Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Raja-raja Awal Nusantara yang Berkurban
Kurban hewan muncul dalam beberapa prasasti yang dikeluarkan kerajaan-kerajaan awal di Nusantara. Seperti Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai Kartanegara, Prasasti Tugu dari Kerajaan Tarumanegara, dan Prasasti Dinoyo dari Kerajaan Kanjuruhan, Jawa Timur. "Dalam Prasasti Yupa dan Prasasti Tugu dikisahkan pengurbanan lembu dan jumlahnya fantastis," kata Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang, kepada Historia.id . Dalam salah satu Prasasti Yupa yang ditemukan di Muarakaman, Kalimantan Timur, disebutkan Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana untuk upacara di tanah suci bernama Vaprakeswara. "Di dalam Prasasti Yupa semacam jadi penekanan, bahkan disebutkan tiang atau tugu yang dijadikan tempat mengikat hewan kurban, yang kemudian disebut yupa itu," kata Dwi. Dwi menghubungkan kurban itu dengan kepercayaan Weda yang berkembang pada awal masa sejarah di Nusantara. Dalam praktiknya, Weda menekankan ritual pengorbanan dan brahmana menempati posisi sentral. "Di India awalnya Weda, baru berkembang jadi Hinduisme. Abad-abad awal di Nusantara, religinya yang masuk juga Weda," kata Dwi. Begitu pula dalam Prasasti Tugu yang ditemukan di Kelurahan Tugu, Koja, Jakarta Utara. Awal perkembangan Tarumanegara hanya berselang sebentar setelah munculnya Kutai Kertanegara. Karenanya ada kemungkinan agamanya sama. "Ada beberapa orang berpendapat begitu (pengaruh tradisi Weda, red .). Saya sendiri juga lebih ke situ. Ini berkaitan dengan kepercayaan Weda pada abad ke-4 hingga ke-5," kata Dwi. Tradisi dari India Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam "The Vedic Religion in Nusantara" yang terbit dalam jurnal Kalpataru, Vol. 31 No. 2, Desember 2013, menjelaskan penyebaran agama Weda di India kira-kira antara 2500–1500 SM. "Ini adalah periode di mana Arya, setelah masuk ke India dari Asia Tengah, pertama kali menetap di lembah Indus, dan secara bertahap memperluas dan mengembangkan budaya dan agama mereka," tulis Hariani. Weda memiliki empat kitab sumber,yaitu Rgveda (nyanyian pujian untuk para dewata), Yajurveda (petunjuk ritual pengurbanan), Samaveda (nyanyian dalam ritual pengurbanan), dan Atharvaveda (mantra dan ajaran yang bersifat magis). Hariani menjelaskan, ritual pengurbanan menempati posisi penting dalam kepercayaan Weda. Termasuk mempersembahkan susu, biji-bijian, jus tanaman dan buah-buahan. Ada dua jenis upacara pengurbanan. Pertama, pengurbanan sederhana di rumah masing-masing dan dipimpin oleh penghuni rumah. Makanan sesaji dimasak terlebih dahulu kemudian dipersembahkan kepada Dewa Agni, Prajapati, dan Surya. Kedua, pengurbanan besar yang dilakukan oleh para brahmana di tanah lapang atau dikenal sebagai ksetra . Altar dan yupa atau tiang pengikat kurban ditegakkan di dekat pintu masuk ksetra. "Yupa diukir dari batang pohon khusus, tetapi pada periode kemudian, ketika ritual Weda dihidupkan kembali pada periode Hindu, yupa dibuat dari batu," tulis Hariani. Menurut arkeolog Sri Soejatmi Satari dalam "Upacara Weda di Jawa Timur: Telaah Baru Prasasti Dinoyo" yang dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi 2005, upacara kurban hewan ( pasubandha ) merupakan salah satu ritual dalam kepercayaan Weda sebagai tahapan dalam penghormatan kepada Dewa Agni (Dewa Api). Hewan yang dikurbankan diikat di tempat terbuka. Permukaannya ditutup rumput. "Hal yang menandai upacara Weda adalah diadakannya upacara kurban binatang. Termasuk lembu yang dalam agama Hindu jelas dilarang," tulis Soejatmi. Agama India Pertama Ada tiga raja dalam prasasti yang mengundang para brahmana untuk melakukan persembahan, yaitu Raja Kutai Kertanegara Mulawarman (abad ke-4), Raja Tarumanagara Purnawarman (abad ke-5), dan Raja Kanjuruhan Gajayana (abad ke-7). Tujuh prasasti yupa yang dikeluarkan Mulawarman diperkirakan dari abad ke-4-5. Isinya banyak menceritakan sumbangsihnya pada upacara keagamaan. Salah satu prasasti menyebutkan Mulawarman menyumbang emas yang banyak. Lima prasasti menyebutnya memberikan 20.000 ekor sapi, 11 ekor lembu jantan, monyet merah, banyak minyak wijen, lampu dengan bunga, air sapi (mungkin susu), dan tanah ksetra . "Setelah mempelajari prasasti Mulawarman, saya menganggap bahwa Mulawarman telah memeluk ajaran Weda," tulis Hariani. Alasan yang mencolok karena Mulawarman melakukan persembahannya di ksetra , bukan di kuil ( prasada ). Dalam Prasasti Tugu disebutkan Purnawarman menyumbang 1000 ekor sapi sebagai persembahan untuk upacaya yang dilakukan oleh para brahmana. "Tersebut nama dua kanal yang digali atas perintah Raja Purnawarman, yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga. Kedua nama itu adalah anak-anak sungai Indus, permukiman pertama Arya di India," tulis Hariani. Selain prasasti, ada catatan tertulis yang berasal dari era Tarumanagara. Penulisnya Faxian, pengelana Buddha dari Tiongkok, yang pergi ke India untuk mengunjungi tempat-tempat suci Buddha. Pada 414, Faxian kembali ke negaranya melalui Sri Lanka. Namun, dalam perjalanan, kapalnya diserang badai. Kapalnya karam di Ye-bo-di yang mungkin sebutan untuk Jawa. Menurut Faxian, hanya ada sedikit umat Buddha di Yebodi. Namun, cukup banyak brahmana yang tidak menjalankan agama mereka sebagaimana mestinya. "Apakah Faxian melihat ritual Weda di Tarumanagara, yang berbeda dari ritual Hindu di India? Jadi, ia menyimpulkan bahwa agama di Tarumanagara tidak dipraktikkan dengan benar?" tulis Hariani. Hariani menyebut ritual Weda mungkin juga dilakukan di Kota Kapur, Bangka. Di antara tinggalannya adalah altar Weda dan fragmen arca Wisnu yang mungkin dari abad ke-5-6. Dari karakteristiknya, Hariani tak yakin temuan itu merupakan sisa-sisa candi. Ukurannya terlalu kecil dan tidak biasa untuk candi. Mungkin sisa-sisa altar Weda untuk persembahan kepada Wisnu karena ditemukan fragmen arang. Hariani pernah mendapatkan informasi temuan lingga, objek pemujaan yang menyimbolkan Siwa, di tengah sisa-sisa bangunan itu. Bentuknya masih kasar. Ia membandingkannya dengan temuan yupa yang belum selesai di Muarakaman. Mungkin lingga kasar itu adalah yupa yang belum selesai. Upacara Weda masih dijalankan di Jawa pada abad ke-7. Prasasti Dinoyo (760) menyebutkan upacara penggantian arca rsi Agastya yang berbahan kayu cendana menjadi marmer hitam dan indah. Dalam upacara itu, raja dibantu para imam Weda. "Raja Gajayana bahkan menganut Siwaisme (Hindu-Siwa), namun ia mengundang pendeta-pendeta Weda untuk melakukan persembahan Weda," tulis Hariani. Prasasti Dinoyo juga menyebut adanya ahli Rgveda , ahli Weda dalam upacara, para pertapa ( yati ) terbaik, para pemahat, dan para ahli lainnya dari penduduk negeri. Raja menganugerahkan tanah lapang, lembu-lembu gemuk bersama dengan kawanan kerbau, serta sekelompok budak laki-laki dan perempuan. Soejatmi menjelaskan semua hadiah itu disediakan untuk berbagai upacara, seperti prawara-caru-hawis-snana. Bila dibandingkan dengan upacara Weda di India, upacara ini sangat dekat dengan Somayajna. Upacaranya dilaksanakan berjenjang dan rumit. Prawara adalah seruan kepada pendeta untuk upacara dan seruan Agni untuk melakukan upacara korban. Caru adalah persembahan kepada dewa berupa bubur yang dimasak dalam periuk. Dalam Somayajna berupa gandum. Sedangkan dalam Prasasti Dinoyo berupa beras. Hawis adalah persembahan kepada dewa yang langsung dimasukkan ke dalam api. Persembahan dilakukan lewat perantara Agni sebelum diadakannya upacara. Snana merupakan upacara mensucikan diri dengan mandi. Untuk keperluan upacara ini, raja menyediakan tanah lapang, lembu gemuk dan kerbau untuk dipersembahkan kepada dewa. Di Nusantara, tradisi Weda cenderung melakukan persembahan kepada Wisnu. Ini dipercaya akan mendatangkan banyak hal, seperti mengatasi permusuhan dan menghancurkan musuh. "Karena bagi raja, mereka akan mendapatkan kekuatan dan energi yang melekat dalam kerajaan untuk menjadi raja dunia," tulis Hariani. Di Muarakaman ditemukan arca Wisnu dari emas. Di Cibuaya, Jawa Barat, ada dua arca Wisnu. Frgamen arca Wisnu juga ditemukan di Kota Kapur, Bangka. "Membawa saya pada asumsi bahwa agama Weda awal di Nusantara memilih Wisnu untuk ibadah khusus," tulis Hariani. Selain Wisnu, dewa penting lain adalah Agni yang disebutkan dalam Prasasti Yupa. Dalam Prasasti Dinoyo disebut Putikesvara atau api suci yang menyala ke segala arah. Namun, Dewa Wisnu tidak disebutkan dalam Prasasti Dinoyo karena agama Gajayana adalah Hindu (Siwaisme). Ia mungkin menyembah Agastya, karena sang rsi adalah murid Siwa dan dianggap sebagai mediator antara manusia dan Dewa Siwa. Kemungkinan lain adalah Agastya dikenal sebagai yang dipuja dalam himne Rgveda . "Kita dapat menyimpulkan bahwa agama Weda merupakan agama India pertama yang dianut oleh para penguasa di Nusantara," tulis Hariani.
