Hasil pencarian
9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pembatasan Sosial dan Isolasi Diri dalam Lukisan
SIAPAPUN Anda, yang berada di epicenter pandemi virus corona (SARS-Cov-2) diimbau keras untuk membatasi diri dari aktivitas sosial ( physicaland social distancing ). Isolasi diri jika tak punya keperluan penting ke luar rumah. Demikianlah inti pesan pemerintah setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di ibukota per Jumat (10/4/2020). Imbauan, bahkan peringatan keras senada juga digaungkan sejumlah negara yang melakoni lockdown dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus corona . Intinya, setiap orang diimbau untuk tetap berada di rumah. Tentu kebosanan datang. Yang biasanya sering kelayapan entah untuk bekerja atau nongkrong, kini terpaksa harus anteng di rumah. Pasti ada banyak di antara kita yang hanya bisa menatap kosong ke arah luar dari jendela rumah, kangen akan dunia di luar rumah, dan mengharap pandemi virus corona ini segera berlalu. Percaya atau tidak, kondisi semacam itu pernah dilukiskan Edward Hopper dalam beberapa karyanya di era 1920-an hingga 1950-an. “Semua merasa sendiri dan kesepian namun berada dalam kondisi yang sama. Beberapa orang mengatakan sekarang kita hidup di dalam lukisan Edward Hopper. Tak peduli lukisan yang mana,” ungkap kritikus seni Inggris Jonathan Jones dalam ulasannya, “We Are All Edward Hopper Paintings Now” yang dimuat The Guardian , 27 Maret 2020. Edward Hopper dikenal sebagai pelukis realis asal Amerika Serikat kelahiran New York, 22 Juli 1882. Ia acap melahirkan karya-karya tentang “sikon” urban dan kehidupan di pinggiran kota, hingga akhir hayatnya pada 15 Mei 1967. Situasi Serupa dalam Empat Karya Meski semasa hidupnya ia tak pernah terimbas pandemi seperti yang terjadi saat ini, sejumlah hasil karyanya begitu intim dan visioner yang nyaris merefleksikan kondisi yang dialami berjuta-juta manusia yang terdampak virus corona zaman kiwari. Dalam lukisan berjudul Automat yang –dibuat dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 71,4 cm x 91,4 cm– dikreasi Hopper tahun 1927, misalnya, sang pelukis menggambarkan seorang wanita dengan pakaian cukup mewah terduduk sendirian di sebuah automat di malam hari. Automat adalah semacam restoran cepat saji yang makanannya didapat konsumen lewat mesin makanan otomatis. Lukisan "Automat" yang dibuat Edward Hopper tahun 1927 (Foto: edwardhopper.net ) Diungkapkan Wieland Schmied dalam Edward Hopper: Portraits of America , model wanita dalam lukisan Automat tak lain adalah istri sang pelukis, Josephine Verstille Nivison Hopper. Hopper ingin mendeskripsikan wanita tersebut tengah diterpa kesepian yang amat sangat. Selain seorang diri, nuansa kesepian dihadirkan dari automat yang tak seramai biasanya gegara depresi ekonomi sejak awal abad ke-20. “Sang wanita menatap cangkir kopinya seolah-olah hanya secangkir kopi itu yang ia miliki di saat itu,” papar Schmied. Kondisi itu “11-12” dengan yang terjadi saat ini meski penyebabnya berbeda. Lukisan Automat lantas dijadikan gambar sampul majalah Time edisi 28 Agustus 1995 yang mengulas tentang depresi ekonomi di abad ke-20 itu. Adapun lukisan aslinya saat ini menjadi koleksi Des Moines Art Center, Iowa, Amerika Serikat. Beralih ke era 1940-an, ada lukisan Nighthawks yang dibuat Hopper pada 21 Januari 1942. Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 84,1 cm x 152,4 cm itu menggambarkan suasana malam di sebuah restoran sederhana dengan seorang pelayan di belakang meja counter dan tiga konsumennya, ditambah deskripsi sisi luar restoran nan gelap. Lukisan "Nighthawks" yang disebut sebagai salah satu karya terbaik Edward Hopper (Foto: Arts Institute of Chicago) Jembatan antara kondisi saat ini dan gambaran dalam lukisan itu adalah jaga jarak ( social distancing ). Nighthawks memperlihatkan sejoli lelaki dan perempuan yang duduk berjarak agak jauh dari seorang konsumen pria lain. Beberapa kritikus menginterpretasikan lukisan itu sebagai potret keadaan Amerika yang terbilang sepi dan tenang sebelum Amerika terjun ke Perang Dunia II. Keadaan masyarakat urbannya saat itu menyukai ketenangan dan menyepi di restoran yang buka sampai tengah malam, tanpa diganggu kasak-kusuk tentang perang. “Gambaran yang cukup menghantui namun sangat populer (di negara di mana seni tinggi tak dihargai sebagaimana mestinya), lukisan ini menunjukkan sosok-sosok yang kesepian di sebuah restoran sederhana di sebuah kota pada larut malam dan lukisan ini bisa menjadi jendela untuk melihat kondisi Amerika yang tak pernah lagi kembali seperti dulu,” ungkap Gordon Theisen dalam Staying Up Much Too Late: Edward’s Hooper Nighthawks and the Dark Side of the American Psyche. Lukisan Nighthawks disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik Hopper. Karya itu terpajang di Art Institute of Chicago setelah galeri seni itu membelinya USD3 ribu pada 13 Mei 1942. Lukisan lain Hopper yang relevan dengan yang dirasakan sebagian besar orang terdampak virus corona adalah Cape Cod Morning . Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 86,7 cm x 102,3 cm yang dibuat pada Oktober 1950 itu kini bisa dilihat di Smithsonian American Art Museum. Lukisan "Cape Cod Morning" yang sedikit berbeda dari beberapa lukisan Hopper bergaya urban (Foto: americanart.si.edu ) Sejarawan seni Gail Levin membeberkan detail lukisannya dalam Edward Hopper: An Intimate Biography , di mana terdapat sesosok wanita pirang bergaun pink tengah melongok ke arah luar rumah dari jendelanya. Ia menatap kosong ke arah pepohonan lebat dan rerumputan yang menguning di luar rumahnya. “Sikap tubuh sang wanita tampak tegang, menciptakan rasa penasaran dan penggambarannya begitu kental menjelaskan pemisahan antara tempatnya berdiri di sisi dalam rumah dan dunia luar,” ungkap Levin. Lukisan itu juga mendeskripsikan kecemasan sang wanita apabila ia keluar dari rumahnya dan melangkah ke dunia luar. Suasana batin ini familiar dengan situasi sekarang, di mana banyak orang takut jika keluar rumah bisa terjangkit virus corona. Meski begitu ada sedikit perbedaan dalam Cape Cod Morning dengan beberapa karya Hopper lain yang “berbau” pembatasan diri antara di dalam sebuah ruangan dan dunia luar. Jika dalam beberapa karya lain latarbelakangnya melulu urban, dalam Cape Cod Morning latar panoramanya berupa rumah pondok di dekat hutan di daerah terpencil. Diuraikan Levin, nyatanya rumah di South Truro, Cape Cod, itu adalah rumah peristirahatan yang biasa ia dan istrinya datangi setiap musim panas sejak 1934. Hopper pertamakali datang ke Cape Cod pada 1930 dan merasa mendapat banyak inspirasi untuk karyanya. Empat tahun kemudian rumah itu ia beli untuk rumah musim panas. Sosok wanita di Cape Cod Morning pun tak lain adalah istrinya yang dijadikan modelnya. Lukisan "Morning Sun", sebagaimana beberapa lukisan Hopper lainnya, juga memanfaatkan istrinya, Jo Nivison sebagai modelnya (Foto: edwardhopper.net ) Deskripsi lukisan Cape Cod Morning juga mirip dengan karya Hopper yang dibuat pada 1952, Morning Sun . Dalam lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 71,4 x 101,9 cm yang kini terpajang di Columbus Museum of Art itu, Hopper juga menggambarkan seorang wanita berpakaian pink yang menatap kosong ke arah luar via jendelanya. “Sesosok wanita terduduk di atas tempat tidur yang terekspos cahaya pagi yang sejuk, di mana tatapannya mengarah ke jendela terbuka. Penggambaran interior mirip di dalam sebuah apartemen dan dunia luar yang bernuansa kota modern dipisahkan oleh jendela, seolah sang wanita tengah terisolasi oleh dirinya sendiri,” tulis Kerstin Stremmel dalam Realism. Hopper menguraikan tentang lukisan itu, bahwa fokus utama dalam Morning Sun lebih kepada sinar mentari pagi yang menerpa sosok wanita tersebut. Juga efek siluet dan bayangan dari sinarnya, baik terhadap sang wanita maupun interior ruangan di mana wanita itu berada. “Mungkin saya bukan manusia pada umumnya. Perhatian saya adalah melukiskan sinar matahari yang mengarah ke dinding ruangan. Menjadikan sosok wanitanya bermandikan sinar itu,” tutur Hopper dikutip Stremmel.
