Hasil pencarian
9756 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perjuangan Lasmidjah Berbuntut Pengusiran
BUS melaju dari Yogyakarta ke Trenggalek. Lasmidjah dan Sutono serta Parmin menumpang bus itu. Mereka bersandar di kursi untuk melepas lelah selepas menghadiri Konferensi Partindo tahun 1933. Setelah menempuh jarak hampir 300 km, mereka tiba di Trenggalek. Sejurus kemudian Lasmidjah melambaikan tangan, memanggil seorang pengemudi delman untuk mengantarnya ke rumah. Namun baru sampai halaman rumah, Lasmidjah dikejutkan oleh keberadaan anggota PID (Politieke Inlichtingen Dienst, Dinas Intelijen Politik) yang mengepung rumahnya. Lasmidjah dilarang masuk ke rumah dan langsung digiring ke kantor polisi. Runyam! Para polisi menginterogasi Lasmidjah tentang pertemuan politik di Yogyakarta. Wardi, ayah Lasmidjah, yang tak pernah tahu-menahu soal pergerakan, dipanggil bupati. “Anak tuan dokter mengganggu ketertiban umum. Ini sudah lama kami amati. Putri tuan harus segera pergi dari Trenggalek dalam 2x24 jam,” kata bupati.
- Gerakan Baso di Sumatra Barat
PASCA hengkangnya Jepang dari Indonesia pada akhir 1945, seorang ulama dari Baso, Sumatra Barat menjemput puluhan romusha asal Jawa di Logas, Riau. Mereka kemudian dimukimkan di areal pertanian kolektif di Baso. Ulama itu ialah Tuanku Nan Putih, yang kelak bersama adiknya, Tuanku Nan Hitam dianggap sebagai pemberontak. Menurut Audrey R. Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi, Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 , Abdul Rahman Tuanku Nan Putih adalah ulama pedesaan dari Baso, daerah dekat Bukittinggi, Sumatra Barat. Laki-laki kelahiran 1898 ini merupakan murid dari Syekh Daud Rasyidi dari Balingka. Sejak muda, ia telah bergabung dengan Sarekan Islam (SI) dan ketika SI pecah, ia memilih faksi komunis Sarekat Rakyat. Pada pemberontakan komunis 1927 di Sumatra Barat, Tuanku Nan Putih ditangkap Belanda. Ia kemudian dibuang ke Pamekasan, Madura. Setelah sekira tiga tahun dipenjara, Tuan Nan Putih bebas dan kembali aktif berpolitik. Ia bergabung dengan Partai Persatuan Muslim Indonesia (Permi), kemudian PNI Baru.
- Serupa Hari di Bulan April
DI SUATU sore musim semi yang cerah, pasangan Mary dan Abraham Lincoln menikmati perjalanan berkereta kuda menuju kediaman presiden di Washington. Kehangatan dan kebahagiaan menyeruak dalam perbincangan mereka. Lincoln bersemangat membahas rencana masa pensiunnya: mengunjungi California, serta melancong ke Eropa dan Jerusalem. “Hari ini, aku bisa merasakan perang akan segera berakhir,” ucap presiden Amerika Serikat ke-16 kepada istrinya. Keriangan pasangan ini berlanjut di malam hari. Mereka menonton pertunjukan drama di Teater Ford. Mary menggenggam erat lengan Lincoln. Di tengah pertunjukan, seorang pendukung konfederasi bernama John Wilkes Booth melompat ke arah mereka seraya menodongkan senjata ke kepala Lincoln. “Presiden tertembak!” jerit histeris Mary. Tubuh lunglai Lincoln segera ditandu menuju rumah penginapan di seberang teater untuk mendapatkan perawatan. Nyawanya tak tertolong. Pada pukul 07.22, 15 April 1865, Mary kehilangan seorang pria yang dia sebut “segala-galanya untukku –seorang kekasih, suami, dan ayah selama 18 tahun kami bersama”. Di mata sejumlah pengamat, sejak itu, Mary seakan meluncur hancur dalam masa yang disebut “episode gila”.
- Pilih Jurusan Hukum Demi Kemerdekaan
PADA 1929, Teuku Mohammad Hasan menamatkan pendidikan bangku sekolahnya. Prestasinya cukup baik, apalagi dalam bidang aljabar, Hasan lebih menonjol. Sebagai putra bangsawan ( uleebalang ) Aceh, Hasan tentu tidak kesulitan mencari universitas terbaik. Sebelum memutuskan studi perguruan tinggi, Hasan memilih dan memilah berbagai jurusan. Mula-mula Hasan bermaksud ke Universitas Delft, di Belanda. Ragu melanda. Hasan kemudian berminat pula memasuki Sekolah Tinggi Teknik (THS) di Bandung, tempat Bung Karno kuliah. Tapi Hasan masih bimbang. “Saya menemui Teuku Hanafiah, mahasiswa RHS Batavia untuk bertukar pikiran,” kenang Hasan dalam memoarnya Mr. Teuku Moehammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa yang disunting Teuku Mohamad Isa.
