top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ali Sastroamidjojo, Diplomat yang Terlupa

    Tahun1953, situasi perang di Vietnam kian memanas. Hampir setiap waktu pertempuran terjadi di sana. Negara itu bahkan semakin terpecah tatkala negara-negara adidaya sekelas Amerika Serikat dan Rusia membagi pengaruhnya di sana. Perang Dingin antara keduanya meluas ke wilayah Asia. Kondisi itu membuat pemimpin-pemimpin negara Asia gusar. Maka Perdana Menteri Sri Lanka Sir John Jotelawala mengusulkan kepada negara-negara Asia yang baru merdeka seperti India, Indonesia, Pakistan, dan Burma, berkumpul untuk membahas bahaya Perang Dingin di Asia. Pada awal 1954, bertempat di Colombo, Sri Lanka, konferensi lima negara merdeka itu pun terselenggara. Indonesia mengrimkan sejumlah perwakilan, dipimpin langsung Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Dalam konferensi itu, Ali mengusulkan  diadakannya sebuah konferensi yang melibatkan negara-negara di Asia dan Afrika. Diceritakan Ali dalam otobiografinya  Tonggak-Tonggak di Perjalananku , itulah kali pertama gagasan tentang Konferensi Asia Afrika (KAA) dikemukakan Ali di hadapan pemimpin-pemimpin Asia. Tetapi ide baik tersebut tidak langsung disambut. Banyak pihak yang meragukan keberhasilannya. Terlebih adanya kekhawatiran dari Perdana Menteri India Jawahlal Nehru tentang perbedaan di antara negara-negara Asia-Afrika yang hanya akan menimbulkan konflik. Ali pun meyakinkan mereka bahwa momentum penyelenggaraan konferensi tersebut sangat tepat di tengah isu perdamaian dan konflik yang tengah melanda dunia saat itu. Dia juga mengungkapkan kesanggupan Indonesia untuk menjadi tuan rumah konferensi negara-negara Asia dan Afrika yang pertama. Pernyataan Ali pun menjawab keraguan para pemimpin. Mereka akhirnya menerima dan mendukung usulan tersebut. “... beliau (Ali Sastroamidjojo) ditugaskan oleh Bung Karno sebagai Ketua Umum dari panitia Konferensi Asia Afrika,” kata sejarawan Rushdy Hoesein dalam acara Dialog Sejarah Historia.id, “Ali Sastroamidjojo yang Terlupakan” pada 14 Juli 2020. Konferensi negara-negara Asia dan Afrika pun berhasil diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, pada 18-24 April 1955. Ada 29 negara yang ikut dalam acara tersebut. Tokoh-tokoh penting dari setiap negara peserta juga turut hadir. Mereka membawa misi yang sama, yakni perdamaian dan persatuan. Keberhasilan KAA tidak lepas dari sosok Ali sebagai inisiator, sekaligus ketua pelaksana. Menurut sejarawan Wildan Sena Utama dalam acara “Tadarusan dan Pembahasan Pidato Penutup Ali Sastroamidjojo di Konferensi Asia-Afrika 1955”, yang diselenggarakan Asian African Reading Club (AARC), pada 24 April 2021, peran Ali tidak kalah penting dari Sukarno dan Nehru, yang kala itu menjadi ikon perdamaian dunia. Kandidat doktor sejarah di Universitas Bristol, Inggris itu menyebut Ali Sastroamidjojo sebagai tokoh pencetus perdamaian dunia ke-3. Tidak hanya ideologi perdamaian yang kuat, Ali juga memiliki keyakinan akan persatuan di antara negara-negara Asia dan Afrika, kendati mereka memiliki perbedaan dalam hal politik, budaya, sosial, dan agama. Ali percaya jika perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi negara-negara Asia-Afrika untuk memajukan perdamaian dunia.   “Menurut saya kita harus memberikan kredit bagi Ali Sastroamidjojo karena ia juga merupakan tokoh penting penggalang perdamain dunia di tahun 1950-an, di mana keresahannya atas situasi politik Asia yang terancam oleh kontestasi kekuatan adidaya Perang Dingin itu mendorong gagasan tentang kerja sama Asia Afrika yang merupakan latar belakang dari kemunculan Konferensi Asia Afrika,” kata Wildan. Sebagai perdana menteri, imbuh Wildan, Ali benar-benar menjalankan politik bebas aktif, dengan KAA sebagai bukti nyatanya. Politik yang dia jalankan bukan politik netral, tetapi politik non-blok yang memiliki keberpihakan kepada dunia merdeka dan damai semata, bukan kepada salah satu kekuatan besar. Penting juga untuk diingat bahwa selama beralangsungnya KAA, sebagai pimpinan pelaksana, Ali mampu memastikan acara berjalan dengan baik. Dia mengkoordinasikan seluruh panitia nasional dan lokal untuk bersama-sama bekerja melancarkan jalannya perhelatan tersebut. Bahkan ketika terjadi ketegangan di dalam sidang, Ali turun tangan langsung untuk menengahi. Dengan gaya diplomasi kultural, kata Wildan, Ali berhasil menurunkan tensi-tensi yang muncul di antara pemimpin-pemimpin baru negara di Asia-Afrika. “Menurut saya KAA sebagai sebuah inisiatif “politik”, ataupun Ali Sastroamidjojo sebagai tokoh yang menggalang konferensi tersebut pantas untuk mendapatkan hadiah nobel (perdamaian) atas upayanya menjadi juru bicara perdamaian dari Asia-Afrika di tengah diamnya PBB dan kekuatan adidaya pada waktu itu,” ujar Wildan.

