top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bogor Historical Walk, Menjawab Keingintahuan Khalayak

    LANGIT di atas Bogor berwarna biru cerah pagi itu. Bayangan bulan separuh terlukis sebagai sisa-sisa malam yang tertinggal. Di mulut Jalan Suryakancana, persis dekat Vihara Dhanagun, orang-orang berpakaian merah berkumpul. Dari menit ke menit, jam ke jam, jumlahnya semakin bertambah hingga puncaknya mencapai 40-an orang. “Ayo kawan-kawan, ibu-ibu-bapak-bapak, jam 9 teng kita akan langsung berangkat ya,” ujar Ramadhian Fadillah (36), seorang lelaki berkacamata. Iyan (panggilan akrab Ramadhian Fadillah) merupakan salah satu pemandu dari Bogor Historical Walk (BHW). Itu adalah nama sebuah komunitas non profit yang memiliki misi mengenalkan sejarah dan keanekaragaman budaya di Kota Bogor. Didirikan pada 2019, BHW pada awalnya hanya kumpulan anak-anak muda yang memiliki minat yang sama: mempelajari sejarah Bogor. “Awalnya cuma kegiatan untuk mengasuh anak dan mengenalkan sejarah. Cuma saat beberapa kawan ikut bergabung, lalu muncul usul kenapa nggak  dibuat untuk publik saja sekalian,” ujar Iyan yang juga seorang jurnalis. Setelah melakukan riset seperlunya, maka pada 14 September 2019, BHW pun bergerak. Dengan dibantu anggota BHW lainnya yakni Leni Maria Dewi, Yessy Elizabeth, Habibie Faturachman dan Arief Rachman Hakim, Iyan memandu tur umum pertama mereka bertajuk “Bogor Era Kolonial”. Dengan 25 peserta, BHW berkeliling Bogor. Rute yang mereka singgahi masing-masing Stasiun Bogor, Jalan T.B. Muslihat, Katedral, Balai Kota dan berakhir di Lapangan Sempur. Kegiatan perdana mereka ternyata disambut secara antusias oleh orang-orang lintas profesi yang memiliki minat terhadap sejarah Bogor.  Berita adanya tur sejarah kota Bogor cepat menyebar melalui jejaring media sosial. Maka setiap bulan secara rutin BHW selalu mengadakan tur Bogor Era Kolonial. “Rupanya banyak juga orang yang ingin tahu sejarah Bogor. Bukan hanya orang Bogor saja tapi juga dari Jakarta dan Depok. Nah, kami ada untuk menjawab keingintahuan itu,” kata Iyan. Uniknya, BHW tidak menerapkan sistem “pemandu tahu segalanya”. Di tur mereka, semua peserta bisa menjadi narasumber dan saling melengkapi pengetahuan yang ada. Tidak heran, jika usai satu tur, alih-alih menjadi jenuh, pengetahuan peserta dan pemandu tentang Bogor malah semakin bertambah. Cerita-cerita baru itu tentu saja selalu disampaikan dalam pertemuan berikutnya. Untuk mendapatkan situasi dan pengetahuan baru, maka sejak Januari 2020, BHW membuat tema “Jejak Naga di Suryakancana”. Tema ini menelusuri sejarah perkembangan orang-orang Tionghoa di kota hujan itu. Mulai dari Vihara Dhanagun hingga rumah bekas kapiten Tionghoa di Bogor. Tak dinyana tema tersebut mendapat sambutan yang sangat luar biasa. Sejak mengeluarkan pengumuman, orang yang mendaftarkan diri sebagai peserta seolah tak ada hentinya. “Bahkan sampai melebihi jumlah 250 orang. Itu pun terpaksa kami tolak sebagian karena kami membatasinya hanya sampai angka 250 saja” kata Yessy alias Echie. Merasa tidak mungkin melayani semuanya dalam satu tur, maka BHW membagi  jumlah itu dalam beberapa sesi. Satu sesi dijalankan pada setiap Sabtu pagi hingga tengah hari. “Jumlah yang kami sanggup menanganinya hanya sekitar 40-an dalam setiap sesi. Itu pun lalu dibagi dua kelompok menjadi masing-masing 20 orang,” ungkap Leni. Dalam setiap tur ada pembagian kerja yang tetap di kalangan BHW. Jika Iyan, Habibie dan Echie merupakan spesialis sebagai periset dan pemandu, maka Leni dan Arief berlaku sebagai tim pendukung meliputi masalah-masalah teknis seperti logistik, perlengkapan dan dokumentasi. Lantas bagaimana komentar para peserta setelah mengikuti tur BHW itu? Rata-rata menyatakan sangat puas dan kecanduan ingin ikut kembali. Seperti Nina, misalnya. Penduduk Bogor itu menyebut kegiatan tur kota Bogor tersebut jelas sekali manfaatnya bagi dirinya. “Walau saya tinggal sudah lama di Bogor, tapi cerita seputar obyek-obyek yang saya kenal sejak kecil itu tidak selamanya saya tahu latar belakangnya. Di kegiatan ini, nyaris semua terjawab dan saya jadi memiliki pengetahuan baru,” ujar alumni Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Prancis UI itu. Senada dengan Nina, Idris yang datang dari Cibubur, Jakarta Timur menyatakan bahwa tur yang diadakan oleh BHW itu merupakan kegiatan yang patut menjadi referensi para peminat sejarah di sekitar Jabodetabek. Dia kagum bahwa kegiatan itu justru diinisiasi oleh anak-anak muda. “Sayang, pesertanya kebanyakan orang separuh baya ke atas ya…Ke depan semoga lebih banyak kalangan mudanya,” ujar lelaki berusia 52 tahun itu. Iyan mengakui soal itu. Dia tidak menafikan jika sebagian besar peserta datang dari kalangan tua. Seiring waktu, dia memang berencana untuk lebih gencar lagi mengajak kalangan muda. “Tapi ya pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru. Toh ini pun kami lakukan atas dasar kecintaan kami kepada sejarah saja. Jadi tidak usah ada target dulu-lah. Berapa pun jumlah peserta, jalan saja,”ujarnya. Langit di atas Bogor mulai memutih. Matahari sudah mencorong dan membagikan hawa panasnya kepada penghuni bumi. Peluh pun mulai berjatuhan di wajah-wajah para peserta. Keletihan mulai membayang. Namun begitu, mata mereka terlihat bersinar penuh kegembiraan. “Bulan depan kalau ada tema lain, boleh kasih tahu saya lagi ya,” ujar salah seorang peserta sambil memasuki mobilnya untuk kembali ke Jakarta.

