Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nestapa Sabaya
MAHMUD Resho berusaha tenang. Sambil mengawasi putranya yang bermain di halaman depan rumahnya di sebuah desa di timur laut Suriah pada suatu hari di tahun 2019, Mahmud terus-menerus berupaya mencari sinyal telepon selulernya. Karena tak jua berhasil mendapatkan sinyal, ia menyiapkan sepucuk pistol M1911 yang diambil dari lemari pakaiannya. Bersama kawannya yang merupakan kepala LSM Mala Êzîdîyan (Yazidi Home Center), Shejk Ziyad, ia kemudian berkendara ke Kamp Al-Hol. Selain pistol di balik pakaiannya, Mahmud juga membawa sepucuk senapan otomatis AK-47 di mobilnya. Kamp Al-Hol adalah pusat pengungsian 73 ribu sipil eks-Daesh yang paling kacau dan berbahaya. Dulunya Al-Hol dikuasai Daesh atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Pada 2015, kamp itu direbut Syrian Democratic Forces (SDF), pasukan militer Kurdi yang merupakan musuh ISIS, rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan militer Turki sekaligus. Baca juga: A Private War , Perang Batin si Wartawati Perang Kamp itulah yang jadi fokus dokumenter bertajuk Sabaya karya sineas merangkap kameramen dan editor Hogir Hirori . “ Sabaya ” adalah sebutan untuk ribuan gadis Yazidi, sub-etnis Kurdi, yang dijadikan budak seks setelah diculik saat wilayah asal mereka di Sinjar, Irak Utara, diserang dan dikuasai Daesh. Lazimnya setelah para ayah dan saudara laki-laki mereka dibantai, para perempuan Yazidi itu diperbudak, dijual, dan dinikahkan paksa oleh pasukan Daesh. Mereka dipindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Mosul, Raqqa. Banyak dari mereka akhirnya disembunyikan oleh para pelaku human trafficking di Kamp Al-Hol. Mahmud Resho di Kamp Al-Hol (Dogwoof) Adegan beringsut ke saat Mahmud melapor ke pos keamanan Kamp Al-Hol yang dijaga pasukan SDF. Mahmud menyampaikan maksudnya yakni menjalankan misi menyusupkan seorang gadis Yazidi yang menyamar jadi Daesh. Gadis yang menyamar jadi informan itu dibekali telepon seluler untuk melaporkan perkembangan pencarian para sabaya . Setelah mendapatkan info lebih banyak, beberapa hari kemudian Mahmud dan Ziyad membawa lebih banyak anggota bersenjata ke dalam kamp pada dini hari. Mereka men- sweeping sejumlah tenda pengungsi dengan dibantu Eylol, komandan pasukan perempuan SDF. Mereka tetap harus bersiaga. Meskipun kamp itu sudah dijaga dan dikuasai pasukan SDF, senjata masih mudah keluar-masuk kamp itu lewat sejumlah kelompok penyelundup senjata. “Al-Hol adalah kamp paling kacau. Ia seperti bom waktu karena masih banyak sel-sel tidur Daesh. Militer mereka memang sudah kalah, tapi mentalitas (Daesh) mereka masih tinggi,” kata Mahmud. Baca juga: The Whistleblower yang Membuka Borok PBB Pencarian gadis-gadis Yazidi yang dibantu pasukan wanita SDF (Dogwoof) Dalam pencarian dini hari itu, Mahmud dan kawan-kawannya menemukan satu korban bernama Leila. Perjalanan mereka membawa Leila keluar dari kamp pun diliputi teror. Mobil mereka dikuntit dan ditembaki mobil yang diduga kelompok Daesh atau penyelundup senjata. Beruntung, mereka bisa meloloskan diri dan membawa Leila keluar dari kamp. Leila lalu ditampung di kediaman Mahmud. Ia dirawat secara fisik dan psikis oleh Siham, istri Mahmud, dan Zahra, ibunda Mahmud. “Kami mencoba menyelamatkan mereka. Mengembalikan mereka ke asalnya, ke agamanya, dan ke budayanya,” kata Mahmud. Baca juga: Harriet "Musa" Pembebas Budak Keluarga Mahmud yang menampung para penyintas sabaya sebelum dipulangkan ke kampung halamannya (Dogwoof) Leila hanyalah satu dari sekian banyak perempuan yang berhasil diselamatkan kelompok Mahmud. Perempuan korban penculikan itu tak melulu gadis dewasa, tapi ada juga ibu satu anak dan gadis tujuh tahun. Mereka semua ditampung sementara di rumah Mahmud setelah diselamatkan. Tetapi seiring makin intensnya aktivitas mereka, bahaya makin mengancam. Ancaman itu datang dari kelompok human trafficking yang resah ataupun militan Daesh yang kabur dari kamp. Semua berpotensi menimbulkan invasi militer Turki terhadap Suriah Utara yang didiami pasukan SDF. Bagaimana kelompok Mahmud terus melakoni aktivitasnya meski banyak ancaman yang membahayakan nyawa? Saksikan sendiri kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Menjaga Kerahasiaan Satu setengah tahun lamanya Hogir Hirori mengikuti Mahmud dan keluarganya dalam beragam aktivitas yang diabadikan lewat kameranya. Keseriusan Hirori juga dibuktikan dengan penghadiran twist yang yahud. Setelah menampilkan keseharian Mahmud dan beberapa gambar wawancara, Hirori membawa penonton masuk ke suasana ramai dan mencekam di dalam kamp. Suasana itu dikontraskan lagi dengan adegan berikutnya berupa ketenangan suasana pedesaan dengan hamparan perkebunan yang menjadi keseharian Shadi, Siham, dan Zahra. “Saya memang ingin menampilkan pemandangan yang sangat kontras antara kamp Al-Hol yang berbahaya dan kacau dengan atmosfer yang tenang dan aman dalam keseharian keluarga Mahmud, sekaligus memperlihatkan peran penting keluarga mereka terhadap para gadis Yazidi,” kata Hirori kepada Filmmaker Magazine , 30 Januari 2021. Baca juga: Wind River , Potret Kehidupan Pribumi Amerika Suasana Kamp Al-Hol yang menampung 70 ribu simpatisan Daesh/ISIS (Dogwoof) Hirori tak banyak menyisipkan music scoring lantaran ingin membiarkan penonton merasakan suara-suara alami di timur laut Suriah, keriuhan suasana pasar di dalam kamp, hingga letusan-letusan senjata dalam baku tembak buronan Daesh dengan pasukan SDF. Hanya sedikit musik bernuansa sendu khas Timur Tengah yang dimasukkan Hirori ke dalam scene wawancara beberapa korban. Satu dari 206 perempuan Yazidi yang berhasil diselamatkan LSM Mala Êzîdîyan adalah Leila. Masih ada lebih dari dua ribu lainnya yang nasibnya tak diketahui.. Sambil menenggelamkan wajah ke lutut dan berderai air mata, ia menceritakan pengalamannya hampir memutuskan bunuh diri karena mentalnya nyaris mencapai titik nadir. Ia diculik saat masih belia, dipaksa masuk Islam, dan dijadikan budak seks selama lima tahun sebelum akhirnya diselamatkan LSM Yazidi Home Center. Seorang sabaya lain bahkan sampai melahirkan seorang anak. Nestapanya bertambah saat ia hendak dibawa ke perbatasan Suriah-Irak untuk dipulangkan bersama beberapa penyintas lain ke Sinjar. Perempuan itu harus menahan pedih karena tak bisa membawa putranya yang berusia satu tahun. Pasalnya, anaknya adalah hasil hubungannya dengan militan Daesh dan takkan diterima keluarga maupun masyarakat Yazidi di Sinjar. Baca juga: Konflik Kashmir Tiada Akhir Upaya pencarian informasi korban sabaya ke tahanan Daesh (Dogwoof) Saat itulah sang sineas dituntut bisa mengendalikan emosinya. Tantangan lain Hirori yakni harus menyunting 90 jam durasi film menjadi 91 menit. Ia juga mesti memotong sejumlah adegan penting tentang ruang dan waktu demi kerahasiaan. Alasan kerahasiaan itulah yang membuat beberapa mantan “sabaya” yang disusupkan sebagai informan ke kamp mesti di- blur gambarnya . Alhasil transisi beberapa adegan dalam Sabaya kurang halus. “Ada banyak gambar yang tak saya masukkan karena alasan pribadi dan terutama alasan keamanan. Menjadi penting gambar-gambar tentang lokasi tidak disajikan, agar militan Daesh tak bisa mengidentifikasi mereka dan menggunakan gambar saya untuk merencanakan serangan mereka,” tandas Hirori. Genosida Kaum Yazidi Sebagaimana diceritakan dalam Sabaya , etnis Yazidi jadi sasaran genosida Daesh sejak 2014. Ketika Daesh menginvasi kampung halaman mereka di Sinjar, sekitar lima ribu nyawa orang Yazidi melayang dan lebih dari dua ribu kaum perempuannya diculik. Mereka dipaksa meninggalkan keyakinan mereka dan dipaksa masuk Islam. Mereka kemudian diperbudak. Bukan hanya Daesh atau ISIS pihak yang berupaya melakoni pembersihan etnis terhadap orang Yazidi. Jauh sebelum invasi Irak oleh Amerika Serikat pada 2003 dan serangan Daesh, kaum sub-etnis Kurdi itu dalam sejarah sudah berulang-kali jadi target genosida bangsa Turki sejak abad ke-17. Baca juga: Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa Pada abad ke-10, kaum Yazidi menolak masuk Islam atau Kristen. Ketika mayoritas etnis Kurdi menganut Islam, orang-orang Yazidi tetap memegang teguh keyakinan monoteis Yazidisme atau Sharfadin. Menurut Profesor Sebastian Maisel, peneliti dunia Arab di Universitas Leipzig, dalam Yezidis in Syria: Identity Building among a Double Minority , Yazidisme adalah keyakinan yang percaya pada satu Tuhan yang dibantu tiga makhluk suci dalam menjaga kehidupan di dunia. “Tuhan menjadi satu pencipta spiritual dan setelah menciptakan dunia serta umat manusia, Tuhan tersebut memanifestasikan kehidupan di dunia melalui tiga makhluk: Tawsi Melek, Sheikh Adi, dan Sultan Ezid. Yang terpenting dari ketiganya adalah Tawsi Melek atau malaikat Merak yang jadi pemimpin di antara ketiganya,” tulis Maisel. Ilustrasi kuil Yazidisme (British Library) Keteguhan sikap itu membuat kaum Yazidis acap jadi korban persekusi, bahkan pembantaian. Namun, keteguhan sikap bukan satu-satunya penyebab. Pada 1640, ketika wilayah Yazidi sudah masuk ke dalam kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, mereka dibantai. Pembantaian itu sebagai respons atas ulah orang-orang Yazidi yang acap menyerang jalur perdagangan Baghdad-Mosul dan Aleppo-Diyarbakır-Mardin. “Tetapi karavan-karavan (kafilah) di jalur itu sering dirampok suku Yazidi. Penjelajah Utsmaniyah, Evliya Çelebi, dalam ekspedisinya menyebut Yazidi kaum barbar pemuja anjing. Maka kemudian penguasa Diyarbakır melancarkan ekspedisi yang menghasilkan pembantaian dan perbudakan ribuan Yazidi,” tulis Günes Murat Tezcür dalam Kurds and Yezidis in the Middle East. Baca juga: Nestapa Yahudi Afrika demi Tanah yang Dijanjikan Sekitar 300 desa kaum Yazidi di Pegunungan Sinjar pun jadi sasaran amuk 40 ribu pasukan Utsmaniyah. Lebih dari tiga ribu orang Yazidi tewas. Ribuan lainnya diperbudak. Hanya sekitar dua ribu penyintas yang bisa melarikan diri ke gua-gua di pegunungan. Sejak saat itu persekusi atau pembantaian terhadap Yazidi terus terjadi dari masa ke masa. Dalam In Search of Safety: Voices of Refugees, Susan Kuklin mencatat ada lima peristiwa pembantaian di abad ke-18 oleh Utsmaniyah, suku Kurdi, dan orang-orang Arab. Dua kali di abad ke-19 dan empat kali di abad ke-20. Ilustrasi pembantaian kaum Yazidi oleh pasukan Utsmaniyah ( ezidipress.com ) Deskripsi Film: Judul: Sabaya | Sutradara: Hogir Hirori | Produser: Hogir Hirori, Antonio Russio Merenda | Produksi: Dogwoof, Lolav Media, Ginestra Film, Swedish Film Institute, YLE | Distributor: Folkets Bio |Genre: Dokumenter | Durasi: 91 menit | Rilis: 30 Januari 2021, Mola TV
- Seni Jalanan Masa Revolusi
Pada masa revolusi kemerdekaan, ruang-ruang publik di berbagai kota menjadi medan pertarungan visual Republik melawan Belanda. Dari mural, grafiti, poster, hingga baliho dalam bentuk yang masih sederhana. Sebagian besar dipakai sebagai propaganda membakar semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sejarawan seni rupa Mikke Susanto dalam webinar “Jakarta Art Movement: Vandalisme, Ruang Publik, dan Street Art”, Selasa, 31 Agustus 2021, mengatakan seni jalanan sesungguhnya sudah berkembang sejak 1930-an. Namun, kala itu sebagian besar karya masih jauh dari pesan-pesan revolusioner. Pasca Proklamasi, seni jalanan sontak ramai berpartisipasi dalam revolusi. Baca juga: Grafiti Setelah Proklamasi Mikke menyebut bahwa bentuk awal seni jalanan ( street art ) saat itu berupa stensil. Bentuk ini dipakai karena pembuatannya lebih mudah dan murah. Stensil yang dibuat juga masih sederhana dengan menggunakan negatif film dari kertas dan semprotan manual. Dari stensil, seni jalanan berkembang ke grafiti dan mural yang dibuat ditembok-tembok kota. Di Yogyakarta misalnya, sebuah tugu yang dulu berada di depan Hotel Garuda Malioboro menjadi titik strategis propaganda revolusi. Selain itu, poster-poster juga ditempel pada tembok dan kaca gedung, papan-papan, hingga pohon di pinggir jalan. “Nah, ini adalah bentuk pertarungan opini ya. Jadi bagaimana kemudian antara orang-orang Belanda dan pejuang-pejuang Indonesia itu berebut ruang,” jelas Mikke. Poster stensil digunakan pada masa revolusi karena mudah dan murah. (Dok. Mikke Susanto). Selain grafiti, mural, dan poster, ada pula seni jalanan berbentuk baliho. Dalam penelusurannya, Mikke menemukan baliho yang memuat visual laiknya komik. Konsep ini dipakai untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai situasi yang tengah terjadi. Konsep ini menjadi penting karena dapat menengahi minimnya publikasi-publikasi berbentuk buku. “Jadi kita bisa membaca dari panel ke panel yang kemudian di sana muncul narasi baru yang bisa dipersepsikan oleh para penyimak karya tersebut,” kata Mikke. Baca juga: Antara Estetika dan Propaganda Penempatan seni jalanan juga diperhatikan. Sama seperti konsep memasang patung di ruang publik, menurut Mikke, seni jalanan seperti baliho misalnya dibuat dengan mempertimbangkan jarak terbaik untuk dipandang atau dibaca. “Sehingga di sini kita perlu melihat bahwa kehadiran baliho itu memberikan satu dimensi ruang yang luar biasa sebagai bagian dari bentuk perjuangan kala itu,” terang Mikke. Grafiti yang dibuat pada gerbong kereta. (Dok. Mikke Susanto). Menurut amatan Mikke, seni jalanan masa revolusi juga tidak sembarang bikin. Para seniman ternyata juga memperhatikan komposisi, garis, hingga bidang ruang. Seni jalanan yang terlihat seperti goresan-goresan belaka ternyata buah pemikiran yang bersifat estetik. Selain dibuat di dinding atau papan, seni jalanan seperti grafiti juga ditorehkan pada gerbong kereta api. Ini dilakukan untuk menyebarluaskan berita Proklamasi dan semangat revolusi hingga ke kota-kota kecil yang dilalui kereta api. “Dengan demikian kita bisa membayangkan betapa grafiti itu punya pengaruh yang sangat besar di masa revolusi,” tegas Mikke. Baca juga: Bung, Saudara Serevolusi Mikke juga menambahkan, poster-poster kemudian dibuat dengan teknik yang lebih rumit dan dicetak. Adapula poster Sukarno yang dilukis oleh pelukis kenamaan Basuki Abdullah. Lukisan itu digandakan dengan ukuran A4 dan disebarkan ke seluruh Jawa. Tak hanya Basuki Abdullah, ada pula Affandi yang melukis poster revolusi “Boeng, Ajo Boeng!” D ia juga melukis poster kemerdekaan lain yang kemudian dikoleksi oleh Sukarno. Lukisan berjudul Laskar Rakjat M engatur Siasat (1946) itu kini tersimpan di Gedung Agung, Yogyakarta.
