Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berita Proklamasi Bergema dari Australia ke Papua
Kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia ternyata tidak terlalu lama sampai ke Australia. Mohamad Bondan, salah satu eks tahanan politik Boven Digul yang bermukim di Melbourne (Australia), sudah mendengarnya pada 18 Agustus 1945. Lewat siaran radio Republik Indonesia di Bukittinggi, Sumatra Barat, Bondan mendengar kabar gembira itu. Setelah mendapat kepastian, ia lantas menerjemahkan isi berita itu ke dalam bahas Inggris dan menyebarkannya ke seluruh Australia. “Bersama Arif Siregar, saya menerjemahkannya dengan bantuan seorang warga Australia yang berprofesi sebagai guru,” ungkap Bondan dalam Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan. Namun, pemerintah Hindia Belanda yang tengah mengungsi di Australia (menyusul serbuah militer Jepang pada 1942) menghalang-halangi upaya tersebut. Dengan sekuat tenaga, mereka berusaha menyembunyikan kabar itu lewat penyensoran sejumlah surat kabar dan siaran radio lain di Australia. Upaya itu justru mendapat perlawanan sengit dari para pemuda Indonesia dan warga Australia yang simpati terhadap kemerdekaan Indonesia. Karena berita itu, sejumlah pekerja asal Indonesia melakukan mogok kerja. Seperti yang dilakukan 85 pekerja Kapal KPM Bontekoe (kapal yang akan berlayar ke Indonesia dengan membawa sejumlah keperluan militer Belanda), pada 21 September 1945. Pada hari yang sama, di kota Brisbane lahir Komite Indonesia Merdeka (KIM), sebagai kelanjutan upaya mempertahankan proklamasi Indonesia. Dengan antusias, para aktivis pro kemerdekaan RI mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih di seluruh kota. “Sebagian bendera diarak keliling sambil meneriakan dukungan kepada 85 pelaut yang tengah menggelar aksi mogok tersebut,” ujar Bondan. Keesokan harinya, aksi mogok kerja menular ke sejumlah kota lain di Australia. Di Sydney,Melbourne dan Selandia Baru, aksi mendukung kemerdekaan Indonesia kian marak. Berita pemogokan semakin meluas lantaran disiarkan dalam bahasa Inggris oleh Molly Warner (kelak menjadi istri Mohamad Bondan). Dampaknya, Sekutu pun tak lagi bisa membendung arus berita proklamasi dan sejumlah kabar situasi di Indonesia. Penyebarluasan berita proklamasi juga disebarkan IPEA (Indonesian Political Exile Association). “Pamflet yang memberitakan proklamasi diterbitkan IPEA dengan ditandatangani Ahmad Soemadi, Ketua SIBAR (Sarikat Indonesia Baru) Cabang Mackay,” ungkap Soewarsono dkk dalam Jejak Kebangsaan: Kaum Nasionalis di Manokwari dan Boven Digoel. Pamflet-pamflet itu juga lantas ikut tersebar ke Merauke, Irian Barat (kini Papua). Dari sinilah gema proklamasi itu diketahui para aktivis pergerakan nasional Indonesia asal Irian, seperti Silas Papare, Marthin Indey, hingga Frans Kaisiepo. Lewat mereka masyarakat Papua kemudian mengetahui berita proklamasi. Untuk merespon berita itu, pada 31 Agustus 1945, sejumlah aktivis Papua pro Indonesia merdeka menggelar upacara pengibaran bendera merah putih. Momen ini yang kemudian dikenang sebagai Insiden Bendera di Bumi Cendrawasih. Onnie Lumintang dkk dalam Biografi Pahlawan Nasional Marthin Indey dan Silas Papare menyebutkan, awalnya pada waktu itu NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) akan merayakan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina dan memerintahkan rakyat Papua untuk mengibarkan bendera merah putih biru Belanda. Alih-alih menururuti perintah tersebut, masyarakat Papua justru mengibarkan bendera merah putih di pucuk tiang, sementara bendera Belanda dan Amerika Serikat dikibarkan setengah tiang. “Itu cermin manifestasi gejolak hati putra-putra Irian Barat untuk menghirup alam kemerdekaan Indonesia,” tulis Onnie Lumintang.
