top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pahit-Manis Kisah Martunis

    Hari ini 15 tahun lalu. Martunis, bocah berusia tujuh tahun, amat bersemangat Minggu pagi itu. Meski rencananya baru akan bermain bola pada sore hari, sejak pagi usai mandi dia sudah mengenakan kaos kesayangannya, jersey timnas Portugal bernomor punggung 10 milik Manuel Rui Costa. Martunis amat mengidolakan mantan playmaker Fiorentina dan AC Milan itu. Untuk menunggu waktu, dia dan adiknya nonton televisi. Saat itulah tiba-tiba dia merasakan ruangan bergoyang seperti perahu di atas laut. Buru-buru dia, adik, dan ibunya keluar rumah. Orang-orang sudah berkerumun di luar setelah gempa terjadi. Sarbini, ayah Martunis, pulang tak lama kemudian. Namun, pertemuan keluarga secara utuh untuk terakhir kali itu tak berlangsung lama. Beberapa orang berteriak air laut naik. Sarbini segera menyuruh anak-istrinya naik pick up di depan mereka untuk menyelamatkan diri, dia sendiri memilih berlari ke arah jalan raya. “Padatnya jalan yang dipenuhi orang-orang yang berlarian membuat mobil yang ditumpangi Martunis tidak dapat melaju kencang. Dalam kepanikan tersebut, gelombang air segera menyapu mobil tersebut. Mobil pun terguling-guling. Para penumpang yang berada di datas mobil berhamburan diterjang gelombang,” tulis kbr.id . Martunis melihat Annisa, adiknya, terus memanggil namanya. Dia segera meraih tangan bocah itu namun kemudian terlepas. Pertemuan terakhir Martunis dengan Annisa itu berjalan amat cepat. Martunis terus berusaha menyelamatkan diri dengan bergonta-ganti pegangan, hingga akhirnya dia berhasil meraih sebuah kasur spring bed . Lantaran kelelahan, Martunis akhirnya pingsan di atas kasur itu. Ketika siuman, dia mendapati dirinya telah berada di tengah lautan. Dalam kesendirian itu, Martunis bertahan hidup dengan mengandalkan mie instan yang ditemukannya pada hari ketiga. Hitungann jarinya telah mencapai angka tujuh, tapi daratan tak kunjung ada di hadapan. Martunis bosan dan putus asa hingga di suatu siang dia tertidur. Begitu bangun, matanya melihat daratan tak jauh dari tempatnya. Seorang pemulung sedang mengais-ngais reruntuhan di sana. Martunis segera berteriak minta tolong. Sempat takut, pemulung itu akhirnya menolong Martunis. Dia menyerahkan Martunis kepada Ian Dovaston, reporter TV Sky News yang sedang meliput daerah Pantai Kuala. Wartawan asal Inggris yang prihatin itu segera memberi air minum dan biskuit yang dibawanya. “Kondisi badannya sangat kurus dan sekujur tubuhnya penuh bekas gigitan nyamuk,” kata Dovaston, dikutip Frank Worrall dalam The Magnificent Sevens: They All Wore the No 7 Shirt . Dovaston dan seorang penerjemah lantas mengevakuasi Martunis ke Yayasan Save the Children, untuk dirawat di RS Fakinah. Beruntung dalam pemeriksaan medis Martunis tak mengalami luka dalam, hanya luka ringan. Namun Martunis tetap harus berduka setelah tahu hanya ayahnya yang selamat. Dovaston kemudian meliput tentang bocah itu. Yang kemudian menjadi sorotan besar adalah, Martunis ditemukan dan diselamatkan setelah tiga pekan terdampar dengan mengenakan jersey merah-hijau, warna seragam timnas Portugal. Kisahnya mendapat perhatian di Semenanjung Iberia, terutama karena beberapa stasiun TV Portugal menyiarkan berita Sky News hasil liputan Dovaston. Dari situlah kisah Martunis mulai menarik simpati hampir segenap publik Portugis. “Gilberto Madail dari Federasi Sepakbola Portugal menjadwalkan klub-klub yag tergabung di liga (Portugal) untuk menghimpun bantuan solidaritas. Dia mengontak Dovaston dan menanyakan hal apa yang bisa dilakukannya untuk bocah itu dan keluarganya,” tulis Luca Caioli dalam biografi Ronaldo, Obsession for Perfection . Sejumlah pemain timnas Portugal juga bersimpati. Lebih-lebih Luiz Felipe Scolari (yang saat itu masih melatih) dan Ronaldo yang emosional mendengar kisah Martunis. “Saya terhenyak melihat bocah berumur 7 tahun itu bisa bertahan hidup setelah hanyut berhari-hari,” kata Ronaldo dalam biografinya. Selebihnya, hidup Martunis begitu berbeda. Bersama ayahnya, Martunis sampai diundang ke Portugal pada akhir Mei 2005. Mereka disambut pelatih Scolari dan kapten tim Luis Figo. Mereka diajak bertemu para punggawa timnas Portugal, termasuk Ronaldo di hotel tim, sekaligus menyaksikan langsung laga kualifikasi Piala Dunia 2006 antara Portugal vs Slovakia di Estadio Da Luz, Lisbon. “Kami berbicara dengan bantuan penerjemah. Tapi dia anak yang pemalu dan nyaris tak bicara sepatah katapun. Saya memperlihatkan telepon selular saya dan dia langsung meminta nomor saya. Ketika saya membuka komputer (laptop) saya dan menunjukkan foto-foto dan video games, matanya berbinar-binar. Dia anak istimewa yang sudah melalui pengalaman yang belum tentu bisa dilalui orang dewasa,” ungkap Ronaldo lagi. Sebelum kembali ke tanah air, Martunis diberi bantuan uang sebesar 40 ribu Euro yang berasal dari sumbangan para pemain, pelatih, dan ofisial timnas Portugal untuk membangun kembali rumah Martunis. Ronaldo berjanji untuk menyambangi Indonesia, utamanya Aceh dan Jakarta untuk bertemu Martunis lagi. “Perasaan kami luar biasa. Sebelum tsunami, untuk bisa ke Jakarta saja rasanya sudah mewah sekali. Sekalinya ke luar kota, kami hanya pernah ke Medan. Kemudian tiba-tiba kami berkesempatan ke Eropa,” cetus Sarbini, ayah Martunis, dikutip situs resmi FIFA. Ronaldo memenuhi janjinya. Medio Juni 2005, bintang yang masih memperkuat Manchester United itu datang ke Serambi Mekah. Kedatangannya ke Stadion Neusu, Banda Aceh, disambut antusiasme penggila bola. Ronaldo lantas terbang ke Jakarta untuk bersua Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di kediamannya, dalam rangka makan malam amal. Cita-cita Martunis untuk jadi pesepakbola sebagaimana kakeknya, perlahan mulai terwujud. Terlebih, setelah Martunis diangkat anak oleh Ronaldo yang lantas membiayai semua kebutuhan pendidikannya. Kian dekatnya Martunis dengan ayah angkatnya memberinya kesempatan lebih sering ke Eropa. Martunis berkesempatan menonton laga-laga yang dimainkan Ronaldo, termasuk ketika sang bintang sudah pindah ke Real Madrid. Status istimewa Martunis ikut berperan dalam mengasah skill bolanya di akademi Sporting Lisbon, klub yang membesarkan nama Ronaldo. Meski sempat menandatangani kontrak, Martunis akhirnya dinyatakan gagal di tahun kedua dengan alasan usia. Namun, Martunis tak patah arang. Pesan Ronaldo yang selalu melekat dalam kepalanya membuatnya terus optimis. “Ia bilang kalau belajar ilmu sepak bola sudah dimulai sejak usia delapan tahun. Kalau misalnya tetap ingin jadi pemain profesional, ia bilang harus kerja keras, disiplin,” ujar Martunis sebagaimana dilansir liputan6.com .

