top of page

Hasil pencarian

9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Membaca Ulang Sejarah Parlemen Indonesia

    Parlemen Indonesia menjadi salah satu topik yang jarang diulas dalam sejarah Indonesia. Sejak awal, narasi sejarah lebih menonjolkan bagaimana perang menjadi strategi dalam merebut kemerdekaan. Padahal, diplomasi juga turut andil dalam pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mengambil peran di dalamnya. Untuk kembali melihat bagaimana sejarah KNIP menjadi pondasi Parlemen Indonesia, Museum DPR RI bersama Historia.id  menggelar Pameran Daring bertajuk “Komite Nasional Indonesia Pusat: Mukadimah Parlemen Indonesia” yang dibuka pada Senin, 18 Oktober 2021. KNIP dibentuk pada 29 Agustus 1945 dengan beranggotakan 137 orang. Lembaga yang diketuai Kasman Singodimedjo awalnya befungsi sebagai pembantu atau penasihat presiden. Melalui Maklumat Wakil Presiden nomor X, KNIP diserahi tugas-tugas legislatif serta turut menetapkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebelum DPR dan MPR dibentuk. Baca juga:  Riwayat Nama Ruang dan Gedung Parlemen Sejarawan Anhar Gonggong dalam gelar wicara pembukaan pameran ini di saluran Youtube Historia.id menyebut bahwa KNIP menjadi vital karena lembaga ini merupakan perwujudan cita-cita para pendiri bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka. “Mulai generasinya Tjokroaminoto, kemudian generasinya Sukarno, Hatta, Sjahrir dan seterusnya. Ada satu hal yang menarik dari mereka. Mereka sudah berkomitmen, bahwa kelak kita merdeka, maka negeri ini, Republik yang akan kita tegakkan akan diatur pemerintahannya secara demokratis,” terangnya. Anhar menjelaskan, bahwa Sukarno misalnya, telah menuliskan pikirannya perihal demokrasi pada 1933. Sukarno juga mewanti-wanti agar Indonesia kelak tidak jatuh pada sistem demokrasi liberal yang hanya mementingkan demokrasi politik dan mengesampingkan demokrasi ekonomi. Sukarno bahkan menyinggung hal ini lagi dalam pidatonya pada 1 Juni 1945. Menurut Anhar, dari tulisan dan pidato Sukarno itu dapat dilihat bahwa Sukarno menganggap bahwa demokrasi menjadi tidak penting jika tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. “Jadi dalam pikiran Sukarno yang namanya demokrasi itu harus memberikan kesejahteraan. Nah, sebenarnya kalau kita lihat, perjalanan dari KNIP yang sedemikian itu dasar-dasar pemikirannya selalu bersumber daripada bagaimana meletakkan peranan rakyat,” jelas Anhar. Baca juga:  Volksraad, DPR ala Hindia Belanda Sejak dibentuk, KNIP telah mengeluarkan keputusan-keputusna penting seperti mengubah sistem presidensial menjadi parlementer yang kemudian menjadikan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri pertama, terlibat dalam pembahasan Perjanjian Linggarjati dengan presiden dan wakil presiden, hingga meratifikasi hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Meski perannya penting dalam satu episode sejarah Indonesia, KNIP ternyata terpinggirkan dalam historiografi sejarah Indonesia. Sejarawan dan dosen sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, Rhoma Dwi Aria Yuliantri menyebut bahwa sejarah KNIP tak banyak disinggung dalam buku sejarah di sekolah. Rhoma melacak bagaimana buku sejarah di sekolah sejak Orde Lama hanya memberi sedikit porsi kepada KNIP. Bahkan pada buku Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) tahun 1992, Rhoma tak menemukan narasi mengenai KNIP. Buku sejarah era Orde Baru itu dipenuhi oleh narasi yang militeristik. Baca juga:  Serangan Terhadap Anggota Parlemen KNIP setidaknya baru dibahas cukup lengkap dalam buku sejarah Kurikulum 2013. Meski demikian, narasinya masih perlu dikritisi. Kurikulum yang harusnya kontekstual itu tak menyinggung mengenai KNIP Daerah dan masih timpang gender. “Dari tahun ‘52, ‘94, 2004, 2006, dan Kurikulum K13 ini tidak ada tokoh perempuan KNIP atau KNI yang dimasukan dalam buku sejarah,” tutur Rhoma. Padahal, ada beberapa tokoh perempuan penting dalam KNIP seperti Soesilowati, Maria Ullfah yang turut dalam sidang-sidang KNIP, Rasuna Said (KNIP Sumatra Barat), Suwarni Pringgodigdo, hingga Mudigdo. . Baca juga:  Maria Ullfah, Advokat Kaum Perempuan Pameran daring “Komite Nasional Indonesia Pusat: Mukadimah Parlemen Indonesia” berusaha menampilkan kembali KNIP sebagai satu bab penting dalam sejarah Indonesia, khususnya Parlemen Indonesia. Memperkenalkan kembali tokoh-tokoh KNIP, memorabilia bersejarah terkait KNIP, keputusan-keputusan KNIP, hingga kronik bagaimana rangkain peristiwa bersejarah KNIP. Informasi menganai pameran dapat dipantau melalui media sosial Facebook , Twitter , Instagram , dan Youtube Museum DPR RI @museumdpr .

  • Duka Kuba di Laut Karibia

    Perasaan senang menghinggapi para gadis anggota timnas anggar Kuba. Mereka baru saja menjuarai mayoritas nomor yang dikompetisikan dalam Kompetisi Anggar Regional Amerika Tengah-Karibia 1976 di  Caracas, Venezuela. Saking senangnya, mereka tetap mengenakan medali emas mereka ketika pesawat DC-8 Cubana de Aviacions nomor penerbangan 455 yang mereka tumpangi singgah di Bandara Seawell (kini Grantley Adams International Airport) di Bridgetown, Barbados pada 6 Oktober 1976. Mereka tak sabar ingin segera sampai di rumah dan berbagi kesenangan dengan sanak-famili. Hanya keceriaan yang terpampang di wajah mereka. Kesedihan apalagi ketakutan tak punya tempat di benak mereka. Padahal, beberapa waktu sebelum pesawat mereka mengudara dari Caracas, di sana Luis Posada Carriles telah menunggu hasil dari rencana pentingnya yang ditujukan pada Cubana 455. Posada merupakan eksil Kuba penentang pemerintahan Fidel Castro yang paling gigih mengupayakan pembunuhan Castro dan para pendukungnya. Dia "adik kelas" Castro di Universitas Havana, tempat Posada kuliah di Jurusan Kimia. Setelah Castro naik ke puncak kekuasaan, Posada bergabung dengan kelompok oposisi. Dia kemudian dipenjara namun berhasil melarikan diri ke Meksiko sebelum ke Miami, Amerika Serikat (AS) pada 1961. Setelah di Miami, Posada dididik dinas intelijen AS CIA. Dia terlibat dalam Invasi Teluk Babi yang hampir membawa umat manusia ke dalam perang nuklir. “Di mana 1.500 orang eksil anti-Castro yang dilatih CIA menyerbu Kuba. Lebih dari seratus orang terbunuh; sisanya ditawan dan kemudian ditebus dengan $53 juta dalam bentuk bantuan medis dan makanan,” tulis tulis Ann Louise Bardach dalam Cuba Confidential: Love and Vengeance in Miami and Havana . Baca juga:  CIA Incar Jenggot Castro Posada selamat dalam invasi itu. Dia kemudian masuk angkatan darat AS dan menjalani pendidikan di Fort Benning. “Dua tahun setelah invasi Teluk Babi berakhir dengan kegagalan memalukan di pantai-pantai Kuba, dua pemuda Kuba di pengasingan berdiri berdampingan di bawah sinar matahari musim semi di Fort Benning, Georgia, berlatih untuk pawai berikutnya di Havana. Saat itu tahun 1963, saat Amerika demam merencanakan melawan kekuasaan Fidel Castro. Kedua pria itu selamat dari operasi Teluk Babi yang ceroboh. Kedua orang itu, Jorge Mas Canosa dan Luis Posada Carriles, telah mendaftar di Angkatan Darat Amerika Serikat, yakin bahwa Presiden Kennedy akan melancarkan serangan lain untuk menghalau komunisme dari belahan bumi. Mereka bersumpah bahwa kali ini mereka akan berhasil,” sambung Ann Louise. Dalam perencanaan di Caracas tadi, Posada “berkongsi” dengan Orlando Bosch, yang juga eksil penentang gigih Castro. Bosch dan Castro sebaya dan sama-sama kuliah di Universitas Havana meski beda jurusan. Keduanya berada dalam satu barisan sebagai penentang rezim Fulgencio Batista. “Bosch menjadi pemimpin mahasiswa, dan menjadi oposisi terbuka terhadap kediktatoran Batista. Dia bergabung dengan pasukan pemberontak pada 1958, bertempur dengan orang-orang Che Guevara di provinsi tengah Las Villas,” tulis Nick Caistor dalam Fidel Castro . Namun setelah Batista tumbang dan Castro naik, Bosch berpisah jalan. Bosch memimpin pemberontakan terhadap pemerintahan baru Castro. Setelah pemberontakan yang dipimpinnya dipatahkan, Bosch menyingkir ke Miami pada Juli 1960. Sambil menjadi dokter anak di sana, Bosch membentuk organisasi untuk meneror pemerintahan Castro bernama Cuban Power. Baca juga:  Pesawat Mata-Mata Amerika Ditembak Jatuh di Kuba Pembunuhan dan pengeboman berulangkali dilancarkan Cuban Power baik di AS maupun Kuba. Namun, sebuah upayanya meledakkan kapal Polandia yang menuju Kuba pada 1968 membawa Bosch ke dalam “hotel prodeo”. Alih-alih kapok, Bosch makin "gila" setelah bebas. Saking banyaknya teror yang dilakukannya, pemerintah AS memutuskan untuk menangkapnya. Namun Bosch berhasil melarikan diri ke Venezuela sebelum ditangkap. Di Venezuela, Bosch bekerjasama dengan Posada. Bersama beberapa tokoh eksil lain, keduanya mendirikan Commandos of the United Revolutionary Organizations (CORU) di Republik Dominika pada Juni 1976. CORU merupakan organisasi wadah yang menyatukan kelompok-kelompok anti-Castro ekstrim di luar Kuba. Pendonor utama CORU adalah taipan Pepin Bosch kendati disinyalir tetap ada "rembesan" dana CIA. “Pusat utama terorisme pengasingan yang didukung AS adalah Yayasan Kuba-Amerika (CAF), yang merupakan saluran untuk mendanai aksi teroris yang ditujukan terhadap Kuba,”tulis buku yang dieditori Salim Lamrani, Superpower Principles: US Terrorism Against Cuba . “Orang-orang Kuba yang diasingkan di Amerika Serikat, secara kolektif, mungkin merupakan kelompok teroris paling tahan lama dan paling produktif di dunia.” Dalam rapat pendirian CORU itu pula disusun teror apa saja yang akan dijalankan CORU untuk setahun ke depan. Yang terpenting, CORU merencanakan lebih dari 50 pengeboman terhadap kepentingan Kuba dan negara-negara yang bekerjasama dengannya. Kapal maupun pesawat sipil termasuk ke dalam target yang akan diserang. “Semua pesawat Castro adalah pesawat tempur,” kata Bosch, dikutip Caistor. Oleh karena itulah CORU berkepentingan mendapatkan jadwal penerbangan maskapai penerbangan milik Kuba. Berbekal jadwal itu, CORU melancarkan pengeboman-pengeboman terhadap pesawat sipil Kuba. Pada 9 Juli 1976, bom teroris CORU berhasil meledak di pesawat DC-8 Cubana de Aviacion yang –disewa dari Air Canada; Cubana de Aviacion menyewa tiga pesawat DC-8 saat itu– berada di Kingston, Jamaika. Namun, sasaran CORU yang jauh lebih penting adalah Cubana de Aviacion dengan nomor penerbangan 455. Sebab, pesawat itu mengangkut tim anggar Kuba yang berlaga di kejuaraan anggar regional di Caracas. Berdasarkan jadwal, pesawat bernomor registrasi CU-T1201 itu akan bertolak dari Caracas ke Havana melewati Port Spain (Trinidad and Tobago), Bridgetown (Barbados) dan Kingston (Jamaika). Sesuai manifes penerbangannya, Cubana 455 mengangkut 73 orang yang –terdiri dari 25 kru dan 48 penumpang, termasuk 24 orang anggota tim anggar Kuba beserta pelatih dan pejabat olahraga negeri itu– berkewarganegaraan Kuba, Korea Utara, dan Guyana. Baca juga:  Saat Pesawat Sipil Dihantam Misil Melalui Freddy Lugo dan Hernan Lozano, dua pekerja di perusahaan keamanan milik Posada, CORU berhasil menempatkan dua bom di Cubana de Aviacion 455 –satu di toilet belakang, satu lagi di bagian tengah kabin penumpang– ketika pesawat itu transit di Seawell Airport, Bridgetown. Lugo dan Luzano berhasil naik ke Cubana 455 dari Trinidad and Tobago dan turun ketika pesawat itu transit di Seawell. Sebelas menit setelah Cubana 455 lepas landas dari Seawell, bom pertama meledak hingga menghancurkan kabel pengendali pesawat. Pilot Kapten Wilfredo Perez segera mengontak petugas Air Traffic Control. “Seawell, CU-455, kami meminta pendaratan segera. Kami mengalami keadaan darurat total!” kata Wilfredo sebagaimana dikutip Ann Louise. Namun belum lagi pendaratan darurat itu terwujud, bom kedua meledak. Kabin penumpang bagian tengah pun bolong. Kondisi itu membuat Kapten Wilfredo yakin pesawatnya tidak mungkin lagi menjalani pendaratan darurat. Dia pun mengarahkan pesawatnya menjauh dari pantai menuju Laut Karibia guna menghindari para turis jadi korban. Tak lama kemudian Cubana 455 menghujam laut di jarak delapan kilometer dari Seawell Airport. Seluruh penumpang, termasuk para gadis-atlet anggar yang ingin merayakan kemenangan mereka bersama keluarga, tewas dalam teror pesawat udara sipil petama di dunia itu. “CIA menciptakan dan melepaskan Frankenstein,” kata Peter Kornbluh, kepala proyek independen Arsip Keamanan Nasional Kuba yang bertahun-tahun berupaya membongkar dokumen terkait Posada, mengomentari Posada, sebagaimana dikutip Gisela Salomon dalam artikelnya yang dimuat apnews . com , 24 Mei 2018.

