Hasil pencarian
9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sosok Sukarno dan Pak Dirman dalam Kadet 1947
SEMANGAT perjuangan tidak hanya dimiliki muda-mudi Indonesia di darat dan lautan, namun juga di udara. Salah satu petite histoire tentang tekad membela negeri dari pihak agresor Belanda bakal diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Temata Studios dengan tajuk Kadet 1947. Rencananya dirilis pada November 2020 . “Ketika Belanda melanggar perjanjian (Linggarjati, red. ) dan menyerang republik, tujuh kadet angkatan udara berinisiatif melakukan serangan balik demi mempertahankan kedaulatan bangsa. (Film) ini kisah tentang tujuh kadet yang menggagas operasi udara perdana Indonesia (29 Juli 1947),” begitu logline filmnya yang disampaikan Aldo Swastia, sutradara cum penulis naskah, kepada Historia. Untuk menggugah minat kaum milenial terhadap kisahnya, tim produksi sengaja mencari aktor yang milenial pula guna memerankan tujuh kadet yang asing di telinga mereka. Para kadet itu jarang disebutkan dalam buku-buku pelajaran sejarah di berbagai institusi pendidikan formal. Aktor milenial Kevin Julio dipilih memerankan Kadet Mulyono, Baskara Mahendra sebagai Kadet Sutardjo Sigit, Ajil Ditto sebagai Kadet Suharnoko Harbani, Samo Rafael sebagai Kadet Bambang Saptoadji, Wafda Saifan sebagai Kadet Sutardjo, Chicco Kurniawan sebagai Kadet Dulrachman, dan Fajar Nugra sebagai Kadet Kaput. Senior-senior mereka tak ketinggalan diikutsertakan untuk memerankan para pembesar AURI seperti Komodor Muda Agustinus Adisutjipto (diperankan Andri Mashadi), Komodor dr. Abdulrachman Saleh/Pak Karbol (Ramadhan al-Rasyid), Komodor Muda Halim Perdanakusuma (Ibnu Jamil), dan KSAU Komodor Suryadi Suryadarma (Mike Lucock). Ario Bayu kembali memerankan Presiden Sukarno (Foto: Instagram @filmsoekarno) Yang menarik disimak, dua dari sekian tokoh tambahan yang bakal nongol dalam Kadet 1947 adalah tokoh Presiden Sukarno (diperankan Ario Bayu) dan Panglima besar Jenderal Sudirman (Indra Pacique). “Ini peran yang gawat. Sudirman itu kan karakternya berwibawa. Tantangannya ya wibawanya itu. Dari tekanan suara dan intonasi harus berwibawa, ditambah dengan (bahasa) Jawa-nya. Yang jelas karakter ini kan karakter yang sudah ada. Gue jadi harus lebih banyak baca lagi tentang Pak Dirman,” ujar Indra mengenai sosok yang paling dihormati di kalangan militer Indonesia itu, dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/4/2020). Mempertanyakan Sosok Sukarno dan Sudirman Terlepas dari ketidakhadiran pemeran Sukarno dalam konferensi pers virtual itu, menarik untuk didalami apakah ada peran, pengaruh, atau keterlibatan keduanya dalam misi bombardir udara tangsi-tangsi militer Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga oleh tujuh kadet itu? “Bung Karno dan Pak Dirman tidak ada hubungan dengan peristiwa (pemboman 29 Juli 1947, red ). tersebut. Menurut fakta sejarah, tidak pernah ada pertemuan antara pihak AURI dengan dua tokoh itu untuk membahas misi itu. Tetapi yang ada hanya pertemuan antara Halim dan Suryadarma saja,” demikian peneliti sejarah revolusi Wawan Kurniawan Joehanda menjelaskan kala dihubungi Historia. “Karena belum ada data sejarah keterlibatan kedua tokoh itu dalam peristiwa tersebut, seharusnya masih harus dicari data pendukungnya dulu. Kalau hubungan dengan AURI memang pernah tahun 1946 Pak Dirman berkunjung ke Pangkalan Bugis (Malang) dan Campurdarat (Tulungagung). Entah apakah mereka (tim produksi) mau menarik cerita mulai dari pembentukan AURI atau bagaimana,” imbuh penulis buku Palagan Maguwo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia: 1945-1949 itu. Bila epos para kadet AURI itu yang menjadi fokus, dimasuk k annya Sukarno dan Sudirman tentu mengacaukan fakta sejarahnya. Itu bakal tak menjadikan film Kadet 1947 sebagai suguhan bergizi bagi edukasi para generasi milenial untuk mengenal sejarah bangsanya. Bagaimana fakta sejarahnya soal kedua sosok itu di waktu yang sama (29 Juli 1947)? Keduanya memang berada di Yogyakarta saat misi pemboman berlangsung karena Yogyakarta saat itu merupakan ibukota. Namun Jenderal Sudirman, sebagaimana ditulis Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil dalam Kronik Revolusi Indonesia, Jilid III (1947), saat itu tengah disibukkan dengan laporan perkembangan lanjutan Agresi Militer I yang berlangsung sejak 21 Juli 1947. Di titimangsa itu pasukan Belanda tengah merangsek ke berbagai wilayah seperti Aceh, Medan, Slawi, Cilacap, Kaliwungu, dan Malang. Figur Biju Patnaik (kedua dari kanan) seorang industriawan India yang simpati pada kemerdekaan Indonesia (Foto: Repro "Bapak AURI Suryadi Suryadarma") Sedangkan Presiden Sukarno pagi itu sedang menerima Biju Patnaik, industriawan India yang bersimpati pada perjuangan Indonesia, di Istana Kepresidenan Yogyakarta (Gedung Agung). Itu jadi kunjungan kedua Patnaik setelah kunjungannya ke Yogyakarta pada awal Juli 1947. “B. Patnaik mengunjungi ibukota Republik Indonesia untuk menyaksikan sendiri keadaan di daerah Republik. Maksud Patnaik antara lain ialah mendirikan perusahaan tekstil di daerah Republik. Di Yogyakarta, ia diterima oleh Presiden Sukarno dan dijamu masyarakat India di Yogyakarta dengan dihadiri pembesar-pembesar Republik, antara lain Mr. M. Rum,” tulis Pram dkk. Berita yang menarik perhatian sekaligus mengiris hati para petinggi Republik di hari itu, 29 Juli 1949, adalah insiden pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh dua pesawat tempur Curtiss P-40 Kittihawk AU Belanda. Peristiwa itu terjadi pada sore di atas langit Pangkalan Maguwo yang jadi basis keberangkatan misi tujuh kadet pagi harinya. Serangan terhadap Dakota AURI yang dipinjamkan Patnaik untuk mengangkut suplai obat-obatan itu merupakan aksi balas dendam Belanda terhadap misi pemboman para kadet. Serangan pengecut itu menewaskan sejumlah petinggi AURI: Komodor Agustinus Adisutjipto, Komodor dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo. Jenderal Sudirman turut terpukul saat memberi penghormatan terakhir kepada tiga perintis AURI korban tragedi Dakota VT-CLA di Hotel Tugu (Foto: Repro "Awal Kedirgantaraan di Indonesia") Terlepas dari fakta sejarah yang ada, pihak penggarap Kadet 1947 punya pertimbangan lain untuk menghadirkan tokoh Sukarno dan Jenderal Sudirman. “Ada dokumentasi sejarah Bung Karno dan Pak Dirman menghadiri pameran penerbangan di Maguwo akhir 1946, beberapa bulan sebelum Agresi Militer Belanda I. Kala itu, Agustinus Adisutjipto juga ikut terbang untuk melakukan atraksi,” sambung Aldo Swastia. “Selain itu, walau memang tidak ada dokumentasi sejarah menunjukkan keterkaitan langsung Bung Karno dan Pak Dirman di misi tersebut, kehadiran kedua tokoh besar tersebut di pameran penerbangan menunjukkan dukungan penuh mereka terhadap angkatan udara kala itu. Maka, mengingat misi ini begitu penting bagi keberlangsungan bangsa, kami memasukkan beberapa adegan kedua tokoh tersebut dalam film ini,” tandasnya.
