top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10053 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ini Bukti Otentik Sukarno Lahir di Surabaya

    MENDADAK masyarakat dihebohkan oleh pidato Presiden Jokowi yang salah menyebut tempat kelahiran Presiden Sukarno. Pidato tersebut disampaikan di Alun-Alun Blitar, Jawa Timur dalam rangka Hari Pancasila, 1 Juni kemarin. "Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran Proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Bung Karno, hati saya selalu bergetar," kata Jokowi dalam pidatonya. Kontan para pengguna media sosial pun ramai-ramai membahas kekeliruan itu, bahkan sebagian menjadikannya bahan banyolan lewat hastag #HatiSayaBergetar.

  • Cerita Kampung Kumuh dari Zaman Kolonial

    HENDRIK Freerk Tillema, seorang apoteker Belanda, tiba di Semarang pada awal abad ke-20. Dia bekerja pada Samarangsche Apotheek. Tiga tahun kemudian, dia berkesempatan keliling Semarang demi memenuhi hasratnya terhadap perbaikan kesehatan. Dia kaget melihat keadaan kampung-kampung di Semarang. “Banyak yang perlu dikerjakan di kota Indonesia. Semuanya benar-benar masih harus diperbaiki, seperti pelayanan kesehatan masyarakat, penerangan kampung, sanitasi, penataan daerah padat, perbaikan perumahan umumnya, saluran tanah, pembuangan kotoran, pengawasan kebersihan makanan, tidak ada satupun yang layak,” tulis Tillema dalam Kromoblanda: On the Question of Living Condition in Kromo’s Vast Country , dikutip Amir Karamoy dalam “Program Perbaikan Kampung : Antara Harapan dan Kenyataan” termuat di Prisma , No. 6, 1984. Menurut James L. Coban, kampung berbeda dari desa. “Desa berupa wilayah dengan pertanian dan lahan kosong, sedangkan kampung sebuah permukiman tanpa pertanian dan lahan kosong yang biasa berada di sekitar pinggiran atau dalam kota,” tulis Coban dalam “Uncontrolled Urban Settlement: The Kampong Question in Semarang (1905-1940)” termuat di Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde , 1974. Kemunculan kampung di kota bermula dari Regeeringsreglements 1854. Isi peraturan berupa pemisahan ras menjadi tiga, sesuai dengan tingkatannya: Eropa, Timur Asing, dan Bumiputera. Segregasi berdampak pada kebijakan pemukiman penduduk kota. “Segregasi ras secara fisik diterapkan dalam permukiman mereka yang sengaja dipisah-pisah dan tidak boleh membaur,” tulis Purnawan Basundoro dalam Pengantar Sejarah Kota . Hak-hak istimewa Gubernur Jenderal ( exorbitante rechten ) memperkuat kebijakan memukimkan penduduk berdasarkan ras. Orang Eropa dan sejumlah Timur Asing mukim di wilayah sehat dengan limpahan fasilitas seperti pagar, sanitasi, jalan, dan rumah permanen. Sebaliknya, Bumiputera menempati wilayah rawan penyakit. Tanpa fasilitas penunjang pula. Misalnya di Batavia, mereka bermukim di kota Inten. Memasuki awal abad ke-20, kepadatan penduduk kampung-kampung di kota mulai bertambah. “Migrasi urban mengubah banyak hal di kampung-kampung. Mereka menjadi daerah padat dan meluas,” tulis WF Wertheim dan The Siauw Giap dalam “Social Change in Java, 1900-1930” termuat di Jurnal Pacific Affairs Vol. 35, No. 3. Para migran di Semarang, Surabaya, dan Batavia memilih tinggal di kampung-kampung dekat dari pelabuhan. Mereka memandang pelabuhan sebagai tempat bekerja paling pas untuk mereka : dekat, tak mensyaratkan pendidikan tinggi, dan tak perlu keluar ongkos transportasi. Kondisi lingkungan bukan prioritas mereka. “Mereka tak mempersoalkan lingkungan tak higienis dan justru menerimanya sebagai fakta kehidupan,” tulis Freek Colombijn dalam Under Construction: The Politics of Urban Space and Housing During the Decolonization of Indonesia 1930-1960 . Sebagian besar penduduk kampung berpenghasilan dan berpendidikan rendah. Mereka hanya berpikir bagaimanya menyambung hidup. Tanpa merasa ada diskriminasi kebijakan pemukiman oleh pemerintah kolonial. Akibatnya pemerintah kolonial berada di atas angin dan makin mengabaikan lingkungan mereka. “Semua faktor itu berhubungan dengan kurangnya kekuatan penghuni kampung pada masa kolonial. Kekuatan terletak pada pemilik modal keuangan, sosial, dan politik,” tulis Freek Colombijn. Di mata pemerintah kolonial dan orang Eropa, kampung perwujudan dari bumiputera : miskin, terbelakang, dan tak beradab. Kampung menjadi penegas gagasan hegemonik kolonial bahwa orang Eropa kuat, sedangkan bumiputera lemah. Uniknya, gagasan ini menjadi mentah ketika ada orang Eropa tinggal di kampung. Orang Eropa menyebut mereka afglijden naar de kampong (terpeleset ke kampung), sedangkan Bumiputera memanggil mereka Belanda Kesasar . Mengetahui ada sejumlah orang Eropa bermukim di kampung, pemerintah kolonial resah. Mereka mulai berusaha memperbaiki kondisi kampung. Dan muncul pula seorang tokoh bumiputera bernama Hoesni Thamrin. Dia anggota Voolksraad (Dewan Rakyat) dan Gemeente Raad (Dewan Kota). Dia memperjuangkan perbaikan kampung. Akhirnya pada 1920, pemerintah kolonial membuat kebijakan kampongverbetering untuk mengubah wajah kampung agar tak lagi kumuh dan sumpek.