- Penginjil Kristen dan Wabah di Tanah Batak
Makhluk-makhluk yang telah membangkai itu berpuluhan ribu jumlahnya. Manusia yang tewas maupun kuda perang yang mati akibat pertempuran terserak bergelimpangan. Jasadnya terapung-apung di tepi sungai dan danau. Benih penyakit pun menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru. Demikianlah keadaan di Tanah Batak setelah kaum Padri melancarkan serangannya. Augustin Sibarani penulis buku Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamngaraja XII mencatat higienitas udara di Tanah Batak pada waktu itu sebenarnya sudah mulai mengerikan. Musababnya adalah merebaknya tiga macam wabah misterius. Tiga "hantu" sedang menghinggapi daerah Humbang dan Toba Holbung, yaitu: Begu Attuk , Begu Aron , dan Ngenge na Birong . “Ini adalah nama-nama yang amat kesohor di Tanah Batak, tiga macam penyakit terkutuk yang amat sering melanda daerah-daerah indah di sekitar Danau Toba ini berupa epidemi-epidemi yang membawa banyak putra-putra Batak ke liang kubur: kolera, tipus, dan penyakit cacar,” tulis Sibarani. Misionaris Inggris Ditolak Ragam penyakit yang mewabah di Tanah Batak memantik penguasa kolonial untuk bertindak. Sir Thomas Stamford Raffles menginginkan agar misi penginjilan masuk ke Tanah Batak. Menurut Gubernur Jenderal Inggris di Asia itu wilayah itu perlu di-kristenkan dengan menakar berbagai pertimbangan strategis. Meskipun sarat muatan politik, pada 1824 dikirimkanlah tiga misionaris dari Baptis Mission Society of England ke Tapanuli. Mereka antara lain: Richard Burton, Nathaniel Ward, dan Evans. Pendeta Ward juga seorang ahli medis yang bertugas menyelidiki keadaan kesehatan dan penyakit menular di Tapanuli bagian utara, terutama di Lembah Silindung dan Toba. Di tempat inilah berjangkit penyakit kolera .Ward dan kawan-kawan diterima dengan ramah setibanya di Lembah Silindung pada 4 Mei 1824. Orang-orang Batak di sana lebih besar keingintahuannya dibanding memantik bermusuhan. Burton dan Ward melaporkan bagaimana orang-orang Batak menganggap dirinya sebagai penghuni asli di daerah itu. Sultan Minangkabau diakui sebagai penguasa tertinggi atas raja-raja setempat. Ketika para misionaris itu mengabarkan ajaran Kristen, orang-orang Batak merasa tidak sanggup meninggalkan tradisi adat yang sudah mendarah daging. “Akibatnya bahwa tawaran-tawaran untuk menginjil dan dalam hal-hal lain membantu orang-orang Batak, ditolak dengan hormat,” tulis Paul B. Pedersen dalam Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-Gereja Batak di Sumatra Utara . Setelah kunjungan Ward dan Burton, kaum Padri kembali melancarkan agresi. Pada 1833, Tuanku Imam Bonjol memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Tanah Batak ikut terseret lagi dalam pergolakan. Ketika tentara Bonjol menduduki Tanah Batak, orang-orang Batak mengingat sebuah kalimat dari khotbah Richard Burton beberapa tahun sebelumnya. “Anda harus berkurang dulu dan menjadi kecil dan hanya dengan demikian anda dapat memasuki Kerajaan Allah,” kata Burton dikutip Pedersen. Sejak saat itu misionaris-misionaris Barat yang melawat ke Tanah Batak ditentang dengan keras. Kedatangan Nommensen Keadaan di Tanah Batak tidak banyak berubah malahan makin parah. Disamping wabah-wabah yang telah disebutkan, muncul pula lagi penyakit lepra. Orang-orang yang terkena lepra dalam bahasa Batak disebut nahuliton. Hingga kemudian datanglah misionaris asal Jerman bernama Inger Ludwig Nommensen. Nomensen merupakan utusan Seminari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Wupertal-Barmen, Jerman. Sejak 1863, Nommensen telah menjalankan misi kristenisasi di Tanah Batak. Berbasis di Pea Raja, Tarutung, dia mendirikan sekolah misi bernama Batakmission . Sedari mula, usaha penginjilan Nommensen tidak mendapat respon yang bagus dari raja-raja Batak setempat. Dia bahkan sempat menjadi sasaran pembunuhan lantaran pengaruh dan ajarannya tidak disukai. Ketika Nommensen memulai siar Injil, bertepatan pula dengan masa merajalelanya wabah penyakit menular di Tanah Batak. Pada 1866, epidemi cacar yang dalam bahasa Batak disebut ngenge na birong membuat banyak anak-anak Batak mati terkapar. Saban hari kira-kira 20-30 orang anak dimakamkan ke liang kubur di sekitar Huta Dame. Selain cacar, ada kampung-kampung disekitar Tarutung yang seluruh penduduknya semua mati disambar penyakit begu attuk alias kolera. Penyakit ini terus menular kemana-mana. Nommensen tidak tutup mata menyaksikan rentannya orang Batak terserang wabah penyakit. Menurut Guru Besar STT Jakarta, Jan Sihar Aritonang, Nommensen tidak melulu menyebarkan ajaran agama lewat pengajaran pendidikan. Salah satu ujung tombang misi penginjilannya adalah pelayanan kesehatan. Bersama rekannya sesama zendeling maupun penduduk setempat yang telah dibaptis, Nommensen menarik jiwa dengan berbagi pengobatan. Lewat pendekatan itulah orang-orang Batak mulai bersimpati sehingga tertarik terhadap ajaran Kristen. “Akibat wabah penyakit menular, para zendeling dibantu guru-guru dan murid sekolah di beberapa tempat menjalankan pelayanan kesehatan, antara lain merawat yang sakit, membagikan obat, dan memberikan penyuluhan,” tulis Jan Sihar Aritonang dalam Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak . Sibarani bahkan mencatat, “adalah suatu kenyataan bahwa orang-orang (Batak) Kristen sedikit yang menjadi korban wabah penyakit.” Mereka lebih banyak kesempatan untuk mendapat perawatan higienis dari pendeta-pendeta Batakmission . Disamping menginjil, para pendeta dan pembantunya sering merangkap sebagai jururawat. Mereka bekerja keras menyembuhkan orang sakit. Karena para misionaris itu memberikan pelayanan medis dan obat-obatan secara cuma-cuma, berduyun-duyun penduduk mencari perlindungan ke basis Kristen di Pea Raja, Tarutung. Kepercayaan orang Batak terdap misi suci pengabar Injil itu semakin menguat dalam tempo singkat. “Setelah menjalarnya penyakit-penyakit itu, banyak orang yang datang mendaftarkan untuk dibaptiskan sebagai orang-orang Kristen.” Tulis Augustin Sibarani. Dari yang semula sinis kini banyak banyak penduduk Batak yang menjadi pengikut Kristus. Hingga tahun 1870, sudah berdiri 10 sekolah zending Batakmission di lembah Silindung. Pada dekade ini, populasi Batak yang sudah di Kristen-kan sudah cukup besar untuk menjadi sebuah kekuatan sosial dan politik. ah di Kristen-kan sudah cukup besar untuk menjadi sebuah kekuatan sosial dan politik.
- Dua Legenda Ludruk Indonesia
Nama Cak Gondo Durasim sudah melegenda di dunia kesenian ludruk. Ia memimpin Ludruk Genteng yang justru lebih terkenal dengan nama Ludruk Gondo Durasim. Ludruk ini melakukan pembaruan terhadap kesenian ludruk dan melakukan pertunjukan-pertunjukan revolusioner selama masa kolonial. Cak Gondo adalah seniman ludruk kelahiran Jombang, di mana diyakini juga merupakan tempat kelahiran kesenian ludruk itu. James L. Peacock dalam Ritus Modernisasi, Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyat Indonesia menyebut pada akhir abad ke-20, Cak Gondo telah mengorganisir sebuah rombongan ludruk yang jumlah anggotanya tak terbatas. Rombongan ludruk ini kemudian memainkan pertunjukan utuh dengan cerita, karakter dan tokoh yang beragam. Mereka juga tidak menggunakan lagi peran dan nama yang sama dalam semua pertunjukan. “Sebuah deskripsi mengenai ludruk yang diterbitkan pada tahun 1930 melaporkan bahwa Durasim baru saja mengorganisir sebuah 'jenis ludruk baru', yang tampil di hadapan kelompok studi nasionalis, Persatuan Bangsa Indonesia atau Perhimpunan Indonesia,” tulis Peacock. Menurut laporan yang dikutip Peacock, Cak Gondo pernah dianugerahi penghargaan oleh dr. Soetomo, pendiri Boedi Oetomo, sebagai pelopor dalam memanfaatkan pertunjukan rakyat demi nasionalisme. Ludruk yang dipimpin Cak Gondo telah menjadi media yang membuat ide-ide nasionalisme bisa diterima pikiran rakyat. Dr. Soetomo juga mensponsori ludruk Cak Gondo tampil di Gedung Nasional Indonesia. Namun, pada 1936, mereka tidak lagi bisa tampil karena dilarang oleh Belanda. Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada 1942, ludruk digunakan untuk menyebarkan propaganda Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Meskipun dalam kontrol Jepang yang ketat, Cak Gondo Durasim justru menciptakan kidungan yang legendaris: “ Pegupon omahe doro, melok Nipon tambah soro .” Artinya, “pegupon rumah burung dara, ikut Nipon tambah sengsara.” “Sebagai akibatnya, menurut satu cerita, dia disiksa oleh tentara Jepang dan kemudian meninggal dunia pada tahun 1944,” sebut Peacock. Semangat Cak Gondo Durasim dilanjutkan oleh Wibowo atau Cak Gondo bersama Ludruk Marhaen. Cak Bowo lahir ketika Cak Gondo Durasim tengah jaya memimpin ludruknya. Menurut obituari di Harian Rakyat , 10 Mei 1964, Cak Bowo adalah anak seorang Digulis. Ia dibesarkan dan banyak belajar perjuangan revolusioner para perintis kemerdekaan di tanah pembuangan. “Saya belajar melawak dan untuk pertama kali naik panggung, ketika saya masih mengikuti ayah di Digul yang dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda di sana. Waktu itu saya masih berumur 5 sampai 6 tahun dan Moestadjab yang menjadi bintang film itulah yang pertama kali mengajar saya naik ke atas panggung,” kata Cak Bowo seperti dikutip Harian Rakjat. Setelah Indonesia merdeka, Cak Bowo turut serta dalam perjuangan melawan Belanda di Surabaya. Ia bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan aktif di bagian Penerangan dan Propaganda DPP Pesindo. Pada 18 Juni 1949, Ludruk Marhaen didirikan oleh pelawak Rukun Astari dan Shamsudin. Ludruk asal Surabaya ini sebenarnya telah dibentuk pada 1945 namun sempat tidak aktif pada 1948. Ludruk ini juga merupakan sayap kebudayaan Pesindo. Cak Bowo bergabung dan menjadi ikon Ludruk Marhaen. Ludruk Marhaen menjadi salah satu ludruk paling terkenal pada masanya. Rombongan ini memulai tradisi baru di dunia ludruk yakni drama tragedi dengan semangat revolusi. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan gaya satir yang khas ludruk. “Nama Bowo dengan Ludruk Marhaen tidak bisa dipisahkan, sudah menjadi satu. Setiap pertunjukan Ludruk Marhaen tanpa Bowo seperti minum kopi tanpa rokoknya,” tulis Harian Rakjat . Harian Rakjat menyebut nama Cak Bowo kala itu patut disejajarkan dengan Cak Gondo Durasim sebagai pelawak ludruk kenamaan abad ke-20. Sementara itu, Ludruk Marhaen sering mendapat undangan pentas di Istana Negara. Sukarno sendiri yang menginginkannya. Pasalnya, Ludruk Marhaen juga kerap mempropagandakan ide-ide politik Sukarno. Ludruk Marhaen juga dikenal dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) meski tidak secara resmi menjadi bagian dari partai itu. Perjalanan panggung Cak Bowo terhenti pada 4 Mei 1964. Ia mengalami kecelakaan bersama rombongannya dengan menumpang bus hadiah presiden ketika menuju Lumajang untuk pementasan. Cak Bowo meninggal dunia dalam kejadian itu sedangkan empat anggota rombongannya luka berat.
