Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cerita Panji di Candi Miri Gambar
SEMULA penduduk desa Miri Gambar, kecamatan Kali Dawir, Tulungagung selatan, meyakini relief pada panel Candi Miri Gambar menceritakan Anglingdharma , kisah seorang raja yang mengerti bahasa hewan. Hal itu disandarkan dari relief pada dinding teras II yang memuat adegan cerita binatang. Keyakinan itu diperteguh hasil identifikasi Maria J. Klokke, arkeolog Belanda, pada 1990, terhadap tiga panel relief dinding II yang menggambarkan adegan hewan: burung bangau, ikan, dan kepiting. Menurutnya dalam The Tantri Relief on Ancient Javanese Candi , adegan itu mungkin berasal dari cerita Tantri Kamandaka . Pada dasarnya Tantri Kamandaka , yang berisi ajaran moral dalam bentuk cerita binatang, merupakan salah satu naskah Jawa berbentuk prosa yang menggunakan bahasa Jawa Tengahan. Naskah ini kemudian diterjemahkan C. Hooykaas ke dalam bahasa Belanda dan diterbitkan dalam Bibliotheca Javanica 2 tahun 1931. Selain Tantri Kamandaka , Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, mengatakan terdapat pula cerita Panji yang dipahatkan pada relief di dinding teras I sisi utara bagian depan candi itu. Terdapat empat figur: dua perempuan di tengah saling berhadapan dan dua sosok pria masing-masing berada di belakangnya. Salah satu figur pria yang berada pada bingkai bagian kanan memiliki gambaran khas dengan penutup kepala tekes (mirip blangkon tapi tanpa tonjolan di belakang). Relief itu menggambarkan salah satu episode cerita Panji. Simpulan itu didapatkan setelah membandingkan figur pria dengan penutup kepala tekes dan adegan-adegan sejenis di Candi Gajah Mungkur dan Candi Kendalisada di Mojokerto, Jawa Timur. “Hanya saja belum dapat diidentifikasi secara khusus kisah Panji mana yang menjadi acuannya, mengingat cukup banyak versi cerita Panji yang ada,” tulis Agus Munandar, “Tinjaun Ringkas Candi Miri Gambar,” termuat dalam Catusphata Arkeologi Majapahit . Dari tinggalan arkeologis secara jelas dibuktikan bahwa kisah Panji telah dikenal pada zaman Majapahit. Data itu tersua pada relief cerita pada candi-candi era Majapahit. Belum ditemukan data arkeologis yang lebih tua dari zaman itu. “Relief cerita Panji tertua yang dapat diketahui dipahatkan di Candi Miri Gambar, Tulungagung,” tulis Agus Munandar. Candi Miri Gambar diperkirakan dikenal sejak awal berdirinya Majapahit, dan terus digunakan melampaui zaman kegemilangan, hingga periode awal kemerosotan Majapahit di bawah kekuasaan Wikramawarddhana (1389-1429 M), menantu Hayam Wuruk. N.J. Krom, ahli Jawa Kuno berkebangsaan Belanda, dalam Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst , menyatakan pernah ditemukan prasasti tembaga di sekitar Candi Miri Gambar yang menyebut nama raja Wikramawarddhana dari Majapahit, namun prasasti itu tidak pernah diketahui lagi keberadaanya. “Kisah panji yang paling awal sangat mungkin dituliskan dalam zaman keemasan Majapahit atau segera sesudahnya, penyebarannya ke luar Jawa bagian timur sangat mungkin berlangsung di akhir zaman Majapahit dan zaman-zaman sesudahnya,” tulis Poerbatjaraka dalam Tjerita Pandji Dalam Perbandingan . Agaknya sejak zaman keemasan Majapahit terdapat suatu genre susatra baru yang bukan saduran dari epos Ramayana dan Mahabharata India, bukan pula menguraikan kisah para ksatria India, “melainkan kisah tentang para ksatrya Jawa Kuno sendiri, di alam geografi Jawa dan uraian peristiwanya tentang putra-putri raja-raja Jawa, itulah cerita Panji,” tulis Agus Munandar dalam “Makna Kisah Panji” dikutip dari Prosiding Cerita Panji Sebagai Warisan Dunia . Tokoh utama dalam cerita Panji adalah Panji (Inu Kertapati), seorang pangeran dari Jenggala, dan Sekartaji atau Candrakirana, putri kedaton Kadhiri, dengan latar tempat Jenggala, Kadhiri, Urawan, Singasari, dan Gagelang. Nama Panji berasal dari kata panji atau apanji atau mapanji , yang dalam bahasa Jawa Kuna merupakan gelar bangsawan tertinggi. Beberapa tokoh historis yang menggunakan gelar itu ialah Panji Tohjaya, putra Ken Arok dengan Ken Umang, serta Sang Mapanji Angragani, patih Singhasari yang memimpin Pamalayu pada zaman Kretanagara, raja terakhir Singhasari.
