Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Muslihat Opsus di Papua
BAGI Ali Moertopo, Irian Barat bukanlah medan tempur yang asing. Pada saat Operasi Mandala berkecamuk, dia pernah ditugaskan sebagai perwira telik sandi di sana. Saat itu, Ali masih berpangkat mayor dan menjadi asisten Mayjen TNI Soeharto, panglima Komando Mandala, untuk operasi intelijen. Pada Mei 1967, Brigjen Ali Moertopo kembali bertugas di Irian Barat. Misi Operasi Khusus (Opsus) kali ini dalam rangka memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Papua (nama lama Irian Barat). Tak hanya tentara, cendekiawan dari kalangan sipil ikut ambil bagian dalam rencana operasi. “Kita tidak bisa membiarkan presiden kehilangan Irian Barat,” kata Ali Moertopo kepada stafnya Jusuf Wanandi.
- Mula Bendera Indonesia Berkibar di Papua
PENYELESAIAN sengketa Papua (dulu Irian Barat) antara Indonesia dan Belanda hampir beres. Belanda bersedia menyerahkan Papua kepada Indonesia. Sebaliknya, pemerintah Indonesia berkenan penyerahan Papua melalui pemerintahan transisi bentukan PBB (UNTEA). Setelah memerintah di Papua, Indonesia berkomitmen menyelenggarakan referendum bagi rakyat Papua. Itulah hasil perundingan Middleburg yang berlangsung alot pada Juli 1962. “Saya kembali ke Jakarta pada tanggal 31 Juli 1962, dan saya harap pada 10 Agustus 1962 sudah ada di Washington agar tanggal 14 Agustus 1962 perjanjian dapat ditandatangani,” tutur Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat. Soebandrio saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri merangkap ketua delegasi Indonesia. Sehari sebelum penandatanganan Perjanjian New York, pada 14 Agustus 1962 terjadi krisis baru. Berpangkal dari seperti apa formula bendera yang berkibar di Papua. Perkara bendera ini menjadi krusial karena menandai kedaulatan suatu negara atau pemerintahan di wilayah tersebut.
- Awal Luka Orang Papua
MUFAKAT dari Perjanjian New York menyebabkan orang-orang Belanda di Papua angkat kaki. Rumah-rumah milik mereka ditinggalkan begitu saja. Menyusul kemudian kedatangan tentara Pakistan dibawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNTEA) ke Papua. Migrasi ini menandai peralihan kekuasaan di Papua dari Belanda kepada Indonesia. “Menurut New York Agreement tentara PBB sebanyak 1.500 orang militer Pakistan bersama Algemenee Politie dan Papua Vrijwilingers Korps (polisi kota Batalion Papua), lalu ditambah satu pasukan militer Indonesia, yang sebanyak militer PBB, akan menjamin keadaan penduduk,” kata Amapon Jos Marey, kepala imigrasi UNTEA di Jayapura dalam bunga rampai Bakti Pamong Praja Papua: Di Era Transisi Kekuasaan Belanda ke Indonesia. Dalam perjanjian disebutkan, Indonesia akan menerima kedaulatan penuh atas Papua pada 1 Mei 1963 setelah UNTEA menyelesaikan tugasnya. Selama masa transisi, sebanyak mungkin orang-orang Papua ditempatkan pada kedudukan-kedudukan administratif dan teknis. Sedangkan pejabat Belanda atau Indonesia, bila diperlukan, bisa diperbantukan atas seizin Sekjen PBB. Namun, sejak Oktober atau November 1962, pendatang Indonesia yang tergabung dalam Kontingen Indonesia (Kontindo) mulai berdatangan ke Papua.
- Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam
HAMPIR saja putra seorang guru itu menjadi guru juga ketika muda. Jan Gerrit Scheurer, putra guru tadi, sudah beberapa bulan menjadi mahasiswa calon guru. Namun, ketertarikannya dalam dunia penyebaran agama Kristen (misionaris) membelokkan langkah hidupnya. Gereja Reformasi Utrecht dan Nederlandsch Gereformatie Zendingvereniging (Asosiasi Misionaris Reformasi Belanda) kemudian mengarahkannya belajar kedokteran. Scheurer sekolah kedokteran di London dar 1888 hingga 1892. Namun, pendidikan kedokteran yang dijalaninya tidak untuk bertugas di Eropa, melainkan di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. Begitu lulus, pada 1893 Scheurer dikirim ke Surakarta. Pria kelahiran desa kecil Gelselaar pada 3 Maret 1864 itu dikirim bersama istrinya yang sudah belajar ilmu keperawatan pula.
