top of page

Hasil pencarian

9633 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pahlawan Tanpa Senapan

    SEORANG pria terpental diterjang peluru. Tak lama kemudian bom meledak dan mengobarkan api. Korban-korban berjatuhan. Di bawah hujan peluru, empat pria berpakaian hijau sibuk mengangkat para korban. Adegan-adegan pertempuran, dari Perang Saudara hingga Perang Pasifik, menjadi pembuka film ini. Setelah itu kita dibawa ke masa lalu ( flashback ) dengan suasana alam di Pegunungan Blue Ridge, Virginia, Amerika Serikat, tahun 1929. Dua bocah Doss bersaudara, Desmond dan Harold, sering menghabiskan waktu bermain di sana. Namun sebagaimana umumnya anak-anak, keduanya juga kerap ribut dan berkelahi.

  • Derita Anak Pramoedya dan Slank

    DIA masih bayi ketika ayahnya, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), ditahan sebagai tahanan politik (tapol) tanpa pengadilan oleh rezim Orde Baru. Bersama saudarinya dan ibunya, Siti Maemunah Thamrin, dia hidup dalam kesulitan sepanjang ayahnya ditahan.

  • Perjalanan Hidup Mar’ie Muhammad, Menteri Keuangan Berjuluk “Mr. Clean”

    SRI Mulyani Indrawati memikul tugas berat ketika ditunjuk sebagai menteri keuangan untuk kali pertama pada 2005. Waktu itu jumlah pegawai Kementerian Keuangan terbilang gemuk, sekira 40.000 orang. Reputasi kementerian pengatur keuangan negara itu juga sedang tak bagus-bagus amat karena rentan kasus korupsi. Belum lagi tata kelolanya masih abu-abu. Dalam keadan demikian, Sri Mulyani mesti mereformasi birokrasi Kementerian Keuangan supaya bersih sesuai tuntutan reformasi. Untuk itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membekali Sri Mulyani penasihat berpengalaman seperti Mar'ie Muhammad.

  • Pramoedya dan Gelanggang Asia-Afrika

    KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung memang tak melahirkan badan atau lembaga internasional yang permanen. Namun, KAA berhasil memantik konferensi-konferensi antar-regional dari berbagai golongan. Salah satunya The Asian-African Writer’s Conference atau Konferensi Pengarang Asia-Afrika (KPAA) I di Tashkent, Uzbekistan pada 1958. Pramoedya Ananta Toer turut hadir sebagai ketua delegasi Indonesia.

  • Kakek Buyut Ole Romeny Korban Perang Pasifik

    NAMA Ole Romeny sudah ramai disebut sebagai calon pemain naturalisasi tim nasional Indonesia dari Belanda sejak November 2024. Kini, proses naturalisasinya bersama dua pemain lain, Dion Markx dan Tim Geypens, yang diajukan PSSI bersama Kemenpora lewat rapat kerja sudah disetujui Komisi X DPR RI pada Senin (3/2/2025).

  • Sejarah di Balik Istilah News Anchor

    KATA anchor  dalam bahasa Inggris berarti jangkar, pemberat pada kapal atau perahu. Di New Zealand, anchor  merupakan jenama produk olahan susu yang berdiri sejak abad ke-19. Kata anchor  juga digunakan di industri penyiaran berita, di mana seorang pria atau wanita yang bertugas menyampaikan informasi dan liputan disebut news anchor .

  • Samin Dibuang Samin Menguat

    KEHADIRAN mereka di Festival Blora Seabad Pram yang dihelat di Pendopo Bupati Blora pada 7 Februari lalu mengundang perhatian para pengunjung lain. Bukan hanya laku mereka yang lugu, tapi juga penampilan mereka yang bersahaja. Begitulah mereka para pengikut ajaran Samin. Meski dulu dicap pembangkang, kini (kaum) Samin mulai dianggap orang besar.

  • Mengapa Gaun Pengantin Berwarna Putih?

    KONSEP pernikahan impian mengalami transformasi seiring perkembangan zaman. Pemilihan lokasi acara, dekorasi, desain gaun pengantin hingga aksesoris pelengkap terinspirasi dari tren yang tengah digandrungi masyarakat. Meski begitu ada satu hal yang tak lekang oleh waktu, yaitu gaun pengantin berwarna putih. Kebanyakan pengantin wanita masih melestarikan tradisi mengenakan gaun pengantin berwarna putih, baik untuk prosesi akad atau pemberkatan maupun untuk seluruh rangkaian pesta pernikahan.

