top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mohammad Noor, Gubernur Pertama Kalimantan

    PRESIDEN Joko Widodo telah meresmikan pahlawan nasional tahun ini. Berdasarkan Keputusan Presiden tanggal 6 November 2008, gelar itu disematka kepada enam tokoh. Nama-nama baru ini menabalkan  jumlah Pahlawan Nasional mencapai 179 orang. Mereka antara lain: Abdurahman Baswedan (D.I Yogyakarta), Hj. Andi Depu (Sulawesi Barat), Depati Amir (Bangka-Belitung), Kasman Singodimedjo (Jawa Tengah), Mohammad Noor (Kalimantan Selatan), dan K.H. Syam'un (Banten). Satu-satunya tokoh yang mewakili daerah Kalimantan adalah Pangeran Mohammad Noor. Bangsawan Kesultanan Banjar ini lahir di Martapura, Kalimantan Selatan, 24 Juni 1901. Noor punya jasa besar tatkala ditunjuk sebagai gubernur pertama Kalimantan (saat itu masih disebut Borneo). “Sebagai gubernur pertama (Noor) luar biasa. Beliau memiliki jasa besar mempersatukan pejuang di Kalimantan," ujar sejarawan Sulawesi Selatan,Taufik Ahmad kepada Historia. Kawan Kuliah Sukarno Karena seorang ningrat, Noor tak kesulitan mencecap pendidikan tinggi di zaman kolonial. Disebutkan Noor bersua dengan Sukarno tatkala mereka sama-sama berkuliah di Technische Hooge School (Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung. Bila Sukarno mengambil jurusan arsitek, maka Noor getol mendalami teknik lingkungan. Di kampusnya, Noor aktif sebagai anggota Jong Islamieten Bond (Ikatan Pemuda Islam). Pada 1927, Noor meraih gelar insinyur sipil dan menjadi orang Kalimantan pertama yang berpredikat sarjana. Noor sempat menjadi pegawai kolonial dan lama menghabiskan waktunya di Jawa sebagai teknokrat. Setelah lulus kuliah, Noor diangkat sebagai insinyur sipil pada Departement Verkeer dan Waterstaat yang menangani persoalan irigasi di Tegal. Pada 1929, dia dimutasi ke Malang kemudian Batavia. Pada 1933, Noor kembali ke tanah kelahirannya, Banjarmasin. Selain mendedikasikan keahliannya membenahi irigasi, Noor juga terjun ke politik sebagai anggota Dewan Rakyat Hindia, Voolkraad menggantikan posisi ayahnya, Pangeran Ali. Memasuki masa pendudukan Jepang, Noor kembali ke Jawa. Noor menetap di Bondowoso sebagai Kepala Irigasi Pakalem-Sampean. Pada awal 1945, Noor diangkat menjadi wakil Sumobucho (setara sekretaris jenderal) Dobuko (Departemen Perhubungan/Pekerjaan Umum). Sebagai seorang tokoh kemerdekaan Indonesia, jejak Noor setidaknya teridentifikasi tatkaka dirinya menjadi salah satu anggota BPUPKI. Dalam buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 Mohammad Yamin mencatat nama “Tuan Mohammad Noor” atau tertulis “Mohd. Noor” yang mewakili wilayah Kalimantan. Ketika Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Noor ditunjuk menjadi gubernur Kalimantan. Rekomendasi Hatta Menurut Taufik, meski di masa muda saling berkawan, namun bukan Sukarno yang menunjuk Noor sebagai gubernur Kalimantan. Semula Sukarno lebih memilih tokoh Kalimantan yang lain, Anang Abdul Hamidhan yang dikenal sebagai jurnalis pejuang. Hamidhan menolak karena ingin tetap berjuang sebagai wartawan.  “Satu-satunya gubernur pertama yang bukan orang Sukarno itu adalah Mohammad Noor. Beliau lebih dekat dengan Bung Hatta,” kata Taufik. Bisa jadi penunjukan Noor terjadi karena hubungan baiknya dengan Hatta. Kerjasama keduanya cukup akrab menjelang hari-hari genting setelah Jepang akan angkat kaki dari Indonesia. Noor dan Hatta secara apik berkordinasi menggalang dukungan rakyat Kalimantan di Banjarmasin untuk sekubu dalam Negara Republik Indonesia. Kesan-kesan dan persingungan terhadap Hatta dikisahkan oleh Noor dengan gamblang dalam otobiografinya Teruskan… Gawi Kita Belum Tuntung . Dari segi ide, Noor lebih banyak belajar kepada Hatta. Menanggapi sosok yang pantas sebagai pemimpin di Kalimantan, Hatta lantas mengusulkan Noor. “Karena sering sama-sama berdiskusi dan menemani perjalanan Bung Hatta ke Kalimantan sebelum proklamasi,” tutur Taufik.  Memimpin dari Jawa Untuk sementara Noor, berkantor di Jakarta. Menjadi gubernur saat revolusi bergolak tentu bukan perkara mudah. Di Kalimantan, keadaan yang dihadapi Noor cukup pelik. Infrastruktur dan fasilitas yang menunjang roda pemerintahan sangat terbatas. Di sisi lain, Belanda berniat kembali berkuasa di Kalimantan yang  kaya sumber daya alam. Persoalan makin bertambah karena Kalimantan terdiri atas beragam kelompok sosial dengan kepentingan yang beragam pula. Tak sedikit kelompok yang cederung menerima kembali Belanda. Noor sendiri kesukaran untuk menjangkau daerah yang dipimpinnya. Ketika hendak berangkat ke Banjarmasin melalui Surabaya pada Oktober 1945, kapal "Merdeka" yang ditumpanginya terperangkap pasukan Sekutu yang melancarkan serangan ke Surabaya. Situasi yang tak kondusif, praktis membuat Noor tak berada di Kalimantan selama revolusi. Dia memerintah dari Yogyakarta merangkap sebagai penasihat presiden dalam Dewan Pertimbangan Agung. Untuk membiayai perjuangan, Noor bahkan tak lagi mempunyai dana pribadi. Atas rekomendasi Hatta, Noor memperoleh pinjaman dari BNI sebesar dua juta rupiah. Hampir seluruh perjuangan yang diprakarsai Noor untuk Kalimantan dibiayai dari dana tersebut. Kebijakan Noor yang paling terkenal ialah pembentukan pasukan elite MN 100 (Mohammad Noor 1001). Mereka berasal dari pemuda-pelajar Kalimantan yang dipersiapkan terjun ke palagan Kalimantan. Pasukan MN 1001 merupakan kekuatan revolusi terbesar kedua setelah ALRI Divisi IV Kalimantan. Sebagai komandannya ditunjuk seorang putra Dayak, Tjilik Riwut. “Penunjukan Tjilik Riwut sebagai komandan pasukan MN 1001 adalah contoh terbaik untuk melihat upaya Pangeran Noor membangun prinsip multikulturalisme dalam perjuangan. Dalam sejarah, kedua etnik ini memperlihatkan kontestasi dari waktu ke waktu,” tulis Taufik Ahmad dalam “Pangeran Mohammad Noor: Imaji Kebangsaan di Kalimantan” termuat di kumpulan tulisan Gubernur Pertama di Indonesia . Dari MN 1001, Noor mencetuskan gagasan pasukan payung ( para troops ) untuk menembus blokade laut Belanda di Kalimantan. Pada 1947, Noor menginisiasi pembentukan armada ALRI Divisi IV yang dipimpin oleh Kolonel Zakaria Madun yang kemudian diteruskan Hassan Basry.   Terakhir, Noor bersama Sukardjo Wirjopranoto dan Mr. Soepomo menerbitkan majalah Mimbar Indonesia . Segmen pembaca yang disasar Mimbar Indonesia adalah rakyat Indonesia yang berada di daerah pendudukan Belanda. Di wilayah yang dikuasai Belanda, rakyat terpecah, terutama setelah Perjanjian Linggadjati. Media ini berperan besar dalam menggaungkan seruan integrasi Republik serta menolak konsep negara federal warisan Belanda. Jabatan gubernur disandang Noor hingga 1950. Pada 1956-59, Noor sempat menjadi Menteri Pekerjaan Umum era Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Di masa Orde Baru hingga akhir hayatnya, Noor berkhidmat sebagai wakil rakyat Kalimantan dalam DPR/MPR. Gubernur pertama Kalimantan ini wafat di Jakarta 15 Januari 1979. Dia dimakamkan di Komplek Pemakaman Sultan Adam, Martapura, Kalimantan Selatan. Ketika ditetapkan tahun 2018, Noor menambah deretan pahlawan nasional dari etnis Banjar setelah Pangeran Antasari, Hassan Basry dan Idham Chalid.

  • Lukisan Gua Tertua di Kalimantan Timur Terbaik di Dunia

    TEMUAN ribuan gambar cadas (rock art) di pedalaman Kalimantan Timur menarik minat para peneliti untuk melakukan kajian sejak 28 tahun silam. Sudah sejak lama dinding-dinding ceruk dan gua di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat itu diketahui menyimpan gambar purba, seperti stensil tangan manusia, hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan. Dalam penelitian termutakhir diketahui kawasan itu menyimpan gambar cadas tertua di dunia. Penelitian ini dilakukan di enam lokasi gua, yaitu Liang Jeriji Saleh, Liang Ham, Liang Karim, Liang Tewet, Liang Banteng, dan Liang Sara. Dengan metode analisis penanggalan U-series Geochemistry terhadap sampel di Liang Jeriji Saleh diperoleh usia 40.000 tahun yang lalu. Sampel ini berupa gambar figur hewan yang diperkirakan banteng liar. Sementara gambar negatif tangan berusia 37.000 tahun yang lalu.

