Hasil pencarian
9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud
PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta. Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho , namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas. Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam. “Namun rupanya Cornel menyadari juga, bahwa ia perlu mencari jalan keluar dari kemelut itu. Pada suatu sore sepulang di rumah ia menyatakan, bahwa di Gang Thimas, Tanah Abang, ada barang dagangan berupa arang,” tulis Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang. Arang itu harus dijual dan mendapatkan untung karena modal pokoknya harus disetorkan kepada pemilik arang. Mereka yang biasanya bergelut di dunia kesenian itu pun harus rela menjadi penjual arang agar dapur kembali mengepul. Agar arang itu cepat laku, mereka menodong orang-orang yang dikenal. Cornel meyebut nama-nama yang kemungkinan mau membeli arang, seperti Lasmidjah Hardi yang turut berjuang ketika revolusi, dan Ibu Sud, pencipta lagu kenamaan. “Esok harinya kami berangkat ke Gang Thomas. Segera pula keranjang-keranjang berisi arang kami tumpuk di atas sebuah gerobak dorong. Cornel bekerja keras tanpa menghiraukan tangan dan pakaiannya yang menjadi hitam. Kami pun berangkat. Saya memegang bagian depan gerobak untuk menjaga keseimbangannya, dan Cornel mendorong dari belakang,” kata Binsar. Setelah basah kuyup oleh keringat, mereka sampai di Jalan Maluku, Menteng, tempat Ibu Sud tinggal. Tanpa bertanya dulu, mereka lalu menurunkan lima keranjang arang dan mengangkutnya ke dapur rumah Ibu Sud. Ibu Sud hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak muda itu. Ia juga tidak menawar harga arang ketika Cornel menyebut nominal. Tak sampai di situ, pada kesempatan itu Cornel menodong lagi. “Ibu Sud, kami lapar nih,” kata Cornel. Ibu Sud segera pergi ke dapur. Kembali dari dapur, Ibu Sud membawa dua piring nasi goreng yang masih hangat dan baunya harum. “Aduhai, sudah lama kami tidak menikmati hidangan seenak itu,” kata Binsar. Melihat anak-anak muda kumal dan kelaparan itu Ibu Sud hanya termenung. “Hai Cornel, mana lagumu yang baru? Jangan asyik mengurus arang saja dong,” kata Ibu Sud. “Tunggu saja Bu, kalau sudah laku semua ini, akan saya buat lagu Romantika Penjual Arang ,” jawab Cornel. Mendengar jawaban Cornel, Ibu Sud hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Hubungan Cornel dengan Ibu Sud memang sudah erat sejak lama. Cornel banyak belajar musik dari Ibu Sud sejak pindah ke Jakarta. Biasanya, ketika Cornel selesai membuat lagu baru, Ibu Sud yang menjadi pendengar pertamanya. Ibu Sud juga yang menganjurkan Cornel mengikuti les menyanyi pada Ny. Kempers, seorang guru musik berkebangsaan Belanda.
- CIA Ungkap Peristiwa APRA Westerling
SETELAH melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan, Kapten Raymond Westerling, komandan Korps Speciale Troepen (Pasukan Khusus Belanda) kembali melakukan operasi brutal di Jawa Barat. Puncaknya ketika seorang komandan batalion dari Divisi 7 Desember melaporkan Westerling karena pasukan yang dipimpinya telah membunuh sepuluh warga sipil di jalanan kota Ciamis. Atas perintah Panglima Tentara Belanda di Batavia, Jenderal Simon Spoor, Westerling pun dibebastugaskan pada 11 November 1948. Westerling kemudian memasuki kehidupan baru sebagai warga sipil. Dia menikahi kekasihnya, Fernanda Yvonne Fournier, wanita keturunan Indo-Prancis. Fernanda adalah putri seorang pengelola hotel asal Prancis yang menikah dengan wanita pribumi (versi lain menyebutkan wanita Vietnam).
- Bioskop Garuda, Dulu Primadona kini Tinggal Nama
Bicara tentang film tak akan bisa lepas dari bioskop. Film menjadi salah satu kesenian yang memikat banyak orang hingga masa kini, sedangkan bioskop menjadi tempat untuk menikmati film. Sejarah penyebaran film berhubungan erat dengan pendirian bioskop di berbagai tempat. Film masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20. Bersama itu bioskop pertama muncul di Batavia dan menarik perhatian banyak orang. Waktu itu bioskopnya masih berupa rumah. Tapi apa yang dipertunjukan sungguh suatu keajaiban. Gambar idoep, itulah sebutan film saat itu. Maka, orang berbondong-bondong ke bioskop. Orang-orang bermodal tebal mendirikan bioskop di berbagai tempat di luar Batavia. Makin hari, makin bagus bentuknya. Tapi seperti bisnis lainnya, bisnis bioskop juga merasakan masanya bangun dan jatuh, naik dan turun, manis dan pahit, hidup dan mati. Di Kediri, Jawa Timur, masa-masa itu terekam jelas dalam bioskop Garuda. Patung Panji Asmoro Bangun simbol kota Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda di Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda terletak di Jalan Yos Sudarso, kawasan Pecinan, tak jauh dari Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berbatasan dengan Kali Brantas. Pendirian bioskop ini sebati dengan tumbuhnya minat orang Kediri pada film selama era 1970-an. Selain Garuda, Kediri punya empat bioskop lain pada masa 1980-an. Tempat duduknya selalu terisi penuh. Baca juga: Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop “Dulu di Kediri itu tidak banyak tempat hiburan. Ketika bioskop dibangun, warga penasaran dan akhirnya masuk dan nonton film,” ujar Ismanto (48), salah satu guru di kota Kediri. Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berlokasi tidak jauh dari bioskop Garuda. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Bioskop Garuda yang tampak angker. (Fernando Randy/Historia). Dari lima bioskop itu, Garuda paling elite. “Bioskop Garuda itu salah satu bioskop untuk yang punya duit lebih mas, karena harga tiketnya cukup mahal zaman itu, seingat saya harga tiketnya sekitar Rp350-an,” kata Ismanto. Baca juga: Konflik Aceh Mereda Tapi Bioskop Terlupa Jika dikonversi ke nilai uang sekarang, nilainya sekira Rp35.000. Selain itu, film-film yang diputar bioskop Garuda pun berbeda dari bioskop lainnya. Mereka lebih sering memutar film-film terbaru dari kawasan Asia: Tiongkok dan India. Tapi seiring perkembangan zaman, bioskop Garuda mulai ditinggalkan orang pada 2000-an. Bangunan gedung bioskop Garuda yang tampak tidak terurus. (Fernando Randy/Historia). Lambang Garuda yang melekat pada pintu utama gedung bioskop. (Fernando Randy/Historia). Bioskop ini sekarang tak aktif lagi. Tapi bangunannya masih berdiri. Ada papan nama bertulis "Garuda" lengkap dengan logo burung Garuda yang juga merupakan lambang negara Indonesia. Baca juga: Asal-Usul Profesi Tukang Catut di Bioskop Penyebab matinya bioskop Garuda antara lain maraknya pembajakan, kemunculan perangkat pemutar film rumahan, dan kalah bersaing dengan jaringan bioskop modern. Pengunjung Garuda pun berkurang. Pemasukan tak ada sehingga membuat manajemen Garuda limbung. Setelah didera kerugian, Garuda tersungkur dan mati. Salah satu sisi bangunan bioskop Garuda yang rusak. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Garuda tampak tak terurus. Catnya terkelupas. Lumut menutup sebagian sisi dinding bangunan. Karat menggerogoti besi-besi untuk ornamen, pagar, dan fondasinya. Baca juga: Mengenang Bioskop Drive-In ala Ciputra Bila malam tiba, bangunan ini menyeramkan. Tak sedikit warga yang ngeri ketika harus melewatinya pada malam hari karena bangunannya mirip dengan gedung berhantu dalam film horor. Cat yang sudah tampak terkelupas. ( Foto : Fernando Randy/Historia ) Sisi bangunan tampak sudah mulai mengelupas. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda yang jaya pada masanya kini tinggal kenangan. (Fernando Randy/Historia).
