top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika

    ALARM di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat meraung-raung pada pagi 11 September 2001. Dengan tatapan kosong, Wakil Presiden (Wapres) Dick Cheney (diperankan Christian Bale) menyaksikan layar televisi yang menayangkan serangan teroris terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC). Ia akhirnya dievakuasi paksa oleh anggota Secret Service (pasukan pengaman presiden dan wakil presiden). Jam menunjuk pukul 9.38 pagi saat sang wapres tiba di Presidential Emergency Operations Center. Sejumlah pejabat dan staf keamanan tampak panik, tapi tidak dengan Dick. Sementara, Presiden George Walker Bush (Sam Rockwell) masih mengudara dengan Air Force One. Di pundak Dicklah segala keputusan eksekutif bertumpu. Bersama dengan sejumlah sisipan adegan dan footage  tentang perang global terhadap terorisme, momen itu membuka film biopik bertajuk Vice  garapan sutradara Adam McKay. Dikemas dalam drama-komedi hitam, biopik itu mengisahkan tentang Dick sebagai wapres yang punya wewenang setara dengan presiden. Adegan Wapres Dick Cheney dan istrinya, Lynne di Presidential Emergency Operations Center (Annapurna Pictures) Namun sebelum menyibak wewenang apa saja yang dipegang Dick saat itu, McKay lebih dulu menarik mundur alur cerita untuk menyingkap masa lalu sang wapres. Tepatnya pada medio 1963, saat Dick terpaksa mengubah jalan hidupnya. Dick saat itu seorang buruh perakit kawat yang punya kebiasaan mabuk-mabukan dan berkelahi. Lynne Vincent Cheney (Amy Adams) istrinya sampai mengancam akan mencampakkannya jika Dick tak jua berubah dan meluruskan hidupnya. Dick yang insyaf ketimbang diceraikan, akhirnya kuliah lagi. Setelah lulus, ia menjajal peruntungannya dalam program magang Gedung Putih pada 1969. Di saat itulah ia mulai mengenal dan banyak belajar di bawah naungan Donald Rumsfeld (Steve Carell), anggota Kongres yang juga penasihat ekonomi Presiden Richard Nixon. Perlahan tapi pasti, Dick mulai menikmati jaringan politiknya yang meluas baik di antara para staf Gedung Putih maupun dengan para politikus Partai Republik. Saat Gerald Ford naik jadi presiden menggantikan Nixon yang mengundurkan diri, Dick merasakan berkahnya. Dia dipromosikan jadi kepala Staf Gedung Putih, kemudian menteri pertahanan. Donald Henry Rumsfeld (kanan) yang melambungkan karier Dick Cheney (Annapurna Pictures) Dick kemudian masuk dalam daftar calon wapres atau presiden dari Partai Republik. Namun ia memilih pamit dari panggung politik. Ia sadar keluarganya bisa jadi sasaran hujatan karena putri bungsunya, Mary Cheney (Alison Pill), diketahui seorang lesbian. Dick beralih membangun kariernya di bisnis minyak hingga menjadi CEO perusahaan multinasional Halliburton Co. Di masa-masa itu keluarganya hidup bahagia. Pada milenium baru, tetiba ia mendapat telepon dari George W. Bush yang menginginkannya jadi cawapres dalam pilpres Amerika tahun 2000. Dick memberi syarat, setuju dipinang asal tak sekadar jadi simbol alias diberi wewenang lebih oleh Bush di bidang energi, militer, dan kebijakan luar negeri. Kendati kontroversial, pasangan Bush-Dick menang tipis dari pasangan Al Gore-Joe Lieberman asal Partai Demokrat. Dengan wewenang lebih yang diberikan Bush, Dick pun menempatkan banyak sekutu politiknya di berbagai sendi kehidupan politik Amerika. Antara lain memanggil kembali Donald Rumsfeld, yang “diasingkan” sebagai perwakilan tetap Amerika di NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara), menjadi menteri pertahanannya. Adegan Dick Cheney (kedua dari kiri) maju jadi cawapres tahun 2000 (Annapurna Pictures) Setelah itu, cerita kembali ke momen ke awal, di mana Dick memegang peranan penting di belakang keputusan-keputusan presiden terhadap perang global terhadap terorisme. Tidak hanya menginvasi Afghanistan, Dick bermanuver dengan sejumlah intrik untuk memaksa Menteri Luar Negeri Colin Powell (Tyler Perry) mengumumkan di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Amerika akan menginvasi Irak dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal. Hal itu menimbulkan rantai kejadian yang mengubah peta politik dan dinamika internasional sebagaimana yang kita lihat saat ini. Bagaimana intrik-intrik itu dilakoni Dick di masa kepresidenan George W. Bush? Tonton selengkapnya hanya di aplikasi daring Mola TV . Bukan “King of Silent” Drama, konflik, dan komedi yang menyatu dalam satu paket bukan hal bagi komposer Nicholas Britell untuk melengkapinya dengan music scoring . Ragam genre menjadi keniscayaan, mulai dari tembang-tembang khas 1960-an kala alur cerita mundur ke masa lalu Dick, hingga irama-irama komikal dan lantunan simfoni melankolis seiring perjalanan karier Dick. Di situlah kecakapan Britell dibuktikan. Ia sukses menyajikan musicscoring yang selalu cepat berganti seiring perubahan-perubahan cerita. Justru editorlah yang kurang cakap. Potongan-potongan scene -nya kurang rapi dan cukup mengganggu. Terlebih saat sisipan foto atau footage lawas tetiba datang. Sutradara Adam McKay (tengah) saat mengarahkan suatu adegan (Annapurna Pictures) Selain hal teknis itu, menurut sejumlah kritikus, Vice juga cenderung fokus pada satir atau komedi hitam kendati McKay melabelinya sebagai biopik. Alhasil, kendati dianggap gagal menggali lebih dalam kepribadian sang wapres, McKay menyajikan aktivitas-aktivitas politik Dick yang mengundang humor sekaligus ironi. “Fungsi sentral biopik mestinya memperdalam pemahaman kita tentang subyeknya. Seperti Bohemian Rhapsody , misalnya. Vice tak sedikitpun mendekati fungsi itu. Ketika premis filmnya berfokus pada seorang subyek yang membentuk sejarah dunia saat ini, Anda pasti ingin mendapatkan kedalaman lebih dari yang disajikan,” tulis Matthew Norman dalam kolomnya di Evening Standard , 25 Januari 2019. Meluruskan Fakta Dick memang tak pandai berorasi. Namun, ia pemikir yang tajam. Maka, ia bukan sekadar simbol dan bukan “King of Silent” sebagaimana pada wapres terdahulu. Kebijakan-kebijakan Presiden George W. Bush tak lain adalah hasil dari “desain” politik Dick. Dick pintar memanfaatkan kemarahan publik Amerika akibat 9/11 untuk menjustifikasi tindakan-tindakannya, terutama invasi ke Irak, walau akhirnya terkuak itu hanya topengnya untuk menguasai ladang-ladang dan jalur-jalur pipa minyak. Vice membuka tirai tentang apa dan bagaimana manuver-manuver legal eksekutif yang diambil tanpa persetujuan legislatif di masa darurat. Berbekal dukungan negara-negara sekutu Amerika, wewenang itu menjadikan eksekutif, baik presiden maupun wapres, seperti punya otoritas absolut yang tidak hanya melampaui konstitusi Amerika tapi juga dunia. Posisi itulah yang memungkinkan Dick menjadi otak di balik peran Amerika sebagai “polisi dunia” pasca-9/11. Sebagai “polisi dunia”, sejumlah skandal kemanusiaan global lain kemudian menyusul, mulai dari penyiksaan tahanan di Kamp Guantanamo dan Abu Ghraib hingga invasi ke Irak. Wapres yang hobi memancing itu tak pernah menyesal meski telah memicu rangkaian kejadian yang mengubah tatanan politik dunia, khususnya Timur Tengah. Dari Afghanistan, konflik melebar ke Irak, Suriah, hingga negara-negara Arab di Afrika Utara. Semua gegara Dick memaksakan klaim: Al-Qaeda punya keterkaitan dengan milisi di Irak utara pimpinan Abu Musab al-Zarqawi yang kemudian melahirkan ISIS. Eksesnya adalah Islamofobia di dunia Barat yang masih kuat  sampai saat ini akibat aktivitas-aktivitas terorisme ISIS dan Al-Qaeda. Sosok asli Lynne dan Dick Cheney (kiri) dan penokohannya dalam film (US National Archives/Annapurna Pictures) Sebagai penambah buat generasi kekinian memahaminya, McKay menyisipkan data-data statisitik di akhir film. Selain angka kematian serdadu Amerika yang mencapai lebih dari 4.000 jiwa, ada juga catatan korban sipil Irak lebih dari 600 ribu, atau saham perusahaan minyak Halliburton yang melonjak 500 persen sejak invasi ke Irak. “Hal terbesar yang dilakukannya adalah melancarkan perang (di Irak) dan nyatanya kemudian dalihnya palsu. Pada titik itu kita mulai menyadari fakta bahwa pemerintah kita tidaklah bekerja melayani kita dan terdapat agenda-agenda terselubung yang tidak mewakili kepentingan publik. Ia mengubah pandangan kita terhadap pemerintah tapi kemudian, akui saja, hasilnya Timur Tengah menjadi tidak stabil. Lalu lahirnya ISIS. Perang juga memperbesar utang tiga kali lipat dan membuat ekonomi dunia kolaps,” tutur McKay kepada National Public Radio , 3 Januari 2019. Namun, apa yang jadi suguhan Vice tentu tak 100 persen lurus pada fakta-fakta historis. Selain ada beberapa tokoh politik yang dihilangkan karena keterbatasan durasi, beberapa pengisahan kejadian pun tak sesuai fakta. Contoh pertama, misal, tentang Donald Rumsfeld yang disebutkan narator sebagai veteran pilot jet tempur Angkatan Laut (AL) Amerika. Padahal, ia tak pernah sekali pun berada di balik kokpit pesawat jet tempur meski pernah bertugas sebagai penerbang dan instruktur AL Amerika pada 1954-1960. Donald Rumsfeld saat jadi pilot AL (kiri) & Menteri Pertahanan Amerika (Rumsfeld Foundation Archive/US National Archives) Mengutip Air Force Times , 3 Maret 2003, Rumsfeld yang bertugas di USNR (kesatuan cadangan AL) Pangkalan AL Anacostia dan Pangkalan AL Grosse Ile, hanya pernah memiloti pesawat anti-kapal selam Grumman S-2 Tracker. Ketika kemudian sudah menjadi instruktur, ia sekadar menerbangkan pesawat latih T-6 Texan dan T-28 Trojan. Ketiga pesawat itu digerakkan baling-baling, bukan mesin jet. Penggambaran lain Vice yang melenceng adalah ketika Dick memulai program magangnya pada 1968. Ia dideskripsikan langsung dimentori Rumsfeld. Pada kenyataannya, Dick mulai jadi staf magang di Gedung Putih di bawah naungan anggota Kongres William A. Steiger, yang ketokohannya dihilangkan dalam film. “Politik selalu membuatnya tertarik. Tidak seperti orangtuanya yang memihak (partai) Demokrat, Dick memilih bergabung dengan Partai Republik. Lalu pada 1968 ia menerima pekerjaan di bawah anggota Kongres Amerika William Steiger yang juga Republikan,” tulis Elaine K. Andrews dalam Dick Cheney: A Life in Public Service . Adalah Steiger, lanjut Andrews, yang mengenalkan Dick pada Rumsfeld. Steiger memuji kinerja Dick hingga pada April 1969 Dick diminta Rumsfeld pindah dari staf Steiger untuk menjadi asisten khususnya yang baru merangkap jabatan sebagai direktur Office of Economic Opportunity. Terakhir, adalah dramatisasi misteri kematian ibu mertua Dick, Edna Vincent, pada 24 Mei 1973. Padahal, baik Cheney maupun istrinya tak pernah tahu pasti apa penyebab sesungguhnya kematian itu sampai investigasi singkat Kepolisian Casper, Wyoming menyatakan Edna meninggal karena kecelakaan. Sosok asli Lynne Ann Cheney (kiri) dan ibunya, Edna Vincent (US National Archives/ Casper Star Tribune , 26 Mei 1973) Dalam film digambarkan Edna meninggal akibat tenggelam di Danau Yesness setelah bertengkar hebat dengan suaminya, Wayne Vincent. Hal itu mengesankan bahwa ayah Lynne secara tak sengaja membunuh Edna. Padahal, laporan kepolisian yang dikutip suratkabar Casper Star Tribune edisi 26 Mei 1973 menyatakan hal berbeda. “Nyonya Vincent meninggal pada Kamis malam ketika ia terpeleset ke Danau Yesness di selatan Casper dan tenggelam.” Ketika itu, lanjut suratkabar tersebut, sekitar pukul 9 malam Edna sedang mengajak jalan-jalan anjing peliharaannya di sekitar danau. Lantaran tak kunjung pulang sampai tengah malam, Vincent kemudian melapor kepada polisi bahwa istrinya hilang. Lynne sendiri menyatakan dalam memoarnya, Blue Skies, No Fences: A Memoir of Childhood and Family, ayahnya memang tidak sedang bersama ibunya saat ibunya meninggal. Ia meyakini ibunya meninggal karena kecelakaan akibat gangguan kesehatan, di mana ibunya diketahui sering mengeluh pusing karena tekanan darah rendah. Deskripsi Film: Judul: Vice | Sutradara: Adam McKay | Produser: Brad Pitt, Will Ferrell, Adam McKay, Kevin J. Messick, Jeremy Kleiner, Dede Gardner | Pemain: Christian Bale, Amy Adams, Sam Rockwell, Steve Carell, Tyler Perry, Alison Pill, Jesse Plemons | Produksi: Plan B Entertainment, Gary Sanchez Productions, Annapurna Pictures | Distributor: Mirror Releasing | Genre: Drama Biopik | Durasi: 132 menit | Rilis: 11 Desember 2018, Mola TV.

