Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Polemik Keruntuhan Majapahit
SAMPAI sekarang masih banyak yang percaya berita tradisi bahwa Kerajaan Majapahit runtuh pada 1400 saka (1478 M). Keruntuhannya disimpulkan dalam candrasengkala sirna ilang kertaning bhumi. Pembahasan soal keruntuhan Majapahit masih belum berakhir hingga kini. Arkeolog Hasan Djafar menyebut bukti-bukti sejarah memperlihatkan kerajaan itu masih ada sampai beberapa tahun kemudian. “Sumber sejarah Majapahit akhir yang ada sangat sedikit jumlahnya. Selain itu, sumber-sumber yang ada tidak banyak memberikan keterangan,” tulis Hasan dalam Masa Akhir Majapahit.
- Negara Baru, Utang Baru
NYAK Sandang, 91 tahun, bertemu Jokowi, sembari membawa obligasi tahun 1950. Kemunculan pria Aceh itu menjadi santapan media. Pun demikian, sejarawan meragukan obligasi yang dibawanya itu didapat dari hasil menyumbang uang untuk pembelian pesawat Seulawah RI-001. Obligasi atau pinjaman nasional dikeluarkan oleh Pemerintah berdasarkan Undang-Undang No.4 tahun 1946 yang menyatakan, Menteri Keuangan diberi kuasa untuk menjual surat-surat pengakuan utang atas tanggungan negara. Sejak mula berdiri, pemerintah Indonesia sudah akrab dengan utang. Sebagai negara baru merdeka, kemampuan finansial Indonesia kala itu masih minim. Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah finansial. Salah satunya, menggalang partisipasi masyarakat. Pada 29 April 1946, Presiden Sukarno dan Menteri Keuangan Soerachman –atas persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP)– meneken Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1946 tentang Pinjaman Nasional 1946. Menteri Keuangan, tulis pasal pertama ayat 1 pada UU tersebut, memiliki kekuasaan untuk menjual surat-surat pengakuan utang atas tanggungan negara dengan kurs dan bunga yang sudah ditentukan guna mendapatkan uang seribu juta rupiah. Pada ayat kedua dan ketiga pasal 1, surat-surat pengakuan utang tersebut hanya bisa dimiliki oleh warga negara RI serta tidak bisa “dilepaskan” (dijual, digadaikan, diwariskan, dan sebagainya) kepada warga negara negeri lain atau kepada badan hukum negeri lain. “Pinjaman yang hendak ditutup besarnya seribu juta, dipungut dua kali, masing-masing f 500.000.000. Jumlah ini akan dipergunakan masing-masing 400.000.000 untuk pembangunan, membantu perusahaan umumnya dan membangunkan perumahan rakyat. f 100.000.000 untuk membantu belanja negara berhubung dengan jatuhnya harga uang Jepang,” tulis Pantja Raja nomor 13 tahun I, yang terbit 15 Mei 1946. Selain untuk membiayai pembangunan dan masalah pertahanan, ada tujuan lain dari dikeluarkannya Pinjaman Nasional. “Pemerintah mengumumkan Undang-Undang Pinjaman Nasional guna meringankan beban rakyat dengan jalan mengurangi peredaran uang Jepang,” tulis Pramoedya Ananta Toer, Koesalah, dan Ediati kamil dalam Kronik Revolusi Indonesia jilid II. Peredaran mata uang Jepang di masyarakat saat itu diperkirakan sejumlah empat milyar. Sampai Agustus 1945, tulis Heru Soekadri cum suis dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Jawa Timur , mata uang Jepang yang beredar di Jawa saja berjumlah 1,6 milyar. Beragam upaya ditempuh untuk merealisasikan pinjaman kepada rakyat. Publikasi program itu dilaksanakan melalui berbagai media, mulai radio, surat kabar, sampai badan-badan pemerintah. Dalam hal pelaksanaan penjualan obligasi, tulis Langgeng Sulistyobudi dalam artikel bertajuk “Ketika Negara Berhutang Kepada Rakyatnya: Pinjaman Nasional 1946”, Kementerian Keuangan menyerahkan tugas tersebut kepada Bank Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, dan dua bank swasta: Bank Surakarta dan Bank Nasional. Di Jakarta, lanjut Langgeng yang mengutip Berita Antara Mei 1946, pendaftaran juga dibantu oleh Sekolah Menengah Tinggi. Pendaftaran Pinjaman Nasional berlangsung sejak 15 Mei 1946 hingga 15 Juni 1946, namun diperpanjang sampai akhir Juni 1946, bahkan di bulan-bulan sesudahnya. Nilai obligasi atau surat pengakuan utang yang ditentukan pemerintah adalah lembar obligasi f 100 (uang Jepang), lembar obligasi f 500 (uang Jepang), dan lembar obligasi f 1.000 (uang Jepang). “Dari surat-surat hutang itu telah dikeluarkan terlebih dahulu di Jawa dan Madura dengan jumlah nilai f 500.000.000 dan di Sumatra f 500.000.000,” seperti dikutip dari UU nomor 26 tahun 1954 mengenai Pembayaran Kembali Pinjaman Nasional 1946. Melalui pasal 3 butir 4, negara menjamin pelunasan utang akan diselesaikan sekurang-kurangnya 40 tahun.
