top of page

Hasil pencarian

9868 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Balet Dianggap Menghina Islam

    TUJUH perempuan penari masuk panggung gelap. Pakaiannya putih menyerupai mukena untuk salat. Mukena menutup bagian kepala sampai ke lutut. Tapi lengan tangan terbuka. Bagian lutut sampai kaki dibungkus oleh leotard (sejenis legging senam). Lampu-lampu panggung menyorot para penari. Suara azan terdengar. Dilafazkan oleh perempuan. Bersahut-sahutan dalam bahasa Arab dan Indonesia.

  • CIA dan Daftar Anggota PKI yang Dihabisi

    SETELAH peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi pembunuhan massal terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Jumlah korbannya mencapai ratusan ribu orang. Dan Amerika Serikat berperan dalam memberikan daftar orang-orang komunis itu untuk diburu dan dihabisi. Wartawan Kathy Kadane mengungkapnya untuk pertama kali di washingtonpost.com ,   21 Mei 1990. Kepada Kathy, mantan pejabat urusan politik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Robert J. Martens, mengakui memberikan daftar orang-orang PKI, dari tokoh atas hingga kader bawah, kepada tentara Indonesia untuk diburu dan dibunuh. Analis yang berpengalaman dalam soal komunis itu mengepalai kelompok pejabat di kedutaan dari Departemen Luar Negeri dan CIA untuk menyusun daftar itu selama dua tahun. Daftar itu memuat lebih dari 5.000 nama.