  • Butet, Nyanyian Pilu di Tengah Perang

    Maraden Panggabean masih berpangkat mayor ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama di Sumatera Utara, Juli 1947. Dalam waktu singkat, Belanda menduduki daerah strategis seperti Tanah Karo, Deli Serdang, Simalungun, dan Asahan. Imbasnya, terjadi gelombang pengungsian besar-besaran menuju pedalaman Tapanuli. Diperkirakan sebanyak sejuta orang pengungsi mengalir ke sana.   Dalam memornya, Maraden menyaksikan para pengungsi yang terpaksa berjalan kaki membawa barang seadanya. Orang tua, anak-anak dan bayi turut serta. Mereka biasanya mengikuti pasukan Republik yang mengundurkan diri. Medan yang ditempuh cukup rawan dan membahayakan. Mulai dari jalanan perkebunan, jalan setapak, rawa-rawa, hutan belantara, hingga pegunungan. Terik matahari dan hujan tropis acap kali mengiringi. Mereka semua menderita. “Ini membuat seorang komponis mengarang lagu Butet yang sangat populer itu, yang menggambarkan semangat berkobar-kobar dari seorang ibu yang ditinggalkan sang suami untuk pergi bergerilya melawan musuh,” kenang Maraden dalam Berjuang dan Mengabdi . Di era Orde Baru, Maraden kelak menjadi panglima ABRI periode 1973—1978. Butet yang populer hingga hari ini masih berselubung misteri. Tak diketahui siapa nama pengarangnya. Namun yang pasti lagu tersebut lahir di tengah rakyat yang dirundung perang lantas berkembang dari mulut ke mulut. Derita Pengungsian Butet adalah lagu rakyat Batak yang dialunkan dengan tempo mendayu. Isi lagu itu berkisah tentang seorang ayah yang terpaksa meninggalkan istri dan putrinya karena harus berjuang dalam perang gerilya. Menilik liriknya, lagu ini berupa tuturan perasaan sang ibu kepada putrinya yang dinamai Butet. Butet sendiri merupakan sebutan dalam bahasa Batak terhadap anak perempuan, seperti halnya nduk di kalangan suku Jawa atau neng bagi orang Sunda Rizaldi Siagian, etnomusikolog Universitas Sumatera Utara (USU) mengatakan bahwa bentuk melodi lagu Butet masuk dalam kategori nyanyian “lamenta” atau ratapan. Dalam tradisi musik vokal Batak disebut andung . Menurut Rizaldi, bila memperhatikan teksnya, lagu Butet populer sesudah masa kemerdekaan. Meski demikian, sukar untuk mengklaim siapa pencipta maupun komponisnya. “Penciptanya N.N. ( no name ), tak dikenal,” kata Rizaldi kepada Historia .   Beberapa sumber sejarah ataupun kesaksian mantan pejuang mencatat serpihan kisah mengenai ihwal lagu Butet . Namun itu belum cukup kuat membuktikan darimana muasalnya. Tapi yang jelas, lagu itu lahir dari suasana penderitaan yang timbul akibat kecamuk perang. Amran Zamzami, mantan veteran pertempuran Medan Area menyebutkan bahwa lagu Butet lahir dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di front Tanah Karo jelang agresi militer Belanda ke II. Lagu itu, menurut Amran, mengenang keheroikan masyarakat Karo yang pantang menyerah.  “Pertempuran demi pertempuran dan nasib keluarga pejuang itulah yang mengilhami seorang seniman menciptakan lagu Butet ,” tulis Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area . Sementara mantan wartawan senior kota Medan Edisaputra dalam bukunya Sumatera dalam Perang Kemerdekaan: Perlawanan Rakyat Semesta Menentang Jepang, Inggris, dan Belanda mencatat pengungsian rakyat menyebabkan banyak ibu-ibu yang melahirkan bayinya secara darurat. Persalinan kerap terjadi di hutan-hutan, lembah yang lembab tanpa bantuan bidan atau dukun beranak. Banyak diantaranya yang meninggal, baik ibu maupun bayi. Selesai melahirkan, selang beberapa jam harus berangkat lagi meneruskan perjalanan. “Peristiwa yang tragis ini mengilhamkan bagi beberapa seniman sehingga terciptalah lagu “ Butet ”, lagu yang sangat digemari dan populer dikalangan pejuang,” tulis Edisaputra. Tercipta di Gua? Satu pertanyaan belum terkuak. Siapa yang menciptakan lagu Butet ? Menurut Jason Gultom, wartawan senior Batak Post yang berdomisili di Tapanuli Tengah, proses terciptanya lagu Butet berkaitan dengan pencetakan Oeang Republik Indonesia Tapanuli (ORITA) di Sitahuis. Pada 2008, ketika menjadi wartawan Metro Tapanuli Jason menelusuri langsung Desa Sitahuis yang berjarak 16 km dari Sibolga, ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah. Dari pengakuan warga setempat diperoleh keterangan bahwa Butet merupakan lagu pengantar tidur ( lullaby ) yang dinyanyikan seorang ibu untuk putrinya. Lirik aslinya pun telah mengalami gubahan yang sedikit berbeda dari versi sekarang. Lagu Butet di mulai dengan lirik, “ Butet di pangungsian do amangmu ale Butet // Da margurilla da mardarurat ale Butet.” Artinya, “ Butet di pengungsiannya ayahmu oh Butet // Bergerilya dalam darurat oh Butet.” Maka lirik aslinya menurut tua-tua di Sitahuis berbunyi, “ Butet di Sitahuis do amang mu ale Butet // Da mancetak hepeng ORITA ale Butet .” Artinya, “ Butet di Sitahuisnya ayahmu oh Butet // Mencetak uang ORITA oh Butet.” “Jadi ( Butet ) itu semacam lagu nina bobo yang dinyanyikan begitu saja dan kemudian jadi viral kalau istilahnya sekarang” kata Jason Gultom kepada Historia lewat sambungan telepon.  “Menurut tuturan orang tua di sana, lagu itu dinyanyikan oleh (perempuan) boru Lumban Tobing di Gua Naga Timbul waktu mau menidurkan anaknya. Tak tahu siapa nama aslinya.”     Jason menjelaskan, di Tapanuli Tengah, Belanda punya misi khusus memburu mesin percetakan ORITA. Pasalnya, keberadaan ORITA sebagai alat tukar menyebabkan mata uang Belanda tak berlaku di karesidenan Tapanuli. Untuk menghindari kejaran Belanda, rakyat Sitahuis khususnya perempuan dan anak-anak bersembunyi di tengah hutan dalam lahan gua yang dinamai Naga Timbul. Sementara kaum pria bertahan di Sitahuis untuk bergerilya ataupun mencetak ORITA. Pencetakan uang juga sempat berlanjut di Gua Naga Timbul. Bila lagu Butet bertemali dengan keberlangsungan ORITA, maka kapan persisnya lagu itu tercipta beriringan dengan aktivitas pencetakan. Sosok Ferdinand Lumban Tobing, residen Tapanuli saat itu menjadi cukup penting. Dengan bubuhan tanda tangannya lah maka ORITA sah sebagai mata uang dan alat pembayaran. Dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr. Ferdinand Lumbantobing karya H. Afif Lumbantobing disebutkan pencetakan ORITA dilaksanakan di Aek Sitahuis. Kegiatan pencetakan dimulai pada 15 Agustus 1947.   Lagu Butet sendiri kian mengkhalayak ke seantero tanah air setelah penyanyi kawakan, Emilia Contesa ikut memopulerkannya pada dekade 1970-an. Dari lagu rakyat, ia menjadi lagu yang digemari skala nasional. Hingga kini, lagu Butet kerap diperdengarkan di mana-mana, dengan berbagai aransemen. Di rumah, di acara pesta, hingga di lapo tuak, senandung Butet membuat haru terkesima siapa saja yang mendengarmya.

