Hasil pencarian
9845 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Misi Parman Melobi London
BRIGJEN TNI Soegih Arto, utusan Presiden Sukarno untuk berunding dengan Kementerian Luar Negeri Inggris transit di Prancis. Soegih Arto diterima oleh Kolonel Sumpono Banyuaji, Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Prancis. Sesampainya di kediaman Atmil, Soegih Arto kaget karena melihat atasannya Mayjen TNI S. Parman juga berada di tempat yang sama. “Baru lama kemudian, saya mengetahui bahwa Beliau mengemban tugas yang sama, hanya salurannya ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris,” tutur Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Keberadaan Parman di Paris sepertinya sudah berlangsung beberapa hari sejak Soegih Arto tiba disana. Menurut Soegih Arto, Parman punya misi yang sama dengan dirinya, yakni menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia melalui perantaraan Inggris. Bila Soegih Arto diutus ke Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya jaringan ke pejabat tinggi kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Parman dijemput oleh Atmil Indonesia untuk Inggris Kolonel Sasraprawira menuju ke London. Sebagai Asisten I Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) yang memegang bidang intelijen, Parman memiliki jaringan di mana-mana. Selain itu, Parman memang telah lama menjalin koneksi dengan pihak militer Inggris. Sebelum menjabat Asisten I/Intelijen Menpangad, Parman bertugas di Inggris sebagai Atmil selama tiga tahun (1959—1962). “Tugas yang dipikul S. Parman selama menjadi atase militer ini cukup berat,” tulis Sutrisno dalam Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman . “S. Parman sering mengadakan pertemuan, jamuan, atau mengunjungi pejabat-pejabat tertentu di Inggris.” Menurut sejarawan Universitas Indonesia Linda Sumarti, Parman merupakan utusan Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani sebagai peace feelers atau penjajak perdamaian dengan kemungkinan berunding dengan militer Inggris. Yani memilih jalur Departemen Pertahanan Inggris dengan pertimbangan, pihak Malaysia akan lebih mudah untuk diajak ke meja perundingan jika pemerintah Inggris sudah ikut dilibatkan. Jalur ini dipakai Ahmad Yani dengan mengirimkan asisten intelijennya, S. Parman. Berdasarkan dokumen arsip Kementerian Luar Negeri Inggris ( Foreign Office ), Parman tercatat mengadakan pembicaraan rahasia dengan Kolonel Berger, Atmil Inggris untuk Prancis di Paris pada 9 Oktober 1964. Pembicaraan lanjutan terjadi pada 10 dan 13 Oktober di Paris, kemudian pada 21 Oktober di Kementerian Pertahanan Inggris di London. Kepada Berger, Parman menjelaskan latar belakang penentangan Sukarno terhadap pembentukan negara Federasi Malaysia. Pertama , tindakan Tunku Abdul Rahman membentuk negara federasi dilakukan sebelum laporan komisi penyelidikan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedua , keyakinan bahwa Inggris memaksa wilayah Kalimantan Utara (Borneo) masuk ke dalam negara federasi Malaysia. Ketiga , kehadiran tentara Inggris di Malaysia mengancam keamanan dan keselamatan Indonesia. Parman menerangkan masalah besar yang dihadapi Indonesia untuk menyelesaikan konfrontasi adalah soal menyelamatkan wajah pemerintah Indonesia di kancah internasional. Di samping syarat mengadakan pemungutan suara di Sabah dan Sarawak, Parman juga mengajukan permintaan supaya Inggris membuat penyataan bersedia menutup pangkalan militernya di Singapura dalam waktu tertentu. Langkah ini, menurut Parman sebagai cara terbaik untuk mengakhiri konfrontasi. Menanggapi tawaran Parman, Berger menyiratkan bahwa sangat tidak mungkin bagi Inggris untuk menerima tuntutan tersebut. “Tidak ada keharusan bagi pihak Inggris tentang penarikan diri dari Singapura. Orang-orang Indonesia sedang berseluncur di atas es tipis. Aktivitas mereka telah menghasilkan perasaan yang sangat keras di Inggris. Singkatnya, orang-orang Indonesia harus menghentikan agresi mereka sebelum tawaran mereka dapat dipercaya di sini,”demikian jawaban Berger sebagaimana dikutip Linda dari dokumen Foreign Office . “Pertemuan antara Mayjen S. Parman dan Kolonel Berger hanya berhenti sampai sebatas itu saja, tidak ada pembicaraan lebih lanjut,” kata Linda dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963-1966”. Misi Parman melobi London mentok dan tidak bersambut. Padahal, Sukarno terus saja menyerukan kampanye Ganyang Malaysia di dalam negeri. Meski demikian, upaya penyelesaian konfrontasi lewat operasi di balik layar tetap dijalankan. Ini bertujuan untuk menghindari Indonesia dari perang terbuka yang kemungkinan akan berhadapan dengan Inggris dan sekutunya. Di saat yang sama, Ahmad Yani juga memerintahkan Mayjen Soeharto dari Kostrad untuk menjajaki normalisasi hubungan antara Indonesia dan Malaysia tanpa melalui mediasi pihak ketiga. Soeharto dan rekan-rekannya kemudian membentuk operasi khusus menembus pihak-pihak penting di Malaysia. *
- Gotti, Mafia Flamboyan yang Dicinta dan Dibenci
JOHN Gotti Junior (diperankan Spencer Lofranco) mulai gelisah di sebuah ruang tunggu Penjara Federal Springfield, Missouri pada suatu hari tahun 1999. Sebuah kamera DLSR di balik cermin kamuflase sudah siap merekam semua yang ada di ruangan itu. Sosok yang ditunggu Junior akhirnya tiba. Dikawal tiga sipir, John Gotti (John Travolta) datang dengan tangan dan kaki dibelenggu. Wajahnya sudah semarak oleh kerutan. Kepalanya sudah tak lagi bermahkota rambut. Suaranya pun mulai parau akibat kanker tenggorokan. Tetapi kharisma dan wibawa Gotti tak pernah luntur. Pada pertemuan itu, Junior mengungkapkan kepada sang ayah bahwa dia ingin mengajukan pernyataan dirinya bersalah atas sejumlah dakwaan pemerintah federal terhadapnya. Selama ini Junior terlibat atas semua dakwaan yang berhubungan dengan aktivitas dunia hitam keluarga mafia Gambino yang pernah dipimpin ayahnya. Baca juga: Lantai Dansa John Travolta Adegan John Gotti di masa senjakalanya dalam hukuman bui seumur hidup. (Vertical Entertainment). Gotti mengerti bahwa putra sulungnya itu punya niat untuk melindungi keluarganya. Namun, Gotti berusaha membulatkan hati Junior untuk tidak menundukkan kepala meski hukuman bui belasan tahun mengancamnya. Gotti ingin Junior belajar tentang kekuatan karakter seseorang, sebagaimana Gotti yang selalu berusaha menegakkan kepala, kendati sudah dibui dengan hukuman seumur hidup. Adegan mengenai hari-hari terakhir Gotti menjelang ajalnya itu jadi pilihan sineas Kevin Connolly untuk membuka biopik tokoh kriminal bertajuk Gotti . Connolly ingin memperlihatkan sosok gembong mafia ternama itu tetap bertahan dengan prinsipnya meski “dunianya” sudah lama tenggelam. Prinsip itu selama ini berperan besar membuat Gotti bisa menjadi “Godfather”. Baca juga: Melihat Lebih Dekat Dunia Mafia Lewat The Godfather Alur cerita lalu mundur ke tiga dekade sebelumya. Gotti mulai mendaki tangga “kariernya” di organisasi mafia Gambino sejak 1972. Dia mulai jadi soldato (tukang pukul) yang dimentori underboss Aniello ‘Neil’ Dellacroce (Stacy Keach). Sejak saat itu hingga di era 1980-an, perlahan tapi pasti Gotti naik kelas dari soldato hingga menjadi caporegime. Selama itu juga Gotti kerap ditangkap, diadili, hingga keluar-masuk penjara. Meski di dalam organisasi selalu jadi sosok yang dingin dan brutal, di luar organisasi Gotti justru jadi sosok yang dicinta. Tidak hanya oleh sang istri Victoria (Kelly Preston) dan anak-anaknya, namun juga warga proletar di area yang dikuasainya. Adegan John Gotti saat bersama mentornya, Aniello 'Neil' Dellacroce. (Vertical Entertainment). Kecintaan mereka muncul karena besarnya perhatian Gotti. Ketika sebuah sasana tinju disegel pemerintah karena tak punya uang untuk bayar pajak, Gotti bersedia menanggungnya demi anak-anak muda di lingkungannya jauh dari dunia hitam. Lalu ketika beberapa lansia miskin tak punya biaya untuk ke rumahsakit, Gotti dengan tulus menanggung biaya perawatan mereka. Namun memasuki 1985, gonjang-ganjing terjadi di dalam tubuh Gambino. Sang boss , Paul Castellano, juga mulai dibenci Gotti karena dianggap sosok pemimpin lemah di antara lima keluarga mafia New York. Yang paling bikin Gotti murka adalah, Castellano ingin merombak internal organisasi, termasuk kelompok yang selama ini dipegang Gotti. Baca juga: The Godfather: Part II dan Seluk-Beluk Organisasi Mafia Bersama rekan terdekatnya, Angelo Ruggiero (Pruitt Taylor Vince), Gotti merencanakan penyingkiran Castellano. Neil yang selama ini jadi mentor Gotti, paham keadaannya dan mendukung. Dia bahkan memberitahu apa tindakan selanjutnya jika Gotti ingin mematangkan rencana membunuh Castellano dan siapa saja orang yang harus didekati. Di antaranya adalah mendekati beberapa capo di organisasi mafia Gambino lain, seperti Frank DeCicco (Chris Mulkey) dan Sammy ‘Bull’ Gravano (William DeMeo), serta melakukan pendekatan kepada lima keluarga mafia di Staten Island, Bronx, Brooklyn, Queens, dan Manhattan. Namun, Neil tak bisa membiarkan Gotti membunuh Castellano selama Neil masih hidup. Sebab, pembunuhan sesama satu organisasi merupakan aib bagi dunia mafia. Gotti pun terpaksa menuruti dan menunggu hingga tiba hari kematian Neil karena usia