Hasil pencarian
9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lima Stadion Unik Piala Dunia
QATAR sudah bersolek untuk menggelar Piala Dunia 2022. Piala Dunia ke-22 ini akan jadi Piala Dunia terakhir dengan 32 peserta lantaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat-Meksiko-Kanada akan diikuti 48 tim yang akan mentas di delapan venue di lima kota. Yang menarik, salah satu stadion di Qatar dibangun dari ratusan material recycle perkapalan dan bisa dibongkar-pasang sesuai kebutuhan. ‘Istād 974 alias Stadium 974 di Ras Abu Aboud, Doha, Qatar, venue yang dimaksud, dinamakan “Stadium 974” lantaran dibangun dari 974 material daur ulang bekas peti kemas. Stadium 974 juga menjadi venue sementara pertama dalam sejarah Piala Dunia –ia akan dibongkar usai event. Stadium 974 dirancang sejak 2017 oleh para arsitek dari firma Fenwick Iribarren Architects dengan konsep desain modular dan rampung medio November 2021. Ke-974 peti kemas bersertifikasi standar itu didudukkan pada rangka-rangka baja yang mudah dibongkar-pasang.
- Aneka Olahraga Panglima
DI TENGAH kegiatannya yang segudang, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani masih bisa meluangkan waktu untuk olahraga. Bahkan, dia menggemari beragam olahraga. Mulai dari berbagai jenis atletik, tenis, tenis meja atau ping pong, renang, sepakbola, hingga golf. Yani suka olahraga sejak sekolah di HIS (Hollandsch-Indische School) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwisj di Bogor pada 1929. “Yani menyenangi olahraga renang, lempar lembing, lempar cakram dan semua cabang atletik,” ungkap Amelia Yani dalam biografi ayahnya, Profil Seorang Prajurit TNI. Di zaman pendudukan Jepang, Yani melakoni Ken-Do, olahraga beladiri asal Jepang, ketika menjalani pendidikan perwira Pembela Tanah Air di Bogor. “Yani ahli dalam olahraga ini. Badannya atletis, sempurna sekali untuk gerakan-gerakan dengan samurai (kayu),” kata Amelia yang kini menjabat duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Bosnia-Herzegovina.
- Jenderal Yani di Lapangan Golf
SESUDAH makan siang bersama keluarga, Letnan Jenderal Ahmad Yani berangkat ke Senayan. Menteri Panglima AD itu punya agenda latihan golf bersama pengusaha Bob Hasan. Jelang petang, Yani tiba kembali di kediamannya, Jalan Lembang, Jakarta Pusat. Beberapa tamu penting akan sowan di malam hari. Salah satu di antaranya Panglima Brawijaya, Mayor Jenderal Basuki Rachmat. “Pada jam enam sore, bapak pulang dari bermain golf lewat garasi dan masuk melalui pintu belakang sambil berpesan kepada Pak Dedeng, supir bapak, agar alat-alat golf itu dibersihkan, karena sudah tak akan dipakai lagi,” tutur Amelia Yani dalam biografi ayahnya Profil Seorang Prajurit TNI. Alat-alat golf tadi menjadi saksi bisu hari terakhir Yani. Pada esok subuh 1 Oktober 1965, kediaman Yani disambangi sepasukan Tjakrawbirawa yang merenggut nyawa sang panglima. Kini, peralatan golf itu masih tersimpan sebagai koleksi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, di Jalan Lembang.
- Ahmad Yani Dimarahi Sopir
KOLONEL Ahmad Yani, Deputi II Staf Umum Angkatan Darat, ditunjuk menjadi Panglima Operasi 17 Agustus untuk memadamkan pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatra Barat pada 1958. Yani dinilai sebagai panglima yang berani, tegas, adil, dan memperhatikan anak buah. Setiap anak buahnya mencintai dan menghormatinya. Dalam tugas sehari-hari, dia merupakan contoh bagi para komandan bawahannya. “Saya dapat menyatakan penilaian ini karena sebagai dokter saya mudah mendengarkan pendapat para prajurit, baik yang berpangkat tamtama, bintara maupun perwira,” kata Soemarno Sosroatmodjo dalam memoarnya, Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya. Saat itu, Soemarno menjabat Komandan Pusat Pendidikan Kesehatan dan Kepala Biro B Direktorat Kesehatan Angkatan Darat.
