaku kita, kita mungkin dapat melihat bagaimana kecenderungan memandang diri kita sebagai orang yang sangat istimewa sehingga mengasingkan kita dari keluarga primata yang lain, dan bahkan dari semua evolusi,” ungkap Madison.
- Spider-Man Terjerat Tipu Daya
MACAM-MACAM perasaan yang berbekas selepas angkat bokong dari bangku bioskop usai menyaksikan Spider-Man: Far From Home . Suguhan 129 menit itu menjadi sekuel Spider-Man: Homecoming (2017) sekaligus jadi edisi ke-23 keluaran Marvel Cinematic Universe (MCU). Spider-Man: Far From Home (selanjutnya disebut Far From Home ), film yang paling dinanti setelah demam Avengers: Endgame (2019), merajalela di tanah air sejak 3 Juli lalu. Selain tak kalah dalam mengaduk perasaan, film ini juga memuat memori tentang mendiang Tony Stark/Iron Man yang jadi martir dalam Endgame sebelumnya. Namun, film garapan sutradara Jon Watts ini tak hanya mengumbar kepedihan. Penonton bakal dibikin tertawa oleh kelakuan sahabat Parker, Ned Leeds (Jacob Batalon) atau kelakuan Happy Hogan (Jon Favreau) yang kasmaran dengan sang bibi May Parker (Marisa Tomei). Ada juga haru, kesal dan tentunya terkejut seiring jalannya adegan per adegan. Sebagaimana maksud di sub-judulnya, Spider-Man alias Peter Parker (diperankan Tom Holland) kali ini tengah bertualang ke seberang Atlantik –Benua Eropa. Reputasinya seolah sedang di-global-kan, Watts meracik aksi-aksi Spider-Man menangkal kemungkaran lintas Eropa, mulai dari Venezia hingga London. Tapi jangan harapkan jalan ceritanya bakal mainstream. Lalu, bukan MCU namanya kalau keluaran terbarunya ini tak menyajikan sejumlah twist. Spider-Man kali ini pun bukan melawan alien laiknya para koleganya di seri-seri Avengers, tapi justru nyaris sendirian melawan Mysterio alias Quentin Beck (Jake Gyllenhaal). Mysterio mulanya dianggap kawan tapi ternyata merupakan lawan lewat tipu daya dan teknologi ilusi usai memanfaatkan salah satu barang canggih warisan Stark. MJ, kekasih Spider-Man yang diperankan Zendaya (Foto: spidermanfarfromhome.movie) Perjuangan Peter Parker diperumit dengan dua pertanyaan: Apa yang diinginkan dalam hati dan apakah ia siap jadi penerus Stark? Di satu sisi Spider-Man ingin kembali menikmati kehidupan remaja seumurnya, di mana ia sangat jatuh hati pada MJ (Zendaya). Tapi di sisi lain ia jadi sosok yang dipercaya mendiang Stark untuk menjaga perdamaian bumi. Selanjutnya, baiknya Anda tonton sendiri. Selain beraneka perasaan yang bakal Anda kecap, Anda juga akan diajak melihat keindahan beberapa kota tua di Venezia, Praha, dan London sebagai penyegar mata untuk menyelingi sejumlah efek CGI nan canggih. Telinga Anda juga akan dibikin nyaman oleh sejumlah musicscoring dengan tata suara apik garapan komposer Michael Giacchino. Potongan lagu “Back in Black” milik AC/DC lagi-lagi mengembalikan memori tentang Iron Man alias Tony Stark yang menggemari lagu cadas ini. Sosok Pemred Kharismatik TheDaily Bugle Sebagaimana lazimnya keluaran-keluaran MCU, Far From Home punya dua credit title yang pastinya tak boleh dilewatkan para penggemar Marvel. Salah satu yang paling menarik adalah kemunculan cameo pemred suratkabar The Daily Bugle yang bertransformasi jadi thedailybugle.net . Siapa lagi kalau bukan sosok menyebalkan tapi bikin kangen, J. Jonah Jameson. Pemred pemberang yang khas dengan kumis bergaya sikat gigi dan cukuran rambut cepak flattop ini kembali diperankan aktor senior J.K. Simmons. Kehadirannya sebagai cameo di salah satu credit title -nya seolah menggulirkan nostalgia dengan trilogi Spider-Man (2002-2007) garapan Sam Raimi kala Peter Parker/Spider-Man masih diperankan Tobey Maguire. Sebagaimana di trilogi racikan Raimi, sosok J. Jonah Jameson muncul untuk bikin ruwet reputasi Spider-Man lagi. Ia kini muncul untuk “ikut” menyebarkan hoax bahwa penjahat dan ancaman perdamaian sesungguhnya adalah Spider-Man, berbekal dari viralnya video unggahan Mysterio sebelum meregang nyawa. “Kami selalu tahu bahwa kami ingin identitas Spider-Man terbongkar dan rasanya mesti terbongkar lewat berita. Kantor berita utama apa yang ada di dunia Spider-Man? Jawabannya selalu The Daily Bugle . Ketika Anda bicara The Daily Bugle , Anda bicara soal J. Jonah Jameson. Takkan tepat rasanya jika pemerannya bukan J.K. Simmons,” sambung sang sutradara kepada polygon.com , Minggu (7/7/2019). Karakter sosok bernama lengkap John Jonah Jameson itu sendiri “dilahirkan” duo legenda komik Marvel Stan Lee dan Steve Ditko pada 1963 atau setahun setelah Spider-Man dirilis. Stan Lee dan Ditko pertamakali merilisnya di komik The Amazing Spider-Man edisi nomor satu keluaran Maret 1963. Karakter J. Jonah Jameson yang diperankan aktor senior J.K. Simmons (Foto: Columbia Pictures) Jonah Jameson diciptakan sebagai sesosok pemred suratkabar The Daily Bugle tempat Peter Parker bekerja sebagai fotografer. Karakternya gabungan dari kharismatik, pemarah, nyolot, dan selalu menyebut Spider-Man dengan “Freak, Menace!” (Aneh, Ancaman!). “Saya tak begitu ingat dari mana saya mendapat karakternya. Mungkin kombinasi dari semua orang yang saya kenal. Saya mendapat gagasan tentang Jonah sebagai penerbit pemberang dan Spidey menjadi fotografer lepas yang bekerja untuknya,” terang Stan Lee kepada Leonard Pitts Jr pada 1981 dalam “An Interview with Stan Lee” dan dimuat Jeff McLaughlin di Stan Lee: Conversations . Namun tak lama setelah ia menciptakan karakternya dibantu ilustrator Steve Ditko, Stan Lee sadar bahwa ada pula karakter yang mirip kepunyaan DC Comics, saingan Marvel Comics, tempat Stan Lee berkarya. Yakni, karakter Perry White, pemred suratkabar The Daily Planet , tempat Clark Kent alias Superman bekerja sebagai wartawan lepas. Karakter bikinan George Putnam Ludlam itu lebih dulu muncul di komik Superman edisi ketujuh keluaran November 1940. “Saya mengubah karakter Jonah Jameson sebeda mungkin (dari karakter Perry White). Saya buat karakternya lebih pemberang dan reaksioner. Ia berpikir bahwa masa-masa indah Amerika adalah di masa kepresidenan Herbert Hoover. Dia benci remaja, kaum hippies , rambut gondrong dan gitar. Saya pikir akan lucu jika membuat tokoh seperti itu walau dia bukan penjahat. Dia hanya mewakili segmen masyarakat yang sangat kolot,” tandasnya.
