top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Museum Bahari Ditelan Api

    KEBAKARAN melanda Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara Selasa (16/1/18) sekira pukul 8.30 pagi. Dugaan sementara, api berasal dari hubungan arus pendek atau korsleting. Kobaran api menghanguskan bangunan dua lantai Gedung A, C, dan D. Pemadam kebakaran (Damkar) sampai mengerahkan 20 unit mobil pemadam ke lokasi. Api baru bisa dipadamkan sekira pukul 12 siang. Akibat upaya pemadaman, bagian bawah museum jadi terendam air setinggi betis orang dewasa. Hingga tulisan ini diturunkan, petugas damkar masih melakukan penyedotan air. Kebakaran menyebabkan sejumlah koleksi museum hangus. Yang terparah, koleksi di lantai 1 dan 2 Gedung A serta lantai 2 Gedung C. Menurut kepala Museum Bahari Husnison Nizar, api awalnya berkobar di sisi utara Gedung C. “Dari pantauan saya, semua hangus terbakar di lantai 2. Tapi kita belum bisa inventarisir apa saja koleksi yang terbakar,” ujarnya di Museum Bahari. Merujuk keterangan yang ada, lantai 1 Gedung A berisi sejumlah replika perahu. Sedangkan lantai 2 merupakan tempat beberapa diorama kemaritiman, dan lantai 2 Gedung C merupakan tempat koleksi alat-alat navigasi, maket Laut Jawa, dan miniatur-miniatur kapal laut. “Di Gedung C itu juga ada barang-barang pameran Perang Dunia II yang 27 Februari tahun lalu dihibahkan ke kita dari Kedutaan Belanda, Amerika (Serikat), Inggris, Australia. Dihibahkan dengan syarat pameran tetap selama setahun,” kata Nizar. Bangunan Museum Bahari mempunyai sejarah panjang dalam khasanah sejarah maritim tanah air. Dibangun secara bertahap antara 1652-1771, bangunan Museum Bahari mulanya merupakan gudang rempah VOC. (baca: Dari Gudang Rempah Jadi Gudang Sejarah) Pemerintah Hindia Belanda yang menggantikan VOC lalu menjadikan gudang itu sebagai gudang komoditas perkebunan seperti kopi, teh, dan kina asal Jawa Barat. Pada masa pendudukan Jepang, gudang itu berubah menjadi gudang logistik balatentara Jepang. “Baju-baju bagus rakyat diambil Jepang dan disimpan di sini lalu dikirim ke Burma, Malaysia,” kata kepala Koleksi dan Perawatan Museum Bahari Isa Ansyari kepada Historia beberapa tahun lalu. Semasa republik, bangunan itu sempat terlantar di bawah Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) sebagai pemilik sebelum kembali dijadikan gudang Telkom. Gubernur Ali Sadikin lalu mengambilalih gudang tersebut pada 1976 dan menjadikannya museum.

  • Rumah di Majapahit

    RUMAH tinggal penduduk dialasi jerami dan dilengkapi ruang penyimpanan yang terbuat dari batu sekira 1 meter. Gunanya untuk menyimpan barang milik mereka. Di atas tempat penyimpanan ini mereka biasanya duduk. Begitulah kesaksian Ma Huan, penerjemah Laksamana Cheng Ho, ketika mengunjungi ibukota negara Jawa. Menurutnya dalam Yingya Shenglan, di sana sang raja tinggal di kota bernama Moa-cia-pa-i (Majapahit) pada 1416. Tak seperti masa sebelumnya, permukiman era Majapahit setidaknya sudah lebih bisa dibayangkan. Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa menulis pada masa itu sudah ada kecendrungan untuk memperhatikan aspek dekorasi pada rumah-rumah. Salah satunya dekorasi berupa tokoh perempuan yang terbuat dari tanah liat. Unsur dekorasi istimewa itu biasanya simbol status.