  • Petualangan Westerling di Barat Jawa

    SUATU siang 73 tahun yang lalu, Atjep Abidien tengah berjalan di atas pematang sawah ketika sebuah truk militer tertutup berhenti di depan-nya. Alih-alih menghindar, dia malah langsung bersembunyi di balik semak-semak. Sebagai anggota gerilyawan Republik, keingintahuannya lebih besar dibanding ketakutannya saat melihat kendaraan militer Belanda yang mencurigakan itu. Benar saja, begitu berhenti di depan hutan Cigunung Putri (masuk wilayah Kecamatan Takokak, Cianjur), tiga prajurit berbaret hijau dengan senjata terkokang, keluar dari truk tersebut. Mereka terdiri dari dua orang bule dan seorang pribumi. “Saya tahu salah satu dari bule itu adalah algojo Belanda yang terkenal paling bengis. Namanya Werling,” kenang lelaki kelahiran tahun 1925 itu.

  • Teror Armenia di Paris

    PSIKIATER Dr. Cyrus Irampour asal Prancis tak saling kenal dengan Peter Schultze, pelajar 24 tahun yang berpaspor Amerika Serikat dan Yunani, atau bocah Prancis bernama Francois Luc. Namun, pada 15 Juli 1983, ketiganya sama-sama berada di dekat konter check-in maskapai Turkish Airlines di Bandara Orly, Paris. Meski beda nasib, ketiganya sama-sama menjadi korban dari sebuah serangan teror. Pengeboman Bandara Orly, demikian nama serangan teror itu, dilakukan kelompok militan Armenia bernama Armenian Secret Army for the Liberation of Armenia (ASALA). Kelompok militan beraliran kiri yang dipimpin Hagop Hagopian itu memperjuangkan kemerdekaan Anatolia Timur (Armenia Barat dari kacamata orang Armenia) dari Turki sekaligus menuntut pengakuan resmi Turki atas pembantaian sekira 1,5 juta orang Armenia pada 1915. “Kami datang dari aliran dan lingkaran Armenia yang berbeda-beda, dan bersatu di ASALA, mengesampingkan semua konflik antar-komunal untuk mencapai tujuan utama, membebaskan Armenia Barat [Turki] dan menggabungkannya dengan Soviet Armenia yang merdeka sekarang, membentuk Armenia yang integral dan revolusioner,” demikian kata organisasi tersebut, dikutip Michael M. Gunter dalam Armenian History and the Question of Genocide.

  • CIA, Tan Malaka, dan Kampret

    CIA telah beroperasi di Indonesia sejak masa revolusi kemerdekaan. Agennya melaporkan situasi yang terjadi di Indonesia. Termasuk melaporkan kegiatan tokoh pergerakan seperti Tan Malaka dan para pengikutnya. Di antaranya adalah Saeroen.

  • Banjir Produk Jepang di Hindia Belanda

    “SIAPA belandja lebih dari f.1 dapat presen barang bagoes”. Begitu pesan promosi terpampang di Toko Okamura milik orang Jepang di Kramat, Batavia, pada 1936. Barang-barang yang dijual adalah kebutuhan rumah tangga. Lebih murah daripada barang-barang impor lainnya. Dalam masa resesi ekonomi, promo itu sangat menggiurkan.