- Satelit Palapa Penyatu Nusantara
Kiprah Satelit Palapa di Indonesia
- Kisah Pemenggal Prajurit Gurkha
FOTO usang milik IPPHOS (Indonesian Press Photo Service) itu memang sangat legendaris. Lima remaja era revolusi di sebuah mobil terbuka nampak tengah bergaya. Salah satu gadis muda berambut kepang yang tengah membawa senjata diidentifikasi sebagai Toeti Amir Kartabrata. Kelak beberapa tahun kemudian dia menjadi Kepala Brigade I Laswi (Lasjkar Wanita Indonesia). “Dia merupakan kader militer Husein Wangsaatmadja, instruktur militer di TKR Bandung yang kelak menjabat sebagai walikota Bandung (1978-1983)," tulis Irna H.N. Hadi Soewito dalam Lahirnya Kelasykaran Wanita dan Wirawati Catur Panca. Toeti dikenal sebagai prajurit perempuan pemberani. Dia bukan hanya bisa bergaya namun juga kerap berhadapan langsung dengan bahaya. Suatu siang pada Agustus 1946, entah datangnya dari mana tiba-tiba muncul seorang penjual cendol di depan Markas Laswi di Majalaya. Tak lama kemudian, pesawat Inggris muncul dan membombardir tempat tersebut. Toeti yang saat itu sedang tidur-tiduran sontak meloncat dan menerobos kepulan asap untuk mencari jalan keluar. Begitu di luar, dia melihat rekannya Saartje dengan kepala berdarah-darah.
- Serba-serbi Tradisi Wimbledon
SETELAH serve -nya bisa dikembalikan Julia Görges, Serena Williams membalas lagi dengan forehand keras menyilang. Di poin kritis itu, Serena kemudian diselamatkan “dewi fortuna” ketika pengembalian bola Görges menyangkut di net. “Match, Williams,” kata sang wasit, yang artinya laga berakhir dengan kemenangan Serena di babak ketiga turnamen grand slam Wimbledon, Sabtu (6/7/2019), itu. Sekilas, tidak ada yang aneh dari pertunjukan itu. Namun jika diperhatikan, ada yang berbeda dari Wimbledon ke-133 ini, yakni soal penyebutan panggilan dari wasit kepada pemain putri. Bila dulu wasit memanggil pemain putri yang belum menikah dengan “Miss” dan pemain yang sudah menikah dengan “Mistress” diikuti nama suami, kini gelar itu tidak ada lagi. Panitia melarang tradisi berbau patriarkis yang sudah bertahan 135 tahun itu. Maka saat Serena menang, wasit tak memanggilnya “Match, Mrs. Ohanian” lantaran Serena sudah menjadi istri Alexis Ohanian sejak 2017. Wasit langsung memanggil nama belakangnya tanpa menyebut status atau nama belakang suaminya. Hal serupa diberlakukan di sektor putra. Alexandra Willis, juru bicara Wimbledon, menyatakan perubahan sejak babak pertama Wimbledon salah satunya dalam rangka penyetaraan gender. “Kita harus melangkah maju seiring waktu,” katanya kepada The Sun , 2 Juli 2019. Ada yang setuju, ada pula yang menyayangkan penanggalan tradisi lebih dari satu abad itu. Petenis tuan rumah Heather Watson menyatakan, “Kesetaraan selalu merupakan hal yang bagus.” Sementara, pernyataan berseberangan datang juara bertahan tunggal putra Novak Djokovic. “Saya pikir tradisi itu sangat unik dan istimewa. Saya cukup terkejut mereka menanggalkanya,” kata Djokovic. Sebagai turnamen tenis tertua, Wimbledon punya banyak tradisi. Panggilan pemain hanya salah satunya kendati kini sudah ditiadakan. Berikut empat tradisi Wimbledon yang masih dipertahankan: Busana Serba Putih Semua pemain yang bertandingdi Wimbledon diwajibkan mengenakan busana all-white alias serba putih dan sopan, terlepas dari warna hijau tua dan ungu yang jadi warna tradisional Wimbledon. Warna berbeda hanya dibolehkan untuk corak atau motif yang tak mendominasi busana. Kewajiban all white yang dikeluarkan sejak 1963 bukan hanya meliputi atasan dan bawahan, tapi juga kaus kaki, sepatu, body stocking , dan topi/bandana. Kewajiban yang sudah muncul sejak Wimbledon pertama pada 1877 itu namun baru diresmikan pada 1963. Kenapa putih? John Barret dalam Wimbledon: The Official History of the Championships mengungkap, warna putih adalah warna tradisional paling dibanggakan Inggris Raya sejak era Victoria. Dalam praktiknya, tidak sedikit