top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Saat Jenderal Djati "Dikencingi"

    Pertempuran Ambarawa dan Pertempuran Lima Hari Semarang memakan banyak korban dari kalangan pemuda-pelajar. Tenaga potensial bangsa itu meregang nyawa sia-sia karena tak memiliki pengetahuan memadai tentang militer. Hal itu membuat Jenderal Mayor –sebelum diturunkan menjadi kolonel dalam Re-Ra–  Djatikusumo prihatin. “Beliau berpendapat bahwa sangat disayangkan para pelajar yang memiliki kemampuan yang potensial dan merupakan harapan bangsa yang baru memproklamasikan kemerdekaannya itu banyak menjadi korban dalam pertempuran karena hanya berbekal semangat berjuang yang besar,” tulis Himpunan Pas T Ronggolawe dalam Pasukan “T” Ronggolawe: Perjalanan Sejarah Sekelompok Pemuda Pelajar Semarang . Kenyataan pahit tersebut meyakinkan Djati akan perlunya memberi pendidikan militer kepada mereka. Dengan persetujuan Kepala Staf Markas Besar Oemoem (MBO) Letjen Urip Sumohardjo, Djati lalu mendirikan Sekolah Opsir Tjadangan (SOT) pada 1946 di Salatiga. SOT anggotanya merupakan pelajar dan guru di wilayah kekuasaan Divisi IV yang dipimpin Djati. Diharapkannya, setelah mengikuti pendidikan selama 18 bulan para taruna diharapkan dapat menjadi opsir sampai tingkat pemimpin kompi. Mereka akan disatukan dalam korps opsir cadangan. Oleh karena itu, para taruna diasramakan selama mengikuti pendidikan SOT. Mereka hanya diperbolehkan keluar asrama pada Sabto sore-Minggu. Pendidikan di SOT memadukan pendidikan dasar militer dan pendidikan umum SMP dan SMT. Pendidikan umum diberikan setelah para taruna selesai mengikuti pendidikan SOT tiap harinya. Kurikulumnya dibuat oleh Darsono (kepala Staf Intelijen yang mantan kepala Sekolah Guru), Soemarso (staf pribadi Djati), dan Sukamto (eks Peta) atas perintah Djati. Djati terjun langsung memegang pejaran-pelajaran khusus militer. Materi yang diberikan selain pelatihan beragam keterampilan adalah pengenalan senjata, ilmu persenjataan, taktik, dan strategi. Mengenai dua yang terakhir, Djati antara lain mendasarkan pengajaran pada buku karya Jenderal Prusia Carl von Clausewitz Vom Kriege (On War). Djati amat keras dalam mengajarkan disiplin. Suatu ketika, saat para taruna mengikuti latihan Operasi Kompi Kawal Depan, Djati sampai memarahi Peppy Adiwoso lantaran kedapatan mencuri buah coklat karena kehausan. Namun, pengalaman-pengalaman di SOT tak hanya melulu kedisiplinan, ketegangan ataupun hukuman. Pengalaman-pengalaman lucu pun menjadi bagian keseharian selama pendidikan. Seperti saat para taruna menjalani latihan pertempuran malam, misalnya. Lantaran menggunakan peluru hampa, mereka merasa tidak puas karena dianggap kurang seru. Maka, sebelum latihan dimulai mereka buru-buru membuat peluru mereka yang dapat bersuara layaknya peluru sungguhan dengan mengganti pelor ( bullet ) dengan sumbatan dari kertas koran. Alhasil, suara tembakan selama latihan pun terdengar seperti tembakan dalam pertempuran sungguhan. Namun ketika latihan usai, kelompok pasukan pertahanan tak juga melepaskan tawanan dari kelompok pasukan penyerang. Samudono, salah satu tawanan, bahkan di- bully kawan-kawannya dari pasukan pertahanan. Entah siapa yang melontarkan perkataan “tembak saja!”, Samudono pun kemudian ditembak bagian pantatnya sampai berteriak kesakitan. Celana dan celana dalamnya pun bolong terkena tembakan itu. Setelah semuanya dilepas, ternyata pantat Samudono berdarah. Pengalaman sial juga dialami Entjung Sadjadi saat mengikuti latihan penyerangan objek vital yang dilakukan pada malam. Dia ditugaskan sebagai komandan pasukan penyerang. Maka ketika telah memerintahkan anak buahnya menyerang, dia “beraksi” bak komandan sungguhan yang hilir-mudik mengawasi jalannya operasi sambil menenteng tongkatnya. Saat itulah dia melihat di kejauhan seorang peserta berjongkok di tepi jalan membuang air kecil. Entjung langsung mendatanginya sambil menepuk bahu orang itu menggunakan tongkat. “ Nguyuhbae (Kencing aja),” kata Entjung. Lelaki yang ditepuk Entjung pun kaget dan terbengong melihat orang yang menepuknya. Dalam kegelapan malam itu Entjung tak memperhatikan serius lelaki itu, dia terus berjalan dengan gagah. Dia tak sadar bila orang yang ditepuknya merupakan Jenderal Djati.

  • Siapa Bachtaruddin Said Tokoh PKI Sumatera Barat?

    DI tengah makin gawatnya persoalan pandemi virus corona , isu politik tentang Sumatera Barat (Sumbar) menyembul di publik. Setelah perkara pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani soal provinsi itu bikin heboh, muncul isu anggota DPR RI dan politikus PDIP Arteria Dahlan yang disebut punya kakek pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumbar. Isu bermula dari penjelasan budayawan Minang Hasril Chaniago dalam forum Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (8/9/2020) terkait demokrasi di tanah Minang. Hasril memaparkan bahwa meski orang Minang berbeda ideologi politik, hubungan personal dan silaturahimnya tak putus. Seperti di keluarga Arteria, contohnya. Keluarganya Masyumi namun ada Bachtaruddin Said, kakek Arteria, yang PKI. Arteria membantah pernyataan Hasril. Walau sama-sama asal Maninjau, Sumbar, Arteria mengaku tak punya hubungan darah dengan Bachtaruddin. “Tidak benar saya cucu tokoh PKI. Kakek-nenek, orangtua saya berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumbar. Memang ada tokoh PKI dari Maninjau bernama Bachtaruddin. (Tetapi) tidak ada hubungan kekeluargaan antara Bachtaruddin dengan kakek-nenek saya,” aku Arteria   dalam keterangan tertulis kepada Historia . Dalam silsilah keluarganya, Arteria menguraikan bahwa kakek dari pihak ibu, H. Wahab Syarif, seorang pedagang tekstil di Tanah Abang sejak 1950. Neneknya, Hj. Lamsiar, ibu rumahtangga semata. Ibunya, Hj. Wasniar, seorang guru di Perguruan Cikini. Adapun dari pihak ayah, kakeknya bernama H. Dahlan bin Ali, juga pedagang. Sedangkan neneknya, Hj. Dahniar Yahya, tokoh Masyumi. Pernyataan Hasril, menurut sejarawan asal Minang Profesor Asvi Warman Adam, bisa berbuntut urusan hukum. “Ternyata kan Arteria sudah membantah itu. Bahkan diklarifikasi ibunya bahwa nenek dan kakeknya (Arteria) dari pihak ibu dan ayahnya bukan Bachtarudin. Artinya kalau tidak benar, Arteria kan bisa menuntut itu Hasril bahwa dia menuduh, dan ternyata kakek Arteria bukan Bachtarudin itu,” ujar Asvi kepada Historia. Satu Suku Satu Keluarga Bachtarudin merupakan saudara tiri –satu ayah lain ibu– akvitis perempuan yang pada 1974 digelari pahlawan nasional, HR. Rasuna Said. Bedanya, Rasuna Said sejak kecil diberi pendidikan secara Islam, sementara Bachtarudin menerima pendidikan Barat. “Bachtarudin sekolahnya di HIS dan MULO di Jakarta. Lalu bekerja di pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di zaman Jepang, bekerja sebagai polisi Jepang,” sambung Asvi. Pasca-kemerdekaan, Bachtaruddin keluar dari kepolisian untuk terjun ke politik sebagai eksponen kiri. Menurut sejarawan Fikrul Hanif Sufyan, keputusan itu dipengaruhi ketokohan Datuk Haji Batuah, pentolan Sarekat Rakyat di Padang Panjang yang ditahan pemerintah kolonial di Boven Digul. “Sebelumnya, hampir semua pentolan PKI di Indonesia, termasuk Sarekat Rakyat Padang Panjang, umumnya masih diasingkan di Australia. Artinya ada semacam benang merah yang terputus soal perkembangan komunis setelah mereka di-Digul-kan. Lalu ada perkembangan pemerintah kolonial mengurangi interniran yang dianggap sudah tak berbahaya ke kampung halamannya, termasuk Haji Datuk Batuah,” tutur Fikrul, penulis buku Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah 1923-1949, saat dihubungi Historia. Sementara itu, PKI di Sumbar sudah kembali berdiri pada Oktober 1945 setelah keluar Maklumat Nomor X tahun 1945 tentang berdirinya partai-partai. Bachtaruddin memanfaatkan momen tersebut dengan mendirikan partai. “Di zaman kemerdekaan, (Bachtaruddin, red .) membentuk PKI dengan tiga orang kawannya di Sumatera Tengah,” kata Asvi. PKI jadi partai politik pertama yang eksis di Tanah Minang dan ketuanya adalah Bachtaruddin. “Setelah Haji Datuk Batuah dipulangkan dari Australia, tampuk kepemimpinan (PKI) dikembalikan Bachtaruddin kepada Haji Datuk Batuah. Jadi ada peralihan kepemimpinan di sini, walau Bachtaruddin tetap menjadi kader PKI,” sambung Fikrul. Haji Datuk Batuah (kedua dari kanan) (Foto: Repro "Menuju Lentera Merah") Pada 1946, mengutip buku Propinsi Sumatera Tengah terbitan Departemen Penerangan tahun 1953, Bachtaruddin sebagai perwakilan PKI turut dalam Dewan Perwakilan Sumatera (DPS) yang dibentuk pemerintah pusat pada 17 April 1946. Bachtaruddin termasuk anggota DPS untuk Sumatera Barat bersama sejumlah tokoh politik Minang lain seperti Chatib Sulaeman, Aziz Chan, dan saudara tirinya, Hj. Rangkayo Rasuna Said. “Menariknya, sosok Bachtaruddin ketika ada pergolakan (pemberontakan, red .) di Madiun pada 1948, waktu itu Muso meminta PKI cabang Sumbar untuk menyatukan visi mereka di Madiun yang membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) dan ingin mendirikan negara Soviet. Muso meminta Bachtaruddin melakukan hal yang sama di Sumatera Barat. Namun Bachtaruddin menolak permintaan Muso,” tambah Fikrul. “Alasannya, karena menurut Bachtaruddin apa yang dilakukan Muso sudah di luar jalur. Di sisi lain, setelah penolakan itu, sebelum PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) berdiri, Bachtaruddin juga turut memimpin revolusi kemerdekaan di Pasukan Temi, pasukan laskar para eks-Sarekat Rakyat Padang Panjang. Bersama Natar Zainuddin, Bachtaruddin di pasukan Temi ikut gabung dengan beberapa laskar lain di Front Pertahanan Nasional (FPN).” FPN dibentuk dari sejumlah laskar onderbouw partai-partai yang ada atas permintaan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pembentukan itu bertujuan membangun sinergi kekuatan bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk menghadapi Agresi Militer Belanda. FPN yang dalam rapat musyawarahnya dipimpin Haji Datuk Batuah, mengambil keputusan mendaulat Datuk Indomo Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka dari Masyumi sebagai ketuanya. Selepas masa revolusi fisik, Bachtaruddin masuk DPR sebagai Wakil Ketua I Fraksi PKI lewat Pemilu 1955. Namun, dia hanya menjabat setahun lantaran pada 1956 wafat pada 24 Juni. Namanya kemudian diabadikan oleh partai menjadi Akademi Ilmu Politik Bachtaruddin. Kakek Arteria Dahlan? Benarkah Arteria Dahlan tak punya hubungan keluarga dengan Bachtiaruddin? Baik Asvi maupun Fikrul tak bisa memastikan kebenaran pernyataan Hasril maupun sanggahan Arteria. “Kemungkinan Arteria punya versi sendiri, juga Bang Hasril. Kalau dalam perspektifnya Arteria, barangkali dia mengambil langsung silsilah keluarganya ke atas tanpa melihat silsilah yang lainnya. Tapi dalam budaya Minang (silsilah keluarga) itu bersifat komunal,” jelas Fikrul. “Di Minang itu kalau di dalam sebuah suku (marga, red. ) ada dua orang bergelar Datuk, dia dianggap masih dalam satu keturunan. Misalnya suku Chaniago, di mana di dalam nagari ada dua orang datuk. Nah di dalam silsilahnya orang Minang, dia tidak hanya mengakui hanya pada satu jalur datuknya saja tapi kepada jalur datuk yang lain,” lanjutnya. Klarifikasinya Hasril Chaniago di Youtube Hersubeno Point , Kamis (10/9/2020), senada dengannya. Menurut Hasril, ketika ia mewawancarai Fauzi Makruf, paman Arteria, disebutkan ia masih punya hubungan kekerabatan dengan Bachtaruddin. “Dia (Fauzi) menanggapi wawancara kita sebelumnya. Dikatakan dia, jadi kami (Fauzi) itu sebenarnya masih punya hubungan dengan Bachtaruddin. Begitulah uniknya. Pak Fauzi itu tokoh masyarakat Minang asal Maninjau di Jakarta dengan gelar Datuk Gunuang Ameh. Katanya, beliau dari keluarga Masyumi tapi Bachtaruddin dari PKI dan secara pribadi hubungan mereka biasa-biasa saja,” ujar Hasril. Anggota DPR RI Arteria Dahlan membantah Bachtaruddin, tokoh PKI Sumbar adalah kakeknya (Foto: dpr.go.id ) Ketika bersua Fauzi, Hasril mengingat bahwa mereka membicarakan Arteria yang dianggapnya kurang sopan terhadap orang yang lebih tua. Utamanya kala anggota DPR RI dapil Jawa Timur itu membentak sambil menunjuk-nunjuk Profesor Emil Salim di talkshow Mata Najwa, 10 Oktober 2019. “Saya bilang Pak Fauzi karena beliau tokoh Minang asal Maninjau juga. Tolong diajari dia. Katanya, ‘Oh, dia keponakan saya.’ Kalau begitu tepat betul untuk mengingatkan dia. Di Minang tidak ada stratifikasi sosial, tidak ada pangkat, jabatan. Orang hanya menghormati karena umur. Yang muda harus santun pada yang tua. Dia jadi kontroversial karena menunjuk-nunjuk Pak Emil Salim. Itu tidak sopan bagi adat Minang,” sambungnya. Hasril memberi contoh bahwa di masa republik masih bayi, Hatta sebagai orang Minang yang lebih muda selalu menghormati Tan Malaka yang lebih tua dan lebih dulu memperjuangkan kemerdekaan, meski Tan seorang oposan. “Ketika di ILC (Selasa, 8 September 2020), Arteria datang. Ketika rehat, dia saya panggil untuk mengingatkan hal itu. Saya puji dia karena hebat sebagai orang Minang tapi tak berebut 14 kursi (DPR) dari dapil Sumbar. Lalu saya sebut, saya berteman dengan Fauzi Makruf. Katanya, ‘Oh, dia ungku saya.’ Ungku itu mamak atau paman yang sudah bergelar Datuk.” Jika dilihat generasi itu, sambung Hasril, Bachtarudin adalah generasi kakek Arteria dari segi umur. Seandainya Hasril asal bicara dalam forum ILC itu, mestinya Arteria sudah langsung membantah. Pasalnya, Hasril menguraikan maksudnya itu bukan dalam hubungan biologis, melainkan komunal seperti yang juga diterangkan Fikrul di atas. “Kalau dia merasa saya tuduh, pastinya dia bantah saat itu juga. Apalagi dia pengacara hebat. Cuma setelah itu muncul isunya di medsos karena mungkin ada yang nggak suka sama Arteria. Dari medsos masuk media mainstream . Padahal sistem kekerabatan Minang itu terlalu luas. Saya juga saat itu sedang menjelaskan, inilah contoh berdemokrasi di Minangkabau,” tandas Hasril.

