top of page

Tentara Rusia di Pesawat Tempur Indonesia

Kisah sekelompok anggota Angkatan Udara Uni Soviet yang ikut terlibat dalam konflik di Irian Barat.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 6 Mei 2021
  • 3 menit membaca

SUATU hari di tahun 1962. Beberapa prajurit Resimen Tempur ke-831 dipanggil secara mendadak ke Moskow. Di depan para anggota Angkatan Udara Uni Soviet itu, seorang petinggi militer bernama Letnan Jenderal A.F. Semyonov  mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa hari ke depan mereka akan ditugaskan di suatu tempat yang merupakan salah satu titik konflik di dunia.


“Dia tidak menyebut tempat atau nama negara mana pun saat itu kepada kami. Yang jelas wilayah yang akan dituju, kata dia, memiliki perbedaan adat istiadat dan cuaca yang sangat berbeda dengan negara kami,” ungkap K. Dimitriev, seperti dikutip oleh sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam buku Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Soviet).


Beberapa hari kemudian, Dimitriev dan kawan-kawannya sudah berada di pesawat sipil Ilyushin-18 (Il-18). Setelah transit di Tashkent, New Delhi dan Rangoon, mereka belum juga mendapatkan kepastian akan menuju negara mana. Barulah ketika pesawat lepas landas, di atas Rangoon, kopilot memberikan kepada mereka masing-masing sebuah amplop.


“Isinya pemberitahuan bahwa kami akan dikirim dalam suatu misi tempur ke Indonesia,” ujar ahli spesialis senjata udara itu.


Di Indonesia, para instruktur dan teknisi pesawat tempur Uni Soviet itu kemudian ditempatkan di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun. Selain anggota Resimen Tempur ke-831, ikut pula para kru Angkatan Udara Uni Soviet dari Personel ke-2 Skuadron Resimen Pesawat Tempur Pengawal ke-32 yang berkedudukan di Pangkalan Udara Kubinka.


“Semua sukarelawan Rusia itu dipimpin oleh seorang kolonel udara bernama Loginov,” ungkap Okorokov.


*


Resminya, kehadiran para tentara udara Uni Soviet tersebut merupakan bagian dari fasilitas pembelian sejumlah pesawat tempur yang dilakukan Indonesia dari negeri Beruang Merah tersebut. Misi Nasution yang dilakukan pada akhir 1960, meniscayakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) mendapatkan sejumlah pesawat tempur canggih pada era itu, seperti Tu-16KS, MIG-17, MIG-19S, MIG-21 dan pesawat angkut An-12.


Untuk mengoperasikan semua pesawat terbang itu, tentunya diperlukan para instruktur dan tenaga teknis dari Uni Soviet. Terutama itu diutamakan untuk jenis pesawat-pesawat tempur yang secepatnya akan diterjunkan di palagan Irian Barat. Maka atas persetujuan langsung dari Perdana Menteri Nikita Khrushchev, para sukarelawan Uni Soviet pun dikirim ke Indonesia.


Soal keberadaan para kru AU Uni Soviet itu diakui sendiri oleh Marsda (Purn) R. Wisnu Djajengminardo dalam bukunya Kesaksian: Memoar Seorang Kelana Angkasa. Menurut mantan Asdir Latihan&Operasi Direktorat Operasi Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) itu, para penerbang asing tersebut memang pernah ada. Mereka sepengetahuan Wisnu berfungsi sebagai instruktur bagi para calon pilot pesawat tempur AURI.


“Instruktur-instruktur itu memberikan latihan terbang transisi pada penerbang-penerbang Tu-16 AURI di Iswahyudi…” ungkap Wisnu.


Wisnu malah ingat, salah satu dari instruktur Rusia itu telah tewas dalam suatu latihan terbang malam di landasan Lanud Iswahyudi. Ceritanya, perwira AU Uni Soviet itu sedang melakukan latihan mengoperasikan Tu-16KS dengan seorang penerbang AURI bernama Soewandi. Pada saat akan mendarat, pesawat mengalami kecelakaan (crash). Akibatnya, sang penerbang Rusia langsung tewas dan Soewandi luka-luka.


“Penerbang-penerbang Rusia itu enggan menggunakan flight helmet, karena menganggap itu suatu luxury…Karena tidak menggunakan helmet, (saat crash) tengkuknya terpukul oleh batang besi yang lepas dari belakang tempat duduk pilot,” ujar Wisnu.


Sumber Rusia mengamini informasi yang disampaikan Wisnu itu. Dalam bukunya, Okorokov mengidentifikasi instruktur yang mengalami kecelakaan tersebut sebagai Mayor Oleg Borisenko. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Uni Soviet telah menganugerahi mendiang Borisenko dengan Bintang Panji Merah. Itu nama salah satu penghargaan militer tertinggi di masa Uni Soviet berjaya.


Kecelakaan fatal pun pernah dialami oleh kru Uni Soviet lainnya di Lanud Iswahyudi. Adalah Letnan Senior Mikhail Grankov, teknisi MIG-21 yang harus menemui ajal karena mobil GAZ-69 yang dikendarainya ditabrak sebuah truk militer.


Berbeda dengan keterangan Wisnu yang menyangkal adanya pilot Rusia yang pernah turun langsung ke palagan Irian Barat, Okorokov justru mendapatkan keterangan yang berbeda dari para veteran yang pernah ditugaskan ke Indonesia. Menurut staf pengajar di Akademi Ilmu Militer Rusia itu, seorang pilot Rusia pernah dikabarkan menerbangkan salah satu pesawat tempur beridentitas AURI lalu menghajar kedudukan sebuah stasiun radar milik Belanda di Manokwari,


Kendati diberitakan sukses menghancurkan kedudukan musuh, pesawat tempur itu tak pernah kembali ke Lanud Iswahyudi. Tak jelas benar, apakah pesawat itu jatuh ditembak musuh atau mengalami kecelakaan saat hendak kembali ke pangkalan.


“Dia tidak pernah kembali dari misinya…” ungkap Okorokov.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
transparant.png
bottom of page