  • Intisari Rivalitas Sepakbola Sejagat

    INGGRIS boleh bangga sebagai negeri penemu sepakbola modern, Jerman boleh jumawa sebagai hegemoni sepakbola internasional sejak usai Perang Dunia II, dan Spanyol boleh menggila sebagai pesona sejak awal milenium ketiga. Namun, Argentina dan Brasil sudah mengukir nama besar lebih dulu dari mereka. Meski masih masuk kategori negara berkembang, Argentina dan Brasil punya prestasi sepakbola yang sama sekali bukan berkembang. Keduanya bahkan menjadi bagian kiblat persepakbolaan bagi banyak negara. Dalam artikel di situs resminya, 6 Juni 2014, FIFA bahkan menyebut rivalitas Argentina-Brasil sebagai “The Essence of Football Rivalry” – Intisari Persaingan Sepakbola. Meski bertetangga, kedua negara punya kultur dan bahasa berbeda. Kalau Argentina berpenduduk mayoritas kulit putih dan berbahasa Spanyol lantaran dulunya merupakan koloni negerinya Ratu Isabella, Brasil punya banyak penduduk negro –didatangkan dari Afrika semasa kolonialisme penjelajahan dunia– dan berbahasa Portugis. Pada 1820-an, keduanya pernah terlibat konflik dalam Perang Cisplatine. Provincias Unidas del Rio de la Plata (nama Argentina kala itu) memerangi Kekaisaran Brasil demi untuk memperebutkan wilayah Banda Oriental (kini Uruguay). Argentina dan Brasil (bersama Uruguay) juga pernah bahu-membahu dalam satu aliansi ketika Perang Paraguay 1864-1870. Awal Persahabatan Dalam sepakbola, hubungan keduanya baru dirintis pada 1908 saat Presiden Argentina Jenderal Julio Argentino Roca, yang penggila sepakbola dan pernah menjadi duta besar Argentina untuk Brasil, membawa timnas negerinya menyambangi Brasil. Upaya itu bertujuan mempererat persahabatan lewat sepakbola. Namun ketika itu Brasil belum punya timnas. CBF (Federasi Sepakbola Brasil) sendiri baru berdiri pada 1914. Saat itu Brasil baru punya klub-klub kecil yang didirikan para imigran Inggris Raya, macam Sao Paulo Athletic Club atau Corinthian FC. Setahun berselang, persahabatan keduanya lantas diperkuat dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Argentina Roque Saenz Pena ke Brasil. “Segalanya menyatukan kita. Tidak ada yang memisahkan kita,” cetus Pena dalam pidatonya yang dikutip FIFA.com , 6 Juni 2014. Pertemuan resmi pertama kedua negara baru terjadi dalam laga persahabatan pada 20 September 1914 di Buenos Aires, Argentina. Tuan rumah perkasa dengan “mengajari” Brasil bermain bola lewat kemenangan 3-0. Tapi Brasil cepat belajar. Beberapa waktu kemudian, masih di tahun yang sama, Brasil menekuk Argentina 1-0 dalam gelaran Copa Roca. Copa Roca merupakan ajang kompetisi sepakbola tahunan yang dibuat Presiden Roca untuk menciptakan persaingan sehat antar-dua negara bertetangga dengan tuan rumah bergantian. Dalam event yang dihelat hingga 1976 itu, Brasil memenangi tujuh, Argentina tiga. Khusus gelaran 1971, keduanya keluar sebagai juara bersama. Titik Nol Rivalitas Persaingan keduanya pun mulai mengakar seiring terjadinya perubahan dari kekaguman menjadi kecemburuan. Hal itu terjadi setelah keduanya mulai terjun di turnamen-turnamen regional hingga internasional, seperti Copa America sampai Piala Dunia. Brasil berkembang cepat dan prestasinya melebihi Argentina kendati yang disebut terakhir lebih dulu mengenal sepakbola. “Ketika Argentina baru memenangkan satu Piala Dunia (1978) dan mulai dihormati di seluruh dunia hingga menjadi salah satu favorit di tiap kompetisi, Brasil sudah jauh meninggalkan mereka karena telah mengoleksi tiga gelar Piala Dunia (1958, 1962, 1970). Dari situlah rivalitas menjadi kian eksplisit dan keras di antara keduanya,” tulis Newton Cesar de Oliveira Santos dalam Brasil x Argentina: Historias do Maior Classico do Futebol Mundial . Hal senada diungkapkan sejarawan Osvaldo Gorgazzi. “Respek dan kekaguman orang Argentina terhadap Brasil tumbuh antara 1958-1970, terlebih ketika Brasil berhak memiliki trofi Jules Rimet secara permanen. Itu menjadi titik persaingan dimulai antara dua pendukung. Sampai-sampai di Piala Dunia 1978, pendukung Argentina selalu punya yel-yel mengejek terhadap Brasil,” tuturnya di situs fifamuseum.com , 21 November 2016. Namun, wartawan senior cum pengamat sepakbola Fernando Fiore punya pendapat lain. Dalam bukunya The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacle in the World , dia mengungkap permusuhan Brasil-Argentina sudah terjadi jauh sebelum itu. Tepatnya, saat gelaran Piala Dunia 1938 di Prancis. Ketika negara-negara Amerika Latin yang “dipimpin” Argentina memboikot Piala Dunia edisi ketiga itu, Brasil bersama Kuba malah tidak ikut masuk “barisan boikot”. Argentina dkk. menolak tampil di Piala Dunia 1938 sebagai bentuk protes. Bagi mereka, semestinya Piala Dunia 1938 kembali di gelar di Benua Amerika karena Piala Dunia 1934 Eropa mengambil jatah dengan Italia sebagai tuan rumahnya. “Mungkin Kuba tetap berpartisipasi karena itu Piala Dunia pertama mereka dan tidak ingin menyia-nyiakannya. Dan Brasil...entah apa alasannya. Tapi apapun itu, Argentina tidak memaafkan mereka selama bertahun-tahun. Ini menandai awal permusuhan dua negara adidaya Amerika Selatan,” tulis Fiore. Dampaknya, Argentina ogah tampil di Piala Dunia 1950 yang digelar Brasil sebagai bentuk kekecewaan mereka. “Argentina menolak ikut tampil, mengingat Brasil tak mendukung boikot Amerika Latin di Piala Dunia 1938. Hasilnya, hubungan keduanya tetap memburuk dan menambah rivalitas bersejarah keduanya,” tambah Fiore. Perbandingan Prestasi Hingga kini, Argentina dan Brasil sudah 108 kali bersua. Brasil 44 kali menang, Argentina dengan 39 kali menang, dan 25 lainnya berakhir imbang. Brasil lebih mentereng di ajang Piala Dunia dengan lima kali merebut trofi Piala Dunia, sementara Argentina baru dua. Di Piala Konfederasi, Brasil menang empat kali dan Argentina sekali. Namun Argentina lebih superior di Copa America dengan koleksi 14 trofi, sementara Brasil baru delapan. Namun publik sepakbola internasional tak hanya mempersoalkan hasil dan raihan trofi. Mereka juga membandingkan para legenda dan bintang-bintang kedua negara, semisal rivalitas Pele vs Maradona di masa lampau dan Lionel Messi vs Neymar da Silva Junior di zaman now . “Mengalahkan Brasil lebih menyenangkan ketimbang mengalahkan tim lain. Hal sebaliknya berlaku bagi mereka! Mereka lebih bahagia menang dari kami ketimbang menang dari Belanda, Italia, Jerman atau tim lain. Bagi saya pribadi, tidak ada hal yang lebih indah dibanding mengalahkan Brasil,” cetus Maradona di situs resmi FIFA. Hal itu diamini sosiolog Argentina Pablo Alabarces. “Brasil senang bisa membenci Argentina dan Argentina benci untuk senang terhadap Brasil”, ujarnya. Maka, kalau sedang ada pertandingan Brasil melawan negeri lain, fans Argentina 100 persen bakal mendukung tim yang menjadi lawan Brasil. Begitu juga sebaliknya. Level Klub, Pengecualian Namun, perseteruan Brasil-Argentina tak berlaku di klub. Fans sepakbola di Argentina tetap akan mengelu-elukan seorang pemain Brasil jika dia membela tim kesayangan mereka. Begitu juga sebaliknya. Sebagai contoh, kiper Argentina Edgardo Andrada yang bermain di klub Brasil Vasco da Gama. Dia dipuja-puja fans Vasco lantaran pernah menahan penalti Pele yang berseragam klub Santos pada 1969. Jose Poy, kiper Argentina yang membela klub Brasil Sao Paulo (1948-1963) juga menjadi salah satu idola fans setia Sao Paulo. Sama halnya ketika pemain Argentina Carlos Tevez dan Javier Mascherano jadi pujaan fans klub Brasil Corinthians lantaran ikut memberi gelar. Walau demikian, jika kembali ke level internasional, aroma persaingan tetap kental. Tensi pertandingan berubah panas. Kedua negara terakhir kali bersua dalam partai persahabatan di Melbourne Cricket Ground, Australia pada 9 Juni 2017. Argentina menang 1-0 dari Brasil. Meski kalah, mantan pelatih yang juga pengamat sepakbola Timo Scheunemann, justru lebih menjagokan Brasil sebagai salah satu favorit terkuat di Piala Dunia 2018 setelah Jerman dan Prancis. “Brasil sudah jauh lebih kuat dari saat mereka dikalahkan Jerman (1-7 di semifinal) di Piala Dunia 2014. Itu sudah tidak bisa disamakan. Argentina saya tempatkan di favorit keempat dan terakhir baru Spanyol,” ujar Coach Timo.

  • Pembersihan Mahasiswa IPB dan UI

    PASCA Peristiwa Gerakan 30 September 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan sebagai partai terlarang hingga sekarang. Pembersihan pun dilakukan baik kepada anggota maupun simpatisan PKI, termasuk mahasiswa. Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Syarif Thayeb mengeluarkan Surat Keputusan Menteri PTIP No. 01/dar Tahun 1965. “Suasana politik yang disebabkan G30S/PKI memang sangat tidak menentu. Untuk pengamanan perguruan tinggi, yang oleh PKI justru dianggap sebagai benteng terakhir, maka tindakan yang cepat harus saya ambil. Sebagai menteri PTIP, saya menerbitkan serangkaian kebijakan,” kata Sjarif Thayeb, “Tegas, Konsisten, tetapi Luwes,” termuat dalam Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun . Thayeb melakukan tiga tindakan besar. Pertama , membubarkan 14 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang diselenggarakan PKI atau organisasi massa di bawahnya, yang terdiri dari empat universitas, satu institut, dan sembilan akademi. Ke-14 PTS tersebut antara lain Universitas Res Publika, Universitas Rakyat Indonesia, Universitas Rakyat, Universitas Pemerintah Kotapraja Surakarta, Institut Pertanian EGOM, Akademi Ilmu Sosial Aliarcham (AISA), Akademi Ilmu Politik Bachtaruddin, Akademi Teknik Ir. Anwari, Akademi Jurnalistik Dr. Rivai, Akademi Musik W.R. Supratman, Akademi Jurnalistik dan Publisistik Taruna Patria, Akademi Ilmu Ekonomi Dr. Sam Ratulangi, Akademi Sastra Multatuli, dan Akademi Sejarah Ronggowarsito. Kedua, membekukan dan melarang kegiatan-kegiatan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Perhimi). Ketiga, menginstruksikan kepada segenap pimpinan PTN dan PTS untuk mengamankan kebijakan tersebut serta melanjutkan pembersihan. “Khusus mengenai Universitas Res Publica yang didirikan oleh Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia), kemudian diganti dengan Universitas Trisakti sampai sekarang. Rektornya saat itu Ny. Utami Suryadarma terpaksa saya berhentikan karena tidak mampu menguasai dan mengendalikan kampus,” ujar Thayeb. Toyib Hadiwidjaya, rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak 1 Oktober 1966, melaksanakan kebijakan tersebut. Dia melakukan pembersihan kampusnya sampai dijuluki “tukang sapu” dari IPB. “Dalam usaha rehabilitasi, saya bertindak drastis. Dari sejumlah 2.300 mahasiswa IPB, sebanyak 600 saya pecat. Kemungkinan mereka terlibat dalam G30S/PKI, sebab mereka tidak memenuhi panggilan untuk kembali ke kampus. Oleh karena itulah saya mendapat predikat ‘tukang sapu’ dari IPB,” kata Toyib, “Penyuluh Pertanian dan Peternakan yang Tiada Bandingan,” termuat dalam Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun . Selain IPB, Universitas Indonesia (UI) juga membersihkan diri dari mahasiswa yang diduga terlibat gerakan komunis. Sejak Juni 1966, UI mewajibkan setiap mahasiswa mengisi formulir screening yang disediakan masing-masing fakultas. “Jika mereka tidak mengindahkan aturan screening ini maka konsekuensinya adalah keluar dari fakultas,” tulis Kompas, 7 Juni 1966. Tiga bulan kemudian, Agustus 1966, hasil screening keluar dan dikuatkan dengan SK Rektor UI No. 18/SK/BR/66 tentang hasil screening terhadap mahasiswa yang menentang aksi Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). “Berdasarkan hasil screening , pihak UI memecat 13 mahasiswa, 264 mahasiswa terkena larangan mengikuti kuliah hingga awal tahun 1967, dan 760 mahasiswa terkena wajib lapor dan indoktrinasi,” tulis Kompas, 4 Agustus 1966.

