top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Di Kalijati, Kekuasaan Belanda Diakhiri

    TAK seperti Jalan Raya Kalijati-Subang di depannya yang ramai, suasana di Pangkalan Udara (lanud) Suryadarma Rabu (17/10/18) siang itu amat tenang. Hilir-mudik kendaraan jarang. Yang terlihat hanya beberapa mobil sipil atau sepeda motor para istri prajurit AU yang tinggal di pangkalan untuk mengantar-jemput anak sekolah atau ke luar untuk satu keperluan. Cuaca terik siang itu membuat para personil POM-AU yang berjaga di gerbang masuk lebih memilih duduk-duduk di dalam pos. Satu-satunya yang agak sibuk, seorang prajurit petugas buka-tutup portal. Tujuh puluh enam tahun silam, suasana Lanud Kalijati amat sibuk saat Perang Pasifik berkecamuk. Lanud Kalijati jadi rebutan pasukan Jepang dan Sekutu dalam Pertempuran Kalijati. Kesibukan, disebabkan oleh keresahan akibat kabar bakal datangnya serangan Jepang, di dalam lanud bahkan telah meningkat jauh sebelum perang dimulai. Keresahan itu diingat betul oleh Utami Suryadarma, istri Soeriadi Suryadarma (KSAU pertama), yang kala itu tinggal di dalam lanud. “Di Kalijati, para istri opsir diwajibkan memilih salah satu kegiatan dalam membantu persiapan perang. Bersama beberapa istri kolega suamiku, saya memilih dipekerjakan di rumah sakit,” tulis Utami dalam buku hariannya, Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . Gerbang untuk Kuasai Jawa Di bawah guyuran hujan malam pergantian 28 Februari ke 1 Maret 1942, 3000-an personil Tentara ke-16 AD Jepang dari resimen ke-230 yang dipimpin Kolonel Toshishige Shoji mendarat di pantai Eretan Wetan, Indramayu, Jawa Barat. Mereka langsung bergerak cepat untuk merebut Lanud Kalijati, sekira 34 kilometer dari pantai. Tentara ke-16 Jepang di bawah Letjen Hitoshi Imamura menganggap Kalijati adalah kunci. Selain gerbang menuju Bandung, tempat pusat militer Hindia Belanda berada, tulis Bill Yenne dalam The Imperial Japanese Army: The Invicible Yeras 1941-1942 , “Kalijati adalah salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Jawa saat itu.” “Pihak militer Jepang sangat membutuhkan Pangkalan Udara Kalijati untuk mendukung angkatan daratnya. Mereka tidak mungkin hanya mengandalkan dukungan udara dari pangkalan udara di Sumatera atau Kalimantan yang jaraknya cukup jauh,” tulis Dede Nasrudin dan Wawan Joehanda dalam Palagan Maguwo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1949 . Namun, Kalijati justru kurang diperhatikan oleh Sekutu (KNIL dan militer Inggris di Jawa). “Penderatan di Eretan Wetan tidak diperhitungkan. Khususnya di musim hujan, daerah pesisir dekat lokasi ini dengan ombaknya yang tinggi kurang cocok untuk operasi pendaratan,” tulis PC Boer dalam The Loss of Java: The Final Battles for the Possession of Java . “Perintah resmi dari markas Sekutu adalah, Kalijati tidak dalam bahaya serangan darat Jepang,” tulis Bill . Anggapan itu membuat Militaire Luchvaart (ML/AU Hindia Belanda) dan Royal Air Force (RAF/AU Inggris) hanya menempatkan pasukan kecil untuk menjaga Lanud Kalijati. “Di Kalijati, pertahanan berada di tangan Inggris di bawah Grup Kapten George Frederick Whitsondale dari RAF. Pertahanannya disesuaikan dengan serangan udara, bukan serangan darat, dan senjata terbesarnya ada pada dua baterai anti pesawat terbang. Selain itu, para penjaga di darat terdiri dari sekitar 350 pasukan Inggris dan awak darat RAF, dan skitar 150 infanteri KNIL yang semua hanya bersenjatakan senapan dan senapan mesin,” sambung Bill. Gerak-maju pasukan Shoji pun hampir tak menemui kesulitan kecuali dari bombardir udara singkat Sekutu ke pantai Eretan Wetan. Sebelum tengah hari, Lanud Kalijati telah mereka capai. Dengan dukungan artileri dan tank plus bombardir udara, mereka langsung menyerbu lanud. Pasukan Sekutu di lanud terkaget-kaget. Upaya mati-matian mereka mempertahankan lanud gagal. Pukul 12.30, lanud sudah dikuasai pasukan Shoji dari batalyon Major Mitsunori Wakamatsu. Sekira sepertiga pesawat Sekutu, termasuk pesawat tempur Hawker Hurricane, di lanud itu terbakar hebat. Kecuali yang tewas atau tertawan, pasukan Sekutu di Kalijati dan Subang langsung mundur ke arah Bandung. Mereka diburu pasukan Shoji yang melanjutkan gerak maju ke arah Bandung lewat Subang dan Ciater. Keesokannya, 2 Maret, pertempuran pecah di Subang. Pasukan lapis baja KNIL di bawah Kapten GJ Wulfhorst dan pasukan infanteri ke-5 KNIL yang dipimpin Mayor Carel J Teerink melancarkan serangan balik. Pertempuran berlangsung sengit. Tapi karena direncanakan tergesa-gesa, serangan balik Sekutu akhirnya dipatahkan. KNIL dipukul mundur. Pasukan Shoji melanjutkan gerak majunya dan kembali terlibat pertempuran di Ciater Pass. Pada 2 Maret petang, pesawat-pesawat Hiko Dan (brigade udara) 3 Jepang dari berbagai jenis tiba di Lanud Kalijati dari Palembang. Kedatangan mereka merupakan bagian dari ofensif Tentara ke-16 di barat Jawa. Namun, belum lama pesawat-pesawat itu menapakkan roda di bumi Kalijati, mereka hancur oleh bombardir udara yang dilancarkan Skuadron 242 RAF dan ML. Jepang tak hanya menderita kehilangan banyak pesawatnya tapi juga landas pacu utama Lanud Kalijati rusak oleh bombardir itu. “ML dan RAF memberi brigade udara Jepang kesulitan di Kalijati pada saat genting (di malam tanggal 2 Maret dan pagi 3 Maret) dan faktanya ada superioritas udara lokal Sekutu sampai sekitar jam 11.00 tanggal 3 Maret,” tulis Boer. Pertempuran dahysat kembali pecah di sekitar Lanud Kalijati. Pasukan Sekutu bahkan bakal mendapat tambahan pasukan dari Infanteri ke-15 dan Infanteri ke-14. Dari Bandung, komandan resimen infanteri ke-2 Kolonel Toorop mengerahkan satu batalion infanterinya yang didukung kendaraan lapis baja Kavaleri ke-1 dan artileri ke Kalijati. Sayang, belum lagi pasukan penyerbu itu mencapai Kalijati, Sekutu kecolongan lebih dulu oleh bombardir udara Jepang ke Lanud Andir. Para teknisi pasukan Jepang di Kalijati bergerak cepat memperbaiki landasan setelah bombardir Sekutu. Sisa pesawat yang ada langsung diterbangkan sekitar pukul 10.30 pagi 3 Maret. Bombardir udara oleh pesawat-pesawat itu membuat Lanud Andir lumpuh dan ditutup. Pasukan darat Sekutu pun tak jadi mendapat dukungan udara. Moril pasukan Sekutu langsung terjun bebas. Bandul keberuntungan kembali bergeser ke pihak Jepang. Lepas dari tengah hari, tujuh pesawat Ki-51 dan enam pesawat Ki-48 Jepang mulai membombardir pasukan-pasukan Sekutu yang menuju Kalijati tadi. “Hasilnya adalah, kedua konvoi (pasukan Sekutu – red .) itu sepenuhnya terperangkap di jalan terbuka dengan sawah di kedua sisi jalan yang berjarak sekitar lima kilometer. Konvoi itu kemudian diserang. Dalam beberapa menit, jalan dipenuhi kawah bom dan puluhan truk terbakar, kontainer amunisi meledak dengan gemuruh. Jumlah korban tewas terbatas tapi amat banyak yang terluka. Banyak dari mereka merangkak menuju saawh mencari tempat perlindungan. Pasukan Infanteri ke-10 musnah bersama truk-truk dan sebagian besar peralatan serta senjatanya. Hasilnya adalah kekacauan besar di jalan,” tulis Boer. Selesainya Pertempuran Kalijati yang diikuti gerak maju pasukan Jepang membuat Panglima besar KNIL Letjen Hein ter Poorten langsung mengadakan rapat dengan Mayjen Hervey Sitwell (Panglima Inggris di Jawa) membahas langkah-langkah yang paling mungkin diambil. Saran Sitwell agar KNIL bergerilya ditolak Poorten lantaran kuatnya gerakan kemerdekaan Indonesia tak memungkinkan gerilya dilakukan. “Dalam kondisi tersebut, ter Poorten dan gubernur jenderal, ditemani Mayjen JJ Pesman (komandan garnisun Bandung), menuju utara ke bekas pangkalan udara Belanda di Kalijati. Di sini, pada sore 8 Maret, mereka bertemu dengan musuh, bukan dalam pertempuran tetapi dalam kapitulasi,” tulis Bill.