- Lama Wabah di Masa Lalu
SETELAH menjalani karantina selama beberapa bulan, orang-orang mulai bertanya kapan pandemi Covid-19 berakhir. Para peneliti di berbagai negara seperti di Inggris, China, Rusia, dan Amerika Serikat terus berusaha mencari jalan keluar dengan pengembangan vaksin. Di Indonesia sendiri, pengembangan vaksin sudah mencapai tahap III (pengujian pada manusia dengan jumlah besar) per Juli 2020 dan ditargetkan selesai pada 2022. Meski jalan untuk vaksinasi massal masih amat jauh, beberapa negara seperti Indonesia memilih melonggarkan karantina lebih awal karena pertimbangan ekonomi. Prediksi tentang berakhirnya wabah pun menjadi amat sulit dilakukan. "Saya pikir ada semacam masalah psikologis sosial seperti kelelahan dan frustrasi," kata sejarawan Universitas Yale Naomi Rogers pada The New York Times . Menurutnya, ketika kerugian ekonomi terus meningkat akibat pembatasan sosial, orang-orang memilih untuk kembali menjalankan aktivitas. Ada perbedaan pandangan antara masyarakat dan para ahli kesehatan. Yang pertama melihat masalah ekonomi dan sosial sementara para ahli kesehatan melihatnya sebagai krisis kesehatan yang membahayakan nyawa. Menilik akhir wabah di masa lalu, sejarawan membedakannya menjadi dua. Berakhir secara medis, yakni ketika jumlah kasus baru dan tingkat kematian menurun drastis; dan berakhir secara sosial, yakni ketika ketakutan akan penyakit berkurang. Wabah cacar yang pernah menyerang dunia temasuk yang berakhir secara medis berkat temuan vaksin yang bisa menangkal virus seumur hidup. Sejak muncul pertamakali tahun 1558 di Ternate dan Ambon, cacar menjadi penyakit mematikan karena ketiadaan obat dan vaksin. Pengendalian cacar baru dilakukan ketika ahli medis Inggris dokter Edward Jenner menemukan cara ampuh penanggulangan cacar pada 1796. Stefan Riedel dalam “Edward Jenner and the History of Smallpox and Vaccination”, menyebut pada Mei 1796, Jenner menemukan seorang pemerah susu bernama Sarah Nelms yang terserang cacar sapi. Ia kemudian meneliti cara penjinakan cacar sapi dan mengujicobanya pada anak salah seorang pelayannya. Keberhasilan penemuan Jenner menjadi titik terang pengendalian wabah cacar di seluruh dunia, temasuk di Hindia Belanda. Dalam “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” yang dimuat dalam Humaniora Oktober 2006, Baha’Udin menulis, pada 1818 ada 50420 pencacaran, tahun 1860 jumlahnya meningkat tajam jadi 479.768 pencacaran dengan 211.051 pencacaran ulang. Pada 1875 jumlah pencacaran makin naik hingga 930.853 orang yang menerima vaksin. Mulanya, vaksin dikirim tiap 2-3 bulan sekali dari Amsterdam, Rotterdam, Utrech, dan Den Haag. Namun pada 1879, pemerintah kolonial mendirikan Parc Vaccinogene di Batu Tulis, Bogor untuk meningkatkan produksi vaksin. Pemerintah juga menambah jumlah tenaga medis yang bertugas mendistribusikan vaksin (mantri cacar) dan mendirikan Dokter Djawa School di Batavia. Meski penyakit ini berhasil dikendalikan sejak abad ke-19, dunia baru dinyatakan bebas dari cacar pada 1979. Sementara, cerita lain datang dari wabah pes. Bermula di Malang pada 1910, pes lambat laun menjalar ke Semarang, Yogyakarta, dan wilayah lain. Menurut data pemerintah kolonial, sepanjang 1910-1939, korban pes di Jawa Timur sebanyak 39.254 orang, Jawa Tengah 76.354, dan Yogyakarta 4.535. Pada 1920-an, wabah pes menyerang Cirebon, Priangan, dan Batavia dengan angka kematian yang terus meningkat. Hingga puncaknya di Jawa Barat tahun 1933-1935, pes mengakibatkan 69.775 orang tewas. Di Jawa Timur, pes berhasil dikendalikan dengan vaksinasi, renovasi rumah, dan peningkatan kebersihan lingkungan. Bila pada 1910-1919 ada 37602 orang yang terjangkit pes, pada 1920-1929 angkanya turun menjadi 1521. Terence Hull dalam “Plague in Java” mencatat, pada dekade terakhir kekuasaan kolonial, angka kasus pes di Jawa Timur terus menurun hingga menjadi 131 sepanjang 1930-1939. Namun ketika angka kasus pes di Jawa Timur turun, wilayah Jawa Barat malah naik pesat. Sayangnya pada masa Jepang masalah kesehatan tak mendapat perhatian sehingga tak ada catatan tentang pes di masa tersebut. Pada pendemi Flu Spanyol 1918, karantina wilayah juga dilakukan pemerintah kolonial. Pejabat kesehatan memberi aturan khusus pada kapal-kapal yang menepi di pelubahan-pelabuhan Hindia Belanda berupa larangan menurunkan penumpang. Bila ada yang melanggar, denda menanti. Priyanto Wibowo dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 menyebut, wabah yang paling hebat berlangsung kira-kira tiga minggu. Namun puncaknya baru berakhir kira-kira dua bulan dan pandemi influenza 1918 memang tidak pernah dinyatakan secara resmi berakhir. Menurut Priyanto, pandemi itu menghilang dengan sendirinya. Para sejarawan menyebut Flu Spanyol sebagai pandemi yang terlupakan. Dalam ingatan kolektif masyarakat Amerika Serikat sendiri, Pandemi Flu 1918 tidak banyak diperbincangkan terutama ketika masa pandemi itu sendiri. Namun karena beratnya kehidupan di masa Perang Dunia I, orang-orang memilih untuk kembali beraktivitas dengan beberapa penyesuaian untuk menghindari penularan virus. Menurut sejarawan Universitas Cambridge Mary Dobson, infeksi flu Spanyol kemudian menurun pada 1921 namun penularan Flu Spanyol terus terjadi hingga 1957. Tidak ada catatan pasti kapan sebuah penyakit benar-benar hilang. Menurut Naomi Rogers, klaim tentang berakhirnya wabah bisa amat sulit didefinisikan. “Siapa yang bisa mengklaim akhirnya?"
- Ketika Si Bung Dikira Tukang Kebun
Mendiang Kolonel (Purn.) Maulwi Saelan menjadi saksi bagaimana Presiden Sukarno amat menyukai kegiatan bercocok tanam. Menurutnya, setiap hari Bung Karno selalu meluangkan waktu untuknya. “Itu pohon beringin yang di Istana dia yang tanam,” ujarnya kepada Historia beberapa tahun lalu. Kegiatan berkebun Bung Karno biasa dimulai pada pagi setelah sarapan. Kolonel KKO Bambang Widjanarko menjadi salah satu yang sering diminta Bung Karno menemaninya keliling memperhatikan tanaman di taman-taman Istana. Bambang menyatakan dalam Sewindu Dekat Bung Karno , Bung Karno akan marah bila mendapati ada pohon yang tak terawat atau rusak. Biasanya tukang kebun yang kebagian jatah merawat pohon yang kedapatan tak terawat akan langsung dipanggil dan diperintahkan untuk segera membenahi pohon itu. Berkebun merupakan salah satu aktivitas yang paling disukai dan rutin dilakukan Bung Karno. Sewaktu menjalani pembuangan di Ende, Flores, Bung Karno bersama Inggit istrinya menanami pekerangan rumahnya dengan sayuran. Dengan begitu Bung Karno bisa membunuh kejemuan di tempat pembuangan yang sepi sekaligus mencukupi kebutuhannya di tengah melompongnya kantong. “Sekalipun kami hanya punya uang sedikit, kami berhasil mencukupi diri sendiri. Kebutuhanku sederhana. Makananku terdiri dari nasi, sayur, buah-buahan, terkadang ayam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sayuran diambil dari yang kutanam di pekarangan samping rumah,” kata Bung Karno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Kegiatan itu terus berlanjut ketika Bung Karno tinggal di Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Pohon-pohan yang ditanam dan dirawat bersama Ibu Fatmawati saban hari diperhatikan Bung Karno. Tukang kebun yang diupah membantu akan kena marah bila tak merawat pohon-pohon dengan serius. Pernah suatu kali Bung Karno memarahi tukang kebun karena kedapatan tak menuruti arahannya sehingga membuat pohon menjadi merana. Kebiasaan berkebun Bung Karno tetap berlanjut ketika pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta pada 1946. Pun ketika mengalami pembuangan di Berastagi, Sumatera Utara. Di sana, Bung Karno sempat menanam pohon beringin di tempat pembuangannya. Setelah pemerintahan kembali ke Jakarta, berkebun kembali dilakukan Bung Karno di kompleks istana. Namun, kegiatan itu tak hanya dilakukan Bung Karno di istana Jakarta. Istana Tampaksiring di Bali pun tak luput jadi tempat berkebun Bung Karno. Hal itu disaksikan antara lain oleh Horst Henry Geerken, perwakilan perusahaan Telefunken di Jakarta, yang sering diundang Bung Karno. Geerken menuliskannya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . “Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon dan menghabiskan waktu di Istanan dengan tangannya sendiri,” kata Geerken. Karena berkebun itu pula Bung Karno suatu hari mendapat sial. Suatu pagi ketika langit masih gelap, Bung Karno melihat sebuah kebun yang tak mendapat perawatan semestinya. Masih dengan pakaian seadanya, dia pun tergerak menanganinya. Namun di tengah aktivitas itu, sebuah tepukan mendarat di bahunya disertai suara seorang pria. “Hei, itu tanah saya!” kata pria bernama Made Galang itu yang diwawancara Geerken saat berusia 82 tahun. Bung Karno yang kaget lalu menoleh. Begitu mata kedua pria itu saling bertemu, Made langsung syok. Dia tak menyangka tukang kebun yang diperingatinya ternyata presidennya. Bung Karno tak sedikitpun marah dan hanya mengatakan, seperti dikutip Geerken, “Saya mau tolong saja.” Namun tetap saja hal itu membuat Made amat malu dan merasa bersalah.
