- 15 Jul 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 14 Apr
DI SUATU sore musim semi yang cerah, pasangan Mary dan Abraham Lincoln menikmati perjalanan berkereta kuda menuju kediaman presiden di Washington. Kehangatan dan kebahagiaan menyeruak dalam perbincangan mereka. Lincoln bersemangat membahas rencana masa pensiunnya: mengunjungi California, serta melancong ke Eropa dan Jerusalem. “Hari ini, aku bisa merasakan perang akan segera berakhir,” ucap presiden Amerika Serikat ke-16 kepada istrinya.
Keriangan pasangan ini berlanjut di malam hari. Mereka menonton pertunjukan drama di Teater Ford. Mary menggenggam erat lengan Lincoln. Di tengah pertunjukan, seorang pendukung konfederasi bernama John Wilkes Booth melompat ke arah mereka seraya menodongkan senjata ke kepala Lincoln.
“Presiden tertembak!” jerit histeris Mary.
Tubuh lunglai Lincoln segera ditandu menuju rumah penginapan di seberang teater untuk mendapatkan perawatan. Nyawanya tak tertolong. Pada pukul 07.22, 15 April 1865, Mary kehilangan seorang pria yang dia sebut “segala-galanya untukku –seorang kekasih, suami, dan ayah selama 18 tahun kami bersama”. Di mata sejumlah pengamat, sejak itu, Mary seakan meluncur hancur dalam masa yang disebut “episode gila”.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















