Hasil pencarian
9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda
JENIS tarian Sunda bukan hanya tari topeng, tari wayang, tari rampak gendang, jaipong, apalagi tari ronggeng. Seni tari Jawa Barat bahkan sudah mengalami modernisasi kala republik belum lama berdiri. Raden Rusdi Somantri alias Tjejte dan Tubagus Oemay Martakusuma adalah dwitunggal yang jadi pionirnya. Tjetje berasal dari Purwakarta. Pria kelahiran tahun 1892 itu sudah mendalami seni tari Jawa Barat sejak mengenyam Pendidikan di Middelbare Opleiding School voor Indlansche Ambtenaren (MOSVIA) Bandung pada 1911. Sedangkan Oemay berasal dari Rangkasbitung. Ia pegawai Djawatan Kebudayaan Jawa Barat merangkap praktisi seni rupa setempat. Keduanya bersua pada 1935 di Badan Kesenian Indonesia (BKI) dan sejak saat itu keduanya senantiasa satu pemikiran dalam mengkreasikan tarian-tarian baru, terutama untuk kalangan putri. Di antaranya tari Anjasmara, tari Sekarputri, tari Sulintang, tari Ratu Graeni, tari Kandagan, tari Topeng Koncaran, dan tari Yuyu Kangkang di masa pra-kemerdekaan.
- Bom Siliwangi di Bumi Pasundan
SUATU hari di bulan Mei 1948. Senja mulai memasuki Curug Sawer yang dingin. Suara air terjun bergemuruh memerangi sunyi di kawasan yang termasuk wilayah Cianjur Selatan itu. Diapit tebing tinggi dan jurang menganga, iring-iringan konvoi militer Belanda merayap di jalan sempit. Beberapa serdadu bule di dalamnya nampak tegang, sebagian di antara mereka menghisap rokok untuk mengusir rasa takut. Senjata-senjata mereka siap ditembakkan. Begitu jip pengawal iring-iringan lewat, rentetan tembakan berhamburan dari atas tebing-tebing tinggi. Granat-granat melayang dibarengi teriakan nyaring yang membuat suasana semakin mencekam. Di balik sebuah pohon besar, Kopral BM. Permana menembakan Stengun-nya. Begitu juga dengan pimpinan pasukan, Letnan Djadja Djamhari tak henti-henti menembakan pistol seraya memberi komando. Tak terasa setengah jam pun berlalu. “Mereka akhirnya lari dengan meninggalkan sebuah truk yang berisi sekitar 10 prajurit KL yang langsung kami hantam tanpa ada yang tersisa,” kenang lelaki kelahiran Kebumen, 94 tahun lalu itu.
- Resep Ekonomi dan Moneter Hjalmar Schacht
HJALMAR Schacht pernah menjabat presiden bank sentral Reichsbank dan menteri ekonomi pada masa Kanselir Adolf Hitler. Dia dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Usai perang, dia menjadi konsultan ekonomi dan keuangan untuk negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Schacht tiba di Jakarta pada 3 Agustus 1951. Sumitro Djojohadikusumo, penasihat Menteri Keuangan Jusuf Wibisono, kendati membantahnya, punya andil dalam mendatangkan Schacht. Setelah tiga bulan mempelajari bahan-bahan yang didapatkan dari sejumlah kementerian, berdiskusi dengan banyak pihak, dan mengunjungi beberapa daerah, Schacht menyelesaikan laporannya pada 9 Oktober 1951. Berikut ini resep ekonomi dan moneter dari Schacht. Valuta Memenuhi kewajiban utang dengan memperhatikan neraca pembayaran luar negeri; dan jika ada kesulitan devisen hendaknya diadakan penangguhan. Untuk memelihara keseimbangan dalam neraca pembayaran, impor tidak boleh melebihi jumlah hasil dari ekspor (devisen). Untuk menjaga keseimbangan dalam neraca pembayaran, perlu adanya pengawasan devisen oleh suatu dewan menteri. Perlu suatu armada kecil yang terdiri dari kapal-kapal polisi cepat untuk memberantas penyelundupan. Ciptakan ketertiban dan keamanan guna menghindarkan pelarian modal. Tiap-tiap bank peredaran harus dimasukkan ke dalam