Hasil pencarian
9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Obat Batuk Tradisional ala Jawa
Jagat kesehatan sedang heboh dengan kasus gagal ginjal akut yang menimpa anak-anak. Penyebabnya diduga kerena konsumsi obat batuk. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 19 Oktober 2022, terjadi 99 kematian karena penggunaan obat sirup. Meskipun belum dapat dipastikan penyebab gagal ginjal akut tersebut, Kemenkes menangguhkan penggunaan obat sirup untuk sementara waktu. “Untuk meningkatkan kewaspadaan dan dalam rangka pencegahan, Kemenkes sudah meminta tenaga kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair/sirup, sampai hasil penelusuran dan penelitian tuntas,” demikian kata Kemenkes dalam laman resmi informasi kesehatannya, sehatnegeriku.kemkes.go.id . Lantas, bagaimana penderita batuk bila ingin sembuh? Baca juga: Mengobati Penyakit pada Zaman Kuno Tak ada salahnya mencoba resep “baheula”. Toh, batuk bukan penyakit baru bagi masyarakat di Nusantara, khususnya di Jawa. Jauh sebelum ilmu pengobatan modern berkembang di Indonesia, orang-orang di Jawa telah mengenal jamu dan beberapa racikan tumbuhan sebagai obat tradisional. Pada sekitar abad ke-17, pengobatan itu ditulis dalam manuskrip berjudul Serat Jampi Jawi . Menurut serat tersebut, penyakit yang sering menjangkiti anak-anak adalah batuk. Ada dua ramuan yang dapat mengobati sakit ini. “ Jeruk nipis 2 iris, dilumuri/dibaluri api sampai rata lalu dipanggang di atas lampu teplok (lampu minyak red.) ,kemudian diperas langsung dimasukkan ke dalam mulut,” kata Serat Jampi Jawi . Ramuan kedua untuk obat batuk menurut Serat Jampi Jawi adalah 3 siung bawang merah dibakar; 5 saga kayu manis cina, 1 jari kayu manis jawa dibakar, semua dihaluskan sampai lembut. Ramuan kedua ini dapat diminum dengan campuran air jeruk nipis. Baca juga: Pengobatan Nusantara Selain Serat Jampi Jawi , ada pula manuskrip yang mencatat pengobatan batuk, yakni Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 . Dalam catatan ini, batuk dibagi menjadi tiga: batuk anak-anak, dewasa, dan lansia. Untuk batuk dewasa, ada tiga resep obat yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahannya. Apabila orang dewasa mengidap batuk biasa, resepnya berupa jeruk nipis dikupas lalu dipotong-potong dan bawang merah 3 bungkul. Keduanya dihaluskan jadi satu, lalu diminum. Resep tersebut berbeda dari resep untuk batuk disertai menggigil. Untuk batuk disertai menggigil, beginilah resepnya: “Rajanglah daun cabe setelungkup tangan, bungkuslah dengan daun lalu dikukus setengah matang. Setiap akan makan, bakarlah kelapa diiris-iris, makanlah bersama cabe tadi,” kata Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 . Pada beberapa kasus, ada batuk hingga mengeluarkan darah. Menurut Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2, pengobatannya dilakukan dengan dua cara: boreh dan minum. Resep obat batuk darah berupa kerikan tanduk rusa 5 saga, kerikan gigi badhak 5 saga, dan klembak 3 saga. Seluruh bahan tersebut direbus dengan air lalu diminum, kemudian diusapkan di dada dan leher. Baca juga: Kisah Rempah dan Kuliner Khas Yogyakarta Resep obat batuk yang paling enak dikonsumsi adalah resep obat batuk untuk anak-anak dan lansia. Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 menggolongkan batuk yang diderita anak-anak dan lansia adalah sakit ringan dan umum yang menyerang dua golongan ini, terutama saat musim berganti. Resep obatnya berupa daun teh dan sebutir telur ayam, satu ruas jari kulit jahe, sepotong kecil gula batu. Semua diseduh air mendidih lalu diaduk sampai campur, kemudian diminumkan. Resep-resep yang tertuang dalam Serat Jampi Jawi dan Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 hanyalah salah satu alternatif mengatasi penyakit. Serat tersebut ditulis berdasarkan pengalaman masyarakat pada zamannya, sehingga belum dapat dibuktikan tingkat keakuratannya dari segi ilmiah. Jika tertarik mencoba, pastikan sakit yang diderita belum terlalu parah. Apabila tidak kunjung sembuh, harap tetap mengakses fasilitas kesehatan resmi terdekat.
- Blok M Mal Dulu Hiruk Pikuk Kini Mati Suri
Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, identik dengan keramaian anak muda perkotaan. Hal ini tidak lepas dari perencanaan tata kota pada 1950an, yang menjadikan Kebayoran Baru, termasuk Blok M, sebagai pusat kegiatan ekonomi dengan berbagai infrastruktur pendukung. Blok M pada 1980-2000an adalah tempat yang ramai oleh banyak orang dengan berbagai aktivitas, mulai dari berwisata kuliner, berbelanja, atau hanya sekadar berkumpul bersama teman. Seorang warga saat ingin memasuki gerbang menuju ke Blok M Mal dari arah terminal. (Historia/Fernando Randy) Karena dianggap sebagai daerah yang potensial dari aspek ekonomi, pemerintah melakukan pengembangan kawasan Blok M, antara lain dengan membangun Mal Blok M dan Terminal Blok M pada 1992 yang terintegrasi. Bagian mal berada di bawah terminal dan dilengkapi akses bagi masyarakat untuk masuk dan keluar terminal. Jadilah Mal Blok M tempat yang selalu ramai oleh banyak orang, oleh pedagang, pembeli, maupun orang yang sekadar lewat. Namun, layaknya roda kehidupan, keriuhan terminal maupun aktivitas jual-beli orang terus menurun seiring perubahan zaman. Kini, tak terdengar lagi suara lantang para pedagang menawarkan dagangannya atau suara pembeli menawar harga. Bahkan keramaian orang yang melintas keluar-masuk kawasan mal dan terminal juga sudah menghilang. Suasana saat ini di depan pintu masuk utama Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Tampak deretan toko yang tutup saat ini di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Tampak barang didalam toko yang dibiarkan begitu saja di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Suasana sepi dan sunyi di dalam Blok M Mal saat ini. (Historia/Fernando Randy) Kini, suasana mal Blok M sunyi dan temaram. Para pedangang yang masih bertahan bisa dihitung dengan jari. Jumlah mereka tampak sangat sedikit dibanding deretan toko yang sudah tutup. Bahkan ketika hujan mall yang diresmikan oleh Wiyogo Atmodarminto itu bocor hingga menyebabkan lantai menjadi basah dan licin. “Sebenarnya jauh sebelum pandemi COVID-19, di sini sudah sepi. Ya faktornya utama mungkin sudah kalah sama yang belanja online ya. Dan kemudian diperparah dengan pandemi ini,” ujar Aji (29), seorang pedangan aksesoris. Tania salah satu toko yang masih bertahan di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Aji salah satu penjual yang masih bertahan ditengah sunyinya Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Bekas toko handphone yang sudah ditinggalkan oleh penjualnya. (Historia/Fernando Randy) Toko baju Tania yang masih bertahan walau semua toko disampingnya sudah tutup. (Historia/Fernando Randy) Kesunyian juga tampak di kawasan terminal. Jumlah bus sudah tak sebanyak dulu. “Wah waktu 1980 hingga 1990an itu di sini ramai sekali apalagi saat pagi atau sore. Orang pulang kerja transitnya di sini. Dulu saya jualan apa saja laku mulai dari permen, koran, hingga tisu. Kalo sekarang, lihat sendiri dagangan saya masih utuh. Lebih enak zaman dulu,” kata Sidun (61) pedagang yang sudah dari tahun 1976 berada di kawasan Blok M. Meski kawasan Blok M berubah menjadi sepi, masih ada orang-orang yang mencoba bertahan sambil berharap keadaan membaik karena perubahan zaman tidak selalu berarti meninggalkan yang lama, tetapi juga bisa berarti membangkitkan yang nyaris padam. Salah seorang pekerja saat melintas ditengah deretan toko yang tutup di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) (Kiri) Toko handphone yang sepi pengunjung. (Kanan) Sidun pedagang yang sudah puluhan tahun di Blok M. (Historia/Fernando Randy) Seorang warga saat menunggu bis di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Suasana saat ini didalam terowongan Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Seorang pengunjung saat tertidur ditangga menuju Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy)
- Awal Mula Dokter Hewan di Indonesia
