top of page

Hasil pencarian

9856 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sudiro Sang Guru Pergerakan

    AKHIR 1939, datanglah ke Kota Magelang seorang juara dunia catur bernama Max Euwe. Di sana dia bertanding catur melawan 41 orang. Koran De Locomotief tanggal 23 September 1930 memberitakan, dari 41 pertandingan yang dimainkan Max, 36 laga dimenangkannya, dua seri (melawan Soejono dan Ratib, keduanya pelajar Hogare Kweekschool (HKS), dan tiga kalah. Kekalahannya terjadi saat melawan Resident Van Pelt, Liem Tjay An, dan Soediro yang merupakan seorang pelajar HKS. Sudiro adalah siswa tahun terakhir di HKS Magelang. Putra laboran –pengelola laboratorium– kepala di sebuah pabrik gula Klaten itu lulus dari sekolah tersebut pada 1931. Dari Magelang, Sudiro kemudian pindah ke Madiun. Memulai kariernya sebagai guru. Guru Rival Aparat Kolonial Di Madiun, Sudiro ditampung di sekolah-sekolah milik Boedi Oetomo (BO), yang sudah memiliki sekolah menengah MULO Kweekschool, lalu Meer Uitgebrid Lager Onderwijz (MULO), dan juga sekolah guru yang disebut Kweekschool. Sudiro dipercaya menjadi direktur MULO-Kweekschool Boedi Oetomo.

  • Kakek Buyut Ole Romeny Korban Perang Pasifik

    NAMA Ole Romeny sudah ramai disebut sebagai calon pemain naturalisasi tim nasional Indonesia dari Belanda sejak November 2024. Kini, proses naturalisasinya bersama dua pemain lain, Dion Markx dan Tim Geypens, yang diajukan PSSI bersama Kemenpora lewat rapat kerja sudah disetujui Komisi X DPR RI pada Senin (3/2/2025). “Atas nama Komisi X (DPR), selamat dan selamat datang kepada Dion dan Ole (yang hadir via daring). Mari jalani tugas kita untuk Indonesia bersama-sama. Dengan ini kami menyatakan bahwa Anda bukan sekadar menjadi bagian dari tim nasional tapi juga bagian dari keluarga besar Indonesia. Kami percaya kalian bisa membawa nama Garuda dengan kebanggaan di tim nasional Indonesia,” tukas Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menutup rapat kerja yang disiarkan via streaming di Youtube TVR Parlemen, Senin (3/2/2025). Pemain yang lahir pada 20 Juni 2000 dengan nama Ole Lennard ter Haar Romenij itu meniti kariernya dari akademi muda DVOL hingga menembus karier profesional pertamanya pada 2018 bersama NEC Nijmegen. Setelah tampil gemilang bersama FC Emmen dan FC Utrecht, pada 5 Januari 2025 Romeny resmi hijrah ke kasta pertama Liga Inggris, EFL Championship, bersama klub Oxford United yang notabene dimiliki Ketum PSSI Erick Thohir bersama pengusaha Anindya Bakrie.

