- 8 Agu 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 Jun
PADA 3 November 1951, Hjalmar Schacht meninggalkan Jakarta setelah memberikan saran-saran mengenai ekonomi dan keuangan bagi pemerintah Indonesia. Di negeri asalnya, dia mencoba kembali menjalankan profesinya sebagai bankir. Sempat mendapat penolakan dari Senat, dia akhirnya membawa kasus ini ke pengadilan dan menang. Pada Januari 1953, dia mendirikan Bankhaus Schacht & Co. di Dusseldorf, Jerman. Tapi hubungan dengan Indonesia tak terputus.
“Dalam tahun-tahun berikutnya menyusul kunjungannya ke Indonesia, Schacht dimintai pendapat mengenai hal-hal keuangan oleh pemerintah Indonesia,” tulis Horst H. Geerken dalam Hitler’s Asian Adventure.
Geerken menyebut Schacht berupaya mendorong pengusaha-pengusaha Jerman untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya Carl Friedrich Wilhelm Borgward, pemilik pabrikan mobil Borgward di Bremen. Pada Juli 1954, Borgward mendirikan perusahaan patungan, PT Borgward-Udatin Indonesia. Produksi pertama mereka adalah Isabella, Isabella Estate, dan sebuah truk berbahan bakar bensin. Isabella bahkan diekspor ke Australia. Karena kesulitan keuangan, pada 1960-an Borgward diambil alih kreditur terbesar mereka, Senat Bremen, dan kemudian sebuah kelompok investasi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















