Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Di Balik Tiga Koleksi Indonesia yang Dikembalikan dari Belanda
ENAM bulan pasca-Belanda mengembalikan artefak-artefak koleksi Eugene Dubois, termasuk fosil “Manusia Jawa”, upaya repatriasi terkini kembali menghasilkan pengembalian tiga benda lain. Ada Arca Siwa, Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman, dan sebuah Al-Quran dari abad ke-19. Menurut laman resmi pemerintah Belanda , Selasa (31/3/2026), dua bendanya berasal dari Wereldmuseum Amsterdam, yakni arca Siwa dan Prasasti Damalung. Sementara yang berupa Al-Quran dari koleksi pemerintah kota Rotterdam yang disimpan di Wereldmuseum Rotterdam. “Penandatanganan persetujuan penyerahannya dilakukan Duta Besar Indonesia (untuk Belanda, red. ) Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Youssef Louakili, dilakukan pada 31 Maret di (kantor) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan,” bunyi pernyataan tersebut. Sebelum dikembalikan, ketiga benda itu lebih dulu menjalani provenance research (penelitian asal-usul) yang dilakukan bersama antara tim Commissie Koloniale Collecties dari Belanda dengan para pakar Indonesia dari Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda pimpinan I Gusti Agung Wesaka Puja –yang diteruskan Tim Repatriasi Objek Pemajuan Kebudayaan dan Pengembalian Cagar Budaya yang Berada di Luar Wilayah Republik Indonesia ke dalam Wilayah Republik Indonesia pimpinan Ismunandar– sebagaimana juga dengan 472 benda bersejarah yang direpatriasi pada Juli 2023 dan 288 benda lain yang direpatriasi pada September 2024. Ketiga artefak baru di atas juga akan menempati “rumah” baru di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Baca juga: Resmi! Belanda Serahkan 472 Benda Bersejarah ke Indonesia Baca juga: Belanda Kembalikan 288 Benda Warisan Nusantara ke Indonesia Arca Siwa dari Candi Kidal Arca Siwa Anusapati (Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen) Menurut dokumen Commissie Koloniale Collecties dengan nomor rekomendasi ID-2025-3, Arca Siwa yang dimaksud sudah jadi usulan pihak Indonesia untuk direpatriasi sejak 20 September 2023. Penelitian terhadapnya lantas dilakukan pakar Wereldmuseum Leiden, Rosalie Hans dan Tom Quist. Dari penelitian awal, arca setinggi sekitar 123 cm itu terpahat dari material andesit dan diketahui berasal dari abad ke-13. Mulanya, arca merupakan bagian dari Candi Kidal di Malang, Jawa Timur. Disimpulkan, arca Siwa itu berasal dari masa Kerajaan Singhasari karena mengidentikkan Dewa Siwa dengan penguasa Singhasari yang jadi penerus Ken Angrok, yakni Raja Anusapati (bertakhta 1227-1248). “Candi Kidal bersifat agama Hindu-Siwa, karena di ruangan candi (garbhagrha) dahulunya terdapat arca Siwa Mahadewa yang sekarang disimpan di Royal Tropical Institute di Amsterdam. Arca tersebut kemungkinan adalah arca perwujudan Raja Anusapati, raja kedua Kerajaan Singhasari, karena dalam kitab Nagarakrtagama puluh 41:1, dikatakan ketika (Anusanatha) pulang ke tempat Raja Gunung arca perwujudannya ditempatkan di Kidal,” tulis Edi Sedyawati, Hasan Djafar dkk. dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Salah satu referensi utama provenance research adalah catatan arkeolog dan orientalis Frederic Martin Schnitger berjudul “De herkomst van het Krtanagara-beeld te Berlijn” yang terdapat dalam Jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde , tahun 1936. Arca itu, menurutnya, diambil dari Candi Kidal pada 