  • The Vanishing dan Misteri Hilangnya Penjaga Mercusuar

    DARI jendela anjungan kapal suplai, penjaga mercusuar senior Northern Lighthouse Board (NLB) Thomas Marshall (diperankan Peter Mullan) menatap kosong hamparan lautan di hadapannya. Kenny (Gary Lewis) sang nakhoda yang mengajaknya berbincang pun diabaikannya. Thomas yang masih belum bisa move on  dari musibah yang menimpa keluarganya belum tertarik berakrab ria seperti biasanya. Sementara, di geladak kapal suplai yang membawa mereka dari dermaga pulau utama ke Pulau Eilean Mòr yang terpencil di Kepulauan Flannan, Skotlandia, penjaga mercusuar berpengalaman James Ducat (Gerard Butler) menertawai rekrutan anyar Donald McArthur (Connor Swindells) yang muntah-muntah gegara mabuk laut. Sesampainya di dermaga Pulau Eilean Mòr, Thomas mendapat kabar buruk bahwa perangkat radio gelombang pendeknya rusak. Namun perangkat lain seperti lampu mercusuar maupun peluit kabut yang diperiksa James masih dalam keadaan layak fungsi. Tiga penjaga mercusuar Kepulauan Flannan saat baru tiba dari daratan utama (Lionsgate) Tetapi baru dua hari setelah menjalankan tugasnya, ketiga penjaga itu sudah mendapati dua kejadian aneh. Selain ditemukannya serakan bangkai-bangkai burung camar di sekitar bangunan mercusuar, mereka menemukan sesosok pelaut sekarat yang terdampar di salah satu pesisir pulau. Mereka mengira pelaut itu sudah mati. Donald yang kaget dan ketakutan lantas membunuhnya dengan sebongkah batu. Di dekat jenazah sang pelaut, terdapat sekoci rusak dan sebuah peti kayu berisi sejumlah emas batangan. Kendati menghadirkan tempo lambat, sutradara Kristoffer Nyholm tak bertele-tele menyuguhkan konflik di adegan-adegan pembuka drama- thriller bertajuk The Vanishing. Film ini terinspirasi dari kisah nyata tentang misteri menghilangnya tiga penjaga mercusuar tanpa jejak medio Desember 1900. Alur berlanjut ke cerita kepanikan Donald, yang dimafhumi Thomas dan James karena Donald masih sangat muda. Masa tugas mereka sendiri masih enam pekan ke depan sebelum diganti shift penjaga mercusuar lain. Kepanikannya bertambah terutama lantaran kemudian datang lagi dua pelaut Norwegia menggunakan kapal motor mencari rekan mereka yang kemungkinan terdampar ke pulau tak berpenghuni itu. James menenangkan Donald agar tetap tenang dan menyembunyikan mayat pelaut nahas serta peti kayu berikut emas batangannya. Sementara, Thomas mencoba menyapa kedua pelaut tadi, Locke (Søren Malling) dan Boor (Ólafur Darri Ólafsson). Thomas berupaya mengelabui keduanya dengan mengatakan jasad rekan mereka dan peti kayu yang dicari itu sudah dilaporkan ke NLB dan telah dibawa ke daratan utama Skotlandia. Adegan tiga penjaga mercusuar yang berkonfrontasi dengan dua pelaut Norwegia (Lionsgate) Locke dan Boor yang tak percaya lantas terlibat saling serang dengan Thomas, James, dan Donald. Kalah jumlah, kedua pelaut Norwegia itu berakhir tragis. Pun dengan seorang pelaut lain yang dikejar James dan dibunuh dengan kait besi. Pelaut yang melarikan diri itu ternyata hanya seorang bocah belasan tahun. Tetapi ketegangan dan konflik tak berhenti sampai di situ. Kelakuan James mulai berubah karena merasa bersalah. Ia tak lagi jadi orang yang sama . Tak ayal , tensi di antara ketiganya memuncak kala memperdebatkan tentang rencana mereka membawa kabur harta karun itu. Bagaimana kelanjutan nasib mereka dan berbatang-batang emas itu sampai kemudian justru dikabarkan hilang tanpa jejak? Saksikan kelanjutannya hanya di aplikasi daring Mola TV. Tempo Lamban Menghanyutkan Tim produksi begitu apik dalam menyajikan bentangan alam yang sangat khas wilayah utara Skotlandia: sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di seberang daratan utama dengan hanya tiga bangunan yang berdiri di arealnya: mercusuar, bangunan mesin peluit kabut, dan sebuah kapel kecil sederhana. Berpadu dengan suara-suara hembusan badai, deburan ombak, dan suara burung camar, music scoring bernuansa teror begitu kuat membuat penonton terhanyut dalam suasana keterasingan dan ketegangan di antara ketiga penjaga mercusuarnya. Hanya saja memang tetap ada kekurangan-kekurangan di dalamnya. Salah satunya, ketidakakuratan pada properti korek api zippo yang digunakan Thomas untuk menyalakan tembakau dengan pipanya. Padahal, faktanya korek api semacam itu baru eksis tahun 1932. Lalu, faktor kurangnya nuansa lokal, di mana tak ada satupun dialog dengan logat atau aksen Skotlandia, juga amat mengganggu. Kekurangan lain yang disoroti sejumlah kritikus adalah tempo lambat. Kolase konflik dan ketegangan yang dialami tiga penjaga mercusuar Flannan (Lionsgate) Untung saja The Vanishing diisi tiga aktor utama yang penampilannya membuat pemirsanya tidak segera bosan sehingga mendapat pujian hingga. Ketiga penjaga mercusuar itu membawa karakter berbeda-berbeda. Thomas yang veteran masih dalam kondisi berduka akibat ditinggal mati istri dan kedua putri kembarnya. Mentalnya belum pulih, dia kadang meracau dalam kegelapan dan kesendirian. Sementara, James yang berpengalaman punya tekanan dalam kehidupan keluarganya yang pas-pasan. Adapun Donald yang masih “hijau”, punya ketakutan akan hal-hal baru dan kadang tak sabaran. Menariknya, ketiga aktor mampu membawakan dimensi lain dari karakter masing-masing sehingga mampu menghanyutkan emosi penonton seperti di scene ketika mereka menemukan sepeti emas batangan. Thomas bisa menjadi lebih tenang dan bijak, Donald beralih jadi pribadi nekat, dan James yang mulanya punya ketenangan justru berubah jadi tidak waras. “Apakah kita belajar sesuatu tentang sifat manusia dalam perjalanan menuju bencana yang akhirannya sudah kita ketahui bersama? Jawaban singkatnya tidak tapi filmnya dibuat dengan cukup baik dan tiga aktor yang memainkannya sangat bisa dirasakan penderitaannya oleh kita yang menyaksikan,” tulis David Edelstein di kolomnya di Vulture , 7 Januari 2019. Spekulasi Misteri Sudah lebih dari 121 tahun misteri hilangnya tiga penjaga mercusuar Pulau Eilean Mòr (Thomas Marshall, James Ducat, dan Donald McArthur) masih gelap. Dugaan-dugaan spekulatif tentang nasib mereka pun berhembus tanpa arah di media massa Skotlandia. Seiring waktu, beberapa dugaan dan teori itu mulai tidak masuk akal. Semisal, ketiganya dimangsa ular laut atau burung laut raksasa, diculik mata-mata negara musuh, menjadi korban kapal dan kru hantu, diculik alien, bunuh diri bersamaan, atau dugaan mereka melarikan diri dan memulai hidup baru di tempat yang tak diketahui. The Vanishing mendramatisasi hipotesis terakhir dengan menambahkan “bumbu” intrik dan konflik yang disebabkan oleh penemuan peti harta karun. Jelas bukan tanpa alasan, lantaran investigasi NLB menjelang akhir tahun merujuk pada dugaan hilangnya tiga penjaga mercusuar yang dibangun pada 1895 itu. Dalam Scotland’s Islands, Richard Clubley menguraikan bahwa keanehan yang berujung pada misteri hilangnya ketiga penjaga mercusuar itu terpantau pertamakali oleh kapal uap Archtor yang sedang berlayar dari Philadelphia, Amerika Serikat menuju kota pelabuhan Leith, Skotlandia pada 15 Desember 1900. Setelah merapat di Leith tiga hari berselang, nakhoda kapal, Kapten Jim Harvie, melaporkan pada NLB bahwa saat mereka lewat dekat Kepulauan Flannan dengan cuaca buruk, ia tidak mendapati lampu mercusuar dan peluit kabut berfungsi sebagaimana biasanya. “Kapal suplai rutin Hesperus kemudian berlayar ke pulau itu pada 26 Desember. Penjaga mercusuar pengganti, John Smith (di beberapa sumber menyebutkan Joseph Moore), kemudian melaporkan pandangan mata ke Edinburgh bahwa: ‘sebuah musibah yang mengerikan telah terjadi di (kepulauan) Flannan’,” tulis Clubley. Mercusuar Pulau Eilean Mòr di Kepulauan Flannan ( nlb.org.uk ) Smith mulanya mengabarkan bahwa tidak ada hal aneh karena gerbang dan pintu di mercusuar dalam keadaan tertutup. Mantel-mantel mercusuar juga dalam keadaan tergantung dengan rapi di gantungannya dan dapur tampak bersih. Lampu mercusuar juga bersih dan dalam keadaan siap dinyalakan. Tetapi lantas Smith mendapati beberapa hal ganjil ketika memeriksa kabin-kabin istirahatnya. “Ranjang-ranjangnya masih dalam keadaan berantakan. Sedangkan di ruang makan masih tampak sebuah piring dengan makanan yang belum dihabiskan, posisi kursi makan tergeletak di lantai, jam di ruang makan tidak berfungsi, serta temuan catatan harian yang terakhir di- input tanggal 15 Desember,” lanjutnya. Tiga hari setelah temuan Smith, pengawas NLB Robert Muirhead menggelar investigasi resmi ke pulau tersebut. Selain mengerahkan anak buahnya untuk menyisir setiap sudut pulau, Muirhead juga meneliti input terakhir di catatan harian tertanggal 15 Desember 1900 itu. “Dari bukti yang saya temukan, saya mendapati para penjaga masih menjalankan tugasnya sampai waktu makan malam pada Sabtu 15 Desember, di mana mereka menuliskan bahwa mereka akan mengangkat sebuah peti yang sempat ditemukan di dasar tebing setinggi 110 kaki,” ungkap Muirhead, dikutip R. W. Munro dalam Scottish Lighthouses. Sosok asli para penjaga mercusuar, ki-ka: Thomas Marshall, James Ducat, Donald MacArthur, dan pengawas NLB Robert Muirhead ( oddtruths.com ) Yang menjadi ganjil adalah, dalam salah satu tulisan di catatan terakhir 15 Desember itu, juga disebutkan telah terjadi badai dalam kurun beberapa hari. “Badai telah berlalu, lautan menjadi tenang. Tuhan di atas segalanya,” demikian bunyi diary itu. Padahal faktanya, tidak ada laporan cuaca yang menyatakan terjadi badai baik pada 12, 13, maupun 14 Desember 1900 di wilayah Kepulauan Flannan. Sementara, dari penyisiran seluruh sudut pulau, ditemukan kerusakan tangga di sisi tebing barat pulau. Di dasar tebing berjarak 108 kaki juga ditemukan sebuah peti yang sudah rusak. Isinya bukan emas batangan seperti di The Vanishing , melainkan hanya potongan-potongan besi railing atau pagar yang telah bengkok. Muirhead tak menemukan bukti-bukti lain tentang dugaan adanya tindakan kekerasan. Ia menyimpulkan kerusakan tangga itu akibat ketiganya terjatuh saat berupaya mengangkat peti tersebut. Ketiganya disimpulkan hilang tanpa jejak karena tersapu ombak. “Tetapi teori-teorinya tidak berhenti sampai di situ. Berdasarkan catatan psikis para penjaga, kemungkinan dugaannya juga bermula dari perkelahian di antara mereka di bibir tebing yang menyebabkan ketiganya jatuh dan tewas. Dugaan lain adalah salah satunya terjatuh dan keduanya yang mencoba menolong ikut terjatuh. Teori lainnya menyebutkan salah satu dari mereka menjadi gila, lantas membunuh dua rekannya dan dibuang ke laut, lantas si pelaku ikut melompat dari tebing untuk bunuh diri,” tandas Keith McCloskey dalam The Lighthouse: The Mystery of the Eilean Mor Lighthouse Keepers. Deskripsi Film: Judul: The Vanishing | Sutradara: Kristoffer Nyholm | Produser: Gerard Butler Maurice Fadida, Andy Evans, Sean Marley, Ade Shannon, DG Guyer, Mickey Gooch Jr., James Lejsek, Matt Antoun, Alan Siegel | Pemain: Gerard Butler, Peter Mullan, Connor Swindells, Ólafur Darri Ólafsson, Søren Malling | Produksi: Mad As Birds, Kodiak Pictures, Cross Creek Pictures, G-BASE, iWood Studios | Distributor: Lionsgate | Genre: Drama-Thriller | Durasi: 107 menit | Rilis: 11 Oktober 2018, Mola TV .