  • Hatta yang Keras Kepala

    HIDUP di Boven Digul pada 1935 merupakan takdir yang tidak bisa dihindari Mohammad Hatta. Ia dan beberapa tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) ditangkap pemerintah Belanda karena aktifitasnya dianggap membahayakan. Bersama Sjahrir, Hatta ditangkap di Batavia pada Februari 1934, dan baru ditempatkan di Tanah Merah setahun kemudian, tepatnya pada 28 Januari 1935. Sebelum ditempatkan di desa, Hatta dan penghuni baru Tanah Merah dipanggil ke kediaman pejabat Belanda yang bertanggung jawab atas Digul, Kapten Van Langen. Ia menerangkan tentang pembagian kelompok masyarakat di tempatnya yang harus dipilih oleh para interniran baru itu. Diceritakan Hatta dalam Mengenang Sjahrir , di Digul masyarakatnya terbagi menjadi dua: golongan yang bekerja sama dengan pemerintah ( werkwillig ), dan golongan yang enggan membantu pemerintah ( naturalis ). Orang-orang werkwillig setiap bulannya akan diberi ransum berupa beras, kacang hijau, teh, minyak kelapa, dan kebutuhan pokok lainnya. Mereka juga diberi upah 40 sen sehari. Para werkwillig  ini bahkan dijanjikan kembali ke tempat asalnya, dalam kondisi tertentu. Sementara kelompok naturalis saban bulan hanya mendapat ransum saja. Mereka juga harus melakukan pekerjaan kasar, seperti mencangkul, menggali selokan, dan pekerjaan lain yang serupa. Para naturalis ini diyakini akan hidup selamanya di tanah Digul. “Tuan pilihlah, ke dalam golongan mana tuan akan masuk,” tanya Van Langen kepada Hatta. “Masukkan saja aku ke dalam golongan naturalis. Jikalau aku kiranya mau masuk golongan werkwillig , dahulu di Jakarta aku sudah memilihnya. Berbagai jabatan sudah ditawarkan pemerintah kepadaku. Aku tentu sudah menjadi tuan besar dan tak perlu aku datang ke Digul untuk menjadi kuli upah 40 sen sehari. Aku tetap sebagai nonkooperator,” tegas Hatta. “Buat tuan diadakan kerja kantor. Tuan tidak akan mengerjakan pekerjaan kuli. Apabila tuan memilih golongan naturalis , tuan akan tetap tinggal di Digul ini. Tidak akan dikembalikan ke daerah asal tuan,” ucap Van Langen. “Itu pendapat tuan. Menurut pendapatku tidak ada yang tetap di dunia ini. Semuanya dalam perubahan, apa yang tidak bisa sekarang, di kemudian hari bisa terjadi. Sebab itu aku tetap pada pendirianku,” kata Hatta. Van Langen yang tahu betul kemampuan Hatta tidak ingin membiarkannya begitu saja. Ia ingin tokoh PNI itu ada di pemerintahannya, mengatur tempat pembuangan itu bersama. Akhirnya Van Langen mempersilahkan Hatta beristirahat. Dan memintanya kembali esok hari, berharap mendapat jawaban yang berbeda dari Hatta. “Baiklah jangan tuan ambil keputusan hari ini. Pikirkanlah semalam apa yang kukatakan ini. Tuan kembali besok pagi,” ucapnya. Setelah Hatta meninggalkan ruangan, kawan-kawan yang lain bergiliran masuk mengahadap Van Langen. Termasuk Sjahrir, para buangan itu memilih masuk golongan naturalis . Mereka tetap pada pendiriannya sebagai golongan nonkooperator. Keesokan harinya Hatta kembali menemui Van Langen. Ia datang masih dengan pendirian yang sama: tidak bersedia membantu pemerintah. Pejabat Belanda itu menyayangkan sikap Hatta yang begitu keras kepala. Menurutnya Hatta tidak memikirkan matang-matang masa depannya di Digul karena bisa saja ia tinggal selama-lamanya di Tanah Merah itu. “Percayalah aku tidak akan tinggal selama-lamanya, karena dunia berubah senantiasa,” kata Hatta sambil melangkah ke luar ruangan itu. Sewaktu Hatta sampai di mulut pintu, Van Langen kembali melayangkan tawarannya: “Aku harap tuan nanti mengubah pendirian tuan.” Sambil berlalu Hatta hanya memberi senyum. Pada Juli 1935, enam bulan sejak Hatta menolak Van Lagen, tawaran untuk mengabdi kepada Belanda kembali datang. Kali ini melalui Residen Haga dari Ambon, yang kebetulan