Hasil pencarian
9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sukarno Sahabat Pangeran Kamboja
TIM nasional sepakbola Indonesia U-22 akhirnya berhasil merebut medali emas SEA Games 2023 usai mengalahkan timnas Thailand di final, 5-2. Dalam pertandingan dramatis yang panjang itu, timnas Indonesia tak hanya didukung suporter tanah air tapi juga negara tetangga seperti Vietnam dan tuan rumah Kamboja. Salah satu warga Kamboja yang mendukung langsung di stadion adalah Visal yang merupakan pemilik sebuah warung kopi. "Saya penuhi janji saya. Saya datang bersama putri saya. Kamboja untuk Indonesia!" kata Visal, dikutip bola.com, 16 Mei 2023. Persahabatan rakyat Kamboja dan Indonesia telah terjalin lama. Pemimpin kedua negara, Pangeran Norodom Sihanouk dan Presiden Sukarno, bahkan telah bersahabat sejak 1950-an.
- Ketua PSI Meninggal di Sukamiskin
RAJA Bolaang Uki, Hasan Iskandar van Gobel, suatu hari dapat satu permohonan bahwa ketua atau presiden Partai Sarekat Islam (PSI) –yang pada 1929 berganti nama menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)– ingin berpidato di hadapan ribuan rakyat Bolaang Uki. Maka sang raja langsung memanggil ketua PSI itu. Sebuah pembicaraan pun terjadi. “Katakan saja padaku apa yang ingin kamu jelaskan kepada rakyat. Saya akan memberi tahu mereka tentang hal ini. Ketika kamu berbicara, orang-orangku yang bodoh mengira kamu adalah rajanya. Untuk menghindari kesalahpahaman seperti itu, saya tidak bisa mengizinkan Anda menyapa orang-orang di sini dan saya juga melarang Anda mendirikan cabang PSI di sini. Di sini kita tidak memerlukan partai agama. Dalam hal ini saya juga bisa memimpin rakyat saya,” kata raja kepada presiden PSI Bolang Mongondow yang bernama Adampe Dolot. Raja Hasan merupakan penganut Islam, sama seperti Adampe Dolot. Menurut De Indische Courant, 19 Januari 1940, raja rajin pergi ke masjid. Raja Hasan menurut pihak Belanda tidak menginginkan adanya perpecahan rakyat di wilayahnya. Tentu saja penolakan itu mengecewakan Adampe Dolot. Lelaki yang kiprahnya telah dicatat koran berbahasa Belanda tahun 1940 dan 1928 ini sepak terjang politiknya tidak kaleng-kaleng. Sejak era 1920-an, Adampe telah aktif di Sarekat Islam.
- Menyepak Bola sampai Kanada
SEBAGAIMANA Amerika Serikat (AS) dan Australia, orang-orang Kanada juga menyebut sepakbola dengan soccer. Dibanding dua tetangga kawasannya, AS dan Meksiko, Kanada yang paling “anak bawang” di level Piala Dunia. Tahun ini jadi keikutsertaan Kanada yang ketiga kali di Piala Dunia kendati berstatus tuan rumah bersama dengan AS dan Meksiko. Sebagai co-host, timnas Kanada besutan Jesse Marsch itu terundi di Grup B bersama Swiss, Qatar, serta Bosnia-Herzegovina. Di partai pembuka grup yang dihelat di Toronto Stadium pada 12 Juni 2026 lalu, Kanada nyaris kehilangan muka ketika dua host lainnya, AS dan Meksiko, sama-sama mengemas kemenangan. Menjamu Bosnia-Herzegovina, tim “Daun Mapel” itu tertinggal lebih dulu hingga akhirnya bisa menyamakan skor, 1-1, berkat gol yang ditorehkan pemain pengganti, Cyle Larin. Skor bertahan sampai akhir laga dan meskipun gagal menang, hasil imbang dan perolehan 1 poin itu begitu historis buat Kanada. Sebab sejak tampil di Piala Dunia 1986 dan 2022, Kanada tak pernah sekalipun menang atau setidaknya mengumpulkan sebutir poin pun. Di Piala Dunia Meksiko 1986, Kanada dibekuk 0-1 oleh Prancis, dibekap 0-2 oleh Hungaria, dan keok 0-2 dari Uni Soviet di penyisihan Grup C. Adapun di Piala Dunia 2022 di Qatar, Kanada juga jadi juru kunci Grup F usai ditaklukkan Belgia 0-1, dihajar Kroasia 1-4, dan disingkirkan Maroko 1-2. “Ini Piala Dunia ketiga kami dan butuh waktu begitu lama hanya untuk mendapatkan satu poin pertama. Satu poin pertama sudah kami dapatkan, sekarang waktunya kami berusaha mendapatkan kemenangan