  • Tempat-Tempat Pacaran Tempo Dulu

    "Sudah pernah pacaran? Kan senang, bahagia… Makanya tidak boleh diganggu." Itulah jawaban Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta 1966–1977, ketika wartawan bertanya apakah dia tidak khawatir dituduh sebagai gubernur sekuler. Selama hayatnya mengatur Jakarta, dia mengupayakan wujudnya tempat hiburan layak dan murah untuk warga. Sebagian tempat itu jadi pilihan utama bujang dan dara semasa untuk berpacaran. Mereka betah berlama-lama di tempat itu. Mau ngobrol sambil duduk atau jongkok, meremas-remas tangan, makan panganan kecil, bersumpah setia sehidup semati, atau sampai meninggalkan bekas merah di leher masing-masing, aman-aman saja. Tak ada lagi orang berlagak menjadi polisi susila. Sebelum Ali Sadikin menjabat, orang jenis ini sering muncul, bertanya tentang kartu identitas atau surat nikah kepada bujang dan dara yang mabuk asmara di suatu tempat. "Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. 'Awas lu ya, kalau mengganggu!'" kata Ali Sadikin dalam Tiara , 4 Agustus 1991. Ancaman ini bikin polisi susila lesap dari peredaran. Ali Sadikin memberi kaum muda kesempatan untuk menggunakan ruang publik sebagai tempat pacaran. Alasannya, orang mustahil pacaran di kampung-kampung padat. Bayangkan, satu rumah kecil berisi kakek-nenek, ayah-ibu, dan para sanak saudara. Halaman tak ada. Lebar gang cuma semeter. Mana enak untuk pacaran. "Nah, orang tidak mengerti itu, bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata itu," kata Ali Sadikin. Dari pendalaman tersebut, dia upayakan ruang publik untuk kebutuhan bujang dan dara yang berpacaran. Dia hanya melarang mereka melakukan dua hal di ruang publik: melacur dan berzina. "Kalau mau berzina di lain tempat. Apa itu dianggap sekuler? Saya tahu rakyat tidak mampu dan kewajiban saya untuk menyediakannya," kata Ali Sadikin. Lalu di mana saja tempat-tempat pacaran bujang dan dara yang aman, murah, dan asyik semasa itu? Ancol Ancol adalah lokasi paling sering dikunjungi oleh bujang dan dara. Letaknya di utara Jakarta, daerah pesisir. Aman sekali dari jawilan orang-orang iseng sok moralis. Tersebab Ali Sadikin menjamin betul-betul kenyamanan bujang dara berpacaran. Bahkan polisi pun dilarang masuk. "Dia juga mengusir polisi dari Taman Ria Ancol, agar orang-orang muda yang berkasih-kasihan tidak diganggu atau diperas," kenang Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah . Ancol tadinya tempat menyeramkan. Hutan lebat, hamparan rawa-rawa gelap, penuh ular, kera, dan nyamuk. Orang takut memasukinya. Ungkapan populernya tempat jin buang anak. Soemarno, Gubernur Jakarta 1960–1964, mendapat mandat dari Presiden Sukarno untuk mengubah Ancol jadi tempat rekreasi, perumahan, dan industri. Tapi mandat itu terhambat. Tak ada dana untuk menjalankannya hingga masa Soemarno berakhir. Ali Sadikin, pengganti Soemarno, juga belum menunjukkan kemampuan untuk menjalankan mandat itu. Bujang dan dara 1970-an bergandengan tangan di ruang publik. Hal seperti ini tidak ditemukan pada periode sebelumnya. ( Midi,  31 Agustus 1974) Semua berubah dengan kemunculan Ciputra. Dia tengah menggarap perbaikan Pasar Senen. Kerjanya cukup bagus. Nama Ciputra mulai sohor di kalangan pejabat daerah. Dia menyatakan sanggup mengubah Ancol sesuai mandat Presiden Sukarno. Dia juga bilang akan berbagi cuan dengan pemerintah daerah. Ali Sadikin mempersilakan Ciputra mengerjakan Ancol. Kerja bareng Ciputra dan pemerintah daerah berbuah manis. Ancol bersalin rupa. Dari hutan dan rawa-rawa menjadi pantai bersih, indah, modern, ditambah bioskop kendara ( drive-in ), dan gedung akuarium. Jin pun tak bisa lagi buang anak di sini. Orang-orang datang menikmati senja di pantai. Bujang dan dara memilih naik perahu. Jika bosan dengan perahu, mereka bisa masuk gedung akuarium. Di sini mereka pacaran sembari mempelajari hewan-hewan laut. "Penting juga kan pacaran sambil belajar ilmu hewan air? Ingat cerita dalam Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana? Di akuarium besar ini percintaan dimulai," ungkap redaksi Midi , 31 Agustus 1974, dalam "Tempat2 Pacaran di Jakarta yang Aman, Asyik, Murah". TIM dan Monas Dari wilayah utara, bujang dan dara biasanya meneruskan pacaran ke wilayah tengah. Di sini ada dua ruang publik favorit mereka: Taman Monas dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Masuk Taman Monas gratis. Tempatnya lapang dan hijau. Ada air mancur bergoyang pula. Sesuatu yang masih jarang tersua di Jakarta. Kalau seorang bujang mengajak daranya ke sini, kebanyakan calon mertua akan senang dan bangga. Calon mertua mana yang tidak rela anaknya diajak melihat sesuatu yang belum ada? Masalah utama Taman Monas ialah terlalu ramai. Ia terletak begitu strategis di tengah kota. Ia bisa dijangkau oleh siapa pun dari mana saja. Maka kalau bujang dan dara ingin sedikit suasana sepi, mereka bergerak ke TIM. TIM dibuka pada 10 November 1968 oleh Ali Sadikin. Asalnya tempat ini untuk para seniman berkumpul, berdiskusi, dan menampilkan karyanya. Tapi TIM juga menyediakan taman dan planetarium. Ada pepohonan rindang, kursi panjang, teropong bintang, dan teater untuk menyaksikan pertunjukan benda-benda langit. Bujang dan dara yang berpacaran di sini punya alasan bagus kepada orang tuanya. Katakanlah mau sedikit berbudaya. Supaya kelihatan beda di depan calon mertua. "Mau nonton drama kek, mau nonton pameran lukisan kontemporer kek," ungkap Midi . Suasana di dalam TIM sangat mendukung bujang dan dara meningkatkan kualitas pacarannya. Senimannya toleran sekali dan mudah diajak ngobrol tentang segala hal. Dari filsafat, budaya, tradisi, karya seni kontemporer, sampai membaca tanda-tanda perubahan zaman. Obrolan dengan para seniman penting bagi bujang dan dara untuk berlatih mempelajari tanda-tanda perubahan dalam diri pasangannya masing-masing.     Jika mau merasakan pacaran di bawah bintang-gemintang sembari merenungi betapa kecilnya diri di alam semesta, bujang dan dara tinggal melangkah sedikit masuk ke Planetarium. "Selama ini tidak banyak yang masuk, hingga nggak usah kuatir bakalan penuh. Apalagi pada keadaan tertentu tempatnya menjadi gelap 100%. Jadi sambil mempelajari tata surya langit, sempat mempelajari tata surya sang pacar," ungkap Midi . Bujang dan dara 1970-an berkasih-kasih di rerumputan Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. ( Midi,  31 Agustus 1974) Ragunan Setelah bosan bertemu sesama manusia dan benda-benda angkasa, bujang dan dara seringkali menjajal pacaran bersama hewan-hewan. Bergerak ke selatan, berjarak 15 kilometer dari TIM, sampailah di Taman Margasatwa Ragunan. Ragunan adalah pindahan kebun binatang Cikini. Ragunan menjadi tempat ideal bagi bujang dan dara berkantong kempes. Uang masuk cuma Rp100. Sangat terjangkau oleh kebanyakan bujang dan dara. Murah tapi sepi. Sebab luas tempatnya mencapai 160 hektar. Banyak pepohonan dan rerumputan terhampar. Begitu hijau dan jauh dari polusi. Baik polusi kendaraan bermotor ataupun polusi orang-orang sekitar. Di Ragunan, bujang dan dara berpacaran dengan berjalan kaki. Tidak ada kendaraan di dalam sini. Entah itu sepeda ataupun bermotor. Biasanya bujang dan dara akan mempersiapkan napas sebelum ke sini. Bujang dan dara yang tidak siap pasti kaget. Sebab Ragunan kurang ideal bagi yang tidak biasa jalan kaki. "Apalagi kalau si pria napas Ji-Sam-Su (merk rokok, red .) atau tembakau buatan sendiri. Bisa ngos-ngosan," catat Midi . Di Ragunan ada beberapa juru potret keliling. Mereka siap mengekalkan momen manis dan bersejarah bujang dan dara. Mereka sanggup menerima segala pose sesuai permintaan dari bujang dan dara. Dari pose tersopan sampai terpanas. Tapi yang paling sering adalah pose jalan bergandengan tangan di antara hamparan rumput dan pepohonan. Demikianlah beberapa tempat pacaran bujang dan dara tempo dulu di Jakarta. Sampai sekarang tempat itu masih ada meski sudah banyak berubah. Tapi mungkin anda-anda para bujang dan dara era milenial ingin merasakannya juga. Syaratnya cuma satu: harus punya pasangan. Selamat mencoba tempat-tempat pacaran tempo dulu!

  • Indonesia, CIA, dan Crypto AG

    PADA 11 Februari 2020, harian Washington Post , stasiun televisi Jerman ZDF , dan stasiun televisi Swiss SRF,  merilis laporan hasil penyelidikan terhadap Crypto AG di Swiss, perusahaan komersial yang menawarkan jasa menjaga kerahasiaan data.