  • Cerita Kelam Perempuan Jerman Setelah Nazi Kalah Perang

    RUTH Schumacher, perempuan Jerman kelahiran 1926, tak kuasa terus memendam perasaan. Setelah puluhan tahun bungkam, dia akhirnya buka suara. Dia merupakan salah satu perempuan Jerman yang diperkosa Tentara Merah tak lama setelah Berlin jatuh ke tangan Uni Soviet pada awal Mei 1945. “Selama beberapa dekade, sebagian besar perempuan Jerman diam tentang trauma yang mereka alami,” tulis Eric Westervelt dalam “Silence Broken On Red Army Rapes In Germany,” dimuat di laman npr.org. Kisah Ruth membuka selubung kejahatan perang Tentara Merah Uni Soviet semasa Perang Dunia II. Selain dari diamnya para penyintas, kabut hitam peristiwa kelam itu datang terutama dari bekas negara Uni Soviet yang berusaha keras menutupinya.

  • Asal-Usul Gelar Khalifatullah di Kesultanan Yogyakarta

    Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan Sabda Raja pada 30 April 2015 yang menghilangkan gelar khalifatullah dan mengubah Buwana menjadi Bawana. Berbagai kalangan mengomentari penghilangan gelar tersebut. Namun, yang terpenting adalah sabda ini menyangkut suksesi di Kesultanan Yogyakarta, di mana sultan diduga hendak mengangkat putrinya sebagai penggantinya karena tak memiliki putra mahkota. Adik-adik sultan pun menentangnya. Bagaimana sejarah gelar khalifatullah melekat pada sultan-sultan Yogyakarta? Pada awalnya, raja-raja Mataram memakai gelar panembahan, sultan, dan sunan. Raja terbesar Mataram, Sultan Agung menggunakan gelar sultan. Untuk melegitimasi kekuasaanya, dia mengirim utusan ke Makkah untuk meminta gelar sultan pada 1641. Dia mengikuti jejak Sultan Banten, Pangeran Ratu yang menjadi raja Jawa pertama yang mendapatkan gelar sultan dari Makkah, sehingga namanya menjadi Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir. Raja-raja Martaram berikutnya, Amangkurat I sampai III menggunakan gelar sunan . Sedangkan Amangkurat IV (1719-1724) menjadi yang pertama menggunakan gelar khalifatullah . Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 3 , gelar baru ini, khalifatullah (dari kata khalifah artinya wakil) menegaskan perubahan konsep lama raja Jawa, dari perwujudan dewa menjadi wakil Allah di dunia. Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755 yang memecah Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, gelar khalifatullah digunakan oleh sultan-sultan Yogyakarta sedangkan raja-raja Surakarta memakai gelar sunan . “Oleh karena itu, di dalam literatur atau kesempatan resmi, sebutan untuk raja-raja Surakarta adalah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sunan Paku Buwana Senapati ing Alaga Abdur Rahman Sayidin Panatagama . Sementara sebutan untuk raja keraton Yogyakarta adalah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Abdur Rahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ,” tulis Djoko Marihandono dalam disertasinya tentang Herman Willem Daendels, di Universitas Indonesia tahun 2005. Anehnya, menurut Lombard, Sunan Surakarta tidak pernah menuntut gelar khalifatullah, barangkali karena mereka merasakan bahwa gelar baru itu secara tersirat membatasi kekuasaan mereka; fungsi raja disandingi ciri-ciri moral tertentu berdasarkan Islam. Dalam Islam dan Khazanah Budaya Kraton Yogyakarta , Teuku Ibrahim Alfian menguraikan arti gelar itu: Senopati berarti sultanlah penguasa yang sah di dunia fana ini. Ing Alogo artinya raja mempunyai kekuasaan untuk menentukan perdamaian dan peperangan, atau sebagai panglima tertinggi saat perang. Abdur Rahman Sayyidin Panatagama , berarti sultan dianggap sebagai penata, pemuka dan pelindung agama. Dan khalifatullah sebagai wakil Allah di dunia. Menurut Abdul Munir Mulkan dalam Reinventing Indonesia , meskipun raja-raja Jawa memakai gelar Sayyidin Panatagama Khalifatullah , namun dipandang oleh sementara pihak sebagai pusat tradisi kejawen (mistisisme Jawa) yang tidak mencerminkan tradisi Islam. Sementara yang lain memandang bahwa tradisi kejawen dengan pusat kehidupan kerajaan di Jawa adalah Islam dalam perspektif Jawa. Sementara itu, menurut Alfian, gelar yang disandang oleh Sultan Yogyakarta mengungkapkan konsep keselarasan. “Keraton Yogyakarta seperti kerajaan-kerajaan Jawa dan kerajaan yang bersifat ketimuran pada umumnya menganut konsep keselarasan antara urusan politik, sosial dan agama,” pungkas Alfian.

