Hasil pencarian
9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Memetakan Perjalanan Keris Pangeran Diponegoro
KERIS Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro yang sempat dianggap hilang akhirnya ditemukan. Keris itu diserahkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Ingrid van Engelshoven kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja, di KBRI Den Haag, Belanda, 3 Maret 2020, pukul 10 pagi waktu setempat. Penyerahan itu disaksikan oleh Direktur Nationaal Museum van Wereldculturen Stijn Schoonderwoerd. Keris itu kemudian diserahkan ke Museum Nasional pada 5 Maret 2020. Keris Kiai Nogo Siluman dibawa ke Belanda oleh Kolonel Jan-Baptist Cleerens, komandan pasukan Belanda dalam Perang Jawa di medan pertempuran Banyumas dan Bagelen. Dia menghadiahkan keris itu kepada Raja Belanda William I sebagai piala kemenangan Belanda atas Pangeran Diponegoro. Cleerens berperan dalam mengakhiri Perang Jawa dengan cara membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding yang ternyata jebakan. Diponegoro ditangkap dalam perundingan di Karesidenan Kedu, Magelang, pada 28 Maret 1830. Dia diasingkan hingga wafat di Makassar pada 8 Januari 1855.
- Melacak Keris Mistis Pangeran Diponegoro
RATUSAN tahun sudah sejak keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro dianggap hilang dari tempat penyimpanannya di museum Belanda. Lewat pencarian yang panjang, keris itu ditemukan dan dikembalikan kepada Indonesia. Sejumlah penelitian dilakukan untuk menemukan Kiai Nogo Siluman. Pada 1984, Pieter Pott, mantan kurator Museum Volkenkunde (sekarang National Museum of World Cultures, NMVW) di Leiden yang kemudian menjadi direkturnya itu mencoba melacak Kiai Nogo Siluman dalam koleksi Museum Volkenkunde. Penelitian ini juga termasuk kelanjutan dari perjanjian pada 1975 antara pemerintah RI dan Belanda mengenai pengembalian warisan budaya yang berkaitan dengan tokoh bersejarah. “Dilanjutkan karena masih ada keterangan bahwa keris Diponegoro masih di Belanda. Kemungkinan besar ingin melengkapi benda milik Diponegoro di Belanda yang sudah lebih dulu dikembalikan ke Indonesia,” ujar Sri Margana, ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, kepada Historia.ID.
- Keris dalam Lukisan Rembrandt
SEBAGAIMANA Hercules dalam mitos Yunani, Samson yang dalam Alkitab disebut Simson, juga dikisahkan sebagai manusia terkuat. Namun sekuat-kuatnya manusia punya kelemahan. Menilik legenda, Samson si pria perkasa itu jadi loyo tak berdaya setelah rambutnya dipotong Delilah, kekasih yang mengkhianatinya. Maestro seni rupa Belanda, Rembrandt Harmenszoon van Rijn, menggambarkannya dalam lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 61,3x50,1 cm bertajuk Samson Betrayed by Delilah (1628/1630). Lukisan yang menggambarkan salah satu adegan kisah Samson dalam Perjanjian Lama , di mana Delilah hendak menggunting rambut Samson yang sedang terlelap di pangkuannya. Rambut yang selama ini jadi sumber kekuatannya. “Penggambaran zaman itu (abad ke-17, red .), penggambaran dari Alkitab sebagai lukisan sejarah, memang sedang nge-tren ya, seiring penyebaran gospel ke negara-negara koloni,” tutur kurator cum sejarawan seni Amir Sidharta kepada Historia.ID.
- Riwayat Keris Bertuah Milik Diponegoro
KERIS Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro sudah tiba di Tanah Air, Kamis (5/3/2020). Setelah 189 tahun berada di tangan Belanda, ia dipulangkan lima hari jelang lawatan kenegaraan Raja Belanda Willem-Alexander ke Indonesia. Namun riwayat keris itu sendiri masih terselubung misteri. Menurut Peter Carey, sejarawan peneliti Pangeran Diponegoro, keris Kiai Nogo Siluman merupakan satu dari sekian benda pusaka ternama peninggalan pemimpin perlawanan Perang Jawa (1825-1830) yang selama ini disebutkan hilang. Tapi bagaimana keris itu bisa dibawa negosiator ulung Kolonel Jan-Baptist Cleerens ke Belanda pada 1831 masih jadi tanda tanya. “Diponegoro punya banyak keris. Tentu itu (Kiai Nogo Siluman) bukan satu-satunya. Tapi bagaimana Cleerens memperoleh keris itu masih belum jelas. Apakah keris itu diberikan Diponegoro sebagai bentuk kepercayaan dalam negosiasi di Banyumas, atau Cleerens diberi oleh Jenderal (Hendrik Merkus Baron) de Kock setelah Diponegoro ditangkap di Magelang,” ujar Peter Carey kepada Historia.ID.