akan mengunjungi Digul dalam tugasnya meninjau seluruh daerah kekuasaannya. Waktu itu Van Lagen sudah tidak memerintah, tugasnya digantikan oleh Kapten Wiarda. Ketika Residen Haga sampai di Digul, diperintahkannya kepada Wiarda supaya Hatta dan Sjahrir datang menghadapnya. Setelah sampai, Hatta dipersilahkan masuk terlebih dahulu. Di dalam ruangan sudah menunggu Residen Haga dan seorang pendampingnya. Percakapan dibuka dengan menanyakan kabar kesehatan Hatta. “Aku mengerti tuan berusaha hidup dari karangan-karangan tuan dalam surat kabar. Berhubung dengan itu, pemerintah bersedia membantu memenuhi keperluan tuan membayar porto pos. Saban bulan juga tuan akan menerima f 7.50,” ucap Haga. “Apa artinya tiga ringgit itu bagiku, tidak besar bedanya dengan harga makanan yang kuterima saban bulan. Kalau aku diberi bantuan di atas jumlah biasa yang diberikan di sini untuk orang interniran, kenapa aku tidak diberi bantuan sebanyak bantuan yang diberika kepada kaum intelektual yang diinternir di tempat lain seperti Dr. Tjipto dan Mr. Iwa di Banda Neira atau Ir. Sukarno di Endeh?” kata Hatta. Residen Haga lalu menerangkan jika setiap daerah memiliki kebijakan yang berbeda terkait para interniran, terutama persoalan pendapatan yang mereka terima setiap bulan. Itulah mengapa selama masih berstatus tahanan Digul, Hatta tidak mungkin mendapat upah sebesar kawan-kawannya di tempat lain. “Kalau begitu, biarlah aku menerima bantuan hidup menurut rezim yang berlaku di sini. Bantuan f 7.50 itu untuk ongkos pos mengirim karangan-karanganku tidak perlu tuan berikan,” tegas Hatta. Sesaat Residen Haga terdiam. Ia kemudian meminta Hatta memikirkan tawarannya itu, tidak perlu menjawab terburu-buru. “Betapapun juga baiklah tuan pikirkan semalam, besok pagi tuan datang kembali memberikan jawaban yang terakhir,” ucapnya. “Baiklah, izinkan aku kembali ke kampung pembuangan,” kata Hatta. Setelah berjabat tangan, Hatta pun pamit undur diri. Lalu giliran Sjahrir yang diminta masuk. Sekitar 15 menit berada di dalam, Sjahrir keluar. Sambil berjalan ke tempat tinggal, Hatta menceritakan percakapannya dengan Haga. Ternyata Sjahrir pun diberi tawaran yang sama dan ia juga diminta memberi jawaban keesokan harinya. Esok paginya, Hatta dan Sjahrir kembali ke kantor pemerintahan menemui Residen Haga. Hatta diterima terlebih dahulu. Di dalam, Hatta menegaskan kalau dirinya tetap pada pendirian dan menyesal tidak dapat menerima bantuan pemerintah tersebut. Waktu Hatta keluar, Sjahrir diminta untuk masuk. Sekira 10 menit ia berada di dalam. Tatkala sudah keluar, Sjahrir mengatakan kepada Hatta bahwa dirinya terpaksa menerima bantuan dari pemerintah itu. Selama berada di Digul, dia tidak memiliki pendapatan sepeserpun untuk menafkahi istrinya di Belanda. Hatta dapat memaklumi keputusan Sjahrir. Namun beberapa kawan di Tanah Merah mencela tindakan Sjahrir tersebut. Dia dituduh telah menyerah kepada pemerintah Belanda. Hatta tidak tinggal diam. Ia meyakinkan semua orang bahwa Sjahrir bukan meminta, tetapi hanya menerima dan memang keadaan yang memaksanya melakukan hal itu. Beberapa waktu kemudian, cela-celaan kepada Sjahrir tidak terdengar lagi. “Di Digul aku selalu berpesan kepada kawan-kawan yang dibuang ke sana, yang lama dan yang baru, supaya menjaga kesehatan pikiran dan perasaan, jangan terganggu apa-apa, tetap menerima segalanya dengan hati yang tenang,” kata Hatta.

  • Mengokohkan Balet Nasional Indonesia

    THE Little Ballet Group, grup balet pertama Indonesia, berhasil menggelar pertunjukan perdananya pada 24 Agustus 1959. Grup ini terdiri dari pebalet Indonesia: Farida Oetoyo, Julianti Parani, Jimmy Tan, Louise Pandelaki, dan Wim Roemers. Hampir semuanya berusia 20-an tahun. Kecuali seorang bernama Nyonya Leska Ong.

  • Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang

    Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris, sempat mampir ke Mojokerto dalam ekspedisinya di Kepulauan Nusantara. Di sana ia menginap di rumah Mr. Ball, lelaki Inggris yang telah lama tinggal di Jawa. Oleh kenalan barunya itu, Wallace diantarkan ke Desa Mojoagung. Dalam perjalanan mereka berhenti untuk mengamati puing-puing kota kuno Majapahit. Sampai di rumah seorang wedana atau kepala distrik Mojoagung, ia melihat sebuah relief dewi yang terpajang. Relief pada batu andesit itu tingginya tak sampai perut orang dewasa. Tadinya, panil batu itu terkubur di suatu tempat dekat Mojoagung. Wallace mengaguminya. Ketertarikannya itu sampai terlihat di ekspresi wajahnya. Ball pun memintakan relief itu untuknya. "Senang sekali ternyata wedana itu langsung memberikan," kata Wallace. Sosok perempuan dalam relief itu adalah Durga Mahisasuramardini. Ia memiliki delapan tangan dan berdiri di atas punggung seekor mahisa (kerbau). Salah satu tangan kanannya menarik ekor mahisa . Sementara tangan kirinya menjambak rambut asura (raksasa) yang keluar dari kepala mahisa . Tangan lainnya memegang bermacam-macam senjata. "Dewi ini sangat dipuja oleh orang-orang Jawa masa lampau sehingga patungnya sering ditemukan di puing candi-candi yang terdapat di bagian timur Pulau Jawa," lanjut Wallace. Keesokannya, relief yang didapat Wallace secara cuma-cuma itu dikirim ke Mojokerto. "Akan saya bawa nanti kembali ke Surabaya," ujar Wallace. Kisah Wallace mendapatkan cenderamata berupa temuan arkeologis itu dicatat dalam karyanya, The Malay Archipelago yang terbit pada 1869. Perilakunya tak begitu mengejutkan. Kala itu, artefak dari Nusantara memang biasa dijadikan cenderamata, hadiah, bahkan hiasan taman di kediaman para pejabat kolonial. Maka tak mengherankan kalau di antaranya kini terpajang cantik di museum-museum di negeri orang. Dibanding Wallace, masih ada yang lebih parah. Ia adalah Frederik Coyett, orang Eropa pertama yang mengunjungi Borobudur pada 1733. Ia tertarik pada relief dan arca Buddha di candi itu. Ia pun membawa beberapa arca ke Batavia. Menurut Jean Gelman Taylor, sejarawan dari University of New South Wales, Australia dalam “Visual History a Neglected Resource for the Longue Durée”, termuat di Environment, Trade and Society in Southeast Asia a Longue Durée Perspective, oleh-oleh arca itu oleh Coyett kemudian ditempatkan di taman villa yang ia bangun sesaat sebelum kematiannya pada 1736. “Kemudian tanah miliknya pindah kepemilikan kepada komunitas Tionghoa Batavia yang juga tertarik pada arca Buddha, mengubah tempat tinggal Coyett menjadi Kuil Cina dan tanah pemakaman yang dikenal sebagai Klenteng Sentiong,” jelas Taylor. Ada lagi Nicolaus Englehard, gubernur pantai timur laut Jawa pada 1801-1808. Setelah sempat melakukan perjalanan ke tiga situs kuno di Yogyakarta: Candi Prambanan, Kota Gede, dan Pesanggrahan Gembirowati, tiba-tiba minat Englehard terhadap tinggalan purbakala tersulut. Begitulah kata sejarawan asal Belanda, Marieke Blombergen dan Martijn Eickhoff dalam “A Wind of Change on Java’s Ruined Temples: Archaeological Activities, Imperial Circuits and Heritage Awareness in Java and the Netherlands (1800-1850)” termuat di BMGN - Low Countries Historical Review (2013). Englehard pun mengisi tahun-tahun berikutnya dengan berbagai “kegiatan arkeologis” lainnya. Contohnya pada 1804, ia mulai mengumpulkan arca-arca kuno di Jawa untuk dipajang di kediamannya, "De Vrijheid", di Semarang. Di antara arca-arca itu ada yang berasal dari Candi Singasari di Malang. Kebetulan, Englehard baru menemukan kembali candi dari abad ke-13 itu setahun sebelumnya. Menurut Ann R. Kinney dalam Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java dari candi yang diyakini sebagai pendharmaan Raja Kertanegara itu,ada enam arca utama yang dibawa Englehard.   “(Arca-arca itu, red .) akhirnya membentuk inti dari koleksi seni Indonesia di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden,” jelasnya. “Selama abad ke-19, arca-arca lainnya terus dipindahkan ke Holland atau Batavia, atau diberikan kepada pejabat tinggi yang berkunjung.” Nasib artefak sebagai buah tangan berlanjut pada masa kedudukan Inggris di Jawa. Bahkan menurut Peter Carey, sejarawan asal Inggris, mereka adalah pencuri aset Indonesia nomor wahid. Setidaknya ada dua benda cagar budaya penting asal Indonesia yang kini nasibnya masih di negeri orang karena dibawa oleh Sir Stamford Raffles. Prasasti Sanguran atau dikenal dengan Minto Stone sudah lebih dari 200 tahun berdiri di halaman belakang rumah keluarga Lord Minto dalam keadaan tertutup lumut dan lapuk. Padahal prasasti dari 982 M ini memuat catatan pemberian status sima oleh raja Medang di Jawa Tengah, Dyah Wawa kepada Desa Sanguran, yang mungkin letaknya di sekitar Malang sekarang. Dari tempat ditemukannya di Malang, Prasasti Sanguran dikirim ke Kolkatapada April 1813. Menurut sejarawan asal Inggris, Hadi Sidomulyo (Nigel Bullogh) dan Peter Carey dalam “The Kolkata (Calcutta) Stone” termuat di Jurnal The Newsletter (2016) terbitan International Institute for Asian Studies, prasasti ini dimaksudkan sebagai hadiah dari