  • Tugu-Tugu Palu Arit di Indonesia

    Sebuah tugu di Madiun tengah menjadi sorotan. Tugu yang berada di interchange menuju gerbang tol Madiun itu disebut mirip simbol palu arit. Isu ini viral setelah Roy Suryo melalui akun twitter -nya mengunggah kicauan mengenai tugu ini. “ Tweeps , Patung yg terletak di pinggir Jalan Tol Madiun ini lagi kontroversi, banyak pihak yg menginginkan Patung ini dibongkar karena mengingatkan Trauma masa lalu di daerah tersebut sekitar tahun 1948 silam. Bagaimana pendapat anda? Benarkah Patung ini mirip2 simbol2 tertentu?” tulis Roy Suryo disertai foto tugu tersebut. Unggahan tersebut kemudian ditanggapi oleh politikus Partai Gerindra Fadli Zon. “Kesan ‘Palu Arit’ tak bisa dinafikan. Apakah ada kesengajaan?” cuitnya. PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK), sebagai pengelola tol, menyebut bahwa bentuk tugu tersebut dibuat berdasarkan logo JNK. “Dilihat dari sisi sudut tertentu, tugu ikonik membentuk huruf J, N, K. Tugu menjulang vertikal dari arah barat ke timur membentuk huruf J,” sebut Dwi Winarsa, Direktur Utama PT JNK, dikutip kompas.com . Kemudian, jelas Dwi, lengkung yang melingkar akan membentuk huruf N jika dilihat dari atas. Dan dari Simpang Susun Madiun ke arah timur akan membentuk huruf K. Sementara itu, mengutip detik.com , Kepala Bakesbangpol Kabupaten Madiun Sigit Budiarto menyebut selama ini warga Madiun tidak pernah menyoroti tugu tersebut. “Saya tiap hari lewat tugu itu ya biasa saja,” ungkapnya. Namun, sekelompok orang bersama Center of Indonesia Community Studies (CICS) mendesak agar tugu tersebut dibongkar. Saat Partai Komunis Indonesia (PKI) berjaya pada paruh pertama dekade 1960-an, pernah berdiri tugu-tugu palu arit yang berukuran besar. Namun, pasca peristiwa 1965, tugu-tugu ini dihancurkan bersamaan dengan pelarangan segala hal yang berhubungan dengan PKI. Surat kabar Harian Rakjat , memuat beberapa foto tugu yang tampaknya dibangun dalam rangka menyambut ulang tahun ke-45 PKI pada 23 Mei 1965. Berikut ini beberapa tugu yang termuat di Harian Rakjat periode Mei-Juni 1965. Tugu Palu Arit di Cililitan ​Tugu palu arit di Cililitan, Jakarta. ( Harian Rakjat , 27 Mei 1965). Harian Rakjat menulis, “Begitu kita memasuki Kota Djakarta dari arah selatan, kita akan disambut oleh tugu raksasa yang menjulang tinggi yang di puncaknya palu arit besar berdiri teguh. Bandingkan orang yang berdiri di bawah dengan tinggi tugu itu. Tugu ini terdapat di perapatan jalan Cililitan.” Penyair Taufik Ismail menyebut keberadaan tugu itu dalam Himpunan Tulisan 1960-2008 . “Di Cililitan, yang sempat saya saksikan, PKI mendirikan sebuah tugu berwarna putih, di atasnya lambang palu arit berwarna emas kemilau ditimpa sinar matahari,” tulisnya. Tugu Palu Arit di Palembang ​Tugu palu arit di Palembang. ( Harian Rakjat , 9 Juni 1965). Di Palembang, PKI membangun dua tugu besar. Tugu pertama berbentuk palu dan arit terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Sumatera Selatan. Sedangkan tugu kedua berada di depan Masjid Agung Palembang. Tugu ini tidak menonjolkan palu arit sebagai obyek utama, melainkan seorang laki-laki tengah memutar stir. Di belakang tampak Jembatan Ampera. ​Tugu Banting Stir di Palembang. (Repro Harian Rakjat , 8 Juni 1965). Tugu Palu Arit di Surabaya Tugu palu arit di Surabaya. ( Harian Rakjat 10 Juni 1965). ​Tugu palu arit di Surabaya ini sekaligus menjadi podium rapat umum ulang tahun ke-45 PKI di Surabaya. Dalam foto ini disebutkan bahwa Wakil Ketua II CC PKI Njoto tengah berpidato dalam rapat umum tersebut. Tugu Palu Arit di Losari ​Tugu palu arit di Losari. ( Harian Rakjat , 5 Juni 1965). Tugu ini berada di Losari, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Disebutkan bahwa tugu ini juga menjadi jalur estafet panji-panji PKI dari Denpasar. Tugu Palu Arit di Medan ​Tugu palu arit di Medan. (Repro Harian Rakjat 23 Juni 1965). Tugu palu arit ini disebut berada di Medan. Harian Rakjat menulis, “15.000 massa dengan penuh perhatian mendengarkan pidato Ketua Delegasi PB Vietnam Le Duc Tho dan Sudisman anggota Politbiro/Kepala Sekretariat CC PKI dalam rapat raksasa ultah ke-45 PKI di alun-alun Merdeka Medan tgl 30/5.”