- Sintong Dikerjai Tape Recorder Kala Berupaya Merebut RRI
Jakarta, 1 Oktober 1965. Di markas RPKAD (kini Kopassus) Cijantung, Letda Sintong Panjaitan (di kemudian hari menjadi penasehat militer Presiden Habibie) telah menyiapkan semua keperluan operasi yang akan dijalaninya secara lengkap. Di ranselnya telah ada amunisi untuk garis pertama dan logistik untuk tiga hari. Namun, dia cemas menanti kepastian tanggal tugas berupa operasi penerjunan infiltrasi di Kuching, Sarawak, Malaysia itu. “Sintong memperkirakan pelaksanaannya mungkin pada tanggal 2 atau 3 Oktober. Sebab pada tanggal 1 Oktober, seluruh anggota Kompi Tanjung harus benar-benar sudah dalam keadaan siap tempur,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Sintong akan memimpin Pleton 1 Kompi Feisal Tanjung. Namun karena status kompi itu dalam operasi tersebut berupa sukarewalan Dwikora, para personil harus menanggalkan semua atribut resmi personil RPKAD mereka, tak terkecuali kartu anggota. Karena itulah seragam dan semua perlengkapan resmi mereka tinggalkan di asrama Batalyon 3 RPKAD di Kandang Menjangan, Kartosuro. Usai apel pagi 1 Oktober, Sintong diberitahu Lettu Faisal Tanjung yang telah mendapat briefing dari Dan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie bahwa operasi penerjunan ke Kuching dibatalkan. Kompi Tanjung pun dikembalikan sebagai kompi reguler dan akan ditugaskan dalam operasi penumpasan gerombolan G30S yang kabarnya masih belum jelas benar pagi itu. Tugas baru itu membuat Sintong dan semua personil di Kompi Tanjung kalang kabut. Seragam dan semua atribut resmi mereka semua ada di Kartosuro. Mereka akhirnya terpaksa mengenakan seragam perpaduan atasan loreng “darah mengalir” RPKAD yang diberikan mako Cijantung dan bawahan celana hijau sukarelawan Dwikora ketika berangkat ke Makostrad, Jalan Merdeka Timur, untuk menjalankan tugas. Pangkostrad Mayjen Soeharto menugaskan Kolonel Sarwo untuk merebut RRI dan kantor Telkom. Perintah Soeharto kemudian diturunkan Sarwo Edhie ke Mayor C.I Santoso, lalu ke Lettu Feisal Tanjung. Lantaran informasi intelijen mengabarkan bahwa saat itu RRI hanya dijaga 10-an sukarelawan Pemuda Rakyat, bukan lagi oleh Banteng Raiders, Feisal akhirnya hanya perlu menggunakan kompi Sintong untuk merebut RRI . Selepas magrib, Sintong memimpin Pleton 1 berjalan kaki menuju RRI . Tak ada perlawanan sama sekali sehingga satu demi satu personil Pleton 1 bisa memasuki gedung RRI . Setelah pengecekan ruangan demi ruangan selesai, Sintong melaporkan lewat radio kepada Lettu Feisal bahwa misinya telah berhasil. Laporan Sintong itu sontak mengagetkan Kolonel Sarwo yang memantau di ruangan bersama Feisal sambil mendengarkan siaran RRI. “Apa? RRI sudah diduduki? Coba kamu periksa semua ruangan duu. Itu aktivitas mereka masih di dalam!” kata Sarwo. Sintong pun bingung dibuatnya karena merasa sudah memeriksa semua ruangan dan tak menemukan seorangpun yang masih beraktivitas. Setelah mengulangi pemeriksaan, Sintong kembali melaporkan telah menguasai sasaran. “Laporanmu tidak benar. Kamu bersihkan dulu dengan bersih. Jangan buru-buru kamu lapor. Kamu tangkap dulu semua orang yang berada di situ!” kata Kolonel Sarwo menjawab laporan Sintong. Dalam kebingungannya, Sintong tak sengaja melihat pita tape recorder sedang berputar di alat pemutarnya. “Jangan-jangan ini yang menjadi masalah. Kalau begitu Pak Sarwo menyangka masih ada anggota G30S/PKI yang melakukan siaran, berasal dari suara tape recorder ini,” kata Sintong. Merasa sudah menemukan biang keroknya, Sintong pun berupaya menghancurkan tape player itu menggunakan popor senapannya. Namun dia dicegah seorang karyawan RRI yang segera mematikan tape player tersebut. Setelah semua selesai, Sintong mempersilakan Kapuspen AD Brigjen Ibnu Subroto, yang karena khawatir minta Sintong mengulangi pemeriksaan keamanan, masuk ruang siaran untuk membacakan teks pidato Pangkostrad Mayjen Soeharto. Usai siaran, beberapa perwira senior RPKAD tiba di sana. Salah seorang di antaranya langsung mengolok-olok Sintong. “Ah, kampungan kamu itu. Masa kamu tadi tidak tahu kalau siaran G30S/PKI itu berasal dari tape recorder ,” kata perwira itu. Tak ingin kehilangan muka, Sintong pun menjawab olok-olok itu. “Ya, tapi tadi saya mendapat perintah mencari orangnya.” Sontak semua yang ada di ruangan tertawa.
- Kiper Legendaris Manchester Bekas Pemuda Hitler
MANCHESTER City boleh gagal mempertahankan gelar Premier League (liga teratas Inggris) di musim ini (2019-2020). Namun, rival sekota Manchester United itu boleh bangga terhadap kiper utama Ederson Santana de Moraes yang memetik Premier League Golden Glove Award sekaligus mengukir namanya di jajaran kiper-kiper terbaik The Citizens (julukan Man. City) dari era Bert Trautmann hingga Joe Hart. Anugerah sarung tangan emas Premier League sendiri baru diadakan pada musim 2004-2005. Sebelum Ederson yang merengkuhnya pada 26 Juli 2020, kiper Man. City Joe Hart pernah mendulangnya bahkan sampai empat kali (2010-2013, dan 2015). Capaian itu membuktikan Man. City merupakan tim Inggris yang senantiasa punya bintang di bawah mistar gawang. Salah satu kiper legendaris Man. City adalah Trautmann, dari era 1950-1960-an. Namanya terdengar asing di telinga publik sepakbola dunia lantaran ia tak pernah mentas di turnamen internasional semisal Piala Dunia. Kisahnya tenggelam dengan kemunculan banyak kiper legendaris dunia setelahnya, mulai dari Gordon Banks, Dino Zoff, Sepp Maier, hingga Peter Schmeichel. Ederson Santana de Moraes (kanan) meraih Golden Glove Award Premier League 2019-2020 (Foto: Twitter @ManCity) Namun ketidakpopulerannya tak berarti kualitasnya buruk. Kiper legendaris Uni Soviet yang jadi panutan kiper-kiper dunia Lev Yashin pernah memuji tinggi Trautmann. “Hanya ada dua kiper berkelas dunia. Satu adalah Lev Yashin, lainnya adalah bocah Jerman yang bermain di Manchester: Trautmann,” kata Yashin menyanjung, dikutip laman klub mancity.com dalam obituarinya untuk Trautmann, 19 Juli 2013. Trautmann memang berasal dari Jerman. Di Perang Dunia II ia turut angkat senjata dengan jadi serdadu Jerman. Riwayatnya dua tahun lalu (rilis 1 Oktober 2018) diangkat ke layar lebar dengan tajuk The Keeper yang diproduksi Zephyr Films dan Lieblingsfilm. Tawanan Perang Bekas Pemuda Hitler Pada 22 Oktober 1923 di Walle, sebuah distrik di barat Bremen, Bernhard Carl ‘Bernie’ Trautmann lahir sebagai sulung dari dua bersaudara hasil pernikahan Frieda Elster dan Karl Trautmann. Olahraga jadi penyaluran kesenangan satu-satunya Trautmann mengingat ia hidup di tengah keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Karl hanyalah pekerja pelabuhan. Rob Steen menuliskan dalam Floodlights and Touchlines: A History of Spectator Sport , Trautmann kecil cakap dalam tiga bidang olahraga: sepakbola, bola tangan, dan dodgeball di tim lokal organisasi gereja. Berbekal kecakapan itu dan dengan kategori sebagai bocah Arya, ia masuk Deutsches Jungvolk (DJ), seksi junior (untuk anak umur 10-14 tahun) di Organisasi Hitlerjugend (Pemuda Hitler), pada Agustus 1933. Ketika Hitler berkuasa, Pemuda Hitler jadi organisasi yang wajib diikuti hampir semua anak usia sekolah. Dari beragam aktivitas di Pemuda Hitler pula Trautmann mengasah skill barunya, teknik mesin. Sebelum Perang Dunia II, ia magang sebagai mekanik otomotif sampai pada 1941, tahun dia mendaftar masuk Luftwaffe (AU Jerman). “Orang-orang bertanya, ‘kenapa (ikut perang, red. )?’, tetapi saat Anda muda perang laiknya sebuah petualangan. Lagipula tumbuh di Jermannya Hitler Anda tak bisa punya pilihan lain,” kata Trautmann, dikutip Steen. Berbekal kemampuan teknik mesin dan elektronik, Trautmann ditempatan sebagai prajurit operator radio. Ia lantas ditransfer ke Spandau dan digojlok lagi untuk masuk unit Fallschirmjäger (lintas udara). Tetapi karena kecelakaan saat bergurau dan mengakibatkan seorang atasannya terluka, Trautmann dipecat pada pertengahan 1941. Namun ia belum puas bertualang di medan perang. Pada Oktober 1941, ia mendaftar masuk ke matra darat dan diterima di Divisi Infantri ke-35 AD Jerman yang dipimpin Jenderal Walther Fischer von Weikersthal yang ditempatkan di front timur, Ukraina. Ilustrasi Bert Trautmann sebagai serdadu Fallschirmjäger di Perang Dunia II (Foto: Repro "Trautmann's Journey"/Twitter @FootballMuseum) Dalam masa inilah ia mengaku sempat kesulitan menerima kenyataan dan horor perang karena mengalami langsung. Utamanya terkait perlakuan brutal pasukan paramiliter Nazi Schutzstaffel (SS) maupun beberapa unit AD Jerman terhadap tawanan Uni Soviet. “Mulanya Anda tak berpikir bahwa musuh adalah sesama manusia. Lalu ketika Anda mulai menangkap para tawanan, Anda mendengar mereka menangis, berteriak menyebut ayah dan ibunya. Saat Anda bertemu musuh, barulah Anda merasa dia sama-sama manusia seperti saya,” ujarnya mengenang. Ada masa ketika dia ditawan pasukan Soviet. Beruntung ia bisa melarikan diri dan bergabung lagi ke pasukannya. Ia lantas dipindah ke Prancis pasca-invasi Normandia (Juni 1944) dan ditempatkan di Kleve, perbatasan Jerman-Belanda. Pemboman Sekutu membuatnya nyaris gila hingga memilih desersi. Sempat ditangkap lagi oleh pasukan Prancis pada Maret 1945, ia kembali meloloskan diri hingga akhirnya ditangkap pasukan Amerika. “Dia mencoba kabur karena takut akan dieksekusi Tentara Amerika. Tapi setelah dia melompat pagar, dia mendarat di hadapan tentara Inggris yang menyapanya: ‘Halo Fritz (sebutan Tentara Inggris untuk Tentara Jerman, red .), mau secangkir teh?’” ungkap Alan Rowlands dalam Trautmann: The Biography. Berakhirlah petualangan Trautmann di medan perang. Ia ditawan dan bergonta-ganti tempat penahanan, mulai dari Ostend (Belgia), Essex, Marbury Hall, Chesire, Fort Crosby, hingga Ashton-in-Makerfield, Inggris. Di kamp itulah Trautmann kembali bermain sepakbola, bersama rekan-rekan sesama tahanan dan penjaga kamp. Mulanya ia jadi penyerang, namun kelamaan dia jadi kiper pengganti setelah Günther Lühr, kiper andalan tim tahanan, cedera. Jagoan Penalti yang Ditakuti Meski belajar jadi kiper secara otodidak, kemampuan Trautmann cukup bikin para penjaga kamp terkesan, sampai dijuluki “Bert”. Sejak itu ia dikenal sebagai Bert Trautmann, nama yang digunakannya ketika diajak para penjaga kamp mengikuti laga-laga eksebisi melawan tim-tim lokal di luar kamp. “Saya mengajukan diri (ke militer) umur tujuh belas. Saya mulanya pasukan payung. Bertempur di Rusia selama tiga tahun. Saya berada di Prancis setelah D-Day (Invasi Normandia). Sempat juga saya di Arnhem, kemudian Ardennes. Saya ditangkap pada Maret 1945 dan ke Inggris sebagai tawanan perang. Di Inggris itulah pelajaran hidup yang sesungguhnya buat saya dimulai pada usia 22,” kata Trautmann kepada Catrine Clay yang dituangkan dalam Trautmann’s Journey: From Hitler Youth to FA Cup Legend. Trautmann mengembangkan bakatnya sebagai kiper di tim sepakbola tahanan perang di Inggris (Foto: Twitter @ManCity) Pelajaran hidup itu terkait olahraga. Walau masih berstatus tahanan, ia bisa menikmatinya dengan leluasa, tak seperti di masa sebelumnya dalam medan perang. “Olahraga sudah menjadi bagian dari hidup saya. Olahraga jadi penyaluran mental dalam segala situasi, baik maupun buruk, bahkan di Rusia ketika saya memerangi partisan dan kami harus menggantung diri di pepohonan dengan sabuk-sabuk kulit kami karena di situlah tempat paling aman. Bahkan di masa seperti itu, resimen punya tim bola tangan,” ungkapnya lagi