- Monumen Sukarno Resmi Berdiri di Aljazair
SETELAH sempat tertunda, peresmian Monument Soekarno di Alger, Aljazair terlaksana pada Sabtu (18/7/2020) pagi waktu setempat atau sore WIB. Monumen tersebut menjadi penanda hubungan persaudaraan antardua negara yang terpisah 12 ribu kilometer jauhnya. Pembangunan monumen itu diinisiasi Kedutaan Besar RI (KBRI) Alger, didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan dipercantik sebuah patung Sukarno dari lempengan-lempengan besi karya pematung Dolorosa Sinaga. Peresmian itu dihadiri antara lain oleh Menteri Luar Negeri Aljazair Sabri Boukadoum, dan Gubernur Provinsi Alger Youcef Charfa. Ketua DPR RI Puan Maharani yang merupakan cucu Sukarno, hadir secara virtual dari Jakarta. Baca juga: Patung Bung Karno Berdiri di Aljazair Dalam pidatonya, Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Machrusah menyampaikan, sosok Sukarno dihadirkan dalam monumen dan patungnya tak lain lantaran jalinan sejarah. Sukarno tak sekadar founding father bagi Indonesia, namun juga jadi mercusuar dunia yang melantangkan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme yang mencengkeram bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. “Sukarno lahir dari keluarga yang sederhana dan tumbuh menjadi negarawan yang mulia. Melalui pengalaman hidupnya, ia membangun self-awareness terhadap pentingnya kemerdekaan dan kebebasan. Jiwa muda membawanya aktif terlibat dalam politik dan kemudian membentuk pemikiran-pemikirannya terhadap nilai-nilai kemerdekaan,” tutur Safirah. “Perjuangannya itu membuatnya ditahan dan dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda berkali-kali. Semua pengalaman itu membimbingnya menjadi lebih gigih berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Ia juga yang menggali dasar negara Indonesia sebagai negara berdaulat, tercermin dalam Pancasila,” tambahnya yang menguraikan satu per satu sila-silanya kepada hadirin. Plakat Monumen Sukarno di Alger, Aljazair (Foto: Youtube KBRI Alger) Nilai-nilai Pancasila itu masih universal dan relevan sebagai salah satu penguat persahabatan Indonesia-Aljazair. Ditambah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang jadi dasar, keduanya menjadi alasan mengapa Sukarno aktif menyokong kemerdekaan negara-negara terjajah, termasuk Aljazair. “Pembukaan UUD 1945 menyebutkan tentang kewajiban Indonesia untuk aktif mendorong perjuangan bangsa lain menuju kemerdekaan. Dengan jelas disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tak sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan,” lanjut Safirah yang sudah empat tahun bertugas jadi Dubes RI untuk Aljazair. Baca juga: Makna Patung Bung Karno di Aljazair Dua prinsip yang jadi pegangan bangsa Indonesia itu, sambung Safirah, jadi modal Bung Karno untuk lebih menyuarakan perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah lewat Konferensi Asia Afrika di Bandung pada April 1955. Konferensi itu turut mengundang Aljazair kendati negeri itu belum merdeka dari Prancis. “Banyak negara belum merdeka tahun 1955, namun suara mereka di Bandung meningkat menjadi tekanan internasional terhadap negara-negara Barat untuk mendengar suara bangsa-bangsa terjajah, terkait hak mereka untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri. Kami bangga memiliki Sukarno sebagai pendiri bangsa dan menjadi tokoh global yang memicu nilai-nilai universal tentang kemerdekaan dan membangkitkan spirit untuk terbebas dari kolonialisme dan imperialisme,” kata Safirah. “Indonesia dan Aljazair adalah dua saudara, berbagi semangat anti-kolonialisme yang sama dan memuliakan pentingnya persatuan dalam nilai-nilai nasionalisme. Indonesia dan Aljazair juga mengalami pertumpahan darah dalam perjuangannya dan saya senang upacara peresmian monumen ini bisa digelar di bulan yang sama dengan Hari Kemerdekaan Aljazair (5 Juli),” paparnya. Dubes RI Safirah Machrusah (kanan) memberi potongan tumpeng pertama untuk Menlu Aljazair sebagai simbolik peresmian (Foto: Youtube KBRI Alger) Diharapkan, monumen dan patung Sukarno yang berdiri tegak di jantung ibukota Aljazair itu bisa menjadi pengingat, terutama untuk generasi baru Indonesia dan Aljazair, demi merawat nilai-nilai perjuangan kedua negara yang punya satu tujuan: perdamaian abadi dan kesejahteraan di dunia. “Jika Anda memerhatikan, monumen ini berbentuk seperti bulan sabit dengan lima bintang, mencerminkan bendera Aljazair. Di setiap pilar pendeknya kami cantumkan teks Dasasila Bandung yang dihasilkan dari KAA 1955 sebagai deklarasi mempromosikan kemerdekaan, kesetaraan, perdamaian, dan kerjasama. Kini kami persembahkan bagi rakyat Aljazair, sebuah monumen sebagai simbol persahabatan abadi dan kerjasama yang saling menguntungkan,” tutup Safirah. Baca juga: Aljazair Merdeka Hal senada disampaikan Puan Maharani. Persamaan pemikiran dan perjuangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme lewat KAA di Bandung pada 1955 yang digelar Presiden Sukarno, kata Puan, menjadi dasar yang tak lekang waktu bagi persahabatan dua negara yang dipisahkan batas-batas benua itu. “Kita sedang menatap masa depan. Namun kita semua tetap harus mengenang sejarah kita sebagai bagian dari landasan untuk kita membangun masa depan yang lebih baik. Indonesia dan Aljazair terpisah jarak yang begitu luas melewati daratan, benua, dan lautan. Akan tetapi sejarah menyatukan kita,” kata Puan menimpali. Ketua DPR RI cum cucu Bung Karno, Puan Maharani memberi sambutan secara virtual dari Jakarta (Foto: Youtube KBRI Alger) Menanggapi dua perwakilan Indonesia, Menlu Aljazair menyatakan, jika delegasi Aljazair tak diundang ke forum KAA 1955, perjuangan mereka masih akan mengalami perjalanan yang lebih panjang. Maka sudah sepatutnya sosok Bung Karno dikenang tak hanya demi narasi sejarah, tetapi juga jadi tumpuan persahabatan yang kelak akan dirawat para generasi muda kedua negara. “Pada April 1955 Presiden Sukarno mengundang sebuah delegasi dari Aljazair. Pada saat itu isu (kemerdekaan) Aljazair belum terlalu terkenal di dunia. Dan ketika Mohamed Yazid, ketua delegasi, naik ke podium, dia memanggil semua delegasi Aljazair masuk ke dalam ruangan dan ini adalah sesuatu yang luar biasa pada saat itu,” kata Boukadoum. “Dukungan dan sambutan yang diberikan Sukarno adalah bukti hubungan Indonesia dan Aljazair sangat kuat dan ini jadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih kuat. Sejarah ini menjadi dasar supaya membangun dialog politik antara kedua negara dan membangun kerjasama yang semakin meninggi antardua negara, secara bilateral maupun secara multilateral, untuk membangun kepentingan bersama,” tandasnya. Baca juga: Djamila Bouhired Srikandi Aljazair
- Ketika Ali Sastroamidjojo Diajak Fidel Castro ke Daerah Terpencil