  • Wabah-Wabah Penyakit Pembunuh Massal

    Penyebaran cepat virus korona atau nama resminya COVID-19 di Tiongkok telah memicu alarm global. Negara-negara tetangga menutup perbatasan mereka. Maskapai penerbangan global menangguhkan penerbangan dan beberapa pemerintahan melarang masuk orang-orang yang baru-baru ini berkunjung ke negara Asia. Virus yang diperkirakan berasal dari pusat kota Wuhan pada akhir Desember 2019 telah terdeteksi di lebih dari dua lusin negara. Dilansir dari Aljazeera , virus ini telah menginfeksi hampir 60.000 orang dan menewaskan lebih dari 1.300 di Tiongkok. Pada 30 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyatakan wabah virus korona sebagai darurat global atau istilahnya, darurat kesehatan publik yang menjadi perhatian internasional (PHEIC). PHEIC diperkenalkan pada 2005 setelah SARS dikategorikan sebagai ancaman global oleh WHO pada pertengahan Maret 2003. Virus ini menginfeksi sekira 8.000 orang di seluruh dunia, membunuh 774 orang dalam tujuh bulan. Kasus penularan virus telah terjadi sejak 400 SM di Yunani. Sehingga, kata pandemi pun berasal dari bahasa Yunani: pan artinya semua, dan demo berarti orang. 430 SM: Athena Pandemi paling awal yang tercatat. Wabah ini terjadi selama Perang Peloponnesia pada era Yunani Kuno. Penyakit ini melintasi Libya, Ethiopia, dan Mesir, lalu melewati tembok Athena ketika pasukan Sparta mengepung. Robert J. Littman dalam “The Plague of Athens: Epidemiology and Paleopathology” termuat di Jurnal Mount Sinai Journal of Medicine, menulis dalam tiga tahun sebagian besar penduduk terinfeksi, sekitar 75.000 hingga 100.000 orang atau sekira 25 persen dari populasi kota. Gejalanya meliputi demam, haus, tenggorokan dan lidah berdarah, kulit merah dan lesu. Penyakit ini melemahkan Athena hingga berujung pada kekalahan oleh Sparta. Pada 2001, sebuah kuburan massal ditemukan dari masa wabah itu. DNA Salmonella enterica serovar Typhi , ditemukan pada tiga tengkorak. Infeksi bakteri ini biasanya menyebabkan tipes. Namun, para ahli mengatakan kalau tifoid bukanlah penyebab dari epidemi mendadak itu. Pasalnya, tipus adalah endemik di dunia Yunani. 165 M: Wabah Antoninus Wabah Antoninus mungkin menjadi penampilan awal cacar yang dimulai oleh orang Hun, sebagaimana dilansir History . Orang Hun membawa wabah ini menginvasi Jerman, kemudian menyerahkannya kepada orang Romawi, yang kembali menyebarkannya ke seluruh kekaisaran Romawi. Sekira lima juta orang tewas akibat tertular penyakit ini. Gejala penyakitnya termasuk demam, sakit tenggorokan, dan diare. Jika pasien hidup cukup lama lukanya bernanah. Wabah ini berlanjut hingga sekira 180 M. Dilansir dari BBC , wabah ini bernama Antonine setelah Marcus Aurelius Antoninus, salah satu dari dua kaisar Romawi meninggal karenanya. Wabah kedua terjadi antara 251 dan 266 M. Puncaknya sekira 5.000 orang meninggal di Roma setiap harinya. 250 M: Wabah Cyprian Nama wabah itu berasal dari korban pertama yang meninggal yaitu uskup Kristen Kartago, Cyprian. Wabah ini menyebabkan diare, muntah, radang tenggorokan, demam, tangan dan kaki yang kasar. Penyebarannya kemungkinan dimulai dari Ethiopia, Afrika Utara, Roma, Mesir, lalu ke utara. Untuk menghindari infeksi, penduduk kotanya melarikan diri ke Kartago, tetapi malah menyebarkan penyakit itu lebih lanjut. Wabah berulang selama tiga abad berikutnya. Pada 444 M, wabah ini menghantam Inggris. Wabah ini pun mengganggu pertahanan mereka dari serangan Kerajaan Pict dan Skotlandia. Inggris pun harus mencari bantuan dari Saxon, yang kemudian menguasai pulau itu. 541 M: Wabah Justinian Pertama kali muncul di Mesir, wabah Justinian menyebar melalui Palestina dan Kekaisaran Bizantium, kemudian ke seluruh Mediterania. Efek wabah ini di antaranya mengubah arah kekaisaran, memadamkan rencana Kaisar Justinian untuk menyatukan Kekaisaran Romawi. Pun menyebabkan kesulitan ekonomi besar-besaran. “Menciptakan suasana apokaliptik yang mendorong penyebaran cepat agama Kristen,” catat History . Kambuhnya penyakit ini selama dua abad berikutnya menewaskan sekira 50 juta orang atau 26 persen dari populasi dunia. Wabah ini diyakini sebagai penampilan pertama dari penyakit pes. Wujud penyakitnya kelenjar limfatik membesar. Ia dibawa oleh tikus dan disebarkan oleh kutu. Abad ke-11: Kusta Kendati sudah ada sejak lama, kusta tumbuh menjadi pandemi di Eropa pada abad pertengahan. Penyakit ini akibat bakteri yang berkembang lambat yang menyebabkan luka dan cacat. Kala itu kusta diyakini sebagai hukuman dari Tuhan. Keyakinan ini menyebabkan penilaian moral dan pengucilan korban. Para pejabat menempatkan orang-orang dan anggota keluarga yang menunjukkan gejala kusta ke rumah penderita kusta. Mereka sering berada di lokasi terpencil dan membentuk biara. Banyak rumah sakit dibangun yang fokus mengakomodasi para korban kusta. 1350: Black Death Salah satu wabah yang paling mengerikan. Ia bertanggung jawab atas kematian sepertiga populasi dunia. Kemunculan kedua penyakit pes ini dimulai di Asia dan bergerak ke barat dengan karavan. Ia masuk melalui Sisilia pada 1347 M. Ketika penderita tiba di pelabuhan Messina, penyakit itu menyebar ke seluruh Eropa dengan cepat. “Mayat menjadi begitu lazim sehingga banyak yang tetap membusuk di tanah dan menciptakan bau busuk di kota-kota,” catat History . Wabah itu membuat Inggris dan Prancis lumpuh sehingga melakukan gencatan senjata. Sistem feodal Inggris runtuh ketika wabah mengubah keadaan ekonomi dan demografi. Bahkan Viking kehilangan kekuatan untuk berperang melawan penduduk asli, dan penjelajahan mereka di Amerika Utara terhenti. Karikatur seorang dokter dalam wabah penyakit dari sekira 1656. (Wikipedia). 1817: Pandemi Kolera Pertama Berdasarkan situs resmi WHO , selama abad ke-19, kolera menyebar ke seluruh dunia dari aslinya di delta Sungai Gangga, India. Asalnya dari beras yang terkontaminasi. Penyakit ini dengan cepat menyebar ke sebagian besar India, Myanmar, dan Sri Lanka. Pada 1820, kolera telah menyebar ke Thailand, Indonesia (menewaskan 100.000 orang di pulau Jawa), lalu Filipina. Penyakit ini menyebar ke Tiongkok pada 1820 dan Jepang pada 1822 melalui orang yang terinfeksi di kapal. Kolera juga menyebar ke luar Asia. Pada 1821, pasukan Inggris yang melakukan perjalanan dari India ke Oman membawa kolera ke Teluk Persia. Penyakit ini akhirnya mencapai Eropa, Turki, Suriah, dan Rusia Selatan. Pandemi itu punah setelah enam tahun, kemungkinan karena musim dingin yang parah pada 1823-1824. Kemungkinan kondisi ini membunuh bakteri yang hidup dalam persediaan air. Enam pandemi berikutnya membunuh jutaan orang di seluruh benua. Saat ini adalah pandemi ketujuh, yang dimulai di Asia Selatan pada 1961, dan mencapai Afrika pada 1971, lalu Amerika pada 1991. Kolera sekarang menjadi endemik di banyak negara. “Ini adalah pandemi terpanjang di dunia,” catat WHO. 1855: Pandemi Wabah Pes Ketiga Dua pandemi wabah utama pertama dimulai dengan Wabah Justinian dan Black Death. Yang terbaru, yang disebut “Pandemi Ketiga” meletus pada 1855 di Yunnan, Tiongkok. Penyakit ini melintasi dunia selama beberapa dekade berikutnya. Pada awal abad ke-20, tikus yang terinfeksi berpindah dengan kapal uap, membawanya ke enam benua. Pada akhirnya wabah ini merenggut sekira 15 juta jiwa di seluruh dunia, sebelum mereda pada 1950-an. Kendati banyak korban, Pandemi Ketiga menyebabkan beberapa terobosan dalam pemahaman dokter tentang wabah pes. Pada 1894, seorang dokter di Hong Kong, Alexandre Yersin, mengidentifikasi Yersinia pestis sebagai penyebab penyakit tersebut. Beberapa tahun kemudian, dokter lain akhirnya mengonfirmasi bahwa gigitan kutu tikus adalah cara utama penularannya ke manusia. 1889: Flu Rusia Ini adalah epidemi influenza terbesar pada abad ke-19. Muncul di Eropa dari timur pada November dan Desember 1889. Pandemi flu pertama yang dimulai di Siberia dan Kazakhstan, ke Moskow, dan melintas ke Finlandia kemudian Polandia, di mana ia pindah ke seluruh Eropa. Pada tahun berikutnya, flu telah menyeberangi lautan ke Amerika Utara dan Afrika. Pada akhir 1890, 360.000 orang meninggal dunia. Ini juga merupakan epidemi pertama yang banyak dikomentari oleh media massa. 1918: Flu Spanyol Penyakit yang disebabkan virus influenza ini ditularkan melalui unggas yang mengakibatkan 50 juta kematian di seluruh dunia. Menurut Maksum Radji dari Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi FMIPA-UI dalam “Avian Influenza A (H5N1): Patogenesis, Pencegahan dan Penyebaran pada Manusia” termuat di Majalah Ilmu Kefarmasian, subtipe yang mewabah saat itu adalah virus H1N1 yang dikenal dengan “Spanish Flu”. Flu Spanyol diduga berasal dari Tiongkok dan disebarkan oleh pekerja Tiongkok yang diangkut dengan kereta api melintasi Kanada dalam perjalanan mereka ke Eropa. Di Amerika Utara, flu pertama kali muncul di Kansas pada awal 1918. Lalu terlihat di Eropa pada musim semi. Laporan layanan kawat tentang wabah flu di Madrid pada musim semi 1918 menyebabkan pandemi ini disebut “Flu Spanyol”. Pada Oktober 1918, ratusan ribu orang Amerika meninggal. Ancaman flu baru menghilang pada musim panas 1919, saat sebagian besar yang terinfeksi telah mengembangkan kekebalan atau mati. Rumah sakit darurat selama pandemi flu Spanyol di Camp Funston, Kansas, tahun 1918. (Wikipedia/National Museum of Health and Medicine). 1957: Flu Asia Menurut Maksum, pada 1957 dunia dilanda wabah global yang disebabkan oleh kerabat dekat virus influenza yang bermutasi menjadi H2N2 atau dikenal dengan “Asian Flu”. Virus ini merenggut 100.000 jiwa. Dimulai dari Hong Kong menyebar ke seluruh Tiongkok kemudian ke Amerika Serikat, flu Asia menyebar luas di Inggris di mana lebih dari enam bulan 14.000 orang meninggal dunia. Gelombang kedua terjadi pada awal 1958 yang menyebabkan sekira 1,1 juta kematian di seluruh dunia, dengan 116.000 kematian terjadi di Amerika Serikat. Vaksin lalu dikembangkan yang secara efektif membendung pandemi. 1981: HIV/AIDS Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada 1981. AIDS menghancurkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Pada akhirnya penyakit ini menyebabkan kematian karena kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi melawan penyakit menjadi lemah. Mereka yang terinfeksi oleh virus HIV mengalami demam, sakit kepala, dan pembesaran kelenjar getah bening setelah infeksi. Virus HIV menular melalui kontak cairan tubuh seperti darah dan sperma melalui perilaku seksual dan penggunaan jarum suntik. AIDS diyakini telah berkembang dari virus simpanse dari Afrika Barat pada 1920-an. Penyakit ini menyebar ke Haiti pada 1960-an, dan kemudian New York, dan San Francisco pada 1970-an. Metode perawatan telah dikembangkan untuk memperlambat perkembangan penyakit. Namun 35 juta orang di seluruh dunia telah meninggal dunia. Sementara obatnya belum ditemukan hingga kini.