- Mesin Uang Bernama Beckham
DAVID Beckham memukau pecinta sepakbola tanah air Minggu (25/3/2018) kemarin. Lewat sebuah perusahaan asuransi internasional yang membawanya, pria yang diberi gelar kebangsawanan OBE dari Ratu Elizabeth II itu mengkampanyekan gaya hidup sehat via sepakbola di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan. Beckham juga memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) lewat sumbangan 10 ribu bola untuk anak-anak akademi sepakbola di Indonesia. Itu menjadi kunjungan kedua Beckham ke Indonesia. Pada November 2011, Beckham datang ketika masih aktif bermain di klub MLS (Liga Amerika Serikat) Los Angeles Galaxy. Kala itu, LA Galaxy melakoni laga persahabatan kontra tim Indonesia Selection di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta. Bicara soal David Robert Joseph Beckham adalah bicara tentang pesona sepakbola. Para pakar boleh saja mendewakan Pele, Diego Maradona, Lionel Messi, atau Cristiano Ronaldo baik terkait skill maupun prestasi individu atau klub. Namun, belum pernah ada pesepakbola yang meninggalkan efek sebesar Beckham terkait persona dan brand.
- Ratu Layar Perak
FILM Putri Solo (1953) meraup sukses. Pundi-pundi Titin Sumarni bertambah. Selain main film, dia dan suaminya, Mustari, mencoba peruntungan lain dengan membuat perusahaan film bernama Titin Sumarni Film Production. Dia menjadi aktris Indonesia pertama yang memiliki perusahaan film. Pada 1950-an, mendirikan perusahaan film butuh modal besar. Ketika mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), Usmar Ismail dan tujuh rekannya hanya bisa mengumpulkan Rp30.000. Padahal, biaya produksi per film mencapai Rp350.000. Usmar pun harus berutang kepada Bank Industri Negara sebesar Rp3.050.000 untuk mendirikan Perfini. Produksi pertama perusahaan film Titin adalah Gadis Medan dengan produser Mustari dan sutradara Djadug Djajakusuma. “Ketika pengambilan gambar di Medan, Titin mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya menyetujui adegan ciuman dalam film jika diwajibkan oleh sutradara atau produser,” tulis Tanete Pong Masak dalam Sinema Pada Masa Sukarno. Tak lama kemudian, giliran Mustari angkat bicara soal adegan ciuman. “Saya tidak keberatan istri saya Titin Sumarni dicium dalam setiap adegan film jika itu yang diwajibkan regisseur (sutradara) atau pihak pengusaha,” kata Mustari. “Tetapi saya berpendapat selaku bangsa timur yang memiliki perasaan halus, wajib cium itu tidak diperlukan malahan sebaliknya mendatangkan kerusakan.” Karier Titin mencapai puncaknya pada 1954. Tahun itu, dia membintangi sembilan judul film salah satunya Lewat Jam Malam . Majalah film, drama, dan cerita pendek, Kentjana, menobatkannya sebagai Bintang Kentjana. Kentjana dan majalah Dunia Film juga menobatkannya sebagai Ratu Layar Perak. Aktris manis bertahi lalat di atas bibir kiri itu semakin masyhur. Kesuksesan di layar perak tak diikuti dalam kehidupan nyata. Setelah tujuh tahun menikah dengan Mustari, Titin memutuskan bercerai pada 1955. Di tahun perpisahan itu, dia hanya melakoni film Senyum Derita dan Sampah . Tahun berikutnya, dia juga hanya membintangi film Saidjah Putri Pantai dan Janjiku . Setelah tahun 1956, Titin tak terdengar lagi di jagad film nasional. Film terakhirnya, Janjiku diproduseri Djamaludin Malik dan G.H. Sawlani. Janjiku muncul saat film India merangsek sehingga sineas Indonesia harus bersiasat. “Bagaimana menghadapi ancaman film India? Bagi Djamaludin Malik solusinya gampang dan praktis, sesuai dengan ungkapan Inggris if you cannot beat the enemy, you join him . Maka seperti dalam kasus dengan Filipina, Djamaludin Malik joint production dengan orang India. Pada 1956 Persari memproduksi film Janjiku dengan sutradara/penulis skenario BK Raj, kamera MKS Meyer,” tulis Ramadhan KH dan Nina Pane Budiarto dalam biografi Djamaludin Malik, Pengusaha, Politikus, Pelopor Industri Film. Saat membintangi Janjiku , Titin baru setahun menjanda. Dia berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri dengan menanamkan uangnya di bisnis hotel dan batik. “Waktu saya bercerai dari Mustari tidak membawa apa-apa. Demikian pula ketika menikah dengan suami kedua Subjakto, saya tidak membawa apa-apa. Jadi praktis uang yang saya miliki diperoleh dari film Janjiku ,” kata Titin dalam harian Pikiran Rakjat , 13 Agustus 1959. Pada 1957, tersiar kabar Titin memiliki hubungan khusus dengan Laurens Saerang, raja kopra dari Minahasa, namun tak berlangsung lama. Titin menikah kedua kali dengan Subjakto, pengusaha dari Jombang, Jawa Timur. Setelah bercerai, dia menikah lagi dengan Mohammad Jahja Ali dari Bandung. Hingga meninggal pada 13 Mei 1966, dia menikah delapan kali.
