top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Dubes AS Dipaksa Makan Durian

    DUTA Besar Amerika Serikat (AS) Marshall Green mendapat surat kepercayaan dari Presiden Sukarno pada 26 Juli 1965. Green menggantikan Howard Jones yang sudah sejak 1964 ingin pensiun. Berbeda dari pendahulunya yang bisa bersahabat dengan Sukarno, Green justru sebaliknya. Tahun 1965 menjadi titik didih hubungan Indonesia dan (AS). Sukarno makin mesra dengan negara-negara komunis seperti Republik Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Vietnam, atau Korea Utara dan makin anti-Amerika. Sikap Sukarno terhadap AS makin jelas pada pidato 17 Agustus 1965 yang berjudul “Tahun Berdikari”. Dalam pidatonya, Sukarno menyinggung tentang nasionalisasi modal asing termasuk milik AS. Sukarno juga menantang AS terkait dukungannya terhadap Malaysia. “Apakah mereka akan menghentikan sokongan mereka terhadap ‘Malaysia’ dan bersahabat kembali dengan Indonesia, ataukah sebaliknya tetap menyokong ‘Malaysia’ dan memusuhi RI –ini adalah persoalan yang terpenting dewasa ini dalam relasi RI-AS,” kata Sukarno. Ia menambahkan, “Baiklah pemerintah AS mempertimbangkan betul-betul hal ini, karena akhirnya pada kita ada hak penuh –sebagai Republik yang berdaulat– untuk menasionalisasi, atau bahkan mengkonfiskasi modal asing manapun yang memusuhi Republik Indonesia.” Kedutaan AS kerapkali jadi bulan-bulanan demontrasi massa sejak era akhir Jones dan berlanjut hingga era Green. Duta besar AS di Indonesiapun tak luput kena getahnya. Dalam bukunya Dari Sukarno ke Soeharto, Green merasa tertekan sebagai duta besar AS. Baru beberapa minggu menjabat saja, Keduataan dan Konsulat AS di Medan dan Surabaya sudah menjadi sasaran demonstrasi. Pada 30 Juli, konsulat AS di Medan diserang massa hingga gardu dan pagarnya roboh serta kaca-kaca jendelanya pecah. Sementara di Surabaya, konsulat AS diserbu lebih dari 3000 orang pada 7 Agustus. “Insiden terakhir ini amat menggangu karena saya tidak dapat menghubungi seorang pun pejabat Indonesia yang dapat mengeluarkan para demonstran dari konsulat. Tetapi akhirnya saya berhasil menemui Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh pada tanggal 11 Agustus dan Menteri Luar Negeri Subandrio pada hari berikutnya. Selanjutnya para demonstran yang menduduki Konsulat dapat diusir,” ungkap Green. Meski mendapat banyak tekanan dan dianjurkan untuk pulang oleh media AS, Green keukeuh  bertahan. Menurutnya, kedudukan Kedutaan Besar AS akan makin lemah dalam mewakili kepentingan AS dan warganya. Sayangnya, Green tak menyangka dia akan terus “dikerjai” Sukarno. Yang pertama ialah masalah Majalah Playboy. Menurut keterangan Green, Sukarno pernah meminta majalah dewasa itu karena Sukarno mengaku menyukai ulasan film dan sandiwaranya. Green memenuhi permintaan Sukarno dengan meminta kiriman Playboy  pada istrinya di Washington. Namun, Green belakangan tak memberikannya pada Sukarno. Ia berprasangka bahwa Sukarno barangkali akan menjebaknya dengan majalah itu. Ia membayangkan pada satu pertemuan umum, Sukarno akan menuduhnya menyogok menggunakan Playboy . Akhirnya majalah itupun disimpannya rapat-rapat. Kali ini Green benar-benar dikerjai Sukarno. Pada 28 September 1965, Green diundang dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Universitas Indonesia Ciputat. Selain Green, diundang pula Duta Besar Meksiko Albaran Lopez. Mereka duduk di atas panggung. Kala itu, Green sadar bahwa Sukarno akan melakukan apa yang disebut Green sebagai “siasat” untuk mempermalukannya. Sukarno mengambil durian dan membawanya ke atas panggung. Green jelas sangat membenci durian. Menurutnya, durian memiliki bau seperti keju busuk dan sangat menjijikan. Sayangnya, Sukarno telah membawakan buah itu di hadapannya dan ia harus memakannya. “Sukarno memimpin paduan suara mahasiswa ‘makan, makan,’ lalu saya terpaksa menelan makanan yang menjijikan itu demi kehormatan saya. Rekan saya dari Meksiko terhindar dari cobaan berat ini. Inilah pertemuan terakhir saya dengan Sukarno. Saat itu suasana terasa hampir meledak,” kata Green. Kejadian itu menjadi pengalaman buruk terakhir Green di Indonesia. Dua hari setelah itu, Peristiwa G30S meletus. Kekuasaan Sukarno terus melemah dan sebaliknya, posisi AS menguat seiring berdirinya rezim Orde Baru. Green terus menjabat sebagai duta besar hingga 1969.*

