top of page

Hasil pencarian

9793 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Awal Mula Kerajaan Majapahit

    SAAT memimpin konsolidasi kader Partai Demokrat di Tulungagung pada akhir pekan lalu, Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa keluarganya masih keturunan langsung trah Kerajaan Majapahit. Leluhurnya adalah pendiri dan raja pertama Majapahit, Raden Wijaya dari garis Ki Ageng Buwono Keling. Dia juga mengaitkan kejayaan Majapahit pada abad 14 dengan 14 nomor urut Partai Demokrat dalam Pemilu 2019. Setelah Kerajaan Singhasari jatuh ke tangan Raja Gelang Gelang Jayakatwang, pada 1292 Wijaya membuka hutan yang tandus di Trik, sebelah selatan Surabaya. Di tempat itulah, dia mendirikan Kerajaan Majapahit. Pendirian itu dikisahkan dalam naskah Pararaton, Nagakartagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Harsawijaya, dan diabadikan dalam Prasasti Kudadu (1294 M) dan Prasasti Sukamrta (1296 M).

  • Di Filipina, Kali Majapahit Lestari

    SEBAGAI kerajaan terbesar di Nusantara, nama Majapahit dikenal sampai jauh ke seberang. Wilayah kekuasaannya membentang luas, sebagaimana disebutkan dalam Kakawin Negarakertagama. Tak aneh bila Majapahit meninggalkan banyak warisan. Salah satunya, Sundang/Kali Majapahit. Silat/beladiri Majapahit itu menjangkau hingga negeri seberang. Kali Majapahit, yang menjadi modal dasar keprajuritan Majapahit, berasal dari Mahisa/Lembu Anabrang. “Anabrang adalah laksamana Singhasari yang dikirim waktu [Ekspedisi] Pamalayu, zaman Raja Kertanegara,” ujar arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar kepada Historia.ID. Menyusul tewasnya Kertanegara dalam pemberontakan Jayakatwang, Anabrang lalu bernaung di bawah panji Majapahit. Suksesor Singhasari itu didirikan Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang memadamkan pemberontakan Jayakatwang.

  • Meninjau Kembali Wilayah Kekuasaan Majapahit

    KAKAWIN Nagarakrtagama menyebut pengaruh Kerajaan Majapahit sangat luas, meliputi hampir seluruh negara Indonesia sekarang, dari daerah di Pulau Sumatra di bagian barat, sampai ke Maluku di bagian timur. Luasnya daerah yang terpengaruh Majapahit itu dikuatkan oleh penjelajah Portugis, Tome Pires. Menurutnya, sampai kira-kira awal abad 15, pengaruh Majapahit masih menguasai hampir seluruh Nusantara. “Di masa itu Negeri Jawa sangat berkuasa karena kekuatan dan kekayaan yang dimilikinya, juga karena kerajaan ini melakukan pelayaran ke berbagai tempat yang jauh,” kata Tome Pires dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental.

  • Ranggalawe Melawan Majapahit

    RANGGALAWE, adipati Tuban, memprotes keputusan Raden Wijaya, raja Majapahit, yang memilih Nambi sebagai patih amangkubhumi. Dia merasa dirinya atau Lembu Sora lebih pantas. Inilah yang mengawali rentetan pemberontakan di awal berdirinya negara Wilwatikta. Sebelumnya, Wijaya membagikan jabatan tinggi kepada rekan-rekan seperjuangan yang setia mendampinginya dalam pelarian dari tentara Jayakatwang. Sebagian nama pengikut Kertarajasa itu dijumpai dalam beberapa prasasti. Prasasti Kudadu (1294 M) menyebut Wiraraja sebagai mantri mahawiradikara. Prasasti Sukamrta (1296 M) menyebut Mpu Tambi (Nambi) sebagai rakryan mapatih, lebih tinggi dari Mpu Sora sebagai rakryan apatih di Daha.

