top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10056 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Papua dan Ambisi Presiden Pertama

    Hanya selebar daun kelor. Begitulah Bung Karno memandang wilayah Papua bila dibandingkan dengan kepulauan Indonesia yang lain. Meski demikian, presiden pertama RI itu tetap berkeyakinan bahwa setengah dari kepulauan ujung timur Nusantara tersebut adalah bagian dari negeri Indonesia. Saat itu, di kalangan Indonesia, Papua masih bernama Irian Barat. Di Belanda disebut Nederland Nieuw Guinea.    “Akan tetapi Irian Barat adalah sebagian dari tubuh kami,” kata Sukarno kepada penulis Cindy Adams dalam otobiografi Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Apakah seseorang akan membiarkan salah satu anggota tubuhnya dipotong begitu saja tanpa membalas sedikitpun? Apakah orang tidak akan berteriak kesakitan, apabila dipotong ujung jarinya sekalipun hanya sedikit?”Klaim Sukarno bukannya tanpa dasar. Sejak zaman kolonial, Papua merupakan bagian dari Hindia Belanda yang dalam pengakuan kedaulatan akan menjadi bagian Republik Indonesia Serikat. Tapi Belanda bersikap bengal. Dalam perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) akhir 1949, Pemerintah Belanda menolak menyerahkan wilayah itu. Alasannya, secara etnis dan kebudayaan, rakyat Irian Barat berbeda dari Indonesia. Sehingga tak ada alasan bagi Indonesia mengklaim Papua. “Mengapa tidak?” tanya Sukarno. “Apakah mereka (rakyat Papua) lebih mirip dengan orang Belanda yang berpipi merah, berambut jagung dan dengan muka berbintik-bintik itu?”      Pusat Sengketa Dalam amatan Sukarno, Papua adalah daerah yang sangat terbelakang. Alamnya berupa hutan lebat dengan gunung-gunung pencakar langit dan rawa yang luas. Menurut Sukarno, Papua tak banyak faedahnya bagi Belanda. Keuntungan yang diperoleh Belanda dari tambang minyak bumi belum sebanding dengan biaya untuk mengolahnya. Pengeluaran khusus juga harus dialokasikan untuk membangun kesejahteraan rakyat Papua. Belanda menginginkan Papua hanya karena alasan psikologis sebagai salah satu negara imperialis yang masih ingin berkuasa. “Di samping itu orang Belanda kepala batu,” kata Sukarno. Belanda ternyata tak senaif seperti yang dikatakan Sukarno. Dari sudut keuntungan, Belanda telah bermain hitung-hitungan. Sejak masa kolonial, selain minyak bumi - Belanda telah menyadari kandungan mineral berupa nikel dan tembaga yang cukup besar tersimpan di bumi Papua. Telaah atas kekayaan alam Papua ini tercatat dalam laporan kepala residen Jan van Echoud berjudul ‘ Nota inzake de economische toekomst van Nieuw-Guinea ’ (nota mengenai masa depan ekonomi Nieuw-Guinea). “Perembukan mengenai menambang mineral hampir seluruhnya melalui Den Haag (Pemerintah Belanda di negeri induk), sedangkan diskusi-diskusi tentang pengambilan kayu dan perikanan pada umumnya mengikutsertakan juga gubernemen di Hollandia (pusat pemerintahan Belanda di Papua),” ungkap sejawan cum arsiparis Belanda Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas!: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri . Pemerintah Belanda menurut Drooglever, memang bertekad memperkuat basis ekonominya di Papua. Pada saat yang sama, Indonesia memperjuangkan wilayah itu terintegrasi dalam kekuasaan Republik. Selama tiga belas tahun lamanya Papua menjadi pusat sengketa antara Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda. Ibarat Pisau Belati Sukarno sendiri tak pernah beranjak dari seruan “Sabang sampai Merauke” sebagai wujud keutuhan kedaulatan Indonesia. Maka soal Papua adalah harga mati. Seberapa besar arti Papua di mata Sukarno? Sukarno menguraikannya saat berpidato di Lapangan Banteng pada 18 November 1957. Dalam pidatonya berjudul “Djangan Ragu-ragu Lagi!”, Sukarno mengatakan dalam Undang-Undang Dasar tertulis wilayah Republik Indonesia adalah Indonesia. “Nah, Indonesia itu apa? Indonesia ialah segenap kepulauan antara Sabang dan Merauke,” ujar Sukarno. Ini merupakan dasar legal tuntutan Indonesia atas Papua. Legal berlandaskan hukum melalui perundingan dan perjanjian antara Indonesia dengan Belanda. Lantas, apakah Sukarno benar-benar tak mengetahui betapa kayanya sumber daya alam Papua? “ Lha kalau betul-betul Irian Barat itu ndak ada apa-apa, lha kok sampeyan (Belanda) itu nongkrong di Irian Barat itu buat apa?” ujar Sukarno. Nyatanya, Sukarno sangat menyadari potensi Papua secara ekonomi. Menyitir laporan tim geologinya, Sukarno mengatakan Irian Barat kaya akan minyak bumi. Penyelidikan mutakhir saat itu bahkan menyebutkan adanya kandungan uranium.    “Demikian pula menurut keterangan-keterangan yang terakhir, di Irian Barat ini kaya dengan uranium. Uranium yang sekarang berharga tinggi di abad atom,” kata Sukarno. “Jadi saudara-saudara, sudah nyata sekali pihak Belanda di Irian Barat ialah untuk mengambil kekayaan kita. Dan kita pun mempunyai alasan-alasan ekonomis untuk menuntut kembalinya Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik.” Selain itu Sukarno menyebutkan dua alasan lain, yaitu keamanan dan prinsip antikolonialisme. Dari segi keamanan, keberadaan Belanda di Papua ibarat pisau belati yang mengarah kepada Indonesia. Keberadaan Belanda disana juga melambangkan kekuasaan kolonial yang masih gentayangan. Kata Sukarno, “Jikalau imperialisme Belanda masih nongkrong disitu, kita merasa seperti ada pisau dibelakang kita ini. Ada pisau belati dibelakang kita ini, saudara-saudara.” Itulah sebabnya, ketika konflik Irian Barat kian memuncak, Sukarno bertekad untuk membebaskan Papua dengan jalan apapun. Seruan itu dinyatakan Sukarno saat berpidato di Palembang, 10 April 1962. “Tidak perduli PBB bahkan meskipun meminjam tangannya setan, aku tidak perduli. Ya, meskipun tangannya setan. I do not care . I do not mind , asal Irian Barat pada tahun '62 ini juga kembali kepada kita, kepada Indonesia,”  kata Sukarno dalam pidatonya yang berjudul “Seluruh Rakyat dari Sabang sampai Merauke Bertekad Membebaskan Irian Barat dalam Tahun ini juga”. Menurut Asvi Warman Adam sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan atau tanpa daya pikat kekayaan alamnya, Sukarno tetap akan memperjuangkan Papua. Pasalnya, wilayah itu berada dalam lingkup kedaulatan nasional. “Sukarno memperjuangkan Irian Barat dengan atau tanpa mengetahui kekayaan SDA (sumber daya alam) nya,” kata Asvi kepada Historia . “Sejak KMB ditandatangani akhir Desember 1949 Bung Karno merasa bahwa kemerdekaan RI itu belum utuh secara teritorial. Itulah yang diperjuangkannya sampai tahun 1963.”