  • Pertarungan Terakhir Pahlawan Piala Uber

    SUDAH sekira sembilan hari Tati Sumirah (beberapa sumber menyebutnya Taty Sumirah) dirawat di ruang gawat darurat RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur. Namun ketika mentari baru sedikit mengintip pagi ini, Jumat (14/2/2020), kabar tak mengenakkan datangdari Regina Masli, srikandi bulutangkis Indonesia yang menjuarai Piala Uber 1975. “Teman kami meninggal dunia tadi malam. Tati Sumirah, RIP,” tulisnya dalam pesan singkat kepada Historia. Pada 5 Februari, Tati dilarikan ke rumahsakit dan bertarung melawan penyakitnya. Namun Tuhan Yang Maha Kuasa berkata lain dengan memanggilnya pada Kamis (13/2/2020) malam atau empat hari setelah ia genap menginjak usia 68 tahun. Almarhumah dimakamkan usai shalat Jumat di TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur. “Dia sakit darah tinggi dan gula. Memang kehidupannya memprihatinkan. Sepertinya habis tidak main lagi, tidak ada yang peduli. Saya sempat kaget lihat keadaan Bu Tati yang sangat kasihan,” sambung Regina yang sempat menyisipkan foto Tati saat masih dirawat yang didapatkannya dari keponakan Tati. Sejak merintis karier bulutangkisnya, Tati hidup melajang. Ia sempat bekerja di apotek hingga di perusahaan oli nasional dengan penghasilan pas-pasan. “Dia memang tidak berkeluarga. Hidupnya selalu untuk merawat dan memperhatikan ibu dan adik-adiknya,” kata Regina yang sebagaimana Tati, juga sesama jebolan PB Tangkas. Darah Atlet Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tati yang lahir di Jakarta, 9 Februari 1952, sejak kecil sudah punya darah atlet dari ayahnya, MS Soetrisno, mantan petinju tingkat daerah. Masa kecil Tati sarat dengan kegiatan olahraga yang diajarkan ayahnya, semisal sepakbola dan tinju. Persentuhannya dengan bulutangkis terjadi tak sengaja semasa ia sekolah dasar. Saat itu di dekat kediamannya sedang berlangsung pembangunan jalan bypass . Tati berkenalandengan seorang pekerja kontraktor asal Amerika Serikat (AS) yang turut mengerjakan proyek itu. Orang ‘bule’ itulah yang memperlihatkanmajalah-majalah olahraga yang banyak memuat foto pemain bulutangkis kepada Tati. Saat itu bulutangkis sedang jadi olahraga populer baru di AS. Jatuh cinta pada pandangan pertama, hati Tati langsung kepincut bulutangkis. Ayahnya tetap mendukung walau Tati tak lagi berminat pada sepakbola atau tinju. Tidak hanya membelikan raket, ayahnya sampai membuatkan lapangan bulutangkis sederhanadi halaman belakang rumah. Ayahnya pula yang menggenjot latihan fisik Tati hingga menjadi pemain muda tangguh. “Papanya memang sangat keras melatih Bu Tati. Papanya mau supaya Bu Tati kalau main harus menang,” kata Regina mengenang. MS Soetrisno, ayah Tati Sumirah yang mantan atlet tinju (Foto: Youtube ACT) Alhasilsebelum masuk klub PB Tangkas pada 1971, Tati sudah jadi langganan juara Kejurda DKI sejak 1966.Pada1969, Tati sudah masuk tim PON DKI. Meski begitu, ada pengorbanan yang diambilnya menyangkut masa depan.Tati memilih menyeriusi bulutangkis dan meninggalkan pendidikannya meski sudah kelas 3 SMP. “Meskipun berlatih secara mandiri dan tanpa dukungan pelatih, Tati dianggap memiliki tingkat kebugaran fisik di atas rata-rata. Semua itu berkat latihan tekun, disiplin, dan pantang menyerah. Berbekal kemampuan tersebut, ketika bergabung dengan PB Tangkas, Tati tinggal membenahi tekniknya,” tulis wartawan senior Broto Happy dalam Baktiku Bagi Indonesia. Kenangan Piala Uber Di PB Tangkas, ia digembleng pelatih M. Ridwan. S untuk menjadi pemain tunggal putri.Setahun kemudian, Tatiberhasilmasuk Pelatnas PBSI. Dari sekian “petualangan” di gelanggang olahraga tepok bulu, Tati menggoreskan namanya dengan tinta emas di Piala Uber 1975. “Kalau mengenang kejayaan masa lalu itu sungguh indah,” cetus Tati dikutip Justian Suhandinata dalam Tangkas: 67 Tahun Berkomitmen Mencetak Jawara Bulutangkis . Tahun 1975 menjaditahun keemasan bulutangkis Indonesia.Untuk kali pertama para pebulutangkis Indonesia bisa mengawinkan Piala Thomas dan Piala Uber. Padahal di Piala Ubertim putri Indonesia sama sekali belum diperhitungkan bakal juara oleh banyak pihak. Maklum,tim putri Indonesiayang juga diperkuatTatisebelumnya kandas di edisi 1969 dan 1972. Tati Sumirah (kedua dari kiri) usai turut memenangi Piala Uber yang pertama bagi Indonesia pada 1975 (Foto: Dok. Regina Masli) Di partai puncak yang dimainkan di Istora Senayan, 6 Juni 1975, Indonesia harus kehilangan poin di laga pembuka setelah Theresia Widiastutikalah 7-11 dan 1-11 dari Hiroe Yuki. Indonesiamenyeimbangkan kedudukan, 1-1, setelah di laga keduaTati menaklukkan Atsuko Tokuda, 11-5 dan 11-2. Indonesia akhirnya juara setelah menang 5-2 dari tujuh laga yang dimainkan. Prestasi itu jelas membanggakan para srikandi hingga diundang ke Bina Graha, tempat Presiden Soeharto berkantor. “Waktu mau ketemu presiden, kita mau bilang supaya beliau kasih rumah untuk pemain Uber Cup 1975. Tapi Pak Sudirman (ketum PBSI, red .) bilang, jangan minta apa-apa ke presiden. Tapi anak (pemain, red .) sekarang hebat-hebat bonusnya. Makanya kasihan nasib Tati,” sambung Regina. Seingat Regina, Tati bukan pribadi yang acap mengeluh. Sosoknyaselalu fokus di lapangan meski ia tahu di masa itu pemain bulutangkis belum tentu bisa menjaminmasa depan yang baik secara finansial. “Bu Tati orangnya pendiam. Orangnya tertutup. Tapi dengan teman-teman bisa ngobrol, kok. Kalau sedang tidak latihan di pelatnas, kita biasa bareng-bareng juga sama Theresia dan Sri Wiyanti jajan mie bakso di Mayestik,” kata Regina mengenang pertemanannya dengan Tati. Tati gantung raket pada 1981, baik di pelatnas maupun klub, lantaranbermunculannyatalenta-talenta muda macam Ivana Lie atau Verawaty Fadjrin. Tapi perjuangannyadi luar lapangan tetap berlanjut. Tati mesti mengais rezeki demi merawat ibunya. Kariernya di arena bulutangkistak memberinya banyak materi. Sementara, pekerjaan layak sulit didapatnya lantaran ia SMP pun tak lulus. “Tawaran melatih di PB Tangkas ditolaknya dengan alasan dia tidak berbakat jadi pelatih. Setelah pensiun, dia total meninggalkan bulutangkis,” sambung Broto Happy. Tati Sumirah (ketiga dari kiri) bersama tim Uber Cup 1975 ketika diterima Presiden Soeharto di Bina Graha (Foto: Dok. Regina Masli) Untuk menghidupi dirinya dan ibunya yang tinggal di Buaran, Jakarta Timur, Tati sampai harus menjual hadiah dari menjuarai ajang-ajang yang diikutinya.Selain skuter,mobil juga terpaksa dijualnya pada 1992. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ia bekerja jadi kasir di Apotek Ratu Mustika, Tebet, Jakarta Selatan. Pekerjaan itu dilakoninya hingga 2005. Setelah kisah masa senjanya yang memprihatinkan diangkat “Kick Andy”di Metro TV ,Tati ditawari pekerjaan di perusahaan oli swasta nasional tempat legenda bulutangkis Rudy Hartono menjadi komisaris utamanya. Tati menerima tawaran itu. Pekerjaan sebagai pegawai bagian administrasi itu dilakoninya hingga pensiun pada 2016. Setelah pensiun, Tati hanya mengandalkan pemasukannya dari tunjangan pensiun dan bantuan para keponakannya. Kesehariannya dia habiskan untuk merawat ibunya yang sakit dan menyelesaikan pekerjaan rumahtangga.Itu terus dikerjakanannya meski sejak 2017 lutut kirinya bermasalah gegara kecelakaan motor. Tati tak bisa operasi lantaran ketiadaan biaya. Obat yang mampu dibelinya pun hanya sejenis generik. Tatiakhirnya jatuh sakit pada awal Februari 2020. Penyakitnya itu akhirnya menghentikan perjuangan Tati di lapangan kehidupan. Selamat jalan, pahlawan Uber Cup! Statistik Prestasi Tati Sumirah: Kejurda DKI 1966 – Emas (Tunggal Putri) PON 1969 – Perunggu (Beregu Putri) 1973 – Emas (Tunggal Putri & Beregu Putri) 1977 – Emas (Beregu Putri); Perak (Tunggal & Ganda Putri) Kejurnas 1974 – Emas (Tunggal Putri) Singapura Terbuka 1972 – Perak (Tunggal Putri & Ganda Putri) SEA Games 1977 – Emas (Beregu Putri) 1979 – Emas (Beregu Putri) 1981 – Emas (Beregu Putri) Kejuaraan Asia 1971 – Perunggu (Tunggal Putri) Asian Games 1974 – Perak (Beregu Putri) Kejuaraan Dunia 1974 (Invitasi) – Perak (Tunggal Putri) 1980 – Perunggu (Tunggal Putri) Piala Uber 1972 – Juara II 1975 – Juara I 1981 – Juara II