- Multatuli dan Freemason
MAX HAVELAAR , karya sohor Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, ditulis di sebuah kamar sempit di Kota Brussel, Belgia pada September hingga November 1859. Kekecewaan dan gugatannya pada ketidakadilan yang ia temui selama bertugas di Lebak, Banten pada 1856 ia curahkan dalam novel itu. Max Havelaar kemudian terbit pada 14 Mei 1860.
- Gus Dur dan Buku
SOSOK Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, begitu terkenang di hati rakyat Indonesia. Presiden ke-4 RI ini dianggap reformis oleh kalangan santri. Hal itu juga menghilangkan kesan kolot dunia pesantren di mata masyarakat. Meski tentu saja anggapan tersebut tidak benar. Hidup di lingkungan pesantren –sebagai cucu ulama besar KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) juga Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur– tidak serta-merta menghalangi minat baca Gus Dur. Tersedianya buku (berbagai jenis) dalam jumlah banyak, ditambah lingkungan keluarga yang mendukung membuat minat membacanya tersalurkan. Ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta, tahun 1950, di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan dan nyantri di Pesantren Al-Munawwir, Gus Dur semakin menikmati hari-harinya bersama buku. Dikisahkan Greg Barton dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid , Yogyakarta menjadi tempat Gus Dur menemukan berbagai jenis tema buku yang diinginkan. Ia bahkan sering mengunjungi toko-toko buku langganan mahasiswa UGM. “Sebagai seorang remaja, ia mulai bergulat dengan tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles, serta pemikir-pemikir penting dari cendekiawan Islam abad pertengahan,” tulis Barton. Kisah lain diceritakan Munawar Ahmad dalam Ijtihad Politik Gus Dur: Analisis Wacana Kritis . Ketika di Yogyakarta itu, Gus Dur bertemu dengan seorang guru bahasa Inggris bernama Rufi’ah. Selain diajarkan bahasa, Gus Dur juga dikenalkan dengan buku-buku para pemikir modern Barat. Sebut saja mahakarya Karl Marx, Das Kapital ; novel-novel William Faulkner; filsafat Plato, Thalles ; Little Red Book karya Mao Zedong; dan What Is To Be Done nya Valdmir Lenin. “Ditunjang dengan kemampuan ingatannya yang luar biasa, Gus Dur mampu membaca beragam macam buku dalam jumlah besar dalam satu malam,” ujar Munawar. Gus Dur menemukan pandangan baru tentang masalah-masalah kebangsaan dari buku-buku tersebut. Bahkan, kata Barton, Gus Dur gemar membaca biografi tokoh-tokoh besar Amerika, utamanya Abraham Lincoln, Harry S Turman, dan Franklin D Roosevelt. Cara mereka menghadapi berbagai persoalan politik di negerinya membuat Gus Dur kagum. Baginya, bukan hanya sisi politik yang menarik untuk diikuti, tetapi tentang sifat-sifat manusia di dalamnya juga penting untuk dipelajari. Setiap tokoh dalam buku memiliki karakter masing-masing yang begitu menggambarkan keberagaman manusia. Menurut Munawar, Gus Dur suka mempelajari kepelikan sifat manusia. “Dia membaca apa pun yang bisa didapatkan, terkadang dari perpustakaan ayahnya di Jakarta, atau dari orang lain yang memang mengetahui minatnya terhadap buku,” tulis Barton Menginjak usia 22 tahun, Gus Dur menaruh minat pada masalah identitas umat Islam. Setelah lama bergumul di dalam teori sosial Barat yang liberal, ia beralih ke masalah fundamentalisme. Karya-karya intelektual muslim modern –misal Sayyid Quthub, Sayyid Ramadhan, Hasan al-Banna, dan Ali Abdul Raziq dari Al-Azhar, Mesir– mulai didekati. Harapannya, ia dapat menemukan jawaban tentang berbagai persoalan umat Islam di Indonesia, seperti kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan. Upaya terjun langsung dalam masalah fundamentalisme terpaksa ditunda karena, pada 1963, Gus Dur harus terbang ke Kairo, Mesir untuk melanjutkan studi. Namun kegelisahan tentang umat Islam di Indonesia itu terbawa juga hingga ke Mesir. Ia pun mencoba mencari berbagai jawaban dari literatur-literatur yang ada di perpustakan Mesir. Satu buku karya Aristoteles, kata Munawar, tentang etika yang dialihbahasakan oleh Ibn Khaldun ke dalam bahasa Arab, al-Akhlaq , dirasa memberi sedikit jawaban. Gus Dur lalu sadar jika segala ungkapan keislaman dan fundamentalisme tidak begitu saja dapat diterima. Alasannya karena dianggap bertentangan dengan ajalan Islam sendiri. Menurutnya, ekspresi keislaman dan fundamentalisme hanya akan berujung pada konflik. “Ekses inilah yang bertolak belakang dengan keingintahuannya terhadap sifat kemanusiaan yang sedang ia cari,” ungkap Munawar. Bacaan di Mesir Mesir tahun 1960-an, sedang mengalami perkembangan yang pesat di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, utamanya di bidang pendidikan Islam modern. Dalam buku Pejalanan Politik Gus Dur , disunting Irwan Suhanda, disebutkan bahwa Gus Dur merupakan mahasiswa di Departement of Higher Islamic and Arabic Studies, Universitas Al-Azhar. Tapi tercatat ia tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya. Selama di Mesir, Gus Dur bebas menikmati waktunya di perpustakaan-perpustakaan kota dan milik universitas, termasuk yang terbesar: Universitas Amerika di Kairo. Ia bisa seharian berdiam di perpsutakaan demi mengisi gairah membaca yang semakin tinggi di usia 25 tahun. Akses buku yang mudah didapat menjadi sebab utamanya. “Bagi Gus Dur, Kairo merupakan tempat yang sibuk dengan kehidupan sastra, pencarian pengetahuan, dan ide-ide baru,” tulis Munawar.*
- Gesekan Biola Gandrung
