Hasil pencarian
9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Masa Kecil Sesepuh Potlot
PADA pertengahan 1938, ketika kapal laut tak secepat sekarang, sebuah keluarga kecil harus naik kapal untuk bisa mencapai pulau lain demi mencari penghidupan ke tanah yang jauh dari tanah kelahiran mereka. Mereka harus ke Kalimantan bagian timur. “Dengan menumpang kapal Pahud dari KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) kami bertolak dari Tanjung Perak, membawa anak pertama Mamang yang baru berumur dua tahun,” aku Armistiani dalam Bukit Kenangan .
- Jenderal-Jenderal Belanda yang Kehilangan Nyawa di Aceh
ACEH tak ramah pada jenderal-jenderal Belanda. Selain beberapa yang terbunuh, ada pula jenderal Belanda yang terluka dalam Perang Aceh seperti Janderal Mayor Karel van der Heijden. Perang Aceh menjadi neraka bagi para serdadu Belanda. Di minggu-minggu pertama pendaratan pasukan Belanda berkekuatan 3000 prajurit saja, korban di pihak Belanda luar biasa besar. Dalam ekspedisi militer Belanda di Aceh yang dipimpin Jenderal Mayor Johan Herman Rudolf Köhler (1818-1873) itu, Jenderal Köhler sendiri tewas tertembak sniper Aceh di depan Masjid Raya Banda Aceh pada 14 April 1873.
- Tentara, Pengusaha, dan Pengurus Sepakbola
SETELAH Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, kekuatan Republik di daerah sekitar Baturaja berantakan. Komandan resimen Mayor Rasjad kemudian memerintahkan seorang Pembantu Letnan (dulu disebut Letnan Muda) mewakilinya dengan mandat penuh untuk bertindak demi pertahanan daerah Ogan Tengah. Pembantu Letnan yang baru berumur 20 tahun itu berangkat ke Ogan Tengah bersama Mayor dr. Moeghni dengan sebuah jip. Sepanjang jalan mereka melihat kampung-kampung di Baturaja sepi karena penduduk mengungsi. Para Republiken dan rakyat sipil panik di sana.
- Skandal Pernikahan Raden Saleh
PADA 25 Maret 1904, Constancia von Mansfeldt meninggal dunia di Kupang dalam usia 78 tahun. Istri pertama pelukis Raden Saleh ini seakan terselubung misteri. Dia tak pernah disebut dalam surat-surat Raden Saleh, dalam laporan-laporan kontemporer, dan berita-berita dari banyak kunjungan ke sanggarnya. “Gambar atau potretnya pun tidak ada,” tulis Werner Kraus dalam Raden Saleh dan Karyanya. Constancia merupakan keturunan Jerman yang lahir di Semarang pada 1826. Pada 3 Juli 1840, di usia 14 tahun dia menikah dengan pengusaha keturunan Jerman, Christoffel Nicolaas Winckelhaagen (1802-1850) di Semarang. Mereka dikaruniai lima orang anak. Setelah Christoffel meninggal dunia pada 1850, Constancia mendapatkan warisan yang sangat banyak, antara lain tanah luas di Gemoelak, sebelah timur Semarang, yang menghasilkan keuntungan melimpah. “Ketika Christoffel meninggal dunia pada 1850, jandanya yang masih muda mengambil alih kepemilikan perkebunan terbesar dan terkaya di Jawa, lebih dari delapan ribu hektar tanah pertanian dengan irigasi yang baik digarap oleh sekitar enam ribu orang, yang hampir seperti budak. Pertanian itu sumber kekayaan bagi pemiliknya,” tulis Jamie James dalam The Glamour of Strangeness: Artists and the Last Age of the Exotic . Werner Kraus menjelaskan lahan di Gemoelak itu sebuah particuliere landerijen yang terdiri dari lahan sawah basah. Namun, sebagian besar lahan itu ditanami tanaman produk ekspor seperti kopi, gula, dan nila. Pemilik lahan menguasai petani yang hidup di sana, produk pertanian, dan hanya membayar pajak yang sangat kecil kepada pemerintah. Hal ini membuat lahan itu menjadi “tambang emas.” Ketika dilelang dan jatuh ke tangan elite administrasi Belanda, luas Gemoelak mencapai 8.043,5 hektar dan dihuni oleh 6.098 jiwa di 29 desa. Raden Saleh dan istri keduanya, Raden Ayu Danoediredjo. (Repro Raden Saleh dan Karyanya ). “Dia perempuan pengusaha yang menonjol dan menanamkan modalnya di berbagai cabang ekonomi,” tulis Werner Kraus. Selain