  • Keberuntungan Italia di Piala Eropa

    TIM sepakbola Inggris terpaksa gigit jari. Walau berhasil mencapai final turnamen untuk kali kedua sejak Piala Dunia 1966, keberuntungan belum berpihak padanya. “The Three Lions” (julukan Inggris) kalah dramatis dari “Azzuri” Italia dalam laga final Piala Eropa 2020 pada Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Padahal, Harry Kane cs. mendapat dukungan penuh suporter tuan rumah yang menyesaki Stadion Wembley. Terlebih, mereka unggul lebih dulu. Namun sial bagi Inggris lantaran tak bisa mengamankan keunggulan. Alhasil, 90 menit waktu normal dan dua kali babak tambahan, skor bertahan 1-1. Penentuan pemenangnya mesti dilakukan lewat adu penalti. Italia yang menang mental pun sukses menutup adu penalti dengan skor 3-2. Gembar-gembor publik Inggris bahwa “Football is coming home” seketika berubah menjadi “Football is coming to Rome”. Allenatore  Roberto Mancini yang mengantarkan Italia juara Euro 2020 ( uefa.com ) Dewi Fortuna dalam Lemparan Koin Kendati punya prestasi mentereng di Piala Dunia dengan empat kali juara (1934, 1938, 1982, 2006), prestasi Italia di Piala Eropa tak sementereng itu. Sukses Italia di Euro 2020 merupakan kali kedua negeri itu merebut mahkota raja Eropa. Italia pertamakali juara ketika melakoni debutnya di putaran final Piala Eropa tahun 1968. Setelah melalui kualifikasi pada 1967, Italia dipilih UEFA sebagai tuan rumah putaran final Euro 1968. Ketika itu putaran final hanya menyuguhkan empat partai: dua semifinal, satu perebutan juara tiga, dan partai final. Selain Italia, empat tim yang lolos kualifikasi ke semifinal yakni Uni Soviet, Inggris, dan Yugoslavia. Italia kebagian menjamu Uni Soviet. Inggris berhadapan dengan Yugoslavia. “Pertandingan antara Italia-Soviet paling menjadi buah bibir. Tim Soviet sebelumnya menyingkirkan Italia di Piala Dunia (1966) di Inggris dan Piala Eropa (1964) di Spanyol. Tim Azzurri sangat waspada dan tak sabar balas dendam,” tulis Johnny Morgan dalam For the Love of Football: A Companion. Timnas Italia masih dilatih Ferrucio Valcareggi yang gagal di Piala Dunia 1966. Skuadnya di Piala Eropa 1968 pun tak berubah banyak dari skuad Piala Dunia dua tahun sebelumnya. Masih ada kapten Giacinto Facchetti dan Tarnisio Burgnich di lini belakang, Aristide Guarneri dan Gianni Rivera di sektor tengah, serta Sandro Mazzola di depan. Perbedaannya terletak di kiper utama, di mana Dino Zoff mulai dipercaya mengawal mistar menggantikan Enrico Albertosi; dan dimasukkannya Luigi Riva di lini depan. Stadion San Paolo, Napoli jadi saksi bisu laga alot dan keras antara tuan rumah dan Uni Soviet pada 5 Juni 1968. Facchetti, dikutip laman resmi UEFA , 29 Januari 2013 mengenang, saking alotnya pertandingan dalam kondisi cuaca buruk itu, timnya mesti bermain 90 menit tanpa adanya pemenang. Skor masih 0-0. Laga sengit Italia vs Uni Soviet di semifinal Euro 1968 ( uefa.com ) Lantas pada dua kali 15 menit waktu tambahan, Italia mesti bermain dengan sembilan orang. Setelah Gianni Rivera cedera dalam waktu normal setelah bertabrakan dengan Valentin Afonin, Italia mesti merelakan Giancarlo Bercellino yang diterpa cedera lutut. “Italia hampir memainkan segenap waktu permainan dengan sembilan orang saat itu. Pergantian pemain yang cedera belum ada aturannya. Dua pemain kami mengalami cedera, jadi kami harus mengakhiri pertandingan dengan hanya sembilan setengah orang,” kenang Facchetti. Dua kali 15 menit babak tambahan tak berhasil mengubah skor. Padahal, saat itu UEFA belum punya regulasi tentang adu penalti untuk menentukan pemenang. Penentuan pemenang mesti dilakoni dengan laga ulang tapi untuk babak-babak selain itu ditentukan lewat jalan lain. Lucunya, pemenang antara Italia dan Uni Soviet di semifinal itu harus ditentukan dengan lempar koin. Usai 120 menit pertandingan, wasit Kurt Tschenscher asal Jerman Barat memanggil perwakilan pemain dan ofisial tim ke kamar ganti. “Saya hanya bisa berharap keberuntungan ada di pihak kami. Salah satu rekan setim, Burgnich, sempat bertanya siapa yang akan mewakili Italia. Ketika tim menyatakan orangnya adalah saya, dia bilang: ‘semua sudah ditentukan, Facchetti adalah orang yang beruntung,’” ujar Facchetti yang mesti adu “ bejo ” melawan kapten Albert Shesternyov selaku wakil Uni Soviet. Semua kerja keras, keringat, dan air mata hari itu ditentukan oleh gambar kepala atau buntut sebuah koin. Pihak Soviet dan Italia, sambung Morgan, punya cerita berbeda tentang hal itu. Koin yang digunakan juga jadi perdebatan, apakah peseta, rubel, atau dolar. Namun semua ditolak hingga akhirnya semua bersepakat menggunakan koin gulden. Shesternyov lalu memilih gambar kepala dan Facchetti memilih gambar buntut. Wasit Tschenscher pun melempar koinnya, kedua kapten menyilangkan jari sebagai respon. Sial, koin mendarat entah di mana dan hilang. Terpaksa Tschenscher mengulangi. Di lemparan kedua, gambar buntut yang muncul. Italia pun lolos ke final. “Untungnya segalanya berjalan sesuai yang kami prediksikan. Di koridor saya segera berteriak dan ketika publik melihat reaksi saya dan tim, publik tak meragukan hasilnya. Publik merayakannya karena kami masuk final (di internasional) dalam 30 tahun terakhir,” lanjut Facchetti. Namun, ke mana hilangnya koin pertama? “Sebuah rumor mengemuka bahwa tidak lama setelah kedua kapten melihat lemparan koin kedua, seorang ofisial mencari-cari koin pertama yang hilang itu. Setelah dilakukan pencarian dan investigasi, sang ofisial itu menemukannya. Gambar apa yang dia lihat di permukaan? (gambar) kepala,” sambung Morgan. Skuad Gli Azzurri di final Euro 1968 yang memenangkan trofi pertama ( uefa.com ) Di partai puncak, Italia menghadapi Yugoslavia yang menyingkirkan Inggris dengan skor 1-0. Laga yang digelar di Stadion Olimpico pada 8 Juni 1968 itu tak kalah dramatis. Lebih dari 68 ribu suporter tuan rumah jadi saksi betapa Italia dipaksa berjuang mati-matian setelah tertinggal 0-1 di babak pertama. “Di Roma kami mengalami masalah besar melawan Yugoslavia yang timnya sangat bagus. Mereka unggul duluan 1-0 lewat tendangan bebas sebelum turun minum, tetapi kemudian (Angelo, red .) Domenghini menyelamatkan kami. Sejujurnya kami tak layak punya hasil imbang. Namun kami bisa menyamakan skor, jadi final harus dilakukan ulang dua hari kemudian,” kata kiper Italia Dino Zoff mengenang pertandingan dramatis di mana Italia baru bisa menyamakan kedudukan pada 10 menit sisa babak kedua itu. Penentuan pemenang pun dilakukan. Kali ini tidak lewat lempar koin. UEFA menyatakan mesti dilakukan laga final ulang. Final ulang digelar di Olimpico pada 10 Juni. Kendati hanya dihadiri setengah jumlah penonton dari final pertama, Italia mampu menampilkan permainan yang lebih menggigit dan menang 2-0. “Di pertandingan (final) ulangan, kami melakoni performa yang lebih sempurna dan menang 2-0 berkat gol (Luigi) Riva dan (Pietro) Anastasi. Di saat itulah kami baru merasa laik sebagai pemenang pertandingannya,” tandas Zoff. Baca juga: Olimpico, Kuil Sepakbola "Kota Abadi" Roma

  • Carmel Budiardjo, dari Praha ke Gulag Indonesia