  • Dari Bola Turun ke Hati

    BAGI bintang sepakbola putri Papat Yunisal dan bintang sepakbola putra Zulkarnain Lubis, lapangan hijau tak hanya mendatangkan kebahagiaan lewat permainan, persaingan, dan gol. Lapangan hijau bagi keduanya juga mendatangkan kebahagiaan hati. Papat dikenal sebagai salah satu maestro sepakbola putri Indonesia era 1980-an. Tak hanya mengukir prestasi di level klub bersama Putri Priangan, sejak 1981 penyerang mungil kelahiran Subang pada 1963 itu juga berseragam timnas. Bahkan, Papat menjadi penentu kemenangan yang membawa timnas putri Indonesia ke final ASEAN Women’s Championship 1982. Meski sudah menikah, Papat tetap bermain. Sayang, pernikahannya kandas kendati sudah dianugerahi seorang anak. Dia dan suaminya cerai tak lama setelah Papat ikut orangtuanya pindah dari Bandung ke Batam, Kepulauan Riau. “Iya, waktu itu sudah punya anak dan (sang suami) tidak mau tinggal di Batam. Ditinggal lama-lama, akhirnya bermasalah ya. Karena memang saya juga yang merasa salah pada suami,” kata Papat kala berbincang dengan Historia di STKIP Pasundan, Cimahi beberapa waktu lalu. Namun, kecintaannya pada sepakbola tak pernah kandas. Setelah gantung sepatu, Papat kursus kepelatihan dan pada 2004 mendirikan Sekolah Sepakbola (SSB) Putri Queen di Bandung. Sementara, Zulkarnain Lubis di era 1980-an merupakan bintang andalan klub-klub yang dibelanya dan juga timnas. Pemain yang mengidolakan legenda Inggris Kevin Keegan itu sampai mendapat julukan “Diego Maradona-nya Indonesia”. “Saya memang senang dengan pemain-pemain itu (Maradona dan Keegan),” ungkap Zul sebagaimana dimuat Kompas, 11 Agustus 1986. Sayangnya, setelah pensiun di tahun 2000 Zul terpuruk. Legenda hidup kelahiran Binjai, Sumatra Utara tahun 1958 itu harus pontang-panting mengais nafkah. Dari berbisnis kecil-kecilan sampai berjualan nasi goreng di Cimahi pernah dilakoninya. Baru pada 2003 Zul mulai bangkit setelah diminta Ronny Pattinasarani untuk membantu menjadi pemandu bakat bibit-bibit pesepakbola U-15. Setahun berselang, kehidupan Zul kian membaik setelah dipercaya melatih SSB Queen milik Papat. Terpilihnya Zul terjadi tak lama setelah Papat mendirikan SSB Queen. Papat mencari pelatih untuk melatih para pelajar SSB-nya. Salah seorang temannya lalu menyarankan nama Zul. “Sebenarnya sudah lama kenal dari dulu, tapi tidak begitu akrab. Karena waktu itu (semasa di timnas) training camp -nya bareng antara timnas wanita dengan timnas yang pria. Latihannya juga sama-sama di Senayan (Stadion Senayan, kini Stadion Utama Gelora Bung Karno),” kata Papat. Papat langsung menawari Zul. Pria yang sedang menganggur tapi punya beberapa tawaran pekerjaan di bidang sepakbola itu langsung menerima tawaran Papat. “Dia mau saya tawari. Enjoy katanya melatih cewek,” ujar Papat sambil berkelakar. Kerjasama dua mantan bintang lapangan hijau itu membuat penasaran banyak orang. “Banyak yang nanya emang berapa sih dibayar di Queen? Saya jawab aja, bayarnya pakai cinta,” cetus Papat sembari tertawa. Kerjasama itu berjalan mulus di Queen. Pada akhirnya bukan semata urusan bola, tapi juga asmara. Benih-benih cinta antara Papat dan Zulkarnain muncul di sana. “Cukup sering dan banyak yang tanya, soal di mana saya ketemu Pak Zul. Ya sering juga saya bercandain. Saya bilang aja pertama kali ketemunya di musala, hehehe...,” cetus Papat sembari terkekeh. Seringnya bertemu di SSB Queen membuat Papat mengaku lama-lama ada kedekatan, ada kecocokan. Mereka akhirnya menikah di tahun itu juga (2004).

  • Jalan Berliku Federasi Perempuan

    Ruth Indiah Rahayu, peneliti feminis di Institut Kajian Kritis dan Studi Pembangunan Alternatif (Inkrispena), mengatakan gerakan perempuan “mati” setelah rezim Orde Baru berkuasa. Penguasa militer itu menggunakan intimidasi untuk menaklukkan semua elemen, termasuk gerakan perjuangan perempuan, agar tunduk dan sejalan dengan misi pemerintahannya. “Kalau nggak (sejalan – red .), dianggap musuh negara,” ujarnya kepada Historia . Dalam kacamata penguasa, tempat perempuan hanya di dapur dan kasur. Penguasa memberi citra negatif kepada perempuan yang berpolitik. Alhasil, gerakan perjuangan perempuan yang telah dilakukan berbagai organisasi perempuan sejak masa kolonial langsung mandek. Perjuangan mereka untuk memperjuangkan hak dan memajukan kaum serta bangsanya seketika digantikan oleh aktivitas-aktivitas seremonial ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK. Perjuangan Nan Terpaksa Kembali ke Dapur dan Kasur Budaya patriarki yang meletakkan perempuan semata hanya dalam urusan dapur dan kasur menimbulkan ketidakadilan sejak lama. Perempuan menjadi korban darinya. Dalam rumahtangga, ruang geraknya terbatas karena posisinya yang selalu dibuat bergantung pada pria. Syahdan, hal itulah yang coba dilawan oleh para perempuan aktivis pada paruh pertama abad ke-20. Lewat berbagai organisasi, mereka memperjuangkan hak-hak perempuan guna memajukan kaumnya. Namun, meski organisasi perempuan sudah banyak berdiri kala itu, mereka masih berjuang sendiri-sendiri. Pikiran untuk mengadakan kongres guna menyatukan gerakan belum terbersit. Dua kongres pemuda, pada 1926 dan 1928, lalu membuka mata para aktivis perempuan. Kongres itu menginspirasi Nyonya Soekonto, Nyi Hadjar Dewantoro, dan Nona Sujatin untuk menginisiasi diadakannya Kongres Perempuan (KPI). Upaya ketiganya berhasil dengan suksesnya Kongres Perempuan I di Yogyakarta, 22-25 Desember 1928. Menurut Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang, di kongres pertama itu yang menjadi perhatian utama adalah masalah perkawinan yang adil bagi perempuan, pendidikan perempuan, dan pernikahan dini. Hak-hak perkawinan dibicarakan dalam sejumlah pidato oleh perempuan anggota oragnasasi yang tidak berlandaskan agama. Kongres itu lalu menghasilkan keputusan untuk mendirikan Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). Di kemudian hari, PPPI berubah menjadi Perikatan Perkumpulan Isteri Indonesia (PPII), cikal-bakal Kowani kini. Pada masa itu politik belum menjadi perhatian utama gerakan. Ia (hak politik perempuan) baru terpikir di kongres Surabaya, akhir 1930. Kongres itu sendiri menghasilkan keputusan pembentukan badan perantara. Selain mengurusi masalah kematian bayi, perburuhan, dan perdagangan anak, badan itu bertugas mempelajari hak pilih kaum perempuan. Hampir bersamaan, hak politik juga dibicarakan dalam internal Kongres PPII tahun 1930. Dua tahun kemudian, Istri Sedar (IS) mendeklarasikan diri sebagai organisasi politik pada kongres keduanya di Bandung. IS menyerukan kepada para anggotanya untuk aktif berpolitik. Tapi, IS tak mau bergabung dalam KPI dengan alasan perkumpulan organisasi yang terlalu berbeda dari segi agama, sosial, dan masalah nasional akan sulit bersepakat untuk menyelesaikan masalah perempuan. KPI sendiri baru memutuskan terjun ke politik pada kongres keempatnya, 1941. Kongres itu, menurut sebuah Arsip Kowani, menghasilkan keputusan mendukung Gabungan Politik Indonesia (GAPI) dan mengajukan tuntutan agar perempuan Indonesia mempunyai hak pilih aktif dan pasif. Namun, baru sekira setahun keputusan itu berjalan, Jepang keburu masuk lalu membekukan KPI. Satu-satunya organisasi perempuan yang diperbolehkan adalah Fujinkai, organisasi perempuan yang berbau militeris. KPI baru mengadakan kongres kembali pada 1946 dengan mengganti nama payung organisasi menjadi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Berkongres di masa perang, hasil dua kongres tahun 1946 memutuskan mendukung perjuangan kemerdekaan. Para perempuan berhasil menjalankan kongres di masa-masa sulit untuk mempertahankan kemerdekaan antara 1946-1950. Setelah penyerahan kedaulatan, Kowani kembali menyelenggarakan kongres pada 1950 dan mengganti nama federasi menjadi Kongres Wanita Indonesia (KWI). Cora Vreede-deStuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia menulis, pada 1953 hasil kongres juga membentuk komite yang mengurus Yayasan Hari Ibu. Perayaan 22 Desember sebagai Hari Ibu sebelumnya diputuskan dalam kongres KPI ketiga di Bandung, Juli 1938. Arsip Kowani mencatat, maksud pemaknaan Hari Ibu dalam kongres adalah hari dimulainya derap kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan harkat, martabat, dan negaranya. SK Trimurti dari Gerakan Wanita Istris Sedar (Gerwis), yang sudah bergabung dengan federasi, menjadi salah seorang yang dipilih sebagai panitia Yayasan Hari Ibu. Menurut kesaksian Sukanti Suryochondro dalam Potret Pergerakan Wanita di Indonesia, Gerwis menjadi salah satu pemimpin KWI setelah kongres tahun 1958. Sejak 1950-an hingga 1966, KWI sangat aktif menyuarakan hak-hak perempuan. Para anggotanya aktif dalam politik. Hal itu sejalan dengan kondisi sosial-politik yang mendorong perempuan untuk menjadi ibu progresif revolusioner yang aktif dalam politik dan memiliki kewenangan besar dalam keluarga. Menurut Cora, setelah kemerdekaan, gerakan perempuan aktif dalam membangun dan memperkuat negara yang baru merdeka. Namun, G30S 1965 mengubah segalanya. Orde Baru (Orba) memberangus seluruh organisasi yang dianggap berhaluan kiri. Gerwani dan beberapa organisasi perempuan yang dianggap berhaluan kiri dikeluarkan dari Kowani. Orba juga memastikan bahwa organisasi-organisasi yang hidup bisa dikontrol untuk kepentingan politiknya. Setelah Sidang Umum MPRS 1966, Pemerintah Orba melakukan konsensus politik dengan semua ormas, termasuk Kowani. Maka, diselenggarakanlah Kongres Luar Biasa Kowani pada pertengahan 1966. Ada sekira 35 organisasi yang mengirimkan wakilnya. “(Suharto memastikan – red. ) mereka mendukung pemerintahan yang sah, yakni Suharto yang mendapat wewenang Supersemar. Semua takut. Karena kalau enggak, dianggap musuh negara,” kata Ruth Indiah Rahayu. Lebih lanjut Ruth menjelaskan, strategi Orba untuk menundukkan gerakan perempuan adalah dengan memegang federasinya, yakni Kowani. Dengan demikian, organisasi yang berada di bawah payung Kowani juga ditundukkan. “Jamannya Pak Harto itu ditunjuk aja. ‘Kamu jadi ketua umum’. Pimpinan itu sudah diarahkan. Ya kan waktu itu begitu iramanya,” kata Sri Yulianti Sugiri, ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Kowani.