  • Menikmati Sejarah Kue Pai

    PAI, atau pie dalam bahasa Inggris, merupakan sebutan bagi kue dengan adonan pastry yang diberi isian. Pai bisa disajikan dengan bentuk adonan isi yang tertutup maupun terbuka, kecil, besar, gurih, ataupun manis. Pai pertama dibuat secara sederhana dan umumnya dengan rasa gurih yang terdiri dari keju dan daging. Kamus The Oxford English Dictionary melacak penggunaan kata “pie” pertama yang dikorelasikan dengan makanan pada 1303. Tercatat kata itu menjadi terkenal dan kian populer pada 1362. Namun di balik itu, rupanya tradisi membuat panganan serupa sudah populer sejak masa yang jauh lebih tua. Galettes Awal-mula pai dijadikan sebagai menu pencuci mulut berasal dari periode Neolitik yang dimulai pada 9500 SM. Pai masa ini dikenal dengan sebutan galettes . Ia berisi biji-bijian yang berbeda dengan madu. Galettes dibuat dengan dipanggang di atas bara panas. Pai Ramses II Pastry dibuat tukang roti dengan menambahkan buah, kacang, dan madu di dalam adonan rotinya. Pai ini disajikan bagi Ramses II (1304-1237 SM), raja Mesir Kuno. Bukti dari praktik ini menghiasi dinding makan sang raja. Pada dinding makam Ramses III yang memerintah pada 1186-1155 SM juga ditemukan lukisan pai dengan bentuk spiral. Pai bangsa Romawi Setelah mengalahkan Yunani, bangsa Romawi mengadopsi tradisi kulinernya. Termasuk galettes . Galettes ala Yunani terbuat dari daging yang dibungkus campuran tempung dan air. Pembungkus dari tepung ini berfungsi menjaga supaya lemak, yang biasanya menetes dari daging ketika dipanggang, tidak hilang. Orang Romawi lebih bervariasi dalam menggunakan jenis daging dan berbagai jenis sajian hidangan penutup. Itu termasuk makanan yang disebut dengan secunda mensa , yang merupakan pastry manis terdiri dari buah-buahan. Pai Raja Hanry VI Kebiasaan membuat pai menyebar ke seluruh Eropa. Partridge pie atau pai dengan isian daging ayam hutan diketahui menjadi salah satu makanan yang disajikan saat perayaan penobatan Raja Inggris, Henry VI pada 1429. Pai Apel Sekira abad pertengahan, resep pai apel ( apple pie ) menyebar ke Inggris, Prancis, Italia, sampai Jerman. Pai Kaum Pilgrim Para perempuan dari kaum pilgrim (musafir) membawa resep pai favorit keluarga mereka ke Amerika pada 1620 untuk dijadikan menu makanan penutup. Mereka menggunakan tambalan kue tradisional dan memasukkan buah-buahan, seperti buah berry, ke dalamnya. Resep ini kemudian diadaptasi di era Dunia Baru. Pai Labu Resep pai labu ( pumpkin pie ) pertama yang pernah diketahui muncul di dalam resep masakan British pada 1675. American Pie Perempuan kolonial di Amerika memulai tradisi menggunakan panci bulat untuk membuat pai. Adonan pai yang sudah dipipihkan ditutup dengan adonan pai lainnya yang juga sudah dipipihkan lalu dipotong tepiannya. Pai kemudian menjadi bagian dari budaya Amerika pada 1700-an. Pai George Washington Resep pai favorit George Washington, presiden pertama Amerika Serikat, adalah pie of sweetbreads . Resep ini diambil dari Martha’s Historic Cookbook, a Possession of the Pennsylvania Historical Society . Martha Washington, istri persiden, dikenal pandai memasak. Bahan untuk membuat pai ini di antaranya telur, krim, tepung, margarin, roti manis, dan kerang. Pai Mark Twain Pada 1880, sastrawan Samuel Clemens atau yang dikenal dengan Mark Twain memasukan pai sebagai salah satu makanan favoritnya dalam bukunya A Tramp Abroad . Pengurus rumah sekaligus temannya, Katy Leary, memanggang huckleberry pie sebagai menu makan siang tuannya. Hal ini dimuat dalam buku The American Heritage Cookbook . Ensiklopedia resep masakan modern Pada 1947, sebanyak 65 resep pai manis yang berbeda terdaftar dalam Modern Encyclopedia of Cooking . Pai era modern Pai saat ini beragam. Bukan hanya soal ukuran dan bentuk, namun juga variasi isi. Isian pai disesuaikan dengan kekhasan daerah tertentu. Di India, lumrah ditemui pai dengan isian berbumbu kari. Di Indonesia, pai lebih dikenal dengan nama pastel, dengan isian buah, sayuran, atau daging cincang. Namun, hingga kini, di Amerika khususnya, kata “pie” identik dengan hidangan penutup yang sering disajikan dengan berbagai topping , seperti krim kocok maupun es krim.

