top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Turki Tidak Mengakui Negara Islam Bentukan Uighur

    DALAM bab 2 bukunya yang diterbitkan The Chinese University of Hong Kong pada 2013, Gerakan Kemerdekaan Turkestan Timur: 1930an–1940an (Dong Tujuesitan Duli Yundong: 1930 Niandai zhi 1940 Niandai), Wang Ke menyimpulkan bubarnya Republik Islam Turkestan Timur (RITT) yang berpusat di Khotan dan Kashgar “lebih tepat bila dikatakan disebabkan oleh perseteruan elite internalnya ketimbang dibilang dipicu oleh gempuran dari pihak musuh.”

  • Europa League Tempo Doeloe

    Pentas pertama UEFA Europa League sejatinya sudah dimulai pada 1955. Namun, pentas kejuaraan itu baru berjalan di bawah naungan UEFA pada 1971-1972. Titik nol kompetisi di bawah Champions League yang baru di- rebranding menjadi Europa League baru dimulai pada 2009. Format baru ini merupakan fusi dengan Intertoto Cup dan Winners Cup. Mengutip majalah Shoot! edisi 4 April 1970, Europa League “tempo doeloe” masih sebatas kompetisi antarkota bernama lengkap International Industries Fairs Inter-Cities Cup atau sohor disebut Inter-Cities Fairs Cup. Kompetisi ini dicetuskan trio Stanley Rous (Inggris), Ottorino Barassi (Italia), dan Ernst Thommen (Swiss). Ketiganya merupakan anggota komite eksekutif FIFA. “Kompetisinya awalnya didesain untuk tim-tim yang mewakili kota-kota di Eropa yang rutin menggelar pekan raya perdagangan dan industri. Kompetisi pertamanya dimulai Juni 1955 namun baru selesai pada Mei 1958,” tulis Matthew Taylor dalam The Association Game: A History of British Football . Turnamennya digelar dalam kurun waktu panjang. Selain berbarengan dengan pekan raya perdagangan, kompetisinya tidak ingin tabrakan dengan jadwal liga di masing-masing negara peserta. Para pemainnya pun cabutan dari klub-klub yang berbasis di masing-masing kota. Di musim pertama, 1955-1958, 12 tim mengikuti turnamen tersebut. Selain  Barcelona XI, ada København XI, Wien XI (kemudian mundur), Birmingham City, London XI, Internazionale, Zagreb XI, Lausanne-Sport, Basel XI, Leipzig XI, Köln XI, dan Frankfurt XI. Barcelona XI jadi jawara perdananya. Di laga kandang-tandang partai puncak, Barcelona XI membungkam London XI dengan agregat 8-2. Hadiahnya berupa trofi “langsing” berbahan perak yang dikenal sebagai Trofi Noël Béard. Namanya diambil dari seorang industrialis Swiss, di mana trofi ini pun dibuat di salah satu pabrik miliknya. Setelah dibanjiri apresiasi dari sana-sini, penyelenggara pun membolehkan tim berbasis klub untuk ikut serta di musim berikutnya, 1958-1960. Itupun dengan syarat bahwa klub itu mesti berasal dari kota penyelenggara pekan raya industri dan perdagangan Eropa. Sayang, umur Inter-Cities Fairs Cup hanya sampai 1971. Barcelona langganan juara Inter-Cities Fairs Cup. (fcbarcelona.com) Era Baru Barcelona selain jadi pemenang pertama juga jadi pemenang terakhirnya setelah di final menang tipis 2-1 atas Leeds United. “Dengan begitu trofinya secara permanen dimiliki Barcelona. Pada 1971 kompetisinya diambil alih UEFA dan di- rebranded menjadi UEFA Cup,” sebut Heinz Duthel dalam FC Barcelona-Barça . Selain perubahan nama dan format, turnamen turut menghadirkan trofi baru nan cantik karya seniman Swiss Alex Walter Diggelmann. Berbahan perak dan beralaskan marmer kuning, trofi itu berdimensi tinggi 67 cm, lebar 33 cm, dan berbobot 15 kg. Pembuatnya, pabrikan trofi GDE Bertoni. Trofi ini diperebutkan secara bergilir oleh 64 peserta yang diambil dari sejumlah liga di Eropa, khususnya yang tak lolos European Cup (kini Champions League). Sistem kompetisinya berupa knock-out kandang-tandang di lima fase sebelum partai puncak. Finalnya pun digelar dua kali. Tottenham Hotspur menjadi klub pertama yang menjuarainya setelah menjungkalkan sesama klub Inggris, Wolverhampton Wanderers, dengan agregat 3-2. Perbaruan format terjadi pada musim 1997-1998 di mana finalnya digelar sekali. Seiring ditambahnya jumlah peserta jadi 145 tim di musim 2004-2005, format turnamen kembali dirombak. Kali ini menyamai Champions League, yakni bermula dari penyisihan grup dan baru beralih ke sistem gugur di babak 32 besar. Michel Platini menyerahkan trofi Europa League di musim pertama rebranding kompetisi pada Mei 2009. (ReproCompetition Book Europa League 2009-2012) Meski sudah rebranding , kompetisi UEFA Cup tetap dicap sebagai turnamen Eropa kasta rendahan. Terlebih ia juga menerima “buangan” peserta peringkat tiga fase grup Champions League yang tak lolos ke babak knock - out . Stigma itulah yang membuat Presiden UEFA Michel Platini kembali merombaknya pada 2009. Selain mengganti namanya menjadi UEFA Europa League, UEFA juga menambah delapan tim peserta. Tujuannya untuk lebih meluaskan hegemoni sepakbola Eropa ke segala penjuru benua, termasuk negara-negara yang selama ini hanya jadi penonton seperti Estonia, Azerbaijan, Makedonia Utara, Malta, atau San Marino. “UEFA percaya bahwa sepakbola Eropa butuh kompetisi klub kedua. Kami percaya upaya ini bukan untuk mendikte pihak manapun. Jadi dengan memberikan dorongan dan memastikan warisan kebanggaan terus hidup, kami merekomendasikan format, organisasi dan nama baru. UEFA Cup tidaklah mati namun terlahir kembali dengan UEFA Europa League, kompetisi yang merangkul perbedaan di Eropa,” ungkap Platini dalam buklet Competition Book 2009-2012: Challengers on a European Adventure yang dirilis UEFA pada 2009. Tetap saja, banyak pihak mengkritik kebijakan UEFA yang dianggap sebagai rebranding tak relevan itu. Turnamennya tetap dianggap kompetisi kasta kedua atau dicap dengan julukan yang lebih konyol: “Liga Malam Jumat”, mengingat tayangannya di Indonesia hadir tiap Jumat dini hari selepas jadwal Champions League di tengah pekan (Rabu dan Kamis dini hari).*

  • Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit

    PADA suatu pagi, sang prabu tengah berada di balairung sari menerima para menteri, arya, dan pemuka negara yang datang menghadap. “Sri Paduka yang mulia! Ada suatu kewajiban kenegaraan yang tidak boleh diabaikan sehingga harus dibicarakan sekarang,” ujar Gajah Mada tiba-tiba. Berdasarkan perhitungan, lanjut Gajah Mada, hari peringatan dua belas tahun meninggalnya Rajapatni jatuh pada bulan Badra tahun itu. Ibu suri Tribhuwana Tunggadewi berkeinginan supaya putranya, Raja Hayam Wuruk melaksanakan perayaannya di istana.