  • Hamas Senjata Makan Tuan Israel

    BERMULA dari Gerbang Damaskus, krisis Palestina-Israel lagi-lagi membara. Pada permulaan bulan suci Ramadhan, 12 April 2021, polisi Israel memblokade Gerbang Damaskus yang jadi akses warga Palestina menuju kota tua Yerusalem. Padahal, umat muslim punya tradisi berkumpul di Yerusalem setiap awal Ramadhan. Blokade itu memicu perlawanan dan membuahkan bentrokan. Keadaan makin parah karena dikompori oleh kemunculan video seorang pemuda Palestina menampar seorang Yahudi yang viral di TikTok pada 15 April. Video itu membuat aparat keamanan Israel membatasi warga muslim Palestina yang hendak shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa keesokan harinya. Bentrokan demi bentrokan antara warga Palestina dengan warga Israel yang dibantu polisi terus terjadi di Gerbang Damaskus, kota Jaffa, dan Yerusalem Timur setelah itu. Militer Israel (IDF) melepaskan sejumlah roket ke posisi-posisi Hamas pada 23 April. Tak ayal, Hamas pun membalasnya dengan menembakkan 36 roket keesokan harinya. Situasi yang makin genting bagi warga sipil Palestina hingga lepas Hari Raya Idul Fitri membuat sejumlah pemimpin dunia melayangkan kecaman. Pasalnya belum ada tanda-tanda militer Israel akan menurunkan status kesiagaannya. Baca juga: Prahara Yerusalem Sejak 1948 Serangan roket-roket Hamas ke wilayah Israel (kiri) berbalas serangan udara ke wilayah Palestina di Jalur Gaza ( fdd.org/un/org ) Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu malah mengindikasikan akan menggelar serangan lebih masif. Dia tak peduli ratusan warga Palestina di Jalur Gaza maupun Tepi Barat menjadi korban. “Ini belum berakhir. Kami akan melakukan segalanya untuk memulihkan keamanan di kota-kota dan bagi rakyat kami,” ujar Netanyahu, dikutip NPR , Jumat (14/5/2021). Netanyahu ingin menghancurkan semua pusat kekuatan Hamas yang menembakkan roketnya ke Israel. Hamas dengan sayap militernya Brigade Izz ad-Din al-Qassam selalu jadi target IDF sepanjang konflik Israel-Palestina sejak 1987. Padahal, dalam proses kelahiran organisasi perlawanan yang dicap militan teroris oleh beberapa negara itu ada tangan Israel yang ikut membidani. Organisasi Amal Jadi Militan Bersenjata Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah (Pergerakan Perlawanan Islam) atau Hamas mulanya merupakan organisasi onderbouw Ikhwanul Muslimin (IM) yang berdiri di Mesir pada 1928. Pada 1973, IM membuka cabang organisasinya, Mujama al-Islamiya, di Jalur Gaza sebagai wadah amal dan sosial untuk membantu warga Palestina yang terdampak Perang Arab-Israel III (5-10 Juni 1967). Mujama al-Islamiya di Gaza dipimpin Sheikh Ahmed Yassin. Organisasi itu diakui dan bahkan disokong dana oleh pemerintah Israel sejak 1979 demi kepentingan menjaga ketertiban di Yerusalem. Israel awalnya ingin menjadikan Mujama al-Islamiya sebagai kepanjangan tangannya dalam pertarungan politik melawan kelompok nasionalis Fatah dengan Palestine Liberation Organization (PLO)-nya. “Di masa itu PLO pimpinan Yaser Arafat adalah musuh Israel nomor satu. Untuk meredam kekuatan PLO, Tel Aviv mengizinkan Yassin mengembangkan Mujama agar memecah kekuatan perjuangan pimpinan Arafat tersebut. Yang kemudian dijadikan teladan adalah Ikhwanul Muslimin, gerakan sosial yang didirikan Hasan al-Banna di Mesir pada 1928. Mujama ingin menjadi organisasi sosial dan menampilkan wajah Islam yang memikat; penuh kasih dan menebar persaudaraan,” tulis Nando Baskara dalam Gerilyawan-Gerilyawan Militan Islam. Baca juga: Sumbangsih Pertama Indonesia untuk Palestina Sheikh Ahmed Ismail Hassan Yassin (kiri) yang mendirikan Al-Mujama al-Islamiyah ( istanleycohen.org ) Dengan sumber dana memanfaatkan zakat dan wakaf dari sesama muslim, serta sokongan Israel melalui Gubernur Gaza Brigjen Yitzhak Segev, Mujama al-Islamiya membuka sekolah-sekolah, menggelar program-program beasiswa, serta membangun sejumlah perpustakaan dan masjid. “Pemerintah Israel memberikan saya pendanaan dan pemerintahan militer memberikannya kepada masjid-masjid,” kenang Brigjen Segev, dikutip David Pratt dalam Intifada: Palestine and Israel. Baca juga: Kisah Mossad Mengevakuasi Yahudi Afrika Badan Intelijen Israel Mossad memanfaatkan pengiriman-pengiriman dana itu dengan menyusup ke internal Mujama guna menggali informasi tentang para tokoh PLO di seantero Gaza. Mossad melakoninya dengan dibantu seorang mantan anggota senior CIA (intelijen Amerika Serikat). “Tidak diragukan lagi bahwa selama beberapa periode tertentu pemerintah Israel merasakan manfaat kelompok fundamentalis Islam (Mujama) itu sebagai fenomena menyehatkan dan sebagai counter bagi PLO. Rencana kami (intelijen Israel) adalah mencoba membelah secara langsung dukungan yang kuat terhadap PLO yang sekuler dengan menggunakan paham agama,” kata Moshe Arens (menteri pertahanan Israel periode 1983-1984 dan 1990-1992) dalam In Defense of Israel: A Memoir of a Political Life. Pengaruh pergerakan Sheikh Yassin yang turut mendapat simpati Ayatollah Ali Khamenei dari Iran ( khamenei.ir ) Makin lama pengikut Sheikh Yassin makin militan saat bentrok dengan kelompok Fatah. Tak ayal para aktivis Mujama pun memerlukan senjata. Itu lalu diwujudkan dengan membeli senjata menggunakan pendanaan Israel sekaligus membentuk milisi Al-Majihadoun al-Falestinioun. Pengadaan senjata itupun tercium militer Israel yang kemudian menciduk Sheikh Yassin. “Al-Majihadoun al-Falestinioun didirikan Sheikh Ahmad Yassin pada 1982. Kelompok ini nyatanya memperoleh persenjataan dan merencanakan perlawanan bersenjata, baik terhadap saingan Palestina (Fatah) dan Israel. Tetapi aktivitasnya diketahui (Israel) pada 1984 dan Yassin dihukum penjara 13 tahun walau kemudian dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran tahanan dalam Perjanjian Jibril pada Mei 1985,” ungkap Anthony H. Cordesman dalam Perilous Prospects: The Peace Process and the Arab-Israeli Military Balance. Penyesalan Israel Tetapi semuanya berubah Pada 1987, Intifada Pertama pecah (8 Desember 1987-13 September 1993). Pemberontakan besar-besaran warga Palestina terhadap otoritas Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza itu bermula dari peristiwa tabrakan truk IDF dengan sebuah mobil yang menewaskan empat warga Palestina di Kamp Pengungsian Jabalia. Walau pihak IDF menyatakan kecelakaan itu bukan kesengajaan, peristiwa itu sudah kadung membakar amarah warga Palestina yang membunuhi orang-orang Yahudi di Gaza. Bentrokan terjadi di mana warga melempari aparat IDF dengan batu dan bom Molotov. Kelompok Fatah pun bereaksi dan untuk pertamakali kelompok nasionalis itu berdiri di satu pihak dengan para pengikut Sheikh Yassin. Bersamaan dengan pecahnya Intifada Pertama, Sheikh Yassin dan enam petinggi senior Mujama mendirikan Harakat al-Muqawamah al-Islamiyah (Hamas) sebagai organisasi politik dan militer. Para milisinya terdiri dari para anggota Al-Majihadoun yang berdiri lima tahun sebelumnya. Baca juga: Enampuluh Tahun KAA Membahas Palestina Pengaruh Sheikh Yassin dengan Hamasnya makin menarik dukungan lebih besar baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat. Kepopulerannya kian menanjak mengingat rivalnya, Yasser Arafat dari Fatah, lebih sering bermarkas di Tunisia setelah serangkaian upaya pembunuhan pada 1985. “Kelompok (Hamas) itu mulai menonjol. Berubah dari kelompok yang mengedepankan dakwah menjadi kelompok yang paling siap dengan senjata dan bahan-bahan peledak. Hamas juga membentuk sistem kontraintelijen di mana para kolaborator Israel dilenyapkan,” sambung Pratt. Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas ( mfa.gov.il/fdd.org ) Hamas dibentuk Sheikh Yassin dan keenam rekannya dengan visi-misi membebaskan Palestina dari pendudukan Israel dan menolak segala bentuk kompromi sebagaimana Fatah. Hamas menegaskannya lewat Piagam Hamas yang ditandatangani para pemimpinnya pada 18 Agustus 1988. Seiring makin besarnya pengaruh Hamas, dibentuk pula sayap khusus militer, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, pada 1993 yang mengambil nama Imam besar Izz ad-Din bin Muhammad al-Qassam, imam besar dan pemimpin militan jihad anti-Zionis di era 1920-an Al-Kaff al-Aswad (Tangan Hitam). Baca juga: Sukarno dan Palestina Sebagai akibat dari aksi-aksi terornya terhadap warga sipil Israel sejak 1993, Hamas dan Brigade Al-Qassam kemudian jadi target utama Israel dalam Intifada Kedua (28 September 2000-8 Februari 2005). Gigihnya perlawanan Brigade Al-Qassam Hamas menarik simpati kelompok anti-Israel lain seperti Hezbollah di Lebanon, militer Iran dan bahkan Korea Utara. Dari Hezbollah dan Iranlah para anggota Hamas mendapat pelatihan militer di Suriah dan Iran. Latihan itu termasuk merakit bom dan membuat roket-roket secara mandiri. “Sayap militer Hamaslah yang mengklaim bertanggungjawab atas pemboman bus di Afula dan Hadera pada 6 April 1994 yang menewaskan 14 warga Israel dan melukai 75 lainnya. Mereka pula yang bertanggungjawab atas peculikan kopral Israel, Nachson Wachsman, penembakan warga di jalan-jalan Yerusalem pada 9 Oktober, bom bunuh diri dalam bus di Tel Aviv 19 Oktober yang menewaskan 22 warga Israel,” tulis Cordesman. Sejak berdirinya 8 Desember 1987, kini Hamas menjadi organisasi politik terbesar dan menguasai Parlemen Palestina ( ict.org.il ) Hamas jadi senjata makan tuan bagi Israel. Ia jadi musuh nomor satu Israel menggantikan Fatah dengan PLO-nya. “Hamas, sebagai penyesalan terbesar saya, adalah ciptaan Israel. Sebuah kesalahan besar yang bodoh. Alih-alih mencoba membatasi dan mengekang para aktivis Islamis pada permulaannya, selama bertahun-tahun Israel menoleransi dan, dalam beberapa kasus, mendorong mereka sebagai pengimbang kelompok nasionalis sekuler (Fatah),” singkap Avner Cohen, sejarawan dan eks-pejabat urusan agama Israel, kepada The Wall Street Journal , 24 Januari 2009. Pemerintah Israel sempat membantah bahwa mereka mendanai dan melahirkan Hamas. Namun fakta historis berkata lain. Sejumlah sejarawan, jurnalis, dan eks-pejabat pemerintahan Israel memperkuat klaim Cohen. “Ketika saya melihat ke belakang pada rantai kejadiannya, saya pikir kita (Israel) memang melakukan kesalahan. Tetapi di saat itu belum satu pun orang yang menyadari hasilnya seperti ini,” ujar David Hacham, staf ahli urusan politik Arab di IDF. Baca juga: Darah dan Air Mata Palestina

  • Secuil Pengalaman M. Jasin Selama Perang Kemerdekaan

    PERANG Kemerdekaan meninggalkan beragam kesan bagi banyak rakyat Indonesia yang terlibat di dalamnya, termasuk M. Jasin (kelak pada 1970-1973 menjadi Wakasad). Pada masa itulah dia melangsungkan pernikahan dengan Siti Abesanti, tepatnya pada 31 Maret 1946. Pada masa itu pula dia mengalami berbagai pengalaman dari yang membahayakan hingga yang lucu-konyol. Kejadian paling mengesankan bagi Jasin terjadi pada Agustus 1948, sekira sebulan sebelum Madiun Affair. Seperti biasa, Jasin pulang pada Kamis malam ke rumahnya di kota Madiun dari tempat tugasnya di Maospati. Saat itu Jasin bertugas di batalyon 40 di Maospati dan rangkap jabatan. “Sejak 1947 sampai 1948 Kapten M. Jasin diangkat menjadi Kepala Staf III Resimen 31 Divisi 5. Setelah terbentuknya Divisi-divisi baru tersebut, M. Jasin diangkat menjadi Kepala Staf Mobile Batalyon 40 di bawah Divisi I, yaitu sampai bulan Desember 1948. Pada waktu yang bersamaan ia merangkap sebagai pejabat Komandan Batalyon tersebut,” tulis Dinas Sejarah Militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dalam  Sejarah TNI-AD, 1945-1973: Riwayat Hidup Singkat Pimpinan Nasional Indonesia Angkatan Darat. Saat sedang berkumpul di rumahnya itulah Jasin mengalami kejadian mengerikan. Sekira pukul tiga dini hari, ketika sedang tidur bersama istri dan anak sulungnya yang baru satu tahun lebih, rumah mereka didatangi sepasukan tentara yang berafiliasi dengan FDR/PKI. Begitu pakaian dinas Jasin terlihat mereka di tempat penggantungan pakaian, peluru langsung dimuntahkan ke arah Jasin. Secara refleks, Jasin langsung melarikan diri ke kebun singkong halaman belakang rumahnya. Dia selamat karena peluru hanya mengenai sepatunya. “Jenis peluru yang lazim dibuat sendiri waktu itu, mutunya jelek,” kata Jasin sebagaimana dikutip Nurinwa KS dkk. dalam otobiografi Jasin berjudul Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto. Jasin bingung. Para penggedor rumahnya tetap berada di dalam rumah ketika mendapati buruannya lari. Maka Jasin bisa terus bersembunyi di kebun. “Anehnya gerombolan itu tidak berusaha mengejar dan mencari saya. Rupanya mereka lebih tertarik pada harta benda yang ada di rumah saya,” sambung Jasin. Ketika gerombolan itu telah pergi sekira subuh, Jasin melihat istrinya yang menggendong putra sulungnya sedang mencarinya di kebun belakang. Seketika itu Jasin keluar dari persembunyiannya karena keadaan dianggap telah aman. Mereka lalu kembali ke rumah yang keadaannya sudah berantakan. Tak lama setelah itu, usai Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua, Jasin kembali mengalami peristiwa nahas.  Anak sulungnya diculik pasukan Belanda yang mencarinya. Anak itu direbut dari gendongan ibunya karena sang ibu tak mau menunjukkan di mana Jasin berada. Beruntung anak itu bisa ditemukan keesokan paginya oleh salah seorang penduduk yang kemudian mengantarkannya ke rumah carik Widodaren, tempat istri Jasin mengungsi. Namun, pengalaman Jasin selama Perang Kemerdekaan ada pula yang berujung tawa. Itu terjadi di suatu hari di bulan Agustus 1947. Saat itu Letnan Satu Jasin sedang inspeksi lapangan ke batalyon resimennya yang dilibatkan di front Surabaya Barat. Dia ditemani kepala Seksi Intel Resimen 31 Kapten Soetarto Sigit dan Kopral Saimin. Dalam upaya mendekati sebuah kompi di barat Desa Kedamean, mereka beristirahat di sebuah warung. Ketika sedang santai di warung itulah mereka mendengar deru pesawat tempur dan gemuruh kendaraan lapis baja Belanda. “Dari sumber-sumber Belanda yang kemudian berhasil kami gali, ternyata bahwa Pak Jasin dan saya terlibat dalam operasi Trackman oleh Brigade Marinier dengan kekuatan 1 Batalyon Infantri ditambah 1 Kie tank, 1 Kie Amtrack, 2 Batalyon Artilerie, dan 4 Grup pesawat-pesawat tempur,” kata Soetarto dalam kesaksiannya di otobiografi Jasin yang ditulis Nurinwa KS dkk. Kedatangan pasukan Belanda sontak membuat Jasin dan dua rekannya panik. Jasin dan Soetarto segera menyeberang jalan dan bersembunyi di kebun singkong. Sementara, Saimin tertinggal di warung. Dari kejauhan, Jasin dan Soetarto terus melihat warung tempatnya makan sambil terus cemas mengharapkan keselamatan Saimin. Keduanya terus berharap agar iring-iringan pasukan Belanda berjalan terus melewati warung itu. Harapan mereka kandas. Iring-iringan berhenti tepat di depan warung. Beberapa prajurit Belanda kemudian masuk ke dalam warung. Jasin dan Soetarto hanya bisa pasrah menunggu suara letusan senjata menghabisi Saimin. Namun, suara yang ditunggu-tunggu tak kunjung terdengar. Beberapa saat kemudian iring-iringan justru kembali bergerak. Ketika iring-iringan sudah jauh, Jasin dan Soetarto segera menuju warung. Hampir bersamaan dengan keduanya mencapai warung, Saimin muncul dengan wajah pusat. “Bagaimana kamu bisa selamat?” kata Jasin kepada Saimin. “Maaf Kapten, saya tidak sempat lari. Ketika Belanda itu masuk warung, saya bersembunyi di dalam kain perempuan pemilik warung tersebut, yang terus diam dan tidak bergerak ketika Belanda menanyainya dan memeriksa warung. Saya selamat bersembunyi di selangkang perempuan tadi!” jawab Saimin.*