pemain yang melanggarnya. Pada 1949, Gertrude Moran mengenakan dalaman rok yang warnanya menyerupai warna kulit. Pada 1989, Boris Becker diperintahkan wasit mengganti kausnya yang berwarna hijau bergaris biru. Larangan itu amat mengekang bagi para pemain yang sadar mode. Petenis flamboyan Andre Agassi sejak 1988 sampai memboikot Wimbledon lantaran enggan pakai serba putih. Namun ia mengentaskan boikotnya saat edisi 1992 sekaligus memenangkan Wimbledon pertamanya. Keluarga Kerajaan Bukan Wimbledon namanya kalau tak dihadiri anggota Kerajaan Inggris Raya di Royal Box di Centre Court atau lapangan utama. Meski sudah dimulai sejak 1877, Wimbledon baru jadi tontonan wajib keluarga kerajaan pada 1907. Bruce Tarran mengungkapkan dalam George Hillyard: The Man Who Moved Wimbledon , tradisi itu bermula dari permintaan George Hillyard, sekretaris All England Club, kepada Pangeran George, presiden All England Club, untuk menyerahkan trofi kepada pemenang turnamen. “Tiga tahun kemudian, 1910, sang pangeran menjadi Raja George V dan menjadi ‘Bapak All England Club’ – meresmikan tradisi kehadiran keluarga kerajaan sampai sekarang,” tulis Tarran. Alhasil, setiap pemain mesti lebih dulu hormat dengan membungkukkan badan ke Royal Box setiap ada keluarga kerajaan yang nonton. Tapi sejak 2003 diputuskan pemain hanya wajib membungkuk jika yang hadir adalah Ratu Elizabeth II atau suaminya, Pangeran Philip. Barisan Serdadu Tradisi barisan serdadu di tiap lapangan jadi pemandangan unik dalam turnamen Wimbledon. Menukil situs resmi pemerintah Inggris, gov.uk , 2 Juli 2010, tradisi barisan serdadu yang berjaga di antara lapangan dan tribun penonton bermula pasca-Perang Dunia II pada 1946. Gagasannya adalah All England Club ingin membantu para serdadu aktif maupun yang baru pensiun agar bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan sipil selepas bertugas di medan perang. Mulanya, barisan serdadu didatangkan hanya dari Angkatan Laut untuk menjadi Service Stewards atau pengawal turnamen. Seiring waktu, Angkatan Darat dan Udara juga turut disertakan. Para serdadu itu merupakan 300 serdadu pilihan yang melewati proses seleksi. Mereka bisa mencicipi lagi rasanya hidup di tengah-tengah masyarakat dan bahkan tak jarang jadi sasaran permintaan foto dari para penonton. Hal itu membuat gairah hidup mereka terjaga. “Mulanya sulit menyesuaikan diri setelah setahun selesai bertugas di Irak. Berada di Wimbledon dengan seragam kebanggaan di hadapan publik, saya merasa masyarakat bisa melihat Angkatan Laut yang sebenarnya lewat keberadaan saya. Memang Wimbledon adalah turnamen tenis, tapi buat saya lebih kepada kebanggaan saya bisa berada di tengah publik,” ujar kelasi Stuart Linnahan, serdadu yang bertugas di Irak pada 2004 dan pernah bertugas di Wimbledon. Stroberi dan Krim Sampai sekarang, banyak sejarawan Inggris kesulitan mengaitkan hubungan antara tenis dan hidangan stroberi dan krim. Namun, stroberi dan krim tak pernah absen jadi suguhan yang disediakan penyelenggara kepada penonton dan pemain setiap edisi Wimbledon. “Fakta turnamen dan stroberi dan krim yang beriringan mempertahankan aroma pesta kebun khas Inggris. Tradisinya memberi kesan kualitas, karakter, dan imej yang unik terkait Wimbledon,” ungkap Stephan Wagg dalam “The Wimbledon Effect: The Tennis Championships as Changing National Symbol”, dirangkum dalam Routledge Handbook of Tennis: History, Culture and Politics . Suguhan Stroberi dan Krim itu sendiri merupakan salah satu sajian favorit di tiap-tiap pesta kerajaan sejak abad ke-16. Tetapi tetap saja misteri tentang keterkaitannya masih sangat rancu sejak jadi tradisi di Wimbledon pertama. “Ada dua kemungkinan: kebetulan stroberi sedang musim panen saat turnamen (Wimbledon) digelar dan sejak era Victoria, stroberi menjadi makanan yang sedang tren untuk dikonsumsi,” kata Kepala Humas All England Club Johnny Perkins kepada CNN , 17 Juni 2015.