- Inspeksi Pesawat AU, Panglima Soedirman Diterbangkan ke Bali
Hari ini TNI AU berdirgahayu ke-75. Garda langit NKRI itu lahir di masa revolusi fisik pada 9 April 1946 dengan nama Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) Oedara. Sebelumnya, TRI Oedara menyandang nama Tentara Keamanan Rakjat (TKR) Djawatan Oedara. Matra udara militer Indonesia itu kekuatannya dibangun dengan sisa-sisa pesawat bekas Jepang. Salah satunya pernah digunakan untuk menerbangkan Panglima Besar Jenderal Soedirman hingga ke Bali. Pada akhir 28 April 1946, sang jenderal melakonis itu punya agenda tugas ke Malang, Jawa Timur. Mengutip Taufik Abdullah dkk dalam 50 Tahun Indonesia Merdeka: 1945-1965 , Panglima Soedirman akan menginspeksi tawanan tentara Jepang yang sudah dilucuti TRI. Para tawanan yang sebelumnya ditahan di Penjara Lowok Waru, Malang, hendak diberangkatkan ke Surabaya untuk diserahkan kepada pihak Sekutu yang akan memulangkan mereka ke Jepang. Namun sehari sebelumnya, 27 April, atau 18 hari setelah TRI Oedara (kini TNI AU) lahir lewat Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD Tahun 1946, sang jenderal lebih dulu menginspeksi kekuatan TRI Oedara di Pangkalan Bugis, Malang (kini Lanud Abdulrahman Saleh). Pasalnya ia mendengar bekas pesawat Jepang yang diambilalih untuk menjadi kekuatan tempur AU banyak terdapat di Malang selain di Pangkalan Maguwo, Yogyakarta dan Pangkalan Andir, Bandung. Kunjungan istimewa sang jenderal itu ditemani sejumlah pejabat Jawa Timur. Selain Gubernur Jawa Timur RMT Ario Soerjo, turut pula Panglima Divisi VII/Oentoeng Soeropati Jenderal Mayor Imam Soedja’i, Ketua KNI Surabaya Doel Arnowo, dan Ketua Barisan Pemberontak Repoeblik Indonesia (BPRI) Soetomo alias Bung Tomo. “Dalam kunjungan ini, ikut pula perwira dari Markas Besar TRI Angkatan Oedara Yogyakarta, Halim Perdanakusuma dan Abdulrachman Saleh. Dua penerbang andal TRI Oedara masa itu,” ungkap tim sejarah MBAU dalam Sedjarah Pertumbuhan AURI. Pesawat PD-I yang hendak dijajal Panglima Jenderal Soedirman (Foto: Repro "Sang Elang") Komandan Pangkalan Bugis cum Ketua TRI Oedara Malang saat itu dijabat Lettu Imam Soepeno. Sementara tanggungjawab atas perbaikan semua pesawat Jepang yang diambilalih terletak di pundak Komandan Pertahanan Teknik Pangkalan Lettu Hanandjoeddin. Kala itu, Pangkalan Bugis punya belasan pesawat serbu Cukiu (Tachikawa Ki-55), tujuh pesawat pembom tukik Guntai (Mitsubishi Ki-51), serta masing-masing satu unit pesawat angkut Rocojunana dan pembom ringan Sokei (Kawasaki Ki-48). Dua pesawat terakhir diberi nama Pangeran Diponegoro I (PD-I) dan Pangeran Diponegoro II (PD-II) setelah siap terbang usai diperbaiki dan diujicobakan sebelumnya. Mulanya, Jenderal Mayor Imam Soedja’i menawarkan Panglima Soedirman untuk menjajal PD-II. Namun ia lebih tertarik menjajal PD-I alias pesawat pembom ringan Sokei Ki-48. Menariknya, Jenderal Soedirman justru ingin “disopiri” oleh pilot yang sebelumnya mengujicobakan PD-I ketimbang dipiloti Halim atau Abdulrachman Saleh yang sudah diakui keandalannya sebagai penerbang. “Siapa yang kemarin menguji coba pesawat ini?” tanya Soedirman, dikutip Haril Andersen dalam biografi H. AS Hanandjoeddin, Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI. “Siap, Panglima! Penerbang Atmo yang sudah mengujicobanya,” jawab Jenderal Imam Soedja’i. “Kalau begitu, saya minta Atmo untuk menerbangkannya lagi. Saya mau mencoba naik pesawat ini,” pinta Soedirman. Seraya memanggil Atmo, Hanandjoeddin meminta komandan regu perbaikan PD-I opsir Mohammad Usar untuk menyertai Panglima Soedirman. Setelah sedia, keduanya berbaris di hadapan panglima dengan sikap siap. “Ketika itu barulah Pak Dirman tahu kalau Atmo seorang penerbang Jepang. Namun ia sudah dijamin membaktikan diri menjadi penerbang Indonesia. Atmo adalah seorang sahabat AURI di masa kemerdekaan. Cukup besar andilnya dalam menguji coba pesawat-pesawat peninggalan Jepang,” lanjut Haril. Lettu Hanandjoeddin (kanan) dan anak buahnya yang menukangi pesawat PD-I (Foto: Repro "Sang Elang") Soedirman tetap pada pendiriannya untuk menjajal kokpit pesawat PD-I dengan dipiloti Atmo dan ditemani Usar sebagai teknisinya. “Pesawat PD-I stand by di ujung landasan. Suara mesinnya meraung-raung. Tak lama kemudian pesawat take off dengan mulus. Sesuai permintaan Pak Dirman, pesawat terbang di atas kota Banyuwangi, lalu ke arah Bali. Kemudian kembali lagi ke Pangkalan Bugis setelah terbang tiga perempat jam,” sambung Haril. Pesawat itu kembali mendarat di Pangkalan Bugis dengan selamat. Raut wajah Pak Dirman tampak puas kala keluar dari pesawat. Hanandjoeddin lega Pak Dirman bisa kembali dengan “utuh”. Maklum, pesawatnya membawa orang nomor satu di militer Indonesia. Kelegaan lain Hanandjoeddin adalah ketika mengecek kondisi pesawat, ternyata masih prima. Padahal, pesawat itu mengalami kebocoran hidrolik dan pompa oli kala diujicobakan pada medio Februari 1946 usai diperbaiki siang-malam oleh teknisi Usar, Kartono, Mat Karim, Naim, dan Moedjiman dengan pengwasan Hanandjoeddin. “Di kemudian hari pesawatnya dibawa ke Yogyakarta. Meski begitu pesawat Pangeran Diponegoro-I tak pernah digunakan dalam misi pengeboman. Lebih sering digunakan Jenderal Mayor Soedibjo untuk mengurus tawanan perang RAPWI,” tandas Haril.