  • Tentara Rusia di Angkatan Laut Indonesia

    SELASA, 16 JANUARI 1962. Sebuah siaran dari Radio Australia menyampaikan kabar mengejutkan bagi dunia petang itu. Disebutkan pada Senin malam (15 Januari 1962), sebuah kapal cepat torpedo milik Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) berhasil dihancurkan oleh kapal perang Marinir Belanda di Laut Aru, Papua. Melansir pernyataan DPA (Kantor Berita Belanda), sang penyiar menginformasikan bahwa dalam pertempuran laut itu, Marinir Belanda berhasil menawan sekira 50 prajurit Indonesia. “Kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal Indonesia yang sedang bergerak di perairan territorial Belanda, di arah selatan pantai Papua Barat,” demikian laporan Radio Australia. Berita tersebut ditanggapi langsung oleh salah satu sekutu Indonesia, Uni Soviet. Dalam suatu pernyataan resminya, pemerintah negeri Beruang Merah itu mengecam aksi Belanda tersebut sebagai bentuk provokasi dan mengingatkan potensi bahaya perluasan konflik. “Pada 9 Februari 1962, pemerintah Uni Soviet kembali menegaskan dukungannya terhadap posisi Indonesia,” ungkap sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam  Тайные войны СССР  (Perang Rahasia Uni Soviet). Jauh sebelum terjadinya Insiden Laut Aru, sejatinya Uni Soviet diam-diam telah mengirimkan enam kapal selam jenis Whiskey (W) dari pangkalan angkatan laut mereka di Vladivostok. Pertengahan November 1961, keenam kapal selam itu sudah berada di Pelabuhan Surabaya. “Namun baru pada Maret 1962, bendera Uni Soviet diturunkan dan digantikan oleh bendera Indonesia. Maka sejak itu resmilah sudah kapal-kapal selam tersebut menjadi milik Angkatan Laut Indonesia,” ungkap Okorokov. Selain kapal selam kelas W, sebelumnya Uni Soviet telah menghibahkan Ordzhonikidze. Kapal penjelajah yang memiliki nomor lambung 310 itu kemudian diganti namanya menjadi KRI Irian oleh ALRI. Kendati sudah menjadi milik Indonesia, namun saat itu sebagian besar awaknya masih berkebangsaan Uni Soviet. “Para sukarelawan Uni Soviet di kapal-kapal perang Indonesia itu dipimpin oleh seorang perwira tinggi bernama Laksamana Muda Grigory Chernobay,” tulis Okorokov. Lima bulan kemudian, militer Indonesia merencakan untuk menginvasi Papua Barat lewat Operasi Jayawijaya. Sebagai bentuk dukungan kongkret, Uni Soviet lantas mengirimkan kembali 6 kapal selam jenis W-nya ke Surabaya, yang diawaki langsung oleh orang-orang Rusia. Sumber Uni Sovyet menyebut armada itu sebagai bagian dari Brigade ke-50 pimpinan Laksamana Muda Anatoly Rulyuka. Begitu sampai di Surabaya, para sukarelawan Uni Soviet itu langsung menurunkan bendera merah-nya dan menggantinya dengan bendera merah-putih. Tak lupa mereka juga menanggalkan seragam Angkatan Laut Uni Soviet lalu secepatnya mengenakan seragam ALRI tanpa pangkat dan lencana apapun. Namun penuturan Okorokov itu agak diluruskan oleh Laskmana Muda (Purn) I Nyoman Suharta, eks anggota Korps Hiu Kencana yang saat itu masih berpangkat letnan satu. Menurut Suharta, para sukarelawan Uni Soviet tersebut sama sekali tidak diberikan seragam ALRI. “Yang saya ingat, mereka berseragam krem untuk bagian atas (sejenis jaket) dan celana abu-abu. Tapi itu jelas bukan seragam ALRI,” ungkapnya. Dua belas kapal selam dan KRI Irian lantas dikirim ke Pelabuhan Bitung (Sulawesi Utara) untuk bersiap menghadapi konfrontasi dengan Belanda. Selama berpangkalan di sana, mereka kerap melakukan patroli di sekitar wilayah pantai Irian. Soal kehadiran dan peran penting orang-orang Rusia itu diakui oleh F.X. Soeyatno. Bahkan tidak sekadar sebagai instruktur, mereka pun terlibat aktif dalam patroli. Alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu bersaksi jika mereka merupakan prajurit bawah laut yang tangguh. “Saya pernah bertugas bersama mereka mengawasi perairan sepanjang Pantai Utara Irian Barat,” ungkap eks awak kapal selam RI Tjudamani tersebut. Kendati hubungan antara prajurit-prajurit AL Uni Soviet dengan prajurit-prajurit ALRI diakui Soeyatno berlangsung cukup baik, namun ada saja muncul masalah. Menurut Okorokov, para sukarelawan Uni Soviet mengeluhkan data intelijen yang dipasok oleh orang-orang Indonesia tidak valid, kacau dan minim informasi. Bahkan lebih dari itu, diam-diam para sukarelawan mencurigai adanya “pengkhianatan”. Indikasi-nya: kapal-kapal selam dari Armada ke-7 Amerika Serikat selalu setiap saat membuntuti pergerakan mereka. Dalam situasi tempur, kondisi itu jelas mengarah kepada suatu kekalahan, kata Okorokov. Situasi kritis itu berlangsung hampir selama dua minggu. Para awak Rusia sudah mempersiapkan diri  secara fisik dan mental untuk terlibat dalam suatu perang tanpa batas dengan Belanda yang secara nyata didukung juga oleh Amerika Serikat. Untunglah, kesepakatan damai segera tercipta dan secepatnya mereka pun ditarik kembali ke Surabaya. “Andaikan Belanda ngeyel  dan perang pecah di Irian, tentara Rusia itu akan dicatat dalam sejarah sebagai tentara Blok Timur pertama yang langsung berhadapan dengan Belanda yang mewakili Blok Barat,” ungkap Kolonel (Purn) Arifin Rosadi, salah seorang anggota Korps Hiu Kencana yang sempat mendampingi para sukarelawan Uni Soviet tersebut. Menurut data yang dilansir oleh Okorokov dalam bukunya, selama tahun 1962, Uni Soviet telah menempatkan 1.740 tentaranya di angkatan bersenjata Indonesia (termasuk ALRI). Jumlah itu meliputi tenaga instruktur, penasehat militer dan sukarelawan tempur.*

  • Ketika Nicolaas Jouwe Bertemu Presiden Kennedy

    AMERIKA Serikat (AS) terlibat dalam Perjanjian New York yang menyepakati penyerahan Papua kepada Indonesia sekaligus mengakhiri kekuasaan Belanda. Setelah urusan perjanjian itu selesai, Presiden AS John F. Kennedy hendak bertemu dengan wakil-wakil dari Papua. Ada tiga kandidat yang direkomendasikan. Mereka antara lain Markus Kaisiepo, Nicolaas Jouwe, dan Herman Womsiwor. Markus Kaisiepo, politisi partai Gerakan Persatuan New Guinea (GPNG), adalah yang paling senior. Sementara itu, Herman Womsiwor, pemuda dari desa Numfor, Biak merupakan yang paling muda. Pada Perang Dunia II, Womsiwor diperbantukan sebagai tentara Sekutu berpangkat sersan. Namun, Kennedy menjatuhkan pilihan kepada Nicolaas Jouwe. Selain sebagai penasihat bagi delegasi Belanda, Jouwe merangkap wakil presiden Dewan Papua yang dipersiapkan memimpin negara Papua kelak.