- Titin yang Genit
SUATU ketika di tahun 1951, dr. Huyung, sineas Korea yang berkiprah di Indonesia, menerima dua orang wartawan majalah Life dan Time . Mereka bertemu di lobi hotel Des Indes, Jakarta. Wartawan itu meminta masukan dari Huyung mengenai aktris Indonesia yang layak dimuat fotonya di kedua majalah tersebut. Huyung, yang saat itu menyewa kamar di Des Indes, segera menuju kamarnya untuk mengambil album “Gadis Olahraga” dan menyerahkannya kepada wartawan itu. Pada halaman pertama, mereka mendapati wajah Grace Andreas, pemeran film Antara Bumi dan Langit . Hingga beberapa halaman, mereka hanya mendapati aktris-aktris Indonesia berwajah Indo. Keduanya menggeleng. “Kami cari bintang film Indonesia, berpakaian Indonesia, bersenyum simpul Indonesia, dan mempunyai tipe Indonesia,” ujar salah satu wartawan. Huyung tersenyum, seperti mengetahui wajah aktris yang dikehendaki kedua wartawan itu. Dia pun membolak-balik halaman album sampai kepada gambar Titin Sumarni, aktris film Gadis Olahraga besutan Huyung tahun 1951. Dalam film tersebut, Titin memerankan Sumiati, tunangan Anwar yang diperankan Supeno Subono Partosandjojo atau lebih dikenal sebagai S. Bono. Titin Sumarni lahir pada 28 Desember 1932 dari keluarga priyayi. Ayahnya seorang Jawa pensiunan pegawai negeri di Surabaya, sementara ibunya dari Sunda. Masa kecil Titin dihabiskan di Tasikmalaya, Jawa Barat. Semasa kecil, Titin kelewat lincah sampai harus terus digandeng ibunya jika sedang bepergian. “Kalau Ibu memegang tangan, sakitnya seperti tang menjepit,” ujar Titin dalam Rahasia Hidup Titin Sumarni karya Rd. Lingga Wisnu MS. Jika tak dipegang tangannya, dia akan segera lari dari ibunya. Dia juga lebih suka naik sepeda lelaki dari pada sepeda model perempuan. Saat itu, tentu saja belum jamak seorang gadis naik sepeda lelaki. Pada usia 16 tahun, Titin dinikahkan dengan Mustari, duda berusia 32 tahun yang bekerja sebagai pegawai negeri di kantor urusan ekonomi wilayah Tasikmalaya. Bersama Mustari, Titin mulai menapaki jalan keartisan. Melalui perantara Harun Al Rasyid, pegawai di studio Golden Arrow, dia dikenalkan kepada Rd. Arifin yang akan menggarap sebuah film. Dalam Apa Siapa Orang Film Indonesia, 1926-1978 , Titin disebut mendapat peran dalam film Seruni Laju (1951). Dalam debut pertama ini, dia memerankan Seruni, dan beradu peran dengan Turino Djunaedi yang membawakan tokoh Herlan. Seruni digambarkan sebagai wanita yang menikah dengan Herlan, namun belum memiliki kematangan jiwa untuk berumah tangga. Setelah Seruni Laju , Titin mulai dilirik beberapa produser. Selama tahun 1951, dia membintangi film Gadis Olahraga ; KenanganMasa , Main-Main Jadi Sungguhan , Dunia Gila , dan Sepanjang Malioboro . Tahun berikutnya, Titin kembali membintangi lima film: Si Mientje , Satria Desa , Terkabul , Pengorbanan , Pahit-Pahit Manis , dan Apa Salahku . Dalam film Terkabul , Pengorbanan dan Satria Desa , dia beradu peran dengan aktor S. Bono. Para sutradara cenderung memasangkan Titin dan S. Bono sebagai pasangan romantis. Kematangan teknik seni peran Titin menggoda Djamaludin Malik, bos Perseroan Artis Indonesia (Persari). Dia telah mengendus bakat Titin sejak bermain di filmnya, Sepanjang Malioboro . Pada 1953, Titin bermain dalam tiga film produksinya, yaitu Asam Digunung Garam Dilaut , Gara-gara Hadiah dan Lagu Kenangan . Tak hanya main film drama, Titin pun menjajal film komedi musikal, seperti Putri Solo besutan sutradara Fred Young. “Rumah produksi Bintang Surabaya NV berusaha untuk mengedepankan mitos tentang ‘putri Solo’ dengan menjadikannya judul film,” tulis Tanete Pong Masak dalam Sinema Pada Masa Sukarno. Di film tersebut, Titin memerankan tokoh Sulastri yang berhasil membuat Hirlan (Chatir Harro) jatuh hati padanya. Padahal Hirlan sudah mempunyai tunangan, Haryati (Paulina Robot). Suasana komedi semakin kental dengan hadirnya aktor-aktor komedi pendukung seperti S. Poniman, Sri Mulat dan Kuncung. “Saya sebagai regisseur (sutradara, red. ) hanya melihat suatu kemungkinan yang baik. Titin bisa menjadi lebih baik. Pokoknya hanya kepada regisseur , apakah bisa menciptakan dia jadi seorang ceriwis atau genit dalam filmnya. Itulah sifat dan tokoh yang harus diperankan oleh Titin,” ujar Huyung. Dalam film-film berikutnya, Titin beberapa kali mendapatkan karakter perempuan genit. Bahkan, dia tak menampik jika harus beradegan ciuman dengan lawan mainnya.