  • Gudang Garam di Antara Beruang Merah & Paman Sam

    LANGIT Helsinki sedang cerah-cerahnya Senin (16/7/2018) pagi itu. Di halaman Presidentinlinna atau Istana Kepresidenan Finlandia, enam bendera berjajar. Dua bendera Amerika Serikat (AS) dan dua bendera Rusia dikibarkan berselang-seling dengan dua bendera Finlandia. Hari itu jadi awal pekan yang ditunggu-tunggu sebagian besar masyarakat politik internasional. Di istana megah berarsitektur neo-klasik itulah pertemuan penting Donald Trump (Presiden AS) dan Vladimir Putin (Rusia) berlangsung. Pertemuan bilateral itu diharapkan jadi babak baru hubungan AS-Rusia pasca-invasi Rusia ke Semenanjung Krimea dan isu gangguan Rusia terhadap Pemilihan Presiden AS 2016. Tentu, pertemuan itu atas restu Presiden Finlandia Sauli Niinistö. Dia pula yang menyambut keduanya di pintu utama yang datang hampir bersamaan– sekira pukul 10 pagi. Ini keempat kalinya Helsinki jadi tempat pertemuan kedua pemimpin negara besar dunia itu sejak era Perang Dingin. Presidentinlinna sendiri tiga kali kedatangan pemimpin AS dan Rusia (pertemuan pertama terjadi di Kedutaan AS di Helsinki), termasuk ketika Rusia masih di bawah panji Uni Soviet. Alasan mengapa ibukota Finlandia itu acap jadi “jembatan” pertemuan AS dan Rusia, selain Finlandia negara netral selama Perang Dingin, ia juga bukan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Selain itu, jarak Finlandia tak terlalu jauh dari AS, apalagi Rusia. Khusus pertemuan kali ini, pemilihan Helsinki juga untuk meringankan jadwal padat Putin yang sehari sebelumnya wajib hadir di laga final PialaDunia 2018. Alasan serupa juga terjadi saat pertemuan Bush-Gorbachev tahun 1990. “Pertemuan (1990) di Helsinki dipilih juga karena dekat dari Moskva. Bush sadar betapa sibuknya Gorbachev saat itu dengan beragam urusan domestik (reformasi Soviet),” ungkap Igor Kochilov dalam Translating History: 30 Years on the Front Line Diplomacy with a Top Russian Interpreter . Gudang Garam Disulap Jadi Istana Usai disambut Niinistö, Trump dan Putin langsung melakukan pembicaraan empat mata di Gothic Hall, ruang bersejarah di istana yang awalnya berupa gudang itu. Presidentinlinna awalnya merupakan gudang garam yang berdiri pada awal abad ke-19. Meski catatan siapa pemilik awal gudang dan kapan ia mulai dibangun belum ditemukan, gudang di atas lahan seluas 3000 meter persegi itu dibeli saudagar bernama Henrik Heidenstrauch pada 1816. Saudagar cum pemilik kapal dagang itu lalu menyulap gudang garam berbahan kayu itu jadi mansion. “Pehr Granstedt yang mendesainnya jadi rumah pribadi nan besar milik Heidenstrauch dengan menghadap ke Pelabuhan Selatan pada 1818. Namun pada 1837, dibeli oleh pemerintah (Grand Duchy of Finland, red. ),” terang James Maurice Richards dalam 800 Years of Finnish Architecture . Pemerintahan Grand Duchy of Finland di bawah Kekaisaran Rusia membelinya seharga 170 ribu rubel. Mansion itu lalu dijadikan istana kediaman Gubernur Jenderal Finlandia Pangeran Alexander Menshikov. Arsitek Carl Ludvig Engel dipercaya menangani perubahan itu. Di tangan Engel, rumah besar itu ditambahi bangunan sayap kanan serta lapangan besar di utara istana. Istana juga dilengkapi aula dansa, aula makan malam, renovasi dapur, dan kapel di lantai dua. Namun, Engel tak melihat hasil akhir istana ini lantaran lebih dulu tutup usia pada 1840. Carl Alexander, putra Engel, meneruskan karya ayahnya hingga rampung pada 1845. Laman kepresidenan Finlandia, tpk.fi , menyingkap, istana ini pertamakali kedatangan tamu agung anggota Kekaisaran Rusia pada 1851, yakni Pangeran Alexander Nikolayevich (kemudian menjadi Tsar Alexander II pada 1855). Parlemen Finlandia (di bawah Kekaisaran Rusia) juga pertamakali dibuka di istana ini pada 1863. Interior istana kembali dipercantik sepanjang 1904-1907 oleh arsitek Johan Jacob Ahrenberg. Dia menambahkan ruang resepsi dan Ruang Tahkta (kini Aula Kenegaraan) yang dihiasi patung Psyche and Zephyr karya Walter Runeberg. Hall of State atau Aula Kenegaraan di Presidentinlinna (Foto: tpk.fi) Saat Finlandia merdeka dari Rusia tahun 1917, istana itu dialihfungsikan menjadi rumahsakit militer sementara di lantai dasar dan kantor Kementerian Luar Negeri Finlandia di lantai duanya. Setelah Finlandia jadi republik, istana itu dikembalikan jadi tempat tinggal kepala negara. Sejumlah barang antik dan benda-benda seni yang tadinya disimpan di istana, dipindahkan ke Museum Nasional dan Museum Seni Ateneum. Hanya tiga presiden yang enggan tinggal di Presidentinlinna. Risto Heikki Rity (1940-1944), Carl Gustaf Emil Mannerheim (1944-1946) tak tinggal di Presidentinlinna karena Perang Dunia II. Sementara, Urho Kaleva Kekkonen (1956-1982) tak tinggal di sana karena dia dan istrinya merasa suara lalulintas di depan istana terlalu berisik. Kekkonen memilih tinggal di vila kepresidenan di Tamminiemi. Presidentinlinna terakhir mengalami renovasi pada 2012-2014. Renovasi itu memakan biaya 45 juta euro. “Proyeknya meliputi pemeliharaan, restorasi, dan konstruksi baru. Istana butuh direnovasi karena kondisi fondasinya memburuk dan butuh diperbaiki,” tandas Anne Puonti, juru bicara staf presiden, di laman resmi kepresidenan Finlandia. Kini, Presidentinlinna hanya berfungsi sebagai venue acara-acara kenegaraan besar. Sejak kediaman resmi presiden Mäntyniemi rampung (1989-1993), tak ada lagi presiden yang tinggal di Presidentinlinna. Sementara, kediaman presiden sebelumnya di Tamminiemi pada 1986 dihibahkan kepada Kekkonen.

  • Gugurnya Pahlawan Majapahit

    LEMBU Sora tengah menjadi buah bibir di istana Majapahit. Kelakuannya menimbulkan pro-kontra, terutama di antara para menteri. Dia telah menikam Kebo Anabrang hingga tewas yang tengah melawan biang keladi pemberontakan, Ranggalawe. Sebab, dia tak tahan melihat keponakannya itu kelojotan tak beradaya dipiting Kebo Anabrang. Sudah lima tahun berlalu sejak peristiwa itu. Namun, Sang Prabu Wijaya seakan tak pernah ambil pusing dengan tindakan Lembu Sora. Padahal, kalau menurut undang-undang Kutaramanawadharmasastra, yang dijadikan pegangan dalam pemerintahan Majapahit, Lembu Sora mestinya dihukum mati berdasarkan pasal astadusta. Kasak-kusuk itu lama kelamaan sampai ke telinga raja. Wijaya mendengar, semua orang tengah bergunjing soal dirinya yang membiarkan tindakan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang. Dia dituding berlaku tak adil. Lembu Sora bisa saja dianggap pemberontak karena perbuatannya. Sang Kertarajasa pun diam-diam gundah karenanya.