  • Bersahabat dan Bertualang dengan Landak Super

    PADA suatu hari di sebuah planet nun jauh dari bumi, Sonic (di- voice over Ben Schwartz) si landak antropomorfik begitu lincah berlarian dengan kecepatan supersonik yang jadi kekuatannya. Dia bermain-main sendiri.Padahal, Longclaw (di- voice over Donna Jay Fulks) si burung hantu antropomorfik, mentornya, sudah memperingatkan agar tak menarik perhatian banyak pihak yang jahat. Benar saja. Kelakuan Sonic yang tak bisa diam membuat kawanan echidna ( landak semut ) mengejarnya. Demi bisa menyelamatkan Sonic, Longclaw memberinya sekantong cincin emas ajaib yang bisa jadi portal menuju planet lain: bumi. Sonic pun bisa hidup tenang di sarangnya di bumi, tepatnya di Green Hills, Montana, Amerika Serikat. Saban hari dan malam Sonic acap keluyuran tanpa terlihat manusia berbekal kekuatan berlari secepat kilat. Namunlama-kelamaan Sonic merasa kesepian. Ia sangat mendambakan teman. Saking pilu dan tak bisa menahan emosinya, secara tak sadar Sonic mengempaskan gelombang elektromagnetnya hingga memadamkan listrik seantero Green Hills. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Kementerian Pertahanan Amerika mengira negeri mereka diserang dengan senjata EMP. Pemerintah kemudian mempercayakan ilmuwan eksentrik Dr. Ivo ‘Eggman’ Robotnik (Jim Carrey) untuk menginvestigasinya. Kedatangan Dr. Robotnik yang menghebohkan itu menutup bagian pembuka film petualangan Sonic the Hedgehog yang dibesut sutradara debutan Jeff Fowler. Kolase aksi petualangan Sonic melawan tokoh jahat Dr. Robotnik ( paramount.com ) Adegan berganti, Sonic diburu Dr. Robotnik.Tak sengaja ia bertemu Sheriff Green Hills, Thomas ‘Tom’ Wachowski (James Marsden).Dalam pertemuan yang tak disangka itu Tom tak sengaja menembak kaki Sonic dengan panah biushinggalumpuh sementara.Tindakan yang terdorong kepanikan itu menyebabkan sekantong cincin emas Sonic terlempar secara ajaib ke sebuah gedung di San Francisco. Merasa bersalah , Tom lalu mengantar Sonic ke San Francisco . D alam dua hari road trip itu perlahan terjalin persahabatan di antara keduanya, ha l yang sejak lama didambakan Sonic. Baca juga: Spider-Man Terjerat Tipu Daya Sayangnya perjalanan mereka bukanlah liburan. Dr. Robotnik dengan segala teknologi canggih yang dimilikinya acap menghalangi. Belum lagi,pemerintah gencar mengkampanyekan Tom dan Sonic sebagai teroris.Dengan topeng tugas dari pemerintah, Robotnik berupaya mewujudkan ambisinya untuk mencari tahu sumber kekuatan Sonic. Petualangan seru memburu Sonic dan upaya Sonic menyelamatkan diri pun dimulai. Bagaimana keseruan petualangan Tom dan Sonic dalam menghindari pengejaran Dr. Robotnik yang sarat akan aksi-aksi kocak dan mengocok perut? Baiknya Anda tonton sendiri Sonic the Hedgehog yang bisa jadi tontonan keluarga pada masa libur Lebaran 2021 di aplikasi daring Mola TV . Ikon Game Ramah Anak Efek visual CGI (computer-generated imagery) yang halus diiringi beberapa tembang lawas nan nge- beat seperti “Don’t Stop Me Now” karya band legendaris Queen, misalnya, menambah kental suasana era 1990-an di mana Sonic jadi bagian keseharian para pecinta video game Sega. Suasana makin berwarna karenasutradara Fowler yang dibantu penulis skenario Jim Carrey menyuguhkan aksi-aksi petualangan dengan kombinasi action dengan komedi ringan yang menyegarkan. Maka kendati alur ceritanya sangat klasik , berupa misi penyelamatan protagonis dari sosok antagonis dengan happy ending , publik menyambutnya dengan antusia s me besar sejak film di rilis terbatas p a da 25 Januari dan rilis umum pada 14 Februari 2020. Sonic the Hedgehog yang berongkos produksi 90 juta dolar nangkring di urutan keenam film terlaris 2020 dengan meraup laba 319,7 juta dolar. “Plotnya sangat simpel. Landak tercepat di dunia yang nakal dan jenaka berlari menyelamatkan diri dari penjahat yang menginginkan kekuatan. Tetapi storyline sederhana itu bisa menemukan cara untuk mengadaptasikan karakter game dengan menambah konsep universal seperti persahabatan ke dalam tensi game aslinya antara alam dan mesin-mesin canggih,” ulas kritikus Aparita Bhandari yang dimuat The Globe and Mail , 13 Februari 2020. Baca juga: Muasal Sub-Zero yang Diperankan Joe Taslim Fowler punya alasan tersendiri mengapa ia bersama Jim Carrey dan tim penulis meracik Sonic the Hedgehog dengan konsep universal. Selain demi bisa lebih diterima sebagai film keluarga, Fowler ingin lebih dulu memperkenalkan pangkalpermusuhan Dr. Robotnik dengan Sonic. “Kami melihat game (Sonic) 1991 dan ingin melihat dari mana segalanya bermula dan membuatnya tetap sederhana. Hanya berusaha menonjolkan bagaimana awalnya perseteruan Sonic dan Robotnik. Memang banyak karakter di semesta Sonic, tapi yang terpenting adalah bagaimana kisah awalnya dan membuat film yang bisa dicintai semua orang,” ujar Fowler, dilansir Comic Book Resources , 27 Februari 2020. Naoto Oshima (kiri) pencipta karakter Sonic the Hedgehog (Game Developers Conference/Sega) Maka ia merasa belum waktunya menyisipkan detail lain tentang Sonic yangada di videogame. Jadi jangan harap karakter-karakter lain Sonic dalam game dan transformasinya menjadi Super Sonic ada di film ini. “Seperti yang saya bilang tentang kesederhanaan dan demi menyuguhkan versi yang paling simpel. Kami berkeputusan untuk menggarap awal mula Sonic dan Robotnik sebelum kami punya potensi membuka lebih luas elemen-elemen dari game -nya (di sekuel) yang dikenal dan dicintai fans,” imbuhnya. Ramah anak dan ramah keluarga. Nilai itu yang diambil Fowler dalammenciptakan semesta Sonic. Nilai itu terinspirasi dari tujuan awal penciptaan Sonic. Pada awal 1990-an, karakter Sonic beserta karakter-karakter pendukungnya diciptakan desainer-desainer game asal Jepang dengan visi ramah anak.Selain anak-anak bisa dengan mudah menggambar karakternya,diharapkan dengan begitu karakter-karakternya akan mudah terekam di ingatan semua usia. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Sonic dilahirkan pengembang game Sega dengan tujuan khusus: mengimbangi kepopuleran pengembang game saingannya, Nintendo, yang pada akhir 1980-an kondang dengan Mario Bros sebagai ujung tombaknya. Maka pada awal 1990 Presiden SegaHayao Nakayama menggelar sayembara internal untuk tujuan tersebut, dandiikuti 200 desain hasil karya sejumlah desainer game. “Dari 200 desain mengerucut jadi empat opsi final berupa serigala, anjing bulldog, humanoid berbentuk telur, dan kelinci. Saat itu belum ada desain landak tapi seniman Naoto Oshima dengan desain berupa kelinci mendapat kesempatan kedua mengembangkan karakter yang diharapkan bisa laku keras,” tulis Jessica A. Robinson dalam “Sonic the Hedgehog” yang termuat di 100 Greatest Video Games Characters . Desain awal karakter antagonis Dr. Ivo 'Eggman' Robotnik (kanan) dan kemudian diperankan komedian watak Jim Carrey ( paramount.com/rpgamer.com ) Kesempatan itu dimanfaatkan Oshima untuk terbang dari Jepang ke New York, Amerika Serikat. Berlembar-lembar kertas jadi media buatnya mengembangkan desain awalberupa kelinci ke dalam empat gambar berbeda. Empat desain pengembangannya itu –seekor armadillo, landak, anjing, dan seorang pria tua yang kelak jadi desain awal Dr. Ivo ‘Eggman’ Robotnik–  laludijadikan bahan polling informal dengan disebar acak ke pengunjung Central Park. “Hasilnya adalah, si landak yang paling populer; kebanyakan orang menunjuk desain ini dan sangat menyukainya karena landak adalah hewan lucu dan melampaui sekat-sekat ras dan gender. Terpopuler kedua adalah Eggman dan yang ketiga adalah desain anjing,” kenang Oshima, disitat Gamasutra , 21 Maret 2018. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Sepulangnya ke Jepang, Oshima mengembangkan lagi desain landak itu dibantu rekan desainer Hirokazu Yasuhara dan programmer Yuji Naka. Oshima menyempurnakannya dengan bulu dan duri berwarna biru khas warna kebesaran Sega, bersepatu snickers merah, dan bermata besar. Karakter ciptaannya itu lalu dinamakannya Mr. Needlemouse,laludigantijadi Mr. Hedgehog.NamaSonic akhirnya jadi pilihan terakhirnya karena punya kecepatan super sonik. “Bulunya yang berwarna biru juga merepresentasikan perdamaian, kepercayaan dan sosok yang keren. Biru juga sesuai dengan warna logo Sega,” ungkap Naka dikutip Kenny Abdo dalam Sonic: Sonic the Hedgehog Hero. Oshima juga membuat tokoh antagonisnya, Dr. Robotnik, dengan bentuk yang mudah digambar anak-anak. Desainnya dibuat berkepala plontos, berbadan bulat, berkumis tebal mirip Presiden Amerika Theodore Roosevelt, mengenakan kacamata prince-nez, serta mantel merah berkerah kuning, dan celana hitam dengan dua kancing putih. Baca juga: Stan Lee dalam Semesta Marvel Pada medio 1991, serial game Sonic the Hedgehog diluncurkan ke pasaran. Game yang struktur dan temanya terbilang mirip Mario itu dimainkan lewat game console generasi keempat, Sega Genesis. Sambutan yang diterimanya dari para gamer, terutama di Amerika Serikat dan Kanada, terbilang tinggi. “Strukturnya adalah Mario menyelamatkan seorang putri dan Sonic menyelamatkan hewan; Mario mengoleksi koin-koin dan Sonic mengumpulkan cincin-cincin. Tetapi gameplay dan latar belakang Sonic lebih intens, berfokus pada kecepatannya mengitari loop-the-loops saat mengumpulkan cincin demi menyelamatkan hewan-hewan yang terpenjara di dalam robot-robot ciptaan Dr. Robotnik. Hasilnya, Sonic the Hedgehog memapankan franchise game bergenre petualangan dan memperkokoh dampak kulturnya dalam industri game ,” tandas Robinson. Deskripsi Film: Judul: Sonic the Hedgehog| Sutradara: Jeff Fowler | Produser: Neal H. Moritz, Toby Ascher, Toru Nakahara, Takeshi Ito | Pemain: Ben Schwartz (voice over), Jim Carrey, James Marsden, Tika Sumpter, Neal McDonough, Adam Pally, Lee Madjoub, Melody Nosipho Niemann | Produksi: Sega Sammy Group, Original Film, Marza Animation Planet, Blur Studio | Distributor: Paramount Pictures | Genre: Petualangan | Durasi: 98 menit | Rilis: 14 Februari 2020, Mola TV