- Gugurnya Mayor Bahrin Yoga
SUASANA mencekam menyelimuti Desa Pancur Batu, Deli Serdang, 28 Juni 1947. Hari masih pagi tapi berbagai kelompok laskar dan tentara Republik sudah berjejal di mana-mana. Entah mengapa, kebanyakan dari mereka menampilkan wajah bengis. Alamat bakal terjadi pertempuran begitu terasa. “Di sana kami mendengar berita bahwa kemarin malamnya seorang mayor ditembak oleh seorang sersan mayor,” kenang Mohammad Radjab, wartawan kantor berita Antara, dalam reportasenya yang dibukukan berjudul Tjatatan di Sumatra . Saat itu, Radjab ditugaskan Departemen Penerangan Republik Indonesia untuk meliput kondisi perjuangan di Sumatra. Kasus penembakan yang terjadi ketika rombongannya singgah di Pancur Batu turut terekam dalam catatan Radjab. Warga setempat menyebutkan bahwa yang ditembak seorang Aceh sedangkan yang menembak orang Batak. Rombongan Radjab pun berlalu meneruskan perjalanan dengan meninggalkan kesan atas insiden yang baru saja disaksikan.
- Marsose dari Eropa sampai Perang Aceh
SIGAP, cepat, dan efektif. Begitulah pasukan Marsose ( Maréchaussée ) Belanda ketika mendesak pasukan Tjoet Nja’ Dhien sampai ke pedalaman Beutong Le Sageu pada suatu hari tahun 1906. Atas bocoran info dari pengkhianat bernama Pang Laot, pasukan Belanda itupun berhasil menangkap Tjoet Nja’ Dhien. Begitu epilog film Tjoet Nja’ Dhien (1988) garapan Eros Djarot. Perlawanan Tjoet Nja’ Dhien dan mendiang suaminya, Teuku Umar, dapat dipatahkan selain karena pengkhianatan juga karena efektivitas manuver-manuver kontra-gerilya pasukan Marsose . Bernama lengkap Korps Marechaussee te Voet, unit pasukan khusus Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda itu dibentuk pada 2 April 1890. Marsose dibentuk berangkat dari kebutuhan akan pasukan lebih mobile ketimbang pasukan reguler KNIL. Kebutuhan itu muncul akibat realitas medan pedalaman Aceh yang menyulitkan untuk perang frontal. Baca juga: Tjoet Nja’ Dhien Petarung Konsisten Berbeda dari Marsose di Hindia Belanda, Maréchaussée di Eropa atau Amerika Serikat sekadar unit kepolisian militer yang bukan diperuntukkan bagi peperangan gerilya. Sebelum di Hindia Belanda, unit Maréchaussée sudah eksis di Eropa. Ia sejatinya semacam provost atau polisi militer di masa sekarang; atau gendarmerie dalam istilah Prancis, feldgendarmerie (Jerman), Guardia Civil (Spanyol), dan Carabinieri (Italia). “Sebutan Maréchaussée yang berarti korps polisi berkuda diambil dari istilah militer Prancis, atau kavaleri provinsi di Prancis yang berpatroli sebagai penegak hukum. Lema itu sendiri berasal dari awal Abad Pertengahan: Prévôt des Maréchaux , atau pasukan yang menjaga jalan-jalan kota besar. Pada abad ke-18 Maréchaussée berubah fungsi seperti provost di kemiliteran untuk mendisiplinkan personel dan melakoni eksekusi,” tulis Harry M. Ward dalam George Washington’s Enforcers: Policing the Continental Army. Di Prancis, Maréchaussée kemudian direorganisasi menjadi Gendarmerie Nationale pada 1791 atau tiga tahun setelah Revolusi Prancis bergulir. Konsep kesatuan sejenis Maréchaussée kemudian dipakai di Belanda, Jerman, Italia, hingga Amerika Utara oleh Jenderal George Washington yang kemudian jadi presiden pertama Amerika Serikat. “Washington menyadari perlunya disiplin ketat pasukan. Perwakilan luar negeri di Pasukan Kontinental menyarankan dibentuknya Korps Maréchaussée. Panglima tertinggi meminta kepada Kapten Bartholomew von Heer untuk merancangnya dibantu Kolonel Henry Lutterloh. Rancangannya kemudian disetujui Kongres pada 29 Juli 1778,” sambung Ward. Ilustrasi Maréchaussée di Prancis (kiri) & Amerika Serikat (Lepressoir/Journal of the American Revolution) Keberingasan Maréchaussée di Aceh Sebagaimana Depot Specialetroepen (DST) yang kemudian berubah menjadi Korps Specialetroepen (KST) sebagai “penerusnya” di periode 1946-1949, Marsose merupakan pasukan khusus tentara kolonial Belanda. Ketiganya juga sama-sama berdarah dingin dalam melakoni tugas. “Korps Maréchaussée atau Marsose merupakan prajurit pilihan dari serdadu terbaik. Operasi gerilya lawan gerilya adalah konsep personel Marsose yang mengharuskan prajurit hidup seperti lawannya, yakni para pejuang Aceh di rimba yang buas dan kerapkali harus bertempur satu lawan satu dengan kelewang. Keberadaan Korps Marsose mendahului KST yang kemudian menjadi cikal-bakal Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD,” tulis Jean Rocher dan Iwan “Ong” Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis. Baca juga: Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa Perang Aceh yang bergulir sejak 1873 menjadi pertempuran terlama dan paling menguras keuangan pemerintah Hindia Belanda dibanding perang-perang kolonial lainnya. Kendati pemerintah mengklaim memenanginya pada 1904, faktanya perlawanan rakyat Aceh masih berjalan sampai Jepang datang tahun 1942 dan menewaskan lebih dari 37 ribu personel pasukan Hindia Belanda. “Perang Aceh hampir menelan biaya 1 miliar gulden bagi Belanda. Orang Aceh membuat Belanda kehabisan napas,” tulis Pavel Durdik, dokter militer KNIL, dalam catatan hariannya yang dikutip Rocher dan Iwan Ong. Joannes Benedictus van Heutsz (kiri) & Gottfried Coenraad Ernst “Frits” van Daalen yang membentuk Marsose (Tropenmuseum) Terlepas dari banyaknya kerugian yang diderita pemerintah kolonial, Perang Aceh sedikit demi sedikit bisa diredam pasukan Maréchaussée berkat efektivitasnya . Kelahiran Marsose merupakan perwujudan dari gagasan yang dilontarkan seorang jaksa (beberapa sumber menyebut bekas jaksa) di Kutaraja (kini Banda Aceh) bernama Mohamad Arif (beberapa sumber menyebut Muhammad Syarif). “Seorang anak Minang yang banyak berjasa membantu Belanda memenangkan Perang Aceh, yakni Muhammad Arif. Dia menjabat jaksa di Aceh sewaktu kedudukan Belanda hanya bertahan. Sekitar 1885 muncullah Muhammad Arif dengan gagasannya. Kumpulkan para sukarelawan dari kalangan tentara, katanya, yang cukup berani mendekati musuh, berani menaklukkannya dalam pertarungan jarak dekat. Mereka harus dipersenjatai dengan senjata tajam seperti orang Aceh, mencari musuh di tempat-tempat persembunyian mereka dan menghancurkan mereka,” ungkap Rusli Amran dalam Padang: Riwayatmu Dulu. Baca juga: KNIL dari Eropa ke Bumiputera Selain itu, kata Arif, pasukan itu harus dibentuk dengan unit-unit kecil dan persenjataan serta perlengkapan ringan agar lebih mudah bermanuver. Gagasan itu ia sampaikan kepada Gubernur Militer Aceh Jenderal Henri Karel van Teijn dan kepala staf Kapten Joannes Benedictus van Heutsz. Ketika gagasannya disetujui, termasuk oleh pemerintah pusat di Batavia, hasilnya adalah Marechaussee te Voet. Personil Marsose diambil dari serdadu KNIL pilihan. “Di bawah persetujuan pemerintah, gubernur jenderal memberi kewenangan membentuk Korps Marechaussee te Voet di Aceh. Korpsnya akan dikomando seorang kapten dibantu seorang letnan dan 12 sersan Eropa. Prajuritnya terdiri dari orang-orang bumiputera yang ditransfer dari KNIL berkekuatan 204 personil,” tulis suratkabar Bataviaasch Nieuwsblad , 13 Mei 1890. Panji Marsose (kiri) dan ilustrasi pasukannya karya pelukis Jan Hoynck van Papsendrecht ( kvkb.nl ) Marechaussee berada di bawah Van Heutsz yang naik pangkat jadi kolonel. Setelah Van Heutsz jadi gubernur militer, KNIL dan Marsose dikomandani Kolonel Gottfried Coenraad Ernst “Frits” van Daalen yang kelak dikenal karena pembantaiannya. Pemerintah pusat menggelontorkan dana 1.200 gulden per tahun khusus untuk Marsose. Jumlah tersebut dibagi untuk operasional, termasuk untuk menyokong gaji khusus harian para anggotanya. Perwira (kapten dan letnan) Marsose digaji 30 gulden; sersan mayor sebanyak 2,35 gulden; sersan dan bintara, 2 gulden; sersan Ambon, 1,80 gulden; prajurit Afrika, 1,22 gulden; dan prajurit bumiputera, 1,05 gulden. Baca juga: Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba Karena perwira maupun prajurit Marsose “comotan” dari KNIL, tak ada perubahan masif pada atribut maupun perlengkapan unit itu. Seragam tunic -nya sama seperti KNIL. Perbedaannya hanya terletak pada variasi pengenal, berupa pola garis kuning di kerah dan sakunya. Senjata tajamnya juga kelewang sebagaimana KNIL, namun senjata apinya diberikan yang lebih modern. “Korps Marechaussee beroperasi dengan pasukan-pasukan kecil yang kurang lebih 18 orang dengan persenjataan kelewang dan karaben repetir pendek (karbin Remington Rolling Block, red. ). Setelah tahun 1895 diganti semua dengan karaben baru, (Mannlicher) M95. Pasukan Marsose dilatih perang jarak dekat seperti gerilyawan Aceh. Ditugaskan mencari, mengejar, dan menghancurkan kelompok-kelompok gerilya Aceh di perbukitan, pegunungan, hutan belukar, lembah-lembah pedalaman yang luas. Cara baru ini membawa hasil yang memuaskan kaum kolonialis,” katan matan Pangdam Mulawarman Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Kolase perwira dan prajurit Marsose di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 (Tropenmuseum) Namun, dalam setiap operasi atau manuvernya, pasukan Marsose acap meninggalkan kekejaman berupa pembantaian. Hal itu tak lepas dari doktrin yang dikeluarkan perwiranya. Para perwira Marsose merespons perlawanan rakyat Aceh dengan membumihanguskan kampung-kampung yang diduga membantu gerilyawan dan menghabisi populasinya yang menolak menyerah pada Belanda. Salah satu kekejaman Marsose terjadi dalam kampanye Kolonel Van Daalen ke Gayo dan Alas pada 1904. Kampanye itu menewaskan 2.900 jiwa, termasuk 1.150 perempuan dan anak-anak di dalamnya. Yang paling memancing reaksi keras dari pihak Belanda sendiri terhadap kampanye itu adalah Pembantaian Benteng Kuta Reh( Bloedbad van Koetoh Reh ), 14 Juni 1904. Dalam operasi memburu gerilyawan Aceh yang bertahan di Benteng Kuta Reh itu, Van Daalen membawa 241 personil, termasuk 10 perwira Eropa. Baca juga: Van Heutsz, Pahlawan di Belanda Penjahat di Aceh Kolase Bloedbad van Koetoh Reh (Tropenmuseum) Walau kalah persenjataan, gerilyawan Aceh bersama ratusan warga yang terkepung pantang mengibarkan bendera putih. Mereka terus bertahan. Setelah satu setengah jam diserang, mereka akhirnya “disapu bersih”. Total 563 gerilyawan dan sipil, termasuk 189 perempuan dan 59 anak-anak, tewas di benteng itu. Sejak saat itu Marechaussee kondang akan kekejiannya hingga ia bubar seiring masuknya Jepang pada 1942. Tak hanya di Aceh, tapi juga di Sumatera Utara. “Pada watu itu timbul suara di Tweede Kamer Belanda yang mengutuk tindakan Van Daalen, seperti Victor de Stuers, sebagai pembunuhan massal yang biadab. Tetapi Perang Aceh tetap dilanjutkan karena masih menguntungkan kelompok kapitalis baru. Para kapitalis birokrat ini mendapatkan uang banyak dari pembelian atau produksi senjata dan perlengkapan baru,” tandas Hario Kecik. Baca juga: Ketika Amerika Menginvasi Aceh pada 1832
- Mengubah Wajah Bisbol dengan Moneyball
YANKEE Stadium begitu riuh oleh puluhan ribu penonton tuan rumah pada malam 5 Oktober 2001. New York Yankees begitu superior saat menjamu Oakland Athletics di game 5 American Division League (ADL) Series 2001. Billy Beane (diperankan Brad Pitt), General Manager Oakland A’s, memilih menyepi mendengarkan pertandingan itu lewat radio kecilnya. Dia serius dalam senyap di tribun stadion Oakland Coliseum. Billy insyaf tim bisbolnya yang hanya ber- budget 39,7 juta dolar tentu kalah tajir dari Yankees yang bernilai 114,4 juta dolar dalam semusim. Keinginannya membangun tim juara pun terbentur keterbatasan uang belanja sang pemilik Oakland A’s, Stephen Schott (Bobby Kotick). Schott menolak belanja besar-besaran walau Billy memohon untuk bisa membeli tiga pemain pengganti yang hengkang di akhir musim: Johnny Damon, Jason Giambi, dan Jason Isringhausen. Billy pun pasrah. Ia hanya bisa blusukan mencari pemain dengan dana terbatas. Baca juga: Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone Pandangan Billy terhadap bisbol tiba-tiba berubah setelah bertandang ke markas tim Cleveland Indians. Billy ke sana mulanya ingin bertemu GM Indians Mark Shapiro (Reed Diamond) guna bernegosiasi mendapatkan beberapa pemain, namun gagal. Kendati begitu, pertemuannya dengan Peter Brand (Jonah Hill) benar-benar mengubah pendekatan Billy terhadap bisbol dan itu menjadi fokus sutradara Bennett Miller dalam menggarap Moneyball . Film biopik olahraga ini diangkat dari kisah nyata Billy ditambah penguatan dari biografi tim Oakland A’s karya Michael Lewis berjudul Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game . Film ini mengisahkan tentang sebuah tim gurem yang hendak bangkit bermodalkan sejumlah perhitungan statistik. David Justice, Scott Hatteberg, dan Chad Bradford, pemain direkrut dengan metode statistik (Sony Pictures Entertainment) Cerita pun berganti ke adegan Billy pulang dari markas Indians. Alih-alih merekrut pemain, ia justru