  • Perempuan Pertama di Parlemen Bandung

    Ketika tahun 1938 pemerintah kolonial akhirnya memberikan hak pilih perempuan pribumi untuk duduk di Dewan Kota, Emma Poeradiredja dan para perempuan aktivis lain senang. Meski hanya mendapat hak pilih pasif, mereka menyambut keputusan itu dengan suka-cita. “Beberapa nama kaum ibu termuat dalam daftar kandidat. Hasilnya boleh menyenangkan kaum ibu, empat orang perempuan Indonesia terpilih sebagai anggota Dewan Kota,” tulis Maria Ulfah dalam artikelnya “Soal Hak Pilih” yang dimuat di Majalah Istri Indonesia . Emma menjadi satu dari empat perempuan yang terpilih itu. Terpilihnya Emma bukan tanpa dasar. Perempuan yang lahir di Cilimus, Kuningan pada 13 Agustus 1902, itu sejak sekolah aktif di Jong Java dan Jong Islaminten Bond sebagai ketua cabang Bandung. Pasca Kongres Pemuda I tahun 1927, Emma bersama rekan-rekannya mendirikan organisasi Istri. Dia jadi satu dari sedikit perempuan yang hadir dalam Sumpah Pemuda. Pada April 1930, Emma mendirikan organisasi Pasundan Istri (PASI) dan terpilih menjadi ketua umum. Kala pertama terpilih, usianya 28 tahun. Dia terus menduduki posisi itu selama 40 tahun. Selain di PASI, Emma aktif di Kongres Perempuan Indonesia (KPI). Dia mengepalai pengiriman Utusan Wanita ke Asian Women Conference di Lahore, India pada 1930. Pada tahun itu juga, sejumlah aktivis perempuan menghelat Kongres Perikatan Perempuan Istri Indonesia (PPII) I di Surabaya, Desember 1930. Meski di kongres itu para perempuan masih sebatas mempelajari hak pilih, mereka langsung buka suara begitu aktivis perempuan Belanda tak lagi memperjuangkan hak pilih perempuan bagi semua ras. Hal itu menjadi pokok bahasan KPI –bersama desakan agar pemerintah memberi hak pilih aktif dan adanya wakil perempuan pribumi di Dewan Rakyat– dalam kongres ketiga di Bandung, Juli 1938, di mana Emma menjadi ketuanya. Namun, pemerintah justru kembali menunjuk perempuan Belanda bernama Cornelia Razoux Schultz sebagai wakil perempuan di Dewan Rakyat pada 1939. “Hal itu jadi kekecewaan yang menyakitkan bagi gerakan nasionalis dan organisasi wanita Indonesia. Tentu saja perempuan seperti Emma Poeradiredja dan Maria Ullfah sangat memenuhi syarat untuk posisi anggota Dewan Rakyat,” tulis Elsbeth Locher-Scholten dalam Women and the Colonial State . Alhasil, tuntutan perempuan Indonesia kian lantang. Ketika pemerintah akhirnya mengabulkan tuntutan itu, Emma termasuk dari empat perempuan Indonesia yang terpilih jadi anggota Dewan Rakyat. Tiga nama lain yakni Nyonya Soenarjo Mangoenpoespito, ketua Isteri Indonesia, terpilih duduk di Dewan Kota Semarang; Nyonya Soedirman, istri anggota dewan Parindra, duduk di Dewan Kota Surabaya; dan Sri Oemiati, adik terkecil Dr. Soetomo, terpilih untuk mengisi kursi kosong Parindra di Cirebon pada 1941. Terpilihnya empat nama itu menjadi buah dari perjuangan panjang perempuan. Sejak lama, tulis Maria Ulfah, para perempuan mendesak rekannya, kaum lelaki yang memiliki hak pilih, untuk mendukung keinginan mereka mendapatkan hak pilih.

  • Cara Jawa Melengserkan Soeharto

    YOGA Sugomo bersama Ali Moertopo berhasil menggalang dukungan untuk menjadikan Soeharto panglima Teritorium IV Diponegoro. Sejak itu, Yoga dan Ali menjadi pendukung utama Soeharto sehingga dikenal trio Soeharto-Yoga Sugomo-Ali Moertopo.

  • Dari Helsinki ke Helsinki

    RUANG konferensi pers Istana Kepresidenan Finlandia yang tenang mendadak ricuh Senin (16/7/2018) lalu. Pihak keamanan terpaksa menyeret seorang kontributor Majalah The Nation bernama Sam Husseini. Dia dianggap berpotensi mengganggu jalannya sesi keterangan pers antara Presiden Donald Trump (Amerika Serikat) dan Vladimir Putin (Rusia). Terlepas dari riak kecil itu, sesi tanya jawab berlangsung mulus. Baik Trump maupun Putin menyampaikan hasil dari obrolan tertutup mereka selama dua jam siang sebelumnya di Gothic Hall, Istana Kepresidenan Finlandia. Pertemuan bertajuk “Helsinki 2018 Meeting: 2018 Russia-United States Summit” itu menjadi babak baru hubungan Gedung Putih dengan Kremlin yang tegang pasca-invasi Rusia ke Krimea. Meski disebutkan Putin dan Trump saling sepakat soal keamanan internasional, tak ada detail lebih lanjut terkait itu. Tak satu pun kesepakatan penting dibuat keduanya dalam pertemuan itu. “Pertemuan itu tidak ada artinya,” ujar seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika yang tak disebutkan namanya, dikutip CNN , Selasa (19/7/2018). Satu-satunya fakta menarik tentang pertemuan itu hanyalah venue pertemuan: Helsinki. Ibukota Finlandia itu sudah empat kali jadi “mediator” Amerika Serikat (AS) dan Rusia (terhitung hingga 2018), bahkan saat Rusia masih tergabung dalam Uni Soviet dan berseteru dengan Amerika Serikat di Perang Dingin. Alasan mengapa Helsinki menjadi tempat pertemuan, Finlandia merupakan negara netral sejak Perang Dingin. Hingga kini, negeri Eropa Utara itu enggan jadi anggota NATO meski tetap bersahabat baik dengan AS dalam kerangka hubungan Uni Eropa-Amerika. Finlandia juga bersahabat dengan Rusia sebagai tetangganya. Helsinki 1975: Ford-Brezhnev Presiden AS Gerald Rudolph Ford Jr (kanan) saat bertemu pemimpin Uni Soviet Leonid Ilych Brezhnev di Helsinki, Juli 1975 (Foto: yle.fi) Pertemuan pertama petinggi AS dan Uni Soviet di Helsinki terjadi pada 30 Juli 1975, antara Presiden Gerald Ford dan Sekjen Partai Komunis Soviet Leonid Brezhnev. Pertemuan tertutup jelang Konferensi Keamanan dan Kerjasama Eropa, 1 Agustus 1975, itu diadakan untuk meredakan ketegangan Perang Dingin dan membahas persenjataan strategis. Berdasarkan catatan memo bertajuk “Brezhnev Memcons” yang diarsipkan Ford Library Museum, pertemuan berlangsung dua kali. Pertama, pukul 09.35-12.00 di kediaman duta besar Amerika untuk Finlandia, dengan subyek hubungan AS-Soviet, Timur Tengah, dan krisis nuklir. Pertemuan kedua, di Kedutaan Soviet di Helsinki pada 2 Agustus 1975, mendiskusikan perdagangan gandum, minyak, hingga SALT (Strategic Arms Limitation Talks). Sayang, sebagaimana Trump dan Putin, pertemuan itu hampir tak menghasilkan apapun, terlebih soal pembatasan senjata nuklir yang kala itu menjadi ancaman bersama. Kesepakatan konkret hanya terjadi bersama 33 negara Eropa lain dalam Helsinki Accords yang menghasilkan 10 butir kesepakatan dengan inti 35 negara sepakat menghormati kedaulatan negara, perbatasan, HAM, hukum internasional, dan saling menjaga perdamaian di Eropa. “Tak bisa dikatakan bahwa pertemuan itu menghasilkan sesuatu,” kata Menlu AS Henry Kissinger kepada The New York Times , 31 Juli 1975. Helsinki 1990: Bush-Gorbachev Pemimpin Uni Soviet Mikhail Sergeyevich Gorbachev (kiri) kala bertemu Presiden AS George Herbert Walker Bush (Foto: George H. W. Bush Presidential Library) Menjelang keruntuhan Uni Soviet, Presiden AS George Bush dan Soviet Mikhail Gorbachev sempat bersua di Istana Kepresidenan Finlandia di Helsinki pada 8 September 1990. Pertemuan yang dijembatani Presiden Finlandia Mauno Koivisto itu awalnya untuk membicarakan agenda ekonomi Gorbachev dalam rangka reformasi Soviet dan harapan AS akan dukungan Soviet terhadap upayanya menangkal invasi Irak ke Kuwait (pada 2 Agustus 1990, Irak menginvasi Kuwait). “Jika negara-negara di dunia bersama-sama mengisolasi Irak dan menangkal agresi Saddam, kita pasti bisa memelihara ketertiban dunia lagi yang lebih damai, stabil, dan aman dari yang kita lihat sekarang,” cetus Presiden Bush sebagaimana dilansir The Washington Post , 9 September 1990. Keduanya sepakat menandatangani Strategic Arms Reduction Treaty meski traktat itu baru berjalan penuh pada 1994. Dalam pertemuan itu, Gorbachev menghadiahkan selembar gambar kartun berdimensi 11x14 inci. “Menggambarkan Bush dan Gorbachev sebagai petinju dengan wasit berkepala bola dunia. Wasit mengangkat kedua tangan petinju sebagai pemenang untuk menggambarkan kedua presiden menang, tiada yang kalah (dalam Perang Dingin),” tulis laporan suratkabar Baltimore Sun , 10 September 1990. Helsinki 1997: Clinton-Yeltsin Presiden Rusia Boris Nikolayevich Yeltsin (kanan) dan Presiden AS William Jefferson 'Bill' Clinton (rferl.org) Ekspansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO ke Eropa Timur jadi poin utama pembicaraan Presiden Bill Clinton dan Boris Yeltsin yang bertemu di Istana Kepresidenan Finlandia, 21 Maret 1997. Rusia yang belum lama berdiri selepas keruntuhan Uni Soviet sempat mengkhawatirkan NATO yang berencana mengajak gabung negara eks-satelit Soviet. Dalam arsip pidato Clinton yang dimuat laman American Presidency Project tanggal 21 Maret 1997, pertemuan AS-Rusia kedua di Istana Kepresidenan Finlandia dan ketiga di Helsinki itu menghasilkan pemahaman bahwa akan ada negosiasi lanjutan antara Sekjen NATO dan Rusia. AS menjelaskan ekspansi NATO bukan bertujuan untuk mengancam Rusia pasca-Perang Dingin. Clinton dan Yeltsin juga sepakat untuk mengurangi persenjataan nuklir mereka. “Kami sepakat bahwa hubungan Amerika dan Rusia, serta manfaat kerjasama antara NATO dan Rusia terlalu penting untuk diganggu….bahwa kerjasama NATO dan Rusia malah akan mendemonstrasikan Rusia dan NATO yang baru sebagai mitra, bukan musuh demi masa depan Eropa yang lebih cerah…kami juga sama-sama menandatangani Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty, serta memperpanjang Non-Proliferation Treaty dan terakhir menyepakati Anti-Ballistic Missile Treaty,” terang Clinton.