tuanya. Gotti kian bertekad membantai Castellano setelah tahu sang bos tertinggi itu tak hadir di prosesi pemakaman Neil. Maka, Castellano pun dibunuh oleh orang-orang suruhan Gotti di depan restoran Sparks Steak House di Manhattan, beberapa hari sebelum perayaan Natal 1985. John Gotti Junior (kanan) yang mengikuti jejak ayahnya masuk "Cosa Nostra". (Vertical Entertainment). Gotti kemudian merayakan tahun baru 1986 sebagai pemimpin Gambino. Tak seperti bos mafia lain, Gotti nan flamboyan justru menikmati sorotan publik. Berbagai media cetak menjulukinya “The Real Godfather”, “The Dapper Don”, atau “The Teflon Don” karena selalu lolos dari jerat hukum berkat pengacara handal. Ia pun mengajak serta Junior yang baru lulus Akademi Militer New York untuk “dibaptis” sebagai soldato. Sayangnya tak ada yang abadi. Masa kejayaan Gotti yang bergelimang harta dan popularitas itu perlahan tenggelam. Penyebabnya, rekan terdekatnya, Ruggiero, keceplosan bicara banyak tentang aktivitas mafia dan terekam alat penyadap FBI. Gotti pun kembali berurusan dengan hukum. Lebih runyam ketika beberapa mantan anak buahnya “bernyanyi” di muka sidang. Bagaimana Gotti mencoba menghindari jeratan hukum itu dan apa yang membuat Gotti bertahan dengan prinsipnya dan enggan tunduk meski masa depan pahit sudah siap menyambutnya? Baiknya Anda saksikan sendiri Gotti di aplikasi daring Mola TV. Sisi Lain Gotti Gotti dikemas dengan tone film yang cukup apik sepanjang tiga dekade riwayat bos mafia flamboyan itu. Editor Jim Flynn bahkan menyelipkan beberapa footage pemberitaan televisi terhadap sosok Gotti di era 1980-an dan 1990-an, termasuk video pemakaman sang “Godfather” usai menghembuskan nafas terakhirnya pada 10 Juni 2002. Biopik ini kian “gurih” karena diiringi music scoring yang berwarna. Mulai dari ritme retro untuk mengiringi adegan-adegan Junior dan Gotti di era 1980-an hingga efek scoring yang membangun nuansa ketegangan kala mengiringi adegan-adegan sadis. Hanya saja, Gotti justru gagal meledak di pasaran. Sejumlah kritik, salah satunya dari kritikus Jordan Mintzer, menyasar pada penulisan alur cerita. “Filmnyanya ditulis dengan buruk, minim scene menegangkan dan sisanya sangat biasa saja. Cerita tentang ayah dan anak sama sekali tak berhasil. Gotti terlalu lama menghabiskan waktu menggambarkan emosi setelah kematian Frank (anak ketiga Gotti). Inti cerita tentang karakter utamanya justru kurang berkesan,” tulis Mintzer di kolom The Hollywood Reporter , 15 Mei 2018. Baca juga: The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan Connolly sang sutradara beralasan bahwa ia memang sengaja mengemasnya cenderung kepada cerita drama, bukan action kriminal. Ia ingin penonton bisa melihat sisi lain Gotti yang selama ini dikenal publik hanya dari luar via pemberitaan televisi maupun media cetak. Meski tangan Gotti “berlumuran darah” oleh aktivitas pemerasan dan pembunuhan, toh di mata masyarakat kelas menengah-bawah ia justru dianggap pahlawan. “Ibu dan ayah saya berasal dari kelas pekerja. Ayah saya seorang sopir truk, namun ironisnya selalu ada sesuatu tentang Gotti yang membuatnya terkesan. Gotti seperti tokoh anti-kemapanan yang dipuja masyarakat kelas pekerja. Saya ingat ayah saya senang terhadap sosoknya dengan mengatakan, ‘Lihatlah orang ini, ia mengacungkan hidungnya terhadap pemerintah.’ Jadi, ya, dia semacam pahlawan lokal bagi kelas pekerja,” ujar Connolly, dikutip Men’s Journal . Aktor utama John Joseph Travolta (kiri) & sosok asli John Joseph Gotti Gotti (Vertical Entertainment/Majalah New York , 19 Februari 1990). Di bagian penutup film, Connolly pun menggambarkan Gotti lewat footage komentar beberapa warga tentang Gotti usai ribuan orang meratapi konvoi kereta jenazahnya di pinggir jalan. “Lingkungan tempat tinggal kami selalu lebih aman ketika Gotti masih berkuasa. Ketika dia dipenjara, tingkat kriminalitas naik drastis karena jalanan mulai dikuasai berandal jalanan,” tutur seorang responden. Baca juga: Robert De Niro Bicara tentang The Godfather: Part II Sama seperti Connolly, Travolta yang memerankan Gotti awalnya juga heran mengapa seorang bos mafia justru disanjung masyarakat kelas menengah dan golongan bawah. Padahal saat sedang disorot publik dan media, Gotti senantiasa tampil perlente dengan jas dan mantelnya yang –atas izin keluarga mendiang Gotti juga dipakai Travolta selama syuting– elegan bak kaum elite. “Mulanya saya tak mengerti karakter Gotti, kenapa dia sangat dicintai dan populer? Jadi saya meriset sendiri dan menemukan bahwa yang dilakukannya: Bisnis ilegal apapun yang dilakoninya, dia akan mengelolanya menjadi dana subsidi (untuk masyarakat) dan mengembalikannya menjadi legal. Jadi dia menjadi sekutu dan nyaris seperti sebuah asuransi keamanan,” ungkap Travolta kepada Phoenix New Times , 15 Juni 2018. Seperti Al Capone, John Gotti gemar jadi media darling. (Mingguan People , 27 Maret 1989/ The New York Daily News , 11 Juni 2002). Seperti yang digambarkan dalam film, Gotti perhatian kepada lingkungan tempat tinggalnya dan lingkungan tempatnya berkuasa sejak masih jadi capo hingga menjadi bos besar. Gotti kerap berderma pada masyarakat kelas bawah. “Dia orang yang murah hati di lingkungannya. Jika dia melihat beberapa petinju potensial tetapi sasananya ditutup, dia akan membuka kembali sasana itu untuk mereka. Bila sebuah keluarga kesulitan biaya medis, dia akan menanggung tagihan rumahsakitnya. Jadi dia orang yang perhatian. Karena saya tak ingat Al Capone, (John) Dillinger, atau bahkan Whitey (Bulger) dicintai banyak orang. Jadi karena itulah Gotti dicintai dan menjadi sangat berkuasa,” sambungnya. Baca juga: Francis Ford Coppola dan Trilogi The Godfather Menurut Jeffrey Sussman dalam Big Apple Gangsters: The Rise and Decline of the Mob in New York , popularitas dan kecintaan kelas menengah dan bawah terhadap Gotti merupakan pelampiasan ketidakpuasan mereka terhadap banyak kebijakan pemerintah di era 1980-an yang tidak pro-rakyat. Gotti pun diusung sebagai sosok idola anti-kemapanan, terlepas ia acap nongol di media-media dengan jas mewah seharga dua ribu dolar dan sepatu impor Italia yang banderolnya tak pernah kurang dari 400 dolar. “Sejak eranya Al Capone, tak pernah ada lagi gangster yang jadi media darling karena semuanya memilih low-profile. Dan John Gotti dan media punya hubungan simbiosis mutualisme dalam hal itu. Dia selalu tampil necis, selalu menegur publik dengan ramah. Saat pejalan kaki menyapa, ‘Hai, John,’ dia akan merespon dengan lambaian tangan dan senyum lebar. Saat makan di restoran pun dia bersedia meladeni permintaan tandatangan fansnya,” tulis Sussman. Kolase iring-iringan jenazah John Gotti yang wafat di usia 61 tahun yang turut diselipkan dalam film Gotti. (Vertical Entertainment). Gotti juga selalu menghadapi persidangan dengan kepala tegak. Termasuk ketika dimejahijaukan atas kasus pemerasan dan lima pembunuhan dalam kurun Desember 1990-April 1992. Dalam persidangan itu Gotti tak bisa berkelit lagi karena beberapa eks-anak buahnya berkhianat dengan memberi kesaksian berlawanan. Selain didenda 250 ribu dolar, Gotti pun divonis hukuman penjara seumur hidup. Vonis itu membuat ratusan fans Gotti mengamuk di luar gedung pengadilan New York. “Ratusan fans Gotti yang berkumpul di luar gedung pengadilan terhenyak. Mereka merusuh, membalikkan sejumlah mobil, tawuran dengan polisi, dan melantangkan teriakan dukungan kepada Gotti untuk menuntut pembebasannya. Aparat Kepolisian New York sampai harus menurunkan personel dari seluruh polresnya untuk meredam kerusuhan,” tambah Sussman. Setelah Gotti wafat, jenazahnya tak hanya diiringi rombongan keluarga dan kerabat, namun juga para fans-nya. Justru tak satupun perwakilan organisasi mafia yang ikut mengantar Gotti ke peristirahatan terakhirnya. “Gotti dikuburkan di St. John’s Cemetery. Sekitar 20 mobil limo ikut iring-iringan jenazahnya, ditambah ratusan mobil penggemarnya bak sedang mengantar seorang bintang film atau pahlawan penakluk. Ketiadaan utusan keluarga mafia lain diinterpretasikan sebagai penghinaan kepada figur yang berani menantang aparat hukum pemerintah. Iring-iringan itu tak hanya jadi salah satu konvoi paling berwarna dalam sejarah gangster di New York, namun juga menandai permulaan tenggelamnya organisasi mafia Gambino,” tandas Sussman. Data Film: Judul: Gotti | Sutradara: Kevin Connolly | Produser: Randall Emmett, George Furla, Michael Froch, Marc Fiore | Pemain: John Travolta, Spencer Lofranco, Kelly Preston, Stacy Keach, Pruitt Taylor Vince, Willam DeMeo, Chris Mulkey | Produksi: Highland Film Group, EFO Films, Fiore Films | Distributor: Vertical Entertainment | Genre: Biopik Kriminal | Durasi: 110 menit | Rilis: 15 Mei 2018, Mola TV Baca juga: Diego Maradona dalam Pangkuan Mafia
- Penerbangan Gelap Nan Mengerikan dr. Soeharto
DOKTER R. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta, senang bukan kepalang. Perjalanan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa baru saja diselesaikannya. Perjalanan itu ialah menyertai Bung Karno, Bung Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat menghadap Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi Jepang di Asia Tenggara, di Dalat, Vietnam.