- Berpulangnya Pengusaha Cendana
PROBOSUTEDJO, pengusaha nasional, meninggal dunia Senin (26/3/2018) pagi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo dalam usia 87 tahun. Jenazah disemayamkan di rumah duka, Jalan Diponegoro Nomor 20-22 Jakarta, sebelum diterbangkan ke Yogyakarta untuk dimakamkan di kampung halamannya. Probo dikenal sebagai pengusaha di banyak bidang. Namanya populer lantaran hubungannya dengan keluarga Cendana. Lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada 1 Mei 1930, Probo merupakan adik tiri mantan Presiden Soeharto. Sebagaimana kakaknya, Probo ikut angkat senjata ketika Perang Kemerdekaan, hingga pendidikannya terganggu.
- Maling Pun Ikut Revolusi
YOGYAKARTA pasca proklamasi adalah kota yang rawan tindak kejahatan. Selain maraknya para maling, di siang hari para pencopet pun kerap berkeliaran. Kehidupan zaman perang yang serba sulit membuat sebagian orang nekad lantas mencari jalan pintas dengan mengakrabi dunia hitam. Bukan hanya itu, praktek pelacuran pun marak di berbagai sudut kota. “Kehidupan sosial menjadi kacau dan serba kumuh,” kenang Satya Graha, jurnalis tua yang pernah menghabiskan masa remajanya di kota gudeg tersebut. Situasi itu pula yang dikeluhkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX di hadapan Mayor Jenderal Moestopo. Kepada penasehat khusus militer Presiden Sukarno itu, Sri Sultan meminta solusi supaya kota yang dipimpinnya kembali aman dan tentram.
- Barisan Maling Beraksi
SETELAH bertugas kurang lebih tiga bulan dalam Divisi VI Kediri, Jawa Timur, Soehardiman mendapat kabar gembira. Dia terpilih untuk mengikuti pendidikan Militer Akademi (MA) di Yogyakarta. Pada Maret 1946, dia mengikuti ujian semester pertama. Dia lulus dengan nilai baik. Setelah ujian semester, para kadet dibagi menjadi empat kelompok: kadet dari luar Jawa dikirim ke front luar Jawa; Kompi S dikirim ke Sarangan, Madiun, untuk mengikuti pendidikan SORA (Sekolah Olahraga dan Bahasa Asing) selama satu semester; dan Kompi T dikirim ke Semarang. Sedangkan Kompi U dipimpin oleh Soehardiman tetap di Yogyakarta untuk mendalami teori-teori kemiliteran selama satu semester. Namun, kegiatan belajar tidak sesuai rencana karena mereka dikirim ke front di Jawa Barat.
- Pekerja Seks dalam Pusaran Revolusi Indonesia
KEJARAN tentara Belanda dan bertebarannya mata-mata NICA di masa revolusi membuat Sukarno mencari cara untuk menghindari penangkapan. Dia akhirnya memutuskan untuk mengajak para pejabatnya masuk ke lokalisasi. Di sanalah mereka mengadakan rapat untuk menghindari endusan lawan. Selain aman, lokalisasi merupakan sumber informasi akurat. “Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia,” kata Sukarno kepada Cindy Adams yang menuliskannya di Untold Story: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Revolusi tak hanya menarik kalangan terpelajar atau pemuda-tentara untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pekerja seks, maling, dan rampok pun banyak yang terlibat. Perempuan pekerja seks yang berjuang umumnya bertugas mengumpulkan informasi dan menyabotase musuh.
- Anarkisme dalam Perang Sipil Spanyol 1936
KETIKA Perang Sipil Spanyol bergejolak (1936-1939), berbagai gerakan kiri di Spanyol bersatu melawan pemberontakan militer yang dipimpin oleh Fransisco Franco. Kaum anarkis, yang telah lama aktif dalam gerakan buruh Spanyol memiliki peranan penting dalam pertempuran itu. Perang ini diawali ketika para jenderal Spanyol memulai pemberontakan militer pada Juli 1936. Sejak itu pula, para pekerja dan petani Spanyol telah merespon mereka dengan revolusi sosial. Sebagian besar revolusi sosial inipun bersifat anarkis. Murray Bookchin dalam To Remember Spain: The Anarchist and Syndicalist Revolution of 1936, menyebut selama beberapa bulan pertama pemberontakan militer, pekerja sosialis di Madrid juga sering bertindak secara radikal seperti yang dilakukan para pekerja anarko-sindikalis di Barcelona.