  • Kisah Nasional Majapahit

    KALAU India punya kisah Mahabharata, Jawa punya Kisah Panji. Cerita tentang Raden Panji Inu Kertapati dan Galuh Candra Kirana ini begitu populer hingga menyeberang keluar Nusantara. Awalnya, tradisi Panji dimulai dari cerita lisan paling tidak sejak 1400 M. Pada era Majapahit, kisah ini mewujud dalam bentuk relief di candi-candi Jawa Timur. Arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar menyebut, salah satu candi yang punya relief candi adalah Panataran di Blitar, Jawa Timur. Candi Panataran bisa diibaratkan sebagai candi nasionalnya Majapahit. “Apabila Kisah Panji dipahatkan di percandian nasional Majapahit, Kisah Panji pun jadi kisah nasional Majapahit. Tak heran akhirnya dikenal di berbagai kawasan Nusantara dan Asia Tenggara,” ucap Agus dalam Seminar Internasional Panji/Inao 2018, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (10/7).

  • Majapahit Menaklukkan Bali

    GAJAH MADA dan Adityawarman memimpin tentara Majapahit menyerang Pulau Bali. Setelah melewati Selat Bali dan Samudra Hindia, dua armada Majapahit mendarat di Bali selatan. Dua armada lainnya mendarat di Bali utara lewat Laut Bali. Tujuan mereka adalah keraton raja Bali, Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten, di daerah Bedahulu (Bedulu, Gianyar). Pertempuran dahsyat pun pecah. Tentara Bali berupaya mempertahankan Bedahulu. Namun, tak mendapat dukungan penuh dari rakyatnya. Mereka justru bersimpati kepada tentara Majapahit karena perbuatan rajanya yang hina. Akhirnya, Bali jatuh ke tangan tentara Majapahit. Raja dan sanak keluarganya menyerah. "Raja Bali yang hina dan jahat diperangi bala tentara Majapahit dan semua binasa. Takutlah semua pendurhaka dan pergi menjauh," catat Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakrtagama.

  • Pemberontakan Terhadap Raja Majapahit

    SEMENJAK Jayanagara naik takhta, Majapahit sulit mendapat ketenangan. Pemberontakan silih berganti menggugat pemerintahan yang ketika itu tengah berlangsung. Satu-satunya yang bisa membuat raja bertahan di singgasana mungkin hanyalah sikap pemberani dan keahlian dalam strategi perang. Hal ini dikatakan sejarawan mantan Duta Besar Kanada di Indonesia, Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni. Jayanagara menikmati berada di tengah prajuritnya dan di medan tempur. Beberapa kali dia terjun langsung menumpas pemberontakan. “Menurut beberapa sumber, terjadi sebanyak dua belas kali pemberontakan, meski jumlah sesungguhnya sulit dipastikan,” jelas Drake.

  • Perang Saudara Berebut Singgasana Majapahit

    SEPENINGGAL Raja Hayam Wuruk terjadi perebutan kekuasaan takhta Majapahit. Pertentangan antara keluarga kerajaan pertama kali muncul ketika Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wisesa memerintah. Wikramawarddhana merupakan suami Kusumawarddhani, putri Hayam Wuruk. Dalam Kakawin Nagarakrtagama, Kusumawarddhani disebut sebagai rajakumari yang berkedudukan di Kabalan. Kendati bukan anak sulung, Kusumawarddhani diangkat menjadi putri mahkota karena lahir dari permaisuri. Namun, yang memakai mahkota adalah suaminya. Wikramawarddhana masih saudara sepupu Kusumawarddhani. Dalam Nagarakrtagama dan Pararaton disebut dia adalah anak Rajasaduhiteswari atau Bhre Pajang, adik Hayam Wuruk. “Wikramawarddhana adalah keponakan dan menantu Hayam Wuruk,” tulis arkeolog Hasan Djafar dalam Masa Akhir Majapahit.

  • Perseteruan Keluarga Majapahit

    PERANG saudara dalam peristiwa Paregreg sedikit mereda ketika Suhita naik takhta. Namun, perseteruan antaranggota keluarga Kerajaan Majapahit tak berhenti di situ. Pararaton-lah yang menamai perang saudara setelah Hayam Wuruk mangkat itu dengan Paregreg atau peristiwa huru-hara. Pemicunya perebutan singgasana antara suami Kusumawarddhani, Wikramawarddhana, dengan saudara tiri Kusumawarddhani, Bhre Wirabhumi. Wirabhumi menuntut takhta dari Wikramawarddhana. Namun, Wirabhumi tak berhak atas takhta Majapahit karena putra Hayam Wuruk dari selir. Posisi putri mahkota disandang Kusumawarddhani, anak Paduka Sori, permaisuri Hayam Wuruk. Paregreg berakhir setelah Wirabhumi dipancung. Namun, perang saudara terus terjadi. Secara turun-temurun, Majapahit diperintah oleh garis keturunan langsung Sanggramawijaya atau Raden Wijaya, sampai Suhita, cucu Hayam Wuruk, yang memimpin dari 1427-1447.