- Kisah Perseteruan Ajengan Yusuf Tauziri vs Kartosoewirjo (1)
GARUT, 17 April 1952. Kengerian membekap Pesantren Darussalam Cipari malam itu. Ribuan bayangan berkelebat, seolah hantu-hantu pencabut nyawa yang tengah memburu mangsanya. Di tengah suara tembakan gencar yang membahana, terdengar jerit ketakutan para perempuan dan anak-anak. “Saya ingat sekitar 3 batalyon gorombolan DI (Darul Islam) menyerang pesantren kami selepas jam 7 malam. Di bawah pimpinan langsung Mama Ajengan Yusuf (Tauziri) kami melawan mereka sebisanya” kenang Syarif Hidayat, saksi hidup peristiwa tersebut. Penyerangan sekitar 3000 gerilyawan DI tersebut merupakan puncak perseteruan politik antara pimpinan Pesantren Darussalam Cipari Ajengan Yusuf Tauziri dengan imam DI Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Menurut Syarif Hidayat, sejak tahun 1949—1958 sudah sekitar 50 kali pesantren yang terletak di kawasan Wanaraja itu diserang para pengikut Kartosoewirjo.
- Kisah Romansa Masa Lalu
KISAH romansa yang muncul pada suatu zaman bisa menunjukkan situasi sosial politik yang sedang berlangsung. Romansa adalah bagian dari situasi politik yang berdampak pada kisah percintaan. “Kita bisa lihat bagaimana romansa merupakan cerminan konstruksi politik, maskulinitas, feminisme juga,” kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam diskusi “Romansa dalam Peradaban Nusantara” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di kanal Youtube , Kamis (18/02/2021). Seno mengambil contoh cerita Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karangan Marah Rusli. Novelnya dirilis pada 1922 dan sangat populer. Kisahnya menunjukkan bagaimana ide perjodohan oleh orangtua ditolak. “Kamu tidak boleh menikah dengan siapapun pilihanmu, kecuali pilihan kami. Ini antara hormat pada orangtua dan kebebasan manusia, menjadi dilema. Ini menarik dalam proses modernisasi,” kata Seno. Pada masa Orde Baru ada dua tonggak dari karya sastra populer. Pertama, novel Karmila karya Marga T . Kisahnya tentang seorang perempuan yang diperkosa kemudian menikah dengan pemerkosanya. Dia bersedia dengan pertimbangan etis, bahwa ini adalah anak orang itu. “Konflik batin luar biasa,” kata Seno. Kedua , trilogi karya Ashadi Siregar berjudul Cintaku di Kampus Biru , Kugapai Cintamu , dan Terminal Cinta Terakhir . “Ashadi dengan sadar, dalam setiap diskusi selalu mengatakan, ini menyimbolkan orangtua merupakan gambaran kekuasaan,” ujar Seno. “Ingin menyadarkan orang akan adanya kekuasaan yang bisa berlangsung keliru atas nama adat.” Pada masa Reformasi, kata Seno, seolah terjadi pembebasan dengan karya-karya dari Ayu Utami dan Djenar Mahaesa Ayu. Misalnya soal seksualitas tak hanya merupakan ungkapan cinta, tapi juga penindasan dan penyiksaan. Tanda-tanda itu juga bisa ditangkap dari karya-karya kesusastraan pada masa Jawa Kuno. Misalnya pada kisah Ramayana dan Panji. Ramayana dan Kritik Terhadap Kuasa Lelaki Seno mengadaptasi cerita Ramayana dalam karya Kitab Omong Kosong. Ia menandai tiga momen kunci dalam kisah romansa itu. Ketiganya mewakili kritik terhadap pola kekuasaan. Momen pertama ketika Hanoman, sang kera putih, diutus Rama ke Alengka menemui Sita yang diculik Rahwana. Ia menemui Sita dengan membawa cincin Rama sebagai bukti sekaligus untuk menguji kesetiaan Sita. “Kalau cincinya pas ketika dipakai Sita artinya masih setia. Jadi kalau nggak setia nggak cinta lagi gitu? Ini namanya cinta bersyarat dan juga menunjukkan kepentingan lelaki,” ujar Seno. Momen kedua setelah Rama memenangkan peperangannya melawan Rahwana. Sita masih harus membuktikan lagi kesuciannya di hadapan Rama. Caranya dengan membakar diri. “Kalau mati bagaimana? Hanya demi cintanya Rama itu?” ujar Seno. Momen ketiga rupanya Rama masih kurang puas dengan kenyataan itu. Rama terus ragu dengan kesucian Sita. Maka, ketika Sita melahirkan putra kembarnya, Lawa dan Kusya, Rama mempertanyakan asal-usul keduanya. “Saya kira Valmiki [pencipta Ramayana] luar biasa, jauh-jauh hari, berabad lalu menunjukkan kritik terhadap kuasa laki-laki dan dia memenangkan perempuan,” ujar Seno. Kisah itu berakhir dengan pembuktian Sita yang paripurna. Sita bersumpah kepada Rama, jika ia tak suci, sebagaimana diduga Rama, maka bumi pun takkan sudi menerimanya. Bumi pun terbelah. Sita pun ditelan, diterima oleh bumi. Panji dan Keberagaman Seksual Sementara itu, keterbukaan pada pluralitas seksual terbaca dalam kisah Panji. Mulanya dari cerita lisan, paling tidak sejak 1400 M. Secara garis besar, kisahnya merupakan kumpulan cerita tentang kepahlawan Raden Inu Kertapati dan kisah cintanya dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Cerita Panji punya banyak versi yang menyebar luas di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara dan telah dikisahkan ke dalam 13 bahasa. Bentuknya pun beragam. Ada wayang, teater, tarian, lukisan, sastra lisan, tulis, variasi bahasa, bahan, dan variasi ceritanya. Hikayat cinta Inu Kertapati dengan Galuh Candra Kirana yang paling terkenal. Mereka diceritakan sempat berpisah dan harus mengatasi banyak rintangan luar biasa hingga akhirnya bersatu kembali. “Pada waktu pengelanaannya itu yang kemudian banyak berkembang versinya,” ujar Titi Surti Nastiti, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Di dalam pengelanaannya, Panji dan Candra Kirana kerap kali menyamar. Candra Kirana bahkan dikisahkan menyamar sebagai laki-laki. “Ini adegan rawan. Dia tertarik pada Candra Kirana ketika masih berwujud lelaki tanpa tahu ini samarannya,” ujar Seno. “Ini kode tentang pluralitas seksual.” Karenanya, menurut Seno, semua yang kini bisa ditemukan di dalam karya sastra kontemporer, nyatanya sudah ditemukan di dalam sastra lisan Nusantara. “Tema ketersamaran gender ini kembali dan menyeruak,” kata Seno. Panji dan Rama dalam Relief Candi Pada masa Jawa Kuno, kisah Ramayana dan Panji terpahat dalam bentuk relief di candi-candi utama Jawa. Relief kisah Rama dan Sita bisa ditemukan di Candi Siwa dan Brahma di Kompleks Candi Prambanan dari abad ke-9 dan relief candi utama di Kompleks Candi Panataran, Blitar dari masa Majapahit. Sementara cerita Panji muncul pada banyak candi dari era Majapahit akhir, misalnya Candi Gambyok, Candi Panataran, Candi Gajah Mungkur, Candi Yuddha, dan Candi Sakelir. Kisah Ramayana pada Candi Siwa di Kompleks Candi Prambanan dimulai dari adegan Rama mengikuti sayembara untuk mendapatkan Sita. “Adegan percintaan dalam relief-relief candi dari abad ke-8 hingga ke-10 masih sangat sopan, hanya duduk berdua di kamar. Tapi pada masa yang lebih kemudian adegannya lebih berani, mangku memangku,” kata Titi. Menurut peneliti kisah Panji dari Jerman, Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit , kenikmatan erotis yang beragam diungkapkan dalam cerita Panji. Pertemuan seksual sering digambarkan dengan cara yang sangat romantis dan realistis. “Pelukisan adegan atau perilaku erotis, emosi, hasrat, keinginan dan kerinduan, cinta seksual, semuanya dimaksudkan agar menimbulkan efek rasa asmara pada penonton,” kata Lydia. “Penonton akan diharu-biru emosi erotis.”*
