Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Belanda Mengawasi Indonesia dari Australia
DI LANTAI 10 gedung Temple Court building, Collins Street, Melbourne, Australia, para petinggi pemerintahan Hindia Belanda acap kali berkumpul. Mereka adalah pejabat kolonial pimpinan Hubertus van Mook yang melarikan diri dengan dua pesawat Dakota dari Bandung menuju negara sekutunya, Australia. Di sana, dibentuk jawatan penerangan untuk terus memantau kondisi Hindia Belanda: NIGIS (Netherlands Indies Goverenment Information Service). “Kegiatan ini merupakan kegiatan dinas rahasia sipil dan organisasi propaganda pemerintah Hindia Belanda di pengasingan yang berbasis di Australia, selepas jatuhnya Hindia Belanda ke tangan balatentara Jepang,” tutur sejarawan Rushdy Hoesein dalam ekspose “Arsip Foto Netherlands Indies Government Information Service (NIGIS) di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta Selatan, 28 November 2016.
- Ada Oknum Polisi dalam Pembunuhan Berencana Marhaenis
DUA bulan sudah kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J bergulir dengan aneka drama dan rumor motif yang menyertainya. Namun, ada titik terang-titik terang yang perlahan membuka tabir misteri kasus. Salah satu yang terpenting, eks-Kepala Divisi Profesi dan Pengalamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Ferdi Sambo dijadikan tersangka pembunuhannya. Rekonstruksi kejadian sudah dilakukan tim penyidik Polri di dua tempat kejadian perkara (TKP), yakni di Jalan Saguling III, Jakarta Selatan (kediaman pribadi Sambo) dan Komplek Polri Duren Tiga (rumah dinas Sambo) pada 30 Agustus 2022. Total ada 78 adegan yang diperagakan di dua TKP untuk menyibak apa dan bagaimana peran Sambo dan para tersangka lain: Bharada E (Richard Eliezer), Bripka RR (Ricky Rizal), KM (Kuat Ma’ruf), dan Putri Candrawathi (istri Sambo). Kendati masih terdapat perbedaan pandangan dan keterangan antar-tersangka, rekonstruksi itu setidaknya membuktikan pembunuhan berencana Brigadir J untuk kemudian dijadikan catatan tim penyidik sebelum diserahkan ke kejaksaan. Tersangka Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, sama-sama dijerat pasal 340 subsider pasal 380 juncto pasal 55 juncto pasal 56 KUHP.
- Riwayat Penghulu dari Masa Lalu
KERINGAT dingin membasahi tubuh Dedi Slamet Riyadi, 38 tahun. Setelah menuruni bukit, melalui tegalan sawah, dan menerabas sungai dengan sepeda motornya, dia tiba di tempat perhelatan: sebuah masjid kampung di Kuningan, Jawa Barat. Begitu masuk masjid, wajah dan berkas pernikahan yang dia jinjing sama-sama kusut. Tapi toh dia mesti menuntaskan pekerjaannya: menghadiri dan mencatat pernikahan. Sebagai penghulu, Dedi terbiasa menyantap medan seperti itu. Selama masih masuk wilayahnya, kapan pun dia mesti siap jika dibutuhkan masyarakat. “Pernah juga hari raya,” katanya. Tentu saja tugas penghulu bukan hanya menghadiri dan mencatat pernikahan. Sebagai pegawai negeri sipil, dia punya tugas lainnya. Dari perencanaan kegiatan hingga pengembangan kepenghuluan. Dari pengawasan pencatatan nikah/rujuk hingga pembinaan keluarga sakinah. Namun, meski tampak segambreng, sebenarnya tugas penghulu masa kini hanya berkutat di hukum keluarga dan pernikahan. Kedudukannya pun di kecamatan.