  • Pak Tino Sidin dan Pinjaman Uang dari Pak Harto

    SALAH satu memorabilia yang dipamerkan di Taman Tino Sidin di Yogyakarta adalah kuitansi pinjaman uang sebesar Rp7 juta untuk penyelesaian rumah. Jangka waktu pinjaman selama satu tahun tanpa bunga. Kuitansi tanggal 20 November 1981 itu ditandatangani penerima pinjaman: Tino Sidin. Yang menarik, pemberi pinjaman itu orang nomor satu Republik Indonesia: Presiden Soeharto. Tino tinggal di Yogyakarta, tetapi lebih banyak bekerja di Jakarta. “Belum punya rumah sendiri. Lucu ya! Padahal kenalan saya orang gede-gede,” kata Tino Sidin dalam Apa & Siapa  Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982. Tino berpetuah tentang hidup sederhana. “Jangan ngoyo cari duit, dulu kita lahir juga tidak membawa apa-apa.” Menurut arsitek Bambang Eryudhawan, cerita pinjaman itu berawal ketika Tino diundang ke Cendana (rumah Soeharto) mengantar Agus Prasetyo, siswa TK di Probolinggo yang menjadi juara melukis di Tokyo Jepang. “Saat berpisah, Pak Tino menyisipkan kertas ke Pak Harto dengan isi ingin jumpa pribadi. Pada November 1981 bisa jumpa pribadi. Lantas dapat pinjaman itu, untuk uang muka kredit rumah,” kata Bambang Eryudhawan kepada Historia . Tino Sidin lahir di Tebingtinggi, Sumatra Utara, 25 November 1925 dari orangtua keturunan Jawa. Sejak kecil dia berbakat menggambar. Ketika pendudukan Jepang, dia menjadi kepala bagian poster kantor penerangan Jepang di Tebingtinggi. Setelah Indonesia merdeka, selain sebagai anggota Polisi Tentara Divisi Gajah Dua Tebingtinggi, dia menjadi guru menggambar di SMP Negeri Tebingtinggi. Dia bersama Ismail Daulay mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Medan pada 1945. Kuitansi pinjaman uang sebesar Rp7 juta dari Presiden Soeharto kepada Tino Sidin. (Dok. Bambang Eryudhawan). Bersama dua orang temannya, Nasjah Djamin dan Daoed Joesoef, Tino merantau ke Yogyakarta. Mereka bergabung dengan Seniman Indonesia Muda, membuat poster-poster perjuangan. Dia juga bekerja sebagai pegawai bagian kesenian di Kementerian Pembangunan Pemuda (1946-1948) dan bergabung dengan Tentara Pelajar Brigade 17 (1946-1949). Tino kembali ke kampung halaman dan menetap di Binjai. Dia aktif di dunia pendidikan dan kesenian dengan menjadi guru Taman Siswa Tebingtinggi, ketua Palang Merah Remaja Kabupaten Langkat, dan ketua ASRI Binjai. Tino kemudian kembali ke Yogyakarta. Setelah belajar di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta, dia mendirikan Pusat Latihan Lukis Anak-anak (1969-1977). Sementara itu, kawannya Daoed Joesoef menjadi menteri P&K (Pendidikan dan Kebudayaan). “Banyak orang yang naik, karena temannya naik. Saya mungkin begitu juga,” kata Tino. Tino pun mengisi acara Gemar Menggambar di TVRI pada 1978. Pekerjaannya sebagai pendidik “menggambar” menasional. Sejak 1980, dia menjadi penatar guru gambar tingkat TK dan SD seluruh Indonesia. Program ini di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan, bukunya Gemar Menggambar sebanyak 6 jilid disahkan menjadi buku pegangan guru SD seluruh Indonesia. Popularitas Tino melambung seantero negeri. “Ketika dia dibawa Daoed Joesoef meninjau ke Kalimantan Selatan (1979) masyarakat setempat mengelu-elukan Tino lebih dari sang menteri,” tulis Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982. “Anak-anak, pramuka, ibu-ibu berebutan mengeroyok. Petugas keamanan kewalahan.” Popularitas itulah yang membuatnya dilirik sutradara untuk membintangi film Nakalnya Anak-Anak (1980). “Pernah nama awak dipasang segede gajah di poster film, padahal awak hanya muncul lima menit di film itu,” kata Tino. Tino menikah dengan Nurhayati pada 1950 dan dikaruniai lima orang anak perempuan. Dia meninggal pada 29 Desember 1995.*