politik negara seluruhnya. Keuangan Negara Memelihara keseimbangan antara pengeluaran dan penghasilan negara. Pembukuan di Kementerian Keuangan harus diperbaiki. Politik pajak terutama bersandar pada perdagangan dan industri di kota-kota besar, hasil bumi, dan perkebunan. Perdagangan dan Perusahaan Bank Pedagang eceran perlu menjalin kerjasama guna mengadakan pembelian bersama-sama. Pertahankan firma-firma dagang Jerman dan Belanda. Bank industri harus mengembangkan diri, teurtama memusatkan perhatian pada pemberian kredit koperasi. Sistem Benteng masih dapat diteruskan, dengan perbaikan. Perlu suntikan modal pemerintah untuk berdirinya bank negara yang memberikan kredit perdagangan. Hapus sistem lisensi impor dan sistem sertifikat devisa. Campur tangan pemerintah terhadap Javasche Bank, yang dinasionalisasi, sebagai bank peredaran. Javasche Bank melepaskan usaha komersialnya. Efisiensi dan efektivitas birokrasi perdagangan. Pengusaha bumiputra mesti mempelajari teknik-teknik modern. Dirikan kamar-kamar dagang. Dasar-dasar Ekonomi Pertanian: Tingkatkan penanaman padi untuk kebutuhan dalam negeri; perluas sistem koperasi dan kredit petani; penangguhan pelunasan utang dan pengurangan bunga untuk petani. Pertukangan/Perburuhan: Perluasan sekolah dan kursus-kursus vak (keterampilan); dirikan balai-balai pertukangan; undang-undang perburuhan yang baik. Industri: Dorong investasi asing untuk mengolah bahan-bahan mentah. Perimbangan Ekspor dan Impor: Bentuk suatu panitia perancang yang menetapkan prioritas impor dan meningkatkan ekspor. Transportasi/Pengangkutan: Buat jalan-jalan raya; perluas tempat bongkar muat peti kemas; jalin kerjasama dengan perusahaan pelayaran Belanda; bentuk armada dagang sendiri. Transmigrasi: Dorong masyarakat bertransmigrasi dari Jawa ke Sumtara, Kalimantan, dan Sulawesi. Urbanisasi: Buat kota-kota penyangga dengan perhubungan yang teratur dan pabrik-pabrik. Listrik: Tingkatkan produksi listrik; adakan tenaga listrik baru, misalnya tenaga air; gunakan bis sebagai pengganti trem; undang perusahaan listrik asing.* Berikut ini laporan khusus Hjalmar Schacht Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi Resep Basi Ekonom Nazi Saran dengan Muatan Modal Jerman Hjalmar Schacht Melawan Hitler
- Saran dengan Muatan Modal Jerman
PADA 3 November 1951, Hjalmar Schacht meninggalkan Jakarta setelah memberikan saran-saran mengenai ekonomi dan keuangan bagi pemerintah Indonesia. Di negeri asalnya, dia mencoba kembali menjalankan profesinya sebagai bankir. Sempat mendapat penolakan dari Senat, dia akhirnya membawa kasus ini ke pengadilan dan menang. Pada Januari 1953, dia mendirikan Bankhaus Schacht & Co. di Dusseldorf, Jerman. Tapi hubungan dengan Indonesia tak terputus. “Dalam tahun-tahun berikutnya menyusul kunjungannya ke Indonesia, Schacht dimintai pendapat mengenai hal-hal keuangan oleh pemerintah Indonesia,” tulis Horst H. Geerken dalam Hitler’s Asian Adventure. Geerken menyebut Schacht berupaya mendorong pengusaha-pengusaha Jerman untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya Carl Friedrich Wilhelm Borgward, pemilik pabrikan mobil Borgward di Bremen. Pada Juli 1954, Borgward mendirikan perusahaan patungan, PT Borgward-Udatin Indonesia. Produksi pertama mereka adalah Isabella, Isabella Estate, dan sebuah truk berbahan bakar bensin. Isabella bahkan diekspor ke Australia. Karena kesulitan keuangan, pada 1960-an Borgward diambil alih kreditur terbesar mereka, Senat Bremen, dan kemudian sebuah kelompok investasi.