  • Konferensi Asia Afrika di Mata Pelajar Indonesia

    Tanggal 24 April diperingati sebagai Hari Solidaritas Asia Afrika. Penetapannya bertepatan dengan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika pada 2020. Konferensi Asia Afrika kali pertama berlangsung pada 18–24 April 1955 di Bandung. Tujuannya membangun kerja sama dan solidaritas panjang untuk mewujudkan dunia yang adil, bebas dari penjajahan, dan damai. Selama KAA, pelajar Indonesia dilibatkan. Mereka berkumpul di lapangan Tegalega, Bandung pada 18 April pagi. Mereka berbaris rapi, menunggu tetamu penting dari 29 negara peserta KAA. Saat matahari agak tinggi, tetamu bermunculan di lapangan. Antara lain Gamal Abdul Nasser dan Jawaharlal Nehru. Melihat tetamu datang, para pelajar mulai bersenam. Mereka sangat antusias. Tak hirau cuaca terik demi menghibur tetamu. Peristiwa ini terekam dalam album 30 Tahun Indonesia Merdeka 1955–1965 . Ini menunjukkan para pelajar turut menyambut KAA.   Di Gedung Merdeka, para pelajar juga menyumbangkan tenaganya. Mereka berasal dari Pandu Bandung. Laki-laki dan perempuan. Laki-laki Pandu “menaikkan dan menurunkan 29 bendera pada waktunya,” tulis Wanita , awal Mei 1955. Sedangkan perempuan Pandu bertugas membantu polisi mengatur kelancaran lalu lintas di sekitar gedung konferensi hingga pertemuan usai pada sore menjelang malam. Malam hari, tugas perempuan pelajar berganti lagi. Mereka menunjukkan keluwesannya menari di Gubernuran Bandung. Mereka tampil dengan kostum kupu-kupu cantik. Sesuai kostumnya, tarian mereka bernama tari kupu-kupu. Mereka berhasil memukau para tetamu. Perhatian tetamu lalu tertuju pada perempuan pelajar India berkostum khas negaranya. Dia menyuguhkan tari Hindu untuk para tetamu. Usai pertunjukannya, para perempuan delegasi dari sejumlah negara berebut menghampiri dan mengajaknya berfoto. Pelajar lain menempuh cara berbeda untuk menyambut KAA. Mereka berusaha mengumpulkan tanda tangan tetamu asing. Lantaran tak tergabung dalam kepanitiaan KAA, mereka mesti bersusah-payah melakukannya. “Di muka gedung-gedung yang akan dipakai untuk konferensi, orang yang tak berkepentingan tak boleh masuk. Dijaga keras oleh pasukan MB (Mobile Brigade, red .) dan PM (Polisi Militer, red .),” tulis seorang lelaki pelajar dalam “Suka-Duka Pengumpul Tanda Tangan di Sekitar Konperensi AA” yang termuat dalam Minggu Pagi , pertengahan Mei 1955. Bersama kawan-kawannya, si lelaki pelajar memilih berdiam di depan hotel Savoy Homann. “Dan tiap ada orang keluar hotel yang sekiranya orang asing maka kuminta tanda-tangannya,” tulis si pelajar. Begitu kelihatan tetamu, dia menyodorkan buku catatannya. Berebutan dengan pelajar lain. Kadang berhasil, seringkali malah gagal. “Ada yang mau, ada yang tidak,” lanjut si pelajar. Di luar kisah susahnya, si lelaki pelajar sempat mengalami dua peristiwa lucu menyangkut kegenitan anggota delegasi. Pertama, saat dia melihat sejumlah perempuan pelajar lagi merubung seorang delegasi asing. Tertarik dengan kerumunan, si lelaki pelajar ikut menghampirinya sekaligus meminta tanda tangan. Delegasi itu menolak dan buru-buru berkata, “ My signature is only for ladies ”. Kedua , saat si lelaki pelajar sedang mengejar tanda tangan seorang delegasi Arab. Tiba-tiba perempuan pelajar menimbrung. Delegasi Arab itu lalu bertanya dalam bahasa Inggris ke perempuan pelajar. “Siapa nama dan arti namamu?” Tak tahu arti namanya, si perempuan pelajar menggeleng. Lalu delegasi Arab menjawab, “ It is love ”. Lalu bagaimana sambutan pelajar di luar Bandung terhadap KAA? Siti Sundari S, pelajar perempuan Sekolah Menengah Pertama II, Sala, Jawa Tengah, berpandangan KAA membuatnya bangga jadi orang Indonesia. “Alangkah bangganya bangsaku telah dapat mengadakan pertemuan dengan kawan-kawan se-Asia, di mana mereka akan merundingkan nasib yang sama. Bangsa Asia kini telah insyaf, mereka tak mau lagi dijajah, tak mau lagi diperbudak serta dikeruk kekayaannya,” tulis Siti dalam “Aku dan Konperensi AA”, surat kepada Sunday Courier , akhir April 1955. Di akhir suratnya, Siti berharap kelak dia bakal hidup dalam damai bersama teman-teman dari negara tetangganya. “Dan sudah tentu akupun akan membangun negaraku bersama anak-anak tetangga negaraku. Kami akan menjadi satu manusia yang cinta perdamaian.”