- Raja Nusantara di Penobatan Ratu Belanda
KABAR akan naiknya Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau (putri Raja Willem III) ke takhta tertinggi Kerajaan Belanda telah santer terdengar betahun-tahun sebelum hari penobatan. Persiapannya pun dilakukan sedini mungkin oleh para pejabat Belanda agar pesta berjalan megah. Rupanya di tanah jajahan mereka juga akan diadakan perayaan untuk menyambut penobatan sang ratu. Pemerintah Hindia Belanda segera membuat persiapan untuk melangsungkan perayaan besar di Batavia. Undangannya terbuka bagi semua orang. “Pelabuhan dan kapal-kapal di Tanjung Priok diterangi lampu-lampu. Gudang arang pun dihias. Menurut rencana akan ada pesta kembang api, tapi ternyata sampai pukul 21.00 belum muncul,” tulis Threes Susilastuti dalam Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe . Berita penobatan itu sampai juga ke telinga raja-raja pribumi yang oleh media-media Belanda disebut “sekutu dan vazal” kerajaan Belanda. Koran Hindia Belanda di Surabaya, Soerabaiasch Handelsblad , pun membuat sebuah artikel berisi gagasan untuk menghadirkan para raja tersebut ke negeri Belanda. Mereka membandingkan penobatan ratu Belanda itu dengan Tzar Rusia yang mengundang para vazal dari Asia sebagai bentuk apresiasi karena telah mengakui kekuasaan Rusia di negerinya. Menurutnya, pemimpin daerah di Hindia yang setia kepada ratu jumlahnya banyak sehingga tidak boleh disia-siakan. “Apabila Hindia hendak ambil bagian dalam pesta penobatan yang khidmat itu, itu harus terjadi dengan cara yang lebih pantas.” tulis Soerabaiasch Handelsblad . Gagasan itu didukung oleh koran-koran Belanda lainnya. Mereka berharap kerajaan Belanda melayangkan undangan resmi agar para pemimpin daerah dapat diberi kesempatan mengucapkan selamat secara langsung kepada Wilhelmina. Adanya berita mendatangkan perwakilan dari Hindia ternyata mengusik rakyat Belanda. Pada 1897, masalah tersebut dibicarakan di Tweede Kamer (Majelis Rendah) Belanda. Sebanyak 22 anggota majelis mengusulkan anggaran sebesar ƒ75.000 untuk keperluan para wakil Hindia selama di Belanda. Namun gagasan itu ditentang oleh Cremer, Menteri Daerah Jajahan Kerajaan Belanda, karena merasa bukan keharusan untuk mengundang raja-raja di tanah jajahan. Selain itu, kebiasaan hidup mewah yang takutnya dibawa dalam perjalanan mereka ke Belanda akan membebani keuangan pemerintah Belanda. “Tidak ada maksud pemerintah Hindia maupun kabinet untuk mengundang raja-raja pribumi datang ke sini, dan tidak ada juga desakan kepada mereka untuk datang. Kalau mereka datang kemari, maka mereka datang atas kehendak sendiri dan biaya sendiri,” kata Cremer dikutip Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 karya Harry A. Poeze. Setelah Cremer mengungkapkan pendapatnya, terjadi kebimbangan di tubuh Tweede Kamer. Lebih dari setengah anggota majelis berubah pikiran dan menerima tanggapan sang menteri. Perdebatan yang cukup alot pun terjadi. Akhirnya disepakati bahwa undangan untuk para perwakilan tanah jajahan tetap dilakukan. Tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit, yang bahkan tidak merepresentasikan banyaknya kepala daerah yang setia kepada Kerajaan Belanda. “Seluruh perkara dan argumen-argumen yang dikemukakan oleh Cremer memperlihatkan kecongkakan imperial dan kepelitan orang Belanda yang terkenal itu,” tulis Harry. Perwakilan yang datang, antara lain: Pangeran Ario Mataram dari Kasunanan Surakarta, yang didampingi beberapa putranya; Sultan Syarif Hasyim dari Kesultanan Siak; dan dua putra Aji Muhammad Sulaiman, Amidin dan Hassanoedin, dari Kesultanan Kutai. Umumnya para wakil raja-raja dari Hindia itu mendapat sambutan yang hangat dari penduduk Belanda. Salah satu alasannya adalah karena rasa penasaran penduduk kepada pemimpin di wilayah yang sedang mereka jajah. Media-media setempat pun berlomba memburu para perwakilan tersebut guna mendapat wawancara secara eksklusif. Selama di sana, seorang amtenar (pegawai pemerintah) bernama Van Senden bertanggung jawab mengurusi semua kebutuhan raja dan pangeran dari Hindia. Ia mengatur semua jadwal kegiatan dan kunjungan yang akan dilakukan, termasuk urusan makan. Masing-masing perwakilan juga mendapat pemandunya sendiri. Mereka akan didampingi seorang ahli bahasa orang Belanda dan beberapa pembantu yang khusus dibawa dari kerajaannya. Bahkan Pangeran Ario membawa serta beberapa orang penari dan pembatik dari kotanya untuk tampil di depan ratu. “Para utusan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengunjungi negeri-negeri tetangga, dan di sana mereka mengagumi bermacam hal yang lain dari pada yang lain di Eropa.” tulis Harry.
- Turnamen Tertua Itu Bernama Wimbledon