- Petani Gulingkan Dinasti
PADA 209 SM, Chen Sheng, petani asal Yangcheng, memimpin 900 orang untuk melakukan kerja paksa pembangunan megaproyek Kaisar Qin. Tujuan mereka, kota Yuyang, masih jauh. Mereka harus bergegas. Sebab, menurut hukum Dinasti Qin/Chin (221-206 SM), siapapun yang telat akan dihukum mati. Nahas, baru sampai di desa Dazexiang, hujan deras turun selama beberapa hari. Banjir memaksa mereka berkemah dan menghentikan perjalanan. Mereka gelisah. Dalam kegelisahan itu, Chen Seng bertemu dengan Wu Guang, yang juga mengawasi dan memimpin 900 orang untuk kerjapaksa. Kesamaan nasib membuat mereka menjadi akrab. “Kita masih beribu-ribu li jauhnya dari Yuyang. Apakah kita akan membiarkan diri kita dibunuh?” ujar Chen, dikutip Lin Handa dan Cao Yuzhang dalam Kisah-Kisah dari 5000 Tahun Sejarah China, Jilid 1 . Wu mengajak Chen kabur, namun Chen tak menyetujuinya. Ketimbang kabur, Chen memilih memberontak terhadap penguasa lalim. Memberontak baginya lebih terhormat, meski risikonya juga hukuman mati. Wu setuju. Kaisar Qin berupaya mewujudkan mimpinya membangun banyak bangunan, seperti Istana Efang dan Tembok Raksasa. Untuk itu, kaisar merekrut para petani, termasuk dari enam kerajaan terakhir yang ditaklukkan, melalui sistem perpajakan terpusat yang dia buat. “Jumlah petani yang diambil Qin Shi Huangdi untuk membangun Istana Efang dan Tembok Raksasa dan yang direkrut sebagai tentara untuk pertahanan perbatasan melebihi dua juta jiwa,” tulis Xiaobing Li dalam China At War: An Encyclopedia . Kesewenang-wenangan kaisar menimbulkan kebencian di hati petani dan rakyat kebanyakan, termasuk Chen. Chen dan Wu segera menyusun siasat. Yang paling awal, dia memanfaatkan takhayul. Di atas sehelai sutra putih, Chen menuliskan “Chen Sheng adalah raja.” Kain itu lalu dimasukkan ke perut ikan yang selanjutnya dijual. Kebetulan, pembelinya adalah beberapa prajurit di kesatuan yang dipimpinnya. Mereka terheran-heran. Siasat kedua, dalam kegelapan malam, Wu mengendap ke kuil di sekitar perkemahan. Sembari menirukan lolongan serigala, Wu berteriak mengatakan: Chu Raya bangkit dan Chen Sheng adalah raja. Keesokan harinya, Chen menjadi buah bibir di antara rombongan. Namun, siasat itu masih belum cukup menginformasikan mayoritas akan rencana gerakan Chen. Setelah membunuh pejabat pengawas, Chen berorasi di hadapan rombongannya mengenai rencana pemberontakan. “Orang-orang bersumpah kepada para dewa bahwa mereka akan berperang bersama untuk menggulingkan Dinasti Qin. Mereka juga bersumpah setia kepada Chen Sheng dan Wu Guang,” tulis Lin Handa dan Cao Yuzhang. Setelah menguasai desa Dazexiang dan Chenxian (Huaiyang) di Provinsi Henan, Chen dan Wu mengumumkan berdirinya sebuah rezim baru bernama Zhangchu di mana Chen menjadi raja dan Wu panglima militernya. Keduanya mengatasnamakan Pangeran Fusu –pewaris sah Dinasti Qin yang bunuh diri akibat tipudaya– dan Jenderal Xiang Yan yang dicintai rakyat. Selanjutnya, mereka menguasai desa Qi, Zhi, Cus, Ku, Zhe, dan Qiao. Ketika merebut desa Chen, kekuatan mereka menjadi berlipat; mencakup puluhan ribu infantri, seribu kavaleri, dan 600-700 kereta kuda. Di sinilah para kepala desa mendaulat Chen menjadi raja dengan gelar “Pembesar Chu.” Chen dan Wu terus menyerukan kepada petani di berbagai tempat untuk memberontak terhadap Dinasti Qin. Mereka juga mengirim balabantuan pasukan dan peralatan. Dalam sekejap, semua wilayah yang menderita di bawah Dinasti Qin memberontak. Namun, pengkhianatan menewaskan Chen dan Wu. Perlawanan petani tetap berlanjut. “Setelah kematian Chen dan Wu,” tulis Xiaobing Li, “Liu Bang, salah seorang pemimpin petani, akhirnya menggulingkan Qin dan mendirikan Dinasti Han.”
- Jejak Permainan Congklak
Perempuan bermain dakon atau congklak, 1910. (KITLV). BU BEI menimang angannya kembali ke masa kanak-kanak. Ketika tengah gandrung bermain congklak dengan menggunakan biji sawo kecik, keasyikan itu terhenti. Ibunya berpikiran lain. “Kamu tidak pantas main congklak. Kamu sudah gede,” kata sang ibu yang ingin mempersiapkan anaknya menjadi seorang priyayi. Begitulah Arswendo Atmowiloto dalam novel Canting memotret kehidupan keluarga priayi Jawa. Salah satunya kebiasaan bermain congklak. Congklak atau dakon merupakan permainan tradisional yang populer di Jawa. Ia dimainkan segala umur, lelaki maupun perempuan. Menurut A.J. Resink-Wilkens dalam Het Dakonspel (Permainan Dakon), permainan dakon biasa dimainkan anak-anak perempuan dari kalangan bangsawan. Menurut James Dananjaya dalam Folklor Indonesia , permainan ini tersebar luas di Asia dan Afrika, yang terkena pengaruh kebudayaan Islam. Di Srilanka namanya canka , di Semenanjung Melayu disebut conkak , di Filipina cunkayon , dan di Afrika mankala . Sementara dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia , Dennys Lombard menyebut permainan ini sama dengan mangala yang terdapat di berbagai tempat lain di Samudera Hindia, Madagaskar, dan Turki, setidaknya sejak abad ke-17. Dakon, menurut Lombard, berasal dari kata daku atau saya , yang mengesankan penonjolan ego. Ia merupakan contoh terbaik dari permainan tradisional yang nonkompetitif. Tujuannya untuk menghibur melalui hubungan timbal-balik yang menenangkan daripada merangsang sebuah persaingan ilusi. Ketika orang Eropa memainkannya untuk kali pertama, dengan terkejut mereka menyadari bahwa permainan ini berbeda dari “dam-daman” (catur Jawa); tujuan permainan tersebut bukanlah untuk “menang.” “Peraturannya memang dibuat demikian rupa sehingga permainan dapat berlangsung berjam-jam dan hanya sekali-kali terhenti karena kekalahan (yaitu habisnya biji di dalam lubang tertentu) salah satu pemain,” tulis Lombard. Bukti arkeologis mengenai permainan ini ditemukan dalam ekskavasi di Panjunan, Banten, pada 1983 yakni berupa Bidak Congklak Terakota. Pada masanya situs ini merupakan pabrik tembikar. Bidak Congklak Terakota yang terbuat dari tanah liat tersebut kini menjadi koleksi Museum Nasional. “Artefak tanah liat yang dikategorikan sebagai kebutuhan sekunder antara lain berupa barang permainan seperti congklak… , ” tulis Heriyanti Ongkodharma dalam Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten 1522-1684 . Tinggalan arkeologis pada masa prasejarah (megalitikum) berupa batu monolit juga disebut batu dakon, mengambil sebutan dari bidak permainan dakon karena kemiripannya. Batu Dakon biasanya berdampingan dengan menhir. Menurut arkeolog Agus Aris Munandar, ada dua pandangan mengenai fungsi Batu Dakon. Kalangan ahli prasejarah beranggapan lubang di batu itu berfungsi sebagai altar sesajian seperti kembang-kembangan atau biji-bijian. Kalangan lainnya beranggapan fungsinya sebagai proyeksi peta bintang seperti di dataran tinggi India. “Apakah Batu Dakon punya pertalian dengan permainan dakon tentu harus dilakukan penelitian lebih lanjut,” katanya kepada Historia.*