  • Angkringan Punya Cerita

    LANGIT mulai senja. Di sebuah gang yang diapit jajaran bangunan ruko kusam di Jakarta, Dedi (diperankan Dwi Sasono) mendorong gerobaknya sampai ke sebuah kedai tempatnya akan membuka angkringannya. Setelah menyiapkan bangku, meja, dan gerobak angkringan yang jadi “dapurnya” di dalam kedai, ia pun menyibak kain spanduk bertuliskan “Angkringan Arumdalu”. Ia siap menerima pelanggan. Tetapi kala malam tiba, angkringannya masih sepi pembeli. Baru kemudian seorang ibu yang celingukan di ambang pintu muncul. Dedi menyambutnya dan berkenalan. Ibu Ratih (Dayu Wijanto), begitu ia menyebut namanya, minta dibuatkan kopi hitam dengan gula. Ratih jadi teringat mendiang suaminya. Itu jadi kopi pertamanya setelah suaminya meninggal. Dari berkisah basa-basi, Ratih pun tak kuasa mengeluarkan unek-uneknya. Baca juga: Kopi Jawa Bikin Kecanduan Orang Eropa Ratih, pelanggan pertama di angkringan yang mengaku lelah berbohong bahwa hidupnya bahagia (Lifelike Pictures) Begitulah adegan pembuka episode pertama Angkringan the Series garapan sutradara Adriyanto Dewo. Rangkaian skrip yang disajikan lewat enam episode ini berpusar di warung angkringan milik Dedi dengan beraneka drama menyentuh dari pergelutan hidup masyarakat menengah ke bawah. Drama kehidupan yang dialami Ratih, misalnya. Ia berkisah bahwa ia selalu menyajikan kopi hitam manis kepada suaminya yang lalu dinikmati dengan bahagia. Tetapi pada satu titik ia trauma karena ternyata selama ini tak pernah bahagia. Selain sering mengalami KDRT, Ratih juga hidup terbelenggu dan selalu jadi perempuan yang siaga di rumah tanpa punya kebebasan sedikitpun. Baca juga: Potret Perempuan Penyintas 1965 dalam You and I Dedi jadi pendengar yang baik, baik pada Ratih maupun pada pelanggan bernama Tono (Teuku Rifnu Wikana). Tono seorang sopir truk yang diceraikan istri dan dilarang bertemu anaknya gegara kecanduan judi bola. Namun, Dedi tak melulu jadi penjamu yang lemah lembut. Ada kalanya ia emosi bahkan sampai menggebrak meja. Terutama ketika datang sejoli remaja SMA, Amanda (Arawinda Kirana) dan Kevin (Dito Darmawan), yang bertengkar dan bikin gaduh sampai membuat pelanggan-pelanggan lain pergi. Emosi Dedi baru mereda setelah “dicurhati” bahwa Amanda hamil dan berniat aborsi. Kolase para pelanggan angkringan dengan aneka pergulatan hidup (Lifelike Pictures) Dedi juga bisa terenyuh mendengar kepahitan hidup Budi (Morgan Oey) sebagai waria. Budi yang selalu mengalami perlakuan diskriminatif ingin melepas putrinya, Alya (Alleyra Fakhira), ke kampung halaman agar tak lagi jadi korban perundungan teman-temannya. Pun ketika kedatangan gadis misterius (Aurora Ribero) yang baru pulang dari sebuah kontes menyanyi. Dedi tersentuh dengan cerita gadis itu yang ingin bisa terkenal demi mengurangi beban ibunya sebagai orangtua tunggal. Unek-unek maupun curhatan para pelanggan Dedi bukan tanpa arti. Semua kisah itu berkelindan dengan apa yang dirasakan Dedi dan selama ini terpendam di lubuk hatinya. Cerita mereka semua membangkitkan kenangan pahit dan pelajaran kehidupan bagi Dedi yang ditinggal pergi istrinya, Mirna (Kenes Andari), dan putri kecilnya, Ratu (Ersya Nabila). Sudah 12 tahun Dedi kehilangan keduanya dan sejak saat itu setiap malam Dedi tak pernah absen “celingukan” ketika mendengar bus berhenti dan menurunkan penumpangnya di depan warung angkringannya. Ia merasa punya salah kepada anak dan istri sampai mereka meninggalkan Dedi. Bagaimana Dedi menebus dosanya? Saksikan sendiri kelanjutan Angkringan the Series yang ditayangkan secara eksklusif di platform daring Mola TV. Kenyang Drama tanpa Selera Tembok-tembok kusam berpadu furnitur dan peralatan-peralatan lawas membuat kedai angkringan milik tokoh Dedi begitu terasa atmosfer klasiknya. Radio kecil yang tergantung di gerobak angkringannya turut memanjakan telinga penonton dengan tembang-tembang dangdut dan keroncong lawas. Hanya saja, aspek estetisnya “dicederai” tone film yang terbilang monoton. Temaram dari pencahayaan di dalam ruangan kedai dan waktu yang nyaris selalu di malam hari mendominasi. Angkringan the Series juga terlalu berpegangan pada kekuatan drama masing-masing tokoh pelanggan. Pentonton melulu disuguhi pergulatan hidup tanpa disajikan sedikitpun insight atau wawasan tentang angkringan itu sendiri. Memang tema kuliner bukan jadi fokusnya, kendati meminjam tajuk “angkringan”. Namun hal itu justru membuat beragam makanan dan minuman yang disajikan sekadar pelengkap tiada arti. Cara meracik hidangan Dedi saat menghidangkan kopi joss, sekoteng, internet (mie instan dengan telur dan kornet), hingga nasi goreng pun seperti ditampilkan apa adanya. Padahal setiap sajian lazimnya punya arti, sejarah, atau falsafah tersendiri. Sebagaimana yang disuguhkan film drama bertema kuliner lain, Tabula Rasa (2014), misalnya, yang juga digarap rumah produksi dan sutradara yang sama. Selain sarat drama, Tabula Rasa mengguggah selera dan juga membuka cakrawala pengetahuan penonton bahwa setiap hidangan yang disajikan di sebuah rumah makan Padang selalu mengandung makna tersendiri. Baca juga: Tabula Rasa yang Menggugah Selera Set Angkringan the Series  yang didominasi tone temaram (Lifelike Pictures) Angkringan dari Klaten, Kopi Joss dari Yogya Dalam film ini, angkringan yang ditampilkan tidak seperti angkringan pada umumnya yang kondang di Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, atau di Jabodetabek. Ia berupa warung di sebuah bangunan dengan gerobak di dalam ruangan sebagai satu-satunya penanda ia adalah angkringan. Sajian-sajiannya juga cenderung seperti warung kopi modern. Selain ada kopi joss, Dedi sang tokoh juga menjual sekoteng dan nasi goreng. Kedua menu itu tak umum didapati di angkringan. “Sego kucing” atau nasi kucing yang menjadi ciri khas angkringan justru sama sekali tak ditampilkan. Padahal, menilik sejarahnya, angkringan bermula dari pikulan, bukan gerobak. Diyakini dua inisiator “Desa Cikal Bakal Angkringan”, Suwarna dan Gunadi, di laman resmi pemprov Jawa Tengah 27 Februari 2020, angkringan dimulai dari penjual makanan asal Desa Ngerangan, Klaten yang menjajakan dagangannya menggunakan pikulan pada zaman pendudukan Jepang. Saat itu belum disebut “angkringan”, melainkan “hik” karena dijajakan dengan meneriakkan “hiyek”. Karena itulah pada Februari 2020 Desa Ngerangan ditetapkan sebagai desa cikal-bakal angkringan. “Sejarah angkringan memang bermula dari upaya menaklukkan kemiskinan usaha, konon dimulai di Klaten. Awalnya pedagang minuman dan makanan kecil menggunakan pikulan. Dahulu mereka disebut pedagang hik. Nama hik bermula pada tradisi malam selikuran di Keraton Surakarta,” tulis Noor Fajar Asa dalam Serpihan yang Menerangi. Baca juga: Bisnis Ikan Berkumis Angkringan yang masih mempertahankan pikulan ( visitingjogja.com ) Para pedagang hik menjajakan makanan khas “wong cilik”. Di antaranya terikan, jadah atau ketan bakar, singkong, kacang, getuk, dan aneka sate. Nasi kucing –disebut demikian karena porsi nasinya yang sedikit seperti untuk makan kucing–dengan lauk ikan asin atau oseng tempe baru mulai menggeser “kedudukan” terikan kala para pedagang itu mulai merambah Yogyakarta. Di Yogyakartalah sebutan angkringan muncul pada 1950-an dan alat menjajakan dagangan mengalami perubahan dari pikulan menjadi gerobak. Lazimnya, gerobak-gerobak angkringan berada di pinggir jalan ramai. Untuk mengundang lebih banyak pembeli, biasanya pedagang angkringan juga menggelar tikar atau terpal di trotoar agar pelanggannya bisa lebih santai dengan duduk lesehan. Baca juga: Satu Nusa Soto Bangsa Lama-kelamaan, hal-hal khas angkringan itu membuka ruang bagi para pembelinya untuk tidak sekadar mendapat makanan atau minuman murah sambil melepas penat, tapi juga tempat bercengkerama dan mengeluarkan unek-unek seperti halnya warung kopi (warkop). Bukan lagi hanya obrolan “ ngalor-ngidul ” tanpa juntrungan yang jadi bahan obrolan para pelanggan, olahraga sampai politik pun kemudian ikut diobrolkan. Terlebih di angkringan-angkringan yang berlokasi dekat kampus. “Karena istilah angkringan dari bahasa Jawa, ngangkring , artinya hinggap untuk sementara. Dahulu angkringan jadi tempat mengisi waktu, bukan untuk makan yang sebenarnya. Yang datang berkunjung adalah para pekerja yang bekerja malam pulang pagi atau pedagang pasar yang selesai berdagang di pagi hari. Angkringan juga menjadi tempat para seniman mencari ilham, juga karena suasananya yang romantis jadi pilihan bagi mereka yang berkencan,” ungkap Murdijati Gardjito, dkk dalam Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa. Angkringan mulai populer di Jogja ( pariwisata.jogjakota.go.id ) Baru pada era 1990-an ketika Yogya makin ramai sebagai destinasi wisata, angkringan merambah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan Jakarta. Di angkr i ngan pula kopi joss bermula, yakni di Angkringan Lik Man yang terletak di sisi utara Stasiun Tugu. Berbeda dari angkringan lain, Angkringan Lik Man mempertahankan tradisi berjualan dengan pikulan walau letaknya ada di dalam tenda dan turut menggelar lapak. Ciri khas itu dipertahankan Lik Man sang pemilik yang memang berasal dari Klaten. “Mahasiswa, wartawan, seniman, sampai preman dan waria sudah sangat akrab dengan angkringan yang berdiri sejak 1968 itu. Awalnya berjualan di selatan Stasiun Tugu tapi kemudian pindah ke utara stasiun. Angkringannya menempel tembok pagar pembatas area Stasiun Tugu di Trotoar Jalan Wongsodirjan,” tulis Syafaruddin Murbawono dalam Monggo Mampir: Mengudap Rasa Secara Jogja.  “Kopi Joss” merupakan istilah yang digunakan untuk menamakan minuman kopi hitam yang dicampur arang yang masih membara hingga menimbulkan suara “jossss”. Kopi “buatan” Lik Man itu kemudian ditiru angkringan-angkringan lain di luar Yogya. “Kopi joss berasal dari kopi curah yang masih kasar. Kopi yang sudah dibuat itu lalu dicemplungi potongan arang membara yang dipungut dari tungku. Ada juga teh ‘nasgithel’ (panas, legi , kenthel ). Dua gagrak minuman ini bisa membikin tubuh seger sumyah . Kesegaran dan kehangatan yang timbul berkat menyesap kopi (joss) dan thel (nasgithel),” tandas Syafaruddin. Baca juga: Menusuk Sejarah Sate Kopi Joss yang bermula dari Angkringan Lik Man ( visitingjogja.com/@briandsumito ) Deskripsi Film: Judul: Angkringan the Series | Sutradara: Adriyanto Dewo | Produser: Sheila Timothy | Pemain: Dwi Sasono, Dayu Wijanto, Teuku Rifnu Wikana, Arawinda Kirana, Dito Darmawan, Morgan Oey, Alleyra Fakhira, Aurora Ribero, Kenes Andari, Zack Lee, Ersya Nabila | Produksi: Lifelike Pictures | Genre: Drama | Durasi: 17-25 menit/6 episode | Rilis: 21 April 2021 (Mola TV)