- Keris Diponegoro Dikembalikan Belanda, Ini Kata Peter Carey
SUDAH 189 tahun keris Kiai Nogo Siluman berada di Belanda. Hari ini, Kamis (5/3/2020) atau lima hari jelang kunjungan Raja Belanda ke Indonesia, keris kondang milik Pangeran Diponegoro ini dikembalikan dan disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, dokumen tentang keris Kiai Nogo Siluman raib bak ditelan bumi dan baru ditemukan dan diidentifikasi lagi medio 2017. Keris yang sebelumnya berada di Museum Volkenkunde, Leiden itu lantas secara resmi diserahkan ke Duta Besar RI untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja pada Selasa (3/3/2020) dan dibawa pulang ke tanah air untuk diserahkan ke Museum Nasional pagi ini. “Saya agak heran, bagaimana bisa sebegitu teledor keris dari seorang Diponegoro bisa hilang. Padahal keris ini masuk dalam koleksi kerajaan (Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden atau KKZ) sejak Januari 1831,” ujar sejarawan Peter Carey kepada Historia.ID.
- Keris Pangeran Diponegoro Tiba di Tanah Air
KERIS Pangeran Diponegoro yang ditemukan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, resmi diserahkan kepada Museum Nasional Indonesia, Kamis, 5 Maret 2020. Penyerahan keris dilakukan Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja dan diterima langsung oleh Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto. “Semoga hari ini menjadi berkat bagi kita semua. Karena hari ini merupakan momentum yang bersejarah dengan kembalinya keris Pangeran Diponegoro sejak keluar dari tanah air kita 150 tahun lalu,” ujar Dubes Puja. Puja tiba di Jakarta pagi tadi menumpang pesawat Garuda Indonesia dari Amsterdam dan membawa serta keris Pangeran Diponegoro tersebut. Menurutnya, inilah keris Kiai Nogo Siluman yang selama ini dicari-cari.
- Hilang Ratusan Tahun, Keris Diponegoro Ditemukan di Belanda
KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda hari ini, Rabu, 4 Maret, pukul 09:00 pagi waktu Belanda mengumumkan pengembalian sebilah keris Jawa kepada Indonesia. Dalam rilis yang diterima Historia.ID , keris yang dimaksud merupakan pusaka milik Pangeran Diponegoro. Keris berwarna hitam dengan ukiran berlapis emas itu sempat dikabarkan hilang. Keris tersebut berhasil diidentifikasi setelah dilakukan penelitian terhadap koleksi Museum Volkenkunde, Leiden. “Saya bahagia bahwa penelitian mendalam ini, yang diperkuat ahli Belanda dan Indonesia, menjelaskan bahwa ini adalah keris yang dicari-cari selama ini. Sekarang keris ini dikembalikan ke negeri asalnya: Indonesia,” ujar Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Inggridvan Engelshoven.
- Di Balik Mistik Keris
PANEMBAHAN Purbaya mengacungkan keris pusakanya. Api berkobar-kobar di kiri dan kanan jalan. Tujuannya satu, meremukkan benteng Belanda di Batavia.Pasukan Kompeni yang menyadari kedatangan rombongan Kesultanan Mataram itu langsung memberondongkan peluru dari atas benteng. “Heee Belanda! Sungguh terlalu tingkahmu yang hanya menakut-nakuti!” seru Panembahan Purbaya. Ia pun menudingkan keris pusakanya ke arah benteng, di mana banyak pasukan Belanda berkumpul. Benteng itu pun seketika tembus berlubang seluas empat meter persegi. Demikianlah kesaktian keris dikisahkan dalam buku Serat Tembung Andhupara karya R.Ng. Suradipura. Ada juga kisah Mpu Gandring yang terkenal dengan keris buatannya yang sangat sakti dalam Serat Pararaton . Konon, tak ada orang yang dapat melawan kekuatan keris bikinannya. Jika dipakai menusuk pasti berhasil.
