top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Alkisah Kompi Parang Berdarah

    Kota Medan, pertengahan 1947. Di tiap-tiap sudut kota berseliweran plakat sayembara. Demikian isinya. “Siapa saja yang berhasil membawa kepala Mayor Bahrin, Mayor Alamsyah, Kapten Bejo dan Kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah uang sebesar Fl.000,- gulden.” Nama pertama barangkali yang paling diburu sekaligus ditakuti pihak militer Belanda: Mayor Bahrin Yoga. Dalam beberapa sumber lain namanya disebut Bahren. “Ia jantan dan galak di medan pertempuran, sehingga pernah dijuluki Singa Medan Area,” tulis Tengku Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area . Bahrin termasuk rombongan dari Aceh pertama yang terjun ke kancah Front Medan Area. Di Aceh, Bahrin berkedudukan sebagai komandan Batalion II Resimen I Divisi Gajah II di Kutacane. Longmarch menuju Medan dilakukan sejak Februari 1946, tak lama setelah kota itu dikuasai Belanda. Dalam rombongan Aceh itu turut serta para pejuang Gayo dari Blangkejeren dan Kutacane, Aceh Tenggara. Di Medan, Bahrin menjadi komandan Batalion I Resimen I dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang bermarkas di Tuntungan, Medan Barat. RIMA merupakan resimen khusus yang dipersiapkan untuk membebaskan kota Medan dari kekuatan militer Belanda. Dalam batalionnya, Bahrin lebih banyak menggunakan waktunya di front bersama pasukan. Dalam bunga rampai Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda disebutkan, Batalion Bahrin kerap beroperasi di malam hari dengan hanya bersenjatakan parang atau senjata tajam lainnya. Operasi yang dipimpin Bahrin biasanya dilakukan menjelang subuh bersama satu atau dua orang pembantu. Target operasinya adalah patroli tentara Belanda yang sedang lengah. Selain itu, penyergapan juga dilakukan dengan menyamar dan menyusup ke asrama serdadu Belanda. “Dari sekian banyak operasi yang dilakukan, tak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah,” tulis Jakobi yang merupakan veteran tentara pelajar dalam pertempuran Medan Area. Dari sinilah awal kisah lahirnya unit pasukan pembunuh berdarah dingin “Parang Berdarah”, yang kemudian dilanjutkan dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin dalam suatu kesatuan yang diberi nama “Kompi Parang Berdarah”. Penggunaan parang bukan tanpa alasan. Menurut Bustanil Arifin dalam biografinya Beras, Koperasi, dan Politik Orde Baru karya Fachry Ali dkk, di dalam kompi itu hanya mempunyai 17 buah senapan api dan selebihnya adalah parang dan kelewang. Pada April 1947, Panglima Divisi Gajah I, Kolonel Husein Yusuf mengangkat Mayor Bahrin menjadi komandan RIMA menggantikan Mayor Hasan Ahmad. Pengangkatan itu didasarkan pertimbangan bahwa Mayor Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda. Hanya dua bulan saja Bahrin menjabat komandan RIMA. Mayor Bahrin ditembak mati oleh anak buah kepercayaannya, Letnan Satu Ahmad Ahman Bedus. Tragedi ini justru terjadi di markas Batalion Bahrin di Tuntungan. Setelah peristiwa nahas itu, Letnan Ahmad diinterogasi kemudian di penjara di Pematang Siantar. Motif pembunuhan misterius. Menurut anggota pasukan Batalion Bahrin, sebagaimana dikutip Jakobi, menjelang tertembaknya Bahrin, seorang wanita cantik memasuki kompleks pemukiman Batalion Bahrin yang kemudian menabur isu dan saling curiga antarpasukan. Wanita itu menyamar sebagai istri pemilik warung makanan dalam kompleks pemukiman. Dalam pertempuran Medan Area, Belanda menebar ratusan mata-matanya ke pihak tentara Republik bahkan hingga ke pedalaman Aceh. “Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus prajurit yang kelaparan di front,” ujar Jakobi.