  • Gold dan Kisah Penipuan Tambang Emas di Kalimantan

    WAKTU sudah menunjuk pukul 11 malam. Walau sudah larut, sebuah bar di Reno, Nevada masih ramai di suatu hari di tahun 1988 itu. Kenneth ‘Kenny’ Wells (diperankan Matthew McConaughey) dan rekan-rekannya masih sibuk dengan komputer dan telepon mereka untuk mengontak banyak investor. Bar itu adalah bar milik Kay (Bryce Dallas Howard), kekasih Wells. Wells berada di jurang kebangkrutan dan tertatih-tatih mempertahankan Washoe Mining Corporation, perusahaan keluarganya, usai kematian ayahnya. Wells melihat secercah cahaya di ujung terowongan, terutama setelah ia mendapat mimpi dalam tidurnya. Ia bermimpi tentang Indonesia dan hutan tropis Kalimantannya. Ia bermimpi mendapatkan perak, tembaga, bahkan emas. Mimpi itu kemudian membuatnya menggadaikan perhiasan sang kekasih untuk bisa berangkat ke Jakarta menemui geolog Michael Acosta ( Édgar Ramírez). Baca juga: Percy Melawan Perusahaan Raksasa Kenny Wells saat terpaksa berkantor di bar milik pacarnya (Black Bear Pictures) Mimpi itu jadi pembuka petualangan Wells dalam film bertajuk Gold. Film drama kriminal besutan sutradara Stephen Gaghan ini terinspirasi dari kisah nyata seorang pebisnis dan pencari emas yang rela bertualang jauh-jauh dari Amerika ke Indonesia. Gaghan menggarap Gold dengan alur maju-mundur. Di hadapan agen khusus FBI Paul Jennings (Toby Kebbell), Wells menceritakan awal mula bagaimana ia menemukan tambang emas dekat habitat suku Dayak Kensana. Bermodalkan teori cincin api Acosta, ia yakin ada kandungan emas di bawah tanah sana. Baca juga: Petualangan Gereget Pria Berusia 100 Tahun Acosta dikenal para investor dan pebisnis tambang lewat teorinya itu karena menemukan tambang tembaga di Sulawesi Utara. “Ada Lempeng Nazca, Lempeng Pasifik, Juan de Fuca, Amerika Utara, Amerika Selatan, Aleut, Mariana, Tonga. Lempeng-lempeng itu bergesekan satu sama lain dengan tekanan enam triliun kilobit. Dari situ saya menemukan tembaga dan karena itulah saya akan menemukan emas,” ujar Acosta sesumbar. Wells mempercayainya. Setelah masuk ke hutan untuk melihat spot-spot yang diyakini Acosta, Wells mengajak Acosta bekerjasama dengan tanda tangan kontrak di atas kertas tisu . Wells lalu kembali ke Amerika dan pontang-panting mencari investor. Dia akhirnya mendapat modal awal 267.434 dolar untuk operasional mengongkosi buruh dari masyarakat Dayak hingga membeli mesin coring untuk mendapatkan sampel dari lapisan-lapisan bumi. Upaya Wells dan Acosta mencari emas di Kalimantan (Black Bear Pictures) Wells kembali ke Kalimantan dan terjangkit malaria, Acosta mengklaim mendapat kandungan emas. Wells yang wara-wiri Indonesia-Amerika tak sia-sia karena akhirnya ia mendapat banyak investor. Salah satunya adalah perusahaan investasi di Wall Street di New York, “Brown, Thomas”. Sayangnya deal tak berjalan lancar. Bos “Brown, Thomas” Mark Hancock (Bruce Greenwood) menginginkan kemitraan strategis. Ia bahkan ingin mengambilalih mayoritas saham Washoe dengan tawaran 300 juta dolar. Saat Wells menolak, Hancock memanfaatkan relasinya dengan Presiden RI Soeharto untuk mencabut izin eksplorasi dan menutup tambang Washoe di Kalimantan. Baca juga: Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika Tak habis akal, Acosta mencari kenalannya untuk bisa melawan balik. Bersama Wells, Acosta menemui Darmadi ‘Danny’ Soeharto (Jirayu Tantrakul), putra bungsu Presiden Soeharto. Acosta dan Wells ingin mengajak kerjasama Danny agar bisa membujuk Presiden Suharto membuka lagi tambangnya. Geliat pencarian emas di tambang Kalimantan itu pun melonjak lagi. Namun kenapa kemudian Wells sampai diwawancara FBI? Temukan jawabannya sembari menyaksikan kelanjutan kisahnya hanya di aplikasi daring Mola TV. Kolase karakter putra Presiden Suharto (Black Bear Pictures) Terinspirasi Skandal Busang Untuk lebih menguatkan nuansa era 1980-an, lagu-lagu pop 1980-an dan awal 1990-an disisipi komposer Daniel Pemberton dipadukan dengan music scoring “ nge-beat ” era itu. Sutradara Gaghan puas terhadap garapan Pemberton. “Anda memainkan musik di masa 1992 atau 1993 dan sejenisnya, ada G. Love dan The Special Sauce. Lalu Anda padukan dengan masa 1987, 1988, 1989, dan Anda merasakan getaran baru yang lebih terasa,” kata Gaghan kepada Calgary Herald , 30 Januari 2017. Namun, suasana 1980-an Jakarta tak begitu terasa karena proses produksinya tak dilakukan langsung di Jakarta. Pun dengan bentangan alam tropisnya yang bagi penonton tanah air akan langsung dipahami itu bukanlah Kalimantan. Baca juga: Kisah Sekelompok Pemuda Berambisi Harta, Tahta, dan Wanita Produksinya sendiri dilakukan di Thailand. Alhasil nuansa ke-Indonesia-annya kurang terasa. Kendati demikian, intrik-intrik dalam kesepakatan bisnis dan tetek-bengeknya digambarkan dengan cukup apik. Hal itu membuka mata penonton bahwa situasi di masa itu semua urusan di Indonesia melulu bermuara pada Soeharto sang penguasa rezim Orde Baru. Wells dan Acosta, sebagaimana para pebisnis lain, mesti menyiapkan uang lebih untuk menyuap pejabat-pejabat pemerintah daerah demi mendapatkan izin dan hak eksplorasi. Kolase upaya dan perayaan Wells dan Acosta setelah mengklaim mendapat emas (Black Bear Pictures) Dan seperti disebutkan dalam label filmnya, Gold terinspirasi dari kisah nyata skandal perusahaan tambang Bre-X Minerals Ltd. yang berasal dari Calgary, Kanada. Skandal yang dipupuk sejak 1993 itu baru terkuak ke publik empat tahun berselang dan menjadi kasus penipuan terbesar di Kanada. “Kami tak percaya belum ada yang menggarap kisah ini. Kami menelepon agen-agen kami dan bertanya, apakah sudah pernah ada yang memproduksi kisah penipuan Bre-X? Nyatanya belum pernah ada yang mendengarnya, mungkin karena cerita itu berasal dari Kanada dan publik Amerika hanya fokus pada cerita-cerita Amerika,” ungkap produser merangkap penulis skenario Patrick Massett kepada CBC , 26 Januari 2017. Wajah Umum Bisnis Era Orba Meski begitu, ketika diputuskan untuk digarap, tim produksi mendramatisasi banyak detail demi alasan legal. Semisal, identitas perusahaan Bre-X yang difiksikan menjadi Washoe dan lokasi asli tambangnya di Busang (Kalimantan Timur) didramatisasi menjadi Kensana. Pun dengan para tokohnya. Karakter utama, Kenny Wells, dibuat berdasarkan Presiden dan CEO Bre-X David Walsh; tokoh Michael Acosta merupakan perpaduan alter ego pakar geologi John B. Felderhof dan Michael de Guzman. Sementara, Darmadi Suharto merupakan samaran dari Sigit Harjojudanto, putra kedua Presiden Suharto. Jalan cerita Gold sejalan dengan skandal penipuan Bre-X yang banyak diulas media massa Kanada, Amerika, dan bahkan Indonesia. Ulasan dari Indonesia yang paling mendalam adalah laporan investigasi jurnalis (mendiang) Bondan Winarno yang dibukukan dengan tajuk Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi . Baca juga: The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan Bondan menguraikan kronologisnya dengan David G. Walsh datang ke Jakarta mulanya untuk mencari geolog John Felderhorf. Dalam film digambarkan, Walsh terbang dari negerinya dengan harta terakhirnya, 10 ribu dolar Kanada, untuk bertualang ke Kalimantan bersama Felderhorf pada Maret 1993. Bedanya, Walsh dan Felderhorf tak mendirikan tambangnya dari nol dengan membuka lahan sebagaimana dalam film. “Mereka pergi 12 hari ke Kalimantan. Felderhof menyarankan Walsh membeli properti Busang dari Montague Gold NL, Australia. Walsh berhasil mengumpulkan dana saham dan membeli properti Busang dari Montague senilai 80 ribu dolar Australia,” ungkap Bondan. Sosok Kenny Wells (kiri) yang merupakan karakter yang memfiksikan tokoh David Walsh (Black Bear Pictures/ Calgary Herald  27 Mei 2007) Hingga Oktober 1995, Bre-X mengklaim bahwa upaya eksplorasi mereka di Busang mengasilkan potensi lebih dari 30 juta ons emas. Beberapa bulan setelahnya Menteri Pertambangan dan Energi Republik Indonesia Ida Bagus Sudjana mulai mendapat informasi potensi itu. Seiring waktu, nilai saham Bre-X di Bursa Saham Toronto melejit karena Bre-X mengklaim potensi emasnya terus meningkat. Namun surat izin pengeborannya tiba-tiba dicabut pemerintah Indonesia pada Agustus 1966. Upaya Bre-X baru kembali mulus setelah bermitra dengan Sigit Soeharto pada Oktober 1996. “Bre-X melakukan aliansi strategis dengan PT Panutan Duta, milik Sigit Harjojudanto. Bre-X akan membayar Panutan Duta 1 juta dolar Australia sebulan selama 40 bulan sebagai jasa konsultasi teknis dan administrasi. Panutan Duta juga akan memperoleh saham 10 persen di Busang II dan III,” sambungnya. Baca juga: Gotti , Mafia Flamboyan yang Dicinta dan Dibenci Hingga pertengahan 1997, upaya dan proyek Bre-X melibatkan begitu banyak perusahaan asing serta pengusaha dan pejabat tanah air. Selain Placer Dome Inc. asal Kanada, ada PT Freeport-McMoran, PT Indocopper Investama Corporation, PT Askatindo Karya Mineral, dan PT Amsya Lina yang diakuisisi 50 persen sahamnya oleh Bob Hasan. Skandal Bre-X terungkap pertamakali pada April 1997. Sampel inti bor dari cebakan Busang yang diteliti di tiga laboratorium di Kanada, Australia, dan Indonesia nyatanya tak mengandung emas murni, melainkan emas “asing”. Artinya, sampel Busang yang selama ini diklaim Bre-X mengandung emas, ternyata merupakan butiran emas “asing” yang dicampurkan ke sampelnya lewat metode salting. Sosok geolog John Felderhof & Michael de Guzman (kiri) yang di-alter ego-kan jadi karakter Michael Acosta ( Calgary Herald /Black Bear Pictures) Tetapi sebulan sebelum skandal itu terkuak, pada 19 Maret 1997 keluar laporan bahwa geolog Michael de Guzman bunuh diri dengan melompat dari helikopter. Namun, jasadnya tak bisa diperiksa karena diberitakan jadi santapan binatang buas di pedalaman Kalimantan. Kejanggalan itu menjadi pintu masuk Bondan untuk menginvestigasinya. Bondan tak percaya De Guzman bunuh diri. Sementara itu, Bre-X mulai mendapat gugatan dari semua investornya pada Mei 1997. Walsh yang pindah ke Kepulauan Bahama mengaku tak tahu-menahu soal sampel yang “dicemarkan” De Guzman dengan metode salting. Walsh kemudian dilaporkan meninggal pada 4 Juni 1998 karena pembesaran pembuluh darah otak. Baca juga: The Mercy , Berlayar dan Tak Kembali Bre-X akhirnya dinyatakan bangkrut pada 5 November 1997. Felderhof yang diajukan ke pengadilan pada Mei 1999 dinyatakan tak bersalah setelah melakoni serangkaian sidang hingga 31 Juli 2007. Hanya De Guzman yang kemudian dipercaya hilang tanpa jejak. “Apa yang terjadi pada De Guzman masih kabur dan misterius. Akhir cerita De Guzman dijadikan kambing hitam oleh Felderhof. Keluarganya (De Guzman) dan mereka yang percaya bahwa ia memalsukan kematiannya, mengklaim bahwa otopsi jasadnya tak dilakukan dengan baik. Mereka yakin De Guzman melarikan diri,” tandas Mark Bourrie dalam Flim Flam: Canada’s Greates Frauds, Scams, and Con Artists. Deskripsi Film: Judul: Gold | Sutradara: Stephen Gaghan | Pemain: Matthew McConaughey, Édgar Ramírez, Bryce Dallas Howard, Corey Stoll, Rachael Taylor, Stacy Keach, Jirayu Tantrakul, Toby Kebbell | Produser: Matthew McConaughey, Patrick Massett, John Zinman, Teddy Schwarzman, Michael Nozik | Produksi: Boies/Schiller Films, Black Bear Pictures, Highway 61 Films| Distributor: TWC-Dimension | Genre: Drama Kriminal | Durasi: 121 menit | Rilis: 30 Desember 2016, Mola TV