  • Enam Dasawarsa Bersama Saudara Tua

    PADA 20 Januari 2018, Indonesia akan memperingati 60 tahun hubungan persahabatan dengan Jepang. Momentum bersejarah itu juga akan diperingati di Tokyo, Osaka, Fukuoka, Nagoya, Hiroshima, dan Hokkaido dengan spirit “Work Together, Walk Together”. Kedua pemerintah akan menggelar beragam acara dengan melibatkan akademisi, pemuda, dan publik figur. Gadis cantik eks anggota Idol Group AKB48 dan JKT48 Haruka Nakagawa mendapat kepercayaan jadi duta Persahabatan Indonesia-Jepang. Sementara, logo peringatan akan menggunakan rancangan Kresna Setya Wiratama, siswa kelas XII SMAN 2 Ngawi, Jawa Timur, berupa elaborasi wayang dan bunga sakura. Hubungan kedua bangsa memang sudah terjalin sejak lama. Menurut catatan, pada abad ke-17 sudah ada niagawan Jepang yang rutin mendatangi Jawa atau pulau-pulau lain di Nusantara. Namun, Jepang secara resmi baru masuk pada Februari 1942. Mereka datang sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bangsa Asia dari kolonialisme Barat dengan slogan Tiga A: Nippon Pemimpin Asia, Pelindung Asia, dan Cahaya Asia. Mereka baru hengkang begitu kalah Perang Dunia II tiga setengah tahun kemudian. Lepas dari kekejaman masa pendudukannya yang singkat itu, Jepang punya andil bagi berdirinya Republik Indonesia. Pendudukan Jepanglah yang memungkin nasionalisme Indonesia masuk ke akar rumput dan bertumbuhkembang pesat. Dalam praktiknya, nasionalisme itu mewujud dalam beragam kegiatan yang dilakukan badan-badan bentukan Jepang sepeti PETA (Pembela Tanah Air), Fujinkai (Organisasi Perempuan), atau Heiho (Pembantu Militer Jepang). Banyaknya organisasi semi-militer bentukan Jepang, seperti PETA, pada gilirannya menjadi modal bangsa Indonesia ketika mendapatkan kemerdekaan dan mempertahankannya dari rongrongan Belanda yang ingin kembali berkuasa usai perang. Para aktor utama dalam berbagai pertempuran semasa revolusi macam Soedirman, A. Yani, Ibrahim Adjie merupakan didikan Jepang. Serdadu-serdadu Jepang sendiri tak sedikit yang memilih tetap tinggal di Indonesia dan ikut bertempur mempertahankan kemerdekaan Indonesia, 1945-1949. Namun, hubungan diplomatik Indonesia-Jepang baru mulai membenih setelah adanya Treaty of San Fransisco, perjanjian damai Jepang-Sekutu dan negara-negara yang pernah dijajahnya, 8 September 1951. Indonesia, diwakili Menlu Ahmad Subardjo, menjadi salah satu negara yang hadir. Traktat itu antara lain menghasilkan pampasan perang, termasuk untuk Indonesia sebesar 220.080.000 dolar Amerika. Subardjo awalnya merasa terpaksa ketika bersedia ikut meneken hasil traktat. Pasalnya, permintaan amandemen Ayat 9 tentang perikanan dan Ayat 12 tentang perdagangan tak dikabulkan pimpinan konferensi traktat tersebut –hal yang membuat traktat itu kemudian tak kunjung diratifikasi. Subardjo bersedia ikut menandatangani traktat itu setelah mendapat jaminan pribadi dari Perdana Menteri (PM) Jepang Shigeru Yoshida, yang menemui Subardjo di sela-sela jeda konferensi dan melakukan pembicaraan empat mata. “PM Yoshida dalam pembicaraan tertutup itu memberi jaminan lisan dan tertulis bahwa Jepang akan menunaikan kewajiban mereka dengan niat baik dan menginterpretasikan Ayat 9 dan 14 dengan lebih fleksibel. Ini yang kemudian mendorong Subardjo mau ikut menandatangani traktat itu,” ungkap KV Kesavan dalam artikel “The Attitude of Indonesia towards the Japanese Peace Treaty”, dalam jurnal Asian Studies: Journal of Critical Perspective on Asia. Jaminan Yoshida itu mulai direalisasikan pada Desember tahun yang sama. “Pada pembicaraan pertama di Tokyo itu, Indonesia menuntut pampasan perang (tambahan) 17,5 miliar dolar Amerika,” tulis Audrey Kahin dalam Historical Dictionary of Indonesia. Jepang menolak. Jepang sendiri menginginkan perizinan untuk para nelayan mereka berburu ikan di perairan Indonesia sebagai salah satu syarat negosiasi. Di sisi lain, PM Yoshida menjanjikan kemitraan dalam berbagai bidang ekonomi. “Jika Indonesia berkenan bekerjasama dengan Jepang dalam membangun Asia yang baru, Jepang bersedia menambah pampasan perang 200-300 juta dolar Amerika, namun Jika Indonesia menolak, Jepang takkan membayar sepeser pun pampasan perang,” cetus Yoshida mengingatkan, sebagaimana dikutip Masashi Nishihara dalam Japanese and Sukarno’s Indonesia: Tokyo-Jakarta Relations 1951-1966 . Meski hubungan diplomatik kedua negara belum ada pada 1951, kerjasama di bidang bisnis sudah berjalan. Menurut Nishihara, pada 1951 beberapa perusahaan asal Indonesia seperti DMC, Bakri Bros, CTC, dan Oei Tiong Ham Concern sudah membuka kantor di Tokyo dan Osaka. Niat Jepang untuk “rujuk” dengan Indonesia menguat pada 1952 hingga 1957, terutama setelah PM Jepang dijabat Nobusuke Kishi. “Tidak seperti para pendahulunya, Kishi ingin menjalin integrasi ekonomi dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Kishi kemudian jadi PM Jepang pertama setelah perang yang mengunjungi Asia Tenggara pada Mei 1957,” tulis Indonesian Economic Decolonization in Regional and International Perspective . Berbarengan dengan itu, tensi hubungan Indonesia-Belanda memuncak. Presiden Sukarno dan beberapa ideolog negeri seperti Chairul Saleh mulai mendekati Jepang yang dianggap potensial sebagai sekutu dalam membangun perekonomian nasional. Pada 28 November 1957, Sukarno dan Kishi menandatangani perjanjian kerjasama. Menurut Nishihara, di buku yang sama, perjanjian yang baru diumumkan pada 8 Desember 1957 itu berisi bantuan pembangunan dari Jepang untuk Indonesia sebesar 400 juta dolar Amerika dan tambahan pampasan perang dengan nominal serupa. Perjanjian itu menjadi batu pijakan baru bagi rekonsiliasi kedua negara. Hubungan diplomatik lantas didirikan atas Perjanjian Perdamaian yang ditandatangani kedua pihak pada 20 Januari 1958. Sebulan setelah lahirnya hubungan resmi, Soekarno bertandang ke Jepang . “Pembayaran pampasan-pampasan perang itu sudah bergulir di awal tahun 1960. Setelah 1957, jalinan ekonomi antara Jakarta dan Tokyo berkembang. Jepang mulai membeli kebutuhan primer dari Indonesia. Indonesia juga mulai mengekspor minyak ke Jepang. Setidaknya 46 persen minyak mentah Indonesia diekspor ke Jepang, sebagaimana juga hasil alam lainnya seperti bauksit, nikel, karet dan kayu.” Kemitraan itu terus bertahan. Hingga kini, Jepang salah satu mitra ekonomi terpenting Indonesia. Situs Kementerian Luar Negeri RI, kemlu.go.id , 17 Desember 2017 mengungkapkan, Jepang merupakan investor terbesar kedua untuk Indonesia (nilai investasinya pada 2016 mencapai 5,4 milyar dolar Amerika). Hal itu berjalan terutama setelah disepakatinya Strategic Partnership for Peaceful and Prosperous Future pada 28 November 2006 dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement, 20 Agustus 2007. Toh, kerjasama Indonesia-Jepang tak semata di bidang ekonomi. Kerjasama juga terjadi pada bidang-bidang lain seperti pendidikan, kebudayaan, hingga pertahanan. Sebagai penghormatan terhadap kerjasama itu, di kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Jepang sampai ada patung perunggu Jenderal Soedirman setinggi empat meter. Patung itu merupakan hadiah persahabatan dari Kemenhan RI pada 2011. “Menteri Purnomo (Yusgiantoro, Menhan RI saat itu) mempersembahkan patung perunggu ini pada Januari 2011. Patung sosok Soedirman yang punya kedekatan dengan Jepang,” tulis pernyatan resmi situs Kemenhan Jepang, mod.go.jp.