  • Membela Kebenaran Tanpa Pamrih

    Budi Sutomo menekuni kuliner sejak remaja. Dia kemudian mendalami tata boga di bangku sekolah kejuruan dan perguruan tinggi. Pengalaman kerjanya di berbagai hotel, bakery , restoran, hingga industri catering memperkaya pengetahuannya di bidang kuliner. Dia mulai dikenal setelah menjabat radaktur boga di majalah Kartini dan Sartika , food stylist beberapa produk iklan, serta konsultan bakery dan restoran. Lebih dari 50 buku tentang gizi dan kuliner yang sudah ditulis dan diterbitkannya. Saat ini, Budi Sutomo mengasuh rubrik diet dan nutrisi di majalah Dokter Kita , redaktur majalah Sri Arum , kontributor Yahoo Kuliner , pengasuh rubrik Ask the Expert , majalah Pastry & Bakery , redaktur boga majalah TIM Taiwan , chef Nestle Indonesia, serta host acara masak di DAAI TV Indonesia . Di balik kesibukannya dalam dunia kuliner, rupanya Budi mengidolakan sosok Munir Said Thalib, aktivis hak asasi manusia yang meninggal dunia akibat racun arsenik. Kepada Historia , Budi berbagi kekagumannya mengenai sosok itu. Mengapa mengidolakan Munir? Dia selalu membela kaum tertindas sampai akhir hidupnya. Membantu total tanpa imbalan. Sejak kapan mengenal sosoknya? Sejak saya kuliah tahun 1990-an. Saya tahu dari buku, majalah, dan media elektronik. Apa yang Anda ingat dari perjuangan Munir? Ketika dia membela kaum buruh. Contohnya kasus Marsinah dan kaum marjinal lainnya. Lalu saya paling ingat soal kasus penculikan aktivis mahasiswa yang sampai sekarang banyak yang tak kembali. Marsinah adalah aktivis dan buruh pabrik PT Catur Putra Surya di Sidoarjo yang diculik dan ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993. Sementara penculikan aktivis terjadi dilakukan Tim Mawar bentkan Kopassus menjelang kejatuhan rezim Orde Baru, dengan 13 di antaranya belum kembali. Bagaimana perjuangan atas kaum marjinal sepeninggal Munir? Keberpihakan Munir dan kesediaannya membantu kaum marjinal menarik simpati. Ini justru menginspirasi banyak anak muda, bahwa hak asasi manusia harus ditegakkan. Sepeninggal beliau, saya pikir sekarang bermunculan banyak pahlawan hak asasi manusia. Perjuangan Munir juga menginspirasi Anda? Ya. Semangat berbagi dan membela kebenaran tanpa pamrih. Juga harus menghargai hak orang lain dan tak boleh melanggar hak asasi manusia. Itu sangat menginspirasi. Menurut Anda, apa tantangan penegakan HAM sekarang? Terkadang nyawa taruhannya. Membela hak asasi manusia kaum marjinal pasti akan berhadapan dengan penguasa yang memiliki power . Apa harapan Anda mengenai kasus kematian Munir? Menolak lupa. Artinya, kebenaran harus diungkap, fakta harus ditegakkan, dan hukum tak boleh memihak. Saya berharap kasus ini akan terungkap oleh pemerintahan sekarang.

  • Percikan Awal Sebuah Konfrontasi

    Yogyakarta, 23 September 1963. Dengan suara lantang, Presiden Sukarno meneriakan seruan "ganyang Malaysia" di hadapan puluhan ribu rakyat. Teriakan itu kontan disambut secara antusias dan histeris oleh massa. Sejarah mencatat, itulah percikan awal aksi konfrontasi antara Indonesia-Malaysia mengemuka secara resmi. Pertikaian kedua negara serumpun itu sendiri bermula dari penolakan Indonesia terhadap pendirian Federasi Malaysia. Dalam pandangan Indonesia, pembentukan Federasi Malaysia tak lebih sebagai salah satu bentuk persekongkolan para kolonialis dan membahayakan Indonesia yang baru saja membebaskan diri dari penjajahan. Pramoedya Ananta Toer dalam pengantarnya untuk buku karya Greg Poulgrain The Genesis of Konfrontasi: Malaysia, Brunei, Indonesia 1945- 1965 menyebut konfrontasi sebagai upaya untuk membantu gerakan perjuangan antikolonialisme. Bagi Pram, alasan Inggris membentuk negara Federasi Malaysia lantaran mereka tidak siap untuk kehilangan sumber uang dari Malaya (nama lama dari Malaysia), Singapura, dan Kalimantan Utara (Brunai). Malaya merupakan penghasil timah, karet, dan minyak kelapa sawit. Sedangkan Brunai merupakan tambang minyak dan Singapura merupakan pelabuhan transit yang bisa dijadikan pusat kendali kekuasaan maupun ekonomi. Sejarawan Baskara T. Wardaya dalam Indonesia melawan Amerika Konflik PD 1953-1963 menulis alasan lain yang membuat Sukarno menolak pendirian Malaysia. Dia merasa Inggris maupun Malaya telah melangkahi Indonesia dalam proses pendirian Malaysia. Hal itu diamini pula oleh sejarawan Asvi Warman Adam. "Saya tidak melihat ada persoalan kolonialisme (terkait konfrontasi dengan Malaysia, red.) . Ada ketersinggungan Sukarno pada Tun Abdul Rahman...” kata Sejarawan Asvi Warman Adam kepada Historia. Sebelumnya, pada 16 September pemerintah Malaka dan Inggris mengumumkan pendirian Federasi Malaysia dengan cakupan wilayah Malaka, Singapura, Sabah, dan Sarawak. Dua jam sebelum pengumuman tersebut, Sekretaris Tetap Malaka untuk Urusan Luar Negeri Ghazali telah menghubungi Subandrio di Jakarta. Tetapi tak urung Indonesia tetap merasa terhina dengan pembentukan Malaysia. Pasalnya, ketidakpercayaan Indonesia terhadap hasil jajak pendapat tidak ditanggapi pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di hari yang sama gelombang protes besar dilakukan di depan Gedung Kedutaan Inggris di Jakarta. Massa menolak keputusan berdirinya Federasi Malaysia. Sukarno kemudian menulis surat pada Presiden Amerika John F Kennedy bahwa ia menolak Federasi Malaysia karena meragukan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh tim Misi Michelmore. Sukarno bahkan mengutip laporan Sekretaris Jenderal U Thant yang mengatakan bahwa tim jajak pendapat kekurangn personil. “Sukarno mengharapkan John F Kennedy untuk menjadi penengah dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Jadi ia meminta suatu jalan keluar yang tidak menyebabkan satu pihak kehilangan muka,” kata Asvi. Pada 17 September 1963 Malaysia memutuskan hubungan diplomatiknya karena merasa tak terima dengan penolakan keras Indonesia. Tak mau kalah, Indonesia pun menghentikan hubungan dagang dengan Malaysia pada 23 September 1963. Dari pidato Sukarno di Yogyakarta, ia menegaskan keinginannya untuk menghancurkan Federasi Malaysia. Pada 24 Desember 1963 Sukarno mengenalkan dua slogan baru dalam rangka mengganyang proyek neo-kolonialisme Malaysia. Rosihan Anwar menulis dalam bukunya Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965 dua slogan baru Sukarno, yakni “Maju Terus Jangan Mundur” dan “Ini dadaku, mana dadamu?”.