kepada Clay yang menemuinya di Manchester pada Oktober 2007. “Beberapakali juga saat terbebas dari tugas di front terdepan, kami memainkannya demi menjaga kewarasan. Setelah perang, di Inggris, sepakbola yang saya geluti, lalu menjadi kiper Manchester City dan tiba-tiba jadi orang yang dikenal. Sungguh tak bisa dipercaya,” lanjutnya. Trautmann merintis kariernya sebagai kiper memang bermula dari tim tawanan perang. Ia memilih berdiam di Inggris meski ditawari repatriasi pulang ke negerinya setelah dibebaskan pada 1948. Sembari bekerja sebagai buruh tani, Trautmann main di liga amatir Liverpool County Combination bersama tim St. Helens Town. Sebagai eks-tawanan dan tentara Jerman, Trautmann mendapat perlakuan tak mengenakkan dari publik. Tetapi perlahan ia bisa mengubah masa lalu kelam itu menjadi kekaguman berkat aksi-aksi apiknya di bawah mistar hingga mengantarkan St. Helens Town naik level ke divisi dua liga amatir, Lanchashire Combination, pada musim 1949-1950. Kolase aksi-aksi Trautmann di bawah mistar gawang Manchester City (Foto: mancity.com ) Beberapa klub Football League (kini Premier League) mendengar kisahnya. Dari sekian klub yang dirumorkan kepincut, Manchester City yang pertama meminangnya, 7 Oktober 1949. Trautmann langsung jadi pilihan utama sebulan berselang, setelah kiper utama Frank Swift pensiun. Tetapi makin besar panggungnya, makin besar pula tekanan yang diterimanya dengan perundungan suporter yang sering meneriakinya “Kraut”, “Nazi”. Itu membuatnya harus menata mentalnya lagi dari nol. Beruntung dia didukung kapten tim Eric Westwood yang lebih dulu mengondusifkan internal tim. “Tidak ada perang di ruang ganti ini,” kataWestwood, yang juga eks-kombatan di Invasi Normandia, tegas. Sementara di ruang publik, Rabi Alexander Altmann, pemuka Yahudi di Manchester, yang prihatin, merilis surat terbuka untuk para fans di suratkabar Manchester Evening Chronicle agar meredam teror terhadap Trautmann. “Dia (Altmann) menyatakan, apakah kita bisa menghukum seorang individu atas dosa-dosa sebuah negara?” sambung Steen. Sebulan setelah surat terbuka itu, perundungan terhadap Trautmann mereda. Sang kiper pun menyambangi komunitas Yahudi untuk bertukar pengertian dan berterimakasih atas dukungan terhadapnya. Selepas itu Trautmann bisa berkonsentrasi penuh pada kariernya di Man. City. Total ia mencatatkan 545 laga sejak 1949 hingga 1964. Suporter Man. City berubah menjadi kagum padanya. Selain karena skill , Trautmann dikagumi karena rendah hati dan senantiasa berkenan memberi tanda tangan usai laga. “Selepas laga, saya masih akan selalu di lapangan memberi tanda tangan, biasanya sampai sejam, kadang lebih. Saya tak pernah mau menolaknya. Pemain lain bertanya: ‘Kenapa Anda mau melakukannya, Bert?’ Namun mereka tak mengerti. Setelah perang, saya jadi tawanan dan perlahan mulai diberi pengertian, diberi maaf dan mendapat banyak persahabatan. Saya ingin membalasnya, menunjukkan bahwa masih ada orang Jerman yang baik,” tuturnya kepada Clay lagi. Insiden di final FA Cup 1956 yang mengakibatkan Trautmann bermain dengan cedera leher hingga akhir laga (Foto: fifa.com ) Trautmann jadi kiper yang ditakuti pemain lawan, utamanya kala tendangan penalti. Sepanjang kariernya, 60 persen penalti sukses ia mentahkan berkat intuisi dan kecermatan pandangannya melihat mata pemain lawan. “Dia kiper terbaik yang pernah saya hadapi. Kami selalu mengatakan (pada rekan-rekan setim), jangan melihat gawang ketika mencoba mencetak gol ke gawang Bert. Karena jika melihat ke arah gawang, dia akan melihat mata Anda dan membaca pikiran Anda,” kenang legenda Manchester United Bobby Charlton, juga dikutip Clay. Saking berharganya Trautmann, Man. City sampai menolak tawaran seribu poundsterling dari klub Jerman Schalke 04 yang ingin memulangkannya pada 1952. Man. City merasa Trautmann bernilai 20 kali lipat dari nilai tawaran Schalke. Namun, kiper dengan gaya yang lebih gemar melempar bola jauh ketimbang melakukan tendangan gawang itu hanya bisa mengantarkan satu gelar buat Man. City, yakni gelar FA Cup musim 1955-1956. Di final, Trautmann dkk. menghadapi Birmingham City di Stadion Wembley, 5 Mei 1956. Sialnya, pada menit ke-75 ketika Man. City sedang unggul 3-1, terjadi insiden di mana Trautmann ditubruk pemain Birmingham Peter Murphy di kotak penalti. Lehernya nyeri dan ternyata ia mengalami patah leher. Akan tetapi Trautmann menolak diganti walau menahan rasa sakit tak terkira. Sampai akhir laga, City tetap unggul dan berhak atas trofi FA Cup. “Saya tak pernah lagi merasa takut setelah berperang melawan partisan, bahkan untuk sebuah cedera patah leher. Anda bisa jadi kiper yang baik, namun untuk jadi kiper hebat Anda harus punya hati. Semua kiper hebat memilikinya: hati dan keberanian,” imbuh Trautmann. Selepas pensiun Trautmann jadi SC Preußen Münster, SC Opel Rüsselsheim, Timnas Myanmar, Tanzania, Liberia, hingga Pakistan sebelum wafat pada 2013 (Foto: fifa.com ) Usai pemeriksaan x-ray tiga hari berselang, tim dokter menyatakan tulang tengkuk Trautmann mengalami dislokasi di lima titik. Ia pun harus absen di separuh musim berikutnya, setelah naik meja operasi. Meski comeback , Trautmann sering jadi kiper cadangan. Dia memutuskan mengakhiri 15 tahun kariernya di Man. City pada 15 April 1964 dengan sebuah laga eksebisi antara tim kombinasi Man. City-Man. United melawan tim International XI. “Sebenarnya pertandingan tak pernah benar-benar berakhir. Suporter menyerbu ke lapangan sampai harus diamankan jalur buat kami bisa keluar lapangan. Secara emosional, itulah momen luar biasa saya. Tentu saya menangis dan saya tak malu mengakuinya,” tandasnya. “Berapa banyak momen luar biasa yang pernah Anda alami seumur hidup? Saya selalu berterimakasih pada masyarakat Inggris, utamanya warga Lancashire dan rekan-rekan pesepakbola profesional yang menerima saya setelah masa perang dan sebagai seorang Jerman, dan membuat saya jadi seperti ini,” tutur Trautmann yang wafat pada 19 Juli 2013 akibat penyakit jantung.
- Berebut Takhta Hitler
Di hari yang cerah itu, 20 April 1945, segenap pejabat dan perwira terdekat Adolf Hitler berkumpul di aula Kekanseliran, Berlin. Kebetulan tak ada teror pemboman Uni Soviet saat itu, sehingga pesta ulangtahun ke-56 sang führer bisa digelar meriah. Dengan menyembunyikan tangan kirinya yang menderita tremor ke punggungnya, Hitler tiba di ruangan disambut semua hadirin dengan salam Nazi yang dikomando SS-Reichsführer Heinrich Himmler. Heil ! Semua calon suksesor Hitler turut hadir. Selain Himmler, ada Reichsmarschall Hermann Goering (ejaan Jerman: Göring), orang nomor dua paling berkuasa di Jerman Nazi setelah Hitler. Dikisahkan Ian Kershaw dalam Hitler: 1936-1945 Nemesis , sementara Goering langsung pergi setelah menyalami Hitler, Himmler mencoba membujuk Hitler untuk mau keluar dari Berlin, ibukota Jerman Nazi yang sedang dicecar ofensif Soviet. Dibantu diplomat Walther Hewel, Himmler menyarankan Hitler bernegosiasi politik dengan Sekutu. “Aku muak dengan politik. Tak apa, temanku Himmler yang setia. Pergilah (keluar dari Berlin),” tutur Hitler, dikutip Kershaw. Itu jadi pertemuan terakhir Hitler dengan Himmler dan Goering. Ultimatum Goering Di antara kaki tangan terdekat Hitler, Goering paling banyak mengoleksi titel sejak Hitler naik jadi kanselir pada 1933 dan pemimpin absolut Jerman setahun kemudian. Titelnya Reichsmarschall des Grossdeutschen Reiches (Marsekal Jerman Raya), sementara jabatannya Präsident des Reichstags (Presiden Perwakilan Rakyat), Menteri-Presiden, Gubernur Prusia, Menteri Penerbangan Jerman, serta tentunya Panglima Luftwaffe (AU Jerman). Goeringlah calon terkuat suksesor Hitler. Kans tersebut diperkuat dengan Dekrit 29 Juni 1941 yang dikeluarkan Hitler. “Dekrit itu menetapkan bahwa, jika Hitler meninggal, Goering menjadi suksesor; dan jika Führer tidak mampu jadi pemimpin langsung, Goering yang mewakili sebagai deputinya,” tulis J.C. Boone dalam Hitler at the Obersalzberg: With Perceptions. Dua hari setelah menghadiri hari ulangtahun Hitler (20 April), Goering di markasnya di Obersalzberg terkejut mendengar perkembangan situasi di bunker Hitler dari wakilnya, Kepala Staf Luftwaffe General der Flieger Karl Koller. Hitler, kata Koller, menyatakan bahwa Jerman telah kalah perang dan ia akan bertahan di Berlin untuk kemudian bunuh diri. Sebagai wakil Hitler, Goering merasa dialah yang berhak untuk memutuskan nasib Jerman ke depannya. Termasuk opsi negosiasi dengan Sekutu. Namun Goering masih takut dicap pengkhianat jika langsung bertindak tanpa sepengetahuan dan seiizin Hitler di bunkernya. Goering (kanan) bersama Hitler pada satu kesempatan sebelum dicap pengkhianat gegara telegram berisi ultimatum (Foto: nac.gov.pl ) Goering mesti hati-hati mengambil langkah berikutnya. Selain berkonsultasi dengan Koller, Goering juga berdiskusi dengan Men Sekretaris Hans Lammers. Kesimpulannya, Hitler dan semua pejabat yang bertahan di Berlin sudah pasti akan menghadapi kematian dan oleh karenanya Hitler tidak mampu menjalankan lagi pemerintahan. Artinya, Goering merasa berhak menggantikannya. Tapi sebelum itu, lanjut Boone, Goering mengirim telegram pada dini hari 23 April untuk mengonfirmasi bahwa Goering akan melanjutkan kepemimpinan Jerman berpegangan pada dekrit 1941. Goering juga mengeluarkan ultimatum bahwa jika Hitler tak mengirim telegram balasan pada pukul 10 malam, diasumsikan Hitler telah kehilangan kebebasan bertindak alias meninggal. Hal itu jelas meluapkan amarah Hitler. “Hermann Goering telah berkhianat dan meninggalkan aku dan tanah airnya. Di belakangku dia membuka kontak dengan musuh. Tindakannya menandakan sikap pengecut. Melawan perintahku dia memilih menyelamatkan diri di Berchtesgaden!” kata Hitler, dikutip William L. Shirer dalam Rise and Fall of the Third Reich: A History of Nazi Germany. “Ultimatum? Ultimatum bodoh! Sekarang tiada lagi yang tersisa. Tiada kesetiaan yang dijaga, kehormatan yang dirawat. Segera aku perintahkan Goering ditangkap sebagai pengkhianat negara. Lucuti jabatannya!” seru Hitler kepada Generalfeldmarschall Robert Ritter von Greim, orang yang ditunjuk Hitler menggantikan Goering sebagai panglima Luftwaffe. Pada 25 April, Hitler mengirim balasan telegram yang berisikan perintah penangkapan terhadap Goering. Goering diberi pilihan: dieksekusi atau mundur dari semua jabatannya dengan alasan kesehatan. Goering memilih opsi terakhir. Meski begitu, Goering lantas memilih menyerahkan diri ke Sekutu dan ditahan di Radstadt pada 6 Mei. Ia lantas diajukan ke Persidangan Nuremberg dan divonis mati. Goering memilih bunuh diri dengan kapsul sianida di selnya ketimbang dihukum mati di tiang gantung. Himmler yang (Tak) Setia Malam itu, 28 April 1945, Hitler makan malam di bunker bersama orang-orang terdekatnya, di antaranya Menteri Propaganda Joseph Goebbels, Bormann, dan Marsekal Greim. Seraya bersantap, Hitler mengoceh tiada henti tentang pengkhianatan Goering. Hitler juga membandingkan Goering dengan Himmler, panglima SS yang sejak lama dijulukinya “ Der Treue Heinrich” atau “si loyal Heinrich”. Namun di momen makan malam itu, Hitler kemudian menerima laporan dari Deputi Sekretaris Pers Heinz Lorenz. Laporan itu merupakan tangkapan staf operator radio dan komunikasi Oberscharführer (sersan) Rochus Misch terhadap siaran radio BBC dan Reuters tentang upaya Himmler mencoba bernegosiasi dengan Sekutu. Hitler pun terhenyak. “Untuk sejenak Hitler kehilangan kendali. Kemarahannya begitu lantang terdengar dari tempat saya di bawah ruangan makannya: ‘Himmler. Dari semua orang, Himmler!’ Kemarahannya mengingatkan saya terkait reaksinya ketika (Deputi Hitler di Partai Nazi, Rudolf) Hess melarikan diri ke Inggris pada 1941,” kenang Misch dalam memoarnya, Hitler’s Last Witness. Sejatinya Himmler sudah memikirkan negosiasi dengan Sekutu sejak Januari 1945 atau empat bulan sebelum bertemu Hitler di pesta ulangtahun, 20 April 1945. Himmler memulainya dengan mengirim terapis kesehatan pribadinya, Felix Kersten, sebagai perantara negosiasi dengan diplomat Swedia Count Folke Bernadotte. Dari pertemuannya dengan Bernadotte, Kersten lantas mempertemukan Himmler dengan Norbert Masur, wakil Swedia di Kongres Yahudi Dunia. Di belakang Hitler, Himmler dan Masur sepakat menegosiasikan pembebasan tahanan Yahudi di kamp-kamp konsentrasi. Himmler (kanan) yang sempat disebut Hitler sebagai kawan paling setia sebelum berkhianat jelang runtuhnya Nazi (Foto: nac.gov.pl ) Diam-diam, Himmler dengan bantuan pemerintah Denmark dan Palang Merah Swedia lalu menggelar operasi “Bita Bussarna” guna membebaskan 20 ribu tahanan Yahudi pada musim semi 1945. Himmler sendiri baru bertatap muka dengan Bernadotte di Konsulat Swedia di Lübeck pada 23 April atau hari yang sama ketika Goering mengirim ultimatum ke Hitler. “Ia (Himmler) memperkenalkan diri sebagai pemimpin sementara Jerman. Ia mengklaim Hitler akan mati dalam beberapa hari ke depan. Himmler berharap Bernadotte bisa jadi perantara negosiasi dengan Jenderal Dwight Eisenhower (Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa), di mana Jerman bersedia menyerahkan Eropa Barat. Bernadotte meminta Himmler mengajukan proposalnya secara tertulis,” sambung Shirer. Proposal itulah yang disiarkan radio-radio Sekutu dan ditangkap Hitler sehingga tahu Himmler telah mengkhianatinya. Sebagai langkah preventif terhadap potensi percobaan pembunuhan, Hitler memerintahkan agar Hermann Fegelein, wakil penghubung Himmler di bunker, ditangkap dan dieksekusi. Kesialan Himmler mencapai puncak saat menerima kenyataan Sekutu menolak bernegosiasi. Ia tetap jadi orang yang diburu sebagai penjahat perang dan arsitek holocaust pasca-kapitulasi Jerman. Pada 23 Mei, ia tertangkap dan ditahan pasukan Inggris di kamp interogasi dekat Lüneburg. Saat tengah diperiksa tim medis, Himmler menggigit kapsul sianida dan 15 menit kemudian nyawanya melayang. Doenitz Pilihan Hitler Panglima Kriegsmarine (AL Jerman) Großadmiral Karl Doenitz (ejaan Jerman: Dönitz) ibarat plot twist dalam kisah Hitler setelah dikhianati Goering dan Himmler. Dialah yang dipilih Hitler sebagai suksesornya. Meski namanya tak termasuk di lingkaran dalam kekuasaan seperti Himmler atau Goering, Doenitz mendapat respek dari Hitler berkat upayanya membangun Kriegsmarine yang berujungtombakkan kapal selam. Doenitz pula yang merancang Rudeltaktik (taktik kawanan serigala kapal-kapal selam Jerman) yang sohor di Pertempuran Atlantik (3 September 1939-8 Mei 1945). Di samping reputasi Doenitz, alasan pemilihan Hitler dilatarbelakangi oleh fakta tak ada satupun perwira Kriegsmarine aktif yang terlibat dalam Plot 20 Juli. Satu-satunya yang terlibat, Laksamana Wilhelm Canaris, saat itu bertugas sebagai kepala Abwehr (Dinas Intelijen Angkatan Bersenjata Jerman). Bukan hanya Doenitz, sejumlah perwira angkatan darat terkejut akan keputusan Hitler di hari-hari terakhirnya itu. “Siapa Tuan Doenitz ini? Pasukan saya tak terikat sumpah kepadanya. Saya akan bernegosiasi sendiri dengan pasukan Inggris di belakang saya,” ujar Obergruppenführer (letjen) Felix Steiner, salah satu jenderal SS di Pertempuran Berlin (16 April-2 Mei 1945), dikutip Ian Kershaw dalam The End: The Defiance and Destruction of Hitler’s Germany 1944-1945. Doenitz menjabat Reichspräsident merangkap menteri perang dan panglima Kriegsmarine. Dia kemudian mendirikan pemerintahan di Flensburg, sebagaimana dimuat dalam wasiat Hitler yang ditandatangani di bunker, 29 April 1945. “ Führer meninggal kemarin (30 April 1945) pada pukul 15.30. Wasiat pada 29 April menunjuk Anda sebagai Reichpräsident (terlampir nama-nama anggota kabinet). Wasiat perintah Führer akan dikirimkan kepada Anda oleh Bormann. Waktu dan dan bentuk pengumuman kepada pers dan pasukan diserahkan pada Anda,” tulis Goebbels dalam telegramnya kepada Doenitz tertanggal 1 Mei 1945, dikutip Shirer. Laksamana Doenitz (kiri) sempat tak percaya ia ditunjuk sebagai suksesor Hitler (Foto: nac.gov.pl ) Doenitz sadar bahwa negaranya sudah di ambang keruntuhan. Opsi menyerah kepada Sekutu jadi harga mati ketimbang menyerah pada Soviet. Maka perintah pertamanya sebagai presiden adalah menggenjot upaya evakuasi sisa-sisa pasukan Jerman di front timur lewat Operasi Hannibal yang sudah ia rintis pada Januari 1945. Evakuasi pasukan dari koridor Polandia dan Prusia Timur dilakukan dengan mengerahkan kapal-kapal Kriegsmarine. Mengingat Soviet kian menguasai Berlin, Doenitz mempercayakan pada wakilnya, Laksamana Hans-Georg von Friedeburg, agar mengulur waktu kapitulasi di markas Jenderal Eisenhower di Rheims. Tujuannya agar ketika kapitulasi disepakati dan ditandatangani, semua sisa pasukan Jerman lebih dulu diselamatkan dari front timur ke front barat. Praktis Doenitz hanya menjabat sebagai presiden selama 22 hari lantaran pada 23 Mei 1945 ia ditahan resimen RAF (AU Inggris). Pemerintahannya di Flensburg pun otomatis bubar. Satu-satunya keberhasilan pemerintahannya, lewat Operasi Hannibal Doenitz menyelamatkan 2,2 juta pasukan Jerman dari penangkapan pasukan Soviet di front timur. Di Pengadilan Nuremberg, Doenitz dihadapkan pada tiga dakwaan: konspirasi terhadap kejahatan terhadap perdamaian dan kemanusiaan, merencanakan dan menginisiasi agresi perang, dan kejahatan terhadap hukum perang. Ia divonis hukuman 10 tahun penjara karena dianggap bersalah pada dakwaan kedua dan ketiga. Doenitz tutup usia pada 24 Desember 1980 akibat serangan jantung. Walau tak dimakamkan dengan upacara militer di Pemakaman Waldfriedhof, banyak mantan anak buahnya hadir untuk memberi penghormatan terakhir.
- Umpatan Serdadu Belanda di Danau Toba
Sebagai upaya menyatukan seluruh Nusantara di bawah cengkeramannya, pemerintah kolonial Belanda bergerak menuju ke Tanah Batak. Pax Nederlandica demikian sebutan untuk misi penyatuan wilayah jajahan itu. Ekspedisi militer tersebut juga bertujuan untuk melindungi para zendeling , misionaris yang menyebarkan agama Kristen. Perlawanan datang dari Raja Batak Sisingamangaraja XII. Sejak Desember 1877, muncul desas-desus, “Si Singamangaraja akan datang dengan pasukan Acehnya untuk membunuh orang Eropa dan orang Kristen di kalangan penduduk,” tulis Walter Boar Sidjabat dalam Ahu Si Singamangaraja . Berita itu menggemparkan pemerintah kolonial dan juga penginjil Batakmission. Pada 1 Maret 1878, Residen Boyle mengirimkan sebanyak 250 tentara dari Sibolga ke Danau Toba. Pada 20 Maret 1878, tentara Belanda memasuki Lembah Silindung dan membakar beberapa kampung. Pangaloan, Sigompulon, dan Silindung dinyatakan menjadi wilayah taklukan Belanda. Tidak cukup dengan menguasai perkampungan padat penduduk, pasukan Belanda berniat menaklukkan seluruh negeri Batak di sepanjang kawasan Danau Toba. Dalam ekspedisi tersebut, turut serta seorang misionaris bernama Ludwig Inger Nommensen. Dia utusan Seminari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Wupertal-Barmen, Jerman. Selama perang berlangsung, Nommensen yang bertugas sebagai penerjemah dan perantara mencatat dengan seksama apa yang terjadi. “Di mana-mana terlihat kampung yang hangus dan berasap. Penghuninya bersembunyi di jurang-jurang pegunungan dan langsung melarikan diri apabila ada yang mendekat, " kata Nommensen tersuadalam majalah mingguan RMG Berichte der Rheinischen Missionsgesellchaft ( BRMG ) tahun 1878 dalam Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba karya Uli Kozok. Pada 30 April 1878, ekspedisi militer ke huta Bakara untuk menumpas pasukan Sisingamangaraja dimulai. Nommensen mencatat, ketika pasukan mendekati tebing terlihat Lembah Bakara yang indah.Pemandangan yang menakjubkan! Jalannya menurun tajam ke lembah yangterletak 550–600 meter di bawah. Namun setiba di Bakara, pertempuran sengit berlangsung. Nommensen mencatat dalam laporannya, penduduk kampung-kampung melawan dengan gigihnya. Serdadu yang berusaha memanjat tembok dilempari dengan batu sehingga jatuh berguling. Jerit-tangis laki-laki, perempuan, anak-anak, kakek-kakek dan nenek-nenek bergema di seluruh lembah. Raja-raja kecil yang tidak dapat mempertahankan kampungnya menyerah kalah. Di Huta Ginjang, Meat, dan Tangga Batu, para rajanya dikenakan denda dan wajib sumpah setia pada Belanda. Namun di Gurgur, serdadu Belanda dibikin kerepotan oleh pasukan Batak. Jalan menuju Gurgur terjal, sekira 550-600 meter lebih tinggi. Orang Batak sudah berkumpul di atas dan menggulingkan batu ke arah barisan serdadu Belanda. Di sinilah pasukan Belanda mengalami kerugian besar. Sebanyak 2 orang meninggal sedangkan 12 lainnya cedera. Di perjalanan menuju Balige, terlihat pemandangan yang miris. Alam Danau Toba yang permai bersanding dengan nuansa kejamnya perang. Di mana-mana terlihat kampung yang hangus masih berasap. Penghuninya bersembunyi di jurang-jurang pegunungan dan langsung lari apabila ada yang mendekati persembunyiannya. “Itulah saat yang paling menyedihkan bagi kami yang datang sebagai utusan damai dan sekarang kami harus melihat bagaimana penduduk diusir dari rumahnya,” kenang Nommensen dalam laporannya. Setelah Balige dimasuki serdadu Belanda, Raja Balige pun menyatakan tunduk. Panas terik melanda ketika Residen Boyle mengadakan inspeksi meninjau daerah Balige, Serdadu yang datang setengah jam kemudian langsung menceburkan diri ke pinggir danau. Untuk kali pertama mereka langsung merasakan kenyaman Danau Toba. Banyak diantara mereka yang memandang hamparan Danau Toba dengan penuh kekaguman. Namun, ada juga yang mengungkapkan perasaan jengkelnya. “Bahwa bangsa kafir yang jorok itu memiliki bagian dunia yang begitu indah,” demikian umpatan para serdadu pongah itu sebagaimana dikutip Nommensen. Penaklukkan terus berlangsung hingga Mei 1878 yang dikenal sebagai Perang Toba I ( Batak Oorlog ). Menurut filolog Uli Kozok, penaklukan ini punya arti penting dan strategis bagi pemerintah Belanda. Tanah Batak dengan kawasan Danau Toba sebagai jantungnya terletak di antara Aceh dan Minangkabau. Dengan demikian, Tanah Batak diharapkan sebagai wilayah penyangga untuk membendung pengaruh Islam. Sementara kawasan ekonomi di Deli yang sedang berkembang dapat terus berjalan dengan aman. Lebih dari seabad berselang, tepatnya pada 10 Maret 1996, Pangeran Belanda Bernhard of Lippe-Biesterfeld berkunjung ke Sumatra Utara. Tentu saja Bernhard tidak melewatkan kesempatan menyambangi Danau Toba. Usia sang pangeran kala itu 85 tahun. Media massa memberitakan aktivitas Pangeran Bernhard yang tidak dapat menyembunyikan kekagumannya saat mengunjungi Danau Toba. Karena itu, dia ingin lagi datang untuk menikmati keindahan danau Toba. Bernhard mengakui Toba seperti kampung halamannya sendiri. Harian Kompas , 12 Maret 1996 mewartakan, “Pangeran Bernhard ingin namanya diabadikan di Toba.” Tawaran itu datang sendiri dari Bernhard langsung. Pangeran negeri oranye ini mungkin alpa sejarah, bahwa para serdadunya pernah mengumpat di sana usai melakukan penghancuran dan perusakan.