  • Mengusung Ulah Adigung

    LOGAT Sunda begitu kental mengiringi cerita yang keluar dari mulut Tommy Manoch. Padahal, dia blasteran Kupang-Belanda. Meski sudah beberapa kali terserang stroke ringan, Tommy masih bergairah jika mengenang masa mudanya menjadi joki kuda besi di lintasan balap. Pria kelahiran Bandung, 3 Maret 1947 dari pasangan John dan Edith Manoch itu merupakan satu dari sedikit maestro balap motor yang masih ada. Dia merintis karier balap melalui balap sepeda. Sejak usia 8 tahun, Tommy sudah ikut berbagai lomba balap sepeda. Meski sudah tak ingat pastinya, dia sempat beberapa kali juara. Suatu hari, ayahnya yang hobi motor membelikan Tommy sebuah motor BMW 250. “Mulanya saya enggak suka sama motor. Awalnya juga saya diamkan saja di rumah. Tapi beberapa waktu kemudian, saya coba di lingkungan rumah, eh kok enak juga (jajal motor) ya. Dari situ saya mulai sering datang ke ajang balapan, hanya sekadar nonton saja,” ujarnya kepada Historia . Dari situ pula Tommy mulai kenal sejumlah pembalap senior macam Tjetjep Heriyana serta M Gumilar. Tommy pun terjun ke dunia balap motor. Debutnya terjadi di GP Indonesia 1963 di Sirkuit Curug. Sebagai pendatang baru, Tommy yang mengendarai Honda CB72 250cc tampil prima meski sebelumnya terserang demam. Dia menjuarai dua kelas sekaligus. “Pembalap muda ini keluar sebagai pemenang pertama dalam nomor 250 cc, junior (25 km) dengan Honda dan merebut pula gelar juara pertama dalam 250 cc Grand Prix (42 km) ,” tulis Majalah Djaja tahun 1963. Sekira tiga setengah tahun berkarier di balap motor, Tommy lalu menjajal balap mobil. “Belakangan saya coba balap mobil, diajak Hengky Iriawan (ipar Tommy). Saya coba mobil dan go-kart sampai ke Makau. Di Makau saya balapan dengan (mobil) Mini Cooper,” lanjut Tommy. Namun, karier Tommy di arena balap roda empat amat singkat dan berakhir tragis. Kecelakaan mencederai dirinya. Dia lalu memilih pensiun. Prinsip Karier balap sarat prestasi di tingkat nasional Tommy tak semata berasal dari kerja kerasnya. Menurutnya, ada prinsip yang selalu dia pegang. “Ulah Adigung” namanya, istilah bahasa Sunda yang berarti: “Jangan Sombong”. Tommy menuliskan prinsip itu sebagai slogan di tangki motornya. “Ungkapan itu ya muncul dari diri saya sendiri. Karena saya merasa yang lain pada bangga (pamer) dengan pakai motor merek-merek yang lebih keren. Saya merasa, kok enggak ada yang bangga sama Indonesia? Dari situ saya cat saja tangki motornya itu, saya tuliskan: ‘ Ulah Adigung ’,” kata Tommy. Prinsip itu mendorongnya untuk selalu tampil sportif saat balapan, bahkan ketika ada saingan yang mencoba berbuat curang. “Ada satu pembalap (sengaja namanya tidak disebutkan), mau curangin tangki bensin saya waktu balapan di (sirkuit) Pangkalan Jati. Tangki saya itu diisi air sama anak buahnya, biar motor saya macet, biar mogok. Tapi sebelum balapan, saya sudah tahu. Saya tidak marah. Malah saya coba datangi. Saya ajak bicara bahwa kita ini balapan buat Indonesia juga, makanya jadilah pembalap yang baik, yang sportif. Habis itu nangis dia, peluk saya,” ujarnya. Prinsip itu pula yang ikut menentukan karier Tommy setelah pensiun balap. Meski sempat bekerja di Honda Imora, dia kemudian pilih membaktikan diri pada kemanusiaan. Tommy bekerja sebagai pelayanan ibadah untuk para tahanan yang beragama Nasrani di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Untuk biaya hidup, Tommy dan istri bersama putra bungsunya mengelola sebuah perusahaan kosmetik E&T di rumahnya, kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. “Tapi setelah kena stroke , Papa sudah tidak lagi. Soalnya pernah kejadian pas mau pulang dari (memberikan) pelayanan itu, Papa sempat jatuh di tengah jalan,” timpal Berto, putra Tommy. Agustus 2015 silam, Tommy mendapat kejutan tak bernilai. Dia mendapat hadiah sebuah motor replika Honda CB72 persis yang digunakannya saat balapan dulu. Motor itu dibangun kembali atas bantuan Ulah Adigung Project yang diprakarsai fotografer cum bikers dari Elders Company Heret Frasthio, Berto putra sulung Tommy, Omar, dan Arya Hidayat. Dari kampanye yang mereka galang, terkumpul sumbangan sejumlah parts dan dana sekira Rp50 juta. “Kita menggagas ini karena merasa perlu adanya tokoh yang kita angkat dalam permotoran Indonesia. Kita rebuild berdasarkan riset foto-foto Om Tommy yang ada. Kita juga kampanye via online dan media sosial dengan memperkenalkan siapa sih Tommy Manoch ini,” kata Heret ketika ditemui terpisah. Selain mendapat banyak sumbangan dari berbagai komunitas, mereka menggunakan berbagai komunitas itu untuk menyebarkan pesan yang diangkat lewat slogan “Ulah Adigung” milik Tommy Manoch ke semua bikers di Indonesia. “Yang diangkat visi sosial, dan diharapkan bisa menginspirasi banyak orang. Makanya kemudian project ini kami katakan sangat berhasil.” Heret mengaku, timnya sempat bimbang untuk menghadiahi Tommy motor itu. Tapi setelah rembukan dengan keluarga, mereka mantap. Pada 17 Agustus (2015) di acara Mods vs Rockers, kita serahkan motornya ke Om Tommy,” lanjut Heret. “Om Tommy responsnya terkejut banget, bahagia banget . Dia yang mendadak jadi sehat langsung naik ke panggung. Motornya dinyalain, di- starter , dibawa keliling dengan kondisi habis stroke.” Motor legendaris Tommy itu kini berada di sebuah sudut dekat pintu depan kediaman Tommy. Bersamanya, berbagai memorabilia tentang Tommy memenuhi dinding ruangan. Kondisi motor itu masih terjaga, mesinnya masih bisa dihidupkan. “Tapi memang beberapa bagiannya saya cabut, saya lepas. Takut tiba-tiba atau diam-diam Papa nekat nyalain (mengendarai) motornya,” kata Berto.