  • Meneropong Masa Silam Kiri Indonesia

    MAX Lane, Indonesianis yang kini mengajar di Victoria University, Australia, melemparkan bola panas. Di historia.id , dia menulis kalau “Sukarno bukan pemersatu tapi pembelah Indonesia.” Bagi sebagian besar orang Indonesia yang terlanjur mengenal Sukarno sebagai tokoh pemersatu bangsa, pendapat Max itu terdengar aneh. Bagaimana bisa seorang Sukarno yang seumur hidupnya bekerja keras menyatukan bangsa Indonesia justru disebut “pembelah”?

  • Pesawat Sukhoi Rasa Minyak Sawit

    MENTERI Pertahanan Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu menyatakan bahwa TNI Angkatan Udara akan diperkuat dengan sebelas Sukhoi Su-35 “Flanker-E” asal Rusia. Pesawat tempur super canggih itu disebut akan menggantikan 12 pesawat tempur lawas F-5E “Tiger” yang akan dipensiunkan. Dengan demikian, Indonesia akan menjadi negara kedua setelah Tiongkok di luar Rusia yang memiliki jet tempur single-seat  bermesin ganda yang andal dalam duel udara dan pembomban.

  • Kisah Lucu di Sungai Pakuanan

    Suatu hari di tahun 1949, Komandan Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera Mayor Maraden Pangabean sedang mengunjungi pos-pos terdepan pasukannya di wilayah antara Hubu dan Saur Matinggi, pelosok Sumatera Utara. Di tengah kunjungan tersebut, ia mendapat informasi bahwa Letnan Kolonel A.E. Kawilarang (Komandan Sub Teritorium VII Sumatera) sedang menuju markas Sektor IV di tepi sungai Pakuanan. Tanpa menunggu lama, Mayor Maraden lalu memutuskan untuk berbalik lagi menuju markasnya itu. Hari sudah mulai remang, saat sang mayor melewati anak sungai sebelum mencapai markas yang berupa bunker tersebut. Menurut kebiasaan, di tempat ini celana harus dicopot karena menghindar basah (maklum celana cuma satu-satunya). “Jadi saat itu saya hanya mengenakan baju dan celana dalam saja,” ujar Maraden dalam biografi yang ditulisnya, Berjuang dan Mengabdi. Begitu sampai di seberang sungai, ia lantas memanggil salah seorang perwira bernama Letnan Mulatua Purba, tujuannya: ingin menanyakan kebenaran akan kedatangan Letnan Kolonel Kawilarang itu.Belum terlontar pertanyaan tersebut, tiba-tiba Letnan Purba muncul dari arah bunker di seberang sungai, menghormat dan langsung berseru dalam bahasa Belanda: “Mayor! Letnan Kolonel Kawilarang sekarang berada di sini, beliau ingin bertemu dengan Mayor dan mengetahui kondisi sektor kita.” Kawilarang kemudian muncul dari bunker sambil tersenyum dan mengangkat tangan kanan. Melihat kehadiran atasannya itu, Mayor Maraden yang sudah kadung ada di tengah sungai untuk menyebrang lantas mengambil sikap sempurna sambil berseru lantang: “ Lapor! Mayor Maraden Pangabean, Komandan Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera beserta seluruh pasukan Sektor IV dalam keadaan aman! Siap menunggu dan melaksanakan perintah Komandan Sub Teritorium VII Sumatera!” Sang Letnan Kolonel yang tadinya tidak bermaksud formil-formilan, terpaksa juga mengambil sikap sempurna, membalas penghormatan dan menerima laporan Mayor Maraden. Usai sesi formil-formilan tersebut, sambil tersenyum lebar, Kawilarang masuk ke dalam sungai dan membentangkan tangannya. Mereka berdua lantas berpelukan. “Saat itulah kami baru sadar bahwa pada upacara pelaporan tersebut, kami sama-sama hanya mengenakan celana dalam saja karena waktu saya datang, Pak Kawilarang lagi mengeringkan kakinya di atas batu seusai berenang di sungai,” kenang Maraden Pangabean.