  • Aksi Kapal Selam RI di Palagan Irian

    PERTENGAHAN 1962. Informasi intelijen itu bertiup kencang di kalangan para pejabat militer Republik Indonesia (RI). Sekira Juni, diperkirakan Kapal Induk Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Misi mereka tentu saja untuk memperkuat pertahanan laut di wilayah Hollandia Barat, sebutan orang-orang Belanda untuk Irian Barat (sekarang Papua). Rumor itu langsung direspon secara cepat oleh Presiden Sukarno. Dia lantas memerintahkan jajaran angkatan bersenjata-nya (terutama ALRI) untuk menambah pembelian kapal selam kelas Whiskey dari Uni Sovyet: dari 6 menjadi 12. Permintaan itu langsung diamini pihak negara Beruang Merah. Maka dikirimlah kapal selam yang memiliki torpedo otomatis 533 mm yang merupakan senjata bawah air tercanggih di zamannya. Masalah muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam tambahan itu. Maka untuk mengantisipasi situasi itu, pemerintah RI “mengundang” ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet untuk menjadi sukarelawan. Lagi-lagi Uni Sovyet mengabulkan permintaan RI tersebut. “Yang saya ingat, ada sekitar 300-an anggota Angkatan Laut Uni Sovyet hadir di Surabaya guna memperkuat 6 kapal selam yang belum memiliki kru Indonesia itu,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana angkatan pertama tersebut. . Menurut Suharta, semua anggota Angkatan Laut Uni Sovyet itu praktis melakukan aktifitas di Indonesia atas dasar sukarela. Maka dalam kegiatan sehari-hari, mereka menjalankan tugas tanpa menyandang jabatan resmi dan pangkat sama sekali. Untuk menghadapi manuver Belanda itu, ALRI kemudian menugaskan 6 kapal selam barunya untuk melakukan patroli sekaligus psywar (perang urat syaraf) di sepanjang pantai utara Irian Barat. Nama kapal selam kelas Whiskey itu masing-masing RI Widjajadanu, RI Hendradjala, RI Bramastra, RI Pasopati, RI Tjudamani dan RI Alugoro. Selain itu, 6 kapal selam tersebut memiliki tugas lain: “…Mengamankan operasi ampibi yang akan dilakukan oleh kesatuan-kesatuan (yang tergabung) dalam Operasi Djajawidjaja I, dari bahaya serangan mendadak bala bantuan asing yang datang dari utara…Mencegat dan menghancurkan sama sekali kapal-kapal perang Belanda yang akan melarikan diri ke utara,” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 yang diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Tersebutlah Letnan Satu (P) F.X. Soeyatno. Dia merupakan salah satu alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 yang ditempatkan dalam kapal selam RI Tjudamani bersama para awak dari Rusia. Kendati berbeda bangsa dan negara, hubungan antara awak Rusia dengan awak Indonesia berjalan lancar. “Jauh hari kami memang sudah diajarkan bahasa dan budaya Rusia sehinga faktor perbedaan bangsa itu tidak menjadi masalah saat kami bekerjasama,” ungkap anggota ALRI yang mengakhiri karirnya sebagai kolonel itu. Kendati tidak sempat melakukan kontak senjata dengan kekuatan laut Belanda, namun tak urung kehadiran kapal-kapal selam ALRI itu membuat keder sang musuh. Terlebih, “monster-monster perang bawah laut” itu sering sengaja memunculkan diri di wilayah-wilayah Belanda. “Perang urat syaraf yang kami lakukan memang bisa dikatakan berhasil,” ujar Soeyatno. Satu lagi keberhasilan yang dituai armada kapal selam ALRI di Irian Barat adalah saat mereka melaksanakan Operasi Tjakra II (15—26 Agustus 1962). Operasi militer itu memiliki misi utama mendaratkan 3 tim khusus pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di Tanah Merah, suatu pantai dekat lapangan terbang Sentari. Para prajurit komando Angkatan Darat RI itu ditugaskan untuk melakukan sabotase terhadap obyek-obyek vital musuh. Mereka pun diharapkan bisa menyiapkan kolone ke-5, agar pada waktu pendaratan besar-besaran militer Indonesia nanti, rakyat setempat bisa ikut angkat senjata melawan musuh. “Tim khusus RPKAD untuk tugas sabotase akan didaratkan oleh RI Trisula dan RI Nagarangsang, sedang tim khusus RPKAD untuk tugas (membentuk) pemerintahan sipil (akan didaratkan) oleh RI Tjandrasa,” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Dari ketiga kapal selam itu, hanya RI Tjandrasa yang berhasil mendaratkan 15 anggota RPKAD dan seorang sosiolog bernama Wijoso. Sedangkan RI Trisula dan RI Nagarangsang batal mendaratkan tim sabotase karena kedudukan mereka kadung diketahui oleh pihak militer Belanda. “Trisula dan Nagarangsang bahkan katanya sempat ditembaki secara gencar oleh pesawat Neptune dan kapal perusak Belanda,” ungkap Nyoman Suharta. Lantas bagaimana bisa operasi rahasia itu terketahui oleh pihak Belanda? Kapten (P) Assyr Mochtar, salah satu perwira di RI Nagarangsang, menduga itu terjadi karena pihak Belanda berhasil menyadap percakapan radio singkat yang dilakukan oleh atasannya. “Kalau memang mau operasi, kita harus ketat dengan radio silence . Tidak ada alasan untuk bicara dengan siapa pun,” ujarnya seperti dikutip Atmadji Sumarkidjo dalam bukunya, Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam Tjandrasa.