menjadikan Peter staf khususnya. Billy ingin lulusan anyar jurusan ekonomi Universitas Yale itu membangun tim berdasarkan hitungan kode statistik yang sejak 1970-an diperkenalkan pakar statistik Bill James namun tak pernah jadi perhatian tim-tim bisbol Amerika. “Ini kode-kode yang saya tulis untuk proyek tahunan. Kode-kode ini membangun pengetahuan untuk menilai pemain. Semuanya dirangkum menjadi satu angka. Menggunakan statistik untuk membaca mereka dan kita akan menemukan nilai pemain yang tak pernah bisa dilihat orang lain. Orang lain menilai dengan alasan bias dan hanya dengan perasaan: umur, penampilan fisik, kepribadian. Bill James dan matematikanya melangkahi itu semua,” kata Peter. Baca juga: Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata Dengan bantuan Peter, Billy tak hanya mendapat belasan tapi sampai 20 ribu calon pemain potensial yang sesuai anggaran. Peter mencontohkan reliever (pelempar cadangan) bernama Chad Bradford (Casey Bond). Bradford diremehkan banyak scout (pemandu bakat) hanya karena gaya melemparnya yang aneh. Namun di mata Peter, Bradford adalah pelempar yang efektif jika menengok catatan statistiknya. Billy yang terkesan pun menjalankan pendekatan radikal dalam membangun tim musim barunya. Selain Braford, Billy mendatangkan outfielder veteran, David Justice (Stephen Bishop), dan catcher yang bermasalah pada syaraf di tangannya, Scott Hatteberg (Chris Pratt). Pelatih Art Howe (kiri) & kepala scout Grady Fuson yang menentang metode statistik " moneyball " (Sony Pictures Entertainment) “Revolusi” Billy sayangnya ditentang sekumpulan scout senior Oakland A’s. Ketegangan pun terjadi hingga berujung pada pemecatan ketua scout Grady Fuson (Ken Medlock). Grady tak habis pikir Billy memilih percaya membangun tim hanya berdasarkan komputer dan angka ketimbang pengalaman dan intuisi tim scout -nya. Masalah tak berhenti sampai di situ. Kepala pelatih Art Howe (Philip Seymour Hoffman) menolak menurunkan para pemain baru itu. Perang dingin pun terjadi dan Billy terpaksa menukar sejumlah pemain langganan Howe agar para rekrutan barunya bisa dimainkan. Baca juga: Race, Drama Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Nazi Billy juga percaya takhayul bahwa jika ia menonton langsung pertandingan, timnya akan kalah. Maka itu ia tak pernah menyaksikan langsung laga. Kala timnya bertanding, ia memilih ke luar stadion untuk putrinya, Casey Beane (Kerris Dorsey). Maklum Billy hanya punya jatah bertemu seminggu sekali setelah cerai dari istrinya, Sharon Beane (Robin Wright). Tanpa dinyana, keputusan Billy tepat. Setelah Howe mengalah, Oakland A’s justru memetik rekor dalam sejarah bisbol Amerika dengan 20 kemenangan beruntun. Pendekatan “ moneyball ” itu bahkan menarik perhatian pemilik klub Boston Red Sox, John W. Henry (Arliss Howard). Henry mengajukan tawaran 12,5 juta dolar dan jika diterima, Billy akan jadi general manager (GM) dengan bayaran tertinggi dalam sejarah bisbol Amerika. Apakah Billy dengan “ moneyball ”-nya benar-benar bisa mengubah wajah bisbol? Saksikan keseruan lanjutan filmnya di aplikasi daring Mola TV. Tim Oakland A's yang mencetak 20 kemenangan beruntun sebagai imbas metode statistik " moneyball " (Sony Pictures Entertainment) Uang Bukan Segalanya Sebagaimana tone film yang cukup bervariasi antaraterang dan muram, music scoring film ini pun cukup berwarna. Gemuruh penonton di stadion juga dihadirkan. Komposer Mychael Danna mengiringi beberapa adegan sang tokoh utama, Billy Beane, dengan variasi melodi mengharukan, lagu pop bertajuk ‘The Show” yang dipopulerkan biduan Lenka, serta musik instrumen khas 1980-an. Iringan instrumen 1980-an itu cukup penting karena sutradara Miller membuat alur dramanya maju-mundur ke masa Billy masih jadi pemain. Di masa lalu itu Billy pernah membuat keputusan terbesar dalam hidupnya berdasarkan uang dan ia tak ingin mengulanginya lagi. “Dia adalah orang yang pernah dinilai begitu tinggi semasa jadi pemain dan sekarang bekerja sebagai GM di tim papan bawah. Terdapat jurang yang begitu besar bagi tim-tim seperti ini, di mana mereka takkan pernah bisa setara, mereka takkan pernah bisa kompetitif,” kata Brad Pitt, si pemeran utama, kepada National Public Radio , 13 Februari 2012. Baca juga: Membangkitkan Kasti yang Mati Suri Kolase adegan Billy Beane yang mengombinasikan metode moneyball dengan pendekatan personal (Sony Pictures Entertainment) Di situlah Beane ingin mengubah peta perbisbolan Amerika. Kisahnya yang didramatisir dalam Moneyball juga menggambarkan pembuktian bahwa bahwa uang bukan segalanya untuk menang sehingga tim beranggaran kecil sanggup bersaing dengan tim kaya. Sang sineas juga menyajikan banyak hal yang jarang diketahui penonton terkait bagaimana intensnya negosiasi di balik layar dari setiap perekrutan pemain. Hal lainnya, penggambaran bahwa metode “moneyball” tak serta-merta bisa membuahkan kemenangan instan. Selain perhitungan statistik, dibutuhkan pula pendekatan personal antara pelatih atau GM kepada pemain. Hal itu sebelumnya sangat jarang terjadi di tim-tim bisbol Amerika. Ini tak pernah didapatkan Billy semasa berkarier sebagai pemain profesional. Belajar dari Masa Lalu Billy lahir di Orlando, Florida pada 29 Maret 1962 dengan nama lahir William Lamar Beane III. Sejak kecil sudah mengenal bisbol dari ayahnya yang seorang perwira Angkatan Laut Amerika. Billy berbakat dalam American football, basket, dan bisbol. Namun, Billy kemudian fokus pada bisbol. Ia bahkan sudah masuk tim utama sekolahnya di tahun ajaran pertamanya. Menjelang lulus, banyak tawaran dari tim-tim bisbol profesional mendatanginya lantaran Billy punya lima bakat alamiah dalam bisbol: running, fielding, throwing, hitting, dan hitting hard. Di sisi lain, Billy juga mendapat tawaran beasiswa kuliah sambil bermain untuk tim kampus Universitas Stanford. “Billy Beane adalah bintang olahraga SMA Mount Carmel, di mana ia memimpin tim sekolahnya memenangi kejuaraan bisbol dan basket. Dia sempat ditawari beasiswa Universitas Stanford sebelum datang tawaran dari tim kami,” kata eks-GM Boston Red Sox, Lou Gorman, dalam otobiografinya, High and Inside: My Life in the Front Offices of Baseball. Baca juga: Kurt Russell dari Bisbol ke Hollywood Pada 1980, datang pula tawaran dari New York Mets. Nilai kontraknya terbilang sangat besar untuk seorang pemain semuda Billy, yakni 125 ribu dolar (setara 392 ribu dolar saat ini atau Rp.5,2 miliar dalam kurs 2020). Ibunya cenderung menginginkan Billy menerima beasiswa Stanford, sementara sang ayah mempercayakan keputusan itu pada putranya sendiri. “Suatu hari ayahnya menantang Billy adu panco. Billy sempat terkejut walau kemudian Billy yang menang. Setelahnya sang ayah mengatakan pada Billy bahwa jika ia sudah berani mengalahkan ayahnya dalam adu panco, maka ia sudah cukup dewasa untuk menentukan keputusan dalam hidupnya. Tawaran dari Mets adalah keputusan besar pertama bagi Billy,” tulis Michael Lewis dalam Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game. Sosok asli William Lamar 'Billy' Beane III (kanan) yang diperankan aktor William Bradley 'Brad' Pitt (Sony Pictures Entertainment/mlb.com) Selain nilai kontrak yang menggiurkan, rayuan scout Mets Roger Jongerwaard begitu manis dengan banyak hal yang dijanjikan. Billy pun luluh untuk menandatangani kontrak dengan Mets di jendela transfer Major League Baseball (MLB) 1980. “New York adalah dunia baru baginya. Seumur hidup ia hampir tak pernah meninggalkan San Diego. Saat penyambutan pemain baru, Billy tercengang mendapat sapaan para pemain besar: Lee Mazzilli, Mookie Wilson, Wally Backman. Ia mengatakan: ‘Saya akan bermain dengan mereka. Mets seperti tempat keramat dan saya ada di dalamnya. Mimpi itu jadi nyata,’” kata Lewis. Baca juga: Rush Memicu Adrenalin hingga Garis Finis Namun ekspektasinya masih jauh dari realita. Billy tak langung diturunkan di tim utama. Mets memutuskan Billy lebih dulu beradaptasi di tim satelit yang bermain di liga bawah, seperti Little Fall Mets, lalu Lynchburg Mets, dan Jackson Mets. Billy baru dipromosikan ke tim utama Mets pada musim 1984 walau penampilannya justru mulai menurun dan tak bisa mencapai ekspektasi terdahulu. “Beane tak pernah sukses di liga kecil. Angka rata-rata batting -nya (memukul) hanya .210 di musim pertama dan .211 pada 1982. Beberapa tahun kemudian Beane memang muncul di tim Mets tapi akhirnya ditukar dengan pemain Minnesota Twins, Tim Teufel,” ungkap Brett Topel dan Greg W. Prince dalam Mount Rushmore of the New York Mets. Billy Beane semasa di Mets (kiri) & Oakland Athletics ( jeffreykeeten.com/Oakland A's) Semenjak “dibuang” Mets ke Twins, Billy jadi pribadi yang temperamental. Kegagalan demi kegagalan dalam memukul atau menangkap bola memperparah rasa frustrasinya. Mentalnya jatuh menghujam tanah dan oleh karenanya Billy tak pernah bisa bangkit lagi meski kemudian terus berganti tim dari Twins ke Detroit Tigers pada 1988 hingga Oakland A’s pada 1989. Walau merasa kariernya di lapangan habis, Billy belum mau jauh dari bisbol. Pada April 1990, ia mendatangi GM Oakland A’s Richard Lynn ‘Sandy’ Alderson dan melamar jadi scout untuk Oakland A’s. Di bawah Schott sang pemilik baru, Alderson diminta membangun tim dengan dana terbatas. Dari Alderson pula Billy, yang kemudian naik menjadi asisten GM, belajar statistik dalam bisbol yang dikenal dengan istilah “ sabermetrics ”. Baca juga: Rasisme Memuakkan Klub Israel dalam Forever Pure Sabermetrics atau SABRmetrics adalah hitung-hitungan matematika dan data statistik yang dipopulerkan Bill James sejak 1971. Hal ini juga menjadi pelurusan fakta yang digambarkan dalam Moneyball bahwa Billy baru mengenal sabermetric dari seorang analis muda Peter Brand pada 2002. “Sebenarnya Aldersonlah yang memperkenalkan sabermetrics di kepengurusan A’s sejak pertengahan 1980-an dan kemudian mengajarkan itu kepada Beane pada pertengahan 1990-an,” tulis Benjamin Baumer dan Andrew Zimbalist dalam The Sabermetric Revolution: Assessing the Growth of Analytics in Baseball. Figur George William 'Bill' James (kiri) & Richard Lynch 'Sandy' Alderson ( mlb.com ) Ketika menggantikan Alderson sebagai GM Oakland A’s pada 17 Oktober 1997, Billy sudah menerapkan sabermetrics untuk merekrut para pemain baru. Ia dibantu Paul DePodesta, mantan pemain Cleveland Indians yang direkrut Billy jadi asisten GM. Tokoh Peter Brand dalam Moneyball merupakan penggambaran sosok DePodesta yang didramatisir. Keberhasilan Billy dengan sabermetrics -nya terjadi di musim 2002 walau ia harus puas sekadar mencetak sejarah bisbol dengan 20 kemenangan beruntun. Meski begitu, berkat Billy pula sejumlah petinggi tim bisbol lain mau membuka mata lebih lebar soal sabermetrics yang sebelumnya disepelekan. Bos Red Sox bahkan sampai merekrut “Bapak Sabremetrics ” Bill James ke jajaran timnya pada 2003. Baca juga: Lima Gebrakan Revolusioner Wenger Billy juga memanfaatkan data statistik pemain setelah terinspirasi dua manajer tersukses dalam sepakbola Inggris, Sir Alex Ferguson (Manchester United) dan Arsène Wenger (Arsenal). Billy sangat terkesan dengan filosofi keduanya, terutama Wenger, dalam memantau data statistik pemain berprospek cerah yang kemudian diasah jadi pemain bintang yang sangat bernilai. “Wenger bertahun-tahun mampu menemukan pemain muda atau bakat mentah, lalu dikembangkan dan dijual dengan keuntungan besar. Emmanuel Adebayor, Nicolas Anelka, Samir Nasri, Marc Overmars, Emmanuel Petit, Robin van Persie, dan Kolo Touré hanya sebagian dari bukti metode ekonomi dan stastistik Wenger. Filosofi Beane juga bergantung pada statistik untuk mengidentifikasi talenta potensial, bertaruh pada pengembangannya dan dijual mahal. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Moneyball Effect ,” tulis John Cross dalam The Inside Story of Arsenal Under Wenger. Manajer legendaris Arsène Charles Ernest Wenger (kiri) yang diidolakan Billy Beane ( premierlague.com/passionmlb.com ) Deskripsi Film: Judul: Moneyball | Sutradara: Bennett Miller | Produser: Michael De Luca, Rachael Horovitz, Brad Pitt | Pemain: Brad Pitt, Jonah Hill, Chris Pratt, Philip Seymour Hoffman, Reed Diamond, Casey Bond, Kerris Dorsey, Bobby Kotick, Robin Wright, Stephen Bishop | Produksi: Columbia Pictures, Scott Rudin Productions, Michael De Luca Productions, Rachael Horovitz Productions, Plan B Entertainment | Distributor: Sony Pictures Releasing |Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 133 menit | Rilis: 9 September 2011, Mola TV
- Pecah Kongsi Pemuda Pasca Proklamasi