  • Jiwa Seni Asrul Sani

    NAMA Asrul Sani turut mewarnai sejarah kebudayaan Indonesia modern. Sebagai seniman, karya-karyanya sohor dalam berbagai puisi, cerpen, drama, dan film. Meski telah wafat pada 11 Januari 2004 silam, namanya dikenang sebagai salah satu seniman terbesar Indonesia. “Asrul Sani sosok yang tidak hanya menghasilkan karya-karya tetapi juga membentuk arah perkembangan kebudayaan nasional. Sebagai penyair Angkatan ‘45, dia turut menghadirkan semangat kemerdekaan dan kemanusiaan dalam sastra Indonesia. Sebagai penulis skenario dan sutradara, karya-karyanya menjadi tonggak penting dalam sejarah perfilman nasional,” kata Sekjen Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta dalam pembukaan pameran “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” di Perpustakaan Nasional, Jakarta, 9 Juni 2026. Asrul Sani lahir di Rao, Pasaman, Sumatra Barat, pada 10 Juni 1925. Bungsu dari tiga bersaudara ini berayah-ibu Sultan Marah Sani Syair Alamsyah dan Nuraini Nasution. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Bukittinggi, Asrul melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Setamatnya dari sekolah Taman Siswa, dia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Kedokteran Hewan Bogor. Tapi, ketertarikannya pada sastra dan suasana perjuangan kemerdekaan saat itu menyebabkan kuliah kedokteran hewannya mangkrak. Pada 1945, Asrul Sani bergabung dalam Pasukan 301 Laskar Rakyat yang ditugaskan di belakang garis musuh. Tak tanggung-tanggung, komandannya adalah Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai Bapak Intelijen Indonesia. Asrul kemudian bergaul dengan Chairil Anwar, penyair revolusioner keponakan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Bersama Chairil dan Rivai Apin, Asrul Sani mengasuh penerbitan majalah sastra Gema Suasana. Mereka dikenal sebagai sastrawan pelopor Angkatan ‘45. Namun, kiprah Asrul Sani dalam kesusastraan mulai mengemuka ketika menerbitkan buku kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir (1950) yang memuat karya-karya Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin. Asrul juga menjadi salah satu redaktur rubrik sastra dan budaya di majalah Siasat. Di majalah itulah sikap berkesenian para seniman Angkatan ‘45 dicetuskan melalui “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada 22 Oktober 1950. Mutiara Sani Sarumpaet, istri Asrul Sani sekaligus pemimpin Pelaku Sanggar Pelakon, dalam pembukaan dialog budaya dan pameran "Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani". (Martin Sitompul/Historia.ID). Sejak 1950-an, Asrul Sani memulai kariernya di dunia perfilman. Mulai dari layar lebar kemudian merambah ke layar kaca. Perkenalan pertamanya dengan film bermula ketika dia diminta menyelesaikan skenario film Long March/Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail. Pada periode ini, Asrul menikmati perannya sebagai sineas. Meski demikian, ia tak mengabaikan pendidikannya sehingga pada 1955, dia berhasil menggondol sarjana kedokteran hewan. Tapi, Asrul tak pernah membuka praktik karena waktunya tercurah untuk membuat film. Kendati tak setenar Usmar Ismail yang digelari Bapak Perfilman Nasional, Asrul Sani termasuk sineas yang cukup produktif. Sepanjang 40 tahun kariernya sebagai sineas, dia terlibat dalam penggarapan 55 film. Dia juga memenangkan delapan Piala Citra, penghargaan tertinggi dalam Festival Film Indonesia (FFI). Capaian itu menjadikannya salah satu peraih Piala Citra terbanyak dalam sejarah perfilman Indonesia, di samping Idris Sardi (10 piala), Teguh Karya (7), dan Arifin C. Noer (7). Sebagai penulis skenario, karya Asrul Sani yang terkenal antara lain Lewat Djam Malam (1954), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa yang Kau Tjari, Palupi? (1969), Para Perintis Kemerdekaan (1977), Naga Bonar (1986), dan Pelangi di Nusa Laut (1992). Lewat Naga Bonar, Asrul memenangkan Piala Citra sebagai penulis cerita asli terbaik dan digadang-gadang sebagai karya terbaiknya. Film ini berkisah tentang Naga Bonar (diperankan Dedy Mizwar), mantan copet yang menjadi pejuang serta mengangkat dirinya sebagai jenderal, lengkap dengan segala tingkah polahnya di masa perang kemerdekaan. Sejalan dengan karya sastra dan dramanya, menurut kurator pameran Dhianita Kusuma Pertiwi, skenario-skenario film yang digarap Asrul Sani sarat akan gagasan dan dituturkan dengan gaya cerita modern. Konflik psikologis tokoh protagonis yang menggerakkan plot menjadi kekhasan skenario Asrul, dengan corak pedagogis terutama pada film-film yang mengangkat cerita religi. Dialog tokoh-tokohnya pun menggunakan bahasa Indonesia yang ekspresif, mengingatkan pada semangat Angkatan ‘45 untuk melepaskan diri dari gaya tutur Pujangga Baru. “Dari Apa Jang Kau Tjari, Palupi? yang memperoleh pengakuan internasional sebagai film terbaik Asian Film Festival 1970 sampai Naga Bonar yang kelakarnya masih terdengar sampai hari ini, Asrul telah membuktikan diri sebagai seorang sineas yang menjadikan film sebagai alat ekspresi dan medium pemikiran, bukan sekadar sarana ketakjuban,” terang Dhianita. Pameran "Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani" dalam rangka 101 tahun Asrul Sani di Perpustakaan Nasional, 9 Juni 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID). Menurut Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminuddin Azis, karya-karya Asrul Sani masuk dalam koleksi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang meliputi berbagai wahana: audio, visual, dan teks. “Perpusnas memiliki karya-karya Asrul Sani. Dalam catatan saya, yang bisa kita temukan sementara ini terdeteksi ada 80 judul. Dari 80 koleksi tersebut terdapat 31 judul monograf, 16 majalah, 3 koleksi suratkabar, 3 koleksi foto, dan 27 koleksi audio,” ungkap Aminuddin. Selama hidupnya, sebagaimana disaksikan sang istri, Mutiara Sani Sarumpaet yang juga pemimpin Pelaku Sanggar Pelakon, Asrul Sani telah menunjukkan bahwa seni bukan sekadar ekspresi, melainkan juga tanggung jawab moral. Melalui puisi, cerpen, drama, film, dan berbagai karya lainnya, Asrul menghadirkan refleksi mendalam tentang manusia, kebangsaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. “Ia tidak hanya berbicara tentang zamannya, tetapi juga melampaui zaman –menjadi relevan hingga hari ini, bahkan untuk masa depan,” tutup Mutiara.*

