Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- KGB di Indonesia
ANATOLIY Babkin pertama kali tiba di Jakarta pada 1956 untuk bertugas di Kedutaan Besar Uni Soviet. Dari atase politik rendahan, kariernya kemudian naik menjadi Sekretaris Ketiga, Sekretaris Kedua (1961), dan Sekretaris Pertama (1966). Pada 1969, Babkin yang lahir di Moskow tahun 1931, mulai menjalankan penugasan yang keempat sebagai konselor.
- Hatta dan Pernikahan Adat Minang
PADA akhir Desember 1919, di Batavia, Jong Sumatranen Bond (JSB) mengadakan sidang tahunan untuk memilih pengurus besar yang baru. Kongres berlangsung di gedung Loge, dekat Waterlooplein (Lapangan Banteng sekarang) dan dihadiri oleh sebagian besar anggota JSB. Berdasarkan keputusan kongres tersebut, Amir Sjarifuddin ditetapkan sebagai ketua umum. Sementara jabatan sekretaris ditempati Bahder Djohan dan bendahara oleh Mohammad Hatta. Setelah terbentuk, PB JSB baru segera mengadakan rapat untuk memutuskan program kerja selama masa kepengurusannya. Dikisahkan Bung Hatta dalam otobiografinya Memoir , tidak banyak program yang dicanangkan Amir dan JSB baru. Mereka lebih fokus melanjutkan dan memperkuat program kerja pengurus sebelumnya. Satu yang mungkin mendapat perhatian lebih dari Amir adalah menerbitkan kembali majalah Jong Sumatra sebagai media memperkuat kedudukan JSB. Suatu waktu, Jong Sumatra tetiba mendapat sorotan dari masyarakat. Hal itu terjadi setelah majalah tersebut memuat tulisan seorang anggota JSB asal Sumatra Barat yang mengkritik adat istiadat Minangkabau. Di dalam tulisannya, Si Pemuda JSB menyoroti sebuah peristiwa tentang perkawinan seorang gadis Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, dengan seorang pemuda asal Jawa Tengah yang menghebohkan Tanah Minang. “Gadis dan pemuda itu sama-sama bekerja sebagai asisten pos di Medan. Dari pergaulan mereka itu timbullah cinta dan cinta mendorong mereka untuk melaksanakan perkawinan,” tulis Hatta. Perkawinan muda-mudi itu mendapat reaksi dari masyarakat Koto Gadang. Persoalannya, pada masa itu, adat istiadat kota tersebut melarang seorang gadis menikah dengan laki-laki dari luar Koto Gadang. Gadis Koto Gadang harus menikah dengan laki-laki tulen kota itu. Tetapi sebaliknya, adat istiadat di sana membolehkan laki-laki Koto Gadang menikah dengan gadis mana saja, tidak harus berasal dari Koto Gadang. Karangan pemuda JSB di majalah Jong Sumatra memandang adat istiadat Koto Gadang itu terlalu mengikat satu sisi saja: si gadis diikat, laki-laki dibebaskan. Akibat memuat karangan itu, sejumlah protes disampaikan kepada PB JSB. Aksi protes banyak disampaikan oleh pemuda yang membela adat istiadat Koto Gadang. Seorang pemuda bahkan sampai mengirimkan tulisan lain yang berisi bantahan terhadap tulisan sebelumnya. Merasa khawatir akan timbulnya kegaduhan lebih jauh di antara pemuda Minang, tim redaksi dari PB JSB sepakat membatasi karangan yang membela tradisi perkawinan tersebut. Mereka tetap menaikkan karangan sepanjang dua halaman tersebut ke dalam majalah, akan tetapi halaman yang memuatnya sengaja direkatkan menggunakan lem. Sehingga para pembaca tidak dapat membukanya. “Supaya hal itu jangan sampai memecah, sekurang-kurangnya jangan menimbulkan persengketaan,” ujar Hatta. Mengenai nasib muda-mudi yang melangsungkan perkawinan berbeda adat tersebut, Hatta mendapatkan kabar yang menyedihkan. Orangtua si gadis memutuskan hubungan dengan anaknya. Mereka bahkan sampai melakukan tindakan yang menggegerkan, yakni memasukkan pakaian dan kain milik putrinya yang tertinggal di rumah ke dalam kain kafan, seolah-olah di dalamnya berbaring mayat, kemudian mengirimkan bungkusan kain tersebut ke tempat putrinya. Orang tua si gadis menganggap putrinya sudah tiada. Hatta sendiri, sebagai seorang yang terlahir di keluarga dengan adat istiadat Minang yang kuat, meyakini bahwa perubahan harus dilakukan ketika suatu kebiasaan hanya membawa kepada keburukan. Meski berjalan lambat, perubahan ke arah lebih baik harus terwujud. Itulah yang kemudian terjadi kepada adat perkawinan di Koto Gadang. Sekitar tahun 1930-an, kendati belum seutuhnya, adat perkawinan di sana mulai berubah, tidak ketat seperti sebelumnya. Menurut Hatta, perubahan tersebut terjadi salah satunya berkat dorongan dari seorang Haji Agus Salim. “Setelah heboh-hebohan beberapa waktu lamanya tentang kawin campuran antara gadis Koto Gadang dan pemuda Jawa tadi dalam JSB tidak ada kegoncangan lagi. Semuanya rata jalannya,” kata Hatta.*
- Jejak Rempah di Bali
Masakan Bali bertumpu pada bumbu dasar atau base genep . Komponen penyusun bumbu yang biasa digunakan di semua masakan tradisional Bali adalah lengkuas, jahe, kencur, bawang merah, bawang putih, kunyit, lombok/cabe besar, cabe rawit, kemiri, merica hitam, dan ketumbar. Beberapa prasasti Bali Kuno, seperti Turunan B dan Sangsit A (980 Saka), menunjukkan bahwa bumbu juga berhubungan dengan pemujaan. Masyarakat diwajibkan untuk mempersembahkan beberapa jenis bumbu. Luh Suwita Utami, arkeolog Balai Arkeologi Denpasar, dalam “Aspek Kemasyarakatan di Balik Makanan dalam Prasasti Bali Kuna”, yang terbit di Forum Arkeologi Vol. 25 No. 2 Agustus 2012, menjelaskan masyarakat Bali Kuno, khususnya yang tinggal di sekitar Danau Batur, biasa membuat persembahan berupa makanan. Persembahan ini tidak hanya untuk memenuhi kewajiban kepada bangunan suci, tetapi juga kepada para pejabat istana atau tamu. Prasasti Turunan B mencatat adanya upacara Bhatara di Turunan pada setiap hari ke-5 bulan separuh gelap pada Bulan Asuji. Masyarakat Desa Air Rawang diwajibkan untuk mamek base atau membuat bumbu. Jenis bahan bumbu-bumbuan yang disebutkan adalah bawang merah, jahe, kapulaga, dan kemiri. Baca juga: Jaringan Intelektual dan Spiritual dalam Jalur Rempah Pada prasasti Pura Tulukbyu A (1011 M), Batur, Kintamani, disebutkan adanya bawang merah dan jahe yang ditanam di wilayah perburuan anugerah raja. “Pohon kapulaga dan kemiri adalah jenis pohon yang termasuk dalam jenis-jenis pohon yang jika ditebang oleh masyarakat harus dimintai izin kepada petugas yang berwenang,” tulis Suwita. I Wayan Ardika, guru besar arkeologi Universitas Udayana, Bali, dalam diskusi daring berjudul “Bali dalam Pusaran Jalur Rempah” yang diadakan Sigarda Indonesia pada 5 Agustus 2021, mengatakan bumbu Bali dikenal akibat kontak dengan tempat lain yang sudah terbuka sejak lama. “Bali tidak menghasilkan rempah. Kemungkinan untuk transformasi pengambilan alih bahan baku dari luar sangat besar,” kata Ardika. Bukti Awal Ardika menyebut Desa Julah di pesisir timur laut utara Bali diperkirakan merupakan pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang asing. Di Situs Sembiran dan Pacung, tak jauh dari Julah, ditemukan banyak gerabah India. Pertanggalan absolut dari Situs Pacung dan Sembiran menunjukkan abad ke-2 atau sekira 150 M. “Dari temuan itu saya berasumsi bahwa Sembiran, Pacung, dan Julah sudah dikunjungi pedagang India pada awal abad masehi,” kata Ardika. Baca juga: Kisah Rempah dan Kuliner Khas Yogyakarta Gerabah-gerabah itu berasal dari Arikamedu, Tamil Nadu, India selatan. Situs Arikamedu terletak di pesisir Teluk Benggala. “[Di Arikamedu] Banyak ditemukan juga amphora , sebagai bukti kontak wilayah itu dengan Romawi, dan ada gerabah dari Yunani,” kata Ardika. “Saya sempat berharap di Bali juga akan ditemukan amphora , tapi ternyata belum.” Situs Arikamedu sangat dekat dengan Situs Mantai (Ceylon) di timur laut Sri Lanka. Dulunya pelabuhan Kerajaan Anuradhapura. Ardika menjelaskan, belum lama ini peneliti dari Universitas College London menemukan cengkeh di kawasan itu yang berasal dari awal abad masehi (200 SM–1400 M). Karenanya ia disebut sebagai cengkeh tertua di dunia. Baca juga: Makanan Kesukaan Sultan Yogyakarta “Geraban India [di Sembiran dan Pacung] saya duga sebagai bukti kedatangan pedagang India di Bali dan kedatangan mereka ke Bali dalam rangka mencari cengkeh,” kata Ardika. Ardika menambahkan, teks-teks kesusasteraan India juga sudah mengenal cengkeh pada awal abad masehi. Teks seperti Jataka , Ramayana , dan Mahanidesa dari 400 SM–300 M menyebutkan beberapa tempat dan komoditas, seperti Suvarnabhumi (bumi emas), Suvarnadvipa (pulau emas), Javadvipa (Pulau Jawa), cengkeh, dan gaharu. “Tampaknya mereka ke Bali mencari rempah cengkeh dan kayu cendana,” kata Ardika. Baca juga: Pepes Ikan ala Masyarakat Kuno Selain kontak dengan India, Bali juga membuka perdagangan dengan Cina. Di Situs Pangkung Paruk, Buleleng, ditemukan cermin perunggu dari Dinasti Han (206 SM–220 M). Gerabah Dinasti Han juga ditemukan di Situs Sembiran. “Bali sudah punya hubungan