- Jenderal Jusuf dan Para Wartawan
BISA dikatakan Jenderal TNI M. Jusuf adalah Panglima ABRI yang paling disenangi wartawan pada masanya. Selain dikenal ramah terhadap kuli tinta, Jusuf juga tidak “pelit” berbagi dengan mereka. Jusuf membuktikan itu dengan kebiasaan mengajak para wartawan untuk meliput perjalanan dinasnya. “Antara tahun 1978-1983, Jusuf identik dengan perjalanan keliling Indonesia. Perjalanan pun identik dengan hidup, makan, tidur di dalam perut (pesawat) Hercules,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit . Bagi kalangan wartawan, kunjungan ke penjuru negeri ini disebut sebagai “Safari Jusuf”. Hampir sebagian besar perjalanan Jusuf ke luar kota diawali pada dini hari. Artinya, berangkat sekitar pukul 05.00 pagi. Maka bagi wartawan yang diajak untuk meliput sudah dijemput oleh staf Menhankam pada pukul 02.00-03.00 dini hari. Jusuf punya aturan terhadap para wartawan yang berkesempatan mengikuti safarinya. Mereka harus mengenakan seragam serba hijau, baik seragam formal ataupun lapangan (Pakaian Dinas Lapangan). Di balik aturan itu terselip alasan khusus. “Supaya mereka menghayati dan merasakan denyut nadi para prajurit ABRI,” kata Jusuf ditirukan Atmadji. Sekira 30 menit setelah pesawat berangkat dari Pangkalan Halim Perdanakusumah, Jusuf suka melakukan inspeksi dalam pesawat. Dia melihat siapa-siapa saja penumpang yang jadi anggota rombongan. Kesempatan itu juga yang selalu digunakan Jusuf untuk menyapa para wartawan. Kadang-kadang Jusuf memberikan informasi kepada wartawan mengenai tujuan yang harus dicapai dalam kunjungan tersebut. Pembicaraan Jusuf dengan wartawan acap kali diselingi canda. Bagi yang sudah dikenalnya baik, Jusuf kerap melayangkan tanya, “Bagaimana kabarmu? Baek-baek saja kan?” Jusuf juga tidak sungkan memperhatikan penampilan wartawan yang terlihat agak urakan. Misalnya, jika dilihatnya ada wartawan yang gondrong, Jusuf akan berseloroh, “Kau rapikan sedikit rambutmu ya, biar kelihatan bagus.” Di dalam pesawat, Jusuf tidak senang kepada mereka yang punya kebiasaan merokok. Dia bisa marah kalau melihat asap membubung, sekalipun terhadap sesama perwira tinggi. Namun Jusuf toleran kalau soal tidur. Jusuf senang jalan ke kabin belakang dan mengamati para penumpang yang tertidur lelap. Beberapa jam kemudian dalam suasana yang santai, dia sering meledek para wartawan. “Wah enak sekali kalian ini, sudah nggak bayar naik pesawat terbang, tidurnya pulas pula,” celoteh Jusuf . Siapapun tidak ada yang marah karena tahu bahwa itu sekedar senda gurau belaka. Setiap kali ikut serta meliput kunjungan kerja Jusuf di daerah, semua kebutuhan wartawan ditanggung. Mulai dari transportasi, makan, hingga akomodasi. Mereka yang sudah jadi langganan tetap masuk kategori “rombongan sirkus”. Namun ada pula wartawan yang diajak secara dadakan. Suatu siang usai rapat kerja DPR, empat orang wartawan menunggu Jusuf untuk melakukan wawancara. Ketika Jusuf berjalan ke luar ruangan, otomatis para wartawan mengerumuninya sambil menyodorkan alat perekam. Namun Jusuf sedang dalam kondisi kurang mood untuk diwawancarai. Dengan tongkat komandonya, dia menunjuk satu-satu ke perut wartawan itu. “Aku sedang malas bicara. Kau, kau, kau, dan kau, ikut aku saja sekarang ke Halim! Kita berangkat ke Medan satu jam lagi,” ujar Jusuf spontan. Dengan cepat, staf Jenderal Jusuf mencari sebuah mobil untuk menaikan para wartawan itu. Keempat wartawan tadi pun diangkut dalam keadaan setengah bengong . Setibanya di Medan, barulah mereka punya waktu untuk buru-buru membeli sikat gigi, odol, pakaian dalam dan baju ganti. Salah satu wartawan yang beruntung selalu mengikuti kunjungan Jusuf ialah Atmadji Sumarkidjo. Ketika itu, Atmadji masih seorang reporter muda harian Sinar Harapan . Menurut Atmadji, hubungannya dengan Jusuf pada awalnya sebatas profesionalitas antara wartawan dengan narasumbernya. “Kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan pribadi yang amat berkualitas dan tak pernah satu kali pun terhenti hingga Pak Jusuf wafat,” kenang Atmadji. Hubungan karib tersebut dimulai dengan perhatian khusus yang diberikan oleh istri Jusuf, Elly Jusuf Saelan atas tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar Sinar Harapan . Atmadji kemudian dipercaya untuk menuliskan biografi M. Jusuf yang berjudul Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit. Seiring waktu, karier jurnalis Atmadji kian menanjak di Sinar Harapan . Namanya pun malang melintang di dunia media maupun penerbitan tanah air. Kini Atmadji lebih dikenal aktif sebagai staf khusus Menteri Kordinator Bintang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.*
- Krisis Ekonomi Masa Sukarno
KRISIS ekonomi beberapa kali mewarnai sejarah Indonesia. Penyebabnya beragam: bisa karena pengaruh perubahan dunia luar atau lantaran dinamika politik dalam negeri. Untuk penyebab kedua, Indonesia mengalaminya pada dekade 1960-an. Banyak orang terkapar menyusul krisis itu. Tapi segelintir kecil lainnya justru makmur.
- Naskah-naskah tentang Jamu
Jamu sempat diburu karena dianggap dapat menangkal virus corona (Covid-19). Banyak orang memang meyakini khasiat jamu dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Jejak pengobatan warisan leluhur ini dapat ditelusuri hingga masa prasejarah. Manusia purba sudah memanfaatkan tetumbuhan sebagai obat. Buktinya berupa alat batu pipisan untuk menghaluskan biji-bijian dan tanaman yang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. “Alat ini hampir pasti digunakan untuk perawatan kesehatan sehari-hari dengan ditemukannya sisa bubuk dan ekstrak tanaman padanya,” tulis Susan-Jane Beers dalam Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing . Pemanfaatan tanaman sebagai obat kemudian ditemukan dalam naskah-naskah kuno masa Hindu-Buddha. Setelah budaya tulis makin kuat, paling tidak sejak abad ke-17, pemanfaatan jamu mulai ditulis dalam manuskrip-manuskrip dan menjadi tradisi turun-temurun. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan ilmu pengobatan kuno terekam di sejumlah pustaka. Terutama yang menggunakan unsur sebutan usadha . Misalnya, Usadha Jawa dan Usadha Bali . Dwi menjelaskan istilah usadha atau kadang ditulis osadha dan husadha mengandung arti obat. “Hingga kini istilah usada , perubahan dari bentuk sebelumnya, masih lazim digunakan sebagai nama apotek, rumah sakit, atau tempat pengobatan lainnya,” kata Dwi. Selain itu, ada juga manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta, naskah-naskah ini memuat uraian racikan jamu asli Jawa, khususnya bagi para bangsawan. “Sejak zaman dulu, zaman kerajaan, gaya hidup sehat sangat diperhatikan dengan memanfaatkan tanaman obat atau herbal sebagai bahan perawatan kecantikan, kebugaran, dan pengobatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Serat Primbon Jampi Jawi ditulis sekira abad ke-18 pada masa Hamengkubuwono II. Di dalamnya tertulis berbagai macam herbal. Bagian tumbuhan yang berasal dari daun, rimpang, akar, dan kulit kayu dari berbagai jenis tanaman diolah secara tradisional untuk mempertahankan kecantikan dan kebugaran perempuan bangsawan. Hesti menjelaskan, bagian rimpang misalnya. Di dalam manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi disebutkan beberapa janis yang berkhasiat. Di antaranya rimpang jahe, kencur, kunyit, kunci, lempuyang, sunthi, temulawak, bengle, dan dringo . B agian umbi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan racikan jamu adalah bawang merah dan bawang putih. Sementara kulit kayu atau kulit batang berasal dari kayu manis, secang, mesoyi, rasuk angin, dan kelembak. Bahan dari dedaunan adalah pupus anggur, asam jawa (kering), gondhangkasih, inggu prêman , jempinah, pupus kara, karandang, lampes, menirang, bawang cina, pegagan, seruni, saraband, saga (kering), walu, waru, dan trawas. J enis bunga, buah, dan biji yang berkhasiat antara lain bunga cengkih dan waru; buah asam, kemukus, labu putih, pala, isi sawo; dan biji adas, jinten, kedhawung, ketumber, dan mungsi. B ahan pelengkap yang biasa dipakai adalah dupa cina, garam, inggu, tambakau, dan terasi merah. C airan sebagai campuran bahan ramuan jamu yaitu air jeruk nipis, air jeruk purut, air panas, air tawar, air perasan daun iler, air susu ibu, dan cuka. Sumber tertulis lainnya adalah Serat Centhini . Karya ini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. Dalam Serat Centhini, tumbuhan obat digunakan untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mengurangi sakit, penyembuhan, dan mempercantik diri. Menurut serat ini tanaman bahan jamu dapat digunakan untuk mengobati penyakit panas dingin, batuk, mata, bisul, susah kencing, susah kentut, dan masalah stamina pria. Naskah ini memuat dengan lengkap cara pengobatannya . Dilengkapi dengan uraian jenis bahan tanaman dan cara memakainya. Ada yang cara pengobatannya dengan diminum setelah diambil sarinya, dikunyah, ditempelkan pada dahi ( pilis ), dioleskan pada perut ( tapel ), dioleskan pada badan ( parem ), untuk merendam bagian badan ( rendhem ), ditempelkan atau diteteskan pada bagian yang sakit, dan disemburkan ke bagian tubuh yang diobati ( sembur ). Di luar cara-cara