  • Yang Terkubur Amukan Merapi

    HARI itu, tahun 1966, Arjo Wiyono pergi ke sawah seperti biasanya dan mengolah tanah milik Karyoinangun. Saat tengah memacul tanah, mata cangkulnya membentur batu. Ia tak mengira kalau itu batu berukir dan bagian dari reruntuhan sebuah kompleks candi. Penemuan yang tak disangka-sangka di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta itu pun segera ditindaklanjuti oleh Kantor Cabang I Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional (LP2N) di Prambanan. Penggalian arkeologi menyusul kemudian dengan mengajak mahasiswa arkeologi dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Pada 1970-an, penggalian arkeologi dilakukan kembali di situs yang kemudian dinamai Candi Sambisari. Terungkaplah kalau kompleks candi ini terdiri dari candi utama dan tiga candi pendamping ( perwara ). Candi-candi itu telah runtuh dan terkubur sedalam 6,5 m di bawah permukaan tanah. Penggalian selanjutnya, pada 1980-an, menampakkan pagar keliling halaman pusat. Terdapat juga teras dengan tangga naik di setiap sisinya. Selama ekskavasi dan pemugaran Candi Sambisari, ditemukan beberapa benda seperti keramik asing, gerabah, tulang, benda-benda dari perunggu, arca perempuan dari batu andesit, arca Bodhisatwa dari perunggu, lempengan emas bertulisan, serta yoni. Didapati pula kalau kawasan Candi Sambisari terdiri atas tiga halaman bertingkat yang masing-masing dikelilingi tembok. Candinya ada di halaman ketiga, yang merupakan halaman tertinggi. Candi induknya berisi lingga-yoni . “Ukurannya lingga-yoni yang besar tak sebanding dengan ukuran ruang candinya,” kata arkeolog Edi Sedyawati dalam Candi Indonesia Seri Jawa. Masing-masing ketiga dinding candi utamanya berisi arca. Arca Durga Mahisasuramardhini mengisi relung sebelah utara, Ganesha di timur, dan Agastya di selatan. Keberadaan lingga dan yoni ,juga arca-arca di candi itu menunjukkan bahwa Candi Sambisari berlatar Hindu, khususnya aliran Siwa. Lingga merupakan simbol Dewa Siwa. Sementara yoni melambangkan parwati ,pasangan Siwa. Di luar tubuh candi utama, ada lantai selasar yang dibatasi pagar. Pada lantai selasar terdapat 12 umpak, delapan bulat, dan empat persegi. “Umpak-umpak itu diperkirakan merupakan umpak tiang kayu sebagai penyangga konstruksi atap yang terbuat dari kayu,” jelas Edi. Ketiga candi perwara hanya tersisa bagian kaki dan pagar langkan (tembok penutup lorong yang dibangun di sekeliling candi). Ketiganya berderet di depan candi induk. Kompleks candi dibatasi tembok keliling. Tiap sisinya terdapat sebuah gapura. Candi ini memiliki empat gapura untuk masuk ke halaman candi. Namun orang hanya bisa melalui gapura di sisi barat. Sementara tiga gapura lainnya ditutup susunan batu. Penyelidikan lebih lanjut secara geologis diketahui kalau Candi Sambisari selama ini tersembunyi di bawah timbunan material muntahan Gunung Merapi. Dari Masa Klasik Tua Candi Sambisari dibangun pada era kekuasaan Mataram Kuno di Jawa bagian tengah. Namun, kapan pastinya dan siapa pembangunnya, belum ada data prasasti yang bisa menjawab. Waktu pembangunan Candi Sambisari bisa diperkirakan dengan melihat bentuk dan gaya bangunannya. Ottyawati dalam tugas akhirnya di arkeologi Universitas Indonesia tahun 1981 berjudul “Candi Sambisari” menjelaskan bahwa bentuk kaki candi yang berupa susunan batu polos tanpa hiasan mirip dengan Candi Gunung Wukir, Candi Badut, dan Candi Kalasan yang berasal dari abad ke-8 dan tergolong jenis candi tua. Sementara dari ragam hiasnya mirip candi-candi dari abad ke-9, yakni Candi Plaosan dan Candi Prambanan. Inskripsi pada keping emas di dalam kotak pripih juga bisa dijadikan acuan. Kotak pripih Candi Sambisari ditemukan di bawah batu pipih di lorong candi induk. Keping emas itu bertuliskan mantra om siwa sthana , yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-9. “Kemungkinan Candi Sambisari berasal dari abad ke-8 dan diakhiri pembangunannya pada permulaan abad ke-9,” kata Ottyawati. Dalam mendirikan candi, sang arsitek biasanya punya desain awal yang sesuai dengan ketentuan. Namun rupanya terjadi perombakan bentuk rancangan yang dipaksakan dalam kasus Candi Sambisari. Dua gaya berbeda ditunjukkan pada arca-arca di Candi Sambisari. Arca Ganesha dan Mahakala dibuat dalam bentuk agak gemuk dan pahatan yang halus. Adapun arca Durga, Agastya, dan Nandiswara mempunyai bentuk lebih ramping, dibuat terbuat bahan yang mudah rusak, dan dengan pahatan yang kasar. “Apa yang menyebabkan adanya paksaan dalam perombakan arsitektur candi masih menjadi tanda tanya,” kata Ottyawati. Candi Sambisari pun agaknya belum selesai dibangun ketika ditinggalkan. Ada beberapa hiasan belum selesai diukir. Ditemukan juga batu-batu pipih yang belum selesai dibentuk menjadi bundar. Siapa yang punya proyek membangun Candi Sambisari? Soediman dalam “Candi Sambisari dan Masalah-masalahnya” yang dibahas dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi di Cibulan pada 1977 menyebut kemungkinan Rakai Garung. Dia berasal dari wangsa Sanjaya dan memerintah Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan Candi Sambisari tak bisa dilepaskan dari perkembangan politik kala itu. Selama permulaan abad ke-9, wangsa Sailendra berkuasa di daerah Jawa bagian tengah-selatan. Maka, yang dibangun pun kebanyakan candi Buddha seperti Kalasan, Sari, Lumbung, dan Sewu. Sekira tahun 832, terjadi pergantian kekuasaan. Hal ini ditandai dengan terbitnya Prasasti Gandasuli dari 832 M oleh Dang Karayan Patapan Pu Plar, yang diidentifikasi sebagai Rakai Garung. Terbitnya prasasti itu sekaligus menjadi proklamasi kekuasaan dan kedaulatan keturunan Sanjaya. Sejak inilah dibangun candi-candi beragama Siwa, seperti Candi Sambisari dan kompleks Candi Prambanan.   Diamuk Merapi Riwayat Candi Sambisari memang belum begitu jelas. Kisahnya seakan terkubur bersama bangunannya selama berabad-abad. Studi geografi modern kemudian menemukan bahwa materi erupsi Gunung Merapi sempat membuat candi ini terpendam. Di masa lalu Gunung Merapi sering erupsi. Ini menjadi berkah, karena berkat itu wilayah di antara lereng Gunung Merapi di utara, pegunungan kapur di selatan, lembang Sungai Bengawan Solo di timur dan Sungai Progo di barat menjadi dataran vulkanik yang subur. Tak heran kawasan ini pun dipilih sebagai lokasi pembangunan candi-candi Hindu dan Buddha, termasuk Candi Sambisari. Namun di balik berkahnya, bencana pun kerap mengancam. Letusan Merapi seringkali membuat daerah di sekelilingnya dilanda lahar dan pasir. Akibatnya banyak candi di sekitarnya rusak, tertimbun lahar dan pasirnya. Salah satunya Candi Sambisari. Luapan lahar dingin dari Kali Kuning yang tak jauh dari lokasi candi mengubur itu setinggi 6,5 m. Kali Kuning berhulu langsung di kawah Gunung Merapi. Ia adalah lintasan lahar ketika Merapi erupsi, sehingga menjadi ancaman bagi segala sesuatu yang ada di tepi alirannya. Letusan Merapi yang banyak dihubungkan dengan terkuburnya Candi Sambisari adalah yang diduga terjadi pada 1006. Sebagaimana yang ditulis Supriati Dwi Andreastuti dkk dalam makalah hasil penelitian berjudul “Menelusuri kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006”, terbit di Jurnal Geologi Indonesia , Vol. 1 No. 4, Desember 2006, letusan 1006 merupakan letusan terawal Gunung Merapi. Namun catatan terperinci mengenai letusan itu tak diketahui. Karenanya kebenaran letusan besar pada tahun itu pun diperdebatkan. “Angka tahun letusan sesungguhnya masih dipertanyakan dan perlu penelitian tentang kebenarannya,” tulisnya. Asumsi terdahulu menyebut letusan Merapi tahun 1006 menyebabkan perpindahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Letusan Merapi yang dipicu gempa tektonik juga merusak dan menimbun banyak bangunan candi di sekitarnya. Pendapat ini merujuk pada Prasasti Kalkuta atau Prasasti Pucangan yang berangka tahun 963 Saka (1041 M). Prasasti ini menyebutkan adanya bencana besar (pralaya) pada 928 Saka (1006). Namun hal itu disanggah epigraf Boechari. Dalam makalahnya “Some consideration of the problem of the shift of Mataram’s center of government from Central to East Java in the 10th Century A.D.”, termuat di Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti ,Boechari mengatakan bahwa Mataram Kuno telah pindah ke Jawa Timur sejak 928 dan menetap di Delta Brantas, wilayah Jawa Timur sekarang. Pendapatnya dibuktikan dengan Prasasti Anjukladang yang dibuat Mpu Sindok, penguasa Mataram Kuno kala itu, pada 937. Pun di dalam Prasasti Pucangan disebutkan bahwa pralaya di Kerajaan Mataram yang terjadi pada 1016 disebabkan oleh serangan Raja Wurawari dari Lwaram. “Bukti-bukti ini menyimpulkan bahwa letusan besar Gunung Merapi pada 1006 tidak pernah terjadi,” jelas Supriati Dwi Andreastuti, dkk. Kemungkinan letusan Merapi cukup besar terjadi pada 765-911. Letusan ini mendorong Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Selain itu, menghindar dari serangan Kerajaan Sriwijaya dan lokasi perdagangan yang lebih strategis di daerah Delta Brantas juga jadi pertimbangan perpindahan kerajaan. Setelah berabad-abad terkubur akibat letusan Gunung Merapi, Candi Sambisari ditemukan, digali, direkonstruksi kembali, dan kini bisa dinikmati kemegahannya. Jika tertarik berkunjung di candi unik ini, tak perlu ragu. Letak Candi Sambisari tak jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Orang bisa menujunya lewat Jl. Raya Jogja-Solo hingga tiba di pertigaan Bandara Internasional Adisutjipto. Lalu ambil jalan lurus hingga sampai di sebuah pertigaan dan Gedung Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Dari sini, ambil arah kiri. Perjalanan setelahnya tak akan lama. Pintu gerbang kawasan Candi Sambisari akan segera terlihat. Namun candinya tersembunyi, berada di ketinggian yang lebih rendah dari permukaan tanah sekarang. Namun jika masih belum bisa berkunjung langsung ke Candi Sambisari, Anda bisa menikmati secara virtual di kanal youtube Siapdarling (Siap Sadar Lingkungan), sebuah gerakan yang diiniasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Candi Sambisari menjadi candi kelima yang dihijaukan oleh program Candi Darling (Candi Sadar Lingkungan) setelah Candi Prambanan, Candi Ijo, Situs Ratuboko, dan Candi Gedong Songo. Siapdarling menargetkan seluruh candi di tanah air dihijaukan hingga tahun 2025. Informasi selengkapnya mengenai Siapdarling bisa diakses melalui siapdarling.id .