  • Sukarno Bilang Islam Sontoloyo

    PRESIDEN Joko Widodo berseru agar rakyat berhati-hati. Katanya, banyak politikus yang baik tapi juga banyak politikus yang sontoloyo. Jokowi jengkel lantaran kebijakan pemerintah yang akan mengucurkan dana kelurahan dikaitkan dengan kampanye pemilihan presiden mendatang. Pernyataan itu dilontarkan presiden saat menghadiri penyerahan sertifikat tanah untuk rakyat di Lapangan Ahmad Yani, Jakarta (23/10). Kata "sontoloyo" kemudian menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Banyak yang mempertanyakan kepatutan presiden perihal ujarannya yang bernada umpatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sontoloyo berarti konyol, tak beres, bodoh. Ini dipakai sebagai kata makian. Kata yang sama juga pernah dipakai Sukarno, presiden pertama RI. Si Bung tak tanggung-tanggung. Dia membubuhkan kata itu di samping nama agama. Pada 1940, Sukarno menulis artikel di Majalah Pandji Islam berjudul “Islam Sontolojo”. Kontroversi? Jelas. Tapi apa yang ada dalam benak Sukarno hingga terbersit kata sontoloyo?

  • Legiun Asing Persebaya

    ALKISAH di suatu petang pada 1996. Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya tribunnya dipenuhi Bonek, menyaksikan laga bertajuk “Derby Surabaya” Persebaya vs Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS). Sialnya, getir dirasakan Bonek. Persebaya kalah 1-4 dari ASGS yang kala itu dibesut Rusdy Bahalwan. Persebaya yang diperkuat tiga pemain asing pertama mereka tak mampu berbuat banyak. Padahal, salah satunya, Plamen Iliev Kazakov, memberi asa dengan membuka skor lebih dulu. Namun, ASGS akhirnya membalas empat gol lewat Putut Wijanarko (2 gol), Ali Sunan, dan Gunung Ginting. Kazakov yang berpaspor Bulgaria jadi satu di antara tiga pemain asing pertama Persebaya sejak 1995. Dia direkrut lewat perantara ISA (International Sports Agency) besutan Angel Ionita. ISA juga mendatangkan pelatih asing pertama Persebaya di momen yang sama.

  • Cerita dari Stadion Gelora 10 November Surabaya

    BANGUNAN stadion berbentuk oval bercat jingga kekuningan itu masih kokoh berdiri di seberang Taman Mundu, Jalan Tambaksari, Surabaya. Tak sulit untuk menerka bahwa gelanggang olahraga ini sudah melintas lorong zaman. Di atas gerbang utamanya tertulis plang nama yang mengingatkan pada perjuangan arek-arek Suroboyo : Stadion Gelora 10 November. Stadion ini satu dari sedikit ikon legendaris Kota Pahlawan, Surabaya. Tidak hanya jadi saksi bisu perjalanan sejarah persepakbolaan Surabaya, namun juga beragam kegiatan politik, budaya, hingga keagamaan. Tak heran sejak 22 tahun lampau ia ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) bernomor urut 44 lewat Surat Keputusan Walikota Nomor 188.45/251/402.104/1996, sebagaimana yang tertera dalam Prasasti Lapangan Tambaksari. Ya, stadion ini mulanya bernama Lapangan Tambaksari. Belum ada yang tahu kapan pastinya Lapangan Tambaksari lahir. Menurut beragam literatur yang ditelusuri,  Lapangan Tambaksari eksis sebagai sebuah kompleks olahraga bagian dari proyek pembangunan Kota Surabaya tahun 1907-1923. “Sejak awal sudah dinamakan Lapangan Tambaksari. Kompleksnya terbagi jadi tiga bagian. Lapangan A yang sekarang jadi Stadion Gelora 10 November, Lapangan B di sebelah selatan yang sekarang jadi Mess Persebaya, dan Lapangan C di sebelah timur yang sekarang jadi gedung olahraga,” terang pemerhati sejarah sepakbola Dhion Prasetya kepada Historia . Penulis buku Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo itu menambahkan, awalnya penampakan Lapangan Tambaksari belum seperti sekarang. “Ya hanya lapangan. Tribunnya sederhana, belum bertingkat seperti saat ini. Kalau bentuk aslinya hampir mirip dengan Stadion Gelora Pancasila (di Jalan Indragiri VI),” imbuhnya. Stadion Gelora 10 November saat Masih Bernama Lapangan Tambaksari pada 1950-an (Foto: Nieuwe Courant 15 Mei 1951) Pemerintah Hindia Belanda membangunnya untuk dipergunakan bagi orang-orang Belanda yang mulai keranjingan olahraga pada awal abad ke-20. Lapangan Tambaksari lalu dijadikan markas klub Soerabaiasche Voetbalbond (SVB). Meski dijadikan kandang SVB, lapangan ini pernah jadi saksi bisu aksi boikot kompetisi Stedenwedstrijden (kompetisi internal NIVB, federasi sepakbola Hindia Belanda) oleh para pendukung sepakbola nasional pada 1932. Aksi boikot itu bikin rugi kompetisi secara ekonomi. Sementara, beberapa bulan pasca-Proklamasi, Lapangan Tambaksari dijadikan tempat Rapat Samudera (rapat raksasa) untuk show of force terhadap Jepang yang mempertahankan status quo jelang kedatangan Sekutu. Baru sesudah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949, Lapangan Tambaksari diambil-alih Persebaya dan lima tahun berselang direnovasi untuk dijadikan stadion. Mengutip suratkabar De Nieuwsgier 15 September 1954, renovasinya diketuai arsitek seorang Tionghoa Ir. Tan Giok Tjiauw. Dibuka secara resmi dengan nama Stadion Tambaksari pada 11 September 1954 oleh Walikota Moestadjab Soemowidagdo. Untuk meramaikan peresmiannya, dua laga persahabatan dihelat: Tiong Hwa Soerabaja vs West Java (tim A) yang berakhir 1-3 untuk West Java dan Persibaja (nama lawas Persebaya) vs West Java (tim B) yang berkesudahan 5-2 untuk tuan rumah. Berganti Nama Jelang Pekan Olahraga Nasional (PON) VII 1969, Tambaksari kembali dipercantik. Tribunnya direnovasi jadi bertingkat. “Renovasinya berjalan hampir setahun untuk persiapan PON. Dana renovasinya dari undian Lotto Surya (Lotere Totalisator Surabaya). Berbau judi memang, tapi karena waktu itu kan (panitia penyelenggara) enggak ada dana, ya diambilnya dari situ,” sambung Dhion. Stadion Gelora 10 November Diresmikan Menjelang PON 1969 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Uniknya, renovasi stadion tak menghilangkan beberapa pohon angsana yang ada di sekitar lapangan. Pohon-pohon itu difungsikan sebagai atap alami mengingat panasnya cuaca Kota Surabaya. “Mungkin satu-satunya di dunia yang ada pohon-pohon di tribunnya,” ujar peneliti sejarah olahraga cum dosen Universitas Negeri Surabaya Rojil Nugroho Bayu Aji kepada Historia. Dalam peresmian renovasi itu, namanya ikut diganti. “Nah, saat peresmian, namanya berganti jadi Stadion Gelora 10 November. Nama yang diambil dari spirit perjuangan arek-arek Suroboyo pada Pertempuran 10 November 1945,” sambung Rojil . Penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola: 1915-1942 dan Mewarisi Sepakbola, Budaya dan Kebangsaan Indonesia itu menambahkan, seiring waktu stadion itu selain jadi markas tim Persebaya –sampai 2017 sebelum pindah ke Gelora Bung Tomo– juga menjadi magnet bagi beragam kegiatan akbar di Kota Pahlawan. Seperti, kegiatan rutin kebaktian bersama, Salat Idul Fitri, Pengajian Nuzulul Quran 1990, hingga konser World Tour band Sepultura pada 1992. Seni Relief Stadion Sepengamatan Historia, stadion gagah itu juga sarat pesona artistik. Relief  yang menggambarkan sejumlah olahragawan dari berbagai cabang olahraga melekat di badannya. “Itu reliefnya yang bikin maestro seni rupa Tedja Suminar. Beliau seniman dari Akademi Kesenian Surakarta. Pembuatannya bersamaan dengan renovasi jelang PON 1969,” tutur pemerhati budaya Dhahana Adi Pungkas kepada Historia. Tedja Suminar alias The Tiong Tien (Foto: Koleksi Dhahana Adi, Surabaya Punya Cerita Vol. 1) Ipung, begitu biasa dia disapa, mengungkapkan dalam bukunya Surabaya Punya Cerita: Volume 1 , bahwa figur mendiang Tedja Suminar merupakan orang Tionghoa yang lahir pada 15 April 1936 dengan nama The Tiong Tien. Dia anak ke-10 dari saudagar palawija asal Ngawi The Kiem Liong. Sang maestro mengganti namanya jadi Tedja Suminar kala masuk Akademi Kesenian Surakarta pada 1957. “Ukiran relief di stadion itu hasil desain dari sketsa Tedja Suminar berdasarkan permintaan langsung dari Raden Soekotjo, walikota Surabaya saat itu dalam menyambut PON VII tahun 1969,” kata Ipung.