  • PC2, Radio Penjaga Eksistensi Indonesia

    SAKING senangnya, Opsir Udara III Boediardjo dan beberapa kawannya melompat sambil tertawa girang. Mereka kemudian saling berpelukan. Tingkah-polah mereka pada dini hari 2 Maret 1949 itu membingungkan pemilik rumah, Pawirosetomo dan istri. “Kami terangkan, bahwa siaran kami berhasil,” kenang Boediardjo dalam memoarnya, Siapa Sudi Saya Dongengi . Siaran radio yang dimaksud Boediardjo bukan siaran dari stasiun radio untuk tujuan komersil, melainkan siaran radio dari PHB (Perhubungan Udara) Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Siaran radio itu mengabarkan sebuah peristiwa penting yang menentukan kelanjutan eksistensi Republik Indonesia. Siaran tersebut merupakan buntut dari rentetan peristiwa yang diawali dari pendudukan ibukota Yogyakarta oleh pasukan Belanda dalam Agresi Militer II, 19 Desember 1948. Akibat pendudukan itu, AURI tak hanya kehilangan kepala stafnya yang ditawan Belanda ke Bangka tapi juga terpaksa memindahkan markasnya ke luar Kota Yogyakarta tak sampai sebulan kemudian. Namun, agresi itu telah diantisipasi KSAU Suryadarma sejak jauh hari. Alhasil, komunikasi radio republik tetap bisa berjalan baik dengan kota-kota lain di Jawa, dengan Sumatra, maupun dengan Burma dan India meski ibukota telah diduduki. “Sesuai dengan pertimbangan dan rencana cadangan yang telah dipikirkan oleh Suryadarma sebelumnya, pada pertengahan Desember 1948, ketika tersebar informasi tentang pihak Belanda yang akan melakukan serangan besar-besaran dengan tujuan sasaran Ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta, AURI menyembunyikan radio-radio pemancar apabila terjadi evakuasi. Sedangkan Playen di daerah Gunung Kidul dipersiapkan sebagai stasiun PHB alternatif apabila Yogyakarta diduduki Belanda,” tulis Adityawarman Suryadarma dalam Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma . Upaya Suryadarma sejalan dengan pesan terakhir Wapres Moh. Hatta. Sebelum ditangkap pasukan Belanda, Hatta sempat mengirim pesan radio melalui stasiun PHB AURI yang memerintahkan agar perjuangan harus terus dilanjutkan tak peduli apapun yang akan terjadi pada dirinya dan para pemimpin lain. Perintah wapres dan KSAU itulah yang ditindaklanjuti para personil AURI. “Setelah itu markas besar AURI di Terban Taman terpaksa harus dibumihanguskan. Saya dan adik saya, Basuki, berboncengan naik sepeda melaksanakan pembumihangusan itu. Dari sana saya menyingkir ke luar kota, menghimpun kekuatan gerilya melanjutkan perjuangan melawan Belanda,” ujar Boediardjo. Di Dukuh Banaran, Kecamatan Playen, Gunung Kidul, Boediardjo (kepala Jawatan PHB AURI) lalu meminta izin tokoh setempat, Pawirosetomo, untuk mendirikan stasiun darurat PHB di rumahnya. Berbekal izin Pawirosetomo itulah dia dibantu beberapa personil AURI dari Lanud Gading memasang perangkat-perangkat yang telah mereka persiapkan. “Antenanya kami rentangkan di antara dua batang pohon kelapa, yang tiap malam kami kerek naik, dan kami turunkan keesokan hari. Pemancar dan penerimanya diletakkan di daam dapur keluarga petani, dekat kandang sapi. Pembangkit listriknya disembunyikan di luweng dalam tanah ditutupi kayu bakar.” Stasiun radio dengan call sign PC2 itu pun beroperasi. Jalinan kontaknya dengan lebih dari 20 PBH AURI lain yang masih selamat membuat komunikasi republik tetap terjaga. “Komunikasi terus terjalin antara Pemerintah Darurat RI di Sumatra dan Pulau Jawa, termasuk pula dengan pemimpin RI yang tengah berada di dalam pengasingan di Pulau Bangka. Suryadarma, yang pada saat itu termasuk dalam tahanan Belanda yang diasingkan di Pulau Bangka, tetap dapat melakukan kontak dengan para personil AURI, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri (Rangoon, Burma) melalui stasiun PHB Kutaraja, Aceh,” tulis Adityawarman. “Jaringan radio AURI berporoskan Aceh-Yogya, meliputi stasiun radio dalam pengungsian Kotaraja, Tarutung, Bangkinang, Pasir Pangreyen, Kotatinggi. Stasiun mobil mengikuti PDRI di daerah Kerinci, Lubuk Linggau, Wonosari, dan Jamus (sekitar Gunung Lawu). Selain itu, ada juga hubungan radio ke luar negeri, dengan satuan AURI/Indonesina Airways yang berpangkalan di Burma, lewat Aceh,” tulis Irna HN Sowito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . Untuk mengamankan PC2, para personil PHB Playen beroperasi hanya pada malam hari dan sebentar. Mereka mengacak frekuensi yang digunakan. “Apabila sandi diketahui pihak Belanda, pihak RI sudah siap untuk beraksi, mengubah kode, pindah jam siaran, bahkan kalau perlu pindah tempat,” sambung Irna. Para personil PHB Playen juga mengganti identitas mereka dengan nama samaran. Pada 28 Februari, KSAP Kolonel TB Simatupang mendatangi PHB Playen. Dia memberi secarik kertas berisi teks mengenai Serangan Umum 1 Maret yang mesti diberitakan kepada Boediardjo. Sebelum pergi, Simatupang membrifing Boediardjo. “Diwanti-wanti untuk menyiarkannya besok malamnya setelah terjadi Serangan Umum yang akan dilancarkan pada waktu subuh tanggal 1 Maret 1949,” tulis Boediardjo. Maka ketika pasukan republik telah melakukan serangan umum, PHB Playen pun melakukan tugasnya. “PHB AURI di Playen, Wonosari pada tanggal 2 Maret dini hari, memberitahukan kepada PHB AURI di Bukittinggi bahwa pada tanggal 1 Maret, Yogyakarta diduduki kembali oleh TNI. Berita itu langsung dikirim ke Takangon, Aceh. Selanjutnya diteruskan ke Rangoon, Burma. Sore harinya, Kusnadi dan kawan-kawan sudah mendengar berita tersebut disiarkan oleh Radio di New Delhi, All India Radio menyiarkan berita kemenangan ini ke seluruh penjuru dunia, hingga sampai ke PBB. Siaran tersebut telah membuka kedok Belanda yang selalu menggembar-gemborkan berita bahwa TNI adalah gerombolan pengacau dan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi,” tulis Irna. Akibat siaran PHB Playen, Belanda marah bukan kepalang. Satu batalyon langsung dikerahkan ke Wonosari untuk mencari keberadaan PC2 pada 10 Maret. Namun, upaya itu gagal karena Boediardjo dan kawan-kawan telah lebih dulu memindahkan PC2 ke Desa Brosot di Wates. Keberhasilan siaran PC2 membuat Boediardjo dan kawan-kawannya senang bukan kepalang. “Keluarga Pawirosetomo tidak mengerti, mengapa kami sampai melonjak-lonjak kegirangan, saling berpelukan seperti orang kesurupan,” ujar Boediardjo.