  • Sepucuk Surat PM Malaysia untuk PSSI

    Huru-hara antar etnis melanda Malaysia pada Mei 1969. Korban jiwa berjatuhan hingga ratusan. Otomatis situasi tersebut menjadikan hampir segala kegiatan di berbagai bidang berantakan dan terancam batal. Termasuk rencana menggelar kembali Merdeka Games, salah satu pentas sepakbola terakbar di Asia Tenggara kala itu. Karena dinilai penting untuk memulihkan nama baik Malaysia di mata internasional, pemerintah negeri jiran itu bertekad untuk tetap menyelenggarakan perhelatan tersebut. Mereka lantas merencanakan akhir Oktober 1969 sebagai waktu yang baik untuk mengadakan pentas sepakbola Merdeka Games. Salah satu undangan yang mereka harapkan hadir adalah tim nasional Indonesia, yang saat itu masih dianggap “macan” sepakbola Asia. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menyanggupi untuk ikut Merdeka Games dengan mengirimkan timnas B. Namun pengiriman itu ditolak Malaysia karena mereka menginginkan justru timnas A yang harus tampil di Kualalumpur. “Alasannya amat politis: keikutsertaan tim utama Indonesia yang waktu itu cukup disegani di Asia, Malaysia bisa mengklaim pada dunia bahwa Kuala Lumpur telah aman dari keributan,” ungkap Arief Natakusumah dalam Drama Itu Bernama Sepakbola: Gambaran Silang Sengkarut Olahraga, Politik dan Budaya . Awalnya Indonesia enggan mengabulkan. Pasalnya, timnas A sudah dipersiapkan untuk mempertahankan King’s Cup di Thailand, yang pada 1968 berhasil mereka rebut. Tetapi Malaysia bersikeras, bahkan sampai mengirimkan surat khusus berlogo Perdana Menteri Malaysia ditujukan kepada Ketua Umum PSSI. Kosasih Purwanegara SH (Ketua Umum PSSI periode 1967-1975) dalam buku 80 Tahun Bapak , mengisahkan bagaimana Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman memohon kepada PSSI. “Jika dari saudara-saudara serumpun bantuan itu tidak dapat diperoleh, dari mana lagi kami mengharapkan?,” demikian menurut Tunku Abdul Rahman seperti dikutip oleh Kosasih. Merasa tersentuh dengan isi surat itu maka akhirnya PSSI mengirim tim utama. Pelatih Endang Witarsa membawa dua kiper: Judo Hadianto, Ronny Paslah. Bek: Budi Santoso, Sunarto, Surya Lesmana, Mulyadi, Yuswardi. Gelandang: Iswadi Idris, Anwar Ujang, Zulham Yahya, Ipong Silalahi, Syamsuddin Hadade, Max Timisela, Sinyo Aliandu, Mohammad Basri. Striker : Sucipto Suntoro, Abdul Kadir, Jacob Sihasale. Rec Sport Soccer Statistics Foundation (RSSSF) mencatat, Indonesia sukses jadi kampiun di Merdeka Games 1969. Babak awal pada Grup 1, Indonesia jadi juara grup setelah menang 3-0 dari Korea Selatan (Korsel), menundukkan Thailand 4-1 dan mengalahkan Malaysia 3-1. Di semifinal, Indonesia bersua Singapura yang jadi runner-up Grup 2. Seperti yang diramalkan di atas kertas, Indonesia menang telak 9-2. Di final pada 9 November 1969, Indonesia menang lagi dari tuan rumah Malaysia 3-2. Gelar juara ini jadi yang ketiga setelah sebelumnya membawa pulang trofi juara di 1961 dan 1962. Tapi sayangnya di gelaran King’s Cup, tim Garuda gagal mempertahankan gelar juara. Mereka kelelahan, kendati sebelumnya juga sukses menembus babak awal di Grup B sebagai juara grup. Di final pada 28 November 1969, Indonesia kalah tipis 0-1 dari Korsel.