Seperti klinik dokter umum atau dokter gigi, klinik dokter hewan mudah ditemui di berbagai tempat. Dokter-dokter hewan menjadi tujuan pemilik hewan peliharaan ketika kucing, anjing, hingga kelinci mereka terluka atau sakit. Kemajuan teknologi membuat konsultasi mengenai kondisi kesehatan hewan peliharaan dapat dilakukan secara online atau virtual. Pemilik hewan dapat melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum membawa hewan peliharaannya ke klinik hewan. Memiliki hewan peliharaan tak bisa dipandang sepele. Seperti halnya manusia, hewan juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi mulai dari makanan, kebersihan, hingga kesehatan yang harus ditangani khusus oleh dokter hewan. Lantas bagaimana awal mula munculnya profesi dokter hewan di Indonesia? Soedjasmiran Prodjodihardo, dkk. dalam 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia: Sejarah, Kiprah, dan Tantangan menjelaskan, pada masa lalu praktik yang berkaitan dengan profesi kedokteran hewan telah dikenal oleh masyarakat di wilayah Indonesia. Kala itu profesi yang disebut “tabib” atau “dukun” hewan tersebut memiliki spesialisasi keahlian yakni memelihara maupun mengobati hewan ternak seperti kerbau, sapi, dan kuda. “Di desa-desa tabib atau dukun ini banyak menggunakan berbagai ramuan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk menyembuhkan penyakit hewan,” tulis Soedjasmiran. Baca juga: Dokter Perempuan Pertama Indonesia Keadaan penyakit hewan yang kian mengkhawatirkan serta keterbatasan dokter hewan membuat pemerintah kolonial Belanda mendatangkan dokter-dokter hewan dari negara asal mereka ke Indonesia. Mulanya dokter hewan yang bertugas di Indonesia merupakan dokter hewan militer dan dokter hewan pemerintah kolonial Belanda yang bekerja di Burgelijke Veeartsnijkundige Dienst atau Jawatan Kehewanan Pusat. Keterbatasan dokter hewan membuat pemerintah kolonial mendatangkan dokter-dokter hewan dari negeri Belanda. Wabah penyakit yang menyerang hewan ternak pada abad 19 mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk mendidik tenaga dokter hewan pribumi. Pada 1861, J. van der Helde, dokter hewan pemerintah ( gouvernement veearts ), ditugaskan mendirikan dan memimpin sekolah dokter hewan di Surabaya. Lama pendidikannya dua tahun. Murid pertamanya hanya tiga orang yang semuanya berasal dari Jawa. Baru pada 1867, muridnya datang dari pulau-pulau lain. Namun, kurang dari sepuluh tahun berjalan, sekolah dokter hewan di Surabaya itu dibubarkan pada 1875. Baca juga: Tak Ada Dokter, Mantri pun Jadi Pada 1880, sekolah dokter hewan dibuka di Purwokerto, Jawa Tengah. Sekolah ini diselenggarakan secara informal dengan cara mengikuti praktik dokter hewan pemerintah. Soedjasmiran menyebut pendidikan dengan cara ini ditiadakan setelah menghasilkan delapan orang dokter hewan dari sembilan orang siswa. Usaha mendirikan Indlandsche Veeartzen School (Sekolah Dokter Hewan yang serupa dengan Sekolah Dokter Jawa) di Surabaya pada 1893 ditolak oleh Direktur Departemen Pengajaran, Ibadat dan Kerajinan. Direktur Stovia (Sekolah Dokter Bumiputra) juga tidak setuju. Penolakan itu muncul karena dokter-dokter Belanda khawatir posisi mereka terancam oleh kehadiran para dokter hewan pribumi. Sementara itu, guna memenuhi tenaga dokter hewan yang siap sewaktu-waktu saat dibutuhkan, pemerintah kolonial Belanda mendatangkan dokter hewan dari Eropa untuk membantu para dokter hewan Belanda. Meski begitu pemerintah kolonial tetap merekrut tenaga pribumi untuk menangani pelayanan kesehatan hewan. Para tenaga pribumi yang lolos seleksi kemudian dilatih membaca dan menulis mengenai pembuatan laporan serta tentang materi kesehatan hewan. Mereka yang dikenal sebagai “mantri hewan” ditugaskan di berbagai daerah dengan gaji 15 gulden. Baca juga: Dokter dalam Daftar Kematian Penerapan Politik Etis tahun 1901 berdampak besar pada perkembangan sekolah dokter hewan untuk pribumi. Selain membangun Veeartsenijkundige Laboratorium atau Laboratorium Penyakit Hewan dengan biaya 48.000 gulden, pemerintah kolonial Belanda juga mendirikan Indische Veeartzen School atau Sekolah Dokter Hewan Pribumi. Masa pendidikannya selama empat tahun. Sekolah Dokter Hewan Pribumi ini didirikan di Bogor, Jawa Barat, pada 1906. Syarat masuk sekolah ini harus lulus sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah menengah pertama. Alumni pertama Sekolah Dokter Hewan Pribumi adalah drh. Johannes Alexander Kaligis (J.A. Kaligis) yang lulus tahun 1910. Setelah itu, drh. R. Noto Soediro dan drh. R. Soetedjo lulus tahun 1911. Baca juga: Jejak J.A. Kaligis, Dokter Hewan Bumiputra Pertama Pada 1914, sekolah ini berganti nama menjadi Nederland Indische Veeartzen School (NIVS). Selain J.A. Kaligis, Noto Soediro, dan R. Soetedjo, alumni NIVS yang juga berjasa dalam perkembangan ilmu kesehatan hewan di Indonesia di antaranya A.F. Waworoentoe, peneliti dan perintis Lembaga Virologi Kehewanan; R. Djaenoedin, kepala Lembaga Penelitian Penyakit Hewan (LPPH) dan profesor di NIVS; serta Anwar Nasution, penemu pengganti fosfor untuk pemberantasan tikus sawah yang berasal dari bakteri botulisme yakni toksin botulinus . Berbeda dengan dokter hewan lulusan dari negeri Belanda yang disebut dierenarts (dokter hewan), dokter hewan lulusan Sekolah Dokter Hewan Pribumi disebut veearts (dokter ternak) karena disesuaikan dengan kepentingan pemerintah kolonial untuk mengamankan hewan-hewan ternak milik pemerintah dan perkebunan-perkebunan. Ketegangan antara Belanda dan Jepang berdampak pada Sekolah Dokter Hewan Pribumi di Bogor. Sekolah yang telah menghasilkan 143 dokter hewan ditutup pada 1941. Pada masa pendudukan Jepang, sekolah itu dilanjutkan dengan nama Bogor Zui Semon Gakko. Setelah Indonesia merdeka, pada 1946 sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Dokter Hewan Bogor hingga pada 1947 menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan.*
- A.A. Maramis Kecil, dari Tikala untuk Indonesia
HIDUP masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara pada masa kolonial Belanda tak beda jauh dari masyarakat wilayah lain Nusantara. Mereka dikaruniai alam yang indah dan sumber tanaman pangan yang melimpah. Orang Minahasa umumnya penganut Kristiani, sama dengan kebanyakan orang Belanda. Kristen membuat masyarakat Minahasa menjadi masyarakat yang berkarakter lembut. Kejahatan yang dulunya marak, berkurang pesat selama masa penyebaran Kristen. ”…Orang Minahasa telah menjadi penurut yang lembut, kejahatan telah berkurang. Keadaan ini telah berubah atas usaha agama Kristen dan hasil sekolah Zending yang mulai didirikan pada tahun 1831,” terang Bambang Suwondo, dkk, dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara. Tetapi kesamaan agama tak lantas membawa pada kesamaan nasib bagi orang Minahasa. Belanda menganggap mereka sebagai warga kelas dua yang layak dieksploitasi karena mereka pribumi non-Eropa. Akibatnya alam yang indah dan tanaman pangan yang berlimpah tak berarti banyak buat hidup mereka. Di sisi lain, periode awal 1900-an menandai munculnya kelas baru di tengah masyarakat di Manado. Kelas ini mendapat pendidikan Belanda. Mereka kemudian mengisi pos-pos pemerintahan Belanda di Manado dan hidup berkecukupan. Di antaranya banyak juga yang menjadi anggota Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Anggota KNIL dari Manado adalah salah satu kelompok yang karirnya maju saat itu. Bahkan Pemerintah kolonial memberikan perhatian khusus kepada mereka. ”Sesuai dengan pandangan yang berlaku tentang kelompok etnis mana yang menjadi prajurit yang hebat, perhatian khusus diberikan pada pendaftaran rekrutan orang Ambon dan Manado. Di Sulawesi Utara para kepala nagari dijanjikan tambahan sepuluh gulden untuk setiap penduduk desa yang mendaftar,” tulis Kees Van Dijk, dalam The Netherlands Indies and The Great War. Sebelumnya, kelompok ini pernah membantu Belanda dalam memerangi Pangeran Diponegoro. ”Pada masa ini pula (1826 - 1830) orang-orang Minahasa di bawah pimpinan H.W. Dotulong, Palar, H. Supit, B.Th. Sigar, Inkiriwang, Mandagi, dan lain-lain membantu Belanda dalam perang Diponegoro, sehingga Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado pada tahun 1830, kemudian ke Makasar, dan meninggal di sana pada tahun 1855,” tulis Bambang Suwondo dkk, dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara. Berbeda dengan kelompok itu, orang Minahasa lainnya seperti hidup segan, tapi mati pun tak mau. Hingga tampil seorang dari keluarga Maramis yang mengabdikan dirinya untuk