Kamis, 1 Januari 1959, Republik Kuba memasuki fase baru. Akibat serangan terus menerus dilakukan oleh para gerilyawan revolusiener pimpinan Fidel Castro, Presiden Fulgencio Batista hengkang ke Republik Dominika. Sejak itulah Kuba secara resmi jatuh ke tangan para revolusiener. Namun tak semua negara di dunia mengakui kekuasaan Castro, terutama negara-negara Barat dan para sekutunya. Pengakuan total justru datang dari negara-negara yang berafiliasi ke Blok Timur dan sebagian negara-negara yang pernah terlibat dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Salah satunya adalah Republik Indonesia (RI) yang menugaskan Ali Sastroamidjojo (diplomat senior sekaligus Duta Besar Tetap RI untuk PBB) untuk merintis hubungan RI dengan Kuba. “Jadi sebelum Presiden Sukarno bertemu dengan Fidel Castro dan Che Guevara pada 1960, eyang saya-lah yang terlebih dahulu mengondisikan rencana pertemuan antara Castro dengan Bung Karno,” ungkap Tatiek Kemal, salah seorang cucu Ali Sastroamidojojo. Dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku , Ali Sastroamidjojo menyatakan bahwa kunjungannya ke Kuba adalah salah satu misi diplomatik yang paling penting dan mengesankan dirinya. “Kunjungan itu saya lakukan dengan persetujuan Kementerian Luar Negeri di Jakarta yang memberikan tugas pula supaya saya menyampaikan pesan Menteri Luar Negeri RI kepada Menteri Luar Negeri Kuba bahwa Pemerintah RI sudah siap melaksanakan tukar menukar perwakilan diplomatik pada tingkat duta besar….” ungkap Ali. Rombongan utusan RI terdiri dari Ali Sastroamidjojo, Titi Roelia (istri Ali Sastroamiodjojo) dan Sekretaris Pertama bernama Masfar. Mereka tiba di di Havana (ibu kota Kuba) pada 16 Desember 1959. Begitu mendarat di Bandara Jose Marti, rombongan kecil Ali Sastroamidjojo langsung disambut oleh Menteri Luar Negeri Kuba Dr.Raul Roa. Sambutan meriah dilangsungkan oleh para pejabat Kuba. Dr. Roa secara khusus mengadakan resepsi bagi rombongan Ali di Kementerian Luar Negeri dengan dihadiri oleh semua kepala perwakilan diplomatik di Havana dan para menteri kabinet Castro serta para pejabat militernya. Guna menghormati tamu-tamu dari Indonesia, selama kunjungan empat hari itu khusus di atas gedung Kemenlu Kuba dikibarkanlah Sang Saka Merah Putih. Namun anehnya, saat melihat jadwal acara utusan khusus RI selama di Kuba, Ali sama sekali tak menemukan agenda untuk bertemu dengan pemimpin revolusi sekaligus perdana menteri Kuba, Fidel Castro. “Saat menyampaikan pesan dari Menlu RI, saya singgung soal keheranan saya itu. Saya katakan, mengunjungi Kuba tanpa berjumpa dengan Fidel Castro rasanya agak ganjil,” ujar Ali. Ditanyakan soal tersebut secara langsung oleh tamunya membuat Dr.Roa gelagapan. Sambil sedikit agak rikuh, dia mengatakan bahwa dirinya sudah berusaha untuk mengatur pertemuan antara Ali Sastroamidjojo dengan Fidel Castro tetapi hingga detik itu belum juga berhasil karena Dr. Roa sendiri sama sekali tidak tahu di mana Fidel Castro berada hari-hari itu. Fidel, lanjut Roa, selalu sibuk dan tak pernah berada di kantornya. Dia sangat rajin berkeliling dan turba ke daerah-daerah tanpa memberitahu sebelumnya ke mana dia akan pergi. “Tetapi Menlu Roa berjanji akan terus mengusahakan agar saya bertemu dengan Castro dan akan memberi kabar kepada saya dalam waktu 24 jam,” kenang Ali. Dua hari kemudian, Ali mendapat undangan makan malam dari Che Guevara pada jam 20.00. Di undangan jamuan makam itulah, dia baru mendapatkan kepastian bisa bertemu dengan Castro. Maka berangkatlah Ali Sastro, Titi Roelia dan Masfar malam itu ke Gedung Bank Sentral Nasional, tempat Che Guevara berkantor. Begitu sampai di tempat acara, semua pejabat sudah hadir termasuk Guevara dan Roa. Anehnya saat acara makan malam akan dimulai, tempat duduk Castro tetap kosong. Ali melihat wajah Roa mulai gelisah, namun tidak demikian dengan Che Guevara. “Dia terlihat tenang-tenang saja, mungkin sudah terbiasa dengan sikap Castro tersebut,” ungkap Ali. Begitu acara makan malam akan berakhir dan akan ditutup dengan acara minum kopi bersama, tetiba Castro datang dalam pakaian perjuangan lengkap dengan pistol di pinggang kanan-nya. Tanpa menghiraukan aturan protokoler, Castro langsung mendatangi Ali dan menjabat erat tangannya. Acara minum kopi kemudian berpindah ke ruangan lain. Castro berbicara akrab dengan para tamunya dari Indonesia itu. Dalam suatu kesempatan, dia bertanya kepada Ali mengenai kesan-kesan terhadap Kuba dan rakyatnya. Ali menjawab bahwa dirinya belum memiliki kesan apapun, karena selama di Kuba dia hanya melihat situasi di Havana saja. Castro paham. Secara spontan, dia lantas mengajak Ali untuk ikut serta dengan dia melihat daerah-daerah di luar Havana. Ajakan itu langsung diiyakan oleh Ali karena dirinya mengira kunjungan itu akan dilakukan besok hari. Ternyata dugaannya salah. Pemberangkatan ke daerah itu akan dilakukan pada malam itu juga. “Padahal waktu sudah menunjukan jam 12 malam,” kenang Ali. Singkat cerita, Ali Sastro, Titi Roelia dan Masfar mengikuti rombongan Castro. Perjalanan panjang pun dimulai dengan kawalan para prajurit berambut gondrong. Setelah mengunjungi sebuah pabrik gula dan minum kopi di sana, seorang pejabat memberitahu bahwa mereka ditunggu oleh Castro di suatu tempat. Castro menerima rombongan Indonesia ketika dia sedang sibuk memberikan petunjuk kepada para pekerja dan sopir-sopir truk yang tengah sibuk menggarap tanah di tepi suatu danau besar bernama Zapata. Castro menjelaskan kepada Ali bahwa pekerjaan yang tengah dikerjakan itu merupakan suatu proyek pembangunan perumahan kepariwisataan. Bukan untuk para wisatawan asing melainkan untuk rakyat Kuba sendiri yang selama rezim Batista belum pernah menikmati istirahat di tempat yang indah dengan biaya murah. Setelah selesai dengan urusan pekerjaan, di luar agenda, rombongan Indonesia “diculik” oleh Castro untuk menuju sebuah pulau kecil di tengah danau. Di sanalah berada tempat peristirahatan Castro jika melepas penat seusai turba. Tak sampai setengah jam sampailah mereka di pulau tersebut. Ali mengenang rumah peristirahatan yang ditempati Castro lebih menyerupai “benteng persembunyian” dibanding suatu villa mewah. Rumahnya sederhana sekali namun tetap dilengkapi sebuah tempat pendaratan untuk helikopter. “Saya juga melihat beberapa antena tinggi untuk mengirim dan menerima berita-berita radio…” ungkap Ali. Ketika sudah tiba waktunya makan siang, Castro meminta disediakan makanan buat dia dan para tamunya. Tetapi di dapur, yang tersedia ternyata hanya tinggal nasi saja, karena lauk pauknya sudah habis. Marahkan Castro? Alih-alih kesal, dia malah mengajak Ali dan seorang pejabat untuk memancing ikan di danau. Sambil memancing Castro bercerita tentang segala hal mengenai sendi dan misi dari revolusinya. Beberapa jam memancing, banyaklah ikan yang didapat. Castro meminta para pengawalnya untuk menggoreng ikan-ikan hasil pancingan itu. Jadilah kemudian mereka makan sore hanya dengan menu ikan goreng, kecap dan sejenis cabe rawit. “Bagi mereka hal semacam itu biasa saja, karena rupanya Castro dan kawan-kawannya biasa juga makan seperti itu selama bergerilya di hutan-hutan dan pegunungan,” ungkap Ali.
- Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop
Artis Indonesia Pertama yang Berani Vulgar Nurnaningsih mulai tenar saat membintangi flm Terang Bulan (1937) besutan sutradara Albert Balink. Penampilan vulgarnya diawali pada 1954 setelah tampil setengah telanjang dalam flm Harimau Tjampa karya D. Djajakusuma. Dia juga membiarkan sebuah foto dirinya yang berpose berani di sebuah kalender iklan. “Pers segera menjadikannya perkara, dengan nada sungguh-sungguh mempertanyakan batas antara seni dan pornograf, kata yang pada saat itu baru, dan perlu dijelaskan dengan padanannya: kecabulan,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1: Batas-batas Pembaratan . Setelah aksi beraninya itu, Nurnaningsih kemudian dikenal dengan semboyannya, “Kalau mau maju harus berani.” [Martin Sitompul]. Perempuan Indonesia Pertama Tampil di majalah Playboy Ratna Assan lahir pada 16 Desember 1954 di Torance, California, Amerika Serikat, dari pasangan Indonesia Ali Hasan dan Soetidjah. Ibunya Soetidjah lebih dikenal sebagai Dewi Dja, seorang penari yang tampil dalam film-film produksi Holywood. Nama Ratna Assan melejit ketika membintangi film Papillon bersama Steve McQueen dan Dustin Hoffman pada 1973. Papillon menjadi film termahal (12 juta dolar) yang diproduksi pada masanya. Ratna berperan sebagai Zoraima, gadis Indian yang menolong seorang pelarian kriminal Prancis bernama Henri Charriere “Papillon” (Steve McQueen). Penampilannya yang memukau dan wajahnya yang eksotis menarik Playboy untuk menampilkan Ratna dalam rubrik pictorial setahun kemudian. “Ratna Assan si ‘ butterly girl ’ bukan nama yang akrab, tapi penampilannya bersama Steve McQueen di Papillon menjadikan wajah dan figurnya begitu familiar,” tulis Playboy edisi Februari 1974. [Martin Sitompul]. Film Indonesia Pertama Bertema Homoseksualitas Istana Kecantikan (1988) disebut-sebut sebagai film Indonesia pertama yang mengangkat isu homoseksualitas dalam bingkai drama keluarga. Film yang disutradarai Wahyu Sihombing ini bercerita tentang Nico (Mathias Muchus), seorang gay, yang dipaksa berpura-pura menikahi Siska (Nurul Arifin) untuk memenuhi kehendak orang tua. Nico akhirnya menyeleweng dengan seorang pria dan membawa cerita ke ranah hubungan homoseksual yang kompleks. Dari semua film bertema homoseksualitas yang diproduksi pada masa Orde Baru, Istana Kecantikan adalah film dengan alternatif tema seksual yang paling diingat dan didiskusikan karena isunya yang khas dan mendobrak. “Hal ini bisa terjadi karena mulai muncul pandangan yang lebih toleran baik dari penonton maupun pekerja film, juga pengetahuan akan konstruksi identitas seksual alternatif dalam sinema Barat, Asia, dan Amerika Latin secara keseluruhan,” tulis Ben Murtagh dalam Genders and Sexualities in Indonesian Cinema . Istana Kecantikan mendapatkan enam nominasi dalam Festival Film Indonesia 1988 dan memenangi satu yaitu Aktor Terbaik untuk Mathias Muchus. [Rahadian Rundjan]. Film Terbaik Pertama Ajang Oscar Academy Award atau Oscar merupakan ajang penghargaan bergengsi dalam industri film Amerika Sertikat. Oscar kali pertama diselenggarakan pada 16 Mei 1929. Seremoni berlangsung di Hotel Roosevelt, Los Angeles, yang dihadiri 270 peserta dan tidak disiarkan radio maupun televisi Pemenang perdana untuk film terbaik adalah film bisu berjudul Wings . Film ini disutradarai William A. Wellman dan diproduksi Paramount Pictures. Berdurasi 139 menit, Wings mengisahkan pilot-pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I dengan menyelipkan bumbu percintaan di dalamnya. Meski film bisu, Wings menjadi film yang dibuat dengan biaya produksi termahal pada zamannya. [Martin Sitompul]. Film India Pertama Sukses Internasional Film Awaara , rilis tahun 1951, dengan Raj Kapoor sebagai produser, sutradara, dan pemeran utamanya. Komposisi musik digarap tim Shankar Jaikishan. Soundtrack -nya dianggap inovatif dan penggambaran lagunya luar biasa, sehingga disebut-sebut sebagai mahakarya di era keemasan film India. Selain di dalam negeri, film ini meraih sukses di Timur Tengah, Afrika, bekas Uni Soviet, dan Asia Timur, bahkan menjadi box office di Afro-Asia dan Timur Tengah. Para pemain dan lagu-lagunya jadi populer. Menurut Sangita Gopal dan Sujata Moorti dalam “Travels of Hindi Song and Dance”, pengantar dalam buku Global Bollywood , Awaara memang bukan satu-satunya film India yang beredar di luar negeri tapi ia adalah yang pertama meraih popularitas berkat lagu-lagunya. Sukses Awaara diikuti oleh film Aan (1952), Mother India (1957), dan beberapa film yang belakangan tayang. [Aryono]. Di Manakah Bioskop Pertama? Bioskop berasal dari bahasa Yunani, bios yang berarti hidup dan skopeein yang berarti melihat. Kehadiran bioskop tak bisa dilepaskan dari Athanasius Kircher, seorang Italia. Pada 1640, dia memulai langkah memanipulasi gambar sehingga tampak bergerak. Temuannya itu disebut magia catotrica atau lentera ajaib. Setelah temuan itu, Simon Ritter von Stampfer mengkreasi stroboscope , gambar tembus pandang yang bisa dibersitkan cahaya pada 1853. Perkembangan menjadi lebih cepat selepas itu. Puncaknya terjadi pada pertunjukan di Paris, 28 Desember 1895. Adalah Lumiere bersaudara yang menyediakan gedung tertutup untuk melihat gambar bergerak. Pertunjukan itu terjadi di kedai kopi. Orang harus membayar jika ingin melihat pertunjukan itu. Sebelumnya, pertunjukan demikian telah diputar di Atlanta, Amerika Serikat, pada 1895 dan Berlin pada 1 November 1895. Namun, orang tak perlu membayar untuk melihatnya. Karena itu, pertunjukan di Paris tetap dianggap sebagai bioskop pertama. Di Manakah Drive-in-Theatre Pertama? Drive-in-theatre adalah konsep menonton bioskop di luar ruangan, mirip layar tancap di Indonesia, namun penontonnya berada di dalam mobil. Jadi, seperti sebuah tempat parkir dengan fasilitas layar lebar. Drive-in-theatre diperkenalkan di Las Cruces, New Mexico, Amerika Serikat, pada 11 Juni 1914 ketika Airdome Theater dibuka. Film pertama yang diputar adalah For Napoleon and France karya sutradara Enrico Guazzoni. The Airdome Theater kemudian ganti nama jadi Movieland Theater sebelum tutup pada Oktober 1926. Masih di Las Cruces, Theatre de Guadlupe dibuka pada April 1915. Ia tutup lebih cepat dari pendahulunya, yakni pada Juli 1916. Drive-in-theatre kemudian mewabah di Amerika Serikat. Konsep drive-in-theatre dipatenkan Richard M. Hollingshead, Jr. di Chamden, New Jersey, pada 6 Juli 1933 setelah dia membuka drive-in-theatre di depan rumahnya setahun sebelumnya. [Arief Ikhsanudin].
- Cornel Simanjuntak, Komponis yang Bertempur
Merantau dari Pematang Siantar ke Magelang, Cornel Simanjuntak awalnya mengambil pendidikan guru. Tapi di sekolah, ia justru memperdalam kemampuan bermusiknya. Ia kemudian menjadi komponis andal sekaligus pejuang. Pemuda kelahiran tahun 1921 ini belajar musik ketika menempuh pendidikan di Holandsche Indische Kweekschool (HIK) St. Xaverius College, Magelang. Melalui ekstrakulikuler musik, ia bergabung dengan paduan suara, memimpin orkes, dan mulai menciptakan lagu. Ia belajar dari Pastor J. Schouten. Kemampuan di bidang musik di kemudian hari menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dari Cornel. Ia terus mencipta lagu dan bermusik ketika Jepang masuk ke Indonesia hingga tahun-tahun tak menentu pasca Proklamasi kemerdekaan. Di Bawah Jepang Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada 1942, kehidupan di Magelang menjadi kacau. Kegiatan sekolah dihentikan dan para pastor ditawan Jepang. Cornel hendak melaksanakan ujian dianggap sudah lulus. Cornel sempat menjadi guru di Magelang tapi tak lama. Ia berhenti dan sempat tak ada kabar. Binsar Sitompul, adik kelasnya di Xaverius College, menyebut bahwa suatu ketika ia mendengar lagu-lagu yang disiarkan oleh Jepang begitu mirip dengan lagu-lagu gubahan Cornel. Ternyata benar, lagu-lagu itu ciptaan Cornel. Awalnya Binsar heran, mana mungkin Cornel mau tunduk dan bekerja untuk kepentingan propaganda Jepang. Belakangan ia tahu bahwa Cornel memanfaatkan Jepang untuk tetap berkarya. “Cornel membuat lagu-lagu propaganda Jepang hanyalah untuk menjaga agar kesempatan mencipta tetap terbuka, sesuai dengan keinginannya sendiri. Selain itu juga agar tetap terbuka saluran baginya untuk menyiarkan hasil-hasil karyanya kepada masyarakat luas melalui radio,” tulis Binsar dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang . Selain itu, Cornel juga memanfaatkan paduan suara yang mendapat subsidi pemerintah Jepang. Ia menerima imbalan dari lagu-lagu yang dibuatnya untuk keperluan hidup pada masa sulit itu. Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho atau Pusat Kebudayaan bagian musik. Pada masa ini pula, ia banyak berkesenian dengan tokoh-tokoh sezaman. Ia bergabung dengan perkumpulan sandiwara Maya bersama Usmar Ismail, Chairil Anwar, Rosihan Anwar, hingga S. Sudjojono. “Melalui lakon-lakon yang dipentaskan, tampak jelas warna sebenarnya perkumpulan ini, yaitu cita-cita kemerdekaan, bebas dari penjajahan,” sebut Binsar. Turut Bertempur Merujuk J.A. Dungga dan Liberty Manik, Ensiklopedia Musik Volume II menyebut bahwa kerja-kerja Cornel sebagai komponis setidaknya bisa ditinjau dalam tiga masa kreatif. Pertama, Cornel membuat lagu-lagu yang menggunakan melodi baru namun dengan interval yang sederhana. Komposisi ini dapat didengar dari lagu Asia Sudah Bangun dan Indonesia Merdeka yang lebih dikenal dengan judul Sorak-Sorak Bergembira . Kedua, masa ketika Cornel berkompromi dengan selera radio yang lagunya berpola setengah klasik dan setengah hiburan. Lagu seperti Citra dan Mekar Melati yang penah menjadi lagu untuk festival film nasional masuk dalam masa ini. Ketiga, masa di mana Cornel semakin diakui kredibilitasnya sebagai komponis. Lagu seperti O, Angin , Kemuning , dan Pinta Lagi yang berangkat dari puisi yang dimusikalisasi termasuk dalam masa ini. Pasca Proklamasi, Cornel bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31. Pada akhir Desember 1945, ia turut bertempur melawan serdadu Belanda di Tangsi Penggorengan. Cornel juga disebut memimpin pasukan di daerah Tanah Tinggi. Menurut Binsar, ketika baku tembak di daerah Senen, peluru menembus paha Cornel sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Selang beberapa hari, tersiar kabar Belanda hendak menggeledah rumah sakit dan menangkap pemuda-pemuda yang terluka. Cornel lalu mengungsi ke Karawang, kemudian pindah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, kesehatan Cornel menurun dan mulai mengidap penyakit paru-paru. Meski demikian, ia tetap menulis tentang musik dan menciptakan lagu. Setelah delapan bulan dirawat, Cornel meninggal dunia pada 15 September 1946. Cornel mendapat anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1962.