  • Agama-agama di Majapahit

    PRASASTI Waringinpitu yang dikeluarkan oleh Raja Kertawijaya pada 1369 Saka (1447) menyebutnama-nama pejabat birokrasi kerajaan di tingkat pusat. Di antaranya Dharmmadhyaksa ring kasaiwan (pejabat tinggi yang mengurusi Agama Siwa)dan Dharmmadhyaksa ring kasogatan (pejabat tinggi yang mengurusiAgama Buddha). Dari keterangan itu, menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar,dapat diketahui di Kerajaan Majapahit setidaknya ada dua agama resmi, yaitu Agama Siwa dan Agama Buddha. Pada perkembangannya, yaitu ketika Majapahit akhir, peran agama Buddha seakan menghilang. Sementara bangunan sucinya kebanyakan bercorak Siwa. Ini menunjukkan hubungan erat antara kedua agama itu. Oleh beberapa sarjana, hubungan ini disebut dengan berbagai istilah. H. Kern menyebutnya percampuran. N.J. Krom, W.H. Rassers, dan P.J. Zoetmulder menyebutnya perpaduan. Sedangkan Th.G.Th. Pigeaud menyebutnya kesejajaran.

  • Yang Mati yang Bercerita di Toraja

    DI DESA Bulu Langkan, Kabupaten Tana Toraja –pada 2009 mekar menjadi Kabupaten Toraja Utara– penduduk bicara tentang kematian, seakan-akan begitu akrab. Di sana tak ada pemisahan, orang mati diperlakukan sebagai moyang yang harus dijaga terus-menerus dan kelak akan bercerita tentang silsilah keluarganya. Tempat itu begitu sejuk. Dingin dengan pohon-pohon kecil. Entah di mana pohon-pohon besar yang seharusnya menghuni pegunungan; semua menjadi hamparan sawah. Tak ada yang tahu kapan itu bermula. Namun penduduk setempat meyakini, dengan menggarap perbukitan yang curam dan menanaminya padi cukup menjadi bukti keuletan masyarakat Toraja. Ketika mengunjungi daerah itu saya menyaksikan sebuah ritual sakral. Namanya ma′nene. Semua jenazah yang berumur puluhan hingga ratusan tahun dikeluarkan dari sebuah liang batu dan patane (kuburan modern yang terbuat dari dinding beton) untuk dijemur. Seluruh keluarga yang hadir ikut bersorak melihat keadaan jenazah, dari sanak famili, ayah, nenek, kakek, dan moyang. Satu per satu dijemur.

  • Di Balik Kisah Raksasa Pemakan Manusia di Ratu Boko

    DAHULU kala hiduplah raksasa pemakan manusia bernama Prabu Boko. Setiap hari ia mengirim prajurit untuk mencari manusia untuk dimakan. Jika prajurit itu gagal, ia yang akan dilahap. Teror itu membuat penduduknya mencari perlindungan ke kerajaan tetangga. Penguasanya baik hati. Ia segera mengirim putranya, Bandung Bondowoso untuk melawan raksasa itu. Pertempuran terjadi selama sepuluh hari. Prabu Boko pun kalah. Prabu Boko dipercaya menguasai Keraton Ratu Boko di Yogyakarta. Menurut Veronique Degroot, arkeolog Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO), dalam "The Archaeological Ramains of Ratu Boko: From Sri Lankan Buddhism to Hinduism" yang diterbitkan dalam Indonesia and the Malay World, wisatawan Belanda pada abad ke-19 menerima legenda itu tanpa ragu. Mereka menganggap situs yang sudah ada sejak abad ke-8 itu sebagai kompleks keraton dari masa Hindu dan Buddha.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page