  • Jenderal Nasution: PKI Bukan Musuh Kita Lagi

    Titimangsa 5 Oktober 1965 menjadi hari ulang tahun TNI paling kelabu sepanjang sejarah. Hari itu, TNI Angkatan Darat harus kehilangan enam perwira tinggi dan satu perwira menengah yang terbunuh dalam peristiwa G30S. Jenazah mereka ditemukan sehari sebelumnya dalam sumur tua yang berada di Desa Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dengan penuh haru, Jenderal Abdul Haris Nasution melepas jenazah koleganya menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata. “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kita semua difitnah dan Saudara-saudara telah dibunuh. Kita diperlakukan demikian. Tapi, jangan kita dendam hati. Iman kepada Allah akan tetap meneguhkan kita,” kata Nasution, saat itu menjabat Menteri Pertahanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata, dalam upacara pemakaman di Mabes Angkatan Darat. Mereka yang dirujuk Nasution adalah mendiang Letjen Ahmad Yani, Mayjen Soeprapto, Mayjen M.T. Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen Donald Izacus Pandjaitan, Brigjen Soetoyo Siswomihardjo, dan ajudannya Letnan Pierre Tendean. Selain rekan-rekan tersebut, Nasution juga kehilangan anak bungsunya, Ade Irma Nasution, yang tertembak pada malam penculikan Gerakan 30 September. Butuh waktu lama bagi Nasution untuk memulihkan diri dari trauma setelah peristiwa kelam itu.     Baca juga:  Pagi Mencekam di Kediaman D.I. Pandjaitan Dalam kurun waktu itu, dinamika politik berganti. Presiden Sukarno terjungkal sedangkan Jenderal Soeharto naik ke tampuk kekuasaan. Orang-orang PKI ditumpas habis lewat pembunuhan massal dan pemenjaraan ke Pulau Buru sebagai tahanan politik. Demikianlah lahir rezim Orde Baru. Memasuki tahun 1980, sorotan dunia internasional memaksa pemerintahan Orde Baru melunak dalam memperlakukan tahanan politik. Secara begelombang, mereka yang dipenjara di Pulau Buru mulai dibebaskan. Salah seorang di antaranya ialah sastrawan kiri terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Hingga pada 1995, tahanan politik kelas A –yang menurut pengadilan Mahmilub terlibat dalam G30S- seperti Soebandrio dan Omar Dani turut dibebaskan dari penjara.    “Saya tidak menaruh dendam kepada mereka,” kata Nasution kepada Majalah Warnasari , No. 200, September 1995. “Bagi kami sekeluarga,” lanjut Nasution, “peristiwa pembunuhan yang didalangi PKI adalah ujian.” Baca juga:  Ketika Jenderal Nasution Marah Nasution menuturkan, suatu hari para eks tahanan politik Pulau Buru bertamu ke rumahnya. Mereka datang untuk memohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa silam. Bagi Nasution, tidak ada alasan untuk tidak memberikan maaf kepada mereka. Apalagi sebagai sesama penganut Muslim yang diajarkan untuk tidak saling mendendam. Saat itu menjelang bulan Oktober, isu tentang bahaya laten PKI kerap didesas-desuskan. Apalagi berkaitan dengan pembebasan atau grasi yang diberikan kepada tahanan politik dari Pulau Buru. Mereka dikhawatirkan akan mampu menggerakan kader-kader PKI bahwah tanah serta mengihudupkan kembali partai terlarang. Kecurigaan itu menguat pada sosok Pramoedya Ananta Toer, yang dulu vokal dalam Lekra –organisasi kebudayaan yang berafiliasi dengan PKI. Menurut Nasution, bukan waktunya lagi menganggap orang-orang eks PKI atau yang terlibat dalam G30S berbahaya. Orang seperti Pram, dalam pandangan Nasution, salah kaprah apabila dijadikan ancaman ideologi. “Saya tidak melihat kekuatan itu ada pada Pramoedya. Pram itu hanya tokoh sastra, bukan untuk berevolusi. Kewaspadaan itu harus, tapi jangan berlebihan,” kata Nasution dalam Warnasari . Baca juga:  Pram dan Soemitro Perubahan sikap itu juga diperlihatkan Nasution terhadap Bung Karno. Semula, Nasution punya prasangka bahwa Sukarno berada di belakang operasi G30S yang berusaha menculiknya. Dugaan itu berangkat dari fakta bahwa yang menjemput paksa Nasution  di rumahnya adalah Tjarabirawa, pasukan pengawal kehormatan presiden. Insiden penculikan itu menyebabkan Ade Irma Nasution tertembak secara tidak sengaja. Namun, dugaan keterlibatan Sukano dalam G30S menguap begitu Nasution membaca laporan Tim Pemerika Pusat (Teperpu). Dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 9: Bagi Pejuang Tiada Tugas Akhir dan Akhir Tugas , Nasution mengatakan, Bung Karno tidak dapat digolongkan sebagai penggerak langsung atau dalang ataupun tokoh G30S/PKI, kecuali apabila memang masih ada fakta-fakta yang belum terkuak. Nasution merajut kesimpulan tersebut setelah dirinya dipertemukan dengan orang-orang yang terlibat dan memperoleh keterangan dari mereka. “Saya berangsur-angsur melanjuti interogasi pelaku dan saksi-saksi yang juga dari lingkungan Presiden, maka akhirnya saya tak yakin bahwa beliau terlibat dalam komplot pembunuhan terhadap kami,” kata Nasution dalam memoarnya. Baca juga:  Ketika Jenderal Nasution “Dikerjain” Presiden Sukarno Di masa tuanya, Nasution sang jenderal anti-PKI itu berhasil berdamai dengan masa lalu. Dia justru lebih kritis terhadap penguasa Orde Baru yang cenderung memerintah secara otoriter. Ketika ditanya apa yang menjadi musuh utama bangsa, Nasution tegas menjawab, “Ketidakadilan sosial.” Persoalan itulah yang menjadi pertarungan politik terakhir Nasution sehingga dirinya terlibat dalam gerakan Petisi 50 hingga mengakibatkannya dicekal pemerintah. “Musuh kita bukan PKI saja, tapi ketidakadilan sosial. Ketidakadilan sosial ini bisa bermacam-macam. Misalnya ucapan yang tak serasi dengan perbuatan (munafik), gemar membuat ‘ killing ground ’ (menjebak orang lain tanpa salah), gemar menyebar fitnah terhadap orang yang tak bersalah,” jelas Nasution kepada Warnasari . Menurut Nasutiton, ketahanan nasional terganggu bukan karena pembebasan tokoh-tokoh PKI. Ketahanan nasional terganggu asalnya dari pemegang amanah kekuasaan. Sampai di mana hukum itu tertegak tanpa pandang bulu; sampai di mana pintu aspirasi itu terbuka; seberapa jauh kerenggangan kaya-miskin dipersempit; sejauh mana tidak terdapatnya kolusi antar pejabat-penguasa. Baca juga:  Persekutuan Jenderal dan Pengusaha “Kesemuanya itu adalah ‘pintu’ masuknya kerawanan ketahanan nasional,” pungkas Nasution.

  • Pagi Mencekam di Kediaman D.I. Pandjaitan

    KEBAYORAN, 1 Oktober 1965. Deru suara panser memecah keheningan dini hari itu. Letkol Herman Sarens Sudiro bersama enam anak buahnya memacu kendaraan lapis baja jenis Saracen. Berdasarkan keterangan dari perwira kavaleri bernama Letkol Trihardjo, telah terjadi keributan di Jalan Hasanudin 53. Lokasi itu tidak lain merupakan kediaman Brigjen D.I. Pandjaitan, asisten IV/Logistik Menteri Panglima Angkatan Darat. “Trihardjo dari SUAD meminta panser dengan alasan untuk mengusir garong dari rumah D.I. Pandjaitan,” kata Herman dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir . Ada dua panser Saracen yang memang diparkir di rumah Herman. Perintah agar panser itu berada di rumah Herman berasal dari Brigjen Muskita, wakil Asisten II Menpangad. Saat itu, Herman menjabat sebagai kepala Biro Hubungan Antar Angkatan dan Kesiapsiagaan SUAD II. Dia bertanggung jawab atas pengawasan dan patroli Markas Besar AD.    Berangkat dari kediamannya di Jalan Daksa, Herman tiba di tujuan menjelang fajar menyingsing. Setibanya di rumah Pandjaitan, panser berhenti. Herman meloncat turun sambil mendekap senjata G-3 Getmi dalam kondisi siap menyalak. Pintu gerbang halaman masih terkunci, tetapi kaca-kaca jendela pecah berantakan. Suasana rumah terlihat ganjil dan mengundang rasa curiga. Dalam buku Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam  disebutkan,  Herman Sarens langsung masuk dan menemui istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan, di lantai atas. Namun, Marieke masih dalam kondisi terpukul dan trauma melihat tentara berseragam. Nyonya Panjaitan itupun mengusir Herman Sarens dari rumahnya. Menurut anak-anak Pandjaitan, suasana rumah mereka benar-benar sangat mencekam. Genangan darah, bercak-bercak, dan lubang peluru tampak di mana-mana. Perabot-perabot rumah berantakan dan serpihan lampu berserakan. Demikian pula lukisan, berlubang-lubang terkena tembakan. Ketika berada di pintu halaman, Herman berpapasan dengan Brigjen Junus Samosir, wakil Asisten I Menpangad. Samosir yang merupakan sahabat Pandjaitan itu tidak menyangka Herman Sarens yang datang. Mereka saling menyapa. Dari keterangan yang diperoleh dari keluarga Pandjaitan, Herman memperoleh informasi bahwa Pandjaitan diculik oleh pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa. Persisnya, seperti disebut Aco Manafe dalam Teperpu: Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965 dan Proses Hukum bagi Para Pelakunya , pasukan yang bertugas menculik Pandjaitan sebanyak satu peleton pimpinan Serda Soekardjo dari Batalion 454 Banteng Raiders Diponegoro. Pasukan ini terdiri dari 1 regu Batalion 454, 1 regu Brigade Infantri Jaya Sakti, dan sekelompok sukarelawan Pemuda Rakyat. Keadaan kacau yang ditimbulkan pasukan itu memaksa Katherin, putri sulung Pandjaitan, berupaya mencari pertolongan. Mulanya, dia menuju rumah Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar 43. Setiba di sana, rumah Pak Nas tampak ramai. Orang-orang sekitar mengatakan Jenderal Nasution diculik. Katherin kemudian bergegas ke rumah bapak tuanya (abang dari D.I.Pandjaitan) Samuel Pandjaitan dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Ketika hari sudah terang, banyak orang berdatangan ke rumah Pandjaitan. Beberapa di antara yang datang adalah pejabat dan perwira TNI. Anak-anak Pandjaitan masih menangis dan kebingungan.  “Saya sudah siuman dan menangis ketika Katherin datang, tetapi pingsan lagi. Masa, adik Katherin, juga pingsan,” tutur Marieke dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah mengamati keadaan di rumah Pandjaitan, Herman Sarens kembali ke pansernya. Herman sedianya hendak melapor kepada atasannya, Asisten II/Operasi Menpangad Mayjen Djamin Gintings. Namun, Gintings belum pulang dari Medan dalam rangka menyertai kunjungan Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. Maka, satu-satunya tujuan Herman untuk melapor ialah wakil Gintings, Brigjen Muskita. Panser Saracen itu pun melaju ke kediaman Muskita di Jalan Mangunsarkoro. Kelak, kata Herman, “Pada waktu penumpasan Gerakan 30 September 1965, panser yang ada di rumah saya, saya gunakan untuk menggebuk orang-orang PKI.”*

  • Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda

    JENIS tarian Sunda bukan hanya tari topeng, tari wayang, tari rampak gendang, jaipong, apalagi tari ronggeng. Seni tari Jawa Barat bahkan sudah mengalami modernisasi kala republik belum lama berdiri. Raden Rusdi Somantri alias Tjejte dan Tubagus Oemay Martakusuma adalah dwitunggal yang jadi pionirnya. Tjetje berasal dari Purwakarta. Pria kelahiran tahun 1892 itu sudah mendalami seni tari Jawa Barat sejak mengenyam Pendidikan di Middelbare Opleiding School voor Indlansche Ambtenaren (MOSVIA) Bandung pada 1911. Sedangkan Oemay berasal dari Rangkasbitung. Ia pegawai Djawatan Kebudayaan Jawa Barat merangkap praktisi seni rupa setempat. Keduanya bersua pada 1935 di Badan Kesenian Indonesia (BKI) dan sejak saat itu keduanya senantiasa satu pemikiran dalam mengkreasikan tarian-tarian baru, terutama untuk kalangan putri. Di antaranya tari Anjasmara, tari Sekarputri, tari Sulintang, tari Ratu Graeni, tari Kandagan, tari Topeng Koncaran, dan tari Yuyu Kangkang di masa pra-kemerdekaan. “Cikal-bakalnya memang dari Pak Oemay. Beliau guru dari Banten sejak tahun 1925, sudah bercita-cita ingin membuat suatu pertunjukan untuk putri. Karena di sana kan putri-putrinya tidak bisa tampil, paling hanya pada akhir masa sekolah saja. Beliau pindah ke Bandung, ketemu Pak Tjetje dan beberapa tokoh tari,” kata seniman tari dan koreografer Irawati Durban dalam diskusi daring Yayasan Pusat Bina Tari bertajuk “Tjetje & Oemay Kreator Tari Putri Sunda 1942-1963” via Zoom , Kamis (30/9/2021) sore. Baca juga: Tarian yang Mempesona Seniman Irawati Durban (Tangkapan Layar Pusbitari Talk) Ira pernah jadi murid mereka pada 1950-an. Dalam ingatannya,  Tjetje dan Oemay pelopor yang mendorong kalangan putri untuk jadi penari profesional. Di era 1950-an, seni tari bagi mayoritas orang di Jawa Barat hanya sekadar hobi. Berbeda dengan zaman sekarang yang mana semua hobi atau seni-budaya didorong menjadi profesi yang profesional. Kala itu bila ada penari bayaran, konotasinya masih negatif. Seperti penari ronggeng, misalnya, yang mempertunjukkan sensualitas. Persepsi seperti itu didapat Ira dari ibunya. Ira sendiri mulai mendalami seni tari saat duduk di bangku SMP Santa Angela sekitar tahun 1956 di bawah asuhan Tjetje. Bersama para penari besutan Tjetje di BKI Ira sering diikutkan dalam pertunjukan tari-tarian kreasi Tjetje dan Oemay di Gedung Concordia (kini Gedung Merdeka) hingga ke Gedung Pakuan. “Amplop dari Pak Oemay itu saya serahkan ke ibu saya. Pas dibuka, beliau marah. Saya disangka jadi ronggeng dan tidak boleh menari lagi. Besoknya saya kembalikan amplopnya, tapi Pak Tjetje di sore harinya datang langsung ke rumah saya. Dia menjelaskan bahwa kami pentasnya tidak di tempat sembarangan tapi di tempat-tempat terhormat. Setelah itu saya baru boleh nari lagi,” kenang penulis buku Perkembangan Tari Sunda: Melacak Jejak TB Oemay Martakusuma (1998) dan R. Tjetje Somantri: Tokoh Pembaharu Tari Sunda (2000) tersebut. Baca juga: Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi Sisi dalam Gedung Concordia yang kini menjadi Gedung Merdeka (Fernando Randy/Historia) Dalam rombongan BKI, Ira tampil tak hanya di Bandung. Mereka sampai ke Istana Bogor dan Jakarta tampil di hadapan Presiden Sukarno. Bahkan sejak awal 1960-an Ira turut dalam rombongan misi kebudayaan ke negara-negara sahabat, seperti Jepang, Korea Selatan, Cekoslovakia, Hungaria, Polandia, Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat. Tjetje dan Oemay dikenal baik oleh Bung Karno sejak di Garut pada 1946, tepatnya pasca-Bandung Lautan Api. Keduanya dipercaya Bung Karno untuk menyiapkan seni pertunjukan saat Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga Ganefo 1963. Mengutip Muhidin M. Dahlan dalam Ganefo: Olimpiade Kiri di Indonesia , pemerintah Indonesia menggelar Ganefo Art Fest pada 8 November 1963 sebagai hiburan di luar event-event olahraga. Perhelatan itu juga salah satu upaya diplomasi politik lewat budaya lantaran tidak hanya kebudayaan Indonesia tapi juga turut menampilkan kebudayaan dan kesenian Korea, China, hingga Rusia. Baca juga: Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah Presiden Sukarno menyambut rombongan seni-budaya jelang Malam Seni Ganefo (Repro:  Ganefo: Olimpiade Kiri di Indonesia ) Tetap saja, bintangnya para seniman tanah air. Rombongan dari Jawa Tengah menampilkan tari Gatotkaca, dari Bali menyuguhkan tari Tenun, dari Sumatera Barat mempertunjukkan tari Sandangpangan, dari Aceh ada tari Seudati Agam, dari Sulawesi Selatan mempertunjukkan tari Pakarena, dari Sumatera Selatan tari Gending Sriwijaya, dan dari Jawa Barat yang dipimpin Tjetje dan Oemay menghadirkan tari Kupu-Kupu. “Tari Kupu-Kupu dari Jawa Barat pada hakikatnya sebuah hiburan koreografi yang baik. Ke-30 mojang Bandung dalam pakaian aneka warna yang menyolok mengisahkan kehidupan kupu-kupu yang tak kenal susah, yang tahunya terbang dan melayang, hinggap di bunga dalam jambangan dan di taman. Tanpa perlu berpikir serius, tari ini termasuk sedap dan enak dinikmati,” tulis Muhidin. Tari Kupu-Kupu itu jadi perhatian tersendiri karena berbeda dari tari-tarian tradisional lain. Tari Kupu-Kupu hanyalah satu dari sekian kreasi tari modern yang diciptakan Tjetje dan Oemay. Keluar Pakem Tradisional Sepanjang kiprahnya, Tjetje dan Oemay berkreasi dan melakukan pembaharuan dari perpaduan gagasan modernisasi dan pengalamannya selama mempelajari tari-tarian Jawa dan Bali. Pengaruh-pengaruh itu sangat terasa dalam tari-tarian yang diciptakan Tjetje dan Oemay, semisal tari Koncaran, tari Srigati, tari Srenggana, tari Panji Nayadirana, atau tari Patih Ronggana. “Jadi ada empat pengaruhnya yang saya teliti. Bersumber dari tari Wayang, tari Payung, tari Topeng, dan tari Jawa semisal tari Serimpi dan tari Bedoyo. Terlihat banyak sekali kesamaan-kesamaan gerak yang namanya beda kalau di-Sunda-kan tapi bentuknya sama. Perbedaan lainnya adalah iringan musiknya. Di karya-karya tari Tjetje diiringi gending satu wilet yang lebih cepat iramanya ketimbang gamelan Jawa yang pelan,” sebut Prof. Dr. Endang Caturwati, guru besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Baca juga: Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah R. Rusdi 'Tjetje' Somantri (kiri) dan Gedung Concordia yang sering dipakai pentas ( Melacak Jejak Tb.Oemay Martakusuma dan Rd. Tjetje Somantri /Fernando Randy-Historia) Dari musik itu pula, ditambah perpaduan gerakan-gerakan tari Jawa, Tjetje membuka pintu untuk keluar dari pakem tradisional. Tujuan utamanya agar tak mengingatkan penonton pada jaipong apalagi ronggeng. “Menarik karena Pak Tjetje justru menghindari ronggeng itu. Tidak mengambil satupun gerakan-gerakan ronggeng. Yang diambil gerakan-gerakan dari ragam tari-tarian Jawa yang mempunyai sifat keputrian dan anggun,” lanjut penulis buku Lokalitas, Gender, dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat (2003) dan Tari di Tatar Sunda (2007) tersebut. Baca juga: Memaknai Ulang Tari Jawa Faktor lain yang jadi pembeda dari tari Jawa dan keluar dari pakem ronggeng karya-karya Tjetje adalah kostum-kostum unik dan berwarna. Di sinilah Oemay mengambil peran terbesar. Kolaborasinya dengan kreasi koreografi Tjetje membuat modernisasi kreasi tari-tari Sundanya lengkap. “Pak Oemay ikut campurnya dalam kostum dan komposisi tari. Karena kan kostum itu harus disesuaikan dengan komposisi tari. Jadinya setiap penari yang menghadap arah berbeda kostumnya memperlihatkan warna yang berbeda juga. Bahannya lebih sering pakai beludru, tidak batik atau dominasi bahan kain hitam seperti tari-tarian Jawa,” tambah Endang. Prof. Dr. Endang Caturwati (Tangkapan Layar Pusbitari Talk) Dengan pola dan warna yang berani, Oemay membawa kreasi-kreasinya keluar dari ketradisionalan sebagaimana kostum-kostum tari Sunda sebelumnya. Pangkal gagasannya adalah semangat modernisasi, sehingga tak terkungkung ketradisian tarian rakyat seperti jaipongan atau ronggeng. “Menarik membahas Aki (kakek, red ) soal teori warna dan pola lantai. Apalagi di zaman itu lampu-lampu (panggung) belum seperti sekarang. Di sini beliau sudah menciptakan sebuah teori warna. Misal tari Kupu-Kupu. Masing-masing penari (kostumnya) beda warna dan ini bukan tanpa sengaja,” timpal Ray Bachtiar, salah satu cucu Tubagus Oemay. Baca juga: Kala Tarian dan Gamelan Jawa Memesona Eropa Oemay, lanjut Ray, membuat kostum melalui pola blok-blok warna dengan perhitungan matematis. Hal itu dipikirkan betul karena harus memperhitungkan refleksi dari tata lampu yang belum secanggih sekarang. Selain itu, tetap mempertahankan pengaruh gaya lukisan era Renaissance yang pernah dipelajari Oemay. Bagi Oemay, tarian adalah lukisan bergerak. “Seperti ketika Aki menyiapkan kostum untuk tari Kupu-Kupu yang ditampilkan di Ganefo. Baju dan sayapnya dibuat beda warna dan (hiasan) sayapnya dilukis sendiri oleh Aki. Lukisannya mengingatkan pada karya (sketsa) Leonardo da Vinci yang ‘Flying Machine’. Itu menyimpulkan betapa kuatnya Renaissance memengaruhi Pak Oemay,” sambung praktisi seni lukis, seni panggung, dan fotografi itu. Ray Bachtiar, cucu TB Oemay Martakusuma (Tangkapan Layar Pusbitari Talk) Ketika kemudian Oemay sibuk sebagai kepala Djawatan Kebudayaan, soal kostum diserahkannya pada Ira. Meski begitu, warisan keduanya tetap lestari karena visi modernisasi seni tari Sunda sudah mulai ajeg. “Pada intinya Pak Tjetje dan Pak Oemay tak bisa dipisahkan. Karena selain interupsi (kreasi) tarian Pak Tjetje, Pak Oemay tetap bisa memikirkan bagaimana tarian tersebut bisa menjadi tontonan. Selain busananya juga komposisi tarian itu sendiri. Jadi pada saat itu mereka disebut sebagai tokoh pembaharu ya untuk tari Sunda dan akhirnya menjadi inspirasi teman-teman di Jawa,” tandas Endang. Baca juga: Sendratari Kristiani