- Propaganda Ala Joseph Goebbels
BERSELANG dua hari pasca-pertemuan dan wawancara dengan enam pemimpin redaksi dan seorang presenter TV nasional di Hambalang, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali dirinya dan pemerintahannya tidaklah antikritik tapi harus waspada terhadap propaganda hoaks. Hal itu ia sampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Sarasehan Ekonomi di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Sejak dilantik sekitar enam bulan silam, pemerintahan Prabowo banjir kritik dan bahkan sempat diterpa gelombang unjuk rasa “Indonesia Gelap” oleh mahasiswa dan masyarakat sipil. Terkait desakan sejumlah isu, sekali lagi Presiden Prabowo menegaskan ia siap menerima segala kritik. Hanya saja, presiden mewanti-wanti publik untuk berhati-hati memilah antara kritik dan propaganda hoaks ala Joseph Gobbels, menteri propaganda Jerman era rezim Nazi (1933-1945). “Umpamanya ada yang dengan keras yakin bahwa matahari terbit dari barat. Karena dia ngomong 500-1.000 kali, jangan-jangan ada sebagian rakyat kita yang percaya. Itu adalah ilmu propaganda. Itu keahlian Hitler dan Joseph Goebbels. Kalau kebohongan diulangi berkali-kali dan terus-menerus, lama-lama orang percaya dengan kebohongan. Itu ada di buku The Art of Propaganda,” ujar Presiden Prabowo, dilansir laman Sekretariat Negara, Selasa (8/4/2025).
- Skandal Perselingkuhan Propagandis Nazi Joseph Goebbels
PAUL Joseph Goebbels merupakan salah seorang tangan kanan Adolf Hitler. Bergabung dengan Nazi pada 1924, Goebbels diberi posisi kunci sebagai Menteri Penerangan dan Propaganda ketika Hitler menjabat Kanselir Jerman sejak tahun 1933 hingga 1945. Meski dekat dengan sang Führer, hubungan keduanya sempat merenggang akibat skandal perselingkuhan Goebbels dengan aktris Lida Baarová. Goebbels dan Baarová pertama kali bertemu tahun 1936. Sejarawan Peter Longerich menulis dalam Goebbels: A Biography, mereka bertemu ketika Goebbels tengah jalan-jalan sore di Schwanenwerder. “Menjadi suatu kebetulan karena ketika itu, Baarová yang merupakan kekasih dari aktor Gustav Fröhlich, baru saja pindah ke sebuah rumah yang berlokasi sangat dekat dengan kediaman Goebbels di Schwanenwerder,” tulis Longerich. Namun, menurut Roger Manvell dan Heinrich Fraenkel dalam Doctor Goebbels: His Life and Death, kemungkinan besar Goebbels, yang karena jabatannya sebagai Menteri Penerangan dan Propaganda, memiliki hubungan erat dengan para pelaku industri film Jerman, telah sering melihat Baarová di berbagai pesta maupun acara yang dihadiri aktor dan aktris ternama.
- Joseph Goebbels, Setia Nazi Sampai Mati
MESKI wajah kakunya tampak tenang, pikiran Dr. Joseph Goebbels tengah berkecamuk. Pagi itu, 29 April 1945, situasi kota Berlin kian mencekam mengingat pasukan Uni Soviet kian mendekati Führerbunker atau bunker di kompleks Reichkanzlei (Kekanseliran Jerman). Di hari itulah untuk pertamakali Goebbels menolak perintah Hitler. Setelah mengikuti sarapan pesta pernikahan Hitler dengan Eva Braun, Goebbels diminta Hitler untuk berusaha keluar dari kota Berlin. Hitler merasa harus menjadi kapten yang ikut tenggelam bersama kapalnya. Traudl Junge, sekretaris pribadi Hitler, masih ingat betul ketika Goebbels masuk ke ruangannya. Kala itu, Junge sedang mengalihwahanakan wasiat Hitler yang ditulis tangan ke mesin ketiknya. “Tiba-tiba Goebbels masuk tanpa saya sadari. Wajahnya tampak pucat seputih kapur. Air mata mengalir di pipinya…suaranya yang biasanya jernih menjadi bergetar. ‘Führer ingin saya keluar dari Berlin, Nona Junge. Saya diperintah memimpin pemerintahan baru di utara. Tetapi saya tak bisa meninggalkan Berlin dan Führer! Saya Gauleiter (kepala distrik) Berlin dan di sinilah tempat saya. Jika Führer mati, hidup saya tiada artinya’,” kata Junge dikutip T. Thacker dalam Joseph Goebbels: Life and Death.





