    Ketika menghadiri Konferensi Pelajar Internasional di Praha pada 1946, Carmel Brickman bertemu dengan seorang pemuda Indonesia bernama Suripno. Perempuan asal Inggris itu lalu bersahabat dan melakukan perjalan ke Yugoslavia. Di sana, mereka bergabung dengan Brigade Pemuda Internasional dan turut serta membangun Youth Railway (Kereta Api Pemuda). Sayangnya, persahabatan mereka begitu singkat. “Saya tidak tahu pada saat itu bahwa dia adalah seorang pemimpin Partai Komunis. Beberapa tahun kemudian dia ditembak mati di Madiun, Jawa Timur, bersama sepuluh komunis terkemuka lainnya setelah bentrokan keras antara PKI dan tentara,” tulisnya dalam Surviving Indonesia’s Gulag . Selama di Praha, Carmel memang dekat dengan komunitas Asia, termasuk Indonesia. Hingga pada 1947 ketika diterima bekerja sekretariat International Union of Student (IUS) Praha, Carmel kembali dekat dengan pria Indonesia bernama Suwondo Budiardjo. Kala itu Suwondo sedang menempuh studi ilmu politik di Universitas Charles, Praha. Keduanya kemudian menikah di Praha pada 1950 dan pindah ke Indonesia dua tahun kemudian. Carmel, yang kemudian menggunakan nama belakang Budiardjo, bekerja sebagai penerjemah di kantor berita Antara . Ia lalu menjadi peneliti ekonomi di Kementerian Luar Negeri sejak 1955. Suwondo, kala itu merupakan pejabat senior di Kementerian Angkatan Laut. Mereka tinggal di kawasan elit, Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Peristiwa G30S meletus 13 tahun setelah Carmel tinggal di Indonesia. Kendati bukan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), keanggotaannya dalam Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) yang beraliran kiri membuatnya langsung dipecat dari Kementerian Luar Negeri. Carmel juga kehilangan pekerjaan sebagai dosen serta penulis esai ekonomi popular di media massa. Carmel tidak ditangkap pada 1965, namun harus beberapa kali diinterogasi. Sementara, Suwondo dua kali ditahan sejak Oktober 1965. Pada September 1968, ia ditangkap lagi. Kali ini bersama Carmel. Carmel menduga, ia baru ditangkap pada 1968 karena kegiatan politiknya tak begitu aktif hingga 1965. “Saya tidak dalam posisi untuk menjalin hubungan apa pun dengan gerakan bawah tanah yang muncul setelah Partai Komunis dilarang; Saya bahkan tidak bisa mengartikulasikan pendapat saya tentang kebijakan ekonomi pemerintah baru karena tidak ada surat kabar yang berani mempublikasikan pandangan seseorang yang begitu dicurigai dan tidak disukai,” tulisnya dalam “Three years as political prisoner in Indonesia” yang termuat dalam Journal of Contemporary Asia. 1973. Kedua anak Carmel, Tari Lang (17) dan Anto Budiardjo (12), dikucilkan oleh teman dan kerabat. Rumah mereka dijaga ketat tentara. Pada 1970, Angakatan Darat akhirnya menyita rumah itu. Selama dua tahun rumah itu masih diperebutkan. Sementara kedua anak Carmel akhirnya pergi dari Indonesia dan tinggal bersama keluarga Carmel di London. Sejak ditangkap, Carmel dipenjara hingga November 1971. Ia hanya boleh bertemu kerabat dua kali. Ia tak bisa mendapat informasi dari luar, apalagi berkirim surat mengabarkan keadaannya di dalam penjara. Carmel mengenang, para tahanan tidur di lantai tegel tanpa tikar maupun alas seadanya. “Saya belajar di penjara bagaimana rasanya menjadi sangat lapar. Ransum makanan kami sehari-hari hanya berjumlah dua piring nasi ditambah sepiring kecil sayuran berair dan sepotong kecil tahu atau kadang-kadang ikan asin porsi kecil. Kami melihat daging atau telur hanya beberapa kali dalam setahun pada hari-hari raya,” kenang Carmel. Selain makanan buruk, di luar itu para tahanan hanya mendapat air minum. Pakaian ganti atau sabun pun tak diberi. Tapi yang lebih mengerikan, selama interogasi, banyak terjadi penyiksaan dan pelecehan seksual. “Banyak wanita ditelanjangi dan dipukuli selama interogasi dan beberapa rekan tahanan saya menderita karena alat-alat kasar dimasukkan ke dalam vagina mereka. Pemerkosaan terhadap interogasi atau tahanan perempuan tidak jarang terjadi,” ungkap Carmel. Ketika banyak dari tahanan laki-laki dikirim ke Pulau Buru, tahanan perempuan dikirim ke Plantungan. Carmel tak menjadi salah satu dari mereka. Pada 1954, ia telah mengajukan permohonan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Namun, hingga ia ditahan, paspornya belum keluar. Maka ia berusaha mengembalikan kewarganegaraan Inggrisnya agar dibebaskan. Usaha itu berhasil pada November 1971 dengan bantuan Amnesty International. Setelah bebas, ia harus keluar dari Indonesia. Carmel lalu kembali ke London. Suaminya, Suwondo, harus tinggal di bui selama tujuh tahun. Setelah bebas pada 1975, Suwondo pun kembali bersama keluarganya di London. Tak lama usai menghirup kebebasan, Carmel tak tinggal diam melihat ketidakadilan di Indonesia. Pada 1973, ia mendirikan organisasi TAPOL untuk mengkampanyekan pembebasan para tahanan politik. Organisasi sukarela ini bergerak dari flat kecil Carmel di London. “Misinya adalah mengamankan kebebasan puluhan ribu tapol yang ditinggalkannya, yang hampir semuanya ditahan tanpa pengadilan sebagai tersangka komunis pasca-penumpasan antikomunis 1965 (kata tapol merupakan singkatan dari dua kata bahasa Indonesia tahanan politik yang berarti 'tahanan politik'),” tulis tapol.org . Selama puluhan tahun TAPOL telah melakukan kampanye terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM di Indonesia. Berawal dari isu 1965, kemudian memasuki isu invasi Indonesia di Timor Timur, konflik Aceh hingga Papua Barat. Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), Wilson Obrigados, bertemu dengan Carmel pada Februari 1996. Kala itu, TAPOL dan Amnesty International tengah mengorganisir kampanye mendukung kemerdekaan Timor Leste dan demokrasi di Indonesia. Wilson mengenang, ia bersama Carmel berjalan kaki untuk menemui orang-orang dan lembaga-lembaga terkait. “Energi Bu Carmel seperti tak ada habisnya,” tulis Wilson dalam obituari untuk Carmel, seperti diterima Historia melalui pesan Whatsapp . Carmel memang tangguh. Berbekal fakta-fakta pelanggaran HAM berat yang dilakukan rezim Soeharto, ia mendatangi parlemen dan politisi Inggris, media internasional, organisasi HAM hingga berbagai komunitas solidaritas. Dari situ, kasus-kasus pelanggaran HAM oleh militer Indonesia mulai menjadi perhatian dunia internasional. “Dari kasus pelanggaran HAM korban 1965, Ibu Carmel semakin dibenci pemerintah Orba karena  melakukan internasionalisasi pelanggaran HAM berat di Timor Leste, Papua dan Aceh. Di tiga wilayah ini terjadi konflik antara gerakan pembebasan nasional berhadapan dengan militer Indonesia yang memberlakukan Daerah Operasi Militer,” tulis Wilson. Menurut Wilson, kemerdekaan Timor Leste dan tumbangnya kediktatoran Soeharto adalah kisah sukses kerja aktivisme TAPOL dan Carmel. Pada 1995, Carmel dianugerahi Right Livelihood Award dari Stokholm. Pada tahun sama ia juga menerima penghargaan dari organisasi PIJAR dan koalisi LSM Aceh. Pada 2008, Carmel menjadi orang pertama yang menerima John Rumbiak Human Rights Defenders Award. Atas jasa-jasanya pada Timor Leste, pada 2009, Presiden Timor Leste Jose-Ramos Horta memberi Bintang Timor Leste kepada Carmel Budiardjo. Meski terserang stroke sejak 2005, perempuan kelahiran London, 18 Juni 1925 ini masih terus konsisten dengan perjuangannya hingga berita duka itu tiba. Carmel Budiardjo meninggal dunia di London pada Sabtu, 10 Juli 2021. Selamat jalan, Pejuang.