itu, menurut Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Serat Centhini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa selalu melibatkan Tuhan dalam penyembuhan penyakit. Misalnya dalam membuat obat penyakit telinga yang tuli. Diperlukan bahan seperti tujuh butir merica, akar kelor, empedu ayam hitam, dan minyak wijen. Ramuannya lalu diteteskan pada lubang telinga yang tuli sambil membaca palak binas atau Surat Al-Falaq dan An-Naas tiga kali. “Berbagai bahan tanaman jamu yang digunakan ada yang masih dapat kita jumpai pada masa sekarang, adapula yang sudah sulit dijumpai atau bahkan belum pernah didengar namanya,” tulis Murdijati dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia . Selain Serat Centhini , dalam Serat Kawruh terdapat 1.166 resep di antaranya 922 resep tentang ramuan bahan alam . Khususnyadalam bab Jampi-Jampi Jawi terdapat 244 resep berupa catatan rajah dan jimat. Isinya adalah gambar-gambar doa, rapal, dan mantra. “ Serat Kawruh disusun pada 1831 atas perintah Pakubuwono V. Isinya kumpulan ramuan obat asli Jawa,” kata Murdijati. Ada juga buku tentang jamu karya Johanna Maria Carolina Versteegh (setelah menikah menjadi Jans Kloppenburg-Versteegh) yang ditulis pada 1907. Buku berjudul Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman Asli Hindia dan Daya Penyembuhnya) itu berisi uraian singkat mengenai nama daerah asal tumbuhan, nama latin, morfologi, dan bagian dari tanaman yang bisa digunakan. Termuat pula resep pengobatan dan cara memelihara kesehatan yang dilakukan orang Jawa berdasarkan pengamatannya. Terdapat 1.467 petunjuk bagaimana mengatasi gangguan kesehatan menggunakan bahan ramuan jamu Jawa. “Banyak pasien yang datang ke Kloppenburg-Versteegh, reputasinya sebagai penyembuh menyebar cepat. Publikasi penemuannya adalah suatu warisan berharga sebagai pedoman dalam dunia pengobatan herbal,” kata Murdijati. Alternatif Mujarab Agaknya pengobatan tradisional warisan leluhur ini dapat dipercaya khasiatnya. Pasalnya,ada hukuman bagi mereka yang asal-asalan mengobati orang sakit. Khususnya pada masa Majapahit, kegagalan dalam melakukan pengobatan diancam hukuman cukup berat. Aturan itu tertuang dalam Kitab Undang-Undang Majapahit, Kutaramanawa atau Agama . Dari 275 pasal, ada pasal yang berisi sanksi bagi yang gagap mengobati hingga berujung kematian pada hewan atau manusia. Apabila gagal mengobati hewan sehingga hewannya mati, maka didenda empat kali tiga atak . Satu atak setara 200 picis , satuan untuk menyebut mata uang tembaga Cina. Jika yang diobati manusia dan malah mati, maka didenda selaksa atau satu laksa setara 10.000 picis . Apabila yang diobati seorang brahmana dan mati, maka ia diganjar hukuman mati oleh raja. “Ini mengingatkan kita kepada apa yang sekarang disebut dengan malapraktik,” kata Dwi. Namun, menurut Dwi, sebagai obat tradisional, khasiat jamu tidak serta merta menyembuhkan penyakit. Lebih sering jamu harus dikonsumsi teratur secara berangsur-angsur. Kendati hanya diposisikan sebagai obat alternatif, jamu tak pernah ditinggalkan oleh para penggunanya. “Ketika merasa mentok oleh cara medis dan obat-obatan modern, ” kata Dwi, “ orang masa kini beralih ke pengobatan tradisional, yang boleh jadi lebih memiliki kemujaraban. ”
- Percaya pada Jamu dari Dulu
Mpu Monaguna, penulis abad ke-13 dalam karyanya , Kakawin Sumanasantaka, menggambarkan kehidupan di pedalaman. Salah satunya tempat tinggal para pertapa. Para biarawan itu membajak sawah dan memiliki kebun-kebun sayur yang terpelihara. Sementara para rahib perempuan memasuki hutan untuk mengumpulkan buah-buah serta dedaunan untuk dijadikan obat. Tokoh utama dalam kisah itu, seorang putri raja, Putri Indumati, seringkali dipakaikan pupuk ( apupuk ) pada ubun-ubunnya. Pilis dioleskan ke pelipisnya yang sakit. Bila cegukan diobati ujung daun sirih. Obat tuli-tuli untuk merawat bagian telinganya . Ia juga minta disembur air yang melegakan ketika tenggorokannya sakit seperti tersedak. Karya Mpu Monaguna itu merekam bagaimana orang Jawa Kuno mengobati penyakit. Pupuk dan pilis hingga kini masih digunakan. Pupuk adalah ramuan yang ditempelkan pada ubun-ubun bayi atau batita agar tetap hangat. Pilis adalah jamu oles yang terbuat dari bahan-bahan seperti ganthi, kencur, kunyit, peppermint, dan bunga kenanga. Biasanya ia ditempelkan pada bagian kening atau dahi. Pilis sampai kini dipercaya bisa membantu meredakan rasa pusing dan melancarkan peredaran darah. S. Supomo dalam Kakawin Sumanasantaka: Mati karena Bunga Sumanasa menjelaskan dari asal katanya, tuli-tuli mungkin adalah obat untuk penyakti telinga. Sedangkan menyembur tenggorokan yang sakit dengan air yang melegakan diartikan sebagai metode pada masa itu yang dilakukan oleh penyembuh. Fungsinya untuk mengobati sakit ringan dengan kunyahan jamu yang mendinginkan. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, menjelaskan bahwa kata "jamu" adalah serapan dari istilah bahasa Jawa Baru. Bahasa kromonya adalah jampi . “Varian sebutannya, yaitu jampyan , terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan yang berarti obat, pengobatan, atau penawar,” kata Dwi. Istilah jampi atau jampyan banyak muncul dalam kesusastraan kuno. Di antaranya Kakawin Gathotkacasraya, Bhomakawya, Bharattayudha, Sumanasantaka, Lubhdaka, Subhadrawiwaha, dan Abhimanyuwiwaha . Muncul juga dalam susastra kidung seperti Harsyawijaya, Kidung Sunda, Kidung Malat, dan Kidung Ranggalawe. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta , tak ada catatan jelas sejak kapan tradisi meracik dan meramu jamu bermula. Namun, tradisi itu diyakini sudah menjadi budaya sejak kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. “Relief Candi Borobudur menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu untuk menjaga kesehatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Sementara itu, Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, mengatakan kebiasaan meracik dan meminum jamu tampak dalam relief Karmawibhangga di kaki candi yang mulai dibangun pada abad ke-8. Salah satu adegannya menunjukkan beberapa orang menolong laki-laki yang sakit dengan cara dipijat kepalanya, digosok perut dan dadanya. Ada pula yang membawakan semangkuk obat. Relief lainnya menggambarkan tanaman yang masih digunakan sebagai bahan pembuat jamu, seperti nagasari, semanggen, cendana merah, jamblang, pinang, pandan, maja, cendana wangi, dan kecubung. “Gambaran yang sama juga ditemukan pada relief-relief di Candi Prambanan, Candi Panataran, Candi Sukuh, dan Candi Tegawangi,” tulis Murdijati dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia. Dengan begitu, kata Murdijati, pengetahuan asli orang Jawa tentang penyembuhan penyakit sudah berkembang sejak lama. Pengobatan itu dilakukan dengan bahan dasar yang ada di sekitarnya. Para Penyembuh Pada zaman kuno terdapat ilmu, buku, atau orang yang berkaitan dengan pembuatan, penggunaan, dan penjualan obat. Berbagai profesi di dunia kesehatan disebutkan dalam beberapa prasasti. Dalam Prasasti Balawi (1305) muncul istilah tuha nambi yang artinya tukang obat. Kemudian terdapat istilah kdi (dukun wanita) dan walyan (tabib). Profesi tuha nambi juga muncul dalam Prasasti Sidoteka (1323). Prasasti ini juga menyebut istilah wil tamba . Secara harfiah kata Jawa Kuna dan Tengahan tamba menunjuk pada obat. Kata jadiannya anambani atau tumambani yang berarti menyembuhkan atau mengobati orang. “Pada bahasa Jawa Baru ada kata-kata Mutiara, tamba teka lara lunga, artinya obat datang penyakit pergi,” jelas Dwi. Dalam Prasasti Bendosari (1360) disebutkan istilah padadah atau pemijatan, mungkin merujuk pada tukang pijat. Ada juga tabib desa atau dalam prasasti disebut janggan . Menurut Dwi, sebutan janggan juga terdapat dalam Serat Pararaton yang berkaitan dengan guru di Desa Sagenggeng. “Bila menilik sebutannya, yaitu guru janggan , salah satu ilmu yang diajarkan pada muridnya itu adalah ilmu pengobatan,” kata Dwi. Dari masa Majapahit juga ada Prasasti Madhawapura yang menyebutkan profesi penjual jamu ( acaraki ). Kata acaraki dan caraki terdapat dalam kitab Korawasrama . Kata caraki juga merujuk pada seseorang yang menyediakan atau menjual ramuan tumbuh-tumbuhan. Istilah yang hampir mirip adalah caraka, yaitu sebutan bagi orang bijaksana penyusun buku mengenai obat-obatan. Istilah caraka telah ada sejak abad ke-9 dan masa sesudahnya. Ia disebut dalam Kakawin Ramayana , Bhomakawya , Arjunawijaya , Sutasoma, Korawasrama, dan Tantri Demung . “Ada kemungkinan, kata Jawa Baru craken menunjuk pula pada pengarang tulisan mengenai obat-obatan,” jelas Dwi. Dwi menyebut istilah caraka juga merujuk pada kitab yang membicarakan mengenai obat-obatan. Ia merupakan cabang Yajurveda Hitam . Hingga kini, pengetahuan asli tentang jamu masih terjaga. Terbukti dengan masih adanya sentra produksi jamu di Wonogiri dan Sukoharjo; dusun jamu di Dusun Kiringan, Bantul, Yogyakarta; kampung jamu di Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah; serta pasar bahan dan perlengkapan untuk membuat dan menjajakan jamu di Pasar Jamu Nguter. “Sampai ada warung jamu, toko jamu, hingga kafe jamu. Tak ketinggalan industri jamu,” kata Murdijati.