dengan India dan Cina pada periode hampir bersamaan. Dua pusat kebudayaan besar di dunia itu sudah mengenal Bali,” kata Ardika. Berita tentang cengkeh pun ada sejak masa Dinasti Han. Dalam berita Cina dari masa itu disebutkan bahwa siapapun yang menghadap kaisar harus mengunyah cengkeh untuk menghindari bau mulut. “Saya mengira keberadaan artefak dari masa Dinasti Han di Bali, seperti gerabah dan cermin perunggu, juga dalam upaya pemerolehan rempah-rempah,” kata Ardika. Di Situs Pangkung Paruk juga ditemukan manik-manik kaca yang dilapisi emas dari Mesir yang berasal dari awal abad masehi. “Ini memperkaya scoupe kontak kita dengan India, Cina, dan Mediterania. Saya kira ini pun dalam konteks perdagangan rempah,” kata Ardika. Tempat Singgah Para pencari rempah diduga tak langsung menuju pulau-pulau penghasil rempah di Indonesia timur. Mereka membelinya di Julah. “Saya punya dugaan perdagangan rempah itu bersifat antarpulau. Pedagang asing memperoleh rempah-rempah tidak langsung ke Maluku di awal abad masehi,” kata Ardika. Cengkeh terutama berasal dari lima pulau di Maluku: Ternate, Tidore, Makian, Bacan, Moti, dan Ambon. Cengkeh diperdagangkan melalui Nusa Tenggara sampai Bali hingga barat Mediterania. Baca juga: Rempah Bukti Penjelajahan Orang Nusantara Menurut Ardika, mungkin karena faktor geografi, Bali Utara mudah dijangkau. Pelayaran dari luar menuju daerah Indonesia timur harus melalui Laut Jawa dan singgah di Bali sebelum melanjutkan perjalanan. “Sehingga di Julah, Sembiran, paling banyak ditemukan gerabah India. Lombok sampai Flores belum ditemukan. Bahkan di Maluku juga belum berhasil ditemukan gerabah India,” kata Ardika. Menariknya, kata Ardika, kendati Julah berada di pesisir, sampai kini terdapat tiga sumur besar yang menghasilkan air tawar. Kemungkinan tujuan pelayar singgah ke pelabuhan Bali untuk mencari air tawar. Razif dan M. Fauzi dalam Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakatnya Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi, dan Pantai Utara Jawa , menjelaskan Sumbawa dan Bali merupakan tempat persinggahan yang bagus untuk para pedagang jarak jauh. Kedua tempat itu mempunyai sumber air bersih yang baik dan melimpah. Ditambah lagi Sumbawa adalah penghasil kayu cendana dan secang. “Kayu cendana merupakan sumber wangi aromatik yang banyak digemari oleh pedagang Arab, Persia, Cina, dan India, sedangkan secang minuman penyegar dan dapat meningkatkan energi tubuh,” tulisnya. Baca juga: Gudang Rempah Jadi Gudang Sejarah Secara geografis, pelayaran ke Indonesia timur lebih mudah jika melalui jalur Bali dan Nusa Tenggara. Jalur pelayaran menuju Kepulauan Banda yang biasanya dipilih mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan masuk ke Kepulauan Maluku bagian tenggara di perairan Kepulauan Banda. “Jarak antara satu pulau dengan pulau lainnya dekat bahkan terlihat sambung-menyambung dan hanya dibatasi oleh selat yang tidak begitu besar, sehingga lebih aman, mudah dicapai dan dikenali,” jelasnya. Demikianlah rempah-rempah dikenal di Bali sejak awal abad masehi. Masyarakat kemudian menjadi terbiasa untuk melanjutkan tradisi itu. “Mereka kemudian mengadopsi bahan-bahan itu, bisa dikembangbiakan juga. Seperti sekarang di Kintamani banyak cengkeh,” kata Ardika.
- Ketika Islam Tersebar dari Giri Kedaton
Pada permulaan abad ke-15, seorang ahli agama berkebangsaan Arab tiba di Blambangan. Dia dikenal sebagai saudagar asal Jeddah, Arab Saudi, bernama Wali Lanang. Ketika tiba di Blambangan, sang saudagar mendapati negeri tersebut belum tersentuh agama Islam. Sambil menjalankan urusan dagang, Wali Lanang pun menyebarkan ajaran Islam. Menurut cerita tutur Jawa, sebagaimana disebutkan H.J. De Graaf dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram , upaya Islamisasi Wali Lanang di Blambangan dilakukan dengan menarik hati penguasa negeri tersebut. Dia berhasil menyembuhkan suatu penyakit yang diderita putri sang raja. Sebagai balasan, raja Blambangan mempersilahkan Wali Lanang memperistri putrinya. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki. Namun upaya Islamisasi tersebut mengalami jalan buntu. Wali Lanang gagal mengislamkan raja Blambangan. Dia pun memutuskan pergi meninggalkan negeri itu. Sementara itu, menurut De Graaf, anak laki-lakinya mengalami nasib malang. Dia dimasukkan ke dalam sebuah peti, kemudian dilarung ke laut. Beruntung, bayi malang itu diselamatkan oleh nakhoda kapal milik Nyai Gede Pinatih dari Gresik. Nyai Gede Pinatih lalu mengangkatnya sebagai anak. Setelah cukup besar, si anak disuruh berguru kepada Sunan Ngampel Denta (Sunan Ampel) dari Surabaya. Sang guru memberi nama anak tersebut Raden Paku. Setelah dewasa, bersama putra sang guru, Santri Bonang, Raden Paku pergi ke Malaka. Di sana keduanya berguru kepada Wali Lanang (Syekh Maulana Ishaq), ayah Raden Paku. “Wali Lanang memberi mereka tugas hidup untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Timur,” tulis De Graaf. Meski tujuan utamanya menyebarkan ajaran Islam, masing-masing murid diberi tugas yang berbeda oleh Wali Lanang. Santri Bonang, misalnya, diberi tugas menyiarkan ajaran Islam secara langsung ke tengah masyarakat di seluruh penjuru Jawa Timur. Dia pun kemudian dikenal secara luas oleh masyarakat sebagai Sunan Bonang, dengan cara dakwahnya yang unik, yakni melalui kesenian gending gamelan. Tidak seperti Sunan Bonang yang menyambangi masyarakat secara langsung, Raden Paku diminta oleh gurunya menetap dan membangun pusat dakwah Islam di wilayah perbukitan (dalam bahasa Jawa disebut Giri ) di Jawa Timur. Dengan tidak bepergian jauh, Raden Paku lebih fokus membangun lingkungan dakwahnya. Itulah sebabnya, imbuh De Graaf, Giri berkembang sangat pesat. Keberadaannya menjadi begitu berarti sebagai pusat keagamaan umat Islam di timur Pulau Jawa. “Pesantrennya tak hanya digunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Maluku, Ternate, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara,” tulis Nyayu Soraya, dalam Islam dan Peradaban Melayu . Sekembalinya ke Jawa, menurut Soraya, Raden Paku mendirikan sebuah pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dia kemudian memilih nama Prabu Satmata. Akan tetapi karena kedudukan pesantrennya berada di Giri (bukit), maka masyarakat lebih mengenal Prabu Satmata sebagai Sunan Giri. Di Giri, Prabu Satmata mendirikan sebuah kedaton megah yang dilengkapi “taman sari” layaknya kompleks istana raja-raja Jawa kala itu. Pembangunan kedaton dilakukan pada 1485, sementara pembangunan “taman sari” dikerjakan pada 1488. Prabu Satmata memfungsikan bangunan utama kedaton sebagai tempat tinggal dan pusat pendidikan agama Islam. “Dibangunnya kedaton dan dipakainya nama gelar raja (Prabu Satmata) boleh dianggap sebagai gejala telah meningkatnya kesadaran harga diri pada wali dan pemimpin kelompok keagamaan Islam yang masih muda; lebih dari kelompok-kelompok yang lebih tua, merasa dirinya anggota masyarakat Islam internasional,” kata De Graaf. Pada perkembangan selanjutnya, keberadaan Giri Kedaton tidak hanya penting sebagai pusat pengajaran dan dakwah Islam saja, tetapi jalan bagi raja-raja Jawa melegitimasi kekuasaannya. Banyak penguasa yang datang ke Giri untuk memperkuat kedudukannya. Giri Kedaton pun dipandang penting karena memiliki pengaruh yang sangat besar di masyarakat. Menurut Dhurorudin Mashad dalam Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang , puncak kekuasaan Giri berada di bawah pimpinan Sunan Prapen. Pemimpin agama keempat di Giri itu membawa kekuatan politik ke Giri Kedaton. Dia terlibat dalam naik-turunnya tahta raja-raja Jawa. Seperti ketika Sunan Prapen melantik Sultan Hadiwijaya sebagai raja Pajang dan menjadikan kerajaan itu suksesor Kesultanan Demak. Sunan Prapen juga menjadi juru damai antara Mataram dengan Surabaya. “Sunan Prapen hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di segenap penjuru Nusantara,” tulis Mashad. Seiring berjalannya waktu, ketika kekuasaan Mataram semakin kuat, juga setelah ditinggal Sunan Prapen, kedudukan Giri Kedaton di dalam kepentingan raja-raja Jawa mulai berkurang. Tidak adanya pemimpin agama berkharisma setelah Sunan Prapen membuat kekuasaan rohani Giri meredup di kalangan penguasa. Terlebih setelah Giri Kedaton terlibat dalam aksi pemberontakan Trunojoyo terhadap Mataram, hanya kehancuran yang menunggu pusat dakwah tersebut. Pada akhir abad ke-17, serangan besar-besaran dilancarkan Belanda ke wilayah Giri. Tanpa pertahanan yang kuat, Giri pun berhasil ditaklukan. Para pengikut, beserta anggota keluarga Giri Kedaton dihukum. Sejak saat itu riwayat Giri Kedaton pun berakhir.