  • Balada Freddie Mercury dalam Bohemian Rhapsody

    STADION Wembley, London, musim panas 1985, amat bergemuruh. Puluhan ribu orang yang menyesakinya menanti performer paling dinanti. Live Aid, konser musik terbesar semuka bumi untuk tujuan amal, itu serasa lebih hidup saat band Queen bersama frontman -nya, Freddie Mercury, selangkah lagi masuk panggung. Momen penantian terhadap Queen di konser amal untuk bencana kelaparan di Ethiopia yang digelar bersamaan di London dan Philadelphia pada 13 Juli 1985 itu dipilih sutradara Dexter Fletcher untuk membuka biopik Freddie Mercury bertajuk Bohemian Rhapsody . Dengan adegan pembuka itu Fletcher seakan ingin memberi spoiler untuk klimaks di akhir film yang mau-tak mau meringkas perjalanan band Queen sejak berdiri dengan formasi awal Freddie Mercury (Rami Malek) di lead vocal , Brian May (Gwilym Lee) pada gitar, dan Roger Taylor (Ben Hardy) sebagai penggebuk drum. John Deacon (Joseph Mazzello) sebagai bassist menyusul kemudian via audisi . Setelah memberi potongan tanggung dari momen Live Aid, Fletcher lantas ingin memberi sedikit wawasan tentang dari mana Freddie Mercury berasal, bagaimana latar belakang rockstar bernama asli Farrokh Bulsara itu, hingga perjumpaannya dengan Brian May dan Roger Taylor yang baru bubar dari band Smile. Tak ketinggalan, bagaimana Freddie secara tersirat jadi nakhoda Queen –dia yang mencetuskan nama Queen dan membuat logonya berbekal kemahirannya menggambar dan pengetahuannya sebagai mantan mahasiswa jurusan seni dan grafis– meski dia tak pernah mengakui memimpin band itu. “Saya bukan pemimpin Queen, saya hanya pemimpin vokal Queen,” tegas Freddie dalam sebuah konferensi pers. Fletcher memanjakan penonton dengan drama pertengkaran di internal Queen maupun drama kehidupan pribadi Freddie. Meningkatnya tensi plot Bohemian Rhapsody tak lepas dari kekecewaan Mary Austin (Lucy Boynton), kekasih Freddie, pasca-pengakuan Freddie kalau dirinya seorang biseksual. “Tidak, Freddie. Kamu seorang homoseksual,” cetus Mary. Freddie lantas terjerumus pada kehidupan yang lebih gelap bersama Paul Prenter (Allen Leech), manajer pribadinya. Karakter Prenter yang seolah dijadikan “judas” oleh sineas menambah bumbu melodrama yang bikin jengkel penonton. Momen pertemuannya dengan Mary di bawah guyuran hujan bak adegan-adegan receh film-film India lalu membuat Freddie tersadar dari “kepingsanannya”. Freddie rindu Mary, rindu teman-temannya di Queen yang meninggalkannya. Kerinduan itu makin menyakitkan lantaran hadir di saat hidup Freddie tinggal menghitung waktu akibat mengidap AIDS. Singkat cerita, konser Live Aid dijadikan sineas jadi ajang reuni Freddie dengan May, Taylor, dan Deacon. Adegan Konser Live Aid, Juli 1985. (Twitter @BoRhapMovie) Di konser itu, Queen membawakan sejumlah hits yang mendongkrak angka sumbangan. Lirik-lirik dalam enam lagu yang disenandungkan Freddie sangat menggambarkan kegelisahan hidupnya. Paling jelas termuat dalam “Bohemian Rhapsody”: Too late, my time has come. Send shivers down my spine, body’s aching all the time. Good bye everybody, I’ve got to go. Gotta leave you all behind and face the truth . Mama, ooh…I don’t want to die. I sometimes wish I’d never been born at all. Lirik yang bikin bergidik bulu roma itu seakan jadi pamitan buat Freddie untuk keluarga, teman-teman, dan penggemarnya. Ini jadi klimaks dan jadi pembuktikan Freddie mengamalkan ajaran ayahnya: Good thoughts, good words, good deeds (niat, kata-kata, dan tindakan yang baik). Fakta di Balik Bohemian Rhapsody Tiada gading yang tak retak. Bohemian Rhapsody tentu mendapat kritik di sana-sini . Itu tak lepas dari penggantian sutradara. Fletcher merupakan sutradara pengganti yang di credit namanya dikompensasi sebagai produser eksekutif. Sutradara aslinya, Bryan Singer, dipecat di awal produksi meski namanya tetap dicantumkan dalam credit . Sebagaimana beberapa kritik yang datang, duduknya Fletcher pada akhirnya membuat Bohemian Rhapsody lebih banyak memberi porsi pada orientasi seksual Freddie dan dampak-dampaknya. Proses berkarya Queen justru mendapat porsi minim. Formasi Queen yang diperankan Rami Malek, Gwilym Lee, Joe Mazzello & Ben Hardy. (foxmovies.com). Faktor minus lain adalah alur dan konflik dalam film ini biasa saja. Penambahan beberapa adegan dan karakter fiktif juga menjadi nilai minus. Itu terlihat, misalnya, dalam karakter Ray Foster (Mike Myers). Andy Greene dalam rollingstone.com , 1 November 2018, menyoroti tentang karakter petinggi label EMI tersebut. “Perannya adalah mengatakan pada Queen untuk membuat musik yang lebih komersil. Dia (Foster) juga benci lagu ‘Bohemian Rhapsody’. Nampaknya karakter ini terinspirasi dari bos EMI Roy Featherstone. Memang aslinya Featherstone sedikit protes tentang durasi lagu yang terlalu panjang. Tapi adegan yang diperankan Foster tidak benar alias fiksi,” sebut Greene. Sementara, Richard Brody dalam The New Yorker , 5 November 2018, menyesalkan Bohemian Rhapsody tak menggambarkan lebih jauh dari mana awalnya Freddie gandrung pada musik . “Tak menghadirkan masa kecil Mercury di Zanzibar, masa sekolahnya di Bombay dan kegemaran awalnya pada musik rock and roll .” Faktor lain yang mendatangkan kritik adalah, beberapa detail dalam film ini tak sesuai fakta. Itu terlihat dalam scene John Deacon sang basis ada di konser pertama Queen tahun 1970. Padahal, menurut Mark Hodkinson dalam Queen: The Early Years , Deacon bukanlah bassist pertama Queen. Pos itu pertamakali diisi Mike Grose, lantas Barry Mitchell, dan Doug Wood Boogie sebelum Deacon jadi personel tetap pada 1971. Freddie juga digambarkan bertemu Mary Austin di malam yang sama kala Freddie memperkenalkan dan menawarkan diri jadi vokalis pada May dan Taylor. Mary sendiri aslinya mantan pacar May dan baru jadian sama Freddie setelah sang bintang jadi vokalis tetap Queen. Jim Hutton, pacar gay terakhir Freddie, dikisahkan pertamakali bersua Freddie dalam sebuah pesta di mansion Freddie. Hutton yang menjadi pelayan, digoda Freddie. Faktanya, Hutton sebelumnya seorang penata rambut di sebuah salon di Hotel Savoy. Pertemuan pertamanya dengan Freddie terjadi di sebuah klub malam, bukan di kediaman mewah Freddie. Konser Live Aid juga dilukiskan film sebagai reuni Queen setelah masing-masing personilnya berpisah. Faktanya, Queen sudah reuni dan menjalani sebuah tur dua bulan sebelum Live Aid. Lalu, di konser Live Aid pada 13 Juli 1985 Freddie dideskripsikan mengetahui dirinya positif mengidap AIDS dari seorang dokter di sela-sela latihan dan persiapan Queen jelang Live Aid. Faktanya, Freddie baru mengetahui dirinya terdiagnosa mengidap AIDS pada akhir April 1987. Namun, overall film ini begitu berarti bukan semata bagi para fans Queen tapi juga pecinta musik rock. Queen dengan kejeniusan masing-masing personilnya tetah menawarkan bentuk baru musik rock, baik dari sisi musikalitas maupun aksi panggung. Film ini juga wahana nostalgia yang dimainkan dengan apik oleh Rami Malek dkk. Lagu-lagu Queen yang jadi sisipan banyak memancing penonton ikut melantunkan lirik, menghentakan kaki, atau sekadar memainkan jari mengiringi lagu-lagu itu.

  • Menyambung Nyawa di Udara China

    TEROR pemboman udara Jepang menghantui Kota Chongqing (Chungking) dan sekitarnya. Chongqing menjadi ibukota darurat Republik Cina di bawah pemerintahan nasionalis pasca-jatuhnya Nanjing (Nanking) akibat serbuan Jepang pada Perang Sino-Jepang II yang bermula pada 7 Juli 1937. Chongqing mulai jadi sasaran pemboman pesawat-pesawat Jepang pada 18 Februari 1938. Nyaris 300 serangan udara dengan ribuan ton bom tercatat digulirkan pesawat-pesawat Kaigun (Angkatan Laut) dan Rikugun (Angkatan Darat) Jepang. Sasarannya tak hanya basis-basis militer, namun juga sejumlah sekolah, rumahsakit, gereja, dan permukiman sipil. Kengerian invasi dan pemboman itu, yang diselingi beberapa rekaman asli, menjadi narasi pembuka film bertajuk Air Strike garapan sutradara Xiao Feng. Sang sineas ingin lebih dulu mengingatkan penonton akan keganasan agresi Jepang dan dampak-dampaknya yang tak terperikan sebelum menyajikan beragam plot dramatis dan heroik seputar tragedi berdarah di Chongqing. Premis film ini berfokus pada tiga sub-kisah yang lantas mengerucut di pertengahan film. Pertama , tentang sebuah skadron berisi para kadet muda Angkatan Udara (AU) Cina yang dipimpin penasihat militer Amerika Serikat (AS) Kolonel Jack Johnson (Bruce Willis). Kedua , tentang seorang opsir penerbang Xue Gang Tou (Liu Ye) yang punya misi menyelundupkan mesin kode buatan Inggris, dan ketiga, kisah seorang Paman Cui (Fan Wei) yang mewakili kegetiran hidup warga sipil Chongqing akibat teror pemboman. Tak ketinggalan, Air Strike juga menyisipi aktivitas rumahsakit dengan banyak tenaga medis asing, termasuk dokter asal Amerika Steve (Adrien Brody), yang kepayahan akibat terus kebanjiran pasien akibat pemboman. Adrien Brody (kanan) di suatu adegan dalam film Air Strike. (Lionsgate). Dalam kisah skadron yang berbasis di Pangkalan Udara Chongqing, Kolonel Johnson tak hanya direpotkan oleh minimnya alutsista tapi juga oleh inferiornya kekuatan AU Cina. Hanya dengan belasan pesawat tempur buatan Uni Soviet seperti Polikarpov I-15 (153) dan Polikarpov I-16, mereka mesti menghadapi kekuatan udara Jepang yang lebih superior dengan pesawat Zero dan pesawat Pembom Mitsubishi G3M-nya. Ego menggebu untuk membalas kekejaman Jepang para kadetnya acapkali juga merepotkan Johnson. Tak jarang mereka indisipliner dan sulit menerima keputusan-keputusan strategis. Satu per satu pilot Cina yang memberi perlawanan terhadap teror udara Jepang berguguran. Untung mereka gugur setelah memberi perlawanan sengit dengan manuver-manuver ciamik. Sementara, perjuangan Gang Tou, pilot yang di- grounded untuk mengawal misi penyelundupan mesin kode, juga tak kalah pelik. Dia berjibaku melindungi truk bermuatan penting itu dari Pelabuhan Yixi menuju markas pusat militer Cina di Chongqing. Bahaya tak semata berasal dari serangan udara Jepang, tapi juga dari mata-matanya. Adapun Paman Cui, yang remuk hatinya setelah tahu putranya tewas oleh serdadu Jepang, memilih mendarmabaktikan dirinya untuk kepentingan militer Cina. Uang yang didapatnya dari kontes burung dan permainan Mahjong, dia donasikan untuk militer dan jadi inspirasi buat warga lainnya untuk melakukan hal serupa. Bagaimana kelanjutannya? Baiknya Anda tonton sendiri. Film ini dirilis pada 26 Oktober 2018, setelah sempat beberapa kali ganti judul. Sebelum berjudul  Air Strike , film ini hendak diberi judul  The Bombing dan Unbreakable Spirit . Film bergenre fiksi action yang berangkat dari kepedihan semasa pendudukan Jepang ini tak hanya menampilkan drama tapi juga memanjakan para pecinta genre perang, khususnya pertempuran udara. Visual efek pertempuran udaranya cukup apik dan kualitasnya hanya sedikit di bawah film-film sejenis di era modern, seperti Hurricane (2018), Eternal Zero (2013), Red Tails (2012), The Red Baron (2008), For Those We Love (2007), Flyboys (2006), Pearl Harbor (2001), atau The Tuskegee Airmen (1995). Adegan duel udara Zero Jepang vs I-16 Polikarpov dari AU China. (Lionsgate). Fakta Film dan Sejarah Kendati suara tangis bayi dan anak-anak korban pemboman Jepang dalam berbagai adegan film berbujet 982 miliar rupiah ini terasa menusuk di hati, Air Strike “terpeleset” dalam beberapa detail. Satu di antaranya soal dialog. Kealpaan ini turut disayangkan kritikus Anthony Kao. Dalam cinemaescapist .com, 26 Oktober 2018, dia menyoroti dialog antara Kolonel Johnson dan An Ming Xun (Song Seung-heon), wartawati cantik Xinhua Daily , di markas skadron. “Tambah aneh dan tak logis sebenarnya adegan itu sendiri,” ujar Kao. Yang jauh lebih penting, sutradara menggarap film ini terlalu bernuansa Hollywood. Xiao Feng sama sekali tak menggambarkan atau sekadar menyinggung keberadaan pelatih maupun pilot-pilot Uni Soviet. Padahal faktanya, menurut John Erickson dalam The Soviet High Command: A Military-Political History, 1918-1941 , Soviet jadi penyokong pertama AU Cina dalam Perang Sino-Jepang II lewat pendirian Soviet Volunteer Group. Pilot-pilot sukarelawan Uni Soviet di suatu pangkalan di China pada 1938. (Wikimedia Commons). Sejak Desember 1937 sampai 1940, Soviet tercatat memberi bantuan 563 pesawat tempur dan 322 pesawat pembom yang tidak hanya untuk diterbangkan para pilot sukarelawan Soviet namun juga pilot-pilot Cina di berbagai pangkalan. Penggunaan pesawat Polikarpov I-153 dan I-16 di film ini menjadi buktinya. Memang, sejak ditandatanganinya Pakta Non-Agresi antara Jepang dan Soviet pada April 1941, para pilot sukarelawan Soviet ditarik dari Cina. Itu menyebabkan Cina mengalihkan permohonan bantuan pada Amerika, yang kemudian melahirkan American Volunteer Group (AVG) “Flying Tigers” di bawah komando Brigjen Claire Lee Chennault. Apalagi Xiao Feng mengklaim film fiksinya ini terinspirasi dari kisah nyata. Mestinya eksistensi sokongan Soviet tetap ditampilkan mesti porsinya secuil seperti, misal, dalam Hurricane yang lebih dulu rilis di tahun ini. Kendati yang jadi fokus pengisahannya adalah para pilot Polandia yang bertempur di angkasa Inggris, film itu tetap tak menyingkirkan fakta keberadaan seorang pilot Cekoslovakia dan instruktur asal Kanada di sebuah unit tempur yang sohor, Skadron 303. Satu “kepelesetan” lain yang patut disoroti dari film ini, adalah keberadaan sebuah pesawat tempur P-40 Warhawk. Entah bagaimana datangnya pesawat baru yang sekonyong-konyong jadi rebutan dua penerbang Cina ini. Mestinya, tak hanya ada satu pesawat yang jadi alutsista tambahan dari Amerika sejak menggantikan Soviet pada 1941.  Dalam Army Air Forces in WWII: Vol. 1 , tercatat Amerika menghibahkan ratusan pesawat berbagai jenis hingga berakhirnya Perang Pasifik. Data Film Judul: Air Strike | Sutradara: Xiao Feng | Produser: Jian-Xiang Shi, Buting Yang | Pemain: Bruce Willis, Adrien Brody, Rummer Willis, Fan Bingbing, Liu Ye, Song Seung-heon, Fan Wei | Produksi: China Film Group Corporation, Origin Films, Shanghai Nangou Films, Hollywood International Film Exchange| Distributor: China Film Group Corporation, Blue Box International | Genre: Drama Perang | Durasi: 96 Menit | Rilis: 26 Oktober 2018.