  • Mo dan Potret Pengungsi Palestina yang Merindukan Negerinya

    LEPAS dari satu masalah, Mohammed ‘Mo’ Najjar (diperankan Mohammed Amer) terjerat problematika lain yang membuatnya mesti berurusan lagi dengan otoritas keimigrasian Amerika Serikat. Hakim pengadilan kota Houston memutusnya bersalah dan memvonisnya “deportasi”. Tetapi ke mana ia bisa pergi, sebab statusnya masih pengungsi Palestina pencari suaka tanpa kewarganegaraan?

  • Leluhur Ketua Pemuda Pancasila Jago Perang

    NAMA Japto Soelistio Soerjosoemarno belakangan ini jadi berita. Ketua Umum Pemuda Pancasila itu rumahnya digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan 11 mobil serta uang sebesar Rp56 milyar disita darinya. Japto dikaitkan dengan kasus gratifikasi dan pencucian uang oleh KPK yang sedang memeriksanya.

  • Denis Law dan Memorinya di Lapangan Hijau

    STADION Old Trafford Selasa (11/2/2025) siang lalu dikerumui ribuan suporter Manchester United yang tertiba serempak bertepuk tangan begitu iring-iringan mobil jenazah mendiang Denis Law datang. Mobil berhenti sejenak di depan Patung Trinitas United –di muka pintu masuk utama stadion– untuk memberi kesempatan ribuan fans memberi penghormatan terakhir pada sang legenda.