MELIHAT pertunjukan tari gandrung membuat hati ingin turut menari. Suara sindennya manja. Ditingkahi irama gending gamelan nan rancak dan iringan nada tinggi-rendah biola yang menyayat. Kehadiran biola, yang notabene alat musik gesek dari Barat, membuat pertunjukan gandrung kian menarik. Jarang ditemui sebuah kesenian tradisional menggandeng biola sebagai salah satu unsur dalam pementasan. Dalam pementasan gandrung, biola membantu melodi lagu-lagu yang dinyanyikan sang penari. Biola dan vokal terjalin erat dan isi-mengisi. Keduanya membangun melodi lagu dan menentukan gerak tari. Maka, posisi penggesek biola ( baola ) menjadi sentral. Pemain biola tak melihat usia, tua atau muda. Asalkan mumpuni dalam memainkan biola, bisa ikut terjun dalam pementasan. Beberapa waktu lalu, komunitas Banyuwangi Tempo Doeloe mengunjungi seorang pemain biola gandrung yang sudah senior. Dia adalah Mbah Timbul dari daerah Mangir, sebuah desa di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. “Saya mulai pegang baolah sejak tahun 1930-an. Lalu setelah cukup mahir mulai ikut dalam pementasan pada tahun 1940-an. Tidak ada guru. Ya cuma ikut melihat pas latihan lalu coba-coba sendiri. Hasilnya dulu tidak mesti, kadang dapat 15 rupiah, kadang sampai 100 rupiah,” ujarnya kepada tim Banyuwangi Tempo Doeloe, yang diunggah di laman Youtube dengan nama BTD channel. Pengaruh Eropa Gandrung merupakan salah satu kesenian asli dan tertua Banyuwangi. Kemunculan gandrung berkaitan erat dengan seblang, ritual suku Osing di Banyuwangi untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Sementara tari seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. “Lintasan gerak dan pose-pose dasar ketiga tarian tersebut pun masih menunjukkan banyak kesamaan,” tulis Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung . Perubahan dan adaptasi pun mengiringi perkembangan kesenian gandrung. Gandrung, yang awalnya dibawakan penari laki-laki, kemudian diisi penari perempuan. Begitu pula dengan penggunaan instrumen musiknya. “Susunan orkes gandrung berubah lagi sejak Mak Midah mulai menyelenggarakan pertunjukan gandrung dengan Semi sebagai penari gandrung putri yang pertama pada tahun 1895. Kala itu, mulai menggunakan instrumen diatonik biola,” tulis Bambang Sularto dalam Kesenian Rakyat Gandrung dari Banyuwangi . Semi kerap disebut-sebut dalam lahirnya kesenian gandrung. Tapi apakah Semi pula yang kali pertama menggunakan biola butuh penelitian lebih jauh. Murgiyanto dan Munardi menuturkan kisah masuknya biola dalam pertunjukan gandrung. Konon, seorang pemain musik Barat, belum jelas apakah dari Prancis atau Belanda, secara kebetulan menyaksikan pertunjukan gandrung. Mendengar nyanyian dan musik pengiringnya yang erotis, dia tertarik. Diambilnya biola miliknya dan dia pun ikut bermain. Ternyata dihasilkan suara “baru” yang dianggap enak. “Masyarakat Banyuwangi pun agaknya sangat terpesona akan barang baru ini, dan selanjutnya menggunakannya di dalam pertunjukan gandrung mereka,” tulis mereka. Jaap Kunst dalam Music in Java (1937) menyebut penggunaan dua biola sebagai musik pengiring gandrung terjadi belum begitu lama. Biola menggantikan alat musik yang disebutnya sebagai “ shawms ” –sebuah alat musik kuno dengan dua buluh, yang merupakan bentuk mula dari oboe . Murgiyanto dan Munardi menduga alat musik itu sejenis serunai, terompet, atau bahkan seruling. Dalam tari sanyang, musik pengiringnya terdiri dari seruling, kendhang, dan gong. Seruling berfungsi sebagai pembentuk melodi. Tapi pada pertunjukan gandrung, posisinya diambil-alih biola sebagai pengganti seruling. Seblang, yang mempergunakan kendhang, gong, dan kenong untuk memperjelas pola irama, kemudian ikut menggunakan biola –terutama seblang di Bakungan. “Agaknya orang lebih suka memainkan alat musik yang baru (biola) daripada harus menghabiskan napas semalam suntuk untuk meniup seruling. Memainkan biola nampaknya juga lebih ‘maju’ daripada meniup seruling dan gesekannya pun mampu mengatasi vokal manusia,” tulis Murgiyanto dan Munardi. Penambahan biola tentu saja membuat iringan musik gandrung semakin tajam dan berwarna. Improvisasi Secara fisik, biola yang digunakan dalam gandrung tidak berbeda dengan biola Barat. Tapi cara dan teknik memainkannya berbeda. Ini disebabkan sistem penggunaan senarnya. “Pada instrumen biola barat senar yang digunakan untuk biola sopran adalah senar G-D-A-E dengan ukuran terbesar hingga senar E yang terkecil. Dalam seni pertunjukan gandrung, biola tidak menggunakan senar G-D-A-E tetapi menggunakan sistem senar G-D-D-A dan tidak menggunakan senar yang paling terkecil yaitu senar E,” tulis Irfanda Rizki Harmono Sejati dalam “Biola dalam Seni Pertunjukan Gandrung Banyuwangi”, dimuat jurnal Harmonia , Desember 2012. Selain itu, untuk cara memakainya, biola gandrung diletakkan di atas siku kanan sebelah kiri. Kemudian ada teknik-teknik khusus, dengan istilah lokal, untuk menghasilkan nada-nada improvisasi dari melodi aslinya seperti rageman , ngrangin , ngembat . Kini, seiring kemeriahan Banyuwangi Festival yang rutin digelar setiap tahun, kesenian gandrung semakin ramai dan digemari pengunjung. Implikasinya banyak orang bisa menikmati dan ikut merawat kesenian ini. Pun kesejahteraan pemain gandrung menjadi semakin baik. Apalagi, mulai muncul generasi-generasi muda di bawah Mbah Timbul yang giat dan menyenangi seni tradisi.*
- Mohammad Sardjan dan Islam Hijau
SEBELUM meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia tahun 1952, Presiden Sukarno membacakan pidato yang cukup terkenal, Soal Hidup atau Mati . Sukarno berpendapat produksi pertanian di Indonesia harus ditingkatkan. Alasannya, impor makanan cukup mahal dan akan lebih baik bila Indonesia berdikari. Menurut Sukarno, dalam sebuah “masyarakat adil dan makmur” tidak boleh ada orang-orang yang merasa lapar.