  • Hukuman Bagi Pelaku Pelecehan Seksual di Majapahit

    KERAJAAN Majapahit mengatur hubungan perempuan dan laki-laki cukup ketat. Aturan itu ada dalam prasasti dan kitab perundangan-undangan Agama. Prasasti Cangu (1358 M) yang berisi peraturan tempat penyeberangan di Bengawan Solo memuat pula keterangan yang menyiratkan hukuman berat bagi pelaku pelecehan seksual yang disebut strisanggrahana. Aturan itu mengambil contoh kasus seorang tukang perahu tambang. Ia tak akan dianggap bersalah bila menyebrangkan perempuan manapun bila sudah bersuami. Selama dia tidak berbuat astacorah, yaitu delapan macam kejahatan yang berhubungan dengan pencurian. Pun jika ada perempuan tenggelam dan dipegang oleh tukang perahu. Misalnya, jika tukang perahu mengangkat dan memegangnya.

  • Menolak Feodalisme

    Ketika bertandang ke rumah Gusti Putri, Sujatin mendapat suguhan minuman yang disajikan dalam cangkir biasa tanpa penutup. Tuan rumah menyuguhkannya tanpa menggunakan nampan. Suguhan itu berbeda dari yang diterima Gusti Putri, bangsawan Jawa yang merupakan wali murid Sujatin. Selain dibawa dengan nampan, minuman Gusti Putri disajikan dalam cangkir cantik yang dilengkapi penutup. Sujatin merasa diperlakukan tak setara. Sebagai bentuk protes, dia tak menyentuh suguhan itu sama sekali. Sejak lama, Sujatin penentang keras praktik feodalisme dalam budaya Jawa. Hal itu merupakan bagian dari fokus perjuangannya untuk memerdekakan Indonesia dan memperbaiki hak serta nasib perempuan. Bersama beberapa rekannya sesama guru yang kebanyakan bekas anggota Jong Java, dia mendirikan perkumpulan Poetri Indonesia tahun 1926. Sujatin terpilih sebagai ketua. Ketika para perempuan pejuang dari berbagai daerah akan menghelat Kongres Perempuan I, Sujatin aktif memperjuangkannya. Bersama rekan-rekannya dia mondar-mandir untuk untuk menyiapkan kongres, mulai dari menyiapkan penginapan di kediaman kerabat yang bisa ditumpangi menginap, meminjam Gedung Joyodipuran kepada bangsawan Joyodipuro, sampai mencari taplak meja yang selaras. “Tak mungkin memperoleh cukup taplek warna hijau. Apa boleh buat, kekurangannya kupinjamkan dari persediaan pribadi yang kubeli dari lelang-lelang orang Belanda yang pindah rumah,” kata Sujatin dalam biografinya yang ditulis Hanna Rambe, Mencari Makna Hidupku . Usai kongres, perjuangan Sujatin melawan feodalisme tetap berjalan. Dalam keseharian, penentangan itu antara lain berbentuk penolakan Sujatin menggunakan bahasa Jawa krama kepada bangsawan. Sujatin lebih senang menggunakan bahasa Indonesia (saat itu masih disebut bahasa Melayu) kepada semua orang yang dia temui meski kala itu penggunaannya di kalangan bangsawan belum umum. Sujatin tak peduli penggunaan bahasa Indonesianya menjadi perbincangan. “Aku tidak suka tingkat hidup manusia dibedakan melalui bahasa. Perbuatan itu sangat kasar menurutku, menusuk hati golongan rendah,” kata Sujatin dalam biografinya yang ditulis Hanna Rambe, Mencari Makna Hidupku . Selain soal penggunaan bahasa, Sujatin selalu menolak menyembah sultan Yogyakarata. Sujatin pernah mengajukan beberapa syarat ketika diminta Gusti Putri menjadi guru privat bagi anaknya. Selain disediakan kereta kuda untuk antar-jemput mengajar, Sujatin baru akan menerima permintaan Gusti Putri bila diperbolehkan duduk di kursi, agar setara, bukan duduk di lantai laiknya perlakuan bangsawan saat itu. Sujatin aktif memprotes perlakuan terhadap perempuan keraton. Sejak masih sekolah di HIS, dia tak pernah tertarik gaya hidup ala keraton lantaran persoalan selir. Menurutnya, itu sangat memalukan. “Hanya sebagai barang untuk diperdagangkan, diambil sebagai selir kapan saja raja masih suka, untuk diberikan pada laki-laki lain jika raja sudah merasa puas,” kata Sujatin sebagaimana dikutip Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia . Ketika menghadiri rapat PPII di Rembang, 1930, dia berpidato mengenai nasib buruh dan gadis yang dijadikan selir. Posisi selir, yang dia umpamakan sebagai “pelipur lara”, menurutnya amat hina dan menyedihkan. Pidato itu membuat Sujatin dipanggil polisi keesokan harinya. Kepala polisi memperingatkannya agar berhenti mengkritik keluarga keraton. Sujatin juga diancam akan dikucilkan atau diusir dari Yogyakarta atau Surakarta bila masih mengkritik kehidupan istana. Sementara, pidatonya tentang nasib buruh perempuan tak disinggung. Tukang Bikin Patah Hati Lelaki Sebagai aktivis, waktu Sujatin untuk kehidupan pribadi tak sebanyak perempuan kebanyakan. Kehidupan pribadinya pun harus dia jalani berbeda dari kebanyakan gadis kala itu, termasuk soal asmara. Saat mempersiapkan Kongres Perempuan I, dia sedang menjalin kasih dengan bekas anggota Jong Java yang sudah lama dikenalnya. Keduanya terpaksa menjalani hubungan jarak jauh lantaran sang pria harus melanjutkan studi ke fakultas hukum di Batavia. Saat kongres, pacar Sujatin kebetulan sedang libur kuliah sehingga bisa pulang kampung sekaligus menemui Sujatin. Keduanya sudah punya rencana jalan-jalan bareng ke Kaliurang dan nonton di bioskop. Namun karena teramat sibuk menyiapkan kongres, Sujatin tak sempat menemui si pacar. Akibatnya, si pacar merasa tak diacuhkan lalu mengambek. Ketika si pacar sudah kembali ke Batavia, Sujatin mengiriminya surat permintaan putus. “Baru diuji sekian hari saja karena persiapan kongres, sudah marah. Berarti kita tidak sehaluan, tidak cocok. Lalu untuk apa hubungan yang sudah nyata-nyata tak selaras diteruskan?” tulis Sujatin dalam surat itu. Hubungan asmara Sujatin kembali kandas menjelang kongres bulan Desember 1930 di Surabaya. Pacar Sujatin, seorang mahasiswa Technische Hooge School, sengaja ke Yogyakarta untuk mengunjunginya. Namun, Sujatin malah sibuk menyiapkan materi pidato “Pendidikan Wanita”. Si pacar yang datang jauh dari Bandung pun kecewa dan hubungan berakhir. Lantaran membuat dua lelaki patah hati, Sujatin sempat mendapat julukan “tukang bikin patah hati lelaki”. Tapi dia punya pendapat lain. “Aku bukan mematahkan hati lelaki. Aku sedang berjuang, demi kemerdekaan bangsa dan perbaikan derajat kaum wanita.” Sujatin akhirnya menikah dengan laki-laki yang mau memahami dan mendukung perjuangannya, Pudiarso Kartowijono, pada 14 September 1932. Sejak menikah, namanya lebih dikenal sebagai Sujatin Kartowijono.