  • Ketika Bung Besar Digugat Cerai

    PROKLAMATOR dan Presiden pertama RI Sukarno, dikenal sebagai seorang pencinta. Tidak hanya pencinta seni, Bung Besar juga pencinta makhluk Tuhan bernama wanita. Tidak heran sepanjang hidupnya acap diramaikan kisah-kisah percintaan dengan sembilan istri. Ada yang bertahan sampai akhir hayat Putra Sang Fajar, ada pula yang akhirnya menggugat cerai. Dari kesembilan istri Bung Karno, enam di antaranya berakhir dengan perceraian; Siti Oetari, Inggit Garnasih, Kartini Manoppo, Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar. Sukarno dan Oetari Lantaran menumpang di rumah “mentornya”, HOS Tjokroaminoto di Gang Paneleh, Surabaya, Sukarno muda bisa dekat dengan keluarganya. Termasuk dengan Siti Oetari, putri sulung HOS Tjokroaminoto. Sukarno memutuskan untuk menikahinya pada 1921. Ketika itu, Oetari belum lama ditinggal mati ibunya dan membuat kondisi keluarga Tjokroaminoto tertekan. “Bila aku perlu menikahi Oetari guna meringankan beban orang yang kupuja itu (Tjokroaminoto), itu akan kulakukan,” cetus Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Ketika itu, usia Bung Karno belum 21 tahun dan Oetari juga masih 16 tahun. Keduanya seolah “kawin gantung” karena Sukarno muda belum berniat hidup seperti lazimnya suami-istri. Keduanya pun secara usia sejatinya belum matang untuk melepas masa lajang. Di tahun itu pula Sukarno pindah ke Bandung untuk berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB). Namun baru dua tahun di Bandung, Sukarno memilih menceraikan Oetari. Gara-garanya, Sukarno muda menemukan kepincut istri orang yang merupakan cinta sejati pertamanya –Inggit Garnasih, hingga memutuskan menceraikan Oetari pada 1923 dan menikahi Inggit. “Ini cinta yang sebenarnya. Cinta dewasa yang sudah ada birahi di dalamnya. Akhirnya Inggit bilang ke Sanusi, Sukarno bilang ke Tjokro. Jadi Sukarno memulangkan Oetari ke Pak Tjokro baik-baik. Sanusi juga berpesan pada Sukarno, jangan sia-siakan Inggit,” tutur Roso Daras, Sukarnois dan penulis buku-buku Sukarno kepada Historia . Sukarno dan Inggit Garnasih Kisah percintaan Sukarno dan Inggit berawal dari asmara terlarang di Kota Kembang. Sukarno yang pada 1921 baru pindah ke Bandung, statusnya suami orang (Siti Oetari). Inggit yang usianya juga lebih tua 13 tahun, berstatus istri orang (H Sanusi, politisi Sarekat Islam). “Tapi ya sifatnya kawin gantung karena keduanya (Sukarno dan Oetari) masih sangat muda,” cetus Roso Daras. Di rumah kos di Bandung milik Inggit itulah benih-benih cinta tersemai. Sampai akhirnya mereka memutuskan menikah pada 24 Maret 1923. Tentunya setelah Sukarno menceraikan Oetari dan Inggit menceraikan H Sanusi. Susah senang dilalui bersama. Termasuk ketika Sukarno dibui di Penjara Banceuy, hingga mesti diasingkan ke banyak tempat, salah satunya Bengkulu, di mana Sukarno pertama kali bertemu Fatmawati. Nama terakhir ini memincut hati Sukarno yang ketika itu belum jua punya keturunan dari Inggit. Keinginan Sukarno menikahi Fatmawati “digugat” Inggit. Istri yang setia menemaninya sekitar dua dekade itu memilih minta cerai ketimbang dimadu. Bahtera rumah tangga mereka pun berakhir pada 1942, disertai sejumlah perjanjian perceraian. Seperti janji Sukarno membelikan rumah di Bandung, maupun pemberian nafkah seumur hidup. “(Tapi) Inggit tidak pernah sekalipun menanyakan, apalagi menuntut suatu hal yang dijanjikan Sukarno dalam surat perjanjian cerai, yang juga disaksikan dan ditandatangani oleh Moh Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH Mas Mansoer pada 1942,” tulis Ramadhan KH dalam Soekarno: Ku Antar ke Gerbang. Sukarno dan Kartini Manoppo Dari seni turun ke hati. Bung Karno jatuh hati pada seorang model dan mantan pramugari. Namanya Kartini Manoppo. Bidadari jelita asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang sempat jadi salah satu model lukisan karya Basoeki Abdullah yang dikagumi sang Pemimpin Besar Revolusi. Setelah ditanya siapa modelnya dan alamatnya, Sukarno mendekati Kartini. “Kartini yang menjadi pramugari pesawat Garuda, lantas dimintanya ikut terbang setiap kali Presiden Sukarno ke luar negeri,” ungkap Peter Kasenda dalam Bung Karno: Panglima Revolusi. Rayuan maut Sukarno juga melelehkan hati Kartini yang berkenan dipinang sebagai istri kelima. Walau pada akhirnya, mereka tak menikah secara resmi, melainkan hanya nikah siri pada 1959. “Keluarga tidak menyetujui. Pantang bagi keluarga terpandang putri kesayangannya jadi istri kelima meski dia seorang presiden. Itulah kenapa saya tidak menikah secara resmi dengan Bung Karno,” kenang Kartini di buku Bung Karno! Perginya Seorang Kekasih, Suamiku dan Kebanggaanku. Namun perubahan situasi politik pasca-Tragedi 1965, turut mengguncang hubungan Sukarno dan Kartini, hingga Kartini diminta Sukarno “menyelamatkan” diri ke Eropa. “Kartini diminta ke Eropa demi keselamatan mereka. Bung Karno tidak mau Kartini yang sedang hamil, terjadi sesuatu di Indonesia,” ujar Roso Daras. Di Nurnberg, Jerman pada 17 Agustus 1966, Kartini melahirkan seorang putra yang dinamai Bung Karno, Totok Surjawan. Dua tahun berselang, keduanya memutuskan berpisah. Sukarno dan Haryati Sejak mengagumi keindahan tarian dan kemolekan tubuh Haryati pada suatu momen, Sukarno langsung jatuh hati. Tak pelak segala jurus rayuan dilontarkan hingga menjerat pula hati sang penari yang juga merupakan staf Sekretariat Negara Bidang Kesenian itu. Sukarno lantas menikahinya gadis berusia 23 tahun itu pada 21 Mei 1963 dengan hajatan sederhana. “Bapak berpendapat, sangat bijaksana kalau pernikahan ini tidak diumumkan kepada masyarakat luas,” terang Haryati saat ditanya Cindy Adams yang dituangkan ke buku keduanya tentang Sukarno, My Friend the Dictator . Sayangnya di antara yang lain, Haryati termasuk yang paling tidak akur dengan istri atau keluarga istri Sukarno yang lain. “Ibu Dewi (Ratna Sari Dewi, istri keenam Sukarno) pernah berang dan naik pitam melihat kehadiran Ibu Haryati dan perkataannya. Memang demikian aku pun pernah tersinggung karena ucapan-ucapannya,” ungkap Rachmawati Sukarnoputri di buku Bapakku, Ibuku. Gonjang-ganjing Tragedi 1965 juga mempengaruhi hubungan Sukarno dan Haryati, hingga akhirnya Sukarno memilih menceraikannya pada 1966. “Perceraianku dengan engkau ialah karena kita rupanya tidak ‘cocok’ satu sama lain,” tulis Sukarno dalam surat perceraiaannya yang dikutip Reni Nuryanti dalam Perempuan dalam Hidup Sukarno. Sukarno dan Yurike Sanger Kisah cinta Putra sang Fajar dengan seorang pelajar. Bung Karno mengenal Yurike semasa sang gadis masih tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, di sebuah acara kenegaraan pada 1963. Pemimpin kharismatik itu juga tak ayal bikin Yurike jatuh hati lewat beragam perhatiannya, hingga memutuskan menghalalkan hubungan mereka ke hadapan penghulu pada 6 Agustus 1964. Sebagaimana dengan istri-istrinya yang lain, Yurike kian kesulitan bertemu suaminya pasca-Tragedi 1965. Terlebih setelah Bung Karno mulai sakit-sakitan. Pada suatu ketika Yurike bisa membesuk suaminya di Wisma Yaso, Bung Karno melayangkan permintaan yang menusuk hatinya. Yurike diminta bercerai demi masa depan Yurike sendiri. Permintaan yang awalnya ditolak sang istri muda. “Dengan terpaksa kupenuhi permintaannya. Kami bercerai secara baik-baik (pada 1967). Sungguh mengharukan karena kami masih sama-sama mencintai. Kami berpisah saat kami sedang rapat bersatu,” kenang Yurike dalam Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA: Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger  karya Kadjat Adra’i. Sukarno dan Heldy Djafar Sebagaimana pula Yurike Sanger, Heldy Djafar bisa bertemu dan dekat dengan Sukarno semasa tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Tarian lenso keduanya pada sebuah acara di Istana Negara, seolah jadi titik balik kisah mereka yang sama-sama jatuh hati. Keintiman keduanya kian rapat dari waktu ke waktu, sampai Sukarno meminangnya dan menikahinya pada 11 Juni 1966 di Istana, tepatnya di Wisma Negara. Namun bahtera rumah tangga mereka hanya bertahan dua tahun. Selain karena sudah dimakzulkannya Sukarno, sang pemimpin besar revolusi pun mulai sakit-sakitan. Untuk bisa bertemu saja harus di rumah Yurike, di Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur. Di sisi lain, Heldy mulai gundah karena ada “orang ketiga”. Di antara para pengagum Heldy, ada seorang pemuda yang paling gigih, Gusti Soeriansjah Noor, putra Pangeran Mohammad Noor, mantan Menteri Pekerjaan Umum. Hingga suatu ketika kala keduanya bertemu di masa sulit, Heldy meminta izin untuk menjauh dari Sukarno. “Mas, maafkan saya, kalau saya boleh menjauh dari Mas untuk melepaskan diri. Kondisi dan suasana saat ini sangat menyakitkan hati saya. Tidak bisa begini terus. Harus ketemu di rumah orang lain,” lirihnya dalam Heldy: Cinta Terakhir Bung Karno karya Ully Hermono dan Peter Kasenda. Kata-kata itu menyiratkan Heldy minta cerai. Namun ditolak Sukarno yang belum ingin berpisah. Seiring waktu, status mereka kian tak jelas. Dibilang istri sulit, cerai pun tidak. Sampai akhirnya Heldy menerima pinangan Gusti Soeriansjah pada 19 Juni 1968.