membela masyarakat kaum papa. Sebutlah nama Bernadus Maramis, dari Tonsea, salah satu distrik di Kota Manado. Dia menjabat sebagai pokrol bambu. Tugasnya menjaga hak-hak orang Minahasa dari ketidakadilan hukum pemerintah kolonial. Peran pokrol bambu di tengah-tengah masyarakat Minahasa ketika itu amat penting. Pokrol bambu adalah seseorang yang memberi nasihat hukum tetapi belum memperoleh kualifikasi atau pendidikan hukum. Dahulu pokrol bambu menjadi aktor penting dalam pelayanan hukum karena masyarakat umum merasa berjarak dengan advokat yang berizin. Kiprah Bernadus sebagai pokrol bambu dikenal antero Distrik Tonsea, juga Kota Manado. Bernardus mengangkat marwah nama keluarga Maramis. Keluarga ini merupakan salah satu keluarga terpandang di Tonsea. Selain karena tergolong kelas atas, marga Maramis juga dikenal karena kiprah perjuangannya membela rakyat. Selain Bernadus, ada seorang tokoh lagi yang namanya abadi sebagai pahlawan. Dialah sang anak, Maria Walanda Maramis. Anak Bernadus lainnya, Andries Alexander Maramis pada kemudian hari melanjutkan perjuangan sang ayah sebagai pokrol bambu. Andries lulusan Hoofdenschool (sekolah raja) Tondano. Dari Andries nantinya lahir seorang anak yang mengangkat martabat keluarga Maramis di pentas nasional. Dia adalah Alexander Andries Maramis. Masyarakat Indonesia mengenalnya dengan nama A.A. Maramis. Sedangkan keluarga dan orang-orang dekatnya memanggilnya dengan nama Alex Maramis. Alex Maramis lahir di Tonsea pada 20 Juni 1897. Dia tumbuh jadi anak yang pendiam, tapi cerdas dan menyukai seni. Namanya kopian langsung dari nama sang ayah. Cuma ditukar saja posisinya. Alexander-nya di depan, Andries-nya di belakang. Keluarga Andries cukup unik. Adik Alex pun punya nama serupa. Bahkan namanya sama persis dengan nama sang ayah. Andries Alexander Maramis. Kalau tidak jeli, ketiga nama itu bisa tertukar. Soal ini bukannya tak pernah terjadi. Pernah buku Rupiah di Tengah Rentang Sejarah, terbitan Departemen Keuangan tahun 1991 membahas Alexander Andries Maramis. Buku itu menyebut bahwa Alex bersaudara kandung dengan Maria Walanda Maramis. Berikut cuplikannya. ”Ketika ORI diterbitkan pertama kali, tanda tangan A.A. Maramis telah tercantum di sana. Beliau diangkat menjadi Menteri Keuangan pada 2 September 1945 menggantikan Dr. Samsi yang hanya menjabat selama dua minggu. Pada saat itulah bentuk organisasi Kementerian Keuangan baru dibicarakan. Kakak kandung Maria Walanda Maramis ini mengalami pendidikan dasarnya di bawah pengawasan para guru Belanda, tetapi sebagian besar usianya diabdikan pada pergerakan kemerdekaan bangsanya,” tulis buku tersebut. Padahal Maria adalah bibi Alex. Maria adalah anak kandung Bernadus, adik Andries Alexander Maramis. Maria menikah dengan Joseph Frederik Calusung Walanda sehingga mendapat nama keluarga Walanda Maramis. Ketiga nama ayah anak ini memang merepotkan orang yang ingin mengkaji kiprah keluarga Maramis. Salah nama, salah pula tokoh yang dibahas. Tapi ’ulah’ Andries memberi nama anak-anaknya seperti itu bukan tanpa alasan. Dia ingin anak lelakinya mengikuti jejaknya sebagai pembela kaum lemah Minahasa: jadi pokrol bambu. Menelisik kehidupan masa kecil Alex pun bukan urusan gampang. Keluarga Maramis dikenal low profile. Tambahan lagi, dokumen-dokumen sejarah memang jarang mengangkat kehidupan pribadi tokoh. Keterangan tentangnya justru banyak didapat dari orang-orang yang dekat dengannya. Sayangnya kebanyakan dari mereka sudah tiada. Buku A.A. Maramis, S.H karya F.E.W Parengkuan menjadi sumber yang layak. Buku ini mewawancarai dua belas orang yang dekat dengan kehidupan Alex. Mulai dari kakak dan adik Alex, keponakannya, sampai sahabat terdekatnya. Parengkuan menerangkan, semangat keluarga Maramis membela kaum lemah dapat dilihat dari sejarah sosial budaya masyarakat Minahasa. Meskipun ajaran Kristiani mengajarkan sikap lemah lembut, bukan berarti orang Minahasa manut-manut saja dengan Belanda. Kristen memang mengajarkan kasih, namun juga mengajarkan keadilan dan pembelaan terhadapnya. Dasar keagamaan tersebut membuat sebagian Minahasa membuat perlawanan terhadap Belanda. Antara lain perlawanan rakyat Siau, Manganitu, Perang Panipi, Banteng Mahesa, sampai perlawanan Pasukan Pemuda Indonesia Laskar Banteng pada 1942. Bernadus membawa semangat tersebut kepada Andries, dan Andries mewariskannya lagi kepada keluarganya. Dia mengajarkan anak-anaknya untuk membela kebenaran apapun risikonya. Dia juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjauhi popularitas, dan menjaga kehormatan diri dan masyarakatnya. Soal yang terakhir ini pernah teruji. Suatu ketika seorang Belanda bertamu di rumah keluarga Maramis di Tikala. Tamu itu tidak mengindahkan sopan santun ala Minahasa kepada keluarga Maramis. Dia dengan seenaknya masuk ke dalam rumah sebelum diterima tuan rumah. Rupanya si orang Belanda yang bertamu itu merasa dirinya lebih berharga daripada tuan rumah yang pribumi. “Tamu Belanda yang belum dipersilahkan masuk apalagi duduk itu dengan segera dihardik dan disuruh keluar dulu. Ia dituntut bahwa seandainya memang bermaksud baik, maka mestilah menghormati tata cara bertamu di rumah keluarga Maramis,” tulis F.E.W. Parengkuan. Andries menunjukkan kepada keluarganya betapa kehormatan harus dijunjung, bahkan kepada Eropa Belanda yang nota bene warga kelas satu sekalipun, apapun risikonya. Keberanian ini pada masa itu terhitung langka. Dari Tikala untuk Indonesia Tikala tempat keluarga Maramis bermukim adalah kawasan elit Manado di zaman kolonial. Banyak keluarga Belanda kaya bermukim di sana. Sedangkan yang asli Minahasa cuma sedikit yang berumah di sana. Salah satunya keluarga Andries Alexander Maramis. Lantaran keluarga Maramis tergolong mampu, Andries dapat menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda di Manado. Alex kecil kemudian mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS) di Manado. Parengkuan memperkirakan Alex mulai bersekolah di sana pada tahun 1903. ”Kapan Alex mulai disekolahkan di Manado tidak pula diperoleh keterangan. Hanya dapat diperkirakan bahwa sekitar tahun 1903, yaitu setelah ia berumur enam tahun,” terang Parengkuan. Lulus dari ELS, Alex kemudian melanjutkan studinya di Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III, Batavia (Jakarta). Lokasinya terletak di sekitar Jalan Matraman Raya sekarang. Studi Alex di HBS tergolong lancar. Media-media massa ketika itu rajin memuat berita tentang ujian para murid HBS. Misalnya, De Expres edisi 14 Mei 1912 menyebut Alex dipromosikan ke kelas dua. Alex kemudian naik kelas 3 (Bataviaasch Nieuwsblad, 13 Mei 1913), naik kelas 4 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 23 April 1914), dan seterusnya. Hingga akhirnya Alex lulus ujian akhir HBS Koning Willem III. Beritanya dimuat Bataviaasch Nieuwsblad edisi 27 Mei 1916. Lulus dari HBS, Alex tidak lantas kembali ke Manado untuk jadi pokrol bambu. Dia ingin lebih mendalami studinya. Alex pun memberanikan diri untuk mendaftar ke Universitas Leiden, Belanda, dan mahasiswa hukum hingga lulus pada 19 Juni 1926. Alex kemudian mendapat gelar Meester de Rechten itu kemudian membaktikan dirinya menjadi advokat di banyak tempat. Semasa itu Alex banyak menangani kasus yang membela kepentingan pribumi. Perjalanan hidup Alex kemudian berubah. Dia ikut mendirikan Republik Indonesia. Sepak terjangnya menjadi penting untuk bangsa Indonesia. Harapan sang ayah Andries kepada sang anak Alex terpenuhi. Alex menjadi ’pokrol bambu’, pembela rakyat, bukan hanya untuk masyarakat Minahasa, tetapi juga untuk rakyat Indonesia.*
- Menanti Manusia Jawa Kembali dari Belanda