- Sorak-Sorak Bergembira Keliling Kota
Pada masa revolusi 1945, komponis Cornel Simanjuntak membuat lagu berjudul “Sorak-Sorak Bergembira” yang kemudian menjadi populer dan banyak dinyanyikan para pejuang. Pada suatu hari, Cornel mengajak kawan-kawannya berkeliling Jakarta. Mereka lalu berkeliling dari kampung ke kampung menggunakan mobil bak terbuka. “Di sepanjang jalan, dengan iringan sebuah gitar kami menyanyikan lagu-lagu perjuangan Sorak-Sorak Bergembira , Maju Tak Gentar dan lain-lain, sambil melambai-lambaikan bendera merah putih,” kisah Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang. Dalam rombongan itu turut serta Suryo Sumanto, D. Djajakusuma, Gayus Siagian, hingga Usmar Ismail. Belakangan, rombongan ini menjadi tokoh-tokoh kebudayaan ternama di Indonesia dari bidang musik hingga perfilman. Rombongan berkeliling kota dan berhenti pada tempat-tempat tertentu untuk menyanyikan lagu-lagu perjuangan bikinan Cornel. Orang-orang kemudian mengerumuni pick up mereka. Dan mimbar terbuka pun digelar untuk mereka yang ingin berpidato. “Pada pokoknya ia memberikan penerangan tentang kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan, dan yang harus dibela dan dipertahankan,” kenang Binsar. Kegiatan keliling kota ini dilakukan berkali-kali pada masa genting itu. Hingga suatu ketika, mereka tak bisa lagi keliling kota karena mulai terjadi adu tembak di berbagai sudut kota. Pertempuran antara pemuda Republik dan serdadu Belanda semakin sering terjadi. Hampir setiap hari terjadi pertempuran di Petojo, Jaga Monyet, Jatinegara, Senen hingga Tangsi Penggorengan. Sementara itu, Cornel dan kawan-kawannya berpisah. Masing-masing bergabung dengan kesatuan-kesatuan pejuang yang berbeda di Jakarta. Binsar Sitompul bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Laut di Tanjung Priok. BKR Laut kemudian menjadi TKR Laut. Sementara, Cornel bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31. Belakangan Cornel tertembak pahanya, mengungsi ke Karawang dan kemudian kabur ke Yogyakarta. Cornel meninggal dunia karena sakit paru-paru pada 15 September 1946. Pasca-1965, lagu-lagu ciptaan Cornel dinyanyikan lagi dari atas truk. Namun kali ini bukan untuk merayakan kemerdekaan, tapi dinyanyikan para tahanan politik yang dituduh terlibat G30S. Lagu seperti “Sorak-Sorak Bergembira ” beserta lagu-lagu perjuangan lainnya dinyanyikan di atas truk melewati jalanan Jakarta mengiringi para tapol itu menuju pembuangan. Hersri Setiawan dalam Memoar Pulau Buru mengisahkan bagaimana para tapol menyanyikan lagu-lagu yang menggema dari atas konvoi truk itu. “Iringan-iringan truk mulai bergerak. Satu demi satu meninggalkan halaman dalam RTC Tangerang. Maka bergemalah paduan suara dari atas belasan truk. Syair demi syair membahana, Bangunlah Kaum –maksudnya Internasionale , Halo-Halo Bandung , Sorak-Sorak Bergembira , Darah Rakyat , Dua Belas November , dan berbagai lagu revolusioner lainnya. Udara siang Jakarta seperti bertambah panas,” tulis Hersri. Hersri yang berada di dalam truk di tengah-tengah konvoi menjadi satu dari 850 tapol yang diberangkatn siang itu. Jika Cornel dan kawan-kawan penuh semangat revolusi, Hersri dan ratusan tapol dalam situasi penuh ketidakpastian di bawah kuasa militer. “Dalam konvoi yang amat panjang, di tengah derum-derum bunyi berbagai kendaraan bermotor yang melaju sangat cepat, hingar-bingar suara paduan suara itu sebenarnya hanya menambah bising saja. Lebih tertuju kepada diri para penyanyi sendiri ketimbang pada siapapun,” tulis Hersri. Suasana jalanan pun berbeda. Tak ada sambutan suka-cita dari rakyat dan para pejuang. Tak ada orang berkumpul untuk mendengarkan pidato-pidato kemerdekaan. Lalu lintas memang ditutup ketika mereka lewat. “Orang lalu-lalang dilarang. Masyarakat dilarang menampakkan diri di sepanjang jalan yang dilewati konvoi. Yang menampak di pinggir jalan, hanya deretan serdadu-serdadu Angkatan Darat dalam siaga tempur, yang berdiri membelakangi jalan pada jarak sekitar setiap 50 meter,” kenang Hersri. Walaupun kembali dinyanyikan oleh para tapol, “Sorak-Sorak Bergembira” atau “Maju Tak Gentar” tak bernasib buruk seperti lagu-lagu yang di-PKI-kan. Lagu-lagu itu masih bisa dinyanyikan bahkan menjadi lagu nasional. Berbeda dari lagu-lagu yang dicap komunis seperti “Genjer-Genjer”, “Internasionale” maupun “Darah Rakyat”.
- Makna Menarik Kain Jarik
Twitter diramaikan oleh thread tentang "Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset Akdemik dari Mahasiswa PTN di SBY". Pembuatnya, akun mufis @m_fikris , mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang bernama Gilang yang memiliki fetish . " Fetish adalah ketika seseorang merasakan rangsangan seksual dari fantasi atau perilaku seksual yang melibatkan nonliving objects , misal sepatu, celana dalam, bra, atau bagian tubuh nongenital, bisa itu rambut hingga kaki," kata psikolog Inez Kristianti, dikutip dari Suara.com . Untuk kasus Gilang, nonliving objects yang membuatnya bergairah seksual adalah kain jarik. Kain jarik merupakan kain panjang yang memiliki motif batik dengan berbagai corak. Setiap daerah mempunyai ciri dan motif berbeda-beda. Dulu, jarik menunjukan status sosial dan dari mana orang tersebut berasal. Namun, umumnya kain jarik dipakai oleh semua orang termasuk rakyat biasa karena memiliki beragam fungsi. Bram Palgunadi dalam Serat Kandha Karawitan Jawi: Mengenal Seni Karawitan Jawa, menyebut di wilayah pedalaman atau pedesaan, lazimnya penduduk yang akan menonton pagelaran datang dengan berkalung kain sarung atau kain jarik. Kain sarung atau kain jarik ini sifatnya serbaguna karena selain dipakai bisa juga digunakan sebagai alas tidur, penutup kepala dan badan, atau sekadar sebagai tabir penahan dingin. Ternyata, jarik bukan sembarang kain. Orang Jawa memberinya makna. M. Hariwijaya dalam Islam Kejawen: Sejarah, Anyaman Mistik, dan Simbolisme Jawa menjelaskan bahwa jarik atau sinjang merupakan kain panjang yang dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna aja gampang serik . Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak grusa-grusu apalagi emosional. Jarik dikenakan selalu dengan cara diwiru ujungnya sedemikian rupa. Membuat wiru atau wiron dengan cara melipat-lipat ujung jarik. Berarti jarik tidak lepas dari wiru . Wiru artinya wiwiren aja ngantikleru yang artinya olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. " Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed , rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya bekerjalah sepanjang hari," tulis Hariwijaya. Makna kain jarik sebagai penutup tubuh menjadi istilah bagi orang tua dalam mencari jodoh untuk anaknya. "Dari sisi pakaian, orang dianggap lebih ideal, lebih baik, lebih sopan, seorang bapak yang mencari menantu adalah yang jaritan (kain jarik, ed .). Tapi hal seperti itu sekarang mulai ditinggalkan, pakai jarik atau pakai celana yang pentingpakaiannya sopan," tulis Lusi Margiyani dan Moh. Yasir Alimi (ed.) dalam Sosialisasi Gender: Menjinakkan Takdir, Mendidik Anak Secara Adil . Sementara itu, kain jarik yang membebat tubuh perempuan bermakna bahwa perempuan harus menjaga kesucian dirinya dalam arti tidak mudah menyerahkan diri kepada siapa pun. Di balik makna jarik itu, menurut Hariwijaya, ada perilaku dengan jarik yang tidak sopan dan harus dijauhi, yaitu berselimut kain jarik. "Tidak sepantasnya karena jarik hanya untuk menyelimuti jenazah sebelum dikebumikan," tulis Hariwijaya.
- Dari Mata Keranjang hingga Mata Ijo
Istilah Mata Keranjang Ada dua pendapat berbeda. Remy Sylado yakin ini lantaran transliterasi dan transkripsi yang tak konsisten dari huruf Arab gundul ke aksara Melayu. Dalam Arab gundul, mata keranjang tersusun atas huruf mim-alif-ta dengan kaf-ra’-nun-jim-nga . Karena huruf kaf dan ra' digandeng, orang membacanya mata keranjang. Mulanya istilah ini untuk menandakan keranjang punya banyak celah yang bisa tembus mata. Tapi ketika Ejaan Yang Disempurnakan resmi digunakan pada 1972, preposisi "ke" terpisah dengan kata di depannya sehingga menjadi "mata ke ranjang". Ini mengasosiasikan mata melihat lawan seks lalu langsung terpikir ke atas ranjang. Pendapat berbeda diutarakan sejarawan Alwi Shahab. Menurutnya istilah ini berasal dari kebiasaan lelaki Jakarta melihat nona-nona Indo bercelana pendek bermain bola keranjang (basket) pada 1950-an. Istilah Hidung Belang Penggunaan istilah hidung belang terjejaki dari kisah cinta yang tragis Jan Peterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal VOC. Dia mencintai anak tirinya, Sarah Specx. Namun, anak tirinya justru lebih memilih perwira VOC, Pieter Cortenhoeff. Coen, yang melihat anak tirinya berduaan di kamar bersama perwira VOC itu, sontak berang. Dia mencambuk Specx dan menghukum mati Cortenhoeff. Menurut Remy Sylado, sebelum dieksekusi, Cortenhoeff diarak keliling kota. Masyarakat Batavia menghujat dan mencoreng wajah Cortenhoeff dengan arang. Karena corengan arang, yang juga mengenai hidungnya, masyarakat menjulukinya hidung belang. Cortenhoeff si hidung belang. Saat itulah istilah hidung belang mulai dikenal. Menariknya, pemerintah kolonial Belanda pernah menyensor pementasan teater yang mengangkat kisah cinta Coen dan anak tirinya. Soalnya, kisah cinta ini jelas menodai citra sang pahlawan nasional Belanda itu. Mata Ijo Mata duitan Sejarawan Alwi Shahab menyebut sebutan ini bermula dari dekade 1950. Kala itu uang di Indonesia masih dalam pecahan sen. Uang pecahan seratus sen disebut dengan istilah ce-tun atau seperak. Uang seperak ini warnanya hijau, hingga ada istilah " matanye ijo kalo liat duit" . Istilah itu digunakan untuk menyebut orang mata duitan.