  • Akhir Tragis Menteri Surachman

    Suasana hutan Tumpak Kepuh (terletak di kawasan Desa Sumberdadi, Blitar Selatan) masih remang-remang. Pagi baru saja tiba, ketika seorang lelaki hampir paruh baya melintasi jalan setapak hutan tersebut. Langkahnya yang terburu-buru dan cepat mengundang perhatian Peltu Jatimin dan beberapa anak buahnya  dari Kompi C Batalyon 521 Kodam Brawijaya. Tanpa pikir panjang Jatimin berteriak memerintahkan lelaki itu untuk menghentikan langkahnya. Alih-alih dituruti, yang diperintah malah menjalankan langkah seribu. Tembakan peringatan pun dilontarkan tiga kali. Tetap tak digubris. Sebagai jalan terakhir, Kopral Dua Soepono terpaksa mengarahkan senapannya. Dor! Dor! Dor! Terjungkallah lelaki itu seketika. Saat didekati, nampak pangkal pahanya nyaris putus. Namun lelaki itu masih hidup. Dalam kondisi sakratul maut, dia masih menyebut namanya sebagai “Gunawan”. Beberapa detik kemudian nyawanya pun lepas.  Ketika memeriksa tas hitam yang yang dibawanya, nampaklah sehelai sarung usang berwarna hijau. Kain itu membalut sebuah radio transistor kecil dan sebuah buku berjudul Kaum Buruh Sedunia Bersatulah!  karya pemimpin komunis Tiongkok, Mao Zedong. Dua hari kemudian yakni pada 17 Juli 1968, Wakil Komandan Satuan Tugas Operasi Trisula (operasi khusus memburu sisa-sisa anggota PKI di wilayah Blitar Selatan) Letnan Kolonel Sasmito membuat pengumuman yang mengejutkan: lelaki itu ternyata adalah Ir. Surachman, Menteri Irigasi Kabinet Dwikora II sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang sejak Februari 1966 menjadi buronan karena dituduh sebagai anggota PKI. Demikian pernyataan Sasmito dalam buku Operasi Trisula Kodam VIII Brawijaya karya Semdam VIII Brawijaya. Hampir setahun kemudian, peran politik Surachman sebagai “orang PKI yang diselusupkan” ke tubuh PNI dikuatkan oleh Kusnun alias Abdullah, anggota verfikasi CC PKI urusan Kalimantan. Dalam sidang hari ke-4 pengadilan subversi terhadap terdakwa Sardjono dan Florentinus Suharto pada 30 Mei 1969, Kusnun menyebut  bahwa Ir. Surachman (PNI) dan Karim DP merupakan para infiltran PKI. Tetapi ketika ditanya tentang bukti administratif mengenai keberadaan para anggota PKI yang berada di partai-partai lain itu, Kusnun menjawab soal tersebut sulit dihadirkan di pengadilan. “Karena untuk kepentingan security , maka bukti-bukti itu biasanya dimusnahkan,” kata Kusnun seperti dikutip oleh Abadi , 31 Mei 1969. Pendapat Surachman sebagai orang komunis yang menyelundup di tubuh PNI semakin kuat ketika Profesor Soenarjo S.H (salah seorang pendiri PNI) menyebut dalam bukunya Banteng Segitiga ,  Surachman sebagai anggota PNI yang lebih pandai mengekor PKI. Namun benarkah semua tuduhan itu? Satya Graha, mantan wakil pemimpin redaksi Suluh Indonesia (koran milik PNI), menyatakan ketidakpercayaannya terhadap tuduhan itu. Sebagai seorang yang pernah mengenal insinyur pertanian lulusan UGM itu (1961), dia tidak yakin bahwa tokoh muda PNI tersebut sebagai orang PKI. “Saya kira karena dia loyalis Bung Karno yang sangat radikal, lantas musuh-musuh politik Bung Karno mem-PKI-kan-nya setelah Peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober),” ungkap Satya. Keyakinan Satya Graha berkelindan dengan pendapat ahli sejarah politik Indonesia J. Eliseo Rocamora. Dalam bukunya, Nasionalisme Mencari Ideologi: Bangkit dan Runtuhnya PNI 1946-1965 , Rocamora menyebut tuduhan itu tidak memiliki dasar sama sekali. “Tulisan-tulisan panjangnya di koran PNI Suluh Indonesia tidak menyingkapkan sedikit pun gaya penulisan atau pemikiran PKI,” ungkapnya. Jikalau pendiriannya terlihat lebih cenderung kepada hal-hal yang dikeluarkan oleh PKI (soal pembentukan Angkatan Kelima misalnya) dan sikap-sikapnya terkesan mendua terhadap insiden-insiden aksi sepihak yang dilakukan oleh banyak kader PKI, itu bisa dimaklumi. Sebagai seorang loyalis Sukarno, Surachman tentunya akan mengacu kepada sikap junjungannya itu yang menurut Rocamora sikapnya terhadap kedua isu tersebut juga mendua. Rocamora pun bisa memahami jika di tengah “ketidakpastian” dan aksi Letnan Jenderal Soeharto menangkapi menteri-menteri-nya Sukarno pasca Gerakan 30 September 1965, Surachman jadi berpaling kepada musuh Soeharto yakni PKI. Ketika sisa-sisa PKI melancarkan aksi gerilya di Blitar Selatan, Surachman membuat keputusan cepat untuk bergabung dengan para pemberontak. Terlebih baginya Malang Selatan dan Blitar Selatan adalah dua tempat yang tidak asing,  mengingat sebagai anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) pada era Perang Kemerdekaan (1946-1949), dia pernah bergerilya melawan Belanda di wilayah tersebut. Namun upaya cari selamat itu ternyata tak berbanding lurus dengan suratan takdirnya. Gegara tembakan seorang kopral, pelariannya itu malah mempercepat kematiannya. Maka berakhirlah hidup sang menteri dengan membawa sejumlah misteri yang tak pernah terjawab pasti hingga kini.