  • Nicolaas Jouwe dari Papua Merdeka ke Republik Indonesia

    NAMA Nicolaas Jouwe, mantan tokoh OPM disebut-sebut oleh beberapa media nasional. Kutipan berita Antaranews.com  (8/5) misalnya, mewartakan bahwa pendiri OPM itu menyebut Veronica Koman tak berhak berbicara mengenai masalah Papua. Padahal, Nicolaas Jouwe telah wafat pada 16 September 2017 silam. Setelah ditelusuri lagi, ternyata berita Antara  mengandung kekeliruan. Pihak Antara telah mengakui kesalahan dalam penyebutan nama dan pemuatan foto. Sosok yang dimaksud bukanlah Nicolaas Jouwe melainkan Nicholas Messet. Kesalahan tersebut berasal dari sumber penulisan berita yakni siaran pers Satgas Nemangkawi. Tidak hanya Antara , kekeliruan serupa juga dikutip media lain seperti, JPNN.com , Okezone.com , dan Beritasatu .

  • Mengenang La Grande Inter

    WALAU sudah dipastikan juara Serie A musim 2020/2021 sejak 2 Mei lalu, yang  menghapus dahaga gelar Liga Italia selama 11 tahun, Inter Milan tetap tancap gas melakoni empat partai sisa. Tampil di rumah sendiri, Stadio Giuseppe Meazza, skuad besutan Antonio Conte itu menolak bermain santai kala menjamu Sampdoria pada giornata  ke-35, Sabtu (8/5/2021). Sebelum kick off , Sampdoria melakoni guard of honor  sebagai bentuk penghormatan pada Inter yang kini total sudah mengoleksi 19 titel scudetto . Namun penghormatan itu tak membuat Inter tampil lembek. Dalam dua kali 45 menit, Sampdoria dihajar Inter 5-1. Massimo Moratti,   bos Inter periode 1995-2013, turut merasakan euforia tersebut. Harapannya kepada Conte untuk membawa Inter tak berpuas diri amat besar. Inter diharapkannya terus terobsesi pada gelar yang lebih prestisius dari yang dicapai semasa kepelatihan José Mourinho di 2010 dengan treble winners -nya atau bahkan era La Grande Inter  (1960-1967) di masa Inter dipimpin ayahnya, Angelo Moratti. “Conte seorang yang gigih, tahan banting. Ia mampu mencapai tujuannya, melindungi dan membentuk tim juara. Tim yang penuh karakter dan mampu memberi kejutan. Bagi saya dia pelatih yang luar biasa,” puji Moratti, dilansir Corriere dello Sport , 5 Mei 2021.. Guard of Honor  dari Sampdoria untuk jawara Serie A musim 2020/2021, Inter Milan ( inter.it ) Sanjungan senada terhadap Conte dilontarkan Angelo Domenghini (1964-1969), bintang Inter yang jadi bagian Grande Inter . “Inter sangat pantas scudetto . Mereka tim terkuat dan paling kompetitif. Bisa dilihat dari hasilnya dan bagaimana tim dipersiapkan, terutama kekuatan pertahanan. Publik memang menganggapnya (Conte) masih terikat dengan Juve. Tetapi dia juga pernah menang bersama Chelsea. Memang lain era lain permainan sepakbola. Grande Inter juga tim terkuat dengan Juve dan AC Milan sebagai pesaingnya. Musim ini Inter mengalahkan semuanya,” ungkap Domenghini kepada Bergamo News , 5 Mei 2021. Kedisiplinan dan aspek psikologis jadi pegangan penting Conte s ebag a i ma n a Helenio Herrera sang pelaith Grande Inter . Pa ra pemain tak dibiarkan punya gaya hidup bebas. K eteg a san Conte dan Herrera mampu menundukkan ego para pemainnya untuk mau menjalani diet ketat dan pelatihan berat. Conte selalu memperhatikan aspek psikologis dan memotivasi pemainnya sembari terus mengolah taktik sejak sukses bersama Juventus (2011-2014) dan Chelsea (2016-2018). Baginya,seorang pelatih hanya bisa punya prestasi manis di era sepakbola modern jika mampu mengombinasikan semua. “Anda harus punya kemampuan bagus dalam taktik, motivasi, psikologi, serta memenej klub dan media. Anda harus serba-bisa dan Anda hanya akan berhasil jika terus mau belajar,” cetus Conte, disitat ESPN , 8 April 2016. Era Emas di Tangan Il Mago Sebagaimana Conte, Helenio Herrera juga merupakan pelatih berprestasi cemerlang sampai dijuluki Il Mago (si penyihir). Pria kelahiran Buenos Aires, Argentina pada 10 April 1910 tapi berpaspor Prancis itu direkrut bos InterAngelo Moratti pada 1960 dari Barcelona. Tugas membangkitkan Inter dari kubur. Pasalnya sejak Moratti memegang tampuk kepemimpinan pada 1955, tak sekalipun Inter merengkuh titel. “Psikologi dalam sepakbola adalah subyek yang sulit dipahami secara konklusif. Bagi pertandingan antara dua tim kuat, pemenangnya biasanya ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai aspek pikiran dan psikologi. Banyak pelatih yang mencoba menanamkan mental juara dan satu contoh pelatih yang kondang atas hasil dari pembentukan attitude dan psikologi adalah Helenio Herrera,” tulis David Hartrick dalam 50 Teams That Mattered. Herrera jel a s butuh waktu mengubah Inter jadi tim juara hanya bermodalkan aspek psikologi. Tiga tahun pertamanya gagal total hingg a nyaris dipecat Moratti lantaran keukeuh menerapkan strategi ofensif sebagaimana kebiasaannya saat menukangi Barça serta Timnas Spanyol. Helenio Herrera Gavilán yang berperan membentuk  La Grande Inter  ( inter.it ) Di tahun, ketiga Herrera menyontek sistem Verrou atau Catenaccio, sistem pertahanan gerendel, yang diperkenalkan pelatih Swiss Karl Rappan. Sistem itu lalu dia sempurnakan dengan formasi 5-3-2. Herrera menyempurnakannya dengan memindahkan satu pemain gelandang ke posisi sweeper (libero) di belakang empat bek agar kemudian dua bek sayap bisa bergerak bebas membantu serangan balik. “Adalah Armando Picchi yang kemudian menjadi libero terbaik dunia di bawah pelatih Prancis-Argentina itu, sementara Giacinto Fachetti bisa mencetak banyak gol bersumber dari sistem ini. Herrera juga membawa Luis Suárez dari Barcelona untuk jadi jenderal lapangan tengah dengan visi fantastis, sedangkan tornante (sayap kanan) Jair da Costa yang jadi andalan dengan kecepatannya siap menerima setiap asupan umpan dari Suárez,” tulis pengamat sepakbola Sam Tighe dalam ulasannya yang dimuat Bleacher Report , 16 April 2013. Pasukan Herrera tentu bukan hanya bertulangpunggungkan tiga pemain di atas. Grande Inter punya “gladiator” tangguh Tarcisio Burgnich, Artistide Guarneri, Carlo Tagnin, Sandro Mazzola, Mario Corso, dan kiper Giuliano Sarti. “Di belakang Picchi ada kiper Giuliano Sarti yang tangguh di tim Grande. Burgnich dan Guarneri bek berkarakter yang berbagi visi Herrera sebagai gerendel di jantung pertahanan. Tagnin dan Gianfranco Bedin penting sebagai bertahan. Mazzola di kanan depan jadi simbol Inter yang mencetak banyak gol indah. Corso di kiri depan juga pemain jenius dengan kaki kirinya yang andal dalam tendangan bebas dan umpan matang,” sambung Hartrick. Skuad Il Biscione di musim 1964/1965 ( inter.it ) Saat bertahan, Herrera bisa mengarahkan lima sampai tujuh pemain melindungi gawang. Tetapi saat menyerang balik secara vertikal, dua bek sayapnya diperintahkan secara sigap untuk membantu serangan balik. Alhasil pemain seperti Fachetti yang berposisi sebagai bek sayap bisa punya koleksi gol sampai 59 buahdi sepanjang 476 penampilannya berseragam La Beneamata (1960-1978). “Saat menyerang balik, para pemain paham apa yang saya inginkan: sepakbola vertikal dengan kecepatan tinggi, dengan tidak lebih dari tiga passing untuk mencapai kotak penalti lawan. Tak mengapa jika Anda kehilangan bola saat bermain vertikal –tetapi jika kehilangan bola dalam permainan lateral (menyamping) Anda akan membayarnya dengan (kecolongan) gol,” ujar Herrera dikutip Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: The History of Soccer Tactics. Tetapi transformasi Inter itu takkan berjalan tanpa aspek kedisiplinan. Herrera amat keras soal kedisiplinan. “Herrera menciptakan kultur di mana setiap keberadaan pemainnya dimonitor dan diukur. Para pemain diharapkan rela mati di lapangan demi tim dan jika tidak siap-siap, ditendang dari klub. Para pemain Inter punya diet yang terkontrol, rutinitas latihan yang keras. Menjadikan timnya sangat disiplin walau tak jarang juga menimbulkan ketegangan antara Herrera dan beberapa pemainnya, di mana salah satunya Picchi,” tambahnya. Capaian manis La Grande Inter  meraih trofi European Cup (Liga Champions) musim 1963/1964 (kiri) & musim 1964/1965 ( inter.it ) Dari aspek psikologis, Herrera mencekoki pasukannya setiap kali hendak latihan dan bertanding. Salah satunya dengan cara memasang spanduk bertuliskan“Kelas+Persiapan, Fisik Atletis+Kecerdasan=Scudetto” di kamar ganti tim. Soal psikis, Herrera tak hanya memperhatikan pemain.Eksistensi pendukung dianggapnya jadi suntikan moril bagi timnya. Oleh karenanya dia memberi perhatian pada fans. “Dinamika psikologi Herrera juga kemudian mengarahkannya pada pentingnya peran pendukung. Ia mendesak Moratti membentuk dan membiayai kelompok-kelompok Interisti untuk bisa mendukung tim di laga tandang, baik di (liga) Italia maupun Eropa. Tindakan yang kemudian melahirkan banyak kelompok ultras ,” kataDavid Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football. Hasil racikan Herrera pun berbuah manis. Tiga kali Inter dibawanya merebut scudetto (1962-1063, 1964-1965, 1965-1966), dua kali juara Liga Champions (1963-1964, 1964-1965), dan dua kali memboyong trofi Intercontinental Cup (1964, 1965).