PETENIS anggun asal Jerman Angelique Kerber memendam senang sekaligus tegang. Dia kembali berlaga pentas Wimbledon edisi ke-133 musim panas ini, 1-14 Juli 2019. Kerber “merumput” lagi di All England Lawn Tennis and Croquet Club sebagai juara bertahan tunggal putri. “Rasanya berbeda karena Anda kembali sebagai juara bertahan kali ini, jadi turnamen tahun ini spesial bagi saya. Banyak emosi dan kenangan dari tahun lalu, tentunya. Saya memulai dari nol lagi dan harus fokus di babak pertama. Pastinya saya juga berusaha menikmati tiap momen di dalam maupun luar lapangan,” ungkapnya, dikutip The Guardian , Senin (1/7/2019). Perasaan serupa juga menaungi Novak Djokovic, juara bertahan tunggal putra turnamen tenis tertua dunia itu. Petenis Serbia pemilik rangking 1 dunia (ATP) itu kembali untuk memburu gelar Wimbledon kelimanya, setelah sebelumnya memuncaki edisi 2011, 2014, 2015, dan 2018. Publik tanah air sendiri bisa berbangga dalam Wimbledon tahun ini. Pasalnya, Christoper Rungkat menjadi wakil Indonesia di nomor ganda putra berpasangan dengan petenis Taiwan Cheng-Peng Hsieh. Keikutsertaan Christoper membuka peluang raihan gelar yang pernah dibawa pulang petenis tanah air sebelumnya. Seperti yang ditorehkan Angelique Widjaja kala memenangi tunggal putri junior Wimbledon 2001 atau Tami Grende yang memetik gelar Wimbledon 2014 di nomor ganda putri junior berpasangan dengan petenis China Qui Yu Ye. Tami Grende (kiri) saat memenangkan Wimbledon Junior 2014 (Foto: All England Lawn Tennis Club) Meski level junior, raihan itu tetap membanggakan. Wimbledon merupakan turnamen tenis terorganisir tertua, pada 1877, laiknya FA Cup sebagai kompetisi sepakbola tertua dunia. Wimbledon satu-satunya turnamen Grand Slam yang dimainkan di lapangan rumput yang tersisa. Selain jadi turnamen tenis tertua dunia, Wimbledon diakui sebagai kompetisi olahraga terorganisir tertua kedua setelah turnamen olahraga layar Americas Cup yang lebih tua 26 tahun. Muasal Wimbledon Kelahiran turnamen Wimbledon tak lepas dari perjalanan sebuah klub olahraga para bangsawan Inggris, The All England Croquet Club. Klub tersebut didirikan pada 1868 oleh enam editor majalah mingguan The Field : John H. Walsh, R.F. Dalton, John Hindle Hale, A. Law, S.H. Clark Maddock, dan Walter Jones Whitmore. Seiring menurunnya antusiasme terhadap olahraga croquet, Walsh memodifikasi lapangan tenis menjadi lapangan rumput untuk bisa dijadikan cabang tambahan di klubnya. Tenis mulai populer saat itu. Pada 14 April 1877, tenis lapangan rumput resmi dijadikan olahraga kedua klub itu hingga mengubah nama klub jadi All England Croquet and Lawn Tennis Club (AEC<C). Ilustrasi turnamen Wimbledon pertama pada 1877 (Foto: wimbledon.com) Walsh pula yang memprakarsai gelaran turnamen amatir terbuka sebulan berselang. Mengutip Wimbledon: The Official History of the Championships karya John Barrett, turnamen itu menerima peserta dengan biaya pendaftaran 1,1 shilling. Peralatan raket dan sepatu tanpa hak juga harus bawa sendiri, sementara bola-bolanya disediakan panitia. “Kondisinya masih seadanya dan sederhana. Sejumlah lapangan rumput dengan net setinggi lima kaki. Raket-raket yang digunakan juga merupakan modifikasi dari sepatu salju,” sebut Barrett. AEC<C mencetuskan turnamen berbayar itu untuk membiayai perbaikan alat-alat pemotong rumput mereka yang rusak. Kendati nama resmi turnamen yang dihelat pada 9-19 Juli 1877 itu The Championship, publik mengenalnya sebagai Wimbledon Championship lantaran venue -nya berlokasi di lapangan Worple Road SW19 distrik Wimbledon, London. Dari sebaran iklan dan pengumuman yang diedarkan The Field edisi 9 Juni 1877, turnamen itu total diikuti 22 pemain amatir. Wimbledon pertama ini juga baru menampilkan nomor tunggal putra. Semua pemainnya juga masih asal Inggris. Adalah Spencer Gore yang, sebelumnya merupakan atlet kriket, jadi juaranya setelah di final menundukkan Charles Heathcote. Gore pun jadi orang pertama yang merengkuh hadiah utama berupa trofi Field Cup, trofi perak berbentuk cangkir setinggi 18 inci berpahat tulisan: “The All England Lawn Tennis Club Single Handed Championship of the World”. Trofi itu sempat hilang pada 1883 hingga AEC<C mesti menggantinya dengan trofi serupa bernama Challenge Cup yang diperebutkan mulai 1884. Sementara, kategori putri baru diikutsertakan dalam Wimbledon pada 1884. Pialanya, “Venus Rosewater Dish”, berupa piringan perak berdiameter 18,75 inci berpahat deskripsi Dewi Minerva. Maud Watson menjadi peraih pertama trofi itu. May Sutton jadi petenis asing pertama yang menangkan Wimbledon pada 1905 (Foto: wimbledon.com) Memasuki awal abad ke-20, Wimbledon yang jumlah pesertanya terus bertambah, mulai kedatangan peserta asing. “(Petenis) Amerika May Sutton Bundey jadi petenis asing yang menang pada Wimbledon 1905 di pertandingan putri. Norman Brookes dari Australia jadi pemenang asing pertama tunggal putra pada 1907,” sebut John Nauright dalam Sports Around the World: History, Culture and Practice. Namun, turnamen Wimbledon yang kian mendunia baru bertransformasi ke profesional pada 1968. Prize money mulai diperkenalkan pada 1968 dengan besar hadiah dua ribu poundsterling untuk juara tunggal putra dan 750 pounds untuk putri. Ironisnya, masuknya peserta asing membuat petenis Inggris Raya malah jarang menang. Legenda Fred Perry pernah memutus nasib buruk petenis tuan rumah saat menjuarai edisi 1934, setelah terakhir kali petenis Inggris lainnya, Arthur Gore menang pada 1909. Sejak era keterbukaan pada 1968, bahkan hanya Andy Murray petenis Inggris yang pernah menang, pada 2013 dan 2016.
- Awal Rencana Bangun O-Bahn di Indonesia
