Hasil pencarian
9659 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hjalmar Schacht Melawan Hitler
HJALMAR Horace Greeley Schacht lahir pada 22 Januari 1877, anak dari pasangan seorang baron Denmark dan guru sekolah Jerman. Setelah meraih gelar doktor dalam ilmu ekonomi, kariernya sebagai bankir melesat hingga menjabat presiden Reichsbank. Schacht dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Pada 1930, Schacht mengundurkan diri dari Reichsbank karena berbeda pendapat dengan pemerintahan Republik Weimar mengenai perjanjian reparasi perang. Schacht kemudian melihat potensi Adolf Hitler, yang baru keluar dari penjara.
- Selayang Pandang Pasukan Elit Garda Swiss
MESTINYA Garda Swiss menggelar upacara pengambilan sumpah para rekrutan anyarnya hari ini, Selasa (6/5/2025). Namun karena masih berlangsungnya masa duka wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025 silam dan menjelang pemilihan Bapa Suci baru dalam konklaf yang dimulai pada Rabu (7/5/2025), khusus tahun ini upacara pengambilan sumpah para rekrutan anyar pasukan Garda Swiss ditunda. Garda Swiss adalah pasukan elite pengawal Paus sang pemimpin Gereja Katolik dunia. Sebagai pasukan terkecil di dunia secara kuantitas, tentu wilayah yurisdiksinya hanya sebatas negara Takhta Suci Vatikan seluas 44 hektare. Lazimnya dalam banyak agenda besar yang mendatangkan wisatawan hingga umat Katolik dunia ke Vatikan, pengamanan dibantu aparat Angkatan Darat (AD) Italia atau Carabinieri (polisi militer).
- Operasi Intelijen Caesarea Memburu September Hitam
21 Juli 1973, sekira pukul 10:30. Seusai menonton bioskop, seorang pria berkulit gelap, menggandeng tangan istrinya yang sedang hamil, menyusuri Jalan Porobakakan di Lillehammer, Norwegia. Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di samping mereka. Dua pria keluar dan dengan pistol Beretta menembak sang calon ayah. Dia meninggal diiringi jeritan istrinya. Para pembunuh itu bekerja untuk dinas rahasia Israel, Mossad. Mereka yakin telah membunuh seorang Palestina Ali Hassan Salameh yang dijuluki “Pangeran Merah.” Menurut hasil penyelidikan Mossad, Ali Hassan Salameh adalah satu dari delapan orang Palestina yang menamakan diri Black September atau September Hitam dan menyandera atlet Israel dalam Olimpiade Munich, Jerman, tahun 1972. Dalam penyanderaan tersebut, sebelas atlet Israel, lima pelaku penyanderaan, dan seorang polisi Jerman tewas.
- Soepomo Meraih Hadiah Gajah Mada di Belanda
SETELAH menamatkan Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta, pada Agustus 1924 Soepomo mendapatkan beasiswa ( studieopdracht ) untuk melanjutkan pendidikan hukum ke Universitas Leiden Belanda. Dengan kecerdasan dan ketekunan, pemuda kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 itu, berhasil menyelesaikan pendidikan master dan doktornya dalam waktu bersamaan. Soepomo memperoleh gelar Master in de Rechten (Mr) pada 14 Juni 1927 dengan predikat suma cumlaude . Dan pada 8 Juli 1927, dia mempertahankan disertasinya yang berjudul De reorganisatie van het agrarisch stelsel in het gewest Surakarta (Reorganisasi Sistem Agraria di Daerah Surakarta).
- Iskandar Alisjahbana, Rektor yang Diteror
PADA 9 Februari 1978, sunyi merambati Bandung malam itu. Suasana mencekam masih terasa usai pasukan bersenjata menduduki kampus ITB dan kampus Universitas Padjadjaran siang harinya. Begitu pun di Jalan Sulanjana, kawasan yang menjadi tempat tinggal Rektor ITB Iskandar Alisjahbana. Entah dari mana datangnya, tetiba terdengar suara tembakan beberapa kali. Seketika tembok di atas jendela kamar salah seorang putri Iskandar meninggalkan lubang-lubang cukup besar. Tentu saja kejadian yang serba cepat tersebut membuat keluarga Iskandar panik.