- Konflik Mereda Tapi Bioskop Terlupa
DIREKTUR Aceh Documentary Faisal Ilyas menyayangkan penetapan darurat militer atas Aceh pada awal 2003. Tak hanya merusak faktor keamanan semata, status itu mengubah banyak hal, antara lain hilangnya bioskop. “Di Aceh sampai tahun 2002 atau 2003 masih ada bioskop. Sejak Aceh ditetapkan sebagai daerah darurat militer, bioskop sudah tidak beroperasi lagi mungkin karena adanya konflik. Pada masa sebelumnya, bioskop sudah beroperasi di beberapa daerah di Aceh, seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Bireuen, dan Langsa. Semuanya bioskop lokal, belum masuk bioskop jaringan,” kata Faisal Ilyas dihubungi Historia via telepon. Kehadiran bioskop di Aceh sudah ada sejak 1930-an. Di Kota Banda Aceh, ada Deli Bioskop di Jalan Muhammad Jam dan Rex Bioskop di Peunayong. Masing-masing bioskop dimiliki pengusaha Tionghoa dan Benggali. Mereka menjadi perintis usaha bioskop ketika belum ada anggapan bahwa usaha ini investasi yang menguntungkan. Selain Deli dan Rex, antara 1900-1936 ada beberapa bioskop yang cukup terkenal di Aceh, misalnya Bioscoop di Bireuen dan Langsa, Tiong Wha Bioscoop di Lhokseumawe, Sabang Bioscoop di Sabang, ada juga Gemeente Bioscoop di Sigli. Saat itu bioskop dikenal dengan kumedi gambar. Bioskop sudah hadir di Aceh bahkan sebelum listrik masuk. Untuk memutar film, tulis Rizal Saivana dkk. dalam artikel “Perkembangan Bioskop di Kota Banda Aceh, 1930-2004” yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah , Vol. 1, No. 1, Oktober 2016, orang-orang menggunakan pijar yang ditembak ke layar. Salah seorang bertugas memutar tuas agar film tetap berjalan. Film yang beredar pada 1930-an masih film bisu dengan warna hitam-putih. Film-film Eropa dan film Arab menjadi film yang banyak diputar di era ini. Di kursi paling depan duduk para pemain musik yang tugasnya mengisi kebisuan film. Pada 1947, Deli Bioskop berubah menjadi Garuda Bioskop. Di depan Garuda Bioskop inilah Presiden Sukarno pernah menyampaikan pidato politiknya pada 16 Juni 1948. Dengan begitu, Garuda Bioskop menjadi gedung bioskop paling bersejarah di Aceh. Selain Garuda Bioskop, ada pula Bioskop Merpati yang dibangun di tahun 1960 di Peunayong. Memasuki 1970-an, dibarengi dengan kemajuan perfilman Indonesia, film-film baru banyak diproduksi. Untuk memfasilitasi pemutaran film baru ini, bioskop baru juga banyak berdiri. Dari 1970-an sampai 1990-an, beberapa bioskop baru itu adalah Gajah Theater di Simpang Lima yang dibangun tahun 1975, Bioskop Elang di Setui (1978), Sinar Indah Bioskop (SIB) di Peunayong (1979), Bioskop Jelita di Beurawe (1979), dan Pas 21 di Pasar Aceh Shopping Centre (1980). Beberapa bioskop, seperti SIB, Jelita Theatre, Garuda Theatre, Bioskop Gajah, Bioskop Merpati, dan PAS 21 masih beroprasi hingga awal tahun 2000-an. Konflik berkelanjutan antara GAM-pemerintah Indonesia, yang disusul penetapan status darurat militer pada 2003-2004, mematikan bioskop. Tak ada bioskop di Aceh hari ini. Sejak 15 tahun lalu, begitu konflik Aceh pecah, mobilitas orang-orang jadi tebatas. Untuk keluar rumah dengan relatif aman, orang-orang hanya bisa melakukannya sejak pukul 06.00 pagi hingga 06.00 sore. Bioskop-bioskop sepi pengunjung. Bukan hanya itu, tsunami yang melanda Aceh akhir 2004 mengubah kondisi politik dan bioskop di Aceh. Konflik GAM-RI mereda sementara bioskop terlupa. Tak ada rekonstruksi gedung bioskop di Aceh. Sejak itu, masyarakat Aceh kehilangan ruang putar. Untuk menonton film, para pegiat film meminjam sebuah aula untuk mereka sulap jadi ruang putar. Pada Desember 2017, misalnya, Aceh Documentary menyelenggarakan Aceh Film Festival. Film-film diputar di Aula Taman Budaya. Usaha untuk menghadirkan kembali bioskop di Aceh jelas ada. Sejak lima tahun terakhir, isu tentang pembangunan bioskop di Aceh disampaikan oleh para pegiat dan penikmat film. Kehadiran bioskop bagi mereka tidak hanya sebagai sarana hiburan tetapi juga ruang apresiasi atas karya-karya film yang mereka buat. Namun, tulis Rizal dkk., sebagian orang menganggap kehadiran bioskop di Banda Aceh bisa memperluas akses maksiat bagi muda-mudi yang belum menikah. “Konotasi bioskop di Aceh agak negatif karena ruangnya gelap. Kalau ruang gelap, bisa dipisah antara laki-laki dan perempuan. Kalau filmnya, film itu kan subjektivitas pembuat film. Kalau kami hanya berusaha memasyarakatkan film. Film yang kami putar adalah film yang dekat dengan masyarakat Aceh,” kata Faisal.
- Ketika Sukarno Enggan Berperang Melawan Soeharto
DI kalangan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI), Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto adalah pahlawan. Kendati demikian, kepopuleran Soeharto tak mencegah para aktivis KAMI mendatangi rumahnya dan melayangkan protes. Mereka kecewa karena Soeharto tak melakukan apapun untuk mencegah pembubaran KAMI oleh Presiden Sukarno.