- Pemain Biola Legendaris Berpulang
IDRIS Sardi wafat pagi tadi sekira pukul 07.30 WIB di rumah sakit Meilia Cibubur, Depok. Pemain biola terbaik Indonesia itu menderita sakit lambung sejak Desember 2013. Almarhum dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Jakarta. Kalangan musisi menyebutnya maestro, meski yang bersangkutan enggan kata “maestro” itu dialamatkan padanya. Perlambang kerendahan hati. “Dia termasuk orang pertama di Indonesia yang menggarap musik orkestra,” kata pengamat musik Bens Leo kepada Historia . Dan ternyata, Idris Sardi-lah yang menularkan semangat bermusik kepada Addie MS, pemimpin Twilite Orchestra. “Setelah mendapat bekal dari Idris Sardi, Addie memberanikan diri terbang ke Amerika untuk belajar musik. Kursus singkat delapan bulan. Dan jadilah Addie MS yang sekarang. Idris Sardi itu gurunya Addie MS,” ujar Bens Leo. Ayah aktor Lukman Sardi itu tak hanya piawai memainkan tangga nada. Dia juga pandai bercerita dan melawak. Bila para musisi berkumpul, Idris selalu tampil dengan ceritanya. “Ceritanya ada saja. Tak ada habis-habisnya. Dia pandai membuat suasana menjadi ceria,” ujar Theodore KS, sahabat Idris Sardi, kepada Historia . “Orangnya lucu. Suka bercanda. Tapi kalau sudah bicara musik, dia serius.” Pria yang kerap berkain sarung itu lahir di Batavia, 7 Juni 1938. Ayahnya, Pak Sardi, seorang pemain biola di studio Radio Republik Indonesia ( RRI ) sekaligus pembuat ilustrasi musik untuk film. Dari ayahnya inilah Idris mengenal biola. “Saya sering disuruh bangun pagi oleh ayah. Lalu berlatih biola. Waktu itu umur saya 6 tahun,” Idris mengurai lakon hidupnya kepada Historia dalam wawancara di studio Musica, Pancoran, Jakarta Selatan, 18 April 2012. Melihat keseriusan Idris, ayahnya menyerahkan Idris berguru kepada dua pemain biola asal Hongaria, Frank Sabo dan Hendrik Tordasi. “Ayah menyuruh saya ke tempat mereka jalan kaki.” Pada 1953, ayahnya meninggal dunia. Idris yang kala itu berusia 16 tahun menjadi tulang punggung keluarga. Dia menerima tawaran RRI menggantikan posisi ayahnya sebagai pemain biola. Di RRI , Idris berkenalan dengan Bing Slamet. “Kami sering berdiskusi soal musik. Bahkan di atas becak,” kata Idris. Bersama Bing Slamet, Idris membentuk Eka Sapta pada 1963. Mereka mengajak sejumlah musisi seperti Ireng Maulana (gitar pengiring), Itje Kumaunang (gitar melodi), Benny Mustafa (drum), Darmono ( vibraphone ), dan Kamid alias Mulyono (konga). Latar belakangnya dari jazz hingga keroncong. Presiden Sukarno pernah mengundang Eka Sapta main di Istana Bogor. Kelompok ini kerap mengiringi penyanyi terkenal masa itu. Satu di antaranya Ernie Djohan. Kelompok musik ini berhasil mendirikan studio rekaman sendiri, Metropolitan, pada 1970. Usai itu, mereka jalan sendiri-sendiri tanpa menyatakan bubar. Idris meneruskan lakon ayahnya sebagai pembuat ilustrasi musik film. Alhasil, sederet Piala Citra memenuhi rumahnya. “Di Indonesia, barangkali, barulah Idris Sardi yang benar-benar dapat kita kategorikan sebagai komposer musik film yang sebenarnya,” tulis Suka Harjana, “Musik Film Belum Dianggap Penting” termuat dalam Musik antara Kritik dan Apresiasi.
- Gaya Rambut Sapu
Gaya rambut pria Thai pertengahan abad ke-19 sebagaimana dipakai oleh para petinggi. Gaya rambut kaum wanita Thai ditunjukkan oleh ratu King Mongkut (Raja Siam) dari dinasti Chakri abad ke-18. (Repro Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 ). INILAH tren gaya rambut pria tahun 2014: tipis di bagian samping namun membiarkan lebat di bagian tengah dan menyisirnya ke belakang menjauhi muka. Gaya klasik ini disebut Pompadour, merujuk Madame de Pompadour, selir King Louis XV. Meski ada banyak variasi gaya ini, konsep dasarnya sama: rambut menyapu ke atas menjauhi wajah, terkadang bagian sisi dan belakang juga disisir ke atas. Pernah tren di kalangan perempuan modis pada abad ke-18, gaya ini dihidupkan kembali sebagai bagian dari tampilan Gibson Girl –istilah untuk kecantikan ideal seorang perempuan– pada 1890 dan terus bertahan sampai Perang Dunia I. Gaya ini sekali lagi menjadi mode bagi perempuan pada 1940-an. Versi pria dipopulerkan bintang rock and roll Elvis Presley pada akhir 1950-an. Variasi gaya ini terus dipakai lelaki dan perempuan pada abad ke-21. Gaya rambut Pompadour dikenal lebih awal di Siam (Thailand) dan Kamboja. Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 , menyebutnya gaya rambut “sapu”: memotong rambut sekira tiga sentimeter dan mencukur rata kedua sisi pelipis. Orang Siam memakai gaya ini karena pengaruh Khmer. Orang Siam lalu memberi pengaruh kepada orang Kamboja. Ada beberapa cerita di balik gaya rambut sapu. Di Siam, Chiengmai Chronical , kronik kerajaan Chiengmai , menyebutkan pada abad ke-15 seorang mata-mata Chiengmai harus memotong pendek rambutnya agar tak menarik perhatian orang di Kerajaan Ayutthaya. Sebuah hikayat Melayu merujuk gaya rambut sapu perempuan dengan seorang raja Siam yang marah besar karena menemukan sehelai rambut panjang di nasinya. Cerita lainnya menyebut gaya rambut sapu perempuan di Siam dipakai untuk menipu orang Birma (sekarang Myanmar) yang menyerang supaya beranggapan bahwa kaum wanita di garis belakang pertempuran adalah juga serdadu pria. Anthony Reid menyimpulkan, rambut pendek model sapu pada mulanya dipaksakan penguasa Siam kepada orang Kamboja dan Thai sebagai tanda kerendahan status; yang kemudian mereka menjadi penduduk Siam pada 1590-an. Asosiasi rambut pendek dengan status budak masih berlaku di Birma sekira 1700. “Raja-raja Siam berikutnya agaknya telah menerima gaya itu sebagai ‘gaya nasional’,” tulis Reid. “Gaya sapu khas ini digemari di kedua negeri (Kamboja dan Siam) sampai abad ke-19.”*