  • Perdebatan di Kongres Perempuan

    DENGAN khidmat, gadis-gadis anggota paduan suara menyanyikan lagu dalam bahasa Indonesia untuk menyambut para tamu. Layar panggung langsung menutup begitu mereka selesai menyanyi. Ketika layar kembali terbuka beberapa saat kemudian, deretan gadis berpakaian tradisional yang mewakili beberapa daerah di Indonesia telah berdiri di panggung. Para hadirin yang duduk di kursi-kursi dekat meja-meja bertaplak hijau langsung terkagum-kagum. “Hidup persatuan perempuan Indonesia!” kata mereka spontan. Suasana itu terjadi dalam pembukaan Kongres Perempuan I di Yogyakarta, 22-25 Desember 1928. Kerjakeras panitia membuat acara itu terlaksana. “Sebagai panitia, kami harus hilir-mudik keliling kota menyelesaikan berbagai urusan. Kendaraan kami hanya sepeda. Tulis-menulis dilakukan dengan tangan karena mesin tik belum umum, mungkin hanya di kantor pemerintah,” ujar Sujatin, salah seorang panitia kongres, dalam biografinya, Mencari Makna Hidupku . Acara yang berlangsung di Gedung Joyodipuran itu dihadiri oleh mayoritas perempuan berusia 20-an tahun. Mereka kebanyakan kelas menengah-atas yang telah mengenyam pendidikan formal. Profesi mereka beragam, mulai guru, direktur asrama yatim piatu, hingga pedagang meski ada juga yang masih pelajar. Namun, kongres terbuka bagi perempuan non-pendidikan formal. Dua perempuan dari golongan ini yang hadir adalah Nyonya Soekonto dari Wanito Oetomo dan Marakati Drijowongso dari organisasi perempuan PSII. Nyonya Soekonto, yang berusia 39 tahun, merupakan ketua kongres. Dia dipilih karena paling tua. Menurut Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang, unsur kejawaan sangat kuat dalam kongres pertama karena para panitia dan lokasi kongres yang berada di pusat kebudayaan Jawa, Mataram (kini Yogyakarta). Peserta lain yang belum mengenyam pendidikan formal adalah Marakati Drijowongso. Dia seorang pedagang kecil yang keadaan ekonominya sulit. Kemiskinan orangtuanya membuatnya tak bisa merasakan bangku sekolah. Meski begitu, dia aktif dalam organisasi wanita PSII sehingga menjadi salah satu wakil yang hadir dalam kongres. Kongres itu, menurut catatan Nyonya Toemenggoeng yang meliput, berjalan lancar. “Benar-benar tidak ada perdebatan: masing-masing pembicara mengucapkan gagasan-gagasannya sendiri,” tulisnya. Namun, kata Susan dalam buku yang sama, sempat ada perdebatan antara Siti Moedjijah, perwakilan dari markas besar Aisyiyah Yogyakarta, dengan beberapa perempuan penentang poligami. Perdebatan bermula ketika hak-hak perkawinan dibahas dalam pidato perwakilan organisasi-organisasi perempuan yang tak berlandaskan agama. Beberapa di antaranya, RA Soedirman, wakil dari organisasi Poetri Boedi Sedjati Surabaya. Dia mengatakan, “Sudah saatnya merebut hak-hak perempuan sebagai tujuan pokok gerakan kita.” Dominasi laki-laki atas perempuan, terutama dalam perkawinan, amat mengakhawatirkannya. RA Soedirman juga memberikan kritik pedas kebiasaan orang tua yang menikahkan anaknya dengan orang tak dikenal kemudian dalam pernikahan si perempuan harus tunduk pada suaminya. Djojoadigoeno, wakil Wanito Oetomo, juga membahas hal serupa. Menurutnya perempuan tidak mendapatkan hak setara dalam perkawinan. Diskriminasi terhadap perempuan dan upaya pembelaan terhadapnya itu pula yang menjadi isi pidato Djami dari Darmo Laksmi. Sedangkan Ny. Moegaroemah, wakilan Poetri Indonesia, mengkritik praktik perkawinan anak-anak dan mendesak para perempuan untuk bersatu melawan kebiasaan tersebut. RA Hardjodiningrat dari Wanita Katolik nimbrung ke dalam predebatan. Dia mengatakan pendekatan Katolik dalam perkawinan sebagai yang paling sempurna. Pandangannya diperkuat Djami, yang juga mengecam poligami. Mendengar banyak yang kritik mengenai perkawinan, Sitti Moendjijah berbicara membela hukum perkawinan Islam, termasuk poligami. Ketika Moendjijah membacakan pidatonya, anggota-anggota Aisyiyah bertepuk tangan mendukung pidatonya. Sementara, perwakilan dari Wanita Katolik saling mendekatkan kepala dan berbisik-bisik membicarakan isi pidato Moendjijah. Kata poligami yang menggema ketika Moendjijah berpidato, tulis Susan, bagai sengatan lebah bagi para perempuan muda dan membuat mereka sangat gelisah. Siti Soendari langsung mendebat pidato Sitti Moendjijah. Dia menyebut Moendjijah sebagai pembela standar ganda. Mendengar hal ini, Siti Moedjijah langsung menanggapi bahwa dirinya hanya menyampaikan apa yang diperbolehkan. Moendjijah juga membalas Siti Soendari dengan mengatakan bahwa Soendari terlalu banyak memandang dunia dengan kacamata merah muda. Panasnya suasana kongres membuat Nyonya Siti Zahra Goenawan, perwakilan Roekoen Wanodijo, berinisiatif melerai. Upaya perempuan yang datang dari Weltevreden (Jakarta) itu berhasil dengan tak dilanjutkannya perdebatan tentang poligami dan hak-hak perkawinan. Menurut Toemenggoeng dalam catatannya, para peserta kongres berusaha keras menunjukkan itikad baiknya untuk menciptakan persatuan perempuan. Ketegangan yang ada karena bahasan tentang perkawinan tak menghalangi tekad mereka untuk membentuk federasi Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). Kongres itu, tulis Cora Vreede-de Stuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia, tak menitikberatkan perjuangan perempuan dalam urusan politik tetapi memajukan posisi sosial perempuan dan kehidupan keluarga. Hasil kongres menuntut pemerintah kolonial untuk meningkatkan jumlah sekolah untuk anak perempuan, penjelasan taklik pada mempelai perempuan saat pernikahan, juga pembuatan aturan tentang pertolongan janda dan anak yatim piatu pegawai sipil.