  • Suara Penyintas 1965 yang Layak Didengar

    GARIS-garis keriput di kulit kedua perempuan usia senja itu mengindikasikan banyaknya tahun yang telah dilalui keduanya. Kusdalini dan Kaminah, kedua perempuan tadi, memang telah berjuang menyambung hidup dalam kemiskinan sembari menanti keadilan sejak muda hingga tua. Mbah Kam dan Mbah Kus, begitu keduanya disapa, merupakan penyintas G30S yang jadi “lakon” utama dalam film You and I (2021) karya Fanny Chotimah. Keduanya dikenal Fanny sejak 2016. Perkenalan mereka bertiga bermula kala kawan Fanny, Adrian Mulya, Amerta Kusuma, dan Lilik HS tengah mengerjakan buku foto Pemenang Kehidupan. Dari perkenalan itu, Fanny makin mengenal keduanya. Lambat laun, timbul perasaan intim dan personal di sudut hati Fanny. “Pas perkenalan pertama itu saya ingin kenal lebih jauh. Awalnya juga sama sekali enggak pikiran mau bikin film. Memang dalam diri aku ingin kenal saja. Aku juga punya semacam ikatan kalau melihat mereka ingat nenekku. Apalagi nenekku juga (mengidap) demensia kayak Mbah Kus. Aku juga jadi punya kesempatan dengar cerita mereka,” tutur Fanny kepada Historia via percakapan di platform Google Meet, Jumat (7/5/2021). Baca juga: Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I Kaminah dan Kusdalini antusias kala berbagi kisah tentang kegiatan komunitas film Fanny dan kawan-kawannya yang acap memutar film ala “layar tancap” di kampung-kampung. Ternyata ada keserupaan pengalaman, di mana Kaminah dan Kusdalini berkisah di masa muda mereka dulu ikut paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat (PR) yang juga tampil keliling kampung. “Dari situ intens datang dan sharing-sharing. Lalu aku melihat apa yang mereka lakukan sama dengan yang aku lakukan. Terus mereka dipenjara tanpa pernah diadili. Saya merasa, kalau itu bisa terjadi sama mereka, berarti bisa juga terjadi sama aku kalau misalnya kejadiannya seperti itu,” imbuhnya. Fanny Chotimah & Adrian Mulya bersama duet penyintas 1965: Sri Kusdalini & Kaminah (Dok. Adrian Mulya) Kejadian yang dimaksud adalah pemburuan, pemenjaraan, hingga pembunuhan orang-orang yang diduga PKI dan simpatisannya pasca-G30September 1965. Di situlah Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan ditahan tanpa pengadilan lantaran kaitannya dengan PR yang underbouw PKI. Dari situlah Fanny mendapatkan ide untuk menyuguhkan kisah mereka lewat film dokumenter. “Dari situ muncul urgensi untuk, wah, ini harus didokumentasikan, harus dibikin film dokumenter. Secara enggak langsung juga riset sudah terjadi karena aku membangun relasi itu sejak belum punya pikiran membuat dokumenter. Aku terus minta izin untuk mendokumentasikan dan terus disambut sama mereka. Mbah Kam yang menyemangati kami karena merasa ini warisan untuk generasi muda,” tambah sineas kelahiran Bandung, 18 November 1983 itu. Baca juga: Peter Jackson & Dokumenter They Shall Not Grow Old You and I kemudian jadi proyek dokumenter panjang pertama Fanny. Dia dan tim produksi memulai proyeknya pada 2016. Dengan pendekatan observasional, tim mengikuti keseharian Mbah Kam dan Mbah Kus di rumah, lingkungan tempat tinggal, hingga pertemuan dengan sesama penyintas di bawah payung Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Penulisan ceritanya pun bergulir seiring syuting keseharian dua penyintas itu. Sembari merekam keseharian, Fanny juga memikirkan titik kekuatan filmnya agar bisa diterima generasi muda sebagai target penontonnya. “Akhir 2016 sudah mulai meski development cerita masih aku tulis. Karena aku tertarik sama memori itu, kedimensian Mbah Kus yang kupikir personal dan dekat dengan aku. Saat lihat banyak footage , kok kuat banget tentang gimana relasi mereka berdua. Malah kemudian kekuatannya ada di relasi mereka,” lanjut Fanny. Kolase di balik layar "You and I" (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Tajuk You and I sendiri dipilih Fanny karena andil Mbah Kus. “ You and I itu sebetulnya dari Mbah Kus. Dulu kan Mbah Kus bisa bahasa Inggris dan Jerman. Saat adegan melihat foto mereka berdua, tiba-tiba muncul (celetukan): ‘ Oh iki, You and I. ’ Itu momennya sama dengan adegan bercanda melihat foto. Aku harus pilih mana momen yang paling kuat. Di proses editing itu pertempurannya untuk mana momen yang kusayang. Aku pertahankan yang (adegan bercanda) itu karena terlihat banget kuatnya relasi mereka. Relasi itu yang bisa relate ke semua orang dan semua usia,” lanjut Fanny. Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput Dalam proses produksi, Fanny mengaku tantangannya bukan dari faktor-faktor eksternal meski film-film yang mengangkat isu 1965 masih sangat sensitif dan acap mendapat penolakan. Tantangan dalam produksi You and I sampai selesainya editing di tahun 2020 justru datang dari diri sendiri. Pasalnya, karyanya tersebut punya keintiman dengannya. “Jadi tantangan tersendiri terutama di momen-momen Mbah Kus butuh bantuan nyuci, duh aku takut banget dia jatuh, misalnya. Kayak pingin menolong dia. Saat adegan susah masuk ke angkot, biasanya kalau enggak syuting yang kita nolongin. Benturan-benturan di dalam diri itu yang kuat. Tapi di beberapa kejadian aku menekankan sama tim bahwa syuting nomor dua dan yang terpenting adalah keselamatan mereka,” imbuhnya. Kolase tim produksi bersama Kaminah sepeninggal Kusdalini yang wafat pada 2017 (Dok. Tim Produksi/KawanKawan Media) Menahan diri dan emosi jadi tantangan terbesar Fanny. Terlebih saat kesehatan Kusdalini mulai menurun medio 2017. Beberapakali Fanny harus berhenti merekam demi bisa membantu mengevakuasinya ke rumahsakit. “Mbah Kus masuk rumahsakit karena stroke , bertahan tujuh bulan di rumah sakit lalu Mbah Kus pergi (meninggal, red. ). Tahun berikutnya masih syuting tapi bobotnya makin berat dan sedih rasanya. Momen di mana Mbah Kam sudah tidak bisa mempertahakan Mbah Kus, itu juga emosional. Syutingnya sambil nangis. Padahal aku ingin film ini memberi harapan, bukan jatuhnya malah sedih dan dramatis. Tapi harus tetap bisa menguasai diri,” tambah Fanny. Narasi Historis dan Strategi Sebagai sineas yang masa kecilnya tumbuh di era Orde Baru, Fanny mengenal narasi 1965 itu lewat film propaganda penguasa garapan sutradara Arifin C. Noer, Pengkhianatan G30S/PKI . Film itu dulu juga jadi tontonan wajib bagi pelajar, termasuk Fanny. Namun ia mengaku tak pernah menontonnya sampai habis. “Horor banget. Aku selalu bertanya-tanya sejak kecil itu nyata atau enggak. Belum cerita-cerita di sekelilingku. Cerita kayak, ‘Oh, paman saya pernah bunuh PKI.’ Itu aku syok, bunuh orang lalu bangga. Itu ada apa? Di SMA ada teman yang sangat vokal dan kritis karena ingin tahu tentang PKI. Dia berdebat sama guru sejarah. Gurunya jadi kayak, ‘Oh, enggak bisa kamu seperti itu. Hati-hati kamu dicap komunis.’ Aku yang menyaksikan, kenapa sih kok begitu? Akhirnya cari referensi lagi,” kenang Fanny. Baca juga: Perkenalan Hanung Bramantyo dengan Tragedi 1965 dan Pram Fanny Chotimah menguraikan banyak kisah di balik layar via daring (Tangkapan Layar/Historia) Selain dari buku non-fiksi dan novel para penyintas 1965 seperti Pulang (2012) karya Leila Salikha Chudori dan dokumenter Shadowplay (2001) karya Lexy Rambadeta, Fanny mendapat sudut pandang lain Peristiwa 1965 dari kakeknya sendiri. “Ada stigma juga dari mamaku yang bilang komunis itu jahat. Tapi sementara aku juga dapat cerita dari kakek di Bandung. Dia juragan tanah dan punya sawah dan ada yang garap (petani penggarap). Dulu kan BTI (Barisan Tani Indonesia) juga dicari ya. Tapi kakekku itu melindungi BTI. Jadi BTI yang lari minta perlindungan kakekku itu selamat,” sambung sineas otodidak yang berkecimpung di komunitas film Yayasan Kembang Gula dan komunitas perempuan Jejer Wadon tersebut. Dari situ Fanny mulai paham bahwa selain rumit dan kompleks, Peristiwa 1965 juga masih jadi isu sangat sensitif, utamanya kala bulan September dan Oktober. Ia juga sempat diperingatkan Kaminah untuk sementara stop syuting dan “tiarap”. Namun hingga selesainya produksi, Fanny dan tim produksi tak pernah mengalami persekusi dan penolakan dari pihak luar. Baca juga: Pemuda Sosialis di Balik Film Legendaris Hal mencekam yang pernah dialami Fanny justru saat diskusi terbatas buku foto Pemenang Kehidupan . Prosesnya kala itu bareng proses syuting You and I . Fanny, Adrian dan rekan-rekannya sempat didatangi intel. Salah satu rekannya bahkan ada yang sampai dipanggil pihak kepolisian. “Aku sudah tahu dan pengalaman dipanggil intel. Ya saat syuting film aku paham ini risikonya walau pas syutingnya tidak terjadi apa-apa. Aku tentu akan pasang badan kalau terjadi apa-apa sama mereka. Kata Mbah Kus dan Mbah Kam: ‘Ya ini risikonya. Ini risiko perjuangan’,” kata Fanny. Oleh karena mengerti risikonya, Fanny pun mengarahkan narasi You and I dengan kompromi sebagai strategi. Tujuannya agar film tidak condong politis dan tetap menyajikan gambaran humanis walau kedua tokohnya punya latar belakang masa silam kelam. Masa muda Kusdalini (kiri) & Kaminah (KawanKawan Media) Fanny hanya sedikit menyuguhkan keterangan tentang Kusdalini dan Kaminah sebagai anggota paduan suara di bawah naungan Pemuda Rakjat. Keduanya sering mentas keliling kampung, bahkan pernah tampil di hadapan Presiden Sukarno di Jakarta. Kusdalini dan Kaminah jadi dua pemudi Sukarnois yang aktif di Pemuda Rakjat. Faktor ideologis itu membuat keduanya harus mendekam di balik jeruji besi tanpa diadili. Kusdalini ditahan dua tahun dan Kaminah tujuh tahun. “Ini strategi karena buatku (isu 1965) sangat rumit dan kompleks, belum lagi penolakan-penolakannya. You and I ini tidak terasa politisnya dan tidak mengupas sejarah itu. Yang kita bicarakan hari ini adalah sisi kemanusiaannya agar lebih mudah diterima. Juga bicara di generasi ini kita harus punya pendekatan khusus. Aku lihat respon dari generasi ini mereka bisa menangkap karena sisi humanis dan persahabatan itu. Kalau peristiwanya (dari segi politis) mereka bisa cari referensi di tempat lain. Yang Aku tekankan humanismenya,” ungkapnya lagi. Strateginya berbuah manis. Tidak hanya mendapat banyak sambutan positif dari sejumlah perwakilan pemerintah daerah, You and I kemudian juga diapresiasi lebih luas dengan memenangkan kategori dokumenter terbaik sepanjang di Piala Citra 2020, DMZ International Documentary Film Festival di Korea Selatan 2020, dan terakhir di CPH:DOX Denmark 2021. “Ya jadi bisa diputar di Bioskop Online (mulai 9 April 2021) dan bahkan waktu pemutarannya di Solo mengundang pemerintah (daerah) juga. Mereka menyambut baik. Karena fokusnya itu tadi, ke kisah dua penyintas dan narasi setiap penyintas penting, layak didengar, dan berharga karena itu juga berisi kehidupan, kesaksian, dan suara mereka,” tandas Fanny. Baca juga: Proses Kreatif Usmar Ismail di Balik Layar