LEPAS isya di Asrama Mahasiswa Prapatan 10, Jakarta. Enam puluhan orang bersiap gelar rapat penentuan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), badan legislatif sementara Republik Indonesia. Mereka menunggu Sukarno dan Hatta tapi tak kunjung datang. Rapat tetap berlangsung hingga pukul 22.00. Dalam rapat 22 Agustus 1945 itu, Sutan Sjahrir sempat berbicara. Dia berkomentar tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagi dia, cara Proklamasi kurang sreg. “Dianggapnya sebagai made in Japan ,” kenang Alizar Thaib dalam 19 September dan Angkatan Pemuda Indonesia. Sjahrir anti-Jepang, tapi dia condong “lunak” terhadap Sekutu. “Sjahrir sama sekali tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa kita harus menyiapkan diri untuk berperang, sehingga perdamaian atau memakai jalan perundingan merupakan satu-satunya alternatif cara perjuangan Sjahrir,” tulis Hadidjojo Nitimihardjo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo. Rapat selama dua jam itu tak mencapai kesepakatan siapa saja nama-nama yang akan menjadi anggota KNIP. Meski rapat sudah bubar, masih ada sepuluh orang bertahan di ruang rapat. Mereka anggota Komite van Aksi, komite yang dibentuk oleh kelompok pemuda dari Prapatan 10 dan Menteng 31 untuk mempersiapkan Proklamasi. Nama itu mengacu pada nama jalan dan nomor kediaman mereka. Kelompok Prapatan 10 terdiri dari mahasiswa kedokteran Ika Daigaku yang terpengaruh kuat pemikiran Sutan Sjahrir, sedangkan Menteng 31 berasal dari pemuda-pemuda yang beraliran kiri dan cenderung lebih revolusioner. Dua kelompok inilah yang terlibat aktif dalam mendesak Sukarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Tapi setelah Proklamasi, Prapatan 10 dan Menteng 31 berbeda pendapat tentang langkah selanjutnya yang harus ditempuh oleh gerakan pemuda. Prapatan 10 berupaya mengikuti saran Sjahrir dengan membentuk organisasi damai semacam palang merah. Sebab Sekutu dan Belanda akan datang lagi ke Indonesia. Itu dikatakan Sjahrir seusai rapat di depan anggota Komite van Aksi. “Kalian tidak tahu bahwa Sekutu menang perang dan Belanda salah satu anggota Sekutu. Sebaiknya kita bentuk organisasi. Biarlah orang-orang Belanda itu kita terima. Sesudah lima tahun kita adakan pemberontakan,” kata Sjahrir seperti dikutip oleh A.M. Hanafi dalam Menteng 31 Membangun Jembatan Dua Angkatan. Mendengar itu, anggota Komite van Aksi terdiam. Lalu Djohar Noor, perwakilan kelompok Prapatan 10 di Komite van Aksi, berteriak, “Tidak! Tidak!” tanda ketidaksetujuan pada usulan Sjahrir. Dia lebih sepakat Komite van Aksi melakukan aksi frontal seperti pengambilalihan markas tentara Jepang dan memobilisasi massa seperti telah ditetapkan pada 15 Agustus 1945. Eri Soedewo, salah satu anggota Komite van Aksi dari Prapatan 10, bangkit dari duduknya dan menghampiri Djohar. Dia tak sepakat dengan usulan itu dan buru-buru mengajak Djohar ke ruangan lain. Eri mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke kening Djohar. Terasa dingin bagi Djohar. Nyawanya hampir lepas. “Sabar-sabar,” kata Djohar. Saat itu, para pemuda dan mahasiswa membawa senjata api sudah kaprah. Kemudian Eri mengatakan, “Revolusi sudah gagal. Pemimpin-pemimpin mesti menanggung akibatnya. Kau mengorbankan mahasiswa, padahal mahasiswa itu bunganya bangsa.” Djohar lantas menanyakan apa mau Eri. “Mari kita dirikan palang merah. Berdemonstrasi di jalan-jalan dengan slogan-slogan. Di mana-mana, di tembok dan gedung-gedung kita coreti slogan dengan pinsil dan kwas,” kata Eri sambil menurunkan pistolnya. Djohar meminta Eri untuk merapatkan usulan itu dengan anggota lainnya. Eri lalu menjadi pemimpin rapatnya. Ketika Eri memimpin, Djohar mewanti-wanti anggota Komite van Aksi lainnya untuk berhati-hati dengan Eri karena dia punya niat untuk membunuh mereka. Untuk menyelamatkan mereka, Djohar memasukkan teman-temannya ke mobil jenazah agar segera keluar dari Prapatan 10. Dalam rapat, Eri menelanjangi kegagalan penerapan gagasan kelompok Menteng 31 yang memilih menggunakan cara-cara frontal dan konfrontatif untuk melucuti kekuasaan Jepang. Tapi wakil-wakil Menteng 31 membela diri. “Bukan bermula dari kesalahan kami, pemuda Komite van Aksi. Sebab yang utama dan pertama-tama ialah kegagalan dari pihak Daindancho Kasman Singodimedjo,” terang Hanafi. Kelompok pemuda telah meminta Kasman untuk merebut senjata-senjata tentara Jepang. Setelah itu, senjata akan diberikan ke pemuda. Tapi Kasman tak segera melakukannya. Jepang keburu menyingkirkan senjata itu. “Maka nama Kasman Singodimedjo di lingkungan kami berubah menjadi ‘Singa Kentut di atas Meja’,” lanjut Hanafi. Hanafi menambahkan, julukan itu bukan bermaksud menghina. “Ini melukiskan situasi psikologis di kalangan barisan para pemuda revolusioner pada waktu itu,” sebut Hanafi. Djohar lalu dapat kesempatan berbicara. Dia mengajukan opsi kepada para pemuda untuk memilih: ikut Komite van Aksi atau Eri Soedewo. “Siapa yang mau ikut dengan saya bersama dalam Komite van Aksi Proklamasi, mari ke Menteng 31,” kata Djohar. Rapat makin kisruh. Perpecahan kian nyata. Kelompok Prapatan 10 menyangsikan strategi Komite van Aksi. Chaerul Saleh, wakil kelompok Menteng 31, minta kesempatan berpendapat. Jam telah menunjukkan hampir pukul 3 dini hari. Dia mencoba menengahi ketegangan rapat. Menurutnya, orang-orang yang berada di ruangan itu, yang menyusun langkah-langkah Komite van Aksi setelah kemerdekaan, telah mengorbankan segalanya untuk Republik. “Mereka adalah avant garde nasional Indonesia... Tidak satu pun di antara kawan-kawan kita anggota Komite van Aksi yang tukang catut seperti yang saudara-saudara sangsikan dan curigai,” kata Chaerul. Chaerul juga mengatakan jika ada ketidakcocokan, selesaikan baik-baik. Dan pada akhirnya, dia mengucapkan terima kasih kepada kelompok Prapatan 10 telah memperkenankan asramanya dipakai untuk menggelar rapat-rapat penting. Ucapan Chaerul berhasil meredakan ketegangan, tapi tidak mampu mencegah perpecahan kelompok pemuda. Kelompok Prapatan 10 tetap menempuh jalannya sendiri seperti usulan Eri Soedewo. Perjuangan kelompok pemuda terpecah dua.*
- Melihat Lebih Dekat "Lukisan" Kehidupan Margaret Keane
MARGARET (Amy Adams) akhirnya mengambil keputusan berat dalam hidupnya pada suatu hari itu di tahun 1958. Sejumlah lukisan di dinding rumahnya ia copoti. Setelah koper-koper pakaian dan peralatan lukisnya selesai dikemas, ia nyalakan mesin mobil. Tancap gas. Ia tak mau lagi menengok ke belakang, ke rumahnya di California Utara. Perceraian dengan suaminya, Frank Ulbrich, menjadi pil pahit yang tak perlu dimasukkan dalam “laci” ingatannya. Margaret membawa Jane kecil (diperankan Delaney Raye) untuk memulai kehidupan baru di San Francisco. Berbekal bakat melukis, Margaret lalu melamar pekerjaan sebagai ilustrator di sebuah pabrik furnitur. Ia juga mendapat kenalan baru, Walter Keane (Christoph Waltz), seorang makelar properti yang mengaku jadi pelukis amatir. Walter terkesan dengan hasil karya Margaret berupa karakter-karakter anak kecil dengan ekspresi buram. Yang menjadikan lukisan cat akrilik di atas kanvas itu unik adalah semua karakter punya proporsi mata besar. Kebanyakan lukisan anak kecil itu menggunakan Jane sebagai modelnya, yang dikreasikan menjadi anak perempuan atau bahkan bocah laki-laki. Baca juga: Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim Benih-benih asmara perlahan tumbuh di antara keduanya sampai kemudian menikah. Margaret mau menikahi Walter demi mempertahankan hak asuh Jane yang sedang digugat Frank. Di era 1950-an, seorang ibu tunggal dianggap tak layak mengasuh anak dan menikahi Walter adalah solusi terbaik. Bab baru kehidupan Margaret itulah yang mengantar ke adegan-adegan selanjutnya film bertajuk Big Eyes . Drama biopik garapan sutradara kondang Tim Burton ini mengisahkan lika-liku dan kontroversi kisah Peggy Doris Hawkins yang punya banyak alias: Margaret Ulbrich, Margaret Keane, Margaret McGuire. Adegan pertemuan Margaret dengan Keane di sebuah pameran terbuka (The Weinstein Company) Baik Margaret maupun Walter, bermimpi punya galeri sendiri. Walter konsisten melukis dengan tema perkotaan Eropa dan Margaret konsisten dengan lukisan-lukisan bocah bermata besar. Margaret mengaku lukisan-lukisannya sangat personal. “Aku percaya kita bisa melihat banyak hal dengan mata. Mata adalah jendela jiwa. Mata adalah caraku mengekspresikan emosiku. Ketika kecil aku pernah dioperasi dan membuatku tuli sementara hingga tak bisa mendengar apapun. Jadi aku hanya bisa menatap dan bergantung pada mata orang lain,” kata Margaret. Baca juga: Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata Bagi Walter, mata besar ciri khas Margaret itu begitu menarik. Pada suatu hari di tahun 1960, ia bahkan sampai memamerkannya di beberapa bidang tembok sebuah klub malam. Berkat bantuan Dick Nolan (Danny Huston), wartawan gosip dan pencari sensasi asal The Examiner , karya-karya itu mulai populer di kalangan sosialita. Namun secara picik, Walter mengakui lukisan-lukisan itu adalah karyanya. Padahal, identitas pelukis di sudut kiri bawah lukisannya tertulis “Keane”. Adegan Margaret yang mulai tertekan karena karyanya diklaim sang suami (The Weinstein Company) Kritikus seni senior John Canaday (Terence Stamp) meremehkannya. Namun lukisan-lukisan itu tetap laku di pasaran sampai Walter bisa memiliki galeri sendiri. Margaret pun mulai tertekan. Ia tak rela karyanya diakui sebagai karya sang suami. Ia merasa terjebak. Di satu pihak ia ingin diakui sebagai senimannya, di lain pihak, sang suamilah yang mampu menggaet para pembeli sampai mereka punya rumah mewah. Baca juga: A Private War , Perang Batin si Wartawati Perang Margaret terpaksa terus berbohong pada Jane yang mulai dewasa (diperankan Madeleine Arthur) bahwa lukisan-lukisan yang membuat mereka kaya adalah karya Walter. Konfliknya akhirnya mencapai puncak di New York’s World Fair 1964. Karya 100 anak bermata besar dalam satu kanvas yang dipamerkan jadi target kritik tajam Canaday. Walter yang frustrasi dalam keadaan mabuk membuat Margaret dan Jane kabur dari rumah dan menetap di Hawaii. Bagaimana Margaret dan putrinya kembali membuka “kanvas” kehidupan baru mereka? Saksikan sendiri drama yang penuh warna itu di aplikasi daring Mola TV. Lukisan Realita Kaum Perempuan Tim Burton mengemas Big Eyes dengan tone gambar bernuansa pastel agar penonton lebih mudah merasakan suasana era 1950-an dan 1960-an. Music scoring yang landai, syahdu tapi khas pada masanya garapan komposer Danny Elfman menambah kuat nuansa era tersebut. Big Eyes juga memberikan insight tersendiri –terlepas dari pendalaman seni rupa secara artistik– terkait realitas kehidupan kaum perempuan di masa itu yang masih relevan saat ini. Saat itu kaum perempuan masih dipandang sebelah mata, terutama di keluarga yang jadi unit terkecil kehidupan masyarakat. Realitas bahwa seorang perempuan yang bercerai secara hukum dianggap tak layak mengasuh anaknya sendiri menjadi pesan yang coba disampaikan Burton. Burton juga gamblang menggambarkan situasi di mana untuk mendapatkan pekerjaan seorang perempuan selalu disyaratkan izin laki-laki di keluarganya, entah suami atau ayah. Pun di dunia seni, amat langka kaum perempuan saat itu mendapat pengakuan dari media massa. Baca juga: Seberg Melawan Arus Sutradara Timothy Walter 'Tim' Burton saat mengarahkan Amy Adams yang memerankan Margaret (The Weinstein Company) Amy Adams si pemeran Margaret juga patut diapresiasi. Ia begitu apik memerankan sosok perempuan di masa itu yang selalu hanya bisa diam dan pasif. Kala itu amat langka perempuan yang berani bersuara tanpa izin suami atau ayah mereka. “Kisah mereka merepresentasikan kenyataan, di mana gagasan mimpi keluarga Amerika yang ideal dengan seorang suami, istri, dan anak-anak mulai berubah. Dengan kisah keluarga Keane, Anda melihat hubungan yang tak berfungsi sebagaimana mestinya, di mana mereka menciptakan keluarga melalui lukisan anak-anak yang aneh itu. Kisah mereka, secara simbolis, menjadi representasi perubahan masa dari era 1950-an. Mereka menangkap semangat perubahan itu dengan cara yang aneh,” kata Burton kepada Direct Conversations , 22 Desember 2014. Siapa Margaret Keane? Berkeliling Eropa sampai belajar di sekolah seni Beaux Arts selalu diumbar Walter kala menerangkan dari mana ia mendapat bakat seninya. Padahal, sebagaimana digambarkan dalam Big Eyes , Walter sebetulnya tak pernah bisa melukis. Bagaimana dengan Margaret? Sayangnya, latar belakang Margaret sangat minim digambarkan dalam Big Eyes . Hanya ada dua penjelasan tentang masa lalunya, yakni ia tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan ajaran Gereja Methodist dan pernah mengenyam studi seni di Watkins Art Institute di Nashville. Baca juga: Zainal Beta, Sang Pelukis Tanah Air Peggi Doris Hawkins alias Margaret Keane yang turut 'nongol' sebagai cameo di biopik Big Eyes (The Weinstein Company) Margaret lahir di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat pada 15 September 1927 dengan nama Peggy Doris Hawkins. Terutupnya keluarga