top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Simpati dari Hindia untuk “Genosida” Armenia

    KARENA letaknya yang strategis di antara benua Asia dam Eropa, di masa lalu Armenia diperebutkan dan dijajah berbagai bangsa di dunia. Pada abad ke-16, terjadi perebutan antara Ottoman dan Persia, yang membuat wilayah Armenia terbagi dua. Ottoman menguasai wilayah-wilayah yang disebut Armenia Barat, sementara Rusia menggenggam Armenia Timur setelah kekuasaan Persia melemah. Di wilayah yang dikuasai Ottoman, orang-orang Armenia diizinkan memerintah komunitasnya sendiri. Kebebasan dan perlindungan selaku etnis dan pemeluk agama minoritas juga dijamin dengan pembayaran pajak tertentu. Aturan tersebut cukup toleran. Tapi sebagai warga negara kelas dua, minoritas Armenia kerap menjadi korban eksploitasi mayoritas Turki. Mereka mulai melakukan perlawanan. Penguasa Ottoman menjawabnya dengan penindasan. Tak ayal, warga Armenia mengalami tragedi yang tak terlupakan hingga kini. Mereka menyebutnya sebagai “genosida pertama pada abad ke-20”.

  • Menyongsong Wajah Baru Museum Nasional Indonesia dan Pameran Repatriasi

    MUSIBAH kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia (MNI) pada 16 September 2023 jadi sebuah pil pahit yang patut diambil hikmahnya dan dijadikan pelajaran. Setelah setahun berbenah, kini museum yang familiar disebut Museum Gajah itu resmi dibuka kembali. Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid juga mengamini bahwa setiap bencana pasti ada maksudnya, agar bisa bangkit untuk lebih baik lagi. Bahkan, bangkit dengan wajah baru yang mengikuti zaman. “Tentu semua masih ingat insiden kebakaran yang terjadi di tahun lalu. Bisa dilihat di sebelah belakang, bisa disaksikan bekasnya dan waktu itu kita semua memang merasa terpukul sekali. Tapi seperti dibilang Mas Menteri (Mendikbudristek Nadiem Makarim), setiap bencana pasti punya maksud,” kata Hilmar dalam peresmian pembukaan kembali Museum Nasional Indonesia bertajuk “Reimajinasi Warisan Budaya” di Museum Nasional Indonesia Jakarta, Jumat (11/4/2024) malam.

  • Insiden Kebakaran di Gedung A Museum Nasional Indonesia

    KEBAKARAN melanda Gedung A Museum Nasional Indonesia (MNI) pada Sabtu, 16 September 2023 pukul 20.08 WIB. Api berhasil dipadamkan pukul 22.40 WIB oleh pemadam kebakaran yang mengerahkan 14 unit dan 56 personel.Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini. Ahmad Mahendra, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB) mengatakan ada enam ruangan di Gedung A yang terdampak sedangkan 15 ruangan lainnya di Gedung A serta ruangan pamer Gedung B dan C sama sekali tidak terdampak. Api tidak menyebar. Sebagian koleksi yang terdampak adalah replika, seperti di bagian prasejarah. “Sisanya dipastikan dalam keadaan aman. Koleksi hasil repatriasi dari Belanda juga dipastikan tidak terdampak karena disimpan di lokasi yang jauh dari pusat kebakaran,” kata Ahmad Mahendra dalam rilisnya, 17 September 2023.

  • Lebih Dekat dengan Museum Nasional

    GEDUNG Arca, Gedung Perabot, lalu kini menjadi Gedung Gajah atau Museum Gajah. Begitulah, dari masa ke masa, masyarakat menjuluki Museum Nasional Indonesia. Pada 24 April 1778, 240 tahun lalu, cikal bakal Museum Nasional didirikan, yaitu Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG). Salah satu penggagasnya seorang pejabat VOC, Jacobus Cornelis Mattheus Rademacher. Lembaga independen ini didirikan untuk memajukan penelitian, khususnya dalam bidang seni, arkeologi, etnologi, biologi, dan sejarah. Kala itu, masyarakat Eropa keranjingan dengan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. “Ada semacam penciptaan ilmu pengetahuan untuk mengenal jajahan, seperti munculnya kajian indologi,” kata sejarawan Bonnie Triyana dalam bedah buku Cerita dari Gedung Arca di Museum Nasional, Senin (30/4).