- Jungkir Balik Mengimpor NBA ke Indonesia
GEGAP gempita pentas basket NBA bergulir lagi.Namun khusus kali ini, digelarnya lewat ranah virtual. Kompetisi aslinya masih ditunda sejak 11 Maret 2020 sebagai imbas pandemi SARS-Cov-2 (COVID-19/virus corona ). Setidaknya 16 pebasket bakal ikutan NBA versi virtual yang digagas NBA bekerjasama dengan NBPA atau asosiasi pebasket NBA. Kevin Durant, Derrick Jones Jr., Donovan Mitchell, Devin Booker, dan DeMarcus Cousins di antaranya. Mereka akan adu skill basket lewat game “NBA 2K Players Tournament” yang sudah dimulai sejak Jumat (3/4/2020) lalu. Bagi yang penasaran , bisa menyaksikannya lewat saluran televisi berbayar ESPN dan ESPN2 , atau di aplikasi ESPN dan NBA. Siaran juga bisa disaksikan via streaming di akun medsos (Twitter, Twitch, Youtube, Facebook) milik NBA dan NBA2K. Toh, upaya menghibur para penggila basket di masa kampanye “#dirumahaja” semacam ini takkan sama dengan menonton langsung, baik di stadion maupun lewat layar kaca. Virtual NBA lewat gim “NBA 2K Players Tournament” jadi alternatif hiburan selepas kompetisi NBA aslinya ditunda sebagai imbas pandemi virus corona (Foto: nba2k.com ) Di Indonesia sendiri tayangan NBA dalam beberapa tahun belakangan, di “zaman normal” sebelum virus corona menerjang, bergantian ditayangkan beberapa stasiun TV swasta nasional, dari SCTV , Indosiar sampai O Channel . Untuk musim 2019-2020, sebelumnya disiarkan secara streaming oleh vidio.com . Siaran NBA beberapa waktu terakhir ini memang tak sepopuler era 1990-an. Bahkan IBL atau pentas basket nasional pun masih kalah pamor ketimbang siaran liga sepakbola nasional. Padahal, pada awal 1990siaran NBA begitu populer di kalangan kelas menengah masyarakat kota setelah susah-payah didatangkan dari Amerika Serikat ke Indonesia oleh Ary Sudarsono. NBA Pendongkrak Basket Nasional Nama Ary Sudarsono sudah dikenal luas dalam perbasketan Asia pada medio 1980-an. Setelah pensiun dari pemain, pamor Ary mengglobal lewat kiprahnya sebagai wasit, hingga disematkan titel “ Mr. Golden Whistle ” oleh FIBA atau induk basket Asia. Begitu pensiun jadi wasit dan pulang ke Indonesia pada 1985, Ary merampungkan pendidikannya di Alabama Sport Academy setahun berikutnya.Ia lalu dipercaya pengusaha Aburizal Bakrie untuk membantu membangun klub basketPelita Jaya. Ary pula kemudian mencetuskan ide untuk mendatangkan pemain asing untuk mengatrol popularitas Kobatama, pendahulu IBL. “Karena saya lama dikenal di Filipina, saya datangin juga pemain dari sana, Bong Ramos buat Pelita Jaya. Kemudian saya dipanggil Perbasi (induk basket nasional) karena mungkin melihat saya total mempopulerkan basket. Kobatama disuruh saya yang pegang,” k ata Ary meng enang , kepada Historia. Langkah pertama Ary setelah memegang Kobatama adalah menggandeng SCTV untuk kerjasama siaran Kobatama. Untuk lebih mendongkrak kepopulerannya lagi, Ary mencetuskan ide mendatangkan pula siaran NBA ke tanah air. “Saya bilang sama Henry, untuk mempercepat, mengangkat, dan mendobrak nilai jual, ambil (siaran) NBA. Jadi penonton dikasih perbandingan. Ada NBA, ada Kobatama yang nantinya bisa dikatrol nih. Tapi saya tunggu-tunggu sebulan, enggak ada jawaban. Lalu saya ke RCTI . Mereka mau tapi cuma bisa bantu (mengongkosi) tiket Jakarta-New York,” lanjutnya. Ary Sudarsono berkisah pengalamannya nekat ke markas NBA untuk melobi siarannya diimpor ke Indonesia (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Meski hanya dimodali tiket pesawat, Ary tak patah arang karena asanya yang membumbung tinggi. “Selebihnya saya jual mobil Rp30 juta buat ke sana,” kata pria yang dulunya kiper itu. Dengan tiket dan uang hasil jual mobil itulah Ary berangkat ke Amerika medio 1990. Rasa optimismenya mengalahkan rasa gugup lantaran di era itu publik Amerika masih asing mendengar nama Indonesia. “Berangkatlah gue . Belaga gila aja walau enggak kenal siapa-siapa di NBA. Indonesia siapa? Amerika enggak melihat. Paling orang sana tahunya Bali, kan?” imbuh Ary yang menghabiskan waktu sekira dua pekan mencari celah melobi bos-bos NBA. Ary mulanya ingin langsung bertatap muka dengan Komisioner NBA David Stern (periode 1984-2014). Sayangnya upaya itu bertepuk sebelah tangan karena Ary datang dari “negara dunia ketiga”. “Untuk ketemu komisionernya, ‘tar sok, tar sok’ (entar/nanti-besok, red. ). Awalnya hanya bisa ketemu PR-nya (humas) NBA. Saya jelasin bahwa atmosfer basket di Indonesia bagus. Sudah mulai ada pemain asing juga. Bahwa (basket) akan lebih cepat populer kalau NBA bisa masuk ke Indonesia. Kan hitung-hitung saya bantu marketing NBA untuk lebih luas,” tuturnya. “Apalagi populasi negara kita 100 juta lebih. Saya kasih pandangan bahwa nanti NBA bisa mendapat viewer jutaan penonton. Ya masak mereka bisa kasih (siaran NBA) ke China, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura (tapi kita) enggak dikasih. Akhirnya mereka luluh. Sementara waktu itu sudah 10 hari di sana, sudah tipis nih isi dompet,” kata Ary lagi. Dibantu Magic Johnson Selang berapa hari, Ary diundang lagi ke NBA. Namun ada dilema yang dihadapinya ketika mendapat kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, NBA tertarik untuk memberi hak siar. Sialnya, NBA hanya berkenan memberi siaran laga-laga tim papan bawah. “Lemes gue. Aduh gila ini sih. Gue dikasih tanggung begini. Enggak dapat (siaran pertandingan) LA Lakers, Chicago Bulls, Utah Jazz, Boston Celtics, Detroit Pistons. Sialan nih NBA. Cuma dikasih tim-tim macam Denver Nuggets, Indiana Pacers begitu. Merasa dikerjain, gue merasa belum mau pulang,” tambahnya. Kolase Ary Sudarsono bersama Earvin 'Magic Johnson Jr. (kiri) & Julius Winfield 'Dr. J' Erving II (Foto: Instagram @sudarsonoary) Ary kembali melobi untuk bisa minta tayangan NBA dua kali sepekan, meski “separuh-separuh”alias satu pertandingan tim beken, satu lagi tim papan bawah. Negosiasi itu jelas membutuhkan waktu lebih lagi. Namun keajaiban yang tak dinyana mendatangi Ary saat hendak makan siang usai nego dengan pihak NBA. “Pas lagi makan siang sama PR-nya NBA, datang Magic Johnson (Earvin ‘Magic’ Johnson, legenda tim LA Lakers dan timnas basket Amerika) yang lagi mau fitness. Lalu gue dikenalinbahwa gue dari Indonesia dan lagi minta bantu NBA mendongkrak basket. Wah gue langsung didukung Magic Johnson,” kata Ary mengingat pertemuan itu. “ Don’t worry, Brother. I’ll help you. You can contact me, tomorrow we have lunch together ,” kata Johnson sebagaimana ditirukan Ary. “Hampir seminggu gue diajak dia, termasuk dikenalin sama ‘Dr. J’ (julukan legenda NBA Julius Erving). Diajak juga nonton Celtics vs Lakers. Jadi akhirnya komunikasi sama NBA jadi bagus. Akhirnya NBA pusat mengontak NBA Asia di Hong Kong. Lalu gue diminta jadi salah satu NBA Representative Asia,” tandas Ary. Perjalanan Ary melintas benua pun tak sia-sia. NBA disiarkan RCTI mulai musim 1991. Ary pun setahun berselang dikontrak menjadi “Mr. NBA Asia”. Ditambah beberapa program olahraga lain dengan Ary sebagai host -nya, termasuk program “Boom Basket”, Kobatama pun turut terdongkrak pamornya hingga mulai jadi olahraga favorit ketiga anak muda kala itu selain sepakbola dan bulutangkis.