membuat informasi mengenai latar belakang keluarganya cukup minim. “Orangtuanya tercatat bernama David R. Hawkins, kelahiran Alabama dan Jessie J. Hawkins yang asli Tennessee. Kedua orangtuanya lahir di masa pergantian abad. David disebutkan mencari nafkah sebagai agen asuransi. Mereka tinggal di rumah sewa di Dyersburg dengan bulanan USD25 dolar,” tulis Cletus Nelson dan Adam Parfrey dalam Citizen Keane: The Big Lies Behind the Big Eyes. Baca juga: Misteri Kematian Pelukis Frida Kahlo Margaret kecil merupakan gadis pemalu dan introvert. Ia sering sakit-sakitan dan seperti yang digambarkan dalam film, telinga kirinya pernah tuli sementara setelah menjalani operasi mastoid (infeksi tonjolan telinga) pada usia dua tahun. Maka itu ia hanya mengandalkan tatapan mata kala berkomunikasi dengan orang lain. “Cukup lama ia tuli pada telinga kirinya dan seraya merenung secara spiritual, di masa itu juga Margaret menemukan dan mengembangkan obsesinya. Pada wawancara tahun 2012 ia mengatakan: ‘Saya selalu senang melukis. Saat kecil saya selalu menggambar’,” imbuh Nelson dan Parfrey. Margaret semasa muda (kiri) dan Amy Adams yang memerankan sosoknya (majalah LIFE edisi 20 November 1970/The Weinstein Company) Sang ibu yang melihat bakat alami Margaret lalu mengarahkan putrinya ikut berbagai kelas seni di masa sekolah dasar. Di situlah Margaret mulai mengalihwahanakan hobinya menggambar di buku tulis ke kanvas. Sejak kecil pula Margaret terobsesi melukis mata besar. Inspirasinya lahir dari dua faktor. Selain karena faktor kesehatan di atas, di mana ia menggantungkan ekspresi lewat mata, Margaret juga terilhami keyakinannya sebagai anggota Gereja Methodist yang merupakan aliran Protestan yang tetap meyakini adanya Tuhan tapi mempertanyakan banyak hal yang terjadi di dunia. “Mata (besar) itu menyiratkan tanya. Kenapa, kenapa ada penderitaan? Apa tujuan kehidupan. Saya melukiskan perasaan terdalam saya dan saya mencari jawaban atas banyak pertanyaan,” kata Margaret dikutip Jennifer Warner dalam Big Eyes and All . Baca juga: Lukisan Kehidupan Soenarto Pr Inspirasi itu lalu ia interpretasi dan ekspresikan ke atas kanvas menggunakan cat akrilik ataupun cat minyak dengan gaya “kitsch” (sketsa yang populer sejak akhir abad ke-19). Beranjak remaja saat sekolah di Watkins Art Institute, Margaret mulai terpengaruh beberapa seniman seperti Frederick Dielman (1847-1935) dan Amedeo Modigliani (1884-1920). Dari Dielman, Margaret memperdalam gaya kitsch dan dari Modigliani, Margaret mendapat pengaruh tentang potret perempuan. Setelah menikah dengan Frank Ulbrich pada 1948 dan kemudian melahirkan Jane, Margaret tetap melukis potret perempuan dewasa. Baru dari Jane yang kemudian sering dijadikannya model lukisanlah Margaret melukis seorang anak bermata besar. “Ketika putri saya masih bayi, saya sudah mulai melukis potret dirinya dan saya melukisnya dengan mata yang lebih besar dari mata normal,” sambung Margaret, dikutip Nelson dan Parfrey. Sosok Walter Stanley Keane (kanan) yang diperankan Christoph Waltz ( Youngstown Vindicator edisi 10 Desember 1961/The Weinstein Company) Setelah bercerai dengan Ulbrich pada 1955 karena alasan yang tak pernah diungkapkannya, Margaret menikah lagi dengan Walter Keane di tahun yang ditemuinya pertamakali dalam sebuah pameran lukisan di taman terbuka. Keduanya lalu pindah ke San Francisco. Kehidupan Margaret dan Walter cukup detail dilukiskan Burton dalam Big Eyes. Hampir semua yang terjadi di antara mereka ditampilkan sesuai fakta dan hanya sedikit yang didramatisir. Baca juga: Karya-Karya Sang Perupa Sederhana Margaret baru berani buka suara soal Walter pada 1970, lima tahun usai bercerai. Menurutnya, semua lukisan bocah bermata besar yang diakui hasil karya Walter sejatinya adalah karyanya. Untuk membuat pengakuan publik itu Margaret mendapat dorongan mental dari suami ketiganya, Daniel McGuire, seorang wartawan olahraga. “Mulanya Margaret mengaku tak tahu kelakuan suaminya dan kemudian syok setelah mengetahuinya. Walter juga mengancamnya jika ia berani buka rahasia itu. Margaret akhirnya berani bicara ketika sudah bercerai sejak 1965. Dia mengatakan: ‘Saya yang melukis itu semua. Dia tak bisa melukis mata besar. Dia bahkan tak bisa belajar melukis,’” ujar Margaret dikutip majalah LIFE , 20 November 1970. Margaret bersama karya berjudul "Exhibit 224" ( keane-eyes.com/ LIFE , 20 November 1970) Margaret tak menanggalkan nama “Keane” dalam karya-karyanya sampai kini. Kemudian, identitas itu ditambahkan inisial nama gadisnya, menjadi “MDH Keane”. Itu tersua antara lain di salah satu lukisannya yang paling kondang, “Exhibit 224”. Lukisan “Exhibit 224” dibuat Margaret kurang dari satu jam di ruang sidang pengadilan distrik Hawaii pada medio Mei 1986. Saat itu dia sedang menggugat Walter soal hak cipta lukisan “mata besar” dan sudah berjalan tiga pekan. Hakim Samuel P. King memutuskan penggugat dan tergugat agar membuktikan klaim masing-masing guna menentukan siapa yang salah dan benar. Sang hakim lalu memberi perlengkapan lukis yang sama kepada keduanya dan waktu masing-masing satu jam agar Margaret dan Walter membuat lukisan di atas kanvas berukuran 28x35,5 cm. Baca juga: Keris dalam Lukisan Rembrandt Ditantang begitu, Walter berdalih tak bisa melukis karena lengannya sedang nyeri. Sementara, Margaret mulus membuat sketsa dengan pensil yang diparipurnakan menggunakan cat akrilik warna-warna pastel. Lukisannya berupa gambar wajah close-up bocah laki-laki bermata besar dan berambut cokelat yang tengah berada di sebuah ruang persidangan dengan background berwarna biru. Margaret memberinya judul “Exhibit 224” lantaran lukisan itu menjadi barang bukti ke-224 dalam persidangan. “Lukisannya selesai sekitar satu jam. Itu lukisan tercepat yang pernah saya hasilkan. Saya menggambar kedua matanya, hidung, dan mulut; lalu selama rehat makan siang saya menggambar rambutnya dan latarnya,” sambung Margaret. Hakim dan para juri amat terkesan dengan “Exhibit 22”. Margaret diputuskan memenangkan gugatan dan mendapat kompensasi sebesar empat juta dolar. Kolase karya-karya Margaret Keane alias MDH Keane ( keane-eyes.com ) Deskripsi Film: Judul: Big Eyes | Sutradara: Tim Burton | Produser: Tim Burton, Scott Alexander, Larry Karaszewski, Lynette Howell | Pemain: Amy Adams, Christoph Waltz, Delaney Raye, Madeleine Arthur, Danny Huston, Terence Stamp | Produksi: Tim Burton Productions, Silverwood Films, Electric City Entertainment | Distributor: The Weinstein Company |Genre: Drama Biopik | Durasi: 106 menit | Rilis: 25 Desember 2014, Mola TV
- Tjoet Nja’ Dhien Petarung Konsisten
RUANGAN sederhana di pedalaman Aceh itu hening dan temaram diterangi obor di suatu malam pada 1896. Di sana, Teuku Umar (diperankan Slamet Rahardjo) sedang bertukar pikiran dengan para panglimanya. Pemimpin gerilya Aceh itu lalu merenung sejenak sebelum mengutarakan niatnya melancarkan serangan fisabilillah terhadap kaphe-kaphe Belanda. “Kalian harus ingat! Udep saree , matee syahid !” ujar Teuku Umar kepada pasukannya yang disambut gema takbir serentak. Sang istri, Tjoet Nja’ Dhien (Christine Hakim), dan putrinya, Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti), hanya bisa mendoakan. Sebagai perempuan Aceh, ia pun muak dengan keberingasan Belanda sejak Perang Aceh yang bergulir 23 tahun ke belakang. Baca juga: Semesta Wiro Sableng Menyapa Dunia Kolase sosok Teuku Umar (Tangkapan Layar Mola TV) Sementara, petinggi militer Belanda di Kutaradja (kini Banda Aceh) yang belajar dari pengalaman, mendatangkan ribuan pasukan Korps Marechaussee te Voet pimpinan Letkol Johannes Benedictus van Heutsz (Huib van den Hoek) dari Jawa. Pasukan khusus anti-gerilya itu punya taktik lebih mobile dan bengis. Gabungan pasukan Marechaussee dan tentara reguler KNIL (Tentara Hindia Belanda) itu, yang diperkuat informasi dari pengkhianat bernama Teuku Leubeh (Muhamad Amin), mampu mematahkan perlawanan Teuku Umar. Teuku Umar tertembak dan tewas kala menyerang Belanda di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Tetapi itu bukanlah akhir dari perjuangan rakyat Aceh. Kematian Teuku Umar justru menggelorakan semangat Tjoet Nja’ untuk meneruskan perlawanan. “Berjuang melawan kaphe-kaphe Belanda adalah bagian dari keimanan… Aku bersyukur karena yang ada di sekelilingku sekarang hanyalah mereka, orang-orang kita, yang mengerti arti perjuangan dalam keimanan,” ujar Tjoet Nja’ Dhien. Baca juga: Wiro Sableng si Pendekar Konyol dan Ajaran 212 Letnan Kolonel Joannes Benedictus van Heutsz yang memimpin Korps Marechaussee (Tangkapan Layar Mola TV) Adegan-adegan itu jadi permulaan film drama Tjoet Nja’ Dhien. Film ini disutradarai penulis Eros Djarot. Adegan beringsut ke upaya Tjoet Nja’ Dhien membawa keluarga dan warganya melanjutkan jihad dengan bergerilya di pedalaman. Ia bersama Pang Laot (Piet Burnama), panglima yang paling setia sejak masa Teuku Umar, memimpin sisa pasukan mendiang suaminya. Tak hanya cermat dalam taktik gerilya, Tjoet Nja’ juga pandai menjalin jaringan untuk mendukung perjuangannya dari segi perbekalan dan persenjataan. Suatu waktu, ia menyamar jadi rakyat jelata untuk masuk ke Meulaboh dan bertemu Habib Meulaboh (Rosihan Anwar). Ia diberikan bantuan harta yang digalang sang habib untuk perjuangan. Tjoet Nja’ lalu menggunakan harta itu untuk membeli senjata api dari seorang saudagar Portugis. Baca juga: Kemasan Anyar Nagabonar Adegan negosiasi Tjoet Nja' Dhien dengan saudagar Portugis (Tangkapan Layar Mola TV) Sang saudagar Portugis mengaku terkesan dengan perjuangan Tjoet Nja’. Jika perwira-perwira Belanda melancarkan perang berkepanjangan demi harta dan tahta, Tjoet Nja’ berperang dengan tulus demi membebaskan negerinya dari penjajah Belanda. “Semua ini politik. Bila pemberontakan berhenti, pemerintah pusat juga akan menghentikan dana perang yang begitu besar jumlahnya. Kenapa Van Heutsz bawa pasukan begitu besar? Hanya untuk uang, pangkat. Money and glory . Mereka itu berjuang demi gaji. Dunia ini penuh permainan. Banyak juga orangmu yang jadi pengkhianat hanya karena uang ,” kata sang saudagar itu. “Bagaimana dengan tuan sendiri?” tanya Tjoet Nja’. “Ingat, Tjoet Nja’, aku seorang pedagang. Di mana ada uang mengalir, di situlah aku berada. Kalau ada pedagang besar teriak-teriak: ‘Aku berjuang untuk negeri ini!’ Ah, omong kosong. Aku benci orang munafik.” Baca juga: De Oost dan Ikhtiar Menyembuhkan Luka Lama Sosok Teuku Leubeh, saudagar besar yang mengkhianati perjuangan rakyat Aceh (Tangkapan Layar Mola TV) Kata-kata sang saudagar ditujukan pada pengkhianatan Teuku Leubeh. Ia juga yang menginformasikan di mana dan kapan bisa menghabisi sang pengkhianat itu. Namun, pembunuhan terhadap Teuku Leubeh tak menghentikan pengkhianatan. Tjoet Nja’ kemudian mengendus pengkhianatan Nja’ Fatma, pembantunya sendiri, yang mengaku terpaksa melakukannya demi membebaskan suami dan anaknya. Fatma lantas dibunuh Nja’ Bantu (Rita Zaharah), pembantu lain Tjoet Nja’. Ketika Tjoet Nja’ tergolek sakit, Nja’ Bantu mengorbankan diri dalam sebuah pertempuran. Ia memakai pakaian selaiknya Tjoet Nja’ untuk memimpin pertempuran. Baca juga: De Oost , Perang Westerling di Timur Jauh Pang Laot yang mengaku terpaksa berkhianat demi keselamatan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Makin lama, perlawanan Tjoet Nja’ makin lemah. Pada 1906 ia terdesak ke pedalaman Beutong Le Sageu dengan kondisi kesehatan yang memburuk serta jumlah pasukan dan persenjataan yang menipis. Kondisi itu membuat Pang Laot kian prihatin dan akhirnya membelot. Diam-diam ia menemui perwira Marechaussee, Kapten Veltman (Rudy Wowor). Dia lalu mengultimatum Tjoet Nja’: jika bersedia bekerjasama, akan diberi jaminan perawatan dan takkan diasingkan dari tanah Aceh. Bagaimana kelanjutan kisah Tjoet Nja’ Dhien yang dikhianati panglima terdekatnya itu? Biar lebih seru, sepatutnya Anda saksikan sendiri di aplikasi daring Mola TV . Versi Restorasi Tjoet Nja’ Djien yang ditayangkan Mola TV sejak 17 Agustus 2021 ini adalah film versi kedua hasil restorasi. Mengutip laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 10 Juli 2021, film yang memenangi Piala Citra di kategori film terbaik Festival Film Indonesia 1988 ini ditransformasi dari pita seluloid ke Digital Camera Package (DCP) agar secara visual dan audionya lebih jernih. Film Tjoet Nja’ Djien mulanya punya dua salinan. Salinan pertama berdurasi 132 menit, dirilis pada 1988. Versi kedua durasinya lebih pendek, 108 menit, dan dirilis setahun setelahnya. Versi kedua itulah yang lantas direstorasi oleh IdFilmCenter Foundation, Haghefilm Digitaat, dan Eye Filmmuseum dalam kurun 2017-2018 dengan alasan bahwa kualitas audio versi 1989 lebih baik dan lebih mudah untuk direstorasi ketimbang versi 1988. Baca juga: Bumi Manusia Rasa Milenial