- Arti Ibu Pertiwi hingga Pekik Merdeka
Istilah Ibu Pertiwi Ibu Pertiwi merujuk pada personifikasi nasional negara Indonesia. Ibu Pertiwi sudah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha di Nusantara sebagai dewi bumi dan lingkungan hidup, atau Dewi Prthvi dalam bahasa Sanskerta saat itu. Seiring perkembangan zaman, Ibu Pertiwi menjadi kata kiasan untuk menyebut tanah air tempat lahirnya bangsa Indonesia. Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan prosa perjuangan, seperti lagu “Ibu Pertiwi” dan “Indonesia Pusaka”. Kata Ibu Pertiwi juga kerap digunakan di media untuk menyebut Indonesia secara kiasan atau dalam kalimat yang berkonteks puitis. [Rahadian Rundjan] Sebutan Puitis untuk Nusantara Insulinde. Berasal dari bahasa Latin, insula (pulau) dan Inde (India). Istilah ini diperkenalkan Multatuli dalam romannya yang berjudul Max Havelaar pada 1860. Multatuli, yang bernama asli Eduard Douwes Dekker, menyebut Indonesia sebagai “Kerajaan Insulinde yang megah melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud.” Pernyataan bernada ironi ini dimaksudkan untuk menyindir bangsa Belanda yang menjajah, memeras, dan berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk asli Hindia Belanda. Pada 1913, Insulinde digunakan sebagai nama partai untuk menggantikan Indische Partij setelah para pemimpinnya, Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, dan Ernest Douwes Dekker, diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda. [Martin Sitompul]. Nama Indonesia Pertama Kali Muncul Jauh sebelumnya, ada banyak sebutan untuk Indonesia. Yang paling umum adalah Nusantara; nusa artinya pulau, antara adalah lain atau seberang. Kata ini dipakai Majapahit untuk menyebut semua wilayah taklukkannya, yang membentang antara benua Asia dan Australia. Sebutan ini tersua dalam naskah-naskah Jawa Kuno pada abad ke-14. Memasuki abad ke-17, kepulauan penghasil rempah ini biasa disebut Hindia Timur ( Oost Indische ). Ada pula sebutan Kepulauan Timur ( The Eastern Islands ), Kepulauan Hindia ( Indian Arciphelago ), Lautan Timur ( The Eastern Seas ), dan Pulau-Pulau Hindia ( Insulinde ). Pada 1850, George Samuel Windsor Earl, seorang pelancong dan pengamat sosial asal Inggris, menggagas kata Indonesia untuk mewakili sekelompok ras manusia (Polinesia) yang menghuni kepulauan Hindia (etnografis). Sejawatnya, James R. Logan, seorang etnolog, berpendapat kata itu lebih baik dimasukkan dalam istilah geografis karena pemendekan dari Kepulauan Hindia. Sedangkan untuk menyebut penduduknya, Logan mengusulkan kata Indonesian . Belanda Memilih Nama Hindia Belanda Alternatif nama Hindia Belanda pernah diangkat pada 1919. Volksraad (Dewan Rakyat) mendiskusikan usulan empat nama: Indonesie, Insulinde, Hindia Belanda, dan OostIndie. Dalam pemungutan suara tanggal 26 April 1919, nama Insulinde menang dengan 16 suara. Namun, beberapa hari kemudian, keputusan itu dipersoalkan, dan sebagai gantinya Hindia dipilih tanpa perdebatan dengan alasan sudah dikenal dengan baik. Pada Oktober 1920, Komisi Negara hendak mengubah konstitusi Hindia Belanda. Setelah disetujui pemerintah, pasal 1 itu berbunyi: “Kerajaan Belanda meliputi Belanda, Hindia Belanda, Suriname, dan Curacao…” Pasal itu didiskusikan dalam Volksraad di Batavia pada 26–29 April 1921. Sebelumnya, pada awal tahun, Dirk van Hinloopen-Labberton, seorang guru yang tersentuh gerakan dan partai-partai yang muncul di Jawa, mempersiapkan amandemen yang mengusulkan nama Indonesia. Dia mempersiapkannya dengan Ch. Crammer dan Th. Vreede, sehingga dikenal sebagai amandemen Labberton-Cramer-Vreede. Amandemen ini ditolak sehingga tak dibahas dalam sidang Volksraad pada April 1921. Beberapa orang di Volksraad meremehkannya sebagai “baru pantas bagi nama sebuah jenis cerutu.” Sejak awal, pemerintah sudah menekankan bahwa sebutan Hindia Belanda secara esensial mempunyai arti dalam hukum internasional. Second Chamber dari parlemen di Belanda mendiskusikannya pada 1 November 1921. Terinspirasi amandemen Labberton-Cramer-Vreede, W. van Ravesteyn, wakil dari komunis, menekankan sebutan Indonesia. Nasibnya juga sama. Amandemennya ditolak. Indonesia sebagai Identitas Politik Cerdik-cendekia bumiputra yang menempuh studi di Negeri Belanda mengubah nama perkumpulan mereka, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) yang berdiri pada 1908 menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) pada 1925. Kata Indonesia digunakan untuk merujuk sebuah cita-cita negara baru, sebuah identitas politik. Dalam Kongres Demokrasi Internasional untuk Perdamaian di Bierville, dekat Paris, pada Agustus 1926, untuk kali pertama nama Indonesia diperkenalkan. Mohammad Hatta mewakili PI dalam pidatonya mengutarakan perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan nasionalnya. Atas penggunaan nama itu dalam arti politik, pemerintah Belanda melarang pemakaian nama Indonesia di Hindia Belanda. Tapi tak ada yang bisa membendungnya. Garuda Menjadi Lambang Negara Kala Sukarno telah merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945, dia menginginkan konsepnya divisualisasikan. Visualisasi itu akan dipakai sebagai lambang negara. Namun, lambang itu tak kunjung dibuat hingga lima tahun setelahnya. Barulah pada 1950, Sukarno secara resmi mengeluarkan sayembara lambang negara. Pada 10 Januari 1950, Sukarno membentuk sebuah panitia yang bertugas menyeleksi lambang negara. Koordinatornya adalah Sultan Hamid II, menteri negara zonder portofolio. Terpilih dua karya terbaik. Masing-masing dari Sultan Hamid II dan Mohammad Yamin. Keduanya bergambar garuda. Dua karya itu lalu diajukan ke DPR Republik Indonesia Serikat (RIS). Mereka lebih menerima karya Sultan Hamid II lantaran karya Mohammad Yamin dianggap mencitrakan pengaruh Jepang dengan penyertaan sinar-sinar matahari. Kemudian lambang itu diperlihatkan ke Sukarno pada 8 Februari 1950. Setelah melalui beberapa penyempurnaan, gambar garuda itu akhirnya diterima sebagai lambang resmi negara RIS pada 11 Februari 1950. Sukarno kemudian memperkenalkannya kepada publik kali pertama pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes. Pada 20 Maret 1950, lambang itu disempurnakan kembali oleh pelukis istana, Dullah. Melalui Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 1951, lambang itu secara resmi digunakan. Dari Mana Asal Garuda Garuda merupakan nama umum untuk seekor elang mitologis. Burung ini terdapat dalam relief-relief di Candi Dieng (abad ke-9). Bentuk kepalanya seperti manusia, namun berparuh. Relief di Candi Prambanan dan Panataran juga memuat gambaran burung ini. Selain dalam relief, garuda digunakan dalam lambang dan stempel kerajaan-kerajaan di Jawa. Dalam khazanah pewayangan, garuda dikenal sebagai sosok yang penuh keberanian, setia, dan terhormat. Gambaran ini tersua dalam cerita Mahabharata yang diadopsi untuk lakon wayang. Nama burung itu Jatayu. Citra perkasa burung itu melekat hingga Indonesia merdeka. Pekik Merdeka Mengkhalayak Kata “merdeka” berasal dari bahasa Sanskerta, maharddhika . Kata ini tersua dalam naskah kakawin Nitisastra bertitimangsa abad ke-15. Artinya, telah bebas dari soal keduniawian. Kata ini lambat laun diucapkan “merdeka”. Kata "merdeka" beroleh pengertian baru selama masa pergerakan kebangsaan (1908–1945). Sejumlah koran di Hindia Belanda memuat kata ini dalam pengertian “bebas dari penjajahan”. Usai Proklamasi, Bung Karno kerap memberi salam dengan memekik “merdeka!” Bersama itu, tangannya terkepal dan diangkat setinggi bahu. Karena dilakukan seorang tokoh, salam ini lekas mengkhalayak. Pemerintah bahkan menetapkan pekik “merdeka” sebagai salam nasional melalui Maklumat Pemerintahan 31 Agustus 1945. [Hendaru Tri Hanggoro].