- Hukuman Mati bagi Menteri Korup
EDHY Prabowo dan Juliari Batubara, dua mantan menteri Kabinet Indonesia Maju yang terjerat kasus korupsi terancam hukuman mati. Pernyataan ini dikemukakan oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharij Hiariej. Menurutnya, mereka layak dituntut dengan ketentuan Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang pemberatannya sampai kepada pidana mati. Seperti diketahui, Edhy Prabowo merupakan tersangka penerima suap izin ekspor benih lobster ketika menjabat menteri kelautan dan perikanan. Sementara itu, Juliari Batubara adalah menteri sosial yang mengkorupsi proyek bantuan sosial (bansos) penangangan Covid-19. Keduanya terciduk dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Mereka melakukan kejahatan itu dalam keadaan darurat Covid-19 dan mereka melakukannya dalam jabatan. Dua hal yang memberatkan itu sudah lebih dari cukup untuk diancam dengan Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor,” kata Edward dalam seminar nasional “Telaah Kritis terhadap Arah Pembentukan dan Penegakkan Hukum di Masa Pandemi” pada 16 Februari 2021. Pidana mati terhadap menteri yang korup bukanlah wacana baru. Sepanjang pemerintahan di Republik ini, tercatat seorang menteri pernah divonis mati dengan dakwaan korupsi. Menteri tersebut ialah Jusuf Muda Dalam. Pada era Presiden Sukarno, Jusuf menjabat sebagai menteri urusan bank sentral merangkap sebagai gubernur di Bank Indonesia. Kiprah Jusuf Muda Dalam bermula sejak masa perang kemerdekaan. Dia berjuang di negeri Belanda sebagai jurnalis De Waarheid , harian Partai Komunis Belanda yang memberitakan kemerdekaan Indonesia. Ketika pulang ke Indonesia, Jusuf menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Pada 1956, Direktur Bank Negara Indonesia (BNI) Margono Djojohadikusumo mengajaknya untuk menjalankan bank tersebut. Dari situ, karier Jusuf kian moncer. Pada 1959, dia sudah menduduki jabatan presiden direktur BNI yang kemudian memuluskan jalannya menuju kursi menteri. Jusuf Muda Dalam dikenal sebagai salah seorang menteri terdekat Sukarno. Pada salah salah satu edisi majalah Berita Fakta Indonesia & Internasional yang terbit tahun 1966, Jusuf Muda Dalam disebutkan berusia 51 tahun dan dilahirkan di Sigli, Aceh. Orangnya banyak senyum, dihiasi oleh kumis kecil ala aktor Hollywood Clark Gable. Pakaiannya selalu necis dan up to date . Sebagai menteri, kehidupan pribadi Jusuf menuai sorotan miring karena skandalnya dengan banyak perempuan. Aksi demonstrasi mahasiswa pasca peristiwa G30S 1965, kerap kali menyerukan Jusuf sebagai menteri tukang kawin sekaligus menuntutnya untuk diadili. Dalam situasi perekonomian terpuruk akibat inflasi besar-besaran, maka Menteri Jusuf dianggap tidak berempati terhadap penderitaan rakyat. Setelah Surat Perintah 11 Maret 1966 terbit, Jusuf menjadi salah satu dari 15 menteri yang ditangkap. Dalam penangkapan tersebut, Letjen Soeharto pemangku Supersemar yang menjabat panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), menggolongkan Jusuf Muda Dalam pada kategori tiga, yaitu mereka yang hidup amoral dan asosial di atas penderitaan rakyat. Setelah ditangkap, Jusuf Muda Dalam menjadi menteri pertama yang diadili pada Agustus 1966. Persidangannya disaksikan oleh begitu banyak orang yang datang berjubel-jubel. Vishnu Juwono dalam Melawan Korupsi: Sejarah Pemberantasan Korupsi di Indonesia mencatat Jusuf Muda Dalam didakwa dengan dakwaan berlapis. Gugatan itu antara lain penyelundupan senjata dan amunisinya maupun bahan peledak berbahaya dan menyelewengkan dana revolusi senilai lebih dari Rp 97 miliar. Angka persis uang negara yang digelapkan Menteri Jusuf berdasarkan temuan Tim Penertiban Keuangan (Pekuneg) adalah sebesar Rp97.334.844.515. Jusuf didakwa menyelewengkan duit hasil proses deferred payment . Ini adalah kredit luar negeri dengan jangka waktu satu tahun yang digunakan untuk mengimpor barang-barang. Pemegang izin deferred payment ini diwajibkan menyetor kepada dana revolusi sejumlah yang ditentukan oleh BNI dalam bentuk uang dan devisa luar negeri. Satu dakwaan lain yang memang diakui Jusuf adalah mengawini lebih dari empat perempuan. “J.M.D ingkari semua tuduhan, kecuali mengenai soal kawin,” tulis berita Kompas , 8 September 1966 seperti dikutip Vishnu. Kendati demikian, penangkapan terhadap Jusuf Muda Dalam tidak lepas dari nuansa politis. Menurut Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia , semua menteri yang masuk daftar penangkapan lebih karena kesungguhan mereka membantu presiden dan bukannya kegagalan mereka yang menyebabkan mereka ditangkap. Semuanya, kelima belas orang menteri itu disinyalir mendukung presiden dalam usaha mengembalikan tentara di bawah kontrolnya. Sementara itu, pengadilan terhadap Jusuf Muda Dalam, kata Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang , memang sengaja diselenggarakan secara terbuka oleh penguasa militer. Lewat sosok Jusuf, satu-satunya petunjuk untuk bisa menunjukan keterlibatan Peking dengan aksi petualangan PKI. Hal ini sekaligus bisa dipakai untuk mulai menekan Presiden Sukarno mengingat kehidupan pribadi Bung Karno dan Jusuf banyak memiliki keterkaitan dan kemiripan. Dalam pembelaannya, Jusuf mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mendukung aksi revolusioner Sukarno berdasarkan dukungan kabinet. Akhirnya, dia dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. Upayanya untuk banding ditolak pada 1967. Belum tiba hari eksekusinya, Jusuf Muda Dalam sudah meninggal dalam tahanan pada 26 Agustus 1976 akibat terkena tetanus. Berakhirlah perkara Jusuf Muda Dalam yang disebut-sebut sebagai menteri paling korup era Orde Lama itu.*
- Ketika Rosihan Anwar Ikut Sidang Kabinet RI
YOGYAKARTA, Februari 1947. Sebuah mobil memasuki halaman kepresidenan. Di depan ruang tunggu pada sayap kiri gedung kediaman Presiden mobil berhenti. Menteri Sosial Maria Ulfah Santoso keluar, mengapit tas, naik ke beranda, lalu menghilang ke belakang. Wakilnya Mr. Abdulmajid Djojodiningrat mengikuti dari belakang. Langkahnya santai saja. Tidak lama, decit ban mobil kembali menggeser pasir dan kerikil istana. Muncul Syafruddin Prawiranegara, Menteri Keuangan. Di belakangnya sang wakil Lukman Hakim terlihat berlari kecil. Mobil berikutnya tiba. Kini muncul Menteri Pekerjaan Umum Martinus Putuhena, bersama Menteri Muda Pekerjaan Umum Herling Laoh. Keduanya melempar senyum lebar ke arah wartawan Siasat Rosihan Anwar. “Demikianlah mereka datang. Dua-dua, terkadang sendirian menyelinap dari samping seperti Menteri Negara Wikana atau melenggang besar-besar dari muka seperti Menteri Kesehatan Darmasetiawan. Demikian para menteri dalam berbagai gaya serta ragamnya datang berkumpul di Kepresidenan untuk bersidang jam 10 pagi sebagaimana tercantum dalam acara rapat,” kata Rosihan dalam bukunya, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 7.