Lantunan syair-syair Aceh untuk membangkitkan semangat pasukan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Hasilnya, generasi sekarang bisa lebih sedap menghayati alur demi alur kisah perjuangan Tjoet Nja’ Dhien tanpa terganggu gambar buram dan suara yang buruk. Sang sutradara selain menyemarakkan film dengan adegan-adegan peperangan nan epik juga menyuguhkan pemandangan bentangan alam pegunungan hingga pantai elok tanah Aceh. Audio yang direstorasi juga membuat penonton bisa lebih merasakan suasana Aceh lewat music scoring melankolis Melayu garapan komposer Idris Sardi. Nuansa kultur Aceh makin terasa dengan lantunan syair-syair Aceh yang diiringi rapai (alat musik tabuh khas Aceh). Baca juga: Tabula Rasa yang Menggugah Selera Hasil restorasi juga sangat terang memampang berbagai detail wardrobe dan properti yang terbilang apik di masanya. Para gerilyawan Aceh digambarkan tak hanya berjuang dengan rencong, tombak, dan klewang namun juga sudah membawa senapan seperti blunderbuss. Detail properti dan wardrobe KNIL dan Marechaussee sangat kentara hasil riset matang. Berbagai atribut seragamnya cukup sesuai dengan masanya, pun dengan senjata karbin Mannlicher M-1888 yang sohor sebagai senjata khas Marechaussee selain klewang. Kendati begitu, bukan berarti hasil versi restorasinya sempurna. Banyak cutting saat pergantian adegan tak begitu halus atau presisi. Alhasil, cukup mengganggu. Keturunan Petarung yang Konsisten Rambut memutih, kerutan di wajah, dan usianya tak muda lagi tak mengurangi semangat Tjoet Nja’ untuk angkat senjata. Kharisma membuat pengikutnya begitu hormatinya dan lawannya begitu menyeganinya. “Dhien, istri (Teuku) Umar, adalah wanita yang berbahaya. Dia adalah putri dari Teuku Nanta Seutia, musuh besar Jenderal van Swieten. Dan suami pertamanya, Ibrahim Lam Nga, juga seorang panglima perang. Saya juga pernah menjelaskan ini kepada Tuan Snouck Hurgronje. Dialah otak dari Teuku Umar,” terang sang pengkhianat, Teuku Leubeh, kepada Letkol Van Heutsz dalam sebuah adegan di film. Baca juga: Christine Hakim Bicara tentang Tjoet Nja' Dhien Sosok Tjoet Nja' Dhien yang diperankan Herlina Christine Natalia Hakim (Wikipedia/Mola TV) Dialog itu jadi upaya tim produksi menampilkan latarbelakang singkat Tjoet Nja’ yang lahir di Lampadang (kini Lamteh) sekitar tahun 1848. Mengutip H. M. Zainuddin dalam Srikandi Atjeh , ayahnya, Teuku Nanta Seutia, merupakan uleebalang di wilayah Kesultanan Aceh. Ia masih punya garis keturunan Datuk Makhudum Sati, salah satu perantau Minangkabau pertama di tanah Aceh. Sementara, ibunya sampai kini masih samar identitasnya. Hanya disebutkan ia putri dari seorang uleebalang . “Teuku Nanta Muda Seutia Radja menikahi seorang putri bangsawan Lampagar. Sebab itu pula ia dianggap seorang uleebalang yang gagah berani oleh Sultan Alaiddin Mansjursjah. Teuku Nanta Seutia mendapat 2 orang putra dan seorang putri. Di antaranya dua anak laki-laki itu seorang meninggal, seorang lagi Teuku Tjut Rajeuk kurang sempurna akalnya. Anak yang putri dinamainya Tjut Dhien dan elok parasnya, baik budi pekertinya dan tingkah lakunya tangkas,” tulis Zainuddin. Baca juga: Cut Nyak Dhien Berhijab? Sebagai salah satu uleebalang dan panglima, Teuku Nanta Seutia turut menyabung nyawa menghadapi kolonial Belanda yang mendeklarasikan perang terhadap Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Dalam serangkaian perlawanannya, turut pula seorang uleebalang lain, Teuku Ibrahim Lam Nga, suami pertama Tjoet Nja’. “Awal mula perang dipicu kesepakatan Traktat Sumatera 1871 antara Inggris-Belanda yang memberikan keleluasaan Belanda meluaskan pengaruh di Pulau Sumatera dan Inggris menguasai Semenanjung Malaya. Pihak Inggris dan Belanda mengabaikan kedaulatan Kesultanan Aceh yang sebelumnya diakui dalam Traktat London 1814. Ketika itu kekuasaan kolonial diberi hak mengeksplorasi merica dan hasil hutan,” tulis Jean Rocher dan Iwan Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis. Kolase Teuku Umar, suami kedua Tjoet Nja' Dhien (KITLV) Para pejuang Aceh menghadapi pasukan ekspedisi kedua Hindia Belanda yang turun dari kapal frigat Citadel van Antwerpen di pesisir timur Aceh. Pasukan ekspedisi itu terdiri dari 10 ribu kombatan KNIL pimpinan Jenderal Jan van Swieten yang dilengkapi dua senjata mesin gatling dan 75 meriam. Teuku Ibrahim syahid pada Juni 1878 dalam sebuah pertempuran di Lembah Beurandeun Gle’ Taron, sementara Teuku Nanta kembali ke kampung halamannya karena usia yang kian renta. Setelah beberapa bulan menjanda, Tjoet Nja’ dilamar Teuku Umar. Teuku Umar bukanlah orang asing baginya. Dari silsilah, Teuku Umar terhitung masih keponakan Teuku Nanta Seutia. Tjoet Nja’ bersedia dengan memberi syarat diperbolehkan ikut bergerilya bersama suaminya. Baca juga: Upaya Belanda Mengalahkan Aceh Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Tjoet Nja’ bersama putrinya, Tjoet Gambang, berikrar melanjutkan jihad sebagai seorang janda. Ia mengikuti heroisme Laksamana Keumalahayati kala menghadapi armada Portugis dan VOC (Kongsi Hindia Timur) di peralihan abad ke-16 dan abad ke-17. “Tradisi kepahlawanan perempuan Aceh telah dibangun 4 atau 5 abad sebelum mereka terlibat perang dengan Belanda. Laksamana Keumalayahati, seorang jenderal militer pertahanan laut Kesultanan Aceh, mampu menjadi penguasa laut berpengaruh dan disegani di seluruh Laut Andaman, Laut Aceh, Selat Malaka sampai pantai barat Sumatera. Keumalayahatilah yang menundukkan Portugis dan Spanyol di seluruh kekuasaan perairan Aceh,” ungkap Juftazani dalam De Atjeh Oorlog: 1873-1890 . Adegan penangkapan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Taktik gerilya Tjoet Nja’ dan sejumlah tokoh Aceh di wilayah lain melelahkan Belanda dan pihak Aceh. Selain menggembosi kas pemerintah kolonial di Batavia, gerilya Tjoet Nja’ hingga empat dekade kemudian perang itu menimbulkan korban jiwa terbesar Belanda. “Dari seluruh perang di kepulauan Nusantara, Perang Aceh adalah yang paling kejam dan berdarah. Perang Aceh adalah ujian kekuasaan Belanda dan KNIL. Secara keseluruhan jumlah prajurit Belanda yang gugur mencapai 37 ribu atau 10 kali lipat jumlah korban serdadu Belanda dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949),” tulis Rocher dan Iwan. Baca juga: Kemenangan dan Kegagalan di Aceh Namun, perlawanan Tjoet Nja’ dapat dipatahkan karena banyaknya pengkhianatan. Terakhir adalah pengkhianatan Pang Laot dengan niat “menyelamatkan” Tjoet Nja’ yang pada 1906 sudah menderita encok dan penglihatannya makin rabun. Ia pun disergap pasukan Belanda yang dipimpin Letnan van Vuuren setelah mendapat informasi lokasi persembunyiannya dari Pang Laot. “Setelah pasukannya dikepung, Cut Nyak Dien mencabut rencongnya. Dia bermaksud menikam serdadu Belanda tapi berhasil dicegah. Setelah gagal, Cut Nyak Dien bermaksud menikam rencongnya ke dadanya sendiri yang juga berhasil dicegah. Setelah semua usahanya gagal, Cut Nyak Dien memaki-maki serdadu Belanda dengan mengatakan ia tidak ingin badannya dipegang tentara kafir. Badannya telah lemas tapi semangatnya tetap menyala. Letnan Van Vuuren kagum melihat keberanian pemimpin wanita Aceh ini. Ia memberikan penghormatan militer karena Cut Nyak Dien adalah musuh tentara Belanda yang satria,” tulis Mardanas Safwan dalam Teuku Umar. Setelah ditangkap, semangat non-kooperasi Tjoet Nja’ tak luntur. Ia menolak pemberian akomodasi dan logistik dari pihak Belanda. Sikap tersebut terus dibawanya hingga akhir hayat. Potret Tjoet Nja' Dhien (duduk, kedua dari kiri) di usia senjanya kala diasingkan di Sumedang (Tropenmuseum) Deskripsi Film: Judul: Tjoet Nja’ Dhien | Sutradara: Eros Djarot | Produser: Alwin Abdullah, Alwin Arifin, Sugeng Djarot | Pemain: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Rudy Wowor, Hendra Yuniarti, Piet Burnama, Muhamad Amin, Robert Syarif, Rosihan Anwar, Rita Zahara, Huib van den Hoek, Herald Meyer | Produksi: Kanta Indah Film | Genre: Drama Biopik | Durasi: 105 menit | Rilis: 1988, 17 Agustus 2021 (Mola TV) .
- Dua Korea Nyaris Perang Gara-Gara Dahan Pohon Ditebang
KENDATI tugasnya di “daerah panas” perbatasan Korea tinggal tiga hari, Kapten Arthur G. Bonifas dari pasukan UN Command tetap berupaya menjalankan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin. Tak ada tugas berat menantinya, terlebih setelah calon penggantinya tiba. “Penggantinya –Kapten Ed Shirron, yang tingginya enam kaki enam dan lebih dari dua ratus pound bahkan besar menurut standar Merry Monk– telah tiba. Arth menghabiskan hari-hari terakhirnya di Korea untuk mengajak Shirron berkeliling, bersiap untuk pergantian komando pada tanggal dua puluh satu, dan merencanakan satu tugas yang belum selesai di JSA –pemangkasan pohon poplar Normandia,” tulis Rick Atkinson dalam The Long Gray Line: The American Journey of West Point’s Class of 1966 . Pada 18 Agustus 1976, Bonifas bersemangat memimpin sekelompok pekerja Korean Service Corps (KSC) berikut para personel perbatasan yang mengawalnya memangkas sebuah pohon poplar setinggi 40 kaki di dekat Jembatan Sach’on (Bridge of No Return) –yang merupakan batas antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut)– di sisi barat daya Joint Security Area (JSA), Demilitary Zone (DMZ) Panmunjom, Korsel. Kendati bukan pekerjaan berat, pemangkasan tersebut bisa berbahaya bagi mereka dan membahayakan keamanan lebih luas. Pasalnya, letak pohon yang akan dipangkas berada di wilayah yang dikelola bersama pasukan penjaga perbatasan kedua negara. Para penjaga perbatasan Korut sama leluasanya bergerak di sana dengan penjaga perbatasan Korsel. Hal-hal sepele bisa memicu konflik yang dapat meningkat eskalasinya dengan cepat. “Konfrontasi fisik sudah menjadi hal biasa di JSA. Penjaga Korea Utara seringkali meludahi, mendorong, atau meneriakkan ancaman dan kata-kata kotor kepada tentara Amerika dan Korea Selatan; baru-baru ini pada Juni 1975, Mayor William Handerson menderita kerusakan permanen pada laringnya setelah ditendang tenggorokannya di luar gedung gencatan senjata.” Lantaran seringnya terjadi insiden kekerasan itulah para personel UNC dan perbatasan Korsel pimpinan Bonifas memeriksa kondisi pohon poplar dekat jembatan pada 6 Agustus 1976. Pohon itu didapati terlalu rimbun. Kerimbunan itu mengakibatkan pandangan antara Pos Checkpoint UNC No. 3 –pos perbatasan terluar Korsel– dan Pos Observasi No. 5 menjadi terhalang. Jika dedaunan tidak dipangkas, mereka yang di Pos Observasi No. 5 tak bisa melihat jembatan dan keadaan rekan-rekan mereka di Pos No. 3 sehingga bila terjadi hal membahayakan personel Pos No. 3, rekan-rekan di Pos No. 5 tidak akan bisa membantu. Dipimpin Bonifas yang ditemani wakilnya Lettu Mark T. Barrett dan penerjemah Kapten AD Korsel Kim Moon-Hwan, enam pekerja KSC dikawal 10 personel dari Detasemen UNC mendatangi lokasi pohon pada pukul 10 pagi lewat, 18 Agustus 1976. Peralatan yang mereka bawah hanyalah tangga, kapak, gergaji, linggis, dan pipa plus dua pistol di pinggang Bonifas dan Barrett. “Sebagai tindakan pencegahan, dua puluh orang Pasukan Reaksi Cepat dipindahkan ke Pos Pemeriksaan PBB No. 2, tepat di dalam JSA, siap untuk campur tangan jika penebangan pohon diganggu Korea Utara. Kelompok pekerja juga menempatkan pegangan pick di belakang truk mereka, tetapi mengikuti Perjanjian Gencatan Senjata, tidak membawa senjata selain pistol,” tulis John K. Singlaub dan Malcolm MacConnell dalam Hazardous Duty: An American Soldier in the Twentieth Century . Pemangkasan dimulai pukul 10.30. Namun baru lima menit pekerjaan berjalan, sebuah truk Korut datang. Sembilan tamtama plus dua perwira Korut langsung menghampiri mereka yang sedang memangkas dan para pengawal mereka. Lettu Pak Chol, komandan pasukan Korut, langsung menanyakan apa yang sedang dilakukan para penjaga perbatasan Korsel itu. Setelah diberitahu bahwa mereka sedang memangkas, Lettu Pak meresponnya dengan mengatakan “bagus.” Perkataan Pak segera diikuti kalimat prajurit-prajuritnya yang berupaya mengajarkan cara memangkas pohon yang benar. Dua puluh menit kemudian, Pak menghampiri Bonifas. Dia perintahkan perwira asal West Point, AS itu agar menghentikan pekerjaannya. Hal itu ditolak Bonifas yang menambahkan bahwa anak buahnya akan menyelesaikan pekerjaan dan baru pergi. Mendapat jawaban begitu, Pak meradang. Dia mengatakan apabila pemangkasan tetap dilanjutkan, akan menimbulkan masalah serius. “Ketika pasukan pekerja pergi untuk memangkas pohon, mereka diberitahu tentara Korea Utara bahwa Anda tidak dapat memotong pohon ini karena Kim Il Sung sendiri yang menanam dan memeliharanya dan tumbuh di bawah pengawasan ini,” ujar Pak, dikutip James Cunningham dalam “Officer Recalls Ax Murder Incident” yang dimuat Indianhead , 15 September 2006. Lantaran diacuhkan, Pak marah lalu