- Mahasiswa Ingin Ganti Presiden, Tentara Duduki Kampus
HARI-hari belakangan ini, publik diramaikan dengan wacana #2019GantiPresiden. Di sana-sini, kampanye gencar dilakukan. Bahkan, di tingkat akar rumput masyarakat ada yang berujung intimidasi. Era reformasi memang membuka keran kebebasan sebesar-besarnya dalam menyatakan pendapat. Kontras dengan keadaan di masa lalu. Di zaman Orde Baru (Orba), menyatakan pendapat adalah kemewahan tak ternilai. Kritik bisa berujung bui hingga nyawa. Mahasiswa generasi tahun 1970-an pernah merasakan betapa ganasnya aparat Soeharto memperlakukan mereka.
- Derita Istri Jenderal yang Disingkirkan: Sri Suharyati Sayidiman
Dari sekian jenderal Orde Baru, Letnan Jenderal (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo barangkali mengalami nasib kurang beruntung. Dia mengenang hubungannya dengan Soeharto sebagai relasi atasan-bawahan yang rumit. “Jauh-jauh dekat,” begitu ungkapnya. Meski bukan bagian lingkaran dalam, sebagai pejabat teras TNI Sayidiman cukup dikenal oleh Soeharto. Hingga akhirnya, Sayidiman yang digadang-gadang bakal jadi panglima ABRI itu betul-betul terpental. “Saya kan pernah difitnah oleh Ali Moertopo,” kata Sayidiman suatu ketika. Pada 1970, Sayidiman menjabat Ketua Gabungan-3 Hankam yang mengurusi bidang personalia. Dalam laman pribadinya , Sayidiman berkisah bahwa dirinya pernah didatangi Asisten Pribadi (Aspri) Presiden merangkap Deputi III (Penggalangan) Bakin Mayor Jenderal Ali Moertopo. Ali meminta Sayidiman menyiapkan perwira generasi muda untuk mendukungnya. Besar kemungkinan para perwira ini hendak digalang oleh Ali untuk menyokong proyek operasi khusus rancangannya. Sayidiman hanya menjawab sekedarnya, “Kita lihatlah nanti.” Baca juga: Riwayat Tangan Kanan Ali Moertopo Keesokan harinya, Sayidiman bertemu dengan Kepala Bakin (kini BIN) Mayor Jenderal Sutopo Yuwono. Sutopo memperingatkan agar Sayidiman berhati-hati dengan Ali Moetopo. Menuruti kemauan Ali bisa menyebabkan para senior TNI yang lain marah. Di kalangan perwira senior, nama Ali Moertopo mentereng sebagai political operator rezim Soeharto. Sayidiman mengerti maksud Sutopo. “Saya kan bukan orang gila atau bodoh,” katanya. Pada 1973, Sayidiman menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Saat itu yang menjabat kepala staf adalah Jenderal Surono. Dengan kedudukannya itu, Ali mengharapkan Sayidiman segera memenuhi permintaannya. Sayidiman nyatanya mementahkan permintaan Ali karena merasa praktik-praktik politik Ali bertentangan dengan etika perwira TNI. Pun agenda Ali ini akan ditentang oleh Surono dan perwira senior lainnya. Setahun berselang, meletuslah peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974. Di situlah Ali memukul Sayidiman. “Rupanya ada sekelompok perwira generasi muda yang memelihara hubungan dengan kaum mahasiswa yang bergolak. Ali Murtopo memanfaatkan hal ini untuk ‘menghukum’ saya karena tidak memenuhi permintaannya,” tutur Sayidiman. Baca juga: Soemitro dan Ali Moertopo, Kisah Duel Dua Jenderal Atas kerusuhan yang terjadi, Ali melapor kepada Presiden Soeharto bahwa Sayidimanlah yang berada di belakang kelompok perwira generasi muda dalam Malari. Soeharto goyah, termakan omongan Ali Moertopo. Sayidiman akhirnya dicopot dari kedudukannya mengikuti jejak Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro. Sayidiman memang kerap dikaitkan sebagai perwira kelompok Soemitro. Dia lantas dipinggirkan ke Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) sebagai gubernur. Ketika menghadap Soeharto untuk melaporkan dirinya telah menjadi gubernur Lemhanas, Sayidiman menangkap sesuatu yang ganjil. Soeharto menyambut Saydiman dan berpesan dalam nada datar, “Ya, lakukan tugas baru dengan baik. Dan kalau melakukan sesuatu bicarakan dengan teman.” Ucapan itu, menurut Sayidiman, jadi indikasi