- Menulis Mencipta Indonesia
DR. MAX LANE, Indonesianis dari Victoria University Australia, seringkali bingung tiap kali melihat pameran tentang kebudayaan Indonesia. Yang dipamerkan lazimnya batik hingga angklung. “Itu bukan kebudayaan Indonesia. Batik kebudayaan Jawa. Angkung kebudayaan Sunda. Itu sudah ada sebelum negara Indonesia ada. Itu semua warisan dari Indonesia yang sebelumnya belum ada di bumi manusia,” ujar Max Lane dalam peluncuran bukunya, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Esai-esai tentang Pramoedya, Sejarah dan Politik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 12 Agustus 2017. Max Lane mengatakan bahwa salah satu elemen dasar kebudayaan Indonesia adalah menulis. Ini yang dilakukan sastawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer lewat sejumlah karyanya, seperti tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca . “Banyak pesan yang terdapat dalam karya-karya Pramoedya yang terinspirasi dari RA Kartini. Pramoedya melihat Kartini sebagai pemikir zaman pencerahan Indonesia. Dalam karya-karya Pramoedya, terkandung pesan-pesan seperti kebangkitan nasional Indonesia di era 1920-an,” kata Max Lane. Max Lane menerjemahkan karya-karya Pramoedya ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Akibatnya, sebagai diplomat muda di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dia ditarik ke negerinya pada 1981. Menurut Max Lane karya-karya Pramoedya penting untuk dibaca oleh generasi muda agar dapat menentukan ke mana arah bangsa ini akan di bawa. Arah bangsa yang sejak era 1950-an selalu memunculkan pertarungan ideologi yang keras. “Setelah Indonesia merdeka, lalu masa depannya mau di bawa ke mana. Makanya di era 1950-an, terjadi pertempuran ideologi. Peristiwa 30 September 1965 jadi titik balik. Orang-orang kiri dipenjara, dibunuh sebagai akibat pertarungan ideologi yang diselesaikan dengan cara kekerasan,” kata Max Lane. Di Indonesia, menurut Max Lane, belum ada sekolah-sekolah menengah yang punya mata pelajaran sastra Indonesia. Padahal, dari sastra dan tulisan pula generasi muda bisa belajar mengenai asal-usul dan budaya Indonesia. “Proses pertama terciptanya Indonesia itu adalah perlawanan terhadap ketidakadilan. Ketidakadilan yang dijalankan kediktatoran kolonialis Hindia Belanda. Yang kedua adalah menulis dan ketiga adalah menyebarluaskan tulisan dan ide-ide. Karena tanpa menulis dan menyebarluaskannya, perlawanan tidak ada gunanya, tidak diketahui dunia,” kata Max Lane. Menurut Max Lane Indonesia juga eksis dan terpelihara sampai sekarang karena revolusi yang memiliki dua sifat utama. Pertama, pembalikan kekuatan kekuasaan seperti yang dilakukan para pejuang terhadap kekuatan penjajah. “Yang kedua, menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini, menciptakan Indonesia yang sebelumnya tidak ada di bumi manusia. Tapi setelah tercipta, Indonesia mau dibawa ke mana,” kata Max Lane. Oleh karena itu, Max Lane berpesan agar generasi muda Indonesia aktif mempelajari sastra dan mau berorganisasi. “Karena kalau sendiri, kita tidak bisa buat apa-apa. Kalau bersama-sama dalam berorganisasi, bisa lebih bergerak menentukan masa depan Indonesia,” pungkas Max Lane.*
- Hiu Taklukkan Angkatan Laut Amerika Serikat
Loel Dean Cox ingat betul suasana ketika kapal tempatnya bertugas, USS Indianapolis (CA-35), dihantam torpedo kapal selam Jepang pada dini hari 30 Juli 1945. “Ada air, puing, api, semuanya terlempar ke atas dan kami berada 81 kaki dari garis air,” ujarnya, sebagaimana dilansir dailymail.co.uk . Ketika pria yang waktu itu masih berusia 19 tahun tersebut langsung berlutut tak lama kemudian, torpedo kedua kembali menghantam kapal yang sedang membawa misi khusus itu. USS Indianapolis , yang berada di perjalanan antara Guam-Leyte, Filipina, langsung terbelah dua. Sinyal SOS yang dikirim USS Indianapolis ke markas Angkatan Laut Amerika Serikat sebelum kapal itu tenggelam tak mendapat respons. Angkatan Laut, yang amat ceroboh lantaran gagal mendeteksi masih aktifnya kapal selam Jepang di perairan itu dan sengaja melepas USS Indianapolis tanpa pengawalan, menganggap sinyal itu merupakan jebakan Jepang. Sekira 900 dari 1100-an awak pun langsung menyelamatkan diri. “Orang-orang langsung terjun dari buritan, dan Anda bisa lihat keempat turbin kapal masih berputar,” ujar Cox. Sebagian dari mereka tertampung di sekoci-sekoci, sementara yang lain mengambang dengan jaket pelampung dan banyak dari mereka bertahan tanpa alat bantuan apapun –bahkan ada yang tak berpakaian. Dengan membentuk kelompok-kelompok, mereka mengambang di kegelapan malam laut yang penuh hiu itu. Mereka berharap regu penyelamat datang saat hari terang. Beberapa di antara mereka yang terluka, baik luka bakar maupun patah tulang. Perwira medis Dokter Haynes, tak bisa berbuat banyak dan jadi frustrasi karena tak ada obat untuk digunakan. Akibat syok, banyak di antara yang menderita luka bakar dan patah tulang itu lalu tewas di jam-jam pertama. Namun ketika matahari mulai terang, regu penyelamat tak kunjung tiba. Justru masalah mulai menghinggapi. Tumpahan minyak kapal mereka yang menutupi air membuat mata dan hidung mereka merasa terbakar dan leher tercekik. Sebelum matahari