  • Odading Rasa Iron Man

    “Ikan hiu makan tomat” menjadi  trending topic. Susualan  atau pantun itu diucapkan oleh seorang lelaki, mungkin penjualnya, dalam video yang viral di twitter . Ia me- review  kue odading Mang Oleh di kawasan Bandung. Berikut ini review -nya. “Odading Mang Oleh, hmmm…, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Belilah odading Mang Oleh didieu  (di sini) karena lamun teu ngadahar  (kalau tidak makan) odading Mang Oleh, maneh teu gaul jeung aing  (kamu tidak gaul dengan saya), lain balad aing  (bukan kawan saya), g*b**g. Ikan hiu makan tomat, g*b**g mun teu kadieu  (g*b**g kalau tidak ke sini). Odading Mang Oleh, rasanya, a*j**g banget.” Selain menjual odading, Mang Oleh yang bernama lengkap Pak Soleh, juga menjual cakwe. Liputan ayobandung.com  menyebut bahwa Pak Soleh telah berjualan odading dan cakwe selama 20 tahun. Dari namanya bisa ditebak, cakwe adalahmakanan orang Tionghoa. Ia salah satu dari banyak makanan yang dibawa para imigran dari Tiongkok dan diperkenalkan di Nusantara. "Gelombang imigrasi dari Tiongkok ke Nusantara berkali-kali. Mereka membawa makanannya kemudian berkembang. Kalau ditelisik dari sisi linguistik, yang kita kenal hari ini adalah murni serapan dialek Hokkian," kata Aji Chen Bromokusumo, penulis buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Indonesia, dalam dialog sejarah di Historia.id , Februari 2019. Salah satunya cakwe, dialek Hokkian yang artinya "hantu atau setan digoreng". Menurut Nick Molodysky dalam Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia, cakwe artinya "setan goreng". Cakwe adalah sejenis donat asin dari Tiongkok, yang hingga kini menjadi sarapan umum di Tiongkok Selatan.Cakwe merupakan makanan yang mudah dijumpai di Indonesia. "Paling sering kita bisa menemukan makanan yang satu ini di penjual bubur, kembang tahu, atau tau suan. Teksturnya sangat garing, cakwe paling nikmat disantap dengan hidangan yang berkuah," tulis Nick. Arti "hantu atau setan digoreng" ada ceritanya. Makanan ini diciptakan seorang pedagang di Tiongkok untuk melampiaskan kemarahan rakyat kepada Perdana Menteri Qin Hui dan istrinya yang memfitnah Yue Fei, jenderal terkemuka Dinasti Song. Fitnah itu membuat Yue Fei dihukum mati. Pedagang itu membuat adonan tepung berbentuk seperti manusia yang saling memunggungi. Ketika digoreng, adonan itu muncul ke permukaan. Pedagang itu menjualnya dengan meneriakkan: "dijual Hui goreng!" Hui mengacu pada Qin Hui. Bila cakwe dari orang Tionghoa, ternyata nama odading dari orang Belanda. Remy Sylado, sastrawan dan ahli bahasa, mengungkap asal-usul nama odading dalam bukunya, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing dan Bahasa Menunjukkan Bangsa . Suatu hari, sebut Remy, seorang sinyo (sebutan anak kecil) Belanda merengek kepada maminya minta dibelikan kue yang dijajakan oleh seorang anak kampung. " Mammie, koop dat voor mij (Mami, belikan itu untukku)," kata sinyo itu. Kue itu tidak bernama karena hanya terdiri dari adonan terigu dan gula pasir yang digoreng. Sang nyonya pun penasaran lantas memanggil ujang penjual kue itu. Ia menyuruhnya membuka daun pisang yang menutupi kue di atas nyiru. Begitu melihat terigu goreng itu, sang nyonya berkata kepada anaknya, " O, dat ding ?" Artinya "O, barang itu?" Kue itu akhirnya memiliki nama: odading . "Si ujang kembali ke kampung, mengatakan kepada emaknya bahwa ternyata kue itu bernama odading," kata Remy. "Hingga kini orang di Bandung menyebut adonan terigu goreng itu odading." Bagaimana, penasaran dengan odading Mang Oleh yang rasanya seperti menjadi Iron Man? Kalau lagi ke Bandung, cobalah.

  • Andi Mappanyuki, Jago dari Sulawesi

    Aristokrat dari Sulawesi yang getol menyerang Belanda. Enggan bekerja sama dengan penjajah hingga akhir hayat.

  • Adik Jadi Korban Prinsip Tak Kompromi Kolonel Djati

    Sebagai salah seorang pemikir militer Indonesia, Kolonel Djatikusumo sejak awal memiliki konsep tentang bagaimana organisasi militer semestinya dibangun. Salah satu faktor terpenting dari konsepnya ialah, harus ada pendidikan militer profesional. Bertolak dari kosenp itulah Djati kemudian menggagas berdirinya Sekolah Opsir Tjadangan (SOT) di Salatiga. “Keputusan mengadakan Sekolah Opsir Tjadangan didasarkan atas prakarsa Jenderal Mayor Djatikusumo, untuk membentuk satu korps opsir (perwira) cadangan, yang anggotanya dibentuk dari guru-guru dan pelajar pejuang yang kebetulan sudah berada di dalam jajaran komandonya. Gagasan ini timbul setelah melihat kenyataan ketika pertempuran-pertempuran di front Ambarawa dan Semarang, banyak anak pelajar yang gugur,” tulis Himpunan Pas T Ronggolawe dalam Pasukan “T” Ronggolawe: Perjalanan Sejarah Sekelompok Pemuda Pelajar Semarang . Kepedulian pada pendidikan itu membuat Djati terjun langsung dalam pengajaran maupun ujian. Selain itu, Djati biasa menyertakan para taruna ke dalam pertempuran sungguhan meski sering ditentang banyak perwira senior. “Ia justru berpendapat bahwa para kadet ini perlu ikut berperang secara aktif, sebab perang ini merupakan kesempatan yang bagus bagi para calon perwira untuk memperoleh pengalaman bertempur dalam arti yang sebenarnya. Suatu kesempatan yang belum tentu bisa diperoleh di masa-masa mendatang. Kalau toh nanti jatuh korban, itu risiko,” kata Moehkardi dalam buku Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945 sampai dengan 1949 . Meski berat, para taruna tak pernah mengeluhkan konsep pendidikan seperti itu. Para taruna sama seriusnya seperti personil-personil lain dalam operasi militer. Seperti yang dialami Mardihadi, anggota Pasukan Tjadangan Ronggolawe yang ditempatkan di Bungah, Kawedanan Sedayu (Front Ronggolawe I: Surabaya Barat dan Utara) untuk mengawasi gerak-gerik musuh dan mata-mata musuh. “Di kota Bungah ini, makan sehari-hari hanya telur bebek diceplok, diolesi petis sedikit lombok dan gereh (ikan asin). Memang adanya hanya itu-itu saja. Hiburan hampir tidak ada, satu-satunya hiburan sebagai selingan adalan nonton gadis-gadis yang andi di Bengawan Solo, sekadar untuk menghilangkan kejenuhan yang berkepanjangan (istilah Pasukan T: nonton gitar kecemplung),” Himpunan Pas T Ronggolawe. Jauh setelah itu, penerjunan langsung ke dalam pertempuran juga dirasakan manfaatnya oleh taruna Atekad Try Sutrisno (kelak menjadi wakil presiden) saat diikutsertakan Djati dalam menangani PRRI. “Praktik lapangan yang paling berkesan adalah pelibatan para taruna Atekad dalam tugas operasi Sumatera Barat. Dari situ kami para taruna dapat menerapkan ilmu dan seni kepemimpinan prajurit, maupun merasakan dan menghayati secara langsung dinamika pelaksanaan operasi, dalam situasi dan kondisi yang sebenarnya. Penugasan operasi semasa taruna di dalam periode kepemimpinan Pak Djati merupakan pengalaman langka dan sangat berharga,” kata Try dalam testimoni berjudul “Pak Jati di Mata Saya”. GPH Haryo Mataram (kelak menjadi rektor pertama Universitas Negeri Surakarta), adik tiri Djati (satu ayah beda ibu), juga amat merasakan manfaat pola pendidikan yang diterapkan Djati sejak awal kemerdekaan. Dia menyadari kemudian bahwa pendidikan oleh Djati sebagai motivasi tak langsung kepada para taruna. Namun, Haryo ingat Djati amat profesional dalam pekerjaannya. Alih-alih mendapat keistimewaan, Haryo justru mendapat perlakuan lebih keras dibanding yang diterima teman-temannya dari Djati. Itu dialaminya saat ujian terakhir di Akademi Militer Yogyakarta dengan mata pelajaran taktik. Djati yang turun langsung menguji bersama Letkol Ismail, justru membebankan Haryo dengan ujian lebih berat. “Justru pertanyaan yang ditujukan kepada saya adalah yang paling sulit, dan kepada saya dikejar terus dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan,” kata Haryo dalam testimoninya di biografi Djati berjudul GPH Djatikusumo, Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Ketagasan Djati dirasakan Haryo sejak awal, ketika Haryo dan sejumlah taruna diperbantukan ke Divisi Ronggolawe yang dipimpin Djati sebelum Agresi Pertama. Ketika Haryo melaporkan kedatangan pasukannya, Djati menolak. Upaya itu terjadi hingga beberapa kali. “Mengapa ditolak? Karena ternyata kancing baju saya dan beberapa teman taruna Akademi Militer tidak tertutup (terbuka). Sehingga hanya karena kurang rapi saja laporan saya ditolak,” kata Haryo.