- Pionir Sarung Tangan Kiper
IBARAT belahan jiwa bagi seorang kiper, sarung tangan selalu menemani dalam segala situasi kemelut di muka gawang. Sebuah perlengkapan sepele dan jarang diperhatikan orang namun bagian tak terpisahkan dari kiper dalam sepakbola dan menarik sejarahnya, sampai PSSI mengunggah pengetahuan asal-mula sarung tangan kiper lewat berbagai akun media sosialnya. Menurut keterangan yang diunggah PSSI, kiper pertama yang menggunakan sarung tangan adalah Amadeo Carrizo, kiper River Plate dan timnas Argentina, pada tahun 1940. “Sarung tangan berbahan wol tersebut digunakan sebagai penghangat untuk menghadapi cuaca dingin. Bahkan jari tangan para penjaga gawang dapat terasa beku hingga kesulitan saat menangkap bola. Seiring berjalannya waktu, pada 1973, perusahaan sarung tangan asal Jerman menggandeng Sepp Maier, penjaga gawang timnas Jerman Barat untuk merancang sarung tangan khusus penjaga gawang sepak bola. Sarung tangan ini dirancang agar bisa membantu dan meningkatkan performa di bawah mistar gawang,” tulis PSSI di Facebook , Twitter dan Instagram-nya , Selasa (14/7/2020). Baca juga: Kiper Der Panzer Keblinger Blunder Disebutkan kiper pertama yang mengenakan sarung tangan adalah Amadeo Raúl Carrizo asal Argentina (Foto: Facebook PSSI) Entah admin PSSI mencomot sumber dari mana, informasi yang diunggah tidak tepat. Kiper sudah menggunakan sarung tangan jauh sebelum era Carrizo. Perusahaan peralatan olahraga yang pertamakali merancang sarung tangan pun bukan dari Jerman. Bukan Sekadar Penghangat Sarung tangan bukan perlengkapan kiper yang diwajibkan FIFA lewat regulasinya sampai saat ini. Dalam “Equipment Regulations” FIFA , kiper diperbolehkan memakainya, boleh juga tidak. Warna sarung tangan yang diperbolehkan adalah warna apapun kecuali warna serupa dengan jersey . Banyak kiper mencopot sarung tangannya, semisal Ricardo Pereirakiper Portugal di Euro (Piala Eropa) 2004. Untuk pemain non-kiper, sarung tangan lazimnya dikenakan sebagai penghangat ketika udara dingin. Tetapi bagi kiper, sarung tangan lebih dari sekadar penghangat. Ia merupakan pelindung terpenting selain deker di tulang kering. Oleh karenanya maka teknologi dalam sarung tangan terus dikembangkan produsen sejalan dengan sepatu bola dan jersey. Baca juga: Kiper Brasil yang Dilaknat hingga Akhir Hayat Dimulai dari berbahan wol, sarung tangan kiper terus disempurnakan dengan menggunakan bahan kulit, karet, hingga dilengkapi fitur pelindung tambahan di bagian jari-jarinya. Tujuannya mencegah jari membengkok atau patah ke arah belakang. Contohnya adalah sarung tangan evoDISC buatan Puma, produsen alat olahragaasal Jerman, yang kemunculannya pada 2017 bikin heboh ketika mulai dipakai Petr Cech, kiper klub Inggris Arsenal. Keunggulan sarung tangan evoDISC yakni bagian punggung tangannya dilapisi lateks sebagai pelindung dan di pergelangan tangan dilengkapi sistem cakram evoDISC untuk menyesuaikan ukuran tangan. Jadi untuk mengencangkan sarung tangan, tak lagi pakai velcro atau strap pelekat “kreket”. Sarung tangan buatan William Sykes pada 1885 (kiri) & yang termutakhir evoDISC buatan Puma pada 2017 (Foto: dpma.de/puma.com ) Sebagaimana sepakbola modern itu sendiri, sarung tangan kiper pertamakali dibuat dan dipatenkan desainnya di Inggris. Mengutip situs Deutsches Patent- und Markenant , adalah Wm. Sykes & Sons, pabrik peralatan olahraga asal Inggris, yang pertama mendesain dan mematenkannya pada awal 1885. Pabrik milik pebisnis Inggris William Sykes (sejak awal abad ke-20 merger menjadi Slazenger) ini mulanya memproduksi alat olahraga kriket berbahan kulit. “William Sykes mematenkan sepasang sarung tangan kulit untuk kiper. Sarung tangannya dilapisi karet India untuk perlindungan dan bantalan (tangan kiper),” tulis situs itu. Baca juga: Skandal Kiper Cile Robert Rojas demi Piala Dunia Namun, masih jadi misteri apakah saat itu sudah ada kiper yang menggunakannya di kompetisi resmi atau belum, lantaran Sykes tak memproduksi massal. Kiper pertama yang mengenakan sarung tangan yang pasti bukan Carrizo (1945) yang hanya menggunakannya kala suhu di lapangan amat dingin alias bukan saban pertandingan. Situs goalkeepersdifferent.com mengungkapkan, kiper pertama yang tercatat memakai sarung tangan adalah Archibald ‘Archie’ Pinnell. Kiper asal Skotlandia itu mulai mengenakan sarung tangan wol kala membela Chorley FC di Liga Lanchasire tahun 1894. Dokumentasi yang diunggah di laman klub menjadi bukti, Pinnell tampak mengenakannya ketika terduduk membelakangi gawang. Tidak hanya mengenakan sarung tangan, ia juga sudah melindungi kakinya dengan sepasang deker. Archi Pinnell pada 1894 (kiri) & Leigh Richmond Roose pada 1905 (Foto: Chorley FC/Repro "For Club and Country: Welsh Football Greats") Selain Pinnell, kiper yang acap mengenakan sarung tangan adalah Leigh Richmond ‘Dick’ Roose, ketika mengawal mistar gawang Stoke City pada 1905. Kiper asal Wales itu, disebutkan dalam Dictionary of Welsh Biography , merupakan kiper nyentrik dan kerap beraksi nekat demi menyelamatkan gawangnya. Roose biasanya membawa sepasang sarung tangan wol putih ke dalam lapangan. Seringkali Richmond juga mengenakan mantel wol ketika bermain di cuaca dingin. Pada 1930-an, beberapa kiper mulai mengenakan sarung tangan berbahan kulit lantaran bahan wol mudah basah ketika hujan. Selain Carlo Ceresoli (Timnas Italia/Inter Milan), ada Giampiero Combi (Italia/Juventus), dan Anders Rydberg (Swedia/IFK Göteborg) di Piala Dunia 1934. Baca juga: Lev Yashin, Raja Diraja Pengawal Mistar Dunia Meski begitu, sarung tangan wol masih lebih dominan dipilih kiper, utamanya kiper-kiper di Inggris pasca-Perang Dunia II. Pasalnya, sarung tangan wol dianggap lebih lengket ketimbang sarung tangan kulit ketika hujan dan bola basah. “Memang terasa licin ketika kondisi kering tapi Anda akan mendapat manfaat yang lebih di waktu basah (karena hujan). Saya pribadi lebih sering meninju bola tapi itupun akan lebih beresiko dan berbahaya tanpa sarung tangan di waktu hujan,” tutur Gordon Banks , kiper timnas Inggris era 1961-1972, dalam Charlie Buchan’s Soccer Gift Book. Sepp Maier sudah menggunakan sarung tangan khusus kiper di Piala Dunia 1974 buatan Reusch (Foto: fifa.com ) Pada 1973, sarung tangan khusus kiper muncul, dibuat oleh perusahaan Jerman Reusch. Bekerjasama dengan kiper Jerman Josef ‘Sepp’ Maier, Reusch mengembangkan sarung tangan dengan bantalan berbahan karet untuk pelindung telapak tangan. Pengembangan berawal dari eksperimen unik Maier. “Mulanya saya mengeringkan bola dengan handuk dan ternyata handuknya menempel ke bolanya. Jadi saya punya sarung tangan dengan bahan ini,” papar Maier dikutip Paul Simpson dan Uli Hesse dalam Who Invented Stepover and Other Crucial Football Conundrums? “Lalu Gebhard Reusch berkolaborasi dengan Maier yang hasilnya pada 1973 menghadirkan sarung tangan kiper dengan nama Maier. Di waktu yang bersamaan juga muncul eksperimen dari kiper Jerman lain, Wolfgang Fahrian. Ia bermitra dengan pebisnis alat olahraga Kurt Kränzle, di mana eksperimennya menggunakan lembaran karet yang lazimnya terdapat di raket tenis dan dilem ke sarung tangan untuk daya cengkeram bola yang lebih baik,” lanjut Simpson dan Hesse. Sejak saat itu sarung tangan kiper pun berkembang dengan beragam fitur. Besarnya pasar dan keunikannya yang mensyaratkan fitur-fitur tertentu mendorong hampir semua produsen alat olahraga di dunia terjun ke dalam bisnis sarung tangan kiper. Dengan menggandeng kiper-kiper ternama, yang namanya acap tertera di tiap sarung tangan, para produsen berlomba-lomba menyuguhkan teknologi termutakhir dibalut dengan unsur fesyen lewat sarung tangan produk mereka sehingga sarung tangan kiper “ngetren” di tiap laga sepakbola. Baca juga: Kiper Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