- Ida Sang Legenda
IDA Royani, aktris top 1970-an, tak pernah lupa suatu hari di tahun 1965 ketika sedang rekaman sebuah lagu anak-anak di Studio Remaco. Semangatnya langsung berganti kekesalan lantaran produsernya tiba-tiba memintanya mengganti lagu. Dia berarti harus memulai dari awal. Kekesalan Ida makin bertambah karena pencipta lagu penggantinya, yang diperkenalkan produser kepadanya, merupakan orang yang menyebalkan. “Kampungan,” kata Ida mengisahkan kesan pertamanya bertemu dengan Benyamin Sueb, kepada Historia . Lahir di Jakarta pada 24 Maret 1953, Ida sejak kecil hobi menyanyi. Keriernya dimulai dari penyanyi cilik. Pada 1960-an, Ida juga menjadi bintang iklan. Menginjak remaja, Ida mulai menyanyikan country . Penampilan Ida pun berganti menjadi funky : sepatu boots , baju trendy , dan rambut warna-warni. Ida dikenal sebagai penyanyi remaja yang funky dan fashionable. Gaya pakaian Ida kerap kali jadi panutan anak muda kala itu. Kepopuleran Ida bertambah ketika kerap sepanggung bersama Benyamin. “Sekitar 1968-1969 Ida mulai sering satu panggung dengan Ben, meski belum duet,” tulis Wahyuni dalam Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Pop Indonesia . Merasa cocok, Ben lalu mengajak Ida berduet menyanyikan lagu Betawi. Ida menerimanya. "Aku lulus SMA tahun 1972. Waktu itu aku sudah nyanyi sama Benyamin," kata Ida. Meski awalnya Ida kerap mendapat ejekan publik karena melakukan hal berkebalikan dari citranya yang fungky, a lbum perdana Ida-Benyamin, Tukang Kridit , sukses di pasaran. Orang-orang yang awalnya mengejek Ida malah berbalik menjadi pembeli kasetnya dan menjadi penggemar. Duet Ida-Benyamin menjadi salahsatu artis paling terkenal pada 1970. Beberapa hits mereka seperti “ Begini-Begitu”, “Di Sini Aje”, “Hujan Gerimis”, “Lampu Merah”, “Nimang Anak”, “Dipatil Ikan Sembilang”, atau “Tukang Kridit” amat familiar di telinga masyarakat . “Waktu terkenal-terkenalnya Benyamin waktu nyanyi sama aku,” kata Ida. Menurut Wahyuni, kesuksesan duet Ida-Ben disebabkan karena kemampuan Ida mengimbangi Benyamin. Bahkan Ida yang terkenal fashionable , pernah nyanyi mengenakan sandal jepit, kain, dan kebaya. T ak ada pasangan duet Benyamin yang bisa menyaingi Ida. Ketenaran mereka membuat Ida dan Ben dikenal sebagai pasangan legendaris. Namun, Benyamin bukan satu-satunya pasangan Ida. Ida pernah duet bareng Frans Daromes pada 1971. Ketika itu, Ida jarang tampil bareng Benyamin. Duet Ida-Benyamin memang beberapa kali putus-sambung. Usai duet dengan Frans, Ida kembali duet dengan Benyamin di acara Jakarta Fair. “Tahun 1975-1976 aku ke London. Tadinya mau belajar desain tapi aku cuma belajar modeling dan bahasa,” kata Ida. Duet mereka kembali bubar setelah Ida menikah dengan Pangeran Tengku Aziz dan pindah ke Malaysia tahun 1976. Tapi tahun 1978 Ida dan Benyamin kembali berduet di acara ulang tahun TVRI menyanyikan lagu “ Tuak Asem”. Dari hasil duetnya dengan Benyamin, Ida mendapat penghasilan besar. “Aku dan Benyamin kan lagi populer-populernya. Dan nyanyi itu hasilnya nggak sedikit, tiap bulan beli mobil bisa,” kata Ida. “Aku sama Benyamin bayarannya sama.” Tapi Ida dan Benyamin punya cara beda membelanjakan uang. “Aku nggak punya tanah yang berhektar-hektar, aku nggak punya gunung. Benyamin beli bukit, ditanami cengkih, aku nggak punya. Aku Cuma punya sepatu, tas, baju bermerek. Barang-barangku harganya hampir sama kayak tanahnya Benyamin.” Selain menyanyi, Ida juga bermain dalam 15 judul film dari 1970-1978. Di film pertamanya, Di Balik Pintu Dosa, Ida beradu peran dengan aktris Fifi Young. Ida juga beradu peran dengan Rhoma Irama dan menyanyi bersamanya di film itu. Tapi, dari 15 judul film yang dimainkan Ida, 10 di antaranya merupakan adu peran Ida dengan Benyamin. Keduanya bermain bareng antara lain di Benyamin Biang Kerok (1972), Ratu Amplop (1974), dan Tarsan Pensiunan (1976). Film Benyamin-Ida paling banyak diproduksi tahun 1974, mencapai 5 judul film. Ketika memutuskan berjilbab (1978), Ida mengurangi show dan akhirnya mundur dari dunia tarik suara. Namun, dia sempat membintangi sinetron Mat Beken di TPI yang naskahnya ditulis Benyamin. Keduanya juga menyanyikan lagu “Si Mirah Jande Merunde” yang jadi bagian sinetron itu. Duet keduanya bubar ketika Ida mundur dari dunia hiburan dan terjun ke dunia bisnis pakaian muslim.
- Mengapa Ahmad Sukarno?