  • Solusi Praktis Minum Teh

    Teh kali pertama masuk ke Hindia Timur pada abad ke-17. C.P. Cohen Stuart, ahli tanaman pada Algemeen Proefstation Voor Thee , Buitenzorg, menyebut Andreas Cleyer, seorang peneliti alam dari Jerman, sebagai pembawa pertama perdu teh ke Jawa. Perdu teh itu berasal dari Jepang dan tumbuh dengan baik di Tanah Hindia. Kemudian asisten Andreas Cleyer membawa perdu teh itu ke Belanda untuk kepentingan penelitian pada 1687. Demikian keterangan Stuart dalam “Permulaan Budidaya Teh di Jawa” termuat di Sejarah Perusahaan-Perusahaan Teh Indonesia 1824–1924 , Johannes Camphuys, Gubernur Jenderal Hindia Timur 1684–1691, turut berhasil menanam teh di halaman rumahnya, di Batavia. J.H. van Emden dan W.B. Deijs dalam Perkebunan Teh , menyatakan teh tersebut berasal dari Tiongkok. Camphuys menanamnya sebagai hiasan dan kesenangan. Upaya mengubah orientasi penanaman teh di Hindia Timur terjadi pada 1728. Tuan-Tuan Tujuh Belas (Heeren XVII), para pemegang saham di Maskapai Dagang Hindia Timur (VOC), menyurati pemerintah VOC di Batavia tentang perlunya membudidayakan teh untuk perdagangan. Tapi pemerintah VOC di Batavia kurang berminat membudidayakan teh. Seratus tahun setelah surat Tuan-Tuan Tujuh Belas VOC, pembudidayaan teh untuk keperluan dagang baru terlaksana di tanah Hindia. Tapi VOC sudah bangkrut sejak 1799 sehingga semua urusan mengenai Hindia dipegang oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Pieter Creutzberg dan J.T.M van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi di Indonesia mencatat bahwa pemerintah kolonial telah membuka perkebunan teh di Jawa Barat sepanjang 1833—1838. “Pada tahun 1835 teh Hindia Belanda untuk pertama kali masuk ke pasaran Amsterdam,” tulis Creutzberg dan Van Laanen. Perkembangan selanjutnya muncul pada 1878. Masa ini mencatatkan pengenalan beraneka macam jenis teh dari Assam, India. Pengenalan ini tak lepas dari berakhirnya masa Tanam Paksa pada 1870 dan diganti oleh masa Undang-Undang (UU) Agraria 1870. UU ini membuka kesempatan luas bagi para pengusaha swasta untuk berinvestasi di Hindia Belanda. Pertumbuhan ekspor teh dari Hindia Belanda meningkat sepanjang 1890—1920. “Beberapa tahun kemudian pertumbuhan ini tercermin dalam angka-angka ekspor,” lanjut Creutzberg dan Van Laanen. Peningkatan ekspor teh seiring dengan peningkatan produksi teh untuk konsumsi dalam negeri di Hindia Belanda. Minum teh menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Mereka membuat miuman teh dengan menaruh daun teh dalam cangkir atau gerabah. Air panas dituang, lalu daun teh itu disaring. Hasil saringan itu kemudian disajikan pada sore hari. Teh berpadu dengan makanan Eropa seperti pannekuk , pudding , dan tart . Cara membuat teh seperti ini bertahan hingga 1960-an ketika orang Indonesia butuh cara lebih praktis untuk menghidangkan minuman teh. Seorang pengusaha bernama Johan Alexander Supit mulai berpikir tentang cara baru menyajikan minuman teh. Johan mengetahui bahwa cara baru menyajikan minuman teh telah berkembang di luar Indonesia. Orang tak perlu lagi menyaring teh, melainkan cukup dengan mencelupnya ke air hangat. Teh demikian dibungkus dalam kemasan khusus ( tea bags ). Permintaan terhadap teh jenis ini cukup besar. “Adanya permintaan besar akan teh celup itu juga mendorong timbulnya industri teh celup di Indonesia. Yang terkenal karena pertama-tama timbul dengan idea membuat teh celup itu adalah merek Sariwangi,” tulis James J. Spillane dalam Komoditi Teh: Peranannya dalam Perekonomian Indonesia . Sariwangi adalah jenama bikinan Johan Alexander Supit pada 1973. Sebelummya dia telah mendirikan perusahaan teh pada 1962. Teh celup Sariwangi kemudian diikuti oleh merek-merek teh besar lain.*

  • Akar Perlawanan Ken Angrok

    HAMPIR sembilan abad yang lalu, Raja Jayabhaya memberikan anugerah kepada Desa Hantang dan 12 dusun yang masuk ke dalam wilayahnya. Hak-hak istimewa dilimpahkan kepada para penduduk. Sebab mereka telah berbakti kepada raja saat perang perebutan takhta. Mereka setia memihak paduka raja.