- Pakaian Mewah pada Masa Jawa Kuno
Orang Jawa Kuno sehari-hari mengenakan kain yang menutupi dada hingga bawah lutut. Rambut mereka dibiarkan terurai. Sementara raja memakai mantel dari sutra, sepatu dari kulit, dan rambutnya disanggul memakai kerincingan emas. Demikian catatan utusan Dinasti Sung saat mendatangi Jawa pada abad ke-10. Pada masa itu, pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga mencerminkan status sosial. Hal itu digambarkan dalam relief candi. Pada relief Prambanan dan Borobudur, laki-laki dan perempuan berpakaian dengan membiarkan bagian dada terbuka. Rambutnya disanggul, diurai sebahu, atau memakai penutup kepala. “Beda rakyat dan bangsawan terletak pada perhiasan yang dipakai untuk melengkapi pakaiannya dan kelihatan lebih mewah,” tulis Hari Lelono, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam “Busana Bangsawan dan Pendeta Wanita pada Masa Majapahit: Kajian Berdasarkan Relief-Relief Candi”, termuat dalam Berkala Arkeologi Vol. 10 No. 1, 1999. Hari menjelaskan, busana dan perhiasan para tokoh digambarkan beragam dalam relief candi. Misalnya, relief cerita Sri Tanjung yang populer digambarkan pada candi-candi Majapahit, salah satunya di dinding pendopo Candi Penataran di Blitar. Di sana, Sri Tanjung memakai kain panjang dari bawah payudara sampai batas pergelangan kaki. Pada bagian perut, kain diikat dengan selendang. Sisi kiri kain depan terdapat belahan yang memperlihatkan kain di dalamnya. Dia mengenakan dua lapis kain. Sri Tanjung juga mengenakan gelang tebal pada kedua tangannya. Kalung tebal menghiasi lehernya. Guratan pada kalung itu mungkin menandakan kalungnya berhias indah khas putri bangsawan. Hari juga mencermati gaya berbusana pendeta perempuan yang berbeda. Rambutnya bergelung ditutupi kain. Dia tak memakai perhiasan, hanya gelang tipis pada kedua tangan. Dia memakai busana yang menutupi payudara, semacam kemben panjang sampai pergelangan kaki. Kainnya bermotif garis-garis geometris berbentuk wajik. “Motif itu tentunya dapat pula diasumsikan bagi masyarakat pada masa lampau seorang pendeta biasa memakai pakaian yang agak berbeda dengan perempuan umumnya. Mungkin dapat dikaitkan dengan nilai simbolik pada garis kain yang digunakan,” tulis Hari. Winda Saputri, lulusan arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam “Distribusi Pakaian pada Abad X Masehi: Kajian Melalui Prasasti-Prasasti Sindok”,termuat dalam Menggores Aksara , Mengurai Kata , Menafsir Makna ,mencatat paling tidak sejak masa Mataram Kuno, beberapa jenis pakaian bernilai sangat tinggi. Misalnya, pada masa Balitung, dalam Prasasti Humanding (875) disebutkan jenis kain ganjar patra sisi dan bwat kling putih . “Kain jenis itu nilainya 8 masa emas atau kalau sekarang nilainya setara dengan 19,2 gram emas,” tulis Winda. Kain mahal ini hanya diperuntukkan bagi bangsawan dan pejabat tinggi. Sutra Warna-warni Arkeolog Edhie Wurjantoro dan Tawalinuddin Haris dalam “Kain dalam Masyarakat Jawa Kuna”, laporan penelitian arkeologi di Universitas Indonesia tahun 1995, menjelaskan masyarakat Jawa Kuno telah mengenal beragam jenis pakaian. Sumber karya sastra menyebut kain , tapis , sinjang , dodot , dan wastra . Mereka mengenakan pakaian dari katun dan sutra. Warnanya bermacam-macam: merah, biru, hijau tua, jingga, dan ungu. Pun pola hiasnya beragam. “Paling banyak ditemui adalah hiasan tumpal di samping ragam hias gringsing, kawung, bunga-bungaan, dan bakung,” tulis Edhie. Kalau dari relief candi, seperti Prambanan dan Borobudur, terlihat di antara bangsawan ada yang mengenakan pakaian tipis. Menurut Edhie mungkin yang dikenakannya kain berbahan sutra. Kain ini banyak dihasilkan di Jawa, sebagaimana disebutkan dalam berita Cina. Berita masa Dinasti Sung menyebutkan utusan Jawa membawa persembahan kain indah bersulam emas dan motif bunga. “Yang menarik kain-kain itu disulam dengan benang emas atau dilukis dengan debu emas cair. Dalam batik tradisional dikenal istilah prada ,” tulis Edhie. Beberapa jenis ragam hias kain pada arca menunjukkan motif hias kawung, ceplokan, banji, dan tumpal pada bagian pinggir kain. “Dari beberapa arca batu dan perunggu yang disimpan di Museum Nasional Jakarta kita juga memperoleh beberapa motif kain, tetapi kita belum tahu apa nama motif kain itu,” tulis Edhie. Sayangnya, sulit memperkirakan bagaimana ragam motif kain yang ada pada masa Jawa Kuno. Sumber prasasti hanya mencatat nama jenisnya tanpa menjelaskan corak ragam hiasnya. “Beberapa di antaranya dapat kita samakan dengan kain batik yang ada sekarang, seperti kain patola , manjeti , dan sageji ,” tulis Edhie. Kain Mewah Edhie menyebutkan, beberapa nama kain dalam prasasti ada yang masih bisa diperkirakan wujudnya. Misalnya, kain dengan warna dasar putih ( wdihan putih ), kain dengan warna dasar merah ( wdihan kalyaga ), kain dengan motif bunga selasih ( wdihan sulasih ), kain dengan motif bunga ( wdihan ambay-ambay ), kain dengan motif bunga dan sulur-suluran di bagian tepinya ( wdihan ganjar patra sisi ), kain dengan hiasan dedaunan ( wdihan ronparibu ), dan kain dengan hiasan bunga kapuk dan kerang-kerangan ( wdihan syami himi-himi ). Jenis wdihan hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Sementara untuk perempuan disebut ken atau kain . Ada yang disebut dengan kain halangpakan yang mungkin kain tenun. Ken bwat lor dan ken bwat wetan bisa diartikan sebagai kain yang didatangkan dari wilayah utara dan timur. “Mungkin daerah utara yang dimaksud Cina sedangkan timur yang dimaksud Jepang,” tulis Edhie. Kain termasuk komoditas yang diperjualbelikan di pasar internasional. Kain-kain ini terutama kain mewah sangat diminati di Jawa dalam waktu cukup lama. Siti Maziyah, pengajar sejarah di Universitas Diponegoro, dalam “Nama Menunjukkan Asal: Studi Kasus Nama Jenis Kain pada Prasasti dan Susastra Berbahasa Jawa Kuno”, termuat dalam Menggores Aksara , Mengurai Kata , Menafsir Makna , ada beberapa jenis kain mewah yang dibuat di India, Mumbai, Melayu, Cina, Siam, Bali, Lombok, Sumbawa, dan Sulawesi Selatan. Maziyah mendata, pada abad ke-9–10 era Mataram Kuno, kain mewah yang diminati dari wilayah Nusantara seperti Bali, Lombok, dan Sumbawa, disebut wdihan buat waitan atau wdihan buatan timur. Sedangkan pada abad ke-12–14 masa Kadiri hingga Majapahit, kain mewah yang didatangkan dari Mumbai dan India Barat disebut caweli . Selain dari luar negeri, kain mewah juga dibuat khusus di istana. Namanya kain bwat inulu dan wdihan buat pinilai. Kain-kain ini dibuat oleh pelayan istana di Jawa, khususnya pada abad ke-9. Beberapa jenis kain mewah hanya dikenakan oleh raja, keluarganya, dan para pejabat tinggi. Menurut Edie , dari sekian banyak jenis wdihan , sulit menentukan motif wdihan apa yang khusus dipakai oleh raja. Pada masa Kerajaan Mataram berpusat di Jawa Tengah, jenis wdihan yang dipakai oleh raja dan keluarganya, antara lain wdihan jaro haji , wdihan ganjar haji patra sisi , wdihan ganjar haji , wdihan alapnya salari kuning , wdihan kalyaga , dan wdihan bwat pinilai . Ketika pusat kerajaan pindah ke Jawa Timur sampai masa Majapahit, jenis wdihan yang dipakai raja, keluarganya, dan pejabat tinggi, tidak banyak berubah. Namun, ada jenis wdihan lain seperti wdihan rajayoga , wdihan pamodana , dan wdihan tapis cadar . Sementara itu, pejabat menengah memakai wdihan ambay-ambay , rangga , wdihan sulasih , dan wdihan wira . Pejabat rendahan memakai wdihan ronparibu , wdihan padi , dan wdihan takurang. Rakyat hanya memakai wdihan biasa. Begitu pula dengan ken untuk perempuan. Istri pejabat tinggi memakai kain jaro . Istri pejabat menengah memakai kain pinilai , kain buat ingulu , ken kalyaga , dan ken rangga . Istri pejabat rendahan memakai kain pangkat , kain laki , kain atmaraksa , kain halangpakan , kain putih , dan ken biasa . Sedangkan rakyat hanya memakai ken biasa. Infromasi dalam prasasti tak selalu sama soal jenis wdihan yang diberikan kepada raja, keluarganya, dan pejabat kerajaan. Ada prasasti yang hanya menyebutkan satu jenis wdihan untuk raja sampai rakyat biasa. “Ini mungkin berkaitan erat dengan kemampuan pejabat atau orang atau desa yang menerima anugerah raja,” tulis Edhie. “Bisa juga berkaitan dengan jenis-jenis wdihan yang tersedia di daerah itu karena pembuat wdihan hanya membuat jenis wdihan untuk golongan rendahan saja.”