PADA 1946-1947, mahasiswa Indonesia di Mesir giat mempromosikan nama Indonesia negeri seribu piramid tersebut. Selain mengadakan kegiatan amal dan diskusi, mereka pun aktif memperkenalkan para pemimpin Indonesia ke berbagai lapisan masyarakat. “Kita tidak bisa menafikan jika para pejuang Indonesia di Mesir menggunakan Islam sebagai alat pendekatan terhadap masyarakat dan pemerintah Mesir,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Upaya itu terbukti berhasil. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia telah mendapat simpati besar dari rakyat Mesir yang juga mayoritas muslim. Menurut M. Zein Hasan dalam Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, situasi itu disadari dan dimanfaatkan secara baik oleh para aktivis mahasiswa pendukung kemerdekaan Indonesia.
- Candi-candi di Mata Naturalis Inggris
NATURALIS Inggris, Alfred Russel Wallace, menumpang kapal pos Belanda dari Ternate menuju Surabaya. Dia bermukim di Jawa dari 18 Juli hingga 31 Oktober 1861. Karena biaya transportasi mahal, dia memutuskan melakukan perjalanan singkat ke suatu tempat di kaki Gunung Arjuna. Dari hasil perjalanannya, dia kagum dengan peninggalan peradaban Hindu-Budha dan mencatatnya dalam The Malay Archipelago. Dalam perjalanannya, Wallace berhenti di Modjo-kerto (Mojokerto), kota kecil sekitar 40 mil di selatan Surabaya. Dia menginap di rumah Mr. Ball, orang Inggris yang telah lama tinggal di Jawa. Ball mengajaknya ke Desa Modjo-agong (Mojoagung), tak jauh dari Mojokerto. Wallace mengamati puing-puing kota kuno, Modjo-pahit. Dia melihat dua tumpukan batu besar. Puing-puing itu adalah sisi dari sebuah pintu gerbang. “Keindahannya sangat menakjubkan. Batu yang digunakan sangat bagus dan keras, dengan sudut tajam dan permukaan rata. Sambungan antarbatu tak terlihat dan penyambung itu tidak memakai adukan semen atau campuran kapur,” catat Wallace. Di puing-puing itu tak ditemukan arca, tapi tembok batunya berhiaskan relief. Puing-puing bangunan tersebar hingga bermil-mil ke segala penjuru. Bahkan hampir setiap jalan besar dan kecil menunjukkan adanya pondasi bangunan di bawahnya seakan jalan kota tua. Sesampainya di rumah seorang wedana, kepala distrik Modjo-agung, Wallace melihat relief wajah perempuan cantik pada batu lava. Batu itu tadinya terkubur di suatu tempat dekat Modjo-agong. “Ekspresi saya terlihat sangat ingin memiliki relief itu, kemudian Ball memintakan relief itu untuk saya, dan senang sekali ternyata wedana itu langsung memberikannya,” katanya. Ukiran itu menggambarkan sosok Durga. Ukurannya kecil, dengan tinggi dua kaki dan berat sekira 100 pon. Dia kemudian mengirim arca durga itu ke Modjo-kerto. “Akan saya bawa ketika nanti kembali ke Surabaya,” lanjutnya. Wallace memutuskan tinggal beberapa waktu di Wonosalem, di kaki Gunung Arjuna. Perjalanan ke Wonosalem harus melalui hutan lebat. Di tengah hutan itu, dia menemukan reruntuhan bangunan kuno. Makam raja-raja itu terbuat dari batu dan diukir indah. Di dekat alasnya ada bagian menonjol yang memiliki relief. “Relief ini berupa serangkaian adegan yang mungkin melukiskan peristiwa yang pernah terjadi pada almarhum,” katanya. Beberapa di antaranya menggambarkan hewan yang mirip aslinya. Luas bangunan itu sekitar 30 kaki persegi, tinggi 20 kaki, dan terletak di daerah yang sedikit lebih tinggi dibandingkan sisi jalan. Bangunan seperti candi itu tertutup bayangan pohon raksasa yang penuh tanaman dan tumbuhan menjalar. Wallace juga menyebut beberapa karya seni paling penting. Beberapa di antaranya sudah lebih dulu dia ketahui lewat History of Java karya Stamford Raffles. Wallace menyebut kompleks candi di Desa Brambanam. Candi Brambanam atau sekarang disebut Prambanan, dulu lebih dikenal dengan Candi Loro-jongran. Di kompleks Candi Loro-jongran terdapat 20 candi, enam candi berukuran besar lebih dari 90 kaki, dan 14 candi kecil. Di daerah itu pula ada Candi Sewa atau Candi Seribu seluas 600 kaki persegi. Seperti Candi Loro-jongran, di candi ini banyak ditemukan arca berukuran besar. Wallace mencatat baris terluar terdiri dari 84 candi, baris kedua 76 candi, baris ketiga 64 candi, baris keempat 44 candi, baris kelima berbentuk jajaran genjang 28 candi. Jumlah seluruhnya 296 candi berukuran kecil yang diatur dalam lima jajaran genjang. Tumbuhan tropis telah merusak candi kecilnya, tetapi beberapa masih terlihat sempurna. Setengah mil dari Brambanam, ada Chandi Kali Bening, nama lain dari Candi Kalasan. Luasnya 72 kaki persegi dan tinggi 60 kaki. Keadaannya masih sangat bagus. Candi ini memiliki hiasan arca-arca Hindu, meski lebih tepatnya peninggalan Budha. “Keindahannya melebihi patung-patung India. Reruntuhan