  • Peluru Nyasar ke Gedung DPR

    GEDUNG DPR RI menjadi sasaran peluru nyasar pada 15 Oktober 2018. Peluru dari senjata jenis Glock 17 itu mengenai ruang kerja (1313) anggota Fraksi Golkar, Bambang Heri Purnomo, dan ruang kerja (1601) anggota Fraksi Gerindra, Wenny Warouw. Polisi menetapkan dua tersangka yang bekerja sebagai PNS Kementerian Perhubungan dan bukan anggota Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia). Dua hari kemudian, 17 Oktober 2018, peluru nyasar kembali ditemukan di ruang kerja (1008) anggota Fraksi Demokrat, Vivi Sumantri Jayabaya; dan retakan di kaca ruang kerja (2003) anggota Fraksi Partai Amanat Nasional, Totok Daryanto, tapi pelurunya belum ditemukan. Peluru nyasar bukan kali ini saja terjadi. 19 tahun lalu peluru nyasar menggegerkan para politikus Senayan. Majalah bulanan DPR, Parlementaria No. 28 Th. XXXI, 1999, sampai menurunkan tulisan berjudul “Penembak Gelap Mulai Incar Anggota DPR Vokal: Orang Mau Celaka Itu Tak Lihat Tempat.” Pada 7 Februari 1999, peluru ditemukan di ruang kerja (1601) anggota Fraksi PPP Suryadharma Ali. Ketika bekas tembakan itu ditemukan, dia tidak berada di tempat. Dia sedang membacakan pemandangan umum fraksinya terhadap RUU Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, RUU Rahasia Dagang dan RUU Desain Industri di Sidang Paripurna DPR. Bekas tembakan itu ditemukan tak sengaja. Chaeruddin, staf Suryadharma Ali, curiga dengan serpihan kaca di meja kerja, sofa panjang termasuk karpet. Dia lalu mencari asal serpihan kaca tersebut dan melihat lobang berdiameter 3 mm persis di tempat duduk Suryadharma Ali. “Mungkin karena penembaknya orang terlatih, maka bekas tembakan itu mengarah tepat di bagian belakang kepala calon korban,” tulis Parlementaria . Chaeruddin segera melapor ke pimpinan Fraksi PPP. Sekretaris Fraksi PPP Endin AJ Soefihara dan wakilnya, Achmad Farial, disertai beberapa petugas Pamdal (pengamanan dalam) DPR memeriksa ruang kerja Suryadharma Ali. Setelah melakukan pemeriksaan, petugas Pamdal menyampaikan bahwa lobang yang terletak persis di belakang kepala Suryadharma Ali berasal dari tembakan senjata api laras panjang. Proyektil sepanjang 1,5 sentimeter ditemukan nyangkut di lampu neon. Barang bukti itu diserahkan ke polisi untuk diteliti di laboratorium forensik Mabes Polri. Dari jenis pelurunya, Endin merasa tak mungkin tembakan itu datang dari lapangan tembak Senayan, tempat latihan menembak. Ini pasti senjata laras panjang. Menurutnya, tembakan itu mungkin dari gedung bertingkat –seperti Hotel Mulia– yang bisa saja digunakan penembak jitu mengarahkan moncong senjata ke calon korban. Kendati demikian, dia berharap mudah-mudahan hanya peluru nyasar. Endin tak tahu apakah penembakan itu ada kaitannya dengan pernyataan keras Suryadharma Ali soal bisnis panti pijat beberapa hari sebelumnya. Dia minta pengamanan ditingkatkan, jangan sampai ada anggota DPR yang mati konyol. “Kita jadi heran, kenapa teror terhadap FPPP akhir-akhir ini makin meningkat. Sesudah anggota kita, Tengku Nashiruddin Daud ditemukan tewas di Pancurbatu, Sumatra Utara, kok kini ancaman diarahkan ke anggota yang lain,” ujar Endin masih dalam Parlementaria . Sementara itu, Suryadharma Ali mengaku tak punya musuh dan selama ini berusaha baik kepada siapa pun. Dia juga mengaku tak pernah diteror, baik melalui telepon, didatangi atau lewat surat kaleng. Suryadharma Ali kemudian menjabat ketua umum PPP (2007-2014). Dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dia menjabat Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (2004-2009) dan Menteri Agama (2009-2014). Akhirnya, Suryadharma Ali terkena “peluru” KPK. Dia divonis enam tahun penjara karena menyalahgunakan kewenangan sebagai Menteri Agama dalam penyelenggaraan haji. Di tingkat banding, majelis hakim memperberat hukumannya menjadi sepuluh tahun penjara, denda Rp300 juta, dan mencabut hak politiknya selama lima tahun. Dia kemudian mengajukan Peninjauan Kembali.

  • Menyingkap Makna Ndas Mangap

    BERMACAM aksi koreo di setiap sudut tribun Gelora Bung Tomo, Surabaya, acap jadi penyedap mata tiap Persebaya tampil di hadapan Bonek, fans Persebaya. Ada kalanya nyanyian-nyanyiannya diiringi tampilan spanduk Bung Tomo, kadang buaya raksasa. Namun yang tak pernah absen, penampakan logo yang oleh para penggila bola Surabaya disebut “Ndas Mangap” atau “Wong Mangap”. Logo berwujud seorang pemuda berambut gondrong dan memakai ikat kepala bertuliskan “Persebaya” sedang berteriak itu senantiasa menghiasi beragam atribut Persebaya, mulai dari kaos hingga stiker. Logo itu ternyata lahir hampir bersamaan dengan mulai dikenalnya penyebutan “Bonek” alias Bondo Nekat sebagai identitas suporter tim berjuluk Green Force itu. “Itu dari (suratkabar) Jawa Pos desainernya. Gambar atau karikaturnya dibuat Pak (Mister) Muchtar. Itu mulai muncul tahun 1987 dan meluas melekat di berbagai atribut pada 1988, waktu Persebaya juara Perserikatan,” cetus dedengkot Bonek Andie ‘Peci’ Kristianto kepada Historia. Mister Muchtar merupakan seniman jebolan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Sejak 1986, dia berkecimpung sebagai ilustrator dan lay outer Suratkabar Jawa Pos . Sketsa pertamanya dibuat pada suatu malam hanya dalam kurun waktu 10 menit. Pembuatan Ndas Mangap tak lepas dari inisiasi Dahlan Iskan. Pada awal Maret 1987, jelang laga final Perserikatan musim 1987 kontra PSIS Stadion Utama Senayan, Jakarta, Dahlan ingin ada tambahan atribut untuk mengiringi pemberangkatan puluhan ribu Bonek ke ibukota –dikenal sebagai fenomena “Tret Tet Tet”. “Malam itu juga dibuatnya (sebelum Bonek berangkat ke Jakarta). Di ruangan ada saya, tukang sablon dan bos (Dahlan Iskan). Karena besok sudah berangkat, saya gambar cepat-cepat di atas film. Mendesain di atas film sangat licin, dibuat di sana supaya langsung disablon,” ujar Mister Muchtar, dikutip Nor Islafatun dalam Arek Bonek: Satu Hati untuk Persebaya . Karena dibuat terburu-buru, gambar Ndas Mangap pertama belum seperti sekarang yang dikenal umum. Sosok pemuda berambut gondrong yang mirip karakter Rambo yang diperankan Sylvester Stallone. “Ya, dulu seingat saya, desain awalnya belum gondrong. Tapi sudah pakai ikat kepala saja,” timpal Andie Peci. Terinspirasi Perjuangan 10 November 1945 Laikya “Boeng, Ajo Boeng” karya pelukis Affandi dengan model sesama pelukis, Dullah, karya Ndas Mangap pun memakai model yang tak jauh dari penciptanya. Keterdesakan waktu membuat Dahlan Iskan sendiri yang dijadikan model. Foto Dahlan direproduksi dengan coretan karya Mister Muchtar itu. Pertamakali publikasinya di-launching di Jawa Pos edisi 3 Maret 1987 dan dinyatakan logonya milik umum. “Maskot Persebaya 1927 kini sudah jadi milik umum. Penjual kaos, stiker, dan pemilik kendaraan bisa menggunakan maskot itu secara luas,” tulis Jawa Pos , 11 Maret 1987. Sketsa Pertama Logo Ndas Mangap (Foto: Repro "Arek Bonek: Satu Hati untuk Persebaya") Meski mencontoh foto Dahlan, Mister Muchtar mengaku sketsa awal Ndas Mangap juga terinspirasi semangat Bung Tomo dan para pemuda Surabaya pada Pertempuran 10 November 1945. “Saya orang lama. Masih ada simbol-simbol lama terpengaruh gerakan-gerakan Bung Tomo. Bos memperagakan ekspresi seperti berteriak. Jadi logo itu adalah gambaran Pak Dahlan berteriak,” sambung Mister Muchtar. Seiring waktu, logo Ndas Mangap bertransformasi dan pada era 1990-an disempurnakan oleh ilustrator Jawa Pos lain, Boediono. Logo Ndas Mangap yang dikenal sekarang merupakan hasil penyempurnaannya dan tetap tidak meninggalkan pengaruh semangat Surabaya sebagai “Kota Pahlawan”. “Yang sekarang pakai ikat kepala tapi gondrong. Ikat kepala kan laikya identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Identitas nekat, pemberani, simbol kebebasan, perlawanan, kemerdekaan,” tandas Andie Peci.