  • Utami Mendobrak Kungkungan Adat Jawa

    KETIKA ikut mewakili Indonesia dalam All Indian Women’s Congress di Madras, India pada Desember 1947, Utami Suryadarma berkesempatan menemui pejuang Mahatma Gandhi. Kesempatan itu dimanfaatkan Utami untuk berdialog. “Apakah perjuangan Indonesia akan berhasil?” tanya Utami mengingat kondisi Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaan dari Agresi Militer Belanda. “Apabila Anda percaya itu akan berhasil, maka akan berhasil,” jawab Gandhi. Momen bersejarah itu disaksikan dan dicatat oleh Herawati Diah dalam Kembara Tiada Berakhir. Keberangkatan Utami ke India menjadi peristiwa penting dalam perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan dan perjuangan perempuan Indonesia. Utami memang tak populer dalam sejarah Indonesia. Penyebab terpentingnya apalagi kalau bukan monopoli sejarah oleh rezim Orde Baru. Padahal, Utami aktif dalam perjuangan kemerdekaan sejak remaja. Bersama kakak perempuan sekaligus rekan persekongkolannya, Utari, dia pernah mendirikan Majalah Pahesan (berarti cermin) dengan modal dari patungan uang saku mereka plus bantuan beberapa donatur tetap. Selain Utami dan Utari, pengurus pertama Pahesan adalah Suleki (di kemudian hari menikah dengan Prof. Selo Soemardjan), Erna Djajadiningrat, Marasah, Nun, dan Sjamsidar. Meski tulisan-tulisan Pahesan menggunakan bahasa Belanda, Utami menyebut watak tulisan Pahesan tetap nasionalis. Pahesan seringkali mengangkat nasib kaum perempuan di masanya, seperti kepincangan hak perempuan dalam perkawinan, dan ketidakadilan yang diterima rakyat pribumi. Kritik Utami dan kawan-kawan dalam Majalah Pahesan menjadi perhatian Politieke Inlichtingen Dienst (PID) atau Dinas Intelijen Politik pemerintah Hindia Belanda. Ayah Utami, Raden Ramelan, pernah mendapat teguran dari kepala Kepolisian Surakarta. Raden Ramelan yang kala itu bekerja sebagai pegawai negeri, diperingatkan kalau kedua putrinya akan dipaggil untuk mempertanggungjawabkan tulisan-tulisan mereka di Pahesan . “Tapi ancaman itu tidak pernah dilaksanakan,” kata Utami dalam memoarnya , Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . Raden Ramelan menentang keras kedua putrinya, Utami dan Utari, ikut dalam pergerakan nasional atau kegiatan berbau politik meski dia sendiri anggota Budi Utomo. Dia amat khawatir terhadap keamanan kedua putrinya. Utami dan ayahnya sering berdebat sengit soal pandangan politik sampai sang ibu harus turun tangan untuk mendamaikan. Meski berdebat keras, Utami tetap menurut dan luluh oleh pernyataan ayahnya, “Kalau saya tidak bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda, bagaimana saya dapat menyekolahkan kamu semua?” Setelah itu, Utami dan Utari harus membujuk sang ayah setengah mati untuk bisa keluar melihat pertunjukan atau kegiatan kepanduan. Utami menyebutnya setengah dipingit. Gagal Jadi Filsuf karena Ayah Setelah lulus dari AMS Yogyakarta, Utami berkeinginan meneruskan pendidikan ke Rechts Hoge School atau ke Fakulteit van Oosters Letter en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra Timur dan Filsafat) di Leiden, Belanda. Tapi, kata Utami, “Semua kandas karena larangan orangtua.” Sebagai keluarga ningrat Surakarta, Raden Ramelan membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan budaya amat feodal. Ramelan tak ingin anak-anak perempuannya menempuh pendidikan tinggi karena baginya perempuan yang meraih pendidikan tinggi akan menjadi perawan tua. Pandangan itulah yang dilawan Utami. “Saya bersedia menjadi perawan tua karena sebagai seseorang yang menganggap diri feminis, saya ingin meraih sesuatu dengan kemampuan sendiri,” kata Utami. Utami mengidamkan hidup mandiri dan menentukan jalan hidupnya sendiri, bekerja dan mencari nafkah sendiri. Namun sayang, dia hidup di lingkungan yang masih memegang teguh adat. Ditambah kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya, cita-cita Utami untuk menjadi sastrawan dan filsuf akhirnya gugur. Beruntung, Utami kemudian bertemu dengan Soeriadi Suryadarma (KSAU dan KSAP pertama). Pertemuan itu menjadi sebuah keberuntungan bagi Utami, pasalnya dia mendapatkan rekan persekongkolan baru. Soeriadi sepemikiran dengan Utami. “Baginya perempuan sederajat dengan laki-laki,” kata Utami menerangkan pandangan Soeriadi. Soeriadi mendukung penuh seluruh keaktifan Utami baik dalam gerakan perempuan maupun hobi membacanya. Di masa perempuan dalam kondisi terkungkung baik secara budaya maupun sistem sosial itu, seorang gadis tak bisa bergerak sendiri tanpa dukungan pihak lelaki, entah ayah ataupun suaminya. Dukungan Soeriadi tak hanya memuluskan jalan Utami meraih cita-cita tapi sekaligus menjadikan mereka pasangan senasib-seperjuangan. “Saya menolak mencuci kaki calon suamiku dan membuat sembah kepadanya. Untungnya, Soeriadi tidak berbeda pandangan dengan saya, karena jiwanya sama tidak konvensionilnya,” kenang Utami tentang hari pernikahannya. Keaktifan Utami dalam gerakan perempuan dan nasionalis makin menjadi setelah menikah. Lantaran suaminya tentara Hindia Belanda, Utami harus sembunyi-sembunyi jika ingin hadir dalam pertemuan gerakan, salah satunya Kongres Perkumpulan pemuda Putri Indonesia (PPPI), organisasi perempuan dari Jong Java. Semasa pendudukan Jepang, Utami menjadi relawan di Rumah Sakit Subang, membantu dokter Soehardi Hardjoloekito. Ketika tinggal di Batavia, Utami mengikuti satu studie club. Di sanalah dia mulai kenal dengan banyak pejuang perempuan lain seperti Maria Ullfah, Siti Soendari, dan Herawati Diah. Utami kemudian ikut aktif dalam Kongres Perempuan Indonesia. Sebagaimana diungkap Sejarah Setengah abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, pada 1946 Utami duduk sebagai anggota Penerangan Kowani. Sebuah rapat Kowani menyepakati, Utami yang menjabat sebagai ketua Bidang Penerangan Luar Negeri Kowani ditugaskan berangkat ke All Indian Women’s Congress di Madras mewakili para perempuan Indonesia. Utami berangkat bersama anggota Kowani lain seperti Siti Sukaptinah Mangunpuspito, Sulianti, dan Jo Kurnianingrat Sastroamidjojo dengan menunmpang pesawat Kalinga Air milik pengusaha India Biju Patnaik. “Utami orang yang gigih mengupayakan berangkatnya duta-duta perempuan ke Madras,” kenang Herawati . Di India, mereka bertemu Herawati Diah yang datang untuk meliput dan menjadi saksi upaya para perempuan menyebarkan kabar kemerdekaan.