  • Sepuluh Teori Konspirasi Amerika yang Terbukti Benar

    BANYAK orang menganggap teori konspirasi terlalu mustahil untuk dipercaya, atau jika memang benar, hal tersebut terlalu memalukan dan mengejutkan untuk dipahami. Meski kelihatannya mustahil, beberapa dari teori konspirasi itu berakhir sebagai kebenaran. Seperti dikutip dari lolwot.com , "10 Shocking Conspiracy Theories Which Were Actually True", inilah 10 teori konspirasi yang populer dalam sejarah Amerika, yang ternyata terbukti nyata. 1. CIA Membayar Kesaksian Persidangan Pada 1990, seorang Gadis Kuwait berusia 15 tahun Nayirah al-Sabah, atas nama pemerintah Amerika bersaksi telah menyaksikan tentara Irak melakukan kekejaman terhadap anak-anak di Kuwait. Kesaksiannya membantu meyakinkan publik Amerika bahwa aksi militer terhadap Irak dapat dibenarkan. CIA amat menginginkan kesaksian tersebut berhasil. Mereka bahkan membiayai Sabah untuk mengikuti kelas demi melancarkan kebohongannya. Kesaksian Sabah begitu berhasil, sampai-sampai Amerika meluncurkan ‘Operasi Desert Storm’ melawan Irak pada 1991. Setahun setelahnya, seorang jurnalis memiliki teori tentang kesaksian tersebut. Ia mengorek kebenaran dan menuduh CIA karena telah membayar untuk sebuah kesaksian, yang ternyata memang benar. 2. Skandal Watergate Saat orang-orang Partai Republik dituduh memata-matai kantor pusat Partai Demokrat tahun 1972, publik enggan mempercayainya. Nyatanya, itu semua benar. Pada tahun 1974 sebuah rekaman percakapan ditemukan yang membuktikan bahwa Presiden Nixon tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Orang-orang Republik memutuskan untuk menyadap kantor pusat Partai Demokrat dan mematai-matainya dari Hotel Watergate yang berada di dekatnya. Skandal ini mengejutkan dunia, yang berakhir dengan Presiden Nixon menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika yang mundur dari jabatannya. 3. CIA Menyeludupkan Kokain Saat Gary Webb, jurnalis pemenang Hadiah Pulitzer memublikasikan serial investigasinya, Dark Alliance , pada Agustus 1966, publik Amerika dibuat terkesiap. Laporannya menyebut keterlibatan CIA dalam penjualan obat-obatan terlarang dan menyeludupkannya kepada para pemberontak Contra di Nikaragua untuk mendapatkan keuntungan. Saat inspektur jendral CIA Frederick Hitz akhirnya mengakui bahwa Contra terlibat dalam perdagangan kokain, skandal Bill Clinton-Monica Lewinsky 1998 menutupi pemberitaan tersebut. Pada 2004, Gary Webb ditemukan tertembak dua kali di kepala, dan polisi menyimpulkannya sebagai aksi bunuh diri. Pada 2014, kisah Gary Webb diangkat ke layar lebar berjudul Kill the Messenger. 4.Penelitian Sifilis Tuskegee Pada 1997 Presiden Bill Clinton meminta maaf kepada korban Penelitian Sifilis Tuskegee, Amerika Serikat. Selama penelitian yang dimulai sejak 1932 tersebut, kehidupan 600 orang Afrika-Amerika dan keluarganya hancur. Saat itu ketua Jasa Kesehatan Publik Amerika (PHS) ingin melihat bagaimana efek dari sifilis terhadap orang-orang Afrika-Amerika. Saat orang-orang tersebut dites dan positif mengidap sifilis, pihak PHS menahan informasi tersebut dari mereka dan menolak memberikan pelayanan medis untuk pasien. Hasilnya, ratusan orang tewas akibat sifilis. Hal itu berlangsung sampai saat 250 orang dari mereka ikut dalam wajib militer Perang Dunia II dan melalui tes, mereka diberitahu telah terjangkit sifilis. Meski begitu, PHS tetap menolak menangani mereka. Sampai Clinton berbicara ke publik tentang penelitian tersebut. Persoalan itu terus saja dianggap sebagai teori konspirasi oleh publik Amerika. 5. Insiden Teluk Tonkin Presiden Lyndon Johnson mengumumkan kepada publik bahwapada 4 Agustus 1964 Vietnam Utara menyerang kapal-kapal Amerika dan publik Amerika langsung menunjukkan kegeramannya. Insiden Teluk Tonkin tersebut mendapat reaksi keras dari publik sehingga meningkatkan tensi perang Vietnam. Reaksi publik atas insiden tersebutsekaligus jalan mulus bagi kongres Amerika meloloskan resolusi yang mengizinkan pasukan Amerika menyerang Vietnam Utara. Saat Perang Vietnam berakhir pada 1973, lebih dari tiga juta orang kehilangan nyawanya. Pada 2005, Badan Keamanan Nasional (NSA) mengeluarkan dokumen rahasia yang menyatakan bahwa Johnson telah merancang Insiden Teluk Tonkin sebagai dalih untuk membenarkan serangannya ke Vietnam Utara. 6. Operasi Northwoods Operasi Northwoods disusun pada awal 1960-an oleh kepala staf gabungan militer Amerika yang bertujuan untuk menebar teror dan kekacauan terhadap publik Amerika, dan menyalahkan pemerintah Kuba untuk hal tersebut. Rencana tersebutdirancang untuk menarik dukungan publik Amerika dalam perang terhadap Kuba. Beruntungnya, Presiden John F. Kennedy menolak Operasi Northwoods pada 1962. Selama bertahun-tahun, rumor beredar soal eksistensi Operasi Northwoods, tapi secara umum hal itu dianggap hanya teori konspirasi. Lalu, pada tahun 1997, tim dari Tim Peninjau Dokumen Pembunuhan John F. Kennedy (ARRB) mengungkapkan lebih dari 1.500 halaman dokumen, yang salah satu isinya mencantumkan tentang catatan Operasi Northwoods, dan bukti bahwa hal tersebut bukanlah hanya teori konspirasi semata. 7. Operasi Paperclip Seiring dengan hari kemenangan terhadap Nazi di Jerman pada tahun 1945, Presiden Truman meneken apa yang dikenal dengan Operasi Paperclip. Operasi itu bertujuan untuk merekrut ilmuwan-ilmuwan Nazi Jerman untuk bekerja di Amerika. Satu syarat dari operasi itu, seperti yang dideklarasikan oleh Truman, mereka yang sebelumnya sudah menjadi anggota Nazi tidak dibolehkan untuk memasuki Amerika. Akan tetapi, pasukan Amerika begitu bersemangat untuk mendapatkan para ilmuwan handal tersebut, bahkan sampai menghapuskan riwayat hidup para ilmuwan. Keterlibatan mereka dalam Nazi dihapus dari catatan kerja mereka,dan tanpa diketahui oleh yang lain, anggota partai Nazi pun dibawa ke Amerika. 8. Operasi Fast and Furious Pada 2011 pemerintahan Obama menyeludupkan senjata ke para kartel narkoba Meksiko dengan tujuan untuk melacak senjata-senjata itu kembali ke tangan kriminal dan gembong narkoba Meksiko yang menetapdi Amerika.Peristiwa itu kemudian dikenal dengan ‘Operasi Fast and Furious’. Tak lama kemudian, di tahun yang sama, CBS News menemukan dokumentasi yang membuktikan bahwa agen-agen Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) tengah mendiskusikan bagaimana agar senjata-senjata tersebut dapat diserahkan kepada para gembong narkoba Meksiko di Amerika. Alasan di balik kenapa pemerintah melakukan itu adalah saat senjata-senjata tersebut digunakan untuk melakukan kejahatan, maka akan mempermudah pemerintah untuk meloloskan undang-undang kepemilikan senjata api yang lebih ketat di Amerika. Beberapa tahun belakangan ini pemerintah Amerika menghadapi persoalan kepemilikan senjata api yang disalahgunakan. Di antaranya karena maraknya penembakkan massal yang banyak menimbulkan korban tewas. Namun tak mudah buat pemerintah melakukan perubahan undang-undangnya. 9. Pembunuhan Martin Luther King Jr. Aktivis sosial Dr. Martin Luther King Jr. dibunuh pada 4 April 1968 di sebuah balkon hotel di Memphis, Tennessee. Dr. King terkenal karena upayanya untuk memberikan kesetaraan dan harmoni di kalangan warga Amerika Serikat. Nama ‘James Earl Ray’ familiar oleh banyak orang sebagai pelaku pembunuhan Dr. King, tapi yang tidak banyak orang tahu kalau pemerintah memainkan peran penting dalam pembunuhan tersebut. Pada 8 Desember 1999 keluarga King mengajukan tuntutan kepada pemerintah Amerika, dengan klaim bahwa pembunuhan King adalah hasil dari pembunuhan terencana oleh pemerintah. 12 juri dalam persidangan menyetujui bahwa kematian King adalah hasil persengkokolan pemerintah Amerika dan mafia, dan Ray sebenarnya adalah seorang pembunuh bayaran. 10. Pemerintah Amerika dan Pembunuhan Terencana Lainnya Setelah skandal Watergate, ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah Amerika berada pada titik puncaknya. Senat Amerika memutuskan membentuk komite investigasi terhadap FBI dan CIA untuk mencari aktivitas terlarang mereka, dan berharap untuk memperoleh kembali kepercayaan publik Amerika. Dalam penyidikannya, komite tersebut menemukan fakta horor yang menyatakan bahwa kudeta terhadap Salvador Allende di Cili (1973) dan Mohammad Mosaddegh di Iran (1953) adalah hasil dari aksi-aksi terlarang yang dimaksudkan tersebut. Komite juga menemukan bukti pembunuhan terencana oleh FBI dan CIA lainnya terhadap para pemimpin di Amerika Tengah dan Selatan, yang sering dilakukan dengan cara-cara yang sulit dilacak. Investigasi mengungkapkan bahwa CIA menggunakan beberapa metode pembunuhan termasuk kecelakaan mobil, kanker, bunuh diri, serangan jantung, dan ditembak mati. Alih-alih meningkatkan kepercayaan publik pada pemerintahnya, temuan tersebut justru tak meredakan ketakutan publik.