Raffles kepada pelindungnya, Gubernur Jenderal India, Lord Minto. Minto yang mengakhiri masa jabatannya pada Desember tahun itu, membawanya pulang ke Skotlandia. Prasasti itu kemudian diletakkan di tanah leluhurnya di Roxburghshire. “Paling tidak, itu menunjukkan Minto menghargai barang itu dan bersusah payah memilikinya, diangkut ke tanah miliknya di Skotlandia, meskipun beratnya lebih dari tiga ton,” kata Hadi. Beda nasibnya dengan Prasasti Pucangan atau yang dikenal dengan Calcutta Stone. Kini, kata Hadi, ia tersimpan tak terawatt di Museum India. Padahal Prasasti Pucangan yang berasal dari 1041 M itu unik karena satu-satunya yang menyimpan catatan kronologis tentang pencapaian Airlangga, penguasa di Kahuripan, disertai silsilahnya sebagai pewaris keluarga raja yang sah. “Kolkata Stone, di sisi lain, disimpan di Museum India di mana sekarang hampir dilupakan, mengalami degradasi karena keingintahuan kecil, terperangkap di gudang museum asing seolah-olah akibat kecelakaan historis,” catat Hadi. Menurut Hadi, tak jelas bagaimana dan kapan Prasasti Pucangan menemukan jalannya ke Kolkata. “Yang kita tahu, bahwa itu adalah salah satu dari dua prasasti batu Jawa yang penting, yang dikirim ke India selama periode pemerintahan Raffles,” jelasnya lagi. Kemungkinan, Mackenzie menemukannya ketika bertamasya ke wilayah Mojokerto sekarang pada Maret 1812. Lalu ia membawanya ke Surabaya melalui sungai Kali Mas. "Rincian pengirimannya ke Kolkata belum diketahui, tetapi prasasti itu cukup masuk akal berada di antara barang-barang yang menemani Mackenzie sekembalinya ke India pada Juli 1813," kata Hadi. Arca Prajnaparamita atau dikenal dengan Arca Ken Dedes. Kini menjadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. ​(Wikipedia). Jadi Koleksi Museum Luar Negeri Belum lagi cerita Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) yang membawa pulang sembilan gerobak penuh arca dan karya seni Jawa Kuno, sebagai ganti patung gajah yang sekarang terpajang di halaman depan Museum Nasional, Jakarta. Pada 1896, baginda berkunjung ke Jawa. Ia meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membawa pulang arca-arca itu. Dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas , John Miksic, arkeolog University of Singapore, mengungkapkan oleh-oleh yang diminta sang raja itu termasuk 30 relief, lima arca Buddha dan dua arca singa dari Candi Borobudur, beberapa langgam Kala yang biasanya ada di bagian atas pintu masuk candi, serta arca Dwarapala yang merupakan temuan dari Bukit Dagi, yaitu bukit yang berada sekira beberapa ratus meter di barat laut Candi Borobudur. Namun setidaknya, benda-benda ini masih bernasib baik. Sofwan Noerwidi, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam "Ganesa Pemimpin Para Gana: Dua Arca Ganesa Singasari Koleksi Museum di Negeri Orang", termuat dalam Arca: Sepilihan Teks dan Foto tentang Seni Arca Klasik mengatakan satu paket arca Buddha dari Borobudur itu kini diletakkan di kuil Wat Phra Kaeo, di dalam kompleks istana. Sementara di Museum Nasional Bangkok tersimpan pula koleksi arca dan relief dari Prambanan, Plaosan, dan Jawa Timur. "Di museum inilah kita temukan kembaran arca Ganesha Singasari di Leiden yang ditempatkan di tengah-tengah Java Room, dan dilengkapi dengan altar yang nampaknya digunakan oleh sebagian pengunjung," jelasnya. Museum di Leiden, atau namanya Rijksmuseum Volkenkunde sudah lama diketahui menyimpan banyak harta karun Singhasari. Di sana terpajang cantik arca Brahma, Nandi, Durga, Ganesha, Bhairawa, Mahakala, dan Nandiswara dari Singhasari.  "Karena itu, jika kita ke Candi Singasari, kita hanya akan menemukan arca Agastya di bilik selatan, fragmen arca Dewa Candra dan Surya, serta arca Dewi Parwati yang belum selesai di pelataran candinya," kata Sofwan. Yang mungkin bernasib lebih menggembirakan lagi adalah di antara mereka yang kemudian berhasil kembali ke tanah air. Misalnya, keropak Negarakrtagama yang hanya ada satu-satunya di dunia. Lontar ini, kata arkeolog Nunus Supardi, dalam "Ken Dedes Pulang Kampung" termuat di Jurnal Prajnaparamita (2016), dirampas dari Puri Cakraningrat, Lombok, ketika Belanda menyerbu puri itu.  Pada 1972, keropak Negarakrtagama resmi diizinkan pulang kampung. Sekarang ia disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ada juga arca Prajnaparamita. Konon, arca yang dikenal sebagai arca Ken Dedes ini berasal dari Candi Cungkup Putri yang lokasinya tak jauh dari Candi Singasari. Sebelum akhirnya kembali ke tanah air, dan menjadi koleksi masterpiece di Museum Nasional, Jakarta, arca Ken Dedes juga pernah menjadi penghuni Rijksmuseum Volkenkunde. Nunus menjelaskan Ken Dedes ditemukan pada 1819 oleh D. Monnereau, seorang pegawai Belanda di dekat Singhasari. Arca itu kemudian diserahkan kepada C.G.C. Reinwardt pada 1820, lalu dibawanya ke Belanda. "105 tahun kemudian, pada 1975 Ken Dede bisa dibawa pulang kembali ke tanah air," kata Nunus. Pada awal tahun 2020, sebanyak 1.500 benda bersejarah yang sebelumnya ada di Museum Nusantara di Kota Delft, Belanda, dipulangkan ke Indonesia melalui proses repatriasi. Dulunya koleksi itu merupakan barang-barang dari Indonesia yang dibawa ke Belanda pada masa kolonial.