- Hamka dan Maag Berjamaah
PADA September 1975, bertepatan dengan bulan suci Ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerima undangan Muktamar Masjid se-Dunia di Makkah, Arab Saudi. Sebagai ketua, Buya Hamka mendapat kesempatan untuk berangkat mewakili pemerintah Indonesia. Dalam perjalanan ke Tanah Suci umat Islam tersebut, dia didampingi Sekjen MUI Kafrawi, dan putra sulungnya Yusran Rusydi. Ketiganya dijadwalkan berangkat pertengahan bulan. Pada 17 September 1975, rombongan Hamka dijadwalkan akan terbang ke Jeddah. Pagi harinya, Hamka dipanggil ke Istana oleh Presiden Soeharto. Presiden ingin secara khusus menyambut MUI yang baru terbentuk pada permulaan tahun itu. Terjadi pembicaraan ringan yang cukup serius di antara Hamka dan Presiden. Terutama soal ketegasan MUI akan penyebaran Kristenisasi di tengah umat Islam Indonesia.
- Jalan Seorang Arief Budiman
ARIEF Budiman alias Soe Hok Djin baru saja pergi beberapa jam yang lalu. Parkinson yang sudah berlarut akhirnya menjadi jalan bagi dia untuk menggenapi takdirnya sebagai manusia: bertemu dengan kematian. Tak perlu disebutkan bagaimana dia begitu mencintai negeri ini. Lewat caranya, berpuluh tahun dia mengupayakan Indonesia supaya bergerak ke arah yang lebih baik, terutama yang terkait dengan kehidupan rakyat kecil. “Ketika orang-orang memuji-memuji Pak Harto di awal Orde Baru berdiri, dia tampil sebagai salah seorang pengeritik paling keras,” ujar almarhum Rudy Badil, wartawan senior sekaligus kawan Arief Budiman. Badil memang benar. Tahun 1970, ketika Orde Baru mulai dijadikan sarang untuk menangguk keuntungan pribadi oleh para akademisi dan tentara, Arief dan dan kawan-kawannya eks demonstran 1966 menjadi gerah. Mengatasnamakan gerakan “Mahasiswa Menggugat”, mereka melakukan aksi long march dari Kampus Universitas Indonesia di Salemba menuju Lapangan Banteng.
- Nusantara Terdampak Wabah Penyakit yang Melanda Dunia
DUNIA beberapa kali diserang wabah penyakit. Sejak masa prasejarah, wabah penyakit menyerang Tiongkok pada 3000 SM. Tifus menghantam Athena pada abad ke-5 SM. Memasuki masa sejarah, wabah penyakit yang tercatat lebih banyak. Wabah Yustinianus (pes) menyerang Kekaisaran Romawi Timur pada abad ke-6, kusta di Eropa pada abad ke-11, Maut Hitam di Eurasia pada abad ke-13, cacar di Amerika dan Pasifik pada abad ke-16, kolera pada abad ke-19, serta flu Spanyol dan polio pada awal abad ke-20. “Sementara di Indonesia, apakah ada korelasinya yang terjadi di global juga terjadi di Indonesia,” kata Sofwan Noerwidi, peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi Puslit Arkenas lewat aplikasi zoom yang berjudul “Eksistensi Wabah: Fakta Masa Lampau Hadir pada Masa Kini”, pada Selasa, 21 April 2020. Jejak penyakit paling awal diderita oleh Homo erectus, pendahulu Homo sapiens . Pada fosil tengkorak Sangiran 38 dari 700.000 tahun yang lalu, di sisi kanan kiri tulang parietal (tulang ubun-ubun) ada beberapa tanda yang mungkin disebabkan infeksi suatu penyakit. “Kita belum bisa memastikan jenis penyakitnya karena keterbatasan konservasi fosil itu,” kata Sofwan. Sedangkan pada fosil tulang paha Homo erectus dari Situs Trinil 500.000 tahun lalu, tampak adanya inflamasi atau cedera otot yang menyebabkan perkembangan tulang tak lazim. “Jenis penyakit ini bahkan berlangsung hingga sekarang, banyak Homo sapiens menderita penyakit ini,” kata Sofwan. Dari bukti yang ada, menurut Sofwan, manusia pada masa prasejarah lebih banyak menderita penyakit yang bersifat fisik. Penyakit-penyakit tidak menular itu, seperti cedera lengan, tulang paha, dan penggunaan gigi yang sangat ekstrem akibat pola diet. Makanan mereka tak diolah sampai lebih lembut sebagaimana dilakukan manusia pada masa kini. Kendati begitu bukan berarti pada masa prasejarah tak ada indikasi penyakit menular. Jejaknya ditemukan pada Homo sapiens dari Gua Harimau 2.800 tahun lalu. Ada beberapa indikasi penyakit yang kemungkinan disebabkan bakteri tuberkulosis atau bakteri penyebab lepra. Pun ada jejak radang persendian pada tulang punggung. Ini mungkin disebabkan oleh rematik atau tuberkulosis. Indikasi cedera fisik juga masih dijumpai berupa patah tulang. “TBC, lepra, bahkan mungkin sifilis jauh sudah ada pada zaman prasejarah. Beberapa kita lihat buktinya,” kata Sofwan. Ditemukan pula peralatan dari masa prasejarah yang kemungkinan fungsinya tidak hanya untuk memproses makanan tapi juga untuk mengolah obat-obatan. Alat itu berupa batu gandik dan pipisan. “Dibuktikan dari beberapa penyakit yang diidap masyarakat prasejarah, seperti patah tulang itu sembuh,” kata Sofwan. “Tapi adakah wabah (pada masa prasejarah, red. )? Jejaknya sangat samar.” Penggambaran Wabah Menurut Sofwan, kita juga hanya bisa menerka adanya wabah pada masa sejarah seperti lewat relief candi. Dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur, bangunan dari akhir abad ke-8 