  • Salat Jumat KAA yang Bersejarah

    GUBERNUR Jawa Barat Ahmad Heryawan menjadi khatib dalam salat Jumat (24/4) siang tadi. Dia membacakan naskah khotbah dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris dan Arab di hadapan para pemimpin negara delegasi KAA yang melaksanakan salat Jumat bersejarah itu. Pada saat KAA, hari Jumat jatuh pada 22 April 1955. Salat Jumat dilakukan di masjid yang sama, Masjid Agung Bandung yang kini namanya menjadi Masjid Raya Bandung. Enampuluh tahun lalu Masjid Agung Bandung lebih meriah dari biasanya. Maklum, para delegasi peserta KAA yang beragama Islam turut beribadah disana, ditambah masyarakat Bandung sendiri yang menyemut disekitar masjid. Sebelum pukul 12.00, tampak Ali Sastroamidjojo beserta rombongan turun dari mobil Mercury, disusul delegasi dari Lebanon. Kemudian berturut-turut delegasi Syiria, dan Sudan tiba di masjid yang terletak Alun-alun Bandung itu. Kemudian tampak pula Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser yang kedatangannya disambut sorak-sorai jamaah salat Jumat. Lalu muncul pula mufti El Hussaini dari Palestina dan delegasi Turki beserta Irak. Bertindak sebagai khatib salat Jumat saat itu adalah Menteri Urusan Wakaf Mesir Ahmad Hassan El Bakoury. Dalam khotbah berbahasa Arab itu dia menekankan arti keadilan, keselamatan dan kemerdekaan. “Surat wal‘asri menjadi pokok acara pidatonya. Zaman akan merugikan manusia jika manusia tidak mempergunakan masa itu,” tulis majalah Merdeka , 30 April 1955. Pada khotbah kedua, khatib dadakan itu lebih banyak mendoakan negara-negara peserta untuk menjaga perdamaian. Yang menarik adalah kehadiran dua delegasi dari Republik Rakyat Tiongkok, yang beragama Islam pada salat Jumat tersebut. Kehadiran mereka seperti menegaskan pidato Zhou Enlai, ketua delegasi Tiongkok pada sidang hari kedua tentang kebebasan beragama di negerinya. Pada Selasa, 19 April 1955, Zhou berpidato dalam bahasa Tiongkok dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tentang jaminan kebebasan menjalankan praktik ibadah agama di negaranya. “Kami kaum komunis adalah atheis, tetapi kami menghormati semua mereka yang beragama. Di Tiongkok, selain hidup tujuh juta kaum komunis, juga hidup puluhan juta kaum Muslimin, Budha, Kristen dan Katholik. Dalam delegasi RRT terdapat pula seorang ulama Islam. Masa hasut-menghasut pertentangan agama haruslah lenyap, sebab yang beruntung bukanlah kita!,” kata Zhou Enlai seperti dikutip Roeslan Abdulgani dalam The Bandung Connection .*