- Dayo, Pusat Kerajaan Sunda Terakhir
KEBERADAAN Sunda Empire mulai meresahkan. Sejak kemunculannya di awal 2020, banyak pernyataan mereka yang dianggap oleh sejumlah pihak tidak selaras dengan realitas. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun angkat bicara soal kelompok yang menggegerkan publik dari daerahnya tersebut. Dilansir KompasTV, Kang Emil menyebut kalau masih ada saja orang-orang yang menjual romantisme sejarah demi eksistensinya. Ia juga merasa prihatin karena banyak yang mempercayainya. "Banyak orang stres ya di Republik ini, menciptakan ilusi-ilusi. Jangan percaya terhadap hal-hal yang tidak masuk ke dalam logika akal sehat," ucap Kang Emil. Para akademisi pun secara tegas membantah berbagai klaim petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana. Dalam program televisi Indonesia Lawyers Club, 20 Januari 2020, Sunda Empire semakin berani angkat bicara. Dengan percaya diri, mereka menyebut bahwa pusat pemerintahan dunia ada di Bandung. Bahkan organisasi dunia, seperti PBB dan NATO, lahir di Kota Kembang itu.
- Jala Polisi Susila
JIKA Aceh memiliki polisi syariah yang bertugas mengawasi pelaksanaan syariat Islam dan moral masyarakat, pemerintah kolonial Belanda punya polisi susila (zedenpolitie). Pemerintah Hindia Belanda menganggap mengadabkan dan mengontrol masyarakat, tidak terkecuali masalah moral, merupakan tanggung jawab pemerintah. Untuk itu, pemerintah Hindia Belanda mendirikan polisi susila untuk mengawasi kesusilaan umum dan menegakkan moral masyarakat. Tujuannya menjaga rust en orde (ketentraman dan ketertiban). Menurut Marieke Bloembergen, mengingat tugas kepolisian di bidang penjagaan kesusilaan umum serta sebagai ikhtiar mewujudkan kepolisian modern, di sejumlah kota dibentuklah unit-unit khusus polisi susila yang menjadi bagian dari reserse dan bertanggungjawab kepada kepala polisi kota (stadspolitie).
- Villa Isola, dari Vila Mewah hingga Sunda Empire
BELUM lama ini beredar video yang merekam kegiatan kelompok Sunda Empire di taman dekat Villa Isola, Bandung. Dalam tayangan Indonesia Lawyer Club, Rangga Sasana, salah seorang petinggi Sunda Empire mengklaim kalau Isola adalah tempat lahirnya Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ia sendiri mengaku menjabat sebagai The Heeren Zeventien atau Panitia 17 di kekaisaran itu. “Isola itu apa tadi? Itu salah, memang benar isola itu International Soldier Leader. Itu lahirnya NATO di sana. Itu artinya belum mengenal sejarah,” katanya membantah pernyataan Roy Suryo dalam acara yang sama. Sebelumnya, KRMT Roy Suryo sebagai kerabat Pakualaman dalam diskusi itu menjelaskan kalau Villa Isola dibangun pada 1933 oleh Willem Barretty. Bangunan ini dibangun untuk mengisolasi penggunanya.
- Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Pedoman Masyarakat Sunda
PENYEBARANAN agama Islam yang gencar pada abad ke-16 nyaris membuat Kerajaan Sunda yang Hindu tamat riwayatnya. Namun, di era pemerintahan Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja (1482-1521), pengaruh Islam di pusat Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran, berhasil dibendung. Selama kurang lebih 39 tahun masa pemerintahannya, Jayadewata mampu menjaga ajaran Hindu tetap hidup di Pajajaran. Bagaimana sang raja melakukannya? Dikisahkan Carita Parahyangan, dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid II karya Nugroho Notosusanto, dkk, Prabu Jayadewata membuat sebuah kitab pedoman hidup bernama Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK). Naskah berangka tahun 1440 Saka, atau 1518 Masehi ini bersifat ensiklopedis. Isinya memberikan gambaran tentang pedoman moral umum, dan bekal praktis untuk kehidupan bermasyarakat di Sunda Pajajaran.
