top of page

Cerita dari Stadion Gelora 10 November Surabaya

Berdiri gagah sebagai venue olahraga berkat tangan orang Belanda, Bumiputera dan Tionghoa. Satu-satunya stadion yang punya pohon.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Stadion Gelora 10 November di Surabaya menjadi Satu dari Sedikit Ikon Bersejarah Kota Pahlawan (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

19 Okt 2018
3 menit membaca

BANGUNAN stadion berbentuk oval bercat jingga kekuningan itu masih kokoh berdiri di seberang Taman Mundu, Jalan Tambaksari, Surabaya. Tak sulit untuk menerka bahwa gelanggang olahraga ini sudah melintas lorong zaman. Di atas gerbang utamanya tertulis plang nama yang mengingatkan pada perjuangan arek-arek Suroboyo: Stadion Gelora 10 November.


Stadion ini satu dari sedikit ikon legendaris Kota Pahlawan, Surabaya. Tidak hanya jadi saksi bisu perjalanan sejarah persepakbolaan Surabaya, namun juga beragam kegiatan politik, budaya, hingga keagamaan. Tak heran sejak 22 tahun lampau ia ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) bernomor urut 44 lewat Surat Keputusan Walikota Nomor 188.45/251/402.104/1996, sebagaimana yang tertera dalam Prasasti Lapangan Tambaksari.


Ya, stadion ini mulanya bernama Lapangan Tambaksari. Belum ada yang tahu kapan pastinya Lapangan Tambaksari lahir. Menurut beragam literatur yang ditelusuri,  Lapangan Tambaksari eksis sebagai sebuah kompleks olahraga bagian dari proyek pembangunan Kota Surabaya tahun 1907-1923.


“Sejak awal sudah dinamakan Lapangan Tambaksari. Kompleksnya terbagi jadi tiga bagian. Lapangan A yang sekarang jadi Stadion Gelora 10 November, Lapangan B di sebelah selatan yang sekarang jadi Mess Persebaya, dan Lapangan C di sebelah timur yang sekarang jadi gedung olahraga,” terang pemerhati sejarah sepakbola Dhion Prasetya kepada Historia.


Penulis buku Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo itu menambahkan, awalnya penampakan Lapangan Tambaksari belum seperti sekarang. “Ya hanya lapangan. Tribunnya sederhana, belum bertingkat seperti saat ini. Kalau bentuk aslinya hampir mirip dengan Stadion Gelora Pancasila (di Jalan Indragiri VI),” imbuhnya.



Pemerintah Hindia Belanda membangunnya untuk dipergunakan bagi orang-orang Belanda yang mulai keranjingan olahraga pada awal abad ke-20. Lapangan Tambaksari lalu dijadikan markas klub Soerabaiasche Voetbalbond (SVB).


Meski dijadikan kandang SVB, lapangan ini pernah jadi saksi bisu aksi boikot kompetisi Stedenwedstrijden (kompetisi internal NIVB, federasi sepakbola Hindia Belanda) oleh para pendukung sepakbola nasional pada 1932. Aksi boikot itu bikin rugi kompetisi secara ekonomi.


Sementara, beberapa bulan pasca-Proklamasi, Lapangan Tambaksari dijadikan tempat Rapat Samudera (rapat raksasa) untuk show of force terhadap Jepang yang mempertahankan status quo jelang kedatangan Sekutu. Baru sesudah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949, Lapangan Tambaksari diambil-alih Persebaya dan lima tahun berselang direnovasi untuk dijadikan stadion.


Mengutip suratkabar De Nieuwsgier 15 September 1954, renovasinya diketuai arsitek seorang Tionghoa Ir. Tan Giok Tjiauw. Dibuka secara resmi dengan nama Stadion Tambaksari pada 11 September 1954 oleh Walikota Moestadjab Soemowidagdo. Untuk meramaikan peresmiannya, dua laga persahabatan dihelat: Tiong Hwa Soerabaja vs West Java (tim A) yang berakhir 1-3 untuk West Java dan Persibaja (nama lawas Persebaya) vs West Java (tim B) yang berkesudahan 5-2 untuk tuan rumah.


Berganti Nama


Jelang Pekan Olahraga Nasional (PON) VII 1969, Tambaksari kembali dipercantik. Tribunnya direnovasi jadi bertingkat. “Renovasinya berjalan hampir setahun untuk persiapan PON. Dana renovasinya dari undian Lotto Surya (Lotere Totalisator Surabaya). Berbau judi memang, tapi karena waktu itu kan (panitia penyelenggara) enggak ada dana, ya diambilnya dari situ,” sambung Dhion.


Stadion Gelora 10 November Diresmikan Menjelang PON 1969 (Foto: Randy Wirayudha/Historia)
Stadion Gelora 10 November Diresmikan Menjelang PON 1969 (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Uniknya, renovasi stadion tak menghilangkan beberapa pohon angsana yang ada di sekitar lapangan. Pohon-pohon itu difungsikan sebagai atap alami mengingat panasnya cuaca Kota Surabaya. “Mungkin satu-satunya di dunia yang ada pohon-pohon di tribunnya,” ujar peneliti sejarah olahraga cum dosen Universitas Negeri Surabaya Rojil Nugroho Bayu Aji kepada Historia.


Dalam peresmian renovasi itu, namanya ikut diganti. “Nah, saat peresmian, namanya berganti jadi Stadion Gelora 10 November. Nama yang diambil dari spirit perjuangan arek-arek Suroboyo pada Pertempuran 10 November 1945,” sambung Rojil.


Penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola: 1915-1942 dan Mewarisi Sepakbola, Budaya dan Kebangsaan Indonesia itu menambahkan, seiring waktu stadion itu selain jadi markas tim Persebaya –sampai 2017 sebelum pindah ke Gelora Bung Tomo– juga menjadi magnet bagi beragam kegiatan akbar di Kota Pahlawan. Seperti, kegiatan rutin kebaktian bersama, Salat Idul Fitri, Pengajian Nuzulul Quran 1990, hingga konser World Tour band Sepultura pada 1992.


Seni Relief Stadion


Sepengamatan Historia, stadion gagah itu juga sarat pesona artistik. Relief  yang menggambarkan sejumlah olahragawan dari berbagai cabang olahraga melekat di badannya. “Itu reliefnya yang bikin maestro seni rupa Tedja Suminar. Beliau seniman dari Akademi Kesenian Surakarta. Pembuatannya bersamaan dengan renovasi jelang PON 1969,” tutur pemerhati budaya Dhahana Adi Pungkas kepada Historia.




Ipung, begitu biasa dia disapa, mengungkapkan dalam bukunya Surabaya Punya Cerita: Volume 1, bahwa figur mendiang Tedja Suminar merupakan orang Tionghoa yang lahir pada 15 April 1936 dengan nama The Tiong Tien. Dia anak ke-10 dari saudagar palawija asal Ngawi The Kiem Liong. Sang maestro mengganti namanya jadi Tedja Suminar kala masuk Akademi Kesenian Surakarta pada 1957.


“Ukiran relief di stadion itu hasil desain dari sketsa Tedja Suminar berdasarkan permintaan langsung dari Raden Soekotjo, walikota Surabaya saat itu dalam menyambut PON VII tahun 1969,” kata Ipung.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
Idris Sardi tak hanya lihai menggesek biola. Dia juga tukang cerita.
Idris Sardi tak hanya lihai menggesek biola. Dia juga tukang cerita.
transparant.png
bottom of page