- 10 Feb 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 29 Des 2025
DIA masih bayi ketika ayahnya, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), ditahan sebagai tahanan politik (tapol) tanpa pengadilan oleh rezim Orde Baru. Bersama saudarinya dan ibunya, Siti Maemunah Thamrin, dia hidup dalam kesulitan sepanjang ayahnya ditahan.
Baru pada 1979, ketika usianya sekitar 14 tahun, ayahnya dibebaskan dari Pulau Buru nun jauh di Maluku. Namun, bebasnya sang ayah tak berarti masa remaja Yudistira Ananta Toer, satu-satunya anak lelaki Pram itu, bebas dari kesulitan. Sebagai anak mantan tapol, dirinya diperlakukan masyarakat bak “orang penyakitan” yang mesti dijauhi.
Yudistira kerap diganggu pemuda seusianya. Suatu kali, dirinya pulang ke rumah dalam keadaan terluka. Namun tak sedikit pun cerita bagaimana dia terluka keluar dari mulutnya hingga Pram menganggap luka itu karena kecelakaan biasa. Padahal, luka itu didapatnya dari tindak kejahatan. Menurutnya, sebuah kelompok mengintimidasinya dengan ancaman akan membuatnya cacat seumur hidup jika tak menuruti mereka.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