mengirim seorang prajuritnya melintasi perbatasan untuk meminta bantuan. Tak lama berselang, sebuah truk menurunkan 10 prajurit Korut sementara enam prajurit lain datang dengan berlari dari pos penjagaan terdekat. Hampir 30 personel Korut pun mengelilingi 13 personel UNC dan enam pekerja KSC. Situasi panas tersebut diabadikan kamera oleh beberapa personel pasukan Reaksi Cepat UNC yang sedang memantau situasi melalui radio di pos mereka. Tak lama kemudian, saat seorang personel NCO Amerika berupaya memperingatkan Kapten Bonifas, terdengar suara Lettu Pak mengeluarkan perintah: “ Chookyo ! (Bunuh!).” Para personel Korut langsung menyerang pasukan Bonifas. Letnan Pak lalu menendang selangkangan Kapten Bonifas dan langsung jatuh. Tiga personel Korut yang mengerubunginya langsung menyerangnya. Setelah merebut kapak, linggis, pipa logam, dan tongkat berat peralatan kerja KSC, beberapa personel lain segera menyerang penjaga UNC, berkonsentrasi pada perwira Amerika dan NCO. “Beberapa penjaga Korea Utara mengambil kapak yang telah digunakan pekerja Korea Selatan dan menggunakannya dalam penyerangan. Seperti dalam serangan Korea Utara sebelumnya, personel UNC secara individual diisolasi dari partai utama mereka dan diserang pasukan Korea Utara yang jumlahnya lebih banyak,” tulis Chuch Downs dalam Over the Line: North Korea’s Negotiating Strategy. Pasukan Korea Utara yang telah dibagi ke dalam tim penyerang yang efisien segera menyebar lalu mengejar para personel UNC. Tongkat dan pipa baja diayunkan untk melumpuhkan para personel UNC. Seorang personel Komunis langsung menjepit lengan seorang Amerika untuk mencegah menggunakan senjatanya. Kapten Bonifas yang tergeletak di tanah sambil terus menangkis tendangan dan pukulan akhirnya tewas dipukuli seorang tentara Komunis. Lettu Barrett dikejar enam personel Korut bersenjatakan tongkat, kapak, dan pipa baja di sekitar truk dan melewati tembok rendah. Dia akhirnya tak berdaya juga. “Para prajurit PBB bergantung pada perwira mereka untuk memerintahkan penggunaan senjata, tetapi para perwira itu tewas pada detik-detik pertama serangan itu. Untungnya, seorang tentara Amerika membebaskan diri dan mampu mengemudikan truk UNC melewati huru-hara, memaksa mundur Komunis, sementara para pekerja KSC naik ke atas. Pengalihan itu memungkinkan penjaga UNC lain membantu rekan-rekan mereka yang babak belur,” tulis Singlaub dan MacConnell. Sekejap kemudian, pasukan Reaksi Cepat UNC tiba di bagian DMZ Korea Utara. Insiden itu berakhir sekitar empat menit kemudian. Mereka kemudian mencari Lettu Barrett yang tidak ditemukan, dan akhirnya menemukan mayatnya dengan kondisi tengkorak hancur di selokan tak jauh dari jalan. UNC tak terima. Usulan pertemuan dengan pihak Korut untuk memprotes pembunuhan tersebut segera dilayangkan. Namun itu ditolak Korut dengan alasan telah meminta pertemuan petugas keamanan untuk membahas insiden tersebut. Di Washington D.C, Kelompok Penasihat Khusus Dewan Keamanan Nasional langsung membahas opsi-opsi yang akan diambil. Pemerintah AS lalu memutuskan mengambil tindakan militer dan diplomatik. Setelah memberi tahu delegasi PBB dan Dewan Keamanan PBB tentang serangan Korut, skuadron pembom F-111 dipersiapkan dan kapal induk USS Midway di Jepang diperintahkan ke perairan dekat Korea. Rencana untuk memasuki JSA dengan unjuk kekuatan militer dan menebang pohon poplar (Operasi Paul Bunyan) segera dibuat militer AS-Korsel di pasukan UNC. Di dalamnya termasuk rencana kontingensi untuk mengatasi kemungkinan eskalasi situasi selama operasi penebangan pohon. Rencana darurat termasuk opsi bagi pasukan AS-ROK menyerang dan menduduki Kaesong, kota Korea Utara yang terletak di utara DMZ, jika Korea Utara menolak operasi penebangan pohon. Juga disiapkan penggunaan artileri, namun batal dilakukan karena Presiden Korsel Park Chung-hee tidak menginginkan aksi militer. Menlu AS Henry Kissinger meminta kepala staf gabungan (JCS) memeriksa keinginan mengarahkan tembakan artileri terhadap barak pasukan keamanan Komisi Gencatan Senjata Militer (Military Armistice Commission/MAC) Korut bersamaan dengan operasi penebangan pohon. Namun, JCS lebih memilih opsi lain seperti penggunaan amunisi udara berpemandu presisi, rudal permukaan-ke-permukaan, dan peperangan non-konvensional tim Sea, Air, Land (SEAL) untuk menghancurkan instalasi militer atau infrastruktur penting Korea Utara, serta kemungkinan menghancurkan Bridge of No Return. Esoknya, 19 Agustus, status siaga AS-ROK dinaikkan menjadi Defence Condition (DEFCON) 3. Status pengintaian juga dinaikkan menjadi Watch Condition (WATCHCON) 3. Di Pyongyang pada hari yang sama, Panglima Tertinggi Korean Peoples Army (KPA) Kim Il Sung memerintahkan seluruh unit KPA dan seluruh anggota Pengawal Merah Buruh-Tani dan milisi Pengawal Merah Muda mengambil pos masing-masing dalam kesiapan tempur. Pada 19 Agustus, JCS memerintahkan pengiriman 20 F-111 dari daratan Amerika Serikat ke Korea Selatan di samping pengiriman Gugus Tugas angkatan laut –berisi kapal induk Midway , satu kapal perusak, dan empat fregat– dari Yokosuka ke perairan Korea, pesawat pengebom B-52 dari Guam ke Korea Selatan, dan 1.800 personel Divisi Marinir Ketiga AS dari Okinawa ke Korea Selatan. Pada 20 Agustus, Presiden AS Gerald Ford menyetujui rencana operasi penebangan pohon yang direncakan (Operasi Paul Bunyan). Pada 21 Agustus, Operasi Paul Bunyan dilaksanakan dengan menyelesaikan pamangkasan pohon yang belum selesai dilakukan tiga hari sebelumnya. Pasukan Korut yang berada di JSA tak memberi respon terhadap show of force singkat pasukan UNC itu. Di hari yang sama, Pemimpin Korut Kim Il Sung menyampaikan penyesalannya atas insiden yang terjadi. Perang besar di depan mata pun berhasil dihindari.*
- Gadis Maluku Pembawa Tombak
SAPARUA, 1817. Thomas Matulesia atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura memulai perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda di Maluku. Semangat perjuangannya kemudian menjalar ke berbagai wilayah di kepulauan tersebut. Di Ambon, Kapitan Ulupaha menyerang kota dan berusaha menguasai Benteng Victoria. Sementara di Nusa Laut, peperangan berkobar dengan dipimpin Kapitan Abubu bersama putrinya yang pemberani: Martha Christina Tiahahu. Martha barangkali sosok perempuan Maluku paling dikenal hingga hari ini. Ia menjadi salah satu simbol perjuangan Maluku melawan Belanda, selain Kapitan Pattimura. Perjuangannya menjadi ikonik karena ia masih belia ketika turut sang ayah bertempur. Kapan Martha dilahirkan masih belum jelas. Namun, catatan Belanda menyebut bahwa ia masih berusia antara 16 hingga 18 tahun ketika meletus peperangan pada 1817. L.J.H. Zacharias dalam Marta Christina Tiahahu, memperkirakan Martha lahir di Nusa Laut sekira tahun 1800. Martha telah kehilangan ibunya sejak kecil. Maka, sang ayah Paulus Tiahahu menjadi satu-satunya panutan baginya. Paulus bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang kapitan. Nama Tiahahu sendiri berasal dari kata “ Atihahu ” yang berarti “melompat seperti babi.” Ini menandakan bahwa sang empunya nama punya kecakapan bertarung seperti babi yang melompat-lompat ketika mengamuk. Karena ayahnya menyandang gelar “Kapitan Abubu”, Martha sering menguping pertemuan para kapitan. Ia banyak belajar mengenai perjuangan melawan penjajah hingga strategi-strategi perang. “Oleh karena itu tidak heran bahwa tugas sehari-hari ayahnya sebagai kapitan dikenal dengan baik sekali oleh Martha Christina Tiahahu dan tugas itu berbekas dan turut membentuknya ketika ia menginjak remaja,” tulis Zacharias. Pada 1817, suasana politik di Maluku begitu panas. Pasalnya, Belanda baru saja merebut wilayah ini dari Inggris yang telah dua kali bekuasa, yakni pada 1796-1803 dan 1810-1817. Sejak Inggris berkuasa, sikap rakyat Maluku terhadap Belanda juga berubah. Mereka tak lagi kagum terhadap negeri kincir air itu. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, mula-mula pemberontakan pecah di Saparua. Kapitan Pattimura bersama pasukannya berhasil menduduki Benteng Duurstede pada Mei 1817. “Setelah Residen Belanda di Saparua berikut keluarganya (kecuali seorang anak kecil) dibunuh, pihak Belanda mengirim bala bantuan dari Batavia,” tulis Ricklefs. Di Nusa Laut, Kapitan Abubu dan Hehanusa, Raja Titawaai, juga memulai perlawanan. Martha yang awalnya dilarang ayahnya ikut berperang, akhirnya turun juga ke palagan. Dengan rambut berombak yang terurai, ia begitu semangat menggunakan tombak dan parang. Pemberontakan makin menjalar. Kapitan Ulupaha yang sudah lanjut usia dan harus ditandu bahkan telah menyerang pos-pos Belanda di Pulau Ambon. Peperangan ini mengharuskan pimpinan tertinggi militer Belanda, Laksamana Buyskes, turun gunung. Buyskes harus berhadapan langsung dengan pasukan Pattimura dengan mengandalkan armada lautnya, kapal Maria Reygersbergen dan Iris serta bantuan kapal Inggris The Dispatch . Pattimura berhasil dikalahkan dan Benteng Duurstede kembali dikuasai Belanda. Menurut buku Sejarah Daerah Maluku , kampung-kampung di Pulau Lease juga berhasil diduduki. Perlawanan di daerah lainnya juga berhasil dilucuti. Pattimura ditangkap dan divonis hukuman mati bersama tiga orang lain termasuk Kapitan Abubu. Mereka digantung di depan Benteng Victoria, Ambon pada Desember 1817. Tahanan yang lain akan dikirim ke Jawa dan menjalani kerja paksa di perkebunan kopi. Martha yang turut dalam tahanan tersebut dibebaskan karena dianggap masih terlalu muda. Martha kemudian mengasingkan diri ke hutan. Meski bebas, Belanda masih mengawasi Martha karena khawatir gadis itu akan merepotkan Belanda nantinya. Martha juga disebut tengah mengumpulkan sisa-sisa pejuang yang masih bertahan. Martha kemudian dituduh telah menjadi gila sehingga harus ditangkap. Tak hanya itu, ia tak akan dipenjara di Maluku melainkan diasingkan ke Pulau Jawa. “Mungkin karena pihak Belanda kuatir Christina Martha Tiahahu akan mempengaruhi orang–orang tawanan lainnya dalam penjara dengan cita-cita politiknya,” tulis M. Sapija dalam Kisah Perjuangan Pattimura . Menurut Zacharias, Martha kemudian ditangkap dan bersama 39 tawanan lain diasingkan ke Jawa. Di atas kapal Evertsen yang membawanya ke pengasingan itu, kesehatan Martha terus menurun. Pada 2 Januari 1818, ketika kapal melintasi Laut Banda, sang mutiara Nusa Laut itu meninggal dunia.*
- Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI
PERINGATAN HUT RI ke-76 tahun ini tak bisa dirayakan dengan meriah karena masih masa pagebluk. Upacara proklamasi di Istana Merdeka pada Selasa (17/8/2021) pun digelar dengan protokol kesehatan ketat. Namun, masyarakat masih bisa berbangga karena pesawat-pesawat TNI AU tetap mengudara di langit ibukota menyunguhkan atraksi sebagai kado HUT RI. Mengutip keterangan Dispenau di laman resmi TNI AU , Rabu (18/8/2021), sebanyak 14 pesawat dikerahkan untuk beratraksi dalam dua gelombang. Gelombang pertama, Garuda Flight, terdiri dari delapan jet tempur F-16 “Fighting Falcon” berangkat dari Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi. Gelombang kedua, Nusantara Flight, diperkuat satu helikopter EC-725 “Caracal” dan tiga NAS-332 “Super Puma” dari Lanud Atang Sendjaja serta dua heli NAS-332 L1 “Super Puma” dari Lanud Halim Perdanakusuma. Tim Nusantara Flight terbang dengan enam helikopter membawa bendera dwiwarna raksasa berkuran 30x20 meter. Sedangkan tim Garuda Flight melakoni flypass , bermanuver bomb burst, dan mengucapkan selamat HUT RI dari angkasa. “Kami elang-elang Angkatan Udara penjaga tanah air dari ketinggian 1.000 kaki mengucapkan selamat ulang tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2021. Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh, salam Swa Bhuwana Paksa, Merdeka!” ujar flight leader Letkol (Pnb) Agus Dwi Aryanto dari kokpit F-16 kala terbang di atas Istana Merdeka. Atraksi dalam dua gelombang itu menurut TNI AU merupakan sejarah baru matra udara dalam memperingati HUT RI. Atraksi tersebut mengundang decak kagum warga ibukota lantaran dilakoni oleh para pilot handal yang mempersaipkannya sejak 13 Agustus. Namun, sejatinya atraksi di udara pernah dilakukan pada masa revolusi fisik. Bertujuan untuk show off force militer dalam memperingati HUT RI pertama, atraksi itu dilakoni secara nekat oleh montir pesawat yang jadi penerbang dadakan. Baca juga: Sarang Helikopter TNI AU, Lanud Atang Sendjaja Atraksi "Nusantara Flight" enam helikopter TNI AU yang membawa dua bendera raksasa ( tni-au.mil.id ) Aksi Nekat Penerbang Bujangan Syahdan, pada 16 Agustus 1946 para montir alias kru teknik Tentara Republik Indonesia (TRI) Udara Malang terus-terusan memekikkan kata “merdeka” di markas mereka, Lanud Bugis (kini Lanud Abdulrachman Saleh). Mereka begitu girang komandan mereka, Lettu Hanandjoeddin (kepala bagian teknik Lanud Bugis), dibebaskan dari hotel prodeo. Bung Anan, begitu sang komandan biasa disapa, sepekan mendekam di sel markas Polisi Tentara Divisi VII/Untung Surapati. Gara-garanya, Anan nekat menghibahkan pesawat pembom lungsuran Jepang Kawasaki Ki-48 “Sokei” yang dinamai Pangeran Diponegoro-II (PD-II) kepada Markas Tinggi TRI Udara di Yogyakarta pada awal Agustus tanpa izin Panglima Divisi VII Mayor Jenderal Imam Soedja’i. Peristiwa itu merupakan salah satu imbas dari tarik-ulur kepemilikan aset TRI Udara Malang di Lanud Bugis –yang masih berada di bawah naungan TRI Divisi VII/Untung Surapati– dan Markas TRI Udara Yogyakarta. Lanud Bugis sendiri direbut Divisi Untung Surapati dari tangan Jepang pada September 1945. Namun di lain pihak, Anan dan pasukannya merasa sebagai bagian TRI Udara Yogya berdasarkan kompetensi mereka di bidang kedirgantaraan. “Hari itu (pasca-dibebaskan, red .) Bung Anan mengumpulkan anggota. Ada hal yang ingin disampaikan. Pertama , demi solidaritas personil, Bung Anan menjelaskan permasalahan yang terjadi. Kedua , merundingkan kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan RI untuk pertamakalinya,” tulis Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI . Baca juga: Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya Tak ingin memperkeruh konflik antara Malang dan Yogya, Anan memilih merancang atraksi udara. Selain untuk mengalihkan perhatian anak buahnya dari konflik, atraksi dimaksudkan untuk memperlihatkan kekuatan militer republik kepada masyarakat. “Saudara-saudara, musuh kita adalah Belanda dan tentara Sekutu yang sewaktu-waktu akan kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia. Karena itu proklamasi kemerdekaan yang harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan. Besok pagi kita perlu adakan demonstrasi dengan pesawat merah putih untuk mengobarkan semangat rakyat,” kata Anan menyerukan, dikutip Haril. Pesawat Tachikawa Ki-55 "Cukiu" yang ada di Lanud Bugis (kiri) & Kabag Teknik Hanandjoeddin (Dispenau/Repro: Sang Elang ) Hari itu juga mereka bertukar pikiran guna merancang atraksi di langit kota Malang. Rencananya, mereka akan menggunakan pesawat Tachikawa Ki-55 “Cukiu”. Pesawat jenis itu salah satu peninggalan Jepang paling banyak yang terdapat di Lanud Bugis dan sudah dalam keadaan siap terbang. Namun, ada kendala yang mesti mereka pecahkan bersama: ketiadaan pilot. Sejak September 1945, mengutip Dispersau dalam Sedjarah Pertumbuhan AURI , di Lanud Bugis sangat minim penerbang. Mayoritas yang ada di sana sekadar montir yang sudah bekerja semenjak Jepang masih menguasai lanud. Penerbang yang ada di Bugis hanya pria yang biasa dipanggil Atmo, eks-pilot Jepang yang biasa menguji setiap pesawat yang selesai diperbaiki. Sayangnya, tak lama kemudian Atmo dipulangkan ke Jepang. Selain Anan, hanya lima montir yang pernah diajari Atmo mengoperasikan pesawat: Sukarman, Idung Sukoco, Mudjiman, Djauhari, dan Bancet Sudarmadji. Baca juga: Panglima Soedirman Diterbangkan Pilot Jepang ke Bali Meski sudah diajari, kelimanya tetap ragu menerbangkan pesawat. Rencana atraksi udara pun masih “alot”. “Jadi bagaimana? Di antara kita siapa yang berani menerbangkan pesawat? Kalau tidak ada yang siap, saya sendiri yang akan terbang besok pagi,” tantang Anan. “Jangan, Dan! Biar saya saja. Saya siap!” ujar Sukarman menyela. “Ya, komandan sudah berkeluarga. Kasihan istri dan anak. Kalau Sukarman kan masih bujangan,” timpal montir Mustari. “Baiklah kalau begitu. Kita percayakan pada saudara Sukarman untuk misi ini. Sebaiknya ditemani saudara Bancet yang sama-sama bujangan,” sambung Anan. “Siap, Dan!” tandas Bancet. Anan pun mempersiapkan segalanya, termasuk santunan. Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cacat atau meninggal, Anan siap menggalang dana santunan dari gaji masing-masing sebesar Rp2,5 dan dana yang terkumpul akan disumbangkan ke pihak keluarga secara rutin per bulan. Pesawat Cukiu peninggalan Jepang (kiri) & montir Sukarman (Dispenau/Repro: Sang Elang ) Flypass Berujung Celaka Hingga 16 Agustus 1946 malam, pasukan Anan masih sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk atraksi keesokan paginya. Rute flypass di sekitar kota Malang, pengecekan komponen-komponen pesawat, hingga pengecatan roundel (tanda pengenal berupa lingkaran merah-putih di badan pesawat) semua diperhitungkan secara masak. “Pukul 7 pagi tanggal 17 Agustus 1946, suara mesin pesawat terdengar menderu di Lanud Bugis. Sukarman dan Sudarmadji mulai beraksi di kokpit Cukiu. Kedua pemuda nekat ini siap melakukan penerbangan ‘bunuh diri’ dengan misi mengobarkan semangat rakyat Jawa Timur, khususnya kota Malang,” sambung Haril. Anan lega. Tahap awal misinya berjalan lancar. Kedua pilot melakukan lepas landas zonder masalah. Sukarman sang pilot lantas terbang selama 30 menit melintasi beberapa titik ramai kota Malang sesuai rute yang direncanakan. “Sorak-sorai masyarakat melihat pesawat merah putih yang terbang begitu rendah di atas pasar dan alun-alun kota Malang. Begitu beraninya Sukarman bermanuver terbang rendah. Saking rendahnya, nyaris saja menyambar puncak atap gereja,” lanjutnya. Baca juga: Tarik-Ulur Lanud Bugis Antara Yogya dan Malang Beruntung Sukarman masih bisa mengendalikan pesawat sehingga ketika terbang rendah lagi dia lebih hati-hati. Penduduk kota yang mulai riuh melihat atraksinya kaget sekaligus bangga. Pekik “merdeka!” terdengar setiap kali duet Sukarman-Sudarmadji terbang di atas mereka. “Atraksi udara ini membakar semangat rakyat. Hari itu rasa nasionalisme rakyat Malang meluap. Rakyat pun jadi tahu kalau republik yang baru berumur satu tahun sudah memiliki kekuatan udara. Sungguh hebat dampak psikologis yang ditimbulkan dari aksi nekat Sukarman dan Sudarmadji,” sambung Haril. Ilustrasi Pesawat Ciukiu yang disiapkan para montir lanud (Dispenau/Repro: Sang Elang ) Setelah puas melakoni flypass beberapa kali, keduanya pun balik kanan mengarah ke lanud. Di saat itulah masalah menghampiri keduanya. Baik Sukarman maupun Sudarmadji masih gagap dalam prosedur pendaratan. Hal itu membuat Anan dan rekan-rekannya yang menanti di lanud khawatir. Mereka mengamati pesawat itu sudah 21 kali berputar-putar di atas lanud seperti hendak landing tapi melulu gagal. “Brak!” Musibah yang dikhawatirkan Anan pun terjadi. Pesawat itu ringsek setelah menghantam rerumputan di sisi landasan gegara kehabisan bahan bakar. Anan dan anak buahnya langsung berlarian dan histeris setelah mendapati pesawat itu terbelah menjadi tiga bagian. “Dari balik patahan pesawat terlihat Sukarman dan Sudarmadji tampak tak bergerak. Para anggota teknik menangis haru. (Tapi) keajaiban tiba-tiba terjadi. Saat hendak dikeluarkan dari reruntuhan pesawat, terdengar suara merintih. Sukarman dan Sudarmadji ternyata hanya pingsan. Mereka selamat dari kecelakaan tragis itu,” tulis Haril. Tangis haru para kru teknik seketika berubah jadi tangis bahagia. Sudarmadji yang baru berusia 20 tahun saat itu hanya mengalami luka di keningnya. Sedangkan Sudarmadji “Bancet” hanya luka di bagian badan gegara tertiban senapan mesin yang terlepas. Senapan mesin itu pula yang menyelamatkannya karena jaketnya tersangkut di kaki senapan mesin hingga membuatnya tak terhempas keluar dari kokpit. Baca juga: Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis
- Hitam Putih Baju Baduy
PRESIDEN Joko Widodo memakai pakaian adat suku Baduy atau Kanekes ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Jokowi memesan pakaian itu dari Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija. Kepada Kompas.com , Saija menjelaskan, pakaian adat yang dikenakan Jokowi merupakan pakaian sehari-hari warga Baduy Luar yang disebut baju kampret. Baju hitam bermakna kesederhanaan, ikat kepala ( lomar ) bermakna persatuan, dan tas koja bermakna kelestarian alam yang masih dijaga masyarakat Baduy. Namun, ada yang memaknai baju hitam itu sebagai “lambang kotor atau dosa. Orang Baduy yang lalai atau tak mampu mengikut aturan adat keluar dari kampung dan mulai berbaju hitam sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan diri”. Makna tersebut akan muncul ketika membahas klasifikasi masyarakat Baduy. Klasifikasi R. Cecep Eka Permana, guru besar arkeologi Universitas Indonesia, menyebut bahwa klasifikasi masyarakat Baduy memiliki dua makna, yakni teritorial dan tingkat kesucian/ketaatan pada adat. Pertama, teritorial menunjukkan lokasi keberadaan kelompok-kelompok masyarakat Baduy yang sebagian berada di dalam (inti) dan sebagian lagi (terbanyak) berada di luar inti. Kelompok Baduy Dalam ( tangtu atau kajeroan ) merupakan inti pemukiman Baduy (Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik) yang terletak paling selatan dari kawasan. Sedangkan Baduy Luar ( panamping ) merupakan pelapis pemukiman Baduy yang terletak di luar sekaligus merupakan benteng bagi Baduy Dalam. “Dengan adanya pemukiman Baduy Luar yang berlapis-lapis memungkinkan terjaganya kesucian inti Baduy di pemukiman Baduy Dalam,” tulis Cecep dalam Tata Ruang Masyarakat Baduy . Kedua, tingkat kesucian dan ketaatan pada adat. Baduy Dalam dianggap lebih suci dan warganya merupakan pemegang adat paling taat, sementara Baduy Luar dianggap tidak begitu suci lagi dan tidak sepenuhnya taat kepada adat. Kesucian dan ketaatan terhadap adat bagi warga Baduy Dalam haruslah tetap dipertahankan agar dunia tetap selamat dan sejahtera. Kerusakan Baduy Dalam sebagai inti jagat, berarti rusak pulalah seluruh isi jagat. Oleh karenanya, warga Baduy Dalam yang tidak suci dan tak taat lagi harus ditamping “dibuang” ke Baduy Luar atau Dangka (kotor), kampung-kampung di luar wilayah Desa Kanekes. “Tingkat kesucian dan ketaatan pada adat tercermin pula dalam warna ‘putih’ dan ‘hitam’,” tulis Cecep. “Putih warna pakaian warga Baduy Dalam dan warna pakaian hitam dikenakan oleh warga Baduy Luar. Bagi masyarakat Baduy, warna putih merupakan simbol kesucian, kejujuran, dan ketaatan mempertahankan tradisi, sedangkan warna hitam (juga biru tua) sering dianggap sebagai kotor, dosa, dan pelanggar aturan.” “Walaupun demikian, ‘putih’ dan ‘hitam’ dianggap sebagai pasangan alamiah, bagaikan siang dan malam, terang dan gelap, baik dan buruk, pahala dan dosa, yang tidak dapat dipisahkan sekalipun bertentangan,” tulis Cecep. Terlepas dari klasifikasi tersebut, warga Baduy Dalam dan Baduy Luar tetap menjalin hubungan baik karena terikat oleh kekeluargaan. Sejarawan Sunda, Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda dalam Kehidupan Masyarakat Kanekes menyebut bahwa di panamping banyak menetap keturunan orang tangtu , bahkan banyak keluarga puun (pemimpin adat). “Hubungan kekerabatan di antara mereka tidak terganggu oleh status kemandalaan (kawasan suci), dan saling menjenguk anggota keluarga merupakan hal biasa. Dalam hal ini kerabat panamping biasanya lebih tahu diri dan membatasi pergaulannya dengan kerabat di kampung tangtu ,” tulis Saleh dan Anis. Kesederhanaan Saleh dan Anis menjelaskan perbedaan pakaian Baduy Dalam dan Baduy Luar. Pakaian pria Baduy terdiri atas tiga bagian, yaitu ikat kepala yang disebut telekung , romal/lomar , atau iket , baju tanpa kerah berlengan panjang yang disebut kutung , dan sarung yang disebut aros . Pakaian pria tangtu agak berbeda dari pria panamping , terutama pada warna dan kualitas bahannya. Pria tangtu memakai ikat kepala dan baju warna putih serta sarung terbuat dari benang kanteb (benang kasar) bergaris putih dan biru tua yang dikenakan sebatas dengkul (mirip rok wanita) dan diikat dengan beubeur (ikat pinggang) berupa selendang kecil. Sedangkan pria panamping mengenakan ikat kepala berwarna nila dan disebut merong . Bajunya disebut jamang kampret (baju kampret). Menurut tradisinya, baju pria panamping itu terdiri atas dua lapis. Baju putih di dalam dan baju hitam di luar. Ukuran dibuat sedemikian rupa sehingga sisi-sisi baju dalam yang putih tersebut menyembul lebih panjang sedikit sehingga kelihatan jelas dari luar. Sekarang ada juga yang mengenakan baju rangkap “semu” karena warna putih yang mencuat ke luar itu bukan berasal dari baju dalam, melainkan dari carikan kain putih yang dijaitkan pada ujung bagian dalam baju hitamnya. Di samping itu banyak juga kaum pria panamping yang hanya mengenakan baju hitam tanpa rangkap putih. Kain sarung pria panamping disebut poleng hideung . Kendati pakaian mereka berbeda warna, tapi tetap sama: sederhana. Sebagaimana ungkapan bijak mereka dalam menjalani hidup: sare tamba teu tunduh , madang tamba teu lapar , make tamba teu talanjang (tidur sekadar pelepas kantuk, makan sekadar pelepas lapar, berpakaian sekadar tidak telanjang). “Pakaian orang Baduy pun memancarkan kesederhanaan,” tulis Cecep. “Menurut mereka meninggalkan kesederhanaan berarti membatalkan tapa dunianya.”*





