dan awal abad ke-9, terdapat penggambaran serangan hama tikus di sebuah lahan pertanian. “Apakah tikus-tikus itu membawa wabah? Pes? Atau penyakit lainnya? Belum tahu pasti. Tapi indikasi adanya serangan wabah mungkin saja terjadi pada masa itu,” kata Sofwan. Selain dari relief candi, prasasti juga menyebutkan beberapa jenis penyakit, seperti Prasasti Wiharu II (929) pada masa Mataram Kuno. Dari masa Majapahit terdapat Prasasti Balawi (1305), Prasasti Sidateka (1323), Prasasti Bendosari (1360), Prasasti Biluluk (1350–1389), dan Prasasti Madhawapura dari abad ke-14. Sumber naskah kuno juga mengungkapkan berbagai macam penyakit dan pengobatannya. Misalnya, Kidung Sudamala dari abad ke-13. Naskah ini berisi kisah Sadewa, anak Pandawa terakhir, yang meruwat Durga. Ia kemudian diberi nama Sudamala, yang artinya Suda (bersih) dan Mala (kotoran, penyakit). Kemudian kisah Sri Tanjung dari abad ke-13 tentang cerita tokoh Sidapeksa yang diutus kakeknya untuk mencari obat. Informasi lainnya ditemukan dalam Kitab Rajapatigundala dari abad ke-14. Disebutkan adanya penyakit akibat kutukan, seperti kusta, buta, cacat mental, gila, dan bungkuk. Dari abad ke-14 terdapat Kitab Korawacrama yang menyebutkan adanya penyakit fisik. Pada masa Islam, informasi tentang macam-macam penyakit ditemukan dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada abad ke-18. Serat Centhini (1814–1823) berisi ensiklopedia penyakit dan obat. Begitu juga Serat Kawruh Jampi Jawi (1831) berisi daftar penyakit dan jamu. “Saya yakin di beberapa daerah di Nusantara mereka juga mengenal naskah-naskah sejenis. Ada pula catatan Eropa yang meneliti tentang obat-obatan di Nusantara seperti Rumphius,” kata Sofwan. Sumber-sumber kuno itu banyak mencatat macam-macam wikara atau penyakit. Di antaranya bubuhên dan wudunen (bisul), belek (sakit mata) dan bulêr (katarak), gondong (leher membengkak), umis (pendarahan), humbêlên (flu), wudug (lepra), panastis (malaria), ulêrên (cacingan), dan apus (kehilangan tenaga) . Ada pula beberapa penyakit kulit seperti ampang, amis antem, dan apek. Soal sakit yang mewabah pada masa Jawa Kuno, mungkin naskah Calonarang hingga sekarang adalah satu-satunya bukti yang paling jelas. “Ada satu cerita tentang masa Kerajaan Airlangga di mana ada serangan wabah yang menelan banyak korban. Kalau pagi sakit, sore meninggal. Sore sakit, pagi meninggal,” kata Sofwan. Nusantara di Tengah Pandemi Menurut Sofwan penyebaran penyakit sampai ke Nusantara berkaitan dengan bencana alam dan perang. Misalnya, pada abad ke-13 terjadi letusan gunung yang sangat besar hingga menyebabkan perubahan iklim. Kebetulan kala itu terjadi migrasi pembawa penyakit pes di Asia Daratan bersamaan dengan invasi Mongol dari Asia Daratan ke Eropa. “Kalau pernah dengar istilah Black Death, kira-kira terjadi masa itu. Apakah ketika Mongol menginvasi Jawa mereka juga membawa pes? Ini menarik, belum banyak dikaji,” kata Sofwan. Penyebaran penyakit juga terjadi setelah perluasan pengaruh Eropa pada awal abad ke-16. Selain mencari kekayaan dan kekuasaan, mereka juga menyebarkan penyakit. Penyakit cacar yang dibawa orang Eropa hampir memusnahkan masyarakat Indian di Amerika Utara dan Selatan. Pun masyarakat di kawasan Pasifik, bahkan masyarakat di beberapa pulau punah sama sekali. “Ternyata cacar juga sampai ke Ternate dan Ambon, kemudian tersebar ke seluruh Nusantara ketika Belanda datang ke Batavia,” kata Sofwan. Bencana alam sebelum masa Perang Jawa juga berdampak pada timbulnya penyakit. Pada 1815, letusan Gunung Tambora yang sangat besar mengakibatkan perubahan iklim. Panen gagal terutama di Jawa dan Bali sehingga harus mengimpor beras. Ternyata, beras itu terkontaminasi bakteri kolera. Akibatnya, penyakit kolera menyebar di Jawa dan Sumatra. Setelah kolera berlalu, Perang Diponegoro juga sudah berakhir, terjadi lagi wabah pes. “Dibawa oleh tikus karena perdagangan dunia semakin menggeliat setelah periode perang itu,” kata Sofwan. Sulitnya Data Primer Melihat data yang ada, artinya masyarakat di kepulauan Nusantara telah beberapa kali ikut terjangkit wabah yang merebak di berbagai belahan dunia. Karenanya mempelajari sejarah terjadinya wabah pada masa lalu penting untuk dilakukan. Khususnya tentang apa yang dilakukan masyarakat masa lampau. Bagaimana mereka menghadapi wabah dan mencari jalan keluar. “Ini belum banyak dilakukan, riset obat tradisional juga tampaknya belum optimal,” kata Sofwan. Sayangnya, kini peneliti kekurangan data primer langsung dari rangka yang berasal dari periode sejarah. Mungkin, kata Sofwan, itu disebabkan oleh keterbatasan konservasi data. Jika pun tidak, mungkin pula pada masa lalu terdapat tradisi tentang tata cara masyarakat memperlakukan jenazah. “Misal di Bali ada tradisi ngaben . Apakah waktu dulu juga begitu? Jadi korban-korban wabah itu dikremasi massal. Jadi kita ini memang jarang sekali menemukan data primer,” kata Sofwan. Kalaupun ada, misalnya temuan rangka dari Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah dari sekira abad ke-9. Namun, temuan rangka ini konservasinya sangat buruk. Akibatnya proses observasi apakah manusia ini pernah menderita suatu penyakit menjadi sulit dilakukan. “Mengapa rangka prasejarah awet? Itu karena mereka ditemukan pada tempat tertentu dan terendapkan di kondisi tertentu. Rangka dari periode selanjutnya saya belum banyak menemukan,” kata Sofwan.*