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sedang mengkaji pengadaan transportasi massal O-Bahn di kota-kota besar Indonesia. O-Bahn menyerupai moda Bus Rapid Transit (BRT). Ada lajur khusus untuknya di jalan umum beraspal. Ia juga bisa berjalan di atas rel seperti moda Light Rapid Transit (LRT). Itulah kenapa orang menganggapnya kemempelaian antara BRT dan LRT. O-Bahn atau Omnibus Bahnhoff kali pertama berkembang di kota Essen, Jerman, pada 1980. Panjang jalur sebermula 3 kilometer. Lalu bertambah menjadi 5 kilometer dan melewati terowongan. Bus racikan Daimler Benz itu berjalan menggunakan tenaga listrik dan mampu bergerak secara otomatis berkat teknologi terbaru. Tersemat ban khusus di samping ban utama. Ban khusus itu memandu bus tetap berada di jalurnya ketika berjalan di atas rel. Maka sering pula O-Bahn disebut sebagai bus terpandu ( guided bus ). O-Bahn memiliki keunggulan dibandingkan moda transportasi massal berbasis rel. Utamanya segi finansial dan keluwesan gerak. “Para insinyur Daimler Benz mengatakan biaya pengembangan O-Bahn tidak akan lebih mahal daripada moda kereta api,” tulis New Scientist , 12 Mei 1983. Kepincut O-Bahn Maka O-Bahn segera menarik minat pemerintah kota lain seperti Birmingham, Inggris, pada 1984, dan Adelaide, Australia, pada 1986. Setahun berselang, Jakarta pun ikut-ikutan kepincut moda O-Bahn. Kala itu masa Gubernur Wiyogo Atmodarminto (1987—1992). Masanya penuh oleh diskusi rencana pembangunan beragam moda transportasi massal untuk Jakarta. Semua berbasis rel. Dari Mass Rapid Transit (MRT), LRT, sampai Kereta Rel Listrik. Diskusi itu melibatkan Departemen Perhubungan, Departemen Pekerjaan Umum, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Riset dan Teknologi, Bank Dunia, Japan International Cooperation Agency, Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta, dan Pemda Jawa Barat. Mereka merasa perlu cepat memecahkan petaka lalu lintas Jakarta demi keberlanjutan pembangunan. Selain transportasi massal berbasis rel, Wiyogo menginginkan moda transportasi lainnya. Pilihannya tersemat pada Bus Terpandu (BT). “Kami juga sedang memprogramkan bus terpandu dari Kebayoran menuju Kota, yang jalurnya sudah mulai direncanakan,” kata Wiyogo dalam Catatan Seorang Gubernur . Dia meminta investor swasta untuk mewujudkannya. Menteri Perhubungan Azwar Anas dan Menristek B.J. Habibie menyatakan setuju terhadap rencana Wiyogo membangun O-Bahn di Jakarta. Menurut Azwar dan Habibie, pembangunan O-Bahn sejalan dengan prinsip dan arahan pengembangan transportasi dari pemerintah pusat. Salah satu prinsipnya ialah penyediaan jasa transportasi berdasarkan permintaan dari penumpang. “Pendekatan ini diterapkan untuk daerah-daerah yang lebih maju dan berkembang serta secara komersial layak dioperasikan,” kata Azwar Anas dalam Clayperon , No. 31 Tahun 1992. Jakarta tergolong daerah maju dan berkembang. Para penumpang membutuhkan moda transportasi cepat dan luwes seperti O-Bahn. Dilihat dari pilihan masyarakat di kota-kota besar negara maju terhadap transportasi massal, O-Bahn menduduki peringkat ketiga di bawah LRT dan KRL. Ini menjadi dasar kuat keinginan pemerintah menghadirkan O-Bahn. Tetapi masalahnya, pemerintah belum bisa mewujudkan pembangunan O-Bahn tersebab cekak dana. “Sebenarnya merupakan permasalahan klasik,” kata Azwar Anas. Karena itulah Menhub dan Menristek sepemikiran dengan Wiyogo bahwa swasta harus memegang peran penting dalam menyediakan transportasi tersebut. Masalah Dana Kemudian pihak swasta menyongsong tantangan pemerintah. PT. Citra Summa, konsorsium patungan grup Bimantara dan Summa, menggelar seminar pada 26—27 Juni 1991 tentang peluang swasta dalam pengembangan sistem transportasi kota metropolitan di Indonesia. Ir. Sri Bintang Pamungkas mewakili PT Citra Summa tampil membawakan makalah tentang rencana pembangunan O-Bahn. Tajuknya “Rencana Angkutan Bus Cepat Massal Terpandu Pada Jalan Layang Sepanjang Blok M-Kota”. Makalah termaksud menjabarkan masalah kemacetan di Jakarta seperti perbandingan jumlah pengguna kendaraan pribadi dan angkutan umum, jalur-jalur padat, laju pertumbuhan jalan dan populasi kendaraan bermotor, perkiraan kenaikan jumlah penduduk, dan kerugian akibat lalu-lintas yang semrawut, solusi untuk petaka itu: Angkutan Cepat Massal Bus Terpandu (ACM BT). Bintang menjelaskan seperti apa wujud Bus Terpandu. “BT jelas memerlukan track khusus yang bisa dipilih pada permukaan tanah ( on ground ), di atas permukaan tanah (elevated, atau layang) ataupun di bawah tanah ( under ground ). Alternatif yang amat memungkinkan adalah kombinasi on ground dengan elevated ,” tulis Clayperon , mengutip makalah Bintang. Bintang memaparkan pula prinsip pembangunan BT. “Harus diperhatikan kepentingan umum yang di atas segalanya, tidak membongkar bangunan monumental yang ada, konstruksi estetis, memperhatikan instalasi yang ada di bawah serta di atas tanah.” Bintang meyakinkan bahwa tarif BT terjangkau oleh berbagai kalangan. Moda ini juga akan memberi pekerja kelas bawah beragam manfaat. “Bagi kelompok dengan status sosial menengah ke bawah, yang hampir bekerja selalu di tempat, ACM BT merupakan tawaran yang menarik.” Pemerintah antusias menanggapi makalah tersebut. Azwar Anas kemudian melapor kepada Presiden Soeharto. Dia memperoleh lampu hijau untuk memulai pembangunan O-Bahn. Pengerjaannya berada di pihak swasta sepenuhnya. Serupa dengan proyek MRT. Keduanya akan saling mendukung. “Sistem O-bahn direncanakan untuk mobilitas 10.800 penumpang per jam, dianggap sebagai transisi sebelum membangun KA bawah tanah,” tulis Kompas , 7 November 1991. Tetapi rencana pembangunan O-Bahn buyar. Tak pernah ada cukup dana untuk sekadar memulainya. Studi kelayakannya pun mandeg sehingga izin pembangunan O-Bahn tak kunjung keluar. Soerjadi Soedjirdja, pengganti Wiyogo, tak pernah lagi menyinggung O-Bahn. Sejak itu, rencana membangun O-Bahn pun terkubur. Perlu menunggu 27 tahun agar rencana membangun O-Bahn bangkit kembali. Akankah kali ini rencana O-Bahn terwujud?