- Lagu-lagu Pemilu
Kiri-kanan: Ismail Marzuki, Mochtar Embut, dan Nortier Simanungkalit. MENJELANG pemilu pertama tahun 1955 diadakan sayembara lagu pemilu. Pemenangnya adalah lagu “Pemilihan Umum” hasil karya bersama Marius Ramis Dajoh (penulis lirik), Ismail Marzuki (melodi dan aransemen), dan GWR Tjok Sinsu (penggubah). “Setelah dilakukan penyesuaian di sana-sini, lagu tersebut diumumkan secara resmi sebagai lagu pemilihan umum pada 11 April 1953 di Studio RRI Jakarta,” tulis Teguh Esha dalam Ismail Marzuki: Musik, Tanah Air, dan Cinta. Liriknya: Pemilihan Umum/Kesana beramai/Marilah, marilah saudara-saudara/Memilih bersama para wakil kita/Menurut pilihan, bebas rahasia/Itu hak semua warga senegara/Njusun kehidupan adil sedjahtera. Selain lagu tersebut, menurut Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an Kenangan Semasa Remaja , waktu itu populer pula sebuah lagu yang iramanya diambil dari soundtrack film Anna yang dinyanyikan Silvana Mangano namun liriknya diganti dengan tema pemilu. Anak-anak suka menyanyikannya. “Yang masih saya ingat baitnya ialah Bulan bintang Masyumi/Palu arit PKI/Kepala banteng itu adalah PNI...dst, ” kata Firman Lubis. Pada pemilu kedua atau pemilu pertama di masa Orde Baru pada 1971, Mochtar Embut, komponis dan penulis lagu, membuat lagu “Pemilihan Umum” baru. Lagu ini kerap diputar menjelang dan sesudah siaran berita RRI . Liriknya: Pemilihan umum telah memanggil kita/Sluruh rakyat menyambut gembira/Hak demokrasi Pancasila/Hikmah Indonesia merdeka/Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya/Pengemban ampera yang setia/Di bawah Undang-Undang Dasar ’45/Kita menuju ke pemilihan umum. Lagu tersebut meraih penghargaan dari Departemen Dalam Negeri, dan digunakan selama enam kali pemilu di masa Orde Baru. Baru pada pemilu 1999, lagu itu diganti. Menurut majalah Gamma , Vol. 1, 1999, komponis dan penulis lagu Nortier Simanungkalit, diminta Lembaga Pemilihan Umum untuk menggubah lagu pemilu yang baru sebagai pengganti lagu karya Mochtar Embut. “Tawaran itu saya terima, karena saya yakin pemilu merupakan jalan keluar terbaik dari semua problem kita sekarang,” kata Simanungkalit. Apalagi, dia menganggap syair yang ditulis Embut, seperti Pemilihan umum telah memangggil kita/Sluruh rakyat menyambut gembira , terlalu sloganistis. Dia pun menuliskan lirik baru yang lebih tegas, seperti Pilih wakil dalam MPR dan DPR/D pusat dan daerah . “Dan yang paling pokok, jangan ada lagi tipu-menipu seperti dulu,” kata mantan anggota MPR periode 1987-1992 itu. Kendati diberi waktu sebulan untuk merampungkan lagu baru, hanya dalam waktu sepekan Simanungkalit menyelesaikan lagunya berjudul “Mars Pemilihan Umum” dengan aransemen Vicky Sianipar. Lagu ini kemudian dipakai sebagai mars untuk empat kali pemilu di era Reformasi (1999, 2004, 2009, dan 2014). Liriknya: Pemilihan umum kini menyapa kita/Ayo songsong dengan gempita/Kita pilih wakil rakyat anggota DPD, DPR dan DPRD/Mari mengamalkan Pancasila/Undang-Undang Dasar ‘45. Memilih presiden dan wakil presiden/Tegakkan reformasi Indonesia/Laksanakan dengan jujur adil dan cermat/Pilih dengan hati gembira/Langsung umum bebas rahasia/Dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.*
- Dari dan Untuk Apa Dana Partai
Kampanye Partai Masyumi di Rawa Badak, Tanjung Priok, Jakarta, 27 Maret 1955. (Perpusas RI). DUABELAS partai politik melaporkan dana kampanye kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 2 Maret lalu. Jumlah tertinggi mencapai ratusan milyar. Percaya atau tidak, dalam pemilu 1955 besarnya dana yang dikeluarkan tidak selalu signifikan dengan perolehan suara. Dalam menghadapi pemilu, partai-partai membutuhkan dana besar. Dana itu berasal dari iuran anggota, sumbangan, bahkan hasil korupsi segelintir kader partai. Tak heran jika laporan dana kampanye ke KPU bisa jauh lebih rendah dari yang sebenarnya. Pada pemilu 1955, tulis Herbert Feith, meski mustahil mengetahui anggaran partai, pengamatan umum tetap bisa dicoba. Kita bisa mengatakan, misalnya, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Masyumi mengeluarkan banyak uang, sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) tidak banyak. Korupsi di kementerian untuk mengumpulkan dana kampanye partai dipraktikkan besar-besaran pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo. “Dalam hal ini PNI yang paling banyak mendapatkan keuntungan karena partai ini memegang portofolio Keuangan dan Ekonomi serta jabatan perdana menteri dalam Kabinet Ali,” tulis Feith dalam Pemilihan Umum 1955 di Indonesia. Selain itu, PNI punya sumber dana tambahan, yang terpenting sumbangan dari pengusaha bumiputera maupun Tionghoa. Dengan dana yang besar, PNI bisa membayar tokoh-tokoh berpengaruh seperti camat, lurah, mandor (pengawas buruh perkebunan atau pabrik), dan jagoan agar menggunakan pengaruhnya untuk kepentingan partai. Dalam The Communist Party of Indonesia: 1951-1963, Donald Hindley menguraikan bahwa PKI adalah partai terkaya di Indonesia. PKI mampu memperkerjakan dan menggaji pegawai penuh waktu, menerbitkan literatur, dan berkampanye lebih mahal dari partai-partai lain. PKI memang tidak dapat memanfaatkan sumber dana langsung maupun tidak langsung dari pemerintah seperti PNI. Sumber dana PKI berasal dari iuran anggota, iuran anggota organisasi massa, sumbangan, kampanye khusus penggalangan dana, dan perwakilan yang menjadi anggota badan-badan pemerintahan. Menurut Feith, asal-usul dana PKI diperdebatkan. Kendati iuran anggota dan sumbangan kecil berperan penting dalam pembiayaan partai itu, orang