  • Ricklefs yang Tak Sempat Saya Temui

    Pak Bonnie Yth: Saya lampirkan sebuah cerita kecil baru untuk Historia. Mudah-mudahan bisa diterima. Untuk ilustrasi, saya juga lampirkan gambar Buta Terong dari Hardjowirogo, Sedjarah Wayang Purwa, yang mungkin bermanfaat. Ini merupakan sumbangan yang terakhir dari saya, paling sedikit untuk sementara. Ada tugas lain yang harus saya perhatikan. Apalagi, kesehatan saya terus menurun (lantaran kanker) dan semakin sulit untuk bekerja. Dulu Anda mempunyai rencana untuk berkunjung ke Melbourne pada awal bulan Oktober. Bagaimana re(n)cananya sekarang? Salam, Merle DEMIKIAN email yang saya terima dari sejarawan terkemuka Merle Ricklefs pada Sabtu, 28 September 2019, mengantar sebuah artikel tentang Syekh Ibrahim, seorang Turki yang memainkan peranan penting dalam perang saudara di Jawa abad ke-18. Ricklefs benar, tulisan tersebut jadi artikel terakhir yang pernah dikirimkannya kepada kami. Hari Minggu, 29 Desember 2019, sejarawan yang telah menulis puluhan buku dan ratusan karya sejarah mengenai Jawa dan Indonesia itu meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker prostat yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir. Email di atas memang bukan yang terakhir, beberapa email setelahnya masih sempat melayang ke kotak surat saya. Isinya berupa tagihan kapan artikelnya akan dimuat. Ada kalanya bernada cemas, seperti saat dia mengirimkan artikel mengenai asal-usul kaum abangan. “Kalau memang dirasa sensitif, tak perlu dimuat!” Padahal saya membutuhkan sedikit waktu tambahan untuk menyunting artikel penulis buku Sejarah Indonesia Modern 1200–2000 itu.   Walau mahaguru sejarah, Ricklefs juga tetap rendah hati dan kerap meminta pendapat mengenai karangannya, “…Seandainya dapat diterima untuk dipublikasikan, tolong periksa Bahasa Indonesianya apabila perlu,” kata dia dalam salah satu emailnya. Setiap artikel yang hendak kami muat selalu terbuka untuk didiskusikan, bahkan hingga ke soal detail. Kekuatan tulisan-tulisan Ricklefs terletak pada kemampuannya merekonstruksi masa lalu dengan menggunakan sumber tangan pertama (primer). Selain fasih berbahasa Indonesia dan Belanda, Ricklefs juga mahir membaca sumber-sumber Jawa, modal utama mendalami teks berbahasa Jawa yang seringkali penuh ungkapan bermakna simbolis.  Kemahirannya menguasai bahasa Indonesia dan Jawa bermula ketika dia mendalami sejarah Jawa di Cornell University, Amerika Serikat. Pria kelahiran Iowa, 17 Juli 1943 itu berhasil meraih gelar doktor dengan disertasi Yogyakarta Under Mangkubumi . Setelah lulus dari Cornell, Ricklefs berkarier sebagai pengajar di berbagai universitas bergengsi, mulai School of Oriental and African Studies (SOAS), London, Monash University, Australian National University, University of Melbourne dan pensiun sebagai guru besar dari National University of Singapore. Setelah pensiun, Ricklefs banyak melewati waktu di rumahnya di pegunungan sebelah timur laut Victoria, Australia. Belakangan, dalam masa-masa perawatan kankernya, dia lebih banyak tinggal di rumahnya di Melbourne.  “Karena saya sakit dengan kanker yang sudah ‘ late stage ’ dan agresif, kami lebih banyak di Melbourne karena dekat rumah sakit dan para ahli. Oleh karena kanker itu dan pengobatannya juga, saya sering lelah sekali dan kegiatan saya harus dibatasi,” tulis Ricklefs dalam satu emailnya kepada saya. Namun demikian dia tak berhenti berkarya. Selain tema artikel yang memikat, Ricklefs juga selalu punya sudut pandang menarik di dalam melihat sejarah. Buat kami yang memilih cara populer untuk memublikasikan artikel sejarah, artikel-artikel karya Ricklefs mudah dipahami, mengalir jernih serta memuat banyak informasi baru. Artikel pertama yang pernah kami muat ihwal asal-usul Pangeran Samber Nyawa, julukan bagi Mangkunegara I, jadi contoh bagaimana tokoh sejarah Jawa yang mungkin namanya asing di telinga anak muda justru termasuk lima artikel paling banyak dibaca. Bahkan setahun setelah terbitnya pun artikel masih masuk ke dalam urutan artikel paling banyak diminati pembaca. Kekuatan lain Ricklefs juga terletak pada caranya mendemitologi sejarah, yang selalu ditunjukan di dalam artikel-artikel yang pernah dikirimkannya kepada kami. Kisah Pangeran Samber Nyawa yang penuh mitos serta diselubungi dongeng mistis pun mampu diuraikan latar belakang peristiwanya tanpa hanyut terlalu jauh dengan kisah-kisah karya pujangga istana yang seringkali penuh bumbu hiperbola bahkan bombastis. Bagaimana bisa Ricklefs membongkar peran penting seorang pangeran Jawa yang terkenal pemberani itu tanpa harus latah larut dalam kisah magis yang sulit dibuktikan secara rasional? Lagi-lagi kekuatannya pada sumber. Dia tak hanya membaca satu sumber primer, tapi juga berhasil mengumpulkan sumber-sumber primer lainnya sebagai bahan perbandingan. Untuk kisah Samber Nyawa, Ricklefs merujuk kepada naskah yang ditulis oleh Pangeran Samber Nyawa sendiri, Serat Babad Pakunagaran , otobiografi sang pangeran berbahasa Jawa yang paling kuno yang pernah diketahui sampai sekarang. Dalam serat tersebut Ricklefs menemukan fakta bahwa julukan Samber Nyawa berasal dari nama panji perang yang pernah digunakan dalam pertempuran di Gondang, dekat Surakarta pada 1750. “Jadi, jelaslah nama Samber Nyawa  itu berasal dari panji perang Sang Pangeran. Dulu saya membayang-bayangkan bahwa sebutan Samber Nyawa  itu mungkin berasal