top of page

Om Kacamata di Banda Neira

Selama hidup terasing di Banda Neira, Bung Hatta mendapat julukan akrab dari anak-anak setempat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bung Hatta tahun 1967. (nationaalarchief.nl).

23 Apr 2020
2 menit membaca

SUATU sore di Teluk Neira, Maluku, tahun 1936, sekumpulan bocah laki-laki tengah sibuk bermain menikmati mentari senja. Des Alwi Abubakar, kala itu usianya belum genap 10 tahun, ada di antara mereka yang memanjakan diri berenang menembus ombak laut khas Banda. Kelak nama Des Alwi akan dikenal sebagai seorang sejarawan, advokat dan diplomat.


Kesenangan bocah-bocah itu terganggu saat seorang penjaga pelabuhan memperingatkan akan datangnya kapal yang berlabuh ke arah mereka. Kapal putih berbendera Belanda tiba. Dua orang tidak dikenal, mengenakan stelan jas (krem) lengkap dengan sepatu putih, turun. “Tuan-tuan itu berwajah pucat,” kenang Des Alwi seperti diungkapkan dalam Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman.


Dua orang itu kemudian mendekati Des dan kawan-kawan. Tuan yang tubuhnya lebih pendek menanyakan rumah Tjipto Mangoenkoesoemo, sementara tuan berkacamata hanya diam tersenyum. Berhubung rumah Tjipto jauh, Des menunjukkan rumah Iwa Koeseomasoemantri. Posisinya tepat di depan dermaga.


Rupanya tuan-tuan pucat itu adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Mereka baru saja dipindah dari Boven Digul, sebuah tempat pembuangan orang-orang republik yang anti pemerintah kolonial Belanda. Bung Hata dan Bung Sjahrir akan bergabung dengan Tjipto dan Iwa yang sudah sejak 1928 dibuang ke Pulau Banda.


Hari-hari mereka di pembuangan tidak sesepi yang dibayangkan. Des dan kawan-kawannya sering bermain di sekitar rumah Hatta-Sjahrir sehingga meramaikan kediaman besar itu. Bocah-bocah Banda ini cepat dekat dengan keduanya. Bung Sjahrir mendapat sapaan “Om Rir”, sedangkan Bung Hatta akrab disapa “Om Kacamata”.


Sapaan Om Kacamata ada karena Bung Hatta tidak pernah melepas benda itu, kecuali ketika tidur. Anak-anak menilai Bung Hatta orang yang kaku, pendiam, dan sangat bertolak belakang dengan sifat kawannya Om Rir. Banyaknya koleksi buku juga membuat hari-hari Om Kacamata hanya diisi dengan membaca dan berdiskusi.


Dari pertemuannya dengan Om Kacamata dan Om Rir, Des Alwi menerima pengetahuan yang begitu luas. Ia belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis, di samping berbagai pelajaran ilmu politik yang memang menjadi keahlian dua tokoh pendiri bangsa tersebut. Tak lupa, Des dan anak lain diajarkan tentang berhitung, sejarah, serta etika.


Kedekatan itu belakangan membuat dua Bung akhrinya meminta izin kepada Raja Baadilla, tokoh Banda keturunan Arab, untuk menjadikan Des dan yang lainnya sebagai anak angkat. Raja Baadilla dan keluarga anak-anak pun setuju. Des, Does, Lily, Mimi, dan Ali resmi menjadi anak angkat Bung Hatta dan Bung Sjahrir.


“Om Kacamata dan Om Rir membunuh rasa bosan yang mengigit dengan bermain gundu, sepakbola, mendaki gunung, memetik kembang anggrek, atau menikmati bulan putih di langit malam Banda.”


Pada 31 Januari 1942, turun perintah untuk memulangkan dua Bung ke Jakarta. Pesawat kecil jenis Catalina disiapkan dekat Dermaga Neira. Sebelum berangkat, Bung Hatta mengajukan satu syarat kepada pemerintah Hindia Belanda: membawa serta anak angkatnya ke Jakarta. Permintaan itu dikabulkan.


Namun menjelang keberangkatan, pesawat tidak mampu menahan berat semua penumpangnya. Akhirnya disepakati, Des tinggal dulu untuk menjaga peti-peti buku Bung Hatta yang belum sempat terangkut. Satu anak lagi yakni Does batal ikut karena orangtuanya keberatan. Tiga bulan kemudian, Des menyusul ke Jakarta. Ia lalu tinggal di kediaman Om Kacamata.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Djalimin was sentenced to 15 years in prison for killing a Dutch man who was about to rape her. A question posed by a member of the Indonesian House of Representatives to the government led to her release.
bg-gray.jpg
Bersama Henk Sneevliet, Adolf Baars mempelopori komunisme di Indonesia. Takdir keduanya setali tiga uang, berakhir tragis di tangan Nazi.
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Pahlawan sejatinya manusia biasa. Pengajaran sejarah mestinya bisa menghadirkan sosok humanisnya.
Pahlawan sejatinya manusia biasa. Pengajaran sejarah mestinya bisa menghadirkan sosok humanisnya.
Penelitian Belanda dan berbagai kasus gugatan pengadilan yang melibatkan mereka.
Penelitian Belanda dan berbagai kasus gugatan pengadilan yang melibatkan mereka.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
Bergabung dengan NATO bukan hanya jadi masalah buat Presiden Rusia Vladimir Putin. Tujuh puluh tahun silam, hal itu juga menjadi masalah warga Islandia.
Bergabung dengan NATO bukan hanya jadi masalah buat Presiden Rusia Vladimir Putin. Tujuh puluh tahun silam, hal itu juga menjadi masalah warga Islandia.
transparant.png
bottom of page