- Pandemi di Batavia
Pandemi virus Covid-19 di Indonesia belum berakhir. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kasus harian di sejumlah daerah di Indonesia masih cukup tinggi. Pada awal Agustus 2021 saja terjadi kenaikan yang signifikan di beberapa daerah. Yang tertinggi berada di wilayah Jawa Tengah dengan 4331 kasus. Disusul Jawa Barat dan Jawa Timur, masing-masing mencatatkan angka 4301 dan 4113 kasus. Meski ketiga daerah tersebut mengalami lonjakan kasus harian yang signifikan, wilayah dengan jumlah keseluruhan kasus Covid terbesar hingga Agustus 2021 tetap dipegang oleh DKI Jakarta. Dilansir laman resmi Satgas Covid-19 , jumlah kasus terkonfirmasi di ibu kota mencapai 820,370 kasus. Tercatat ada lebih dari 12 ribu orang meninggal dunia dan 13 ribu orang dalam perawatan. Sementara sisanya telah dinyatakan sembuh. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, sebagaimana dikutip CNN Indonesia , menyebut jika tingginya angka kasus di Jakarta disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, imbuh Riza, karena Jakarta itu ibu kota RI dan pusat interaksi warga. Selain itu Jakarta juga merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi RI. Faktor kedua, Jakarta menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang tingkat kapasitas testingnya melebihi standar WHO. Sejak Maret 2020 Dinas Kesehatan Jakarta sudah melakukan tes kepada lebih dari 3 juta orang. Sementara faktor lain, menurut Riza, terjadi lantaran mobilitas masyarakat yang tinggi karena sudah merasa jenuh berada di rumah. “Semua orang yang melakukan interaksi banyak sekali di Jakarta, sehingga kalau potensi interaksi tinggi menyebabkan potensi penularan juga semakin tinggi,” tutur politisi Gerindra tersebut. Rupanya tidak hanya masa pandemi Covid-19 saja Jakarta menjadi pusat persebaran virus di Indonesia, pada masa pandemi Flu Spanyol tahun 1918-1919 kota itu juga memiliki tingkat penularan penyakit yang tinggi. Tercatat lebih dari seribu orang meninggal akibat virus asal benua Eropa tersebut. Lantas apakah kondisi Jakarta saat itu lebih mengkhawatirkan daripada sekarang? Kota Batavia, sebutan Jakarta masa kolonial, merupakan pusat pemerintahan dan salah satu pusat ekonomi di Hindia Belanda. Kota itu menjadi titik temu masyarakat dari berbagai daerah yang umumnya datang untuk berdagang dan urusan politik. Mobilisasi masyarakat di sana sangat tinggi. Setiap orang bebas berinteraksi dan keluar-masuk kota. Kondisi tersebut membuat Batavia rawan akan persebaran penyakit. Terlebih setelah virus Flu Spanyol merangsek masuk ke Hindia Belanda awal abad ke-20. “Bisa dibilang Batavia menjadi salah satu titik penyebaran utama dari Flu Spanyol selama gelombang kedua dari pandemi tersebut,” tulis Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 . Sayangnya bahaya virus Flu Spanyol di Batavia, begitu juga daerah lain di seluruh Hindia Belanda, telat mendapat perhatian masyarakat maupun pemerintah kolonial. Menurut Arie Rukmantara, dkk dalam Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda , mereka terlalu menganggap enteng keberadaan virus tersebut. Tidak sedikit juga yang menyamakan Flu Spanyol dengan influenza dengan gejala yang sedikit lebih berat dari biasanya. Semua pihak baru benar-benar memperhatikan wabah Flu Spanyol ini pada akhir Oktober 1918, ketika koran-koran di Batavia memberitakan situasi kesehatan di Hindia Belanda yang kian memburuk. Padahal serangan virus itu sudah memasuki gelombang yang kedua. Sin Po , misalnya, menyebut bahwa serangan virus dari hari ke hari semakin berbahaya dan gelombang kedua itu lebih menakutkan dari sebelumnya. Dalam sebuah laporan di Rumah Sakit Umum Batavia, pasien influenza bertambah secara signifikan dalam waktu singkat. Diketahui pada akhir 1918 rumah sakit tersebut telah merawat sebanyak 435 pasien yang umumnya menderita sakit paru-paru. Menurut Ravando, besar kemungkinan mereka itu adalah korban dari virus Flu Spanyol. Mengutip surat kabar Sin Po ,31 Oktober 1918, Ravando menyebut bahwa peningkatan jumlah korban virus itu membuat bangsal-bangsal rumah sakit di seluruh Batavia mendadak penuh. Bahkan rumah sakit militer yang cukup besar, dengan kapasitas 600 tempat tidur pun terpaksa harus menambah jumlahnya menjadi 700 agar bisa menampung lebih banyak pasien. “Merebaknya Flu Spanyol di Batavia ditengarai juga tidak lepas dari keadaan higienitas kota tersebut yang sangat buruk, lantaran kondisi udara dan sistem sanitasinya yang sangat mengkhawatirkan,” kata Ravando. Kondisi genting itu juga membuat kegiatan masyarakat Batavia selama akhir tahun 1918 amat terbatas. Masyarakat enggan keluar rumah karena takut terpapar virus. Hal itu membuat banyak saudagar menutup usahanya. Diceritakan Iswara N. Raditya dalam 1918: Kronik Kebangkitan Indonesia , kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Bahkan banyak perkantoran tutup lantaran kekurangan pegawai. Tercatat hingga November 1918, Flu Spanyol di Batavia telah menelan korban ratusan jiwa di kalangan bumiputera. Pemerintah setempat pun dengan cepat bergerak membagikan obat-obatan, khususnya obat paru-paru, ke seluruh pelosok Batavia. Pendistribusiannya diawasi oleh para mahasiswa STOVIA, calon dokter Jawa, dan dinas kesehatan pemerintah kolonial. Namun menariknya, imbuh Ravando, di dalam penjara-penjara Batavia kondisinya justru relatif aman dan terkendali. Amat berbeda dengan kondisi di luar yang dilanda kepanikan. Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Gadjah Mada itu menduga para sipir dan direktur penjara telah mempelajari cara menangani pandemi di lingkunganya ketika gelombang pertama (Juli - September 1918) menyerang. Mereka amat membatasi kegiatan keluar-masuk orang luar ke penjara. “Bila selama gelombang pertama korban dari virus itu kebanyakan adalah pesakitan dari penjara, (setelahnya) Flu Spanyol menyerang siapapun tanpa pandang bulu,” tulis Ravando.
- Seulawah RI-001, dari Aceh untuk Republik Indonesia
Sebelum memiliki pesawat kepresidenan, Presiden Sukarno mesti datang ke Aceh untuk menggalang dana pembelian pesawat pada 16 Juni 1948. Bung Karno menyebut Aceh sebagai daerah modal perjuangan bangsa Indonesia. Waktu itu, kas negara sedang cekak lantaran blokade ekonomi yang dilancarkan Belanda usai agresi militer pertama. Sementara itu, Aceh merupakan satu-satunya daerah yang belum dikuasai Belanda sepenuhnya. Dalam suatu jamuan makan malam bertempat di Atjeh Hotel Kutaradja, Bung Karno menjelaskan situasi negara yang tengah dilanda krisis. Selain itu, dia juga mengharapkan derma para saudagar Aceh yang tergabung dalam organisasi Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA). Sukarno menyerukan agar para saudagar bahu-membah membantu pemerintah membeli pesawat terbang. “Alangkah baiknya apabila kaum Saudagar dan Rakyat Aceh berusaha membuat ‘jembatan udara’ antara satu pulau dengan pulau lain di Indonesia. Untuk ini, saya anjurkan agar kaum Saudagar bersama-sama Rakyat mengumpulkan dana untuk membeli kapal udara, umpamanya pesawat Dakota, yang harganya hanya 25 kilogram emas,” kata Bung Karno seperti dikisahkan Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area. Bung Karno berkata sambil berkelakar, “Saya tidak makan malam ini, kalau dana itu belum terkumpul,” katanya menutup pidato. Para saudagar yang hadir disana saling melirik satu sama lain. Adalah M. Djoened Joesoef yang tidak lain ketua Gasida yang pertama kali menyanggupi kemudian disusul oleh para saudagar yang lain. Malam itu terkumpul dana yang cukup besar. Bung Karno bungah melihat hasil galangan dana. Dengan wajah berseri-seri, dia mulai mengajak hadirin beranjak ke meja makan. Selanjutnya, GASIDA membentuk suatu panitia pembelian pesawat yang diketuai TM Ali Panglima Polem. Berdasarkan pembicaraan dengan Residen Aceh Teuku Chik M. Daudsyah, diputuskan bahwa para saudagar Aceh bersama rakyat Aceh akan membeli pesawat terbang pengangkut jenis Dakota. Di seluruh Aceh kemudian dibentuklah “Dakota Fonds” yang bertugas menghimpun sumbangan dari masyarakat. Tidak hanya satu, dana yang terkumpul akhirnya mampu membeli dua pesawat. Menurut tim peneliti Depdikbud dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh harga masing-masing pesawat tersua dalam cek bernilai 120.000 dan 140.000 Dollar Malaya. Satu pesawat atas nama GASIDA dan satu pesawat lagi atas nama seluruh rakyat Aceh. Masing-masing pesawat diberi nama Seulawah I dan Seulawah II, diambil dari nama gunung di Aceh yang berarti Gunung Emas. Pesawat-pesawat ini mulanya mengambil rute luar negeri, yaitu Rangoon (Myanmar) dan India. Pesawat Seulawah RI-001 baru tiba di tanah air pada penghujung Oktober 1948. Pada akhir November, Pesawat RI-001 Seulawah menyebarkan pamflet berisi ucapan terimakasih Pemerintah Republik Indonesia kepada rakyat Aceh. Ribuan penduduk dengan kegembiraan yang meluap-luap datang mengelu-elukan pesawat yang kemudian mendarat. Dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid IV (1948) , Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil mencatat, sejak adanya pesawat Seulawah sumbangsih rakyat Aceh, hubungan antar daerah di sebagian wilayah Republik dapat diperbaiki. Pesawat itu digunakan untuk mengangkut para pemimpin nasional yang datang berkunjung dan mengangkut bahan logistik perjuangan dari Yogyakarta ke berbagai daerah. Pesawat ini juga digunakan untuk hubungan luar negeri: mengangkut dokumen, obat-obatan, dan biaya perwakilan Republik di luar negeri, seperti Dr. Sudarsono yang bertugas di New Delhi India. Pesawat Seulawah RI-001 sangat berperan menerobos blokade Belanda ketika terjadi agresi militer kedua pada Desember 1948. Seperti dituturkan Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area , Seulawah RI-001 menjadi penghubung antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan PDRI di Suliki dan Kutaraja (Banda Aceh). Di masa genting menghadapi agresi Belanda, pesawat yang diterbangkan penerbang AURI Opsir Udara II Wiweko Soepono ini kerap kali bertugas membawa senjata, mesiu, dan obat-obatan. Pesawat ini sekaligus mengangkut Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta dari Yogyakarta bermuhibah ke Sumatra. Siapa nyana, pesawat yang berasal dari hasil sumbangan ini berhasil dalam berbagai misi penerbangan. Ia sekaligus menjadi cikal bakal pesawat Garuda pertama yang dikomersilkan. Pesawat itu kembali dari Rangoon sekitar akhir Juli 1949 dan masih dioperasikan setahun kemudian. Setelahnya, Seulawah RI-001 tidak lagi beroperasi secara aktif seiring dengan perkembangan teknologi dirgantara sebab Dakota tergolong pesawat generasi tua. Namun, karena jasanya begitu besar, replika Seulawah RI-001 diabadikan sebagai monumen yang kini berdiri tegak di lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Ia menjadi saksi perjuangan dan kesetiaan rakyat Aceh pada Republik.