  • Membiayai Republik dengan Perdagangan Gelap

    SLAMET Iman Santoso, dokter di Rumah Sakit Oemoem Negeri (RSON) Jakarta (sekarang RSCM), berjalan hati-hati. Dia menengok ke belakang berkali-kali kalau-kalau ada yang mengikuti. Langkahnya hampir sampai ke rumah seorang pedagang keturunan Tionghoa di Pasar Pagi, Kota Tua. Slamet bertemu dengan pemilik rumah, lalu mendapat secarik kertas bertuliskan huruf kanji. Dari sana, dia melangkah menuju tempat seorang serdadu Gurkha. Arkian itu dia harus menemui nelayan, kemudian pedagang. Ada total enam orang dia temui hanya untuk memperoleh Oeang Republik Indonesia (ORI). Tiap kali bertemu dengan orang-orang itu, Slamet mendapat kode dan petunjuk tertentu. Tujuannya untuk menghindari kecurigaan tentara NICA. Kala itu sekira 1946 atau 1947, Slamet mengemban tugas untuk membeli obat-obatan selundupan dengan uang selundupan pula. Pengalamannya tertuang dalam Warna-Warni Pengalaman Hidup.

  • Alkisah Senjata Berludah

    Mayor Ibrahim Adjie pernah hampir baku tembak dengan seorang perwira Batak sewaktu bertugas di Tapanuli. Saat itu, Ibrahim Adjie memanggil seorang komandan yang terkenal beringas dan jago anggar, untuk diperintahkan berpindah basis. Di luar dugaan, Si Komandan itu malah meminta balik agar Adjie yang mendatangi markasnya. Meski bikin jengkel, Adjie tetap beritikad baik dengan sowan ke markas komandan itu. Ketika berunding, Sang Komandan bersikukuh mempertahankan basisnya dan ogah pindah. Sikap membangkang itu menyulut Adjie untuk bersikap lebih tegas. Di tengah perdebatan sengit, Sang Komandan mengambil pistol kemudian meludahi ujung larasnya. Sembari meletakan pistol di meja, dia mengancam Adjie. “Kau aku kasih kesempatan untuk pergi dari sini sampai ludah di pistolku itu kering. Jika tidak, kau kutembak!” teriaknya. Tapi, Adjie tidak termakan gertakan. Meski masih basah kena cipratan ludah, Adjie menyambar pistol itu lalu balik menodongkannya ke batok kepala Si Komandan, “Tak perlu menunggu ludah itu kering, sekarang juga kau aku tembak jika tidak ikut perintahku!” ujar Adjie. Begitulah penuturan Kiki Adjie – putra Ibrahim Adjie – kepada Historia mengisahkan pengalaman ayahnya. Menurut Kikie, demonstrasi pistol berludah itu adalah aksi nyeleneh yang biasa dilakukan untuk menguji nyali para komandan di Tapanuli. Tapi, Kikie tidak memperoleh keterangan dari ayahnya tentang siapa sosok komandan yang mengancamnya dengan pistol berludah itu. Sosok Matheus Sihombing Apabila merujuk waktu dan tempat, kejadian tersebut berlangsung setelah November 1948. Saat itu, Adjie menyertai Letkol Alex Kawilarang yang diangkat menjadi panglima komandamen Sumatra Utara. Sebagai stafnya Kawilarang, Adjie bertugas membantu penertiban para komandan brigade yang saling bertempur satu sama lain. Mayor Ibrahim Adjie dalam Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatra, 1945--1950 terbitan Dinas Sejarah Kodam II Bukit Barisan disebutkan menetap di Penyabungan sebagai pejabat gubernur militer untuk daerah Tapanuli Selatan dan Sumatra Timur Selatan. Salah seorang komandan yang berkuasa di daerah itu ialah Kapten Matheus Sihombing. Tepatnya, Sihombing merupakan komandan Batalion V dari Sub Sektor Padang Lawas Sipirok. Kuat dugaan, Matheus Sihombing inilah yang berperkara dengan Ibrahim Adjie sehubungan dengan insiden pistol berludah itu. Matheus Sihombing seperti tercatat dalam 35 Tahun Kadet Brastagi termasuk salah satu pemimpin Laskar Rakyat Medan Timur yang legendaris. Dia kesohor karena memimpin barisan preman dalam pertempuran Medan Area. Pasukannya berasal dari pemuda-pemuda Tapanuli yang bermukim di Medan. Kebanyakan dari mereka adalah bekas jagoan atau para kriminal di samping pemuda pengangguran yang menggabungkan diri secara sukarela. “Kelompok dari Matheus Sihombing yang bermarkas di Kongsi Dua itu kemudian terkenal dengan nama Laskar Pembinaan Napindo,” tulis Forum Komunikasi Ex Sub Teritorium VII Komando Sumatera dalam Perjuangan Rakyat Semesta Sumatera Utara . Dalam jajaran kelaskaran di kota Medan, Matheus boleh dikata sebagai orang kedua paling berpengaruh setelah Timur Pane. Pada akhir 1946, Timur Pane mengajak Matheus Sihombing dan Liberty Malau membentuk Brigade Marsose. Kelompok ini menjadi barisan laskar yang sangat kuat di Sumatra Utara membawahi belasan batalion. Menjelang perang kemerdekaan pertama, Brigade Marsose dilebur ke dalam Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan nama Legiun Penggempur.  “Si Mitraliur” Menurut berbagai penuturan, Matheus Sihombing digambarkan sebagai sosok yang sangar, berkuasa, dan disegani, tapi tidak berpendidikan. Karena buta huruf, Matheus biasanya membubuhi namanya dengan hanya melukiskan sebuah bulatan dengan secoret garis di tengahnya. Dia juga disebut-sebut sebagai seorang pentolan laskar yang setia kawan. Sebagaimana dikisahkan oleh Mas Kadiran, kepala pasukan Barisan Istimewa Polisi Karesidenan Tapanuli ketika dirinya dilucuti dan tertawan oleh Laskar Rakyat Naga Terbang pimpinan Timur Pane di Kuala Namu, Lubuk Pakam. Mengetahui Kadiran ditangkap, Matheus Sihombing meminta supaya Kadiran dipindahkan ke markasnya di Galang Sungai Putih. Setelah ditahan selama beberapa hari dengan perlakuan yang baik, Matheus Sihombing kemudian membebaskan Mas Kadiran. “Bantuan Matheus Sihombing ini dikarenakan dalam pertempuran di Medan Area, Mas Kadiran banyak membantu senjata dan amunisi kepada Matheus Sihombing,” ungkap H. Hadiman dalam Lintasan Perjalanan Kepolisian RI Sejak Proklamasi--1950 . Kendati demikian, Matheus Sihombing pun tidak sungkan berlaku bengis pada siapa saja. Seperti dicatat sastrawan Sitor Situmorang  bahwa Matheus Sihombing juga pernah mengancam Gubernur Sumatra Teuku Mohammad Hasan lewat aksi pistol berludahnya . “Matheus Sihombing,” kata Sitor dalam otobiografinya Sitor Situmorang: Seorang Sastrawan 45, “meninggalkan kisah ultimatumnya kepada Gubernur Hassan , hal pistol berair-ludah.” Kiranya dari kelakuannya itulah tercetus nama alias yang nyentrik pada diri Matheus Sihombing, yakni “Si Mitraliur” yang bisa diartikan: senapan berludah. Terbiasa beraksi dengan pistol, kisah hidup Matheus Sihombing ditutup dengan desingan peluru. Peristiwa itu terjadi menjelang agresi militer Belanda yang kedua pada akhir 1948. Seperti ditulis Sitor, Matheus dikabarkan terbunuh karena tembakan yang dilepaskan oleh rekan yang jadi saingannya. Namun, Alex Kawilarang dalam otobiografinya Untuk Sang Merah Putih: Pengalaman 1942—1961 menyebut Matheus Sihombing mencoba untuk merebut kekuasaan, tetapi ia segera ditindak oleh pasukan Sektor II Sub Teritorium VII Sumatera pimpinan Mayor Liberty Malau. “(Matheus Sihombing)”, kata Kawilarang, “dikejar, ditangkap, dan ditembak mati.”