dari salah satu peristiwa yang penuh dengan kekuatan gaib, tapi jelas tidak. Namanya tidak berasal dari peristiwa melainkan dari sebuah obyek: panji perang Sang Pangeran,” tulis Ricklefs. Pada era itu, tulis Ricklefs, “biasanya tokoh-tokoh pemimpin mempunyai panji perang yang diberikan nama. Misalnya, panji perang Pangeran Mangkubumi bernama Gula Kalapa. Prawira terkemuka Rongga Prawiradirja mempunyai panji yang namanya Geniroga (api penyakit) dengan gambar seekor monyet yang berwarna wulung.” Tak berhenti pada sumber karya sang pangeran, dia pun menggunakan sumber lain seperti Babad Tutur, Babad Nitik Mangkunagaran dan Babad Nitik Samber Nyawa . Naskah-naskah yang tersimpan di berbagai perpustakaan di banyak negeri, mulai Inggris, Belanda sampai Indonesia itu pun tak luput dari buruan Ricklefs. Dalam artikelnya mengenai kaum abangan, Ricklefs berhasil memberikan tafsir kontekstual atas peristiwa sosio-historis kemunculan penganut agama Jawa itu. Ricklefs menelusuri kaum abangan mulai dari akar kata sampai dengan studi arsip. Dalam artikel yang berdasarkan bukunya Polarising Javanese society: Islamic and other visions 1830–1930  terbitan NUS Press, Singapore (2007) itu, Ricklefs memperkaya studi antropologis Clifford Geertz tentang abangan dengan menyumbangkan studi sejarahnya. Seperti diakuinya sendiri, sebagai sejarawan muda, dia terpukau pada karya antropolog Amerika tersebut dan turut mewarnai pemikirannya dalam melihat sejarah masyarakat Jawa. Untuk menelaah kemunculan abangan, Ricklefs menggunakan sumber-sumber berbahasa Belanda yang ditinggalkan misi zending sampai dengan sumber berbahasa Jawa yang ditulis Bupati Kudus Condronegara V (1836–1885), yang lebih dikenal dengan nama Purwalelana (pelancong pertama), Cariyos bab lampah-lampahipun Raden Mas Arya Purwalelana ( Cerita Mengenai Perjalanan R.M.A. Purwalelana ) terbit dalam dua jilid pada 1865–1866 (dan terbit lagi pada 1877 dan 1880). Menurut Ricklefs, kemunculan lapisan abangan di tengah masyarakat Jawa, sebagaimana tersua dari sumber-sumber yang disebutkan di atas tak lepas dari polarisasi sosial Jawa antara abangan dan putihan  yang baru   muncul sebagai gejala khas masyarakat Jawa pada paruh kedua abad ke-19. Perkembangan itu menurutnya merupakan salah satu akibat dari tekanan dan harapan untuk reformasi sosial yang muncul dari gerakan pemurnian Islam. Artikel tersebut kami muat ketika politik identitas semakin menguat akhir-akhir ini. Kontestasi politik, seperti yang pernah ditunjukan dalam peristiwa Pilkada DKI Jakarta 2017 sampai dengan Pilpres 2019 menunjukkan afinitas politik berdasarkan keagamaan memainkan peran penting dalam menentukan arah politik Indonesia. Merujuk kepada Ricklefs, gejala tersebut memiliki akar historis hingga ke abad 19 sebagaimana ditunjukan sumber-sumber tertulis, bahkan lebih jauh lagi ke abad 17. Sumbangan penting lainnya dari Ricklefs adalah buku Sejarah Indonesia Modern , yang menjadikan kedatangan Islam sebagai penanda penting zaman modern Indonesia. Terdiri dari enam bab, buku Sejarah Indonesia Modern  tak hanya mendedahkan sejarah Indonesia secara deskriptif melainkan juga dengan analisis yang mendalam atas berbagai fenomena historis yang muncul sejak abad ke-14. Nusantara pra-Indonesia digambarkan sebagai wilayah yang dipenuhi negara-negara kerajaan yang berdaulat sampai dengan kedatangan orang-orang Eropa. Pada bab kedua Ricklefs melukiskan situasi abad 17 sebagai era perebutan hegemoni antara VOC dengan para penguasa lokal Nusantara. Pertentangan tersebut berakhir dengan pembentukan negara kolonial disertai proses Pax Neerlandica di beberapa wilayah Nusantara. Di tengah zaman itu konsep Indonesia mulai mengemuka dan mewujud menjadi gerakan pembebasan nasional yang berhasil membangun negara-bangsa Indonesia di atas puing-puing reruntuhan negara kolonial yang porak-poranda akibat Perang Dunia Kedua. Kisah sukses buku karya Ricklefs itu juga dapat dilihat dari jumlah kali cetak sebanyak lebih dari sepuluh dan selalu dikutip oleh para sarjana yang mengkaji sejarah Indonesia. Buku ini juga menjadi rujukan wajib bagi mahasiswa jurusan sejarah selain karya sejarawan Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru, 1500–1900: Dari Emporium sampai Imperium , tidak terkecuali buat saya yang pernah jadi mahasiswa sejarah dan mengidolakan figur Ricklefs sebagai sejarawan produktif. Pada 20 September 2019 saya menerima Anton Lucas Fellowship dan diundang untuk meneliti arsip-arsip koleksi sejarawan Anton Lucas di perpustakaan Flinders University, Adelaide. Jauh hari sebelum berangkat, sebagaimana disebut Ricklefs di dalam emailnya di atas, saya berencana menjenguknya di Melbourne. Namun karena jadwal kerja yang padat selama di Adelaide dan keterbatasan waktu kunjungan, saya mengurungkan rencana mampir ke Melbourne. Pembatalan itu sempat saya kabarkan kepadanya dan Ricklefs bisa memahaminya. Namun saat mendengar kabar kematiannya dua hari lalu, mendadak saya sangat menyesal tak menyempatkan datang menemuinya. Selamat jalan Pak Ricklefs. Terima kasih atas karya-karya monumental yang telah disumbangkan kepada bangsa Indonesia. Berikut ini tulisan-tulisan M.C. Ricklefs: Asal Usul Kaum Abangan Jatuh Bangun Kaum Abangan Asal-usul Pangeran Samber Nyawa The Origin of Prince Samber Nyawa Sufi Perempuan Leluhur Wangsa Mataram Misteri Seorang Turki dalam Perang Saudara di Jawa

bottom of page