menduga PKI memperoleh dana jauh lebih banyak dari sumber-sumber lain; dari pengusaha Tionghoa hingga negara-negara komunis melalui kedutaan dan kantor perwakilan mereka di Jakarta. Pesaing PKI dalam penggunaan dana kampanye adalah Masyumi. Bagian terbesar dari dana Masyumi berasal dari sumbangan tuan tanah, pemilik kebun karet, dan pengusaha batik. PKI dan Masyumi mengeluarkan dana besar untuk membuat papan peraga tanda gambar dari bahan seng seharga Rp14 ($1,25) per lembar, mencetak pamflet, dan membiayai perjalanan keliling pemimpin mereka. PKI mengeluarkan dana besar untuk karnaval perayaan ulangtahun partai dan pesta rakyat. Masyumi menyiapkan peralatan lengkap dan pemutaran film untuk rapat umum. Berbagai perlengkapan dan materi kampanye Masyumi dipasok Badan Informasi AS (USIS) –di Amerika disebut USIA, agensi pemerintah yang didirikan pada 1953. Selain itu, tulis Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA , Masyumi mendapatkan dana sekitar $1 juta dolar AS dari Badan Intelijen AS (CIA). Tujuannya, seperti diungkap mantan agen CIA Joseph Burkholder Smith dalam Portrait of a Cold Warrior, Masyumi merupakan kekuatan-tanding ( counterforce ) Indonesia untuk menghentikan kecenderungan Sukarno dan para pendukung politisnya yang condong ke kiri, menuju suatu pemerintahan otoriter yang didukung PKI. Masyumi, yang digadang-gadang bakal memenangi pemilu 1955, gagal karena kehilangan suara dari segmen muslim tradisional yang direbut NU. Feith tidak dapat menarik kesimpulan mengenai peranan uang dalam merebut suara. Namun, satu-satunya kesimpulan, setelah memperhitungkan betapa miskinnya NU namun sukses membuat kejutan dalam pemilu 1955, adalah bahwa sumber dana kurang penting dibandingkan sumberdaya sosial, dan penggunaan dana hanya bisa efektif jika dikaitkan dengan sumberdaya sosial.*
- Rahasia Dini
Ken Zuraida, istri WS Rendra, dengan latar belakang Nh Dini. Sebuah catatan yang dipamerkan menunjukan kedekatan Dini dengan Rendra. (Wenri Wanhar/Historia.ID). NH DINI tersipu-sipu mendengar cerita Ken Zuraida, istri terakhir penyair WS Rendra yang berjuluk Si Burung Merak. “Hingga akhir hayat, Rendra masih sering sebut-sebut nama Nh Dini,” kata Ken dalam acara puncak Apresiasi & Peluncuran Karya Nh Dini di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, 28 Februari 2014. Bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini, lahir di Semarang 29 Februari 1939. Dia mulai mengarang sejak kelas dua SMP pada 1951. Karya perdananya, “Pendurhaka” dimuat di majalah Kisah , dan mendapat perhatian dari sastrawan HB Jassin. Sedangkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia diterbitkan ketika dia duduk di SMA pada 1956. Dini seorang pengarang produktif yang melahirkan puluhan novel, cerita pendek, novelet, biografi, dan terjemahan. Karena dedikasinya terhadap dunia sastra, dia diganjar berbagai penghargaan di antaranya Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), Bhakti Upapradana (Bidang Sastra) dari pemerintah daerah Jawa Tengah (1991), SEA Write Award dari pemerintah Thailand (2003), Hadiah Francophonie (2008), dan Achmad Bakrie Award bidang Sastra (2011). Ken mengungkap kedekatan hubungan suaminya dengan Dini semasa muda. “Tenang, Bu Dini. Tidak akan saya ceritakan di sini,” kata Ken. Hadirin yang memenuhi ruangan sontak tertawa. Rendra memang dekat dengan Dini. Bahkan di ruang pameran karya-karya Dini dipajang foto dan puisi Rendra untuk Dini. Di bawahnya diberi keterangan: “WS Rendra merupakan salah satu sastrawan yang dekat dan sering berinteraksi dengan Nh Dini. Beberapa surat sangat intim dan erat.” Karya-karya Dini sering dijadikan bahan latihan di Bengkel Teater milik Rendra. “Kata Rendra, naskah Bu Dini kuat sekali. Dijadikan bahan latihan karena, salah membacakannya, maka salah artinya,” ujar Ken. Mengakhiri ceritanya, Ken merasa heran mengapa diberi kesempatan berbicara di forum yang dihadiri nama-nama besar di jagat sastra Indonesia itu. “Saya tidak sehebat Bu Dini. Tidak juga kenal dekat, meski saya sudah sering dengar nama Nh Dini waktu remaja,” kata Ken. “Barangkali saya diminta bicara di sini karena saya istri Rendra yang paling lama.” Selain dengan Rendra, Dini juga dekat dengan sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana. “Takdir itu bagi saya seperti Mochtar Lubis, melindungi dan menganggap anak,” ujar Dini kepada Historia . Saking dekatnya, kata Dini, penulis Layar Terkembang itu hampir selalu memberinya uang bila bertemu. Kedekatan itu pula yang membuat Takdir meminta Dini menulis biografi Amir Hamzah, sastrawan yang tewas dalam revolusi sosial di Sumatra Utara pada 1946. “Dia yang membiayai saya ke sana,” kenang Dini. Dini mewawancarai Tengku Tahura, anak semata wayang Amir, dan sekira delapan orang yang mengenal Amir; mengumpulkan data-data mengenai Amir termasuk buku-buku sastra Melayu untuk acuan cara bertutur. Pada 1981, buku pesanan Takdir itu terbit berjudul Amir Hamzah Pangeran dari Seberang . Kendati dekat dengan Rendra dan Takdir, tetapi mereka tak mempengaruhi karya-karya Dini. “ Nggak pernah dipengaruhi,” kata Dini. Perhatian Takdir kepada Dini tak sebatas pekerjaan, meski biasanya pertemuan mereka selalu didominasi obrolan mengenai sastra. Dini masih ingat pertemuan keduanya saat Indonesia sedang berkonfrontasi melawan Malaysia pada 1960-an. Takdir mengatakan akan ke Malaysia dan mengajak Dini. “ Nggak ah , saya ini patriotis kok,” tolak Dini. Beberapa tahun setelah itu, dalam sebuah pertemuan, Takdir memprotes Dini. “Mana patriotis kok kawin sama orang Prancis?” Setelah berhenti menjadi pramugari Garuda Indonesia Airways, Dini menikah dengan Yves Coffin, diplomat Prancis, pada 1960. Mereka dikaruniai dua anak: Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang, sutradara film animasi Despicable Me dan Despicable Me 2. Pernikahan mereka kandas pada 1984. Dini mendapatkan kembali kewarganegaraan Indonesia pada 1985. Dalam novelnya, Jepun Negerinya Hiroko , Dini menjawab protes Takdir: “Bagiku kemanusiaan tidak dibatasi oleh kebangsaan atau pun negeri. Kecintaanku kepada tanah air lebih mengakar pada kemanusiaannya. Dengan berganti kertas administrasi berupa paspor, tidak berarti aku melupakan bahwa aku adalah orang Jawa, satu bagian dari bangsa Nusantara. Aku tetap mencintai tumpah darahku dan manusia Indonesia.” Di usia senjanya, Dini terus berkarya. Dua tahu lalu di ulangtahunnya ke-76, dia menerbitkan novel otobiografi, Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang. Dan tahun ini, dia menerbitkan kembali enam karyanya. Nh Dini meninggal dunia pada 4 Desember 2018 di RS Elizabeth Semarang karena kecelakaan mobil di ruas jalan tol Tembalang km 10 Semarang.*