1802 oleh pejabat kolonial Nicolaus Engelhard saat ia pelesiran ke Malang dan mengunjungi candi itu. Namun, belum dapat dipastikan siapa yang menbawa arca itu ke Belanda. Hanya terdapat catatan bahwa arca itu merupakan donasi dari seorang saudagar Belanda, Isaac Gerard Veening, kepada lembaga Natura Artis Magistra pada 1851. Tak dijelaskan pula dari mana Veening mendapatkannya. Mulai 1921, arcanya diserahkan kepada Kolonaal Instituut Amsterdam dan dijadikan koleksi di Wereldmuseum Amsterdam. Prasasti Damalung dari Lereng Merbabu Prasasti Damalung/Ngadoman dari era akhir Majapahit (X @bonnietriyana) Sempat hilang catatannya begitu lama, Prasasti Damalung alias Prasasti Ngadoman ditemukan kembali pada 7 Agustus 2024 ketika sejarawan dan sekretaris Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, Bonnie Triyana, mengunjungi seguah gudang museum di kota kecil Gravenzande. Sebelumnya, ia mendengar tentang prasasti itu dalam sebuah diskusi di Salatiga pada awal 2023 dan kemudian melacaknya dengan dibantu kurator Museum Volkenkunde Leiden, Pim Westerkamp. Disebut Prasasti Ngadoman karena benda tersebut ditemukan di Ngadoman (kini wilayah Kabupaten Semarang) oleh Residen Semarang Hendrik Jacob Domis, medio 1824. Sedangkan nama Damalung merujuk pada lokasi Ngadoman di lereng Gunung Merbabu, yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Damalung. Setelah menemukannya di Lereng Merbabu, Domis memindahkannya ke kediamannya di Salatiga. Ia lalu minta bantuan Demang Salatiga Ngabehi Ronodipuro dan panembahan Sumenep untuk menafsirkan isi prasasti dalam aksara Jawa Kuna itu. “Saya menemukan benda itu di sisi timur (lereng) Gunung Merbabu, di mana bendanya terdapat aksara tertentu (kuno) dan saya merasa bendanya begitu penting untuk jadi perhatian. Saya bawa ke Salatiga dan Demang Salatiga Ronodipuro memastikan bahwa itu aksara Jawa Kuna,” tulis Domis dalam Salatiga, Merbaboe en de Zeven Tempels . Menurut penelitian yang juga dilakukan Rosalie Hans dalam dokumen rekomendasi bernomor ID-2025-4, prasasti yang berasal dari tahun 1371 Saka (1449/1450 Masehi) itu dipelihara Domis di kediamannya di Salatiga hingga pada 1827 diserahkan kepada Koninklijke Bataviaasch Genootschap (KBG). Gubernur Jenderal Leonard Pierre Joseph Du Bus de Gisignies lalu mengangkutnya ke Belanda. Prasasti itu mulai jadi koleksi Rijks Etnographisch Museum (kini Wereldmuseum Leiden) pada 1904. Baca juga: Prasasti Damalung yang Hilang Ditemukan di Negeri Seberang Baca juga: Prasasti Damalung Wajib Dipulangkan, Begini Kata Arkeolog Al-Quran Rampasan Perang Aceh Al-Quran yang diyakini milik Teuku Umar atau kerabatnya (Wereldmuseum Rotterdam) Dalam keterangan dokumen rekomendasi Commissie Koloniale Collecties bernomor ID-2025-2, Al-Quran dimaksud punya ciri berupa versi cetak buatan perusahaan penerbitan Al-Hasaniyya di Mumbai, India, dengan titimangsa cetak Februari 1879. Bersampul kulit berwarna merah, kondisi Al-Qurannya masih baik. Tim repatriasi dari Indonesia sudah mengusulkan repatriasi Al-Quran yang diduga milik pemimpin Perang Aceh, Teuku Umar, itu sejak 1 Juli 2022. Adapun penelitian asal-usulnya dilakoni Mirjam Shatanawi dengan bantuan Tom Quist. Dalam wawancara dengan Historia.ID medio November 2022, sebelumnya ia meneliti empat Al-Quran yang juga diduga milik Teuku Umar. Satu di Wereldmuseum Rotterdam berupa Al-Qur'an cetak. Dua Al-Quran lain di Tropenmuseum Amsterdam, masing-masing berupa Al-Qur'an cetak dan Al-Quran