  • Kegagalan Kepala Stasiun CIA di Jakarta

    DALAM rapat mingguan di Gedung Putih pada empat bulan pertama tahun 1957, Direktur CIA Allen Dulles, membawa catatan-catatan ringkas dari telegram yang dikirimkan kepala stasiun CIA di Jakarta. Inti dari pesan telegram itu bernada memanas-manasi: “Situasi kritis… Sukarno seorang komunis terselubung… Kirimkan senjata.”

  • Martir Letnan Kadir dan Seloroh Kopral Panamo

    BEBERAPA saat sebelum terjadi pertempuran di Desa Mardinding, Tanah Karo, Letnan Kadir Saragih menatap puncak bukit yang ada di desa tersebut. Cukup lama dia menatapi Bukit Mardinding itu. Dengan tatapan takjub, Kadir berujar dengan lepas kepada kawan sekompinya. “Alangkah indahnya puncak bukit itu. Suatu tempat perhentian yang menyenangkan,” ujar Kadir. Dia melanjutkan, “Kalau nanti ada diantara kita yang gugur ditembus peluru senjata Belanda, kita makamkan di atas bukit ini sebagai tugu kenang-kenangan, sebagai ‘benteng kemenangan'.” Ucapan Letnan Kadir tersebut tercatat dalam buku harian komandan resimennya, Letkol Djamin Gintings yang pada 1964 diterbitkan dalam memoar berjudul Bukit Kadir . Letnan Kadir adalah Komandan Seksi 2 Kompi 1 Batalion XV yang ditugaskan dalam operasi dadakan menggempur kubu pertahanan Belanda di Mardinding. Dalam kenangan Djamin Gintings, Letnan Kadir  merupakan perwira muda berbadan tegap. Tingginya lebih kurang 160 cm. Menurut kawan-kawannya, Letnan Kadir memilki paras muka yang bisa menarik perhatian kaum Hawa.  “Tetapi sampai akhir hidupnya dia belum mempunyai kekasih selain daripada perjuangan,” tulis Djamin Gintings. Dalam keadaan siap tempur, Letnan Kadir menampilkan laku yang aneh. Kepada Sersan Mayor Bantaryat Sinulingga, Kadir menyerahkan pedangnya. Sinulingga pun terheran-heran melihat tindakan komandannya.   “Tuan sendiri pakai senjata apa?" tanya Sinulingga. “Saya bawa sebuah pentungan,” jawab Kadir. “Saya kira sudah cukup sekedar untuk menghajar mereka (tentara Belanda - red ) agar mereka tahu kena pentungan tentara Indonesia,“ tukasnya. Selain Kadir, seorang prajurit bernama Kopral Panamo memperlihatkan gelagat yang tidak kalah anehnya. Seperti Letnan Kadir, Kopral Panamo seorang prajurit anggota Kompi 1. Badannya gemuk pendek dan berkulit hitam. Panamo dikenal suka melawak dan membuat kawannya-kawannya tertawa. Menurut Djamin Gintings, sejak agresi militer Belanda pertama, Panamo mengurusi bagian perbekalan makanan. Tidak heran bila Panamo selalu lapar dan doyan makan. Menjelang penyerbuan, Kopral Panamo mengambil seutas rotan. Ketika rekannya bertanya untuk apa gerangan, Panamo mengatakan rotan itu akan digunakan sebagai tali ranselnya. Tetapi sembil tertawa, Panamo berseloroh, “Kalau nanti saya tewas tali ini untuk mengikat mayat saya.” Semua temannya-temannya termasuk Panamo sendiri tertawa lepas. Pertempuran pun berlangsung dari tengah hari hingga pukul 5 sore. Ketika desing peluru saling berbalas, Letnan Kadir maju menyerbu pos tentara Belanda sambil berseru “Maju” dan “Merdeka.” Tiba-tiba sebuah peluru menembus dada Kadir dan dia gugur seketika. Kopral Panamo yang kocak itu juga terkena tembakan di perutnya. Panamo sempat bertahan dari luka beratnya. Tali rotan yang sudah dipersiapkannya ternyata berguna menjadi tambahan pengikat alat pemikut tandu ketika Panamo dibawa ke tempat yang lebih aman. Di tengah jalan, Panamo kehausan. Teman-temannya memberi air minum. Namun setelah minum, Panamo meronta, “Perutku. Tolong pijak biar semua air keluar.” Dia kesakitan usai meminum air itu. Ketika berada di pinggang bukit, Panamo tidak mampu lagi bertahan. Dia mengehembuskan nafas penghabisan setelah memekikkan “Merdeka”. Di lembah bukit Mardinding itulah Kopral Panamo dimakamkan. Sementara Letnan Kadir dimakamkan di puncak bukit, sebagaimana permintaannya sebelum pertempuran berlangsung.    Letkol Djamin Gintings menamakan puncak Bukit Mardinding sebagai Bukit Kadir dan lembahnya sebagai Lembah Panamo. Untuk mengenang keduanya, sang komandan resimen menuliskan untaian sajak. Di puncak bukit terletak pusara Pahlawan kadir yang gagah perkasa Sebagai tugu pahlawan bangsa Mempertahankan tanah air Indonesia Itulah……….Bukit Kadir  Di lembah bukit Panamo berkubur Demi perjuangan ia tersungkur Gugur sebagai pahlawan bertempur Untuk kemerdekaan yang subur Itulah……….. Lembah Panamo