- Akar Sejarah Tawar Menawar
Pasar Bolu di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. (Micha Rainer Pali/Historia.ID). SELAIN dikenal cerdas dan hemat dalam mengurus keuangan, perempuan Asia, termasuk Indonesia, sejak dulu menguasai kegiatan di pasar. Dalam transaksi jual-beli, mereka selalu berusaha mendapatkan harga semurah mungkin. Tawar-menawar pun menjadi identik dengan mereka. Menurut Titi Surti Nastiti, arkelolog dan epigraf Pusat Arkeologi Nasional, tidak ditemukan data arkeologis terkait kegiatan jual-beli dan tawar-menawar di pasar pada masa Mataram kuno. “Namun, dengan bantuan studi etnoarkeologi yang dilakukan di pasar-pasar tradisional, kegiatan tawar-menawar muncul berdampingan dengan aktivitas pasar tradisional,” kata Titi kepada Historia. Dari catatan orang-orang Eropa yang singgah di Nusantara dapat diketahui kegiatan perempuan di pasar. Misalnya, Antonio Galvao, seorang panglima armada Portugis yang menjadi gubernur ketujuh Portugis di Maluku (1536-1540), mencatat peran perempuan Maluku dalam perniagaan. “Wanitalah yang melakukan tawar-menawar, membuka usaha, membeli dan menjual,” tulis Galvao, dikutip sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Di Sumatra, menurut Anthony Reid, sebuah puisi Minangkabau terkenal yang ditulis pada 1820-an, menganjurkan agar kaum ibu mengajarkan anak-anak gadisnya “mengamati turun-naiknya harga.” Ini menjadi bekal bagi si gadis ketika berbelanja ke pasar. Seperti halnya perempuan Maluku dan Sumatra, perempuan Jawa juga berperan penting di pasar. Menurut Thomas Stanford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1811-1816), sudah lazim bagi suami mempercayakan seluruh urusan keuangan kepada istrinya. “Hanya perempuan yang pergi ke pasar dan melakukan seluruh urusan jual-beli. Sudah umum diketahui bahwa kaum lelaki Jawa sangat bodoh dalam mengurus uang,” tulis Raffles dalam The History of Java. Tidak hanya di pasar, perempuan juga dapat melakukan transaksi perdagangan dalam skala besar. Jeronimus Wonderaer, seorang pedagang Belanda yang mengujungi Cochin-China (Vietnam) pada 1602, melaporkan bahwa para pedagang Belanda dan Inggris melakukan tawar-menawar harga rempah-rempah dengan seorang pedagang perempuan terkemuka (coopvrouw) dari kota Kehue (Hue atau Sinoa, sebutan Portugis). Perempuan tersebut merupakan wakil dari suatu perusahaan milik dua perempuan bersaudara dan seorang saudara lelaki yang mampu menyuplai rempah-rempah dalam jumlah besar. “Wanita itulah yang melakukan tawar-menawar dan si pria hanya mendengarkan serta setuju,” tulis Wonderaer, dikutip Anthony Reid. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia Jilid 2, menyebut praktik tawar-menawar sebagai “ciri kekunoan yang ada di mana-mana.” Di Jawa, seperti halnya di banyak negara Asia dan di tempat lain, jika kita kecualikan toko serba ada modern, tidak terdapat daftar harga dan segala transaksi hanya terjadi setelah ada perdebatan yang relatif panjang. Dalam kesempatan itu, masing-masing pihak dapat menunjukkan bakatnya secara terang-terangan. “Bangsa Eropa sering kali jengkel menghadapi permainan ini, karena mereka tidak dibekali keterampilan itu –paling tidak karena bahasa– dan seringkali mereka menjadi korban. Secara umum, mereka menolak cara penilaian ‘menurut pandangan klien’, yang mereka anggap barbar dan menakutkan,” tulis Lombard.*
- Jam Malam dalam Bahaya dan Perang
Pengumuman jam malam ( avondklok ) pada masa bahaya dan perang. (KITLV). JAM malam (avondklok) , larangan berada dan berkegiatan di luar rumah di malam hari pada jam tertentu, biasanya diberlakukan dalam keadaan bahaya –seperti menghadapi pemberontakan atau pengambil-alihan kekuasaan– dan perang. Dalam sejarah Indonesia, beberapa peristiwa mendorong pemberlakuan jam malam. Pada Oktober 1740, penguasa VOC membantai ribuan etnis Tionghoa di Batavia karena khawatir akan kemampuan mereka dalam berdagang maupun berbaur dengan warga pribumi. Kaum Tionghoa melakukan perlawanan, tapi dipukul mundur. Melihat situasi semakin genting, sejak 8 Oktober 1740, Gubernur Jenderal Valckenier memberlakukan jam malam bagi warga Tionghoa. Akibatnya, persiapan perayaan Tionghoa secara besar-besaran dibatalkan. “Mereka harus tinggal di dalam rumah dalam keadaan gelap gulita karena tidak diperkenankan untuk menyalakan api untuk penerangan sekalipun,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Pemberlakuan jam malam disertai dengan larangan menyalakan penerangan. Jam malam intens diberlakukan di masa perang. Penguasa Belanda memberlakukan jam malam pada awal Perang Pasifik dan semakin diperketat sejak Singapura bertekuk lutut kepada Jepang. Di pengujung kekuasaannya pada Maret 1942, Belanda mengumumkan keadaan dalam bahaya dan perang. Malam pun menjadi kelabu dan rawan. Jalanan sepi dan lengang. Rumah-rumah penduduk gelap tanpa lampu. “Berlakulah jam malam, dan aksi pemadaman lampu penerangan,” kata Saifuddin Zuhri dalam Guruku, Orang-orang dari Pesantren. Istilahnya LDB (Lucht Beschermen Dienst) atau dinas penjagaan dari bahaya serangan udara. Tetapi, rakyat mengartikannya: Lampu pejah Bom Dawah (lampu mati dan bom pun jatuh). Rapat-rapat dan pertemuan harus meminta izin penguasa. Segera setelah Jepang mendarat di Jawa, Jepang mengumumkan jam malam masih tetap berlaku. Baru pada 5 Juni 1942 ketentuan jam malam dihapuskan. Menjelang kekalahannya, Jepang