  • Petualangan Gereget Pria Berusia 100 Tahun

    SUATU pagi di panti jompo di Malmköping, Swedia. Allan Karlsson (diperankan Robert Gustafsson) menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Ia masih meratapi Molotov, kucing kesayangannya yang mati diterkam rubah. Balas dendam Allan dengan memasang jebakan dinamit yang menewaskan rubah itu tetap tak membuatnya tenang. Di hari itu, Allan genap berusia 100 tahun. Tubuhnya memang renta namun nyatanya semangat hidupnya masih bergejolak sebagaimana pengalamannya di masa muda. Maka ketika mengintip seorang bocah yang main petasan di halaman gereja di seberang panti, Allan membuat keputusan besar terakhir dalam hidupnya. Dengan hati-hati, Allan mendekatkan sebuah kursi sebagai pijakan kaki. Lantas ia memanjatnya dan keluar dari jendela panti. Staf panti yang sibuk menyiapkan pesta ulangtahun pun syok mendapati Allan hilang dari kamarnya. Baca juga: The Vanishing , Misteri Hilangnya Penjaga Mercusuar Namun hilangnya Allan itu sekadar plot pembuka film komedi garapan sineas Felix Herngren bertajuk Hundraåringen Som Klev ut Genom Fönstret och Försvann ( The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared ). Film ini dialihwahanakan dari komik novel bertajuk serupa karya Pär-Ola Jonas Jonasson (2009). Apa yang terjadi dengan Allan sang protagonis lantas menimbulkan banyak kejadian kocak. Dimulai dari Allan bertemu Bulten (Simon Säppenen), anggota geng Never Again, di terminal bus Malmköping. Allan yang dititipkan sebuah koper malah tanpa sadar membawanya sampai ke Desa Byringe, tempat Allan berkenalan lansia Julius Jonsson (Iwar Wiklander). Kolase rantai kejadian konyol sang protagonis usai kabur dari panti jompo (Music Box Films) Keesokannya, Allan diburu Bulten lantaran koper itu berisi uang 50 juta krona. Tapi kemudian Allan memukulnya sampai pingsan dengan tongkat kroket. Dengan konyolnya, Julius menyekap Bulten di lemari pendingin hingga tewas gegara Julius lupa mematikan mesin pendingin. Bulten ternyata adalah anak buah bos geng Per Gunnar Gäddan (Jens Hultén). Uang tadi mestinya dibawa Bulten ke Gäddan untuk kemudian dikirim ke Pim (Alan Ford), seorang bos besar yang sedang liburan di Bali, Indonesia. Baca juga: Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim Sadar sedang diburu, Allan dan Julius kabur ke Åkers Styckebruck, kemudian Sjötorp. Mereka menumpang mobil mahasiswa bernama Benny (David Wiberg) hingga numpang bermalam di vila milik gadis bernama Gunilla (Mia Skäringer). Inspektur polisi Aronsson (Ralph Carlsson) mendalami kasus hilangnya Allan dari panti jompo. Polisi tua itu justru jadi kelimpungan lantaran kasus itu berkelindan dengan geng kriminal. Pesona Bali turut ditampilkan sebagai latar belakang beberapa adegannya (Music Box Films) Dalam petualangannya yang sarat teriakan dan ledakan, Allan teringat kembali pada masa kecil hingga dewasanya yang penuh warna dengan alur cerita maju-mundur. Allan sejak usia 10 tahun sudah jadi anak yatim. Ayahnya yang menciptakan kondom, tewas di Moskow, Rusia. Hobinya yang meracik dinamit dan sempat menewaskan seorang pria membuatnya harus mendekam di rumahsakit jiwa. Di usia muda, Allan berkenalan dengan Esteban (Manuel Dubra) asal Spanyol yang merupakan pekerja di pabrik senjata dan aktivis sayap kiri penentang Diktator fasis Francisco Franco (Koldo Losada). Itu jadi pintu masuk petualangan Allan berikutnya, yakni ikut Perang Saudara Spanyol. Bergabung di Brigadas Internacionales, ia bertugas sebagai perakit bom. Tetapi di Spanyol, Allan justru dijadikan sahabat dan dihadiahi pistol mewah oleh Franco usai menyelamatkan sang generalissimo . Baca juga: Politik Dua Kaki Francisco Franco Pistol itu lantas ia jual untuk modal berlayar ke Amerika. Tak disangka, hobi Allan terhadap bahan peledak membuatnya dirangkul J. Robbert Oppenheimer, ilmuwan dan pemimpin Manhattan Project, dalam penilitian bom atom. Kiprah itu pula yang membuat fisikawan Uni Soviet Jurij Popov (Georg Nikoloff) membujuknya menyeberang ke Kremlin dan bertemu kamerad Josef Stalin (Algirdas Paulavicius) yang “ngebet” membuat program nuklir. Tetapi gara-gara Allan menyebut pernah menyelamatkan Franco, Stalin marah dan mengirim Allan ke gulag. Di kamp itulah Allan bertemu Herbert Einstein (David Schackleton), saudara kembar fisikawan Albert Einstein. Meski idiot, Herbert berjasa membantu Allan meloloskan diri dari gulag. Apa yang dialami Allan muda setelah kabur dan bagaimana Allan di usia renta meloloskan diri dari kejaran anggota geng dan polisi? Baiknya Anda saksikan sendiri kelanjutannya di platform daring Mola TV . Petualangan masa lalu sang protagonis dari Perang Saudara Spanyol sampai gulag di Uni Soviet (Music Box Films) Kocak dan Absurd Sedikit banyak, The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared bisa dibilang mirip drama komedi sohor Forrest Gump (1994) yang alurnya maju-mundur dan kisah fiktifnya “ditaburi” dengan beberapa tokoh nyata yang mempengaruhi dunia. Adegan-adegan kocak nan absurd yang dikemas dengan tone film yang cukup dinamis bertaburan. Tone film di kehidupan tua Allan yang dibuat cerah kontras dengan beberapa adegan masa lalunya yang kelam, terutama saat ia bertemu beberapa tokoh ternama macam Franco dan Stalin. Dinamika itu disempurnakan dengan music scoring komikal. Pembeda signifikan substansi komedi ini dengan Forrest Gump adalah obsesi dan kegemaran sang protagonis. Jika tokoh Forrest terobsesi untuk terus berlari, Allan terobsesi dengan bahan peledak. Tetapi secara teknis, Forrest Gump masih lebih baik dari The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared . Hal ini perhatian beberapa kritikus. Salah satunya Josh Kupecki, yang mengulasnya dalam kolom di Austin Chronicle , 5 Juni 2015. Sineas dan tim produksi, menurutnya, kurang berhasil menjahit peralihan cerita di masa tua dan masa lalu sang protagonis. “Walau menampilkan komedi yang menyegarkan, sejujurnya yang disajikan versi novel masih lebih baik dalam hal tensi dalam ceritanya. Versi filmnya juga terasa seperti dua film berbeda. Dua ceritanya dijahit bersamaan seperti monster Frankenstein,” tulis Kupecki. Baca juga: Petualangan Sonic the Hedgehog sang Landak Super Melawan Lupa dengan Tawa The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared diangkat dari komik novel bertajuk sama karya Jonas Jonasson. Dikatakan “komik novel” karena merupakan perpaduan pemikiran dan pengalaman sang penulis tapi didominasi satir dan komedi absurd fiktif. Beberapa cerita dalam novel pernah dialami Jonasson. Di antaranya, dendamnya pada seekor rubah. Di kediamannya di Pulau Gotland, ayam-ayam yang ia pelihara seringkali jadi mangsa rubah. Juga ketika seorang temannya terkena labrakan seorang tetangga gegara suatu hal yang dianggap mengganggu lingkungan permukiman. “Gagasan sentral bukunya lahir dari pengalaman nyata. Teman saya kesal karena tetangganya protes keras terhadap sesuatu yang dibuat teman saya di pekarangannya sendiri. Kami pun membalasnya dengan membuat sesuatu untuk menghalangi view depan rumahnya. Kami membalas dendam dengan cara lain sebagai terapi,” kata Jonasson kepada I News , 21 Mei 2021. Baca juga: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Pengalaman lainnya adalah saat Jonasson menjadi jurnalis, pernah suatu ketika di sebuah stasiun kereta dia harus ke toilet. Jonasson mesti menitipkan kopernya pada seorang lansia karena tak muat dibawa masuk ke toilet. Lansia itulah yang kemudian diracik Jonasson menjadi karakter Allan Karlsson. Karakter Allan dibuat sebagai sosok yang tak peduli politik. Karakternya cenderung menggambarkan pemerintahan Swedia dan mayoritas masyarakatnya yang bersikap netral terhadap beragam konflik internasional dari Perang Dunia hingga Perang Dingin. Kolase pertemuan sang protagonis dengan Francisco Franco, J. Robbert Oppenheimer, Josef Stalin, dan Presiden Ronald Reagan (Music Box Films) Karakter Allan juga digambarkan menggemari bahan peledak yang intim dengan peperangan, tapi pada akhirnya berusaha memperbaiki segala kekacauan yang ia timbulkan. Ibarat Alfred Nobel sang penemu teknologi peledak –seperti dinamit dan detonator– asal Swedia yang mesti menuliskan wasiat –meminta keluarganya menyumbangkan 94 persen kekayaannya untuk mendirikan Yayasan perdamaian Nobelpriset (Penghargaan Nobel Perdamaian) pada 1895– sebagai bentuk “penebusan” dosanya”. “Keuntungan (harta) harus diinvestasikan dengan keamanan dan harus dilimpahkan untuk sebuah yayasan yang rutin per tahun didistribusikan dalam bentuk hadiah penghargaan kepada mereka yang berjasa bagi umat manusia…” demikian bunyi potongan surat wasiat Dr. Nobel sebagaimana dikutip Agneta Levinovitz dan Nils Ringertz dalam The Nobel Prize: The First 100 Years. Baca juga: Oslo dan Perdamaian Israel-Palestina Sementara, apa yang dialami Jonasson pada awal 1990-an begitu cepat berubah. Sebagai jurnalis, ia mengalami situasi dunia yang begitu cepat berubah pasca-jatuhnya Tembok Berlin. “Dulu saya seorang reporter dan kemudian pemimpin departemen di Smalandposten dan Expressen . Saya resign pertengahan 1990-an karena tantangan pekerjaan mulai hilang. Di hari terakhir masa kerja setelah perpisahan, saya naik satu lift dengan asisten manajer dan dia menawari pekerjaan sebagai konsultan media di Polandia, Estonia, dan Latvia. Uni Soviet baru kolaps dan membuka pers yang lebih bebas. Jadi saya hanya menganggur selama 25 detik,” kenang penulis berusia 60 tahun itu kepada Hannoversche Allgemeine Zeitung , 4 Agustus 2016. Pär-Ola Jonas Jonasson dan karya pertamanya ( jonasjonasson.com ) Beraneka satir dan humor absurd dalam cerita yang diramu Jonasson ternyata bukan hal irasional dan dilebih-lebihkan. Setidaknya buat dia. “Tidak ada yang percaya kenyataan itu. Contohnya salah satu tetangga saya yang tak hanya beternak ayam tapi juga membuat arena gokar dan membangun museum tentang Pulau Gotland. Dia punya gelar doktor di bidang bisnis. Dia juga jadi komposer musik klasik dan jadi pengajar judo. Jika saya masukkan ini dalam sebuah karakter di novel, semua orang akan berpikir saya gila,” imbuhnya. Baca juga: Kematian Stalin dalam Banyolan Terakhir, satir dan komedi yang dikaitkan dengan banyak kejadian dan tokoh-tokoh dunia diracik Jonasson bukan tanpa alasan. Ia ingin pembacanya mengingat masa lalu dengan humor. Harapannya memang klise, yakni agar pembaca sadar bahwa sejarah kelam yang mengikuti para tokoh itu tak terulang. “Saya memasukkan itu untuk melawan lupa dan pembaca teringat akan kejadian-kejadian tragis di abad ke-20. Bukunya terjual puluhan juta kopi tapi dunia belum jadi tempat yang lebih baik. Kita masih lupa dengan yang terjadi di era 1930-an. Saya merangkumnya dengan humor walau terjadi pro dan kontra. Walau bagi saya humor mestinya menyelamatkan kita dari dogma dan tirani,” tandas Jonasson yang komik novelnya terjual puluhan juta kopi dan diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa itu. Deskripsi Film: Judul: Hundraåringen Som Klev ut Genom Fönstret och Försvann ( The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared ) | Sutradara: Felix Herngren | Pemain: Robert Gustaffson, Iwar Wiklander, Mia Skäringer, Jens Hultén, David Wiberg, Alan Ford, Georg Nikoloff, Koldo Losada, Bianca Cruzeiro, Algirdas Paulavicius | Produser: Felix Herngren, Hans Ingemansson, Jonas Jonasson | Produksi: Buena Vista International, NICE FLX Pictures, Nordsvensk Filmunderhallning| Distributor: Walt Disney Studios, Motion Pictures, StudioCanal |Genre: Komedi | Durasi: 112 menit | Rilis: 25 Desember 2015, Mola TV

  • Hoegeng, Pensiunan Kapolri jadi Seniman

    SESOSOK manusia silver terjaring razia oleh Satpol PP kota Semarang dalam operasi yustisia. Usut punya usut, ternyata yang ditangkap seorang mantan polisi bernama Aipda Agus Dartono. Dalam pengakuannya, Agus mengaku terpaksa menjalani pekerjaan seniman jalanan itu lantaran gaji pensiunannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. “Saya jalan nggak punya uang, nggak punya duit, kemudian dapat uang (jadi manusia silver) dua puluh ribu, dipegang Satpol PP. Saya bilang bekas anggota polisi, pensiunan polisi,” ujar Agus Dartono sebagaimana dilansir detik.com. Terakhir, Agus berdinas di satuan lalu lintas (satlantas). Agus Dartono akhirnya dilepas usai dibina Satpol PP. Kasus ini sempat viral di berbagai media daring dan membuat iba sejumlah pihak. Kapolrestabes Semarang kabarnya menawarkan pekerjaan agar Agus tidak lagi mengamen ke jalan.