mewarisi lahan pertanian, Constancia juga mempekerjakan banyak perempuan dan lelaki di pabrik batiknya, memiliki toko kosmetik, dan toko pandai emas dengan lebih dari 30 pengrajin untuk membuat cincin, anting-anting, penjepit rambut, dan berbagai macam perhiasan lainnya. Tak lama menjanda, Constancia berkenalan dengan Raden Saleh di Semarang sekitar 1853/1854. Mereka menikah sekitar 1855/1856 dan tinggal di Kampung Gunung Sari, di utara kota, di sisi Sungai Ciliwung. Dengan kekayaan istrinya, Raden Saleh membangun sebuah rumah besar di Cikini (kini menjadi Rumah Sakit PGI Cikini) pada 1857/1858. Menurut Werner Kraus Raden Saleh ingin hidup sejajar dengan orang-orang Belanda. Secara budaya, dia memahami dirinya sebagai “orang Eropa” dan ingin dihormati sebagaimana mestinya. Dengan demikian, hubungannya dengan Constancia merupakan serangan secara sadar terhadap landasan rasialisme sistem kolonial. Sebuah hubungan antara seorang lelaki berkulit cokelat dan seorang perempuan berkulit putih merupakan sesuatu yang luar biasa. Masyarakat Batavia bereaksi terhadap keganjilan itu. Sanksinya mengisolasi secara total perempuan itu dari masyarakatnya karena telah melewati batas-batas perkawinan. “Hubungan Constancia dengan Raden Saleh merupakan sebuah skandal sosial yang juga membuat usaha manufakturnya merugi,” tulis Werner Kraus. “Karena itu tak mengherankan segera terjadi kerenggangan di antara keduanya dan diakhiri dengan perceraian.” Pasangan itu tak punya keturunan. Penyebabnya mungkin mengejutkan. “Saya berkesimpulan bahwa Raden Saleh, selama di Belanda atau di Dresden, terkena penyakit sifilis sehingga dia mandul,” tulis Werner Kraus. Pada 1867, Raden Saleh menikah lagi dengan Raden Ayu Danoediredjo dari keluarga Keraton Yogyakarta.*
- Perang Teluk Hitler
RASHID Ali al-Gaylani bisa sedikit bernafas lega. Ia dan rombongan pejabat Irak pro-diktator Jerman Nazi Adolf Hitler lolos dari lubang jarum setelah melintasi perbatasan Irak menuju Iran pada 30 Mei 1941. “Pada 30 Mei 1941, Rashid Ali al-Gailani, kepala stafnya Amin Zeki, Sharif Sharaf dan beberapa pejabat pemerintahannya memasuki Iran dan mereka mencapai (ibukota Iran, red) Tehran pada 2 Juni. Dalam rombongan itu juga termasuk Mufti Besar Yerusalem (Amin al-Husseini),” ungkap Mohammad Gholi Majd dalam August 1941: The Anglo-Russian Occupation of Iran and Change of Shahs.
- 73 Easting, Tarung Kolosal Tank di Perang Teluk
KESABARAN George H. W. Bush sudah hampir habis. Di Gedung Putih, pada 22 Februari 1991 presiden Amerika Serikat (AS) itu memberi ultimatum untuk menuntut Saddam Hussein agar menarik kombatan infantri dan tank-tanknya usai memicu Perang Teluk (2 Agustus 1990-28 Februari 1991). Ultimatum Presiden Bush berisi: dalam waktu 24 jam, Irak harus angkat kaki dari Kuwait. Jika tidak, Pasukan Koalisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan melancarkan serangan darat terhadap posisi-posisi Irak di Kuwait dan di wilayah Irak sendiri.
- Ranjau Siliwangi Usai Renville
BERITA yang dilansir oleh De Locomotief pada 22 Februari 1949 sempat membuat heboh. Harian berbahasa Belanda yang terbit di Batavia itu menyebutkan bahwa pada 1 Januari 1949, sejatinya kaum Republiken akan melakukan teror di seluruh Jawa Barat. Namun, karena dokumen-dokumen rencana tersebut kadung jatuh ke tangan militer Belanda lewat suatu operasi penyergapan di Gunung Dora Desa Parentas (perbatasan Garut-Tasikmalaya) pada 25-26 Oktober 1948, aksi serangan umum itu berhasil digagalkan. Panglima KNIL Jenderal S.H.Spoor sendiri diberitakan naik pitam. Dalam buku karya sejarawan militer J.A. de Moor, Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia , sang panglima menyatakan bahwa upaya-upaya teror yang dilakukan para pengikut Republik di wilayah Belanda adalah bukti bahwa TNI tidak pernah berusaha loyal terhadap suatu perjanjian damai.