  • Palestine Walk di Bandung

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki dan Walikota Bandung Oded M. Danial, meresmikan Palestine Walk: Road to Freedom, taman sepanjang 100 meter di Jalan Alun-alun Timur, Bandung, Sabtu (13/10/2018). “Palestine Walk menggambarkan dukungan dan komitmen masyarakat Indonesia, khususnya Kota Bandung terhadap perjuangan rakyat Palestina dan sebagai pengingat agar semangat perjuangan tersebut tetap beresonansi di hati kita. Dukungan bangsa Indonesia tidak akan pernah luntur hingga rakyat Palestina memperoleh kemerdekaannya. Palestina selalu ada dalam napas diplomasi Indonesia,” kata Retno Marsudi dikutip dari kemlu.go.id . Acara selanjutnya talkshow di Museum Asia Afrika yang dihadiri sekitar 400 mahasiswa. Maliki menyampaikan terima kasih atas persaudaraan yang diberikan Indonesia. Dia yakin Indonesia akan menjadi suara bagi Palestina di Dewan Keamanan PBB. Oded M. Danial, Riyad al-Maliki, dan Retno Marsudi dalam peresmian Palestine Walk di Bandung. (Dok. Kemlu RI). Setelah di Bandung, acara Solidarity Week for Palestine (dari Indonesia untuk Palestina) kemudian diadakan di Jakarta berupa walk for peace and humanity bersamaan dengan car free day di Wisma Mandiri Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Esoknya, Maliki akan memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Salemba. Maliki juga dijadwalkan bertemu Presiden Joko Widodo dan DPR RI. Pembuatan Palestine Walk di Bandung tentu terkait peran Indonesia dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-24 April 1955. Sebelum KAA, pada 1953 Achmad Subardjo, mantan menteri luar negeri yang menjadi duta besar keliling, menyampaikan sumbangan Indonesia sebesar 60 ribu dolar Amerika untuk Palestine Relief Fund (Sumbangan Pengungsi Palestina). Dalam pidato pembukan KAA, Presiden Sukarno mengatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Palestina, Vietnam, Aljazair, dan seterusnya. Oleh karena itu, Sukarno-Hatta tak menyambut tawaran pembukaan diplomatik dari Israel ketika Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda pada akhir tahun 1949. Soal kemerdekaan Palestina jadi agenda pembahasan dalam rapat tertutup bidang politik KAA. Sekretaris Jenderal KAA, Roeslan Abdulgani, dalam  The Bandung Connection, Konferensi Asia Afrika di Bandung Tahun 1955, mengungkapkan bahwa pembahasan Palestina menyerempet ke persoalan zionisme yang menimbulkan perselisihan pendapat di antara delegasi. Misalnya, Mohammad Fadhel Jamali, ketua delegasi Irak, menyamakan bahaya zionisme dengan kolonialisme dan komunisme. Meski semua delegasi menyetujui kemerdekaan Palestina, pernyataan Fadhel itu memanaskan suasana rapat. Delegasi Arab, Pakistan, Afghanistan, dan Iran pun mengutuk zionisme internasional. Tanggapan datang dari Burma (Myanmar) dan India yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru keberatan menyamakan zionisme dengan kolonialisme dan imperalisme. Tetapi dia mengakui zionisme memang adalah suatu gerakan agresif. Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai mencoba mendinginkan suasana. Dia menyetujui resolusi KAA supaya semua resolusi PBB tentang Palestina dilaksanakan dengan syarat kekuatan luar, seperti Amerika Serikat, tak boleh mencampurinya. Dia mengusulkan penyelesaian Palestina sebagaimana Tiongkok membebaskan Taiwan secara damai setelah menyaratkan kekuatan militer Amerika Serikat mundur. Selain menegaskan sokongannya terhadap pembebasan Palestina, KAA juga menyerukan penyelesaian konflik Palestina-Israel secara damai. Sementara itu, sebagai bentuk dukungan kepada kemerdekaan Palestina, Sukarno melarang timnas Indonesia melawan Israel dalam perebutan tiket ke Piala Dunia 1958. Berikutnya, ketika menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962, Sukarno juga tak memberikan visa kepada kontingen Israel. Sejak zaman Sukarno hingga Joko Widodo, Indonesia tetap pada pendirian mendukung kemerdekaan Palestina. Dalam pidato pembukaan pertemuan Puncak Bisnis Asia Afrika di Jakarta Convention Center, 23 April 2015, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 60 tahun KAA, Jokowi menegaskan: “Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Kita tidak boleh berpaling dari penderitan rakyat Palestina. Kita harus mendukung sebuah negara Palestina yang merdeka.”