memberlakukan jam malam karena berperang dengan Sekutu. “Begitu matahari tak terlihat di ufuk barat, semua lampu di seluruh kota dimatikan. Kompleks-kompleks yang dipandang strategis seperti tempat tinggal dan perkantoran tidak boleh membiaskan cahaya ke langit. Oleh Jepang, ini bahkan diwajibkan,” kata Kris Biantoro dalam otobiografinya, Manisnya Ditolak. Larangan menyalakan lampu itu karena akan menjadi sinyal bagi pesawat pengebom Sekutu. Menurut Frances Gouda dan Thijs Brocades Zaalberg dalam Indonesia Merdeka Karena Amerika? karena aturan jam malam dan pemadaman lampu selama perang tidak dicabut sampai 23 Agustus 1945, seminggu sesudah 17 Agustus 1945, Proklamasi tidak langsung memicu gelora semangat rakyat di kota Surabaya. “Baru setelah beberapa lama pasar malam buka kembali dan orang-orang mulai melakukan kegiatan sosial dan jual-beli yang secara tradisional dilakukan pada malam hari,” tulis Gouda dan Zaalberg. Tidak lama kemudian Sekutu datang. Sejak 11 November 1945, Sekutu memberlakukan jam malam dari pukul 18.00 sampai 06.00. Ketika mengambil-alih pendudukan Indonesia dari Sekutu, Belanda memberlakukan jam malam terutama ketika melancarkan agresi militer. Mereka yang terpaksa melakukan perjalanan malam harus memiliki pas khusus dari pihak berwajib. Pergolakan di beberapa daerah, seperti gerakan RMS (Republik Maluku Selatan), PRRI/Permesta, dan DI/TII SM Kartosuwiryo, mendorong pemerintah daerah memberlakukan jam malam. Begitu pula pascaperistiwa Gerakan 30 september 1965, di berbagai daerah diberlakukan jam malam, dan pada saat itulah tentara melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang terkait PKI –dituduh sebagai dalang G30S. Jam malam juga diberlakukan di Jakarta pascaperistiwa Malari (15 Januari 1974). Pergolakan daerah terakhir yang diberlakukan jam malam adalah Darurat Militer di Aceh pada 2003-2004. Setelah reformasi, beberapa daerah memberlakukan jam malam, bahkan dalam bentuk peraturan daerah, dengan alasan lain –bukan karena bahaya apalagi perang. Masyarakat keberatan karena dianggap mendiskreditkan, terutama perempuan, seperti aturan jam malam di Kota Tangerang dan Kabupaten Bulukumba. Aturan jam malam bagi tempat hiburan malam di Jawa Barat malah menimbulkan masalah baru. Tampaknya, jam malam harus ditinjau kembali.*
- Seratus Menit yang Menegangkan
Orestes Lorenzo Perez, pilot AU Kuba, di pesawat Mig-23 Flogger. Dia dan keluarganya membelot ke Amerika Serikat karena tak tahan hidup di Kuba. PETUGAS menara Pangkalan Udara Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) Boca Chica, Florida, dibuat bingung. Sebuah pesawat tempur Mig-23 Flogger buatan Uni Soviet tiba-tiba muncul pada petang hari 20 Maret 1991. “Kami terus mencari tahu untuk melihat apa yang mesti kami lakukan, tapi sejauh ini saya tak memiliki data tentang pesawat itu,” kenang Tom Bowers, juru bicara bagian radar dan intelijen Customs Service pusat di Dade County, Florida, dimuat The New York Times , 21 Desember 1992. Pilot itu mengayun-ayunkan sayap pesawatnya (rocking wing) sebagai isyarat pertemanan dalam dunia penerbangan. Dia meminta izin mendarat. Rupanya dia, Orestes Lorenzo Perez, adalah pilot AU Kuba yang hendak membelot ke AS. Dia tak tahan hidup di Kuba. Menurutnya, pemerintahan Fidel Castro hanya memperhatikan masalah politik dan Perang Dingin. Ekonomi dan lain-lainnya terabaikan. Setelah Fidel Castro menggulingkan diktator Fulgencio Batista, kaki tangan AS, hubungan Kuba dengan AS menjadi tegang. Selain mengubah hubungan politik-ekonomi dari AS ke Uni Soviet, Castro juga menasionalisasi banyak industri milik AS dan menaikkan pajak impor barang dari AS. AS membalas dengan memotong kuota impor gula, melarang hampir semua ekspor, dan puncaknya embargo ekonomi. Pada masa pemerintahan John F. Kennedy, CIA juga melatih para pelarian Kuba ke AS untuk menggulingkan rezim Castro. Dengan dukungan Uni Soviet, rival utama AS dalam Perang Dingin, Kuba-Soviet hampir terjerembab ke dalam perang nuklir melawan AS. “Pembelotan militer meningkat secara substansial pada 1992 dan 1993, bersamaan dengan bertambahnya penduduk Kuba yang melarikan diri,” tulis Andres Oppenheimer dalam Castro’s Final Hour . Perez mendapat suaka politik dari Paman Sam. Namun istrinya, Victoria, dan kedua anaknya tak mendapat izin dari pemerintah Kuba sehingga terpaksa hidup terpisah darinya. Dia kemudian meminta bantuan berbagai pihak guna menekan pemerintahan Castro. Dia berbicara di radio, media lainnya, serta Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Dia juga menemui tokoh-tokoh penting dari Presiden George Bush hingga Mikhail Gorbachev. Bahkan dia menggelar aksi mogok makan di Madrid, Spanyol. Pembelotan Perez menjadi berita utama. Di Kuba, Castro mengirim pejabatnya untuk memaksa Victoria melupakan suaminya. Mereka juga mengatakan Perez bukan sekadar pengkhianat tapi juga homoseks yang berencana menikah di luar negeri. Perez memutuskan menjemput istri dan kedua anaknya. Atas bantuan Valladeres Foundation, organisasi pegiat hak asasi manusia yang didirikan eksil Kuba di AS, Perez mendapatkan pesawat bekas, Cessna 310. “Seorang janda kaya kelahiran Kuba yang tinggal di Columbus, Georgia, mendonasikan $30 ribu kepada yayasan untuk membeli pesawat yang bakal digunakan dalam penerbangan itu,” ujar Kristina Arriaga, direktur eksekutif Valladeres Foundation, dikutip New York Times. Dia mengikuti kursus selama enam pekan guna mendapatkan lisensi terbang sipil. Rencananya, dia terbang pada pengujung senja dan mendaratkan pesawat di jalan raya. Tempat yang dipilihnya berada di Matanzas, kota kecil dekat Havana, yang sering dipakainya mendaratkan Mig-21 semasa aktif di AU Kuba. Dia hanya punya sekitar 15 menit untuk menaikkan istri dan anak-anaknya ke dalam pesawat. Pada 19 Desember 1992, Perez melakukan penerbangan. Dia singgah di Marathon Key, Florida, untuk mengabari istrinya dan mempelajari keadaan Kuba lalu terbang lagi. Agar tak terdeteksi radar Kuba, dia mematikan peralatan elektronik, termasuk radio komunikasi. Dia