  • Upaya Jepang Menimba Pengetahuan Dunia

    Diterapkannya aturan sakoku (politik isolasi dari bangsa asing) selama kurun 1639-1853 pada era Tokugawa (1603-1867) berdampak besar pada perkembangan ilmu pengatahuan dan kebudayaan di Jepang. Selama lebih dari 200 tahun, sangat sedikit informasi tentang dunia Barat yang bisa diterima publik Negeri Sakura. Segala akses diatur penguasa militer (shogun) Jepang yang begitu kuat bekuasa. Politik isolasi membuat Jepang tidak bisa sembarang dikunjungi bangsa asing. Pengajar Program Studi Jepang Universitas Indonesia Bambang Wibawarta dalam “Dejima: VOC dan Rangaku ” dimuat Wacana Oktober 2008, mencatat hanya ada dua bangsa yang bisa menjalin hubungan dengan pemerintahan Tokugawa: Cina dan Belanda. Baca juga:  Jepang dari Isolasi hingga Industri Belanda diketahui masuk ke Jepang sekitar tahun 1600 –sebelum Tokugawa Ieyasu mendirikan dinasti Tokugawa dan sakoku diterapkan. Ketika itu, kapal Belanda De Liefde yang mengangkut 24 orang awaknya dihantam badai. Kapal terdampar di sekitar Teluk Usuki, Kyushu. Mereka lalu diselamatkan dan diterima oleh daimyo (tuan tanah) Kyushu Otomo Yoshimune. Sebagian dari mereka bahkan dijadikan penasihat perdagangan luar negeri, serta penasihat pembuatan peta dan kapal. “Sebenarnya tujuan kedatangan mereka adalah untuk mengadakan hubungan dagang dengan Asia Timur setelah mendengar keberhasilan ekspedisi Cornelis de Houtman ke Jawa dan Sumatera,” tulis Wibawarta. Hasil eksperimen para  rangakusha.  (Wikimedia Commons). Selama era isolasi itu Belanda diberi kebebasan berdagang dan berinteraksi dengan rakyat Jepang. Hal itu menyebabkan rasa ingin tahu rakyat akan dunia luar semakin besar. Belanda pun menjadi jembatan pengetahuan Barat bagi Jepang. Orang-orang Jepang lantas menyebutnya Oranda gaku (disingkat rangaku ). Oranda artinya Belanda, dan gaku bermakna ilmu pengetahuan. Jadi rangaku adalah ilmu pengetahuan dari Belanda. Pada masa itu sebenarnya pengetahuan Barat yang masuk ke Jepang tidak hanya berasal dari Belanda saja. Menurut Bambang Wibawarta ada juga nambangaku , yakni ilmu pengetahuan Barat yang disebarkan melalui Siam, Luzon, dan Jawa oleh orang-orang Portugis, Spanyol, dan Italia ke Jepang. Baca juga:  Kiprah VOC di Pulau Dejima “Namun karena perdagangan selama era sakoku hanya diizinkan dengan Belanda, semua pengatahuan dan tekniknya berasal dari sana. Sehingga tidak mengherankan jika rangaku menjadi sebutan umum untuk semua pembelajaran Barat,” tulis de Theodore dalam Sources of Japanese Tradition, Abridged: 1600 to 1868 . Meski istilah rangaku mengacu pada bangsa Belanda, pengetahuan yang dibagikan orang-orang Negeri Kincir Angin itu adalah pengetahuan Barat secara umum. Menurut Grant K. Goodman dalam Japan and the Dutch 1600-1853, bidang-bidang keilmuan seperti kedokteran, farmasi, fisika, kimia, astronomi, geografi, dan kesenian, berperan besar dalam perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan alam di Jepang. “Sedangkan penelitian di bidang lain seperti hukum, sejarah, sastra, dan agama pada awalnya dilarang karena dikhawatirkan akan menjadi media masuknya kembali agama Kristen yang dianggap dapat mengganggu otoritas penguasa,” tulis Wibawarta. Pusat pengetahuan Barat di Jepang berada di Pulau Dejima. Sejak ditempati orang-orang Belanda pada 1641, untuk keperluan perdagangan, pulau di Nagasaki itu ramai dikunjungi orang-orang Jepang yang ditunjuk penguasa untuk mempelajari berbagai macam bidang pengetahuan. Mereka dikenal sebagai rangakusha . Baca juga:  Nasib Orang Indonesia di Jepang Pasca Perang Diceritakan Jean Piere Lehmann dalam The Roots of Modern Japan , para intelektual baru Jepang itu datang dari berbagai daerah, seperti Sendai, Kagoshima, Edo, Osaka, Kanazawa, Nagasaki, dan sebagainya. Mereka belajar bersama dan muncul sebagai elit intelektual yang dikenal di seluruh penjuru negeri. Para rangakusha merupakan kelompok campuran, termasuk di dalamnya para dokter, ahli astronomi, ronin (samurai tak bertuan), kelompok intelektual lama, dan beberapa daimyo (penguasa tanah). “Dengan cara ini, hubungan kebudayaan dan kecendekiaan antar orang Jepang dan orang Belanda lebih menarik perhatian dan penting daripada pertukaran perdagangan yang rada sederhana di Nagasaki,” tulis sejarawan C.R. Boxer dalam Jan Kompeni: Sejarah VOC dalam Perang dan Damai 1602-1799 . Kitab anatomi tubuh manusia pertama di Jepang. (Wikimedia Commons). Para pengajar rangaku datang dari kalangan pejabat VOC. Nama-nama seperti Engelbert Kaempfer (penulis The History of Japan ), Carl Peter Thunberg (penulis Flora Japanica ), dan Issac Titsingh, bukan pejabat VOC biasa. Mereka dikenal sebagai intelektual Barat, yang memang ikut di kapal VOC sebagai ilmuwan. Selain ketiga orang itu masih banyak pejabat VOC yang sejak di Barat telah berprofesi sebagai tenaga pendidikan. Baca juga:  Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS. Sistem rangaku mencapai puncaknya pada era pemerintahan Shogun Tokugawa Yoshimune (1684-1751). Dia berperan besar dalam perkembangan elit intelektual di Jepang. Baginya keberadaan rangaku dapat memberi kontribusi pada kemajuan negerinya di masa mendatang. Shogun Yoshimune mendukung pembukaan sekolah-sekolah berbahasa Belanda. Dia juga berperan dalam menghapus larangan pembatasan penerjemahan buku-buku berbahasa Belanda. Sugita Genpaku, perintis ilmu kedokteran Barat di Jepang. (Wikimedia Commons). Dari sistem rangaku ini lahir sejumlah tokoh besar, yang perannya mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di Jepang selama abad ke-18. Bambang Wibawarta mencatat beberapa di antaranya: Asada Goryu (1743-1799), ahli astronomi yang membuat sistem penanggalan kalender zaman Kansei; Aoki Konyo (1698-1769), menerbitkan kamus Jepang-Belanda; Ajima Naonobu (1739-1798), ahli matematika yang memperkenalkan penggunaan integral, logaritma, dan kalkulus; Hiraga Gennai (1728-1779), peneliti bidang listrik dan botani; dan Shiba Kokan (1747-1818), pelopor bidang etsa lempeng tembaga, serta mempopulerkan astronomi Copernicus dan Kepler, serta kartografi Eropa. Salah seorang rangakusha di bidang ilmu kedokteran yang amat tersohor adalah Sugita Genpaku (1733-1817). Dia menjadi pelopor bidang kedokteran Barat di Jepang. Gempaku mempelajari ilmu bedah melalui dokter-dokter Belanda di Dejima. Dia menulis sebuah buku berjudul Yoyka Taisei, yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang ilmu kedokteran Barat, antara lain cara penghentian pendarahan, pengangkatan tumor di dada, dan sebagainya. Dia berambisi menciptakan ilmu bedah yang memadukan metode pengobatan Jepang, Cina, dan Belanda. “… rangaku yang masuk bersama pedagang VOC ke Jepang lambat laun menyebar luas, baik secara bidang ilmu maupun daerah penyebaran, khususnya di kalangan cendekiawan … rangaku menjadi kekuatan bagi VOC agar dapat diterima dan eksis, juga merupakan alat untuk mengurangi tekanan dan penyeimbang kekuasaan pemerintah bakufu (pemerintahan militer),” tulis Wibawarta.