- Ikhwanul Muslimin, PKI, dan D.N. Aidit
Pada akhir tahun 1991, melalui kolom surat pembaca di Al Muslimun (majalah milik organisasi Persatuan Islam di Bangil), seorang sarjana sejarah bernama Abdul Rojak protes keras kepada Kuntowidjojo. Pasalnya orang yang mengaku sebagai pemerhati sejarah Islam di Indonesia tersebut tidak menerima sang budayawan menyebut “Ikhwanul Muslimin sebagai kepunyaan Partai Komunis Indonesia (PKI)” dalam sebuah bukunya: Paradigma Islam, Intepretasi untuk Aksi . “Saya kecewa. Apa maksudnya Pak Kunto menyebut organisasi Islam terkemuka di dunia tersebut sebagai kepunyaan PKI?” tulisnya. Lama sekali surat itu tak berbalas. Entah karena Kuntowidjojo tak membaca Al Muslimun atau karena hal lain (terlebih saat itu dia diberitakan sedang sakit keras), yang jelas klarifikasi darinya tak kunjung tiba. Sebulan kemudian, penerangan itu pun muncul juga. Namun bukan Kuntowidjojo yang menjawab melainkan budayawan Ajip Rosidi. Ajip membenarkan bahwa pada era kejayaannya sekitar 1960-an, PKI memang pernah memiliki sebuah sayap agama yang bernama Ikhwanul Muslimin. “Ikhwanul Muslimin di situ memang bukan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan al Banna dkk di Mesir, melainkan nama organisasi yang memang didirikan oleh PKI, di Indonesia…” ujar Ajip yang menuliskan penjelasan itu saat dia tengah berada di Jepang. Apa yang disampaikan oleh Ajip Rosidi memang benar adanya. Pasca Pemilu 1955, orang-orang komunis memang pernah berusaha mendekatkan diri dengan Islam. Idham Chalid dalam buku biografinya: Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid menyebutkan pada 1960-an, Partai Komunis Indonesia (PKI) memang pernah mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Solo, Jawa Tengah. Ikhwanul Muslimin bikinan PKI itu dipimpin oleh KH. Sirat. Namun menurut ulama terkemuka NU itu, dirinya sangsi bahwa KH. Sirat mengerti garis-garis perjuangan PKI yang menggunakan paham marxisme dan leninisme. Dia bahkan meyakini KH Sirat hanya melihat perjuangan PKI sebatas sebagai organ yang melawan penjajajah saat masa perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. Idham juga menyatakan bahwa lewat salah seorang murid KH. Sirat bernama Ibu Mahmud Damawati dirinya diberitahu bahwa KH. Sirat sesungguhnya tidak pernah menjadi anggota PKI. “Inilah salah satu pandainya PKI yang berhasil meyakinkan beliau bahwa PKI akan membantu umat Islam…” ungkapnya. Kendati kerap diidentikan anti agama, namun bila melihat rekam jejak para pemimpin PKI selalu ditemukan hubungan mereka yang cukup dekat dengan agama. Sebagai contoh sosok pimpinan mereka: D.N. Aidit. Alih-alih tumbuh sebagai seorang yang anti agama, era 1930-an, Aidit muda malah dikenal sebagai seorang muadzin (tukang adzan) di lingkungan tempat tinggalnya yang terletak dalam wilayah Jalan Belantu, Belitung. “Karena suaranya keras, dia kerap diminta mengumandangkan adzan,”ujar Murad Aidit kepada majalah Tempo edisi 1 Oktober 2007. Murad merupakan salah satu adik Aidit. Putera ketiga dari Abdullah Aidit yang merupakan aktivis partai Islam Masjumi di Belitung. Uniknya, saat Aidit sudah menjadi aktivis PKI pada 1948, dia pun menikahi Soetanti secara Islam. Dan tak tanggung-tanggung, penghulu yang menikahkan mereka adalah KH. Raden Dasuki, sesepuh PKI Solo! Aidit juga pernah “menyiratkan”bahwa Nabi Muhammad Saw. bukan hanya milik golongan tertentu dan PKI tidak anti agama. Pada 28 April 1954 saat sebagai Sekretaris I PKI ia berpidato di depan kader PKI Malang. “Nabi Muhammad Saw. bukanlah milik Masjumi sendiri, iman Islamnya jauh lebih baik daripada Masjumi. Memilih Masjumi sama dengan mendoakan agar seluruh dunia masuk neraka. Masuk Masjumi itu haram dan masuk PKI itu halal!”ujarnya seperti dikutip oleh Remy Madinier dalam Partai Masjumi, Antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral. Menurut sejarawan asal Prancis tersebut, kata-kata Aidit sontak mendapat respon keras dari para aktivis Masjumi setempat yang langsung mengepung podium tempat Aidit berpidato. Setelah dipaksa oleh Hasan Aidid (Ketua Masjumi Cabang Surabaya), untuk menarik perkataannya, Aidit pun berujar ke khalayak yang mengepungnya: “Apabila diantara saudara ada yang tersinggung oleh ucapan-ucapan saya, maka saya meminta maaf. Saya hanya ingin mengatakan bahwa PKI tidak anti agama,” ungkapnya.
- Karier Sepakbola Erdogan Penuh Tanda Tanya
TAHUN 2020 seolah milik Recep Tayyip Erdogan. Setelah pada 10 Juli lalu resmi mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid, kini ia mendapati klub sepakbola yang didukungnya, Başakşehir FK, menjuarai Süper Lig Turki yang tutup musim 2019/2020 pada Minggu (26/7/2020). Saking girangnya, putra kedua Presiden Erdogan, Necmettin Bilal Erdogan, sampai berlarian ke tengah lapangan untuk turut merayakan kemenangan. Başakşehir merupakan klub plat merah milik Kementerian Pemuda dan Olahraga Turki, di dalamnya masih dikuasai Partai Pembangunan dan Keadilan Turki (AKP) yang mengusung Erdogan. Dibesut eks pemain timnas Okan Buruk, klub itu untuk kali pertama menjuarai liga Turki kasta teratas sejak promosi dari kasta kedua, TFF 1. League 11 tahun sebelumnya. Sukses Başakşehir via “jalur” Covid-19 itu sekaligus mematahkan dominasi “ The Big Three ”: Galatasaray SK, Beşiktaş JK, dan Fenerbahçe SK. Ketiga raksasa Turki itu kebetulan juga tengah dibelit persoalan finansial gegara pandemi virus corona , utamanya setelah liga dihentikan sementara pada Maret lalu. Namun, tidak halnya dengan Başakşehir. Klub semenjana ini tak punya problem serupa. Gaji para pemain bintangnya seperti Robinho (eks-Real Madrid), Demba Ba (eks-Chelsea), Martin Škrtel (eks-Liverpool), Eljero Elia (eks-Juventus), Gökhan İnler (eks-Napoli), dan Gaël Clichy (eks-Arsenal) lancar. Gelar juara tersebut paling ditunggu Erdogan sejak dua tahun silam. “Kami ingin Başakşehir menargetkan gelar juara di liga politik, sebagaimana di liga sepakbola. Jika kita tak berhasil di lapangan hijau, maka kita juga akan lemah dalam pertarungan politik,” kata Erdogan, dikutip Al-Monitor , 16 April 2018. Başakşehir FK merayakan gelar juara Süper Lig Turki musim 2019/2020 (Foto: ibfk.com.tr ) Bukan rahasia bila Başakşehir dijadikan alat politik Erdogan. Klub yang berdiri pada 1990 itu laiknya cabang buat AKP sejak 2014 ketika diambilalih kepemilikannya dari pemerintah kota Istanbul. Presiden klub, Göksel Gumüşdağ, merupakan kader Partai AKP yang masih punya hubungan keluarga dengan istri Erdogan. Salah satu anggota dewan direksinya, Ahmet Ketenci, adalah ipar dari salah satu putra Erdogan. Sebulan menjelang pemilihan presiden 2014, Erdogan rela tampil membelanya dalam sebuah laga eksebisi dalam rangka pembukaan stadion baru di Istanbul, 28 Juli 2014. Dalam laga yang turut diikuti beberapa pejabat, seniman, selebritis, dan sejumlah mantan atlet Turki itu, ia mencetak hattrick (tiga gol). Erdogan kala itu mengenakan jersey oranye bernomor punggung 12 dengan emblem Başakşehir walau timnya bernama Turuncu Takim. Nomor punggung itu resmi dipensiunkan Başakşehir saat merayakan juara musim 2019/2020. Sepakbola Sembunyi-Sembunyi Lahir dari rahim Tenzile Mutlu pada 26 Februari 1954 di perkampungan miskin di Istanbul, Kasımpaşa, Erdogan kecil mesti sudah banting tulang karena keluarganya hidup pas-pasan. Nafkah keluarga hanya seadanya karena ayah Erdogan, Ahmet Erdogan, hanyalah anak buah kapal di feri-feri Istanbul. Erdogan kecil sampai harus membantu ekonomi keluarga dengan menjadi pedangang asongan. Biasanya setelah pulang sekolah Erdogan menjajakan simit (roti khas Turki mirip donat) dan beragam minuman di jalan-jalan kota Istanbul. Satu-satunya kesenangan yang ia punya hanyalah sepakbola yang ia mainkan dengan teman-teman satu sekolahnya di waktu luang. Erdogan mengenang masa lalu sepakbolanya ketika diwawancarai dalam program olahraga NTVSpor yang disitat Daily Sabah , 14 November 2017. Menurutnya, ia memulai petualangan sepakbolanya di usia 15 tahun. “Kami biasanya bermain dengan bola yang terbuat dari kertas di perkampungan kami. Sementara di klub amatir, Erokspor menyarankan saya bermain di Camialtı , salah satu klub amatir top di 1970-an,” tutur Erdogan. Nomor punggung 12 di Başakşehir dipensiunkan untuk sang presiden (Foto: Twitter @ibfk2014) Meski sang ibu tak keberatan Erdogan punya angan-angan jadi pesepakbola, ayahnya tak mengizinkan. Akibatnya, sebagaimana dituliskan John McManus dalam Welcome to Hell? In Search of the Real Turkish Football , Erdogan sampai harus sembunyi-sembunyi untuk bisa tampil di lapangan membela Erokspor dan Camialtı SK di kompetisi amatir. “Saya mencintai sepakbola. Itu menjadi hasrat saya. Angan itu selalu masuk dalam mimpi saya saat tidur malam. Tetapi ayah saya tak pernah memberi izin. Katanya: ‘Sepakbola takkan membuat perut kenyang.’ Tetapi Recep Tayyip muda selalu menentang ayahnya dengan menyembunyikan sepatu sepakbolanya di bunker batubara,” kata Erdogan mengenang, dikutip McManus. Karena main di kompetisi amatir, Erdogan bisa menyambi sepakbolanya dengan sekolah. Walau tak terlalu pintar, Erdogan dikenal sebagai pelajar yang rajin dan punya nilai bagus di pelajaran agama Islam dan olahraga. Seorang tetangga Erdogan yang juga kapten tim semi-pro İETT Spor sampai merekomendasikannya untuk bergabung ke tim yang dimiliki İETT, badan usaha bidang transportasi milik Pemerintah Provinsi Istanbul. Prospek itu benar-benar dipikirkan Erdogan. Pasalnya, sebagaimana dituliskan Patrik Keddie dalam The Passion: Football and the Story of Modern Turkey , Erdogan di bawah panji Camialtı berkembang dengan cukup baik. Dengan keunggulan posturnya, pemain jangkung 185 cm saat berusia sekolah menengah atas itu disebutkan menarik perhatian Fenerbahçe, klub yang diidolakannya sejak bocah. Erdogan termasuk pemain serba bisa lantaran mulanya ia ditempatkan sebagai penyerang, lalu gelandang, kemudian bek. “Erdogan mengklaim bahwa saat bermain untuk Camialtı saat berlaga melawan Kasımpaşaspor di tahun 1973, ia dipantau oleh pelatih Fenerbahçe asal Brasil, Didi (Waldyr Pereira) dan klub memberikan tawaran (kontrak profesional, red ). Tetapi Erdogan mengaku bahwa ayahnya tak membolehkan proses transfer –dia menginginkan putranya fokus pada studinya,” ungkap Keddie. Di masa muda, Erdogan sempat meniti karier di sepakbola amatir dan semi-profesional (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Tapi begitu lulus pada 1970-an dan sudah berhak menentukan jalan hidupnya, Erdogan menghadap ke sang ayah dan menyatakan akan tetap bermain bola di klub yang juga membolehkannya bekerja. Maka tawaran dari tetangganya di İETT Spor diterimanya. Jadi sembari bekerja sebagai karyawan İETT dengan gaji bulanan, Erdogan main untuk klub IETT. “Saya menikmati lima gelar dalam tujuh tahun di İETT. Awalnya saya penyerang, kemudian main di tengah, lalu saya dipindah posisi di belakang sebagai sweeper. Selain posisi kiper, bisa dibilang saya mampu main di posisi mana saja. Sepakbola permainan keras. Tubuh saya terdapat beberapa luka jahit. Bekas lukanya masih tampak. Makanya setiap saya bercermin, saya mengingat masa-masa saya sebagai pesepakbola,” kata Erdogan mengenang. Di Balik Karier Sepakbola Karier sepakbola Erdogan harus berhenti pada 1980. Penyebabnya, Erdogan terlibat percekcokan dengan manajemen baru İETT. Di sisi lain, Erdogan makin sibuk dengan aktivitas politiknya. Sejak 1970-an, Erdogan ikut MTTB, sayap pemuda Partai Keselamatan Nasional (MSP) pimpinan Necmettin Erbakan. Keputusan Erdogan itu disayangkan beberapa rekannya. Walau secara teknik tak menonjol, Erdogan punya kelebihan fisik dan kelugasan bermain yang dibutuhkan untuk menjegal setiap alur permainan lawan. Erdogan juga punya pengaruh besar terhadap penyiapan mental rekan-rekannya dengan acap mengajak shalat berjamaah. “Dia selalu menggelar sajadah dan shalat di ruang ganti. Teman-teman setimnya menyebutnya hoca , guru agama. Seringkali Erdogan dan pelatihnya mengajak tim (shalat berjamaah) ke Masjid Sultan Eyüp dan sering menjadi imamnya. ‘Kami memenangi semua pertandingan yang dimainkan dekat (distrik) Eyüp. Keimanan adalah 50 persen dari kesuksesan’ katanya,” sambung McManus. Sejak keputusan mundur itu, Erdogan benar-benar meninggalkan sepakbola. Ia hanya menikmati sepakbola lewat tontonan semata. “Tetapi setelah kudeta militer di tahun itu juga, Erdogan vakum dari perpolitikan, mengingat MSP dibubarkan. Setelah meninggalkan İETT Spor, ia memilih bekerja di sektor swasta, di industri tekstil,” singkap Soner Çağaptay dalam The New Sultan: Erdogan and the Crisis of Modern Turkey. Erdogan kemudian sempat menjalani wajib militer sebelum masuk kembali ke dunia politik. Karier politik Erdogan melejit sejak 1994 dengan menjadi walikota Istanbul. Ia mendaki tangga politik lebih tinggi dengan menjadi perdana menteri pada 2003, untuk kemudian menjadi presiden (2014). Karier emas Erdogan di semi-pro bersama İETT Spor (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Lantaran penggunaan sepakbola untuk urusan politiknya, gosip-gosip miring tentang benar-tidaknya soal karier sepakbola Ergodang pun bermunculan. Utamanya tentang tawaran dari klub Fenerbahçe yang diklaimnya urung ia ambil gegara tak diizinkan ayahnya. Terdapat beberapa perbedaan detail tentang kariernya dari sumber-sumber berlainan. Oleh karenanya beberapa sumber mengambil “jalan tengah” dengan menyebut ia berkarier di era 1970-an. Dalam wawancaranya dengan NTVSpor , disebutkan ia memulai di klub amatir Erokspor di usia 15 tahun yang berarti ia memulai kariernya di Erokspor pada 1969. Sementara, Keddie menuliskan Erdogan memulai karier amatir di Erokspor pada usia 13 tahun (1967) dan pada 1969 Erdogan baru tampil bersama Camialt ı Spor. McManus mengungkap Erdogan sudah ikut tim Erokspor di usia 11 tahun, seiring ia masuk Sekolah Imam Hatip. Beberapa sumber lain juga terbelah dalam hal usia Erdogan memulai karier amatirnya. Mengenai isu Erdogan nyaris direkrut Fenerbahçe, Keddie menuliskan berdasarkan pernyataan Erdogan bahwa dia mendapat tawaran itu pada 1973 ketika masih membela Camialtı Spor. Pernyataan itu berbeda dari ketika Erdogan diwawancara suratkabar Miliyet jelang pemilihan walikota Istanbul pada 1994, di mana ia menyatakan Fenerbahçe ingin merekrutnya pada 1977 alias ketika ia sudah berseragam İETT Spor. “Disebutkan (di Miliyet ) bahwa dia masuk dalam daftar calon rekrutan Fenerbahçe pada 1977. Itu menguatkan keyakinan sejumlah penulis bahwa catatan historis tentang kariernya dilebih-lebihkan. Apalagi klaim tentang dia hampir bermain untuk The Canaries (julukan Fenerbahçe, red. ) selalu diulang-ulang selama karier politiknya,” tambah McManus. Erdogan di tengah-tengah dua tim dalam laga eksebisi pada 2014 di mana ternyata skill sepakbolanya masih tersisa dengan mencetak trigol (Foto: ibfk.com.tr ) Narasi itu, sambung McManus, dikemas lagi dengan begitu apik lewat biografi karya Haci Hasdemir, jurnalis suratkabar pro-pemerintah Zaman, yang terbit pada 2005, Aman Babam Gormesin: Basbakan Erdogan’in Futbol Macerasi . Menariknya, Hayri Beşer, jurnalis Zaman lain, menyiratkan keraguan lewat tulisannya dalam pendahuluan di buku tersebut: “Ketika membacanya, beberapa orang mungkin berkesimpulan bahwa buku ini adalah anatomi seorang malaikat. Karena petualangan sepakbola Tayyip Erdogan sejak usia 15 nyaris tak bercela.” “Jurnalis dan pemerhati olahraga Mustafa Hoş menyindir buku Hasdemir itu sebagai ‘kitab suci’, membandingkan masa-masa sepakbola Erdogan seperti mencoba membongkar bukti tentang sejarah yang terjadi 100 tahun lalu. ‘Semuanya ambigu dan kontradiktif’ katanya,” papar McManus. Penulis Soner Yalçın dengan lantang menyebutkan bahwa cerita tentang Fenerbahçe terlalu dibuat-buat. Dari penelusurannya, semua sejarawan resmi Erdogan menuliskan tahun yang berbeda terkait kapan dia menerima tawaran transfer itu. Hal yang sama juga terjadi pada fakta siapa pelatih Fenerbahçe yang diklaim tertarik padanya: Waldyr Pereira Didi atau Tomislav Kaloperović. “Yalç ı n juga mengklaim Erdogan menghabiskan dua tahun di Cam ı alti Spor sebenarnya hanya staf asisten perlengkapan dan dia bisa beralih ke lapangan sebagai pemain hanya karena tekanan seorang temannya yang berpengaruh di Kas ı mpaşa kepada pelatih. Hal-hal itu mencuatkan terbelahnya kepercayaan tentang karier sepakbola sang presiden. Tergantung dari mana Anda melihatnya, baik dia sebagai Pelé-nya Kas ı mpaşa atau penipu belaka,” tandasnya.
- Riwayat Politik Dinasti
Jelang Pilkada serentak 2020, politik dinasti menjadi sorotan. Paling banyak dibahas adalah majunya putra pertama Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai calon walikota Solo. Sedangkan iparnya, Bobby Nasution, maju sebagai calon walikota Medan. Putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah, juga maju dalam pemilihan walikota Tangerang Selatan, Banten. Ia akan bertarung melawan keponakan Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Dalam kontes yang sama, ada Pilar Saga Ichsan sebagai bakal calon (bacalon) wakil walikota Tangsel. Ia adalah putra Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan keponakan mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Masih ada lagi, Hanindhito Himawan Pramono, anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, maju dalam Pilkada Kediri. Irman Yasin Limpo, adik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang maju sebagai balon walikota Makassar. "Ini bukan fenomena tapi juga tradisi," kata Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, dalam dialog sejarah "Riwayat Dinasti Politik" live di saluran Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 28 Juli 2020. Akarnya bisa ditarik jauh ke masa lalu. Tradisi yang dimaksud Margana itu berawal dari budaya feodalisme di Nusantara yang juga menganut patrimonialisme. "Memang budaya politiknya mengarah ke sana, garis keturunan ayah diutamakan. Hampir semua kerajaan di Indonesia menerapkan tradisi ini, termasuk dari masa Hindu, Buddha, dan Islam," kata Margana. Margana menilai, ada jurang antara jalan politik demokrasi yang dipilih oleh bangsa Indonesia pada masa modern dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya. Kultur ini tak mudah hilang begitu saja. "Teori bisa kita aplikasikan, institusinya bisa kita bentuk, tapi orang yang mengisi di lembaga-lembaga yang juga menjalankan kekuasaan itu, kulturnya masih feodal," kata Margana. Di Jawa Relatif Lebih Kuat Politik dinasti relatif lebih banyak ditemukan di Jawa dibanding di tempat lain. Margana berpendapat, ini ada hubungannya dengan langgengnya tradisi kerajaan di Jawa. Sudah sejak abad ke-7 orang Jawa terbiasa dengannya. Sumber-sumber dari masa Jawa kuno jelas menyebutkan konsep kekuasaan. Terlihat dari gelar penguasa atau raja. Konsep dewa raja pada zaman Hindu dan Buddha berarti raja memiliki sifat kedewaan. "Maknanya, apapun titah dia harus jadi undang-udang. Jadi absolut, pantang diubah, harus dipatuhi karena dia bukan hanya raja, dia juga dewa yang mengatur rakyatnya," ujar Margana. Dalam politik dinasti garis keturunan menjadi penting bagi seseorang yang ingin menjadi penguasa. Saking pentingnya dalam beberapa kasus raja-raja sampai harus merunut dan menyatakannya di hadapan publik. Seperti disebutkan dalam Prasasti Mantyasih (907). Raja Dyah Balitung menarik urutan raja-raja pendahulunya hingga Sanjaya, raja pertama Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya. Menurut Dwi Cahono, arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang, Balitung perlu melakukannya karena ada kemungkinan Balitung naik takhta bukan sebagai putra raja terdahulu. Statusnya adalah menantu yang kawin dengan putri mahkota. Balitung pun memberikan anugerah kepada orang-orang yang berjasa dalam pernikahannya. "Hal ini penting untuk mengingatkan khalayak bahwa dia menantu tetapi tetap memiliki trah panjang raja-raja terdahulu," kata Dwi. Raja Airlangga juga begitu. Dalam Prasasti Pucangan (1041), dia membeberkan silsilahnya hingga Mpu Sindok, raja Medang Kamulan. Dia naik takhta di Medang melalui pernikahan dengan putri Dharmawangsa Tguh, raja terakhir Medang Kamulan. "Sebenarnya ibunya (Airlangga, red. ) punya hak atas takhta di Jawa, tapi dia tidak naik takhta dan malah menikah dengan Udayana di Bali," kata Dwi. Pada masa perkembangan Islam, yakni era Mataram, dikenal konsep Khalifatullah. Artinya raja adalah wakil Tuhan di bumi. Raja-rajanya menggunakan gelar, misalnya Sayidin Panatagama Khalifatullah. "Konsepnya mirip. Sebagaimana dijelaskan dalam buku karya Soemarsaid Moertono dengan melihat kasus Kerajaan Mataram jelas bahwa raja-raja Mataram juga melanjutkan konsep dewa raja," kata Margana. Buku dimaksud