- Pakaian pada Masa Jawa Kuno
Pada 992, raja Jawa mengirim utusan ke Cina. Utusan itu membawa persembahan berupa kain sutra bersulam hiasan bunga, sutra bersulam benang emas, dan sutra beraneka warna lainnya. Penduduk Jawa memelihara ulat sutra. Mereka menenun kain sutra yang halus, sutra kuning, dan kain dari katun. Demikianlah berita Sejarah Dinasti Sung (960–1279) mencatat produksi kain di Jawa. Informasi mengenai pembuatan dan penjualan pakaian juga tercatat dalam prasasti. Sebagian besar prasasti mencatat pakaian atau kain merupakan hadiah ( pasek pasek ) yang diberikan kepada pejabat yang menghadiri upacara penetapan daerah perdikan ( sima ). Jenis pakaiannya disebut wdihan. Arkeolog Edhie Wurjantoro dan Tawalinuddin Haris dalam “Kain dalam Masyarakat Jawa Kuna”, laporan penelitian arkeologi di Universitas Indonesia tahun 1995, menjelaskan wdihan merupakan sebutan umum bagi pakaian laki-laki, karena selalu diberikan kepada pejabat laki-laki. Sementara untuk perempuan namanya kain atau ken berupa kain panjang untuk menutupi tubuh bagian bawah. Dalam prasasti juga ditemukan istilah kalambi dan singhel. Kalambi bisa berarti baju atau pakaian atas. Sedangkan singhel adalah pakaian khusus bagi pendeta. Hadiah untuk Pejabat Pada masa Kerajaan Mataram berpusat di Jawa Tengah, penerima anugerah sima memberikan pasek pasek kepada para pejabat yang hadir bisa mencapai ratusan pasang wdihan beragam jenis, puluhan cincin emas, puluhan uang emas, ratusan suwarna/masa/dharana/kupang uang emas/perak,puluhan helai kain/ken , serta beberapa helai kalambi dan salimut . “Kebiasaan memberikan pasek pasek pada waktu upacara penetapan sima kelihatannya makin berkurang setelah pusat Kerajaan Mataram pindah ke Jawa Timur,” tulis Edhie. K ebiasaan itu berangsur hilang sejak masa pemerintahan Airlangga hingga masa Kerajaan Majapahit. Kalaupun ada hadiah berupa uang dan wdihan dalam jumlah terbatas. “Mengapa hal itu terjadi belum jelas, mungkin ada kaitannya dengan keadaan perekonomian pada masa itu,” tulis Edhie. Pekerjaan Kena Pajak Ada beragam sebutan untuk orang-orang yang bekerja berhubungan dengan pakaian. Misalnya, tukang membuat wdihan disebut pawdihan. Sedangkan pembuat kain tipis disebut manwring. Winda Saputri, lulusan arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam “Distribusi Pakaian pada Abad X Masehi: Kajian Melalui Prasasti-Prasasti Sindok”, termuat dalam Menggores Aksara Mengurai Kata, Menafsir Makna , menyebut penjual pakaian dengan cara dipikul disebut mabhasana atau adagang abasana. Sementara penjual kapas disebut makapas atau adagang kapas . Winda menjelaskan, kapas merupakan titik awal produksi pakaian, khususnya pada era kekuasaan Mpu Sindok di Kerajaan Mataram Jawa Timur. Kapas bisa dijual langsung atau dipintal menjadi benang ( lawe ). Pemintal biasanya menghasilkan benang polos atau berwarna putih. Untuk benang berwarna, benang putih itu kemudian dibawa ke tukang celup. Menurut Edhie, penyebutan tukang celup dibedakan berdasarkan warna kain yang dibuat. Tukang celup kain warna merah disebut manglakha , warna hitam ( manambul ), dan warna biru ( manila ). Benang-benangitu dijual kepada penenun untuk diolah menjadi kain. Setelah menjadi pakaian kemudian dijual oleh mabasana. Pekerjaan-pekerjaan itu termasuk dalam golongan pengrajin yang dikenai pajak usaha dalam batas tertentu. Prasasti Jeru Jeru (930) mencatat ada beberapa usaha yang dikenakan pembatasan. “Pembatasan usaha di sebuah sima diterapkan kepada sejumlah pedagang, termasuk pedagang pakaian, pedagang mengkudu, dan pedagang kapas,” tulis Edhie. Untuk pedagang kapas dan mengkudu, dagangannya dibatasi sembilan buntal. Sedangkan pedagang pakaian dagangannya dibatasi lima buntal. “Apabila memiliki barang dagangan melebihi batasan yang ditatapkan akan dikenai pajak,” tulis Edhie. Menurut Prasasti Cungrang II (929), lawe juga termasuk barang dagangan yang dibatasi. Apabila pedagang lawe membawa dagangan lebih dari lima buntal, dia wajib membayar pajak. “Pedagang lawe membawa dagangannya dengan cara dipikul,” tulis Winda. Macadar atau penenun juga diwajibkan membayar pajak dan dibatasi usahanya. Dalam Prasasti Gulung-Gulung disebutkan seorang macadar hanya diperbolehkan memiliki empat alat tenun. Distribusi Pakaian Dalam proses distribusi, penenun bisa menjual pakaian langsung ke konsumen atau melalui pedagang perantara. “ Mabasana bisa diasumsikan sebagai perantara karena di dalam prasasti Sindok, mabasana disebut sebagai pedagang,” tulis Winda. Distribusi pakaian tak hanya di Jawa. Jual beli pakaian juga melibatkan perdagangan internasional. Epigraf Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi , menjelaskan sebagaimana berita dari Dinasti Sung yang menyebutkan pengiriman berbagai jenis kain ke Cina, Jawa juga mengimpor kain dari luar wilayah. Ada kain yang dibuat di India dan Cina. Baca juga: Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno Dalam Prasasti Jurunan (876) disebutkan wdihan bwat king putih atau wdihan buatan Keling putih atau India. Prasasti Taji (901) menyebut kain bwat waitan atau kain buatan Timur. Sedangkan Prasasti Saranan (929) menyebut kain bwat lor (kain buatan Utara). “Belum jelas asalnya karena hanya disebut dari Utara dan Timur saja,” tulis Titi. Kain-kain itu nilainya tinggi. Kain bwat waitan berharga 8 masa emas atau setara 19,2 gram emas. Kain-kain ini hanya dipersembahkan kepada pejabat tinggi kerajaan. “Dari jenis kain yang banyak sekali, sebagian besar merupakan produksi dalam negeri,” tulis Edhie. Baca juga: Hiburan Masyarakat Jawa Kuno
- Tabula Rasa yang Menggugah Selera
SUATU pagi di jembatan keretaapi, Mak (diperankan Dewi Irawan) mendapati sesosok pemuda Papua dengan pakaian compang-camping tergolek tak sadarkan diri. Setelah diamati lebih dalam, orang itu ternyata masih hidup. Keduanya sama-sama kaget sampai Mak melayangkan tamparan spontan yang membuat pemuda Papua itu pingsan lagi. Adegan kocak itu hanya sebagian dari pembuka drama komedi bertajuk Tabula Rasa garapan sutradara Adriyanto Dewo. Tabula Rasa mengisahkan perantauan Hans (Jimmy Kobogau) dari Serui ke Jakarta demi jadi pesepakbola. Nasib getir menimpa Hans kemudian. Cedera patah kaki membunuh mimpinya hingga harus hidup menggelandang. Hans, pemuda Papua yang jadi gelandangan akibat karier sepakbolanya hancur (Lifelike Picture) Cerita kemudian beralih ke adegan ajakan Mak pada Hans untuk membantu di rumah makan masakan Padang Takana Juo milik Mak. Rumah makan itu pasalnya hanya beroperasi dengan dibantu Natsir (Ozzol Ramdan) sebagai pelayan dan Parmanto (Yayu Unru) sebagai juru masaknya. Hari di mana Mak menemukan Hans adalah hari spesial bagi penyintas gempa Padang 2009 itu. Mak meracik sendiri sajian istimewa untuk Hans, gulai kepala ikan kakap. Satu-dua suap, Hans menyesapi cita rasanya dan langsung jatuh hati pada kuliner Minang itu. Tetapi kehadiran Hans di RM Takana Juo tak disikapi hangat oleh Parmanto. Karena rumah makan mereka sedang sepi, tak semestinya mengambil karyawan baru. Alhasil Parmanto pilih angkat kaki. Yang membuat Mak sakit hati adalah Parmanto bekerja di restoran Padang lebih besar tepat di seberang rumah makan mereka yang sederhana. Harapan Mak kini hanya bergantung pada Hans dan Natsir. Kolase konflik dalam Tabula Rasa gegara kehadiran Hans (Lifelike Picture) Mak mengajari Hans memasak aneka masakan Padang dengan sabar. Proses memasaknya masih memakai banyak peralatan sederhana, seperti tungku kayu bakar atau alat pemeras santan tradisional sebagaimana leluhur. “Hans, ingat ini setiap masak randang ya. ‘ Kurang kacau cik kambiangan, talampau kacau bapalantiangan. ’ Kalau kurang diaduk, kuah santan akan menggumpal seperti tahi kambing. Aduknya pakai perasaan,” kata Mak berpesan dengan menyisipkan pantun. Namun, tetap saja rumah makan mereka sepi pengunjung. Mak, Hans, dan Natsir