- Membuka Mata dan Hati Setelah Multatuli Pergi
HARI ini, 19 Februari 2021, tepat 134 tahun wafatnya Eduard Douwes Dekker atau kondang dikenal dengan nama penanya, Multatuli. Novelnya yang terbit pada 1860, Max Havelaar , ramai diperdebatkan dan digunjingkan secara teknis maupun substantif. Ironisnya rakyat Lebak yang jadi objek cerita novelnya justru minim perhatian. Kekosongan itulah yang coba ditutup oleh film dokumenter Setelah Multatuli Pergi (2020). Film tersebut berangkat dari impian seorang Belanda bernama Arjan Onderdenwinjgaard, wartawan lepas Katholieke Radio Omroep yang pada 1980-an ke Indonesia dan blusukan ke Kabupaten Lebak. Beberapa hasil footage yang diambilnya kala itu turut dijadikan “bahan jahitan” dalam Setelah Multatuli Pergi yang penggarapannya dibantu oleh sineas Yogi D. Sumule. Film berdurasi 90 menit itu diputar perdana di pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, secara terbatas pada 7 Maret 2020. Namun mulai hari ini, Jumat (19/2/2021), film itu bisa disaksikan khalayak lebih luas lewat penayangan secara daring oleh Erasmus Huis Jakarta. “Kebetulan banyak hal yang kami temui di tahun 1987 masih sangat mirip dengan zamannya Multatuli. Semisal tentang perjalanan kami yang terjebak di lumpur untuk menuju Desa Badur (desa latarbelakang kisah Saidjah dan Adinda di Max Havelaar , red. ). Seratus tahun lebih setelah Multatuli jalan di sana masih sama,” ujar Arjan dalam dialog sejarah bertajuk “Cerita di Balik Film Setelah Multatuli Pergi ” di Youtube dan FacebookHistoria . id , Jumat (19/2/2021). Baca juga: Yang Lestari Setelah Multatuli Pergi Arjan Onderdenwinjgaard, produser Setelah Multatuli Pergi (Dok. Arjan Odw). Kondisi desa yang masih relatif sama kendati waktu telah bergeser seabad itulah yang menjadi kegelisahan Arjan. Ia tak peduli banyaknya perdebatan yang mengitari Max Havelaar , fiktif atau fakta, atau cap terhadap Multatuli apakah dia whistleblower atau sekadar eks-pejabat kolonial yang “julid” terhadap negerinya. Inti keresahannya adalah, tiada satu pun forum-forum semacam itu yang memperhatian rakyat Lebak itu sendiri. “Selama 160 tahun Max Havelaar diteliti setiap koma dan titik, di mana itu didiskusikan. Tapi tidak ada yang tanya bagaimana dengan rakyat Lebak? Itu aneh. Karena tanpa rakyat Lebak, tidak akan ada Multatuli dan tidak akan ada Max Havelaar, ” kata Arjan . Padahal, lanjut Arjan, Max Havelaar ibarat jendela bagi orang-orang di Belanda untuk memahami tentang arti kolonialisme itu sendiri. Bagaimana Multatuli menggambarkan kolonialisme dari tiga sisi yang mana, warga bumiputera bergulat dengan kehidupannya yang pahit di antara himpitan kolonialisme Belanda dan feodalisme lokal. Hal itu masih terjadi hingga hari ini, mengingat infrastrukturnya masih “11-12” seperti di abad ke-19 dan pemerintahan lokalnya masih dikuasai kaum elite. Baca juga: 200 Tahun Multatuli, Penyadar Rakyat Indonesia Hal itu pula yang membuat Yogi tertarik membantu Arjan dan sejarawan cum Pemimpin Redaksi Historia.id Bonnie Triyana menggarap film tersebut pada 2019. Yogi mengenal Multatuli lewat “perantara” Pramoedya Ananta Toer. Pram merupakan sastrawan yang “menghidupkan” kembali sosok Multatuli lewat karyanya yang ia terbitkan pertamakali dalam bahasa Inggris pada 1999, Best Story: The Book That Killed Colonialism (terj. Max Havelaar: Buku yang Membunuh Kolonialisme ). “Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia, karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya di bawah pengaruh Jawanisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah,” kata Pram mengenang usulannya mendirikan patung Multatuli yang ditolak Presiden Sukarno yang dituangkan dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian . Sutradara dan produser film Setelah Multatuli Pergi, Yogi D. Sumule. (Dok. Historia.id ). Baca juga: 150 Tahun Max Havelaar Menurut Yogi, ada dua faktor yang membuatnya tertarik menyutradarai Setelah Multatuli Pergi . “Pertama alasannya dari Arjan, soal pertanyaan apa sih yang terjadi dengan warga Lebak pasca-kepergian Multatuli? Lalu dari Bonnie, tentang warga Lebak sepertinya sampai hari ini pun tak bisa berharap banyak dari siapa-siapa, hingga akhirnya mereka kembali ke Tuhan,” kata Yogi. Setelah Multatuli Pergi tak hanya menampilkan paparan historis. Pesan yang jauh lebih penting di dalamnya adalah kritiknya. Kritik untuk elite pemerintahan bertujuan agar mereka mau lebih perhatian kepada warga di pelosok Lebak, seperti Desa Badur, misalnya. Lalu, kritik selanjutnya ditujukan untuk masyarakat awam Indonesia dewasa ini, bahwa ada masyarakat sesama warga Indonesia yang berdiam tak jauh dari ibukota, justru punya kehidupan jauh berbeda. “Kita selama ini terlalu asyik dengan yang di luar jauh dari Jakarta. Kita enggak pernah lihat yang tinggalnya 40 menit dari Jakarta, kalau naik kereta ( commuter line ). Bahwa ada lho tetangga kita yang menarik untuk dilihat dari sisi itu. Saya begitu duduk ngobrol langsung dengan mereka, ya ampun! Begini banget ya hidup orang-orang Lebak. Ini juga sindiran kepada kita, kok yang bikin orang Belanda lagi. Harusnya lebih banyak orang Indonesia daripada dianggap enggak peduli sama sejarah dirinya sendiri,” imbuhnya. Agar Pemikiran Multatuli Lestari Setelah Multatuli Pergi secara tak langsung mengajak penontonnya untuk mau membaca ulang Max Havelaar. Tujuannya untuk mengetahui, memahami, lalu menghidupkan dan melestarikan pemikiran Multatuli. Kendati dikemas dalam fiksi, ia juga mengandung realitas yang bahkan masih terasa sampai hari ini. Novelis Ayu Utami melihat bahwa film tersebut seakan menegaskan bahwa Max Havelaar sebagai karya sastra berasal dari kumpulan cerita faktual yang dibungkus fiksi dan menjadi buah dari sebuah strategi. Strategi untuk memicu perubahan dengan gaya sastra demi bisa diterima semua kalangan, terutama di Belanda. “Saya jadi ingat zaman Orde Baru. Saat itu ada slogan ‘Ketika pers dibungkam, sastra harus bicara.’ Maka untuk menuliskan sejarah, caranya melalui karya sastra yang bertopeng fiksi agar lebih aman. Kalau buku sejarah kan punya syarat-syarat tersendiri, harus faktual, ada verifikasi dan sebagainya, prosesnya jadi lebih panjang. Sementara esensi pengalaman manusia itu berupa emosi yang subyektif enggak bisa diceritakan. Di situlah orang-orang menempuh jalan sastra atau novel, meski novel belum tentu sepenuhnya fiksi,” Ayu menimpali. Baca juga: Jalan Multatuli Menuju Lebak Novelis Justina Ayu Utami. (Dok. Historia.id ). Penulis roman Saman (1998) dan Bilangan Fu (2008) itu juga melihat MaxHavelaar semacam otobiografi Multatuli yang difiksikan. Isinya berdasarkan pengalaman Multatuli selama jadi pejabat pemerintahan kolonial di Mandailing Natal, Manado, Ambon, hingga Lebak. “Jadi pengalaman nyatanya Eduard Douwes Dekker kemudian diolah menjadi kuasi fiksi. Tetapi fiksi itu mampu mengadakan perubahan juga dalam kenyataan. Karena saya melihat Max Havelaar merupakan suatu strategi, suatu kenyataan yang abu-abu dari pengalaman dia sebagai asisten residen. Makanya kini kita sendiri juga harus hati-hati karena sejarah enggak semuanya faktual dan sebuah novel juga belum sepenuhnya fiksi,” tambahnya. Baca juga: Van Halen, Van Banten Ayu insyaf selama ini nama Multatuli kurang familiar dalam sastra di Indonesia. Penyebabnya antara lain, anggapan bahwa Multatuli adalah seorang yang tak patut dihargai dan dipuja karena dia orang Belanda yang berkarier di pemerintahan kolonial. Oleh karena itu Ayu ingin menyadarkan generasi muda Indonesia untuk membuang pikiran itu jauh-jauh karena pemikiran Multatuli terkait kemanusiaan dan anti-kolonialisme justru patut dilestarikan. “Kebetulan saya ada proyek, namanya Peta Sastra. Mengajarkan orang awam dan anak-anak sekolah untuk bisa memahami sastra sebagai sejarah pemikiran, terutama mengenai kebangsaan. Saya memulainya dengan Multatuli dan Kartini. Kita bisa menggabungkan dua disiplin ini (sejarah dan sastra) untuk melihat bagaimana formasi bangsa ini dari pemikirannya dan buat saya, Multatuli harus bisa dibaca dalam pelajaran sastra dan pelajaran sejarah,” lanjut Ayu. Ubaidillah Muchtar, Kepala Museum Multatuli di Lebak, Banten. (Dok. Historia.id ). Upaya itu berparalel dengan yang dilakukan Museum Multatuli di Rangkasbitung sejak berdirinya pada 2018. Museum itu sendiri awalnya dikitari kontroversi penolakan berbagai pihak di Lebak karena dianggap mengkultuskan orang asing. Perlahan, museum itu bisa diterima lebih luas tidak hanya sebagai ruang publik yang bisa dinikmati siapapun, namun juga wahana edukasi yang tak melulu tentang Multatuli. Beragam aspek kehidupan terkait sejarah Lebak seperti kisah tokoh Nyimas Gamparan, Pemberontakan Petani Banten pada 1888, atau tokoh-tokoh kondang yang punya kaitan dengan Banten, semisal dewa gitar Eddie van Halen yang ibunya berasal dari Rangkasbitung ikut dipamerkan museum itu. “Terlepas dari awalnya ada penolakan, bagaimanapun juga kita harus hadir karena museum ini tidak melulu mengkultuskan Multatuli tetapi juga bagaimana (menyampaikan) ide-idenya tentang kemanusiaan, kesetaraan, dan antikolonialisme,” terang Kepala Museum Multatuli Ubaidillah Muchtar. Baca juga: Museum Multatuli, dari Rangkasbitung untuk Dunia Museum Multatuli jadi wahana edukasi yang kemudian menutup celah nihilnya pengetahuan tentang sosok Eduard Douwes Dekker di ruang kelas maupun buku pelajaran. Ubay tahu betul bahwa Multatuli tak pernah diajarkan di ranah pendidikan formal, berangkat dari pengalaman Ubay sebelumnya sebagai guru di sebuah SMP di Rangkasbitung. “Sampai hari ini pun Multatuli belum jadi bacaan wajib di sekolah. Itu jadi PR kita (Museum Multatuli) di Rangkasbitung, di mana anak-anak bisa banyak belajar tidak hanya tentang Multatuli, namun juga tentang masuknya dan prosesnya kolonialisme di Nusantara, bagaimana perjuangan orang-orang Banten yang heroik, di mana dimulai dengan kalimat Multatuli bahwa banyak orang Banten mengibarkan bendera pemberontakan terhadap Belanda,” tutupnya.