  • Ketika Jenderal Nasution “Dikerjain” Presiden Sukarno

    Pada akhir September 1964, Jenderal Abdul Haris Nasution berangkat ke Uni Soviet. Saat itu, Angkatan Perang Republik Indonesia perlu peluru kendali jarak menegah. Konflik konfrontasi dengan Malaysia semakin memanas. Sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Nasution bersiap-siap apabila pecah perang dengan Malaysia yang didukung Inggris. Ini adalah kunjungan kesekian kalinya bagi Nasution dalam misi pembelian senjata berat. Dia didampingi oleh dua perwira staf Komando Siaga (KOGA), Laksamana Mulyadi dan Brigjen Ahmad Wiranatakusumah. Untuk memperlancar lobi-lobi, Presiden Sukarno direncanakan akan turut bergabung setelah menyelesaikan kunjungannya di Jenewa. Pada hari kedatangan Sukarno ke Moskow, para pejabat tinggi Uni Soviet menyambut di pelabuhan udara. Mereka antara lain Perdana Menteri Nikita Khrushchev, Presiden Anastas Mikoyan, dan Sekjen Partai Komunis Leonid Brezhnev. Ketika melihat Nasution di antara rombongan dari Indonesia, Khrushchev datang menghampiri seraya mengulurkan tangan kepada sang jenderal. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru , Nasution menuturkan pembicaraannya dengan Khrushchev. Komunikasi antara mereka tentu saja terjalin lewat bantuan penerjemah.   “Jenderal Nas ada di Moskow, semua gudang telah saya kunci, tidak bisa anda mendapatkan senjata-senjata yang kamu ingini,” kata Khrushchev berkelakar. “Itu bukan soal bagi saya, karena saya punya tangan-tangan di Moskow, antara lain Perdana Menteri Khrushchev,” jawab Nasution. Mendengar jawaban itu, Khrushchev malah tertawa terbahak-bahak. Setibanya di Istana Kremlin, pihak Indonesia dan Uni Soviet duduk berhadapan. Di meja perundingan, Nasution membisikan kepada Sukarno kontrak pembelian yang diinginkan. Sukarno meneruskannya kepada pihak Uni Soviet yang kemudian ditanggapi Khrushchev. “Bagaimana saya bisa menolong Indonesia, sudah lama tidak dibayar angsuran,” ujar Khrushchev. Nasution mengakui angsuran tahun 1963 memang memang belum beres. Begitupun dengan cicilan pada tahun yang sedang berjalan. Namun menurutnya, tunggakan itu sudah dibayarkan sebagian. Juru hitung Uni Soviet membuat kalkulasi melalui nota kecil dan secara beranting diteruskan ke jurusan perdana menteri. Ketika nota itu tiba pada Presiden Mikoyan, dia tidak segera meneruskannya kepada Khrushchev. “Beliau dengan agak nakal melihat kepada saya dan saya balas dengan senyuman, kami duduk persis berhadapan di meja perundingan itu,” kenang Nasution. Rupanya juru hitung Uni Soviet dari urusan Perdagangan Luar Negeri itu menyangkal keterangan pembayaran dari Nasution. Kendati demikian, nota kecil itu tetap tertahan pada Mikoyan. Terjadilah lampu hijau untuk urusan jual-beli senjata. Nasution boleh berlega hati. Setelah kontrak pembelian ditandatangani, dua hari berturut-turut diadakan jamuan makan oleh pihak Soviet untuk tamu-tamunya dari Indonesia. Dalam jamuan di Kremlin, Khrushchev secara terang-terangan mengkritik poros Jakarta-Peking yang diprakarsai Bung Karno. Katanya, ”Nasib poros ini akan sama nanti dengan poros Fasis-Nazi, Roma-Berlin dulu”. Khrushchev bicara blak-blakan. Dalam jamuan balasan keesokan hari, Khrushchev tidak bergabung karena ada agenda berlibur dengan cucu-cucunya di Laut Hitam. Hanya Presiden Mikoyan dan Sekjen Brezhnev yang menjadi tamu penting. Bung Karno duduk mendampingi Brezhnev sedangkan Nasution mendampingi Mikoyan. Karena Indonesia sebagai tuan rumah, susunan tempat duduk sudah diatur oleh ajudan Presiden Sukarno. Kebetulan kursi di samping Nasution kosong. Seorang ajudan presiden kemudian mengantarkan seorang perempuan Soviet berparas cantik dan dipersilakan duduk di sebelah Nasution. Setelah berkenalan, Nasution mendapati bahwa wanita itu seorang bintang film. Setelah selesai babak makan, tinggallah babak ngomong-ngomong, Sukarno mendatangi Nasution. Dalam bahasa Belanda, Bung Karno berkata, “Nas, tempat saya ini tochtig (dingin), saya tak kuat. Kamu saja duduk disini, mari tukar tempat.” Keduanya pun lantas bertukar tempat duduk. “Pihak Soviet agak ternganga melihat kami bertukar tempat. Bung Karno jadi sibuk ngomong-ngomong dengan artis tadi dan saya harus meladeni Presiden Mikoyan dan Brezhnev,” kenang Nasution. Selama dua jam acara jamuan makan itu, terjadilah pelimpahan kekuasaan. Bung Karno menyerahkan sepenuhnya kepada Nasution urusan diplomatik dengan pemimpin Uni Soviet.