hanya menatap kosong saat melihat restoran lebih besar di seberang sedang ramai pembeli. Dalam hati Hans, kunci mereka bisa menang persaingan hanya dengan menu istimewa yang pernah ia cicipi: gulai kepala ikan. Menu tersebut tidak dijajakan di semua rumah makan atau restoran Padang, termasuk Restoran Caniago yang jadi saingannya itu. Namun Mak urung mengabulkan ide Hans lantaran punya pengalaman getir terhadap sajian spesial itu. Apakah Mak akan berubah pikiran? Apakah gulai kepala ikan itu akan menyelamatkan rumah makan mereka dari jurang kebangkrutan? Agar lebih seru, saksikan sendiri kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Gulai yang Menyatukan Tabula Rasa memanjakan mata dengan aneka suguhan kuliner khas Minang dan telinga seperti kita sedang berada rumah makan Padang. Selain membumbui music scoring melankolis dan komikal di adegan-adengan jenaka, komposer Lie Indra Perkasa cukup banyak menyisipkan irama musik Melayu dan Minang. Alur ceritanya memang cenderung klasik dan sederhana. Namun ibarat kuliner Minang itu sendiri, di sinilah letak esensinya: sarata nilai dan pesan di balik kesederhanaannya. Kesederhanaan yang paling tampak namun punya makna mendalam adalah soal persatuan antarsesama orang Indonesia, antara Hans yang berasal dari timur dan Mak dari barat. Persatuan itu makin kuat lantaran adanya silang budaya, di mana Hans jatuh hati pada gulai kepala ikan khas Minang dan Mak menikmati masakan ikan kuah kuning dengan papeda Hans. Tak melulu kuliner Minang, Tabula Rasa juga menyisipkan satu kuliner timur, Ikan Kuah Kuning dengan Papeda (Lifelike Picture) Semua itu dikemas dalam drama cantik yang bertolak dari riset mendalam. Tim produksi membuatnya dibantu advisor pakar kuliner Reno Andam Suri dan kakaknya, chef Adzan Tri Budiman. Risetnya dilakukan langsung di Pariaman, Sumatera Barat. Hasilnya kemudian dipresentasikan dalam sebuah workshop agar para pemerannya bisa menguasai teknik-teknik memasak dan juga menggunakan banyak peralatan tradisional. “Karena enggak semua orang bisa masuk ke Sumatera Barat, ke dapur-dapur mereka karena dapur kan area tertutup. Enggak bisa berbagi cerita atau rahasia. Ya aku bantu karena sudah (mudah) lewat dari bukuku udah ketemu banyak ibu-ibu. Kita datang untuk bikin dokumentasi, untuk melihat dapur tradisionalnya juga, termasuk gimana bikin dapurnya Mak dalam film harus seperti apa,” kata Reno kepada Historia secara virtual. Selain soal keotentikan cara meracik randang, yang jadi highlight dalam Tabula Rasa, yang tak kalah penting adalah soal cara mengolah dan menyajikan gulai kepala ikan khas Minang. Tidak seperti gulai dari daerah lain, gulai kepala ikan lazimnya dibuat orang-orang Minang dengan tidak menyajikan secara utuh dan matanya menghadap ke atas. “Memang biasanya (gulai kepala ikan) disajikan terbalik, matanya di bawah. Dibelah dua dulu jadi kita enggak lihat (matanya). Ada yang bilang bahwa tega enggak tega lihat matanya. Ada yang bilang jadi lebih estetik,” imbuh penulis buku Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang dan Rendang: Minang Legacy to the World tersebut. Penggambaran dapur tradisional dengan beragam alat masak tradisional pula sesuai aslinya di tanah Minang (Lifelike Picture) Gulai kepala ikan, diungkapkan Yuyun Alamsyah dalam Bangkitnya Bisnis Kuliner Tradisional , sejak dulu jadi menu yang menggugah emosi dan menimbulkan pengalaman tersendiri bagi para penikmatnya. Cita rasa bumbu gulainya yang sensasional akan menggugah hati untuk berupaya keras mendapatkan daging yang sedikit di kepala ikannya. “Cara makan dengan mengerahkan banyak tenaga baik dengan cara memecah kepala ikan sampai menghisap tulangnya ternyata menjadi kegiatan yang menyenangkan. Orang akan kembali menikmati gulai kepala ikan tidak hanya rasa gulainya yang sedap tapi cara makan yang unik,” tulis Yuyun. Hidangan itu, menurut Tabula Rasa , adalah versi gulai ikan khas pesisir dan perantauan yang memang jamak ditemui di rumah-rumah makan di luar Sumatera Barat. Perbedaannya dengan gulai dari daerah pedalaman Minang adalah penggunaan rempah-rempah yang lebih banyak. “Jadi rata-rata orang (umum) mengenal gulai kepala ikan adalah (versi) orang-orang rantau: orang Bungus, orang Pariaman, Teluk Bayur; jadi orang pesisir. Orang rantau ini memasukkan rempah-rempah ke dalam gulainya. Bumbu dasarnya sama tapi kemudian yang rantau menambahkan rempah-rempah seiring perdagangan rempah-rempah,” sambung Reno. Gulai Kepala Ikan versi dibelah dua (kiri) dan versi disajikan utuh (Lifelike Picture/ Aneka Masakan Gulai & Kari ) Memang, berabad-abad lalu orang pedalaman Minangkabau banyak menanam rempah-rempah macam lada, damar, kayu manis, dan pala. Namun hasilnya diperdagangkan oleh para saudagar Aceh karena Minangkabau masuk dalam wilayah Kesultanan Aceh sejak awal abad ke-17. “Mereka hanya menanam. Hasilnya dibawa oleh Aceh dan diperdagangkan sampai ke India dan ke mana-mana. Jadi perdagangan rempahnya itu ramai di pesisir. Kemudian ketika Aceh mengalami kemunduran, masuklah Belanda sehingga lebih terbuka. Tadinya begitu dikuasai Aceh itu inklusif, tertutup. Ketika mulai terbuka, masuklah lebih banyak orang-orang India sampai ke pesisir,” imbuh perintis bisnis kuliner rendang kemasan bermerk “Rendang Uni Farah” itu. Maka, gulai kepala ikan dengan tambahan rempah-rempah, terutama gulai yang bumbunya sudah terkandung rempah-rempah asal India seperti kardamungu dan kapulaga, kemudian tak hanya dikenal masyarakat Minang tapi juga masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Satu yang tetap dilestarikan jadi ciri khas gulai kepala ikan Minang adalah pemakaian asam kandis dan daun ruku-ruku, sebagaimana yang digambarkan dalam salah satu adegan Tabula Rasa . “Jadi salah satu bahan utama yang ada di gulai kepala ikan adalah menambahkan asam kandis. Memang ada yang bilang asam kandis tanaman endemik Sumatera Barat, ada juga yang bilang itu dari India. Bedanya lagi, di Sumatera Barat pakai daun ruku-ruku. Kita (orang Minang) bangga banget dengan ruku-ruku itu untuk menghilangkan amis, menambah aroma dan buat menambah rasanya juga,” terang Reno. Pakar kuliner Reno Andam Suri (Tangkapan Layar Google Meet) Dari cara memasak dan komposisi bumbunya itu terkandung filosofi persatuan dari sekian yang berbeda, bhinneka tunggal ika . Jadi aneka kuliner kondang bersantan Minang, seperti gulai kepala ikan atau randang, bermula dari satu kumpulan bumbu dasar yang sama. Dari situ bisa lahir masakan yang berbeda-beda hanya karena berbeda proses memasaknya. “Karena gulai sesungguhnya adalah proses memasak. Jadi bisa gulai apapun. Gulai kepala ikan, gulai tunjang, gulai (sayur) nangka dan sebagainya. Bumbu-bumbu membuat gulai itu adalah sama dengan membuat rendang. Makanya kalau ditanya sejarah sejak kapan gulai kepala ikan ada, hampir sama dengan waktu kapan kita mengenal randang,” jelasnya. Menurut Reno, cara orang Minang memasak hidangan bersantan berjenjang dengan tiga tahap: menggulai, kalio, dan merandang. Dari ketiga tahapan itu bisa lahir beraneka santapan. Daging sapi atau daging kerbau, misalnya, juga bisa digulai dan kepala ikan pun bisa dirandang. “Kapan gulai kepala ikan itu dikenal? Ya seiring kita tahu ada randang. Karena menggulai adalah proses mematangkan bumbu-bumbu itu menjadi kuah santan yang sudah keluar sedikit minyaknya. Kalau sudah keluar lebih banyak minyaknya dan makin kental namanya kalio. Merandang jadi tahap akhir karena dia proses menihilkan air,” tandasnya. Masakan Gulai Kepala Ikan yang khas dengan daun ruku-ruku (Lifelike Picture) Deskripsi Film: Judul: Tabula Rasa | Sutradara: Adriyanto Dewo | Produser: Sheila Timothy | Pemain: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Yayu Unru, Ozzol Ramdan | Produksi: Lifelike Pictures | Genre: Drama Komedi | Durasi: 107 menit | Rilis: 24 September 2014, Mola TV .