- Hatta Bertanya, Agus Salim Menjawab
FEBRUARI 1920. Purnama nampak di atas Batavia saat tiga pemuda berdiri di depan pintu rumah Haji Agus Salim, seorang tokoh Sarekat Islam (SI). Mereka adalah Mohammad Hatta, Amir, dan Bahder Djohan. Ketiga pemuda asal Sumatra itu tengah aktif belajar dan berorganisasi, utamanya organisasi pergerakan. Dahaga kesadaran nasional telah membawa mereka kepada pencarian para lakon utama gerakan kemerdekaan. Hatta dan kawan-kawannya datang pada waktu yang dijanjikan. Ketika sampai, mereka disambut keramaian suasana di rumah Haji Agus Salim. Ada sejumlah besar pemuda yang telah lebih dahulu tiba di sana. Mereka terlihat asik mendengarkan cerita-cerita Agus Salim. “Apakah beliau lupa akan menerima kita pada malam ini?” tanya Hatta. “Ah, tidak! Itu sudah kebiasaan baginya, kecuali kalau ada pembicaraan yang tidak boleh diketahui orang lain. Ia selalu dikerumuni oleh yang muda-muda. Pemuda gemar sekali menanyakan ini dan itu kepada beliau dan tidak ada pertanyaan yang tidak terjawab,” ujar Amir. Belum sempat Hatta mengucapkan salam, Agus Salim telah berdiri dan melempar terlebih dahulu salam kepada mereka. Ia beranjak dari kursinya, lalu berjalan menuju Hatta yang berdiri di tengah pintu. Sambil mengulurkan tangan, Agus Salim menanyakan kabar tiap-tiap orang. Bagi Hatta, sebagaimana diceritakan dalam otobiografinya, Memoir , sikap itu merupakan perangai seorang pemimpin besar. Keramahannya ke luar dari hati, tidak dibuat-buat. Setelah memberi salam kepada tamu lain, Hatta dipersilahkan duduk. Mula-mula ketiganya mengungkapkan tujuan kedatangan mereka ke kediaman Agus Salim, yang segera disusul oleh beragam pertanyaan tentang isu-isu di masyarakat. Agus Salim menjadi pembicara utama malam itu. Para pemuda lebih banyak mendengarkan, kecuali ada pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Hatta memulai percakapan malam itu dengan pengalamannya ikut membantu kantor sang paman yakni Ayub Rais, yang menjual hasil hutan, lada, berjangka penyerahan tiga bulan. Anehnya, barang tidak pernah diserahkan pada waktunya, hanya selisih harga yang diperhitungkan. Cara itu membuat orang yang tidak banyak mempunyai kapital dapat menjual dan membeli barang sampai harga ratusan ribu gulden tiap hari. Keuntungan yang didapat dalam sehari pun bisa mencapai 20 ribu gulden, tapi keesokannya bisa saja merugi dalam jumlah yang hampir sama. Bagi Hatta, cara seperti itu tidak sehat. Namun praktek dagang spekulasi semacam itu semakin banyak dilakukan pedagang bumiputera. “Ya, itu adalah praktek dagang dalam kapitalisme,” kata Agus Salim. “Kapitalisme juga telah berkuasa di sini dan orang-orang kita yang mengerjakan dagang mau tak mau masuk ke dalam arusnya. Atau menjadi budak kapitalisme, melakukan barang-barang mereka atau memberikan barang-barang mereka yang mereka sendiri menentukan harga dan syarat-syarat lainnya.” Agus Salim kenal betul Ayub Rais. Ia memulai usahanya dari bawah. Dengan tidak mempunyai modal, Rais sanggup mengangkat dirinya menjadi kapitalis besar. Dia penuh inisiatif, kuat bertindak, dan seorang self made man . Sayang, jentera kapitalisme yang dibawa bangsa asing telah menjeratnya ke dalam sistem dagang besar. Tetapi kendatipun ia seorang kapitalis yang terkesan mementingkan diri sendiri, Ayub Rais mempunyai rasa sosial yang besar. Ia kerap membantu orang-orang melarat yang meminta tolong kepadanya. Bantuan kepada pembangunan masjid-masjid juga tidak sedikit ia keluarkan. Terlebih, kehidupannya tetap terjaga dengan sederhana, jauh dari kemewahan layaknya seorang kapitalis besar. “Tetapi betapapun baiknya bagi dia, kapitalisme jangan kita bantu. Sedapat-dapatnya kita tolong menghancurkannya. Kapitalismelah yang menjadi dasar penjajahan Belanda di sini,” ujar Agus Salim. Uraian dari Agus Salim itu membuat semangat para pemuda kian menggebu-gebu. Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti diajukan. Sesekali Agus Salim memberi candaan yang membuat pertemuan malam itu semakin ceria. Saat tiba giliran Amir, suasana kembali serius. Ia bertanya: “Bagaimana menyesuaikan kapitalisme dengan Islam, sebab sosialisme yang didirikan Karl Marx bersifat matrealisme, anti-Tuhan?” “Nabi Muhammad SAW yang diutus oleh Tuhan mengembangkan Islam di atas dunia ini sudah 12 abad lebih dahulu dari Marx mengajarkan sosialisme. Perkataan sosialisme baru didapat dalam abad ke-19. Sosialisme Marx anti-Tuhan. Tetapi tujuan yang hendak dicapai masyarakat yang berdasarkan sama rasa sama rata yang bebas dari kemiskinan, sudah lebih dahulu dibentangkan di dalam Islam, agama Allah yang disampaikan Nabi Muhammad kepada umat manusia,” jawab Agus Salim. “Sayangnya, ulama-ulama kita hanya mengutamakan segi ibadatnya dan fiqih, tapi melupakan segi kemasyarakatan itu daripada Islam. Mengerjakan segi kemasyarakatan itu ialah juga perintah Allah dalam Qur’an. Dari ulama-ulama kita didikan langgar yang pengetahuannya berat sebelah tidak dapat diharapkan bahwa mereka akan sanggup menelaah segi kemasyarakatn itu dalam Islam,” lanjutnya. Rupanya paham sosialisme didapat Agus Salim dari seorang guru ekonomi, saat ia bersekolah di GBS Salemba. Guru itu seorang sosial-demokrat. Sewaktu Agus Salim pergi ke Jeddah, Mekah, pada 1906, keyakinan sosialisme sudah cukup mengakar dalam dirinya. Dan Islam yang dipelajarinya di sana membuat paham itu semakin kuat. Menurut Agus Salim, Islam adalah sosialisme yang diperintahkan Allah SWT. Uraian Agus Salim itu membuat keyakinan Hatta terhadap sosialsime, yang sebelumnya telah bersarang dalam dirinya, kian menguat. Ia merasa perlu mencoba menyelami dasar-dasar sosialisme itu dari ajaran Islam. Meski memerlukan waktu lebih lama baginya untuk menjalankan niat tersebut karena keterbatasan kemampuan berbahasa Arab. Ia mencoba menunggu hingga dikeluarkannya salinan Al-Qur’an dalam bahasa Melayu. “Aku merasa gembira bertemu pada malam itu dengan dia. Ada kata-katanya yang menimbulkan tantangan dalam hati, tetapi belum berani mendebat. Ada pula pendapatnya yang memperkuat pendirian kami menuju kepada satu jurusan,” ujar Hatta.*
- Jasa Shibata untuk Indonesia