- Mata-mata Mengawasi Bung Hatta
MOHAMMAD HATTA pulang kampung ke Sumatra Barat pada Oktober 1923. Selain menemui keluarga, dia juga berencana menulis dasar gerakan Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Pendidikan atau PNI-Baru) yang berjudul Ke Arah Indonesia Merdeka. Setelah menyelesaikan brosur itu, dia mengunjungi beberapa cabang PNI di Sumatra Barat, yaitu cabang Bukittinggi, Padang Panjang, dan Padang. Di setiap cabang, dia memberikan pandangan tentang organisasi PNI. Di Padang, Bung Hatta menginap di rumah tokoh yang berpengaruh dalam hidupnya, yaitu Engku Taher Marah Sutan, seorang agen pelayaran di pelabuhan Padang. Dia berkenalan dan berhubungan dengan Marah Sutan ketika dia duduk di kelas dua MULO. Saat itu, Marah Sutan menjadi sekretaris Sarikat Usaha, organisasi yang didirikan oleh para saudagar pribumi pada 1914 untuk melindungi saudagar-saudagar pribumi dari dominasi pedagang Belanda dan Tionghoa. Berkat dia, Sarikat Usaha menjadi pusat pertemuan kaum cerdik pandai di Padang. Dia memimpin Sarikat Usaha hingga tahun 1940.
- Mengawasi Kaum Pergerakan
SELESAI berpidato, Sukarno bergegas. Seorang Belanda gemuk, agen Politiek Inlichtingen Dienst (PID) atau Dinas Intelijen Politik, mengikutinya dengan sepeda. Sadar diikuti, Sukarno tetap tenang dan justru berpikir untuk mengerjainya. Dia sengaja melewati kubangan sawah sehingga agen itu harus menenteng sepedanya. Sukarno gembira melihat itu. ”Padahal PID, dinas intelijen yang didirikan pada Mei 1916, nama yang menakutkan bagi banyak kaum pergerakan,” kata Bondan Kanumoyoso, sejarawan Universitas Indonesia, dalam diskusi buku Memata-Matai Kaum Pergerakan, Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934 karya wartawan majalah Historia Allan Akbar, di Universitas Indonesia (11/4/13). Buku ini mengungkap aktivitas intelijen masa kolonial, termasuk keberhasilan dan kegagalannya.
- Gunung Anak Krakatau dan Tsunami Selat Sunda
PADA suatu sore, 29 Juni 1927, hampir 44 tahun berlalu dari letusan dahsyat induknya, Gunung Krakatau. Nelayan yang tengah menarik jaring setelah seharian mengayuh perahu, menyaksikan sesuatu yang luar biasa dan tidak terduga. Dengan bergemuruh, gelombang-gelombang gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut. Gelembung-gelembung itu dengan kombinasi yang aneh dan acak, muncul di mana-mana, mengelilingi perahu. Nelayan itu kebingungan dan ketakutan. Gelembung-gelembung itu meledak, menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk.
- Melipat Laba di Pelayaran Kedua
IKHTIAR armada dagang pertama Belanda, dari perusahaan Compagnie van Verre, menemukan jalur ke Nusantara memang berat. Mereka harus kehilangan hampir tiga perempat awaknya dan satu kapal terbakar. Pada 14 Agustus 1597, tiga kapal, yaitu Mauritius , Hollandia dan Duyfken , kembali dengan 87 orang selamat dari 240 awak. Karena kebocoran dan kurangnya awak, kapal Amsterdam ditinggalkan dan dibakar di Bawean. Cornelis de Houtman, pemimpin armada, kembali ke Belanda dengan membawa 240 kantong lada, 45 ton pala, serta 30 bal bunga pala, yang sebagian diperoleh dari hasil rampasan.
- Pemodal Pelayaran Pertama Belanda
TAHUN 1594, awal musim semi. Sejumlah saudagar besar berkumpul di rumah Martin Spil, seorang pedagang anggur, di Warmoesstrat, Amsterdam, Belanda. Mereka mengumpulkan dana untuk membiayai pelayaran pertama ke negeri asal rempah di Asia. Menurut Jonathan I. Israel dalam Dutch Primacy in World Trade, 1585-1740, kelompok pedagang besar tersebut dapat mengumpulkan modal sebesar 290 ribu gulden. Dengan uang sebesar itu dapat membeli 60-70 rumah besar di kota Amsterdam.