berjudul Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II, Abad XVI sampai XIX. Silsilah juga penting. Garis keturunan sang penguasa dibuat dari dua sisi yang disebut trah mangiwo dan manengen . Trah manengen merunut silsilah penguasa hingga era kenabian. Di Jawa, sering kali dalam suatu silsilah ditemukan nama nabi yang tidak begitu dikenal, misalnya Nabi Sis. Sementara trah mangiwo , silsilahnya diurutkan sampai tokoh-tokoh pewayangan hingga Parikesit, yaitu keturunan Pandawa terakhir. "Artinya tak ada perubahan berarti dalam konsep kekuasaan. Dari kebudayaan Hindu dan Buddha ke Islam budaya politiknya tetap sama," kata Margana. Menurut Margana, orang Jawa mengenal trahing kusuma, rembesing madu, wijiling naratapa, tedaking andana warih. Seseorang untuk menjadi raja harus berdarah bangsawan, yaitu orang-orang yang darahnya merembes dari sultan yang bangsawan, pendeta atau ulama. "Jadi hanya orang-orang itu yang dianggap bisa menjadi pemimpin," kata Margana. Kalau ada yang tidak sesuai kriteria itu tapi naik takhta, maka orang itu mendapat pulung . "Walau orang kecil tapi mendapat wahyu dari Tuhan maka dia legitimate . Ini cara orang Jawa mengkompromikan sesuatu yang tidak biasa," kata Margana. Kultur ini kemudian dipelihara oleh masyarakat sekarang dalam melihat seorang pemimpin. Kalau bukan seseorang yang dekat dengan bangsawan atau elite, paling tidak ia harus dari kalangan intelektual atau ulama. "Biasanya seseorang yang mempromosikan kandidat, walaupun program ada, visi misi juga punya, tidak kalah penting dikaitkan dengan itu," ujar Margana. "Itu alam bawah sadar." Kembali ke Etika Dengan adanya jurang antara politik demokrasi yang dipilih bangsa Indonesia dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya, maka politik dinasti sangat mungkin terus terjadi. Apalagi itu bukan praktik ilegal. "Dalam undang-undang tak ada larangan. Masing-masing, setiap orang punya hak sama. Jadi sangat mungkin," kata Margana. Kendati tak persis seperti dipraktikkan pada masa lalu. Namun, dalam kasus Gibran dan Bobby misalnya, ada interpretasi bahwa efek dari sosok Joko Widodo masih berpengaruh. "Jadi, kemungkinan dinasti politik ini akan terjadi tapi dalam tanda kutip. Tidak bisa juga serta merta disebut sebagai dinasti," ujar Margana. Apa yang diharapkan kini adalah kesadaran untuk kembali ke etika berpolitik. "Oke, semua orang berhak dipilih dan mencalonkan diri. Mungkin yang diharapkan ada kesadaran kultural atau etika. Misalnya, saya (Gibran, red .) akan maju setelah Jokowi tidak lagi menjabat," kata Margana. Namun, mengubah kultur politik bukan perkara mudah. Itulah mengapa Sukarno bicara revolusi belum selesai. "Salah satu yang paling penting adalah merevolusi kultur yang masih kolonial dan feodal," kata Margana. "Harus cocok kan, institusinya demokrasi modern, tapi orang yang menjalankan, kulturnya masih feodal." Menurut Margana, salah satu caranya adalah memasukkan pembahasan soal budaya politik Indonesia ke dalam sistem pendidikan. Pendidikan politik seharusnya mengikuti kultur politik yang ada. "Orang yang menguasai kultur politik di Indonesia berarti akan bisa memenangkan pertarungan ini," kata Margana. Penyelenggara Pemilu juga mesti memiliki pemahaman terhadap kultur politik. Termasuk bagaimana sistem pemilihan calon pemimpin bisa memunculkan banyak tokoh alternatif yang bisa dipilih rakyat. "Sejauh mana mereka melihat ini sebagai fenomena yang tidak biasa dalam sebuah demokrasi. Kalau itu dianggap hal biasa matilah demokrasi kita," kata Margana. Pemimpin redaksi Historia.id , Bonnie Triyana yang memandu dialog sejarah, mengatakan adalah mimpi bersama demokrasi Indonesia tidak hanya prosedural, tetapi juga esensial. Semua pihak bisa bertarung dalam kontestasi pemilihan pemimpin di manapun wilayah administrasinya. "Tanpa harus mengandalkan trah, tanpa harus menjual atau berdayakan suatu hal yang justru datang dari masa lalu sehingga membawa kita ke dalam kemunduran praktik demokrasi," kata Bonnie.
- Kesaksian Hasjim Ning tentang Penyelesaian PRRI
Ketika sejumlah kolonel di daerah mulai mengeluarkan tuntutan kepada pemerintah pusat pada akhir 1956, Presiden Sukarno berupaya turun tangan mengatasinya lantaran kabinet Ali Sastroamidjojo II maupun Djuanda yang menggantikannya tak kunjung dapat menyelesaikan masalah tersebut. Tindakan Kolonel A. Husein di Padang merupakan bentuk protesnya terhadap pemerintah pusat yang dianggap oleh sejumlah perwira daerah sebagai mengabaikan kepentingan daerah. Sentralisasi pembangunan, pembubaran Divisi Banteng, makin menguatnya PKI setelah Pemilu 1955 dan diperparah oleh mundurnya Moh. Hatta dari kursi wakil presiden menjadi alasan di balik protes tersebut. Begitu mendengar kabar Kolonel A. Husein mengambilalih pemerintahan Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Muljohardjo, presiden segera mengutus Hasjim Ning, sahabatnya yang merupakan keponakan Bung Hatta. “Katakan pada A. Husein bahwa dia telah aku pandang anakku sendiri. Tindakannya mengambil oper pemerintahan dari tangan gubernur dapat membahayakan negara. Karena mungkin jadi panglima atau komandan militer lainnya akan melakukan hal yang sama. Katakan juga kepadanya bahwa aku tidak bisa melupakan budi baik istrinya, Des,” kata presiden sebagaimana dikutip Hasjim dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Hasjim pun langsung bertolak ke Padang esok harinya. Sesampainya di kampung halaman, Hasjim langsung menuju kediaman Husein di Jalan Hatta (kini Jalan A. Yani). Dia disambut hangat tuan rumah. “Dugaanku, melihat kedatanganku A. Husein menyangka aku datang sebagai ‘Raja Mobil’ yang ingin membantu gerakannya. Dan menahan aku agar menginap di rumahnya saja. Mungkin ia menyangka bahwa kedatanganku akan menyampaikan rencana besar lainnya untuk mengambil kesempatan berusaha seperti yang ia lakukan,” sambung Hasjim. Lepas pukul 22.00 WIB, Hasjim pun membicarakan tujuannya menemui Husein adalah diutus Presiden Sukarno. Hasjim menyampaikan semua yang dipesankan Sukarno kepada Husein di depan istri Husein agar menimbulkan kesan bahwa Husein tetap diperhatikan Sukarno, bukan seperti yang selama ini dianggapnya sendiri ditelantarkan pusat. Husein tak menyangka tujuan kedatangan Hasjim itu. Kepada Hasjim, Husein menjelaskan panjang lebar. “Ah, Bung Hasjim, tidak ada pikiranku, apalagi mengangan-angankan untuk memisahkan Sumatera Tengah dari Republik Indonesia. Kami hanya menuntut keadilan dan hak-hak kami kepada pemerintahan Ali. Bukan kepada Bung Karno,” kata Husein. Pembicaraan dilanjutkan Husein dengan menjelaskan program-program Dewan Banteng –bekas Divisi Banteng yang dibubarkan MBAD– yang didirikannya. Husein lalu menitipkan semua penjelasan itu kepada Hasjim agar disampaikan kepada presiden. Permintaan Husein itu membingungkan Hasjim. “Bagaimana aku harus menyampaikan pada Bung Karno bahwa Pak Husein tetap menjunjung tinggi pribadinya selaku presiden?” kata Hasjim bertanya pada Husein. “Aku akan mengirim surat padanya. Surat dari seorang anak kepada bapaknya,” jawab Husein. Begitu Hasjim kembali ke Jakarta sepekan kemudian, surat A. Husein telah lebih dulu tiba ke presiden. Situasi tetap tak mereda meski Kabinet Ali II telah digantikan Kabinet Djuanda. Bercampur dengan konflik internal Angkatan Darat, di mana sejumlah panglima daerah kecewa terhadap kebijakan tour of duty yang diterapkan KSAD AH Nasution, tuntutan daerah makin menguat. Posisi mereka kian kuat setelah beberapa tokoh politik pusat, seperti M. Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, dan perwira MBAD Kolonel Zulkifli Lubis bergabung. Puncaknya, mereka mengultimatum pemerintah pusat. “Pada tanggal 10 Februari 1958 mereka mengeluarkan ultimatum dari Padang yang menuntut supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dalam tempo lima hari, dan supaya dibentuk kabinet baru oleh Hatta dan Sultan Yogya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka akan membentuk pemerintah tandingan di Sumatera,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Kendati tuntutan itu secara resmi dijawab Djuanda-KSAD Nasution dengan pemecatan para perwira daerah pembangkang, sejumlah pihak termasuk Nasution secara pribadi mengirim utusan untuk penyelesaian informal. Presiden kembali mengutus Hasjim menemui Kolonel Husein, PM Djuanda mengutus Mr. Hardi, KSAD Nasution mengutus Bachtar Lubis, Bung Hatta mengutus Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil. Namun tak satupun dari utusan itu yang berhasil. Bachtar Lubis bahkan menyeberang ke kubu Husein. “Sikap yang diambil pemerintah pusat itu memaksa kaum pembangkang untuk melaksanakan ancaman mereka. Pada tanggal 15 Februari di Padang dibentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri,” sambung Sundhaussen. Maka sebelum memulai safarinya ke sejumlah negara Eropa esok harinya, presiden menyempatkan diri mampir ke rumah Bung Hatta untuk mendiskusikan penyelesaian PRRI. Meski mengkritik cara penyelesaian PRRI yang diambil Sukarno sebagai bertele-tele, Hatta dengan senang menyambut kedatangan Sukarno. Hatta tetap memandang Sukarno presiden yang sah dan gerakan Husein sebagai tindakan salah karena merupakan putsch militer. Saran Hatta bahwa cara penyelesaian PRRI hendaknya menjauhi penggunaan kekerasan lalu diikuti Sukarno. “Pada hari keberangkatannya, Bung Karno menyampaikan pidato agar sepeninggalnya tidak ada tindakan kekerasan dilakukan, harus diupayakan agar tidak ada pertumpahan darah,” kata Hasjim. Namun sepeninggal presiden, PM Djuanda dan KSAD Nasution menjawab tuntutan daerah dengan operasi militer berbekal UU Keadaan Darurat Perang. PRRI pun ditumpas oleh pasukan yang dipimpin Kolonel A. Yani. Di Eropa, setelah mendiskusikan dengan Jakarta lewat telegram dan mengirim kurir, presiden akhirnya menyetujui cara penyelesaian yang diusulkan Wakasad Gatot Subroto bahwa PRRI/Permesta harus segera diselesaikan dengan melakukan amnesti dan abolisi. Pada 1961, para petinggi PRRI/Permesta termasuk A. Husein menyerahkan diri ke Jakarta. “Akan tetapi pada suatu pagi, Bung Karno berkata kepadaku, ‘Hasjim, jij tahu, teman jij itu tidak setuju dengan amnesti abolisi itu. Maunya bertempur terus.’ Aku tidak tanyakan siapa yang dimaksud Bung Karno dengan istilah teman jij . Ia itu adalah Jenderal AH Nasution, yang sama-sama mendirikan IPKI dengan aku dahulu,” kata Hasjim.






