DALAM sebuah kesempatan ketika berkunjung ke Jepang tahun 1950, Dokter R. Soeharto menyempatkan diri ke Yokohama. Di kota tersebut, dokter pribadi Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta itu bertandang ke kediaman mantan Laksamana Yaichiro Shibata. Kunjungan tersebut dilakukannya untuk mengantarkan titipan Bung Karno. “Bung Karno menitipkan sebuah bingkisan dalam amplop agar disampaikan kepada eks Laksamana Shibata,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah . Di kediaman Shibata yang amat sederhana, Soeharto mendapat sambutan hangat. Dia lalu memberikan titipan Presiden Sukarno kepada tuan rumah. “Senang sekali ia menerima bingkisan itu dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Bingkisan itu dikirimkan oleh Bung Karno sebagai kenang-kenangan dan tanda ucapan terima kasih,” sambung Soeharto. Ucapan terimakasih Bung Karno ditujukan untuk membalas kebaikan Shibata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana bawahannya, Laksamana Maeda, Panglima Kaigun (AL Jepang) di Indonesia semasa Perang Dunia II Laksamana Shibata menunjukkan dukungannya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Simpati Shibata terhadap nasionalisme Asia Tenggara bukanlah hal baru. Pada Oktober 1935 dia termasuk di antara sekelompok orang Jepang terkemuka yang menyambut pemimpin Filipina Sakdalista, Benigno Ramos, ke Tokyo,” tulis Bennedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 . “Laksamana Madya Yaichiro Shibata hampir tidak menyembunyikan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia.” Tatkala posisi Jepang sudah diambang kekalahan dalam Perang Dunia II, Shibata menyatakan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia lewat pertemuan dengan Bung Karno di Bali, Juli 1945. Pertemuan yang juga diikuti Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo itu diketahui Dokter Soeharto yang diajak Bung Karno mendampingi ke Bali. “Pada suatu hari di bulan Juli Bung Karno meminta pada saya agar stand by , karena sewaktu-waktu hendak mengajak saya terbang ke Bali. Maksud perjalanan ke Bali itu untuk menemui Laksamana Yaichiro Shibata, Panglima Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang membawahi Nusantara, kecuali Sumatra dan Jawa,” kata Soeharto. Pertemuan ketiga pemimpin bangsa Indonesia dengan Shibata berlangsung di Singaraja. Tak ada satupun dari ketiga pemimpin Indonesia itu yang menyebutkan hasil dari pertemuan tersebut. Namun, Soeharto dapat mengetahuinya karena diceritakan Soebardjo usai pertemuan. “Pak Bardjo mengatakan kepada saya, Shibata menaruh simpati besar terhadap perjuangan mewujudkan Indonesia Merdeka dalam waktu dekat, dan akan memberikan segala bantuan yang mungkin dapat ia berikan,” sambung Soeharto. Shibata tak melanggar janjinya. Dukungan itu dia buktikan tak lama setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. “Sejak akhir bulan Agustus ia telah mulai memberikan senjata-senjata kepada unsur-unsur pemuda tertentu,” tulis Ben Anderson. Di Surabaya, tempatnya menetap setelah di Bali, dukungan Shibata dibuktikan lewat penyelesaian konflik antara pemuda pejuang dengan Kenpeitai ketika sekira 700 pemuda pejuang di bawah pimpinan Soengkono menyerbu kantor Kenpeitai untuk meminta persenjataan mereka. Mereka mengingingkan senjata hanya untuk menghadapi Belanda yang akan kembali menjajah, kata Sungkono. “Baiklah akan saya selesaikan,” kata Shibata kepada Soengkono sebagaimana dikutip Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya . “Akhirnya Laksamana Shibata menemui pimpinan mereka (Keinpetai, red .). Ia menyatakan bahwa senjata sudah ada di bawah pengawasan Polisi Indonesia dan akan diserahkan kepada Residen Sudirman,” sambung Notosusanto. Pada 3 Oktober 1945, Shibata secara resmi menyerahkan persenjataan Kaigun kepada Kapten Huijer, perwakilan South East Asia Command/Sekutu. Penyerahan itu secara simbolik dilakukannya dengan menyerahkan pedangnya kepada Huijer. Keputusan itu diambil Shibata karena Huijer menuntut penyerahan senjata Jepang agar tidak jatuh ke tangan para “ekstremis”. Senjata-senjata itu kemudian, dengan persetujuan Huijer, akan dijaga para anggota Komite Nasional Indonesia, yang dalam penilaiannya cukup moderat, hingga pasukan Sekutu tiba. Shibata mematuhi tuntutan Huijer tentu dengan alasan akan terbebas dari tanggungjawab menjaga keamanan yang kian kacau. Namun lebih dari itu, Shibata yang telah mengenal kondisi masyarakat Indonesia dan bersimpati pada kemerdekaan mereka, yakin senjata-senjatanya akan jatuh ke tangan para pemuda-pejuang Indonesia karena para anggota KNI yang dipercaya Huijer menjaga persenjataan itu takkan mampu menjalankan tugasnya. Namun, di lapangan keadaan berjalan tak semudah yang dibayangkan. Beberapa kesatuan militer Jepang menolak menyerahkan persenjataan mereka. Ketegangan pun terjadi antara mereka dengan para pemuda-pejuang. “Mereka bersedia menyerahkan senjata yang ada, asal ada perintah dari atasan, yakni Laksamana Shibata pimpinan tertinggi Angkatan Laut Jepang untuk wilayah timur,” tulis Irna HN Soewito dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan , Vol. 1. Keesokan harinya, Shibata memerintahkan para bawahannya agar menyerahkan persenjataan mereka kepada Indonesia. Dengan begitu, tanggung jawab penyerahan senjata itu kepada Sekutu nantinya menjadi tanggung jawab Indonesia sepenuhnya. Sementara, mulai saat itu tanggung jawab keamanan di Surabaya sudah berada di pundak Huijer, bukan lagi di pundak Jepang. Seruan Shibata kemudian dipatuhi para bawahannya. Panglima AD setempat, Mayjen Iwabe Syigeo, pun mengikuti langkah Shibata dengan menyerahkan persenjataan pasukannya kepada Polisi Indonesia. Langkah Shibata kemudian terbukti tidak meleset. “Ternyata kemudian bahwa KNI itu tidak mempunyai kemampuan dan juga tidak mempunyai keinginan untuk mematuhi persetujuan itu. Dengan demikian semua senjata dan mesiu milik komando Angkatan Laut di Surabaya jatuh ke dalam tangan KNI dan Polisi Istimewa pada namanya saja, sedangkan pada praktiknya jatuh ke tangan BKR, kelompok-kelompok pemuda, pasukan-pasukan polisi, dan bahkan gerombolan-gerombolan yang masih kurang terorganisasikan,” tulis Ben Anderson.*
- Moerad, Sjahrir, Hatta dan Persahabatan yang Terlupakan (2)
DI Digul, Moerad hidup dalam situasi pengasingan yang tentu saja jauh dari kenyamanan. Kepada anak-anaknya, dia pernah berkisah bagaimana liarnya alam di tanah Papua itu. Selain gangguan nyamuk malaria dan binatang berbisa seperti ular batik, para digulis pun harus menghadapi kerasnya perlakuan petugas-petugas yang dibayar oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi mereka.