  • Sukarno dan Trauma PRRI

    UNTUK kesekian kalinya sentimen terkait Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat mengorbit lagi. Disebutkan budayawan Minang Edy Utama yang dikutip BBC News Indonesia , Selasa (8/9/2020), luka lama itu menganga setelah Presiden Sukarno memerintahkan pasifikasi militer lewat “Operasi 17 Agustus”. Implikasinya hingga sekarang merembet kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), parpol penguasa pemerintahan saat ini yang dianggap representasi dari Sukarno. Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pengarahan pasangan calon Pilkada, 2 September 2020, masih mempertanyakan mengapa rakyat Sumbar (Sumatera Barat) belum menyukai PDIP. Namun, kerunyaman muncul setelah muncul pernyataan Ketua DPP PDIP yang merangkap Ketua DPR RI Puan Maharani di hari yang sama. “Semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila,” kata Puan. Sontak sejumlah nada sumbang dari para aktivis dan politisi Minang menerjang PDIP. Hal tersebut membuat PDIP Sumbar memutuskan urung terjun ke pertarungan pemilihan gubernur (pilgub) Sumbar. Pernyataan Puan jadi bola liar lantaran tak disusul klarifikasi langsung. Ia membangkitkan lagi trauma PRRI yang disebutkan Edy berawal dari operasi militer yang dikerahkan Sukarno. Pernyataan Edy mendorong kita pada pertanyaan, benarkah luka lama PRRI itu gara-gara operasi militer perintah Sukarno? Baca juga: Kemenangan "Tentara Sukarno" di Hari Lebaran Sejarawan cum peneliti senior LIPI Profesor Asvi Warman Adam mempertanyakan fakta yang terkesan memojokkan Sukarno tersebut saat dihubungi Historia . “Saya ingin mempertanyakan kenapa semua kesalahan ditimpakan pada Sukarno? Mereka kan ditangkap itu dengan surat penangkapan dari (Jenderal AH) Nasution. Di sini ada PKI yang membuat (permainan politik) dan ada Angkatan Darat juga. Jadi jangan semua ditimpakan bahwa Hamka ditangkap Sukarno. Ada juga pihak-pihak yang bermain di bawahnya, kekuatan politik lain seperti Angkatan Darat dan PKI,” ujar Asvi . Pernyataan Asvi menunjukkan detail-detail dalam politik nasional era 1950-an tidak banyak diketahui publik saat ini. Akibatnya, opini yang berkembang di masyarakat cenderung “pukul rata” bahwa semua kesalahan ada di pundak Sukarno. “Tapi memang mereka bersikap negatif terhadap Sukarno. Memang PRRI berdampak sampai ketika orang-orang Sumbar tak punya kesempatan memimpin di Sumbar. Menimbulkan trauma bagi orang di Sumbar dan jelas kemarahan terhadap pemerintah pusat diidentikkan dengan Sukarno. Saat kecil, saya juga merasakan hal itu, bahkan dikatakan Jawa dan Sukarno adalah pemerintah pusat yang menghancurkan PRRI,” imbuh Asvi yang kelahiran Bukittinggi 65 tahun lampau itu. Kolonel Ahmad Husein (pojok kiri) dengan para petinggi Dewan Banteng, Desember 1956 (Foto: nationaalarchief.nl ) Senada dengan Asvi, George McTurnan Kahin dalam Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia menyatakan, keputusan mengerahkan kekuatan bersenjata untuk meredam PRRI di bawah Kolonel Achmad Husein sejatinya adalah hasil dari percampuran permainan politik pihak-pihak di sekitar Sukarno. Keputusan memilih opsi penggunaan militer sebagai solusi non-kompromis terhadap PRRI adalah buah dari tekanan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal AH Nasution dan Perdana Menteri (PM) Djuanda Kartawidjaja. “Sukarno berada di bawah tekanan dari beberapa penasihat terdekatnya dan dari para pemimpin PKI untuk tak mengambil jalan kompromi. Baik PM Djuanda dan KSAD Nasution juga meninggalkan cara-cara untuk rekonsiliasi dan mendesak aksi militer terhadap PRRI,” ungkap Kahin. Baca juga: Utusan Presiden RI Dikerjai Kala Berupaya Ambil Hati Pemimpin PRRI Kesaksian bahwa opsi militer dalam penyelesaian PRRI tidak pernah dikeluarkan Sukarno juga dikatakan pengusaha asal Minang Hasjim Ning. Hasjim, yang merupakan keponakan Bung Hatta sekaligus sahabat Sukarno, dua kali diutus Sukarno ke Padang untuk menemui Ahmad Husein. Namun dua upayanya itu semua gagal. Oleh karena itu, sehari sebelum memulai safari luar negerinya pada Februari 1958, Bung Karno menyempatkan mampir ke rumah Bung Hatta untuk mendiskusikan penyelesaian kasus PRRI. Menurut Hasjim, Hatta menyarankan agar penyelesaian PRRI hendaknya tidak dilakukan dengan penggunaan kekerasan dan itu dituruti Sukarno. “Pada hari keberangkatannya, Bung Karno menyampaikan pidato agar sepeninggalnya tidak ada tindakan kekerasan dilakukan, harus diupayakan agar tidak ada pertumpahan darah,” kata Hasjim dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang. PM Djuanda, yang dituntut mundur kabinetnya oleh PRRI, mengambil tanggung jawab aksi militer setelah upaya damai pemerintah pusat berbalas proklamasi berdirinya PRRI pada 15 Februari 1958, sebagai perwujudan ultimatum dalam Piagam Perjuangan untuk Menyelamatkan Negara. Ultimatum berisi: pemerintah pusat didesak dalam lima hari sejak 10 Februari agar PM Djuanda mengembalikan mandat kabinetnya kepada Sukarno dan agar Sukarno membentuk sebuah Zaken Kabinet Nasional yang bersih dari unsur-unsur anti-Tuhan. Ultimatum itu, lanjut Kahin, seolah jadi penolakan menohok bagi upaya-upaya Sukarno mendinginkan persoalan lewat cara persuasif. Dikatakan PM Djuanda kepada Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones, ultimatum itu sebagai penolakan PRRI menjadikan Sukarno pasrah menyetujui langkah represif sebagaimana desakan pihak-pihak di sekitarnya. Baca juga: Pesawat CIA dalam PRRI/Permesta Di sisi lain, manuver PRRI di Sumatera juga dibekingi Amerika Serikat. Oleh KSAD Nasution, fakta tersebut dicap sebagai pemberontakan, bukan sekadar gejolak daerah yang menuntut otonomi lebih luas. “Ada ultimatum, ada pergerakan bersenjata. Bahwa gerakan besenjata itu ada ditambah bantuan asing dari Amerika, itu jelas pemberontakan, tidak bisa dibantah lagi. Di situ juga ada perwira militer, ada Achmad Husein, ada Dahlan Djambek juga dan dibentuk Dewan Banteng. Jadi bahwa ada juga persoalan antara pimpinannya tentara di daerah dengan di pusat,” sambung Asvi. Nasihat Ninik-Mamak Tak Didengar Ultimatum PRRI membuat KSAD mengerahkan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) untuk memadamkan pergolakan tersebut pada 17 April 1958 lewat “Operasi 17 Agustus” yang dikomandani Kolonel Ahmad Yani. Klimaks perang saudara di Sumatera Tengah itu disesalkan banyak tokoh pendiri bangsa asal Minang seperti Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta. Sjahrir sempat mengingatkan Sumitro Djojohadikusumo agar tak keliru mengambil sikap dalam mendukung PRRI. Sementara, Hatta sejak awal menentang opsi pasifikasi secara militer. Hal itu diwanti-wantinya kepada Jenderal Nasution. “Saya tidak setuju, bahwa tentara bisa melancarkan serangan terhadap para pemberontak. Itu adalah langkah yang salah,” kata Hatta, dikutip Dubes Howard Jones dalam bukunya, Indonesia, The Possible Dream. Hatta sendiri dua kali mengirim utusan untuk membujuk Husein agar tidak melanjutkan gerakannya itu. Dalam pandangannya, apa yang dilakukan Husein adalah keliru. “Tindakan Husein itu sama dengan putsch militer. Itu sangat berbahaya bagi negara dan demokrasi. Penyelesaiannya mesti dengan penyelesaian politik. Bukan militer,” kata Hatta sebagaimana dikutip Hasjim Ning yang meminta masukan sesaat sebelum berangkat ke Padang diutus Presiden Sukarno menemui Husein. Pasukan Angkatan Perang Repubik Indonesia (APRI) dalam pasifikasi militer terhadap PRRI (Foto: Perpusnas RI) Sebagaimana Hasjim yang dua kali gagal membujuk Husein, dua utusan Hatta –yakni Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil– pun semua gagal. Djalil bahkan sempat ditahan pasukan Husein. Sementara, Bachtar Lubis yang diutus KSAD Nasution justru berbalik mendukung PRRI. Akibatnya, pemerintahan Djuanda-KSAD Nasution memilih opsi militer dalam penyelesaian soal PRRI. “Orang Minangkabau, biasanya sebelum berbuat apa-apa, bertanya kepada ninik - mamak (nenek-ibu). Tetapi apa yang dilakukan Ahmad Husein dan kawan-kawannya? Kata dan nasihat mamak sendiri tidak didengar, tetapi justru mamak Sumitro, mamak Syafruddin (Prawiranegara, PM PRRI), mamak (Kolonel Zulkifli) Lubis dan mamak (Kolonel Maluddin) Simbolon yang didengar. Inilah akibatnya,” kata Hatta menyesali penggunaan aksi militer untuk menumpas PRRI, dalam suratnya kepada Wakil KSAD Jenderal Gatot Subroto, dikutip Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik. Baca juga: Kesaksian Hasjim Ning tentang Penyelesaian PRRI Surat Hatta tertanggal 2 Mei 1962 itu turut menggambarkan situasi, stigma, dan trauma yang melekat di masyarakat Minang sebagai imbas berdirinya PRRI dan aksi militer penumpasannya. Selain mengakibatkan penangkapan beberapa tokoh yang dianggap terlibat, penguasa militer di Sumbar mengetatkan aturan militer. Bahkan, ekses dari penumpasan PRRI menimpa orang-orang Minang di perantauan seperti yang dialami Hasjim. “Perang yang berlangsung di tanah kelahiranku menimbulkan banyak ekses yang macam-macam terhadap putra daerah Minangkabau yang menetap di Jakarta. Banyak di antara mereka yang ditahan dan diperiksa karena ada sangkaan bahwa mereka pendukung PRRI. Ada tindakan itu yang mempunyai dasar. Tapi banyak juga karena alasan dendam pribadi. Kejadian-kejadian tersebut menimbulkan juga berbagai persoalan bagiku. Banyak di antara mereka atau keluarga mereka yang datang mengadu kepadaku agar mengupayakan perlindungan. Sebaliknya, aku terkena juga oleh ejekan dan senda gurau yang memerahkan telingaku. Teman-teman yang bersimpati pada PRRI datang membawa ejekan,” kata Hasjim. Walau kemudian aturan-aturan militer itu perlahan hilang, sentimen dan trauma yang dialami orang Minang tidak seketika musnah. Sentimen dan trauma yang mengendap itu, menurut Asvi, kemudian ditimpakan kepada Sukarno dan di masa kini kepada PDIP sebagai representasi Sukarno. Solusi Menurut Asvi, jasa-jasa besar orang Minang terhadap berdirinya republik menjadi sejarah tersendiri yang tak bisa ditawar. Tan Malaka, misalnya, sudah menerbitkan buku tentang republik meski sedang terasing di luar negeri. Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta turut membidani kelahiran republik dan merawatnya ketika masih bayi lewat partisipasinya dalam kabinet dan parlemen. Namun, jalannya sejarah itu kemudian berubah. “Titik baliknya memang sejak 1956 ketika Hatta mundur sebagai wakil presiden dan dua tahun kemudian meletus PRRI. Mereka kemudian lebih banyak di luar pemerintahan, menjadi oposisi. Ketika Prabowo menjadi calon presiden (capres) tahun 2014 dan 2019, trauma PRRI itu dibangkitkan lagi. Prabowo anak Profesor Sumitro, tokoh PRRI. Dua kali orang Minang di Sumbar itu kalah. Kalau terantuk di lubang jangan sampai dua kali,” sambung Asvi. Baca juga: Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani Solusinya, kata Asvi, orang Minang mesti terlibat di pemerintahan dan harus melepas stigma dan trauma PRRI itu. “Penting untuk menghilangkan trauma PRRI ketimbang memelihara atau bahkan menghidupkan kembali seperti kasus Prabowo waktu ikut Pilpres dua kali berturut-turut. Saya sendiri melakukan otokritik sebagai orang Minang yang tak berdomisili di Sumbar. Kenapa dua kali kalah dengan menggunakan sentimen PRRI?” paparnya. “Ketika Hatta mundur, praktis orang-orang Minang keluar dari pemerintahan. Mestinya orang Minang masuk kembali, jangan hanya jadi pemilik rumah makan (Padang). Jadi harus ikut kembali di pemerintahan, di partai politik yang besar. Jangan di luar yang bisanya hanya mencemooh,” tandas Asvi.