  • Kontingen SEA Games Indonesia Tanpa Sambutan di Malaysia

    Indonesia kali pertama mengikuti SEA Games ke-9 pada 19-26 Desember 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebelumnya, ajang ini bernama SEAP Games yang hanya diikuti negara-negara semenanjung di Asia Tenggara. Keikutsertaan Indonesia berkat Malaysia yang bersedia menjadi tuan rumah dengan syarat Indonesia dan Filipina diterima menjadi anggota SEAP Federation yang kemudian berubah menjadi SEA Federation. Sehingga, SEAP Games berubah menjadi SEA Games. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat mengirim 313 wakil: 193 atlet putra, 75 putri, 35 ofisial, dan 13 petinggi KONI yang dipimpin Sekjen KONI M.F. Siregar. KONI Pusat melepas secara resmi kontingen Indonesia pada 15 November 1977. Sesampainya di Malaysia, kontingen Indonesia tidak disambut panitia penyelenggara. Sebagai peserta debutan, Indonesia dipandang sebelah mata. “Tidak ada sambutan di bandara sama sekali. Kami jalan sendiri ke tempat penginapan. Bahkan, di suratkabar pun, tak ada berita kedatangan kontingen Indonesia,” kata M.F. Siregar dalam biografinya, Matahari Olahraga Indonesia. Tak adanya sambutan bagi kontingen Indonesia tidak mematahkan semangat tanding para atlet. Sebaliknya, kata Siregar , SEA Games 1977 bagi mereka adalah memenuhi veni, vidi vici (kami datang, kami melihat, kami menang) jadi inspirasi tersendiri. “Pemberangkatan kontingen Indonesia mempunyai dasar falsafah, yakni falsafah prestasi,” kata Siregar yang juga merangkap direktur olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta ketua I Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI). Atlet Indonesia membuat gebrakan sejak di hari pertama SEA Games. Atlet renang memborong enam medali emas. Sejak hari pertama itu, kolam renang menjadi ajang pesta atlet renang Indonesia. Tim renang putra menyapu bersih 19 medali emas di semua nomor. Total di cabang renang putra dan putri, Indonesia mengoleksi 21 emas, 9 perak dan 5 perunggu. “Saat itulah, semua mata memandang kagum pada Indonesia,” kenang Siregar . Keberhasilan di cabang renang diikuti cabang-cabang lain. Sehingga, Indonesia yang baru pertama kali ikut SEA Games langsung menjadi juara umum dengan mendulang 62 emas, 41 perak dan 34 perunggu. Kisah kesuksesan kontingen Indonesia menghiasi berbagai suratkabar, baik di dalam negeri maupun di negara-negara tetangga. “Surat kabar terkemuka di Malaysia, Berita Harian , di halaman satu memuat berita bertajuk ‘Vini Vidi Vici Indonesia’,” kata Siregar. Setelah SEA Games 1977, Indonesia kembali menjadi juara umum di ajang pesta olahraga dua tahunan negara-negara Asia Tenggara itu, pada 1979, 1981, 1983, 1987, 1989, 1991, 1993, 1997, dan terakhir 2011.