- Manis-Pahit Petualangan SS Conte Verde
DARI tepian dek, ribuan orang terus melambaikan tangan kepada sanak-saudara dan para handai taulan yang juga melambaikan tangan di pinggiran pelabuhan Genoa, Italia. Di hari yang cerah itu, 21 April 1923, para konglomerat Italia hingga penumpang golongan proletar menjadi saksi pelayaran perdana kapal transatlantik SS Conte Verde dengan rute Genoa-New York. Conte Verde dibuat galangan kapal William Beardmore & Co di Dalmuir, Skotlandia, atas pesanan perusahaan pelayaran Lloyd Sabaudo Line yang berbasis di Genoa. Meski sudah rampung pada 21 Oktober 1922, finishing interior-nya memakan waktu hingga lima bulan berikutnya. Lloyd Sabaudo Line sampai mengirim seniman-seniman asal Firenze untuk mendekorasi bar-bar dan sejumlah lounge kelas satu. Mengutip suratkabar The Times (kini The New York Times ) edisi 25 Juni 1923, dinding di bagian tangga utamanya dihiasi sebuah lukisan besar karya Cavalieri. Langit-langit di dek-dek kelas satu yang berhias lukisan dari para seniman Firenze membuatnya bak istana khas Italia era renaissance . Semua itu dilakukan karena Lloyd Sabaudo Line ingin Conte Verde menjadi “istana berjalan” dengan segala kemewahannya, sesuai namanya yang diambil dari julukan Amadeus VI, Count of Savoy, yang dijuluki Il Conte Verde atau Pangeran Hijau. Pelepasan pelayaran perdana SS Conte Verde pada 21 April 1923 (Foto: Library of Congress/loc.gov) Kapasitas maksimal kapal dengan 10 dek itu mencapai 2.830 orang yang terbagi dalam 450 penumpang kelas satu, 200 penumpang kelas dua, dan 1.780 penumpang kelas tiga yang biasanya merupakan imigran, serta 400 kru. Bobot kotornya 18.761 ton dengan postur 180,1 x 22,6 meter. Ditenagai dua turbin uap, Conte Verde bisa berlayar dengan kecepatan hingga 18,5 knot. “ Conte Verde tiba kemarin (24 Juni 1923) pada pelayaran perdananya dari Genoa dan Napoli membawa 95 penumpang kelas satu, 374 penumpang kelas dua, dan 703 penumpang kelas tiga,” lanjut laporan The Times. Mengantar Rombongan Piala Dunia Medio Juni 1930 jadi salah satu jadwal pelayaran terpenting Conte Verde. Sejumlah akomodasi kelas satunya disewa panitia pelaksana Uruguay sebagai tuan rumah Piala Dunia pertama dan Presiden FIFA Jules Rimet. Ia jadi bagian negosiasi Uruguay dan Rimet agar tim-tim Eropa mau datang menyeberangi Samudera Atlantik sejauh 11 ribu kilometer untuk berpartisipasi. Berkat lobi Rimet, Piala Dunia 1930 urung diboikot seluruh negara Eropa. Dari belasan negara yang diundang, hanya Prancis, Belgia, Rumania, dan Yugoslavia yang –datang dengan kapal pesiar lain, MS Florida– berkenan hadir. Kapal Conte Verde berlayar membawa tiga tim Eropa juga sekaligus presiden FIFA dengan trofinya, Coupe du Monde, dan tiga wasit: Jean Langenus (Belgia), Henri Christophe (Belgia), dan Thomas Balvay (Prancis). Timnas Prancis, Belgia, dan Rumania di atas geladak kapal SS Conte Verde (Foto: Repro "Le livre official de l'equipe de France") Dinukil dari 100+ Fakta Unik Piala Dunia karya Asep Ginanjar dan Agung Harsya, Conte Verde mulai lepas jangkar dari pelabuhan Genoa pada 20 Juni, di mana baru ditumpangi rombongan tim Rumania. Sehari kemudian ia merapat ke Villefranche-sur-Mer untuk menjemput tim Prancis, Presiden FIFA, serta tiga wasit, sebelum keesokannya berlabuh di Barcelona untuk menjemput tim Belgia. “Selama perjalanan di atas Conte Verde , para pemain Belgia, Prancis, dan Rumania tak henti menjaga kondisi tubuh. Conte Verde memang sengaja diubah menjadi arena olahraga terapung. Selain tersedia tempat kebugaran, ada juga kolam renang, dan meja ping-pong. Bahkan para pemain sempat-sempatnya main bola di sana! Hal itu baru terhenti ketika sejumlah bola jatuh ke laut,” tulis Asep dan Agung. Presiden FIFA Jules Rimet (kiri) tiba di Montevideo pada 4 Juli bersama para ofisial dan tiga tim peserta Piala Dunia 1930 (Foto: fifa.com ) Selain rombongan Piala Dunia, Conte Verde juga ditumpangi beberapa selebriti dunia yang turut serta dalam total 15 hari pelayaran itu. Di antaranya penyanyi opera Rusia Fyodor Chaliapin, penari beken Amerika Josephine Baker, fotografer dan petualang Italia Fosco Maraini, penulis Italia Dacia Maraini, serta pengusaha kafe ternama Caffe Trieste, Giovanni Giotta. “Setelah berlabuh lagi di Lisbon dan Kepulauan Canary, tim-tim seperti Belgia, Rumania, dan Prancis mulai menyeberangi Atlantik. Kapalnya baru