  • Hidup di Kawasan Rawan Banjir

    Memasuki tahun 2020, banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Genangan air sempat melumpuhkan berbagai akses jalan dan fasilitas umum, termasuk merendam rel dan landasan bandara.  Ini bukan pertama kalinya banjir merendam Jakarta. Menurut Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, selama air dibiarkan masuk dari selatan ke Jakarta tanpa pengendalian di wilayah selatan, banjir akan terus terjadi. "Apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan airnya," kata Anies seusai memantau banjir melalui helikopter dari kawasan Monas. Anies pun mengapresiasi pembangunan dua bendungan di Bogor, Jawa Barat, untuk mengendalikan air masuk ke Jakarta. Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi tengah dibangun Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dua bendungan ini diprediksi rampung pada 2020. "Kuncinya ada di pengendalian air sebelum masuk ke kawasan pesisir," tegas Anies. Seorang anak membawa bonekanya melewati banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Kerugian besar akibat banjir pernah dirasakan Raja Airlangga, penguasa Kahuripan pada 1019-1042, dan rakyatnya. Lewat Prasasti Kamalagyan yang ia keluarkan pada 1037, diketahui kalau  Bengawan  (Sungai Brantas) sering menjebol tanggul di Waringin Sapta. Luapannya pernah membawa banyak dampak kerugian.  "…demikianlah banyaknya tanah pertanian yang sawah-sawahnya tertahan dan terkena (hasil buminya) oleh sungai kecil yang akhirnya menjadi  bengawan  menerobos di…," catat prasasti itu. "…Waringin Sapta, sehingga kuranglah milik raja dan binasalah sawah-sawahnya." Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia dalam  Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI,  menjelaskan sungai yang meluap itu tiba-tiba mengalir ke timur. Karenanya tanaman-tanaman rusak. Lalu lintas sungai serta hubungan dengan negeri Janggala dan laut pun terputus. Akibatnya, tak hanya di sektor pertanian karena sawah-sawah warga yang terendam. Tapi juga perdagangan dan agama.  "Khususnya perdagangan yang menggunakan aliran Sungai Brantas sebagai jalur perdagangannya," jelas Ninie. Begitu pula nasibnya dengan desa-desa, bangunan-bangunan suci dan pertapaan-pertapaan. Berdasarkan prasasti itu, epigraf Boechari dalam "Perbanditan di Jawa Kuno", termuat di  Melacak Sejarah Kuno Lewat Prasasti , menjelaskan desa-desa yang terdampak berada di sebelah hilir, yaitu desa-desa Lasun, Palinjuwan, Sijanatyasan, Panjigantin, Talan, Dasapangkah, dan Pangkaja. Berikut juga semua jenis  sima , terutama di antaranya adalah  sima  bagi Sang Hyang Dharma di Isanabhawana yang bernama Surapura. "Desa dan  sima  itulah yang selalu ditimpa banjir dan terendam sawah-sawahnya jika Bengawan (Brantas) meluap di Waringin Sapta. Akibatnya sawah hancur. Pemasukan pajak pun berkurang," katanya. Bukan tak tahu risikonya, kata Ninie, Airlangga memang sengaja memindahkan pusat kerajaannya lebih ke pedalaman yang dekat dengan aliran Sungai Brantas. Prasasti Kamalagyan menyebutkan pusat kerajaan berada di Kahuripan. Kemungkinan letaknya di wilayah Mojokerto sekarang.  Sebelumnya pusat kerajaan ada di Wwatanmas. Alasan pindahnya karena Airlangga ingin memajukan pertanian sawah sekaligus menghidupkan kembali pelabuhan perdagangan regional dan lokal. "Delta Sungai Brantas adalah daerah yang sangat potensial dengan tingkat kesuburan tinggi untuk mengembangkan pertanian," kata Ninie. Airlangga juga ingin menghidupkan pelabuhan-pelabuhan di tepi sungai di wilayah pedalaman. Fungsi pelabuhan ini untuk mengumpulkan hasil pertanian sebelum dibawa ke pelabuhan yang lebih besar. Warga membawa barang-barang melewati banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Melihat pusat kerajaannya yang baru rawan banjir Airlangga pun mengambil dua cara: membangun bendungan yang menahan air banjir dari Kali Brantas dan memecah aliran sungai menjadi beberapa cabang. Menurut prasasti yang ditemukan di Klagen, Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur itu, Sungai Brantas tak hanya sudah ditambak sekali atau dua kali. Tapi masih saja jebol. "Tak hanya sekali dua kali penduduk Waringin Sapta membuat tanggul luapan bengawan. Tapi tak pernah berhasil," kata Boechari.  Karenanya raja turun tangan. Airlangga memerintahkan semua penduduk untuk bekerja bakti membangun bendungan. Ketika selesai, luapan air terhenti. Aliran bengawan dipecah menjadi tiga, mengalir ke utara. Itu sesuai dengan pernyataan dalam prasasti. "Sempurna dan kuat dan jalan air yang menerobos sudah tertutup, sungai bengawan bercabang tiga arusnya dan mengalir ke arah utara," catat keterangan dalam Prasasti Kamalagyan.  Jika benar Kahuripan di wilayah Mojokerto sekarang, di tempat ini sekarang Sungai Brantas membelah menjadi dua. Lewat Kali Porong, air mengalir ke timur. Semetara lewat Kali Mas, air mengalir ke utara.  Tetapi tak berhenti di situ. Raja memikirkan pula pemeliharaan bendungan selanjutnya. Ia menyadari banyaknya orang yang berniat menghancurkannya. "Karena bendungan itu tak dapat ditinggikan maka hendaknya ia dijaga," jelas Boechari. Untuk itulah penduduk Desa Kamalagyan diperintahkan untuk bertempat tinggal di tepi bangunan di Waringin Sapta. Tugas mereka mengawasi semua orang yang hendak mengancam keselamatan bendungan itu. Sebagai gantinya, raja menjadikan Desa Kamalagyan sebagai desa perdikan ( sima ). Artinya raja mengurangi beberapa macam pajak yang harus diserahkan kepadanya. Hasil dari sima  digunakan untuk kepentingan peneliharaan bendungan di Waringin Sapta. Menurut Boechari, tugas menjaga bendungan itu lebih untuk menghindari dari tindakan sabotase. Rupanya pada masa itu tak banyak yang mendukung pemerintahan Airlangga. "Karena ia anak raja Bali, sekalipun ibunya keturunan Isana. Mereka tahu bahwa ada orang yang lebih berhak atas takhta kerajaan, yaitu anak Dharmawangsa Tguh, yang mungkin masih bayi atau masih dalam kadungan," jelas Boechari. Kendati begitu, berkat bendungan itu penduduk desa bersuka cita karena dapat mengolah kembali sawahnya. Para pedagang juga dapat berperahu dari hulu sungai untuk mengambil dagangan ke Hujung Galuh, tempat transaksi para pedagang dan nakhoda dari pulau lain. "Sehingga sukalah hati orang yang berlayar menuju ke hulu, setelah mengambil muatan di Hujung Galuh…" catat Prasasti Kamalagyan. "Penduduk desa yang sawahnya kebanjiran dan hancur amat bersenang hati sekarang, karena sawah mereka dapat dikerjakan kembali."