  • Rebutan Foto Pemimpin KAA, Dua Wartawan Hampir Baku Pukul

    MOMENTUM bersejarah seperti KAA adalah peristiwa berharga bagi jurufoto mana pun. Kehilangan momentum dapat berarti kehilangan kesempatan mengabadikan sejarah dalam lembaran foto yang mereka bikin. Tak aneh jika para pewarta foto sampai harus berdesakan dan saling berebut untuk mendapatkan posisi terbaiknya saat memotret para delegasi KAA di Bandung, 18 April 1955. Terlebih ketika pemimpin perhelatan akbar bangsa Asia Afrika itu adalah Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai. Kedatangan Sukarno selalu dinanti para pekerja media. Seperti diberitakan oleh majalah Berita KAA , no 3 April 1955, demi mendapat gambar terbaik, dua pewarta foto hampir saja terlibat baku pukul. Ceritanya bermula ketika seorang pewarta foto dari Republik Rakyat Tiongkok tak terima kena sikut seorang fotograper Amerika. Wartawan yang tak diketahui namanya itu sedang bersiap mengambil gambar Sukarno, namun wartawan Amerika yang tubuhnya lebih besar menyenggol dan menyikutnya. Tak terima kena sikut dan tergeser dari posisi terbaiknya, mereka pun beradu mulut bahkan nyaris saling jotos. “ You know, I come from Great United States of America ,” kata pewarta foto berkebangsaan Amerika yang bekerja untuk National Broadcasting Hongkong itu, berlagak sombong. Tak ingin kejadian berlarut-larut, Mohammad Sabur, pengawal Presiden Sukarno turun tangan melerai mereka. Tak lama setelah kejadian, seorang anggota seksi penerangan KAA membisiki pewarta foto Amerika itu kalau lawannya berasal Peking, Tiongkok. Dia pun meminta maaf dan bergegas pergi. Dua wartawan tadi merupakan bagian dari puluhan wartawan dari berbagai negara sudah tiba beberapa hari menjelang KAA. Sejak awal April 1955, untuk mempermudah urusan mereka, panitia lokal di bawah pimpinan Gubernur Jawa Barat Sanoesi Hardjadinata sudah menyediakan press room di gedung Dana Pensiun dengan dua kamar besar dan enam ruangan kecil. Sementara itu di gedung Concordia sudah disediakan ruangan pers lebih besar, lengkap dengan barnya. Untuk keperluan pengiriman berita, Kantor Pos Telepon dan Telekomunikasi (PTT) Bandung menyediakan 20 frekuensi pesawat morse bagi kantor-kantor berita yang hadir. “Para delegasi dan wartawan akan dapat mengkawatkan 100.00-200.000 kata setiap hari dari kantor pos, telegraf dan telepon,” catat majalah Berita KAA , no 2 April 1955.*