  • Dipancung Jepang di Bulan Ramadan

    Serangan Jepang ke Indonesia tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari tentara Belanda. Hal ini disebabkan rakyat Indonesia tidak memberi bantuan. Bahkan di beberapa tempat, rakyat justru menyerbu tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Hanya di beberapa tempat, tentara KNIL memberikan perlawanan sengit kepada Jepang. "Di Sulawesi Tengah, Letnan Infanteri De Jong dan Van Daalen melakukan perang gerilya serta berhasil membunuh banyak serdadu Jepang," tulis sejarawan M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah. Mereka menewaskan tujuh perwira dan ratusan –sumber lain: 35 sampai 70– tentara Jepang dalam pertempuran di Lembosalenda (Korondoda) pada 7 Juli 1942. "Tempat itu merupakan daerah yang paling banyak memakan korban pasukan tentara Jepang sehingga mereka melakukan pembakaran mayat secara besar-besaran," catat Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Tengah , terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jepang mendirikan monumen peringatan berbentuk tujuh tugu untuk tujuh perwira yang tewas. Setiap orang yang melewati tempat itu harus memberi hormat dengan membungkuk ( seikerei ) kepada tujuh tugu itu. Sehingga, tempat itu kemudian dikenal dengan nama seikerei . Tempat itu dijaga seinendan  (barisan pemuda) untuk mengawasi apakah orang yang lewat memberi hormat atau tidak kepada tujuh tugu itu.Apabila ada yang tidak memberi hormat, dia akan dipanggil dan disiksa oleh Jepang. Setelah pertempuran di Lembosalenda , pasukan De Jong dan Van D a alen bercerai -berai, banyak yang tewas , bahan makanan dan amunisi makin habis. Bantuan makanan dan senjata dari Sekutu melalui udara jatuh ke tangan Jepang . Sebelumnya, Jepang juga menyita kapal S anoa yang membawa bantuan Sekutu dari Australia . Akhirnya, pada Agustus 1942, Van Daalen tertangkap di Korondoda dan De Jong tertangkap di Era. "Kedua perwira KNIL ini akhirnya menyerah dan dideportasi ke Manado," tulis Adnan. Keduanya dicungkil matanya sebelum dipancung pada 28 Agustus 1942. Satu-satunya tentara Belandayang lolos dari penangkapan Jepang adalah Jan Klinkhammer. Dia diselamatkan oleh penduduk setempat di sebuah bukit kecil Majalede di daerah padang luas bernama Pesuaka. Dia selamat sampai Jepang menyerah kepada Sekutu. Van Da a len ditangkap Jepang bersama Lonsi, kepala kampung Tomata, serta beberapa orang dari Bungku dan Salabangka. Di antara mereka yang di tangkap termasuk tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih di Bungku dan Salabangka, yaitu Haji Hasan dan Abdullah Macan, serta kawan-kawannya. "Pada September 1942 di depan umum yang sengaja dipanggil Jepang untuk menyaksikan, diadakanlah pemancungan 21 orang tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih dicampur dengan bekas orang-orangnya Van Daalen dan De Jong," tulis Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Tengah . Gerakan Merah Putih didirikan dan dipimpin oleh Nani Wartabone dan Kusno Danaupoyo pada Februari 1942. Gerakan yang berpusat di Gorontalo, Sulawesi Utara ini mengirim utusan-utusan ke pelbagai tempat di Sulawesi Tengah untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda menjelang kedatangan Jepang. Setelah tokoh-tokoh pergerakan Merah Putih itu, Sejarah Daerah Sulawesi Tengah mencatat, Raja Tojo Tanjumbulu, pemimpin pemberontakan pada Belanda tahun 1942 di Ampana, bersama guru/mubalig Jamaluddin Datu Tumenggung, tokoh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) asal Parigi bernama Abd. Karim (murid HOS Tjokroaminoto), ditambah delapan orang lainnya gugur dipancung Jepang di muka umum pada akhir bulan Ramadan tahun 1942 –awal Ramadan tahun 1942 jatuh pada 12 September. "Pembunuhan besar-besaran itu akibat fitnah bekas Bestuur Asisten Belanda di Poso bernama Warouw," sebut buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu.  " Mereka dituduh mata-mata musuh (Sekutu), kaki tangan pemerintah Hindia Belanda, padahal mereka adalah pejuang-pejuang yang ingin memerdekakan bangsa dan wilayahnya dari penjajahan Belanda."

  • Tentara Rusia di Pesawat Tempur Indonesia

    SUATU hari di tahun 1962. Beberapa prajurit Resimen Tempur ke-831 dipanggil secara mendadak ke Moskow. Di depan para anggota Angkatan Udara Uni Soviet itu, seorang petinggi militer bernama Letnan Jenderal A.F. Semyonov  mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa hari ke depan mereka akan ditugaskan di suatu tempat yang merupakan salah satu titik konflik di dunia. “Dia tidak menyebut tempat atau nama negara mana pun saat itu kepada kami. Yang jelas wilayah yang akan dituju, kata dia, memiliki perbedaan adat istiadat dan cuaca yang sangat berbeda dengan negara kami,” ungkap K. Dimitriev, seperti dikutip oleh sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam buku  Тайные войны СССР  (Perang Rahasia Uni Soviet). Beberapa hari kemudian, Dimitriev dan kawan-kawannya sudah berada di pesawat sipil Ilyushin-18 (Il-18). Setelah transit di Tashkent, New Delhi dan Rangoon, mereka belum juga mendapatkan kepastian akan menuju negara mana. Barulah ketika pesawat lepas landas, di atas Rangoon, kopilot memberikan kepada mereka masing-masing sebuah amplop. “Isinya pemberitahuan bahwa kami akan dikirim dalam suatu misi tempur ke Indonesia,” ujar ahli spesialis senjata udara itu. Di Indonesia, para instruktur dan teknisi pesawat tempur Uni Soviet itu kemudian ditempatkan di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun. Selain anggota Resimen Tempur ke-831, ikut pula para kru Angkatan Udara Uni Soviet dari Personel ke-2 Skuadron Resimen Pesawat Tempur Pengawal ke-32 yang berkedudukan di Pangkalan Udara Kubinka. “Semua sukarelawan Rusia itu dipimpin oleh seorang kolonel udara bernama Loginov,” ungkap Okorokov. * Resminya, kehadiran para tentara udara Uni Soviet tersebut merupakan bagian dari fasilitas pembelian sejumlah pesawat tempur yang dilakukan Indonesia dari negeri Beruang Merah tersebut. Misi Nasution yang dilakukan pada akhir 1960, meniscayakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) mendapatkan sejumlah pesawat tempur canggih pada era itu, seperti Tu-16KS, MIG-17, MIG-19S, MIG-21 dan pesawat angkut An-12. Untuk mengoperasikan semua pesawat terbang itu, tentunya diperlukan para instruktur dan tenaga teknis dari Uni Soviet. Terutama itu diutamakan untuk jenis pesawat-pesawat tempur yang secepatnya akan diterjunkan di palagan Irian Barat. Maka atas persetujuan langsung dari Perdana Menteri Nikita Khrushchev, para sukarelawan Uni Soviet pun dikirim ke Indonesia. Soal keberadaan para kru AU Uni Soviet itu diakui sendiri oleh Marsda (Purn) R. Wisnu Djajengminardo dalam bukunya Kesaksian: Memoar Seorang Kelana Angkasa. Menurut mantan Asdir Latihan&Operasi Direktorat Operasi Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) itu, para penerbang asing tersebut memang pernah ada. Mereka sepengetahuan Wisnu berfungsi sebagai instruktur bagi para calon pilot pesawat tempur AURI. “Instruktur-instruktur itu memberikan latihan terbang transisi pada penerbang-penerbang Tu-16 AURI di Iswahyudi…” ungkap Wisnu. Wisnu malah ingat, salah satu dari instruktur Rusia itu telah tewas dalam suatu latihan terbang malam di landasan Lanud Iswahyudi. Ceritanya, perwira AU Uni Soviet itu sedang melakukan latihan mengoperasikan Tu-16KS dengan seorang penerbang AURI bernama Soewandi. Pada saat akan mendarat, pesawat mengalami kecelakaan ( crash) . Akibatnya, sang penerbang Rusia langsung tewas dan Soewandi luka-luka. “Penerbang-penerbang Rusia itu enggan menggunakan flight helmet , karena menganggap itu suatu luxury… Karena tidak menggunakan helmet , (saat crash ) tengkuknya terpukul oleh batang besi yang lepas dari belakang tempat duduk pilot,” ujar Wisnu. Sumber Rusia mengamini informasi yang disampaikan Wisnu itu. Dalam bukunya, Okorokov mengidentifikasi instruktur yang mengalami kecelakaan tersebut sebagai Mayor Oleg Borisenko. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Uni Soviet telah menganugerahi mendiang Borisenko dengan Bintang Panji Merah. Itu nama salah satu penghargaan militer tertinggi di masa Uni Soviet berjaya. Kecelakaan fatal pun pernah dialami oleh kru Uni Soviet lainnya di Lanud Iswahyudi. Adalah Letnan Senior Mikhail Grankov, teknisi MIG-21 yang harus menemui ajal karena mobil GAZ-69 yang dikendarainya ditabrak sebuah truk militer. Berbeda dengan keterangan Wisnu yang menyangkal adanya pilot Rusia yang pernah turun langsung ke palagan Irian Barat, Okorokov justru mendapatkan keterangan yang berbeda dari para veteran yang pernah ditugaskan ke Indonesia. Menurut staf pengajar di Akademi Ilmu Militer Rusia itu, seorang pilot Rusia pernah dikabarkan menerbangkan salah satu pesawat tempur beridentitas AURI lalu menghajar kedudukan sebuah stasiun radar milik Belanda di Manokwari, Kendati diberitakan sukses menghancurkan kedudukan musuh, pesawat tempur itu tak pernah kembali ke Lanud Iswahyudi. Tak jelas benar, apakah pesawat itu jatuh ditembak musuh atau mengalami kecelakaan saat hendak kembali ke pangkalan. “Dia tidak pernah kembali dari misinya…” ungkap Okorokov.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page