  • Lima Kebakaran Hutan Terbesar di Australia

    JIKA di Indonesia punya siklus banjir besar musiman, Australia punya musim kebakaran hutan. Lazimnya terjadi di masa peralihan tahun. Yang terjadi tahun ini merupakan yang terbesar semenjak peristiwa pertama yang tercatat 169 tahun lampau. Hingga kini pemerintah Australia masih berupaya memadamkan kebakaran hutan yang sejak Agustus 2019 itu. Meluas ke enam negara bagian, kebakaran itu sudah melalap total 5.919.500 hektar lahan hutan dan pemukiman, termasuk di dalamnya 1.516 rumah dan merenggut 19 nyawa. Kebakaran itu juga mengakibatkan sejumlah wilayah di South Island, Selandia Baru terkena hujan abu sejak 1 Januari 2020. Kebakaran hutan di Australia biasanya dipicu musim kemarau yang disusul gelombang panas. Dari masa ke masa seiring perubahan iklim, kebakaran hutan di Australia kian sering terjadi. “Bahkan bencana seperti ini takkan menggugah tindakan politis apapun. Kenapa? Karena kita masih gagal memahami keterkaitan antara krisis iklim dan peningkatan cuaca ekstrem dan bencana alam seperti #AustraliaFires. Itu yang harus diubah saat ini,” cetus aktivis perubahan iklim Greta Thunberg di akun Twitter -nya, 22 Desember 2019. Selain karena kemarau panjang, kebakaran hutan di Australia kerap terjadi akibat gelombang panas ekstrem dan kecerobohan manusia. Kebakaran dahsyat pertama tercatat terjadi pada 1851. Selain karena kemarau, kebakaran itu dipicu ulah manusia lantaran di masa itu tengah “haus” berburu emas. Kebakaran hutan kian sering terjadi setelah dekade 1960-an. Berikut lima kebakaran dahsyat di Australia di masa lampau: Kebakaran “Black Thursday” 1851 Sejak pertengahan tahun 1850 kawasan Victoria didera gelombang panas dan kekeringan dahsyat. Hal itu memicu kebakaran hutan besar pada Kamis, 6 Februari 1851. Si jago merah melalap lima juta hektar atau seperempat luas Koloni Victoria (pada 1901 Victoria baru resmi berstatus negara bagian federal Australia). Sebelum 2018, kebakaran itu jadi kebakaran pertama dan terbesar yang tercatat para ilmuwan Barat. Selain gelombang panas yang mencapai 47,2 derajat celcius dan kekeringan, menurut Margaret Kiddle dalam Men of Yesterday: A Social History of the Western District of Victoria, 1834-1890 , kebakarannya disebabkan oleh bara bekas api unggun yang ditinggalkan para pemburu emas di Plenty Ranges. Bara api itu tertiup angin kencang ke semak-semak kering. Kebakaran hutan itu merembet ke sejumlah wilayah pertanian dan peternakan di Plenty Ranges, Portland, Western Port, Wimmera, Dandenong, Gippsland, hingga Mount Macedon. Kebakaran itu menewaskan 12 orang dan sekira sejuta domba serta ribuan hewan ternak lain. “Beruntung pada Jumat siang turun hujan ringan yang mendinginkan atmosfer, sekaligus memadamkan kebakarannya perlahan,” sebut suratkabar The Launceston Examiner , 8 Februari 1851. Kebakaran “Black Friday” 1939 Kendati bukan yang terbesar, kebakaran pada Jumat, 13 Januari 1939 ini tergolong yang paling banyak memakan korban. Menukil Lewis Wendy dkk. dalam Events That Shaped Australia , kebakaran hutan ini menghanguskan total dua juta hektar atau sepertiga wilayah Victoria. Total 71 orang tewas akibat kebakaran ini. Lebih dari 1.000 rumah hangus kala kebakaran hutan ini merembet ke kota-kota di sekitarnya, di antaranya Hill End, Narbethong, Nayook West, Noojee, Woods Point, Omeo, Pomonal, Warrandyte, Yarra Glenn, dan Adelaide Hills. Penyebab kebakaran ini bukan faktor alam. “Jutaan hektar hutan dilalap api dan mengakibatkan banyaknya properti dan nyawa melayang, kebakaran ini disebabkan oleh tangan manusia,” sebut hakim Leonard E. B. Stretton dari Royal Commission. Kebakaran baru padam saat hujan deras turun pada 15 Januari 1939. Kebakaran New South Wales 1951 Sepanjang November 1951-Januari 1952, kebakaran hebat melanda Piliga, Wagga, Dubbo, Forbes, dan Mangoplah di negara bagian New South Wales hingga ibukota Canberra. Data “ACT and South-West NSW Bushfire, 1951” di situs Australian Disaster Resilience mengungkap, total sekira empat juta hektar hangus tertelan si jago merah. Termasuk 10 ribu hektar di Canberra, Australian Capital Territory (ACT). Tidak hanya ratusan rumah dan peternakan, 13 orang (11 di NSW; 2 di Canberra) tewas oleh kebakaran itu. Untuk menanggulanginya, terutama yang menjalar ke wilayah-wilayah permukiman, pemerintah federal mengerahkan aparat pemadam kebakaran dan personil militer. “Hujan lebat di sepanjang pesisir selatan dan sebagian Riverina turut mempercepat pemadaman kebakaran. Kerugian di New South Wales mencapai tiga juta poundsterling (keseluruhan 6 juta pounds),” tulis suratkabar The West Australian , 28 Januari 1952. Kebakaran New South Wales 1974 Kebakaran besar kembali terjadi di sejumlah wilayah New South Wales dalam kurun Desember 1974-Januari 1975. Api merambat hingga memusnahkan 4,5 juta hektar lahan, menewaskan tiga orang serta melukai 100 lainnya dan menghancurkan 40 rumah. Mengutip “The Australian Bushfire Cooperative Research Centre Program” karya Laksamana Madya (purn.) Ian Donald George MacDougall, ketua BCRC atau Pusat Riset dan Kerjasama Kebakaran Hutan, kebakaran itu jadi yang terparah di negeri kanguru dalam rentang tiga dekade terakhir. “Sebelumnya lebih dulu terjadi kebakaran di Far West seluas 3,755.000 hektar, 50 ribu hewan ternak musnah. Di Cobar Shire lahan yang terbakar seluas 1,5 juta hektar, di mana puncaknya terjadi di pertengahan Desember (1974). Di Moolah-Corinya seluas 1.117.000 hektar dan sebagian besar apinya dipadamkan tim pemadam selain dibantu hujan,” ungkap MacDougall. Kebakaran New South Wales 1984 Dalam artikelnya yang sama, MacDougall juga mencatat kebakaran dahsyat lain, yakni kebakaran di New South Wales satu dasawarsa berselang, akhir Desember 1984-Februari 1985. Selain menghanguskan sekira 3,5 juta hektar lahan, kebakaran itu juga memusnahkan 40 ribu hewan ternak dan menewaskan empat orang. “Pada Hari Natal (25 Desember) tercipta 100 titik api yang dipicu sambaran petir. Hasilnya 500 ribu hektar terbakar. Yang terbesar di Cobar, terjadi pada pertengahan Januari dengan menghanguskan 516 ribu hektar dari total 3,5 juta hektar keseluruhan yang memunculkan angka kerugian 40 juta dolar Australia,” sebut MacDougall.

  • Operasi Rahasia CIA Paling Sukses di Indonesia

    KONFLIK memperebutkan Irian Barat mendorong Indonesia untuk meningkatkan kemampuan militernya. Awalnya, Indonesia akan membeli alutsista ke Amerika Serikat. Namun, Amerika Serikat tak mau menjual alutsista kepada Indonesia karena terikat persekutuan dengan Belanda dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page