- Perkawanan Dua Perwira AD, Ahmad Yani dan Soemitro
DENGAN kondisi punggung sakit, Kolonel Soemitro menghadap bosnya, Menteri Panglima AD Letnan Jenderal Ahmad Yani. Soemitro dipanggil langsung ke rumah Yani di Jalan Lembang untuk membicarakan penugasannya ke Kalimantan. Sang kolonel yang berperut tambun itu sedang menderita slipped disc -tulang belakang keseleo yang mengenai urat- sehingga jalannya miring-miring untuk mengurangi rasa sakit. Melihat perut bawahannya yang besar, Yani nyeletuk dalam bahasa Jawa kepada istrinya, Yayuk. “Bu, Bu lihat Mitro, wetenge, weteng Panglima (perutnya perut Panglima),” kata Yani. Dia kemudian memberikan perintah kepada Soemitro.
- Meriam PRRI “Bikin Ngeri” Ahmad Yani
USAI mengikuti Misi Yani keliling Eropa untuk membeli senjata, awal 1960-an, Hasjim Ning keponakan Bung Hatta yang pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”, mampir ke Tokyo bersama Mayjen A. Yani (deputi II KSAD). Mereka dijemput istri masing-masing di sana. Keduanya lantas menginap di sebuah hotel yang sama di Tokyo. Saat di hotel itulah Hasjim mendapati istrinya, Ivonne, digoda seorang pria Jepang. Perkataan-menggoda pria itu didengar Hasjim maupun Yani. “Kurang ajar banget itu Jepang. Pukul saja, Pak Hasjim,” kata Yani yang geram, dikutip Hasjim dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.
- Jenderal Yani dan Para Asistennya
SEPEKAN setelah memegang tampuk kepemimpinan Angkatan Darat, Letjen Ahmad Yani meresmikan susunan stafnya. Tiga perwira tinggi diangkat sebagai deputi. Mereka antara lain: Deputi I/Operasi Mayjen Moersjid, Deputi II/Admistrasi Mayjen Soeprato, dan Deputi III/Pembinaan Mayjen Harjono Mas Tirtodarmo. Ketiganya merupakan wakil Yani yang membawahkan beberapa bidang. Untuk membantu kinerjanya, Yani dibantu oleh sejumlah asisten. Asisten I/Intelijen Mayjen Siswondo Parman, Asisten II/Mayjen Djamin Gintings, Asisten III/Personel Mayjen Pranoto Reksosamudro, Asisten IV/Brigjen Donald Isaac Pandjaitan. Selain itu, Yani menambah tiga asisten lagi yang di masa Nasution belum ada. Asisten V/Teritorial Brigjen Soeprapto Sokowati, Asisten VI/Kekaryaan Brigjen dr. Soedjono, dan Asisten VII/Keuangan Brigjen Ashari yang kemudian digantikan oleh Alamsyah Ratu Perwiranegara.
- Kisah Para Deputi Jenderal Yani
SETELAH membaca artikel “Jenderal Yani dan Para Asistennya”, Letjen TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo langsung memberikan tanggapan. Selain para asisten, menurutnya masih ada tiga jenderal lagi yang belum disebut perannya. Mereka adalah perwira tinggi yang menjabat sebagai deputi Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad). “Para deputi juga punya saham penting dalam mutu tinggi SUAD Yani,” ujar sesepuh TNI AD Angkatan ‘45 itu kepada Historia.ID. Para deputi yang dimakud ialah Mayjen Moersjid (Deputi I), Mayjen R. Soeprapto (Deputi II), dan Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono (Deputi III). Ketiga deputi ini merupakan wakil Yani yang membawahkan beberapa asisten. Sementara pengangkatan asisten tidak terlepas dari rupa-rupa kompromi, namun tidak demikian halnya untuk para deputi.