merapat lagi di Rio de Janeiro pada 29 Juni untuk menjemput tim Brasil, sebelum akhirnya tiba di Montevideo pada 4 Juli. Hampir 15 ribu warga Uruguay datang menyambut mereka,” tulis Gregory Reck dan Bruce Allen Dick dalam American Soccer: History, Culture, Class. Mengangkut Pengungsi Yahudi hingga Dibom Sekutu Trayek Conte Verde yang lazimnya menyeberangi Atlantik ke barat (New York hingga Buenos Aires), berganti pada 1932 kala kapal itu diakuisisi Italian Line (kini Italia Marittima) dari Lloyd Sabaudo Line. Conte Verde dijadikan satu dari empat kapal dalam armada Lloyd Triestino di bawah Italian Line yang trayeknya mengarah ke timur jauh: Genoa-Trieste-Bombay-Colombo-Shanghai-Hong Kong-Singapura via Terusan Suez. Interior dan dekorasinya pun banyak diubah. Ia tak lagi jadi “istana terapung”, namun semata kapal transport. Untuk memperluas ruang kelas ekonomi, Italian Line memperkecil kapasitas kelas satu menjadi hanya 250, kelas dua 170, dan kelas tiga 220 penumpang. Per November 1938, Conte Verde bersama tiga kapal Lloyd Triestino lainnya dijadikan kapal penyelamat bagi belasan ribu Yahudi Eropa yang mencari selamat ke Shanghai. “Sejak mulanya periode Nazi sudah mulai ada imigran Yahudi dari Jerman ke Shanghai. Kelompok pertama berjumlah 12 orang yang terdiri dari para dokter, guru, atau pebisnis. Mereka menganggap Shanghai jadi surga suaka yang menarik. Hingga enam tahun kemudian gelombang besar pengungsi Yahudi datang mengikuti,” tulis Alvin Mars dalam A Note on the Jewish Refugees in Shanghai. “Lalu setelah invasi Nazi ke Austria ( Anschluß, 12 Maret 1938), dua kapal transport pertama yang tiba di Shanghai dengan para pengungsi Yahudi adalah kapal Conte Biancamano dan Conte Rosso dari Lloyd Triestino. Seiring bertambahnya pengungsi, dua kapal lain ( Conte Verde dan Conte Grande ) dikerahkan. Rutenya Genoa-Port Said-Suez-Colombo-Singapura-Manila-Shanghai,” lanjutnya. SS Conte Verde pada 1932 setelah diakuisisi oleh Lloyd Triestino (Foto: ibi.org ) Conte Verde sendiri pertamakali membawa pengungsi Yahudi pada 29 Oktober 1938 yang berbondong-bondong datang ke pelabuhan Trieste. Mengutip Roman Malek dalam From Kaifeng to Shanghai: Jews in China , kapal itu ditumpangi 187 pengungsi Yahudi Jerman dan Austria yang menyelamatkan diri 12 hari sebelum geger Kristallnacht atau “Malam Kaca Pecah”, 9-10 November 1938, yakni malam ketika para simpatisan Nazi menghancurkan rumah, pertokoan, hingga membantai Yahudi yang mereka temui. “Setelah hampir sebulan pelayaran, pada 24 November 1938 Conte Verde merapat di Shanghai pada pukul 2 siang. Dari 350 penumpang, terdapat 187 pengungsi Yahudi Jerman dan Austria. Ini adalah rombongan pengungsi terbesar pertama, di mana dalam delapan bulan berikutnya gelombang pengungsian kian meningkat,” tulis Malek. Hingga Juni 1940, total sudah 17 ribu pengungsi Yahudi yang menggunakan kapal-kapal milik Lloyd Triestino. Namun setelah itu, jalur pengungsian Conte Verde dkk terhenti lantaran Italia nyemplung ke dalam Perang Dunia II. Sebagai imbasnya, Conte Verde yang tengah berlabuh di Shanghai ditahan untuk sementara waktu oleh otoritas konsensi Inggris-Amerika di Shanghai International Settlement. Setelah lama nongkrong di Shanghai, nasib nahas menghampiri Conte Verde pada 3 September 1943 bersamaan dengan Armistice of Cassibile atau perjanjian gencatan senjata antara Italia dan Sekutu. Agar Conte Verde tak direbut Jepang yang sudah menguasai Shanghai, termasuk konsensi asingnya sejak 8 Desember 1941, dengan berat hati para krunya berusaha menenggelamkannya. SS Conte Verde yang sejak November 1938-Juni 1940 bolak-balik Trieste-Shanghai membawa pengungsi Yahudi (Foto: ushmm.org ) Tapi ketika kapal belum sepenuhnya tenggelam, upaya itu gagal karena para krunya keburu ditangkap serdadu Jepang. Conte Verde lantas diselamatkan dan diperbaiki Jepang, disulap jadi kapal kargo bernama Teikyo Maru meski tulisan Conte Verde di lambungnya tak diubah. Ia sempat dihantam pembom B-24 Liberator Amerika pada 8 Agustus saat tengah berlayar di Sungai Huangpu. Total enam bom menimpa Teikyo Maru yang membuatnya oleng ke kanan sebelum akhirnya karam di perairan dangkal itu. Sebulan kemudian Teikyo Maru coba diperbaiki dan ketika sudah bisa mengapung lagi, ia ditarik kapal lain untuk dibawa ke galangan kapal Mitsubishi Konan di pelabuhan Sungai Huangpu. Selesai diperbaiki, ia diubah menjadi kapal angkut personil pasukan pada awal 1945 dan berganti lagi namanya menjadi Kotobuki Maru . Namun nasib apes kembali menimpanya pada 25 Juli 1945. Saat sedang berlabung di Pelabuhan Maizuru, Kyoto, ia diserang oleh pesawat pembom Sekutu. Usahanya untuk kabur gagal dan setelah terkena beberapa bom, Kotobuki Maru terdampar di pesisir Teluk Nakata. Ia lantas terbengkalai begitu saja hingga pada 13 Juni 1949 datang keputusan dari otoritas Jepang agar ia dikanibal dan dibesituakan.
