top of page

Hasil pencarian

9631 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Propaganda Saudara Tua

    ONO SASEO, pelukis poster propaganda, terkatung-katung di laut lepas di sekitar Teluk Banten. Kapal yang ditumpanginya karam dihantam torpedo Sekutu. Pertempuran tengah berkecamuk. Selain kapal pengangkut pasukan itu, Jepang kehilangan satu kapal penyapu ranjau. Sementara Jepang menenggelamkan dua kapal penjelajah Sekutu, Houston , milik Amerika dan Perth  milik Australia.

  • Pentas Penghabisan

    JUNI 1974, kabar duka berembus: Bing Slamet meninggal dunia. Sontak kabar itu menyebar. Beberapa teman dan kerabat Bing berdatangan ke rumah. Tapi rumah Bing sepi. Anak Bing berdiri di depan pintu dengan pandangan mata tak sedap.

  • Pejuang Penghibur

    USAI bertemu Sam Saimun, Bing Slamet dan kelompok Pantjawarna ke Semarang. Berkasad tampil menghibur publik, mereka justru mengalami peristiwa menyeramkan. Bing tak ingat pasti hari dan tanggalnya. Yang jelas, tentara Jepang tiba-tiba menangkap mereka di sebuah hotel terkenal Du Pavilion pada 1944. Alasan penangkapannya tak jelas.

  • Negeri-negeri Merdeka

    SUATU ketika, ahli hukum, sejarawan, dan penyair G.J. Resink mendengar cerita seorang tua di Bali tentang kedamaian sebelum perjuangan penuh keberanian berakhir dengan kematian ribuan orang Bali di Badung pada 1906 dan Klungkung pada 1908. Orang tua itu juga menyebut zaman sebelum kedatangan Belanda ketika di Bali selatan masih ada negara-negara kecil yang merdeka dan hubungan lalulintas dengan Bali utara masih demikian sulit.

  • Musisi Sosial

    “SAYA mau ke Jakarta, Mas. Mau ikut lomba Bintang Radio tingkat nasional,” pinta Sudarwati alias Titiek Puspa ke kakaknya, Sumarno, pertengahan 1954. Khawatir orangtua mereka marah, Sumarno tak mengizinkan adiknya pergi. Titiek tak putus arang dan berkeras meyakinkan mereka.

  • Merdeka Mata Uang

    DALAM suatu pertemuan dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta pada September 1945, Sjafruddin Prawiranegara, anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, mengusulkan agar pemerintah Republik Indonesia menerbitkan mata uang sendiri sebagai pengganti mata uang Jepang yang masih berlaku. Ini penting bukan hanya sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga menjadi simbol negara yang merdeka dan berdaulat. Mulanya Bung Hatta ragu. Setelah diskusi panjang, akhirnya dia setuju. Tapi realisasinya butuh waktu lama. Bukan perkara mudah. Tak ada dana dan tenaga ahli terbatas.

  • Mengajar atau Nanti

    BAWADIMAN sudah sepuh. Usianya 81 tahun. Guratan di wajahnya mengisyaratkan kenyang makan asam garam kehidupan. Sebagai seorang dokter dia tahu betul bagaimana menjaga kesehatan. Suaranya lantang. Bahkan pada tempo-tempo tertentu nadanya meninggi. Pendengaran dan daya ingatnya juga baik.

  • Memori Kebon Kacang

    RUMAH tua itu lengang. Di depannya, dekat sebuah warung rokok yang bersandar pada pagarnya, empat pemuda asyik bercengkerama; suara klaskon dan deru kendaraan yang tersendat saling bersahutan. Semburat cahaya langit nan jingga menerpanya, seperti usianya yang menginjak senja.

  • Melawak Tanpa Babak

    JOEY Adams, komedian Amerika, terpana begitu melihat papan reklame dan iklan-iklan suratkabar bertuliskan “Joey Adams, pelawak top Amerika, versus Bing Slamet, pelawak top Indonesia” setibanya di Jakarta. Dia pun bertanya-tanya.

  • Kisah Penyanyi Pengelana

    ARBAIYYAH, seorang guru sekolah di Cilegon, tak henti memberikan semangat kepada Bing Slamet agar kelak menjadi penyanyi. Kala itu, Bing baru menginjak usia enam tahun. Seperti orang-orang di kampungnya, Arbaiyyah mengetahui kegemaran Bing: menyanyi. Arbaiyyah seperti sudah melihat bakat besar pada diri Bing.

  • Ketika Demam Roket Mewabah

    PAKANEWON Sanden, Bantul, 24 Agustus 1963. Tak seperti biasanya, pantai selatan Yogyakarta ini dipadati pengunjung. Mereka bukan hendak berjemur, berenang, atau menikmati panorama pantai yang indah tapi bersiap menjadi saksi sejarah: peluncuran roket untuk kali pertama di Indonesia.

  • Kesenian Kelas Jongos

    LAWAK hanyalah kesenian kelas jongos. Orang-orang rendahan. Rakyat jelata. Metafora kelas itu digambarkan dalam pertunjukan Goro-goro, Limbuk-Cangik, dan Togog-Bilung di wayang kulit. Di kesenian tradisional lain seperti ketoprak atau ludruk, suasana penuh guyon juga hanya muncul ketika para abdi, pembantu, dayang-dayang berkumpul dan bercengkerama. Ungkapan mereka lewat bahasa egaliter, kadang kasar, menyentil, dan apa adanya menggambarkan tradisi sekaligus cap bagi posisi mereka.

bottom of page