  • Petaka Pasadena

    BERBEDA dari pelatih Fransisco Maturana dan gelandang Gabriel Jaime Gomez yang amat gelisah, bek Andres Escobar Saldarriaga tetap tenang menjelang laga kedua Kolombia di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat (AS). Pemain kelahiran Medellin, 13 Maret 1967, itu tak ingin tekanan publik negerinya merusak konsentrasi untuk bermain sebaik mungkin. Kedewasaan sikap Escobar, anak emas klub Atletico Nacional (Medellin), membuat dirinya kerap menjadi teladan di dalam maupun luar lapangan. Publik menjulukinya “ El Caballero del Futbol ” atau “Pria Sejati dalam Sepakbola”. Laga Petaka Para pemain Kolombia punya tekanan lebih berat saat memasuki Stadion Rose Bowl, Pasadena, California pada 22 Juni 1994. Selain lawan yang akan dihadapi adalah tuan rumah, mereka harus memenangkan pertandingan itu jika tak ingin terdepak dari perhelatan. Sebab, di laga perdana melawan Rumania mereka kalah 1-3. Keinginan untuk terus berada dalam turnamen itulah yang membuat para pemain Kolombia bersemangat. Selain memiliki catatan baik selama kualifikasi, mereka semangat karena lawan yang bakal dihadapi secara kualitas masih kalah baik. “Saya sudah siap main bagus,” kata Faustino Asprilla, penyerang Kolombia andalan klub Parma, dalam dokumenter besutan jurnalis Richard Sanders, Escobar’s Own Goal . Namun, petaka menghampiri Kolombia di menit ke-35. Escobar salah mengantisipasi umpan silang pemain sayap AS John Harkes. Upayanya menghalau bola justru mengarahkan bola ke gawang sendiri yang dijaga kiper Oscar Cordoba. Kolombia akhirnya kalah 1-2. Meski menang 2-0 atas Swiss di pertandingan berikutnya, Kolombia gagal melaju ke babak kedua. Kegagalan Kolombia dinilai ganjil. Terutama, karena sebelumnya di babak kualifikasi Kolombia tampil trengginas. Publik negeri itu, utamanya media-media dalam negeri, melayangkan beragam kritik pedas yang lantas memicu banyak ancaman penculikan dan pembunuhan terhadap entrenador (pelatih) Francisco Maturana dan pemain Gabriel Jaime Gomez. “(Suratkabar) La Pensa mendeskripsikan kelompok pengancam itu sebagai ‘Skuad Kematian Bayangan’. Mereka mengancam Maturana dan Gomez lewat telepon. Polisi kemudian mengawal kediaman Maturana dan Gomez selama beberapa saat,” tulis Koran New York Times , 24 Juni 1994. Sementara, Escobar sekembalinya ke kota asalnya di Medellin, terakhir kali terlihat di dekat sebuah klub malam El Indio oleh sejumlah saksi mata pada dini hari 2 Juli 1994. Escobar yang berada di dalam mobilnya, disebutkan didekati dan kemudian terlibat percekcokan dengan tiga orang tak dikenal. Seketika, meletuslah 12 kali tembakan. “Disebutkan seorang saksi, salah satu penembaknya sebelumnya mengatakan, ‘Terima kasih untuk gol bunuh dirinya’. Kemudian mereka melepas tembakan 12 kali dan meneriakkan ‘gol’ saat menembak Escobar. Trio pelaku kemudian kabur dengan dua mobil,” ungkap suratkabar LA Times , 3 Juli 1994. Escobar meninggal di tempat dengan keadaan tubuh yang berdarah-darah di dalam mobil. Kepolisian Medellin menduga kuat bahwa pembunuhan Escobar ada kaitannya dengan perjudian dalam sepakbola. Entah diduga bahwa Escobar dan kawan-kawannya disuap untuk kalah dari AS dan Rumania, atau karena memang para penjudi dari kelompok Kartel Medellin tak terima mereka kalah banyak akibat kekalahan Kolombia dari AS gara-gara gol bunuh diri Escobar. “Dalam penjelasan yang paling dipercaya, Kartel Narkoba Medellin bertaruh uang yang sangat besar dan kalah dalam taruhan itu karena Kolombia gagal maju dari fase grup. Kartel itu mengambinghitamkan Escobar,” sebut Nicolae Sfetcu dalam buku Game Preview. Tidak hanya publik Kolombia yang geger. John Harkes, pemain AS yang secara tidak langsung menyebabkan gol bunuh diri Escobar, turut terpukul kala mendengar kabar duka itu. “Saya seperti mati rasa mendengar berita itu. Di Kolombia dia pemain yang dihormati, dikenal sebagai pria sejati. Kami olahragawan dan semestinya tidak begini kejadiannya,” kenang Harkes dalam kolom yang ditulisnya di situs theplayerstribune.com , 3 Juni 2016. “Jelas saya merasakan kesedihan. Keprihatinan saya untuk keluarganya. Hari itu anda tak bisa fokus. Di hotel malam itu, Anda berusaha untuk terus fokus pada pertandingan, namun tidak bisa. Anda berusaha menemukan jawabannya dan tetap tidak bisa,” ujarnya. Pun begitu dengan pihak FIFA, yang diwakili Sekjen Sepp Blatter. “Ini hari paling menyedihkan dalam sepakbola menurut saya, baik dalam Piala Dunia maupun dalam kompetisi apapun,” ucap Blatter, dikutip koran Orlando Sentinel , 3 Juli 1994. Tidak butuh waktu lama buat kepolisian menangkap pelakunya. Seorang tersangka, Humberto Castro Munoz dalam interogasi polisi, tak membantah bahwa dia membunuh Escobar. Castro dikenal sebagai sopir seorang gembong kartel Santiago Gallon Henao yang diduga, kehilangan banyak uang akibat kalah taruhan. Namun Castro dan kedua tersangka penembak Escobar lainnya, Hernan Dario Velez Correa dan Luz Mila Correa, menyanggah bahwa pembunuhan itu sudah direncanakan dan ada hubungannya dengan kartel narkoba. Castro sebagai tersangka utama, dijatuhi hukuman 43 tahun penjara. Akan tetapi karena kelakuan baik, pada 2015 ketiganya bebas bersyarat. Kenangan akan Escobar tetap abadi di setiap jiwa rakyat Kolombia. Sekitar 120 ribu orang mendatangi pemakamannya. Setiap tahun di hari kematiannya, publik Kolombia mengenangnya dengan membawa serta foto-fotonya ke berbagai pertandingan. Memorinya juga diabadikan dalam sebuah patung yang disingkap pada 2 Juli 2002 di kota kelahirannya yang dibuat seniman Alejandro Hernandez. Dalam sebuah kesempatan pada Piala Dunia 2014 di Brasil, FIFA mengundang para kerabat Escobar untuk mengenangnya dalam laga pembuka Brasil vs Kroasia di Rio de Janeiro, 2 Juli 2014 yang kebetulan juga menghadirkan gol bunuh diri bek Brasil, Marcelo Vieira. “Piala Dunia yang dibuka dengan gol bunuh diri menghadirkan kenangan sedih itu kembali. Namun hal seperti ini acap terjadi kapapun. Kami senang bisa ada di sini dan punya kesempatan berbagi kebahagiaan tentang apa makna sepakbola bersama semua orang yang ada di sini,” kata Maria Ester Escobar, kakak perempuan Escobar, dilansir situs resmi FIFA, 2 Juli 2014.*