  • Bahder Djohan dan Akses Bacaan untuk Dokter Pribumi

    DISKRIMINASI pada dokter pribumi amat kentara di era kolonial. Selain mendapat gaji yang jauh lebih kecil dan ditugaskan ke daerah terpencil, akses dokter pribumi untuk mendapat bacaan medis juga dibatasi. Jurnal kedokteran terkemuka Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (GTNI) hanya boleh diakses oleh pejabat kesehatan dan dokter Belanda. “GTNI sangat eksklusif untuk dokter Belanda, sementara akses dokter pribumi untuk sekadar membaca GTNI amat dibatasi,” kata Wahyu Suri Yani kala mempresentasikan risetnya di seminar “The Construction of Indonesian Knowledge Culture since Independence” di UGM pada Rabu, 5 Februari 2020. Menurut Suri, pembatasan akses ini mempersulit dokter pribumi untuk menambah wawasan. Pasalnya, gaji yang kecil saja sudah membuat para dokter ini kesulitan untuk berlangganan koran. Sikap diskriminatif ini membuat muak dokter pribumi yang tergabung dalam Vereeniging van Inlandsche Geneeskundingen  (VIG), organisasi perkumpulan dokter pribumi yang dibentuk setelah pidato kritis dokter Tehupeiory asal Ambon. Dalam ceramahnya pada Januari 1908, Tehupeiory memprotes anggapan yang meremehkan posisi dokter pribumi atau lulusan STOVIA. Ceramah itu mendorong dibentuknya VIG pada 29 September 1911. (Setelah Kongres Pemuda 1928, kata Inlandsche  diganti menjadi Indonesische ). Lewat VIG, para dokter pribumi memperoleh kekuatan dan posisi tawar. Mereka bersatu untuk memperjuangkan hak mereka dan menentang diskriminasi yang mereka alami, salah satunya akses membaca GTNI. Ketika protes dilancarkan, Bahder Djohan menjabat sebagai sekretaris VIG. Sama seperti dokter pribumi lain, Bahder pun merasakan perlakukan diskriminatif pemerintah kolonial. “Meskipun pendididkan yang diberikan di Indonesia tidak berbeda dengan di negeri Belanda, namun karena yang memperolehnya itu anak bumi putra, maka Belanda memperlakukannya rendah,” kata Bahder Djohan dalam otobiografinya, Bahder Djohan, Pengabdi Kemanusiaan. Bahder jauh lebih muda dari Tehupeory. Ia menjadi siswa kedokteran pada 1919 kala Gedung Stovia yang baru di Salemba mulai dibangun. Selain menjadi anggota VIG, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond bersama Muhammad Hatta. Setelah lulus dari STOVIA pada 1927, Bahder bekerja sebagai asisten Prof. Dr. C.D. de Langen di Rumahsakit Sipil Pusat ( Centrale Burgelijke Ziekeninrichting , CBZ) sembari aktif dalam kegiatan politik dan VIG. Dari 1929-1939, ia menjabat sebagai sekretaris VIG di samping mengurus majalah bulanan organisasi, Tijdschrift voor Indonesische Geneeskundingen (TVIG). Ia mengurus artikel yang akan terbit di majalah tersebut sekaligus menangani pengirimannya. Pada malam setelah majalah itu diambil dari percetakan, ia akan meminta bantuan orang-orang di rumah untuk membungkus dan menuliskan alamat dokter-dokter yang akan dikirimi majalah tersebut. “Keesokan harinya, barulah aku menyerahkan kepada seorang pesuruh untuk mengantarkan majalah-majalah itu ke kantor pos,” kata Bahder. Usahanya ini tak sia-sia. TVIG menjadi jurnal medis produktif yang menampung riset para dokter pribumi. Kehadirannya semacam lawan tanding GTNI . Bersama VIG, Bahder melancarkan protes dan mengancam, bila akses pada GTNI tidak dibuka luas untuk semua kalangan dokter, mereka akan mengundurkan diri dari ikatan majalah kedokteran secara serentak. Protes ini mendapat dukungan dari guru mereka, de Langen, yang ikut mendesak agar akses pada GTNI dibuka lebih luas. Mardanas Safwan dalam Prof. Dr. Bahder Djohan Karya dan Pengabdiannya menyebut, berkat kegigihan Bahder dan rekan-rekan juga dukungan dari de Langen, peraturan diskriminatif tersebut akhirnya dicabut. Sejak akses pada GTNI terbuka, Bahder dan dokter pribumi lain bisa menambah wawasan medis lewat penelitian terbaru yang dipublikasikan. Bahder bahkan mempublikasikan risetnya di jurnal ini pada 1935, bekerjasama dengan De Langen. Dalam artikelnya, Bahder membahas tentang penyakit pellagra yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B3. Ia menjabarkan kasus-kasus pellagra yang ia temui di CBZ, seperti adanya kurang gizi, gangguan kuilt bahkan hingga pengaruhnya ke psikologis pasien. Dalam beberapa kasus yang ditemui Bahder, banyak pasien pellagra meninggal di rumahsakit jiwa. Sementara, De Langen memberi gambaran tentang kemunculan penyakit pellagra di berbagai belahan dunia. “Pada akhirnya akses ke GTNI dibuka. Dokter pribumi tidak hanya bebas berlangganan tetapi juga bisa menjadi penulis di jurnal itu,” kata Suri.*

  • Perkelahian Tentara Gurkha dengan Pejuang Indonesia

    Awal 1946. Jalur Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung kerap dilalui hilir-mudiknya konvoi pasukan Sekutu (Inggris) dari kesatuan British Indian Army (BIA). Pengerahan pasukan secara besar-besaran itu dilakukan guna mengawal pengiriman kebutuhan logistik untuk ribuan prajurit Inggris dan 60.000 bekas tahanan perang Jepang di Bandung. “Pengiriman dari Jakarta itu kerap berjalan tersendat-sendat karena para pejuang RI tidak pernah membiarkan upaya itu berjalan lancar,” ungkap R.H.A. Saleh dalam Mari Bung Rebut Kembali! Terganggunya jalur lalu lintas utama itu otomatis mempengaruhi juga keadaan prajurit-prajurit BIA yang menempati pos-pos sepanjang Cianjur-Ciranjang-Bandung. Tak jarang pasokan logistik terlambat hingga seminggu. Menurut Raden Makmur (93), rasa lapar menyebabkan anggota Gurkha Rifles dari Batalyon 3/3 (yang menjaga pos Cikijing-Ciranjang) liar dan menjarah kampung di sekitarnya. “Mereka mengambil paksa kambing, ayam hingga telur milik rakyat,” ujar eks anggota lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) Ciranjang itu. Akibatnya konflik tak terhindarkan. Tak jarang rakyat sipil pun melakukan perlawanan dan menimbulkan jatuhnya korban yang tak sedikit. Sebagai contoh, suatu hari satu seksi tentara Gurkha menyerbu pelosok Cikijing. Mereka mengobrak-abrik pesta pernikahan seorang warga desa dan menjarah makanan. Saat penjarahan itulah, seorang prajurit Gurkha coba memperkosa seorang perempuan tuli yang tak sempat melarikan diri. Upaya itu gagal karena suami perempuan itu melakukan perlawanan. Maka terjadilan perkelahian seru. “Kawan-kawan Si Gurkha itu bagusnya tidak ikut campur. Mereka membiarkan saja perkelahian itu dan menjadikannya hiburan,”ujar Makmur yang mengaku ada di tempat tersebut saat kejadian berlangsung. Kendati satu lawan satu, tetap saja perkelahian itu berlangsung tidak seimbang. Si Gurkha yang berbadan kekar dan terlatih pada akhirnya berhasil membuat babak belur lelaki kampung yang tidak terbiasa berkelahi itu. Namun di ujung perkelahian, Si Gurkha ditarik oleh komandannya. Setelah diomeli, dia lantas mendapat tamparan keras. “Walaupun melakukan penjarahan, tapi aturan mereka melarang para prajuritnya mengganggu perempuan,” kata Makmur. Setelah mendapatkan cukup makanan, gerombolan tentara Gurkha itu lalu pergi dengan membawa 12 tawanan. Namun ketika sampai di jalan besar, para tawanan itu dilepas begitu saja. Perkelahian dengan tentara Gurkha juga pernah terjadi di Kampung Kandang Sapi, Pasir Sengkong (masih di wilayah Ciranjang) dan sempat diabadikan oleh seorang peneliti sejarah bernama Wijaya. Dalam makalahnya berjudul “Lasykar Hizbullah: Antara Jihad dan Nasionalisme Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945—1949”, Wijaya mengisahkan pengalaman seorang pejuang Hizbullah Batalyon III Ciranjang bernama  Masturi. Alkisah pada suatu siang sekitar jam 10.00, Masturi mendapatkan laporan dari penduduk bahwa ada seorang serdadu Gurkha yang terpisah dari pasukannya terlihat sedang berjalan kebingungan di wilayah Kandang Sapi. Tanpa banyak bicara, usai mengambil seekor ayam, dia mengajak seorang kawannya untuk mencari Si Gurkha tersebut. Ternyata benar, di suatu lahan sawah kering, mereka melihat seorang serdadu Gurkha lengkap dengan khukri  (senjata tradisional Gurkha) dan senjata karaben Qirov-nya. Masturi lantas mendekatinya. Dengan bahasa isyarat, dia menawarkan ayam itu. Begitu Si Gurkha mengambil ayam, secepat kilat Masturi menjegal kakinya sambil merebut senjata Si Gurkha. Maka terjadilah perkelahian seru di sawah kering itu. Kendati Masturi dikenal jago pencak silat, nyatanya dia tetap kewalahan menghadapi prajurit Gurkha yang juga pandai bermain ilmu bela diri sejenis kuntaw itu. Di jurus kesekian bahkan Si Gurkha berhasil menginjak kaki Masturi dengan sepatu militer-nya hingga jempol kaki kiri gerilyawan Hizbullah itu pecah dan berdarah. Demi melihat posisi Masturi terdesak, kawannya dan seorang penduduk yang tadinya hanya menonton lalu terjun mengeroyok Si Gurkha. Sepandai-pandainya bermain kuntaw, akhirnya serdadu itu tak berdaya pula melawan tiga orang sekaligus. Sang Gurkha pun berhasil diringkus. Setelah mengikat Si Gurkha, Masturi lalu membawanya ke markas Hizbullah Batalyon III di Pasir Nangka. Tak lupa mereka pun merampas karaben dan khukri  milik lelaki Nepal itu. Ketika diinterogasi Si Gurkha ternyata bernama Dal Badur. Dia mengaku seorang muslim. Sebagai bukti bahwa dirinya seorang muslim, dia lantas menunjukan rambut di atas kepalanya yang dibiarkan memanjang . Setelah diobati kakinya, Masturi sendiri ikut menginterogasi Dal Badur. Alih-alih marah karena kakinya dilukai, usai interogasi Masturi malah memeluk prajurit Gurkha itu lalu mengajaknya makan nasi bungkus dari dapur umum. Tiga hari ditahan di Pasir Nangka, Dal Badur kemudian diserahkan kepada TKR. Namun demikian, karaben dan khukri -nya tidak ikut diserahkan dan menjadi milik Hizbullah Batalyon III. Beberapa bulan kemudian, Dal Badur bersama 4 prajurit Gurkha lainnya dipertukarkan dengan para pejuang Indonesia yang ditahan pihak Inggris. “Salah seorang tentara Gurkha bernama Basin justru menolak untuk kembali ke pasukannya. Dia memilih untuk bergabung dengan pihak Republik,” ungkap Makmur.