  • Menyelamatkan Awak Kapal Selam

    SETELAH lebih dari empat hari pencarian untuk menyelamatkan kapal selam (kasel) KRI Nanggala (402) berikut awaknya tak membuahkan hasil, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan berat hati mengubah status Nanggala  dari submiss  (hilang) menjadi subsunk  (tenggelam). Perubahan status itu diambil setelah ditemukannya beberapa puing yang diyakini milik Nanggala  yang dilaporkan berada di kedalaman 850 meter di perairan utara Bali. “Saya atas nama Panglima TNI menyampaikan rasa prihatin yang mendalam. Kita bersama-sama mendoakan supaya proses pencarian ini terus bisa dilaksanakan dan bisa mendapatkan bukti-bukti kuat. TNI AL bersama Kepolisian, Basarnas, KNKT, serta negara sahabat telah berupaya semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan KRI Nanggala-402 ,” ungkap Marsekal Hadi di laman resmi TNI AL , Sabtu (24/4/2021). Nanggala  dilaporkan hilang kontak pada Rabu (21/4/2021) dini hari dalam rangka gladi resik latihan menembakkan torpedo. Upaya pencarian dan penyelamatan pun dilakukan berpacu dengan waktu. TNI AL tak segan meminta bantuan negara-negara sahabat seperti Singapura, Malaysia, India, Australia, dan Amerika Serikat, mengingat TNI AL belum memiliki satu pun alutsista penyelamat yang mumpuni. Sejumlah puing yang diyakini berasal dari KRI Nanggala (402).  ( tnial.mil.id ). Kelima negara itu datang memberi pertolongan sebagai lima dari 15 anggota s ystem rescue ISMERLO (International Submarine Escape and Rescue Liaison Office) yang terdekat secara geografis dengan Indonesia. Namun mengingat Nanggala dinyatakan subsink , upaya TNI AL dibantu negara-negara sahabat itu bukan lagi misi penyelamatan, melainkan misi pencarian kasel. Oleh karena begitu dalamnya posisi Nanggala , dibutuhkan peralatan canggih yang sementara ini hanya dimiliki Singapura. Berpegang pada Pakta Perjanjian Kerjasama dan Bantuan Penyelamatan Kasel antara TNI AL dan AL Singapura pada 2012, AL Singapura mengirim MV Swift Rescue -nya dalam misi pencarian bersama KRI Rigel (933) itu. Dilengkapi Deep Search and Rescue 6 (DSAR 6), sejenis Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV) atau kasel penolong yang bisa disambungkan ke palka penyelamat kasel yang hendak ditolong, MV Swift Rescue jadi pendukung utama misi pencarian itu. Namun, sejarah mencatat DSRV belum sekali pun pernah berhasil menyelamatkan awak kasel nahas di masa damai. Salah satu alat penyelamat bawah laut tercanggih itu bahkan gagal menyelamatkan para prajurit kasel nuklir Rusia Kursk K-141 di dasar Laut Barents pada 12 Agustus 2000. MV Swift Rescue milik Angkatan Laut Singapura. ( ismerlo.org ). Penyelamatan yang Berhasil Mengutip Nick Stewart dalam “Submarine Escape and Rescue: A Brief Histori” yang dimuat dalam seri jurnal AL Australia, Semaphore , edisi 7 Juli 2008, nyawa kru kasel dalam situasi genting bisa ditolong lewat dua metode. Pertama , metode menyelamatkan diri dengan sejumlah alat selam. Metode ini tentu hanya bisa dilakoni para kru jika kaselnya tenggelam di perairan dangkal. Kedua , metode penyelamatan dengan melibatkan pihak kedua menggunakan alat atau kapal selam penolong. “Fokus utama pada masa awal kasel modern adalah metode menyelamatkan diri. Escape system -nya sudah muncul sejak 1910 yang terinspirasi dari alat pernafasan para penambang batubara. Sistem itu berhasil untuk pertamakali (menyelamatkan) kru saat tenggelamnya kasel U3 pada 1911 dengan menggunakan alat pernafasan Dräger,” tulis Stewart. Alat pernafasan Dräger (kiri) & kasel SM U-3 Jerman (tengah). ( draeger.com /Library of Congress). Sistem menyelamatkan diri itu lantas diadopsi negara-negara lain yang mengoperasikan kasel, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, mulai tahun 1929. Sistem ini bertahan sampai era 1990-an seiring perkembangan Submarine Escape Immersion Equipment (SEIE), sebuah body suit yang bisa diubah menjadi rakit darurat. SEIE bisa melindungi tubuh awak kasel dari tekanan air sehingga bisa menyelamatkan diri di kedalaman antara 183-185 meter. “Tetapi kru rentan dengan kondisi alam ketika di permukaan, seperti yang terjadi pada (kru kasel) Komsomolets K-278 (7 April) tahun 1989. Dari 69 kru, 34 di antaranya sempat mampu naik ke permukaan tetapi kemudian semua tewas karena hypothermia, gagal jantung atau tenggelam tersapu ombak,” imbuhnya. Kendati begitu, motode penyalatan tersebut merupakan salah satu capaian dari sejarah pengembangan metode penyelamatan sejak 1920-an. Di era awal kasel modern itu alat penyelamat kru kasel baru Kapsul McCann Rescue Chamber (MCRC) atau kapsul penyelamat yang dikaitkan dengan tali atau rantai ke kapal penyelamat di permukaan. Kapsul MCRC yang terinspirasi dari diving bell (bel selam) dikembangkan pada 1929 oleh Mayor Laut Allan R. McCann, Mayor Laut Charles B. Momsen, Letnan Laut Carlton Shugg, dan Sersan Clarence Tibbals. Hingga saat ini, Kapsul MCRC masih jadi satu-satunya alat yang tercatat pernah berhasil menyelamatkan kru kasel, kendati perkembangan DSRV telah pesat. Kasel Amerika Serikat, USS Squalus (S-11)  di pangkalan New Hampshire. ( navy.mil ). Keberhasilan penyelamatan menggunakan Kapsul MCRC itu terjadi pada 23 Mei 1939. Kala itu sejak 12 Mei dua kasel Amerika, USS Squalus dan USS Sculpin, tengah melakoni serangkaian uji selam usai perbaikan besar-besaran di Portsmouth, New Hampshire. Tetapi setelah melakukan 18 kali penyelaman, pada 23 Mei pagi Squalus hilang kontak di Kepulauan Shoals. “Pada 23 Mei pagi di koordinat 42°53′ Utara, 70°37′ barat Squalus mengalami masalah pada katup induksi utama yang menyebabkan ruang torpedo buritan, dua kompertemen mesin dan kabin kru bocor dan kebanjiran. Sebanyak 26 krunya langsung meninggal di tempat,” ungkap Clay Blair Jr. dalam Silent Victory. Squalus beruntung karena saat uji selam kasel itu tetap didampingi Sculpin sehingga titik lokasinya cepat ditemukan. Squalus tenggelam di kedalaman 74 meter. Sculpin pun mengirim komunikasi darurat ke kapal penyapu ranjau dan penyelamat kasel, USS Falcon. Dari informasi Sculpin dan telephone marker buoy atau pelampung komunikasi, para penyelam dari Falcon segera menemukan lokasi Squalus. Setelah dapat kepastian lokasi pada 24 Mei malam, Falcon menurunkan MCRC untuk menyelamatkan sisa 33 kru Squalus yang masih hidup dan diawasi langsung oleh Mayor Laut Charles B. Momsen. “Kapsul itu mirip lonceng atau bel baja besar yang diturunkan dari kapal penyelamat dan bisa dikaitkan ke palka penyelamat kasel. Setelah terkait, kapsul itu bisa mengurangi tekanan udara dan membuka palka demi membebaskan para kru yang terperangkap,” sambung Stewart. Kapsul penyelamat McCann (baris kiri) & upaya penyelamatan kru USS Squalus.  ( navy.mil / mohmuseum.org ). Setelah diturunkan, kapsul penyelamat itu dituntun penyelam William Badders, Orson L. Crandall, James H. McDonald, dan John Mihalowski kemudian disambungkan dengan palka penyelamat di Squalus. “Dengan dipimpin perwira medis senior Dr. Charles Wesley Shilling, keempat penyelam melakukan metode heliox diving schedule untuk mencegah gejala gangguan kognitif saat penyelaman yang dalam,” imbuh Blair Jr. Hasilnya, lewat empat kali misi, ke-33 kru Squalus sukses dipindahkan ke kapsul penyelamat itu dan dinaikkan ke Falcon. Squalus akhirnya juga bisa ditarik ke pelabuhan. Setelah diperbaiki, pada 9 Februari 1940 kasel itu berganti nama menjadi USS Sailfish.

  • Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi

    Bali, pulau yang ketenarannya bahkan melebihi Indonesia itu sendiri, dikenal bukan hanya karena keindahan alam, tetapi juga seni dan budaya. Tari kecak adalah salah satu kesenian yang dikenal luas dan menjadi identitas Bali. Tari kecak adalah pertunjukan drama-tari yang dimainkan oleh puluhan laki-laki. Ciri khas tari ciptaan Wayan Limbak dan pelukis Walter Spies ini adalah para penari duduk melingkar dalam beberapa sap dan menyerukan “cak” secara berulang-ulang seraya menggerakkan tangan ke atas. Para penari saat mementaskan kecak di Uluwatu Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kecak bukan hanya tentang pertunjukan kesenian biasa, namun berkaitan dengan ritual sanghyang dan kisah Ramayana, yaitu ritual tradisi di mana para penarinya tidak dalam kondisi sadar dan diyakini berkomunikasi dengan Tuhan atau roh leluhur. Karena keunikannya, kecak menjadi agenda pentas seni di Uluwatu. Berdiri di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi bersanding dengan keindahan pemandangan pantai Pecatu, Uluwatu menjadi destinasi wisata yang semakin lengkap dengan pementasan kecak. Uluwatu, salah satu tempat pentas kecak hingga kini. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pengunjung pura di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bagi warga Uluwatu, keterampilan menari Kecak didapat dan dipelajari secara turun menurun. Inilah alasan mengapa kecak menampilkan penari dari berbagai tingkat usia, dari yang muda hingga yang sudah lanjut.  Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia setidaknya sejak Maret 2020 menyurutkan pariwisata Bali, termasuk pementasan tari kecak. Bangku-bangku penonton pertunjukan kecak yang biasa ramai menjadi lengang akibat pandemi. Tato yang menghiasi tubuh salah satu penari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tari kecak yang terus berjuang untuk berkarya kala pandemi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat menyaksikan pertunjukan tari kecak di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, para pelaku seni tari kecak tidak berdiam diri. Mereka terus berlatih dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Kini, para penari kecak sudah kembali tampil, dengan masker, pelindung wajah, dan jumlah penonton yang tidak seramai dulu. Kecak kembali hidup dengan semangat dan bentuk berbeda.  “Saya sendiri sebenarnya sedih dan bahagia melihat kecak sekarang. Dulu kan penonton penuh, sementara sekarang agak sepi begini. Di sisi lain, saya bahagia karena mereka tetap berusaha menari dan menghibur," ujar Tiqa (33), salah satu pengunjung asal Aceh. Dalam gelap, kecak menyalakan api kecil untuk wajah sendiri. Tidak utuh tapi penuh. Kepada jagat, seruan kecak terdengar lamat-lamat membawa pesan" "Kami hidup". Pertunjukan tari kecak yang digelar di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak tato yang menghiasi tubuh salah seorang penari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para penari saat mempertunjukan tari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang penari bersantai usai pertunjukan kecak di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hanoman salah satu karakter yang sangat ikonik dalam tari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Uluwatu yang tak lagi ramai karena pandemi. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Hidup di Kapal Selam Whiskey