  • Harga Mahal di Balik Patung Gajah Museum Nasional

    PADA 1896, Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) berkunjung ke Jawa. Dia kemudian meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membawa pulang sembilan gerobak penuh dengan arca dan karya seni dari masa klasik Jawa. Dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, John Miksic mengungkapkan oleh-oleh yang diminta sang raja itu termasuk 30 relief, lima arca Buddha, dua arca singa, beberapa langgam Kala yang biasanya ada di bagian atas pintu masuk candi dan arca Dvarapala yang merupakan temuan dari Bukit Dagi, yaitu bukit yang berada sekira beberapa ratus meter di barat laut Candi Borobudur. Mengenai arca-arca itu, arkeolog Utami Ferdinandus memaparkannya dengan rinci dalam tulisannya “Arca-Arca dan Relief pada Masa Hindu-Jawa di Museum Bangkok: Sebuah Dokumentasi Ikonografi”, yang terbit dalam Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Arca yang diinginkan sang raja tadi dapat dibedakan dalam sembilan kelompok.

  • Pionir Pencerahan di Tanah Jajahan

    GEDUNG bergaya Eropa dengan sentuhan patung gajah di pintu gerbangnya ramai didatangi pengunjung. Gedung tersebut, yang berada di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, menyimpan khasanah ilmu pengetahuan dan koleksi benda-benda kebudayaan Nusantara yang lengkap dan komprehensif.  “Museum Pusat merupakan museum terbesar di Indonesia. Demikian juga, ia merupakan pintu gerbang untuk melihat berbagai ragam kesenian serta kebudayaan di berbagai daerah di Indonesia,” tulis Wahyono Martowikrido, yang bekerja di Museum Nasional pada 1964–1998, dalam Cerita dari Gedung Arca: Serba-serbi Museum Nasional Jakarta. Berdirinya Museum Nasional dan ketersediaan koleksinya tak lepas dari keberadaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen atau Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Batavia, yang didirikan pada 24 April 1778.

  • Empat Senjata Jerman yang Mengubah Dunia

    PERANG tidak hanya meninggalkan derita, kematian, atau mengubah geopolitik. Perang juga jadi etalase pamer kemajuan teknologi dan industri senjata. Jerman dalam gejolak Perang Dunia II harus diakui telah meninggalkan warisan yang mengubah dunia teknologi militer. Baik di darat, laut, maupun udara, Jerman punya senjata-senjata canggih yang tak dimiliki Sekutu. Sayangnya, bagi Der Führer Adolf Hitler, pengembangan senjata-senjata canggih itu terlambat. Hanya secuil dari beragam rancangan senjata jempolan Jerman yang sempat digunakan di palagan lantaran mayoritas baru rampung menjelang perang berakhir. Alhasil, senjata-senjata itu dicontek dan dikembangkan oleh para pemenang Perang Dunia II: Uni Soviet, Inggris, dan Amerika Serikat. Berikut empat dari senjata itu yang lantas jadi cikal-bakal pengembangan senjata yang terkenal hingga saat ini:

  • Sejarah Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS

    PANDEMI Covid-19 berdampak pada perekonomian Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat jatuh dari tingkat Rp13.000-an ke Rp16.000-an per dolar AS selama minggu terakhir Maret 2020. Pelemahan ini berkait dengan sikap pesimistis pelaku bisnis dan ekonomi terhadap kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani Covid-19. Untuk meyakinkan kembali pelaku bisnis dan ekonomi, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sejumlah stimulus ekonomi. Bank Indonesia turut melengkapinya dengan kebijakan di bidang moneter untuk memperkuat rupiah. Hasilnya, rupiah menguat kembali pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2020. Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas rupiah demi mendukung keseimbangan perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19. Dalam rentang sejarah, menjaga nilai rupiah susah-susah gampang. Masalah nilai rupiah bukan hanya saat terlalu rendah, tapi juga ketika ia bisa terlalu tinggi (over-valued) terhadap mata uang lain. Ini bergantung pada situasi yang dihadapi dan sistem nilai tukar yang diterapkan.

  • Bukan Zaman Roro Mendut

    INGAT Roro Mendut? Seorang gadis cantik asal Pati yang hidup pada abad ke-17. Ia sering diasosiasikan dengan rokok lintingan, yang dia hisap lalu jual, sebagai bentuk perlawanan terhadap penerapan pajak dari Mataram. Di Jawa khususnya, perempuan merokok menjadi kelaziman. Penari sintren di Banyumas, misalnya, digambarkan suka merokok siong, dengan aroma kemenyan yang menyengat, sehingga ada merek Siong yang bergambar penari sintren. Rokok mulai dikenal setelah Christopher Colombus menemukan kebiasaan merokok di kalangan lelaki maupun perempuan di sebuah benua baru yang kemudian dikenal sebagai benua Amerika. Kebiasaan merokok kemudian menyebar. Tapi rokok selalu diidentikkan dengan laki-laki. Perempuan yang merokok di depan umum dianggap “perempuan jalang”. Pada 1851, seorang Amerika kelahiran Irlandia, Lola Montez, diambil gambarnya sedang memegang rokok di tangannya, yang bersarung tangan hitam, di sebuah studio di Boston. Foto Montez pun dianggap sebagai simbol perlawanan dan emansipasi perempuan. Tapi stigma terhadap perempuan merokok masih melekat kuat. Pada 1908, seorang perempuan di New York ditangkap karena menghisap rokok di depan umum. New York adalah kota yang galak untuk perokok perempuan karena memiliki Sullivan Act.