bahwa Soeharto menyangka dirinya telah melakukan sesuatu yang tak beres. Namun, Sayidiman enggan bereaksi. “Baik, Pak, tugas akan saya lakukan sebaik mungkin,” balasnya sembari pamit. Meski karier militernya dihabisi seketika, Sayidiman sanggup untuk legowo . Tapi, tidak demikian dengan istrinya, Sri Suharyati. Sejak peristiwa itu, Sri Suharyati mengalami kemunduran fisik secara drastis. “Kemudian yang sakit istri saya. Sakit karena saya diperlakukan tidak adil,” ujar Sayidiman lirih. Baca juga: Kekecewaan Istri Seorang Jenderal: Kisah Siti Rachma Moersjid Penyakit yang mendera Sri Suharyati terbilang aneh. Tubuhnya memproduksi butir sel darah merah (hemoglobin) dalam jumlah berlebihan. Celakanya, ia menggumpal di pusat syaraf sehingga mengakibatkan kelumpuhan di bagian tubuh sebelah kanan. Kemampuan berbicaranya pun hilang. Baru kemudian diketahui Sayidiman penyakit itu bernama polycythemia vera . Dalam otobiografinya, Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI , Sayidiman menyebut Tjiek –panggilan Sri Suharyati– sakit sejak April 1976 dan tidak pernah normal kembali seperti sediakala. Sekali waktu, Jenderal Soerono, mantan atasan Sayidiman, datang membesuk. Tak banyak kata-kata penghiburan yang disampaikan. Soerono hanya berujar, “Yik (panggilan Sayidiman) kamu memang kuat, tapi Tjiek tidak!” Setelah mencari pengobatan sana-sini dan tak kunjung berhasil, Sayidiman diangkat menjadi duta besar Indonesia untuk Jepang pada 1978. Ketika menerima surat kepercayaan, Sayidiman merasakan sikap berbeda yang ditampilkan Soeharto. Sayidiman mendapati informasi bahwa penetapannya sebagai duta besar ditunjuk sendiri oleh Soeharto. Sayidiman diamanahkan tugas khusus melobi kelompok pengusaha Jepang menanamkan modal di Indonesia. Selain itu, Soeharto mengatakan supaya istri Sayidiman boleh mendapatkan pengobatan yang lebih baik di Jepang. Soeharto menjanjikan pula, “Nanti pemerintah akan membantu dengan biaya pengobatan karena gajimu tentu tak cukup.” Baca juga: Yang Seteguh Batu Karang: Kisah Grace Walandaow Hartono Di Jepang pula, Sayidiman pernah menerima kunjungan Ali Moertopo. Dia datang bersama rombongan dari lembaga CSIS yang dipimpinnya. Sayidiman mengenang Ali Moertopo sempat menggelar pesta ulang tahun di Tokyo. Ali bahkan sempat menumpahkan unek-unek dirinya telah diperlakukan dengan buruk oleh Presiden Soeharto. Waktu itu tahun 1982, Ali Moertopo menjabat sebagai menteri penerangan. Aksesnya terhadap perangkat intelijen negara –yang menjadi keahliannya– telah diputus total. Sayidiman tak menaruh dendam meski istrinya tak pernah sembuh lagi dari penyakit yang diderita. Pada 1 Juni 1994, Sri Suharyati meninggal dunia. Tidak lama setelah itu, Presiden Soeharto menganugrahkan Bintang Maha Putera Utama kepada Sayidiman. Barangkali untuk melipur lara Sayidiman yang kehilangan istri tercinta. Dua tahun kemudian, giliran Soeharto yang ditinggal mati oleh Ibu Tien pada 28 April 1996. Hingga Soeharto lengser pada 1998, Sayidiman tak pernah lagi berhubungan dengan Soeharto. Kendati demikian, Sayidiman menghormati Soeharto sebagai sosok yang amat interessant dalam hidupnya. Hubungan yang jauh tapi juga dekat. Baca juga: Akhir Palagan Jenderal Sayidiman Suryohadiprodjo
- Spanyol 1936
PADA sebuah barak Lenin di Barcelona, sehari sebelum bergabung dengan milisi antifasis, George Orwell terpukau pada penampilan seorang laskar muda asal Italia. Pria itu, kata Orwell, berusia sekitar 25 atau 26 tahun, berdiri tepat di hadapannya dengan sorot mata tajam, memperhatikan sebuah peta terhampar di atas meja dengan kening berkerut kebingungan. “Ada sesuatu di wajahnya yang membuatku tersentuh. Itulah wajah seorang lelaki yang rela berjibaku membunuh dan tak memedulikan hidupnya demi seorang kawan,” tulis Orwell dalam memoarnya yang masyhur Homage to Catalonia .