  • Hitam Putih Baju Baduy

    PRESIDEN Joko Widodo memakai pakaian adat suku Baduy atau Kanekes ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Jokowi memesan pakaian itu dari Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija. Kepada Kompas.com, Saija menjelaskan, pakaian adat yang dikenakan Jokowi merupakan pakaian sehari-hari warga Baduy Luar yang disebut baju kampret. Baju hitam bermakna kesederhanaan, ikat kepala (lomar) bermakna persatuan, dan tas koja bermakna kelestarian alam yang masih dijaga masyarakat Baduy. Namun, ada yang memaknai baju hitam itu sebagai “lambang kotor atau dosa. Orang Baduy yang lalai atau tak mampu mengikut aturan adat keluar dari kampung dan mulai berbaju hitam sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan diri”.

  • Siapa Pemilik Rumah Proklamasi?

    BELAKANGAN beredar informasi bahwa rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 tempat Proklamasi dibacakan dibeli oleh pengusaha Arab bernama Faradj Martak. Ini berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Ir. M. Sitompoel, Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan, tanggal 14 Agustus 1950. Melalui surat itu pemerintah menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak, direktur utama NV Marba (Martak & Bajdenet), yang telah membeli beberapa gedung di Jakarta antara lain gedung Pegangsaan Timur 56. Dokumen kedua berupa tulisan tangan Sukarno yang berterima kasih kepada Faradj Martak telah mengirimkan madu Arab untuk mengobati sakitnya. Menurut Nabiel A. Karim Hayaze, penulis sejarah tokoh-tokoh Arab di Indonesia, dalam tulisannya di panjimasyarakat.com, surat tersebut adalah bukti otentik, surat resmi negara dengan tanda tangan menteri negara, yang tidak mungkin NV Marba berani dan memiliki kepentingan untuk mengarang sebuah surat resmi negara. Tetapi, yang lebih penting untuk diperhatikan adalah tulisan “membeli” beberapa gedung. Artinya, NV Marba (memang) tidak menempati rumah tersebut dan bukan pemilik rumah tersebut sebelumnya, tetapi mereka membelinya untuk dihibahkan kepada negara. Sehingga tidak bertentangan dengan bukti sejarah lainnya, yaitu fakta yang sudah tertera dalam buku Chairul Basri (Apa yang Saya Ingat, 2003).