tulis tangan. “Al-Quran yang keempat ada di Universitas Leiden. Yang (versi) tulis tangan juga ada sedikit kerusakan namun wajar mengingat usianya,” kata Shatanawi kala itu. Setelah riset lebih mendalam dari Shatanawi dan setelah disetujui tim repatriasi Indonesia dalam pertemuan pada 26 Mei 2025, diputuskan bahwa yang dipulangkan adalah versi cetak yang sebelumnya berada di Wereldmuseum Rotterdam. Sebab, yang disepakati untuk direpatriasi merupakan benda peninggalan yang berkaitan dengan Teuku Umar, baik milik pribadi maupun kerabatnya. Al-Quran itu dirampas setelah serbuan Belanda terhadap posisi Teuku Umar di Lampisang pada 25 Mei 1896. Bendanya diambil oleh perwira Tentara Kerajaan Hindia Belanda Letnan Dua KNIL Ferdinand Kennick dari kediaman Teuku Umar. Bertahun-tahun Al-Quran itu jadi koleksi pribadi keluarga Kennick hingga pada 1940 diserahkan ke Kementerian Koloni lalu disimpan di Koloniaal Instituut (kini Wereldmuseum Amsterdam). Bendanya pernah ditebus Landbouwhogeschool (kini Universita Wageningen) pada 1948 dan sempat dipinjamkan ke Stedelijk Gymnasium Schiedam pada 1962. Baru pada 1997, bendanya didonasikan ke Museum voor Land-en Volkenkunde (kini Wereldmuseum Rotterdam). Baca juga: Al-Qur'an Teuku Umar yang Dirampas Belanda Baca juga: Empat Versi Al-Qur'an Milik Teuku Umar
- Si Bung dan Dua Gadis Jepang
AWAL 1966. Indonesia bergolak. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, ribuan demonstran nyaris tiap hari tumpah ruah ke jalanan. Selain menuntut penurunan harga, rombak kabinet dan pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia), mereka pun mengeritik tingkah polah Presiden Sukarno yang dinilai tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Salah satu yang dikritik mahasiswa adalah kebiasaan Bung Karno memiliki banyak istri. Dalam Angkatan 66: Sebuah Catatan Harian Mahasiswa karya Yozar Anwar disebutkan bagaimana pada 9 Februari 1966, serombongan mahasiswa Jakarta berparade dalam dandanan ala geisha (perempuan penghibur Jepang) lengkap dengan o-icho (sanggul tradisional Jepang) dan kimono khas-nya. Di dada mereka sebuah poster tergantung dengan tulisan yang berbunyi: “Gundik-Gundik Impor”
- Before the Rise of Tarumanagara
From the hot and humid climate of the northern coast of western Java to the cool mountains in the interior, all were included in the territory of the Tarumanagara Kingdom. This Hindu-style kingdom was once the largest kingdom in the western part of Java.
- Para Pramugari Garuda di Sisi Sukarno
KECANTIKAN dan aura pramugari memang bisa mempesona siapa saja. Karyawati yang menjadi kru pesawat ini dilatih untuk melayani penumpang. Selain piawai melayani penumpang, pramugari juga dituntut berpenampilan menarik. Bertubuh jenjang semampai, pintar, mampu berbahasa asing, dan jago berdandan biasanya kualifikasi yang harus dimiliki setiap pramugari. Figur sekaliber Presiden Sukarno pun pernah kecantol dengan pramugari. Perempuan itu bernama Kartini Manoppo, gadis asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Pertemuan pertama Sukarno dan Kartini Manoppo berlangsung di atas udara dalam suatu penerbangan pada 1958. Bung Karno menumpang pesawat Garuda menuju Malang untuk meresmikan proyek pabrik tenun di Batu Ceper. Di saat yang sama, Kartinilah yang menjadi pramugarinya. Tiada kesan istimewa dalam pandangan pertama, kecuali Kartini mendapat kenang-kenangan berupa sehelai kain tenun Malang dari Bung Karno usai penerbangan itu.