istana, pendapa, dan candi-candi yang berhiaskan relief dewa-dewa juga terdapat di tempat yang sama,” ujarnya. Melampaui Amerika Tengah dan India Wallace juga menyebut Borobodo (Borobudur), candi besar terletak kira-kira 80 mil ke barat di wilayah Kedu. Candinya terdiri dari sebuah kubah tengah dan tujuh tingkat teras yang menutupi kaki bukit. “Agaknya jumlah tenaga manusia dan keahlian yang dicurahkan untuk pembangunan Piramid terbesar di Mesir tak berarti bila dibandingkan dengan tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan candi penuh patung pada bukit di pedalaman Pulau Jawa ini,” tulis Wallace. Berikutnya Candi Gunong Prau, terletak kira-kira 40 mil sebelah barat daya Semarang, di sebuah gunung bernama Gunong Prau. Di sana ada dataran luas yang dipenuhi reruntuhan candi. Untuk sampai di kuil itu dibuatlah empat buah tangga batu dengan arah berlawanan. Tiap tangga punya lebih dari seribu anak tangga. Reruntuhannya hampir 400 candi yang dihiasi ukiran indah dan halus. Daerah yang terdapat di antara daerah ini dan Brambanam, yang berjarak sekitar 60 mil, dipenuhi puing. Tak jarang sebuah ukiran indah ditemukan pula, misalnya di sebuah parit atau di dinding bangunan yang tertutup. Wallace juga melihat, di Jawa bagian timur, terutama Kediri dan Malang, terdapat banyak peninggalan kuno. Sayangnya, sebagian besar bangunannya sudah rusak. Meski begitu, dia mengenali puing-puing itu sebagai bekas istana, benteng, kolam pemandian, saluran air, dan candi. “Kita akan merenungkan betapa anehnya hukum kemajuan yang nampak seperti kemunduran karena di berbagai belahan dunia terjadi penghancuran ras yang memiliki nilai artistik dan arsitektur tinggi,” ujar Wallace. Menurutnya, hanya sedikit orang Inggris yang memahami keindahan arsitektur Jawa. Peninggalan itu tak pernah digambarkan atau dilukiskan secara umum. “Sangat disayangkan karena peninggalan arsitektur Jawa melampaui yang ada di Amerika Tengah atau bahkan melampaui India,” pujinya. Sementara itu, Wallace melihat masyarakat Jawa membangun rumahnya dari bambu dan rumbia. Masyarakat juga cenderung mengabaikan karya nenek moyangnya itu. Mereka justru melihatnya sebagai hasil perbuatan raksasa dan iblis. “Saya merasa perlu untuk menarik perhatian orang terhadap karya seni yang mengagumkan ini. Terutama karena saya diliputi pemikiran tentang patung-patung yang jumlahnya tak terhitung ini, yang dikerjakan dengan kehalusan dan citarasa seni yang tinggi,” kata Wallace. Dia pun sangat menyangkan pemerintah Belanda tidak melakukan langkah besar untuk menyelamatkan reruntuhan bangunan kuno itu dari kehancuran akibat tumbuhan tropis. Pemerintah Belanda juga tidak berpikir untuk mengumpulkan arca-arca yang masih dalam keadaan baik, tapi tersebar di penjuru negeri.
- Sepakbola Soviet Era Stalin
MUSIM panas tahun ini, miliaran pasang mata akan tertuju ke Rusia. Negeri Beruang Merah mendapat kehormatan jadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Sebagai host , suksesor negeri adidaya Uni Soviet itu tentu tak ingin malu dengan hasil jelek. Sayang, catatan terakhir di Euro 2016 (Prancis), prestasi Alan Dzagoev dkk. bikin publik Rusia menundukkan wajah. Kalah 0-3 dari Wales di partai terakhir Grup B, timnas Rusia gagal melaju ke babak berikutnya. Rusia harus puas menempati urutan buncit klasemen grup di bawah Slovakia, Inggris, dan Wales. Tidak sedikit yang kecewa. Salah satunya, anggota parlemen merangkap ketua Partai Komunis Rusia, Gennady Zyuganov. Dia menginginkan sepakbola Rusia kembali ke masa kejayaan seperti di era Joseph Stalin. “Tim Rusia lembek. Kita butuh mobilisasi Stalinis, di mana mental dan fisiknya sangat kuat,” ucap Zyuganov, dikutip The Guardian , 21 Juni 2016. Kedigdayaan sepakbola di Rusia ambruk seiring kolapsnya Uni Soviet. Semasa Soviet, klub maupun tim nasional mampu berjaya di berbagai kompetisi berkat ditopang kelompok-kelompok buruh, institusi-institusi negara, hingga kalangan industri. Begitu semua runtuh, struktur sepakbola domestik kena dampaknya. Yang tak kalah penting, para pemain timnas Soviet tercerai-berai ikut negara masing-masing pecahanan Soviet. Sepakbola untuk Propaganda Sepakbola di Soviet sebetulnya baru diperhatikan Joseph Stalin setelah dia tak lagi disibukkan memerangi Jerman-Nazi di Perang Dunia II (PD II). Selama 1942-1945, semua kegiatan sepakbola di Soviet dihentikan total gara-gara perang dahsyat itu. “Pasca-PD II rezim Stalin memutar strategi politik dan misi diplomatiknya dengan penggunaan atribut olahraga, dalam hal ini sepakbola. Dinamo (Moskva) dijadikan kelinci propaganda pertama,” ungkap Arief Natakusumah dalam Drama itu Bernama Sepakbola: Gambaran Silang