- Palestina (Bukan) Harga Mati
SELAMA berabad-abad, bangsa Yahudi mencari “Tanah yang Dijanjikan”, sebuah wilayah yang akan mereka jadikan tanah air mereka. Mordecai Manuel Noah memulai langkah ini dengan membeli sebidang tanah di Grand Island di Sungai Niagara dekat Buffalo, New York, Amerika Serikat, pada 1825. Menurut Seymour “Sy” Brody dalam biografi singkat Mordecai Manuel Noah (1785-1851), di tanah itu Noah membayangkan sebuah koloni Yahudi yang dia disebut Ararat –bukan pegunungan Ararat di Turki tempat peristirahatan Noah’s Ark (Bahtera Nabi Nuh). Di tempat itu pula dia mendirikan monumen dengan tulisan: “Ararat, sebuah Kota Perlindungan untuk orang Yahudi, didirikan oleh Mordecai M. Noah pada Bulan Tishri, 5586 (September 1825) dan pada Limapuluh Tahun Kemerdekaan Amerika”.
- Trah Djiwandono dalam Kabinet
PRESIDEN Joko Widodo melantik tiga pejabat baru di kabinetnya kemarin, Kamis (18/7/2024). Salah satu nama yang dilantik adalah Thomas Djiwandono. Bendahara Umum Partai Gerindra itu ditunjuk presiden menjadi wakil menteri keuangan. Thomas merupakan putra pasangan Soedrajad Djiwandono dan Biantiningsih Djojohadikusumo, putri begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo yang merupakan ayah presiden terpilih Prabowo Subianto. Soedrajad sendiri merupakan salah satu orang kepercayaan mantan Presiden Soeharto di bidang keuangan, hingga dipercaya menduduki beberapa jabatan dalam Kabinet Pembangunan pemerintahan Orde Baru. Soedrajad berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Ketika Sri Sultan Hamengkubuwono VIII bertakhta di era 1930-an, keraton punya banyak abdi dalem . Salah satunya Thomas Sastro Djiwandono. Sastro memperistri Pariah. Pasangan ini punya banyak anak. Dari 12 anak mereka, hanya sembilan yang bertahan hidup setelah bayi. Di antaranya yang lahir pada 13 Oktober 1933, yang bernama panjang Johannes Baptista Soedjati Djiwandono. Anak paling bungsu lahir pada 17 Agustus 1938 dengan nama Joseph Soedrajad Djiwandono. Kesembilan anak Sastro-Pariah tumbuh di tengah situasi politik yang bergonta-ganti dalam waktu relatif singkat, dari era kolonial Belanda lalu pendudukan Jepang dan diakhiri Perang Kemerdekaan Indonesia. Di masa Perang Kemerdekaan itulah, catat Dawam Rahardjo dalam Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah Bangsa , Sastro meninggal dunia ketika Soedrajad berusia 10 tahun. Kendati begitu, kehidupan terus berlanjut. Setelah perang, anak Sastro dan Pariah tumbuh dewasa. Maria Etty dalam TS. Gerbang Rahmat mencatat, Soedjati setelah lulus Sekolah Guru Atas (SGA) sempat kursus B1 dan kursus bahasa Inggris di Universitas Wellington, Selandia Baru. Dia lalu kuliah politik dan bahasa Rusia di Universitas Otago dan mendapat gelar sarjananya di sana. Sekitar tahun 1966, Soedjati kembali ke Indonesia. Dia ikut Khalawat Sebul (Khasebul) di bawah bimbingan Pater Joseph Beek, pastur anti-komunis yang ikut mendorong berdirinya Orde Baru. Soedjati kemudian bekerja di pusat kajian strategi internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Dia sampai menjadi direktur eksekutif di sana. Soedjati kemudian melanjutkan sekolahnya di London School of Economics and Political Science (LSE) sejak 1977 dan mencapai gelar Doctor of Philosophy (PhD). Dia baru menikah pada usia 37 tahun. Dia menikah dengan Vonny Phoa. Sementara, si bungsu Soedradjad pada 1963 berhasil jadi sarjana ekonomi setelah kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kemudian sejak 1964-1967, Soedrajad belajar di Universitas Winconsin dan setelah pulang ke Indonesia dia bekerja di bermacam instansi negara. Pada 1971, Soedrajad menikah dengan Biantiningsih Miderawati Djojohadikusumo. Perempuan berdarah Jawa-Minahasa ini merupakan putri Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar. Pasangan Soedrajad-Bianti, disebut