  • Saatnya Belajar dari Sepakbola Jepang

    TODD Rivaldo Ferre dkk. tertunduk lesu. Asa Timnas Indonesia U-19 untuk melangkah lebih jauh di turnamen AFC Cup U-19 2018 tertutup sudah. Langit seolah ikut menangis lewat derasnya guyuran hujan. Sekira 70 ribu suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno jadi saksi kekalahan 0-2 Timnas Indonesia U-19 dari Jepang U-19 di babak perempatfinal, Minggu malam, 28 Oktober 2018. Tim besutan Indra Sjafri gagal menyempurnakan peringatan Sumpah Pemuda ke-90. Ekspektasi publik kembali mentok. Padahal sebelumnya menyeruak harapan besar untuk minimal sampai ke semifinal. Pasalnya, empat semifinalis akan otomatis ikut Piala Dunia U-20 di Polandia 23 Mei-15 Juni 2019 mendatang. Toh, Coach Indra Sjafri tak menyesal dengan hasil itu. Dalam konferensi persnya usai laga, dia justru bangga. “Saya yakin level sepakbola Indonesai dengan Jepang dan negara-negara lain sudah kompetitif,” katanya. Pandangan berbeda justru datang dari pengamat sepakbola dan pembinaan usia dini Timo Scheunemann. “Soal itu saya enggak setuju walau maksudnya coach Indra itu baik, dia mengangkat harapan. Karena memang coach Indra kan kelebihannya di motivasi dalam hal mental dan ingin menunjukkan kalau kita enggak kalah,” ujar Timo saat dihubungi Historia . Menurut mantan pelatih, eks-Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI, dan penulis buku Dasar-Dasar Sepakbola Modern , 14 Ciri Sepakbola Modern dan Kurikulum Dasar Sepakbola untuk Pembinaan Usia Dini itu secara objektif kemampuan, pengetahuan taktik, keputusan dalam bermain (Indonesia, red .) masih kentara tertinggal jauh dari Jepang. “Di level junior, pencapaian ini sebenarnya sudah luar biasa. Tapi memang lebih karena faktor coach Indra yang bisa mengangkat nasionalisme, kepercayaan diri, hingga pemain yang mentalnya selama ini sudah kalah sebelum berperang itu dibenahi. Jadi mereka modal semangat, modal tak kalah sebelum bertanding,” lanjut Coach Timo. Berguru pada Murid Tampil di pentas terbesar sejagat kategori usia di bawah 20 tahun sejatinya pernah dicicipi timnas Indonesia di Piala Dunia Junior di Jepang tahun 1979. Kendati pulang dari Jepang dengan hasil remuk redam, setidaknya nama Indonesia pernah tercantum sebagai salah satu tim junior terbaik dunia. Kekalahan itu plus kekalahan dari Jepang pekan lalu sudah semestinya jadi bahan pembelajaran. Kalau perlu, Indonesia balik berguru pada Jepang selaku salah satu raksasa Asia saat ini. Balik berguru? Ya, pada 1991 Jepang pernah berguru ke Indonesia saat membenahi liganya yang saat itu masih semi-profesional. “Semi profesional karena pemain klub, misal Matsushita (maksudnya Gamba Osaka, red .), ya pemainnya diambil dari pegawai Matsushita, bukan orang luar yang memang dikontak karena skill -nya,” ujar Ricky Yacob, pemain legendaris yang jadi pemain Indonesia pertama yang dikontrak klub Jepang, kepada Historia lima tahun silam. Jepang mempelajari betul Galatama (Liga Sepakbola Utama), kompetisi profesional Indonesia yang lahir pada 1979. “Itu awalnya melihat dan mendapatkan konsep (liga) bahwa yang paling bagus model Galatama. Jadi tim-timnya bukan terkait dengan instansi pemerintah tapi dengan perusahaan besar. Tapi justru setelah itu di Indonesia malah terkait dengan pemerintahannya seperti itu. Karena banyak skandal suap juga di Galatama. Namun bukannya dicari solusinya, malah akarnya dicabut (Galatama bubar),” sambung Timo. Jepang pada akhirnya bukan sekadar mampu membuat liga profesional namun  mengembangkannya lebih jauh sehingga laku dijual. Soal pendidikan pelatih dan pembentukan sejumlah akademi di bawah klub-klub profesionalnya juga menjadi inti pembenahan oleh JFA (Federasi Sepakbola Jepang) itu. Hasilnya, pada 1993 Jepang sudah punya kompetisi pro, J-League. Sejumlah pemain Jepang kemudian dilirik klub top Eropa. Kazuyoshi Miura mempelopori “eksodus” pesepakbola profesional Jepang ke liga Eropa ketika dia dikontrak klub Serie A Genoa. Namun, bintangnya tak seterang Hidetoshi Nakata yang mengikuti jejaknya beberapa tahun kemudian dengan klub Perugia. Kazuyoshi Miura, pelopor pemain Jepang di Eropa. (themillenial.it). Di perantauan, mental para pemain Jepang ditempa dan itu terbawa saat mereka pulang untuk membela Timnas Jepang. Hasilnya, sejak 1995 Jepang tak pernah absen masuk Piala Dunia Yunior dan sejak 1998 juga senantiasa lolos ke Piala Dunia. Kemauan Jepang belajar dan melewati fase-fase pembelajaran itu mestinya ditiru Indonesia. Sayang, hal itu justru hilang dari persepakbolaan Indonesia tiga dekade belakangan. “Kalau memang dikatakan (Indonesia) tidak tertinggal, tentu akan terlihat di timnas senior. Tapi nyatanya kita masih tertinggal jauh. Enggak bisa mengejar kalau pendidikan pelatih tidak digencarkan, kemudian akademi-akademi yang ada sudah diperbaiki dan diseriusi lagi, tidak hanya sekadar memenuhi persyaratan,” tambah Timo. Senada dengan Timo, Ricky mengatakan salah satu prasyarat yang harus dilalui untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia adalah kompetisi tingkat junior. “Yang di bawah ini mesti dibenahi dulu, disediakan wadah kompetisi. Di situ kita bisa lihat mana anak yang benar-benar bagus sehingga kita punya database . Jadi enggak terjadi lagi PSSI mau cari pemain usia sekian, 800 orang mesti diseleksi selama tiga hari. Bagaimana menyeleksinya?” ujar Ricky. Beruntung, belakangan PSSI memulai lagi fase-fase itu secara bertahap. Kompetisi usia muda yang berafiliasi dengan klub sudah mulai bergulir, terutama di kategori U-16 dan U-19. “Terakhir saya lihat Tim U-16 Bhayangkara FC melawan PSMS dan itu permulaan yang positif. Tapi yang saya harapkan pembinaan skala ini dijalankan profesional. Jangan melihat investasi akademi sebagai beban, hanya karena menjalankan regulasi, itu yang repot,” ujar Timo. Pembinaan di akademi memang bukan investasi yang “basah”. Namun, itu harus dilalui jika ingin persepakbolaan Indonesia maju. Hasil dari proses panjang itu bisa dilihat dalam prestasi Jepang, China, dan India yang mulai seirus membangun pembinaan pemain usia mudanya. “Mesti dilakukan secara profesional demi Indonesia juga. Karena timnas itu hasil liga profesional yang bagus. Liga yang bagus bahan bakunya ya dari akademi. Kita enggak bisa selalu bicara tentang duit seperti di Eropa,” tutup Timo.