- Tionghoa di Tengah Arus Penyebaran Islam di Nusantara
Sejarah Islam di Tiongkok selaras dengan sejarah Islam di Nusantara. Khususnya yang terjadi pada abad ke 15-16. Masyarakat Tionghoa pun dinilai memiliki peran dalam persebaran Islam ke Nusantara. “Islam di Nusantara cenderung datang dari Persia dan Arab. Peranan Tionghoa dalam penyebaran Islam di Jawa perlu dipertimbangkan,” ujar Sumanto Al-Qurtubi, pengajar antropologi di King Fahd University of Petroleum & Minerals, dalam Dialog Sejarah berjudul “Arus Tiongkok dalam Penyebaran Islam ke Nusantara” live di Facebook dan Youtube Historia.id , Kamis (18/2/2012). Permukiman Tionghoa Komunitas Tionghoa sudah lama hidup sebagai bagian dari masyarakat Nusantara. Bahkan, mereka tinggal di wilayah kerajaan Islam, seperti Samudera Pasai, Banten, kota pelabuhan Jepara, pusat penyebaran Islam Kudus, dan Kerajaan Tayan. Libra Hari Inagurasi, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mencatat, jejak arkeologi kehadiran masyarakat Tionghoa ditemukan di sepanjang pesisir Pantai Timur Sumatra dari selatan ke utara, Pantai Utara Jawa, dan Kalimantan Barat. Baca juga: Meninjau Kembali Proses Masuknya Islam ke Nusantara Di Pantai Timur Sumatra, terdapat di Situs Kota Cina (Medan), Samudera Pasai (Aceh Utara), Lamreh, dan Ladong (Aceh Besar). Situs-situs itu berasal dari kisaran abad ke-12 sampai ke-13 dan abad ke-15. Di Pantai Utara Jawa, titik-titik pengaruh Tionghoa ditemukan di Banten Lama berupa kelenteng, Masjid Pacinan Tinggi yang hanya tersisa menara dan mihrabnya, makam, batu-batu silindris penggilingan tebu, dan toponimi pacinan . Semuanya berada di wilayah Kesultanan Banten. Baca juga: Sultan Banten, Wihara, dan Wabah Penyakit Di Kalimantan Barat jejak permukiman komunitas Tionghoa ditemukan di wilayah Kerajaan Tayan, Sanggau. Tepatnya di tepi pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Tayan.“Menariknya di tengah Sungai Kapuas ada Pulau Tayan. Ini pulau khusus untuk permukiman Tionghoa. Di situ ada kelenteng,” kata Libra. Libra menjelaskan, arus kedatangan masyarakat Tionghoa secara dinamis,berkelanjutan dan bertahap. Permukimannya biasanya terletak di kawasan perairan. “Mereka mendarat, bermukim di situ dan membangun usaha. Mereka punya keahlian seperti pengusaha, pembuatan gula, ahli mengukir, memahat, dan ahli bangunan,”kata Libra. Tersua dalam Sumber Tertulis Sumanto yang menulis buku Arus Cina-Islam-Jawa , merekonstruksi peran Tionghoa dalam penyebaran Islam di Nusantara lewat sumber-sumber Tingkok, sumber Arab, sumber lokal, peninggalan masjid kuno, dan kelenteng kuno. S umber Tiongkok misalnya catatan Ma Huan, penerjemah resmi yang mendampingi Laksamana Cheng Ho berlayar ke banyak negeri. Ia mencatat petualangannya dalam Yingya Shenglan yang terbit pada 1416. Ma Huan mencatat bahwa penduduk di pantai utara Jawa, yaitu di kota-kota pelabuhan, seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu banyak dikunjungi oleh pedagang asing dari Arab, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Di sana banyak orang Tiongkok dan Arab menetap dan berdagang. Baca juga: Catatan Ma Huan tentang Masyarakat Majapahit Ma Huan menyebutkan, di kota Majapahit ada sekira 200-300 keluarga yang menetap. Penduduknya terbagi menjadi tiga golongan. Pertama , orang Arab atau penganut ajaran Muhammad. Kegiatannya berdagang dan menetap di Jawa. Kedua , orang Tangren atau Tenglang, merujuk pada orang Tionghoa yang berasal dari Guangdong, Zhangzhou, dan Quanzhou. Mereka melarikan diri dari daerah asalnya dan tinggal di Jawa. Menariknya, banyak dari mereka belajar Islam kepada orang-orang Arab. “Ma Huan sendiri adalah muslim. Namanya saja ‘ ma’ , Muhammad Huan, dia ini muslim,” kata Sumanto. Baca juga: Adakah Peran Cheng Ho dan Cina dalam Islamisasi Nusantara? Sumber-sumber lokal, kata Sumanto, juga banyak menceritakan serpihan-serpihan fakta itu. Misalnya, di dalam berbagai tembang dan serat. Sumber Arab seperti catatan Ibnu Battuta yang mengembara dari kota kelahirannya di Tangier, Maroko, ke berbagai belahan dunia. “Sumber ini saya pakai untuk cross check . Sumber-sumber ini juga bercerita tentang komunitas Tionghoa muslim pada abad 15-16,” kata Sumanto. Tionghoa Membangun Masjid Sumanto juga menandai beberapa masjid kuno yang kemungkinan mendapat campur tangan masyarakat Tionghoa. Misalnya, Masjid Agung Demak yang dibangun pada abad ke-15. Soko tatal pada masjid ini dibangun dengan cara yang sama dengan gaya pembuatan tiang di Tiongkok. “Jadi ada beberapa hal yang ada di Masjid Demak itu sama dengan yang terjadi di Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368–1643),” kata Sumanto. Baca juga: Legenda Kota Suci Demak Begitu juga Masjid Sekayu di Semarang yang dibangun pada abad yang sama. Pada belandar masjid ini ditemukan kaligrafi Tionghoa. “Diduga masjid itu dibuat oleh orang-orang Tionghoa muslim,” kata Sumanto. Ada juga Masjid Mantingan di Jepara, Jawa Tengah, yang dibangun pada abad ke-16. Tokoh muslim Tionghoa, Liem Mo Han (Babah Liem) dikenal sebagai arsitek masjid ini. “Di Jakarta, sepertinya juga ada dua masjid,” kata Sumanto. Baca juga: Sejarah Vihara, Tempat Belajar Para Biksu Sumanto juga merujuk pada kelenteng-kelenteng kuno yang kontroversial karena dianggap awalnya masjid kemudian dialihfungsikan menjadi kelenteng.Di antaranya adalah Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya dan Kelenteng Talang di Cirebon. “Itu kelenteng-kelenteng tua yang dibangun sebelum masa kolonial. Kelenteng Talang di Cirebon, misalnya, didesain seperti masjid bukan seperti kelenteng,” kata Sumanto. Klenteng Talang di Cirebon. ( disparbud.jabarprov.go.id ). Tokoh Tionghoa Muslim Terkenal Selain masjid, makam menjadi petunjuk keberadaan tokoh Tionghoa muslim. Seperti makam Ki Telingsing di Kudus. “Ada yang bilang ini teman Sunan Kudus, tradisi lokal bilang begitu,” kata Sumanto. Di Bali dikenal tokoh penyebar Islam bernama Kwan Pao-Lie. Ia dianggap sebagai salah satu dari tujuh wali ( wali pitu ) dalam tradisi Islam di Bali. Baca juga: Kisah Leluhur Walisongo Lalu ada Babah Bantong di Cirebon yang dihormati. “Pram mengajukan tesis menarik, bahwa Sunan Kalijaga menurutnya adalah Putra Brawijaya, raja Majapahit dari seorang putri Tiongkok muslimah bernama Retna Subanci, putri Babah Ba Tong,” kata Sumanto. Masyarakat di Salatiga, khususnya di daerah Kalibening, mengaitkan sejarah Islamisasinya dengan tokoh bernama Lie Beng Ing. Kemudian ada juga Tan Hong Tien Nio atau populer dengan sebutan Putri Ong Tien. Ia merupakan istri Sunan Gunung Jati,pelopor dan penggerak Islam di Cirebon dan wilayah Jawa Barat. Islam Lebih Dulu Masuk Tiongkok Menurut Sumanto, tidak mengherankan jika orang Tiongkok memiliki peran dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Sebab, Islam lebih dulu masuk ke Tiongkok ketimbang ke Nusantara. Kanton adalah pusat keislaman tertua di Tiongkok. Bahkan, m enurut sejarawan ahli Tiongkok, masjid paling awal di Kanton adalah masjid tertua kedua di dunia setelah di Madinah. “Setelah Nabi Muhammad membangun Masjid Nabawi di Madinah, masjid di Kanton dibangun. Aspek sejarah keislaman di sana sangat tua,” kata Sumanto. Baca juga: Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara Hubungan Tiongkok dengan dunia Islam, khususnya jazirah Arab, sudah berlangsung lama. Keduanya dihubungkan oleh perdagangan di Jalur Sutra. Hubungan ini terus berlanjut pada era Nabi Muhammad. “Saya menduga hadis ‘tuntutlah ilmu ke negeri Cina’ punya relevansi sejarah yang sangat kuat, meski ada yang bilang ini hadis dhaif (lemah),” kata Sumanto. Baca juga: Serangan Pertama Mongol ke Kerajaan Islam Masa kenabian Muhammad pada abad ke-7 bertepatan dengan era Dinasti Tang. Ini adalah puncak kemajuan peradaban dan kebudayaan Tiongkok. “Banyak masyarakat di luar Tiongkok diminta belajar beragam hal berkaitan dengan Tiongkok,” kata Sumanto. “Di sana pun disediakan tanah khusus bagi orang Arab, Persia. Dari situ berkembang keislaman Tiongkok.” Ditambah lagi setelah Dinasti Abbasiyah runtuh diserang tantara Mongol. Arsitek dan banyak ilmuwan dalam berbagai bidang dari wilayah dinasti itu diboyong ke Tiongkok. “Ini bersamaan dengan pendirian Dinasti Yuan <1279-1368>. Banyak tenaga ahli muslim bekerja di Yuan,” kata Sumanto. Keislaman di Tiongkok mulai memudar pada era Dinasti Qing (1644–1911) atau Dinasti Manchu. “Rezim berganti, dari pro-muslim ke anti-muslim,” kata Sumanto.





