Aristides Katoppo dkk. dalam Jejak Perlawanan Begawan Pejuang Sumitro Djojohadikusumo , hidup sebagai penganut Katolik. Pasangan ini dikaruniai dua anak: Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono dan Gerardus Budisatrio Djiwandono. Setelah bekerja di Departemen Keuangan dan Departemen Perdagangan, pada 1972 Soedrajad bekerja pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di bawah ekonom Widjojo Nitisastro. “Saya diminta Pak Widjojo untuk bekerja di Bappenas, pada waktu itu untuk mempersiapkan penyusunan Repelita II,” kenang Soedrajad dalam “Guru dan Mentor Saya” di buku Kesan Para Sahabat Tentang Widjojo Nitisastro . Di Bappenas, karier Soedrajad terus menanjak. Dia sampai menjadi kepala biro. Dia juga pernah menjadi staf ahli menteri perdagangan. Pada 1988, di usia yang hampir 50 tahun, Soedrajad diangkat Presiden Soeharto menjadi menteri muda perdagangan dalam Kabinet Pembangunan V. Pada 1993, Soedrajad dipercaya menjadi gubernur Bank Indonesia dalam Kebinet Pembangunan VI. Di tahun terakhir masa jabatannya di Bank Indonesia, adik ipar Soedrajad juga sedang naik daun di militer. Brigadir Jenderal TNI Prabowo Subianto, adik ipar itu yang juga sebagai menantu daripada Presiden Soeharto, adalah Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) yang kemudian diangkat menjadi panglima Kostrad. Namun, berbeda dari Prabowo, Soedrajad dan Soedjati kakaknya punya sikap kritis di akhir pemerintahan Soeharto. Bahkan, kekritisan mereka merugikan kolega Soeharto. “Gubernur Bank Sentral Indonesia Dr. Sudrajad Djiwandono, yang menutup bank-bank relasi Soeharto tahun 1997, akhirnya diberhentikan dengan hormat oleh Presiden Soeharto pertengahan 1998,” tulis George Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan . Soedrajad, kata Aristides dkk., menolak keinginan Soeharto untuk menerapkan Currency Board System (CBS). Prabowo sendiri kemudian berpisah dengan putri Soeharto. Setelah tinggal beberapa waktu di Yordania, dia kemudian pulang dan terjun ke dunia politik. Berkali-kali kalah dalam pemilihan presiden, Prabowo akhirnya berhasil terpilih sebagai presiden lewat Pemilu 2024 didampingi anak bekas lawan yang mengalahkannya dalam dua pemilihan calon presiden sebelumnya. Di partai yang didirikan Prabowo, Gerindra, itulah putra Soedrajad, Thomas Djiwandono, menjadi bendahara umum partai. Namanya bahkan disebut-sebut dalam bursa calon menteri keuangan. Selain dirinya, adiknya, Budi Djiwandono, juga disebut-sebut namanya dalam bursa calon gubernur Jakarta. Keluarga Djiwandono tak hanya bagian dari keluarga besar Djojohadikusumo, tapi juga bagian dari Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo, ipar Soedrajat itu. Kini, Thomas mewakili trah Djiwandono-Djojohadikusumo menjadi bagian dari kabinet. Ia dilantik presiden menjadi wakil menteri keuangan pada Kamis, 18 Juli 2024, ketika acara Kamisan digelar –untuk menagih janji presiden yang pernah berjanji akan menyelesaikan kasus-kasus HAM– di depan Istana Merdeka, Jakarta.*
- Kunjungan Putra Mahkota Belgia Leopold dan Putri Astrid ke Hindia Belanda
DENGAN kapal Insulinde, Putra Mahkota Leopold dari Belgia dan Putri Astrid berangkat ke Hindia. “Itu adalah perjalanan yang berat, tetapi juga menyenangkan,” kata Kapten Kapal GH Ruhaak pada Bataviaasch Nieuwsblad edisi 17 Maret 1933. Desember 1928 merupakan kali pertama pasangan Kerajaan Belgia itu berkunjung ke Hindia-Belanda. Mereka datang untuk melihat-lihat tanah dan orang-orang di negeri jajahan milik kerajaan tetangga. Orang-orang di negeri jajahan Belanda amat antusias menyambut kedatangan pasangan ini. Kebun Raya Bogor bahkan menyiapkan satu spot untuk ditanami bunga yang melambangkan bendera Belgia: hitam, kuning, dan merah. Jalan di sisi bunga itu juga dinamai Astrid Boulevard.






