UPAYA-upaya mengembalikan warisan Nusantara yang masih tersimpan di Belanda kembali digencarkan. Berpegang pada nota kesepahaman antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud, kini Kemendikbud Ristek) RI dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Sains Belanda pada 2017, pemerintah RI mengajukan repatriasi terhadap delapan benda bersejarah untuk dipulangkan. Pengajuannya didasarkan pada surat dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek tertanggal 1 Juli 2022 kepada Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media (Staatsecretaries voor Cultur en Media) Gunay Uslu. Kedelapan benda yang dimaksud saat ini masih tersimpan di empat museum berbeda di Belanda: Nationaal Museum van Wereldculturen, Naturalis Museum, Museum Bronbeek, dan Rijksmusem. Gayung bersambut. Seiring kunjungan Menteri Uslu ke Magelang, Jawa Tengah pada 14-15 September 2022, pemerintah Belanda menyanggupi permintaan itu. Komite bersama terkait riset benda-bendanya pun dibentuk. “Pemerintah Belanda mengharapkan dibentuknya proses penerimaan bersama terkait permintaan Anda, dalam kerjasama dengan menunjuk komite para ahli dari kedua negara. Pemerintah Belanda setuju bahwa riset terhadap koleksi-koleksi tersebut menjadi penting untuk memperkuat kerjasama antara dua institusi yang relevan dari kedua negara,” tulis Menteri Uslu dalam surat balasannya bertanggal 15 September 2022. Baca juga: Keris Diponegoro Dikembalikan Belanda, Ini Kata Peter Carey Menteri Kebudayaan dan Media Belanda, Gunay Uslu (kiri) menyerahkan surat balasan kepada Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid (Dok. Bonnie Triyana) Delapan koleksi yang dimaksud adalah 132 karya koleksi Pita Maha asal Bali, tali kekang kuda milik Pangeran Diponegoro , Al-Quran milik Teuku Umar, mahkota atau emblem Kerajaan Luwu, patung Kerajaan Singasari, keris Puputan Klungkung, koleksi benda jarahan Ekspedisi Lombok (1894), dan fosil Homo erectus (Manusia Jawa) hasil temuan Eugène Dubois. Khusus benda terakhir ini memunculkan pertanyaan tersendiri dari pihak Naturalis Museum. “Kami mengerti klaim Indonesia. Tapi yang jadi pertanyaan adalah: di mana koleksi itu bisa disimpan, diakses, dan diteliti dengan aman? Saya pikir saya tahu jawabannya. Kalau benda seni lain bisa dipahami bahwa itu dibuat populasi lokal (Nusantara). Tapi tentang fosil Manusia Jawa: itu takkan ditemukan jika bukan Dubois yang orang Belanda yang mencarinya,” ujar juru bicara Naturalis Museum yang tak disebutkan namanya kepada Trouw , Selasa (18/10/2022). Kekhawatiran soal perawatan dan pelestarian fosil –koleksi Dubois yang rantan kerusakan jika tak dijaga dengan baik– yang disebutkan pihak Naturalis Museum senantiasa jadi pertanyaan klasik. Terlebih fosil koleksi Dubois itu tak hanya berupa tempurung dan tulang paha Homo erectus tapi juga sejumlah fosil mamalia purba yang ditemukan Dubois di Jawa dan Sumatera pada akhir abad ke-19. Menjaga Fosil Manusia Jawa Dubois menemukan dan mengekskavasi fosil-fosil Manusia Jawa itu pada kurun Agustus-Oktober 1891 di Trinil, Jawa Timur. Dalam laporannya tiga tahun berselang, ia menyebut temuannya itu sebagai Pithecanthropus erectus (manusia kera yang berdiri tegak). Penyebutannya tak lepas dari model riset salah satu mentornya, Ernst Haeckel, yang punya teori tentang Pithecanthropus alalus (manusia kera yang tak bisa berbicara). Fosil-fosil itu turut dibawa serta Dubois sepulangnya ke Belanda pada 1897. Terlepas dari terpicunya perdebatan antara forum akademisi dan pemuka Gereja Katolik, temuan Manusia Jawa itu membuahkan titel doktor dan, sepuluh tahun berselang, profesor buat Dubois dari Universiteit van Amsterdam. Temuannya menjadi perdebatan karena Dubois meyakini Pithecanthropus erectus adalah missing link dari teori evolusi manusianya Charles Darwin. Keyakinan itu dituliskannya dalam laporannya pada 1932. “Dengan menyebut Pithecanthropus sebagaimana (primata) siamang raksasa, maksud Dubois adalah dilihat secara bentuk fisik, temuannya itu lebih dekat dengan siamang ketimbang manusia. Tetapi saat menyikapi banyak keraguan terhadapnya, ia menyatakan dalam laporannya pada 1932: ‘Saya masih percaya bahwa Pithecanthropus dari Trinil adalah missing link yang sebenarnya’,” ungkap Carl C. Swisher III dkk. dalam Java Man: How Two Geologists Changed Our Understanding of Human Revolution. Baca juga: Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba Pada 1950, melalui riset Franz Weidenreich dan Ernst Mayr, penyebutan Pithecanthropus erectus diubah menjadi Homo erectus . Risetnya menyatakan bahwa temuan Dubois di atas punya kesamaan dengan beberapa temuan lain, di antaranya Sinanthropus pekinensis atau Manusia Peking (1927). Keduanya sama-sama dinyatakan sebagai missing link dari rangkaian evolusi manusia modern. Dubois menyimpan temuan-temuannya itu di kediaman pribadinya di Haarlem, Belanda selama 30 tahun. Lama setelah Dubois wafat, fosil-fosil itu disimpan dan dirawat Rijksmuseum van Geologie en Miralogie. Pada 1900, temuan Dubois itu dipindahkan ke Naturalis Museum dan tinggal di sana hingga kini. Marie Eugène François Thomas Dubois yang menemukan fosil Manusia Jawa ( eugenedubois.org ) Upaya repatriasi koleksi Dubois itu sejatinya sudah disuarakan sejak 1950-an oleh Menteri Kehakiman Mohammad Yamin. Mengutip suratkabar Het nieuwsblad voor Sumatra edisi 3 April 1951, Yamin meminta pengembalian benda-benda bersejarah Nusantara, terutama fosil-fosil Manusia Jawa. Ia tak ingin kejadian hilangnya fosil Manusia Peking di Beijing terulang lantaran benda-benda bersejarah Nusantara pun sudah banyak yang hilang. “Indonesia banyak kehilangan benda-benda bersejarah yang lebih penting ketimbang Sinanthropus pekinensis . Tempurung Pithecanthropus erecuts diekskavasi di Trinil oleh Dubois. Tempurung ini berusia 300 ribu tahun dan disimpan di Leiden. Tempurung ini mesti diklaim kembali oleh pemerintah Indonesia sebagai pemilik sahnya,” ungkap Yamin. Baca juga: Repatriasi Artefak Indonesia dan Virus Dekolonisasi Berangkat dari upaya tersebut, sejarawan Bonnie Triyana menganggap sudah waktunya mewujudkan apa yang sudah dimulai Moh. Yamin tujuh dekade sebelumnya. Seperti disebutkan Yamin, Indonesia berhak mengklaim kembali terlepas yang menemukannya Dubois yang seorang opsir Belanda. “Boleh saja dikatakan objek itu milik Belanda karena orang Belanda yang menggalinya di Indonesia. Itu sama saja ada orang yang menemukan minyak di tanah orang lain dan mengatakan: saya berhak memilikinya demi keuntungan sendiri. Faktanya Anda menggali di tanah orang lain bukan berarti objeknya serta-merta menjadi milik Anda,” kata Bonnie kepada Trouw , Selasa (18/10/2022). Dokumentasi koleksi Dubois (kiri) dan rekonstruksi bentuk wajah Homo erectus ( naturalis.nl/gutenberg.org ) Bonnie juga berpendapat bahwa keberadaan koleksi Dubois di Belanda tersebut mestinya bisa dikaitkan dengan konteks kolonialisme di masa lalu. “Sistem kolonialisme membentuk keadaan di mana warga jajahan tak bisa memahami arti temuan itu dan juga tak memiliki kekuasaan untuk menahannya tetap berada di tanah dari mana benda itu ditemukan.” Namun di sisi lain, pertanyaan klasik soal perawatan tetap masih mengemuka dan harus jadi perhatian. Kalaupun nantinya fosil-fosil Manusia Jawa itu bisa dipulangkan, mesti ada jaminan bahwa pemerintah Indonesia tidak hanya bisa melestarikannya dengan layak tapi juga membuka kesempatan bagi penelitian lebih jauh. Jangan sampai kontroversi Homo floresiensis pada 2004 dan 2005 terjadi lagi. Fosil-fosil hominid yang kadang disebut Manusia Flores atau “Hobbit” dari Flores itu ditemukan tim gabungan arkeolog Indonesia-Australia pada September 2003. Spesimen yang mereka temukan di Gua Liang Bua di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu kemudian disimpan di Pusat Arkeologi Nasional di Jakarta. Akan tetapi, mengutip The New Zealand Herald , 13 Desember 2004, fosil-fosil Manusia Flores itu dibawa oleh Profesor Teuku Jacob dari Jakarta ke Yogyakarta untuk penelitian tanpa persetujuan semua tim penemunya. Selain dianggap menyalahi nota kesepahaman, tindakan itu membuat penemu lainnya kesulitan untuk melakukan penelitian. “Saya menduga ada sesuatu. Ketika fosil-fosil ‘Hobbit’ itu digali, Profesor Soejono (Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, red. ) menjanjikan akan menyerahkannya kepada kolega lamanya Profesor Jacob. Tapi ada nota kesepahaman antara University of New England dan Pusat Arkeologi Indonesia untuk menghindarkan pemindahan semacam itu,” kata Profesor Richard Roberts dari Universitas Wollongong yang turut serta dalam penemuannya. Baca juga: Kawin Campur Manusia Purba di Asia Tenggara Memang kemudian fosil-fosil Manusia Flores itu dikembalikan ke Jakarta setelah mencuatnya kontroversi itu. Namun, dilansir BBC , 25 Januari 2007, terdapat kerusakan di beberapa bagiannya. Selain bekas sayatan panjang di tulang rahang, kerusakan juga