  • Jejak Islam di Sarang Mafia

    PADA November 2015, Giovanni Gambino (putra mahkota mafia Italia) mengancam ISIS (Negara Islam Syiria dan Irak) untuk tidak mengacau di beberapa tempat yang ada di bawah kekuasaan keluarga Gambino. Tokoh kejahatan yang saat itu tengah diburu oleh polisi tersebut menyatakan dia menjamin bahwa para teroris ISIS tak akan berani mengacau Italia terlebih Sisilia. Giovani sesumbar bahwa selama ini para teroris ISIS hanya berani beroperasi di negara Eropa seperti Prancis dan Belgia tidak lain disebabkan dua negara itu bukan termasuk kawasan yang ada dalam lindungan mafia. "Berbeda dengan kawasan Sisilia (pusat mafia di Italia ) yang bebas dari jaringan teroris," ujarnya seperti dilansir Russian Times , 24 November 2015. Saat ini, tak banyak orang tahu (sekalipun orang Islam), bahwa Sisilia pernah menjadi koloni dari para penguasa Arab Islam ratusan tahun yang lalu. Padahal, bangunan-bangunan megah yang sekarang menjadi ikon pulau tersebut merupakan sisa-sisa peninggalan peradaban Islam. Katakanlah sebagai contoh Palazzo dei Normann (dulu merupakan istana lama para emir Arab), Gereja San Giovanni degli Eremiti (dulu merupakan masjid), Katederal Lucera (juga dahulunya masjid), dan gedung-gedung tua lainnya. Sebelum jatuh ke tangan orang-orang Arab Islam, Palermo (ibu kota Sisilia) pernah dikuasai oleh orang-orang Phoenix dan Byzantium (nama lain untuk Kekaisaran Romawi Timur). Saat dikuasai orang-orang Byzantium itulah, pada 652 Palermo pernah diserang oleh pasukan Muawiyah bin Abu Sofyan (602-680) yang merupakan khalifah pertama Dinasti Umayyah. “Kerajaan Siracuse (yang menginduk kepada Byzantium) sempat tenggelam dalam serangan pertama ini. Rampasan perang muslim, termasuk para perempuan, kekayaan gereja, dan benda-benda berharga lainnya mengundang para pengembara muslim untuk kembali ke daerah itu di kemudian hari,” tulis Philip K. Hitti dalam  History of The Arabs . Pada 827 terjadi pemberontakan orang-orang Sicilia terhadap Gubernur Byzantium. Karena merasa tidak berdaya menghadapi kekuatan militer Kekaisaran Romawi Timur, para pemberontak pimpinan Euphemius itu memohon bantuan militer kepada Ziyadatullah I (817-838), yang merupakan pimpinan orang-orang Aglabiyah (nama lain Tunisia yang saat itu menjadi bagian dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah ) . Gayung bersambut. Tak lama setelah Euphemius mengirimkan surat permohonan bantuan militer itu, penguasa Aglabiyah memerintah seorang panglima seniornya bernama Qadhi-Wazir (konon usianya saat itu sudah 70 tahun) untuk  memimpin 70 armada kapal (mengangkut 10.000 prajurit dan 700 kuda perang) ke Pulau Sicilia. Singkat cerita, takluklah Palermo kepada pasukan Arab Islam tersebut pada  831. Di bawah gubernur baru yang merupakan boneka orang-orang Aglabiyah, Sicilia menjadi wilayah yang sejahtera. Alih-alih diperlakukan diskriminatif, para penduduk asli diberikan kebebasan memeluk agama. Syaratnya: mereka harus membayar jizyah (pajak kepala). Di era itu, orang-orang Aglabiyah memang tidak menjadikan Palermo sebagai kota utama. Mereka lebih memilih Syracuse sebagai ibu kota Sicilia. Namun demikian Palermo tetap dibangun dan diperindah, hingga konon keindahannya disebut-sebut hanya bisa ditandingi oleh Cordoba di Spanyol dan Kairo di Mesir. Selain kotanya yang indah, para penduduk Palermo juga dikenal sangat mengutamakan mode. Menurut Uskup Agung Sophronius, dalam sebuah catatannya yang dibuat pada 883 M, Palermo adalah kota internasional yang berisi manusia-manusia dari berbagai bangsa. Selain orang-orang Arab dan lokal Sisilia, Palermo juga dihuni oleh orang-orang Yunani, Yahudi, dan Lombardia Pada 972-973, Ibnu Hauqal berkenan mengunjungi kota tersebut. Menurut saudagar Baghdad tersebut, Palermo merupakan kota yang sangat cantik dengan istana dan masjid-majid megahnya yang berdiri di tiap sudut kota. ”Ketika mendengarkan mereka, saya yakin mereka orang yang saleh. Tidak ada yang meragukan kapasitas mereka,” tulis Hauqal seperti dikutip Hitti . Bidang pendidikan pun tak kalah maju dengan Baghdad dan Cordoba. Di Palermo ada Universitas Balerm, salah satu universitas tertua di dunia. Pamornya hanya kalah bersaing oleh Universitas Cordoba di Spanyol, yang juga dikuasai oleh para ilmuwan muslim. Dalam percakapan sehari-hari, orang-orang Palermo menggunakan tiga bahasa: Yunani, Arab, dan Latin. Tak aneh jika saat itu, upaya-upaya penerjemahan buku-buku khazanah Yunani ke bahasa Arab dan Latin berlangsung gencar. Tahun 1071 Palermo diserang oleh orang-orang Normandia dan takluk. Kendati berhasil menghancurkan kekuasaan orang-orang Arab Islam, namun orang-orang Normandia mengadopsi kepintaran orang-orang Arab. Alih-alih menghancurkan dan mengusir orang-orang Arab, salah satu raja mereka yang bernama Roger I malah meniru mentah-mentah pembangunan militernya dari orang-orang Arab. Roger I pun membebaskan orang-orang non-Kristen untuk memeluk keyakinannya dan melindungi para cendekiawan Arab, filosof, para dokter dari Timur, astrolog dan para sastrawan. Bahkan upaya penerjemahan referensi-referensi Arab berlangsung gencar. Salah satunya penerjemahan buku berharga yang berjudul Almagest oleh seorang lokal bernama Eugene (dia bergelar amr ) pada 1160. Sisilia khususnya  Palermo tetap menjadi primadona pengetahuan selama ratusan tahun . Hingga pada sekira 1800-an, kota cantik itu jatuh ke tangan para mafioso. Sejak itulah, pusat ilmu pengetahuan di Eropa tersebut berubah menjadi sentra bisnis hitam (seperti narkoba dan penjualan orang) yang terkenal di dunia.