- Sarjana Hukum Pertama Indonesia Lulusan Belanda
OEI Jan Lee lahir di Banda Neira, Maluku, pada 1863. Ayahnya seorang Letnan Tionghoa yang membantu Kapitan Tionghoa, pemimpin komunitas Tionghoa di Banda Neira. Setamat pendidikan dasar Belanda di Banda Neira, dia mengikuti pendidikan dan pelatihan swasta di Banda Neira, untuk persiapan mengikuti tes penerimaan HBS (sekolah menengah Belanda) di Batavia. Setelah lulus HBS, pada 1882, Oei Jan Lee pergi ke Negeri Belanda. Dia mengikuti pendidikan gymnasium selama dua tahun sebagai syarat masuk universitas. Dia menjadi orang pertama dari Hindia Belanda yang belajar hukum di Universitas Leiden dan lulus pada Januari 1889. Menurut Patricia Tjiook-Liem dalam “The Chinese from Indonesia in the Netherlands and their heritage,” jurnal Wacana Vol. 18 No. 1, 2017, Oei Jan Lee kembali ke Hindia Belanda pada 1892. Pada umur 29, dia diangkat sebagai pengacara dan penasihat di Mahkamah Agung Hindia Belanda, salah satu jabatan tertinggi dalam peradilan kolonial. Ini adalah pengangkatan yang luar biasa dan karier yang sangat cepat pada masa kesenjangan hukum dan sosial yang besar antara Belanda (Eropa) dan Tionghoa (Timur Asing). Jabatan penting jarang diberikan kepada orang Tionghoa.
- Getirnya Perjalanan Tuba Menghapus Stigma 1965
Siang itu, seperti biasa, kawasan Penjaringan riuh oleh gerak dan suara puluhan truk kontainer yang berlalu lalang. Sebagai kawasan niaga dan industri yang dekat dengan pelabuhan, wilayah di utara Jakarta ini memang nyaris selalu hidup. Kesibukan ini juga menjadi bagian keseharian masyarakat yang tinggal di kawasan padat di sekitar wilayah itu. Di lorong-lorong permukiman padat itu terdapat potongan sejarah bangsa ini. Persis di samping Rumah Duka Bandengan, ada sebuah gang kecil dengan tembok-tembok di kedua sisi dipenuhi berbagai macam coretan, mulai dari pelajaran sekolah dasar hingga seruan nasionalisme, seperti teks Sumpah Pemuda.
- Tuba Bukan Tuba
TIGA jemari kuku tangannya menghitam; kedua jempol dan jari manis sebelah kiri. Sementara jari tengah kiri melengkung ke atas. Kadangkala jempolnya mengeluarkan bau busuk. Semuanya akibat getokan palu tentara yang memeriksanya berpuluh tahun silam. “Baunya enggak karu-karuan. Sudah 47 tahun masih bau aja,” katanya. Ia menduga jari yang menghitam itu lantaran darah beku yang tidak keluar. Bekas luka itu membawa ingatan Pak Tuba kembali pada peristiwa 1965. Ia diciduk lantaran tercatat sebagai anggota Pemuda Rakyat yang berada di Lubang Buaya saat terjadi Gerakan 30 September (G30S). Sebagai tahanan politik (tapol), siksaan demi siksaan menderanya. Ia mendekam dari penjara ke penjara hingga dibuang ke Pulau Buru. Setelah bebas, ia tak lepas begitu saja dari rundungan sebagai mantan tahanan politik (tapol).
- Kisah Cinta di Tepi Sungai Cisadane
PADA 16 November 1965, Tuba bin Abdul Rochim, seorang pemuda dari Brebes, ditangkap karena menjadi anggota Pemuda Rakyat. Laki-laki yang lahir pada 14 April 1944 ini kemudian ditahan di Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba. Satu bulan kemudian, ia dipindahkan ke RTC Tangerang. Pada awal Februari 1966, proyek kerja paksa di RTC Tangerang dimulai. Para tahanan politik harus bekerja menggarap lahan untuk ditanami padi. Tuba termasuk di antara para pekerja paksa itu. Setelah tiga bulan menggarap lahan, Tuba dipindahkan ke bagian dapur untuk mempersiapkan ransum tapol, jatah makan peleton pengawal, dan petugas sipir penjara. Selain itu, Tuba dan 24 orang lainnya ditugasi untuk mencari kayu bakar ke daerah Serpong, Lengkong, Karawaci, dan sekitarnya.