- Hansip Bubar Barisan
SLAMET Santoso, 54 tahun, telah 21 tahun menjadi hansip (pertahanan sipil) di desa Keseneng, kabupaten Semarang. Dia menanggapi dingin pembubaran hansip awal September lalu. “Saya kira kok sama saja, dibubarkan atau tidak. Hansip desa itu sudah menjadi pengabdian saja,” ujarnya kepada Historia.ID . Menurut Slamet, untuk seragam pun dia peroleh dari bekas hansip sebelumnya. Tunjangannya bersumber dari Dana Alokasi Umum Desa (DAUD), yang dibayarkan dalam kurun setahun, dibagi 14 rekan hansip lainnya. Pembentukan hansip terkait dengan upaya pemerintah merebut Irian Barat. Pada 19 Desember 1961, Sukarno mengumumkan Tri Komando Rakyat: gagalkan pembentukan negara Papua buatan Belanda, kibarkan merah putih di Irian Barat, dan bersiap untuk mobilisasi umum.
- 19 April 1944: Mengenang Pemboman Sabang
HARI ini, 19 April 1944, sejumlah tempat di Sabang luluh lantak. Keadaan itu disebabkan oleh bombardir udara yang dilancarkan pasukan Sekutu lewat operasi bersandi Cockpit. Operasi Cockpit dilatarbelakangi oleh permintaan AL Amerika Serikat (AS) yang membutuhkan sebuah operasi pengalihan agar operasi utamanya ke Hollandia (kini Jayapura) tak terusik. Operasi pengalihan itu berfungsi untuk menahan pasukan Jepang di sekitar Selat Malaka agar tak bergerak ke timur. Untuk keperluan itu, pada awal April 1944 Laksamana Ernest King (kepala operasi AL AS) menemui Laksamana James Somerville (komandan Armada Timur AL Inggris). King menanyakan apakah Armada Timur bisa membuat operasi yang diinginkan.
- Tirto Utomo dari Juru Warta Jadi Pendiri Aqua
BANJIR bandang terjadi di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, pada 21 September 2020. Selain menerjang permukiman penduduk, banjir juga merendam pabrik PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. di Jalan Siliwangi, Mekarsari, Sukabumi. Video keadaan pabrik Aqua yang kebanjiran itu viral di media sosial sehingga Aqua menjadi trending topic . Aqua didirikan oleh Tirto Utomo hampir setengah abad lalu. Sebelum mendirikan Aqua, dia bekerja sebagai wartawan. Setelah bergelar sarjana hukum, dia memutuskan bekerja sesuai bidangnya di perusahaan minyak milik negara. Di sinilah, dia secara kebetulan mendapatkan ide bisnis mendirikan perusahaan air minum dalam kemasan. Tirto Utomo atau Kwa Sien Biauw lahir di Wonosobo pada 8 Maret 1930. Orang tuanya, Kwa Liang Tjoan dan Tjan Thong Nio menjalankan usaha peternakan sapi perah. Dia menempuh pendidikan dasar di Wonosobo, sekolah menengah pertama di Magelang, dan sekolah menengah atas di Malang.
- Rahasia Masa Mahasiswa Kasino
SUDAH lewat dini hari. Api unggun menyala. Udara dingin di bumi perkemahan Cibubur berubah hangat. Tak jauh dari api unggun, sejumlah mahasiswa duduk menghadap sebuah rakit di Situ Cibubur. Di atas rakit, dua orang mahasiswa lagi membanyol. Banyolannya agak jorok dan menyindir kebijakan politik-ekonomi saat itu, tahun 1973. Teman-temannya tertawa mendengar banyolan mereka. Dua mahasiswa tadi bernama Kasino Hadiwibowo dan Nanu Mulyono. Keduanya beda jurusan di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia (FIS UI). Kasino anak administrasi niaga, Nanu mengambil sosiologi. Tapi keduanya sama-sama punya daya humor yang kuat.





