pertama, itu sangat penting jika ingin lolos (ke 32 besar) dari grup ini,” cetus bek Kanada Alistair Johnston, dikutip Canadian Soccer Daily, 14 Juni 2026. Alistair William Johnston (ujung kanan) turut merayakan gol Kanada ke gawang Bosnia (X @CANMNT_Official) Tur ke Inggris hingga Medali Emas Olimpiade Di kota Toronto, sepakbola bermula menjamah Kanada. Sama halnya dengan di AS yang sepakbola modernnya mulai dibawa para imigran Skotlandia dan Irlandia via New Orleans, di Kanada permainan si kulit bundar juga diretas mereka di masa yang sama, 1850-an. Tercatat pernah ada sebuah pertandingan dimainkan tim imigran Irlandia melawan tim dari organisasi amal St. George’s Society pada Oktober 1859, namun belum dianggap pertandingan resmi. “Kanada pada masa itu punya banyak komunitas imigran dari Inggris Raya dan yang mendorong kehadiran sepakbola datang dari para imigran Slotlandia dan para imigran Irlandia, di mana kelak seorang imigran Ulster kelahiran Skotlandia, David Forsyth, jadi sosok yang berjasa mengembangkan sepakbola sekaligus jadi pendiri Western FA (1880),” tulis William J. Murray dalam The World’s Game: A History of Soccer. Sepakbola, lanjut Murray, lantas menyebar seiring eksistensi jalur keretaapi yang membawa para imigran mencapai Winnipeg hingga Vancouver di garis pantai Pasifik. Saat itu sepakbola modern yang paling berkembang tetap berada di Toronto. Laga resmi pertama di Kanada tercatat pada 1876. Namun justru dimainkan oleh tim kriket dan lacrosse. “Banyak tipe sepakbola dimainkan di wilayah dominion (Kanada, red.); namun, pertandingan resmi pertama yang menggunakan aturan-aturan resmi Football Association dimainkan di Jalan Parlemen, Toronto, pada (21 Oktober) 1876. Pertandingannya mempertemukan Carlton Cricket Club dan Toronto Lacrosse Club. Saat itu, merupakan hal umum menemukan klub-klub kriket yang juga memainkan sepakbola,” ungkap Stuart dan Philip Laycock dalam How Britain Brought Football to the World. Setahun berselang, beberapa asosiasi mulai bermunculan. Di antaranya Dominion Football Asssociation pada 1877, Western Football Association (Western FA) pada 1880, Manitoba Football Association pada 1896, Ontario FA pada 1901, Saskatchewan FA pada 1905, dan Province of Quebec FA pada 1911. Asosiasi yang mempersatukan semuanya, Dominion of Canada FA, lahir pada 1912. David Forsyth jadi motor Western FA yang paling menonjol di antara semuanya sebelum kemunculan Dominion of Canada FA (DCFA). Oleh karenanya, namanya tercatat di Aula Kehormatan Sepakbola Kanada sebagai “Bapak Sepakbola Kanada”. Dialah yang membawa sepakbola Kanada pertama kali “go-internasional” dengan membawa tim asal Kanada ke AS, Irlandia, dan Inggris. “Dalam upaya menetapkan laga-laga internasional secara reguler dengan Amerika Serikat pada pertengahan 1880-an dan kemudian pada 1888 Forsyth membawa sebuah tim Kanada dalam turnya ke Skotlandia, Irlandia, dan Inggris. Saat kembali tur ke sana pada 1891, timnya diperkuat para pemain dari Fall River dan Pawtucket, Rhode Island, AS,” sambung Murray. Tim yang dibawa Forsyth pada tur 1888 yang sukses itu adalah Timnas Western FA dengan skuad 17 pemain, termasuk Forsyth juga tampil sebagai pemain. Mereka tampil di 23 laga kurun 1 September-31 Oktober 1888 dari Belfast, Glasgow, Edinburgh, hingga Oxford dan Birmingham. “David Forsyth memimpin sebuah tim Kanada dalam sebuah tour Inggris pada 1888, melakoni 23 pertandingan dalam 60 hari. Tim Kanada itu menang sembilan kali dan mendapat hasil imbang lima kali,” ungkap suratkabar Truth edisi 3 April 1904. Tim Galt FC yang mewakili Kanada untuk cabang sepakbola di Olimpiade 1904 (canadasoccer.com) Sepakbola Kanada pra-Perang Dunia I dan Perang Dunia II terbilang gemilang. Bahkan mereka pernah menyabet medali emas Olimpiade cabang sepakbola, tepatnya di