  • Mereka Ingin Sukarno Mati

    YOGYAKARTA pasca dibom pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara Kerajaan Belanda pagi itu. Jalan-jalan menjadi lengang. Beberapa mobil terbakar menjadi puing. Sementara arus pengungsi mengalir ke luar kota, sepasukan para komando Belanda bergerak perlahan menuju Gedung Agung di dekat Stasiun Yogyakarta. Sempat terjadi perlawanan kecil dari beberapa unit TNI, namun itu tak jua sanggup membendung pergerakan para penyerbu. “Desember 1948, Belanda menjatuhkan hadiah Natal tepat di atas cerobong asap dapurku: Jam 5.30 pagi hari Minggu, tanggal 19,” ujar Sukarno seperti dituturkannya kepada Cindy Adam dalam Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia.

  • Peta Sebagai Sumber Sejarah

    SEKALI waktu, Alfonso de Albuquerque -pemimpin armada Portugis yang menyerang Malaka pada 1511- mengirim sebuah peta yang bertuliskan huruf Jawa kepada raja Portugal. Namun sayang, tulis Adrian B Lapian dalam Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke -16 dan 17 , kapal yang membawa peta itu tenggelam di tengah jalan. Dalam catatan bangsa Portugis, peta sudah dikenal pelaut dari Nusantara untuk berlayar pada awal abad ke- 16. Penyataan Lapian itu menunjukkan masyarakat Nusantara sudah lama mengenal konsep ‘ruang’ dalam kerangka kekuasaan. “Sebenarnya kita sudah memiliki gagasan mengenai space sendiri, yang saya sebut sebagai pengetahuan geografi Nusantara. Dulu, kita memiliki konsep ruangan tradisional, sak pandelengan (satu sapuan mata - red ). Apa itu konsep sak pandelengan ? Jadi wajar ketika mengklaim wilayahnya tidak harus membuat demarkasi, didelineasi dengan alat sextan. Namun sejauh raja bisa memandang, itu milik dia,” ujar Uji Nugroho Winardi, sejarawan Universitas Gajah Mada yang khusus mendalami sejarah kartografi. Teknik pembuatan peta terus berkembang. Hal itu berujung dengan munculnya kartografi, ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang peta, mulai dari sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta.“Kartografi itu kata yang genuine muncul di abad ke-19,” ujar Uji dalam Seminar Sejarah Nasional di Universitas Gajah Mada, 14-16 Desember 2017. Sejak menguatnya dunia pelayaran orang Eropa ke Asia, peta memiliki posisi penting. Ia dipandang sebagai pemantik munculnya kapitalisme. “Peta laut bikinan Petrus Pancius, diberi judul Insulae Moluccae Celeberrimae , dibuat tahun 1594. Ini digunakan kongsi dagang Belanda untuk iklan. Jadi berdasarkan peta ini, mereka mencari siapa yang mau tanam saham untuk mendanai pelayaran. Peta ini kemudian memacu munculnya kapitalisme. Peta ini diproduksi secara massal dan untuk pewarnaan, menggunakan tenaga perempuan dan anak-anak untuk mewarnai di rumah. Ini memutar roda ekonomi,” ujar Uji. Dalam penulisan sejarah, tidak banyak orang menggunakan peta sebagai sumber sejarah atau sumber kajian. Uji membagi dua penulisan sejarah yang memfokuskan pada peta, yaitu karya sejarah yang menelaah mengenai peta dan karya sejarah yang menggunakan peta sebagai kekuatan pada kajiannya. Karya paling awal adalah Boegineesche Zeekarten van den Indische Archipel dari Le Roux yang, terbit pada 1935. Le Roux menelaah peta laut orang Bugis. “Dia melakukan overview beberapa peta indigenous yang diproduksi orang Bugis. Peta ini disimpan di Utrecht, yang kemudian disebut peta bajak laut. Kemudian ada nama Jan O Broek, dia melakukan penamaan geografis, yang sekarang berkembang pesat menjadi toponimi. Toponimi adalah anak asli dari produk kartografi yang kawin-mawin dengan pengetahuan lain,” ujar Uji. Selain kedua nama tersebut, ada Ferjan Ommeling. Dia menyusun buku Colonial Cartography of the Netherland Indies 1816-1942 . Ferjan adalah anak Ferjan Ommeling Senior, orang yang berjasa bagi Indonesia karena mentransformasikan Indische Topografische Dienst menjadi Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional). Mengkaji peta atau menggunakan peta sebagai sumber sejarah menjadi nilai khusus bagi seorang sejarawan. Dengan mempelajari atau menguasai pembacaan peta, ia akan dapat “memanfaatkan peta untuk menulis berbagai jenis karya sejarah seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya; memahami sejarah keruangan suatu tempat; dan tema mengenai state formation , baik kolonial maupun nasional dan empire creation menjadi salah satu isu penting. Dalam hal ini, periode kolonial –terutama untuk kasus Indonesia– menjadi sangat penting dalam pembentukan teritori negara,” ujar sejarawan muda berkumis tebal itu. Pemahaman mengenai peta atau penggunaannya sebagai sumber kajian, dalam konteks Indonesia menjadi penting sebab hingga hari ini penghitungan pulau-pulau di seluruh Indonesia pun belum selesai.*