  • Kontestasi Ideologi dalam Pakaian Perempuan Indonesia

    Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, upaya pencarian identitas kebangsaan menjadi isu penting di banyak sektor. Kaum perempuan juga tak luput dari tugas-tugas “revolusioner” itu. Pakaian menjadi salah satu senjatanya. Sejarawan University of Michigan Charley Sullivan menjelaskan mengenai dinamika perempuan Indonesia dalam berpakaian tersebut dalam dialog sejarah “Pakaian Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa” di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa 8 September 2020. Pada masa awal Indonesia berdiri, terang Charley, muncul pertanyaan bagi kaum wanita tentang bagaimana menjadi modern tetapi tetap menjadi bangsa Indonesia yang “timur”. Dari pertanyaan itu, mode kemudian membentuk sejarahnya sendiri. Charley menyebut, sejarah mode bukan hanya tentang busana dan make up atau bahkan bukan karena pilihan perempuan itu sendiri. Tetapi, terkait pula dengan makna sosial yang lebih umum dan posisi serta tingkat sosial wanita sebagai kaum. “Dan in relationship to the state . In relationship ke negaranya,” jelas Charley. Dalam disertasinya, Years of Dressing Dangerously: Modern Women, National Identity and Moral Crisis in Sukarno’s Indonesia, 1945-1966 , Charley menyebut bahwa majalah-majalah perempuan saat itu memiliki peranan penting dalam hal ini. Wacana mengenai pakaian apa yang pantas serta mewakili citra Indonesia menjadi diskusi terbuka di media-media tersebut. Diskusi tersebut misalnya, penggunaan kain batik pada era Sukarno terus dikonstruksi media sebagai simbol modernitas, kebanggaan kulturil dan sumber berkembangnya ekonomi nasional. Batik dan kemudian kebaya selain dianggap modern juga menjadi negasi dari gaya busana Barat. Charley menyebut, saat itu perempuan memiliki tugas berat yang beriringan dengan politik anti-kolonialisme dan imperialisme Sukarno serta era konfrontasi yang memuncak di tahun 1960-an. Pakaian perempuan menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap hegemoni budaya Barat, khususnya Amerika Serikat. “Dalam hal-hal mode pakaian, kecantikan ini, (perempuan) sudah punya duty . Satu pekerjaan yang sangat keras dan yang sangat sulit pada kaum wanita,” kata Charley. Tetapi memasuki era Orde Baru, makna-makna itu berubah. Cara berpakaian tidak lagi terkait dengan hal-hal revolusioner. Rezim Soeharto cenderung mengembalikan peran perempuan ke ranah domestik. Gaya berpakaian kemudian diatur dalam kerangka stabilitas negara. Aktivis gerakan perempuan Tunggal Pawestri menyebut bahwa Orde Baru, meski berbeda visi, juga menjadikan tubuh perempuan sebagai arena pertarungan ideologi. Contohnya adalah pelarangan penggunaan jilbab di Indonesia. “ Ada pelarangan jilbab dengan alasan katanya membatasi pengaruh fundamentalisme Islam dan gelombang arabisasi. Dan juga ada stereotype negatif yang dibangun bahwa, dan ini jelas klaim Barat juga, penggunaan jilbab itu sebagai salah satu ciri dari ekstremisme,” jelas Tunggal. Meski cukup berhasil, sambungnya, pelarangan itu juga memunculkan perlawanan. Di era 1980-an, menggunakan jilbab merupakan satu bentuk perlawanan terhadap Orde Baru. Senada dengan Tunggal, Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Neng Dara Affiah menyebut bahwa tiap ada pelarangan, muncul pula perlawanan. Pada masa Orde Baru, memakai jilbab adalah protes terhadap narasi tunggal tentang identitas kebangsaan. Namun hal ini berbalik pasca-reformasi ketika pemakai jilbab mendominasi. “Pemakaian kebaya sekarang ini justru protes dan pengimbangan terhadap dominasi orang-orang yang memakai jilbab,” kata Neng. Zaman dulu dapat dilihat dengan jelas bagaimana orang berpakaian menunjukkan identitasnya. Misal, dari kalangan santri memakai jilbab, sedangkan di luar santri ada yang tidak berjilbab dan ada yang berkerudung terbuka. Namun, sambung Neng Dara, hal itu kini berubah. Jilbab tidak lagi hanya menunjukkan identitas keagamaan. Jilbab juga telah dipakai untuk kepentingan politik praktis. “Bahkan pola masyarakat yang tadinya dijuluki abangan, priyayi dan santri, sekarang itu sudah sumir sekali perbedaannya,” jelas Neng Dara. Neng Dara menyebut bahwa perubahan cara berpakaian di dalam masyarakat dari satu generasi ke generasi selalu berubah-ubah. Perubahan itu berkaitan dengan banyak hal, baik perubahan sosial di masyarakat itu sendiri maupun perubahan politik tingkat nasional maupun global. “Ada dinamika sosial yang tidak stagnan. Dia berubah-ubah, tentang pakaian dan identitas atau makna di saat kaum perempuan berpakaian itu. Makna dalam kaitan identitas keberagamaan, makna dalam identitas kebangsaan atau jati diri bangsa,” katanya. Dinamika tersebut, menurut Tunggal, kemudian menjadi faktor munculnya permasalahan baru di masa kini. Dari tahun ke tahun semakin banyak peraturan daerah (perda) yang diskrimintaif terkait pakaian perempuan. Hingga 2012, ada 342 perda diskriminatif dan 72 di antaranya mengatur pakaian perempuan. Angka terus naik di tahun 2019 menjadi 421 perda diskrimintaif, termasuk di dalamnya peraturan tentang cara berpakaian perempuan. Perda-perda tersebut selain mengatur cara berpakaian juga mengatur hal-hal terkait aktivitas perempuan. Semua peraturan tersebut dibuat berbasis interpretasi tunggal ajaran agama. “Hal menarik juga belakangan selain ada state yang mencoba mengatur cara berpakaian perempuan, tapi juga ada kelompok-kelompok lain yang mencoba melakukan pengaturan cara berpakaian perempuan,” jelas Tunggal.

  • Kolonel Jepang di Medan Area

    Aceh, pertengahan 1946. Kota Lhok Nga dibekap sunyi. Tak ada sama sekali bulan atau bintang hadir di langit malam itu. Dari arah pemukiman penduduk, beberapa bayangan manusia mengendap-endap. Mereka tak lain para gerilyawan Indonesia pimpinan Pawang Leman, Alamsyah dan seorang pembelot Jepang bernama Kolonel Kuroiwa. Tim kecil pejuang Aceh itu tengah mengadakan operasi kontra sabotase yang akan dilakukan tentara Jepang. Dari informasi yang didapatkan dari Kuroiwa dikabarkan bahwa sebelum meninggalkan markas besar mereka di Lhok Nga, tentara Jepang yang telah menyerah kepada Sekutu dan akan dikembalikan ke tanah airnya itu, akan meledakkan ribuan bom. “Bom-bom yang sengaja ditimbun oleh para tentara Jepang itu akan diledakkan melalui suatu knop yang dikendalikan oleh aliran listrik,” ungkap jurnalis senior Medan, Muhammad TWH. Aliran listrik dialirkan melalui perantara kabel panjang dan tersembunyi. Begitu semua tentara Jepang sudah menaiki kapal laut di pelabuhan, maka knop akan langsung ditekan dan meledaklah sebagian Lhok Nga. Begitulah kira-kira rencana jahat yang terbetik di kepala para tentara Jepang tersebut. Namun karena jasa Kuroiwa, rencana jahat itu pada akhirnya gagal total. Dengan dibimbing oleh Kuroiwa sendiri, gerilyawan Aceh berhasil memutus kawat utama yang menghubungkan knop dengan bom-bom itu. Bisa dibayangkan jika bom-bom itu berhasil diledakan, bukan hanya para gerilyawan namun juga penduduk sipil yang tak tahu apa-apa akan menjadi korban. “Orang-orang Lhok Nga sudah semestinya berterimakasih kepada Kolonel Kuroiwa,” ujar Muhammad TWH kepada saya. Kuroiwa lantas menjadi salah satu pemimpin gerilya yang sangat disegani di Aceh. Bekas perwira intelijen sekaligus artileri militer Jepang itu kemudian masuk Islam dan merubah namanya menjadi Mohammad Ali. Begitu kuat karisma kepemimpinan Kuroiwa hingga orang-orang Aceh menjulukinya sebagai “Geuchik Ali” yang artinya Lurah Ali. Menurut TWH yang pernah mewawancarai Kuroiwa, sebagai perwira intel, lelaki Jepang itu sangat mafhum betapa kuatnya tekad orang-orang Indonesia untuk merdeka. Secara pribadi dia juga menyesalkan Jepang yang gagal menunaikan janji memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. “Karena itu setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, dia tidak ragu-ragu memberikan segala-galanya untuk bangsa Indonesia,” ungkap TWH dalam bukunya Sumatera Utara Bergolak. Kuroiwa kemudian terlibat aktif dalam pengaturan pertahanan pejuang Indonesia terutama di wilayah-wilayah pantai Aceh. Bahkan saat ditugaskan ke palagan Sumatera Utara, dia tersohor sebagai pembimbing unit artileri paling tangguh yakni Pasukan Meriam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) pimpinan Letnan Dua Nukum Sanany. Di Sumatera Utara, Pasukan Meriam RIMA ditempatkan di front Medan Barat, tepatnya di Kampung Lalang. Menurut TWH, militer Belanda sendiri mengakui bahwa pertahanan pasukan di Kampung Lalang itu sangat kuat dan sulit ditaklukan. Itulah sebabnya pasukan Belanda yang hendak bergerak ke barat untuk masuk ke wilayah Aceh selalu gagal. Sebagai pelaksana lapangan, Kuroiwa kerap mengandalkan dua eks anggota pasukan artileri Jepang yakni Letnan Dua O. Higuchi alias Rusli dan Sersan Mayor Sawada alias Muhammad Sawada. Merekalah yang memimpin Pasukan Meriam RIMA menghajar kedudukan pasukan Belanda di kota Medan. Ada suatu kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Kuroiwa jika usai membimbing Pasukan Meriam RIMA menghajar kedudukan militer Belanda. Dengan cara menyamar, dia akan masuk ke kota Medan dan pergi ke titik-titik yang menjadi sasaran unit artilerinya. “Sekadar untuk memastikan peluru-peluru yang ditembakan anak buahnya jatuh ke sasaran yang betul atau tidak. Selain itu dia pun melakukan hal tersebut juga untuk memata-matai secara langsung situasi pertahanan Belanda di Medan,” ujar TWH. Namun ada sisi gelap Kuroiwa yang mungkin tak diketahui oleh TWH. Itu disebutkan oleh sejarawan Jepang Aiko Kurasawa. Menurut Aiko, sejatinya Kuroiwa adalah anggota Polisi Istimewa Jepang (bukan anggota pasukan artileri dan intelijen) yang dikenal bengis dan kejam. Sewaktu kekuasaan Jepang sedang kuat-kuatnya, banyak penduduk Aceh yang dibunuh atas perintah Kuroiwa. “Meskipun ada banyak tindakannya yang sadis pada zaman Jepang, penduduk (Aceh) sudah tidak mempermasalahkan hal itu kemudian,” demikian laporan seorang penyidik pusat bernama Kapten Machmud yang dinukil oleh Kurasawa dalam bukunya, Sisi Gelap Perang Asia . Kuroiwa sendiri kemudian mengidap penyakit TBC yang sangat parah. Dia kemudian dipindahtugaskan ke suatu pabrik senjata milik Republik di Aceh. Tahun 1953, pemerintah Jepang memanggilnya pulang dan dia mematuhi panggilan itu. Ema, istri Kuroiwa yang warga Indonesia menolak untuk ikut hijrah ke Jepang. Dia lebih memilih untuk membesarkan anak-anaknya di Indonesia.