Olimpiade St. Louis 1904. Ini gelaran olimpade pertama di luar Eropa sekaligus olimpiade pertama yang atlet-atlet pemenangnya dihadiahi medali emas karena sebelumnya sang pemenang dikalungi medali perak. Di Olimpiade itu, cabang sepakbolanya yang dimainkan di Francis Olympic Field (16-23 November 1904) hanya diikuti tiga tim dan itupun bukan timnas, melainkan klub amatir. AS sebagai tuan rumah diwakili dua tim yang sama-sama berasal dari kota St. Louis, Missouri, AS: Christian Brothers College dan St. Rose Parish. Sedangkan Kanada didelegasikan klub Galt FC. “Didirikan pada 1881 di Ontario, Galt FC pada awal 1900-an cukup sering melakukan tur, mengingat di masa itu belum ada liga nasional. Hanya ada (turnamen) Ontario Cup yang mereka menangkan tiga kali berturut-turut (1901, 1902, 1903). Saat tur ke Manitoba dalam 25 hari, mereka menang 16 dari 17 pertandingan dan oleh sebab itu dipilih mewakili Kanada di Olimpiade 1904. Hanya memainkan dua laga, mereka menang mudah 7-0 dari Christian Brothers College dan mengalahkan St Rose 4-0. John Gourlay sang kapten memimpin tim membawa pulang medali emas buat Kanada. Kesuksesan yang kian meancing perhatian lebih besar terhadap sepakbola di Kanada,”tulis Philip Rourke dalam Forgotten Football Clubs: Fifty Teams Across the World, Gone But Never Forgotten. Namun, pasca-Perang Dunia I yang diikuti Depresi Besar ekonomi dan kemudian Perang Dunia II, geliat sepakbola di Kanada berjalan stagnan. Bisa dikatakan nyaris lumpuh. Baru pada 1946 sepakbola Kanada perlahan bangun dari mati surinya setelah reorganisasi DCFA. Pada 1948, Kanada mendaftarkan diri jadi anggota FIFA dengan nama asosiasinya FA Canada. Kelak, FA Canada berubah jadi Canadian Soccer Association, mengikuti lema “soccer”, lantaran klub dari Kanada mulai 1946 juga berkompetisi di liga AS, North American Soccer League (NASL). Selain itu, timnasnya juga diformulasikan kembali. Kanada untuk pertamakalinya ikut kualifikasi Piala Dunia 1958 namun hampir tiga dekade kemudian Timnas Kanada baru lolos ke Piala Dunia Meksiko 1986.*
- Detik-detik Terakhir Sukarno
SEPI, sunyi, dan terasing. Perasaan itulah yang dialami Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia menjelang akhir hayatnya. Prahara politik menjatuhkannya dari gelanggang kekuasaan. Setelah dilengserkan, Bung Karno memasuki masa karantina politik alias jadi tahanan rumah. Pada Mei 1967, pihak berwenang memutuskan bahwa Sukarno tidak lagi diperkenankan menetap di Jakarta. Sukarno hanya diizinkan tinggal di salah satu paviliun Istana Bogor. Namun, semuanya tidak lagi sama. Anak-anak Sukarno mengenang periode ini sebagai masa kepahitan dalam keluarga mereka. “Bapak sangat kesepian. Padahal Bapak seorang pribadi yang suka keramaian, suka dikelilingi kawan dan sahabat untuk berbicara tentang banyak hal. Pengasingan atas diri Bapak merupakan beban mental dalam dirinya,” kata Rachmawati Sukarnaputri, putri ketiga Sukarno, dalam Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi.
- Sukarno Sakit Ginjal
PRESIDEN Sukarno akan berkunjung ke Wina, Austria. Perjalanan ini bukan kunjungan kenegaraan, tetapi untuk alasan kesehatan. Bung Karno ke Austria dalam rangka menjalani pengobatan. Keberangkatan Sukarno dan rombongan dijadwalkan pada Kamis, 19 Oktober 1961. “Presiden sudah sejak beberapa waktu menderita penyakit kencing batu dan para dokter ahli memandang perlu Presiden pergi ke luar negeri selekas mungkin untuk keperluan diagnostik dan terapi,” demikian rilis berita Antara, 16 Oktober 1961. Menurut keterangan Menteri Sekretaris Negara Mr. Mohammad Ichsan, dalam periode 7 Januari 1959 sampai Juni 1961, Presiden Sukarno telah mengencingkan sembilan buah batu. Tim dokter kepresidenan berulang kali mendesak Sukarno untuk berobat di luar negeri di sela-sela kunjungan kenegaraan.