  • Balada Jenderal Tahi

    Selesai berdinas di Moskow sebagai duta besar, Mayor Jenderal Mochamad Jasin dapat tugas baru. Ia diangkat Pejabat Presiden Jenderal Soeharto sebagai panglima Kodam VII Brawijaya yang membawahi wilayah operasi Jawa Timur. Pengangkatan itu menjadi cara yang diambil Soeharto untuk melenyapkan pengaruh Sukarno di Jawa Timur. “Akar-akar paham Orde Lama dan kultus individu masih kuat di masyarakat. Dan ini menjadi tantangan yang harus saya hadapi,” tutur Jasin dalam memoarnya M. Jasin: Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto. Jasin memang tipikal perwira tegas. Waktu jadi panglima Kodam di Aceh, dia berhasil memadamkam pemberontakan pimpinan Daud Beureuh. Pada 15 April 1967, Jasin mengadakan serah terima jabatan panglima Brawijaya dengan Mayor Jenderal Soemitro. Baca juga:  Tamparan Jenderal Mitro Setelah menjabat panglima Brawijaya, Jasin menggebrak Jawa Timur dengan serangkaian kebijakan radikal. Orang-orang PKI ditangkapi, terutama di daerah Blitar Selatan. Sejumlah pejabat pemerintah yang dicurigai “Sukarnois” masuk target “pembersihan”. Selain itu, Jasin juga menindak mereka yang berafiliasi dengan PNI kubu Ali Sastroamidjojo-Surachman (PNI-ASU). Kebijakan Jasin menuai pro-kontra di mana-mana. Namun yang paling serius, ketegangan terjadi antara Angkatan Darat dengan Korps Komando (KKO) AL. Panglima KKO Letjen Hartono dikenal sebagai pendukung setia Sukarno. Bukti loyalitas Hartono ini kemudian melahirkan semboyan “ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Putih kata Bung Karno, putih kata KKO.” KKO tentu geram dengan langkah-langkah yang ditempuh Jasin dalam “operasi desukarnoisasi” sekaligus meng-Orde Baru-kan Jawa Timur. Hingga suatu ketika pada pertengahan 1967, pasukan KKO nekat mengumpat Jasin sewaktu mengawal beberapa truk yang membawa mayat seorang anggota PNI-ASU. Ketika melewati rumah Jasin di Jalan Darmo No. 100 Surabaya, prajurit KKO itu melontarkan cemoohan kepada Jasin. Baca juga:  Ketika PNI Terbelah “ Panglima Jenderal Jasin Tahi! Panglima Jenderal Jasin Tahi! ” begitu bunyi yel-yel umpatan para anggota KKO itu yang ditujukan kepada Jasin.   Jasin langsung keluar dari rumahnya begitu mendengar teriakan itu. Meski menyulut emosi, Jasin mencegah pasukan pengawalnya yang ingin bertindak. Kabar penghinaan itu sampai kepada bawahan Jasin, yakni Komandan Korem Kolonel Acub Zainal. Mengetahui panglimanya dihina, Acub tidak terima.   “Dasar saya sebagai bawahan, Pak Jasin sebagai Panglima saya. Jadi buat saya, kalau ada orang luar yang menghina atasan saya, jiwa saya berontak. Dan ini menyangkut soal Sumpah Prajurit,” kata Acub dalam biografi Acub Zainal: I Love The Army karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Baca juga:  AURI Ingin Membom Markas Kostrad? Acub Zainal, dalam biografinya mengakui sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang markas KKO. Namun, sebelum pasukan itu digerakkan, Jasin terlebih dahulu ingin menghadapi langsung para petinggi Angkatan Laut di Surabaya. “Jasin segera bisa menyelesaikan masalah ini lewat diplomasi,” kata Acub. Keesokan harinya, Jasin mengundang panglima AL, panglima Armada, komandan AL, dan KKO. Dalam pertemuan itu, Jasin memperkarakan peristiwa penghinaan oleh pasukan KKO yang ditujukan kepada dirinya selaku panglima Brawijaya. Jasin memperingatkan, apabila terjadi lagi, komandan Brigade dan komandan Koremnya akan mengambil tindakan. Menurut Jasin, perang dingin antara AD dan KKO mulai berakhir setelah terjadi saling pengertian dengan Panglima Daerah Maritim V Laksamana Laut Suyatno. Perwita tinggi dari dua matra yang berbeda ini sama-sama setuju untuk memenangkan Orde Baru di Jawa Timur. “Kami juga bersepakat untuk menghantam kelompok yang berusaha mengembalikan Sukarno ke posisi semula,” ungkap Jasin dalam memoarnya. Baca juga:  Para Panglima Pendukung Orba Dengan adanya kesepahaman tersebut, keadaan di Surabaya relatif agak tenang. Perbedaan pendapat dapat diselesaikan tanpa harus memakan korban. Jasin pun diakui sebagai salah satu jenderal yang berjasa dalam memancangkan tonggak kekuasaan rezim Orde Baru. Namun, seiring waktu, Jasin bersimpang jalan dengan Soeharto. Bersama kelompok oposisi Petisi 50, Jasin mulai kritis menyoroti penyimpangan kekuasaan dan korupsi yang dilakukan pemerintahan Soeharto. Aktivitas Jasin dalam Petisi 50 menyebabkan hidupnya, termasuk keluarga, dipersulit. Pemerintah mencekal Jasin hingga rezim Orde Baru akhirnya tumbang pada Mei 1998. “Saya yang ikut mendirikan Orde Baru, tapi karena koreksi-koreksi yang saya lakukan terhadap Orde Baru, kemudian saya disebut sebagai ‘pengkhianat’ Orde Baru,” kenang Jasin. Baca juga:  Jasin, Jenderal Penantang Soeharto

  • Jimmy Greaves Sang Predator Gol

    PARA pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea mengelilingi lingkaran tengah lapangan. Sekira 60 ribu penonton juga berdiri dari tempat duduk mereka. Setelah layar besar Stadion White Hart Lane, markas Spurs, menampilkan foto pemain legendaris Jimmy Greaves, gemuruh aplaus penonton mengikuti selama satu menit jelang kick off derby  London di matchday kelima Premier League, Minggu petang (19/9/2021). Penghormatan itu diberikan kedua tim rival sekota itu untuk mengenang Greaves yang wafat pada Minggu paginya di usia 81 tahun. Greaves wafat dalam tidurnya di kediamannya di Essex, Inggris, karena kesehatannya yang terus menurun. Sejak 2015, mendiang Graves menderita stroke yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Chelsea dan Spurs adalah dua klub yang punya sejarah bagi Graves semasa hidupnya. Di Chelsea, Greaves memulai debut profesionalnya dan di Spurs, ia menorehkan namanya sebagai salah satu juru gol tersubur di masanya dengan membukukan 220 gol dalam 321 penampilan. “Jimmy adalah pemain dan pencetak gol luar biasa dan seorang legenda untuk klub dan negara ini. Sungguh mengerikan untuk membayangkan betapa hebatnya dia sebagai pemain. Bagi seseorang seperti saya melihat jumlah golnya dan mungkin suatu hari saya bisa memecahkan rekornya akan sangat hebat,” kata Harry Kane, kapten Spurs yang kini baru mengumpulkan 166 gol, dilansir Sky Sports , Senin (20/9/2021). Baca juga: Obituari: Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller Bukan hanya Chelsea, Spurs, dan segenap insan sepakbola Inggris yang merasa kehilangan. Tim AC Milan di Italia pun turut berduka. Walau hanya semusim, Greaves turut mengantar Rossoneri (julukan AC Milan) memenangi Serie A pada 1961-1962. “Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya mantan pemain kami Jimmy Greaves. Hati dan simpati kami bersama teman, kerabat, dan keluarga tercinta yang tengah berduka. Walau kebersamaan kami tidak panjang, kami akan mengenangnya selamanya. Selamat jalan, Jimmy,” tulis manajemen klub di akun Twitter -nya, @acmilan , Minggu (19/9/2021). Tribute para pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea untuk mendiang Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Tujuh Gol Dilahirkan di Manor Park, Essex, pada 20 Februari 1940, James Peter Greaves merupakan satu dari tiga bersaudara anak pasangan Jim dan Mary Greaves. Jim seorang pegawai kereta bawah tanah dan Mary ibu rumah tangga. Greaves kecil dan keluarganya harus beberapa kali pindah tempat tinggal karena serangan-serangan udara Jerman di masa Perang Dunia II. “Enam pekan setelah saya lahir pesawat-pesawat pembom (Adolf) Hitler mengunjungi jalan-jalan tempat tinggal kami. Lalu kami pindah ke Ivy House Road, Dagenham sampai saya berusia 10 tahun. Jendela rumah kami tetap harus ditutupi kertas menyilang demi menghindari pembom-pembom Jerman,” kenang Greaves dalam otobiografinya, Greavsie. Baca juga: Obituari: Gordon Banks Sang Penyelamat Bagi anak-anak miskin seusia Greaves saat itu, hiburan yang bisa diminati hanya sepakbola dan kriket. Greaves lebih tertarik pada sepakbola karena pamannya mantan pesepakbola walau gagal mencapai prestasi terbaik. “Paman saya pemain yang sangat berbakat dan pernah ditawari trial oleh West Ham United. Sayangnya kemudian ia mengalami cedera yang mengakhiri kariernya. Saya sendiri gila sepakbola. Saya bisa berjam-jam menendang bola tenis di halaman belakang. Bersama teman-teman di Ivy House Road, kami biasa bermain di jalanan dengan bola tenis itu sampai bolanya botak,” imbuhnya. Kolase Jimmy Greaves kecil (Twitter @Neiltruechels) Di usia 10 tahun, Greaves harus pindah ke Huntsman Road di Hainault, sebuah distrik di timur laut London, karena ayahnya dimutasi. Selama lima tahun berikutnya Greaves bermain di level sekolah. Jelang lulus, ayahnya dibantu seorang teman menyiapkan pekerjaan sebagai penyusun huruf mesin cetak di suratkabar The Times buat Greaves . Namun “semesta” punya rencana lain bagi Greaves. Di saat yang sama pada medio 1955 itu, seorang pemandu bakat Chelsea FC, Jimmy Thompson, mendatangi rumahnya. Thompson terkesan dengan bakat Greaves dan ingin menyalurkannya ke tim muda Chelsea. “Jimmy Thompson kemudian mengundang Jimmy (Greaves) dan ayahnya untuk minum teh di Strand Palace Hotel. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Jimmy menandatangani surat-surat kontrak dengan Chelsea walau ayahnya keberatan,” tulis Colin Shindler dalam Four Lions: The Lives and Times of Four Captains of England. Baca juga: Obituari: Jack Charlton yang Acap Bikin Kiper Berang Greaves yang digaji tiga poundsterling per pekan dan tunjangan akomodasi dua pounds tak langsung masuk tim utama asuhan Ted Drake. Drake baru mengetahui talenta Greaves setelah Greaves enam bulan tampil di tim yunior The Blues (julukan Chelsea). Itupun gara-gara Greaves mencetak tujuh gol di sebuah pertandingan di kompetisi South East Counties League. Dalam semusim itu, Greaves punya koleksi 122 gol. Greaves mengenang bagaimana percakapan mereka di sebuah lahan kecil latihan di belakang gawang Stadion Stamford Bridge pada suatu Senin pagi di tengah musim 1956-1957. “Saya dengar kamu mencetak tujuh gol Sabtu lalu, nak,” kata Drake. “Ya, Tuan Drake,” jawab Greaves. “Apa kamu tahu Aku pernah mencetak tujuh gol juga, nak?” “Ya, Tuan Drake. Semua orang tahu tentang tujuh gol Anda di Villa (Aston Villa 7-1 Arsenal, Desember 1953, red. ).” “Mencetak tujuh gol dalam satu laga adalah kejadian yang sangat, sangat langka. Kenanglah, nak. Kenanglah selamanya. Kamu akan selalu punya kenangan terhebat untuk diingat kembali di masa depan,” kata Drake sambil menepuk pundak Greaves. Chelsea jadi klub profesional pertama Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Predator Kotak Penalti Musim 1957-1958 jadi ajang pembuktian Greaves sebagai predator haus gol. Ia dipromosikan ke tim utama Chelsea. Debutnya di First Division (kini Premier League) dilakukan pada 24 Agustus 1957, saat Chelsea bertandang ke White Hart Lane. Dalam laga pembuka liga itu Greaves langsung dipasang jadi starter. Keputusan Drake tak keliru. Greaves meninggalkan kesan positif dengan menyelamatkan Chelsea dari kekalahan lewat golnya yang membuat kedudukan menjadi 1-1. Penyerang muda itu segera mencuri perhatian publik Inggris dan senantiasa dipercaya jadi pemain utama di starting eleven. Baca juga: Kerikil Bernama Nobby Stiles Kendati Chelsea hanya bertengger di posisi 11 klasemen akhir musim, Greaves mulai dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin di kotak penalti dengan torehan 22 gol dari 37 penampilan. Tak ayal di tahun yang sama ia sudah dipanggil ke timnas Inggris. Gol perdananya bersama timnas dicetak dalam debutnya kala Inggris menghadapi Peru dalam tur Amerikanya. Laga pada 17 Mei 1959 itu dimenangkan Peru 4-1. “Saya tak tahu kenapa tapi selalu mudah bagi saya, di mana mencetak gol jadi hal yang natural. Saya tak pernah merasakan tensi, ketegangan urat syaraf, atau tekanan apapun. Saya tak pernah kekurangan kepercayaan diri. Beberapa orang bilang saya sangat dingin di kotak penalti dan mereka mengira pembuluh darah saya dialiri es. Sebenarnya saya tak pernah emosional dan tak seperti pemain lain yang selalu cemas saat gagal mencetak gol. Karena saya yakin peluang akan datang lagi dengan lahirnya gol,” sambung Greaves. Jimmy Greaves (berdiri, ketiga dari kanan) di skuad AC Milan (EDI Milano Card 1961) Greaves bertahan di Chelsea sampai April 1961. Talentanya dilirik klub AC Milan. Torehan 125 gol dari 157 penampilannya di Chelsea membuat Milan memberi mahar 80 ribu pounds kepada Chelsea. Greaves juga diberi bonus penandatanganan kontrak senilai 15 ribu pounds dan gaji 140 pounds per pekan. Namun, Greaves tak kerasan di Italia. Bagi Greaves, Milan ibarat pelarian dari tragedi yang menimpa dirinya dan istrinya, Irene. “Di tahun 1961 putra pertamanya, Jimmy Jr., meninggal karena pneumonia di usia empat bulan. Kematiannya mengantui dirinya dan istrinya Irene sepanjang hidupnya. Jimmy awalnya tak yakin untuk pindah tapi Milan begitu gigih. Pindah ke Italia untuk Jimmy dan Irene seperti cara terbaik untuk keluar dari rasa sakit akibat kematian putra mereka,” ungkap Norm Parkin dalam Legends and Rebels of the Football World. Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi! Greaves hanya bertahan enam bulan berseragam merah-hitam AC Milan. Banyak faktor yang membuatnya tak betah. Selain culture shock dan homesick , dia tak kuat dengan kedisiplinan ekstra ketat yang diterapkan pelatih Nereo Rocco. Rutinitas dan kedisiplinan latihannya sangat ketat dengan hanya sedikit kebebasan pribadi bagi para pemain. Waktu untuk keluarga hanya sedikit. Rocco juga melarang pemainnya merokok dan menenggak minuman keras. Suatu waktu, itu jadi masalah buat Greaves karena ketahuan minum bir. Dia langsung jadi sasaran kritik pedas media-media Italia. “ Calcio (sepakbola, red. ) juga masih asing bagi Greaves. Ia syok dengan cara Rocco selalu membentak pemainnya ibarat instruktur militer. Sistem permainan Rocco kemudian juga tak berhasil, di mana Greaves yang dipasangkan dengan (José) Altafini tak dimainkan jadi penyerang out-and-out sebagaimana mestinya. Greaves selalu diperintahkan bermain lebih ke belakang atau melebar ke kanan-kiri,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History if Italian Soccer. Karier puncak Jimmy Greaves diraih semasa berseragam Spurs ( tottenhamhotspur.com ) Walau sampai akhir musim Greaves menorehkan sembilan gol dari 12 laga, manajemen Milan memutuskan akan menjual Greaves kembali. Chelsea bersedia memulangkannya dengan tawaran mahar 96 ribu pounds. Tetapi manajer Spurs, Bill Nicholson, tak ingin kalah dengan tawaran 99.999 pounds. “Milan awalnya membuka harga 100 ribu pounds. Bill keukeuh di angka 99.999 pounds dengan mengatakan: ‘Saya menolak membuatnya pesepakbola pertama yang bernilai 100 ribu pounds karena akan jadi beban baginya dan beberapa rival kami sudah mengkritik karena tawaran tinggi kami,’” singkap Brian Scovell dalam Bill Nicholson: Football’s Perfectionist . Baca juga: Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali Milan pun berkenan melepasnya ke Nicholson. Dimulailah “romantika” Greaves dengan Spurs. Greaves tetap tajam saat pulang ke Inggris. Di laga debutnya bersama Spurs pada 16 Desember 1961, Greaves mencetak hattrick dalam kemenangan 5-2 atas Blackpool. Sepanjang membela Spurs (1961-1970), Greaves jadi pencetak gol tersubur klub dengan 220 gol dalam 321 laga. Gol-golnya sangat berperan besar dalam kesuksesan Spurs menjuarai FA Cup (1961-1962 dan 1966-1967) dan Piala Winners Eropa (1962-1963). Jimmy Greaves mengoleksi 44 gol dari 57 caps di Timnas Inggris ( englandfootball.com/fifa.com ) Greaves pun kembali jadi andalan pelatih Alf Ramsey di timnas Inggris pada Piala Dunia 1966. Di babak grup, Greaves selalu jadi starter. Namun di laga terakhir grup melawan Prancis, Greaves mengalami cedera tulang kering. Alhasil pada perempatfinal hingga final, posisinya digantikan Geoff Hurst. Padahal saat Inggris sudah memijak semifinal, Greaves mengaku sudah pulih. Namun Ramsey menolak mengganti lagi skuadnya, termasuk Hurst. Maka di balik euforia kemenangan di final, terdapat perasaan getir di dalam batin Greaves. “Saya ikut menari di lapangan bersama semua anggota tim tapi bahkan di momen kebahagiaan ini, jauh di lubuk hati saya merasakan kesedihan. Sepanjang karier saya sebagai pemain, saya selalu memimpikan tampil di final Piala Dunia. Saya melewatkan laga sekali seumur hidup itu dan sakit sekali rasanya,” aku Greaves. Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena Lebih menyakitkannya, Greaves tak kebagian medali pemenang Piala Dunia. Saat  itu FIFA hanya mengalungi medali untuk 11 pemain yang tampil. FA (Induk sepakbola Inggris) baru berhasil mengajukan medali bagi semua pemain, cadangan maupun starter, pada 2009. Greaves yang menorehkan 44 gol selama 57 kali membela timnas akhirnya menerima medali yang sudah menjadi haknya. Greaves gantung sepatu pada 1980. Setelah dilepas Spurs pada 1970, ia wara-wiri ke klub-klub medioker macam West Ham United (1970-1971), Brentwood (1975-1976), Chelmsford City (1976-1977), Barnet (1977-1979), dan Woodford Town (1979-1980). Ia juga makin parah kecanduan alkohol. Saat mulai sembuh dari kecanduannya di pengujung kariernya, Greaves mulai menata hidup. Tak lama setelah gantung sepatu, Greaves belajar jadi kolumnis di suratkabar The Sun dan The Sunday People. Perlahan ia juga mulai merintis karier jadi sportscaster di ITV, dan bertahan sampai 2012. Di tahun itu ia mulai kena stroke ringan dan terserang stroke berat tiga tahun berselang yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Setelah gantung sepatu, Greaves merambah dunia broadcasting ( whufc.com/thefa.com )