terjadi di bagian tulang dahi berupa bekas patahan yang direkatkan kembali dengan lem namun penyambungannya dengan posisi keliru. Menurut Profesor Jacob dalam hasil risetnya, Manusia Flores itu bukanlah jenis manusia purba baru. Menurutnya, Homo floresiensis itu sejatinya termasuk Homo sapiens atau manusia modern. Kondisi fisiknya, termasuk bentuk tengkoraknya yang lebih kecil dari manusia modern, dikatakannya karena mengalami mikrosefalus. Dalam laporannya di Jurnal Proceeding of National Academy of Sciences edisi September 2006, akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyimpulkan bahwa spesimen Manusia Flores “LB1” yang ditelitinya adalah manusia modern yang mengalami kemunduran otak sehingga pertumbuhan fisiknya ikut terhambat. Spesimen "LB1" Homo floresiensis (Smithsonian Institute) Laporan itu kemudian dibantah banyak peneliti lain. Pakar neurologi Jochen Weber, misalnya, pada 2005 menyatakan bahwa ukuran tengkorak LB1 itu bukan karena mikrosefalus. Kesimpulannya diambil lewat metode komparasi dengan sampel tengkorak manusia modern yang mengalami mikrosefalus. Hal serupa juga diungkapkan pakar paleoantropologi Debbie Argue pada 2006, yang menyimpulkan dengan yakin bahwa Manusia Flores itu adalah spesies baru. “LB1 juga berada di luar variasi tengkorak manusia yang mengalami mikrosefalus,” ungkap pakar paleontologi Yunani George Lyras dalam artikelnya pada 2008, “The Origin of Homo floresiensis and its Relation to Evolutionary Processes under Isolation”. Berangkat dari kontroversi itulah muncul harapan jika fosil-fosil Homo erectus temuan Dubois itu berhasil dipulangkan, selain bisa dirawat dengan baik juga semestinya membuka pintu penelitian lanjutan. Semisal tentang penelitian lanjutan DNA sebagaimana yang dilakukan Svante Pääbo, peraih Nobel 2022 dalam bidang fisiologi dan kesehatan. Paabo dan timnya, yang melakoni penelitian DNA terhadap Homo neanderthalensis (Manusia Neanderthal), mengungkap bahwa Manusia Neanderthal tidak hanya pernah hidup bersama dengan sejumlah manusia prasejarah lain tapi juga punya keterikatan DNA dengan kita sebagai Homo sapiens (manusia modern) lewat kawin silang. Bukan tidak mungkin hal serupa juga bisa punya keterkaitan dengan Manusia Jawa dan Manusia Flores. “Memang jauh. Paling tidak kita pernah hidup bareng dengan enam hominid lain. Dengan Homo erectus antara 600-250 ribu tahun yang lalu kita hidup berdampingan tapi belum ada bukti Homo erectus bisa kawin silang dengan Neanderthal atau Homo sapiens . Ada juga kemungkinan antara Homo Luzonensis dan Flores. Tapi ya kita tunggu saja mungkin ada penelitian-penelitian berikutnya karena teknik-tekniknya Pääbo sejak 2006 itu menjalar dan bisa dikuasai banyak orang,” tandas pakar neurogenetika dan biologi molekuler dr. Ryu Hasan kepada Historia. Baca juga: Svante Pääbo dan Jalan Panjang Menjawab Asal-Usul Manusia
- Keluarga KS Tubun Setelah G30S
Pada malam 30 September 1965, Margaretha Wagina sedang berada di rumah bersama anak-anaknya. Suaminya sedang bertugas di kota yang berbeda dengannya. Wagina ingat bagaimana dulu berkenalan dengan suaminya pada 1954. Waktu itu, dia tinggal di rumah saudaranya yang menjadi suster di Jakarta. Lalu, ia berkenalan dengan seorang perempuan yang bertunangan dengan anggota Brigade Mobil (Brimob). Wanita itu mengajak Wagina berfoto. Ia mengirimkan foto itu ke tunangannya yang sedang bertugas di Aceh. Foto itu tidak hanya dilihat tunangannya, tapi juga kawannya yang sama-sama bertugas sebagai Brimob di Aceh. Kawan itu bernama Karel Sadsuitubun, yang dikenal dengan Karel Tubun atau KS Tubun. Kedua anggota Brimob itu pulang dari Aceh sekitar 1954. Wagina berkenalan secara langsung dengan KS Tubun. “Kami bergaul (berpacaran, red .) cukup lama yaitu lima tahun. Selama bergaul itu, Karel sering beroperasi di daerah, sehingga saya katakan bahwa kita tidak bisa terus-menerus begini. Sebab itulah akhirnya kami menikah dan dikaruniai 3 anak,” kata Wagina dalam majalah Kartini No. 25 tahun 1975. KS Tubun pernah terlibat dalam penumpasan PRRI dan operasi perebutan Irian Barat.n 1975. KS Tubun pernah terlibat dalam penumpasan PRRI dan operasi perebutan Irian Barat. Baca juga: Profil Pahlawan Revolusi: Ahmad Yani, Jenderal Brilian Pilihan Sukarno yang Berakhir Tragis Pada malam 30 September 1965 jelang 1 Oktober 1965, KS Tubun sedang bertugas menjaga rumah Wakil Perdana Menteri dr. Johannes Leimena di Menteng, Jakarta Pusat, yang terletak di sebelah rumah Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Kala itu,KS Tubun sudah berpangkat Brigadir Polisi. Dia berjaga bersama Lussy dan Lubis. Frans Hitipeuw dalam Karel Sadsuitubun menyebut Lussy berjaga di bagian belakang rumah, sedangkan Lubis dan KS Tubun berjaga di bagian depan. Jelang pukul 4 subuh, gerombolan berseragam dan bersenjata di bawah pimpinan Pembantu Letnan Dua Djaharup merangsek ke rumah Nasution. Lussy yang berada di dalam rumah melihat kedatangan gerombolan itu. Dia bersabar dengan tidak menembak gerombolan itu agar Leimena tidak terancam. Beberapa anggota gerombolan lalu menyatroni bagian depan rumah Leimena. Mereka melucuti Lubis. Baca juga: Profil Pahlawan Revolusi: Pierre Tendean, Ajudan Tampan yang Setia Sampai Akhir Sementara itu, KS Tubun yang sedang dapat giliran tidur dibangunkan dengan kasar oleh gerombolan itu. “Karel Sadsuitubun terbangun dan ia melihat yang ada di depannya bukan kawannya. Maka Karel terus melompat langsung berkelahi dengan anggota gerombolan PKI itu,” tulis Hitipeuw. A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 6 Masa Kebangkitan Orde Baru menyebut KS Tubun berhadapan dengan delapan orang prajurit Angkatan Darat terlatih yang ikut Gerakan 30 September. KS Tubun kelahiran Tual, Maluku Tenggara,14 Oktober 1928, dan sudah berkarier di kepolisian selama 14 tahun tewas ditembak gerombolan itu. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Pangkatnya dinaikkan dari Brigadir Polisi menjadi Ajun Inspektur Polisi II. Ia dijadikan Pahlawan Revolusi dan nama jalan salah satunya di depan kantor Historia.ID di Slipi, Jakarta Barat. Baca juga: Profil Pahlawan Revolusi: MT Haryono, Calon Dokter yang Memilih Jadi Tentara Setelah pagi 1 Oktober 1965, kabar kematian KS Tubun sampai ke Wagina. Ia sedih dan kehilangan tapi harus kuat untuk menjaga ketiga anaknya: Phillipus Sumarno, Petrus Indro Waluyo, dan Linus Paulus Suprapto. Paulus masih berumur satu tahun ketika ayahnya gugur dalam tugas. Suatu hari, ketika ia berusia lima tahun merengek kepada ibunya. “Ayo, Mak. Kita lihat Bapak?” desak Paulus. “Ya, sebentar dong, Mak kan berpakaian dulu,” kata Wagina. “Cepat sedikit, dan kasihan Bapak menunggu,” desak Paulus lagi. Mereka lalu tiba di Kalibata. Tepat di pusara ayahnya, Paulus yang masih bocah bertanya,“Bapak dimana ya, Mak?” Baca juga: Profil Pahlawan Revolusi: DI Pandjaitan, Jenderal-Pendeta yang Gugur di Hadapan Keluarga Wagina tentu sulit mengatakan kepada anaknya bahwa ayahnya sudah lama pergi dari dunia ini. Ia tak kuat mengatakannya secara langsung. Tapi hari itu ia harus menunjukannya. “Ya di sini, di kuburan. Di dalam ini ada Bapak,” jawab Wagina dengan lemah lembut. Paulus pun bengong. Ia sudah tahu kuburan adalah tempat orang yang sudah mati. “Kalau begitu Bapak sudah mati?” tanya Paulus. Wagina mengiyakan. Paulus bertanya lagi, “Kalau begitu Bapak sudah mati?” Wagina hanya bisa mengangguk karena sedih. Begitulah kesedihan Wagina dan anak-anaknya. Wagina kembali merasakan kesedihan ketika pada 1970-an Petrus mengutarakan keinginanmenjadi polisi seperti ayahnya dan Paulus ingin jadi tentara. Setelah kematian KS Tubun, Wagina dan anak-anaknya harus meninggalkan Kedunghalang, Bogor. Sejak 1974 , mereka tinggal di sebuah rumah kavling yang dihadiahkan kepada keluarga ini di Jelambar, Jakarta. Jauh setelah kepergian KS Tubun , Wagina sering didatangi lewat mimpi. Keluarga penganut Katolik ini berusaha pasrah akan perjalanan hidup mereka. *
- How "The Tiger of Asia" Lost Its Claws
A thick mustache and beard framed his wrinkled face. His stare is sharp. His voice is deep and firm. At the age of 79, I Gusti Kompyang Manila still harbors a great passion for Indonesian football, keeping his dream to return the national team to the glorious position it once possessed alive.