  • Ketika Aparat Bertindak di Luar Batas

    POLITISI gaek Amien Rais buka suara menyikapi kerusuhan yang terjadi baru-baru ini pasca kapitulasi pemilihan umum di Jakarta (22/05/19). Bermula dari unjuk rasa di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), aksi ini berakhir dengan bentrokan yang menelan delapan korban meninggal. Sebelumnya, Kepolisian Republik Indpnesia melalui Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal mengatakan tidak akan mengenakan peluru tajam dalam tindakan pengamanan. “Saudaraku saya menangis, saya betul-betul sedih, tapi juga marah bahwa polisi-polisi berbau PKI telah menembak umat Islam secara ugal-ugalan," kata Amien dalam unggahan akun   instagramnya . “Saya atas nama umat Islam meminta pertanggungjawabanmu. Jangan buat marah umat Islam.” Pernyataan Amin segera diikuti dengan seruan takbir oleh orang-orang di sekelilingnya. Aksi kerusuhan itu juga disambut oleh Titiek Soeharto dengan pernyataan yang menyudutkan aparat keamanan dan pemerintah. Menurut Mbak Titiek – sapaan akrab Titiek Soeharto -  tindakan polisi untuk meredam kerusuhan berujung dengan penganiayaan dan penghilangan nyawa. “Hentikan penganiayaan dan penghilangan nyawa rakyat pada aksi unjuk rasa pascapemilu,” kata Mbak Titiek dalam deklarasi Litura (Lima Tuntutan Rakyat) Emak-emak Indonesia.    Cerita tentang aparat keamanan yang menembaki umat Islam juga pernah terjadi pada masa Orde Baru ketika Presiden Soeharto – ayah Titiek Soeharto – berkuasa. Mengingatkan kembali, Orde Baru adalah rezim yang dilawan habis-habisan oleh Amien Rais sewaktu menegakan reformasi pada 1998. Pada 12 September 1984, Jusuf Wanandi mencatat dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia , tentara menembaki sekelompok Muslim yang sedang melakukan protes di kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Akibatnya, ratusan nyawa melayang di ujung bedil tentara. “Sampai sekarang pun masih belum diketahui (tepatnya) berapa korban yang tewas,” tulis Wanandi. Tragedi berdarah ini kelak disebut dengan nama Peristiwa Tanjung Priok. Insiden Tanjung Priok disulut oleh laporan yang menyatakan bahwa ada anggota polisi yang memasuki masjid di Tanjung Priok tanpa menanggalkan sepatunya. Si polisi memerintahkan agar poster yang bernada antipemerintah diturunkan. Ketika penjaga masjid menolak, anggota polisi menggeledah masjid dan mencabut poster-poster propaganda sambil tetap mengenakan sepatunya. Tindakan polisi yang dianggap semena-mena menyinggung warga masjid. Akibatnya, mereka menyerbu kantor polisi setempat. Mulai dari warga biasa, pengusaha bongkar muat, hingga preman turun menyerbu. Polisi yang kewalahan meminta bantuan tentara. Karena polisi mundur, Panglima Kodam Jaya Mayjen Try Sutrisno memenuhi permintaan bantuan polisi. Sejumlah tentara dikerahkan ke Tanjung Priok. Menurut Jusuf Wanandi, mereka diperlengkapi dengan senapan AK47 dan M16 untuk pengamanan. Ketika segerombolan orang datang menyatroni kantor polisi, ada sekira 20 tentara yang berjaga di sana. Alih-alih menenangkan massa yang marah, aparat melakukan tindakan di luar batas: menembaki para demonstran secara membabibuta.    Sumber pemerintah mengumumkan kemungkinan 90 orang yang tewas. Namun beberapa sumber lain menyebutkan ada banyak jenazah yang langung dikubur atau dibuang ke laut, sehingga tidak diketahui berapa angka persis mengenai jumlah korban. Panglima ABRI saat itu, Jenderal Benny Moerdani disebut-sebut sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. “Atas perintah Presiden Soeharto, Benny mengambil alih penanganan kerusuhan itu,” tulis Wanandi. Bagaimana tanggapan Presiden Soeharto atas jatuhnya korban sipil di Tanjung Priok? Dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya , Soeharto mengatakan, “Sesungguhnya, peristiwa itu benar-benar hasil hasutan orang yang menempatkan diri sebagai pemimpin.” Menurut Soeharto melaksanakan keyakinan dan syariat agama yang dianutnya, tentu boleh-boleh saja. Tetapi jangan menghasut rakyat untuk memberontak. Apalagi coba-coba memprovokasi mengganti Pancasila, sekali-kali jangan.   “Terhadap yang melanggar hukum, ya, tentunya harus diambil tindakan,” kata Soeharto membenarkan tindakan aparatnya.