- Sukarno Meninggal Dunia
PADA 21 Juni 1970, Presiden Sukarno mengebuskan napas terakhirnya. Di pengujung hidupnya, dia jalani dengan memilukan. Setelah dijatuhkan pada Maret 1967 dengan naiknya Jenderal Soeharto menjadi presiden, Sukarno menjadi tahanan rumah di Istana Bogor, kemudian dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta (Sekarang Museum Satria Mandala). Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), menyebut bahwa beberapa oknum dari intelijen Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang ingin membuktikan keterlibatan Sukarno dalam gerakan makar PKI (mungkin tanpa perintah Soeharto) menetapkan Bung Karno berstatus tahanan rumah, sementara penyelidikan berlangsung. “Laporan resmi pemeriksaan ini tidak pernah dikeluarkan,” katanya dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998. Sukarno dikucilkan dari rakyatnya di Wisma Yaso sejak pengujung Desember 1967. “Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang,” tulis sejarawan Bob Hering dalam Soekarno Arsitek Bangsa.
- Nasib Tragis Kapal Inggris
BERT “Curly” Harris selalu ingat hari ketika peristiwa yang merenggut nyawa Edwin, kakaknya, dan juga nyaris merenggut nyawanya terjadi. Peristiwa itu terjadi perairan Norwegia, Laut Utara, awal Perang Dunia II. Bert merupakan personil AL Inggris yang –diterima pada 14 Februari 1938– bertugas sebagai stoker di kapal perusak (destroyer) HMS Glowworm. Di kapal itu pula Edwin berdinas sebagai stoker. Menyusul pecahnya Perang Dunia (PD) II, Glowworm bersama beberapa destroyer lain ditugaskan mengawal kapal penjelajah berat HMS Renown melancarkan Operasi Wilfred pada 5 April 1940. Operasi penebaran ranjau di perairan Norwegia itu bertujuan untuk menutup jalur distribusi impor bijih besi Jerman dari Swedia. Inggris menggelarnya setelah gagal mendapat izin dari Swedia dan Norwegia untuk menempatkan pasukan di kota-kota utara dua negeri netral itu, terutama kota pelabuhan Narvik, Norwegia.
- Baret Merah Bikin Inggris Berdarah-darah
SETELAH pertempuran salah paham antara Yon 1/RPKAD melawan Yon 454/Diponegoro di luar PAU Halim Perdanakusuma pada pagi 2 Oktober 1965 mereda, Sersan mayor (Serma) Soediono mendapat perintah dari Kapten Oerip, atasannya di Kompi Ben Hur. Soediono diperintahkan sang komandan masuk ke Halim untuk menemui Komandan RPKAD (kini Kopassus) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo guna melaporkan perkembangan situasi dan minta arahan lebih lanjut. Ditemani Kopral Miptah, Serma Soediono lalu berjalan kaki masuk ke Halim. Sempat salah masuk ke markas Kolaga, Soediono dan Miptah berhasil menemui Sarwo Edhie di Makoops AURI. Sarwo Edhie berada di Makoops AURI ditemani sejumlah petinggi AURI seperti Laksda Udara Sri Mulyono Herlambang. Di sana, Sarwo Edhie mendapatkan penjelasan bahwa AURI tidak punya rencana membombardir titik-titik vital AD sebagaimana diyakini Pangkostrad Mayjen Soeharto dan pimpinan AD. Maka begitu berhasil menemui sang kolonel, Soediono langsung menjalankan tugasnya. Dia diterima dengan baik oleh Sarwo Edhie. “Kolonel Sarwo Edhie mengenalnya dengan baik, karena dialah yang memberikan kenaikan pangkat luar biasa, menjadi Sersan Mayor di perbatasan Kalimantan Barat, berkat keberhasilannya menghancurkan perkubuan Inggris di Mapu, Sarawak,” tulis Aristides Katoppo, dkk. dalam Menyingkap Kabut Halim 1965.
- Inggris Menjarah Keraton Yogyakarta
KETURUNAN Sultan Hamengkubuwono II menuntut pemerintah Inggris mengembalikan harta Keraton Yogyakarta yang dijarah saat penyerangan Inggris pada 1812 yang disebut Geger Sepoy atau Geger Sepehi. Menurut mereka, totalnya mencapai 57.000 ton emas. Tuntutan itu disampaikan Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional Sultan Hamengkubuwono II, Fajar Bagoes Poetranto. “Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7), dikutip Kumparan.com. Jumlah 57.000 ton emas dipertanyakan oleh Poltak Hotradero, kepala divisi riset di Bursa Efek Indonesia. Poltak mencuit lewat akun twitter-nya: “Emas yang pernah ditambang sepanjang sejarah manusia cuma 190 ribu ton. Gimana bisa seperempatnya ada di Jawa?”
- Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris
KALA menguasai Jawa pasca-Geger Sepehi (Juni 1812), pemerintah kolonial Inggris “memanen” benda-benda budaya dan bersejarah di banyak tempat. Di Jawa Timur, mereka menjarah Prasasti Sangguran dan Prasasti Pucangan. Kini, seiring munculnya tuntutan pengembalian benda budaya dan bersejarah yang dijarah Inggris, muncul pula keinginan untuk memulangkan kedua prasasti tersebut. Namun, menurut sejarawan Peter Carey, tantangannya berliku untuk bisa menuntut kedua prasasti itu kembali ke Indonesia. “Butuh upaya yang gigih lantaran dua prasasti itu sudah berbaur dengan kebiasaan publik setempat di Inggris,” ujarnya dalam bincang virtual bersama Pemred Historia.ID Bonnie Triyana bertajuk “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah”, Rabu, 5 Agustus 2020. Prasasti Sangguran yang kemudian dikenal dengan Minto Stone kini berada di pekarangan kediaman eks Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto, di Roxburghshire, perbatasan Skotlandia-Inggris. Prasasti berisi kutukan dan karma yang bertarikh 982 Masehi itu merupakan rampasan dari Mojorejo (kini dekat Kota Batu, Malang, Jawa Timur), salah satu wilayah yang direbut Inggris pasca-Geger Sepehi.
- Emas yang Dijarah Inggris
SELAIN menjarah manuskrip, bermacam benda budaya, dan batuan benteng ketika menaklukkan Yogyakarta, Inggris juga mengambil uang emas dan perak dari keraton. Sejarawan Peter Carey, dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live di saluran Youtube dan Facebook Historia.ID, Rabu (5/8/2020), menyebut jumlahnya 800.000 dolar Spanyol. Uang itu dibagi menjadi dua bagian: 400.000 dolar digunakan untuk membayar tunjangan (prize money) bagi perwira-perwira yang tidak tewas dalam perang, 400.000 dolar sisanya dikirim ke Benggala untuk diberikan kepada keluarga perwira dan prajurit. Dalam istilah Inggris harta tersebut disebut loot (jarahan) yang berasal dari kata India. Dan yang terjadi di Yogyakarta, loot ini dipakai untuk memberi tunjangan kepada pasukan Sepehi. Mereka diberi persentase dari harta jarahan. Di mana dalam serangan ke Keraton Yogyakarta itu, Inggris mengerahkan sekitar seribu prajurit yang sebagian besar merupakan pasukan Sepehi dari India.
- Perseteruan di Balik Pembantaian Massal Tionghoa
PERISTIWA pembantaian massal orang Tionghoa di Batavia pada 1740 tak hanya menyeret nama Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier (menjabat 1737–1741), tetapi juga Gustaf Willem Baron van Imhoff yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang dianggap noda hitam dalam sejarah kota Batavia. Menurut pengarang Amerika Serikat, Willard A. Hanna, pada masa itu ribuan orang Tionghoa membanjiri Batavia karena tertarik oleh harapan kemakmuran di kota tersebut. Kehadiran orang-orang Tionghoa yang memenuhi kawasan pinggiran kota menyebabkan jumlah penduduk Tionghoa di kota dan sekitarnya meningkat hingga lebih dari 80.000 orang. Meski banyak yang bekerja di perkebunan tebu, pabrik gula, dan perusahaan kayu, namun tak sedikit pula menjadi gelandangan, yang beberapa di antaranya membentuk kelompok dan melakukan kejahatan kecil-kecilan hingga memicu kekacauan. Khawatir kondisi itu mengganggu stabilitas keamanan dan perekonomian, pemerintah di Batavia pun bertindak. “Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier dan Majelis Hindia Belanda yang bertindak atas saran dari van Imhoff, yang baru kembali dari perang merebut Ceylon (kini Sri Lanka, red.), memutuskan untuk menangkap secara besar-besaran dan mengekspor kelebihan buruh orang Tionghoa, yang menurut van Imhoff sangat dibutuhkan di Ceylon,” tulis Hanna dalam Hikayat Jakarta.





