- Satu Episode Tim Garuda di Olimpiade
TIM Nasional Indonesia U-23 tengah menggila. Skuad “Garuda Muda” yang ditukangi Shin Tae-yong (STY) melibas lawan-lawan yang selama ini jadi momok di ajang AFC Cup U-23 2024 demi berebut tiket ke Olimpiade Paris 2024. Sebelumnya, Witan Sulaeman cs. lolos dari babak penyisihan sebagai runner-up Grup A hasil menang atas Australia U-23 (1-0) dan Yordania U-23 (4-1). Lantas di perempatfinal, setelah melalui laga sengit kontra Korsel U-23 pada Kamis (25/4/2024), Garuda Muda sukses memulangkan negeri asal STY itu lewat kemenangan adu penalti, 11-10, usai imbang 2-2 di waktu normal. Pada semifinal, Garuda Muda ditantang tim besar lain, Uzbekistan U-23, pada Senin (29/4/2024). Laga ini tentu menjadi penentu menuju Olimpade Paris 2024.
- Mula Tim Garuda
PERJUANGAN Timnas Indonesia (senior) bakal kian berat. Setelah keok 0-1 dari Singapura di laga perdana di Grup B Piala AFF 2018 dan menang 3-1 kontra Timor Leste, tim besutan Bima Sakti Tukiman itu akan menantang juara bertahan Thailand, Sabtu (17/11/2018) di Stadion Rajamangala, Bangkok. Timnas Garuda dan Tim Gajah Putih terakhir bentrok di laga puncak Piala AFF 2016. Kala itu Indonesia kalah agregat 3-2 sehingga untuk kelima kalinya harus puas jadi finalis sejak perhelatan sepakbola se-Asia Tenggara itu dimulai 1996 dengan nama Piala Tiger .
- Teroris Membajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
JUMAT pagi, di Bandara Talang Betutu, Palembang, 28 Maret 1981. Seperti biasa, Kapten Herman Rante, pilot berusia 38 tahun bersiap-siap menerbangkan pesawat yang dikemudikannya. Setelah transit di Palembang, pesawat Garuda DC-9 “Woyla” bernomor penerbangan 206 rute Jakarta-Medan itu akan menuju Bandara Polonia. Beberapa menit setelah lepas landas, terdengar kegaduhan dari arah belakang. Lima laki-laki telah menguasai pesawat bagian tengah. Seorang dari komplotan itu menuju kokpit. Pistol jenis revolver cal 38 ditodongkan ke kepala Herman Rante. Herman Rante menyadari pesawat yang dikemudikannya sedang dibajak.
- Teroris Hendak Membajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” Sampai Sri Lanka
KEPALA Bakin (kini BIN) Jenderal Yoga Soegama berang bukan kepalang. Bagaimana tidak, Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” jurusan Jakarta-Palembang-Medan yang sedang transit di Bandara Bayan Lepas, Penang, Malaysia dibajak sekelompok teroris. Celakanya, kedutaan Indonesia di Malaysia sedang kosong sehingga tidak ada yang dapat dihubungi. Kekesalan itu ditumpahkan Yoga kepada B.S. Arifin, Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri. “Buatkanlah suatu cara dan kebiasaan menghadapi keadaan darurat. Saya tidak meminta para duta besar harus selalu ada di tempat tugas. Juga wakilnya. Tapi setidak-tidaknya kalau hendak bepergian tinggalkanlah pesan, tinggalkanlah petunjuk di mana mereka bisa dihubungi. Bisa dikontak,” kata Yoga mengeluh seperti dikutip B. Wiwoho dalam Operasi Woyla: Sebuah Dokumen Sejarah .