  • (R)evolusi ATM

    Automated Teller Machine atau ATM akan punah. Apa yang membuat kita yakin mesin ATM tak mengalami nasib yang sama seperti dinosaurus? Jawabannya: inovasi. Sejak kali pertama diperkenalkan hingga sekarang, fungsi ATM mengalami evolusi, mengikuti kebutuhan konsumen dan perkembangan teknologi informasi. Penemu ATM Siapa penemu ATM masih jadi perdebatan. Umumnya orang menyebut ATM pertama dibuat Luther George Simjian, ilmuwan kelahiran Turki dan besar di Amerika Serikat. Mesin itu, bernama Bankograph, dapat menerima uang tunai atau memeriksa setoran kapan saja. Mulanya banyak orang meragukan temuannya. Tapi, pada 1960, dia berhasil membujuk City Bank of New York –kini Citibank– untuk mencoba mesin pintarnya selama enam bulan. “Orang yang berminat menggunakan mesin ini adalah segelintir pelacur dan penjudi yang tidak mau berurusan langsung dengan teller bank,” ujar Simjian, dikutip History.com . Gagasan membuat mesin ATM lalu datang dari John Shepherd-Barron, direktur percetakan dokumen-dokumen keuangan De La Rue di Inggris. Gagasan ini muncul karena pengalaman buruknya dengan bank tahun 1965. Seperti dikutip telegraph.co.uk , Shepherd-Barron mendapatkan ide brilian: jika mesin penjual otomatis dapat mengeluarkan cokelat, mengapa ia tak bisa mengeluarkan uang tunai? Barclays Bank suka dengan gagasan Shepherd-Barron. Mesin ATM pertama bikinan Shepherd-Barron kemudian dipasang di Enfield, sebuah kawasan di utara London, Inggris. Setelah itu, tahun 1968, seorang ahli dari Docutel Corp Texas, Don Wetzel, mengembangkan ATM berjaringan pertama, yang dikenal sebagai Docuteller. Karyanya dipakai Chemical Bank of New York pada 1969. Bentuk dan cara kerja ATM yang masih sederhana itu kemudian terus dikembangkan. Yang diakui sebagai ATM modern pertama adalah IBM 2984. ATM meraih popularitas ketika pada 1977 Citibank meluncurkan ATM pertama di Queens, New York. Slogan “Citi Never Sleep” mengiringi peluncuran itu. Menyusul kemudian cabang-cabang Citibank di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, bank-bank terkemuka masih berpikir seribu kali untuk memasang ATM. Investasi untuk ATM dianggap sebagai pemborosan. Menariknya, yang memperkenalkan ATM bukan bank-bank besar di ibukota tapi justru bank kecil di Denpasar, yakni Bank Dagang Bali (BDB), pada 1984/1985. BDB menjalin kerjasama dengan Chase Manhattan Bank. Untuk bisa mendapatkan layanan ATM ini, nasabah BDB harus memiliki kartu khusus yang disebut cash point card . I Gusti Made Oka, pendiri sekaligus direktur utama BDB, mengatakan tak sekadar ingin pamer melainkan demi meningkatkan pelayanan. Selain karyawannya belum mampu memberikan pelayanan cepat, dtulis majalah Tempo , 1986, Made merasa kasihan dengan nasabahnya yang harus antre lama di depan kasir. Setelah BDB, Citibank Indonesia mulai memasang ATM dan disusul Bank Niaga pada 1986. Bank Central Asia (BCA) baru memberikan layanan ATM pada 1988. Meski bukan bank pertama di Indonesia yang menggunakan ATM, sejarah kemudian mencatat BCA sebagai bank paling inovatif dalam mengembangkan layanan produk perbankan melalui mesin ATM. Pertama Kali BCA Menyediakan Layanan ATM BCA didirikan pada 21 Februari 1957. Dari bank perdagangan, yang lebih banyak melayani nasabah pedagang, BCA menyasar consumer banking . Setelah sukses dengan Tahapan BCA, tahun 1988 BCA meluncurkan layanan mesin ATM. Bagi BCA perlu waktu sangat lama untuk mengubah pikiran konsumen untuk beralih dari cara tradisional (mengantri di loket) ke cara modern (menggunakan ATM). Untuk itulah BCA melakukan edukasi terus-menerus. Menurut pakar marketing Hermawan Kartajaya dalam  Kompas 100 Corporate Marketing Cases , meski bukan yang pertama menawarkan layanan ATM di Indonesia, BCA adalah bank pertama yang melakukan proses edukasi sistematis. Proses edukasi tersebut diimbangi dengan penambahan keberadaan ATM dan fasilitas layanan ATM. Pada mulanya jumlah ATM BCA setidaknya baru 50 unit ATM terpasang di penjuru Jakarta pada 1991. Dengan pertumbuhan nasabah yang pesat, ATM pun terus ditambah dari waktu ke waktu. Dari sisi kenyamanan bertransaksi juga menjadi perhatian. Pada 1995, BCA melakukan pembenahan  ATM, baik dari sisi sistem dan aplikasi, infrastruktur, serta menerapkan perangkat penunjang lainnya untuk menjaga kenyamanan dan keamanan bertransaksi di mesin ATM. Software aplikasi di Server untuk memproses transaksi dari semua mesin ATM diganti. Lalu di setiap lokasi ATM dipasang antena very small aperture terminal (VSAT) fasilitas telekomunikasi menggunakan teknologi satelit, lengkap dengan kamera pengawas (CCTV). Investasi besar ini dirasakan dampaknya di kemudian hari. Terbentuk persepsi publik bahwa ATM BCA ada di mana-mana dengan layanan transaksi yang on line 24 jam, 7 hari seminggu. Citra ini mendongkrak jumlah nasabah. BCA juga mengedukasi masyarakat untuk kebutuhan uang tunai tidak harus lagi antri di cabang dan tidak perlu banyak memegang uang tunai karena tersedianya kemudahan tarik tunai di mesin ATM. BCA Memperkenalkan Layanan “Pembayaran” di ATM Pada masanya BCA menjadi bank yang memiliki mesin ATM terbanyak. Ketika bank lain mulai mengikuti untuk menerapkan strategi memperbanyak memasang mesin ATM, BCA sudah melangkah lebih maju lagi. Pengembangan jaringan dan fitur ATM dilakukan secara intensif.  Pada 1996, ketika nasabah telah terbiasa melakukan transaksi penarikan tunai dan cek saldo melalui ATM, mulailah BCA mengembangkan layanan-layanan yang lebih inovatif. “ BCA  adalah bank pertama yang memperkenalkan layanan pembayaran tagihan lewat ATM,” tulis majalah Swa , 2005. Setelah sukses menjalin kerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), menyusul kemudian Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan perusahaan-perusahaan lainnya. Gebrakan lainnya, BCA menawarkan kerja sama dengan Citibank berupa pembayaran tagihan kartu kredit Citibank melalui ATM BCA. Seiring waktu makin banyak layanan perbankan yang dapat dilakukan lewat ATM BCA. Mulai dari pembayaran tagihan telepon, listrik, PAM, ponsel, isi ulang pulsa, kartu kredit, cicilan kredit, pajak PBB, uang sekolah, beli tiket pesawat sampai beli saham. Payment system yang dikembangkan BCA menjadi obyek studi karena di luar negeri ATM adalah cash withdrawl dan balancing inquiry . Bahkan menurut Kristin Samah dalam Game Changing: Transformasi BCA 1990-2007 , “BCA menjadi bank pertama di dunia yang menyediakan jasa pelayanan pembayaran melalui mesin ATM.” Perkembangan ATM di Era “Paspor BCA” Pada akhir 1998, dalam situasi ekonomi krisis moneter dan ketersediaan uang tunai yang terbatas, BCA mengeluarkan fitur inovasi yaitu kartu ATM yang ditambahkan dengan fitur Debet, dikenal dengan kartu Paspor BCA. Paspor BCA merupakan cara baru dalam bertransaksi atau belanja di merchant-merchant tanpa harus terlebih dahulu menyiapkan uang tunai. Fitur Debet pertama kali dapat digunakan di Hero Supermarket. Setiap kasir dilengkapi dengan mesin electronic data capture (EDC). Tak berhenti di situ. Fitur Debet pada kartu Paspor BCA kemudian dilengkapi lagi dengan fitur penarikan uang tunai melalui merchant-merchant , serta pada 2002 untuk memudahkan transaksi tarik tunai BCA di merchant BCA menambahkan Electronic Cash Register (ECR) yang menghubungkan EDC ke cash register di toko-toko. Pada 2004, menurut hasil riset AC Nielsen, mayoritas pemegang kartu ATM memiliki kartu ATM BCA/Paspor BCA di dalam dompetnya. Praktis ATM BCA merupakan ATM yang memiliki banyak fasilitas. “Mau tidak mau ATM BCA sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat yang sudah banking minded ,” tulis Swa . Tidak berhenti disitu saja, periode 2003 dan 2004 BCA mengeluarkan mesin ATM khusus digunakan untuk transaksi-transaksi non cash yang disebut ATM Non Tunai dan mesin ATM yang khusus digunakan untuk penyetoran uang tunai yang disebut ATM Setoran Tunai. Dengan demikian untuk kebutuhan penarikan uang tunai, penyetoran uang tunai atau menabung tidak perlu lagi harus datang ke cabang, semua sudah dapat dilayani oleh mesin ATM. ATM Setor Tarik Untuk semakin melengkapi ketersedian fasilitas transaksi perbankan kepada nasabah , pada 2014, BCA memperkenalkan ATM berbasis cash recycling machine yang dapat melayani beberapa transaksi dalam satu mesin ATM, yaitu ATM Setor Tarik . Dengan ATM Setor Tarik nasabah tidak perlu lagi repot-repot pindah mesin ATM untuk melakukan beberapa transaksi yang berbeda, penarikan tunai, penyetoran tunai, transaksi pembayaran dan transaksi pembelian dapat dilakukan di mesin ATM Setor Tarik.   ATM memang hanya satu dari sekian banyak saluran transaksi yang dimiliki BCA. Masih ada saluran lainnya; dari BCA Mobile hingga uang elektronik ( e-money ). Namun, ATM masih menjadi saluran transaksi favorit masyarakat untuk bertransaksi. Bahkan kehadiran saluran-saluran lain memperkaya layanan yang diberikan ATM BCA. Misalnya, registrasi dan aktivasi BCA Mobile, baik KlikBCA (versi smarphone ) maupun m-BCA bisa dilakukan melalui ATM. Masing-masing saluran transaksi yang tersedia saling melengkapi, saling bersinergi sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dalam memberikan layanan dan manfaat kepada nasabah. Contoh sinergi yang saat ini sudah dirasakan manfaatnya oleh nasabah adalah dengan saluran BCA Mobile dapat melakukan penarikan tunai dan penyetoran tunai di ATM. Nasabah tidak perlu lagi kawatir ketika ketinggalan kartu Paspor BCA dirumah karena dengan   fitur transaksi cardless (tanpa kartu) di BCA Mobile sekarang dapat melakukan transaksi penarikan tunai atau penyetoran tunai di ATM BCA. Era Cardless Transaction, di ATM BCA Bisa “Setor/Tarik Tunai Tanpa Kartu” Hanya dalam 15 hari setelah diluncurkan pada 12 Oktober 2011, aplikasi BCA mobile telah diunduh sekitar 17 ribu pengguna. Melalui layanan BCA mobile, nasabah bisa melakukan transaksi perbankan, baik finansial maupun nonfinansial, lewat smartphone. Dan saat ini BCA mobile sudah digunakan oleh 9,4 juta pengguna. Sejak diluncurkan sekira 8 tahun silam, aplikasi BCA mobile terus memperkaya fitur-fiturnya. Fitur paling gres dari aplikasi BCA mobile adalah fitur Buka Rekening di BCA mobile, fitur Setor / Tarik Tunai Tanpa Kartu, fitur BCA Keyboard, dan fitur QRku. Sejalan dengan perkembangan BCA mobile tersebut, ATM BCA pun mengikuti perkembangan zaman. Memasuki era cardless transaction , dimana BCA mobile memperkenalkan fitur layanan setor/tarik tunai tanpa kartu di ATM, maka ATM BCA pun menyediakan mesin dengan pilihan menu “Transaksi tanpa Kartu”. Per bulan April 2019, BCA telah memiliki 5.925 buah “ATM Setor Tarik”, yaitu ATM yang bisa melakukan setoran atau tarikan tunai. Fitur Setor/Tarik Tunai Tanpa Kartu ini merupakan inovasi dari BCA, dalam memanjakan nasabah yang kesehariannya sangat sering berinteraksi menggunakan smartphone. Langkah-langkah setor/tarik tunai tanpa kartu dapat dilihat di sini: bca.co.id . Fitur tersebut berguna sekali untuk nasabah yang jarang membawa dompet saat bepergian, terlebih lagi untuk nasabah yang baru saja melakukan buka rekening secara online via BCA mobile.Nasabah dapat dengan mudah membuka rekening baru tanpa harus datang ke cabang. Namun perlu diingat, ketika membuka rekening baru, nomor handphone-nya harus nomor yang belum terdaftar mobile-BCA.  Fitur buka tabungan di BCA mobile memiliki tiga keuntungan yaitu: Nasabah tak perlu datang ke kantor cabang BCA; Nasabah mendapat fasilitas BCA mobile (m-BCA) dan Internet Banking (KlikBCA); Nasabah bisa lebih mudah melakukan setoran awal melalui menu Transaksi Tanpa Kartu di ATM. Bagi para nasabah, buka tabungan di BCA mobile caranya mudah sekali, cek di sini: bca.co.id . Dunia bergerak cepat. Teknologi dan inovasi berkembang seturut dengan kompleksnya kebutuhan. Pada titik ini, BCA sudah menjawabnya.