  • Kudeta AURI

    Menteri/Panglima Angkatan Udara (Menpangau) Laksamana Madya Omar Dani tak pernah menyangka pertemuannya di Jakarta dengan Duta Besar RI di Kamboja Budiardjo akan berujung pada berita buruk: “Menpangau Sri Muljono Herlambang telah ‘dikudeta’ oleh Komodor Udara Suyitno Sukirno, Komodor Udara Rusmin Nurjadin, dan Komodor Udara Leo Wattimena dengan bantuan panser dari Kostrad,” kata Budiardjo sebagaimana ditulis JMV Soeparno dan Benedicta Surodjo dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani . Perebutan kekuasaan di tubuh AURI itu berawal dari kondisi buruk yang dialami matra tersebut pasca-G30S. Angkatan Darat (AD) yang diamini masyarakat menganggap bahwa AURI terlibat dalam peristiwa berdarah itu. Meski AURI sudah menjelaskan bahwa yang terlibat adalah oknum, bukan institusi, toh pandangan miring terhadap AURI justru kian kuat. Langkah yang diambil presiden dengan menugaskan Omar Dani keluar negeri dan memberikan posisinya kepada Laksmana Muda Udara Sri Mulyono tetap tak menyelesaikan masalah. Penunjukan itu malah menimbulkan masalah di dalam tubuh AURI. Beberapa anggota Dewan AURI –organ yang berisi perwira tinggi– dan banyak perwira pertama hingga menengah tak senang kepada figur pilihan Sukarno itu. Melihat keadaan yang hampir membelah AURI jadi dua itu Panglima Komando Pertahanan Udara (Kohanud) sekaligus Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Komodor Udara Suyitno Sukirno berinisiatif meredakan gejolak. “Sering saya adakan briefing mengenai keadaan negara pada umumnya dan AURI pada khususnya dan diteruskan dengan diskusi secara panjang lebar,” ujar Suyitno dalam kesaksiannya yang dimuat di Konsistensi TNI dalam Pasang Surut Republik . Pada 4 Oktober 1965, dia membuka kontak dengan AD dengan mengunjungi kantor Corps Polisi Militer (CPM) di dekat kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) Pusat, Jakarta. Kembalinya Rusmin Nurjadin, yang ditugaskan Omar Dani ke Moscow pada 1965, dimanfaatkan Suyitno, Leo, dan pihak-pihak yang kontra Sri Mulyono untuk menjelaskan situasi politik tanah air. Rusmin “masuk” kubu mereka. Rusmin dan Suyitno, sebagaimana dimuat buku merupakan dua perwira tinggi yang sejak lama tak cocok dengan kepemimpinan Omar Dani dan Sri Mulyono. Ketidaksukaan itu ditunjukkan di depan umum. Sewaktu Dani berpidato dalam rangka pembukaan seminar AURI di Cibulan,Puncak, Januari 1963, ada dua perwira tinggi yang tak menanggalkan kacamata hitamnya sebagai bentuk ketidakhormatan. “Kedua perwira itu adalah Kol. Ud. Rusmin dan Kol. Ud. Sujitno Sukirno,” demikian menurut buku Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani . Akibatnya, suasana rapat-rapat Dewan AURI yang makin sering digelar menjadi panas. Dalam sebuah rapat Dewan di bulan Maret 1966, terjadi ketegangan antara dua kubu dengan hasil akhir keputusan Dewan agar Sri Mulyono menyerahkan jabatannya kepada Rusmin. Keputusan itu berbuntut besar. “Pada tanggal 27 Maret 1966 malam dengan tiba-tiba Letnan Dua Sugianto dan pasukan datang ke rumah saya, dengan perintah Panglima Korud V Kolonel Kardono, untuk melucuti senjata dan menangkap saya,” ujar Suyitno. Hal serupa, kata Suyitno, juga terjadi pada Leo. Suyitno kontan menolak, yang keesokannya membuahkan permintaan maaf dari Kardono. Namun, karena menganggap rumahnya sudah tak aman, Suyitno kemudian “mengungsi” ke markas POMAD (Polisi Militer Angkatan Darat). Di sana dia menceritakan semuanya kepada Kolonel Suhardjono, yang lalu meneruskannya kepada Jenderal Sumitro. Setelah Sumitro tiba, mereka berembuk guna mendapatkan solusi. “Salah satu dari hasil rapat adalah bila perlu bantuan AD cq Kostrad, maka hanya kepada tiga orang AURI permohonan bantuan akan diberikan, yaitu Leo, Rusmin, dan saya,” ujar Suyitno. Setelah menceritakan keadaan-keadaan dan memberi instruksi kepada komandan Wing 300 agar siap siaga, Suyitno menghubungi Leo dan Rusmin. Triumvirat AURI itu lalu sepakat agar Dewan segera menggelar rapat dengan dipimpin Rusmin di Halim, bukan Mabes AU. Namun, rapat itu batal lantaran satu jam sebelum dimulai datang telepon dari Mabes yang menginformasikan rapat dipindah ke Mabes dengan dipimpin Sri Mulyono. Triumvirat lalu berunding. Keputusannya, Rusmin dan Leo membawa pengawal datang ke Tanah Abang (Mabes AU); Suyitno ke Kostrad di Gambir untuk meminta bantuan. “Keputusan minta bantuan ke Kostrad adalah bahwa bila saya membawa anggota Kohanud yang sudah saya siapkan di Kemayoran, kemungkinan besar akan terjadi clash ,” kata Suyitno. Di Gambir, Suyitno diterima Letkol Wahono. Setelah mendengar penjelasan Suyitno, dia langsung menawarkan bantuan. Suyitno bersama Letkol Wing Wiryawan dan Mayjen Kemal Idris –yang ikut untuk menjadi penonton– langsung mengendarai sebuah jip ke Tanah Abang dengan dikawal panser bantuan Kostrad. Setelah instruksi kepada komandan panser langkah-langkah yang harus diambil bila keadaan menjadi di luar dugaan sekalipun, Suyitno menjelaskan kedatangannya kepada petugas jaga pos Mabes AURI lalu masuk. Waktu itu rapat sudah berjalan. Sri Mulyono, yang tengah memimpin rapat, agak terganggu dengan kedatangan Suyitno. Keduanya lalu terlibat cekcok. Tepat ketika omongan Suyitno selesai, pengawal Rusmin dan Leo –yang sudah diberi instruksi tentang skenario yang akan terjadi– masuk ruang rapat dengan posisi siap tembak. Sejurus kemudian, deru suara panser terdengar dari ruang rapat. Suara itu membuat Sri Mulyono marah karena ada kendaraan tempur masuk ke areal steril. Kemarahan Sri membuat Suyitno naik pitam. Sambil berusaha mengambil pistolnya, dia menantang Sri Mulyono duel. Melihat itu, Komodor Handoko (Deputi Logistik) buru-buru merangkul Suyitno dan menanyakan apa maunya. “Saya hanya minta ‘ caretaker’ supaya diserahkan kembali kepada Rusmin sesuai keputusan kita bersama di Dewan AURI, lain tidak,” jawab Suyitno. Entah siapa yang memulai, para perwira di ruang sidang lalu ramai-ramai menyerukan agar caretaker diserahkan kepada Rusmin. Keributan pun berakhir. Pergantian kepemimpinan AURI membuat Sri Mulyono dan juga Omar Dani, plus anggota-anggota AURI lain yang patuh kepada Sukarno, menjadi pesakitan. Dia dan Dani sempat satu tempat tahanan di Nirbaya.