  • Lintasan Sejarah Ajang 24 Hours Le Mans

    HENRY Ford II (diperankan Tracy Letts) meradang. Penjualan mobil pabrikan miliknya, Ford, di tahun itu (1963) tengah lesu. Dari segenap jajaran petinggi Ford, hanya Lee Iacocca (Jon Bernthal) yang mencetuskan ide anti- mainstream , yakni Ford ikut ajang balappaling prestisius24 Hours of Le Mans. Iacocca yakin jika bisa menang, bakal berbanding lurus dengan membaiknyapenjualan mobil. Masalahnya, balapan Le Mans 24 Jam tengah didominasi Ferrari. Henry Ford II kian malu dan murka kala Enzo Ferrari (Remo Girone) menolak pabrikan mobil berjuluk “kuda jingkrak” itu dibeli oleh Ford. Tak ada kata lain buat Ford selain harus membalas di atas lintasan. Begitulah sineas James Mangold membuka premisfilm drama bertema balapannya, Ford v Ferrari, yang belum lama ini menang Piala Oscar untuk kategori suntingan film terbaik dan suntingan tata suara terbaik. Film itu menampilkan mega proyekFord untuk bisa membuktikan pada Ferraribahwa mobil Ford tak sejelek yang dikatakan. Iacocca merasa hanya Carroll Shelby (Matt Damon) orang yang tepat untuk dipilih , mengingat Shelby pernah juara di Le Mans 1959. Shelby jelas tertarik namun mesti mengajak Ken Miles (Christian Bale) , pembalap lain yang ia percayai, untuk membangun mobil yang tangguh. Pasalnya, sejak 1959 Shelby tak lagi bisa balapan lantaran penyakit jantung. Banting tulang Miles dan Shelby serta sejumlah kru pabrikan Ford dan tim Shelby American tak sia-sia. Mereka sukses mengembangkan mobil untuk ikut balapan Le Mans 1966yang ditakuti Ferrari, Ford GT40 Mk. II. Salah satu potret finis Le Mans 1966 demi publikasi dan gimmick marketing Ford (Foto: ford.com ) Namun nahas bagi Miles.Walau tengah digdaya, ia mestimengendarai mobil nomor 1 bergantian bersama Denny Hulme (Ben Collins) gegara team order dari wakil presiden Ford, Leo Beebe (Josh Lucas).Beebe mengusulkan pada Henry Ford II supaya ketiga mobil mereka bisa “kejepret” bersamaan saat melintas garis finis. Itu akan jadi publikasi dan nilai plus untuk penjualan mobil Ford. Miles yang tengah unggul satu setengah lap dari dua mobil lainnya manut dan melambatkan mobilnya. Meski hampir bersamaan dengan dua mobil lainnya,pada akhirnya hidung mobil Miles lebih dulu melewati garis finis . Namun Miles bukan pemenangnya. Regulasi balapan Le Mans ditentukan oleh mobil mana yang menempuh jarak paling jauh, bukan yang tercepat. Maka mobil Ford Bruce McLarenlah yang melintas garis finis di posisi dua dinyatakan menang lantaran ia memulai balapan dari posisi yang lebih jauh di belakang dibanding Miles. Itulah salah satu keunikan balapan Le Mans yang pertamakali digelar pada 1923. Ajang Uji Daya Tahan Beberapa detail tentang keunikan Le Mans turut dihadirkan Mangold dalam Ford v Ferrari . Antara lain, jelang start , pembalap takduduk menanti dimulainya balapan sebagaimana ajang-ajang lain, melainkan berlari ke mobil masing-masing dari seberang garis start . Lalu, soal aturan masuk pit-stop . Mobil peserta baru di izinkan masuk pit-stop untuk mengisi bahan bakar, mengganti ban, mengisi ulang oli, mengganti suku cadang, hingga bertukar pembalap , saat durasi balap sudah melewati satu jam. Pasalnya, balapan yang punya nama asli “24 Heurs du Mans” itu bukan adu cepat, namun adu ketahanan mobil maupun pembalap lantaran harus non-stop balapan 24 jam penuh. Analis dan jurnalis otomotif Philip O’Kane dalam artikelnya, “A History of the Triple Crown of Motor Racing: The Indianapolis 500, The Le Mans 24 Hours and the Monaco Grand Prix”,dimuat The History of Motor Sport: A Case Study Analysis , memaparkanbahwa ajang Le Mans 24 Hours merupakan gagasan dari tiga tokoh balapGeorges Durand, sekretaris Automobile Club de I’Ouest (ACO); Charles Faroux, jurnalis suratkabar L’Auto dan La Vie Automobile dan; dan Émile Coquille, bos perusahaan importir otomotif Rudge-Whitworth. Gagasan itu munculsaat ketiganya berdiskusi di sela pameran otomotifSalon de I’Automobile di Paris, 1922. Kiri-kanan: Georges Durand, Charles Faroux, Émile Coquille (Foto: lemans-history.com/L'Automobile sur la Côte d'Azur edisi Maret 1939/L'Auto-vélo edisi 22 Juni 1930) Idenya adalah menggelar ajang balapan yang bukan lagi sebagai aducepat, namun adu ketahanan mobil. Balapan juga menjadi ajang uji kehandalan kualitas mobil secara keseluruhan selama seharian penuh non-stop , baik perangkat-perangkat yang sudah dipasangmaupun ajang menjajal modifikasi masing-masing pabrikan yang tentunya berguna untuk pengembangan mobil-mobil komersil masing-masing pabrikan. “Diputuskan bahwa mobil balap harus lebih disederhanakan dan mudah diakses. Memang mobil balap bisa mencapai kecepatan tinggi. Masalahnya, teknologi mobil-mobil balap mulai berlari jauh dan tak lagi bisa digunakan untuk kebutuhan mobil sehari-harisekaligus kebutuhan mobil yang lebih aman jika dipakai di jalan,” ungkap O’Kane. Ketiganya pun meracik regulasi dan ajangnya bakal dinaungi ACO. Trofinya disediakan oleh Coquille berupa trofi La Coupe Rudge-Whitworth yang menyandang nama perusahaan impor yang dipegang Coquille. Ketiganya sepakat yang boleh mengikuti balapan adalah mobil pabrikan berbod i touring , bukan mobil balap modifikasi seperti di Grand Prix Monaco, karena misi adu daya tahan mobil maupun pembalap, bukan siapa yang lebih cepat. Perubahan lintasan Le Mans 24 Hours sejak 1929-2019 (Foto: lemans-history.com ) Maka dalam regulasi awal, syarat mobilnya harus memiliki empat seat meski dikemudian hari mobil dua seat tetap diizinkan mengaspal. Mobil yang boleh ikut merupakan mobil kategori 1.100-6.500cc dan spesifikasinya wajib persis dengan yang diiklankan masing-masing pabrikan. Durasi awal balapan awalnya diusulkan Faroux sepanjang delapan jam, sebagaimana percakapanny dengan Durand yang dikutip Hervé Guyomar dan Pierre-André Bizien dalam L’ACO, Siècle de Vie Associative et Sportive. “Kenapa tidak 24 jam?” tanya Durand. “Ide itu akan sangat sempurna, tapi Anda takkan bisa mendapatkan otoritasi yang dibutuhkan untuk keperluan itu,” jawab Faroux. “Jangan khawatir. Itu urusan saya,” cetus Durand. Otoritasi yang dimaksud adalah perizinan untuk menghelat balapan selama 24 jam penuh, tak hanya dari ACOnamun juga sampai pemerintah kota tempat balapan itu akan digelar. Ajang itu akhirnya bisa terlaksana dengan nama resmi Grand Prix d’Endurance de 24 Heures dan dihelat pada 26-27 Mei 1923. Menukil Blake Hoena dalam Surviving the Le Mans Auto Marathon , balapan itu mengambil start di Circuit de la Sarthelantas berlanjut ke desa-desa di sekitarnya. “Sarthe adalah area di mana kota Le Mans berlokasi. Trek balapannya menghampar dari Le Mans (Sirkuit Sarthe, red. )ke Desa Mulsanne, ke Arnage, lalu kembali ke Le Mans. Aslinya lintasannya sepanjang 11 mil (18 kilometer). Namun banyak perubahan seiring waktu dan kini tinggal 8,47 mil (13,6 kilometer), di mana sebagian besar treknya masih merupakan jalan publik,” ungkap Hoena. Ajang balapan Le Mans 24 Hours pertama pada 1923 (Foto: DAS Automobile) Debut balapan Le Mans 24 jam itu kemudian diikuti 33 mobil dari 17 pabrikan yang masing-masing dikendarai dua pembalap secara bergantian. Ford ikut serta denganmenurunkan mobil Ford 2008cc S4yang dikendarai Charles Montier dan Albert Ouriou. Edisi pertama Le Mans 24 jam itu juga jadi ajang uji coba starter mobil pertama. Sebelumnya, mobil-mobil yang ada dinyalakan dengan engkol dan karena pembalap harus berlari ke mobil masing-masing dalam keadaan mati mesin saat start , setiap mobil harus mampu mengembangkan sistem starter . Balapan itu dimulai 26 Mei jam 4 petang dan berakhir 27 Mei di waktu yang sama. Pemenang pertamanya ialah André Lagache dan René Léonard yang mengendarai mobil Chenard-Walcker 3.0L S4 d an merampungkan 128 lap atau empat lap lebih baik dari duet Christian Dauvergne-Raoul Bachmann di mobil bermerk sama.