  • Bonek dan Stigma Kekerasan Suporter Fanatik

    SETIAP kali dua dari empat klub saling berhadapan dalam liga sepakbola nasional, kegemparan selalu muncul. Setelah duel Persib vs Persija beberapa waktu lalu menghebohkan lantaran diwarnai pengeroyokan terhadap seorang suporter Persija hingga tewas, belum lama ini muncul kekhawatiran serupa saat Arema FC menjamu Persebaya. Laga “Derbi Jawa Timur” itu beberapa tahun belakangan berkalang kekerasan, terutama di antara kedua suporter. Beragam imbauan agar Bonek, suporter militan Persebaya, tak menemani tim “Bajul Ijo” ke Malang pun muncul sebelum laga, termasuk dari Walikota Surabaya Tri Rishamarini. Partai di Liga I pada Sabtu, 6 Oktober 2018 itu dimenangkan Arema 1-0. Tapi bukan kekalahan Persebaya yang jadi sorotan besar Bonek, melainkan chant-chant rasis yang berkumandang di stadion dan perobekan bendera Persebaya oleh Aremania, suporter Arema FC. Hal-hal negatif itu kian meruncingkan rivalitas Bonek dengan Aremania, yang akarnya ada pada fanatisme para pendukung klub-klub Surabaya dan Malang. Mula Bentrokan Bonek vs Aremania Rivalitas Surabaya-Malang sudah ada sejak lama. Di kompetisi Perserikatan, rivalitas kedua kota diwakili Persebaya vs Persema, sementara di Galatama diwakili Niac Mitra vs PS Arema (sebutan lama Arema FC). Meski bentrok antarsuporter Persebaya dan Arema kerap terjadi, tak ada yang ingat pasti kapan dan bagaimana itu bermula. “Ada banyak versi ya. Tapi kan suporter Persebaya sudah lama ada, dari awal-awal kompetisi Perserikatan. Sementara, Arema baru berdiri 1987. Jauh sebelum itu sebenarnya rival kita itu Persema Malang,” cetus dedengkot Bonek Andie ‘Peci’ Kristianto kepada Historia. Dari banyak versi itu, ditengarai pemicu awal bentrok adalah insiden di Stadion Tambaksari, Surabaya pada 23 Januari 1990. Mereka “konflik” bukan dalam rangka menonton tim pujaan bertanding, tapi menonton konser musik Kantata Takwa. Massa Bonek selaku “tuan rumah” tersinggung saat bagian depan panggung dikuasai para penonton asal Malang. Ketersinggungan itu membuat sebuah gesekan kecil berubah jadi bentrokan yang melebar sampai ke sekitar Stasiun Gubeng. Andie 'Peci' Kristianto, dedengkot Bonek (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Versi lain, kecemburuan arek-arek Malang terhadap pemberitaan-pemberitaan media Jawa Timur. Di era awal 1990-an, Persebaya dengan Boneknya acap jadi “media darling” hingga timbul ketidaksukaan pada Bonek. “Ya mungkin dari pihaknya Arema merasa mereka harus cari musuh yang kuat agar dikenal banyak orang. Waktu itu kan klub baru, bukan klub perserikatan dan ketika (Arema) berdiri agar bisa eksis, memusuhi Persebaya dan pendukungnya,” tambah Andie Peci. Versi ketiga menyatakan, serangan oknum pendukung Persema terhadap bus Persebaya dalam sebuah laga Liga Indonesia II, 26 Desember 1995. Serangan batu yang dilontarkan dengan ketapel itu memecahkan kaca bus dan pecahannya mengenai mata salah seorang pemain Persebaya. “Ada itu pemain Persebaya, Nurkiman, dikatapel (oknum suporter Malang). Itu juga pemicu konflik Surabaya dan Malang. Matanya kena itu. Habis itu matanya cacat dan harus berakhir kariernya,” sambungnya lagi. Dari semua versi mula konflik itu, menurut peneliti sejarah Persebaya Dhion Prasetya, hal terpenting yang harus dipahami adalah rival klasik Persebaya adalah dengan tim-tim Perserikatan, bukan tim Galatama seperti Arema. “Tapi elemen suporter sekarang sudah mulai paham. Kalau sama tim Galatama, enggak ada sejarahnya persaingan dengan mereka. Sebenarnya Bonek sudah mulai terbuka juga, kok. Dengan Lamongan, dengan Solo. Tapi asal jangan sampai ada provokasi satu-dua pihak yang men- judge Bonek begini atau begitu yang buruk,” jelas Dhion. Masih Sulit Untuk Berdamai Fakta-fakta itu, berjalin dengan fanatisme kedaerahan yang sempit, membuat perdamaian di antara keduanya belum terjadi. Untuk bisa berdamai dengan suporter Malang, Andie Peci mengakui masih sulit walau di masa mendatang itu tak mustahil. “Sebenarnya permusuhan itu tidak statis ya. Dulu Bonek dan Bobotoh juga tidak akur. Juga dengan Panser Biru (suporter PSIS), Pasopati (suporter Persis), LA Mania (suporter Persela), Brajamusti (suporter PSIM Yogyakarta). Tapi perlahan semua bisa berubah, kami sudah bisa akur,” tutur Andie Peci. Bersama beberapa dedengkot Bonek, sejak beberapa tahun lalu Andie Peci berhasil mengupayakan perdamaian. “Saya sempat ikut proses perdamaian dengan Pasopati. Padahal dulu konfliknya keras luar biasa. Terakhir Persebaya main di Solo, sudah tidak ada gesekan. Setelah itu dengan suporter Lamongan, saya juga terlibat langsung (mendamaikan). Teman-teman pendahulu kami juga sudah bisa proses damai dengan PSIS,” tambahnya. Selain Arema, yang saat ini masih sulit diajak berdamai dengan Bonek adalah The Jakmania, suporter Persija. “Sebetulnya sudah pernah dimulai (pendekatan antar-petinggi suporter), tapi gagal. Ya itu, gara-gara kejadian di Bantul (bentrokan Bonek-Jakmania, 3 Juni 2018). Kita sudah niat untuk mencairkan (konflik) walau ya belum berhasil,” lanjutnya. Stigma Kekerasan dan Perjuangan Selain dikenal dengan konflik terhadap suporter lain, Bonek dikenal masyarakat luas akan kekerasannya. Andie Peci pun mengakui masih ada oknum-oknum nakal yang akhirnya mencoreng kebesaran nama Bonek sekaligus merugikan klub. “Saya selalu sampaikan ke siapapun, kalau ada Bonek yang bersalah, keliru, dan sudah melanggar dalam level pidana, penjarakan saja. Tapi bahwa stigma (kekerasan) itu masih melekat, iya. Kita dan teman-teman semua tidak dalam posisi mengiyakan tapi kita tidak munafik bahwa Bonek itu identik dengan kekerasan. Sampai sekarang masih ada, tapi frekuensinya menurun. Butuh waktu tapi saya dan teman-teman selalu mendudukkan persoalan inti, di mana kami sendiri harus introspeksi juga, harus berbenah,” cetus Andie. Di dalam Bonek sendiri, sambungnya, sudah mulai lahir komunitas Bonek yang sikap dan pikirannya relatif lebih maju. “Ada Bonek Pelajar, Bonek Kampus dan sebagainya. Kelompok-kelompok yang mencitrakan Persebaya dengan baik. Di dalam kota juga sekarang mulai kondusif, tidak seperti dulu. Kalau di stadion selalu beli tiket sampai tercatat sebagai penonton terbesar di Liga I ini. Kami paham problemnya tapi butuh waktu dan lambat laun kami yakin stigma itu akan berubah.” Namun, sikap cair itu hanya terjadi kepada suporter tim lain. Dalam hal membela klub kesayangan, terutama saat terjadi dualisme Persebaya setelah tak diakui PSSI pada 2009, sikap Bonek tak pernah melunak. “Kita melawan suatu sistem yang kotor saat itu. Versi saya dan teman-teman, ya itu ada permainan, ada skenario khusus untuk Persebaya didegradasi. Akhirnya ya kita didegradasi. Kepemimpinan (manajemen) Persebaya juga mengalami dualisme. Ya kita mendukung Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia. Tapi sementara, yang diakui PSSI Persebaya di bawah PT MMIB (Mitra Muda Inti Berlian). Kita sebenarnya didegradasi tidak masalah, tapi yang diakui mestinya manajemen sebelumnya karena sejak 2009 Persebaya sudah profesional di bawah perseroan yang asli itu,” seru Andie. Bonek memboikot dan berulangkali mendemo Persebaya di bawah PT MMIB. “Saya sampai pernah luka dibacok karena bela Persebaya. Itu tahun 2012. Dari pihak sana ada kelompok yang tidak senang saya dan kawan-kawan berdemo. Kelompok sana yang pakai kekerasan,” kenangnya. Bonekmania Selalu Menyertai Persebaya, Termasuk saat klub versi PT Persebaya Indonesia Tak Diakui PSSI (Foto: persebaya.id) Perjuangan mereka tak sia-sia. Pada 2017, PSSI kembali mengakui. “Militansi Bonek ini keliatan sekali bukan glory hunter . Mereka tetap membela klub yang sejarahnya sudah panjang, bukan kloning-an,” timpal Dhion. Hingga kini, Andie Peci dan rekan-rekannya terus berusaha mencontohkan yang baik agar Bonek terus menggerus stigma buruk yang melekat pada dirinya. Bukan hanya Bonek, jika kondisi sepakbola nasional sudah mapan nir-kepentingan politis, suporter lain juga takkan mau lagi anarkis yang akhirnya merugikan klub. “Suporter akan menemukan jalannya sendiri (untuk berlaku baik). Kita juga harus belajar dari Eropa. Di sana mereka selalu menyediakan kuota untuk suporter tim lawan. Artinya masing-masing bisa berivalitas dalam konteks batas-batas sepakbola. Terlebih, kecil kepentingan politis, mafia sepakbola pun nyaris tidak ada. Itu cukup memengaruhi jalan pikiran suporter,” imbuhnya. Seandainya sepakbola nasional sudah bisa mapan seperti itu, lanjut Andie, moralitas suporter akan berubah. Saling bunuh antarsuporter atau aksi-aksi rasisme takkan ada lagi. “Itu yang belum ada di sini. Butuh waktu memang untuk mengubah, terutama kemapanan sepakbola nasional kita,” tutup Andie.