  • Silat Lidah Kotelawala yang Bikin Zhou Enlai Emosi

    Dalam sidang tertutup bidang politik, 21 April 1955, Perdana Menteri Sri Lanka Sir John Kotelawala, memberikan pernyataan soal kolonialisme yang menyentak peserta sidang. Dia mengajak untuk terang-terangan menentang kolonialisme Uni Soviet, seperti halnya melawan kolonialisme Barat. “Pikirkan, tuan-tuan, umpama saja negara-negara satelit di bawah dominasi komunis di Eropa Tengah dan Eropa Timur: Hongaria, Romania, Bulgaria, Albania, Cekoslowakia, Latvia, Lithuania dan Polandia. Apakah mereka bukan tanah jajahan sama dengan setiap tanah jajahan di Asia dan Afrika,” kata Sir John. Hadirin peserta sidang terdiam karena tegang. “Semua seakan-akan merasa ini ‘bom’! Semua nglirik ke arah PM Zhou Enlai,” kata Roeslan Abdulgani, Sekretaris Jenderal KAA, dalam The Bandung Connection . Setelah Sir John selesai bicara, Zhou Enlai berkata singkat; meminta agar naskah pidato Sir John dibagikan ke peserta lain. Dia juga meminta hak berbicara untuk merespons Sir John, pada rapat keesokan harinya. Usai rapat di Gedung Dwi Warna itu, rupanya urusan Zhou Enlai belum selesai; dia menghampiri Sir John. Ali Sastroamidjojo, ketua rapat dan ketua KAA, mendekati mereka, disusul Roeslan Abdulgani. Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan Kreshna Menon, ikut bergabung. Seraya menudingkan jarinya ke Sir John, Zhou Enlai mengatakan, “Apa maunya Sir John mengusulkan pembicaraan tentang kolonialisme Soviet itu? Apakah untuk mem-provosir RRC? Untuk memecah-belah dan menggagalkan Konperensi?” “Kita semua agak terperanjat dengan pertanyaan-pertanyaan PM Zhou Enlai yang tajam itu. Yang dikeluarkan secara tegas, serius dan sopan,” kata Roeslan. Ali Sastroamidjojo mencoba melerai, namun Sir John tak mau kalah, sambil menunjuk Zhou Enlai, balik bertanya, “Kenapa tuan menjadi gusar berhubung dengan kritik saya terhadap Soviet ini? Saya toh sama sekali tidak menyinggung hubungan Soviet dengan RRC dalam masalah kolonialisme bentuk baru itu? Saya hanya menyebut hubungan Soviet dengan negara-negara Eropa Timur. Kenapa tuan terburu memberi reaksi dengan minta bicara besok pagi? Kalau tuan tadi diam saja, tidak akan ada apa-apa.” Pada rapat esok hari, Zhou Enlai menyatakan tidak dapat menerima hubungan Uni Soviet dengan negara-negara Eropa Timur disebut kolonialisme bentuk baru. Ketika suasana mulai mereda, bola kolonialisme bentuk baru ala Uni Soviet itu, terus dioper oleh Pakistan, Turki, Irak, dan Filipina. Sehingga, Ali Sastroamidjojo mengusulkan pembentukan Panitia Perumus, terdiri dari wakil Burma, Sri Lanka, India, Indonesia, Lebanon, Pakistan, Filipina, RRT, Syiria, dan Turki. Panitia ini diketuai LN Palar dari Indonesia. Sementara itu, waktu menunjukan hampir jam 12.00 siang, rapat diskors karena delegasi muslim harus salat Jumat. Menurut Roeslan, Panitia Perumus kemudian membuat rumusan kompromis mengenai kolonialisme, yang berbunyi: “Kolonialisme dalam segala manifestasinya adalah suatu kejahatan yang harus diberantas secepat mungkin.” “Rumusan kompromis ini diterima baik oleh PM Zhou Enlai,” kata Roeslan. Alasan Zhou Enlai menerima rumusan tersebut dengan mengibaratkan “seluruh tangan dan lima jarinya itu adalah kolonialisme. Lima jari tangan itu adalah ibarat manifestasinya. Ada manifestasi kolonialisme di bidang politik, militer, ekonomi, sosial, kebudayaan. Dan bukan dalam bentuk kolonialismenya Uni Soviet.”

  • Balada Ikan Asin

    DAPUNTA Kosiki, penduduk kabikuan (desa otonom) Pamehangan, memimpin upacara penetapan sima bagi desa Panggumulan, wilayah Puluwati (kini Kabupaten Sleman). Panggumulan beroleh anugerah status tanah perdikan berkat jasa penduduknya

  • Enampuluh Tahun KAA Membahas Palestina

    PRESIDEN Joko Widodo kembali menyatakan dukungan kepada kemerdekaan Palestina. Kali ini, dalam pidato pembukaan pertemuan Puncak Bisnis Asia Afrika di Jakarta Convention Center, 23 April 2015, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Jokowi menandaskan, “Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Kita tidak boleh berpaling dari penderitan rakyat Palestina. Kita harus mendukung sebuah negara Palestina yang merdeka.” Sehari sebelumnya, Jokowi bertemu Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah, yang menyebut Jokowi sebagai sahabat bangsa Palestina. Rami tersanjung dengan dukungan bangsa Indonesia dan komitmen Presiden Jokowi, yang sejak kampanyenya telah menyatakan mendukung kemerdekaan Palestina. Soal kemerdekaan Palestina sudah jadi agenda pembahasan dalam KAA 1955. Delegasi Mesir yang dipimpin Gamal Abdul Nasser mendukung upaya kemerdekaan Palestina. Nasser, yang terlibat dalam Perang Arab melawan Israel pada 1948, menuding negara-negara besar yang sering mengingkari keputusan PBB tentang hak asasi manusia, seperti yang terjadi di Palestina, Afrika Utara, dan Afrika Selatan. Roeslan Abdulgani, Sekretaris Jenderal KAA, mengisahkan lebih lanjut ihwal Palestina ini dalam The Bandung Connection, Konferensi Asia Afrika di Bandung Tahun 1955. Menurut pengamatannya, pembahasan Palestina ini menyerempet ke akar persoalan: zionisme. Pembahasan itu tak pelak menimbulkan perselisihan pendapat pada beberapa delegasi KAA. Mohammad Fadhel Jamali, ketua delegasi Irak, menyamakan bahaya zionisme dengan kolonialisme dan komunisme. “Zionisme adalah bab terakhir dari buku kolonialisme kuno. Itu adalah salah satu bab paling gelap dan hitam dalam sejarah manusia... Zionisme dengan adanya negara Israel telah menambah segala keburukan itu. Zionisme Israel...mengakibatkan lebih dari satu juta rakyat Arab Palestina, baik yang Islam maupun Kristen, menjadi papa sengsara dan tak bertempat tinggal,” katanya, sebagaimana dikutip Cak Roes, panggilan akrab Roeslan Abdulgani.   Meski semua delegasi menyetujui kemerdekaan Palestina, pernyataan Fadhel itu sempat memanaskan suasana rapat tertutup bidang politik. Bermula dari Fadhel inilah delegasi Arab, Pakistan, Afghanistan, dan Iran mengutuk zionisme internasional. Sebagaimana Nasser, mereka juga mengeluarkan segala unek-unek dan kedongkolan mereka terhadap pembangkangan Israel atas PBB. Karena itu mereka menghendaki adanya sikap politik lebih kongkret dari KAA terhadap Israel. Namun Burma dan India mengeluarkan suara berbeda. Kedua negara ini memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Dalam menanggapi Fadhel, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru keberatan menyamakan zionisme dengan kolonialisme dan imperalisme. “Sebaiknya kita jangan memberikan kualifikasi imperialisme kepadanya. Tetapi diakui zionisme memang adalah suatu gerakan agresif,” kata Nehru menanggapi Fadhel.  Nehru kemudian mengungkit penderitaan kaum Yahudi di bawah kekuasaan Hitler di Jerman. Tidak kurang dari lima juta orang Yahudi dibantai di Jerman, Austria, dan Polandia. Itulah, kata Nehru, antara lain yang mendorong kaum Yahudi mendirikan negara Israel. Terang saja pernyataan Nehru ini menyulut banyak komentar. Salah satunya dari delegasi Lebanon yang menyatakan angka lima juta itu berlebihan dan beraroma propaganda zionisme untuk mengelabui mata dunia serta menarik simpati pendirian negara Israel. “Israel sendiri melakukan teror dan kekejaman yang tiada taranya kepada rakyat Palestina. Perbuatan Israel serta zionisme itu perlu dikutuk,” tegas delegasi dari Libanon. Di tengah hangatnya perdebatan itu Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai mencoba mendinginkan suasana dengan tampil sebagai juru damai. Setelah menegaskan dukungan Tiongkok kepada pihak dunia Arab, dia menyetujui resolusi KAA supaya semua resolusi PBB tentang Palestina dilaksanakan dengan syarat kekuatan luar, seperti Amerika Serikat, tak boleh mencampuri persoalan ini. Dia ingin penyelesaian Palestina sebagaimana halnya Tiongkok menghadapi Taiwan. Tiongkok membebaskan Taiwan secara damai setelah menyaratkan kekuatan militer Amerika Serikat mundur. Upaya Zhou Enlai berhasil. Selain menegaskan sokongannya terhadap pembebasan Palestina, KAA 1955 juga menyerukan penyelesaian konflik Palestina-Israel secara damai. Kini, 60 tahun kemudian, Palestina masih belum merdeka dan masih juga menjadi agenda pembahasan pada peringatan 60 tahun KAA.