  • Haji Agus Salim Tak Pernah Berhenti Belajar

    PADA 1903, Haji Agus Salim berhasil menyelesaikan pendidikannya di Hogere Burgerl School (HBS), Batavia. Ia mampu lulus dari sekolah para elit pribumi dan Eropa itu dengan hasil yang cemerlang. Kecerdasannya memang tidak diragukan lagi. Orang tua Agus Salim di Bukittinggi berharap anaknya dapat melanjutkan sekolah di Negeri Belanda, atau setidaknya mengambil jurusan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Arsten (Stovia). Namun keinginan orang tua Agus Salim hanya sebatas angan saja. Rupanya sang anak telah mengambil keputusan: tidak akan melanjutkan studinya dan memilih untuk bekerja. Dikisahkah Mukayat dalam Haji Agus Salim , pekerjaan pertama yang Agus Salim ambil setelah selesai sekolah adalah tenaga alih bahasa di Batavia. Kemampuan bahasa Belanda yang begitu baik memudahkan dirinya menterjemahkan naskah berbahasa Belanda ke bahasa Melayu. Pekerjaan itu dilakukan tidak lama, sebab Agus Salim memutuskan pindah ke Riau. Ia bekerja sebagai pembantu notaris di kantor ayahnya. Di sini pun ia tidak bertahan lama. Agus Salim merasa tidak puas dengan pekerjaannya. Ia lalu pindah ke Indragiri dan bekerja untuk perusahaan batu bara hingga 1906. Seringnya Agus Salim berpindah pekerjaan cukup membuat risau sang ayah. Sebagai seorang pegawai pemerintah, juga bangsawan Minangkabau, ia sangat mendambakan sang anak mengikuti jejaknya. Begitu juga dengan ibu Agus Salim. “Kegoncangan inilah yang merupakan salah satu sebab ibunya menderita sakit yang kemudian berakhir dengan meninggal dunia pada 1906,” ungkap Mukayat. Peristiwa kehilangan orang yang sangat dicintainya itu turut mempengaruhi jalan pikiran Agus Salim. Pada tahun itu juga ia memantapkan diri berangkat ke Jeddah, Arab Saudi, untuk bekerja pada Konsulat Belanda, suatu pekerjaan yang pernah ditolaknya. Sejak 1906-1911, Agus Salim ditempatkan di bawah naungan Drageman. Sebagai sekretaris konsulat, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Dalam biografi Haji Agus Salim (1884-1954): tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme , ia diceritakan menulis sebuah risalah untuk pertama kalinya. Risalah tentang astronomi itu mengantarkan Agus Salim kepada penulisan risalah-risalah lain (agama, kebudayaan, politik) di kemudian hari. Selama 5 tahun di Jeddah, Agus Salim tak pernah berhenti belajar. Ia memanfaatkan waktunya untuk menambah pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin. Kemampuan yang begitu luar biasa dalam mempelajari bahasa membuat ia mudah menguasai bahasa Arab. Dan itu menjadi modal yang berharga untuk memperdalam ilmu di jazirah Arab. “Tujuan Agus Salim ke Arab tidak hanya mencari uang semata, tetapi juga ingin memperdalam pengetahuan agama. Karena itu kesempatan tersebut dipergunakan benar-benar,” tulis Mukayat. Selama tinggal di Arab, Agus Salim selalu berhubungan dengan kerabatnya yang sudah lebih dahulu tinggal di sana. Ahmad Khatib, paman Agus Salim, telah cukup lama tinggal di Mekah. Kawan dekat KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, itu merupakan guru di Masjidil Haram, Mekah. Hubungan yang terjalin erat dengan sang paman mendorong Agus Salim untuk lebih tekun memperdalam karya-karya pemikir Islam modern. Agus Salim diketahui giat mempelajari buku-buku Jamalludin Al Afghani tentang pan Islamisme. Ia juga membaca karya-karya Mohamad Abduh, pujangga Muslim yang menginginkan reformasi dan modernisasi dalam agama Islam. Hasilnya, Agus Salim memiliki pandangan bahwa keadaan pendidikan Islam di Indonesia sangat memprihatinkan. Ia merasa perlu adanya suatu pembaharuan agar pendidikan di Indonesia tidak ketinggalan zaman. Sebab pengetahuan Islam di Indonesia sedikit banyaknya telah mendapat pengaruh dari pemerintah kolonial Belanda, dan itu merupakan kekeliruan yang amat besar. Tekad itulah yang membuat Agus Salim memilih terjun ke bidang dakwah dan berkeinginan kuat membawa Islam ke arah kemajuan. Suatu waktu, Agus Salim terlibat perdebatan hebat dengan konsulnya. Ada perbedaan pandangan yang membuat mereka harus mempertahankan isi pikirannya masing-masing. “Salim apakah engkau mengira bahwa engkau orang yang paling pintar di dunia ini,” sindir sang konsul. “Tentu tidak benar. Di dunia ini banyak orang yang lebih pintar. Hanya siapa di antara mereka itu sampai sekarang aku belum bertemu,” ucap Agus Salim. Sebagai asisten konsulat, Agus Salim banyak belajar tentang kehidupan diplomatik. Pengetahuannya ini menjadi modal penting bagi pengembangan karirnya dikemudian hari, utamanya selama periode kemerdekaan saat dirinya ditunjuk sebagai wakil Indonesia dalam berbagai perundingan internasional. Ia pun tercatat pernah menjabat posisi menteri luar negeri Republik Indonesia di era revolusi.*

bottom of page