  • Kata Pemuda Zaman Kolonial tentang Sumpah Pemuda

    SEORANG pengendara sepeda melaju di Jalan Kawi, tak jauh dari asrama pelajar STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia Belanda) —sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat No 106—di Batavia. Usia pengendara masih remaja belasan tahun. Dia memasang kain berwarna merah-putih di bagian depan sepeda. Polisi menghentikan si remaja dan menurunkan kain itu dari depan sepeda. “Demikianlah nasib ‘anak-anak nakal’ yang merasa dirinya terpanggil untuk setia kepada Sang Merah-Putih,” kenang Frits K.N. Harahap dalam “Bersifat Temporerkah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928?” termuat di 45 Tahun Sumpah Pemuda . Dia ingat peristiwa itu terjadi menjelang Ikrar pemuda di asrama pelajar STOVIA pada 28 Oktober 1928. Frits mendengar bahwa sekelompok pemuda akan menggelar rapat untuk membentuk organisasi kepanduan nasional di asrama pelajar Stovia. Dia dan teman-temannya telah bergabung di sebuah organisasi kepanduan bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Tapi mereka merasa kurang puas dengan aktivitas di organisasi tersebut sehingga memutuskan datang ke lokasi rapat. “Kami pandu-pandu menjadi ‘pengawal’, yang menjaga ‘keamanan dan ketertiban’ di pekarangan gedung keramat Jalan Kramat, tempat diselenggarakan Kongres Pemuda,” tulis Frits, yang saat itu menjadi pandu termuda di sana. Tiga hari rapat, pemuda-pemuda itu tak hanya membicarakan organisasi kepanduan, tetapi juga merumuskan soal-soal kebangsaan terkait tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Frits ingat kawan-kawan pandu menyambut hasil rapat itu dengan gembira. Ketika mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang dari biola Wage Rudolf Soepratman, jantung Frits berdebar. Perasaannya campur aduk. Antara khawatir polisi bertindak membubarkan rapat sekaligus takzim terhadap gesekan Soepratman. Mitologisasi Sumpah Pemuda? Pengakuan Frits menjelaskan sepotong pengaruh Sumpah Pemuda dalam kehidupan banyak pemuda di Hindia Belanda. Bertahun-tahun lalu muncul pertimbangan ulang tentang makna dan peran Sumpah Pemuda yang semakin termitologisasi atau lebih banyak bumbunya ketimbang kenyataan sebenarnya. Pertimbangan itu muncul antara lain dari tulisan Taufik Abdullah dalam “Selamat Tinggal (?) Sumpah Pemuda” termuat di Tempo , 28 Oktober 1978; Riyadhi Gunawan dalam “Sumpah Pemuda: Diantara Pemuda, Peristiwa, dan Kesadaran Sejarah” termuat di Kedaulatan Rakyat,  27 Oktober 1978, dan seorang penulis tak bernama menulis “Yongelingen Yang Abrnormal” dalam majalah Matahari , 16—31 Oktober 1978. Tiga artikel tersebut mencoba mendudukkan Sumpah Pemuda secara apa adanya. Tapi artikel tersebut tak memuat kesaksian dari pemuda sezaman ketika Sumpah Pemuda terjadi. Beberapa terbitan lain berupaya mengungkap apa peran dan makna Sumpah Pemuda bagi para pemuda sezaman. Seorang pemuda bernama Machfoeld, misalnya, turut mengalami hal serupa Frits. “Penulis kini masih ingat jelas betapa hening sahdu dan indahnya suasana dalam Gedung IC (Indonesische Clubhuis —nama lain asrama pelajar STOVIA) Kramat 106 Jakarta, di kala itu. Banyak pasang mata tampak berkedip-kedip basah. Banyak pasang bibir tampak berkomat-kamit syukur berterimakasih kepada Tuhan YME,” tulis Machfoeld dalam “Sumpah Pemuda: Sebelum, Semasa, Sesudah Lahirnya.” Redakan Pertikaian Machfoeld terkenang hari-hari sebelum pemuda mengucap ikrar untuk bersatu. Para pemuda dari beragam daerah Hindia Belanda kerap kali bersitegang di Kutoarjo, kota di mana Machfoeld menempuh pendidikan menengahnya. Dia mengalami masa-masa perkelahian antarpemuda dari Pasundan, Ambon, Minahasa, dan Jawa. Sebabnya hanya karena senggolan. “Perkara demikian itu, biasanya belum cukup diselesaikan di tempat itu. Kadangkala masih disambung dengan perbuatan kenakalan-kenakalan pada lain-lain hari terhadap dia atau mereka yang dianggapnya ‘bersalah’,” tulis Machfoeld. Sumpah Pemuda mengubah pertikaian antarpemuda menjadi gagasan dan semangat untuk bersatu secara perlahan. “Tetapi Sumpah Pemuda yang didengungkan di Jakarta (Betawi di waktu itu), juga terdengar di pelosok-pelosok daerah. Semangat pemuda-pemudi dan orang-orang tua mereka, pegawai-pegawai negeri, guru-guru dibangkitkan oleh pers secara diam-diam,” ungkap Limbak Tjahaja, seorang gadis muda di Sawah Lunto pada waktu Sumpah Pemuda terlaksana, dalam “Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Nasional” termuat di Bunga Rampai Soempah Pemoeda 50 Tahun . Gaung Sumpah Pemuda juga sampai ke gadis muda bernama Sujatin di kota Yogyakarta. Dia aktif dalam organisasi Jong Java dan memperoleh kabar tentang Sumpah Pemuda melalui surat kawan-kawannya dari Jakarta. “Dapat dibayangkan betapa berdebar-debar hati saya dan kawan-kawan ketika ‘Sumpah Pemuda’ telah dicetuskan dan kami bersama Angkatan Muda semua mempunyai bendera Merah Putih dalam buku kami, pun lagu Indonesia Raya mulai di kalangan pemuda dinyanyikan,” ungkap Sujatin Kartowijono dalam “Apa Arti Sumpah Pemuda Bagi Diriku”. Sujatin menambahkan pengaruh Sumpah Pemuda terasa pula pada pergerakan wanita. “Setelah Sumpah Pemuda didengungkan maka kami merasa pula bahwa kaum wanita harus dibangkitkan dari keadaan yang masih agak pasif dan diberi semangat nasional,” lanjut Sujatin. Kelak usaha Sujatin dan kawan-kawannya berbuah Kongres Perempuan Indonesiapertama pada 22 Desember 1928. Humor Pemuda Cerita S.K. Trimurti, menteri perburuhan pertama Indonesia, tentang keadaan pemuda setelah Sumpah Pemuda lain lagi. Usia Trimurti 16 tahun ketika Sumpah Pemuda berlangsung di Batavia. Dia masih bersekolah di Surakarta dan hanya mendengar sayup-sayup kabar Sumpah Pemuda. Dia merasakan Sumpah Pemuda mempunyai pengaruh dalam kehidupan para pemuda di kota lainnya beberapa tahun kemudian. Trimurti mengungkap cerita humor sekitar kehidupan pemuda setelah Sumpah Pemuda. Menurut dia, kehidupan pemuda masa itu tidaklah melulu berisi keseriusan dan ketegangan. “Tetapi pemuda-pemuda yang selalu ada unsur ‘humornya’ dalam diri masing-masing. Muka-muka mereka bukanlah muka-muka yang seram, yang kelihatan selalu ‘tegang’,” terang dia dalam “Sikap Humor dalam ‘Keseriusan’ Pejuang-Pejuang Muda”. Trimurti menyatakan aktivitas organisasi pergerakan nasional semakin berkurang setelah Sumpah Pemuda. Sebab pemerintah Hindia Belanda melarang pertemuan anggota partai, organisasi pemuda, dan organisasi wanita yang memiliki cita-cita Indonesia merdeka dan menentang pemerintah. “Apakah dengan itu kegiatan politik lantas berhenti?” tanya Trimurti. Pemuda selalu mempunyai cara untuk menghadapi situasi sulit dan beban berat. Misalnya untuk menyiasati larangan rapat, pemuda mengadakan rapat sembari berjalan di dalam gang. Cara ini berhasil mengelabui anggota Politiek Inlichtingen Dienst (PID—semacam dinas intelijen pemerintah). Cara lain pemuda untuk mengelabui anggota PID adalah dengan menyaru sebagai pasangan sejoli ketika menggelar rapat. “Kalau terjadi begini, bukan PID yang ribut, akan tetapi orang-orang tua itu. Mereka mengira, bahwa anak-anaknya benar-benar pacaran,” lanjut Trimurti. Trimurti mengakui pengaruh Sumpah Pemuda 1928 dalam kehidupan anak muda pada zamannya. “Banyak sekali. Yang jelas tekad untuk mewujudukan Indonesia Raya yang satu, berdaulat, meresap sungguh-sungguh di hati sanubari pejuang-pejuang muda ketika zaman penjajahan.” Begitulah pengaruh Sumpah Pemuda menurut pemuda-pemuda sezaman.