- Di Balik Tiga Koleksi Indonesia yang Dikembalikan dari Belanda
ENAM bulan pasca-Belanda mengembalikan artefak-artefak koleksi Eugene Dubois, termasuk fosil “Manusia Jawa”, upaya repatriasi terkini kembali menghasilkan pengembalian tiga benda lain. Ada Arca Siwa, Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman, dan sebuah Al-Quran dari abad ke-19. Menurut laman resmi pemerintah Belanda , Selasa (31/3/2026), dua bendanya berasal dari Wereldmuseum Amsterdam, yakni arca Siwa dan Prasasti Damalung. Sementara yang berupa Al-Quran dari koleksi pemerintah kota Rotterdam yang disimpan di Wereldmuseum Rotterdam. “Penandatanganan persetujuan penyerahannya dilakukan Duta Besar Indonesia (untuk Belanda, red. ) Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Youssef Louakili, dilakukan pada 31 Maret di (kantor) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan,” bunyi pernyataan tersebut. Sebelum dikembalikan, ketiga benda itu lebih dulu menjalani provenance research (penelitian asal-usul) yang dilakukan bersama antara tim Commissie Koloniale Collecties dari Belanda dengan para pakar Indonesia dari Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda pimpinan I Gusti Agung Wesaka Puja –yang diteruskan Tim Repatriasi Objek Pemajuan Kebudayaan dan Pengembalian Cagar Budaya yang Berada di Luar Wilayah Republik Indonesia ke dalam Wilayah Republik Indonesia pimpinan Ismunandar– sebagaimana juga dengan 472 benda bersejarah yang direpatriasi pada Juli 2023 dan 288 benda lain yang direpatriasi pada September 2024. Ketiga artefak baru di atas juga akan menempati “rumah” baru di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Baca juga: Resmi! Belanda Serahkan 472 Benda Bersejarah ke Indonesia Baca juga: Belanda Kembalikan 288 Benda Warisan Nusantara ke Indonesia Arca Siwa dari Candi Kidal Arca Siwa Anusapati (Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen) Menurut dokumen Commissie Koloniale Collecties dengan nomor rekomendasi ID-2025-3, Arca Siwa yang dimaksud sudah jadi usulan pihak Indonesia untuk direpatriasi sejak 20 September 2023. Penelitian terhadapnya lantas dilakukan pakar Wereldmuseum Leiden, Rosalie Hans dan Tom Quist. Dari penelitian awal, arca setinggi sekitar 123 cm itu terpahat dari material andesit dan diketahui berasal dari abad ke-13. Mulanya, arca merupakan bagian dari Candi Kidal di Malang, Jawa Timur. Disimpulkan, arca Siwa itu berasal dari masa Kerajaan Singhasari karena mengidentikkan Dewa Siwa dengan penguasa Singhasari yang jadi penerus Ken Angrok, yakni Raja Anusapati (bertakhta 1227-1248). “Candi Kidal bersifat agama Hindu-Siwa, karena di ruangan candi (garbhagrha) dahulunya terdapat arca Siwa Mahadewa yang sekarang disimpan di Royal Tropical Institute di Amsterdam. Arca tersebut kemungkinan adalah arca perwujudan Raja Anusapati, raja kedua Kerajaan Singhasari, karena dalam kitab Nagarakrtagama puluh 41:1, dikatakan ketika (Anusanatha) pulang ke tempat Raja Gunung arca perwujudannya ditempatkan di Kidal,” tulis Edi Sedyawati, Hasan Djafar dkk. dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Salah satu referensi utama provenance research adalah catatan arkeolog dan orientalis Frederic Martin Schnitger berjudul “De herkomst van het Krtanagara-beeld te Berlijn” yang terdapat dalam Jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , tahun 1936. Arca itu, menurutnya, diambil dari Candi Kidal pada 1802 oleh pejabat kolonial Nicolaus Engelhard saat ia pelesiran ke Malang dan mengunjungi candi itu. Namun, belum dapat dipastikan siapa yang menbawa arca itu ke Belanda. Hanya terdapat catatan bahwa arca itu merupakan donasi dari seorang saudagar Belanda, Isaac Gerard Veening, kepada lembaga Natura Artis Magistra pada 1851. Tak dijelaskan pula dari mana Veening mendapatkannya. Mulai 1921, arcanya diserahkan kepada Kolonaal Instituut Amsterdam dan dijadikan koleksi di Wereldmuseum Amsterdam. Prasasti Damalung dari Lereng Merbabu Prasasti Damalung/Ngadoman dari era akhir Majapahit (X @bonnietriyana) Sempat hilang catatannya begitu lama, Prasasti Damalung alias Prasasti Ngadoman ditemukan kembali pada 7 Agustus 2024 ketika sejarawan dan sekretaris Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, Bonnie Triyana, mengunjungi seguah gudang museum di kota kecil Gravenzande. Sebelumnya, ia mendengar tentang prasasti itu dalam sebuah diskusi di Salatiga pada awal 2023 dan kemudian melacaknya dengan dibantu kurator Museum Volkenkunde Leiden, Pim Westerkamp. Disebut Prasasti Ngadoman karena benda tersebut ditemukan di Ngadoman (kini wilayah Kabupaten Semarang) oleh Residen Semarang Hendrik Jacob Domis, medio 1824. Sedangkan nama Damalung merujuk pada lokasi Ngadoman di lereng Gunung Merbabu, yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Damalung. Setelah menemukannya di Lereng Merbabu, Domis memindahkannya ke kediamannya di Salatiga. Ia lalu minta bantuan Demang Salatiga Ngabehi Ronodipuro dan panembahan Sumenep untuk menafsirkan isi prasasti dalam aksara Jawa Kuna itu. “Saya menemukan benda itu di sisi timur (lereng) Gunung Merbabu, di mana bendanya terdapat aksara tertentu (kuno) dan saya merasa bendanya begitu penting untuk jadi perhatian. Saya bawa ke Salatiga dan Demang Salatiga Ronodipuro memastikan bahwa itu aksara Jawa Kuna,” tulis Domis dalam Salatiga, Merbaboe en de Zeven Tempels . Menurut penelitian yang juga dilakukan Rosalie Hans dalam dokumen rekomendasi bernomor ID-2025-4, prasasti yang berasal dari tahun 1371 Saka (1449/1450 Masehi) itu dipelihara Domis di kediamannya di Salatiga hingga pada 1827 diserahkan kepada Koninklijke Bataviaasch Genootschap (KBG). Gubernur Jenderal Leonard Pierre Joseph Du Bus de Gisignies lalu mengangkutnya ke Belanda. Prasasti itu mulai jadi koleksi Rijks Etnographisch Museum (kini Wereldmuseum Leiden) pada 1904. Baca juga: Prasasti Damalung yang Hilang Ditemukan di Negeri Seberang Baca juga: Prasasti Damalung Wajib Dipulangkan, Begini Kata Arkeolog Al-Quran Rampasan Perang Aceh Al-Quran yang diyakini milik Teuku Umar atau kerabatnya (Wereldmuseum Rotterdam) Dalam keterangan dokumen rekomendasi Commissie Koloniale Collecties bernomor ID-2025-2, Al-Quran dimaksud punya ciri berupa versi cetak buatan perusahaan penerbitan Al-Hasaniyya di Mumbai, India, dengan titimangsa cetak Februari 1879. Bersampul kulit berwarna merah, kondisi Al-Qurannya masih baik. Tim repatriasi dari Indonesia sudah mengusulkan repatriasi Al-Quran yang diduga milik pemimpin Perang Aceh, Teuku Umar, itu sejak 1 Juli 2022. Adapun penelitian asal-usulnya dilakoni Mirjam Shatanawi dengan