  • Atlet Tenis Meja Indonesia WO dari SEA Games Malaysia

    Tim sepak takraw putri Indonesia memilih walk out (WO) di babak kedua kontra tuan rumah di SEA Games ke-29 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertandingan babak round robin pada Minggu, 20 Agustus 2017 itu, wasit Muhammad Radi asal Singapura mengeluarkan keputusan yang merugikan tim Indonesia. Wasit beberapa kali membatalkan dan menilai foul servis tim Indonesia. Setelah protes tak digubris, tim Indonesia memutuskan WO padahal tengah memimpin 16-10 di babak kedua. Atlet takraw putri Indonesia pun berurai air mata karena kecewa. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang menyaksikan laga di Titiwangsa Indoor Stadium, Kuala Lumpur itu, berusaha menenangkan para pemain. Sejarah seolah mengulang kejadian pada SEA Games ke-15 di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 1989. Atlet tenis meja Indonesia dari nomor tunggal putri, Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechabubakar, memilih WO di final melawan atlet Malaysia Leong Mee Wan pada 25 Agustus 1989. Padahal, Rossy sudah merebut set pertama dengan skor tipis 17-16. Tapi di set kedua, Rossy dirugikan oleh keputusan wasit Goh Kun Tee asal Malaysia. “Saat bola pengembalian Mee Wan jatuh di sisi kanannya, Rossy melancarkan forehand drive . Bola berkelebat menyentuh tepi meja sebelum jatuh. Wasit mengangkat tangan kanan memberi angka kepada Mee Wan,” tulis Kompas, 26 Agustus 1989. Ofisial tim Indonesia protes keras. Namun, wasit tetap pada keputusannya. Rossy yang terpukul dan menangis didekap pelatihnya, Diana Wuisan. “Sudahlah kita pulang saja kalau begitu. Sebagai manajer tim, saya katakan kita dirampok,” kata RM Nuryanto. Ketua Olympic Council of Malaysia (Dewan Olimpiade Malaysia) Hamzah Abu Samah justru mengecam aksi WO tim tenis meja Indonesia. Dia menilai tindakan itu merusak tujuan SEA Games yang bersemangat persahabatan antarnegara di Asia Tenggara. Wasit kehormatan Yap Yong Yih melaporkan kejadian itu kepada panitia penyelenggara SEA Games. Goh mengubah keputusannya setelah berdiskusi dengan asisten wasit Cyril Sen. Namun, Rossy dan ofisial tim sudah keburu meninggalkan pertandingan . Alhasil, Leong Mee Wan tetap diputuskan mendapat emas, sedangkan Rossy mendapat medali perak. Kendati demikian, dia menyabet dua emas untuk beregu dan double , serta satu perunggu untuk mic double . Rossy bisa dibilang ratunya tenis meja Asia Tenggara. Dia tampil di SEA Games sejak 1987 sampai 2001 dengan merebut 13 emas, kecuali SEA Games 1999 dan 2001. Selain SEA Games, dia juga berlaga di Asian Games, kejuaraan dunia, dan Olimpiade. Di tingkat nasional, dia tampil di Pekan Olahraga Nasional. Setelah pensiun, Rossy menjadi pelatih tim nasional tenis meja putri SEA Games 2011 dan tim nasional tenis meja prakualifikasi Olimpiade di Bangkok, Thailand, tahun 2012.