  • Kisah Panji di Negeri Jiran

    KISAH Panji dari Jawa telah menginspirasi penulisan karya agung Melayu: dan . Kisahnya pun banyak diterjemahkan ke bahasa Melayu dan ditulis dengan aksara Jawi (Arab gundul). “Ini bukti betapa meresapnya Kisah Panji dalam lipatan hati khalayak Melayu,” ujar Noriah Mohamed, peneliti Panji dari Universiti Sains Malaysia. Dalam sang pengarang memunculkan tokoh putri Majapahit bernama Raden Galuh Candera Kirana yang kecantikannya memikat Sultan Mansur Shah. Nama putri yang itu dijumpai pula dalam Kisah Panji.  Begitu pula dalam  Disebutkan Ratu Daha memiliki dua putri, yang sulung bernama Tuan Puteri Galuh Candera Kirana. Putri cantik itu merupakan anak permaisuri.  Di sini, kata Noriah, kebiasaan baik Jawa maupun Melayu tak jauh berbeda. Terutama dalam hal kebiasaannya menggambarkan kecantikan seorang putri. “Cantiknya putri digambarkan dengan perumpamaan-perumpamaan di alam. Sama seperti orang Jawa,” ujarnya.  Dari tema, rentetan cerita, dan tokoh yang ditampilkan menguatkan pendapat kalau Kisah Panji di Melayu memang berindukkan Kisah Panji di Jawa. Hal ini dapat ditelusuri dari naskah berjudul . Dalam teks itu penyalin menggunakan banyak kata Jawa, seperti . “Kata itu sangat jarang digunakan dalam bahasa Melayu. Namun, begitu lumrah dalam tutur bahasa Jawa,” kata Noriah. Banyaknya kesamaan budaya membuat Kisah Panji dianggap sebagai kepunyaan Melayu, meski asalnya dari Jawa. Belum lagi kisahnya berfokus pada istana dan cinta, membuat Kisah Panji bisa diterima masyarakat Melayu. Sehingga banyak Kisah Panji yang dimelayukan: dan  Meski tak ada unsur Islam, kisah itu tetap memikat masyarakat Melayu karena banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil. “Cerita Panji bukan cuma hiburan. Namun lebih kepada pengajaran,” kata Noriah.  Pengaruh Kisah Panji bukan cuma dalam teks tulis. Para dalang mengambil elemen Panji yang disesuaikan dengan budaya setempat sebagai cerita dalam pagelaran wayang kulit. Bahkan, ada yang diubah sesuai selera dalang. “Kelainan ini disebabkan cerita Panji tersebar dalam bentuk lisan. Adanya ruang untuk menambah cerita amat biasa dalam dunia penciptaan cerita Panji dan pewayangan,” kata Noriah.  Kisah Panji, kata Noriah, telah lama diketahui khalayak Melayu terutama di Kelantan. Namun, sulit menentukan kapan pastinya karena bermula dari cerita lisan. Kendati begitu, dia memperkirakan Kisah Panji masuk ke dalam budaya Melayu sejak abad 15 karena  dikarang pada 1612 dan ditulis pengarang anonim lebih awal dari 1641. Di dalamnya banyak disebutkan tentang Majapahit. “Secara tak langsung membuktikan Kisah Panji sudah dikenal di Malaka pada abad 15. Di kedua karya itu unsur-unsur Kisah Panji banyak ditemukan,” kata Noriah.  Selain itu, hubungan Melaka dan Jawa semakin terbentuk pada abad ke-15. Islam telah menapak di tanah semenanjung. Perdagangan yang mendorong mereka datang. Beberapa sejarawan dan akademisi Malaysia seperti Khazin Tamrin, Haron Mat Piah, dan Abd. Rahman Kaeh, menyebut keberadaan kampung India, Tionghoa, dan Jawa. “Cerita Panji dapat menambat hati khalayak terutama sewaktu Malaka di bawah Kesultanan Melayu,” lanjutnya. Dalam  dikisahkan perkampungan Jawa terbentuk setelah kedatangan tokoh Patih Kerja Wijaya bersama kerabatnya. Dia pergi karena sakit hati oleh Ratu Lasem kemudian menghambakan diri kepada penguasa Melaka. Orang Jawa terus berdatangan hingga tahun 1890-an. Mereka diterima masyarakat setempat karena beberapa faktor. Namun, paling ketara karena rajin dan uletnya. Kerajinan mereka terlihat terutama berkaitan dengan pembukaan parit-parit di Johor dan pembukaan tanah-tanah baru. Hingga kini, masyarakat keturunan Jawa masih ada seperti di kawasan Upeh dan Hilir di Melaka. Sebenarnya bukan cuma Kisah Panji dari Jawa yang dikenal masyarakat Melayu. Cerita   pun terus digunakan dalam pewayangan seperti,