  • Hikayat Pelabuhan di Selatan Jawa

    WILAYAH pantai utara telah sejak lama digunakan sebagai gerbang kegiatan dagang kerajaan-kerajaan di Jawa. Hampir sebagian besar jalur perdagangan laut di Nusantara melewati wilayah utara Jawa. Misal Cirebon, Pekalongan, Tegal, Batavia, Semarang, dan Surabaya. Maka tidak heran jika terjadi perkembangan yang amat pesat di wilayah tersebut. Keadaan itu sangat terbalik dengan wilayah pantai selatan Jawa. Di wilayah tersebut cukup kesulitan membangun sebuah kota pelabuhan. Salah satu faktor penghambatnya adalah ombak ganas Samudera Hindia yang membuat kapal-kapal sulit untuk berlabuh. Namun hambatan itu tidak berlaku bagi CIlacap. Kota pelabuhan yang masuk dalam wilayah Karesidenan Banyumas itu dilindungi oleh pulau Nusakambangan. Dengan lebar 6 kilometer dan panjang 40 kilometer, pulau tersebut melindungi pelabuhan dari terjangan ombak Samudera Hindia. “Ditambah dengan kedalamannya perairan di sekitar dermaga, Cilacap dikenal sebagai pelabuhan alam yang baik bagi perahu dan kapal besar berlabuh,” tulis Susanto Zuhdi dalam Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa. Selain Cilacap, aktivitas dagang di selatan Jawa dilakukan di pelabuhan Prigi, Panggul, Pacitan, Cilaut Eureun dan Pelabuhan Ratu ( Wijnkoopsbaai ). Tetapi kegiatan pelayaran di sana tidak seramai di pantai utara. Bahkan jenis komoditas yang diperjualbelikan pun tidak dalam jumlah besar. Kegiatan yang umum dilakukan di pelabuhan pantai selatan adalah perdagangan ikan asin, garam, dan terasi. Para pedagang yang datang pun berasal dari pulau-pulau sekitar. Sehingga sangat jarang ditemukan kapal-kapal besar bersandar di dermaga. Menurut Susanto, di antara pelabuhan-pelabuhan di selatan, Cilacap menjadi satu-satunya yang mendapat perhatian paling besar dari pemerintah kolonial. Posisinya yang dianggap paling strategis, membuat pemerintah melakukan pembangunan besar-besaran di sana. Membangun Potensi Setelah  berhasil menancapkan pengaruhnya di Banyumas pada 1831, pemerintah Hindia Belanda segera mengalihkan perhatiannya pada pembangunan pantai selatan Jawa. Mereka melihat potensi yang besar di pelabuhan Cilacap untuk kegiatan pelayaran. Pemerintah Hindia Belanda lebih memilih membangun selatan Jawa dibandingkan utara Jawa karena persoalan waktu. Banyak produk dari pedalaman yang lebih cepat didistribusikan melalui pantai selatan. Dan Cilacap dianggap memiliki kondisi alam yang paling sesuai. Dalam tesisnya Transportasi dan Ekonomi di Karesidenan Banyumas tahun 1830-1940 , Purnawan Basundoro menjelaskan bahwa kekuatan terbesar Cilacap sebagai pelabuhan dagang berada pada transportasi sungainya. Dengan memanfaatkan aliran sungai Serayu dan Kaliyasa, pemerintah mendistribusikan langsung komoditi dagangnya ke pelabuhan Cilacap. “Serayu merupakan sungai terpanjang yang dapat dilayari ke pedalaman. Dari ibukota Banyumas ke utara sungai dapat dilayari sepanjang 24 kilometer, sedangkan ke selatan sepanjang 40 kilometer sampai ke laut,” tulis Susanto. Walau belum resmi, kegiatan ekspor di pelabuhan Cilacap telah terlihat sejak 1832, menyusul diberlakukannya c ultuurstelsel (sistem tanam paksa) oleh pemerintah Hindia Belanda. Kopi dan tembakau menjadi komoditi utama ekspor di pelabuhan Cilacap. Sementara kegiatan bongkar muat dari Eropa masih terbatas pada barang-barang tekstil, seperti kain beludru, dan wol. Bukti perhatian pemerintah Hindia Belanda terhadap kemajuan pelabuhan Cilacap adalah dengan dibangunnya kanal. Hal itu dilakukan untuk memperlancar pendistribusian barang dari sungai Serayu ke pelabuhan akibat jalurnya yang terlalu kecil. Namun pembangunan kanal itu mengalami banyak kendala. Teknologi yang masih sederhana, ditambah tidak adanya keterlibatan arsitek Eropa membuat mereka kesulitan membangunnya. Kendala yang sering terjadi adalah air tidak mengalir dan permukaan air yang tiba-tiba turun. Menjadi Kuat Melalui besluit (Surat Keputusan) No.1 tahun 1847, pemerintah secara resmi membuka pelabuhan Cilacap. Namun komoditi perdagangan di sana masih terbatas pada barang-barang yang dibutuhkan oleh pemerintah saja. Aktivitasnya pun belum terlalu banyak berubah dari sebelum diresmikan, yakni lebih banyak pada kegiatan ekspor. Pemerintah Hindia Belanda terus meningkatkan pembangunan wilayah pantai selatan Jawa. Mereka bertekad untuk membuka gerbang perdagangan yang besar di sana. “Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk meningkatkan status Cilacap menjadi onder afdeling   bersamaan dengan ditingkatkannya pembangunan pelabuhan Cilacap” kata Sukarto Kartoatmojo dalam Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap. Selama kurun waktu 12 tahun, terhitung sejak pembukaan resminya, pemerintah berkomitmen untuk membuka pelabuhan Cilacap sebagai jalur perdagangan besar dan pelayaran bebas. Artinya, jenis barang dan aktivitas ekonomi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga pihak swasta. Keinginan kuat pemerintah itu diperlihatkan dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie no.56 tahun 1858 dan Staatsblad van Nederlandsch-Indie no.7 tahun 1859. Di sana mereka menulis rencana pembangunan 16 pelabuhan di sepanjang Jawa dan pantai barat Sumatera. Tetapi bukan perkara mudah mewujudkannya. Susanto menyebut rencana itu mendapat banyak pertentangan dari dewan pusat di Belanda. Akhirnya melalui sidang afdeling ketiga di Eerste Kamer, pemerintah pusat memutuskan hanya membuka 3 pelabuhan (Cilacap, Cirebon, dan Pasuruan) sebagai pelabuhan besar untuk kegiatan ekspor-impor. Sedangkan 13 pelabuhan lainnya hanya menerima aktivitas ekspor saja. Peningkatan aktivitas ekonomi di pelabuhan Cilacap nyatanya telah membawa kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Pembangunan berkelanjutan terus dilakukan oleh pemerintah. Banyak sarana dan prasarana di sekitar pelabuhan yang dibuat. “Bagi penduduk sendiri hal itu mendorong kegiatan pembukaan areal tanah subur yang belum digarap,” kata Susanto.*