  • Sekelumit Kisah Gedung Merdeka

    TIBA-tiba Presiden Sukarno marah pada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan Sekjen KAA Roeslan Abdulgani. Kemarahannya bermula saat dia temukan renovasi gedung yang semula bernama Concordia itu tak sesuai harapannya. Padahal penyelenggaraan KAA tinggal sebelas hari lagi. Menurut wartawan senior Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil: Petite Histoire Indonesiajilid 2 , keinginan Sukarno tak segera terlaksana karena Ali Sastroamidjojo tak segera mengucurkan dana renovasi sementara Roeslan tak bergegas menjalankan perintah Sukarno. “PM Ali tidak bersedia memberikan duit. Murah meriah saja. Dan Roeslan punya jadwal sempit,” tulis Rosihan. Menemukan gedung belum sempurna ditata saat menginspeksi persiapan KAA, Sukarno menyindir Ali tak bakal mampu membikin revolusi. “Dengan sarjana hukum (SH) orang tidak bisa membuat revolusi,” ujarnya sebagaimana dikutip Rosihan. Setengah bercanda, Sukarno mengejek Ali yang sarjana hukum. Menurut presiden yang terkenal pecinta karya seni itu renovasi yang dilakukan Ali hanya membuat gedung terlihat seperti ruang pengadilan. Dalam waktu yang serba mepet, akhirnya presiden menunjuk arsitek F Silaban untuk mendesain renovasi tersebut, sekaligus mengganti namanya menjadi Gedung Merdeka. Sukarno ingin menjadikan gedung itu tempat penyelenggaraan KAA yang megah dan membanggakan. Memang bukan perkara mudah menjadikan Gedung Concordia sebagai tempat KAA. Jauh sebelum dikuasai pemerintah, gedung tersebut berfungsi ajang sosialita warga elite Belanda di Bandung. Societeit Concordia , demikian nama klab orang kaya Belanda itu, selalu disambangi para pengusaha perkebunan. Setelah kemerdekaan, kepemilikan tetap ada di tangan mereka dan enggan melepaskan kepemilikannya kepada siapa pun. “Tetapi setelah mereka dihadapkan dengan kemungkinan pengambilalihan demi kepentingan negara, akhirnya gedung Concordia tersebut dijual kepada pemerintah,” kenang Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku . Penanda kota Bandung peninggalan era kolonial itu merupakan karya arsitektur Van Gallen Last dan CP Wolf Schoemaker itu berdiri pada 1895. Semasa pendudukan Jepang, Gedung Concordia berubah nama menjadi Dai Toa Kaikan. Pemerintah militer Jepang menggunakannya sebagai kantor propaganda dan pusat kebudayaan. Ketika Jepang kalah perang, gedung itu lalu kosong hingga era Republik Indonesia Serikat (RIS) berdiri, di mana Negara Pasundan memfungsikan Gedung Concordia menjadi gedung pertemuan. Bubarnya Negara Pasundan kembali membuat gedung terbengkalai. Oleh karena itulah ketika menjelang penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika, panitia lokal di bawah pimpinan Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata memilih gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun (Pensioenfonds) menjadi dua gedung yang paling memungkinkan untuk dijadikan wahana perhelatan KAA.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page