- Berjudi di Atas Renville
PERTENGAHAN Juli 1947, mendadak Angkatan Bersenjata Kerajaan Belanda menggelar Operasi Produk. Faktor pendadakan itu secara militer berhasil menjadikan Belanda menguasai sebagian Sumatera dan kota-kota penting di Jawa Barat serta Jawa Timur. Meskipun demikian, secara politik, Belanda tidak mampu meyakinkan dunia. Bahkan, dengan aksi itu mereka justru dikecam dunia internasional karena dianggap sudah menghancurkan kesepakatan damai di Linggarjati pada 25 Maret 1947. Sementara itu, tujuan utama lain dari operasi militer itu yakni menghancurkan kekuatan TNI sama sekali tak terpenuhi. Alih-alih mencapai hasil maksimal, kekuatan TNI secara kilat mulai berhasil melakukan rekoordinasi kekuatan. Di beberapa tempat, serangan-serangan balik yang dilakukan TNI malah semakin intens. Seorang Komandan Batalyon militer Belanda bernama Letnan Kolonel J. Flink dari Divisi C mengakui situasi itu. Sebulan lebih setelah Operasi Produk, memang pasukannya bisa mempertahankan kondisi keamanan. Namun mulai 31 Agustus 1947 keadaan berubah.
- Alice Clement, Sherlock Holmes Wanita dari Amerika
SUATU hari di tahun 1910-an, sebuah laporan kematian diterima markas besar kepolisian Chicago, Amerika Serikat. Korbannya adalah Eileen Perry, seorang wanita muda yang dilaporkan tewas karena penyakit tifus. Dua orang petugas kepolisian segera bergerak menuju kediaman wanita malang itu. “Ini hanya kasus kematian biasa. Nona muda ini meninggal karena sakit tifus,’’ kata petugas kebersihan kepada Williams, salah seorang detektif, yang tiba di kediaman Nona Perry. “Gadis muda ini datang ke sini sekitar enam minggu yang lalu untuk mencari pekerjaan. Sayang ia belum berhasil mendapatkannya. Sekitar dua minggu yang lalu ia jatuh sakit. Kami telah melakukan segala yang kami bisa untuknya tetapi terkendala biaya dan kami tidak dapat menemukan keberadaan orang tuanya,” tambah petugas kebersihan itu.
- Satu Rumpun Bahasa
“KITA sekarang memang berbeda, tapi dulu kita satu,” kata Ery Soedewo, peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan, setelah menyampaikan makalahnya dalam Seminar Internasional Diaspora Austronesia di Nusa Dua, Bali, Juli 2016. Presentasinya memperlihatkan awal mula berpisahnya bahasa Gayo dan Karo menjadi dua bahasa yang berbeda dari sudut pandang arkeolinguistik. Bahasa Gayo dan Karo adalah sedikit dari bahasa di Indonesia yang berkembang dari rumpun bahasa Austronesia.
- Cerita di Balik Repatriasi Arca Brahma
ARCA-ARCA asal abad ke-14 yang hilang dari Kompleks Candi Singhasari berangsur-angsur mulai kembali. Terakhir, arca Brahma jadi bagian dari 288 benda bersejarah yang dipulangkan dari Belanda dalam agenda repatriasi tahun ini. Sebelumnya, ada arca Prajnaparamita yang sudah kembali ke tanah air pada 1970-an. Prajnaparamita ditemukan Asisten Residen Malang D. Monnereau pada 1818 dan diboyong ke Belanda pada 1819. Ada pula arca Durga, Mahakala, Ganesha, Nandiswara, Nandi, dan Bhairawa yang ditemukan pejabat kolonial Nicolaus Engelhard pada 1803, sebelum akhirnya diangkut ke Belanda kurun 1827-1828.
- Susunan Pemerintahan VOC
DIDIRIKAN pada 20 Mei 1602, VOC baru memiliki tempat permanen di Batavia pada 1619. VOC membangun pelabuhan, galangan kapal, gudang-gudang pusat perdagangan, serta pusat pemerintahan dan administrasi. Sejak itu, Batavia menjadi pemerintah pusat VOC di Asia, di mana terdapat gubernur jenderal dan anggota Raad van Indie (Dewan Hindia) yang dalam dokumen-dokumen biasanya disebut Hoge Regering (Pemerintah Agung).






