  • Asal Usul Nama Kampung Bali

    Sebuah video viral memperlihatkan sejumlah anggota Brigadir Mobil (Brimob) mengeroyok seorang lelaki di samping Masjid Al-Huda, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 22 Mei 2019. Judul video menyebut lelaki itu berusia belasan tahun dan kemudian tewas. Tetapi kepolisian menyatakan lelaki tersebut pria dewasa dan masih hidup. Lelaki itu salah satu tersangka kerusuhan 21-22 Mei di kawasan Tanah Abang. Dia lari masuk ke Kampung Bali ketika polisi berusaha membubarkan perusuh. Kampung Bali termasuk salah satu kelurahan di Tanah Abang. Kelurahan ini memiliki banyak nama gang serupa: Kampung Bali. Pembedanya berdasarkan nomor. Dari nomor satu sampai tiga puluhan. Asal usul nama Kampung Bali di kawasan Tanah Abang mempunyai dua versi. Versi pertama menyebut nama Kampung Bali berasal dari identitas penduduk sebermula di wilayah itu. “Adapun nama Kampung Bali disebut demikian karena dahulunya banyak orang-orang Bali yang tinggal di sana,” catat buku Kampung Tua di Jakarta  terbitan Dinas Museum dan Sejarah Provinsi DKI Jakarta. Terdapat di Tiga Tempat Keberadaan orang Bali di sini bermula dari kebijakan Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), mendatangkan orang-orang baru ke kota Batavia pada paruh pertama abad ke-17. Coen melakukannya setelah menghancurkan Jayakarta, nama lama Batavia. “Penghuninya melarikan diri meninggalkan wilayah ini,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Orang-orang baru di Batavia berasal dari Bali, Ambon, Banda, Ternate, Jawa, Makassar, Mandar, Sumbawa, dan Tionghoa dari Banten. Coen menempatkan mereka di luar tembok kota atau kastil Batavia. Sebab wilayah di dalam tembok kota hanya untuk penduduk Eropa. Di luar tembok kota, Coen menempatkan kelompok anak negeri berdasarkan asal wilayahnya. “Sebab itu hingga kini bisa ditemukan sejumlah kawasan tempat tinggal yang mengacu pada nama kelompok-kelompok etnis seperti Kampung Ambon, Makassar, Bandan, Bali, Pekojan, Manggarai, dan Melayu,” tulis Siswantari dalam Kedudukan dan Peran Bek dalam Pemerintahan Serta Masyarakat Jakarta , tesis pada Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta mengungkap status sosial orang Bali di Batavia. “Sebagian mereka dijual sebagai budak oleh raja-raja di sana, sebilangan lainnya merupakan serdadu bayaran yang memiliki tombak dan ditakuti di India dan Persia,” tulis Heuken. Jumlah orang Bali di Batavia cukup banyak. “Dari sebab itu nama Kampung Bali terdapat di pelbagai tempat,” tulis Soekanto dalam Dari Djakarta ke Djakarta: Sedjarah Ibu-kota Kita . Mereka mendiami tiga wilayah berbeda di Batavia. Sekarang wilayah itu berada di Angke (Jakarta Barat), Jatinegara (Jakarta Timur), dan Tanah Abang (Jakarta Pusat). Tapi versi pertama asal usul nama Kampung Bali dari identitas penduduknya dibantah oleh Mathar Kamal, penggiat sejarah dan budaya Tanah Abang. “Tidak ada kaitannya sama sekali,” kata Mathar. Menurutnya, toponim suatu tempat harus dicari lebih dulu dalam alam flora. “Jika ini tak ditemui, kita bisa melihat unsur geometri dan kontur tanah. Jika tak ada juga, maka harus lebih dulu mencari makna tempat tersebut dalam bahasa Kawi, Melayu, Polinesia Purba, Mesir, dan Ibrani,” kata Mathar. Dia meyakini bahasa-bahasa tersebut mempunyai alas dalam peradaban Jakarta dan pada gilirannya membentuk pula bahasa Betawi. Geometri Kampung Berdasarkan rumus tersebut, Mathar mengajukan versi kedua asal usul nama Kampung Bali. Dia mengikuti pendapat Ridwan Saidi tentang asal usul nama Kampung Bali. Menurut mereka, nama Kampung Bali muncul dari geometri wilayah tersebut. “Pandanglah Kampung Bali dari titik Tenabang Bukit, akan terlihat geometri kampung itu yang melingkar-lingkar,” tulis Ridwan Saidi dalam Jakarta dari Majakatera hingga VOC . Ridwan juga menambahkan bahwa kata Bali berasal dari bahasa Mesir, artinya memutar atau melingkar. Terlepas dari dua versi berbeda tersebut, Kampung Bali di tiga tempat berbeda di Jakarta nyaris tidak meninggalkan sama sekali keturunan orang Bali. Mereka juga berkembang nyaris serupa. Mereka tidak lagi berbentuk kampung, melainkan telah menjadi wilayah kota. Kampung itu berdempetan dengan pusat bisnis, jasa, perkantoran, pasar, dan keramaian lalu lintas. Tapi sebuah cap khusus pernah menimpa Kampung Bali di Tanah Abang. Kampung ini sempat terkenal sebagai wilayah peredaran narkoba selama hampir satu dekade pada 1995-2005. Melalui beragam kampanye dan aksi melawan narkoba, Kampung Bali di Tanah Abang mulai lepas dari cap lembah hitam narkoba. Sekarang Kampung Bali menjadi salah satu wilayah padat dan beragam penduduk di Tanah Abang.