- Robbie Coltrane dari Sketsa Komedi ke Semesta Harry Potter
UNTUK kesekian kalinya, semesta Harry Potter yang menyihir jutaan penggemarnya berduka. Setelah pemeran Profesor Albus Dumbledore (Richard Harris) dan pemeran Profesor Severus Snape (Alan Rickman), kini giliran Robbie Coltrane, yang memerankan Rubeus Hagrid, menghadap Sang Pencipta. Coltrane wafat pada Jumat (14/10/2022) di Larbert, Skotlandia pada usia 72 tahun. Coltrane diketahui mengidap osteoarthritis atau radang kronis di sendi tulang rawan pada 2016. Sejak dua tahun terakhir, kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan wafat di Rumahsakit Forth Valley Royal, Larbert, Skotlandia. Ia meninggalkan adiknya, Annie Rae; serta kedua anaknya, Spencer dan Alice. “Robbie seorang talenta yang unik, berbagi buku rekor Guinness dengan tiga kali berturut-turut memenangkan penghargaan aktor terbaik BAFTA bersama Sir Michael Gambon. Perannya sebagai Hagrid di film-film Harry Potter telah memberi kebahagiaan buat anak-anak dan fans dewasa di seluruh dunia. Aktor yang cerdas dan brilian. Saya akan merindukannya,” ungkap Belinda Wright, agen Coltrane selama 40 tahun, dikutip Daily Mail , Sabtu (15/10/2022). Baca juga: Obituari: Layar Lebar Chadwick Boseman Penulis Joanne Kathleen (JK) Rowling yang bukunya diadaptasi untuk franchise Harry Potter, menjadi salah satu orang terdekat yang terpukul. Ia menyampaikan belasungkawanya via akun Twitter -nya, @jk_rowling . “Saya tak pernah mengenal pribadi yang seperti Robbie lagi. Sosok yang tiada dua. Dia talenta yang luar biasa dan saya beruntung pernah mengenal dan bekerja bersamanya,” kata Rowling. Penulis Harry Potter Joanne Kathleen Rowling (kanan) saat bersama mendiang Robbie Coltrane (Twitter @jk_rowling) Para aktor kondang yang bermain di Harry Potter pun sama kehilangan. Daniel Radcliffe, yang memainkan peran utama Harry Potter, mengatakan punya banyak kenangan semasa satu frame di delapan seri franchise- nya. “Saya sangat bersyukur pernah bertemu dan bekerja dengan dia dan sangat terpukul mendengar ia tiada. Ia selalu bisa mengangkat moral kami dengan lelucon-leluconnya. Ia seorang aktor yang luar biasa dan pribadi yang menyenangkan,” ungkap Radcliffe dilansir CNN , Sabtu (15/10/2022). Aktris cantik Emma Watson yang memerankan Hermione Granger juga mengungkapkan kedukaan senada. “Robbie adalah paman paling menyenangkan yang pernah saya miliki. Tak heran ia memerankan karakter (setengah) raksasa karena ia mampu mengisi ruang dengan pribadinya yang brilian. Robbie, saya berjanji di set film akan selalu melakukan yang terbaik demi mengenang nama dan memori Anda,” ujar Emma. Baca juga: Obituari: Adieu , Jean-Luc Godard! Dari Panggung Teater hingga James Bond Coltrane lahir di Rutherglen, Skotlandia pada 30 Maret 1950 dengan nama Anthony Robert McMillan. Ia anak kedua dari pasangan Ian Baxter McMillan, dokter bedah forensik, dan Jean Ross Howie, guru musik sekaligus pianis. Sejak kecil, Coltrane lebih berminat mengikuti jejak ibunya di dunia seni ketimbang jadi dokter seperti ayahnya atau jadi pebisnis sukses sebagaimana kakek buyutnya, Thomas W. Howie. Setelah sekolah seni rupa di Glasgow School of Art, ia terjun ke seni peran dengan bergabung ke Traverse Theatre di Edinburgh pada 1978. Sejak itu pula ia menggunakan nama panggung “Coltrane”. “Coltrane adalah nama panggung saya yang saya ambil untuk menghormati pemain saksofon Jazz, John Coltrane yang menjadi pahlawan saya. Nama keluarga saya McMillan, salah satu klan dari dataran tinggi Skotlandia,” ungkap Coltrane dalam otobiografinya, Robbie Coltrane’s B-Road Britain. Baca juga: Obituari: Warna-warni Kehidupan Sean Connery Komedi di atas panggung seolah jadi pelarian bagi Coltrane. Meski tumbuh di tengah keluarga terpandang, masa remaja Coltrane disesaki banyak tragedi. “Coltrane yang sejak kecil dikenal dengan panggilan ‘Fat Rob’, menemukan komedi menjadi senjata terbaiknya. Tapi ceritanya tidak semua tentang tawa. Sejak remaja ia telah menderita, setidaknya karena dua tragedi. Pertama, kematian ayahnya karena kanker paru-paru. Kemudian adik perempuannya, Jane, melakukan bunuh diri,” tulis suratkabar The Herald , 14 September 2001. Robbie Coltrane (kanan) bersama para pengisi sketsa komedi Alfresco (IMDb) Tak hanya memulai dari bawah sebagai aktor figuran, Coltrane juga menjalani pekerjaan sampingan sebagai sopir para direktur teater dan para aktor senior. Kerja kerasnya terbayar saat mendapat peran di serial komedi televisi, The Comic Strip Presents…, (1980-2016). Ia kemudian bermain dalam serial komedi sketsa Alfresco (1983-1984), di mana namanya mulai dikenal dan persahabatannya dengan para komedian muda lain yang kelak jadi legendaris, seperti Hugh Laurie dan Emma Thompson, dimulai. Sejak saat itu karier Coltrane sebagai komedian yang wara-wiri di serial televisi makin moncer. Beberapa di antaranya Tutti Frutti (1987) dan Blackadder the Third (1987) yang juga dibintangi Rowan Atkinson. Tawaran peran pendukung di sejumlah layar perak mengalir padanya, di antaranya film Henry V (1989), dia memerankan tokoh Sir John Falstaff; dan peran antagonis agen KGB Valentine Dmitrovich Zukovsky di franchise James Bond: Golden Eye (1995) dan The World is Not Enough (1999). Hingga akhir hayatnya, Coltrane tercatat bermain di 41 serial televisi. Di antara penghargaan yang pernah didapatnya adalah tiga piala BAFTA untuk aktor terbaik selama tiga tahun berturut-turut pada 1994-1996 untuk perannya di serial drama kriminal Cracker (1993-1995). Di layar lebar, Coltrane bermain di 55 film yang delapan di antaranya adalah franchise Harry Potter. Baca juga: Obituari: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Peran Robbie Coltrane di franchise James Bond (Twitter @007) Pilihan Utama JK Rowling Sejak merampungkan buku pertama Harry Potter pada 1995 bertajuk Harry Potter and the Philosopher’s Stone , Rowling sudah menghadirkan tokoh Rubeus Hagrid. Sosok itu dibuatnya sebagai setengah raksasa setinggi 12 kaki (3,7 meter) karena lahir dari ibu seorang raksasa, Fridwulfa, yang bersuami manusia biasa yang tak disebutkan namanya. “Hagrid karakter berambut hitam dan berjanggut yang saya ciptakan sejak hari pertama. Namanya berasal dari dialek bahasa Inggris lama. Kira-kira artinya, jika Anda ‘ hagrid’ , Anda akan mengalami malam yang buruk. Hagrid juga seorang peminum berat dan dia mengalami banyak malam yang buruk,” ungkap Rowling, dikutip Shringar Tiwari dalam Children’s Literature JK Rowling’s Mastery in Portrayal of Characters in Harry Potter Series. Latarbelakang karakter Hagrid juga dibuat Rowling sebagai eks-golongan Gryffindor semasa ia bersekolah di Hogwarts. Setelah dikeluarkan dari Hogwarts, tongkat sihirnya dipatahkan karena suatu kasus kecerobohan. Baca juga: Momok Nazi dan Mitos Indonesia dalam Fantastic Beasts Akan tetapi, kemudian oleh Profesor Dumbledore, Hagrid diperbolehkan tetap berada di sekitar Hogwarts sebagai penjaga sekolah dan merawat makhluk-mahkluk ajaib. Karena menjadi loyalis Dumbledore, Hagrid cepat akrab dengan Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger. Tak selamanya Hagrid bisa diandalkan karena kecerobohannya. Harrid digambarkan acap membawa sebuah payung usang. Payung itu sedianya menyembunyikan tongkat sihirnya yang ia perbaiki seadanya. Meski terkadang masih bisa melakukan sihir, ia tetap tak mampu melayangkan mantra “Expecto Patronum” untuk menolak makhluk