- Hjalmar Schacht Sebelum Jack Ma
TAWARAN dari pemerintah Indonesia untuk menjadikannya sebagai penasehat e-Commerce Indonesia akhirnya diambil Jack Ma, orang terkaya di Tiongkok. Kesediaan Jack Ma dinyatakan usai pertemuannya dengan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution serta Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Beijing, Tiongkok. Pertemuan itu merupakan kelanjutan dari pertemuan tahun lalu. Tawaran dari pemerintah Indonesia dilakukan menyusul keluarnya Peraturan Presiden No. 74/2017 mengenai Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik Tahun 2017-2019 atau juga disebut SPNBE 2017-2019, yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi berbasis elektronik. Jack Ma adalah pendiri dan executive chairman Alibaba, raksasa e-commerce asal Tiongkok. Di Indonesia, Alibaba menanamkan dana besar di Lazada dan Tokopedia. Merekrut ahli asing untuk membantu memetakan jalan perekonomian nasional bukanlah hal baru. Pada 1950-an, pemerintah Indonesia meminta Hjalmar Schacht, ahli keuangan Jerman, untuk memberikan resep untuk memulihkan perekonomian Indonesia yang masih terpuruk usai pengakuan kedaulatan. Hjalmar Schacht pernah menjabat presiden Reichsbank dan menteri ekonomi pada masa Kanselir Adolf Hitler. Dia dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Usai perang, dia bergiat sebagai konsultan ekonomi dan keuangan untuk negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Schacht tiba di Jakarta pada 3 Agustus 1951. Setelah tiga bulan mempelajari bahan-bahan yang didapatkan dari sejumlah kementerian, berdiskusi dengan banyak pihak, dan mengunjungi beberapa daerah, Schacht menyelesaikan laporannya pada 9 Oktober 1951. Tak sampai di situ. Schacht membuat saran-saran praktis mengembangkan sumber daya alam. Saran itu dipakai dalam industri pertambangan melalui apa yang dikenal sebagai “production-sharing agreement” (PSA) atau kontrak bagi hasil produksi, formula khas Indonesia yang diadposi banyak negara. Schacht mendorong pengusaha-pengusaha Jerman untuk berinvestasi di Indonesia. Dia juga membantu Indonesia memenangkan kasus lelang tembakau di Bremen, Jerman, tahun 1959. Sumitro Djojohadikusumo, kendati membantahnya, punya andil dalam mendatangkan Hjalmar Schacht. Saat itu dia penasehat Menteri Keuangan Jusuf Wibisono. Sumitro pula, kali ini sebagai menteri keuangan, yang mendorong kedatangan ahli-ahli asing untuk membantu Biro Perantjang Negara (kini, Badan Perencana Pembangunan Nasional atau Bappenas). Yang terkemuka adalah Benjamin Howard Higgins, ahli keuangan Kanada. Selain Indonesia, Higgins menjadi penasihat ekonomi untuk pemerintah Kanada, Australia, Amerika Serikat, Libya, Malaysia, Filipina, Sri Lanka, Yunani, Brasil, dan lain-lain. Higgins tiba pada Juli 1952. Dia jadi penasehat kebijakan fiskal untuk membantu mempersiapkan pembentukan Biro Perantjang Negara tahun 1952 dan Rencana Pembangunan Lima Tahun pertama tahun 1956.* Berikut ini laporan khusus Hjalmar Schacht: Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi Resep Basi Ekonom Nazi Saran dengan Muatan Modal Jerman Hjalmar Schacht Melawan Hitler
- Kondisi Perbatasan Sunda dan Jawa
SUNDA adalah tanah para kesatria. Pun bagi para pelaut. Pelaut-pelaut Sunda begitu pemberani dan selalu siap berperang. Keduanya lebih terkenal dibandingkan kesatria dan pelaut Jawa. Demikian menurut penjelajah Portugis, Tome Pires dalam catatannya, Suma Oriental pada abad ke-16. Dia kerap membandingkan Sunda dengan Jawa. Menurutnya orang Sunda selalu bersaing dengan orang Jawa. Begitupun orang Jawa selalu ingin bersaing dengan mereka. Dalam keseharian, orang Jawa dan Sunda tidak banyak berteman. Namun tidak pula bermusuhan. Mereka mengurus urusan masing-masing. Mereka saling berdagang. Tetapi jika bertemu di lautan sebagai bajak laut, pihak yang lebih siap akan lebih dulu menyerang.
- Pemimpin Ideal ala Sunda
TERSEBUTLAH pada zaman dulu kala hidup seorang raja bernama Prebu Niskala Wastu Kancana. Dia telah memerintah selama 104 tahun. Pemerintahannya dinilai sangat baik. Saking baiknya dia disamakan dengan Sang Hyang Indra, raja para dewa. Karena kebajikan sang prabu, para rama yang memimpin desa-desa dapat dengan tentram mengurus bahan pangan. Para resi dapat pula tentram melaksanakan tugasnya sebagai pendeta. Kerajaannya aman sejahtera Kisah itu muncul dalam Carita Parahyangan. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Siliwangi, Sejarah, dan Budaya Sunda Kuna, tokoh raja atau prebu, rama, dan resi sering muncul di berbagai kitab Sunda Kuno. Mereka selalu disebutkan sebagai tiga orang pemimpin yang menjaga rakyat dari kekeliruan.





