  • Musabab Koro

    SAMBIL ketakutan, seorang lelaki berusia 20-an datang ke rumahsakit. Dia mengeluh penis dan pelirnya mengecil. Akibatnya, dia juga tidak bisa tidur, merasakan sakit di sekujur tubuh, dan cemas berlebihan. Sebulan kemudian, dia kembali ke rumahsakit itu. Kondisinya tambah parah. Selain gangguan tidurnya makin menjadi, dia mengeluhkan penis dan pelirnya menghilang meski sudah dipeganginya erat sampai kebiruan. Ketika dokter meminta lelaki itu melepaskan cengkeramannya, dia malah betindak agresif. Keluhan lelaki itu mirip penyakit koro. Teman sekamarnya menjadi saksi bagaimana dia melewati malam dengan gelisah dan tangannya terus memegangi alat kelamin. Sebelum ke rumahsakit, dia telah berobat ke beberapa dukun tapi tak berhasil. Kasus yang terjadi di India tahun 1981 itu diangkat oleh GD Shukla, kepala departemen Kesehatan Mental di Medical College Jhansi, dalam artikelnya, “Koro-like Syndrome”. Usut punya usut, lelaki tadi rupanya sering masturbasi selama 3-4 tahun terakhir. Ketika tak sengaja membaca beberapa buku yang melarang praktik masturbasi, dia benar-benar ketakutan. Dalam buku itu tertulis bahwa masturbasi memiliki beberapa efek buruk, salah satunya "penyusutan penis". Susah payah dia menghentikan hobinya itu. Tapi apa daya, nafsu untuk masturbasinya telalu kuat, akibatnya berubah jadi rasa cemas dan bersalah. Lelaki seperti itu tak sendirian. Koro pernah mewabah di India pada akhir 1982. Antropolog medis David Mitchell menjelaskan, terlepas dari perbedaan lokasi dan waktu kemunculannya, ciri penyakit koro hampir seragam tiap kali muncul, laiknya sebuah pola. Koro menjangkiti mereka yang memiliki ketakutan berlebihan akan ukuran penis. Faktor budaya, lanjut Mitchell, menjadi penentu penting kemunculan koro. “Di beberapa budaya, penis menyusut bukan hal penting sehingga mereka tidak meributkannya. Sementara pasien koro, mereka benar-benar mengomel soal itu, dan ketakutan setengah mati. Tapi bagi saya mereka cukup berani untuk mengakui kelaminnya menyusut,” kata Mitchell sambil tertawa. Dalam masyarakat India, juga Indonesia, segala hal tentang genitalia laki-laki dewasa dan perempuan diatur oleh beragam norma sosial. Seperti, cara berpakaian, cara membicarakan, diagungkannya phallus sebagai simbol maskulinitas, bahkan ada mitos tentang standar ideal genitalia. Serangkaian norma sosial itu diberlakukan dengan ketat di masyarakat dan dipelajari sejak dini. Ditambah dengan aturan agama, kurangnya kepercayaan seksual dan tubuh, dan takhayul yang ada, faktor-faktor itu memunculkan sindrom koro. Budaya yang menjunjung tinggi maskulinitas berperan penting terhadap kemunculan sindrom koro. Maka, bila penis mengalami perubahan sedikit atau bahkan menyusut, akan menjadi masalah besar yang ditakuti para lelaki. Penyusutan penis disalahpahami sebagai penyakit menakutkan dan menjadi ancaman akan harga diri pemiliknya. Di Indonesia, sindrom koro pernah mewabah pada 1999 di Flores. Ratusan laki-laki, mayoritas siswa sekolah menengah, mengeluhkan buah zakar mereka menghilang. Amitava Dan bersama rekan-rekannya meneliti penyebab wabah sindrom koro. Dalam artikel “Socio Demographic Profile and Treatment Seeking Behaviour of Koro Patients in an Epidemic Reported from West Bengal, India” Dan menyebut reaksi masyarakat yang cemas dan suasana histeris menjadi pencetus mewabah koro. Masyarakat yang histeris tanpa sadar menyebarkan ketakutan dari satu pasien ke calon pasien lain dengan cepat, akibatnya epidemi terjadi. Menurut Dan, epidemi koro sebagian besar muncul pada lelaki muda. Selain itu, kata Mitchell, “Koro biasanya ditemukan di daerah pedalaman karena orang-orang masih percaya takhayul dan mereka tahu tentang koro. Kalau sudah sedikit kota, biasanya sudah tidak ada yang tahu penyakit koro.” Dan belum pernah menjumpai pasien koro dengan tingkat pendidikan tinggi atau seorang profesional. Koro pada dasarnya berasal dari ketakutan mendalam akan ukuran genital seorang lelaki akibat pengagungan berlebihan akan mitos “keperkasaan”. Para dokter yang menangani pasien koro memberikan terapi untuk menghilangkan ketakutan dan pemahaman akan genitalia.  “Penis memang menyusut karena berbagai faktor, seperti kedinginan atau ketika takut. Itu hal yang normal. Tapi beberapa orang ketakutan akan menyusutnya penis,” kata Mitchell.

  • Menepuk Dada Menyapu Luka

    SAKIT namun tak berdarah. Tinggal sejengkal lagi menggamit trofi Piala Dunia, Luka Modrić dan rekan-rekan setim Kroasia malah digilas Prancis 4-2 di final yang dimainkan di Stadion Luzhniki, Minggu (15/7/2018). Menyesakkan! Pun begitu, mereka layak menepuk dada dan pulang dengan kepala tegak karena berhasil melejit hingga ke partai puncak Piala Dunia 2018. Bagi Modrić sang kapten, kebahagiaan bertambah karena dia dianugerahi Golden Ball Award, penghargaan untuk pemain terbaik sepanjang turnamen. “Tentu saya bangga. Terimakasih juga kepada semua rekan tim karena tanpa mereka, saya takkan menerima award ini. Kami sudah berjuang, mengerahkan segalanya untuk menang, namun kami belum beruntung,” cetus Modrić, di laman FIFA, Senin (15/7/2018). Kroasia pulang  juga dengan hadiah 28 juta dolar Amerika sebagai finalis. Wajar sekembalinya ke Zagreb skuad Kroasia disambut begitu semarak. Pesawat tim langsung dikawal sepasang jet tempur MiG-21 hingga mendarat saat memasuki wilayah negerinya. Tim juga diarak dengan bus beratap terbuka sampai ke Alun-Alun Ban Jelačić. Mereka patut berbangga. Prestasi terbaik yang pernah dimiliki timnas Kroasia, juara tiga Piala Dunia 1998, berhasil mereka lewati. Kisah keberhasilan mereka akan jadi pembicaraan dunia sepakbola sampai bertahun-tahun mendatang. Menyapu Kepedihan Masa Lalu Kroasia dengan populasi sekitar 4,2 juta jiwa merupakan sebuah negeri pecahan Yugoslavia yang baru 27 tahun merdeka. Negeri pemilik situs warisan dunia Kota Tua Dubrovnik itu pernah luluh lantak oleh Perang Kemerdekaan Kroasia (1991-1995). Di perang itu, Kroasia menghadapi Serbia yang juga bagian dari Yugoslavia. Kota Tua Dubrovnik yang turut terimbas Perang Kemerdekaan Kroasia (Foto: Muzej Domovinskog rata u Dubrovniku) Data Institute for War and Peace Reporting (IWPR) menyebutkan, perang itu menewaskan sekira 15 ribu orang Kroasia. “Namun ahli demografi Kroasia Dražen Živić menyatakan lebih dari 22 ribu jiwa yang tewas,” tulis Blanka Matkovich dalam Croatia and Slovenia at the End and After the Second World War. Sementara, 200 ribu rakyat Kroasia kehilangan tempat tinggal. Mayoritas dari mereka mengungsi ke luar negeri, seperti yang dialami keluarga Modrić, kapten Kroasia yang kini jadi andalan Real Madrid. Saat perang berkecamuk, Modrić masih berusia enam tahun. Setelah rumahnya dibakar serdadu Serbia, keluarganya mengungsi sampai ke Zadar di pesisir Laut Adriatic. Ayahnya, Stipe Modrić, harus ikut berjuang di Angkatan Darat Kroasia, sementara kakeknya dibunuh serdadu paramiliter Serbia. Memori tentang kenangan getir itu masih tersimpan di sudut ingatan Modric hingga sempat diutarakannya di konferensi pers jelang final. “Saya tak suka kembali mengungkit soal itu. Semuanya sudah jadi masa lalu. Meski tentu saja semua hal itu memengaruhi Anda,” singkapnya, disitat Associated Press , 14 Juli 2018. Luka Modric sebagaimana para rekannya, punya kisah getir terkait keluarga mereka di masa perang (Foto: fifa.com) Nasib getir turut menimpa Ivan Rakitić, rekan setim Modrić. Keluarga Rakitic bahkan mengungsi sampai ke Swiss. Namun, Rakitić tak melihat kepahitan perang di negerinya dengan mata kepala sendiri. Orangtuanya sudah lebih dulu mengungsi saat Krisis Balkan baru mulai. Rakitić sendiri lahir di Rheinfelden, Swiss pada 10 Maret 1988. “Masa lalu Kroasia yang saya kenal hanya dari TV dan foto-foto yang pernah ditunjukkan orangtua saya,” tutur Rakitić dalam “The Best Shirt in the World” yang dimuat laman theplayerstribune.com , 21 Juni 2018. Meski tak mengalaminya, hati Rakitić kecil ikut bergolak jika mendengar orangtuanya berbicara sambil menangis dengan keluarga yang masih tinggal di Kroasia. “Sebagai anak kecil dahulu kala, sulit memahami apa yang terjadi di Balkan. Orangtua saya tak pernah bicara soal perang dan bisa dimengerti kenapa mereka tak ingin mengungkitnya,” lanjut bintang klub Barcelona itu. Ivan Rakitic di tim Kroasia yang mayoritas pemainnya senasib dengannya, sebagai anak pengungsi (Foto: fifa.com) Rakitić turut merasakan orangtuanya banyak kehilangan orang-orang terdekat, entah itu sahabat atau kerabat dekat. “Pertamakali saya paham tentang perang, ketika umur lima tahun kala melihat tayangan TV. Saya melihat foto-foto dan video tentang perang dan saya bertanya-tanya: ‘Ini mustahil. Bagaimana ini bisa terjadi?’,” tandasnya. Meski kisah masa lalu Modrić dan Rakitić hanya seujung kuku dari pengalaman pahit yang dialami para pilar timnas Kroasia semasa Perang Kemerdekaan, mereka berhasil bangkit. “Kenangan itu membuat kami jadi orang-orang yang gigih sebagai sebuah bangsa,” kata Modrić.