  • Kisah Jenderal Soemitro vs Kolonel Muammar Khadafi

    SEKALI waktu pada tahun 1973, Jenderal Soemitro menerima panggilan dari Presiden Soeharto. Rupanya, Mitro diminta  untuk mendampingi  Menteri Luar Negeri Adam Malik ke Aljazair dalam Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok di Aljazair. Sebagai panglima Kopkamtib yang bertanggung jawab atas keamanan di dalam negeri, Mitro merasa aneh dengan penugasan ke luar negeri. “Mengapa Pak Harto tidak berangkat sendiri memimpin delegasi ini?” kata Mitro seperti dicatat Heru Cahyono dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 januari 1974. Menurut Mitro, “mungkin dari segi security  dianggap belum aman bila Presiden meninggalkan Indonesia.” Maka mau tidak mau jadilah Mitro terbang ke Aljazair. Konferensi diselenggarakan dari tanggal 5 sampai 9 September 1973. Mitro berkedudukan sebagai wakil ketua delegasi Indonesia. Sepeninggal dirinya, Mitro melimpahkan kepemimpinan Kopkamtib kepada wakilnya yakni Laksamana Soedomo.    Di Aljazair, Mitro mendapat pengalaman tidak terlupakan berurusan dengan pemimpin Libya, Kolonel Muammar Ali Khadafi. Saat itu, Khadafi baru berkuasa di Libya setelah melengserkan pemerintahan Raja Idris lewat kudeta. Dengan revolusi yang dijalankannya, Khadafi disebut-sebut pula sebagai pemimpin negara Islam di Afrika. Ketika konferensi berlangsung, Khadafi hadir lewat korespondensi jarak jauh. Pada saat itulah, Khadafi tetiba bertanya kepada delegasi Indonesia. Suatu pertanyaan yang bagi Mitro  sangat menyakitkan dan tidak akan pernah terlupakan. “Apa benar di Indonesia ada sekitar dua ratus ribu orang Islam dipaksa menjadi Kristen?” demikian Khadafi bertanya dalam courtesy call  kepada delegasi Indonesia. Sontak saja delegasi Indonesia terkejut mendengarnya. Mitro sendiri memendam dongkol dalam hati. “Anak kemarin sore, kurang ajar begini,” pikir Mitro. Adam Malik yang mendegar ucapan Khadafi langsung melirik ke arah Mitro. Dia berharap Mitro yang akan menjawab. “Anak masih muda begini, politikus kemarin sore, sudah kurang ajar mencampuri urusan dalam negeri orang lain,” Mitro membatin. Dalam emosi yang terkendali, Mitro bertanya dari mana Khadafi menerima informasi itu. Mitro menyampaikannya dalam bahasa Indonesia sebab ada penerjemah. Namun Khadafi tidak bersedia menjawab. Untuk mengklarifikasi berita yang diterima Khadafi, Mitro memberikan penjelasan. Katanya, Indonesia bukanlah negara Islam. Rakyat Indonesia terdiri dari berbagai pemeluk agama. Walaupun mayoritas beragama Islam tetapi di daerah tertentu seperti Batak Tapanuli, Manado, dan Maluku kebanyakan masyarakatnya beragama Kristen. “Bagaimana Tuan Khadafi menyalahkan seorang bayi yang lahir di lingkungan Kristen, sehingga otomatis ia menjadi Kristen? Dia tidak bisa dan tidak boleh dipaksa menjadi Islam. Itu bukan pula berarti Kristenisasi,” ujar Mitro. Lagi, Soemitro menyarankan agar Khadafi datang langsung ke Indonesia untuk melihat sendiri dari dekat, bukan hanya melihat dari jarak jauh. Khadafi meresponnya dengan bungkam. Di akhir penjelesannya, Mitro mengatakan, “Ini urusan dalam negeri kami, Tuan tidak usah campur tangan.” Penyataan ketus itu terucap lantaran Mitro kepalang tersinggung dengan Khadafi. Setelah konferensi berakhir, delegasi Indonesia kembali ke wisma. Pada malam hari, penerjemah Khadafi mendatangi Mitro untuk minta maaf. Dari penerjemah itu, Mitro kemudian mengetahui informasi yang diterima Khadafi berasal dari Indonesia sendiri. “Dari mana?” tanya Mitro. “Dari Opsus,” jawab si penerjemah tanpa ragu. Opsus sendiri merupakan lembaga intelijen tidak resmi pimpinan Mayjen Ali Moertopo yang kerap menggelar operasi khusus. Dalam benaknya, Mitro bergumam, “Mana mungkin Opsus berbuat setolol itu.” Tidak lama kemudian, Mitro mengundurkan diri karena peristiwa kerusahan Malapetaka 15 Januari 1974. Sementara itu, kebenaran kabar burung yang dilontarkan Khadafi itu belum sempat dikonfirmasi Mitro kepada Ali Moertopo. Sudah menjadi rahasia umum kala itu jika kedua jenderal tersebut mememiliki rivalitas yang kuat. Mitro wafat pada 1998, dan dikenal sebagai jenderal berpengaruh di masa awal Orde Baru. Khadafi sendiri baru lengser pada 2011 setelah gelombang revolusi “Arab Spring” menumbangkan diktator di suatu negara yang terletak di Afrika tersebut. Peristiwa itu pula yang mengakhiri hidup Khadafi di tangan rakyatnya sendiri.*

  • Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika

    SELEMBAR kertas berisi alamat itu dilihatnya kembali sesaat keluar dari mobil. Kegugupan mulai muncul di benaknya saat melangkah ke pintu di hadapannya. Bel di pintu rumah yang dikunjunginya pun beberapakali dipencetnya untuk memanggil tuan rumah. Sembari memencet bel, ia terus memainkan topi fedoranya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Kegugupannya belum pergi. Di hari di tahun 1954 itu, Max Schmeling, pria tadi, sengaja berperjalanan dari Jerman ke Chicago, Amerika Serikat. Dia ingin melakukan klarifikasi. Seorang perempuan lalu muncul dari balik pintu. Schmeling menuturkan niat kedatangannya untuk bersua sang tuan rumah. Namun, kata si perempuan, sang tuan rumah tengah bermain golf. Seraya mempersilakan Schmeling menunggu di dalam, perempuan itu menyampaikan pesan ke klub golf bahwa di rumah sedang ada tamu. Schmeling dag-dig-dug. Ia sengaja berperjalanan hampir tujuh ribu kilometer dari Hamburg hanya untuk bisa bertemu sang tuan rumah. “Tak lama kemudian saat pintu terbuka muncullah sosok bertubuh besar yang biasa dijuluki ‘Brown Bomber’. Dialah Joe Louis. Posturnya lebih gemuk dan rambutnya tak selebat dulu, seingat sang tamu,” ungkap Patrick Myler dalam Ring of Hate: Joe Louis vs Max Schmeling. Pertemuan Maximilian Adolph Otto Siegfried Schmeling (kiri) & Joseph 'Joe' Louis Barrow saat reuni pada 1954 (Foto: Library of Congress) Louis terkejut melihat Schmeling duduk di ruang tamu rumahnya dan kemudian berdiri. Namun, sekejap kemudian dua musuh lama itu saling mengumbar senyum tulus. Louis sontak menjatuhkan tas golfnya lalu mendekat untuk memeluk erat Schmeling. “Max, betapa senangnya bisa bertemu Anda lagi,” cetus Louis yang yang terakhir kali bertemu Schmeling 16 tahun sebelumnya. Bedanya, pertemuan ketiga di antara dua petinju legendaris itu tak terjadi di atas ring dan tidak dengan suasana penuh kebencian untuk saling “membunuh” gegara dikompori isu politik. Representasi Paman Sam vs Swastika Sebagaimana Muhammad Ali-Joe Frazier, Mike Tyson-Evander Holyfield, atau Manny Pacquiao-Floyd Mayweather Jr., rivalitas antara Joe Louis dan Max Schmeling adalah cerita perseteruan terbesar di atas ring tinju. Faktor penyebabnya  adalah isu politik antara Jerman Nazi dan Amerika sebagai tanah kebebasan pada 1930-an. Rivalitas bermula dari petualangan Schmeling pada 1928 untuk merintis reputasi di Amerika, kiblat tinju profesional. Pesatnya prestasi Schmeling membuahkan sabuk gelar dunia pertama kelas berat versi NBA (kini WBA) dua tahun berselang. Namun,  pada 1932 ia kehilangan gelar itu usai dikalahkan Jack Sharkey. Pertemuan perdananya dengan Louis tak lepas dari ambisi Schmeling merebut gelar lagi yang pada 1936 tengah dipegang James Braddock. Untuk jadi penantang utama Braddock, Schmeling mesti lebih dulu berhadapan dengan Louis yang juga membidik gelarnya. “Pertarungan keduanya mengimplikasikan masa depan terkait relasi ras dan prestis dua negara kuat. Setiap petarung menanggung beban lebih daripada atlet lainnya di pundaknya,” tulis David Margolick dalam Beyond Glory: Joe Louis vs Max Schmeling, and a World on the Brink. “Louis merepresentasikan demokrasi dalam bentuk paling murni: bocah Negro yang meretas jalan menuju juara dunia dengan mengesampingkan ras atau warna kulit. Schmeling merepresentasikan sebuah negara yang tak mengakui gagasan dan idealisme itu,” tambahnya. Satu dari sekian ilustrasi promosi duel Louis vs Schmeling di suratkabar New York Evening Journal edisi 15 Juli 1935 Pertarungan itu lalu diwujudkan oleh Joe Jacobs, manajer Schmeling asal Hungaria yang berdarah Yahudi. Kesepakatannya dicapai pada 1935 dan laga dijadwalkan pada 19 Juni 1936 di Yankee Stadium, New York. Louis yang tengah berada di puncak kariernya, mengumbar kepercayaan diri mengingat statistik Schmeling yang sudah punya catatan tujuh kali kalahsepanjang karier profesionalnya. “Saya rasa dia tak terlalu tangguh. Dari foto-fotonya tampak dia bisa memukul dengan kedua tangannya tapi saya pikir meski ia bisa melayangkan pukulan, setidaknya takkan terlalu menyakiti saya,” tutur Louis, dikutip David L. Hudson Jr. dalam Boxing in America: An Autopsy. Dalam persiapannya di kamp milik Madame Bey di Lakewood, New Jersey, Schmeling tak hanya menggenjot fisik tapi juga mempelajari setiap gerakan Louis dari sejumlah rekaman film laga-laga Louis. Schmeling berupaya mencari celah dan kelemahan yang jarang dicermati lawan-lawan Louis sebelumnya. “Setiap kali setelah Joe melepaskan hook kiri pendeknya yang berbahaya, seringkali itu juga dia menurunkan tangan kirinya. Hal itu hampir luput dari pengamatan kecuali jika dipelajari dengan pengamatan yang sistematik. Kebiasaan ini berarti untuk sepersekian detik, sisi kiri wajah Louis akan terbuka untuk pukulan tangan kanan,” kata Schmeling dalam Max Schmeling: An Autobiography. Butuh 12 ronde bagi Max Schmeling menganvaskan Joe Louis pada duel jilid I pada 1936 (Foto: max-schmeling-stiftung.de ) Sementara, Louis yang over-‘pede’ justru tak berlatih sekeras Schmeling. Dalam Joe Louis: The Life of a Heavyweight, Lew Freedman menyebutkan Louis malah lebih sering main golf yang jadi hobi barunya ketimbang menguras keringat dengan pelatih Jack Blackburn di kamp latihannya. “Louis terlena dengan puja-puji yang dituliskan di koran-koran, bahwa dia petinju yang tak terkalahkan, seorang Superman-nya ring tinju. Untuk pertamakali dalam kariernya Louis tak mendengarkan pelatihnya. Tak banyak berdoa seperti sebelumnya. Kamp latihannya malah seperti kamp musim panas,” tulis Freedman. Dua Pukulan KO Hari-H duel Schmeling-Louis, 19 Juni 1936, di Yankee Stadium. Tiket terjual habis untuk 40 ribu penonton. Pertarungan 12 ronde yang dipimpin wasit Arthur Donovan itu mulanya berjalan monoton. Schmeling melancarkan taktik counter-attack dan berusaha sabar menanti kans-kans di celah pergerakan Louis untuk melepaskan serangkaian jab yang diselingi pukulan cross ke dagu Louis. Ronde demi ronde, taktik Schmeling membuahkan luka di salah satu mata Louis. Di ronde ke-12, Louis mulai jadi bulan-bulanan Schmeling. Nafsu Louis untuk membalas kemudian justru menguras energinya. Walau stamina keduanya sudah menurun, Schmeling melihat satu kesempatan untuk menghabisi rivalnya. “Ketika Louis tengah mencoba melepaskan hook kirinya, Schmeling melontarkan pukulan ke sisi kanan tubuh Louis dan disusul pukulan kanan lagi ke rahang Louis. Louis terlempar ke tali ring tinju, Schmeling melepaskan pukulan lagi bertubi-tubi hingga Louis tersungkur ke kanvas,” lanjut Freedman. Hitungan ke-10 wasit Donovan di menit kedua lebih 29 detik pada ronde ke-12 menandai berakhirnya duel sengit tersebut dengan kemenangan KO Schmeling. Publik Jerman bereuforia. Schmeling pulang sebagai pahlawan. Sementara imbas kekalahan Louis meninggalkan kepedihan hebat di seantero Amerika yang memperparah situasi depresi ekonominya. “Kekalahannya (Louis) menjadi duka nasional. Di jalan-jalan saya melihat pria-pria dewasa menangis seperti anak-anak, para wanita terduduk di trotoar dengan menundukkan kepala. Di seluruh negeri di malam ketika Joe kalah KO, semua menangis,” kenang aktivis Afro-Amerika Langston Hughes yang menonton langsung duel itu dalam otobiografinya, The Collected Works of Langston Hughes. Bagi Schmeling, kemenangan itu mestinya jadi penentu bahwa dia berhak jadi penantang utama gelar melawan Braddock. Namun lantaran Schmeling diperalat Adolf Hitler sebagai simbol supremasi ras Arya Jerman Nazi, New York State Athletic Commission berpikir ulang untuk memberi lampu hijau duel Schmeling kontra Braddock di Amerika. Yankee Stadium yang berkapasitas 70 ribu penonton, venue duel Louis vs Schmeling pada 1936 dan 1938 (Foto: Repro "War in the Ring") Kalkulasi ekonomis juga jadi faktor yang jadi pertimbangan. Kian gencarnya anti-semitisme di Jerman terhadap Yahudi, duel Braddock-Schmeling bakal dihadapkan pada boikot lantaran sekira 75 persen penonton setia tinju di New York adalah orang Yahudi. Schmeling yang marah berupaya dengan segala cara untuk bernegosiasi agar Braddock mau bertarung di Jerman. “Promotor Walter Rothenburg juga menawarkan Braddock dan (manajer Joe) Gould uang pertarungan USD350 ribu di rekening bank non-Jerman, hak siar film dan radio, hak memilih wasit dan juri-juri Amerika. Namun Gould melunjak dan meminta bayaran lebih dan kebijakan yang lebih setara untuk orang-orang Yahudi di Jerman,” ungkap Randy Roberts dalam Joe Louis. Tuntutan balik manajer Braddock itu jelas ditolak promotor yang merupakan kolega dekat Menteri Propaganda Nazi Joseph Goebbels. Akhirnya, Schmeling gagal berebut gelar dan Louislah yang akhirnya mendapat kans merebut gelar dari Braddock. Langkah Schmeling di jalur hukum juga tak membuahkan hasil. “Setelah kegagalan (melawan) Braddock, sudah jelas bagi saya. Seorang juara dunia Jerman di tahun 1931 mungkin masih bisa ditoleransi, namun juara dunia dari Jermannya Hitler tak bisa diterima oleh siapapun,” tutur Schmeling yang murka. Max Schmeling sempat protes lantaran tak mendapat haknya menjadi penantang gelar (Foto: ushmm.org ) Louis sukses menganvaskan Braddock di ronde kedelapan dalam duelnya pada 22 Juni 1937. Meski sudah melingkarkan sabuk gelar kelas berat NBA di pinggangnya, Louis mengaku belum bisa berpuas diri. Dia masih menyimpan dendam terhadap Schmeling. “Saya tak ingin siapapun menyebut saya seorang juara sampai saya bisa mengalahkan Schmeling,” kata Louis dikutip Hudson Jr. Baru setelah dua kali meladeni dua pertarungan wajib mempertahankan gelar, Louis bisa berkesempatan satu ring lagi dengan Schmeling. Pertarungan yang oleh sejumlah media disebut sebagai “Pertarungan Abad Ini” itu dijadwalkan dihelat 22 Juni 1938 di Yankee Stadium. Duel jelang Perang Dunia II itu sudah sarat politik. Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt sampai mengunjungi kamp latihan Louis. “Joe, kami semua mengandalkan otot-otot Anda demi Amerika,” kata Roosevelt. Dukungan Roosevelt membuat Louis paham bahwa duel itu takkan sekadar jadi duel tinju. “Seluruh negeri ini bergantung pada saya. Saya tak hanya bertarung demi dendam yang menodai rekor saya, namun juga demi Amerika terhadap penyerbu asing, Max Schmeling. Duel ini tak sekadar antara Joe Louis melawan Max Schmeling; duel ini adalah pertarungan USA melawan Jerman,” tutur Louis. Jika di duel pertama dimenangi Schmeling, pada pertarungan keduanya di 1938 dimenangi Louis dengan KO di ronde pertama (Foto: wbaboxing.com/loc.gov ) Schmeling juga insyaf bahwa kali ini teror publik di Yankee Stadium bakal lebih intimidatif terhadapnya. Maka Schmeling menyiapkan mentalnya lebih keras. Begitu hari-H, saat Schmeling masuk dari lorong ke ring, ia dilempari sampah dari tribun-tribun penonton. Mimpi buruk Schmeling dilengkapi dengan kekalahannya ketika ronde pertama baru bergulir dua menit empat detik. Louis sejak detik pertama yang terus menekan dan mencecar, mendapati salah satu pukulannya dengan telak mengenai ginjal Schmeling. Sontak Schmeling kolaps dan tak mampu bangkit lagi. Kemenangan KO tercepat di masa itu tersebut sekaligus jadi penebusan Louis. Setahun berselang, Perang Dunia II pecah. Louis mengajukan diri jadi sukarelawan di Angkatan Darat Amerika, sedangkan Schmeling masuk wajib militer jadi pasukan payung di Angkatan Udara Jerman Nazi sebagai ganti penolakannya masuk anggota Partai Nazi. Merenungi masa lalunya yang dibayang-bayangi panji swastika, Schmeling mengakui dia bersyukur kalah dari Louis. “Bayangkan jika saya kembali ke Jerman dengan kemenangan. Saya tak punya hubungan apapun dengan Nazi, tetapi mereka akan memberi saya medali. Setelah perang mungkin saya akan dianggap sebagai penjahat perang,” kenang Schmeling. Di Perang Dunia II, Louis mengabdi di AD Amerika & Schmeling di pasukan payung AU Jerman (Foto: National Archives/Bundesarchiv) Sejak saat itu mereka tak pernah lagi bersua hingga pada 1954 ketika Schmeling memberanikan diri mengunjungi kediaman Louis di Chicago. Setelah saling berpelukan, Schmeling dan Louis pun larut dalam perbincangan cair dan hangat sambil menyeruput kopi dan berlanjut makan malam bersama di sebuah restoran. “Schmeling ingin mengklarifikasi bahwa sejumlah pernyataan di media-media Jerman menyoal duel pada 1936 dan 1938 bukanlah pernyataan dari mulutnya, melainkan rekayasa propaganda Nazi. Seperti pernyataan ‘Orang kulit hitam akan selalu gentar menghadapi saya. Dia (Louis) petinju inferior,’ atau pernyataan ‘Hitler mengirim Schmeling ke Amerika untuk menghancurkan Louis berkeping-keping’,” sambung Myler. “Louis kemudian merespon untuk menenangkannya. ‘Lupakan semua itu. Sejak lama banyak orang mencoba hal yang sama. Mungkin saat itu saya percaya apa yang dituliskan di media. Namun sekarang saya lebih paham’,” lanjutnya. Seperti janji mereka saat makan malam itu usai, Schmeling dan Louis beberapakali lagi bereuni di luar ring tinju. Persahabatan yang terjalin kian hangat dan erat. Schmeling bahkan acap menyokong Louis kala tertimpa masalah finansial dan kesehatan. Persahabatan itu baru berakhir kala Louis wafat karena serangan jantung pada 12 April 1981, di mana pemakamannya di Arlington National Cemetery dibiayai penuh oleh Schmeling.

bottom of page