- Kartini dan Sekolah Bidan
DALAM tur keliling Jawanya untuk memulai pendirian sekolah bagi kaum putri, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda Jacques Hendrij Abendanon sempat mampir ke rumah Bupati Jepara Sosroningrat. Kunjungan Abendanon itu atas usulan penasihat pemerintah kolonial Christian Snouck Hurgronje. Menurut Hurgronje, putri Bupati Sosroningrat cukup terkenal karna berani melanggar feodalisme Jawa dan punya ide untuk menyediakan pendidikan bagi anak perempuan. Saran Hurgronje terbukti. Dalam pengantarnya di buku surat-surat Kartini, Door Duisternis tot Licht, Abendanon mengaku perkenalan dan keramahan keluarga Sosroningrat membuatnya cukup tercengang. Pada kesempatan berikutnya, Abendanon mengundang Kartini dan keluarganya ke Batavia. Dalam sebuah pertemuan Kartini berbincang dengan direktur HBS untuk perempuan Van Loon. Hasilnya, Van Loon bersedia membantu Kartini bila ia hendak meneruskan pendidikan di sekolahnya.
- Om Kacamata di Banda Neira
SUATU sore di Teluk Neira, Maluku, tahun 1936, sekumpulan bocah laki-laki tengah sibuk bermain menikmati mentari senja. Des Alwi Abubakar, kala itu usianya belum genap 10 tahun, ada di antara mereka yang memanjakan diri berenang menembus ombak laut khas Banda. Kelak nama Des Alwi akan dikenal sebagai seorang sejarawan, advokat dan diplomat. Kesenangan bocah-bocah itu terganggu saat seorang penjaga pelabuhan memperingatkan akan datangnya kapal yang berlabuh ke arah mereka. Kapal putih berbendera Belanda tiba. Dua orang tidak dikenal, mengenakan stelan jas (krem) lengkap dengan sepatu putih, turun. “Tuan-tuan itu berwajah pucat,” kenang Des Alwi seperti diungkapkan dalam Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman . Dua orang itu kemudian mendekati Des dan kawan-kawan. Tuan yang tubuhnya lebih pendek menanyakan rumah Tjipto Mangoenkoesoemo, sementara tuan berkacamata hanya diam tersenyum. Berhubung rumah Tjipto jauh, Des menunjukkan rumah Iwa Koeseomasoemantri. Posisinya tepat di depan dermaga. Rupanya tuan-tuan pucat itu adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Mereka baru saja dipindah dari Boven Digul, sebuah tempat pembuangan orang-orang republik yang anti pemerintah kolonial Belanda. Bung Hata dan Bung Sjahrir akan bergabung dengan Tjipto dan Iwa yang sudah sejak 1928 dibuang ke Pulau Banda. Hari-hari mereka di pembuangan tidak sesepi yang dibayangkan. Des dan kawan-kawannya sering bermain di sekitar rumah Hatta-Sjahrir sehingga meramaikan kediaman besar itu. Bocah-bocah Banda ini cepat dekat dengan keduanya. Bung Sjahrir mendapat sapaan “Om Rir”, sedangkan Bung Hatta akrab disapa “Om Kacamata”. Sapaan Om Kacamata ada karena Bung Hatta tidak pernah melepas benda itu, kecuali ketika tidur. Anak-anak menilai Bung Hatta orang yang kaku, pendiam, dan sangat bertolak belakang dengan sifat kawannya Om Rir. Banyaknya koleksi buku juga membuat hari-hari Om Kacamata hanya diisi dengan membaca dan berdiskusi. Dari pertemuannya dengan Om Kacamata dan Om Rir, Des Alwi menerima pengetahuan yang begitu luas. Ia belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis, di samping berbagai pelajaran ilmu politik yang memang menjadi keahlian dua tokoh pendiri bangsa tersebut. Tak lupa, Des dan anak lain diajarkan tentang berhitung, sejarah, serta etika. Kedekatan itu belakangan membuat dua Bung akhrinya meminta izin kepada Raja Baadilla, tokoh Banda keturunan Arab, untuk menjadikan Des dan yang lainnya sebagai anak angkat. Raja Baadilla dan keluarga anak-anak pun setuju. Des, Does, Lily, Mimi, dan Ali resmi menjadi anak angkat Bung Hatta dan Bung Sjahrir. “Om Kacamata dan Om Rir membunuh rasa bosan yang mengigit dengan bermain gundu, sepakbola, mendaki gunung, memetik kembang anggrek, atau menikmati bulan putih di langit malam Banda.” Pada 31 Januari 1942, turun perintah untuk memulangkan dua Bung ke Jakarta. Pesawat kecil jenis Catalina disiapkan dekat Dermaga Neira. Sebelum berangkat, Bung Hatta mengajukan satu syarat kepada pemerintah Hindia Belanda: membawa serta anak angkatnya ke Jakarta. Permintaan itu dikabulkan. Namun menjelang keberangkatan, pesawat tidak mampu menahan berat semua penumpangnya. Akhirnya disepakati, Des tinggal dulu untuk menjaga peti-peti buku Bung Hatta yang belum sempat terangkut. Satu anak lagi yakni Does batal ikut karena orangtuanya keberatan. Tiga bulan kemudian, Des menyusul ke Jakarta. Ia lalu tinggal di kediaman Om Kacamata.*
- Aksi Nommensen di Tanah Batak
MALAPETAKA yang terjadi akibat epidemi kolera di Tanah Batak sungguh mengerikan. Saat itu, angka kematian pada anak-anak sangat tinggi. Kampung-kampung yang tercemar wabah terasa mencekam bahkan ada yang ditinggalkan penghuninya. Sebagian besar keluarga memiliki lebih banyak anak di kuburan daripada di rumah. Diperkirakan, tiga perempat dari populasi anak yang dilahirkan telah meninggal sebelum usia delapan tahun. Demikianlah catatan Ludwig Ingwer Nommensen dalam suratnya tertanggal 5 Juli 1875 yang menggambarkan situasi di kawasan Batak Toba, Tapanuli Utara. Nommensen adalah misionaris zending utusan dari Seminari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Wupertal-Barmen, Jerman. Dia bertugas menjadikan Tanah Batak sebagai ladang penginjilan. Ketika Nommensen memulai pekabaran Injil, penyakit menular yang disebut rakyat setempat “Begu Atuk” tengah mewabah. Selain Nommensen, koleganya Peter Henrich Johannsen juga menyaksikan keadaaan yang sama pilu. Johannsen melaporkan sekira 20–30 orang meninggal setiap hari di Lembah Silindung. Orang tua yang depresi bahkan melakukan bunuh diri karena kehilangan anak-anak mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Batak?





