  • Tujuan Konsep Jabotabek Meleset?

    PAGI yang semarak di Stasiun Kota, Jakarta. Hiasan pita warna-warni dan karangan bunga ucapan selamat terpampang di suatu sudut stasiun. Pagi itu, 29 Agustus 1977, Tjokropranolo, Pejabat (Pj.) Gubernur Jakarta pengganti Ali Sadikin, meresmikan penggunaan kereta api rel listrik dan diesel untuk tiga rute ke wilayah sekitar Jakarta (Botabek atau Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Kompas , 27 Agustus 1977, melaporkan rute kereta rel listrik dan diesel tersebut mencakup rute Tanjung Priok-Karawang Pergi Pulang (PP), Jakarta-Rangkasbitung PP, dan Jakarta Bogor PP. Pejabat pemerintah berharap kereta Jabotabek mampu melayani 100.000 penumpang per hari dengan jarak kedatangan 15 menit sekali di tiap stasiun. Mereka juga memandang kereta Jabotabek sebagai salah satu perangsang pusat pertumbuhan baru di Botabek untuk mengurangi beban Jakarta. Pembangunan Sarana Penunjang Penduduk Jakarta telah berjumlah hampir 6 juta jiwa pada 1977. Wilayahnya seluas 587,62 km2. Ini berarti kepadatan penduduknya mencapai 8.334 penduduk per km2. Angka ini tergolong tinggi untuk kepadatan penduduk dalam sebuah kota. Dari sisi ekonomi, Jakarta memegang lebih dari 50 persen sirkulasi uang nasional. Ada 329 proyek Penanaman Modal Asing (PMA) dan 687 proyek Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jakarta pada 1977. Nilai investasinya lebih dari 50 persen dari seluruh proyek PMA dan PMDN nasional. Padahal penduduk Jakarta hanya 4,2 persen dari total penduduk Indonesia. Para ahli ekonomi dan kota telah mewanti-wanti pembagian kue pembangunan yang jomplang sekaligus memusat ini. Dampaknya meliputi kerawanan dalam aspek sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Maka pemerintah daerah dan pusat mengikuti saran sejumlah ahli perencana kota untuk mengembangkan konsep Jabotabek. Sebagian besar wilayah Bogor, Tangerang, dan Bekasi masih berupa hamparan hijau. Di sanalah limpahan penduduk Jakarta akan disebar oleh pemerintah pusat dan daerah. “Dikembangkan pusat-pusat permukiman perkotaan seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok agar menjadi tempat kediaman dan berusaha yang menarik, sehingga dapat menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru,” demikian Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Wilayah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi. Untuk mewujudkan konsep Jabotabek, Pemerintah Daerah Jakarta dan Jawa Barat membentuk tim Badan Kerjasama Pembangunan (BKSP) Jabotabek. Pemerintah Pusat tak ketinggalan turut serta. Mereka mengoordinasikan pengembangan Jabotabek melalui tim Perencana Jabotabek. Kerja dua tim ini merancang segala sarana pendukung Jabotabek seperti transportasi, listrik, air, permukiman, dan fasilitas umum. Perancangan transportasi massal di Jabotabek menekankan pada penggunaan kereta api, sesuai dengan Rencana Induk Jakarta 1965-1985. Rencana Induk Jakarta 1965-1985 menargetkan penggunaan kereta api sebesar 50 persen, bus 32 persen, dan kendaraan pribadi 18 persen. Tapi kenyataannya hingga 1979, penggunaan kereta api hanya sampai 1,2 persen. Penggunaan bus mencapai 69,9 persen, sedangkan kendaraan pribadi sebesar 39,2 persen. Pembangunan listrik, air, permukiman, dan fasilitas umum terbagi ke banyak instansi pemerintah seperti PDAM, Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, dan Perumnas. Pihak swasta turut terlibat dalam penyediaan permukiman di wilayah Serpong, Tangerang, pada dekade 1980-an. Pengembangan Jabotabek masuk babak baru pada 1981. Tim perencana berhasil menajamkan pengembangan Jabotabek melalui Metropolitan Development Plan . Menurut Tommy Firman dalam “ Pembangunan Kota-Kota Baru di Wilayah Metropolitan Jabotabek”, termuat di Prisma , No. 6 tahun 1989, Metropolitan Development Plantelah menyebut pusat-pusat pertumbuhan yang lebih luas. Antara lain Balaraja, Tigaraksa, Serpong, Bumi Serpong Damai, Ciputat, Depok, Citereup, Cileungsi, Cimanggis, Leuwiliang, Cibulang, Cikarang, dan Parung. Wilayah-wilayah tersebut mulai terhubung oleh jalan tol Jagorawi dan rel kereta. Tim perencana juga berupaya menambah alternatif gerak warga dengan menyediakan jalan lingkar luar Jakarta. Sebuah jalan tol lainnya rampung pada 1984. Jalan ini menghubungkan Jakarta dan Pelabuhan Merak (poros Jakarta-Tangerang). Di Jakarta, Pemda merencanakan pembangunan jalan layang di Tebet dan Tomang untuk menyokong gerak warga dari Jakarta ke Timur (Bekasi) dan Barat (Tangerang), atau sebaliknya. Dekade 1990-an memperlihatkan perubahan signifikan pada wilayah Botabek. Pusat pertumbuhan baru bermunculan setelah pembangunan sebagian sarana penunjang kelar. Depok, wilayah pinggiran di selatan Jakarta, telah ikut masuk konsep sehingga mengubah Jabotabek menjadi Jabodetabek. Pertumbuhan penduduk di DKI menunjukkan penurunan, dari 3,8 persen menjadi 2,4 persen pada 1994. “Sebaliknya populasi di wilayah Botabek yang berbatasan langsung dengan Jakarta meningkat dengan cepat dari 4 persen menjadi 9 persen,” catat Bernard Dorleans dalam “Dari Kampung ke Pengembangan Pemukiman” termuat di Jakarta Batavia Esai Sosio Kultural . Konsep penglaju ( commuter ) pun mulai mengkhalayak untuk menyebut warga yang kerja di Jakarta, tapi bertempat tinggal di Botabek. Sebagian mereka pergi-pulang dengan kendaraan pribadi, lainnya naik angkutan massal. Mereka menghabiskan berjam-jam di jalan dan kendaraan hingga mengikis waktu pertemuan mereka dengan sesama tetangga atau kerabat. “Jendela-jendela kendaraan itu seperti membingkai wajah-wajah ‘Aku’ yang masing-masing terpasung dalam dunianya sendiri,” tulis Fuad Hassan, mantan Menteri Pendidikan Nasional, menggambarkan dampak sosial kepadatan jalan dan kendaraan di Jabotabek dalam esai reflektifnya yang termuat di Pentas Kota Raya . Keadaan-keadaan demikian sebenarnya sudah pernah diprediksi para pengkritik konsep Jabotabek sejak 1970-an. Kritik Jabotabek Kritik awal terhadap konsep Jabotabek muncul pada 1974, setahun setelah konsep ini jadi bahan perbincangan khalayak. Melalui opininya di Kompas, 8 Maret 1974, Sumarkoco Sudiro, seorang pengamat kota menyatakan proyek Jabotabek berpotensi menambah kepemilikan rumah oleh orang kaya dan jumlah kendaraan pribadi. “Pembangunan jalan lingkar luar dan jalan penghubungnya akan merangsang orang-orang kaya untuk punya dua atau tiga rumah, atau mungkin lebih. Kendaraan juga bakal menumpuk di jalan lingkar luar,” catat Sumarkoco. Dia menyimpulkan Jabotabek bukannya mengurangi beban Jakarta, tetapi bakal malah menambahnya. Sementara itu, Dorodjatun Kuntjoro Djakti, kelak menjadi Dekan Fakultas Ekonomi UI, telah berupaya mengajukan konsep alternatif pola lain pengembangan kota. Dia tak menyerang langsung Jabotabek dan Rencana Induk Jakarta sebagai cantolan utamanya. Dorodjatun lebih mengarahkan kritiknya pada orientasi pola pengembangan kota. Menurutnya sebagian besar kota di Asia Tenggara terlalu mengekor pola pengembangan kota di negeri Barat. “Kita katakan bahwa pola pertumbuhan serta kebijaksanaan pengembangan kota yang ada dewasa ini berbau ‘Barat’ sebab apa yang terjadi adalah kota tersebut dimodernisasikan menuruti Master Plan Barat,” ungkap Dorodjatun dalam “Alternatif Baru Pertumbuhan Kota di Dunia Ketiga” termuat di Widyapura,  No. 7-8, 1977. Pengekoran pengembangan kota menurut pola Barat tidak selalu berhasil di negara berkembang seperti Indonesia. Sebabnya perbedaan karakter dan corak masyarakat. “Pola pertumbuhan serta kebijaksanaan pengembangan kota menuruti master plan Barat membawa pada dirinya, potensi peledakan sosial dan politik yang besar,” lanjut Dorodjatun. Perkembangan Jabotabek pada 1990-an menunjukkan kebenaran para pengkritiknya. Dalam istilah Bernard Dorleans, Jabotabek telah menjadi “sebuah megalopolis yang terlalu padat dan sarat dengan kemacetan serta polusi." Kepadatan, kemacetan, dan polusi menyimpan potensi dampak lanjutan. Sekarang para perencana kota berupaya membenahi Jabodetabek untuk mencegah dampak lanjutan itu.