naik ke cakrawala Senin pagi, sekira 50 orang di antara mereka meregang nyawa. Ombak besar yang datang pada siang membuat mayoritas dari mereka menelan air laut yang telah tercemar minyak. “Semuanya muntah. Rasa haus mulai menghinggapi orang-orang itu,” tulis Raymond B. Lech dalam The Tragic Fate of the USS Indianapolis: The US Navy’s Worst Disaster . Dehidrasi dan lapar yang mereka derita kemudian menyebabkan photophobia dan delusi. “Terkadang seluruh kelompok memiliki halusinasi yang sama. Dalam satu kasus, sebuah kelompok bermalam pada suatu malam dan kembali keesokan paginya, mengklaim bahwa Indianapolis tidak tenggelam. Mereka mengatakan bahwa mereka telah naik ke atasnya sepanjang malam, minum air dan susu. Orang-orang lain mempercayai mereka dan berenang bersama mereka. Mereka tidak pernah terlihat lagi,” tulis Marc T. Nobleman dalam The Sinking of the USS Indianapolis . Namun, bahaya baru datang kemudian. Hiu-hiu datang menghampiri mereka, dan memakan mayat-mayat. Seorang marinir, Giles McCoy, melihat seekor hiu menyerang mayat yang ada di dekatnya. Jumlah ikan karnivora itu bertambah saat matahari mulai tenggelam. Para pelaut mulai ketakutan. “Orang-orang yang diteror dalam air, banyak di antaranya bisa merasakan tekstur kasar kulit hiu yang menggores kaki mereka, tidak yakin harus melakukan apa,” tulis Dan Kurzman dalam Fatal Voyage: The Sinking of the USS Indianapolis . Mereka lalu menendang, memukul, dan membuat kegaduhan untuk mengusir hiu-hiu yang mendekat. Tapi upaya itu hanya berhasil pada saat-saat awal. Hiu-hiu itu pun kemudian memangsa orang-orang yang masih hidup secara tiba-tiba. “Hiu-hiu itu kemudian menjadi lebih berani dan menyerang orang-orang secara acak dalam kelompok yang lebih besar,” kata penyintas Lyle M. Pasket, sebagaimana dimuat dalam The Sinking of the USS Indianapolis . “Sepertinya hiu itu pintar.” Kian banyaknya serangan hiu membuat darah yang tumpah ke laut semakin banyak. Bau anyir darah semakin memancing hiu-hiu untuk datang. Setiap malam, tiga sampai empat pelaut hidup jadi mangsa hiu-hiu itu. “Di air yang jernih itu Anda bisa melihat hiu-hiu berputar-putar. Lalu sesekali, bak kilat, seekor langsung naik dan mengambil seorang pelaut dibawa ke dalam. Seekor hiu datang dan mengambil pelaut di sampingku,” kata Cox. Keadaan mengerikan itu berlangsung hingga hari keempat. Malam menjelang pergantian dari hari keempat ke hari kelima, mereka ditemukan oleh pilot Angkatan Laut Letnan Wilbur C. Gwinn yang sedang melakukan patroli rutin menggunakan pesawat PV-1 Ventura. Melihat banyaknya orang di atas air, Gwinn segera mengontak pangkalannya di Peleiu. Sebuah pesawat amfibi di bawah komando Letnan Adrian Marks langsung dikirim untuk membantu. Marks mengontak kapal destroyer USS Cecil Doyle (DD-368) untuk datang membantu, dan permintaannya berhasil. Sekira 300-an pelaut dan marinir USS Indianapolis yang tersisa akhirnya berhasil diselamatkan.
- Saat Proklamasi Berkumandang di Serambi Mekah
Meski berusaha dibendung pihak militer Jepang, berita proklamasi lambat laun tetap sampai ke seluruh Indonesia . Termasuk di salah satu provinsi Indonesia paling ujung: Aceh. Namun karena jarak yang sangat jauh dari Jakarta, masyarakat Aceh sendiri baru mendengar berita itu sekira dua pekan sejak dibacakannya teks Proklamasi oleh Sukarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945. Sebagaimana disarikan dari buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang dituliskan Muhammad Ibrahim dkk, masyarakat Aceh secara umum baru mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 29 Agustus 1945. Pun begitu, sedianya para staf kantor berita Hodoka Kutaradja dan surat kabar Atjeh Simbun sudah lebih dulu mendengarnya pada 21 Agustus 1945. Upaya yang terkesan berani juga coba dilakukan tiga pemuda pegawai Kantor Kepolisian Kutaradja (kini Kota Banda Aceh). Mereka nekat mengibarkan bendera merah putih di kantor tersebut pada malam hari, dengan harapan bisa segera dilihat masyarakat keesokan harinya. Itu kali pertama bendera merah putih berkibar di Bumi Serambi Makkah sejak dibacakannya proklamasi kemerdekaan di Jakarta. Kenekatan lain juga dilakukan seorang pemuda, Teuku Nyak Arif, yang berkeliling Kutaraja (kini Kota Banda Aceh) pada 24 Agustus dengan mengibarkan bendera merah putih di mobilnya. “Maksudnya agar masyarakat luas tahu bahwa Indonesia sudah merdeka dan rakyat tidak perlu lagi tunduk pada penjajahan Jepang,” ungkap Rusdi Sufi, Iriani Dewi Wanti, Seno dan Djuniat dalam buku Sejarah Kotamadya Banda Aceh . Sayangnya usaha-usaha itu pun belum begitu dimengerti masyarakat awam. Justru baru pada 29 Agustus masyarakat Aceh paham bahwa sudah ada yang namanya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kabar proklamasi yang tersebar ke pelosok Aceh setelah kedatangan Teuku Mohammad Hasan dan M Amir dari Jakarta yang singgah ke Kota Medan. Kabar itu lantas ditindaklanjuti oleh para pemuda setempat dengan menaikan bendera merah putih di depan Kantor Kesejahteraan Rakyat dan di Kantor Tyokan (Kantor Baperis). Setiap rumah di Aceh kemudian juga diwajibkan mengibarkan bendera pada 13 Oktober lewat Maklumat Nomor 2 Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh.