  • Teror di Negeri Matador

    Pada 17 Agustus 2017, para teroris kembali melancarkan aksi terror di Spanyol. Kali ini, para pejalan kaki di kawasan Las Ramblas, Barcelona yang menjadi sasaran. Russia Today melaporkan, Sebanyak 13 orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka, ketika sebuah mobil van melaju kencang dan menabrak orang-orang yang tengah berjalan santai di trotoar. Diduga kuat, pelakunya adalah kelompok teroris ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Sejatinya, itu bukan kali pertama negara matador didera serangan teroris. Tercatat, sejumlah wilayah di sana sudah jadi sasaran teroris secara struktural sejak 1961: Serangan Kereta Api di San Sebastian RP Clarke dalam The Basque Insurgents: ETA 1952-1980 menyebutkan, ETA (Euskadi Ta Askatasuna), kelompok separatis Basque, sudah mencoba aksi terror mereka sejak 18 Juli 1961. Saat itu, mereka coba menggulingkan satu rangkaian kereta berisi para simpatisan pendukung Franco dan veteran Perang Sipil Spanyol di San Sebastian. Euskadi Ta Askatasuna (Tanah Air dan Kemerdekaan Basque) sendiri dibentuk pada 1959, menyusul berbagai kebijakan rezim Franco yang banyak menindas hak-hak orang-orang Basque. Pada Perang Sipil (1936-1939), orang-orang Basque secara terbuka menyatakan keberpihakannya kepada kaum Republik yang menentang kaum fasis kala itu. Akibatnya, setelah perang orang-orang Basque mendapat “hukuman” dari rezim Franco. Salah satunya dengan melarang mereka menggunakan bahasa Basque. Pelarangan yang ditentang PNV (Partido Nacionalista Vasco) dan kelompok mahasiswa Ekin. Mereka lantas mendirikan ETA. “Mereka mengadopsi terorisme sebagai cara menegakkan kedaulatan Basque di Spanyol. Tapi upaya pertama mereka pada Juli 1961 gagal. Ratusan aktivis ETA ditangkapi pemerintahan Franco,” kata Stephen E Atkins dalam Encyclopedia of Modern Worldwide and Extremist Groups. Perampokan Bank Guipuzcoano April 1967, ETA beraksi kembali. Kali ini, mereka menyerang sekaligus merampok Bank Guipuzcoano di Villabona. Dalam serangan tersebut, kaum militan ETA sukses menggondol 1 juta peseta tanpa menimbulkan korban. Korban Pertama Serangan ETA Pada 7 Juni 1968, terjadi baku tembak antara aparat keamanan Spanyol dengan kaum militan ETA di Aduna. Korban pertama dari rezim pemerintahan fasis jatuh kala itu. Ia adalah Jose Pardines, salah satu anggota Guardia Civil. Usai kejadian tersebut, beberapa tokoh sipil dan milier pendukung rezim Franco lainnya acap kali mendapat ancaman teror dari ETA. Pembunuhan PM Blanco ETA juga menyasar para pejabat tinggi Spanyol untuk dijadikan tujuan teror mereka. Pada 20 Desember 1973, rombongan Perdana Menteri Spanyol Laksamana Luis Carrero Blanco melewati sebuah terowongan. Di tengah jalan dalam terowongan tersebut, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi meledak. Blanco bersama sopir dan pengawalnya, langsung tewas di tempat akibat bom yang dipasang militan ETA. Bom di Bandara dan Stasiun Kereta Serangan teror dengan jumlah korban yang tidak sedikit untuk kali pertama, dilancarkan ETA pada 28 Juli 1979. Tiga bom meledak di Bandara Barajas, Atocha dan Stasiun Kereta Api Chamartin. Surat kabar La Vanguardia edisi 31 Juli 1979 menyebutkan: 7 orang tewas dan 100 lainnya luka-luka. Pemboman Supermarket di Barcelona Ledakan di dua bandara dan satu stasiun itu bukan kali terakhir serangan ETA memakan korban masyarakat sipil. Sebanyak 21 orang sipil dan 45 lainnya terluka dalam serangan bom oleh ETA di Supermarket Hipercor di Barcelona, pada 19 Juni 1987. Serangan ini disebutkan sebagai serangan paling mematikan yang dilakukan ETA sejak 1961. Surat kabar Los Angeles Times edisi 19 Juni 1987 melaporkan, ledakan berasal dari sebuah bom yang dipasang dalam sebuah mobil di area parkir. Bom itu meledak pukul 4.12 petang yang menyebabkan adanya sebuah lubang berdiameter 5 meter di lantai dasar supermarket tersebut. Serangan ini menjadi bumerang secara politis terhadap gerakan ETA, lantaran mayoritas masyarakat Basque sendiri justru ikut mengutuk serangan yang turut menewaskan 2 anak tersebut. “Serangan itu dinilai banyak orang sebagai titik balik simpati terhadap ETA. Serangan berdarah dingin terhadap wanita dan anak-anak itu membuat muak banyak masyarakat Basque yang sebelumya mendukung tujuan ETA,” tulis The Independent. Bom Mobil di Markas Guarda Civil Sebuah bom mobil berbobot 70 kilogram meledak di Markas Guardia Civil di Vic, Barcelona pada 29 Mei 1991. Media Spanyol El Economista melaporkan, ledakan bom yang terjadi dekat sebuah sekolah itu menewaskan sepuluh orang (termasuk empat anak) dan 44 lainnya luka-luka Sehari setelah kejadian itu, Guarda Civil bergerak cepat dan melakukan penggerebekan terhadap sebuah rumah di Llica d’Amunt, dekat Kota Barcelona. Dalam penggerebekan itu, dua militan ETAtewas dalam baku tembak dengan aparat keamanan. Bom di Madrid ETA yang awalnya ingin membidik seorang perwira polisi di pusat Kota Madrid, justru menewaskan 12 orang sipil dalam serangan bom pada 12 Juli 2000. Surat kabar El Pais edisi 13 Juli 2000 menuliskan, bom itu justru meledakan pusat perbelanjaan yang dipenuhi turis di El Corte Ingles dan FNAC. Bom itu meledak sepuluh menit lebih awal dari rencana awal ETA yang hendak menargetkan polisi yang memang rencananya akan melewati jalur itu. Bom Kereta Serangan teror yang dasyat juga terjadi lagi pada 11 Maret 2004 di ibu kota Madrid. Insiden yang dikenal publik Spanyol sebagai Insiden Pengeboman 11-M atau pemboman kereta Madrid. Berbeda dengan serangan-serangan sebelumnya, pelakunya dalam tragedi ini bukan ETA, melainkan sel teroris Al-Qaeda. Surat kabar El Mundo mencatat, 192 orang meninggal dan dua ribu lainnya luka-luka. Insiden bom yang terjadi tiga hari jelang pemilihan umum Spanyol 2004 itu, disebutkan sebagai tragedi terorisme paling mengerikan dalam sejarah Spanyol. Ancaman Bom di Stadion Real Madrid Dunia sepakbola Spanyol juga tidak lepas dari ancaman teror. Pada 12 Desember 2004, stadion ternama milik klub raksasa La Liga Real Madrid, Estadio Santiago Bernabeu diisukan akan diledakan juga oleh kaum teroris. BBC Sport menuliskan, ancaman itu terjadi ketika Los Merengues (julukan Real Madrid) tengah menjamu Real Sociedad. Ancaman lewat telepon dari orang tak dikenal itu mengatakan, akan terjadi ledakan bom pada pukul 9 malam waktu setempat. Tak mau kecolongan, pihak keamanan mengevakuasi sekira 70 ribu orang, termasuk penonton dan perangkat pertandingan dari stadion. Ketika itu, pertandingan tinggal menyisakan tiga menit sebelum peluit panjang berbunyi dengan skor 1-1 dan lantas. Namun ancaman ledakan bom itu tidak terbukti sama sekali.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page