- Perempuan Dobrak Patriarki Olimpiade
OLIMPIADE Tokyo 2020 menjadi momen makin ditinggalkannya budaya patriarki. Keikutsertaan para atletnya yang imbang antara putra dan putri merupakan salah satu indikatornya. Selain itu, olimpiade kali ini juga menjadi yang pertama kali mengikutsertakan seorang transgender, yakni Laura Hubbard (Selandia Baru), yang bertanding di cabang angkat besi nomor +87 kg putri. Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga memprogramkan, setiap kontingen diwajibkan membawa dua pengusung bendera, satu atlet putra dan satu putri, dalam defile upacara pembukaan. “IOC berkomitmen terhadap kesetaraan gender di semua area, dari atlet-atlet yang bertanding maupun perempuan yang berperan dalam kepemimpinan di organisasi olahraga. Gerakan Olimpiade mulai bersiap menyongsong tonggak sejarah baru dalam upaya menciptakan dunia olahraga yang setara bagi semua gender –menjadi Olimpiade yang paling berimbang dalam sejarah,” ujar Presiden IOC Thomas Bach di laman IOC . Mengutip laman resmi IOC, 8 Maret 2021, keikutsertaan atlet putri nyaris mencapai 48,8 persen dari keseluruhan 11.090 atlet yang berlaga. Angka tersebut naik dari Olimpiade Rio de Janeiro 2016 yang mencapai 45 persen. Kontingen China menjadi kontingen dengan atlet putri terbanyak. Dari 433 atlet yang ikut serta, 69 persennya adalah atlet putri. Padahal, Olimpiade Tokyo 2020 sempat diwarnai kontroversi terkait diskriminasi gender. Mengutip Reuters , 22 Juli 2021, setidaknya ada dua kontroversi yang menyinggung kaum perempuan. Pertama , pernyataan presiden Komite Olimpiade Tokyo Yoshirō Mori pada 12 Februari 2021. Dia menyatakan perempuan terlalu banyak bicara jika ikut dalam rapat atau pertemuan. Akibatnya, dunia internasional mengecamnya. Mori mundur dari jabatannya dan digantikan tokoh olahraga perempuan, Seiko Hashimoto. Kedua , ulah kepala bidang kreatif Olimpiade Tokyo Hiroshi Sasaki pada 18 Maret 2021. Dia juga mundur setelah melontarkan komentar body shaming terhadap komedian Naomi Watanabe dengan mengatakan, ia bisa ikut jadi atlet “Olympig”. Kontingen Republik Rakyat China membawa atlet putri terbanyak di Olimpiade Tokyo 2020 ( olympic.cn ) Patriarki Sejak Olimpiade Kuno Budaya patriarki dalam olimpiade sejatinya sudah ada sejak Olimpiade kuno yang rutin digelar empat tahun sekali sejak 776 SM-393 M di Yunani. Walaupun ritual api Olimpiade disulut oleh para biarawati perawan, kaum perempuan tetap diharamkan terlibat lebih. Jangankan ikut serta dalam laga, untuk bisa menonton saja mereka sangat dilarang. Jika melanggar, bisa dijatuhi hukuman mati. Pengecualian hanya dibuat untuk para biarawati Demeter, dewi kesuburan dan hukum suci. Demeter dianggap paling berperan dalam setiap musim panen dan pergantian musim dingin dan musim panas yang stabil di muka bumi. “Itulah mengapa Demeter dipuja semua orang Yunani dan oleh karenanya para biarawati Demeter Chamune adalah perempuan yang hanya boleh hadir di Olimpiade. Mereka disediakan kursi dan altar khusus di stadion untuk bisa melakukan ritual-ritual persembahan untuk Dewi Demeter,” tulis Neil Faulkner dalam A Visitor’s Guide to the Ancient Olympics. Patung perunggu atlet putri dari zaman Yunani Kuno ( britishmuseum.org ) Lantaran hanya mereka yang diizinkan, maka ketika seorang janda Kallipateira menyamar sebagai laki-laki demi mendampingi putranya, Peisirodos, bertanding dalam cabang tinju, ia menanggung akibatnya kendati banyak yang terkecoh dibuatnya. “Saat putranya menang, ia meloncat pagar sampai pakaiannya tersingkap dan membongkar penyamarannya. Dia mestinya dihukum mati; tetapi karena ia adalah seorang putri dan saudari para juara Olimpiade sebelumnya, dia diampuni,” ungkap Nigel Spivey dalam The Ancient Olympics. Oleh karena itulah Olimpiade khusus perempuan diadakan terpisah. Dalam catatannya yang berjudul Hellados Periegesis ( Description of Greece ), penjelajah Yunani pada abad kedua Masehi bernama Pausanias mengungkapkan, di sekitar abad kedua ada sebuah festival olahraga perempuan empat tahunan untuk menghormati Dewa Hera bernama “Heraia” di kota Eleia (kini kota Elis). “Pausanias memberikan penggambaran detail tentang pengaturan olahraganya, termasuk trek (atletik) di stadion diperpendek jaraknya dari 180 meter menjadi 160 meter. Perbedaan ini tak merefleksikan perbedaan kemampuan fisik namun karena pandangan kaum pria Yunani yang menganggap perempuan secara alamiah inferior dari kaum pria,” tulis Judith Swaddling dalam The Ancient Olympic Games. Namun, setiap pemenang tetap berhak mendapat tanda kemenangan yang sama, berupa mahkota daun zaitun plus seekor sapi betina muda sebagai tumbal persembahan untuk Dewi Hera, dan sebuah patung perunggu berbentuk si atlet sendiri untuk dipajang di kuil Dewi Hera. Gebrakan Perempuan di Olimpiade Modern Kultur patriarki itulah yang tetap dibawa Baron Pierre de Coubertin, tokoh olahraga Prancis, kala menggagas Olimpiade modern. Ia menganggap kaum perempuan tidak pantas diikutsertakan dalam cabang olahraga apapun dalam Olimpiade modern pertama, Olimpiade Athena 1896. “Walau seorang visioner dalam Olimpiade modern, Coubertin tak pernah mendukung partisipasi perempuan sampai ia wafat pada 1937. Ia mengatakan: ‘Betapapun tangguhnya seorang olahragawati, fisiknya secara biologis tidak cocok menahan benturan atau syok tertentu. Mestinya perempuan sekadar menyemangati putra atau suaminya yang bertanding semata. Mengikutsertakan perempuan dalam olahraga tidak akan praktis, menarik, estetik, dan pantas,’” ungkap Satpal Kaur dalam Glimpse of Women in Sport. Kendati begitu, tetap saja ada perempuan yang berupaya ikut serta di Olimpiade tersebut. Adalah pelari Yunani Stamata Revithi yang bersikeras untuk ikut di cabang atletik nomor maraton 40 kilometer. Namun, upaya atlet yang oleh publik dijuluki “Melpomene”, merujuk pada penyanyi tragedi Yunani Kuno, itu tetap ditolak keikutsertaannya. Panitia beralasan ia terlambat mendaftar. Banyak pihak meyakini, penolakan terhadapnya karena isu gender. Charles Pierre de Frédy, Baron de Coubertin (kiri) dan ilustrasi Stamata Revithi ( olympics.com/storiedisport.it ) Revithi tak terima. Sebagai bentuk protes, ia pun melakoni lari maraton 40 kilometer seorang diri. “Stamata Revithi, seorang perempuan sekitar 30 tahun dari Piraeus, ibu dari seorang bayi berumur 17 bulan, berlari selama lima setengah jam pada 11 April, satu hari setelah perlombaan (maraton) resmi,” tulis Surat kabar Astion , 12 April 1896. Dalam Olimpade Paris 1900, yang dihelat dalam rangka pameran dunia L’Exposition Universelle Internationale, IOC mulai membuka pintu buat para atlet putri. Meski Coubertin masih menentangnya, ia terpaksa melunak lantaran didesak beberapa negara anggota. Alhasil, 22 atlet putri ikut bertanding dengan 975 atlet putra dalam cabang-cabang olahraga golf, tenis, croquet, dan berlayar. Cabang-cabang olahraga elite dan kompetitif seperti atletik dan akuatik belum mengizinkan perempuan berpartisipasi. Sejarah mencatat nama Hélène de Pourtalès sebagai perempuan pertama yang memenangi medali emas berlayar nomor “1 to 2 ton” yang dihelat 22-25 Mei 1900. Ia memenanginya dalam kategori “tim” untuk kontingen Swiss lantaran cabang itu dilakoninya bersama suaminya, Hermann, dan keponakan suaminya, Bernard. Charlotte Cooper Sterry yang mestinya menang medali emas pertama sebagai atlet putri individu ( teamgb.com ) Dua bulan berselang, Charlotte Cooper dari Inggris tampil sebagai atlet perempuan pertama yang menang medali emas di kategori individu. Charlotte juara di cabang olahraga tenis tunggal putri. Langganan kampiun Wimbledon itu juga merebut emas di nomor ganda campuran berpasangan dengan Reginald Doherty. Seiring perjalanan waktu, keikutsertaan atlet putri mengalami pasang-surut. Di Olimpiade St. Louis 1904 hanya ada enam atlet putri berbanding 645 atlet putra. Di olimpiade ini cabang panahan mulai mengikutsertakan perempuan. Jumlah atlet putri yang berpartisipasi naik drastis menjadi 37 orang di Olimpiade London 1908. Kendati begitu, persentasenya masih kecil karena ada 1.971 atlet putra yang berpartisipasi. Selain