  • FPI Ditarget Sniper

    Pada 19 Februari 2006, massa Front Pembela Islam(FPI)berdemonstrasi di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Mereka memprotes visualisasi Nabi Muhammad Saw. di gedung Mahkamah Agung AS. Menurut selebaran yang dibagikan pendemo, patung buatan tahun 1835 itu sudah sering diprotes kaum muslim di seluruh dunia. Selain patung Nabi Muhammad, juga ada visualisasi Nabi Muda dan Confusius. Tempo.co melaporkan demonstrasi yang berlangsung sekitar satu jam itu diwarnai perusakan kaca dan pagar kedutaan. Mereka juga melempari gedung kedutaan dengan batu dan telur busuk. Kerusakan meliputi pagar pembatas antrean, kaca jendela ruang tempat menerima tahu pecah, dan meja yang biasa digunakan satpam untuk menerima tamu digulingkan. Massa juga membakar bendera dan gambar Presiden AS George W. Bush. Mereka beraksi tanpa menyadari bahwa sniper marinir AS mengintai dari atas gedung siap menembak. Pihak Kedubes AS kemudian menghubungi Yahya Assegaf, agen Badan Intelijen Negara (BIN). Mereka menanyakan apakah FPI bagian dari Alqaeda Indonesia. “Mereka juga mengatakan kepada saya bahwa marinir Amerika Serikat yang bersiaga di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta siap menembak FPI jika akhirnya memaksa masuk ke gedung kedutaan,” kata Yahya Assegaf dalam John Sakava: Lika-Liku Perjalanan Mantan Staf Khusus Kepala BIN . John Sakava adalah nama alias Yahya Assegaf, agen intelijen keturunan Yaman-Jawa. Yahya menjawab pertanyaan dari pihak Kedubes AS itu: “saya bisa pastikan seratus persen bahwa organisasi itu sama sekali tidak punya afiliasi apa pun dengan Alqaeda, sebaliknya percayalah pada saya, FPI aman di tangan polisi karena mereka mitra polisi.” Dengan posisi FPI seperti itu, Yahya yakin mereka tidak mungkin sampai merusak atau mengancam Kedubes AS atau simbol dan aset AS di Indonesia. Kendati pada demonstrasi besar FPI di depan Kedubes AS di Jakarta, massa beringas dan seakan akan merangsek masuk ke gedung kedutaan, sampai-sampai marinir AS bersiap menembak di atap gedung kompleks Kedutaan AS. Anjing Penyerang Apa yang disampaikan Yahya kepada pihak Kedubes AS kemudian muncul dalam laporan intelijen yang dibocorkan WikiLeaks pada September 2011. Dalam laporan itu disebut FPI menerima aliran dana dari kepolisian. WikiLeaks juga menyebut Yahya sebagai sumber yang memberitahu Kedubes AS di Jakarta bahwa polisi memanfaatkan FPI sebagai “anjing penyerang”. FPI marah dan mengeluarkan selebaran yang menyebut Yahya pengkhianat negara sekaligus agen CIA yang menyusup ke BIN. Dia juga dituduh sebagai anggota BIN yang menjual informasi palsu ke AS. Sementara itu Polri juga membantah semua hal yang disebut WikiLeaks bahwa beberapa pejabatnya sengaja melindungi dan memelihara FPI. Seorang perwira Polri mengatakan bahwa apa yang dilakukan Polri sehingga dianggap publik dekat dengan FPI adalah demi meminimalisasi kasus-kasus kekerasan yang berhubungan dengan FPI. “Masyarakat sudah cerdas. FPI merupakan ormas yang berkembang di masyarakat. Polri institusi negara hubungannya sebagai mitra yang sifatnya positif untuk kepentingan bangsa,” katanya. Yahya mengakui telah memberikan jawaban atas pertanyaan pihak Kedubes AS apakah FPI ada kaitannya dengan Alqaeda. Menurutnya FPI tidak ada kaitannya dengan jaringan teroris manapun, termasuk Alqaeda. “Mengenai istilah ‘anjing penyerang’, itu sama sekali bukan dari mulut saya,” kata Yahya. “Saya memang tidak bersepakat dengan cara dan metode kerja FPI, namun saya tidak mungkin sebodoh itu mengucapkan kalimat itu.” Yahya yakin istilah itu adalah penafsiran orang Kedubes AS yang mendapatkan informasi tidak hanya darinya, namun juga dari orang lain. Perkataan Yahya yang ditafsirkan orang Kedubes AS mungkin bagian “FPI aman di tangan polisi karena mereka mitra polisi.” Dan “FPI mitra polisi” terlihat dalam aksi 22 Mei 2019. “Ini (massa) bukan dari Jakarta, bukan Petamburan. Kami juga tadi dibantu tokoh FPI dan ulama menghalau mereka,” kata Komisaris Besar Hengki Haryadi, Kapolres Metro Jakarta Barat, dikutip kompas.com . Massa itu yang diamankan berasal dari Tasikmalaya, Banten, bahkan Flores. Namun, masyarakat tetap banyak yang tak suka FPI karena aksi-aksinya meresahkan.

  • Sejarah Gedung KPU

    Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) terletak di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Pada masa kolonial Belanda, jalan itu bernama Nassau Boulevard termasuk dalam kawasan Nieuw Gondangdia (sekarang Menteng). Pembangunan jalan ini bermula dari pengembangan Batavia ke wilayah Selatan, yaitu Weltevreden yang meliputi Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) dan Koningsplein (sekarang Gambir dan Medan Merdeka) pada akhir abad ke-18. “Di mana banyak terdapat kantor dan bangunan pemerintah,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Pegawai kantor pemerintah memerlukan tempat tinggal. Hunian ini mengambil lokasi tak jauh dari Weltevreden. Menteng nama lokasi itu. Masih berupa tanah partikelir milik saudagar asal Hadramaut. Dirancang Moojen Kepemilikan wilayah Menteng beralih ke perusahaan De Bouwploeg, bergerak di bidang Real Estate, pada 1908. Perusahaan itu membeli tanah seluas 295 rijnlandsche roeden atau setara 69 hektar dengan harga f. 238.870. “Supaya tanah yang baru diperoleh ini digunakan untuk daerah pemukiman bagi masyarakat golongan atas, yang semakin banyak berkedudukan di Batavia dan mencari rumah-rumah yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka,” tulis Adolf Heuken dalam Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia . Selain Menteng, peralihan kepemilikan juga terjadi pada wilayah Gondangdia. Wilayah ini bertetangga dengan Menteng. Tadinya dimiliki oleh orang kaya berkebangsaan Belanda. Tetapi pada 1910, Gondangdia dibeli oleh Bouw- en Cultuurmaatschappij Gondangdia senilai f. 217.724 untuk luas 315 rijnlandsche roeden atau setara 73 hektare. Setelah urusan pembelian tanah kelar, pemerintah Kotapradja Batavia membentuk kondangdia-comissie untuk merancang wilayah Menteng. Saat itu Menteng bernama Nieuw-Gondangdia. Seorang arsitek bernama P.A.J. Moojen termasuk menjadi anggotanya. Dia memelopori gaya bangunan indische bouwstjil baru. Indische bouwstijl ala Moojen memiliki ide bahwa gaya bangunan bergantung pada iklim, tempat, bahan bangunan tersedia, dan tenaga kerja setempat. Ini pandangan baru dalam arsitektur di Hindia Belanda. “Sebelum abad ke-20 tidak ada arsitek profesional yang datang ke Hindia. Orang-orang Eropa hanya mengaplikasikan apa yang mereka kenali dari Eropa,” tulis Mohamnmad Nanda Widyarta dalam “Tampilan Hindia Melalui Arsitektur” termuat di Tegang Bentang Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia . Moojen juga menghadirkan gagasan baru dalam perancangan wilayah di Hindia Belanda. “Untuk pertama kalinya di Indonesia perluasan sebuah kota dilakukan dengan perencanaan yang matang,” tulis Adolf Heuken. Moojen merancang Nieuw Gondangdia dengan suatu boulevard atau jalan lebar berbentuk radial. Jalan itu mengelilingi sebuah lapangan bundar di tengahnya. Kelak lapangan ini bernama Taman Suropati. Di depan Taman Suropati inilah membentang sebuah boulevard radial dari timur ke barat. Boulevard itu terbagi atas dua seksi: Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) di timur dan Nassau Boulevard (sekarang Jalan Imam Bonjol) di barat. Dua jalan ini dirancang sebagai satu kesatuan yang serasi. Pohon-pohon besar tertanam di tengah Boulevard dan kelak deretan rumah bertingkat berada di sepanjang tepi jalannya dengan kebun luas. Bentuk rumah itu menyesuaikan iklim tropis. “Sehingga menciptakan suasana rapi dan asri pada beberapa jalan di Menteng,” lanjut Adolf. Gedung KPU Tetapi hingga sebelum Perang Dunia II, bangunan di Nassau Boulevard kalah ramai oleh jalan-jalan lainnya di kawasan Nieuw Gondangdia. Nassau Boulevard mulai ramai bangunan memasuki dekade 1950-an. Ketika itu namanya telah berubah jadi Jalan Imam Bonjol. “Maka di Jalan Imam Bonjol cukup banyak bangunan baru didirikan pada tahun 1950-an, namun dalam gaya bangunan pra-perang. Diantaranya terdapat rumah kopel, yang walaupun besar agak sederhana perancangan serta pelaksanaannya,” tulis Adolf Heuken. Selain rumah kopel, berdiri juga sebuah bangunan milik Perkebunan Negara pada 1955. Gedung ini hasil rancangan arsitek Belanda bernama A.W. Gmelig Meyling. Dia bekerja sebagai wakil direktur di biro Ingeneren-Vrijburg NV (BIV) di Bandung. Meyling sempat ditahan pada masa pendudukan Jepang. Kemudian dibebaskan setelah kemerdekaan dan menjadi profesor luar biasa di Institut Teknologi Bandung. Dia berpraktik di Indonesia hingga 1957. Sentuhan Meyling pada Gedung Pusat Perkebunan Negara memiliki ciri khas unsur kubistis kuat. “Seluruh tampak muka dirancang dengan pembias ( louvre ) untuk mencegah sinar matahari masuk ruang-ruang kerja,” tulis Adolf Heuken. Ciri ini tampak pula dalam gedung Societeit Country Club Concordia di Bandung dan Gedung Kantor GEBED di Sukabumi. Gedung Pusat Perkebunan Negara (PPN) kemudian beralih fungsi menjadi kantor Lembaga Pemilihan Umum (LPU) pada 1987. LPU tadinya berkantor di Jalan Matraman Raya No. 40, Jakarta Timur. Tapi Kantor di Matraman itu sudah tidak layak lagi untuk mendukung pekerjaan staf LPU. “Dalam pada itu LPU harus pindah dari Jl. Matraman Raya 40 ke Jl. Imam Bonjol, bekas gedung PPN,” tulis buku Lampiran VI Pemilihan Umum 1987 . Sejak itulah Jalan Imam Bonjol sering jadi pusat perhatian orang saban Pemilu. Setelah Reformasi, berbagai demonstrasi kerap kali terjadi di Jalan Imam Bonjol, depan gedung KPU.