    JULI 1962. Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) baru saja melengkapi armada tempurnya dengan 12 kapal selam kelas Whiskey (W). Kapal selam buatan Uni Sovyet itu merupakan salah satu perangkat tempur bawah laut tercanggih di zaman-nya. Selain dilengkapi dengan homing torpedo  tipe SAET-50 yang mampu mencari sasaran secara otomatis, kapal selam itu juga dilengkapi meriam penangkis serangan udara kembar 25 mm, radar, sonar pasif dan snorkel . Menurut jurnalis militer Atmadji Sumarkidjo, kala itu hanya Indonesia (tentunya di luar Uni Sovyet) yang memiliki kapal selam kelas W lengkap dengan torpedo canggih-nya tersebut. Dengan merelakan Indonesia untuk memilikinya, sepertinya pimpinan Blok Timur itu ingin menguji keunggulan produk mereka di palagan Irian Barat. “Bila memang dioperasikan, jelas pihak Belanda akan kewalahan, karena torpedo demikian akan mampu melakukan hit  terhadap kapal perang atas air,” ungkap Atmadji dalam bukunya Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam Tjandrasa. . Setelah menjadi milik Indonesia, 12 kapal selam W itu pun diberi nama sesuai tradisi ALRI: RI Tjakra (401), RI Nanggala (402), RI Nagabanda (403), RI Trisula (404), RI Nagarangsang (405), RI Tjandrasa (406), RI Alugoro (407), RI Tjumandani (408), RI Widjajadanu (409), RI Pasopati (410), RI Hendradjala (411) dan RI Bramastra (412). Syahdan, seorang jurnalis dari harian Berita Yudha bernama Sunario Sunarsal. Dia pernah mengikuti 3 operasi bawah laut yang dilakukan oleh RI Nanggala pada Desember 1961, KRI Tjudamani pada Agustus 1963 dan KRI Bramastra pada Juni 1966. Pengalaman Sunario selama bergabung dengan 3 kapal kelas W tersebut pernah dituliskannya dalam buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 yang diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Menurut Sunario, kendati memiliki peralatan canggih, sejatinya kapal-kapal selam kelas W itu tidak dirancang untuk beroperasi di wilayah tropis yang panas. Karena itu wajar jika di dalam lambungnya, alih-alih pendingin udara, yang ada justru alat pemanas (dari listrik hingga uap). Tentunya suasana gerah sangat terasa sekali, kendati putaran kipas angin sudah diarahkan fokus ke tubuh para penumpangnya. “Peluh tetap mengalir deras seperti kain cucian yang diperas,” ungkap Sunario. Jangan pernah berharap bisa mandi di kapal selam W itu. Ketika para prajurit mendapat tugas berlayar selama sebulan, maka sebulan pula mereka harus siap tidak mandi sama sekali. Air tawar sangat dihemat dan khusus untuk minum dan memasak makanan saja. Kadang-kadang kalau tidak kebagian air, kumur-kumur pun dilakukan dengan secangkir teh atau kopi. Mandi secara “normal” baru bisa dilakukan ketika kapal selam naik ke permukaan laut. Itu pun kalau di laut tengah turun hujan. Tak jarang saat “mandi” itu para awak kapal selam harus menahan tamparan keras angin laut. Di atas anjungan itu pula, kesenangan sejenak bisa didapat oleh para awak. Mereka bisa bebas merokok atau melakukan aktifitas (termasuk salat) tanpa harus dibatasi atap yang pengap. Tepat di bawah anjungan terletak ruangan toilet untuk sekadar buang air kecil dan air besar. Semuanya serba “otomatis” karena langsung disalurkan ke laut. “Untuk membersihkan sehabis buang hajat cukup mengambil lidah ombak yang menampar dari arah kiri,kanan dan bawah,” kenang Sunario. Karena sebagian besar keperluan hajat menggunakan air laut, para awak menjuluki diri mereka sebagai “ikan asin”. Terlebih jika mereka tidak pernah mandi selama berminggu-minggu. Pengaruh garam dari air laut pun sangat terasa dan menimbulkan aroma yang seperti bau ikan laut. Namun karena sudah biasa, hal-hal tersebut sama sekali tak diindahkan. Lalu bagaimana dengan tidur mereka? Di dalam kapal selam kelas W, tidur bisa dilakukan di mana saja. Kecuali bagi komandan yang ditempatkan khusus di sebuah kabin kecil ukuran 1,5x2 meter. Biasanya para awak akan tertidur di tempat di mana mereka tengah ditugaskan. Asal badan bisa diletakan meskipun kaki tidak bisa berselonjor. “Tak jarang para awak tidur di gang-gang antar ruangan, bahkan para awak yang melayani torpedo, mereka bisa tidur lelap sambil memeluk senjata-senjata kesayangannya,” tutur Sunario. Yang paling bermasalah selama di dalam kapal selam adalah soal makanan. Kendati itu merupakan hiburan satu-satunya, namun makanan kadang diolah seadanya, bahkan kadang tak jelas rasanya. Hal tersebut masih enak jika persediaan makanan segar (buah-buahan, sayur mayor dan daging) masih tersedia. Namun jika sudah ludes, maka yang ada semua makanan serba instan. “Pokoknya perut diisi tidak peduli bagaimana rasanya, yang penting jangan lupa minum pil vitamin,” ungkap Sunario. Apabila ada perintah menyelam, maka semua pintu kedap ditutup. Setiap komando dan pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan interkom, telepon lokal dan pipa suara. Berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain tidak bisa dilakukan seenaknya, harus seizin komando sentral. Kalau sudah ada dalam posisi tempur, dilarang keras untuk berbicara kecuali komandan dan mereka yang bertugas untuk melaporkan data-data kapal musuh yang tengah diburu dan diintai. Hebatnya, semua “penderitaan” itu dijalankan secara tulus oleh semua awak kapal selam. Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluh terlebih frustasi. Semua tugas mereka jalankan dengan berpegang teguh kepada motto Korps Hiu Kencana: Tabah sampai akhir!