- Pencapaian Awal Kebudayaan Nusantara
MESKI mengadopsi kebudayaan India, Nusantara memiliki beberapa pencapaian paling awal di banding negara itu. Misalnya, untuk pertama kali cerita Ramayana digambarkan dalam relief di Candi Prambanan meski teks kesusastraan Ramayana berasal dari India. “Lagipula cerita Ramayana versi Jawa dan India juga berbeda,” kata Dr. Andrea Acri, peneliti dari Ecole Pratique des Hautes Etudes, Paris, Prancis, dalam seminar "Reviving the Sriwijaya-Nalanda Civilization Trail", di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Senayan, Jakarta, Selasa (8/8). Pencapaian lain adalah candi-candi yang megah. “Prambanan, Borobudur sebagai candi Buddhis terbesar di dunia adanya di Indonesia, bukan di India,” kata Andrea. Selain itu, yang menarik soal penulisan angka nol (0) sebagai angka numerik. Menurut Andrea, penelitian terbaru menunjukkan bukti pertama penggunaan nol muncul di Prasasti Trapeang Prei, Kamboja dan di tiga prasasti era Sriwijaya. Semua berasal dari masa yang sama, yaitu tahun 604 saka (683 M), 200 tahun lebih awal daripada di India. “Nol berasal dari India. Tapi angkanya baru muncul abad 9. Di Kamboja dan Sriwijaya lebih dulu muncul. Ini salah satu achievment, ” ungkap Andrea.Tak hanya itu, Sumatra juga mendapat predikat sebagai tempat terbaik belajar bahasa Sanskerta. Informasi ini didapat dari pengembara asal Cina, Yijing yang pernah menetap di Sriwijaya. Dia menyebut Sriwijaya sebagai pusat studi bahasa Sanskerta sebelum para biksu dan pelajar Buddhis berangkat ke India. “Sebelum ke India para pendeta ini sebaiknya menetap dulu di Sriwijaya. Ini sangat luar biasa. Itu kan bahasa asing,” kata Andrea. Dengan demikian, Sriwijaya menjadi mata rantai penghubung antara India, Asia Tenggara, hingga Cina.
- Cerita di Balik Biografi Sukarno Karya Sejarawan Jerman
BERNHARD Dahm mengenal Indonesia dari ibunya, Margarete Beisenherz, putri seorang misionaris, Daniel Beisenherz, yang lahir pada 1906 di Pancur Napitu, Tarutung, Sumatra Utara. Margarete meninggal pada 1942 ketika Bernhard berusia sepuluh tahun. Bernhard kemudian tinggal dengan bibi ibunya, Auguste Beisenherz, seorang biarawati di tanah Batak dan terakhir memimpin rumah sakit di Pearaja, Tarutung. Darinya, dia mendapat cerita banyak tentang Batak dan Indonesia. Setelah Perang Dunia II berakhir, dia terus mendengar berita tentang Indonesia. Dia pun ingin mempelajari lebih jauh tentang Indonesia. “Berbeda dengan teman-teman sebaya di Jerman, saya sudah tahu dengan tepat, di bagian bumi mana negara baru itu terletak. Dan saya mengikuti dengan penuh perhatian peristiwa-peristiwa dalam revolusi Indonesia sampai akhir tahun 1949,” kata Bernhard dalam Amatan Para Ahli Jerman tentang Indonesia.
- Orang Indonesia yang Berperang untuk Negara Lain
PERANG yang berkecamuk di berbagai belahan dunia menyeret sejumlah pemuda Indonesia. Mereka ambil bagian sebagai tentara, pilot tempur dan tenaga medis, mulai dari Perang Sipil di Spanyol hingga Perang Pasifik. Alasan mereka terjebak di tengah-tengah berkecamuknya perang karena tak bisa pulang ke Indonesia atau kesukarelaan. Berikut kisah-kisah para pemuda itu: Henry Hoo Lahir di Surabaya pada 1912, putra Hoo Bo Liang yang memiliki nama lahir Hoo Chi Sui ini tercatat sebagai pilot pesawat tempur International Volunteer Brigade. Legiun sukarelawan asing itu memihak kaum republik melawan kaum fasis dalam Guerra Civil atau Perang Saudara Spanyol (1936-1938). Henry Hoo merantau ke Eropa pada 1935. Ketika pecah Perang Saudara di Spanyol, dia salah satu dari sekian orang Tionghoa asal Hindia Belanda yang mendaftar sebagai sukarelawan kontrak. Kisahnya pernah dimuat dalam surat kabar Sin Po pada 1938. Dia mengawaki pesawat Uni Soviet pernah menjatuhkan pesawat terbang Jerman, pendukung utama kaum fasis Spanyol pimpinan Francisco Franco. Setelah selesai kontraknya, Henry beralih ke Zhonghua Minguo Kongjun (Angkatan Udara Republik Cina) untuk melawan Jepang pada 1937. Selain Henry, ada beberapa pilot kelahiran Hindia Belanda, seperti Nio Thiam Seng (Bandung), Tan Tin Ho (Batavia) dan Tan Gie Gan (Surakarta). Tio Oen Bik Tionghoa asal Hindia Belanda yang terlibat dalam Perang Sipil Spanyol juga ada yang berperan sebagai tenaga medis, yaitu dr. Tio Oen Bik. Pemuda kelahiran 1906 itu sebelumnya menimba ilmu kedokteran di Nederlansdsch Indische Artsen School atau sekolah kedokteran pribumi di Surabaya medio 1920-an. Pada 1929, dia melanjutkan studinya di Amsterdam, Belanda, di mana dia mendirikan Sarekat Peranakan Tionghoa Indonesia. Dalam Chinese Migrants and Internationalism: Forgotten Histories 1917-1945 , Gregor Benton mencatat bahwa Tio enggan ikut kawan-kawannya pulang ke Hindia Belanda di masa pergerakan. Dia memilih pergi ke Spanyol untuk bergabung dengan pihak republik melawan fasis. Di sana, dia menangani para korban sipil maupun militer. Menurut