  • Melestarikan Keberkahan Masjid Angke

    BANGUNAN temboknya tak lagi kusam. Atapnya pun sudah tak lagi mengalami kebocoran jika terjadi hujan. Sejumlah ukirannya kembali cantik dan jamaah mulai meramaikannya lagi di tiap waktu salat. Beginilah kondisi Masjid Jami Al-Anwar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Angke di perkampungan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pada Kamis, 16 September 2016, Masjid Angke rampung direvitalisasi. Masjid berusia lebih dari dua abad itu direvitalisasi besar-besaran sejak 2017   lewat dua tahap yang diprakarsai mendiang tokoh Lingkar Warisan Kota Tua (Lingwa) Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Sayangnya, sang pemrakarsa tak bisa melihat langsung peresmian revitalisasinya hari ini, Senin (20/9/2021), karena sudah lebih dulu mangkat pada 13 Juni 2021. “Masjid Angke sejak 2017 kondisinya makin memprihatinkan, perlu dipugar. Dan Masjid Angke termasuk salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun tahun 1761 dan masih berfungsi sampai saat ini. Keberadaan masjid ini dianggap ikon yang mencerminkan pluralitas, multikultural, hal inilah yang membangkitkan semangat Ibu Toeti melakukan pemugaran pertama pada Masjid Angke,” ujar Inda Citraninda Noerhadi, ketua Lingwa cum  putri mendiang Prof. Toeti, dalam acara “Mengenang 100 Hari Prof. Dr. Toeti Heraty N-Roosseno dan Peresmian Pemugaran Masjid Angke” via platform Zoom  dan YouTube , Senin (20/9/2021) sore. Baca juga: Al-Noor, Masjid Terjauh dari Kabah Ragam bentuk akulturasi dalam Masjid Angke ( encyclopedia.jakarta-tourism.go.id ) Senada dengan yang diungkapkan Inda, ketua IAAI Dr. Wiwin Djuwita Ramelan mengatakan Masjid Angke sejak 260 tahun lampau sudah jadi masjid yang menggambarkan keharmonisan multietnis di Batavia (kini Jakarta). Itu terlihat dari gaya bangunan serta beragam dekorasi eksterior maupun interiornya yang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa, Bali, Arab, Tionghoa, dan Belanda. “Upaya mempertahankan nilai penting masjid ini sungguh membanggakan. Di tengah-tengah keprihatinan karena pandemi, Ibu Toeti dan kawan-kawan tidak melupakan pembangunan budaya. Kebhinekaan selalu menjadi ciri sikap dan pemikiran Ibu Toeti sebagai budayawan dan masjid ini menyimbolkan kebhinekaan karena jadi tempat berinteraksinya masyarakat Betawi, Melayu, Sunda, Bali, Pontianak, dan etnis lain,” kata Wiwin menimpali. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I) Merunut asal-muasalnya, sebagaimana diungkapkan Doni Swadarma, Yunus Aryanto, dan Ita Puspitasari dalam Rumah Etnik Betawi , Masjid Angke berdiri pada 2 April 1761. Perancangnya, arsitek Tionghoa Syeikh Liong Tan. Pembangunan masjid berukuran 15 x 15 meter di atas lahan seluas 400 meter persegi itu diongkosi perempuan Tionghoa bernama Nyonya Tan Nio. Nyonya Tan masih kerabat Ong Tien Nio, istri Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. “Arsitektur masjid memiliki perpaduan corak unsur Jawa dan Tionghoa karena pendirinya memang berlatarbelakang dua etnis tersebut. Terlihat dari pintu masuk dan ujung atap yang mirip kelenteng. Selain itu, desain atap tumpang susun Masjid Angke mirip Masjid Demak di Jawa Tengah,” ungkap Doni dkk. Masjid Angke di tahun 1921 (Tropenmuseum) Bentuk gapura di sisi utaranya, berbentuk gapura belah, dan gapura sisi selatan berbentuk huruf “D” terinspirasi dari bentuk bangunan-bangunan kuno di Banten dan Cirebon. Adapun nuansa Balinya sangat terasa pada bentuk ujung atap yang mirip punggel rumah Bali. “Di halaman belakang masjid terdapat pula makam Syekh Syarif Hamid al-Qadri dari Kesultanan Pontianak yang pada tahun 1800-an dibuang ke Batavia karena memberontak kepada Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, di kompleks masjid ini para pemudanya sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dalam mengoordinasi kegiatan menentang Belanda. Melalui khotbah-khotbahnya, para ulama juga melakukan provokasi untuk menentang Belanda,” tulis Abdul Baqir Zein dalam Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian II – Habis) Oleh karenanya, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana amat mensyukuri masjid yang punya nilai sejarah itu selesai dipugar. Pemugaran itu menjadi nilai lebih bagi masyarakat ibukota untuk kemudian bisa melakukan wisata sejarah dan religi. “Melakukan revitalisasi cagar budaya menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mengangkat sebuah peradaban. Apa yang dikerjakan Ibu Toeti dan kawan-kawan Lingwa sebagai bukti bukan hanya membangun secara fisik tapi juga membangun peradaban, membangun kembali bangunan cagar budaya dan memuliakannya. Ini menambah kontribusi terhadap wawasan kebangsaan, keilmuan untuk masyarakat dan generasi yang akan datang,” tutur Iwan. Peresmian pemugaran Masjid Angke yang diikuti shalat berjamaah diimami KH Nasaruddin Umar (Tangkapan Layar Youtube Cemara 6 Galeri) Peresmian usai revitalasasi itu dilakukan imam besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dengan memotong pita dan mendirikan shalat. KH Nasaruddin dipilih karena merupakan satu dari beberapa wasiat mendiang Prof. Toeti terkait pemugaran masjid. “Alhamdulillah sore ini kita jadi saksi kebaikan seseorang yang takkan bisa kita lupakan, ibunda, guru, dosen, senior kita, Prof. Toeti. Almarhumah memiliki segudang prestasi walau ia seorang perempuan. Ini satu bukti bahwa perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapapun. Tidak pernah terbayang seorang Profesor Toeti yang sehari-hari saya kenal, saya sangat kagum logika berpikirnya, filsafatnya, menggagas renovasi masjid yang sudah dibangun 200 tahun lebih,” ujar KH. Nasaruddin dalam sambutannya. Baca juga: Cerita Tercecer dari Masjid al-Makmur Tanah Abang Nasaruddin kembali teringat akan awal-mula sejarah masjidnya dibangun atas bantuan pembiayaan seorang Tionghoa yang juga perempuan, dan sekarang dipugar atas prakarsa mendiang Profesor Toeti. “Masjid tua itu tepat berkumpulnya para malaikat. Bukan di masjid megah, mahal, luas, besar. Tetapi semakin tua sebuah masjid, semakin berkah masjid itu. Semakin lama sebuah masjid ditempati sujud, maka lorong rahasia menuju langit semakin terang. Ada juga hadits nabi menyebutkan bahwa tempat yang paling sering digunakan memanggil nama Allah SWT akan kelihatan para penghuni langit. Para malaikat sangat bercahaya seperti bintang-bintang kejora,” tambah Nasaruddin. Almarhumah Hj. Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno ( kemendikbud.go.id ) Oleh karenanya, upaya Prof. Toeti sebagai pemrakarsa pemugaran masjid tua Angke tak hanya jadi pembuka jalan amal bagi mendiang tetapi juga sebagai amalan wakaf. Nasaruddin berharap, pengurus, pemerintah provinsi, serta masyarakat bisa menjaga masjid yang baru dipugar itu untuk melestarikan keberkahan bagi semua. “Beliau dengan kesibukannya masih sepat memikirkan gagasan pelestarian masjid bersejarah. Saya teringat dalam sebuah ayat, ‘Janganlah kalian mengira orang yang telah mewakafkan dirinya untuk jalan Allah itu adalah wafat. Sesungguhnya dia akan tetap hidup dan akan tetap mendapatkan pahala.’ Alhamdulillah masjid tua yang kita bangun atas prakarsa almarhumah jadi tiket almarhumah meraih istana yang sudah dijanjikan Allah SWT. Tantangan dan tugas kita kemudian bagaimana merawat, melestarikan masjid bersejarah ini,” tandasnya. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page