- Profil Pahlawan Revolusi: Ahmad Yani, Jenderal Brilian Pilihan Sukarno yang Berakhir Tragis
“Lebih baik bermandi keringat di medan latihan daripada mandi darah di medan pertempuran.” Itulah pernyataan populer dari Ahmad Yani, Pahlawan Revolusi yang gugur di tangan sekelompok petualang militer pada dini hari 1 Oktober 1965. Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922 dari pasangan Sarjo bin Suharyo dan Murtini. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Bogor pada 1935, Yani masuk Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah setingkat sekolah menengah pertama, di Bogor. Lulus dari MULO pada 1938, Yani melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS), setara dengan sekolah menengan atas, di Jakarta. Yani hanya menjalani pendidikan hingga kelas dua di AMS karena ada kewajiban mengikuti pendidikan militer dari pemerintah Hindia Belanda. Yani pun mengikuti pendidikan militer di Dinas Topografi Militer, Malang dan kemudian mengikuti sekolah militer lanjutan di Bogor.
- Jenderal Yani Menolak Nasakomisasi
JAKARTA, awal 1965. Slogan “Nasakom Jaya” yang berada di bilangan Jalan M.H. Thamrin tetiba menjadi “cacat”. Entah siapa yang melakukannya, Nasakom yang merupakan kepanjangan dari Nasionalis Agama Komunis, imbuhan “kom”-nya ada yang mencoret. Maka tinggalah kata “Nasa”. Peristiwa itu sampai ke telinga Presiden Sukarno. Tjtju Tresnawati (74) masih ingat bagaimana Si Bung Besar menjadi berang. Dalam suatu pidatonya yang disiarkan langsung oleh Radio Republik Indonesia (RRI), Tjutju yang saat itu tinggal di wilayah Mayestik, Jakarta Selatan masih sempat merekam dalam benaknya kemarahan tersebut. “Siapa itu yang berbuat nakal mencoret kata 'kom'? Bawa ke hadapan saya, biar saya jewer!,” ujar Bung Karno seperti didengar oleh Tjutju dalam siaran RRI itu.
- Ahmad Yani dalam Seragam PETA
MELETUSNYA Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada 14 Februari 1945 mengubah situasi di semua daidan alias batalyon. Hampir semua perwira muda PETA berpangkat shodancho (komandan kompi, red.) ke atas dicurigai Jepang. Ahmad Yani dan Sarwo Edhie dua di antaranya. Pemberontakan para serdadu PETA di Daidan Blitar pimpinan Shodancho Supriyadi 76 tahun lampau memang akhirnya kandas. Sejumlah pelakunya ditangkap hingga dieksekusi. Beberapa di antaranya dinyatakan hilang secara misterius, termasuk Supriyadi. Ketika peristiwa itu meletus hingga dinetralisir Jepang, nyaris semua daidan di Jawa Tengah dan Jawa Barat belum mengetahuinya. Jepang menerapkan isolasi agar satu daidan dengan daidan lainnya yang tersebar dari Jakarta hingga Jawa Timur tak saling berhubungan. Maka pemberontakan PETA di Blitar, Cimahi, dan Cilacap pun tak terdengar daidan-daidan di kota-kota lain. Hanya beberapa perwira muda PETA yang menginsyafinya lewat sejumlah gelagat aneh Jepang di markas-markas mereka.
- George Benson Kawan Yani
INI bukan tentang George Benson pemilik tembang evergreen “Nothing’s Gonna Change My Love for You” yang sering konser jazz di Jakarta. Ini tentang George Benson yang jauh lebih dulu datang ke Jakarta. Tak hanya beda warna kulit, mereka juga beda profesi. George Benson yang ini ada dalam hubungan politik antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). George Benson ini dikenal sebagai kawan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani. Keduanya sama-sama pernah belajar di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat sekitar 1955. Seperti Yani, Benson Angkatan 45 juga –usia keduanya hampir sama; Yani kelahiran pertengahan 1922 sedangkan Benson kelahiran awal 1923. Bedanya, Yani perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sejak 1945 berperang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara Benson adalah lulusan Akademi Militer West Point angkatan 1945.





