Iwan Santosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran , tidak hanya Tio yang pernah punya andil di negeri asing. Dalam perang Sino-Jepang, organisasi Hoo Hap asal Cianjur juga berangkat ke Cina untuk melawan Jepang. Beberapa dokter dan staf medis Rumah Sakit Jang Seng Ie (kini Rumah Sakit Husada Jakarta Pusat) juga dikirim ke Cina dengan biaya sumbangan para tokoh anti-Jepang. Abdul Halim Perdanakusuma Lahir di Sampang, Madura pada 18 November 1922, karier kemiliteran Halim dirintis di Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Belanda di Modderlust, Surabaya. Halim pun ikut serta dalam perang Pasifik melawan Jepang sebagai operator torpedo. Halim nyaris tewas ketika kapal perang Belanda yang turut diawakinya ditenggelamkan Jepang dekat pantai Cilacap. Selamat dari maut, Halim ikut rombongan serdadu Belanda yang mengungsi ke India. Pertemuannya dengan Panglima Komando Armada Asia Tenggara Lord Louis Mountbatten yang terkesan dengan karya lukisan Halim, membuatnya masuk pendidikan RCAF (Angkatan Udara Kanada) dan dilanjutkan RAF (Angkatan Udara Inggris) sampai lulus sebagai navigator bomber (pesawat pembom) dengan pangkat letnan. Di lingkungan RAF, Halim dijuluki The Black Mascot oleh rekan-rekannya. Pengalaman tempurnya termasuk lumayan: ia pernah melakukan 42 misi pemboman ke wilayah Prancis (yang sedang dikuasai Jerman) dan ke wilayah Jerman sendiri. Halim pun tercatat sebagai navigator pada pesawat pembom Avro Lancaster atau B-24 Liberator sampai akhir Perang Dunia II. Dari Sedjarah Pertumbuhan AURI diketahui, Halim lantas direkrut Komodor Suryadi Suryadharma sebagai salah satu pionir TNI AU sebagai perwira operasi. Saat itu, dia satu-satunya pilot TNI AU dengan wing penerbang RCAF dan memiliki pengalaman tempur di palagan Eropa. Tragisnya, Halim bersama Iswahyudi gugur dalam tugas kala pesawat Avro Anson yang mereka naiki, jatuh di Malaya (kini Malaysia) pada 14 Desember 1947 . Hingga kini penyebab kecelakaan itu masih menjadi misteri. Irawan Soejono Irawan Soejono, putra bangsawan yang sejak muda mengenyam pendidikan di Belanda pada 1934. Ketika Jerman menginvasi Belanda, ayahnya tercatat sebagai pejabat menteri tanpa portofolio dalam kabinet Belanda di London, Inggris. Namun Irawan tetap memilih berada di negeri Tulip bersama para pelajar Indonesia lainnya guna menjadi partisan melawan Jerman. Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah mencatat bahwa Irawan ikut terlibat dalam gerakan perlawanan bawah tanah dengan menjadi salah satu direksi surat kabar bawah tanah, De Bevrijding , bersama para pelajar Perhimpunan Indonesia seperti Pamuntjak, Alex Ticoalu, Suripno, IA Mochtar, Rozai Kusumasubrata dan FKN Harahap. Surat kabar itu mendapat simpati dan bantuan dari kelompok bawah tanah lainnya. Dalam suatu insiden, Irawan tewas ditembak serdadu Jerman pada 13 Januari 1945. Perannya melawan Jerman diakui Kerajaan Belanda lewat pemerintah Kota Amsterdam. Namanya diabadikan jadi nama jalan, Irawan Soejonostraat. Tidak hanya Irawan, para pemuda dalam Perhimpunan Indonesia juga ikut terpanggil melawan Jerman. Soebadio Sastrosatomo dalam Perjuangan Revolusi menyebut beberapa di antara mereka tidak hanya bergerak di bawah tanah lewat tulisan, tapi juga angkat senjata. Mereka antara lain Anak Agung Made Djelantik, LN Palar, Sumitro, Zairin Zain, Jusuf Muda Dalam, Suripno, hingga Kusna Puradiredja. Mereka membentuk Barisan Mahasiswa Indonesia dan aktif melakukan sabotase, sampai menyelamatkan orang-orang Yahudi yang hendak dimusnahkan anak buah Hitler. Andi Abdul Azis Putra Bugis kelahiran 19 September 1924 ini sudah pergi ke Belanda sejak pertengahan 1930-an. Tamat dari Leger School pada 1938, Andi Azis bergabung dengan gerakan bawah tanah melawan Jerman. Berbeda dengan para pemuda dari Perhimpunan Indonesia, statusnya sebagai anggota Koninklijke Leger atau Tentara Kerajaan. Perlawanan militer Belanda hanya lima hari. Mereka menyerah setelah diserang Jerman dari arah Belgia dan Luksemburg pada 10 Mei 1940. Andi dan serdadu Belanda yang tak menyerah kabur ke Inggris. Dari Inggris ia bergerak ke India untuk mengikuti pelatihan komando dan lulus dengan pangkat sersan. Pada 19 Januari 1946, Andi pulang ke Indonesia dan memilih masuk KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dengan pangkat letnan. Andi kemudian menjadi ajudan Presiden Negara Indonesia Timur, Sukowati. Setelah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949, ia meleburkan diri ke Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat. Dalam sejarah Indonesia, Andi tercatat sebagai pemberontak lewat insiden pada 5 April 1950 di Makassar. Pemberontakan itu dipadamkan TNI dan Andi dibui 14 tahun penjara. Atas kebijakan pemerintah, masa tahanannya dipotong menjadi delapan tahun. Selain Andi, masih ada pemuda-pemuda Indonesia yang tergabung dalam tentara Kerajaan Belanda saat melawan Jerman. Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah mencatat tiga nama: Eduard Latuperisa, Mas Sumitro dan Victor Makatita. Victor tewas diterjang timah panas Polisi Vichy (negeri Prancis yang pro-Jerman) kala berusaha kabur ke Swiss pada 9 April 1942. Nasib tragis juga dialami Eduard Latuperisa. Eks KNIL yang ikut Orde Dienst itu dijatuhi hukuman mati pada 29 Juli 1943 di Leusderheide. Sementara Serma Mas Sumitro meninggal pada 26 Januari 1944 karena jatuh dari trem. Adolf Gustaaf Lembong Karier militer Adolf Gustaaf Lembong sangat unik. Berbeda dengan pemuda-pemuda Indonesia lainnya, Lembong pernah angkat senjata bukan hanya untuk Belanda dan Indonesia tapi juga negara tetangga: Filipina. Lahir di Ongkaw, Minahasa, 19 Oktober 1910, Lembong masuk KNIL. Masuknya Jepang ke Indonesia membuat Lembong dan serdadu KNIL di Manado dibawa ke kamp interniran di Filipina. Menurut Robert Lapham dan Bernard Norling dalam Lapham’s Raiders, Lembong dan beberapa kompatriotnya seperti Alex Rawung, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi dan William Tantang, berhasil kabur dari kamp tahanan di Pulau Luzon, Filipina. Mereka bergabung dengan Luzon Guerilla Armed Forces (LGAF). Memimpin Skadron 202, Lembong sukses menjarah gudang logistik Jepang pada 6 Januari 1945. Sehari setelahnya, dia melakukan penyergapan yang menewaskan 27 tentara Jepang. Dia dan kawan-kawan kembali ke Sulawesi Utara pada 22 Januari 1945. Awalnya Lembong kembali bergabung dengan militer Belanda. Karena Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 27 Juli 1947, Lembong membelot ke pihak republik. Lembong tewas oleh gerombolan Angkatan Perang Ratu Adil yang menyerang Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi (kini Museum Mandala Wangsit) di Bandung pada 23 Januari 1950. R. Sudirmo Bunder Tidak hanya Lembong atau kawan-kawannya eks-KNIL yang “terjebak” di tengah-tengah berkecamuknya Perang Pasifik. R. Sudirmo Bunder, mahasiswa kedokteran di California, Amerika Serikat (AS), juga salah satu veteran US Army (Angkatan Darat AS) yang disegani dan dihormati. Sebagaimana dituturkannya kepada penulis Hana Rambe dalam Terhempas Prahara ke Pasifik , Sudirmo mengungkapkan, dirinya yang tengah belajar kedokteran di St. Anthony College, California terkena program wajib militer pasca AS menyatakan perang terhadap Jepang akibat serangan di Pearl Harbor. Setelah menjalani beberapa bulan pelatihan militer, lelaki Jawa kelahiran 12 Februari 1920 itu, ditempatkan di Rainbow Division untuk dikirim ke front Pasifik. Sudirmo terlibat dalam pertempuran melawan tentara Jepang. Mulai dari Rabaul di Papua Nugini, Biak, Hollandia (kini Jayapura), Morotai, Saipan, Iwo Jima, Okinawa, hingga menjejakkan kaki di Tokyo, setelah Jepang menyerah pada Sekutu. Setelah perang usai, Sudirmo dinyatakan AS sebagai warga Belanda lantaran lahir di sebuah negeri koloni Hindia Belanda. Makanya, ketika pecah Perang Korea, Sudirmo eksis sebagai tentara Belanda di bawah panji pasukan perdamaian PBB. Usai perang Korea, Sudirmo pulang ke Indonesia dan bergabung dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).*
- 48 Senandung Ibu Pertiwi
Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Sekretariat Negara kembali menghelat pameran akbar lukisan-lukisan koleksi Istana Kepresidenan pada 2-30 Agustus 2017. Semua lukisan tersebut dibawa dari Istana Negara dan Istana Merdeka Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta, hingga Istana Tampaksiring di Bali. Tema pameran lukisan yang digelar di Galeri Nasional Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, tahun ini mengangkat tajuk “Senandung Ibu Pertiwi”. Dari sekian lukisan koleksi istana, dipilih 48 karya besar dari 41 pelukis yang sebelumnya diseleksi sesuai kebutuhan tema pameran. “Semua tentang kekayaan alam, kebudayaan serta manusianya yang beraneka ragam,” ujar kurator pameran Mikke Susanto kepada Historia . Yang dipamerkan juga bukan sembarang karya. Pasalnya ada banyak cerita menarik di balik karya-karya lukisannya. Seperti lukisan “Harimau Minum” karya Raden Saleh Syarif Bustaman, hingga lukisan “Nyai Roro Kidul” karya Basoeki Abdullah. “Juga yang menarik itu lukisan ‘Pantai Flores’ karya Basoeki Abdullah. Lukisan salinan dari goresan Bung Karno sebelumnya yang menggambarkan keindahan Flores saat diasingkan,” kata Mikke. Satu hal lagi, dari 48 lukisan yang dipamerkan, ada satu yang tidak bisa di- display langsung. Yakni lukisan karya Konstantin Egorovick Makovsky. Lukisan aslinya terlampau besar untuk bisa dibawa masuk yakni berukuran 295x450 cm. Disebutkan oleh Mike, lukisan itu sebelumnya merupakan hadiah dari pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev dan sudah berusia sekira 120 tahun. “Itu karya Konstantin Makovsky yang bertajuk perkawinan adat Rusia. Lukisan tersebut asalnya dari Istana Bogor,” ujar Mikke.