  • Yang Gugur di Karang Kedaung

    Siang belum menjelang di dukuh Karang Kedaung, Jember, ketika seorang prajurit muda datang dengan terengah-engah. Tanpa mengindahkan etika militer lagi, dia langsung menerobos ruangan rapat para perwira Brigade III Damarwulan yang tengah melakukan rapat koorinasi. Setelah melakukan hormat militer secara cepat kepada komandan brigade Letnan Kolonel Mochammad Sroedji, dia berkata parau: “Belanda datang,Pak!” Semua perwira tertegun. Letkol Sroedji sendiri setelah terdiam sejenak lantas menanyakan kondisi pasukannya, kemudian berseru: “Adakan perlawanan!” “Siap! Kerjakan!” Seperti dikisahkan oleh peneliti sejarah Irma Devita kepada Historia , semua anggota pasukan Brigade III Damarwulan lantas bergerak untuk menyambut kedatangan pasukan Belanda yang didentifikasi berasal dari Batalyon KNIL Infanteri ke-23 pimpinan Letnan Kolonel J.H.J. Brendgen dan Legiun Tjakra. Letkol Sroedji sendiri, alih-alih minta diamankan kepada pengawalnya, dia justru memutuskan untuk memimpin sendiri pasukannya langsung ke medan pertempuran. “Pak Sroedji memang tipikal komandan militer sejati, ketika bertempur dia selalu ada di barisan terdepan memimpin anak buahnya,” ungkap Irma yang sudah lima tahun melakukan riset tentang sosok Sroedji. Musuh Nomor Satu Di wilayah Jember dan sekitarnya, Sroedji dikenal sebagai musuh nomor satu bagi militer Belanda. Kekuatan militer Belanda yang terdiri dari KL (Tentara Kerajaan Belanda), KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan Legiun Tjakra (milisi pribumi yang terdiri dari orang-orang Madura) kerap dibuat pusing dengan aksi-aksi Sroedji dan pasukannya. Menurut sejarawan militer Saleh Djamhari, saat kesepakatan Perundingan Linggarjati mulai diberlakukan sejak 26 Maret 1947, pihak Belanda menuduh pasukan yang dipimpin oleh Sroedji kerap melakukan pelanggaran dengan menyebrangi garis demarkasi. “Pasukan Sroedji dianggap sering menyerang kedudukan pasukan Belanda,” ungkap Saleh. Namun menurut Irma, hal itu terjadi bukan tanpa alasan. Sroedji menganggap militer Belanda selalu berupaya menduduki wilayahnya yang kaya akan produk bumi. “Dia hanya mempertahankan tanah milik rakyat Republik, kendati harus dilakukan sejengkal demi sejengkal ,” ungkap penulis novel Sang Patriot , sebuah cerita tentang riwayat hidup Sroedji. Belanda mulai merasa agak tenang saat Sroedji dan pasukannya ditarik ke Kediri dan Blitar, menyusul berlakunya kesepakatan Perundingan Renville pada 17 Januari 1948. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Sebelas bulan kemudian, saat militer Belanda menciderai perjanjian tersebut dengan menyerang Yogyakarta, Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman lewat Perintah Siasat No.1 memerintahkan Sroedji dan pasukannya untuk kembali ke kampung halamannya dan mengadakan perlawanan semesta terhadap militer Belanda. Sebagaimana dikisahkan oleh sejarawan Irna H.N. Hadi Soewito, rombongan Brigade III Damarwulan yang berjumlah sekira 5000 orang itu bergerak dari Kediri dan Blitar dengan melewati pegunungan sempit di sebelah selatan Gunung Semeru yang masih berhutan lebat. Mereka melalui Lodoyo, Binangun, Bantur, Sumber Manjing menerobos Tempursari hingga mencapai Lumajang bagian selatan. “Pasukan ini bergerak dalam formasi siap tempur,” ujar Irna dalam Rakyat Jawa Timur memepertahankan Kemerdekaan. Sebagai komandan, Letkol Sroeji harus pandai-pandai merancang taktik dan strategi agar pasukannya bisa selamat sampai di wilayah Jember, basis Brigade III. Dia menekankan kepada pasukannya untuk menghindar sebisa mungkin bentrok dengan pasukan Belanda selama perjalanan. Selain untuk menghemat amunisi, itu perlu dilakukan supaya jumlah pasukan terjaga sacara stabil. Namun walau bagaimana pun bentrok dengan pasukan Belanda, kerap tak bisa dihindari. Menurut Irna, ada 22 pertempuran hebat terjadi selama pasukan Sroedji berupaya menembus penyumbatan yang dilakukan tetara Belanda. Akibatnya korban berjatuhan tak bisa dihindari dan banyak amunisi harus dihamburkan. Situasi tersebut tentu saja berpengaruh terhadap kondisi pasukan yang sebelumnya sudah serba kekurangan. Kendati daya tempur Brigade III Damarwulan terbilang tinggi namun dari segi finansial, perlengkapan tempur dan logistiknya bisa dikatakan sangat minim. Hal itu terlukis dari penuturan Kolonel A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid IX, saat Wakil Panglima TNI itu berjumpa langsung dengan Letkol Sroeji di Kediri pada 17 Desember 1948. “Apakah segala sesuatu untuk memulai gerakan sudah beres?” tanya Kolonel Nasution. “Sudah beres, hanya…”jawab Letkol Sroedji. Nasution menyatakan tanpa dilanjutkankan pun dirinya sudah mafhum apa yang menjadi masalah Brigade III Damarwulan, karena kesulitan-kesulitan yang dialami Letkol Sroedji telah menjadi masalah biasa di dalam suatu pasukan yang tergabung dalam TNI kala itu. Gugur Saat Bertempur Selasa, 8 Februari 1949. Begitu mendengar laporan dari anak buahnya bahwa tentara Belanda mulai mengepung Karang Kedaung, Sroedji dengan pistol di tangan langsung bergerak ke palagan. Ikut bersamanya Letnan Kolonel dr. Soebandi, Residen Militer Besuki. Saat memimpin pertempuran inilah, tetiba sebutir peluru mengenai pundak kirinya dan langsung membuat Sroedji terjatuh dalam posisi tertelungkup. “Kur! Saya kena!” teriaknya sembari memanggil salah satu pengawal bernama M. Abdul Syukur. Abdul Syukur dan Letkol Soebandi lantas memapah Sroedji untuk menghindar ke tempat aman. Di sebuah parit dan dalam serangan gencar tentara Belanda, mereka menyaksikan kondisi komandan mereka semakin payah. Saat itulah, sebutir peluru sekonyong-konyong menghantam tubuh Soebandi dan langsung membuatnya gugur. Abdul Sykur tak kuasa menahan rasa panik dan sedih. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dia berkata kepada Sroedji yang ada dalam kondisi luka parah. “Pak! Pak Bandi gugur!” Mendengar teriakan Syukur, entah mendapat kekuatan dari mana tetiba Sroedji bangkit. Sambil mendekap luka di pundaknya kanannya, dia menggemgam kembali pistol dan meminta peluru kepada Syukur. Sang overste pun mengamuk bak banteng ketaton terluka. “Mati boleh dhah! Mati bagus dhah! Belanda bakero !” terianya sembari menembakan peluru ke arah pasukan Belanda. Bakero adalah umpatan khas orang-orang Jepang. Sepertinya itu didapat oleh Sroedji saat dia dididik di Asrama PETA (Pembela Tanah Air) Bogor oleh militer Jepang. Tak urung posisi pasukan Belanda malah semakin kuat. Dalam suatu kesempatan, satu kompi Batalyon Infanteri ke-23 pimpinan Kapten F.G. Schelten berhasil mengepung posisi Sroedji yang tengah mengamuk. Abdul Syukur sendiri sudah tidak berada di samping Sroedji karena setelah terkena tembakan dia berhasil meloloskan diri. Kendati berupaya menangkap Sroedji hidup-hidup, pasukan Belanda tak kuasa melakukannya. Alih-alih menyerah, dalam kondisi terluka parah, Sroedji masih saja melawan dengan pistol dan berhasil menumbangkan beberapa serdadu yang mengepungnya. Tak mau ambil resiko, seorang tentara Belanda lantas menembaknya dan membuat tubuhnya rubuh seketika. “Bahkan saya mendapat laporan, Komandan Brigade III Damarwulan masih melakukan perlawanan dengan tinjunya saat dia sadar pelurunya sudah habis,” ungkap A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid X. Singkat cerita, pada akhirnya Sroedji berhasil dilumpuhkan. Karena luka-lukanya yang sangat parah, dalam perjalanan ke markas Belanda sang overste pemberani itu menghembuskan nafas terakhirnya. Entah karena marah karena tidak berhasil mendapatkan Sroedji dalam kondisi hidup atau sekadar untuk menakuti rakyat, pasukan Belanda lantas membawa jasad lelaki Madura tersebut ke halaman Hotel Jember. Di hadapan khalayak, secara demonstratif dan brutal salah seorang prajurit KNIL mencungkil kedua bola mata Sroedji sekaligus memotong sebagian jari jemarinya. Sebuah prilaku yang sangat pengecut dan tak layak didapat oleh seorang musuh pemberani seperti Sroedji.