- Polusi Jenderal
PADA 17 Juni 2019, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 37 Tahun 2019 tentang Jabatan Fungsional Tentara Nasional Indonesia. Melalui peraturan tersebut, personil aktif TNI kembali diperbolehkan menduduki jabatan sipil. Pejabat fungsional TNI, yang meliputi pejabat fungsional keahlian dan pejabatan fungsional keterampilan, menurut peraturan tersebut berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala unit kerja atau organisasi di mana yang bersangkutan ditugaskan. Prajurit yang menduduki jabatan fungsional dipindahkan dalam jabatan struktural, maka jabatan fungsionalnya diberhentikan. Namun, setelah prajurit itu diberhentikan dari jabatan fungsional TNI, dapat diangkat kembali sesuai dengan jenjang jabatan fungsonal TNI terakhirnya berdasarkan perundang-undangan, apabila tersedia formasi jabatan. Penandatanganan perpres tersebut menimbulkan pro-kontra di masyarakat yang memang sudah khawatir sejak perpres masih jadi wacana. “Penempatan TNI aktif pada jabatan sipil dapat mengembalikan fungsi kekaryaan TNI yang dulunya berpijak pada doktrin dwifungsi ABRI (fungsi sosial-politik) yang sudah dihapus sejak reformasi,” ujar Direktur Imparsial Al Araf, dikutip kompas . com , 13/2/19. Terlepas dari pro-kontra yang ada, perpres tersebut merupakan langkah pemerintah dalam mengatasi kelebihan perwira di tubuh TNI yang ada sejak 2010. “Ini softlanding , bagian dari rencana yang dulu kita tolak, bagaimana tentara masuk wilayah sipil. Secara halus sih baik, tapi semangat di belakangnya, semangatnya bagi-bagi jatah, bagi-bagi jabatan karena banyak jenderal yang nganggur; surplus perwira,” kata Muhammad Isnur, ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, dikutip cnnindonesia . com , 2 Juli 2019. Masalah kelebihan perwira bukan fenomena baru di Indonesia. Pada 1999, Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto sampai menggulirkan rencana pemensiunan 4000 militer aktif yang dikaryakan di berbagai jabatan sipil. “Tentara yang dikaryakan itu diberi dua pilihan. Mereka dipersilakan untuk mengambil pensiun dengan tetap menjadi pejabat sipil atau kembali ke ABRI, tetapi kehilangan jabatan sipilnya,” tulis PanjiMasyarakat No. 48, 17 Maret 1999. Langkah tersebut diambil Wiranto sebagai upaya perlahan penghapusan dwifungsi ABRI sebagaimana diamanatkan Reformasi sekaligus mengatasi kelebihan jumlah perwira yang tak sebanding dengan ketersediaan jabatan di tubuh ABRI. “Mereka yang kembali ke Mabes ABRI tak dapat jabatan karena sudah berada di luar struktur. Dia harus ngantri lagi dan tidak tahu jabatannya apa. Mungkin dia juga kalah bersaing dengan rekan-rekan seangkatan yang masih berada di dalam struktur,” kata Wiranto, dikutip PanjiMasyarakat . Akibat kebijakan itu, banyak perwira lebih memilih pensiun dari militer. Letjen Sutiyoso, yang saat itu menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, salah satunya. “ Wong saya sudah di sini. Saya juga mulai mencintai pekerjaan atau tugas ini. Kalau memang harus memilih, saya akan memilih sebagai sipil saja,” kata Sutiyoso. Namun, masalah kelebihan perwira itu jelas belum separah pada masa revousi. Kelindan antara keterlambatan pemerintah membentuk institusi militer, kondisi institusi militer yang dibentuk masih jauh dari ideal, dan suasana revolusi menjadi pangkal persoalan itu. Siapapun orang bisa jadi jenderal, entah lewat penunjukan dari kelompoknya atau penunjukan diri sendiri. “Bayangkan saja, ada anak muda yang dapat pangkat jenderal, lalu bikin pasukan sendiri yang bisa diindoktrinasinya,” ujar panglima Komandemen Jawa Barat Jenderal Mayor Didi Kartasasmita dalam memoarnya, Pengabdian Bagi Kemerdekaan . Akibatnya, jenderal-jenderal bermunculan. Di ibukota Yogyakarta bahkan sampai muncul gurauan “Tidak mungkin kita kalah oleh tentara Belanda, sebab jumlah jenderal kita lebih banyak!” Didi yang ikut diminta membantu pengorganisasian militer secara profesional sampai heran bercampur kesal melihat realitas tersebut. “Ya, pada waktu itu di Yogya sudah polusi jenderal,” ujarnya.
- Enam Tragedi Kapal Selam Rusia
MUSIM panas bulan ketujuh baru saja memasuki hari pertamanya, Rusia sudah berduka. Dilaporkan, 14 awak kapal selam mereka tewas dalam sebuah insiden di perairan dekat Severomorsk, Senin (1/7/2019). Kementerian Pertahanan Rusia baru menyingkap tragedi ini sehari kemudian. “Pada 1 Juli, sebuah kebakaran terjadi selama survei batimetri dalam sebuah riset sains terkait kemampuan kapal selam di laut dalam. Empat belas awak tewas akibat keracunan asap kebakaran,” bunyi keterangan Kemenhan Rusia, dikutip Deutsche Welle , Rabu (3/7/2019). Presiden Rusia Vladimir Putin disebutkan sudah memerintahkan Menhan Sergei Shoigu untuk melawat ke Severomorsk. Panglima AL Rusia Laksamana Nikolai Yevmenov telah mengadakan investigasi terhadapnya. Namun, keterangan soal detail kecelakaan, identitas personel, pun jenis kapal selam masih dirahasiakan. Informasi yang beredar hanya menyebutkan, kapal selam yang tenggelam adalah salah satu kapal selam dari Armada Utara. Dua spekulasi yang disebutkan datang dari sumber anonim pun muncul. Suratkabar Novaya Gazeta menyebutkan yang tertimpa tragedi adalah Kapal Selam Project 210 bernomor lambung AS-12 “Losharik”. Sementara, Open Media menyebutkan yang tenggelam adalah Kapal Selam Project 667BDRM bernomor lambung BS-64. Terlepas dari masih bungkamnya otoritas Rusia, insiden tersebut menambah panjang daftar hitam tragedi kapal selam mereka sepanjang sejarah, termasuk saat masih di bawah panji Uni Soviet. Setidaknya lebih dari dua lusin insiden pernah dialami kapal-kapal selam Rusia. Berikut lima tragedi paling parah pasca-Perang Dunia II: K-19 “Hiroshima” Sebelum