- Mencegah Keluarga Brayut
Ki dan Nyi Brayut sepasang suami istri dalam cerita pewayangan yang memiliki banyak anak. Nyi Brayut menggendong anak-anaknya di belakang, sedangkan Ki Brayut memikul anak-anaknya. Wayang Brayut yang dipamerkan di Museum Wayang di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat, digunakan untuk kampanye program Keluarga Berencana (KB) di Yogyakarta. “Ini (Ki dan Nyi Brayut, red.) menggambarkan adanya keluarga besar. Brayut dari kata brayat , berarti keturunan. Orang zaman dulu berpikir setiap anak sudah ada yang mengatur rezekinya masing-masing. Beda dengan sekarang, sudah takut duluan tidak bisa menghidupi,” terang Sumardi, kepala satuan pelayanan Museum Wayang, kepada Historia . R. Bima S. Rahardja, dosen Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa penggunaan wayang brayut untuk kampanye program KB bertujuan memberikan gambaran pada masyarakat akan repotnya memiliki banyak anak. “Wayang Brayut digunakan untuk menggambarkan kerepotan memiliki banyak anak. Nah, kemungkinan ini yang ditangkap Pak Harto pada saat itu untuk sosialisasi program KB. Dulu Pak Harto senang sekali dengan wayang,” jelas Bima kepada Historia . Menurut Bima, pemilihan wayang sebagai media kampanye karena pada tahun 1970-an belum banyak hiburan yang dapat dinikmati rakyat. Wayang merupakan hiburan yang paling digemari banyak orang. “Akses hiburan belum begitu banyak kecuali seni tradisional, salah satunya wayang. Wayang menjadi tontonan nomor satu di Jawa pada saat itu sehingga menjadi alat yang efektif untuk mensugesti masyarakat,” terang Bima. Wayang Brayut sudah muncul jauh sebelum program KB dicanangkan. Mulanya, wayang ini muncul di Surakarta pada masa Pakubuwana IV yang memerintah sejak 1788 hingga 1820. “Wayang Brayut kemungkinan sampai ke Yogyakarta pada masa Hamengkubuwono V (memerintah sejak 1823-1826 dan 1828-1855, red.). Kalau dilihat dari busana wayangnya, mereka adalah rakyat biasa. Selain tokoh Ki dan Nyi Brayut, ada pula gambaran anak-anak mereka , ” kata Bima. Menurut Sumardi, Ki dan Nyi Brayut bukan tokoh baku dalam cerita pewayangan. Tokoh-tokoh ini muncul sebagai sisipan dalam pertunjukan wayang. Mendukung pernyataan Sumardi, Bima memberikan gambaran mengenai kemunculan tokoh Brayut dalam cerita pewayangan. Dalam salah satu adegan di cerita Mahabharata, ketika pasukan kerajaan sedang berjalan, mereka melihat anak-anak Ki dan Nyi Brayut. Salah seorang anggota pasukan yang melihat kemudian merasa keheranan dengan jumlah anak yang sangat banyak. Dengan digunakannya wayang Brayut sebagai media kampanye, kemudian muncul cerita-cerita yang khusus untuk tujuan sosialisasi KB. “Wayang Brayut merupakan wayang suluh, yakni wayang sebagai media penerangan kepada masyarakat. Wayang itu media dakwah yang sangat luwes. Sehingga digunakan sebagai sarana penyuluhan tentang KB di era Soeharto,” tutup Sumardi.