- Buku Lagu Para Tapol
PADA 1990, rumah Tuba bin Abdul Rochim, mantan tahanan politik (tapol) Orde Baru, di daerah Penjaringan, Jakarta Utara, kebakaran. Api melahap satu RW di gang sempit itu dan menghabiskan benda-benda di dalamnya. Namun, mantan anggota Pemuda Rakyat itu malah menyelamatkan sebuah buku bersampul ungu dan sebuah gitar. Bukan televisi, radio ataupun benda berharga lainnya. "Saya hanya sempat bawa buku ini sama gitar. Gendong gitar sama bawa ini. Barang lainnya malah tidak dibawa," kenang Tuba kepada Historia.ID sambil memegang buku yang pinggirannya sudah kerepes itu. Buku itu tampaknya bukan buku biasa. Buku yang kertasnya sudah kecokelatan dan rapuh itu merupakan harta paling berharga milik pria kelahiran 14 April 1944 itu. Buku itu berisi lagu-lagu yang dibuat oleh para tapol Orde Baru sejak dari RTC Tangerang, Nusakambangan, hingga Pulau Buru.
- Pembantaian Gardelegen, Pembantaian Terakhir di Perang Dunia II
JERMAN, 15 April 76 tahun silam. Mendengar kabar adanya pembantaian di pinggiran kota kecil Gardelegen, Harold P. Leinbaugh, prajurit dari Kompi K/Rifle Batalyon ke-333 Division Infantry ke-84 AD Amerika Serikat (AS), langsung pergi menuju lokasi. Kabar yang didengarnya itu ternyata bukan isapan jempol belaka. Di sebuah gudang jerami yang jadi tempat pembantaian, dia mendapati pemandangan mengerikan sekaligus bau menyengat. “Di dalam gudang, para prajurit GI menempelkan sapu tangan basah ke wajah mereka –bau daging terbakar sangat menyengat,” ujarnya dalam otobiografi yang ditulisnya bersama John D. Campbell, The Men of Company K: The Autobiography of a World War II Rifle Company, 333rd Infantry 84th Division . Bau daging terbakar itu merupakan bau dari daging tawanan yang dibakar hidup-hidup. Mereka, kebanyakan warga Soviet, sebelumnya dipekerjakan Nazi. “Ada mayat yang baru saja dibakar dengan sangat parah. Beberapa dari mereka memakai baju bergaris, seingat saya,” kata Howard S. Hoffman, prajurit Kompi C Batalyon Chemical Mortar Ketiga AD AS, dalam memoarnya yang ditulis bersama Alice M, Archives of Memory: A Soldier Recalls World War II.
- Bobo dari Belanda ke Indonesia
SIAPA yang tak mengenal Bobo, Coreng, Upik, dan Cimut? Keempat karakter ini kerap menghiasi berbagai cerita dalam majalah Bobo . Majalah anak-anak di Indonesia ini terbit pertama kali pada 14 April 1973. Mulanya Bobo berupa lembaran khusus untuk anak di harian Kompas . Sambutan positif pembaca memunculkan gagasan untuk menerbitkan majalah khusus anak-anak. Terlebih pada masa itu majalah khusus anak yang tersedia dalam bahasa Indonesia masih belum banyak ditemukan. Menurut Kurniawan Junaedhie dalam Rahasia Dapur Majalah Indonesia , gagasan menerbitkan majalah khusus anak ini datang langsung dari P.K. Ojong. Wartawan dan pengusaha yang turut mendirikan Kelompok Kompas Gramedia itu tertarik menerbitkan majalah khusus anak di Indonesia setelah membaca majalah anak-anak berbahasa Belanda, Bobo , terbitan CV Oberon yang telah menarik perhatian publik dan anak-anak di Negeri Kincir Angin sejak tahun 1968. “Untuk merealisasikan gagasannya, Ojong mengangkat Tineke Latumeten, mantan sekretaris redaksi Kompas , yang selama itu ikut mengelola halaman anak-anak Kompas dengan nama Kak Tina, sebagai pemimpin redaksinya,” tulis Junaedhie.
- KSAD Pilihan Ibu Tien Soeharto
SUATU malam di tahun 1984, Mayor Prabowo Subianto sedang makan malam dengan mertuanya, Presiden Soeharto dan Siti Hartinah alias Ibu Tien. Mereka hanya bertiga di meja makan. Tiba-tiba Ibu Tien bersuara. “Pak, apa benar KASAD mau diganti?” tanya Ibu Tien kepada suaminya. “Iya benar, kan sudah saatnya diganti,” jawab Soeharto. Kala itu, Jenderal TNI Poniman sudah hampir tiga tahun menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Ia mengisi jabatan itu dari 30 April 1980. Setelah era 1950-an, posisi KSAD sangat penting dan Soeharto tentu harus memberikan jabatan itu kepada orang yang tepat. “Itu loh Pak, sing apik iku (yang bagus itu) Pangdam Bali, Pak, Dading. Tinggi, gagah, dan ganteng, Pak. Cocok itu, sebaiknya ia yang jadi KASAD, Pak,” kata Ibu Tien.





