juga menurunkan pesawat sampai sekira 10 kaki di atas permukaan air laut. Pada waktu yang sudah ditentukan, Perez akhirnya melihat Matanzas. Jembatan di atas sungai Canimar mulai tampak. Dia menuju ke timur. Bukit di dekat sungai menghalangi pandangannya. Dalam keterbatasan pandangan, dia memutuskan menurunkan ketinggian. Sebuah sedan berkecepatan tinggi yang melintas di bawah pesawat mengagetkannya. Sebuah truk dan bus yang akan menyalip tampak mengarah ke pesawat. Dalam keterbatasan waktu, dia mendarat di tengah sedan, truk dan bus. Setelah berhasil melewati sedan, Perez akhirnya menjejakkan roda pesawat di jalan raya. Supir truk mengerem mendadak dan terbengong-bengong karena hampir menabrak pesawat. Perez tak peduli dan langsung memutarkan pesawat, turun, serta menjemput istri dan anaknya. Karena gugup, dia dua kali gagal menutup pintu pesawat. Perez kembali menerbangkan pesawatnya. Ketegangan masih menghinggapinya, takut kepergok Mig AU Kuba. Namun akhirnya dia menyelesaikan misi “penerbangan 100 menit” itu. Dan segera dia menjadi “pahlawan” bagi komunitas Kuba. “Saya senang keluarga saya kembali mendapat kebebasan bersama saya sekarang,” ujarnya dikutip New York Times . Perez dan keluarganya menetap di Springfield, Virginia. Dia menjadi pilot di maskapai swasta sementara istrinya melanjutkan studi kedokteran gigi.*
- Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan di Negeri Belanda
Anggota Perhimpunan Indonesia, sekira tahun 1924-1927. (KITLV). PERHIMPUNAN Indonesia menempati posisi unik dalam sejarah. Ia adalah perkumpulan anak bangsa yang pertama kali menyandang nama Indonesia untuk menunjukkan aspirasi kemerdekaan. Perhimpunan Indonesia (1924), semula bernama Indische Vereeniging dan didirikan pada 1908, mulanya perkumpulan mahasiswa biasa. Namun ia berubah jadi radikal sejak Nazi-Hitler berkuasa di Jerman pada 1933, kemudian menggetarkan Eropa, dan menduduki Belanda pada 1940. Perhimpunan Indonesia berkembang menjadi organ politik yang gigih dan efektif. Ia menggalang mahasiswa-mahasiswa Indonesia agar bersatu melawan fasisme. Sepanjang kurun menuju 1940, mereka bersekutu dengan kelompok-kelompok perlawanan Belanda di sekitar media Vrij Nederland , De Waarheid , Het Parool , dan De Vrije Katheder , membantu mencetak koran-koran tersebut secara ilegal, karena mereka bertekad menempatkan perjuangan melawan fasisme sebagai agenda utama. Pada akhir 1930-an hingga 1940-an, Perhimpunan Indonesia aktif dalam kegiatan politik kaum perlawanan anti-Nazi: mengerahkan, merekrut, dan mengorganisasi sesama mahasiswa, menyebarkan pamflet, serta melindungi dan menyembunyikan orang-orang yang menjadi sasaran Nazi –kaum Yahudi dan lain-lain. Dalam edisi khusus Jubileum (HUT ke-30) majalah Indonesia Merdeka , pimpinan Perhimpunan Indonesia menyatakan: “Agresi fasis tahun-tahun belakangan ini mengancam Belanda maupun Indonesia. (Dalam kondisi itu) kerjasama antara rakyat Indonesia dengan gerakan nasionalnya dan Belanda yang demokratis, atas dasar kesetaraan dan saling-menghargai, merupakan satu-satunya jalan untuk membebaskan kedua rakyat negeri tersebut dari bahaya yang mengancam mereka. (Karena) rakyat tidak dapat memenuhi kewajibannya tanpa adanya hak-hak demokratis mereka, maka Perhimpunan Indonesia bercita-cita menuju perombakan yang demokratis berdasarkan kesetaraan di bidang ekonomi, politik dan militer.” Jadi, Perhimpunan Indonesia memandang kerjasama kedua bangsa dan rakyat (Belanda dan Indonesia) sebagai kerjasama “menyelamatkan kemanusiaan” dari kekejaman Nazi. Dengan demikian, Perhimpunan Indonesia menunjuk bahwa tujuan “Indonesia merdeka” hanya dapat dicapai dengan memerangi fasisme. Namun seruan Perhimpunan Indonesia mengenai kerjasama itu ditampik begitu saja oleh pemerintah Belanda. Maka, bagi Perhimpunan Indonesia, masalah yang utama adalah menyadarkan sesama Indonesia di Belanda maupun di Indonesia agar terlibat dalam perjuangan melawan fasisme. Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada para mahasiswa Indonesia yang kebanyakan berada di Leiden, kota yang menjadi markas Perhimpunan Indonesia, tetapi juga pelaut-pelaut Indonesia yang bekerja pada perusahaan-perusahaan kapal Belanda di Rotterdam. Akibat pendudukan Jerman, pekerja Indonesia di perusahaan Rotterdamse Lloyd menganggur dan mereka inilah yang mendapat penyuluhan politik oleh para mahasiswa dari Perhimpunan Indonesia cabang Rotterdam. Paling kurang lima anggota Perhimpunan Indonesia menjadi korban Nazi: Djajeng Pratomo dan adiknya, Gondho, jadi pekerja-paksa di kamp Dachau meski akhirnya selamat; tiga orang tewas di kamp; dan Irawan Surjono tewas ditembak polisi Nazi (SS) ketika mengangkut pamflet di Leiden. Sementara itu, Perhimpunan Indonesia juga cemas akan simpati yang berkembang di Indonesia terhadap peran Jepang. Menurut pimpinan Perhimpunan Indonesia, rakyat Indonesia harus menyadari bahwa industrialisasi yang dijalankan Jepang berarti pula ekspansi kekuatan fasis ke selatan, termasuk Indonesia. Karena itu, isu tentang hubungan Sukarno dengan tentara pendudukan Jepang menimbulkan dilema. Djajeng dalam hal ini masih mempercayai Sukarno, karena dia menyadari bahwa Belanda berkepentingan untuk mendiskreditkan pemimpin Indonesia sebagai “boneka Jepang”. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Perhimpunan Indonesia memutuskan bahwa sebagian besar anggotanya kembali ke tanah air; belakangan sebagian dari mereka tewas menyusul Peristiwa Madiun (1948). Sebagian lainnya, termasuk Djajeng, tetap berada di Belanda untuk memimpin majalah Perhimpunan Indonesia, yang berganti nama menjadi Indonesie , dan melanjutkan kegiatan politik. Djajeng sempat bertugas mewakili Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Belanda. Dengan riwayatnya yang heroik sekaligus bersetiakawan internasional, perjalanan Perhimpunan Indonesia selaku wahana politik Indonesia mencerminkan sebuah era yang sarat perubahan dan tantangan fundamental –bagi Eropa maupun bagi Indonesia sebagai suatu bangsa baru.*





