  • Naturalisasi, Dulu dan Kini

    CHRISTIAN Gonzales, Raphael Maitimo, Sergio van Dijk, Tonnie Cussel, Stefano Lilipaly, Bio Paulin, Greg Nwokolo, Victor Igbonefo, Diego Michiels, Johnny van Beukering, Guy Junior, Kim Jeffrey Kurniawan, Ruben Wuarbanaran, dan Ezra Walian merupakan bintang sepakbola naturalisasi atau blasteran yang menyemarakkan persepakbolaan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Jelang Asiang Games 2018 di negeri sendiri, PSSI tak ingin kehilangan muka dalam cabang olahraga paling bergengsi itu dengan ambil langkah bypass: naturalisasi. Adalah Ilija Spasojeciv, pesepakbola Montenegro, yang Oktober 2017 sah menjadi warga negara Indonesia (WNI) dan menambah deretan nama pemain hasil naturalisasi. Dia sudah menjalani debutnya ketika timnas U-23 melakukan pertandingan persahabatan melawan timnas U-23 Suriah, November 2017. Naturalisasi bukan barang baru dalam persepakbolaan tanah air. Ketika republik ini masih seumur jagung, ada beberapa pemain kulit putih yang dinaturalisasi. Mereka –kecuali kiper Tan Mo Heng dan beberapa pesepakbola berdarah Tionghoa lain tak perlu mendapatkan nasionalisasi lantaran merupakan peranakan yang memilih Indonesia sebagai tanah airnya setelah Hindia Belanda bubar– orang Belanda yang menggeluti sepakbola sejak masa Hindia Belanda. Mereka antara lain, Boelard van Tuyl, Pieterseen, Van der Berg, Pesch, dan Arnold van der Vin. Nama terakhir menjadi pemain naturalisasi tersukses lantaran satu-satunya eks-orang Belanda yang mampu masuk timnas PSSI di era 1950-an. Van der Vin sebelumnya menjadi kiper andalan UMS (Union Makes Strength), VIJ (kini Persija Jakarta) dan melakoni debutnya di timnas Indonesia melawan tim asal Hong Kong, South China AA pada 27 Juli 1952. Sayangnya, kiper yang akrab disapa ‘Nol’ itu mesti “terusir” dari Indonesia pada 1954 akibat kebijakan anti-Belanda. Di Belanda, Nol memilih membela klub Fortuna Sittard. Bisa jadi, fakta ini mencatatkannya sebagai pemain Indonesia pertama yang tampil di salah satu liga bergengsi Eropa. Namun setahun kemudian, Nol kembali ke Indonesia untuk mengawal mistar PSMS Medan dan comeback ke timnas. Kendati kembali ke skuad Garuda, Nol justru kecewa dengan mundurnya kondisi persepakbolaan nasional. “Kondisi sepakbola Indonesia berada di level yang buruk. PSSI payah mendidik wasit dan perangkat pertandingan lainnya,” ujar Nol di suratkabar De Nieuwsgier , 6 Mei 1955. Tapi apa mau dikata, dia sudah memilih kembali ke Indonesia dan terus menjadi pilihan pertama atau kedua di timnas. Nol kembali merantau pada 1956 sampai 1961 ke klub Malaysia Penang FA hingga pensiun. Sejak itu, persepakbolaan Indonesia nihil dari naturalisasi baik di kompetisi Perserikatan maupun Galatama. “Dulu (di Galatama) malah enggak kenal sama sekali dengan yang namanya naturalisasi,” ungkap Bambang Nurdiansyah, penyerang timnas era 1980-an yang bermain di Arseto Solo, Tunas Inti, dan Pelita Jaya, kepada Historia via sambungan telepon beberapa waktu lalu. Maka, ketika naturalisasi kembali muncul pada awal 2000-an, ia langsung menuai pro-kontra. Menurut Timo Scheunemann, mantan pelatih Liga Indonesia yang kini jadi pengamat, naturalisasi pertanda pembinaan sepakbola Indonesia telah gagal. “Ya memang pembinaan kita gagal. Naturalisasi masih menjadi solusi jangka pendek. Itu no problem sebenarnya karena banyak negara melakukannya. Tapi Indonesia kan negaranya besar sekali. Kita punya 200 juta pemain, kok. Kalau untuk jangka pendek, tidak masalah, asal jangan terus-terusan,” ujarnya kepada Historia. Senada dengan Timo, Bambang juga posisi kontra terhadap naturalisasi. Pria yang juga pernah melatih klub-klub Liga Indonesia serta timnas itu menganggap naturalisasi merupakan buah dari kegagalan pembinaan dan juga kompetisi. “Saya pikir enggak perlu sebenarnya naturalisasi. Karena itu artinya kita mengakui gagal dalam pembinaan. Kalau gitu caranya, stop saja pembinaan dan kompetisi. Lari saja ke Eropa, cari yang darah (keturunan) Indonesia, suruh jadi pemain nasional, umpamanya. Ya untuk sekarang, silakan lah (naturalisasi jelang Asian Games), tapi ke depannya jangan ada lagi, pembinaan saja yang benar. Kalau naturalisasi terus, buat apa ada pembinaan dan kompetisi,” tutupnya.

  • Desember Hitam

    PRIHATIN terhadap kemandekan seni rupa Indonesia, sejumlah seniman muda melakukan protes pada 1974. Mereka membuat pernyataan bersama yang ditandatangani 14 seniman, kemudian dikenal sebagai “Black Desember”. Protes para seniman muda itu dipicu oleh hasil akhir Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (PBSLI) pertama yang diselenggarakan Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta pada 18-31 Desember 1974 di Taman Ismail Marzuki –pameran tersebut kemudian diselenggarakan rutin tiap dua tahun; cikal-bakal Biennale yang bertahan hingga kini. Pameran yang diikuti 83 pelukis dan menampilkan 240 karya itu bertujuan mempresentasikan seni lukis terbaik dari Indonesia. Dewan juri yang terdiri dari Popo Iskandar, Afandi, Rusli, Fajar Sidik, Sujoko, Alex Papadimetru, dan Umar Khayam lalu memilih “Matahari dari Atas Taman” karya Irsam, “Keluarga” karya Widayat, “Lukisan Wajah” karya Abas Alibasyah, “Pohon” karya Aming Prayitno, dan “Tulisan Putih” karya Abdul Djalal Pirous sebagai lima karya terbaik. Dewan juri juga mengkritik beberapa karya seniman muda yang dianggap keluar dari pakem. “Usaha bermain-main dengan apa yang asal ‘baru’ dan ‘aneh’ saja, dapatlah dianggap sebagai usaha coba-coba, cari-cari, atau sekadar iseng, atau bukti langkanya ide dan kreativitas,” kata salah seorang juri sebagaimana diberitakan Angkatan Bersendjata , 27 Desember 1974. Kritik tersebut, kata FX Harsono dalam artikel berjudul “Desember Hitam, GSRB, dan Kontemporer”, yang bernada mendiskriditkan para pelukis muda segera mendapat tanggapan dengan protes dan keluarnya Pernyataan Desember Hitam 1974. Muryotohartoyo, Juzwar, FX Harsono, B Munni Ardhi, M Sulebar, Ris Purwana, Daryono, Siti Adiyati, DA Peransi, Baharudin Narasutan, Ikranegara, Adri Darmadji, Hardi, dan Abdul Hadi WM langsung menandatangani Pernyataan Bersama sebagai bentuk protes. “Yang menandatangi memang seniman muda. Mereka menandatangani Desember Hitam bukan karena tidak dimenangkan oleh dewan juri tatapi karena adanya kemandekan dalam seni lukis Indonesia karena depolitisasi,” kata kurator Jim Supangkat kepada Historia , Kamis (4/1/18). Bagi para seniman “Black Desember”, kondisi tersebut sangat tak sehat bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Dalam pernyataan Desember Hitam nomor lima dikatakan, yang menghambat pekembangan seni lukis Indonesia selama ini adalah konsep usang yang masih dianut oleh establishment dan seniman-seniman mapan. Demi keselamatan seni lukis Indonesia, maka sudah saatnya establishment tersebut diberi gelar kehormatan, purnawirawan budaya. Para penandatangan Desember Hitam lalu membuat aksi simbolis berupa mengirim karangan bunga bundar, yang biasa digunakan dalam upacara pemakaman. Di atas bunga itu mereka meletakkan tulisan: “Kematian seni lukis Indonesia”. “Saya kira (Desember Hitam – red.) mencerminkan konflik macam-macam. Dalam artian, lukisan yang mendapat penghargaan itu lukisan yang hanya memperlihatkan kecantikan. Dalam analisis saya, lukisan-lukisan yang mendapat penghargaan memperlihatkan gejala depolitisasi perkembangan seni rupa. Jadi artinya, itu kan terjadi awal 1970-an, di lingkungan para seniman ada ketakutan untuk menyentuh persoalan-persoalan sosial-politik,” kata Jim. Lebih lanjut Jim menjelaskan, penandatanganan Desember Hitam tidak terkait dengan keberpihakan politik tetapi protes terhadap karya-karya yang dianggap tidak jujur. “Kalau orang sudah membuat karya ketakutan terus kemudian memuji-muji perkembangan Orde Baru dan sebagainya, itu kan karya tidak jujur. Nah itulah yang dikritik oleh Desember Hitam.” Konflik tersebut kemudian menyatukan seniman muda baik di Yogyakarta maupun Jakarta untuk membentuk “Gerakan Seni Rupa Baru”. Mereka kemudian mengadakan pameran pertamanya di Taman Ismail Marzuki pada Agustus 1975. Ada 11 seniman yang ikut serta dalam pameran itu, di antaranya Siti Adiyati, Muryotohartoyo, FX Harsono, Jim Supangkat, B. Munni Ardhi, Bachtiar Zainoel, dan Hardi.