  • Ketika Djamin Gintings Rindu Tanah Air

    DI depan pintu keberangkatan bandara Ottawa, Kanada, Djamin Gintings mengecup istrinya, Likas Tarigan. Jenderal bintang tiga itu menitipkan sepucuk surat kepada Likas untuk disampaikan kepada Presiden Soeharto. Isinya adalah permintaan Djamin supaya dipulangkan ke Indonesia. Dia tak tahan menetap terus di Kanada yang dingin.    Hari itu, tanggal 10 Oktober 1974, menjadi perjumpaan terakhir Djamin dan Likas. Pada 23 Oktober, ketika Likas masih berada di Jakarta, datang kabar duka dari Kanada: Djamin Gintings meninggal dunia.  “Ah, andai aku tahu itulah kecup terakhir suamiku untukku,” kenang Likas Tarigas kepada Hilda Unu-Senduk dalam Perempuan Tegar dari Sibolangit. Dipakai lalu Diabaikan Lengsernya Presiden Sukarno mengubah konfigurasi dalam jajaran Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Soeharto yang baru naik tampuk kekuasaan mengganti orang-orang yang semula dipilih Yani. Mereka yang jadi korban maupun yang selamat dari peristiwa Gerakan 30 September, semuanya kena copot dari posisi masing-masing. Peter Dale Scott, mantan diplomat Kanada dan pakar politik University of California, dalam jurnalnya yang terkenal “Amerika Serikat dan Penggulingan Sukarno 1965—1967” menyebutkan dari enam perwira staf umum yang diangkat Yani, tiga di antaranya terbunuh: Soeprapto, S. Parman, dan Pandjaitan. Dari tiga orang yang selamat, dua orang disingkirkan Soeharto dalam delapan bulan: Moersjid dan Pranoto.    “Anggota terakhir dari stafnya Yani, Djamin Gintings telah digunakan oleh Soeharto selama menegakkan Orde Baru dan kemudian diabaikan oleh Soeharto,” tulis Scott dalam “The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967" yang diterbitkan Journal Pasific Affairs . Djamin Gintings bersama istrinya, Likas Tarigan. (Repro Dari Titi Bambu ke Bukit Kadir ). Posisi Djamin sebagai Asisten II digantikan oleh Soemitro yang semula menjabat panglima Mulawarman di Kalimantan. Djamin sempat menjadi Inspektur Jenderal AD, namun tak lama. Dia kemudian diparkirkan di luar SUAD dan mengisi hari-hari dengan beternak ayam ras. Memasuki 1970, pemerintah menugaskan Djamin untuk memenangkan pemilu. Untuk itu, Djamin memangku jabatan ketua Sektretariat Bersama Golkar Pusat. Jelang pemilu 1971, Djamin sampai turun ke tanah kelahirannya di Tanah Karo untuk kampanye. “Mulai dari Kuta Bangun, Sarinembah, dan mengadakan rapat raksasa di stadion Kabanjahe dengan pengunjung kurang dari 45. 000 orang,” tulis Robert Parangin-angin dalam Djamin Gintings: Maha Putra RI . Hasilnya, Golkar menang mutlak di Sumatera Utara yang mengantarkan Soeharto jadi presiden lewat pemilu perdananya. Djamin Gintings naik pangkat jadi letnan jenderal. Dia juga terpilih menjadi anggota DPR dan duduk dalam Komisi II merangkap ketua Diskusi Luar Negeri. Servis Djamin dirasa telah cukup. Masa pengasingan pun dimulai. Keluar dari Orbit  Pada 22 Maret 1972, Presiden Soeharto melantik Djamin Gintings sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh untuk negeri Kanada. Suatu jabatan non militer. Dalam lubuk hatinya, Djamin tak menerima penempatan tugas baru ke negeri yang dekat dengan Kutub Utara itu. “Enggan suamiku menerima jabatan ini, tetapi sebagai abdi negara ia mematuhinya. Kepedihan hatinya dan rasa kecewanya yang menggunung dapat kurasakan,” tutur Likas. Menurut Likas, Djamin mendapat kesan bahwa dirinya disingkirkan. Pekerjaan diplomat bukanlah bidang Djamin yang lama bercimpung sebagai tentara lapangan. Dalam kejenuhannya, Djamin mengatakan bawa dia merasa terbuang. Kesehatannya berangsur-angsur menurun ditambah iklim Kanada yang kurang bersahabat.    Tiga tahun masa tugas di Kanada beringsut kelabu. Agar bisa kembali ke Indonesia, Djamin mengutus istrinya ke Jakarta menemui Soeharto. Tiba di Cendana, Likas diterima Ibu Tien Soeharto. Kepada Tien, Likas menceritakan kesehatan Djamin yang terganggu dan mengharapkan Presiden Soeharto memanggilnya pulang ke Indonesia. Djamin Gintings saat bertugas di Kanada sebagai duta besar. (Repro  Dari Titi Bambu ke Bukit Kadir ). “Rasanya tak sanggup suami saya melewati musim dingin di Kanada, Bu,” kata Likas kepada Tien seraya menyerahkan surat Djamin agar dibaca oleh Soeharto. Tien berjanji untuk menyampaikannya. Tiga hari berselang, surat sampai di tangan Soeharto. Presiden mengatakan telah memproses isi surat Djamin dan meminta Likas menghubungi Menteri Sekretaris Negara Soedharmono. Di kantor Mensekneg, tubuh Likas bergetar lemas. Soedharmono memperlihatkan disposisi presiden terhadap surat Djamin. Isinya: “Tunggu saja kunjungan saya bulan Juli 1975 di Kanada.” Itu artinya, permintaan Djamin ditolak atau setidaknya masih harus menunggu hingga tahun depan.       Apa rupanya persinggungan serius yang terjadi antara Djamin dan Soeharto?  “Tak perlu persinggungan,” kata sesepuh TNI AD Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia . Menurut Sayidiman yang mantan Wakil KASAD ini, Djamin bukanlah bagian dari grup jenderal Soeharto. Dia menjelaskan, banyak perwira tinggi AD yang awalnya dipakai Soeharto bukan karena mereka cocok dengan Soeharto tapi karena ketidaksetujuannya yang tegas terhadap Nasakom dan PKI. Setelah masalah itu selesai, orang-orang seperti Djamin pun menjauh dari Soeharto. “Kalau Pak Harto merasa tak cocok dan orangnya juga tidak usaha untuk dekat Pak Harto, ya harus dijauhkan kalau ia pejabat penting,” kata Sayidiman. Djamin termasuk perwira yang enggan merapat ke kubu Soeharto. “Saya suka dia dan sedih ketika dapat kabar ia meninggal ketika jadi dubes di Kanada,” kenang Sayidiman.

  • Nasib Buruk Anak Nyai

    MALANG. Kata itulah yang paling tepat disematkan pada anak-anak tak berdosa yang lahir dari rahim perempuan-nyai di masa kolonial. Mereka menjadi komunitas terbuang, berada di luar masyarakat kulit putih maupun masyarakat pribumi. Anak-anak Indo-Eropa hasil pergundikan antara lelaki Belanda dan nyai pribumi itu tidak punya hubungan yang benar-benar nyata dengan masyarakat pribumi dan tidak mengusahakannya karena terlalu gengsi. Sementara untuk masuk ke dalam masyarakat Eropa mereka mendapatkan penolakan. Meski beberapa anak hasil pergundikan diakui ayah mereka sehingga bisa menyandang nama Eropa, status mereka di masyarakat tetap tidak jelas. Kemunculan anak Indo-Eropa sebagai kelompok baru masyarakat kolonial sudah menjadi kekhawatiran sejak praktik pergundikan dilakukan para kolonialis kulit putih. Kelompok Indo-Eropa ini dikhawatirkan membahayakan prestise kulit putih dan citra kolonial sebagai pemilik budaya yang mereka anggap luhur. Hal ini menjadi titik mula ketiadaan pengakuan masyarakat kolonial akan hubungan antarras. Anak hasil hubungan tuan-gundik diperlakukan dengan buruk bahkan sejak masa VOC. Dalam peraturan VOC tahun 1715 tercantum larangan mengangkat keturunan campuran penduduk asli menjadi pegawai VOC, apalagi bila masih tersedia orang lain (kulit putih tulen) yang berpotensi. Aturan itu diterapkan secara ketat. Bahkan ketika VOC kekurangan pegawai pada 1727, mereka ogah merekrut orang Indo-Eropa dan lebih memilih pedagang kecil Eropa yang belum tergabung di VOC untuk mendaftar. Dalam pengumumannya, VOC menekankan bahwa orang Eropa tulen harus diterima bekerja dengan berbagai cara dan lebih diutamakan dibanding anak-anak Indo-Eropa. Di mata VOC, tulis Jean Gelman Taylor dalam Kehidupan Sosial di Batavia , orang-orang yang lahir di negeri jajahan, khususnya ras campur, statusnya sangat rendah. Mereka hanya bisa menjadi tenaga militer atau juru tulis. Masa depan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi telah tertutup karena posisi tinggi diisi oleh lelaki yang datang dari Belanda. Anak perempuan hasil pergundikan pun mendapat nasib sama buruknya. Gubernur Jenderal C van der Lijn bahkan mengeluarkan aturan yang melarang semua perempuan yang lahir di negeri jajahan pergi ke Belanda tanpa izin khusus pada 1649. Diskriminasi pada orang Indo-Eropa terus berlanjut bahkan ketika kekuasaan dipegang pemerintah Belanda. Asal-usul mereka sebagai ras campur benar-benar menjadi sebuah rintangan untuk mendapat pekerjaan setara orang kulit putih tulen. Diskriminasi ini bahkan tercatat dalam hukum kolonial tahun 1839. Anak-anak yang lahir dari hubungan lelaki Eropa dan perempuan non-kulit putih kehilangan hak istimewa untuk mengenyam pendidikan Eropa, terlebih di Royal Academy Delft, Belanda. Padahal, pemerintah Belanda hanya mengangkat orang-orang lulusan Royal Academy untuk menjadi pejabat eselon. Oleh karena itulah orang Indo-Eropa tidak dapat menjadi pegawai tinggi pemerintahan. Departemen dalam negeri Hindia-Belanda di Jawa dan Madura juga tidak menerima anak-anak Indo-Eropa. Pemerintah tak ingin penduduk negeri jajahan berhadapan dengan anak-anak yang lahir dari hubungan ilegal, terlebih bila mereka duduk di dalam pemerintahan. Bagi pemerintah kolonial, kehadiran mereka dalam tubuh pemerintahan hanya mencoreng citra Belanda sebagai negara beradab. Diskriminasi yang mereka terima kemudian memuncak dan membuat orang-orang Indo-Eropa muak pada 1848. Pemerintah kolonial kemudian membuat pertemuan di Socitet de Harmonie. Dalam pertemuan tersebut, dilancarkan kritik atas diskriminasi terhadap kaum Indo-Eropa untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan sama seperti orang-orang yang didatangkan dari Eropa. Orang-orang yang melancarkan protes tersebut kebanyakan tokoh Eropa terkemuka yang tinggal di Hindia Belanda, seperti Menteri Hindia Belanda WR Baron van Hovel. Protes yang dilancarkan kaum Indo-Eropa ini sempat membuat Gubernur Jenderal JJ Rochussen cemas akan terjadi pemberontakan. Saking cemasnya, dia sampai menerapkan status siaga tinggi pada malam 12 Mei 1848 dan memerintahkan garnisun Batavia berjaga-jaga di Harmonie. Namun kekhawatiran itu tak terbukti karena petemuan berlangsung lancar. Tetap saja, anak Indo-Eropa yang bisa duduk di pemerintahan dan mendapat pekerjaan layak adalah Indo-Eropa yang lahir dari ayah kaya atau berpangkat tinggi. Padahal, kebanyakan anak hasil pergundikan pada abad ke-19 lahir dari hubungan nyai dengan anggota militer berpangkat rendah. Anak-anak Indo-Eropa yang tidak beruntung itu kebanyakan menjadi tukang, penjahit, petugas telegraf, tukang pos, mekanik, dan petugas pengukuran kadaster. Dalam Nyai and Pergundikan di Hindia Belanda, Reggie Baay menulis, tingkat pengangguran, kemiskinan, dan kejahatan di kalangan Indo-Eropa sangat tinggi. Di antara mereka ada perempuan Indo-Eropa bernasib sial yang masuk ke dunia prostitusi. Karena kemiskinan, kadang gadis-gadis Indo-Eropa dijual ke orang Tionghoa kaya. “Kerutunan ras kulit putih ini bertempat tinggal di ratusan rumah di lingkungan kumuh kota-kota di Hindia Belanda serta di perkampungan kotor dekat tangsi-tangsi,” tulis anggota parlemen Henri van Kol, seperti dikutip Baay.