  • Dari Arena ke Layar Kaca

    DI mana ada siaran bulutangkis di televisi, di situ ada Yuni Kartika. Di antara para host dan komentator olahraga tepok bulu, nama Yuni salah satu yang paling dinanti. Yang berkesan darinya tentu bukan semata komentar hebohnya tapi juga pengetahuannya yang dalam terkait teknis permainan maupun profil para pemain yang tengah bertarung. Komentar-komentar Yuni kembali nyaring saat TVRI mulai menyiarkan Piala Sudirman 2019 yang digelar di Nanning, China pada 19 Mei lewat. Kala itu, Gregoria Mariska Tunjung sedang meladeni tunggal putri Inggris Abigail Holden yang akhirnya dimenangi Gregoria straight set , 21-10 dan 21-13. Secara keseluruhan, tim Indonesia menang 4-1 atas Inggris di laga pembuka Grup 1-B. Saat laga kedua Grup 1-B kemarin, Rabu (22/5/2019), kala tunggal putri Indonesia Fitriani berlaga kontra Mia Blichfeldt asal Denmark, Yuni kembali membimbing para pemirsa memahami pertandingan. Sejak pensiun pada 1995, Yuni memang memutuskan untuk menjadi komentator siaran olahraga ( sportscaster ). “Saat menjelang akhir karier, saya berpikir apa ya bidang yang tetap in-line dengan badminton tapi enggak di lapangan. Karena saya merasa seluruh hidup saya sudah di lapangan. Dari kecil umur lima tahun sampai besar di lapangan. Jadi kalau saya harus jadi pelatih lagi atau buka toko olahraga, saya akan ada di lapangan lagi. Kayaknya enggak gitu kepenginan saya. Saya pingin yang lain tapi tetap tidak ingin meninggalkan badminton, gimana caranya,” tutur Yuni saat ditemui Historia . Pikiran Yuni lantas tertuju pada dunia broadcast . Tujuannya, ia ingin mengedukasi masyarakat lebih dalam soal bulutangkis lewat layar kaca. “Caranya bisa mengedukasi tentu dengan mantan pemain yang bisa ngomong (di depan kamera). Tentang apa yang terjadi, bagaimana susahnya, struggle- nya main badminton. Kalau lagi mau apa yang dipikirkan. Mereka enggak tahu di belakang kayak apa. Itu yang membuat saya memutuskan bahwa next step saya akan lari ke dunia broadcast ,” sambungnya. Petaka Keluarga Hentikan Kariernya Yuni mengenal bulutangkis sejak usia lima tahun. Srikandi cantik kelahiran Semarang, 16 Juni 1973 itu dikenalkan olahraga tepok bulu oleh ayahnya, Tjoa Soe Sien, yang kerap mengajak Yuni saat bermain dengan para sejawatnya. “Saya kecil di Pekalongan dan mulanya serius bulutangkis masuk PB Praba Jaya. Terus pas saya kelas 6 SD ada pembukaan untuk PB Djarum. Tapi saya masuk audisinya lewat PB Djarum di Jakarta. Empat kali bolak-balik Pekalongan-Jakarta untuk ikut tes psikologi, tes IQ, hingga tes tanding. Waktu itu masih teringat angkatan saya audisi ada Ade Rai (binaragawan), Zarima Mir (ratu ekstasi), Ardy Wiranata, Jean Pattikawa,” kenang Yuni. Yuni Kartika (berdiri paling kanan) bersama para rekan sejawat angkatannya kala mengasah karier di PB Djarum (Foto: Twitter @YuniKartika73) Nama Yuni kemudian melejit sebagai salah satu andalan Pelatnas PBSI di sektor tunggal putri. Mengutip Arie MP Tamba dan TB Ahmad Fauzi Supri dalam Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia , Yuni meraup titel German Open Junior 1990, jadi finalis Malaysia Open 1992, dan masuk tim Uber Cup 1992 di mana Indonesia tersisih di semifinal. Di peringkat dunia tunggal putri, puncak karier Yuni pernah menjejak urutan 10 pada 1992. Tapi tiga tahun kemudian, Yuni memutuskan gantung raket. Dia merasa tak lagi bisa bersinar. Fokusnya gampang goyah pasca-petaka kecelakaan keluarganya tiga tahun sebelumnya. “Itu sedang di puncak karier saya. Saat saya lagi bertanding di Thailand, terus satu keluarga saya kecelakaan. Ibu saya (Sri Hartati, red. ) meninggal, lalu kakak dan ayah saya kritis. Itu hal yang benar-benar membuat saya sulit ya. Kesan pahit sepanjang karier saya,” tuturnya dengan nada lirih. Kabar duka itu, sambung Yuni, mulanya diterima pelatih dan manajer tim. Namun kabar itu di- pending sampai Yuni selesai berlaga. Hatinya teriris begitu mendengarnya. Meski kemudian kakak dan ayahnya pulih, Yuni tetap mendapati ibundanya tiada. “Hidup rasanya seperti dibalik. Ibu saya itu orang paling dekat dengan saya. Sempat kita teleponan saat saya sudah di Thailand. ‘Ayo pulang,’ katanya. Gimana, saya lagi bertanding disuruh pulang. Saya enggak tahu bahwa itu akan jadi percakapan terakhir. Dari situ juga titik balik prestasi saya enggak bisa balik lagi dari yang saya capai sebelumnya,” tambah Yuni. Yuni akhirnya memilih gantung raket dan beralih ke layar kaca sebagai sportcaster . Ia memulainya dengan masuk kursus presenter. hingga magang di TVRI . “Magang pertama di TVRI sampai akhirnya bisa punya kemampuan untuk jadi host dan komentator. Jadinya saya tetap punya sumbangsih buat badminton tapi dengan cara yang saya pikir bagus untuk mendukung badminton Indonesia,” sambung perempuan yang sehari-harinya juga berkarya di Djarum Foundation itu. Hingga kini, hampir di setiap siaran bulutangkis, Yuni selalu jadi host maupun komentator andalan, lengkap dengan penampilan nyentrik rambut pendek dan pirangnya. “Gaya rambut seperti ini memang baru pas jadi sportcaster. ” tutupnya.

  • Perang Bubat dan Dampaknya Buat Majapahit

    TANAH lapang itu terletak di utara Kota Majapahit. Lapangan Bubat namanya. Tadinya tempat Raja Sunda, permaisuri, dan putrinya, serta para pengiring pengawalnya beristirahat seraya menunggu diterima Rasajanagara di Kedaton. Namun, di situ Raja Sunda dan putrinya menemui ajal. Pernikahan Hayam Wuruk dengan Sang Putri Sunda batal. Cintanya terpaksa diperabukan. Setelah peristiwa di Bubat itu, para petinggi keraton cemas. Semua orang menuding Mahapatih Gajah Mada biang keladinya. Bersama Sang Prabu, mereka meminta Gajah Mada menjelaskan tindakannya. Dia menjawab bahwa kebijakannya mensyaratkan agar setiap raja kecil mengakui kedudukan sebagai bawahan Majapahit sebelum menikmati hak-hak istimewa sebagai anggota imperium.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page