  • Hikayat Lagu Melati di Tapal Batas

    KETIKA tenor asal Bandung Sudaryanto bersama Paduan Suara Esbhita dan kelompok Orkes Simfoni Angkatan Darat pimpinan F.A. Warsono melantunkan lagu Melati di Tapal Batas dalam suatu konser di tahun 1970-an, banyak orang terhenyak dengan lagu lawas ciptaan penyair Ismail Marzuki tersebut. Para veteran menitikkan air mata dan banyak mantan pejuang terkenang kembali suasan-suasana di front Jakarta timur pada era revolusi. “Lagu itu begitu populer dan sering kami nyanyikan bersama saat kami pulang dari medan perang,” kenang Mochamad Kajat, salah seorang eks pejuang yang pernah berjuang di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Menurut Ninok Leksono dalam Seabad Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman , lagu Melati di Tapal Batas memang dicipta oleh Ismail dalam pencitraan sosok “perempuan yang jantan dan herois”. Tentu saja itu paradoks dengan lagu-lagu Ismail lainnya seperti Sabda Alam , di mana disebutkan “wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu.” Silakan Anda simak sendiri bait-bait lagu tersebut: Engkau gadis muda jelita/ bagai sekuntum melati// Engkau sumbangkan jiwa raga/ di tapal batas Bekasi// Engkau dinamakan srikandi// pendekar putri sejati// Engkau turut jejak pemuda/ turut mengawal negara// Oh pendekar putri nan cantik// Dengarlah panggilan ibu//Sawah ladang rindu menanti//Akan sumbangan baktimu// Duhai putri muda remaja/suntingan kampung halaman//Kembali ke pangkuan bunda/berbakti kita di ladang//. Lagu Pesanan Namun di balik ketenaran lagu yang bernuansa seriosa tersebut, tak banyak orang tahu jika Melati di Tapal Batas memiliki kisah tersendiri. Alkisah di front Jakarta Timur (tapal batas Bekasi) pasca-proklamasi dikumandangkan, eforia revolusi begitu menggelegak di dada setiap anak muda Indonesia. Bukan hanya para pemuda, para pemudi pun ikut terlibat sebagai pejuang bersenjata. “Kebanyakan mereka adalah anak-anak perempuan para petani di Karawang dan Bekasi,” ungkap Kajat. Keikutsertaan para pejuang perempuan itu tidak diiringi dengan keterampilan untuk bertempur. Rata-rata bergabungnya para putri petani tersebut hanya bermodalkan keberanian dan keinginan untuk ikut mengusir penjajah. Akibatnya banyak para gadis perang yang tergabung dalam lasykar-lasykar itu menjadi makanan peluru musuh di medan laga. Demi mengetahui hal tersebut, Komandan Resimen V Cikampek Letnan Kolonel Moeffreni Moe’min (yang membawahi wilayah pertempuran Jakarta dan sekitarnya) merasa prihatin. Dia menyatakan bahwa sejatinya palagan bukanlah tempat bagi para perempuan tersebut. “Bukan kami tidak percaya, namun sebagai perempuan mereka memiliki tugas yang lebih penting untuk melahirkan generasi baru. Kalau mereka semua gugur di medan perang, lantas siapa yang akan meneruskan perjuangan ini?” ujar Moeffreni dalam biografinya berjudul Jakarta-Karawang-Bekasi, Dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min karya Dien Madjid dan Darmiati. Tetapi jika hal itu disampaikan secara langsung kepada mereka, Moeffreni yakin akan ada upaya penolakan. Maklum, darah muda. Karena itu, dia lantas mencari akal agar bukan saja komandan yang melarang tetapi masyarakat juga ikut melarang. Ketika situasi penuh kebingungan itu, tetiba di markas Resimen V Cikampek muncullah penyair Ismail Marzuki dan penyair Suto Iskandar. Mereka singgah di Cikampek dalam rangka perjalanan mereka ke Yogyakarta. Kepada dua seniman itu Moeffreni lantas menceritakan masalah yang tengah dihadapinya di front Jakarta Timur. Lalu terbetiklah ide untuk menciptakan suatu lagu yang bisa mempengaruhi para remaja putri tersebut untuk menarik diri dari garis depan tanpa harus merasa kehilangan kehormatan. “Terserahlah kepada kalian caranya,” ujar Moeffreni. Maka sekira awal 1947, berkumandanglah lagu Melati di Tapal Batas di seantero palagan Pulau Jawa. Bekasi dan Jakarta Timur pun heboh. “Responnya sangat bagus, para remaja putri banyak yang sadar bahwa berjuang mempertahankan kemerdekaan tidaklah harus lewat memanggul senjata,” kata Moeffreni. Cerita Nyata Banyak kalangan menyebut bahwa kisah di balik lagu Melati di Tapal Batas tersebut tak lebih sebagai fiksi semata. Tapi benarkah? Beberapa waktu lalu, saya pernah berupaya menelusuri soal ini dan menemukan kenyataan menarik bahwa ada kemungkinan subyek-subyek yang dikisahkan dalam lagu tersebut adalah nyata. Dalam lagu itu, Ismail dan Suto memanggil para petempur putri itu sebagai “srikandi”, seorang prajurit perempuan dalam dunia pewayangan (merupakan istri Arjuna) yang piawai menggunakan senjata panah. Di lagu itu juga duo penyair tersebut mangidentifikasi secara eksplisit sang srikandi adalah putri dari para petani. Dan anggapan terakhir itu dibenarkan oleh Kajat seperti di atas. Soal sebutan “srikandi”, Ninok Leksono berpendapat bahwa penyebutan itu hanya sekadar simbol untuk mencitrakan sosok perempuan yang gagah perkasa dan tak kalah ksatria dari para pejuang laki-laki. Tapi dari penelusuran yang saya lakukan terhadap para pelaku sejarah di Karawang dan Bekasi, nama “srikandi” memang pernah ditabalkan kepada suatu kelompok lasykar perempuan yang aktif berjuang melawan tentara Inggris dan Belanda di sekitar Karawang dan Bekasi, “Nama kelompoknya BSI, Barisan Srikandi Indonesia,” ungkap Abdurachman, salah seorang eks anggota lasykar di Karawang Utara. Nama BSI juga sekilas sempat disebut-sebut dalam buku sejarawan asal Australia Robert B. Cribb berjudul Gangsters and Revolutionaries (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi: Para Jago dan Kaum Revolusiener Jakarta 1945-1949 ). Cribb menyatakan kepada saya bahwa dia sendiri kesulitan untuk mencari data lengkap tentang kelompok tersebut. Yang jelas, kata Cribb, BSI terkait dengan nama Sidik Kertapati, salah seorang tokoh pejuang yang mengikuti jalur politik Tan Malaka dan pernah bergabung dengan LRDR (Lasjkar Rakjat Djakarta Raja).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page