Sengkarut Olahraga, Politik dan Budaya. Semasa era Stalin, Dinamo Moskow merupakan klub yang berafiliasi dengan Kementerian Dalam Negeri Soviet, KGB (Badan Intelijen Soviet), dan NKVD (Kepolisian Rahasia Soviet). Bahkan dedengkot NKVD, Lavrentiy Beria, menjadi ketuanya sampai nyawanya dicabut dalam eksekusi mati Mahkamah Luar Biasa Soviet. Dinamo direstui Stalin menjadi “duta” Soviet ketika melancong ke Inggris atas undangan FA, beberapa bulan pasca-usainya PD II. Alasan Stalin merestui, selain untuk mengumbar propaganda ketangguhan Negeri Tirai Besi, sekaligus meyakinkan publik dalam negeri bahwa mereka tak kalah superior dari negara-negara Barat. Rombongan Dinamo – yang dalam catatan sejarah menjadi tim Soviet pertama yang menjejakkan kaki di Inggris– mendarat di Croydon, 4 November 1945 menggunakan pesawat Dakota DC-3. Selain Beria sendiri, sejumlah perwira NKVD mendampingi muhibah tim itu untuk memastikan agar para pemain Dinamo tak lupa daratan dan terpapar borjuisme di Inggris. Mereka disambut langsung Ketua FA Stanley Rous, staf kedutaan Soviet, dan ketua Partai Buruh Inggris pro-komunis Albert Victor Alexander. “Inggris adalah tanah kelahiran sepakbola. Tidak diragukan lagi semua pemain terbaik dunia adalah orang Inggris,” sanjung pelatih Dinamo Mikhail Yakushin dalam sambutannya, dikutip David Downing dalam Passovotchka: Moscow Dynamo in Britain 1945. Namun, belum lagi empat laga yang dijadwalkan berlangsung, psywar media keburu membuncah. Media-media Inggris melansir berita-berita bernada meremehkan. Salah satunya yang dituliskan reporter surat kabar Sunday Express Frank Butler: “Mereka tidak cukup bagus untuk melawan tim-tim profesional kita. Para pemain mereka nyaris semuanya amatiran.” Soviet balas menyindir dengan sasaran sambutan dingin tuan rumah. “Di Inggris, tanah kelahiran sepakbola, kami diterima dengan sambutan khas Inggris: tanpa bendera, musik, atau kalungan bunga. Pihak pemerintah Inggris bersikap dingin dan mereka membiarkan kami diserang jurnalis-jurnalis mereka. Kami memilih bermalam di Kedutaan Soviet, ketimbang penginapan yang mirip barak tanpa bantal,” ujar Vadim Sinyavsky, komentator radio Soviet yang ikut mendampingi. Dinamo tapi berhasil membuktikan kehebatannya di lapangan. Dari empat pertandingan yang dimainkannya, tak sekalipun mereka kalah. “Hasil tur Dinamo ke Inggris adalah memasukkan 19 gol dan kemasukan 9 gol,” ungkap Victor dan Jennifer Louis dalam Sport in the Soviet Union. Di laga perdana, 13 November 1945, Dinamo bermain imbang 3-3 melawan Chelsea di Stamford Bridge. Klub berjuluk Dinamiki itu bikin geger publik Inggris di partai kedua melawan Cardiff City di Ninian Park. Dinamo menang telak 10-1. Partai ketiga jadi partai yang paling ditunggu –Dinamo vs Arsenal. Kandang Tottenhan Hotspur, White Hart Lane, dipinjam untuk laga itu lantaran Stadion Highbury masih direnovasi. Sekira 55 ribu penonton di stadion yang diselimuti kabut itu menjadi saksi The Gunners menyerah 3-4 dari Dinamo. Di partai terakhir melawan Glasgow Rangers, Dinamo bermain imbang 2-2. Pada laga-laga itu, Dinamo sebenarnya “mencabut” beberapa pemain dari klub Soviet lain. Salah satunya, Vsevolod Bobrov, pemain CSKA Moskva juga bintang hoki es Soviet dan kawan dekat Vasily Stalin (putra Stalin). Pun begitu Arsenal, yang meminjam Stanley Matthews dari Stoke City, Stanley Mortensen (Blackpool), dan Harry Brown (Queens Park Rangers). Tapi toh Dinamo membuktikan sepakbola Soviet tak kalah hebat dari Inggris. “Bertahun-tahun berlalu sejak kami bertemu pertama kali dengan para pesepakbola Rusia. Semenjak itu di hati semua orang yang mengalami pengalaman itu, kata-kata ‘Dynamo Moscow’ mengingatkan akan konsep sepakbola yang berkelas,” kenang Matthews, dikutip Downing.
- AR Baswedan Dikerdilkan, Musso dan Sutan Sjahrir Dilupakan
MEDIO April 71 tahun lampau, kerjasama delegasi Republik Indonesia (RI) pimpinan Menteri Luar Negeri H. Agus Salim dengan pemerintah Kerajaan Mesir membuahkan persahabatan dahsyat. Sineas Indonesia dan Mesir kini mengabadikannya dalam film layar lebar bertajuk Moonrise over Egypt. Beberapa adegannya diambil langsung di Kairo, Mesir pada Agustus 2016. “Cukup banyak pemain dan kru yang berangkat ke Kairo, di samping bekerjasama dengan tenaga-tenaga sineas Mesir,” cetus sutradara Pandu Adiputra dalam press screening film tersebut, Jumat (1/3/2018). Filmnya mengisahkan pergulatan delegasi RI pimpinan Agus Salim (diperankan Pritt Timothy) dalam memperjuangkan pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. Meski begitu, Pandu membumbui film dengan dramatisasi, pembelokan alur cerita, hingga penghadiran tokoh-tokoh fiktif.





