jahat. Robbie Coltrane yang terlibat dalam delapan franchise Harry Potter (Warner Bros) Ketika Harry Potter and the Philosopher’s Stone (di luar Inggris bertajuk Harry Potter and the Sorceres’s Stone ) akan difilmkan Warner Bros pada 1997, Rowling ikut memberi sumbang saran mengenai siapa-siapa yang akan memerankan masing-masing karakternya yang ditetapkan semua harus aktor Inggris. Khusus pemeran Hagrid, Rowling tak pernah punya opsi lain yang paling pas dan cocok selain Coltrane. “Para pemerannya ibarat dream cast tapi yang menjadi top list adalah Robbie Coltrane untuk (peran) Hagrid dan Maggie Smith untuk (Profesor Minerva) McGonagall. Saya pikir semua orang yang mengenal bukunya dan para aktornya akan setuju dengan saya. Robbie sempurna karena Hagrid karakter yang mudah disukai, dicintai, sedikit komikal tapi juga mesti punya sense bahwa dia sosok yang keras dan Robbie melakukannya dengan sempurna,” kata Rowling kepada The Telegraph , 4 November 2001. Baca juga: Obituari: Pelaut yang Menaklukkan Hollywood Selain mesti melakukan penyesuaian efek visual untuk menjadikannya seorang raksasa, Coltrane juga harus lebih menggali karakternya yang mencintai anak-anak agar lebih relevan. Itu jadi kunci karakter Hagrid sebagaimana yang ingin ditonjolkan dari buku Rowling. Kesuksesan perannya berbanding lurus dengan meledaknya Harry Potter. Dimulai dari Harry Potter and the Philospher’s Stone (2001), berlanjut ke Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002), Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), Harry Potter and the Goblet of Fire (2005), Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009), Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010), serta Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011). Pada 2006, Coltrane dianugerahi medali OBE (Officer of the Order of the British Empire) oleh Kerajaan Inggris untuk dedikasinya pada seni peran. Lima tahun kemudian, giliran anugerah kehormatan BAFTA Scotland Awards yang diterimanya. “Anak-anak menyukai Hagrid karena dia besar dan kuat dan ramah dan itu yang diinginkan anak-anak. Mereka menginginkan seseorang yang bisa melindungi mereka dan seseorang yang bisa berperilaku baik terhadap mereka. Dan banyak anak-anak di dunia nyata tidak punya sosok seperti itu dalam hidup mereka. Itu hal yang sangat menyedihkan,” tandas Coltrane, dikutip dari buku Harry Potter: Film Vault, Volume 11. Baca juga: Obituari: Akhir Hidup Si Pemeran Hitler
- Warung Kopi Tertua di Indonesia
Nongkrong sama teman rasanya tak lengkap tanpa ditemani kopi. Tak heran ngopi jadi kegiatan favorit kaum urban baik anak muda maupun orang dewasa. Kedai-kedai kopi dengan beragam konsep mudah ditemukan di berbagai tempat di Jakarta. Salah satunya yang tertua adalah Kopi Warung Tinggi yang bermula dari warung nasi. Warung Tinggi didirikan oleh Liauw Tek Soen, seorang saudagar asal Cina. Ia melihat peluang usaha menjanjikan dari kopi yang menjadi komoditas andalan di Hindia Belanda. Ia kemudian mendirikan warung makan yang juga menyediakan kopi di kawasan Moolenvliet Oost (kini Jalan Hayam Wuruk) di Batavia. Bangunan warung didominasi kayu jati, berdiri di atas tanah seluas 500 meter, dan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian paling depan untuk berdagang, bagian kanan bangunan dijadikan warung nasi, sedangkan di bagian kiri untuk toko kelontong. Sementara itu, bagian tengah bangunan difungsikan menjadi tempat berdagang jahitan karya Liauw Tek Soen yang dikenal pandai menjahit. Warung itu menghadap ke Sungai Ciliwung dengan jembatan dari batang-batang pohon kelapa yang menghubungkan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada. Kala itu, kawasan Moolenvliet termasuk wilayah strategis karena penduduk kerap beraktivitas di Sungai Ciliwung. Selain itu, getek-getek bambu juga lalu-lalang sebagai alat transportasi masyarakat. Baca juga: Sejarah Ritual Ngopi Hiruk pikuk aktivitas warga berdampak pada usaha Liauw Tek Soen. Toko kelontongnya kerap didatangi warga yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Warung nasinya juga menjadi tujuan warga untuk mengisi perut setelah beraktivitas. Menyoal nama Warung Tinggi, Rudy Widjaja dalam Warung Tinggi Coffee: Kopi Legendaris Tertua di Indonesia, Sejak 1878 menulis, dibandingkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya, warung Liauw Tek Soen tampak tinggi dan megah sehingga orang-orang sekitar menamainya berdasarkan ciri-ciri tersebut. Warung itu kian populer setelah Liauw Tek Soen menjual kopi pada 1878. Ia membeli biji kopi dari seorang pedagang wanita yang membawa kopi mentah menggunakan bakul –di kemudian hari pedagang wanita itu menjadi logo Kopi Warung Tinggi. Liauw Tek Soen mengolah sendiri biji kopi menggunakan kuali serta lesung dan alu. Kopi disangrai di dalam kuali besar berisi pasir. Setelah matang, biji kopi diayak sehingga terpisah dari pasir, lalu ditumbuk dengan lesung yang terbuat dari batu kali. Proses pengolahan kopi terbilang sederhana. Ia menggunakan kayu bakar untuk memanggang biji kopi. Guna memaksimalkan produksi kopi, ia merancang alat khusus yang mampu menggoreng lebih banyak biji kopi hingga matang secara merata. Baca juga: Kopi yang Mengubah Eropa Setelah melalui berbagai proses, kopi pun disajikan kepada para pelanggan. Biasanya para pelanggan tak langsung meminumnya.Kopi yang masih mengepul itu ditutup dengan piring tatakan. Setelah rokok habis diisap barulah kopi dituang ke tatakan, ditiup-tiup lalu diseruput, dengan begitu ampasnya tidak ikut terminum. “Seperti inilah cara menikmati kopi yang sangat nikmat pada zaman tersebut,” tulis Rudy. Bisnis kopi yang dirintis Liauw Tek Soen kemudian diteruskan anak angkatnya, Liauw Tek Siong sejak tahun 1910. Mengutip Merek Jadul dan Kerawanan Generasi Ketiga terbitan Pusat Data Analisa Tempo, Liauw Tek Siong “dibeli” Liauw Tek Soen karena anak lelaki tunggalnya–yang keterbelakangan mental– dianggap tak mampu berdagang. Toko kopi Tek Sun Ho atau Tek Soen Hoo yang kemudian menjadi Kopi Warung Tinggi. (Dok. Rudy Widjaja) Bila mula-mula kopi hanya usaha sampingan dari warung nasi, di tangan Liauw Tek Siong yang dijuluki “sang pemula” produsen kopi perorangan di Indonesia, kopi dijadikan bisnis utama. Pada 1927, Liauw Tek Siong mendirikan pabrik sederhana bernama Tek Soen Hoo Eerste Weltevredensche Koffiebranderij atau Toko Tek Soen, Perusahaan Penggoreng Kopi Pertama di Weltevreden. Ia menggunakan nama Liauw Tek Soenuntuk menghormati dan mengenang ayah angkatnya. Toko yang mulai meracik kopi Luwak tahun 1940 ini juga dikenal dengan sebutan Toko Tek Soen atau Tek Soen Hoo. Ketegangan antara Belanda dan Jepang tahun 1942 berdampak pada Toko Tek Soen. Rudy menyebut situasi yang tidak aman membuat toko ini ditutup selama berbulan-bulan, sementara seluruh keluarga mengungsi ke Mega Mendung, Jawa Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, istri Liauw Thian Djie, putra sulung Liauw Tek Siong, berjualan kain keliling. Baca juga: Rezim Kopi di Priangan Pada masa pendudukan Jepang, Toko Tek Soen kembali dibuka meski dengan cara meminjam kopi dari pengusaha lain yang dibayar belakangan. Setelah Indonesia merdeka, Liauw Thian Djie yang mewarisi bisnis kopi dari sang ayah, bertekad mengembangkan bisnis keluarga ini. Ia memulai dari kualitas kopi yang diproduksi tokonya. Menurut Rudy, anak kedelapan Liauw Thian Djie, ayahnyahanya membeli biji kopi berkualitas dari satu