berlaga di cabang tenis dan panahan, para atlet putri itu mulai ikut cabang baru, figure skating (seluncur indah). Di Olimpiade Stockholm 1912, sebanyak 47 atlet putri ikut serta dan mulai tampil dalam laga-laga akuatik. Namun hingga awal 1920-an, isu tentang gender masih dipermasalahkan para pembuat kebijakan IOC dan IAAF (induk atletik amatir internasional). Upaya Alice Milliat, pendiri La Fédération Sportive Féminine Internationale (FSFI), sejak 1919 memperjuangkan atlet putri bisa diikutkan di cabang atletik melulu berbuah penolakan. Alice Joséphine Marie Milliat (atas) dan kolase atlet Olimpiade Wanita (Bibliothèque nationale de France/Twitter @FAMilliat/nationaalarchief.nl/Agence Rol) Oleh karena itulah Milliat bersama Camille Blanc yang memimpin FSFI akhirnya menggelar Olimpiade tandingan khusus atlet putri secara berturut-turut pada 1921, 1922, dan 1923 di Monaco, dan pada 1924 di London. Olimpiade tandingan yang perlahan populer itu pun mulai membuka mata para petinggi IAAF hingga akhirnya bersedia memberi rekomendasi kepada IOC agar para atlet putri bisa berlaga di cabang atletik Olimpiade Amsterdam 1928. “Meluasnya kepopuleran olimpiade wanita itu membuat IAAF mau melakukan pendekatan ke FSFI demi mencapai beberapa kesepakatan. Namun di balik itu IAAF sebenarnya tetap ingin mengontrol atletik putri. IAAF setuju mengikutkan perempuan di atletik hanya di lima nomor. Milliat bersikeras ingin semua nomor dan tim putri Inggris memprotes lebih keras dengan memboikot Olimpiade 1928,” ungkap Margarete Costa dan Sharon Ruth Guthrie dalam Women and Sport: Interdisciplinary Perspectives. Olympisch Stadion di Amsterdam yang jadi venue atletik Olimpiade 1928 akhirnya jadi saksi bisu keikutsertaan atlet putri di cabang atletik dan senam. Olimpiade musim panas itu sendiri diikuti 277 atlet putri (berbanding 2.606 atlet putra). Sebanyak 95 atlet putri berlaga di lima nomor cabang atletik. Seiring zaman atlet putri tampil di atletik, sepakbola, basket, hingga voli indoor (IAAF/FIBA/Twitter @usavolleyball/jfa.jp) Sprinter Amerika Serikat Betty Robinson tercatat jadi atlet pertama yang memenangi emas di nomor 100 meter putri. Lina Radke (Jerman) menguasai nomor 800 meter; kuartet Myrtle Cook, Ethel Smith, Bobbie Rosenfeld, dan Jane Bell (Kanada) di nomor estafet 4 x 100 meter; Ethel Catherwood (Kanada) di nomor lompat tinggi, dan Halina Konopacka (Polandia) di nomor lempar cakram. Sementara, cabang senam yang baru melibatkan nomor artistik beregu dimenangkan tim Belanda. Pasca-Perang Dunia II, IOC perlahan membuka pintu lebih lebar buat keikutsertaan atlet putri. Semua cabang baru yang dilombakan di Olimpiade, termasuk bulutangkis dan sepakbola, mengizinkan kekutsertaan atlet putri. “Untuk mendorong dan mendukung promosi terhadap kaum perempuan dalam olahraga pada semua level dan semua struktur dengan pandangan untuk mengimplementasikan prinsip kesetaraan laki-laki dan perempuan,” demikian bunyi butir 2.8 dalam Olympic Charter.
- Mata-mata Jepang dalam Kekalahan Belanda
ORANG-orang Jepang telah tinggal di Surabaya sejak zaman kolonial Belanda. Di antara mereka banyak yang membuka toko, misalnya toko Chioda yang bersebelahan dengan toko besar milik orang Inggris, Whiteway. Namun, mereka tiba-tiba meninggalkan tokonya. Mencurigakan. Ternyata, pemerintah Jepang telah memberi tahu warganya bahwa perang dengan Belanda tidak terhindarkan. Mereka pun pulang secara bertahap dengan kapal-kapal Jepang yang rutin berlayar ke Hindia Belanda. “Toko Jepang terbengkalai atau dibeli pedagang Tionghoa. Ada sebagian diklaim pemerintah militer Jepang. Tetapi, banyak sumber menyebutkan terbengkalai,” kata Meta Sekar Puji Astuti, Ketua Departemen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin Makassar, kepada Historia beberapa waktu lalu. Sejarawan Frank Palmos dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku menyebut bahwa perginya mereka bagian dari rencana panjang Jepang yang terpantau oleh badan intelijen Hindia Belanda. Seperti dijabarkan dalam laporan resmi tentang kegiatan mata-mata Jepang, Ten Years of Japanese Burrowing in the Netherlands East Indies , yang diterbitkan oleh Netherlands East Indies Service pada 1942. “Dokumen ini melaporkan secara detail siasat Jepang memperkuat jaringan spionase beberapa tahun sebelum menyerang,” tulis Palmos. Palmos melanjutkan, pihak intelijen pemerintah kolonial Belanda melampirkan bukti bahwa warga sipil Jepang yang menghilang sebelum pasukan Jepang mendarat, datang kembali dalam seragam militer bersama pasukan pendudukan. Ide Anak Agung Gde Agung, menteri luar negeri era Sukarno, mengungkapkan bahwa mata-mata Jepang pada masa kolonial Belanda sering bepergian dari kota ke kota, dari pelabuhan ke pelabuhan, untuk menghimpun informasi, tanpa menimbulkan kecurigaan karena menyamar sebagai pebisnis. “Gerak-gerik mata-mata Jepang menjadi gamblang maksudnya ketika mereka kembali sebagai bagian dari pasukan pendudukan,” tulis Palmos. Yang jelas, informasi yang mereka kumpulkan telah dilaporkan dan dimanfaatkan dengan baik oleh militer Jepang dalam menentukan lokasi pendaratan pasukan infanteri mereka. Bahkan, menurut Palmos, berkat pengetahuan mendalam mata-mata Jepang soal industri minyak bumi di Hindia Belanda, sabotase Belanda pada instalasi minyak bumi menjelang kekalahan dengan mudah dapat diperbaiki oleh Jepang. Pada 8 Desember 1941 melalui siaran radio diumumkan perang antara Jepang dan Belanda. Pada 9 Januari 1942, Belanda menangkap sekira 2.093 orang Jepang, hampir semuanya laki-laki, yang masih berada di Hindia Belanda dan mengasingkannya ke Australia. Jepang mengalahkan Belanda dengan mudah dan mengambil alih pendudukan atas Indonesia pada Maret 1942. “Sejarah toko Jepang ini bisa dikatakan terhapus dari Hindia Belanda yang kemudian digantikan dengan sejarah pendudukan Jepang di Hindia Belanda,” kata Meta. Meskipun sebagian besar pemilik dan pengelola toko Jepang kembali ke Jepang, namun sekira 707 orang Jepang kembali ke Indonesia. Menurut Meta, kembalinya mereka sebagai pegawai pemerintah militer Jepang menguatkan dugaan bahwa semua mantan pemilik dan pengelola toko Jepang di Hindia Belanda adalah mata-mata. “Mereka datang bukan untuk berdagang, tetapi bekerja untuk pemerintah pendudukan,” kata Meta yang menulis buku Apakah Mereka Mata-mata? Orang-orang Jepang di Indonesia 1868–1942. Mengapa Belanda tidak siap menghadapi Jepang padahal rajin mengumpulkan data tentang kegiatan mata-mata Jepang? Menurut Palmos, salah satu sebab Belanda kedodoran adalah keyakinan mereka bahwa pangkalan militer Inggris di Singapura tidak mungkin dikalahkan Jepang. Jika Singapura tidak bisa runtuh, Jepang pun tidak bisa masuk ke Hindia Belanda. Ketika Inggris di Singapura benar-benar takluk, pemerintah Hindia Belanda panik. Belanda dengan mudah ditaklukkan oleh Jepang. Rakyat Surabaya penasaran bagaimana rupa bangsa penakluk Belanda. Mereka keluar rumah untuk menyaksikan tentara Jepang yang masuk melewati jalan-jalan. Mereka terkejut melihat tentara Jepang yang pendek di atas sepeda, memanggul bedil yang terlihat kebesaran untuk postur mereka. Awalnya kehidupan berjalan seperti biasa. Semuanya berubah dalam waktu singkat. Jepang mengerahkan dengan paksaan semua sumber daya untuk keperluan perang. Meski hanya tiga setengah tahun, pendudukan Jepang telah mengakibatkan penderitaan bagi rakyat Indonesia.*
- Pelajar Indonesia di Jepang Bekerja di Markas Sekutu
SERANGKAIAN kereta listrik tiba di stasiun Tokyo. Hampir tiap keretanya penuh sesak oleh penumpang orang Jepang. Kecuali satu kereta. Sangat lowong. Tertulis di badan kereta tersebut “Kereta Khusus untuk Tentara Sekutu”. Bahrin Samad, seorang pelajar Indonesia di Jepang, langsung memasukinya. Bahrin percaya diri memasukinya karena mengenakan seragam GI ( Government Issue atau Tentara Amerika Serikat). Pada stasiun berikutnya, beberapa anggota GI kulit putih masuk. Sebagian bernyanyi-nyanyi, lainnya kelihatan mabuk. Seorang GI mabuk mendekat ke Bahrin. Tanpa banyak cingcong, dia langsung menampar muka Bahrin.





