  • Senandung Cinta Susi

    YON kali pertama menulis lagu untuk album To The So Called The Guilties (1967). Judulnya “Rasa Hati”. Isinya curah hatinya pada Susi Nander (Sioe Tjuan), penggebuk drum Dara Puspita, kelompok musik asal Surabaya yang semua personelnya perempuan. Susi Nander bukan asing bagi personel Koes Bersaudara. Dara Puspita dan Koes Bersaudara sering tampil satu pangung, termasuk ketika keduanya tampil dalam sebuah acara di Petamburan, salah satu yang memicu penangkapan dan penahanan Koes Bersaudara. Yon juga pernah terlibat dalam pembuatan album pertama Dara Puspita, Jang Pertama . Dalam album itu Yon membantu menulis lirik lagu berjudul “Kenangan Yang Indah”. Mereka sempat berpacaran, meski akhirnya tak berujung ke pelaminan. Pada Juli 1968, Dara Puspita melakoni tour ke luar negeri, dari Iran hingga Belanda, dalam waktu yang lama. Kerinduan Yon memuncak dan tak tertahankan. Apalagi saudara-saudaranya sudah menikah, meski mereka tetap tinggal di kompleks keluarga Koeswoyo di Haji Nawi, Jakarta Selatan. Yon pun menciptakan lagu “Hidup Yang Sepi” yang masuk album Koes Plus Volume 2 (1970) Kisah cinta Yon dan Susi Nander juga mengilhami Tonny menulis lagu “Andaikan Kau Datang” yang juga mengisi album Koes Plus Volume 2 . Yon akhirnya menikah dengan Damiana Sustrini (Susi), salah satu fans dari Yogyakarta, pada 1970. Karena Koes Plus tengah berada di puncak popularitas, Yon hampir jarang di rumah. Sibuk latihan, rekaman, dan manggung. Dara Puspita kembali ke Indonesia pada September 1971. Mereka bikin tour keliling Jawa, yang ditutup dengan pertunjukan di Jakarta pada Maret 1972. Dalam moment inilah Dara Puspita tampil satu panggung dengan Koes Plus, yang punya arti khusus bagi Susi dan Yon. Kendati sudah menikah, Yon tak bisa melupakan Susi Nander, cinta pertamanya. Kegalauan hatinya ditumpahkan dalam lagu “Hatiku Beku” untuk album Koes Plus Volume 9 (1973). Damiana Sustrini memberikannya seorang putra, Ulung Gariyas dan Otmar Veda (David). Pernikahan mereka kandas di tengah jalan. Setelah lama menduda, Yon menikah lagi dengan Bonita Angela dan dikaruniai dua anak, Aron dan Kenas. Pasangan ini kemudian tinggal di Pamulang, Banten. Bonita selalu mengiringi ke manapun Yon manggung. Tentu tak hanya romansa. Yon juga melirik tema lainnya. Salah satunya lagu berbahasa Jawa dengan judul “Jo Podo Nelongso” yang masuk dalam album Koes Plus Album Pop Jawa I (1973). Yon menyoroti kondisi sosial-ekonomi negeri ini. Yon pernah mengatakan setidaknya menciptakan 300-an lagu. Dia merasa beruntung seorang penggemarnya berinisiatif mematenkan 79 lagu ciptaannya. Namanya Siong Chung Lukman, pengacara asal Bandung. Yon tak perlu keluar biaya. “Saya malah dapat duit Rp40 juta. Kalau begitu satu lagu saya harganya Rp 500 ribu,” ujar Yon. Yon Koeswoyo telah berpulang. Selamat jalan.*

  • Selamat Tinggal Penyanyi Tua

    KENDATI selera musik berganti, para penggemar lamanya dimakan usia, Yon Koeswoyo masih bernyanyi dari panggung ke panggung. Dia ingin mengabadikan lagu-lagu Koes Bersaudara/Koes Plus, kelompok musik legendaris Indonesia yang pernah berjaya di era 1960 hingga 1980-an. “Saya ingin lagu-lagu Koes Plus abadi sampai seribu tahun nanti,” ujarnya. Yon Koeswoyo lahir dengan nama Koesjono di Tuban, Jawa Timur, pada 27 September 1940, dari pasangan Koeswojo dan Atmini. Koeswojo seorang priyayi; terakhir bekerja sebagai pegawai Departemen Dalam Negeri. Atmini ibu rumah tangga. Yon anak keenam dari sembilan bersaudara. Yon belajar musik secara otodidak. Ia bisa memainkan gitar ( rhytm ). Tapi, berkat gemblengan Tonny Koewoyo, kakaknya, dia jadi penyanyi handal. Suaranya bening. Kadang nakal. Bersama saudara-saudara lelakinya, Yon membentuk sebuah kelompok musik menjelang tahun 1960-an. Mula-mula namanya Koes Bross, lalu ganti Koes Brothers, Koes Bersaudara, dan akhirnya Koes Plus. Yon jadi vokalis dan memainkan rhythm , Tonny (melodi), Nomo (drum), dan Yok (bass, vokal). Masuknya Murry, orang dari luar keluarga besar sebagai pengganti Nomo, menjadi dasar pemilihan nama Koes Plus. Koes Bersaudara merilis album (piringan hitam) pertama Angin Laut pada 1963. Sambutannya lumayan tapi belum cukup untuk membantu kebutuhan keluarga besar ini. Untuk menambah penghasilan, mereka mengamen dari rumah ke rumah dan pentas dari panggung ke panggung. Kala itu Indonesia dilanda demam musik ngak-ngik-ngok , istilah yang dipakai Presiden Sukarno untuk menyebut musik Barat. Demi mendorong kepribadian dan kebudayaan nasional, pemerintah melarang musik ngak-ngik-ngok . Meski ada larangan, Koes Bersaudara kerap menyanyikan lagu-lagu Barat demi memenuhi keinginan penggemar. Dampaknya, pada 29 Juni 1965, personel Koes Bersaudara ditangkap dan dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Khusus Glodok. Mereka dibebaskan sekira tiga bulan kemudian. Yon sempat kuliah di jurusan arsitektur Universitas Res Publica (kini, Universitas Trisakti). Ketika Tonny, kakaknya, menantangnya untuk memilih kuliah atau musik, Yon memutuskan berhenti kuliah. Lagian situasi politik lagi tak menentu. Universitas Res Publica jadi sasaran demo. Mahasiswa-mahasiswanya kena screening , upaya penguasa untuk menyaring mahasiswa-mahasiswa yang diduga komunis. Pada 1967, Koes Bersaudara sempat merilis dua album (piringan hitam), Jadikan Aku Dombamu dan To Tell So Called the Gulties , yang berisikan sejumlah lagu yang mereka ciptakan selama di penjara. Namun kondisi ekonomi lesu. Udangan pentas sepi. Koes Bersaudara vakum. Para personelnya, yang sudah berkeluarga, harus mencari cara untuk bertahan hidup. Yon sendiri melakoni jual-beli celana. Sempat pula membeli Fiat 1100 dan menjadikannya taksi gelap. Tapi mereka tetap latihan, kecuali Nomo. Tonny akhirnya mendepak Nomo sebagai pemain drum dan menggantikannya dengan Murry. Pada 1969, Koes Bersaudara ganti nama jadi Koes Plus. Perlahan Koes Plus menapaki puncak popularitas. Setelah Tonny meninggal dunia pada 1987, Koes Plus nyaris tenggelam. Pada 1993 Koes Plus mencoba bangkit, sekalipun harus bongkar-pasang personel. Ketika Yok dan Murry akhirnya mundur, Yon menjadi satu-satunya personel Koes Plus yang masih bertahan. “Saya tidak meninggalkan mereka tapi saya yang ditinggalkan,” ujar Yon. Bersama sejumlah anak muda, Yon bermain dari panggung ke panggung; membawakan lagu-lagu Koes Plus. Sesekali dia membuat dan menyanyikan lagu-lagu anyar. Sempat pula tampil sebagai penyanyi solo lewat album Hanya Mimpi dan Lantaran . Zaman berganti. Namun Yon terus berdendang, melawan tubuh dan suaranya yang menua. Mirip lagu yang dibawakannya. Oh penyanyi tua lagumu sederhana Lagu dari hatinya terdengar dimana mana Oh penyanyi tua lagumu sederhana Mulutnya pun tak ada dan anehnya banyak penggemarnya O siapa itu o ku tak tahu Pagi, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Selamat jalan.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page