  • Kembalinya Trah Ken Angrok di Periode Akhir Majapahit

    WISNUWARDHANA naik takhta didampingi Narasinghamurti sebagai pembantu utama raja. Keduanya memerintah bagaikan dua naga dalam satu lubang yang membawa damai di negeri Singhasari. Antara keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok untuk sementara tak lagi berebut panggung. Namun, asal-usul itu kembali dianggap penting ketika Kerajaan Majapahit mencapai ujung kisahnya. Sebelumnya, keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok saling curiga dan saling tusuk demi duduk di singgasana. Sampai Wisnuwardhana, keturunan Tunggul Ametung dan Ken Dedes, memerintah bersama Narasinghamurti, keturunan Ken Dedes dan Ken Angrok. “Kekuatan yang dibangun segitiga. Ken Dedes di tengah, Ken Angrok di kanan, Tunggul Ametung di kiri, sampai kemudian (menurunkan, red.) Kertanagara lalu Majapahit,” kata Dwi Cahyono, dosen sejarah Universitas Negeri Malang.

  • Hoaks, Tantangan Pemuda Masa Kini

    PERKEMBANGAN teknologi informasi memudahkan hidup kaum muda. Hari-hari ini mereka menikmati hidup yang lebih nyaman ketimbang generasi sebelumnya. Tetapi hidup nyaman juga menjadi tantangan besar bagi anak muda dalam menjalankan perannya sebagai penjaga persatuan bangsa. “Musuh kehidupan yang luar biasa adalah kehidupan yang baik,” kata Alissa Wahid, aktivis sosial Jaringan Gusdurian, dalam talkshow ‘Peran Pemuda Dalam Sejarah Bangsa’ di pelataran parkir gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, 28 Oktober 2018. “Bingung ya, kalian?” tanya Alissa kepada puluhan peserta talkshow . Sebagian besar mereka siswa sekolah menengah atas dari berbagai daerah di Indonesia. “Kalau hidup kita nyaman, hidup kita enak, kita menikmati saja hidup itu sehingga tidak bisa mencapai hal-hal yang luar biasa,” lanjut Alissa. Alissa menerangkan perbedaan kehidupan pemuda zaman ini dengan pemuda lampau. Menurut Alissa, pemuda pada masa lampau memiliki kehidupan yang lebih sulit daripada pemuda sekarang. Alissa mencontohkan kehidupan pemuda pada zaman penjajahan. Informasi dikuasai sekelompok orang, pendidikan masih terbatas, dan teknologi belum berkembang. Keadaan terjajah menambah beban hidup kaum muda. Pemuda dari satu suku dengan suku lainnya pun saling curiga. Keadaan yang tidak enak itu mendorong kaum muda untuk mengubahnya. Kaum muda punya cita-cita bersatu. Persatuan modal penting untuk menuju cita-cita yang lebih besar, yaitu kemerdekaan. Wujud tekad bersatu tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928. Hasilnya kelihatan pada 1945. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kaum muda kembali berperan dalam periode ini. Setelah merdeka, tugas kaum muda adalah menjaga persatuan. “Kita sekarang sudah bersatu. Tapi jangan dianggap bersatunya Indonesia itu dengan sendirinya akan selamanya seperti itu,” tambah Alissa. Dia menceritakan bangsa yang gagal menjaga persatuan. “Dulu ada negara namanya Yugoslavia. Presidennya, Josep Broz Tito, ikut memprakarsai gerakan Non-Blok bersama Presiden Sukarno. Tapi sekarang negara itu sudah tidak ada karena terpecah-belah,” kata Alissa. Pembicara lain, Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud, turut memaparkan pentingnya kaum muda merawat persatuan. “Keinginan untuk bersatu itu, mau tak mau, harus terus dipupuk, ketika kita menyadari bahwa kita tidakbisa sendirian di atas muka bumi ini,” kata Hilmar. Hilmar memandang persatuan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan muncul dari kinginan bersatu. Sejarah Sumpah Pemuda 1928 dapat menjadi patokan bagi pemuda masa sekarang dalam memenuhi tugasnya. “Dengan mengingat dasar sejarah. Ya, itu dasarnya. Jadi sekarang ini, kita mau tahu bangsa ini mau ke mana, dan segala macam, tidak usah ke mana-mana. Lihat perjalanan sejarahnya saja,” lanjut Hilmar.   Menurut Hilmar, Sumpah Pemuda 1928 tak berhenti sebatas tiga pernyataan saja: kebangsaan, tanah air, dan bahasa. Sumpah Pemuda 1928 mengamanatkan kepada generasi depan agar terus memperkuat tiga pernyataan itu. “Di dalam pernyataan itu dibilang, bahwa apa yang disumpahkan itu, dari waktu ke waktu, mesti terus diperkuat. Jadi jangan dikira kalau Sumpah Pemuda dibaca, urusannya sudah selesai. Dibilang di situ, bahwa apa yang disumpahkan itu harus diperkuat,” terang Hilmar. Pemuda dan Hoaks Upaya kaum muda sekarang untuk memperkuat Sumpah Pemuda 1928 tak pernah gampang. Hidup mereka sekarang memang jauh lebih mudah daripada generasi sebelumnya. Tetapi tantangan mereka juga berat. Salah satu tantangan besar itu berupa percepatan arus informasi dan berita di media sosial. Tak jarang banyak informasi dan berita palsu (hoaks). “Repotnya lagi, karena hoaks dibikin dengan sengaja, tujuannya bukan untuk membuat orang hidupnya jadi lebih baik, melainkan supaya saling curiga,” kata Ratih Ibrahim, pembicara dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Hoaks di media sosial kerap kali menimbulkan perpecahan masyarakat. Isu-isu sektarianis menjadi bahan bakar paling mudah untuk menyulut amarah kaum muda. “Jika sudah begitu, cita-cita Indonesia tetap langgeng jaya selama-lamanya yang diusahakan para pemuda masa lampau, Sumpah Pemuda, bisa bubar,” ungkap Ratih. Ratih mengingatkan kaum muda agar mengendalikan jarinya. Menyebarkan informasi salah itu mudah, tapi memperbaiki pikiran rusak itu sulit. “Tahan jempol kita, periksa dulu sebelum share ,” pinta Ratih. Sebab dampak hoakspada pikiran anak muda cukup gawat. Hoaksakan merusak cara pikir anak muda. “Kebayang tidak kalau tiap hari kita sebarkan hoaks? Lama-lama pikiran kita akan terjejali berita bohong,” lanjut Ratih. Segala sesuatu akan dianggap benar. Daya kritis pun menumpul. Ratih berbagi tips untuk lawan hoaks. “Kaum muda harus resourceful . Bagaimana caranya? Dengan membaca,” kata Ratih. Membaca sumber-sumber terpercaya turut melatih orang berpikir kritis, tidak mudah percaya pada hasutan dan informasi serampangan. “Semakin tinggi literasi seseorang, semakin sulit dibohongi,” kata Ratih. Pada akhir talkshow , ketiga pembicara mengatakan Indonesia 20-30 tahun mendatang akan sangat bergantung pada anak muda hari ini. “Pemuda Indonesia 1928 tahu persis mau ke mana bangsa ini. Orang sekarang bilang visioner, pandangan jauh ke depan,” kata Hilmar. Sekarang giliran kaum muda hari ini menentukan arah bangsa ke depan. “Dua puluh tahun lagi, kamu itu ada di mana? Melakukan apa? Kontribusimu, peranmu di dalam bangsa dan negara ini, sebelah mana? Tak perlu dijawab sekarang, tapi kamu pertanyakan terus di dalam hati,” kata Hilmar menutup talkshow .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page