  • Satir Penerbang Bengal dalam Catch-22

    SIRINE ambulans Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat meraung-raung di Pangkalan Udara (Lanud) Pianosa, Italia suatu siang di tahun 1944. Tim medis berlarian mendekati pesawat-pesawat pembom medium B-25 Mitchell yang mendarat darurat di lanud itu. Dari salah satu pesawat itu, Kapten John ‘Yo-Yo’ Yossarian (diperankan Christopher Abbott) menuruni tangga pesawat tanpa pakaian dan tubuhnya berlumuran darah. Yo-Yo baru kehilangan salah satu kru penembaknya yang rekrutan baru, Letnan Christopher Snowden (Harrison Osterfield), yang tewas di pelukannya dalam misi pemboman. Di antara kesibukan tim medis lanud dan kepulan asap mesin pesawat yang rusak, Yo-Yo berteriak histeris. Mentalnya terguncang. Sekejap kemudian, alur cerita mundur. Trio sutaradara George Clooney, Grant Heslov, dan Ellen Kuras menghadirkan kilas balik episode pertama miniseri bertema Perang Dunia II bertajuk Catch-22 ini. Digarap dengan kemasan komedi-satir, miniseri ini diadaptasi dari novel bertajuk serupa karya Joseph Heller. Cerita bergulir ke medio 1941, saat Yo-Yo masih pendidikan kadet di Lanud AD Santa Ana, California. Ia dan delapan karib seangkatannya dikenal sebagai kelompok kadet paling bengal. Jangankan untuk bersikap disiplin, untuk baris-berbaris saja kesembilan kadet itu kerap gagal membuat formasi rapi walau sudah 11 pekan dalam pelatihan. Saking bengalnya, Yo-Yo bahkan berani berselingkuh dengan Marion (Julie Ann Emery), istri komandannya, Kolonel Scheisskopf (George Clooney). Mereka acap kena batunyadari Kolonel Scheisskopf. Kendati dikenal suka melawan komandan, mereka tetap lulus dengan pangkat letnan penerbang dan dikirim tugas tempur di front Mediterania pada medio 1943. Yo-Yo dkk. ditempatkan di Skadron ke-256, Divisi Korps Udara ke-27, Wing Udara ke-57 AD Amerika yang berbasis di Lanud Pianosa. Adegan kadet John 'Yo-Yo' Yossarian dan kawan-kawan seangkatannya semasa pelatihan (Hulu) Dalam adegan-adegan di Pianosa itulah karakter-karakter asli para letnan bengal itu terkuak. Clevinger selalu sok pintar, McWatt penggila adrenalin. Nately pendiam dan jadi “bucin” seorang pelacur Italia, sertapenjilat yang berambisi jadi penanggungjawab logistik dan dapur umum bernama Milo. Sedangkan Yo-Yo, selalu mencari cara untuk bisa lekas pulang sebelum berpotensi tewas dalam penugasannya tanpa dicap desersi. Yo-Yo sempat mendekati pendeta Kapten Albert Tappman (Jay Paulson), perawat Letnan Sue Ann Duckett (Tessa Ferrer), dan dokter lanud Mayor Dan Daneeka (Grant Heslov) untuk meyakinkan bahwa dirinya sudah gila. Harapannya agar ia bisa direkomendasikan mengalami gangguan jiwa dan dibebastugaskan atau setidak-tidaknya di- grounded. Namun, Daneeka menguraikan bahwa keinginan Yo-Yo nyaris mustahil. Pasalnya terdapat peraturan yang paradoksal bernama “Catch-22”. Hal itu membuat Yo-Yo hanya bisa menatap kosong dan cenderung depresi saat mendengar penjelasan Daneeka. “Siapapun yang ingin keluar dari penugasan sebenarnya tidak gila. Catch-22 secara spesifik menyebutkan, kekhawatiran akan keselamatan diri di hadapan situasi bahaya, secara nyata dan langsung, adalah proses dari pikiran yang rasional. Kau bisa saja jadi gila tapi untuk di -grounded , kau harus mengajukan permintaan itu. Tapi untuk mengajukan permintaan, kau pasti berada dalam kondisi waras. Karena hanya orang waras yang bisa mengajukan permintaan,” kata Daneeka. Kolase adegan Yo-Yo meyakinkan Doc Daneeka (kiri) & perawat Sue Ann Duckett bahwa ia gila (Hulu) Aturan yang simpel itu ternyata sangat kusut. Intinya, Yo-Yo tetap terikat pada tugas dan tidak berhak dibebastugaskan selama Korps Udara AD Amerika membutuhkannya. Alhasil Yo-Yo mengeluarkan banyak akal-akalan. Selain merusak alat komunikasi pesawatnya sendiri agar bisa lekas balik ke lanud tanpa menjalankan misi, ia menyabotase peta operasi dan misi pemboman ke Bologna. Kelakuannya itu lalu menghasilkan rantai kejadian yang tak mengenakkan. Salah satunya menimbulkan hoaks bahwa pasukan Divisi Infantri ke-10 sudah merebut Bologna sehingga membuat korps udara tak perlu mengerahkan misi pemboman. Hoaks Bologna sudah aman itu mengakibatkan perwira urusan akomodasi, Mayor De Coverley (Hugh Laurie), datang sendirian ke sana. Dia kecele ketika masuk ke sebuah gedung, ternyata penuh serdadu Jerman. Sejak saat itu De Coverley dilaporkan dalam daftar MIA ( missing in action ). Komandan divisi Kolonel Chuck Cathcart (Kyle Chandler) pun naik pitam. Selama pelaku sabotase itu tak ditemukan, ia menambah kuota misi terbang sebelum setiap penerbang bisa dibebastugaskan. Dari 25 misi di awal, kuota ditambah menjadi 30, lantas 40, dan terakhir 55 misi. Gegara ulah Yo-Yo, Mayor De Caverley kecele masuk gedung yang penuh pasukan Jerman (Hulu) Di setiap misi, jiwa Yo-Yo perlahan tergerus gegara satu per satu karib seangkatannya hilang atau tewas. Situasinya kian lebih runyam kala Brigjen Scheisskopf, musuh lamanya, datang mengambilalih operasi di Lanud Pianosa dari tangan Cathcart. Bagaimana Yo-Yo membendung luapan emosi seiring bertambahnya kuota misi terbang walau buah zakarnya sempat cedera kena pecahan peluru meriam Flak 88? Saksikan kelanjutan dalam enam episode di aplikasi daring Mola TV . Humor dalam Kegetiran Secara estetis, Catch-22 begitu memanjakan mata penonton dengan pemandangan alam Italia Selatan dan Italia Tengah yang hadir melalui mata para penerbang saat menjalani misi-misi terbang mereka. “Vitamin” mata kian bertambah dengan suguhan gedung-gedung tua khas Roma dan kota-kota di selatan Italia dalam beberapa adegan kala para penerbang mendapat cuti. Jiwa penonton kian “kenyang” dengan hadirnya music scoring berwarna garapan duet komposer bersaudara Harry dan Rupert Gregson-Williams. Selain irama komikal era 1940-an yang mendampingi adegan-adegan konyol, alunan mendayu khas Italia yang mengiringi adegan-adegan tragis memperkaya suasana batin para pemirsa. Keotentikan wardrobe dan propertinya pun patut diacungi jempol. Replika pesawat pembom asli yang masih bisa terbang turut digunakan. Yang lebih jempolan lagi, lantaran tidak meniru film-film Perang Dunia II buatan Amerika, beberapa warga dan pelacur lokal tetap berdialog menggunakan bahasa Italia sehingga terjadi banyak kesalahpahaman dengan para penerbang Amerika. Terlepas dari kesan yang dipetik beberapa kritikus bahwa miniseri ini tak sedalam dan tak setajam novel aslinya, Catch-22 lewat penampilan karakter-karakter utamanya dinilai lebih dark dalam eksplorasi satir ketimbang film bertajuk serupa versi 1970. Kisah Catch-22 berpusar pada konflik Yo-Yo (kedua dari kiri) dan karib seangkatannya (Hulu) Catch-22 juga sedikit mengingatkan pada serial-serial dengan tema serupa, semisal Band of Brothers (2001) dan The Pacific (2010). Ia menggali lebih dalam kondisi kejiwaan prajurit perang yang terguncang. Bedanya, jika para tokoh pada dua seri di atas mengalami gangguan mental akibat gempuran musuh, karakter-karakter utama di Catch-22 terguncang jiwanya akibat sistem birokrasi di kemiliteran Amerika sendiri, terutama dengan aturan “Catch-22”. “Saya tak bisa bayangkan jika yang terjadi pada cerita itu tidak terjadi di dunia sampai sekarang. Sayangnya kisah seperti ini terus beresonansi. Perlawanan terhadap sistem dan sistem itulah yang hampir selalu menang. Segalanya absurd, termasuk ketika para perwira tua yang membuat keputusan dan prajurit-prajurit muda yang tewas karenanya,” tutur Clooney kepada Channel 4 , 11 Juni 2019. Sebagaimana novelnya, kisah dalam film ini merupakan dramatisasi dari kisah nyata namun begitu aktual menggambarkan kompleksitas kegilaan para karakternya. Ini membuka mata penonton bahwa di balik tugas tempur, para personil AU juga punya konflik batin yang tak kalah pelik dari serdadu darat maupun laut. Tokoh Letnan Milo, misalnya. Situasi perang membuatnya jadi penjilat dan berhasil menikmati jabatan sebagai penanggungjawab logistik. Akibatnya, kuota misi terbang tidak dipedulikannya lagi. Dia malah keenakan membangun jaringan bisnis dan sindikat logistik dengan memanfaatkan alutsista yang ada. Kolase kekonyolan Brigjen Scheisskopf yang mengintip kantong menyan Yo-Yo yang cedera (Hulu) Beda lagi dengan McWatt. Ia dibuat frustrasi oleh keterpaksaan meninggalkan satu misi terbang gara-gara alat komunikasinya disabotase Yo-Yo, hingga berujung pada tragedi yang memakan korban kawan lainnya. Saat Yo-Yo dkk. tengah bersantai berenang di laut, McWatt mengusili dengan terbang rendah menggunakan pesawat serbu tapi akhirnya menabrak Kid Sampson hingga tubuhnya hancur. Tokoh Aardvark lain lagi. Setelah merudapaksa dan membunuh gadis pelayan Italia, ia jadi pribadi yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Sedangkan karakter Kolonel Cathcart yang gila prestasi dan jabatan, tak peduli pada para penerbangnya dengan terus-menerus menambah kuota misi terbang. Satu adegan yang lucu adalah ketika Sersan Major Major Major dalam sekejap dipromosikan Cathcart menjadi mayor gegara kesalahpahaman akan namanya yang unik. Kejadian itu membuatnya gagap akan tugas dan wewenang yang lebih tinggi. Namun, karakter Yo-Yo makin frustrasi dan depresi. Bukan hanya karena kuota misi terbangnya selalu ditambah, namun ia mulai sadar bahwa kematian rekan-rekannya tak lain disebabkan kelakuan bengalnya. Niatnya menyabotase banyak hal demi menyelamatkan banyak nyawa teman-temannya justru berbuah sebaliknya. Ia pun makin sadar bahwa AD takkan berkenan membebastugaskannya, peduli setan sudah berapa banyak misi terbang yang ia jalani hingga kantong menyannya cedera terkena pecahan meriam antiudara Jerman. Meski kemudian dipromosikan jadi kapten, ia hanya bisa melakukan perlawanan dengan menjalankan tugas-tugas lagi tanpa seragam alias telanjang sebagai bentuk protesnya. Dramatisasi Pengalaman Pribadi Aturan “Catch-22” sebetulnya bukanlah aturan tertulis yang pernah ada dalam kesatuan militer Amerika manapun. Tetapi substansinya begitu aktual, terutama sebagaimana yang pernah dialami Heller di masa mudanya kala bertugas sebagai bombardier di Front Mediterania. Diungkapkan Michael C. Scoggins dalam “Joseph Heller’s Combat Experiences in Catch-22” yang termuat dalam buku WLA: War, Literature & the Arts , Heller kala baru menginjak usia 19 tahun pada 1942, bergabung ke Korps Udara AD Amerika dan dikirim ke Front Mediterania bersama Skadron Pembom ke-488 dari Grup Pembom ke-340 di dalam Wing Pembom ke-57. Tak ayal sejumlah penggambaran detail misi-misi penerbangan dalam Catch-22 merupakan cerminan pengalaman pribadinya. Nama karakter utama John ‘Yo-Yo’ Yossarian ia pinjam dari nama karibnya sendiri, Francis Yohannon. “Akan tetapi karakter Yossarian sendiri bukanlah 100 persen penggambaran Yohannon. Karakter Yossarian, kata Heller, ‘adalah penjelmaan dari keinginannya untuk berontak,’” tulis Scoggins. Tokoh Yo-Yo tak lain alter ego sang novelis, Joseph Heller (kanan) saat bertugas sebagai bombardier (Hulu/Hollings Library, University of South Carolina) Selepas lulus dari pendidikan kadet dengan pangkat letnan dua, Heller bersama Skadron ke-488 berbasis di Pulau Corsica pada akhir 1944. Heller pun mengalami penambahan kuota seiring jalannya perang walau sebagian besar misi tempurnya berada di garis belakang, di mana ia hanya membom sasaran-sasaran Jerman yang sedang mundur, bukan di garis depan. “Kesatuannya terlibat dalam misi-misi dukungan taktis di utara Italia dan selatan Prancis. Angka (kuota) misi dalam Catch-22 merupakan cerminan yang akurat akan kenyataan dalam peperangan di selatan Eropa. Mulanya para kru (pesawat pembom) B-17 dan B-24 hanya ditetapkan dengan 25 misi sebelum bisa dipulangkan. Tetapi kuota Heller terus dinaikkan beberapa kali menjadi 50, kemudian 55 dan terakhir 60 sebelum akhirnya Heller bisa pulang,” sambungnya. Dengan kata lain, karakter Yo-Yo adalah alter ego Heller sendiri. Kisah di bagian akhir kala depresi Yo-Yo mencapai klimaksnya setelah Letnan Snowden tewas di pelukannya akibat terkena pecahan meriam Flak 88 juga pengalaman pribadinya. Hampir setiap adegan film sesuai dengan yang dialaminya dalam misi membombardir sasaran Jerman di Ferrara pada 16 Juni 1944. Karakter Snowden adalah alter ego dari prajurit bernama Vandermeulen. Akibat kejadian itu, Heller tak lagi menjadi pribadi yang sama. Ketika sudah saatnya bisa pulang, Heller memilih pulang dengan naik kapal laut ketimbang pesawat. “Saya mungkin untuk sesaat dianggap dan diperlakukan sebagai pahlawan, tetapi saya tak merasa demikian. Mereka (birokrasi) mencoba membunuh saya dan saya hanya ingin pulang. Mereka selalu mencoba membunuh kami semua setiap kali kami terbang sama sekali tak terasa sebagai hal menyenangkan. Saya selalu ketakutan dalam setiap misi setelah kejadian (Vandermeulen), bahkan ketika misinya tak menghadapi perlawanan musuh,” tandas Heller dikutip Scoggins. Deskripsi Film: Judul: Catch-22 | Sutradara: George Clooney, Grant Heslov, Ellen Kuras | Produser: George Clooney, Grant Heslov, Ellen Kuras, Steve Golin, Richard Brown, David Michôd, Luke Davies | Pemain: Christopher Abbott, Kyle Chandler, George Clooney, Hugh Laurie, Graham Patrick Martin, Lewis Pullman, Rafi Gavron, Daniel David Stewart, Austin Stowell, Jon Rudnitsky, Gerran Howell, Grant Heslov, Julie Ann Emery, Tessa Ferrer | Produksi: Lakeside Ultraviolet Yoki Inc., Smokehouse Pictures, Anonymous Content, Paramount Television | Distributor: Hulu, Sky Atlantic | Genre: Komedi-Satir | Durasi: 40-43 menit/6 episode | Rilis: 17 Mei 2019, Mola TV.