  • Kesadaran Sejarah Tumbuhkan Kepedulian pada Kota

    DALAM kurun 30 tahun terakhir, komunitas sejarah berkembang ke arah interaksi publik dengan masa lampau. Beriringan dengan perkembangan akses informasi kesejarahan, maka semakin luas pula komunitas sejarah yang dilakukan masyarakat atau kelompok yang terorganisir. Persoalan komunitas sejarah menjadi salah satu bahasan menarik dalam seminar nasional sejarah di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, 15 Desember 2017. “Potensi kemunculan komunitas kota harus direspons oleh sejarawan. Karena identitas kota dibentuk atas cerita yang dibangun dari sejarah kota itu sendiri. Jika cerita yang muncul tidak mendukung kemunculan kota yang inklusif atau multikultur maka akan mematikan ruang kota buat banyak orang. Jadi, tugas moral sejarawan ada di situ. Jika kita sudah bersepakat untuk engage dengan orang untuk membangun civic culture , harus yang bersifat inklusif,” ujar Farabi Fakih, sejarawan UGM, kepada Historia . Beberapa tahun belakangan, Farabi mengakrabi beberapa komunitas yang ada di Indonesia, di antaranya adalah komunitas Kota Toea Magelang di Jawa Tengah dan komunitas Aluet di Bandung, Jawa Barat. Dia menilai komunitas-komunitas ini sudah berupaya merespons kota dengan segala ceritanya. Frasa “komunitas sejarah”, menurut Faye Sayer dalam Sejarah Publik , digunakan untuk menjelaskan proyek warisan budaya di Hungate, York, Inggris Raya. Ini adalah satu situs yang tidak memiliki komunitas menetap sejak 1930-an. Namun, terletak di jantung kota yang padat penduduk, dalam lingkungan huni yang memiliki warisan kesejarahan dan arkeologis yang kaya. Pada dekade 1960 hingga 1970-an, di Inggris muncul gerakan sejarah publik seperti history workshop . Kemudian pada 1983, Bradford Heritage Recording Unit terbentuk atas usaha dewan kota dan pemerintah kota Bradford didanai komisi pemerintah yang menyediakan kerja sementara bagi penganggur. Komunitas ini merekam kisah-kisah penduduk yang multikultural dan memberikan kesempatan bagi komunitas lokal untuk terlibat dalam komunitas sejarah. Ujung dari gerakan yang luas ini, yang didukung pendanaan dari pemerintah dan riset akademik dalam komunitas sejarah, adalah bertumbuhnya perkumpulan lokal baru, dan menjadi bagian dari 654 perkumpulan sejarah lokal di Inggris hingga saat ini. Jika komunitas sejarah sudah begitu subur di Inggris, bagaimana dengan di Indonesia? “Pasca runtuhnya negara kolonial, penulisan sejarah di Indonesia tertarik sepenuhnya ke universitas. Jadi, bukan lagi dilakukan oleh masyarakat. Sementara kalau kita lihat dari sejarah kota sebelumnya, ditulis oleh orang-orang biasa, seperti guru, dokter, bagian dari kemunculan masyarakat sipil kolonial,” ujar Farabi yang membawakan makalah “Sejarah Kota sebagai Public History : Komunitas Menulis Sejarahnya Sendiri.” Di Amerika dan Eropa, sejarah publik sudah berkembang sedemikan rupa. Sejarah publik merupakan gerakan metodologi dan pendekatan yang mempromosikan studi dan praktik kolaboratif dari ilmu sejarah, yang praktisnya merangkum misi untuk membuat masyarakat paham dan berwawasan sejarah. Jadi, kalangan sejarawan ingin menarik masyarakat atau komunitas menjadi partisipan dalam produksi sejarah. “Penciptaan public history di Indonesia itu mulai tampak dalam konteks kemunculan komunitas pelaku sejarah. Pasca Orde Baru, mulai bermunculan kan beberapa komunitas, seperti komunitas tur sejarah,” ujar Farabi. Beberapa komunitas sejarah, dalam penelitian Farabi, sudah bergerak secara massif dengan menggelar kelas-kelas literasi seperti menggelar diskusi, menulis dan jalan-jalan. Kesadaran sejarah ini mahal. Banyak kota di Indonesia tidak memiliki masyarakat sipil yang kuat. Mereka abai dengan lingkungannya, seperti membiarkan jalanan hancur dan trotoar kotor. Sikap abai ini karena masyarakat setempat tak memiliki perasaan memiliki sebuah kota tempat dia bernaung. Pemunculan sikap peduli terhadap kota bisa dimulai dengan menghadirkan sejarah publik sebagai hasil kolaborasi sejarawan dan komunitas sejarah. “Sebagai contoh, bisa antara sejarawan dan orang-orang yang aktif di komunitas bisa menulis sejarah bareng. Mereka bisa saling melengkapi. Sejarawan bisa membantu mengenai masalah metodologi lalu akses sumber, dan komunitas bisa melengkapi perspektif. Komunitas ini kan sudah memiliki sudut pandang menciptakan masyarakat sipil yang kuat atau lingkungan yang inklusif,” ujar Farabi.

  • Membangkitkan Kasti yang Mati Suri

    Semasa kanak-kanak, Mohammad Ismail selalu menyempatkan bermain dengan teman-temannya meski tugas rutin yang diberikan orangtuanya tak pernah alpa dia kerjakan. Pria yang di kemudian hari menjadi pejuang kemerdekaan lalu gubernur Jawa Tengah itu menyukai segala macam permainan anak seperti kelereng dan petak umpet, serta permainan olahraga seperti badminton dan kasti. “Bahkan waktu sekolah di MULO saya dibilang jagonya kasti,” ujarnya dalam biografi yang ditulis bersama Bambang Sadono, Haji Mohammad Menggali Emas Jawa Tengah . Kasti merupakan permainan olahraga yang populer hingga awal 1990-an. Di lingkungan rumah maupun sekolah, anak-anak usia sekolah dasar banyak yang memainkannnya. Di sekolah, permainan itu bahkan termasuk jenis olahraga yang dijadikan mata pelajaran. Namun, hingga kini asal-usul dan siapa pencipta permainan kolektif yang biasa dimainkan pagi dan sore hari itu masih gelap. “Kapan awalnya permainan (kasti) ini ada di Indonesia, memang masih kabur. Banyak permainan yang berasal dari negara lain kemudian dibawa ke Indonesia, lalu berkembang yang akhirnya dilakukan orang-orang Indonesia secara turun-temurun,” tutur pemerhati dan pelestari permainan tradisional, Endi Aras Agus Riyono kepada Historia.id . Spekulasi paling diyakini, kasti adalah permainan yang diadaptasi dari permainan bisbol dan sofbol. Bisbol, yang diduga kuat menjadi “inspirasi” lahirnya kasti, sendiri punya beragam versi asal usul. Versi Prancis, misalnya, berangkat dari sebuah manuskrip dari tahun 1344 yang menunjukkan sebuah ilustrasi permainan mirip bisbol atau kasti bernama La Soule. Sementara itu, menurut David Block dalam Baseball Before We Knew It: A Search for the Roots of the Game , permainan yang identik dengan bisbol adalah permainan kuno Prancis lain seperti Theque, La Balle au Baton, dan La Balle Empoisonne. Pencarian Block terkait riwayat bisbol juga makin “bercabang” setelah mendapati referensi sebuah buku anak-anak dari Zaman Tudor. John Newberry punya pendapat lain lagi. Dalam bukunya yang ditulis pada 1744, A Little Pretty Pocket-Book , dia menerangkan bahwa permainan tersebut terinspirasi dari rounders . Permainan kolektif itu merupakan permainan anak-anak di Inggris yang dasar-dasar permainannya sangat mirip bisbol dan kasti saat ini. Kedua permainan itu, bisbol dan sofbol, kemudian masuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. “Awal abad ke-20 itu sport sedang bertumbuh-kembang di Barat,” ujar sejarawan Didi Kwartanada kepada Historia.id . Orang-orang kulit putih, dan kemudian Tionghoa yang belajar di Barat, membawa dan memainkan beragam permainan sport itu ke Hindia Belanda. Novel Para Priyayi karya Omar Kayam merupakan salah satu pendokumentasi kasti di era kolonial. Lantip, tokoh utama novel itu, seorang bumiputra generasi awal yang mendapat pendidikan Barat, mengggunakan kasti dan permainanan lain untuk mendekatkan diri kepada murid-muridnya. “Mereka saya ajak bermain sepakbola, kasti, bertamasya ke Gunung Gandul dan Alas Ketu, dan kadang-kadang juga ke pantai selatan,” demikian Khayam menulis salah satu kisah dalam novel itu. Kasti terus meluas cakupannya, ia dimainkan hampir di seluruh kepulauan. Tak ada aturan resmi permainan itu membuat banyak daerah punya aturan dan cara tersendiri dalam memainkannya kendati secara garis besar tetap sama. Yang pasti, kasti tak memiliki aturan jumlah pemain, tempat, dan waktu permainan. Kasti bisa dimainkan hanya oleh enam, delapan, bahkan belasan orang. Tempat memainkannya pun tak hanya di lapangan sepakbola tapi juga bisa di kebun atau tanah lapang di tepian sawah. Soal waktu, biasanya anak-anak baru berhenti memainkan kasti di sore hari ketika suara adzan magrib sudah berkumandang atau suara ibu-ibu dari para pemain sudah terdengar memerintah pulang. Perkembangan zaman membuat kasti dan permainan tradisional lainnya semakin ditinggalkan dan dilupakan. Kemunculan permainan elektronik, mulai game watch , dingdong, hingga yang terakhir gadget, menjadi pemicunya. Ditambah dengan didikan orangtua yang lebih mementingkan keselamatan dan ketenangan anak, mereka pun akhirnya lebih memilih permainan-permainan elektronik ketimbang harus berpanas-panasan atau hujan-hujanan memainkan kasti dan permainan tradisional lain. “ Gadget itu salah satu (faktor). Munculnya permainan modern, terbatasnya lahan, terputusnya informasi dari generasi ke generasi dan munculnya kehidupan yang individualis menjadi penghambat (pelestarian kasti),” ujar Endi. Toh, kasti belum punah. Beberapa lomba kasti masih bermunculan di beberapa daerah. Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM) Cabang Anggeraja, misalnya, pada Juli hingga Agustus lalu menghelat perlombaan kasti untuk memperingati HUT kemerdekaan. Namun, itu sifatnya hanya sesaat. Setelah itu kasti kembali “mati suri”. Pemerintah tak bisa berbuat banyak menyelamatkannya karena kasti belum dianggap sebagai olahraga kompetitif. Hal itulah yang membuat “pejuang” permainan tradisional seperti Endi terus berupaya melestarikannya. “Pameran bersama (di luar Jabodetabek) atas bantuan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) juga pernah kami adakan di Semarang, Salatiga, Batang, Manado, Aceh, serta Pontianak. Dibarengi dengan pemberian informasi tentang permainannya. Memang tidak mudah, harus dilakukan terus-menerus dan secara berkesinambungan,” ujarnya. Bersama rekan-rekannya, sejak 2005 Endi aktif menggelar kegiatan pameran, gelar dolanan, hingga workshop di sekolah-sekolah, mal-mal, kampus, taman atau kantong-kantong kebudayaan lainnya untuk melestarikan kasti dan beragam permainan tradisional lain. Permainan tersebut sarat filosofi dan manfaat ketimbang main gadget. “Pemerintah juga tidak bisa fokus ke satu atau dua permainan. Makanya dibutuhkan sekali munculnya para penggiat (dari elemen masyarakat). Pentingnya dilestarikan karena permainan ini mengutamakan unsur kekompakan, ketangkasan dan kegembiraan. Melatih kedisiplinan dan meningkatkan kerjasama antar-pemain,” tandasnya.