- Datang ke Medan Terjerat Pelacuran
Lagi-lagi selebriti tanah air tersandung kasus prostitusi. Seorang artis FTV berinisial HH yang juga selebgram tenar kena ciduk polisi. Sang artis kedapatan melakukan perbuatan asusila dengan seorang pengusaha di kamar hotel bintang lima di kota Medan. Sejatinya jejak prostitusi di Medan dapat terlacak sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Ketika itu, Medan masih berupa kampung lahan perkebunan untuk tanaman tembakau Deli. Dalam panen perdananya, tembakau Deli laku keras ketika diekspor ke pasaran Eropa. Sejak itulah, permintaan pun kian meningkat. Untuk mengupayakannya tetap stabil, para tuan kebun memerlukan pasokan tenaga kerja. Mempekerjakan buruh perempuan jadi pilihan karena perempuan lebih teliti untuk pekerjaan ringan dan mau dibayar murah. Prostitusi di Perkebunan Pada 1873, para tuan kebun mendatangkan pekerja perempuan yang berasal dari Jawa. Kuli perempuan ditugaskan untuk menyortir daun tembakau atau mengambil ulat hama. Upah mereka terbilang kecil, hanya setengah dari upah yang diterima kuli laki-laki. Lagi pula, kuli perempuan tidak diberi fasilitas tempat tinggal sehingga harus membaur dengan kuli laki-laki. Maka tidak heran, untuk memenuhi kebutuhan dasar, para kuli perempuan terpaksa melacurkan diri di lingkungan pekerja kebun. “Menurut anggapan yang berlaku di perkebunan; semua kuli perempuan adalah pelacur, atau terpaksa menjadi pelacur,” tulis Jan Breman dalam Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20. “Walaupun demikian, para tuan kebun memanfaatkan juga pelacur kontrak itu untuk memuaskan nafsu seksual mereka, yang berarti bersaing dengan dengan kuli lelaki.” Menurut Ann Laura Stoler dalam Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979 , banyak dari kuli perempuan yang datang dari Jawa ke Medan karena tipu daya. Sebelum hijrah, mereka dijanjikan pekerjaan sebagai buruh perkebunan dengan upah tinggi. Setiba di perkebunan, kenyataan berbicara lain. Mereka menjadi alat untuk membuat kuli laki-laki betah bekerja di kebun. Dengan demikian, para kuli bersedia memperpanjang kontraknya. Tenaga para kuli yang mengerjakan lahan perkebunan mengubah wajah kampung Medan. Memasuki abad 20, tanah rawa yang subur itu menjadi kota koloni yang ramai. Pada 1891, Sultan Deli, Makmun Perkasa Alam memindahkan pusat pemerintahannya dari Labuhan ke Medan. Pada 1 April 1909, Medan memperoleh statusnya sebagai gementee (kota) baru. Dalam Sejarah Medan Tempo Doeloe, Tengku Luckman Sinar mencatat, dalam sekejap saja berduyun-duyun maskapai-maskapai dan pengusaha asing meminta tanah yang baik dan subur kepada Sultan Deli agar diizinkan membuka lahan perkebunan. Sepanjang jalan raya antara Labuhan dengan Medan telah penuh dengan rumah-rumah pelacuran dan rumah-rumah judi. “Kuli-kuli yang baru gajian, sekejap mata telah kehilangan gajinya sehingga terpaksa harus menandatangani kontrak baru,” tulis Luckman Sinar. Prostitusi di perkebunan menyebabkan munculnya berbagai penyakit kelamin danpenyakit sosial seperti maraknya kelahiran “anak-anak kebon” hingga tindakan kriminal. Surat kabar Pewarta Deli 3 September 1916 memberitakan maraknya pencurian di toko-toko di Medan. Pencurian terjadi karena gaya hidup kuli perkebunan yang suka menghamburkan uang di meja judi dan pelacuran. Medan Kota Metropolitan Memasuki zaman Indonesia merdeka, kota Medan terus berbenah. Di era Orde Baru, pertumbuhan ekonomi meningkat pesat. Lazimnya kota-kota besar, gaya hidup hiburan malam pun ikutan berkembang di Medan. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam, diskotik, salon kecantikan, panti pijat, sampai lokalisasi bermunculan di pusat kota. Di tempat-tempat seperti itulah praktik prostitusi acap kali terjadi. “Bioskop yang memutar film porno bermunculan. Bisnis hiburan malam, nyaris tak terkendali, bahkan ada yang berani menjajakan perawan gres. Protes-protes seakan tak digubris. Hiburan bagi pria iseng, banyak digelar di klub khusus dan salon kecantikan,” tulis majalah Matra No. 93, April 1994. Soal bursa seks, sebagaimana termuat dalam liputan khusus Matra , Medan tampaknya tidak kalah dengan Jakarta. Matra menyebutkan, banyak perempuan muda yang memiliki profesi ganda di Medan. Ada sarjana yang jadi simpanan pengusaha, para istri yang melakukan kerja sampingan untuk menambah penghasilan, para mahasiswi yang menutup kebutuhan uang kuliah dan hidupnya dengan profesi sebagai perempuan panggilan. Semua itu, agaknya bukanlah berita yang aneh lagi bagi masyarakat setempat. Beberapa kawasan yang diinisialkan Matra seperti NR, NB, JA, GP, dan K adalah tempat berkumpulnya perempuan panggilan kelas tinggi. “Kemunculan prostitusi kelas tinggi adalah konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat, peningkatan taraf hidup, dan meningkatnya kemampuan perekonomian. Dan prostitusi kelas menengah atas itu memang menjadi ciri khas kota besar,” ujar dr. Baren Ratur Sembiring, ahli kebidanan dan penyakit kandungan kepada Matra . Selain itu, prostitusi jalanan di Medan masih jadi pilihan bagi Perempuan Seks Komersil (PSK) yang tidak memiliki akses di tempat hiburan. Menurut Yuyung Abdi, jurnalis foto Jawa Pos, sebelum 2008, PSK yang menjajakan diri di pinggir Jalan Iskandar Muda dapat ditemui saat malam telah larut. Namun, setelah beberapa kali polisi pamong praja gencar melakukan razia mereka lebih nyaman menjajakan diri sekitar Jalan K.H. Wahid Hasyim atau Jalan Gajah Mada. “Razia pemkot tentu sangat melelahkan. Mengejar mereka tengah malam butuh biaya dan energi. Meski, jumlah keseluruhan pekerja seks di kawasan jalanan tidak masif. Tidak lebih dari 100 orang,” kata Yuyung dalam Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia. Selama belasan tahun mereportase potret prostitusi di Indonesia, Yuyung mengatakan dari segi jumlah, tempat hiburan syahwat di Medan memang cukup banyak. Namun entah mengapa keberadaannya seolah "terpinggirkan”. Para PSK tidak banyak bermain di kota tersebut. Mereka lebih memilih Batam, yang barangkali lebih menjanjikan dari sisi lancarnya arus rezeki prostitusi. Kendati demikian, prostitusi jalanan di Medan masih tetap awet sampai saat ini.





