- Kiprah Dokter di Dunia Pergerakan
Benar rasanya jika saat ini semua orang berpikir bahwa para tenaga medis adalah pahlawan. Peran mereka begitu penting dalam menghadapi pandemi virus Covid-19 yang penyebarannya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dilansir kompas.com , Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga memberi apresiasi atas kinerja mereka. Dia menyebut tenaga medis sebagai pejuang di garis depan, ibarat tentara di masa lalu. “Kalau dulu dalam perang terbuka, mungkin tentara di garis depan, sekarang dokter. Pahlawan bangsa. Jadi kami sangat menghormati mereka,” kata Prabowo. Tidak lupa Prabowo memberikan ucapan terima kasih kepada para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang telah berdedikasi merawat dan mengobati para pasien Covid-19. Perjuangan tak kenal lelah para dokter yang berusaha menekan angka kematian di masyarakat seolah kembali menegaskan peran tenaga medis ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dari sekian banyak dokter yang sudah lahir di negeri ini, Historia mencoba menggali perjalanan hidup lima orang dari mereka yang perjuangannya membawa perubahan bagi Indonesia. Berikut kisahnya. Politik Soetomo Soetomo dan istrinya Everdina Bruring ( Kemdikbud.go.id ) Tidak hanya mengabdikan diri di dunia kedokteran, Soetomo pun aktif berjuang dalam dunia politik semasa pergerakan nasional di awal abad ke-20. Dilahirkan pada 30 Juli 1888 di Nganjuk, Jawa Timur, Soetomo menempuh pendidikan di Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/Sekolah dokter bagi bumiputera) pada 1903. Di sekolah itulah dia terkenal aktif menyuarakan pendapatnya. Pada akhir 1907, Soetomo kedatangan tamu seorang dokter Jawa dari kalangan priayi rendahan, Wahidin Soedirohoesodo. Soetomo mengundangnya berceramah di Stovia mengenai pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan. Wahidin sendiri memang sedang melakukan kampanye mencari beasiswa bagi anak-anak muda bumiputera yang pandai. Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia Budi Utomo 1908-1918 , menyebut Soetomo dan kawannya, Soeradji, lebih terkesan oleh perangai, pikiran, dan semangat pengabdian Wahidin ketimbang rencana-rencananya. “Barangkali ia pun tidak berbicara tentang beasiswa sama sekali, tetapi kata-katanya tergores mendalam di lubuk hati dua anak muda itu,” ungkap Nagazumi. “Sekali dirasuki oleh gagasan Wahidin, Soetomo segera larut dalam kegiatan mendirikan suatu perkumpulan di dalam Stovia.” Pada 20 Mei 1908, puluhan anak muda berkumpul di aula Stovia. Turut hadir siswa-siswa dari sekolah pertanian ( landbouw school) dan kehewanan ( veeartsnij school ) di Bogor; sekolah pamongpraja (Osvia) di Magelang dan Probolinggo; sekolah menengah petang ( hogere burger school ) di Surabaya; serta sekolah pendidikan guru bumiputra ( normaalschool ) di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo. Dalam pertemuan itu para pemuda sepakat mendirikan sebuah organisasi. Namanya Boedi Oetomo –dikutip oleh Soeradji dari ucapan Soetomo kepada Wahidin: “ Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami (Ini merupakan perbuatan baik serta mencerminkan keluhuran budi)”. Demi merealisasikan pembentukan organisasi Boedi Oetomo ini, Soetomo dibantu rekan-rekannya: Soeradji, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, Goembrek, Mohammad Saleh, dan Soelaeman. Tak lama setelah berdiri, para siswa Stovia berusaha menarik hati rekan-rekan dari sekolah lanjutan lainnya untuk bergabung dengan Boedi Oetomo. Dengan cepat cabang organisasi ini berdiri di tiga daerah: Magelang, Yogyakarta, dan Surabaya. Hingga Juli 1908, jumlah anggota Boedi Oetomo mencapai 650 orang. “Kendati demikian selama tahun-tahun pertama Stovia tetap merupakan pusat kegiatan Budi Utomo,” tulis Nagazumi. Sadar akan peran kaum priayi yang besar di kalangan bumiputera, para pendiri Boedi Oetomo mulai melakukan pendekatan. Bupati Tuban, Temanggung, Jepara, Demak, Karanganyar, Kutoarjo, Serang, dan Pakualaman, menunjukkan minat membantu para pemuda ini. Maka diputuskan Boedi Oetomo akan melaksanakan kongres pertamanya pada 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dari kongres tersebut tercipta sejumlah resolusi: perbaikan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi dengan tanggungan beasiswa, membatasi jangkauan gerak hanya pada penduduk Jawa dan Madura, melibatkan diri dalam kegiatan politik, dan tak akan menyimpang dari ketentuan hukum adat. Selain itu, Tirtokoesoemo (bupati Karanganyar) terpilih sebagai ketua Boedi Oetomo, didampingi Wahidin di kursi wakil. Sementara Tjipto masuk dalam susunan pengurus sebagai komisaris. Dengan komposisi kepengurusan seperti itu, para siswa Stovia yang menahkodai lahirnya Boedi Oetomo tidak bisa menentukan arah kemudi organisasi. Mereka harus rela menyerahkan kepemimpinan Boedi Oetomo, “kepada anggota-anggota yang lebih dewasa”. Golongan muda juga tidak mengambil kesempatan menentukan arah dalam kongres kedua tahun 1909. Tjipto, Goenawan, dan Soetomo tidak bersuara. Pemain utama dipegang oleh Dwidjosewojo, Mohammad Tahir, dan Sastrowidjojo. Setelah melepaskan perhatiannya dari Boedi Oetomo, Soetomo fokus terhadap profesinya sebagai dokter. Ia lulus dari Stovia pada 1911, dan bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Tahun 1919, dia berkesempatan melanjutkan studi spesialis di Universitas Amsterdam, Belanda. Soetomo juga sempat menjadi pengajar di Nederlandsch Artsen School. Kekerasan Sikap Seorang Tjipto Tjipto Manoenkoesoemo duduk paling kiri (KITLV) Di era zaman bergerak, kiprah Tjipto Mangoenkoesoemo terbilang sangat aktif. Sama halnya dengan Soetomo, Tjipto berprofesi sebagai dokter sebelum akhirnya lebih memilih aktif di dunia politik. Dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah pada 1886, ketika menginjak usia 13 tahun Tjipto mendaftarkan diri ke sekolah dokter Jawa. Setelah lulus tahun 1905, dia menjadi dokter pemerintah. Salah satu prestasi Tjipto sebagai dokter adalah berhasil mengatasi penyakit pes di Malang, Jawa Timur. Berkat jasanya, pemerintah Belanda memberinya penghargaan Willem Klas 3 , namun ditolak. Dia memang dikenal keras dalam menentang praktik kolonialisme. Tjipto lalu mundur sebagai dokter pemerintah dan terjun berpolitik. Bersama Soetomo dan adiknya, Goenawan Mangoenkoesoemo, dia memulai karirnya di Boedi Oetomo. Dalam kongres Boedi Oetomo di Yogyakarta, Tjipto gigih mengusulkan agar organisasi itu menjadi organisasi politik yang memperjuangkan kebangsaan, ketimbang hanya mengurusi persoalan kebudayaan yang baginya hanya konsumsi istana dan terlalu asing bagi rakyat kebanyakan. Namun usulannya ditolak. “Dari kebangsaan-kebangsaan, Dokter Cipto menuju ke arah kebangsaan yang lebih besar, yakni kebangsaan Hindia,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional . Setelah meletakkan jabatannya sebagai komisaris Boedi Oetomo, pada 1912 Tjipto mendirikan Indishce Partij. Di sini Tjipto berjuang bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Sebagai pemimpin surat kabar De Express di Bandung, dia menerbitkan tulisan kawannya Soewardi: “Als Ik Een Nederlander was” (Andai saya orang Belanda). Kritik terhadap Kerajaan Belanda itu mengundang petaka. Trio Indische Partij dibuang ke Belanda. Meski menentang kolonialisme Belanda, Tjipto lebih khawatir terhadap fasisme. Ketika Jerman menduduki Belanda pada 1940, dia berbalik menunjukkan simpati kepada Belanda. Begitu juga ketika Jepang masuk Hindia Belanda. Tjipto mengimbau agar rakyat membantu pemerintah Belanda melawan para fasis tersebut. Komitmen yang ditunjukkan Tjipto dalam memerangi fasisme Jepang adalah memfasilitasi pembentukan Gerakan Anti Fasis (Geraf) pada Mei 1940, pimpinan Amir Sjarifuddin. Pada 8 Maret 1943, Tjipto menghembuskan nafas terakhirnya karena kesehatannya memburuk. Dengan demikian dia sama sekali tidak pernah merasakan kekejaman fasisme Jepang dan menyaksikan kalahnya ideologi politik di akhir Perang Dunia ke-2. Teladan Wahidin Soedirohoesodo Wahidin Soedirohoesodo (Wikimedia Commons) Perjuangan kebangsaannya menginspirasi Soetomo membentuk organisasi Boedi Oetomo. Adalah Wahidin Soedirohoesodo, dokter dari kalangan priayi Jawa yang menjadi teladan bagi para juniornya di Stovia. Wahidin lahir pada 7 Januari 1852 di Sleman, Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutan di Yogyakarta, Wahidin memilih jalur kesehatan di sekolah dokter Jawa. Dalam biografi Dr. Wahidin Sudirohusodo terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diceritakan Wahidin pernah diasuh seorang petinggi perkebunan milik pemerintah bernama Frits Kohle. Di sana dia mempelajari banyak hal, terutama bahasa Belanda. Namun di sisi lain dia sadar bahwa jurang pemisah antara orang Barat dengan bumiputera telalu lebar. Lulus dari sekolah dokter Jawa, Wahidin segera ditugaskan oleh pemerintah Belanda menanggulangi wabah cacar di pelosok-pelosok pulau Jawa. Dia dan lulusan dokter Jawa lainnya memang khusus ditempatkan dekat dengan masyarakat bumiputera, karena kebanyakan dokter Eropa hanya menerima pasien sesamanya saja. Kesadaran memajukan bangsanya sendiri di tengah kalangan Eropa semakin besar tumbuh di dalam diri Wahidin. Dia pun rela tidak dibayar sepeser