diluncurkan pada 8 April 1959, kapal selam nuklir generasi pertama Soviet dari Hotel-class ini sudah memakan korban. Saat masih dibuat, mengutip The Los Angeles Times , 3 Januari 1994, kapal selam ini menewaskan delapan buruh konstruksinya plus seorang teknisi listrik dan teknisi mesin. Saat ritual “pembaptisan”, botol yang dilempar ke lambung kapal tak pecah sebagiamana yang lain. Para kru kapal yang dikomandani Kapten Nikolai Zateyev sudah merasa itu jadi pertanda buruk. Benar saja. Dua tahun bertugas di Atlantik Utara, kapal berbobot 4.095 ton ini ditimpa petaka kala menjalani latihan dekat lepas pantai Greenland pada 4 Juli 1961. Reaktor nuklir kapal rusak, menyebabkan uap radioaktif memasuki sistem ventilasi udara. Transmisi darurat pun dikirimkan, tak hanya ditangkap kolega mereka di Kapal Selam S-270. Pada akhirnya ke-139 awaknya bisa pulang dengan selamat, memang. Namun dalam kurun dua tahun, 22 awaknya meninggal perlahan akibat terpapar radiasi nuklir. Tragedi itu diangkat Hollywood ke layar lebar lewat K-19: The Widowmaker (2002). K-3 “Leninsky Komsomol” Kapal yang lahir dari tipe Project 627 ini diluncurkan Soviet pada 4 Juni 1958. Diungkapkan R. Davies dalam Nautilus: The Story of Man Under the Sea , kapal itu merupakan kapal selam nuklir pertama kepunyaan Soviet yang ditugaskan di Armada Utara. Nama resmi Project 627 “Kit” baru diubah jadi Leninsky Komsomol lantaran prototipe -nya dibuat di Leningrad. Pada 17 Juni 1962, ia juga jadi wakil Soviet, yang tak mau kalah dari Amerika, dalam mencapai laut dalam Kutub Utara. USS Nautilus telah mencapainya tiga tahun sebelum itu. Sepakterjang manis K-3 namun hanya sampai 8 September 1967. Pada hari itu, cairan hidrolik di mesin kapal berbobot 3.433 ton itu bocor dan meledak sehingga memicu kebakaran. Akibatnya, 39 krunya tewas. Investigasi kasusnya berjalan hingga September 2012. Fakta komisi investigasi menemukan penyebab ganjilnya, yakni ditemukan korek api di kompartemen torpedo dan botol bir dekat tangki pemberat kapal yang menyebabkan ledakan besar. K-8 Ungkapan petir tak menyambar dua kali tak berlaku bagi kapal selam K-8 dari November-class. Dalam kurun satu dasawarsa, kapal berbobot 3.065 ton itu ketiban dua kali petaka. Inventory of Accidents and Losses at Sea Involving Radioactive Material keluaran International Atomic Energy Agency (IAEA) 2001 mengungkapkan, tabung generator uap pecah saat K-8berlayar di Laut Barents, 13 Oktober 1960. Akibatnya, pendingin Reaktor Nuklir VM-A kehilangan daya dan kebocoran terjadi. Gas radioaktif menyebar ke seluruh kompartemen. Hampir semua dari 104 awaknya terpapar radiasi meski kemudian selamat dan kapalnya tak tenggelam. Satu dekade berlalu usai diperbaiki, K-8 kembali melaut dalam rangka latihan “Ocean-70” di Teluk Biscay, 8 April 1970. Nahas, korsleting listrik di dua kompartemen menyebabkannya kebakaran. Kapten Vsevolod Bessonov sempat memerintahkan ke-103 awak meninggalkan kapal agar ditolong kapal Soviet lain. Tapi karena K-8 akan ditarik dengan kapal lain, kapten beserta 52 kru dan delapan marinir dari kapal Soviet lain kembali ke geladak K-8 untuk mengatur proses penarikan. Nahas, ke-61 personel itu justru tewas akibat api yang sempat reda kembali berkobar. Hanya 73 kru yang selamat dalam bencana itu. K-278 “Komsomolets” Mulai bertugas di Armada Utara pada 1983, lima tahun berselang kapal bertenaga nuklir dengan bobot 5.750 ini diberi nama Komsomolets (artinya anggota pemuda Komsomol alias Persatuan Pemuda Komunis Leninis). Tak lain karena selain usia para awaknya masih sangat muda, K-278 juga bisa dioperasikan dengan hanya 57 kru. Biasanya di atas 100 personil. K-278juga sempat mencetak rekor menyelam sampai kedalaman 1.020 meter, pada 4 Agustus 1984 di Laut Norwegia. Tetapi, tragedi 7 April 1989 membuat K-278 bersemayam di dasar Laut Barents berikut 42 dari 69 total krunya, termasuk Kapten Evgeny Vanin. The Economist 15 April 1989 menyingkap, mesin K-278 kapal terbakar gegara korsleting listrik saat sedang menyelam di kedalaman 335 meter. Upaya membuka tangki pemberat dan sinyal darurat diggulirkan. Namun saat pesawat amfibi Soviet datang dan melemparkan rakit darurat, sudah sangat terlambat. Hanya 25 yang bisa selamat. Sisanya yang sempat selamat dari kebakaran, tewas akibat hypothermia. K-141 “Kursk” Diluncurkan pada 1994, K-141 Kursk dari kelas Oscar II jadi salah satu kebanggaan Armada Utara di masanya. Ironisnya, kapal berbobot 16.400 ton itu justru jadi “tumbal” dalam latihan gabungan AL Rusia pertama di Laut Barents, 12 Agustus 2000. Seluruh 118 awaknya tewas dan tenggelamnya Kursk jadi bencana kapal selam Rusia terparah dan paling mengundang kontroversi. “Investigasinya berjalan dua tahun dengan hasil berupa laporan rahasia sebanyak 133 volume. Tapi mereka hanya merilis empat halaman lewat media Rossiyskaya Gazeta . Sungguh mereka tak siap secara peralatan penyelamatan serta inkompeten,” kata pakar politik Rusia Brannon Robert dalam Russian Civil-Military Relations . Bencana bermula dari kebocoran tabung gas di kompartemen torpedo. Dua ledakan terjadi dan menewaskan hampir semua kru, kecuali 23 personil yang berhasil mengunci diri di sebuah kompartemen. Upaya penyelamatan berulangkali oleh para kolega di atas permukaan gagal gegara minimnya kualitas peralatan. Inggris mencoba membantu namun ditolak. Presiden Putin baru memberi lampu hijau pihak asing membantu lima hari pasca-kejadian! Alhasil, saat para penyelam Norwegia dengan kapsul selam berhasil mencapai kompartemen para “pengungsi” di insiden, semuanya sudah terlambat. Kisah kontroversial itu diangkat ke layar lebar dengan tajuk Kursk / The Command yang rilis 21 Juni 2019.





