  • Penulisan Sejarah dalam Mode 2.0

    SEKIRA 165 ahli sejarah berbagai umur, berasal dari berbagai daerah di Indonesia, selama tiga hari, 14-16 Desember 2017, saling bertukar paparan. Masing-masing akan menyampaikan makalah yang sudah disusun, kemudian berdiskusi. Keseluruhan acara tersebut bertajuk "Peringatan 60 Tahun Seminar Sejarah 1957-2017" dengan Universitas Gajah Mada sebagai tuan rumah. “Seminar ini adalah inisiasi dari dua lembaga, MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) dan PPSI (Perkumpulan Prodi Sejarah Seluruh Indonesia). Kemudian disusun panitia, dan UGM ditunjuk sebagai tuan rumah. Persiapannya sekitar enam bulan jadi mulai dari call of paper ,” ujar Sri Margana, ketua panitia seminar sejarah, kepada Historia . Semula, seminar ini hanya akan membatasi pada 60 pemakalah dan hanya diselenggarakan selama dua hari saja. Namun, banyaknya abstraksi makalah yang masuk, maka jumlah pemakalah yang diundang membengkak menjadi 165 orang dan waktu pun bertambah satu hari. “Saya berharap ini bisa reguler, kalau bisa dibikin tahunan. Karena ini kesempatan bagi teman-teman S-2, S-3 atau teman-teman yang mempunyai skripsi bagus, bisa tampil di sini. Itu sangat membantu teman-teman yang lebih muda untuk mulai mengenal dunia riil dalam penulisan sejarah. Kalau di sini terbuka ruang. Saya senang, di sini tidak memandang umur, pangkat, jabatan, semua datang sebagai orang yang punya perhatian terhadap sejarah kita,” ujar Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, kepada Historia . Seminar nasional kali ini mengambil tema khusus, yaitu Sejarah untuk Kebinekaan dan Keindonesiaan: Refleksi 60 tahun Seminar Sejarah Indonesia. “Ya, karena sudah 60 tahun, sejarawan Indonesia perlu berefleksi bahwa seminar 1957 itu masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Seminar ini berusaha untuk menjawab masalah yang belum tuntas, seperti masalah filsafat sejarah nasional, periodisasi dan sebagainya,” ujar penulis buku Ujung Timur Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan ini. Seminar ini, selain merefleksikan seminar tahun 1957, juga ingin merespons keadaan sekarang. Tantangan yang dihadapi sejarawan tahun 1957, benar-benar berbeda dengan sejarawan masa kini. Jika tahun 1957, ujar Margana, tantangannya mungkin seputar dekolonialisasi, lalu upaya mengubah persepsi historiografi kolonial ke historiografi nasional, kemudian masalah sejarah nasional yang ditulis bangsa sendiri. “Nah, sekarang ini mungkin tantangannya berbeda. Sejarawan dihadapkan tantangan kekinian yang semakin rumit seperti belakangan ini menguatnya politik identitas, melemahnya rasa pluralisme. Di sinilah kita perlu merespons itu. Sejarawan barangkali perlu melihat dari peristiwa masa lampau yang bisa menunjukkan bahwa kebinekaan dan pluralisme itu adalah bagian dari proses sejarah yang sudah lama dan menjadi bagian dari kesepakatan bangsa,” ujar Margana. Dan oleh sebab itu, “sejarawan ditantang untuk menunjukan kajian sejarah dari sisi itu, untuk kembali menguatkan rasa kebinekaan,” imbuhnya. Sejarah yang Meluas Seminar sejarah kali ini mengambil empat subtema pokok yaitu (1) Menemukan Historiografi Indonesia, (2) Pluralisme dan Identitas: Pengalaman dan Pandangan Berkebangsaan, (3) Agama dan Negara: Pergulatan Pemikiran dan Ketokohan, (4) Kapita Selekta Pendidikan Sejarah Indonesia. “Banyak pertanyaan politik yang dibahas secara akademik dalam seminar ini. Soal agama, keragaman, soal dalam masyarakat. Soal-soal ini memicu para sejarawan, para profesional untuk bekerja secara metodik memikirkan persoalan ini. Bagaimana cara kita merumuskan, bagaimana cara mengajukan pertanyaan yang tepat. Sehingga nanti tidak keluar solusi-solusi instan,” ujar Hilmar Farid, ketua MSI, semalam (14/12). Suatu ketika, cerita Hilmar, sejarawan Sartono Kartodirdjo pernah menulis mengenai susahnya menulis macro history . Menurut Sartono, menulis macro history membutuhkan energi besar dan sumber daya manusia yang banyak. “Persoalan teknis ini sebenarnya sekarang kita sudah punya. Jumlah orang yang belajar sejarah sudah begitu banyak, akses kepada informasi dan arsip yang sudah didigitalkan sudah ada. Jadi apa yang dulu Pak Sartono berkata tidak mungkin dilakukan, sekarang menjadi mungkin. Dan itu sudah tercermin dari makalah-makalah yang masuk dalam seminar sejarah sekarang ini,” ujarnya. Hilmar juga menyoroti bagaimana penulisan sejarah dalam merespons situasi zaman saat ini, saat segala informasi dengan mudah dipilih sesuai selera dengan cepat. Generasi zaman sekarang, jarang membaca buku secara analog, yang membaca dari halaman depan ke halaman terakhir. Anak sekarang mencari informasi yang sesuai dengan dirinya sendiri. “Kita ini perlu memproduksi sejarah Indonesia sentris dalam model 2.0. Mode ini mengkombinasi banyak hal dan membantu mencari apa yang kita cari. Kalo web jaman dulu, sebelum 2.0, ya kita perlu men- download untuk mencari sesuatu. Tapi dengan mode 2.0, mereka bisa bekerja sendiri, penganalisanya bukan manusia atau sejarawan, namun algoritma. Inilah ranah produksi pengetahuan sejarah hari ini,” ujar Hilmar.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page