  • Sepak Terjang Madmuin Hasibuan

    LANGIT kota Bekasi begitu terik Rabu (30/6/2021) siang itu. Namun kondisi itu tak melunturkan semangat Walikota Bekasi Rahmat Effendi untuk terus mengayunkan langkahnya menuju permakaman di belakang Masjid Agung Al-Barkah. Di sela kesibukannya dalam penanggulangan Covid-19, Pepen, begitu sang walikota biasa disapa, menyusuri jalan kecil di belakang masjid diiringi beberapa stafnya. Kedatangannya secara mendadak ke kampung di belakang masjid itu pun menimbulkan kehebohan warga. Dekat pagar yang dinaungi pohon rindang, Pepen berteduh sambil menunggu pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Barkah berlarian mengambil kunci gembok makam. Ketika gembok pagar permakaman sudah dibuka, Pepen tampak semangat menuju sebuah pusara di sebuah pojokan yang kondisinya memprihatinkan.   Semen, batu bata, dan keramik biru yang mengelilingi kuburan itu sudah gompal di sana-sini. Dedaunan kering dan sampah kaleng minuman juga berserakan di atasnya. Di nisannya tertera tulisan dengan goresan cat hitam berbunyi: M. HASIBUAN. LAHIR: TH. 1922. WAFAT TH. 1961. “Salah satu tokoh pejuang kota Bekasi yang ada nama jalannya, Jalan M. Hasibuan. Pernah menjadi pimpinan DPRD pemekaran Kabupaten Bekasi dan dimakamkan di sini, di belakang Masjid Agung Al-Barkah,” kata Pepen sambil memandangi makam. Walikota Bekasi Rahmad Effendi mengaku akan memugar makam Mayor M. Hasibuan (Randy Wirayudha/Historia) Sebelum mengakhiri ziarah dadakan itu, Pepen berjanji akan melakukan pemugaran makam tersebut. Selain itu, dia mengagendakan pemberian penghargaan kepada ahli waris keluarga Hasibuan, sebagai bentuk penghormatan atas jasa perjuangan almarhum yang dirasakan bersama di alam kemerdekaan saat ini. “Nanti saya akan minta Kabag Kesos untuk makamnya segera dirapihkan. Terus Disparbud bentuk tim untuk menindaklanjuti (penghargaan). Kalau melihat status kesatuannya (ALRI), insya Allah mungkin akan jadi pahlawan nasional, karena pada saat itu pergerakan yang ada di Jakarta tidak terlepas dari pertahanan yang ada di Bekasi bersama (pahlawan nasional) K.H. Noer Ali,” tandasnya. Senada dengan walikota, Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarhal) juga mengaku punya rencana memperbaiki makam tersebut saat dikonfirmasi secara terpisah. Namun, hal itu akan dikoordinasikan terlebih dulu. “Kita sudah sempat tinjau juga (makamnya) ke sana dan benar, itu makamnya yang sudah diberi bendera. Setelah ini kita mau menyusun laporan untuk diserahkan ke wakastaf. Rencana kami memang sama seperti Pak walkot, mau merehabilitasi makam. Malah walikota Bekasi mau menjadikan tugu sekalian, kita alhamdulillah. Nanti kami rencanakan dengan walikota Bekasi dan ketua DPRD Kota Bekasi biar klop,” ujar Kasubdit Penulisan dan Produksi Disjarhal Kolonel Heri Sutrisno kepada Historia , Senin (5/7/2021). Kasubdit Penulisan dan Produksi Disjarhal Kolonel Heri Sutrisno (Randy Wirayudha/Historia) Siapa Madmuin Hasibuan? Kendati namanya banyak ditemukan di sejumlah buku, hingga saat ini informasi mengenai M. Hasibuan masih minim. Tak ayal, kecuali tahun lahirnya yang diketahui sebagaimana tertera di pusaranya, tanggal dan bulan serta tempat kelahirannya pun masih terselubung misteri. Pun dengan tanggal dan bulan serta penyebab kematiannya di tahun 1961, masih tetap misteri. Menurut Ali Anwar dalam biografi KH. Noer Ali , Kemandirian Ulama Pejuang, Hasibuan di zaman pendudukan Jepang merupakan salah satu mandor pelabuhan Tanjung Priok. Bersama adik iparnya, Yakub Gani, ia hadir menyaksikan pembacaan proklamasi oleh Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945. Yakub Gani yang juga salah satu murid KH Noer Ali, kemudian pulang ke Bekasi untuk ikut menyebarkan berita proklamasi. Sementara, Hasibuan kembali ke pelabuhan. Setelah Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta lahir pada 27 Agustus 1945 dan dipimpin Moeffreni Moe’min, terjadi mobilisasi kalangan pemuda. Hasilnya adalah susunan seksi-seksi administratif dan tiga sektor lapangan. Bersama Raden Eddy Martadinata, Hasibuan yang sudah hafal wilayah pelabuhan dipercaya Moeffreni memegang sektor Jakarta Utara. “Pembagian wilayah dipimpin komandan sektor dari masing-masing wilayah dipegang oleh: Jakarta Pusat oleh Sadikin dan Soedarsono, Jakarta Timur oleh Sambas Atmadinata dan Sanusi Wirasuminta, Jakarta Utara oleh Martadinata dan Hasiboean,” tulis Dien Madjid dalam Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min. Begitu BKR Laut Pusat didirikan pada 10 September 1945, BKR Sektor Jakarta Utara pimpinan Martadinata-Hasibuan dilebur ke dalamnya. BKR Laut ini kemudian terlibat bentrok dengan pihak Sekutu/Inggris pada pertengahan September 1945. “Karena sikap serdadu-serdadu Inggris dan NICA sangat angkuh dan sama sekali tidak mau menghargai aparatur pelabuhan RI, maka terjadilah bentrokan senjata antara mereka dengan para pemuda pejuang (BKR Laut, red .) di sekitar Menara Air, Stasion (Stasiun Tanjung Priok), dan Zeeman’s Huis (mess pelaut),” ujar tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya dalam  Sejarah Perjuangan Rakyat Jakarta, Tanggerang dan Bekasi dalam Menegakkan Kemerdekaan R.I. Ilustrasi TKR Laut di Stasiun Bekasi saat mengawal rombongan RAPWI ( nationaalarchief.nl ) Pada 6 Oktober 1945, tepat sehari setelah BKR Laut bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut, pecah pertempuran pertama antara pasukan kiblik dengan Sekutu dan NICA (Belanda) di Jembatan Kali Kresek. Walau berskala kecil, Hasibuan dan pasukannya yang mendapat tambahan kombatan dari pelosok utara Jakarta dan Bekasi mampu merepotkan Sekutu dan NICA semalaman. Pertahanan pasukan Hasibuan itu baru dipatahkan keesokan harinya setelah Sekutu mengerahkan pesawat-pesawat tempur P-40 Warhawk. Pasukan Hasibuan lalu menyingkir ke Marunda, Ujungmalang, Kampung Muara, dan Babelan. Di Babelan, mereka berdampingan dengan Laskar Hisbullah pimpinan K.H. Noer Ali. “Di sepanjang pantai utara dan rawa-rawa di sekitar delta Sungai Citarum terdapat unit dari Tanjung Priok yang dipimpin Matmuin Hasibuan. Sebagian besar anggotanya adalah orang Batak dan menyebut diri mereka ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Walaupun mereka bekerjasama dengan Nurali di Babelan, ALRI hanya memiliki sedikit kontak dengan resimen Cikampek dan tidak ada kontak sama sekali dengan markas angkatan laut di Yogyakarta,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 . Usai Jakarta dijadikan kota diplomasi pada 19 November 1945, yang mengharuskan militer keluar dari Jakarta, pasukan Hasibuan dan KH Noer Ali turut dalam pertahanan di tapal batas dengan wilayah TKR Resimen V pimpinan Letkol Moeffreni. Area timur Jakarta dan Bekasi jadi wilayah “pengungsian” TKR dan barisan-barisan perjuangan lain. “Barisan Banteng RI dipimpin M. Husein Kamaly dan M. Thabrani Notosudirjo yang juga menjabat ketua KNI. Ada pula Brigade Macan Citarum yang dipimpin H. Riyan dan Thabrani di Desa Satria. KH. Nur Ali juga mendirikan Markas Perjuangan Hisbullah Sabilillah di Ujungmalang. Sedang BKR Laut (TKR Laut, red. ) dipimpin M. Hasibuan bermarkas di Kampung Muara Babakan,” tulis S. Z. Hadisutjipto dalam Bara dan Nyala Revolusi Phisik di Jakarta. Kolase Kavaleri Lancer ke-13 dan pasukan Infantri Rajput 7/4 Inggris menerobos Bekasi ( iwm.org.uk ) Bentrokan-bentrokan antara laskar-TKR dengan NICA-Sekutu memuncak pada 23 November 1945. Pemantiknya adalah pembantaian tawanan asal Inggris yang selamat dari kecelakaan pesawat Dakota di Rawa Gatal, Cakung. Sepekan kemudian, Jenderal Christison mengerahkan pasukan infantri, artileri, dan kavaleri. Di Kampung Sasak Kapuk, mereka dihadang dan terlibat pertempuran sengit dengan sekira 400 pasukan gabungan TKR Batalyon V Bekasi, TKR Laut pimpinan Hasibuan dan Laskar Hisbullah KH. Noer Ali pada 29 November 1945. Tiada yang menang dalam pertempuran itu. Diungkapkan tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya, pada 5 Desember 1945 Hasibuan ditangkap NICA. Sebelumnya, dia dikuntit mata-mata saat berkendara dengan mobil bersama Wedana Tanjung Priok, Hindun Witawinangun, untuk berkoordinasi dengan kantor penghubung TKR di Pegangsaan Timur. Keduanya jadi sasaran penyiksaan di Kamp Polonia. Hindun akhirnya tewas. Sementara, Hasibuan walau mengalami luka-luka akhirnya diselamatkan para pemuda pejuang yang menolak melakukan pengosongan area Tanjung Priok. “Pemuda Pejuang akan terus bertahan dan bertempur sekuat tenaga, kecuali jika NICA membebaskan Komandan TKR Mayor Hasibuan dan pejuang-pejuang lainnya yang ditawan Belanda. Ternyata tuntutan para pemuda itu disetujui Belanda dan pada 15 Desember 1945 mereka dibebaskan. Mayor Hasibuan kemudian memindahkan markas TKR Laut ke Karang Congok, di utara Bekasi.” Madmuin Hasibua (kedua dari kiri) saat sudah menjabat Ketua DPRDS Kabupaten Bekasi (Repro: Kemandirian Ulama Pejuang ) Pada Agustus 1946, pertahanan republik di Bekasi makin mundur ke timur, Tambun, lalu Karawang. Ancaman paling nyata dihadapi Mayor Hasibuan dengan pasukan Batalyon III ALRI-nya datang dari utara Bekasi. “Dalam kegentingan di Tambun ini, pasukan ALRI di bawah Mayor Hasibuan mendapat tembakan dari kapal-kapal Belanda pada 22 Agustus 1946 di Ujung Karawang, sehingga tersiar kabar bahwa musuh akan mendaratkan tentaranya. Demikianlah kita terdesak oleh musuh di dua front: front barat dan timur Jakarta,” kata Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan: Diplomasi Sambil Bertempur. Memasuki Mei 1947, Hisbullah Noer Ali dan ALRI Hasibuan makin terdesak ke Karawang. Di bulan yang sama, mengikuti instruksi Presiden Sukarno agar laskar-laskar dilebur ke kesatuan reguler, pasukan Hisbullah KH Noer Ali menggabungkan diri ke pasukan ALRI Hasibuan yang bermarkas di Rengasdengklok. Setelah Tambun dan Karawang jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer I, pasukan ALRI Hasibuan mundur ke Pangkalan ALRI Tegal.  Minim Catatan Pasca-pengakuan kedaulatan oleh Belanda (27 Desember 1949), Hasibuan tak meneruskan kariernya di kemiliteran. Bersama KH. Noer Ali, ia masuk panggung politik. Medio Januari 1950, ia terlibat di Panitia Amanat Suara Rakyat Bekasi yang menuntut pemisahan Bekasi dari Distrik Federal Jakarta di dalam Negara Pasundan, serta mengubah nama Kabupaten Djatinegara menjadi Kabupaten Bekasi. Mengutip buku Sejarah Bekasi: Sejak Pemerintahan Purnawarman sampai Orde Baru keluaran Pemda Tingkat II Bekasi (1992), tuntutan yang dirumuskan Noer Ali dkk. itu disampaikan Sukardi sebagai ketua panitia dan Hasibuan selaku penghubung ke pemerintah federal. Panitia itu juga menggelar rapat raksasa untuk menyusun pemerintahan sendiri tanpa izin pemerintah RIS. Akibatnya, Hasibuan dan Noer Ali ditahan Gubernur Militer Jakarta Raya Daan Yahya. “Daan Yahya mengatakan tindakan mereka bertentangan dengan pemerintah RIS, sehingga dinilai sebagai coup . Tetapi setelah M. Hasibuan dan KH Noer Ali mengemukakan argumentasi yang mengatakan tindakan rakyat Bekasi justru memperjuangkan negara kesatuan, akhirnya Daan Yahya memaklumi, bahkan akan berupaya mengajukan masalah tersebut kepada DPR RIS,” tulis buku tersebut. Begitu Negara Pasundan bubar pada Februari 1950, Hasibuan masuk ke Partai Masyumi cabang Bekasi. Hasibuan lalu dipercaya menduduki jabatan ketua DPRDS Kabupaten Bekasi pertama menyusul keluarnya Undang-Undang Nomor 14 tahun 1950 tentang pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Tingkat I dan Tingkat II. Namun, lanjut buku tersebut, pembentukan DPRDS Kabupaten Bekasi pada 10 November 1950 itu justru dicibir Bupati Bekasi Suhandan Umar. Suhandan merasa eksistensi DPRDS akan menggembosi wewenangnya. Pusara dan nama Jalan M. Hasibuan di Kota Bekasi (Randy Wirayudha/Historia) Hasibuan pun menuding Suhandan punya hubungan dekat dengan gerombolan Bambu Runcing yang berhaluan kiri. Suhandan meresponnya dengan menuduh Hasibuan memonopoli lahan rawa-rawa dan empang-empang di Bekasi. Klimaksnya, pada 5 Mei 1951 DPRDS Kabupaten Bekasi membuat mosi untuk memecat Suhandan. Sebulan kemudian, Suhandan ditahan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat lalu menempatkan Sampurno Kolopaking dari Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai penggantinya. Menjelang Pemilu 1955, Hasibuan aktif sebagai sekretaris Partai Masyumi cabang Bekasi dan jadi anggota Panitia Pembagian Tanah Sawah Negara Kecamatan Babelan. Ia juga menjadi tameng bagi KH Noer Ali yang dituduh menyerobot tanah oleh PKI. Namun, setelah itu Hasibuan menghilang dari pentas politik. Nama dan kiprahnya pun ikut memudar. Hanya diketahui, sebagaimana tertulis di pusaranya, Hasibuan wafat pada tahun 1961 dengan tanpa diketahui tanggal, bulan, dan penyebab kematiannya. Dinas Sejarah AL (Disjarhal) mengaku belum punya catatan riwayat lengkap Hasibuan. “Karena kita mulai mendata personil itu kan tahun 1949 di zamannya KSAL (Laksamana) Subyakto. Setelah lepas dari ALRI kan ia gabung dengan KH. Noer Ali. Catatan mengenai beliau (Hasibuan) makanya tidak ada di buku personil. Tapi di sumber lain yang dituliskan Pak Ali Anwar ternyata ada. Kadisjarhal juga mendapat informasi tentang ini dari Pak Iwan Ong Santosa,” sambung Kolonel Heri. Disjarhal masih akan melakukan riset lanjutan tentang sepakterjang Hasibuan. Selain dari sumber-sumber tertulis, keluarganya juga akan dilacak. “Bagaimanapun kan beliau bagian dari sejarah ya. Meski di catatan kita enggak ada tapi kan di (buku) sejarah lain banyak memuat tentang dia. Setelah ini akan kita kejar (riset mendalam). Bahwa memang ada lho, BKR Laut di Jakarta yang dipimpin Mayor M. Hasibuan. Yang jelas kami juga ingin menelusuri keluarganya. Setelah itu kelanjutannya akan ada semacam tali asih atau perhatianlah dari kita,” tutupnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page