  • Menggusur Pelindung Bung Besar

    HARI-hari menjelang Sidang Umum ke-IV MPRS, keadaaan Jakarta terasa mencekam. Sidang yang akan memutuskan pencabutan kekuasaan Presiden Sukarno itu rencananya akan dimulai 20 Juni sampai 5 Juli 1966. Hawa pertarungan kekuasaan sangat terasa di Jakarta. “Hal ini akan dianggap oleh pendukung Presiden Sukarno sebagai tindakan pendongkelan,” ujar Amir Machmud dalam Otobiografi H. Amir Machmud: Prajurit Pejuang. Amir saat itu menjabat Panglima Kodam V Jakarta Raya (Jaya) dengan pangkat mayor jenderal. Menurut Amir, di Jakarta terdapat 40 batalion pasukan bersenjata. Sebagian besar diantaranya memihak Presiden Sukarno. Brigade Mobil dan Resimen Pelopor dari Angkatan Kepolisian adalah pendukung Sukarno. Mereka siaga dengan kekuatan penuh dan senjata lengkap di sebelah selatan Jalan Gatot Subroto. Selain itu, di Tanjung Priok ada pasukan Angkatan Laut yang kuat pimpinan Letnan Jenderal Hartono, Panglima KKO (Korps Komando Angkatan Laut), seorang loyalis Bung Karno.    Pasukan yang tergabung dalam Kostrad, RPKAD (kini Kopassus), Kodam Jaya, dan satuan kecil Angkatan Darat (AD) lainnya mendukung Orde Baru dan Jenderal Soeharto. “Kalau diadakan perbandingan kekuatan, maka pasukan yang mendukung Presiden Sukarno masih lebih besar dibandingkan dengan kekuatan yang mendukung Orde Baru” demikian pengakuan Amir. Siasat Soeharto Pihak AD sendiri terbelah atas dua kubu. Ada pimpinan yang pro Soeharto seperti Panglima Kostrad Umar Wirahadikusumah dan Maraden Panggabean, panglima di Kalimantan. Sementara, Panglima Jawa Barat Mayjen Ibrahim Adjie dan Panglima Jawa Tengah Mayjen Surjosumpeno, merupakan perwira tinggi yang disebut-sebut pro Sukarno. Di Markas besar (Mabes) TNI AD, beberapa jenderal penting kurang menyukai Soeharto. Mayjen Moersjid orang nomor dua di sana yang menjabat deputi operasi lebih pro-Sukarno, demikian juga halnya asisten intelijen Mayjen Soegih Arto. Sedangkan Panglima Kodam Jaya, Amir Machmud justru menunjukan sikap mendua.   Menurut Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965—1998, Soeharto adalah orang yang tegas dan tenang. Dalam amatan pendiri CSIS – lembaga think thank Orde Baru – ini, karena pernah miskin dan susah di masa muda, Soeharto mempunyai kekuatan batin yang hebat. Sebenarnya Soeharto bisa saja menyerah saat itu mengingat untuk menyingkirkan para jenderal pelindung Sukarno bukanlah hal yang mudah.  “Tetapi ia tak mau. Ia berlaku pura-pura tak tahu. Sesudahnya dengan tenang, ia menetralisasi satu per satu para panglima itu,” tulis Jusuf Wanandi. Bagaimana caranya? Tanpa menggeser mereka, Soeharto menempatkan orang kepercayaannya sebagai kepala staf mereka. Strategi tersebut, kata Jusuf, bukan tipuan baru. Banyak pemberontakan di Indonesia gagal karena kepala stafnya menghambat pimpinan mereka sendiri. Sementara itu, pakar politik-militer Harold Crouch menganalogikan bagaimana cerdiknya siasat Soeharto mengucilkan lawan potensialnya. “Mula-mula Soeharto lebih menggunakan wortel daripada pemukul,” ungkap Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia . Masing-masing ditawari alternatif yang menarik sesuai dengan pangkat dan kecondongannya.  Dengan cara demikian, serangkaian alih-tugas di kalangan AD menempatkan pendukung-pendukung Soeharto dalam posisi-posisi penting. Mementalkan Lawan Potensial Sejak tahun 1966, Soeharto menghadapi penantang-penantang potensialnya, para panglima daerah dan kelompok perwira pro-Sukarno. Bukan dengan grasa-grusu tapi mereka “dibereskan” setahap demi setahap. Soeharto menerapkan prinsip jawa alon-alon asal klakon dalam mengonsolidasikan kekuasaan atas angkatan bersenjata, khususnya AD. Di Bandung, sekelompok perwira anti-Sukarno yang dipimpin Kepala Staf Mayjen H.R. Dharsono membentuk komando tandingan. Dharsono dengan cepat menguasai Kodam Siliwangi. Akhirnya, pada 20 Juli 1966, Ibrahim Adjie secara resmi digantikan oleh Dharsono dan ditugaskan ke London sebagai duta besar untuk Kerajaan Inggris.  Pada saat yang sama, Surjosumpeno dipindahkan ke Istana sebagai sekretaris militer Sukarno. Dia kemudian mendapat jabatan tinggi di departemen dalam negeri. Posisi Surjosumpeno selaku Panglima Diponegoro digantikan Mayjen Surono Reksodimedjo – kolega dan mantan anak buah Soeharto ketika memimpin divisi yang sama. Pengangkatan Surono menempatkan Kodam Diponegoro di bawah komando seorang pendukung setia Soeharto. Sebagai penguasa di Mabes AD, Soeharto relatif tak kesulitan mengatasi Moersjid dan Soegih Arto. Soegih Arto, diberikan kedudukan sipil yang tinggi sebagai jaksa agung.  Sedangkan Moersjid, pada Mei 1967 dibebastugaskan dari jabatan deputi. Dia kemudian menempati pos baru di Manila sebagai Duta Besar untuk Filipina. Sejarawan Australia, Robert Elson dalam Suharto: Sebuah Biografi Politik mencatat hingga awal 1967, Soeharto telah menempatkan pendukungnya di seluruh daerah dan komando antar daerah. Para jenderal yang dianggapnya tak dapat diandalkan, pesaing potensial, atau agresif diberi kesempatan untuk mengundurkan diri secara terhormat. Pilihan untuk mundur akan mendapat ganjaran berupa kompensasi yang menguntungkan. “Perwira-perwira yang masih loyal kepada Sukarno tak punya pilihan lain, seberapa pun enggannya mereka, selain berkompromi dengan kenyataan baru,” tulis Elson.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page