sumber di Pasar Pagi. Selain itu, ia juga memiliki cara unik memeriksa kadar air dalam biji kopi. “Beliau akan mengambil segenggam biji kopi, jika terasa dingin, berarti kadar air biji kopi tersebut besar; sebaliknya, jika sedikit hangat, berarti kadar airnya sedikit,” tulis Rudy. Toko Tek Soen mulanya hanya menjual satu jenis kopi yang dibungkus dalam kertas cokelat sederhana dan diberi cap. Bisnis kopi yang maju pesat pada 1950-an mendorong Liauw Thian Djie membeli mesin-mesin baru yang canggih. Salah satunyamesin goreng kopi buatan Belanda. Mesin bertenaga listrik ini berfungsi ganda, yakni menggoreng kopi dan alat pendingin. Baca juga: Kopi Jawa Bikin Kecanduan Orang Eropa Selain itu, Liauw Thian Djie juga mulai menjual kopi racikan atau blend dengan mencampur beberapa jenis kopi. I a berhasil meracik lima jenis kopi bermutu tinggi yang menjadi andalan tokonya , yaitu Rajabica, Arabica Special, Arabica Super, Arabica Extra, dan Robusta. Pada 1960-an, Toko Tek Soen atau Tek Soen Hoo berganti nama menjadi Warung Tinggi. Setelah Liauw Thian Dhie tutup usia pada 1978, perusahaan dikelola oleh Rudy Wijaya bersama tiga saudaranya, yakni Darmawan, Suyanto, dan Yanti. Rudy membeli seluruh saham PT Warung Tinggi termasuk merek paten dan hak cipta dari saudara-saudaranya pada 1994. Ia kemudian membeli rumah di Jalan Daan Mogot untuk gudang dan pabrik kopi. Kerusuhan tahun 1998 berdampak pada usaha Warung Tinggi. Rumah dan pabrik kopi milik Rudy hancur. Bahkan, i a dan seluruh keluarganya mengungsi ke Singapura. Rudy membangun kembali Warung Tinggi pada 1999. Ia memindahkan pabrik kopi ke Tangerang . Pada 2001, generasi keempat me lanjutkan usaha keluarga ini dengan nama Bakoel Koffie. *
- Candaan Bung Hatta dan Kawan-kawan di Bangka
Setelah tiga hari ditawan pasukan Belanda di Gedung Agung Yogyakarta, pada 22 Desember 1948 Wakil Presiden Moh. Hatta bersama Presiden Sukarno, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Mr. Assaat, Mr. AG Pringgodigdo, dan Komodor Suryadarma diangkut dengan jip yang dikawal sekelompok serdadu bersenjata lengkap ke Lapangan udara Maguwo (kini Lanud Adisucipto). Mereka semua akan dibuang agar Republik Indonesia “musnah”. Dari Lapangan udara Maguwo, mereka diangkut menggunakan sebuah pesawat bomber ke arah barat. Usai singgah sejenak di Lapangan udara Cililitan (kini Lanud Halim Perdanakusuma), penerbangan mereka berlanjut tanpa diketahui tujuannya oleh seorang pun dari para pimpinan “Kiblik” yang ditawan itu. “Setelah kami naik kembali di bomber, kami lihat bomber itu terus terbang ke barat. Bomber itu mendarat di Pangkal Pinang. Lalu, diberitahukan oleh seorang pejabat orang Belanda bahwa di tempat itu diminta turun tuan-tuan, Mohammad Hatta, Mr. Assaat, Mr. Gafar Pringgodigdo, dan Tuan Suryadarma. Kami empat orang diturunkan di Bangka,” kata Bung Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku : Sebuah Otobiografi . Dari Pangkal Pinang, Bung Hatta cs. lalu diangkut ke Muntok. Mereka ditempatkan di sebuah vila di Gunung Menumbing milik perusahaan tambang. Baca juga: Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia “Gedung peristirahatan itu cukup luas dan bertingkat dua. Di luar gedung itu, di halaman yang sama, terdapat dua bungalow yang kecil, yang rupanya belum selesai dikapur. Waktu kami sampai di atas, sudah menunggu di sana Demang Abidin, Demang Muntok. Di situ ada pula seorang bekas kopral KNIL, orang Jawa. Sesudah ia pensiun ia bekerja pada Bangka Tin sebagai penjaga dan jongos di sana. Kepada kami ditunjukkannya kamar tidur kami,” sambung Bung Hatta. Setelah diperkenalkan kepada Demang Abidin dan seorang kontrolir Belanda lalu berbasa-basi sesaat, para pemimpin teras republik itu pun menjalani hari-hari pembuangan tanpa teman selain mereka berempat sendiri. Para serdadu pleton penjaga lokasi dilarang keras berkomunikasi apalagi bergaul dengan mereka. Namun, keterasingan mereka sedikit berkurang dengan bertambahnya kawan dua hari kemudian. Pada 1 Januari 1949, Ali Sastroamidjojo bersama Mr. Moh. Roem mengikuti mereka jadi penghuni rumah pembuangan Bangka. “Pagi-pagi benar kami diperintahkan untuk turut dengan seorang perwira Belanda naik jeep dan dibawanya kami ke jurusan Maguwo. Dengan cepat kami dimasukkan di dalam pesawat pembom B 26 yang segera terbang meninggalkan Maguwo. Dua orang serdadu kolonial bersenjata dengan sangkur terhunus menjaga kami. Kurang lebih satu setengah jam kemudian kami mendarat di lapangan terbang Bangka. Segera sesudah kami dimasukkan di mobil, maka dengan dikawal oleh sekelompok serdadu-serdadu berbaret merah itu kami dibawa ke Menumbing. Jalannya ke situ meliwati hutan dan kurang lebih 45 menit kemudian kami sampailah di tempat itu. Segera kami melihat Bung Hatta, Mr Assaat, Komodor Suryadarma dan Mr. A.G. Pringgodigdo sudah berada di itu. Mereka menyambut kami dengan gembira,” kenang Ali Sastroamidjojo dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku. Baca juga: Ali Sastroamidjojo, Sang Diplomat Ulung Selain Bung Hatta yang sempat membawa dua-tiga buah buku, tak ada yang sempat membawa bahan bacaan untuk membunuh waktu. Padahal bacaan tidak disediakan di sana. Radio yang dimiliki komandan pleton pun tidak boleh ikut digunakan oleh para tawanan. Hubungan dengan dunia luar mereka praktis terputus. Maka, hari-hari Bung Hatta cs. dihabiskan dengan sesekali berdiskusi, mengobrol, dan bermain semata. “Kerja kami sehari-hari hanya membaca buku, bermain bridge , dan main catur. Ada pula di situ meja pingpong untuk anak-anak tentara yang menjaga kami, yang juga dapat kami pakai,” kata Bung Hatta. Namun, Belanda seolah belum puas mengisolir mereka. Isolasi terhadap para tawanan pun ditambah dengan pemasangan kawat berduri di luar dua ruangan yang dipakai para tawanan plus di sekeliling vila. Pengerjaannya selesai pada saat hari kedatangan Ali dan Moh. Roem. Baca juga: Roem: Tidak Ada Waktu Membenci Sukarno “Jadi penawanan kami menjadi lebih sempurna, karena kami tidak bisa bergerak kecuali di dalam ruangan-ruangan yang dipagari kawat berduri itu. Kami merasa seperti hidup di dalam kerangkeng di kebon binatang. Tetapi itu tidak bisa mempengaruhi semangat kami. Tiap hari kami tetap menjalankan program sehari-sehari, yaitu berdiskusi, bersenda gurau dan tempo-tempo merenung dan ngelamun juga,” kata Ali. Pada saat bersamaan dengan selesainya pembangunan kawat berduri itu pula anggota Komisi Tiga Negara asal Australia Thomas Critchley tiba di sana untuk menemui Bung Hatta. Keberadaan pagar kawat berduri itu membuat Critchley kaget. Dia berjanji memprotes upaya tidak manusiawi Belanda itu yang di forum PBB selalu dikatakan Belanda tidak ada. Baca juga: Gunakan Adat Jawa, Pernikahan Bung Hatta Bikin Hadirin Tertawa Alhasil Bung Hatta cs. pun menjadikan adanya pagar kawat berduri itu sebagai bahan candaan mereka. “Korbannya” Mr. Moh. Roem yang akan memimpin delegasi Indonesia dalam Perundingan Roem-Royen yang akan datang. “Waktu mereka datang, kami permainkan Roem karena ia ketua delegasi Indonesia. ‘Bagaimana Saudara Roem,’ kata kami. ‘Ketua Delegasi dahulu Sjahrir menandatangani Perjanjian Linggarjati bahwa pada 1 Januari 1949 Indonesia Serikat akan merdeka, tetapi sekarang 1 Januari 1949 Ketua Delegasi dikurung oleh Belanda dalam kerangkeng.’ Kami semuanya tertawa gelak-gelak. Juga kontrolir Belanda yang mengantarkan mereka kepada kami,” kenang Bung Hatta.





