pun oleh rakyat yang tidak memiliki uang untuk berobat. Aksi Wahidin semakin nyata tatkala dirinya mulai melakukan aksi penggalangan dana bagi biaya pendidikan pemuda-pemuda bumiputera. Wahidin mulai berkeliling Jawa pada 1906. Aski nyatanya itu disambut oleh bangsawan yang menyatakan kesediaannya membantu Wahidin, termasuk dari kalangan Kesultanan Ngayogyakarta. Sebagai seorang dokter, Wahidin tidak pernah lepas dari kegiatan praktik kesehatan, meski sibuk mengurusi berbagai persoalan kemajuan pendidikan yang menjadi tujuannya. Reputasi Wahidin sampai juga di telinga Soetomo dan pemuda Stovia lainnya. Saat berada di Batavia, dia diundang untuk memberi ceramah di hadapan Soetomo dan kawan-kawannya. Wahidin jugalah yang kemudian memicu Soetomo untuk ikut berjuang dalam memajukan bangsa, sehingga lahirlah Boedi Oetomo. A. Mochtar Sang Martir Pusara Achmad Mochtar (Rahadian Rundjan/Historia) Achmad Mochtar adalah direktur bumiputera pertama di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Pada 3 Juli 1945, dia dieksekusi mati oleh Jepang atas tuduhan sabotase vaksin buatan lembaganya, TCD (Typhus Cholera Dysentery), yang mengakibatkan ratusan orang romusha (pekerja paksa) tewas. Mochtar dan lembaga pimpinannya menjadi tertuduh atas kasus tersebut. Naas bermula ketika Juli 1944 ratusan romusha di Klender, Jakarta terkena wabah penyakit. Dokter-dokter Jepang berusaha menyembuhkannya dengan menyuntikkan vaksin tipes, kolera, dan disentri. Alih-alih sembuh, sekira 900 orang tewas. Pemerintah pendudukan Jepang langsung mencurigai para peneliti di Eijkman. Pemeriksaan Kenpetai (polisi Jepang) menunjukkan lembaga Eijkman memasukkan racun kedalam vaksinnya. Pemeriksaan Kenpetai berubah tragis ketika para dokter-peneliti, termasuk Mochtar, ditangkap dan disiksa pada Oktober 1944. Ada yang dipukuli, disetrum, sampai dibakar hidup-hidup. Achmad Mochtar dituduh sebagai pelaku utama. Demi menyelamatkan nyawa kolega-koleganya di Lembaga Eijkman, dia memutuskan mengaku. Pada Januari 1945, Jepang membebaskan staf-staf Eijkman dalam keadaan yang menyedihkan. Dua dokter, Marah Achmad Arif dan Soeleiman Siregar, meninggal dunia dalam tahanan akibat siksaan. Sementara Achmad Mochtar dijatuhi hukuman mati. Menurut Moh. Ali Hanafiah, asisten dr Mochtar, dalam Drama Kedokteran Terbesar , Achmad Mochtar dipaksa mengaku mengotori vaksin yang menyebabkan kematian banyak orang itu. Dia dituduh memasukkan bakteri tetanus ke dalam vaksin yang digunakan dokter Jepang. Pada Juli 1945, Achmad Mochtar dieksekusi tanpa pengadilan dengan cara dipancung. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman massal Ancol. Peristiwa tersebut menimbulkan tanda tanya besar dan menjadi tragedi memilukan dalam dunia kedokteran Indonesia. JK Baird, Direktur Clinical Research Unit Oxford University, kemudian melakukan penelitian atas kasus tersebut. Menurut Bird, dikutip theguardian.com , kematian romusha disebabkan eksperimen dokter Jepang yang membuat vaksin tetanus untuk kebutuhan tentara dan penerbangan Jepang. Para romusha itu menjadi kelinci percobaannya. Untuk menutupi hal ini, Lembaga Eijkman difitnah. Sebagai kepala lembaga Achmad Mochar menjadi kambing hitam untuk menyelamatkan koleganya. “Kisah tentang Prof. Achmad Mochtar merupakan drama kemanusiaan yang terjadi dalam kurun waktu yang amat bersejarah untuk Indonesia, dan terjadi dari berbagai peristiwa militer dan politik pada periode 1942-1945,” ucap Sangkot Marzuki, penulis War Crime in Japan-Occupied Indonesia: A Case by Medicine . Pergerakan Bahder Djohan Bahder Djohan (Wikimedia Commons) Bahder Djohan hadir ketika para pemuda sebayanya menyuarakan aksi kebangsaan di dalam suatu kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928. Tanpa melupakan perannya sebagai murid di sekolah dokter, Bahder berjuang mencari keindonesiaan di tengah kepungan para kolonialis yang terus memperkuat pengaruhnya terhadap Bumiputra. Bahder Djohan dilahirkan di Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat pada 30 Juli 1902. Sebagai sesama putra Minangkabau, Bahder bersahabat karib dengan Hatta. Keduanya, bersama pemuda Minangkabu lainnya, memperkuat ikatan di Jong Sumatranen Bond (JSB). Organisasi ini merupakan wadah perjuangan semasa pergerakan nasional. Menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah (HIS) dan sekolah lanjutan (MULO) di Padang, pada 1919 Bahder memilih merantau ke Batavia untuk mendaftar sekolah dokter Stovia. Dikisahkan Mardanas Safwan dalam Prof. Dr. Bahder Djohan: Karya dan Pengabdiannya , Bahder semakin aktif di JSB ketika di perantauannya ini. Dia menjadi perwakilan JSB di Kongres Pemuda I pada 30 April 1926, dan Kongres Pemuda II pada 1928. Lulus dari Stovia pada1927, Bahder bekerja di Centrale Burgerlijke Zienkenhuis (CBZ), kini RS Cipto Mangunkusumo. Meski ada di lingkungan para kolonialis, dia tidak melupakan hakikatnya sebagai pejuang pergerakan. Di bidang kedokteran, Bahder berusaha meningkatkan derajat dokter bumiputera agar dapat sejajar dengan dokter Eropa. Dia juga ikut menyuarakan ketidakadilan dalam akses informasi kesehatan yang diterima dokter bumiputera oleh pemerintah Belanda. Akses majalah Genuskundig Tijdschrift van Nederlandsh Indie (GTNI) ini baginya amat penting untuk pembelajaran para dokter. Maka Bahder merasa perlu memperjuangkannya. Hasilnya kebijakan pembatasan akses itu dihapuskan.
- Protes Haji Misbach di Tengah Wabah Pes
Dari Malang, wabah pes yang muncul sejak 1910 mulai menjalar ke berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Di Surakarta, penyakit pes mulai muncul pada 1913 dan mulai merebak secara masif setahun setelahnya. Kasus pertama berasal dari orang Belanda yang merupakan pendatang dari perkebunan tebu di Pasuruan. Ia meninggal karena pes di Stasiun Kereta Api Jebres, Surakarta dan sejak itu penyakit pes mulai menulari orang-orang Sala. Maret 1915, epidemi pes pecah di Kota Surakarta. “Wabah pes yang semula hanya berkembang di wilayah kota kemudian menyebar keluar kota itu,” tulis Wasino dalam Kapitalisme Bumiputera, Perubahan Masyarakat Mangkunegaran . Salah satu kebijakan pemerintah kolonial untuk memberantas wabah ialah dengan program perbaikan rumah penduduk. Namun, biaya perbaikan rumah dibebankan kepada penduduk atau menggunakan dana pinjaman dari pemerintah. Kebijakan ini memberatkan rakyat yang tidak mampu. Apalagi, berbagai kebijakan administratif yang berlebihan juga dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini kemudian menyulut perlawanan Insulinde, organisasi lanjutan Indische Partij, lewat Haji Misbach. Haji Misbach bergabung dengan Insulinde Surakarta pada Maret 1918. Pada bulan yang sama, mereka membentuk satu komite untuk menyelidiki kegelisahan penduduk akibat kebijakan pemerintah itu. Misbach sebagai wakil aktif di Kauman kemudian menjadi tokoh utama komite. Pada saat yang bersamaan, wabah pes terus menyebar di Kota Surakarta hingga ke kawasan Kartasura dan Delanggu. “Pemimpin Insulinde Surakarta menunjuk Misbach sebagai komisaris dan memberi wewenang mengadakan rapat umum propaganda melawan tindakan-tindakan pemberantasan wabah pes dari pemerintah dan mendirikan kring (anak cabang, red. ) di luar kota Surakarta,” tulis Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Misbach kemudian segera mengorganisir Insulinde cabang Kartasura. Insulinde Kartasura diketuai oleh Atmokertanto, seorang pegawai pegadaian dan sekretarisnya H. Bakri, pedagang batik. Kampanye melawan kewajiban perbaikan rumah dengan biaya pinjaman dari pemerintah lalu dilancarkan. Terutama di wilayah luar Kota Surakarta, penolakan-penolakan digaungkan. Hasilnya ternyata sukses, penduduk kemudian enggan mengembalikan pinjaman pemerintah. “Sesudah mengadakan rapat umum pada Mei, penduduk Kartasura benar-benar berhenti mengembalikan pinjaman pemerintah untuk perbaikan rumah secara paksa,” sebut Shiraishi. Keberhasilan kampanye Misbach memicu kemarahan Asisten Residen Surakarta. Pimpinan Insulinde Surakarta, Galestian dan Soetadi, kemudian diperintahkan untuk menghentikan propaganda Misbach dan mengadakan rapat umum untuk meminta maaf kepada penguasa. “Namun, pengaruh Tjipto di Insulinde masih kuat sehingga Misbach tetap dapat menjalankan aksi-aksinya sebagai Komisaris Insulinde,” tulis Syamsul Bakri dalam Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942. Tjipto Mangunkusumo memang cukup berpengaruh di Insulinde. Pasca menangani pes di Malang, Tjipto ditolak untuk turut membantu pemberantasan pes di Surakarta hingga ia mengembalikan bintang jasa dari pemerintah. Dukungannya kepada Misbach di Surakarta menjadi cukup berarti. Insulinde Surakarta kemudian berkembang pesat di tengah berbagai perhimpunan di Surakarta. Meski demikian, Insulinde juga tak luput dari celaan sebagian komponen masyarakat. Namun, Insulinde justru semakin eksis sebagai wadah dan media bagi kaum kromo , oposan, dan revolusioner. Menurut Shiraishi, Misbach sendiri menjadi salah satu yang menarik perhatian karena kehangatan, keterbukaan, keramahan serta konsistensi antara kata-kata dan perbuatannya. Kombinasi antara Tjipto Mangunkusumo dan Misbach juga menjadikan Insulinde terlihat benar-benar revolusioner di Surakarta.






