bantuan Tom Quist. Dalam wawancara dengan Historia.ID medio November 2022, sebelumnya ia meneliti empat Al-Quran yang juga diduga milik Teuku Umar. Satu di Wereldmuseum Rotterdam berupa Al-Qur'an cetak. Dua Al-Quran lain di Tropenmuseum Amsterdam, masing-masing berupa Al-Qur'an cetak dan Al-Quran tulis tangan. “Al-Quran yang keempat ada di Universitas Leiden. Yang (versi) tulis tangan juga ada sedikit kerusakan namun wajar mengingat usianya,” kata Shatanawi kala itu. Setelah riset lebih mendalam dari Shatanawi dan setelah disetujui tim repatriasi Indonesia dalam pertemuan pada 26 Mei 2025, diputuskan bahwa yang dipulangkan adalah versi cetak yang sebelumnya berada di Wereldmuseum Rotterdam. Sebab, yang disepakati untuk direpatriasi merupakan benda peninggalan yang berkaitan dengan Teuku Umar, baik milik pribadi maupun kerabatnya. Al-Quran itu dirampas setelah serbuan Belanda terhadap posisi Teuku Umar di Lampisang pada 25 Mei 1896. Bendanya diambil oleh perwira Tentara Kerajaan Hindia Belanda Letnan Dua KNIL Ferdinand Kennick dari kediaman Teuku Umar. Bertahun-tahun Al-Quran itu jadi koleksi pribadi keluarga Kennick hingga pada 1940 diserahkan ke Kementerian Koloni lalu disimpan di Koloniaal Instituut (kini Wereldmuseum Amsterdam). Bendanya pernah ditebus Landbouwhogeschool (kini Universita Wageningen) pada 1948 dan sempat dipinjamkan ke Stedelijk Gymnasium Schiedam pada 1962. Baru pada 1997, bendanya didonasikan ke Museum voor Land-en Volkenkunde (kini Wereldmuseum Rotterdam). Baca juga: Al-Qur'an Teuku Umar yang Dirampas Belanda Baca juga: Empat Versi Al-Qur'an Milik Teuku Umar
- Si Bung dan Dua Gadis Jepang
AWAL 1966. Indonesia bergolak. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, ribuan demonstran nyaris tiap hari tumpah ruah ke jalanan. Selain menuntut penurunan harga, rombak kabinet dan pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia), mereka pun mengeritik tingkah polah Presiden Sukarno yang dinilai tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Salah satu yang dikritik mahasiswa adalah kebiasaan Bung Karno memiliki banyak istri. Dalam Angkatan 66: Sebuah Catatan Harian Mahasiswa karya Yozar Anwar disebutkan bagaimana pada 9 Februari 1966, serombongan mahasiswa Jakarta berparade dalam dandanan ala geisha (perempuan penghibur Jepang) lengkap dengan o-icho (sanggul tradisional Jepang) dan kimono khas-nya. Di dada mereka sebuah poster tergantung dengan tulisan yang berbunyi: “Gundik-Gundik Impor”
- Before the Rise of Tarumanagara
From the hot and humid climate of the northern coast of western Java to the cool mountains in the interior, all were included in the territory of the Tarumanagara Kingdom. This Hindu-style kingdom was once the largest kingdom in the western part of Java. Referring to its physical remains, namely seven inscriptions and a temple complex, the territory of this kingdom that is said to be the oldest kingdom on the island of Java, if compared to the present day, stretches from Pandeglang (Banten Province) in the west, Koja (DKI Jakarta) in the north, the Cimanuk River (Indramayu Regency) in the east, and Nanggung (Bogor Regency) in the south. It is estimated that the kingdom existed since the 4th century, as did the Kutai Kingdom in East Kalimantan.






