  • Ronde Terakhir Roger Mayweather

    DI BALIK sukses seorang petinju, pasti ada pelatih yang hebat. Namun di sepanjang perjalanan karier petinju Floyd Mayweather Jr., hanya satu pelatih sekaligus mentor dalam hidupnya yang paling berjasa: Roger Mayweather alias pamannya sendiri. Maka Floyd begitu terpukul ketika Roger mengembuskan nafas terakhir di usia 58 tahun pada 17 Maret 2020 karena diabetes. “Paman saya salah satu orang terpenting di hidup saya, baik di dalam maupun di luar ring. Roger juga seorang juara hebat dan salah satu pelatih terbaik dalam tinju. Sayangnya kesehatannya memang buruk dalam beberapa tahun ini dan sekarang akhirnya dia beristirahat dengan tenang,” kata Floyd Mayweather Jr. lirih, dikutip Independent, 18 Maret 2020. Roger merupakan salah satu sosok penting dalam Dinasti Mayweather di dunia tinju. Kisah dinasti Mayweather bermula pada 1967 kala Floyd Sr. baru berusia 15 tahun, sebagaimana dikisahkan Floyd Sr. kepada jurnalis Tim Smith yang dimuat majalah The Ring edisi Oktober 2014.

  • Pesona Nasi Goreng

    LOUISA Johanna Theodora Wieteke van Dort kena imbas hubungan Indonesia-Belanda yang memanas akibat konflik Irian Barat pada 1957. Perempuan kelahiran Surabaya itu terpaksa angkat kaki dari tanah kelahirannya dan pulang ke negeri leluhurnya, Belanda. Setibanya di Den Haag, Wieteke berkeluh kesah. Dia tak pernah menyangka iklim di Belanda begitu dingin. Namun yang paling buruk di sana adalah makanannya. Lebih buruk daripada makanan yang didapatnya dalam kapal selama perjalanan menuju Eropa. “Benar-benar payah!” ungkap Wieteke merujuk makanan Belanda. “Beri saja aku nasi goreng dengan omelet (telur dadar),” demikian harapannya. Selama bertahun-tahun, Wieteke tak bisa melupakan kelezatan nasi goreng. Makanan berbahan pokok beras disertai aneka bumbu itu masih terasa lekat dalam dekapan lidahnya. Pada 1979, Wieteke yang kemudian kondang sebagai aktris kabaret menyalakan kerinduannya lewat sebuah lagu berjudul “Geef Mij Maar Nasi Goreng” (Beri Saja Aku Nasi Goreng).

  • Johny Pardede dari Sepakbola hingga Agama

    KABAR duka datang dari Keluarga Pardede. Johny Pardede, putra taipan Medan T.D. Pardede yang juga Presiden Direktur Hotel Danau Toba Internasional, wafat kemarin, 15 Mei 2024, di RSCM Jakarta dalam usia 70 tahun. Sepanjang hidupnya, Johny dikenal sebagai pendiri klub sepakbola, pengusaha, dan belakangan aktif menjadi penginjil. Johny Pardede lahir di Medan pada 24 April 1957. Dia anak ketujuh sekaligus putra bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Tumpal Dorianus Pardede dan Hermina br. Napitupulu. Ketika Johny lahir, usaha sang ayah sedang jaya-jayanya. T.D. Pardede dikenal sebagai pendiri pabrik tekstil Pardedetex di Medan. Produk sandang hasil pabrikan Pardedetex, seperti kaus singlet dan selimut, menguasai pasaran seluruh Indonesia. Tak ayal, T.D. Pardede mendapat julukan “Raja Tekstil dari Medan”. Kesuksesan Pardede membuat Presiden Sukarno kepincut mengangkatnya sebagai Menteri Perindustrian Rakyat Urusan Berdikari pada Kabinet Dwikora I. T.D Pardede menjadi Menteri Berdikari pertama dan satu-satunya sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page