  • BBM Masa Orde Baru

    PRESIDEN Joko Widodo mengumumkan secara resmi pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Sabtu (03/09/2022) siang di Istana Merdeka, Jakarta. Alasannya subsidi BBM tidak tepat sasaran. Sementara anggaran subsidi dan kompensasi BBM tahun 2022 meningkat tiga kali lipat dari Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun. “Lebih dari 70 persen subsidi justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang mampu, yaitu pemilik mobil-mobil pribadi. Mestinya, uang negara itu harus diprioritaskan untuk memberikan subsidi kepada masyarakat yang kurang mampu,” kata Joko Widodo, dikutip dari setkab.go.id. Keputusan mengalihkan subsidi BBM mengakibatkan harga beberapa jenis BBM bersubsidi mengalami kenaikan. Masyarakat keberatan karena kenaikan harga BBM akan berdampak pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang lain.

  • Kenaikan Harga BBM Masa Sukarno

    HARGA tiga Bahan Bakar Minyak (BBM) yakni Pertalite, Solar subsidi, dan Pertamax naik sejak Sabtu (3/9/2022) pukul 14.30 WIB. Harga Pertalite naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter, Solar subsidi dari Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter, dan Pertamax dari Rp12.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter. Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM mendapat penolakan. Selain karena harga minyak mentah dunia tengah turun, kenaikan harga BBM juga dapat memicu naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM berlangsung di sejumlah titik di Jakarta pada Senin (5/9/2022), di antaranya di depan gedung DPR/MPR RI dan kawasang Patung Kuda Arjuna Wijaya, dekat Istana Merdeka. Demonstrasi mahasiswa juga terjadi di beberapa daerah.

  • Mencari Mikrofon Proklamasi

    DALAM pidato di hari jadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Jakarta, 5 Oktober 1966, Presiden Sukarno menyampaikan pentingnya mikrofon yang digunakannya untuk membacakan Proklamasi kemerdekaan. “Kita telah memiliki pada tanggal 17 Agustus 1945 itu microphone. Satu-satunya hal boleh dikatakan, materiel yang telah kita miliki, satu microphone, yang dengan microphone ini kita dengungkan ke hadapan seluruh manusia di bumi ini bahwa kita memproklamasikan kemerdekaan kita,” kata Sukarno. Dari mana mikrofon itu? Sukarno menyebutnya hasil curian dari Jepang. “Aku berjalan ke pengeras suara kecil hasil curian dari stasiun radio Jepang dan dengan singkat mengucapkan proklamasi itu,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

  • Mitos 350 Tahun Penjajahan

    SEBAGAI orang yang nyaris 25 tahun menetap di Belanda, saya sering ditanya tentang masa lampau Belanda di Indonesia. Ada pertanyaan menarik seperti adakah bekas-bekas masa lampau itu terlihat di Belanda? Ada pula pernyataan langsung seperti “Apakah Belanda sampai 350 tahun menjajah Indonesia?” Bagi saya, itu tidak terlalu menarik. Apakah benar Belanda menjajah selama itu? Ayo kita hitung. Apakah kita harus bersetuju bahwa Belanda mulai menjajah Indonesia bersamaan dengan berdirinya VOC pada 1602? Mungkin karena tidak tahu versi angka tahun lain, biasanya langsung dijawab setuju. Ada pula versi yang mengatakan penjajahan dimulai pada 1596, ketika kakak beradik De Houtman tiba di Banten. Tapi itu pun sulit disebut sebagai awal penjajahan Belanda, karena Cornelis de Houtman cuma melakukan penjajakan. Belanda belum benar-benar menjajah. Jika awal penjajahan tahun 1602 ditambah 350, kita baru merdeka pada 1952. Bagaimana dengan proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengakuan Belanda pada kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949?

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page