- Kisah Bule Nekat dalam Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
SIANG, 29 Maret 1981 itu begitu terik di Bandara Don Mueang, Bangkok. Panasnya cukup untuk menembus jendela pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang sedang dibajak. Kendati demikian, para pembajak melarang kru pesawat menyalakan mesin pendingin udara. Alih-alih berbelas kasih, mereka mengintimidasi penumpang. Makan dan minum dibatasi. Begitupun akses ke toilet. Rasa gerah, lapar, dan dahaga menyiksa para penumpang yang disandera itu. Begitulah keadaan di pesawat Garuda DC-9 “Woyla” memasuki hari kedua pembajakan. Dari 41 sandera terdapat enam penumpang warga negara asing. Tiga di antaranya warga Amerika serikat: Karl Schneider, Ralph Hunt, dan Raymond Heischman. Sementara itu, tiga penumpang warga negara asing lain ialah Robert Wainwright (Inggris), Hengky Siesen (Belanda), dan Hiromi Higa (Jepang).
- Pembajakan 19 Hari
DESA De Punt, Glimmen, Belanda, 11 Juni 1975 pukul 05 pagi. Keheningan suasana desa disobek suara enam pesawat F-104 Starfighter AU Belanda yang terbang rendah di atas sebuah keretapi. Para personil Bijzondere Bijstands Eenheid/BBE Marinir Belanda di dekat kereta itu langsung menyerbu kereta. Mereka berupaya membebaskan penduduk sipil yang disandera sekelompok pemuda pejuang Republik Maluku Selatan (RMS) di dalam kereta tadi. Pembajakan kereta dan penyanderaan itu jadi imbas tak langsung dari Pengakuan Kedaulatan di pengujung 1949 dan penguasaan Kepulauan Maluku oleh Tentara Nasional Indonesia setahun berikutnya. Banyak mantan personil KNIL yang jadi pejuang dan simpatisan kemerdekaan RMS lalu memilih tinggal Belanda. Selain adanya ikatan emosional kuat antara mereka dengan Belanda, jaminan bantuan pemerintah Belanda untuk mewujudkan RMS menjadi alasan kuat mengapa mereka memilih tinggal di Belanda.
- Benny Moerdani Menangani Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
MENGENAKAN baju safari warna gelap, Letnan Jenderal Benny Moerdani memasuki pesawat Garuda DC-9 “Woyla”. Serbuan gerak cepat dari pasukan elite anti-teror Kopassandha baru saja mengakhiri aksi pembajakan pesawat yang dilakukan teroris dari kelompok Jamaah Imran. Setelah melakukan pengecekan di sana-sini, Benny memberi isyarat “Oke” lalu turun dari tangga pesawat. Seluruh pasukan komando itupun meninggalkan lokasi. “Pasukan komando diangkut dengan bis menuju hanggar Angkatan Udara Muangthai, dan segera masuk ke dalam pesawat DC-10 ‘Sumatra’ yang sedang parkir sejauh lima kilometer dari lokasi penyerbuan,” demikian berita Sinar Harapan , 2 April 1981. Begitulah suasana setelah drama pembajakan pesawat Garuda “Woyla” berakhir pada 31 Maret 1981. Pesawat itu dibajak pada 28 Maret dalam penerbangan dari Jakarta menuju Medan, transit di Palembang, kemudian tertahan di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand. Kendati sempat terjadi baku tembak, operasi anti-teror itu berlangsung hanya kurang dari tiga menit.
- Jenderal Nasution Terseret Kasus Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
SETELAH drama pembajakan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” berakhir, pemerintah menggelar konferensi pers. Pangkopkamtib Laksamana Soedomo didampingi Menteri Penerangan Ali Moertopo mengungkap para pelaku pembajakan merupakan buron kasus penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki, Cicendo, Bandung. Mereka, sebut Soedomo, melakukan teror untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. “Dengan demikian jelas bahwa kelompok ini adalah kelompok ekstrim yang telah menafsirkan ajaran agama secara salah dan mencemarkan agama,” ucap Soedomo dikutip harian Angkatan Bersenjata , 1 April 1981. Sementara itu, Ali Moertopo mengatakan keberhasilan pemerintah menangani pembajakan mengangkat citra Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, Indonesia adalah negara ketiga yang berhasil menyelesaikan masalah pembajakan secara gemilang. Atas pencapaian itu, Ali mengajak semua yang hadir dalam jumpa pers mengagungkan nama Allah. Seruan takbir pun diserukannya, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”






