- Kisah Adjie dan Prajuritnya
Di kalangan prajurit-prajurit Siliwangi, nama Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie adalah legenda. Selain sosoknya yang kharismatik, eks panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi (1960-1966) itu juga dikenal sebagai seorang jenderal yang egaliter dan dekat dengan para anak buahnya. Begitu dekatnya, hingga Adjie tak segan-segan turun langsung ke lapangan bahkan ke palagan sekalipun. “Waktu Operasi Pagar Betis pada awal 1960-an, ayah saya tak jarang menyertai langsung para prajurit yang tengah menghadapi gerilyawan Darul Islam pimpinan Kartosoewirjo di hutan-hutan Jawa Barat,” ujar Kiki Adjie kepada Historia . Menurut salah satu putra dari Ibrahim Adjie tersebut, kendati seorang panglima, Ibrahim tak pernah berlaku sok berwibawa. Alih-alih jaim , ia justru sangat berbaur dan berusaha “tak berjarak” dengan para prajuritnya. Adjie sadar, para prajurit adalah garda terdepan saat menghadapi musuh-musuh negara. Karena itu apresiasi dan penghargaan seorang komandan mutlak harus dijalankan kepada mereka. Ada sebuah kisah yang mencerminkan kedekatan Adjie dengan para anak buahnya. Ceritanya, pada 1961, Adjie mengundang semua atase militer asing di Jakarta untuk melihat Jawa Barat. Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya pembuktian kepada perwakilan negara-negara di dunia bahwa wilayah Jawa Barat sudah aman dari gangguan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Rute perjalanan rombongan panglima dan para atase militer asing itu dimulai dari Bandung lalu sampai ke Pangandaran. Karena jalan yang masih jelek berbatu, hampir sebagian besar anggota rombongan menjadi kelelahan. Karena itu, sampai di Kalipucang, Ibrahim memerintahkan rombongan untuk beristirahat sejenak. Nasi berbungkus daun pisang lantas dibagikan kepada pengawal dan anggota rombongan termasuk panglima Divisi Siliwangi yang juga mendapat sebungkus. Acara makan dilakukan secara bersama-sama. Tak ada batas antara perwira, bintara dan tamtama, semuanya menyatu. Saat acara makan baru dimulai, Ibrahim menengok bungkus nasi salah seorang prajurit pengawal yang sedang asyik menyantap jatah nasi bungkusnya. “ Geuningan sangu maneh mah euweuh dagingan (Kok nasi bungkus milik kamu tidak ada dagingnya?)," kata panglima. Menyaksikan hal tersebut, Adjie kemudian menyodorkan jatah nasi bungkusnya kepada prajurit itu: “Ini saja makan sama kamu,” katanya. Ditawari secara tiba-tiba oleh panglimanya, prajurit itu sigap berdiri menerima nasi bungkus sambil berseru: “Siappp!” lalu ia terbatuk-batuk dan mulutnya menghamburkan nasi yang sedang dikunyah. “ Euh, maneh mah (Halah, kamu ini),” kata Adjie sambil menyodorkan air minum. Ajudan panglima yang bernama Kapten Ramdhani setengah memaki berkata kepada prajurit itu: “ Maneh mah, ari samutut tong ngajawab! (Kamu ini, kalau mulut lagi penuh makanan ya jangan jawab!). Semua anggota rombongan kontan tertawa menyaksikan kejadian itu.
- Razia Celana Jengki Pakai Botol Bir
Pada suatu hari di Jakarta tahun 1960-an, terlihat keramaian di depan gedung bioskop. Rupanya, polisi sedang melakukan razia celana jengki. Polisi hanya bermodal gunting dan botol bir. Satu per satu anak muda bercelana jengki diperiksa. Kaki diangkat, leher botol dimasukkan pada ujung celana di pergelangan kaki. Bila leher botol bir gagal masuk, siap-siap saja berhadapan dengan gunting. “Celana jengki yang terbukti tidak bisa dimasuki botol langsung digunting melintang di lutut atau paha," kata Achmad Sunjayadi, sejarawan Universitas Indonesia. Korban razia tentu saja hanya bisa pasrah dan pulang menanggung malu. Celana jengki kesayangan sudah berubah serupa kolor. Menurut Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an, razia tidak hanya dilakukan di bioskop, tetapi juga di jalanan. Guru-guru di sekolah pun turut melakukan penertiban. Razia di Jakarta dinamai Operasi Hapus dan dilakukan oleh Angkatan Kepolisian VII/Jaya dan Corps Polisi Militer (CPM). Selain di Jakarta, razia juga dilakukan di kota-kota lain. Tidak hanya celana jengki, blue jeans pun dirazia. Bahkan tidak perlu mengukur dengan botol, langsung digunting. Celana jengki merupakan celana ketat yang populer di era 1960-an. Jengki berasal dari kata yankee yang berarti “orang Amerika.” Kepopuleran celana jengki dibawa oleh grup musik The Beatles. Grup musik asal Inggris ini digandrungi oleh anak-anak muda di berbagai kota di Indonesia. Maka, tak heran bila mereka meniru gaya berpakaian The Beatles. Achmad menjelaskan bahwa pelarangan celana jengki berbarengan dengan pelarangan musik rock and roll , gaya rambut ala The Beatles, dan dansa-dansi. “Ini berkaitan dengan kebijakan Sukarno. Pada pidatonya tentang Manipol-Usdek tanggal 17 Agustus 1959, Sukarno mengecam musik rock and roll , dansa-dansi, dan musik ngak ngik ngok,” kata Achmad. Manipol-Usdek merupakan singkatan dari Manifestasi Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. Dalam tulisannya, “Ngak Ngik Ngok” di Jurnalisme Sastrawi, Budi Setiyono mencatat bahwa pemerintah kemudian mengeluarkan Penetapan Presiden No. 11/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi. Peraturan ini digunakan untuk melarang musik ngak ngik ngok beserta gaya berpakaiannya. Populernya The Beatles ditentang pemerintah karena di saat yang bersamaan pemerintah sedang berupaya memajukan kebudayaan nasional. Upaya tersebut didukung oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada sidang pleno Lekra tanggal 23-26 Februari 1964 dibahas mengenai upaya menangkis “kebudayaan imperialisme Amerika Serikat” juga usaha untuk membangun kebudayaan nasional.





