  • Di Balik Berdirinya Kesultanan Banjar

    Tome Pires, penjelajah asal Portugis, mencatat hampir semua yang tinggal di Kalimantan adalah orang-orang Pagan. “Hanya pulau utamanya yang ditinggali orang Moor, belum lama sejak rajanya menjadi orang Moor,” catat Pires dalam Suma Oriental . Menurut Muhammad Azmi, sejarawan Universitas Mulawarman, dalam “Islam di Kalimantan Selatan pada Abad ke-15 sampai Abad ke-17” yang terbit dalam  Yupa: Historical Studies Journal , 1 (1), 2017, catatan Tome Pires tentang “raja yang menjadi seorang Moor” merujuk pada raja yang baru saja memeluk Islam. Raja yang dimaksud kemungkinan besar adalah Pangeran Samudera yang masuk Islam setelah memenangkan perselisihannya dengan Negara Daha. Dia lalu menjadi raja pertama Kesultanan Banjar.  Berdirinya Kesultanan Banjar menjadi awal mula bagi tegaknya pengaruh Islam di Kalimantan Selatan. Tanpa Penaklukkan Sebelum Islam masuk ke Kalimantan Selatan, wilayah ini mendapat pengaruh Hindu. Dalam Hikayat Lambung Mangkurat atau Hikayat Banjar disebutkan bahwa di Kalimantan Selatan berdiri kerajaan bercorak Hindu bernama Negara Dipa yang dilanjutkan dengan Negara Daha. Negara Daha masih kerajaan Hinduhingga abad ke-14-15. Tak diketahui pasti kapan Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII , menyebutkan bahwa Islam masuk ke Kal imantan Sel atan pada masa jauh lebih belakangan dibanding, misalnya Sumatra Utara atau Aceh. Kendati begitu diperkirakan telah ada sejumlah muslim di wilayah itu sejak awal abad ke-16. Menurut Yusliani Noor, sejarawan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dalam Islamisasi Banjarmasin (Abad ke-15 Sampai ke-19) , terbentuknya komunitas Islam di Kalimantan Selatan adalah dampak dari terhubungnya jalur perdagangan Kalimantan dengan jaringan perdagangan Nusantara. Keberadaan mereka menjadi pintu masuk pertama Islamisasi.  Kendati begitu, kata Yusliani, penyebaran Islam secara lebih luas tak serta merta terjadi. Karenanya terbentuknya Kesultanan Banjar sangat bermakna bagi penerimaan agama itu di Banjarmasin. Namun, adanya kesultanan bukan berarti proses masuknya Islam bisa disamakan dengan pengislaman. Konsep ini, Menurut Yusliani, bernada militeristik dan tak natural.Apa yang terjadi di Banjarmasin berbeda dengan di kawasan Timur Tengah, khususnya pada era sesudah Khulafaur Rasyidin. Penaklukan wilayah memang menjadi ciri Islamisasi di Timur Tengah. Tapi di Banjarmasin tak pernah ada penaklukkan oleh kesultanan manapun.  Syarat dapat Bantuan Semua itu diawali oleh Pangeran Samudera yang menolak tunduk pada Kerajaan Negara Daha. Pangeran Samudera meminta bantuan kepada Kesultanan Demak untuk menyelesaikan perselisihannya dengan Pangeran Tumenggung, penguasa Negara Daha.  Sultan Demak mengabulkan permohonan Pangeran Samudera . S yaratnya , Pangeran Samudera harus masuk Islam. Sang pangeran sepakat. D ia pun mendapat bantuan 1.000 pasukan, senjata, ditambah seorang penghulu untuk mengislamkannya. Menurut Yusliani, kisah dalam Hikayat Banjar itu mengisyaratkan bahwa kekuasaan Islam telah memiliki posisi tawar ( bargaining position ) bagi terbentuknya jaringan kuasa di kawasan yang labil akibat pergolakan internal. “Sekaligus juga adaptasi kerajaan Hindu dan Buddha dalam menghadapi arus perubahan yang dibawa para pedagang Islam,” tulisnya.  Pangeran Samudera menjadi raja pertama Kerajaan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyahsekaligus raja pertama yang masuk Islam pada 1526. Inilah momentum bagi perkembangan Islam di Kalimantan Selatan. Pilihan raja memeluk Islam diikuti kerabat, elite, sampai rakyat jelata. Berjalan Lambat Meski Islam sudah menjadi agama kerajaan, namun kaum muslim masih minoritas di kalangan penduduk. Azra mencatat, pemeluk Islam umumnya terbatas pada orang-orang Melayu-Islam. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan ke kalangan Suku Dayak. “Bahkan di kalangan kaum muslim Melayu, kepatuhan kepada Islam sangat minim dan tak lebih dari pengucapan syahadat,” jelas Azra. Di bawah para sultan yang turun-temurun, lanjut Azra , jelas tidak ada usaha serius untuk memajukan kehidupan Islam. Memang ada usaha dari para dai yang keliling me nyebarkan Islam, namun kemajuan nya tetap tak banyak. Yusliani mengungkapkan bahwa birokrasi pemerintahan Kesultanan Banjar pada abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18 belum secara langsung berfungsi dalam Islamisasi. “Upaya Tuan Penghulu, Khatib Dayyan dan Khatib Banun membangun berbagai masjid memberikan bukti kiprah kesultanan dalam membangun komunitas muslim,” tulis Yusliani. Dorongan Islamisasi paling nampak setelah kiprah Muhammad ‘Arsyad bin ‘Abd Allah al-Banjari (1710-1812), ulama terkenal kelahiran Martapura, Kalimantan Selatan. Dia belajar sekira 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah. Sekembalinya ke Kalimantan Selatan, dia mendirikan lembaga pendidikan Islam. Dia juga memperbarui administrasi peradilan di Kesultanan Banjar. “Dia juga memprakarsai jabatan mufti, yang bertanggung jawab mengeluarkan fatwa mengenai masalah keagamaan dan sosial,” jelas Azra. Ulama lain adalah Muhammad Nafis bin ‘Idris bin Husayn al-Banjari. Dia hidup pada periode yang sama dengan Muhammad ‘Arsyad. Dia lahir di Martapura dari keluarga bangsawan Banjar. Berbeda dengan Muhammad ‘Arsyad yang me rintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencurahkan hidupnya pada Islamisasi wilayah pedalaman Kalimantan Selatan. Orang Dayak kemudian makin banyak menerima Islam. Menurut Yusliani, mereka melakukan adaptasi, difusi, asimilasi, dan akulturasi kebudayaannya, daur hidupnya, dengan ajaran-ajaran Islam. “Menghasilkan format pribumisasi Islam,” lanjutnya. Orang-orang Dayak juga ikut membangun Kesultanan Banjarmasin. Sebagiannya masuk dalam lingkungan kesultanan, baik karena perkawinan maupun statusnyasebagai pemangku adat Dayak. Dengan proses yang tak serta merta, maka menurut Yusliani, ini menunjukkan Islamisasi Banjarmasin berlangsung secara natural, damai, tanpa paksaan. “Dukungan rakyat Banjarmasin menjadi faktor utama lahirnya Kesultanan Banjarmasin,” tegasnya.

  • Meninjau Kembali Temuan Naskah Pegon Tertua di Jawa

    Naskah pegon temuan Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 2019 diklaim sebagai yang tertua karena peneliti membaca angka tahun 1347 sebagai tahun Masehi. Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan, pada bagian akhir naskah terdapat kalimat puji-pujian dan memohon pertolongan kepada Allah. Puji-pujian itu ditulis dalam bahasa Arab. Di bawahnya terdapat angka Arab yang dibaca 1347 ( bihamdillah wa‘aunihi sanah  1347 M), yang di bawahnya terdapat huruf mim . “ Mim  dalam bahasa Arab itu meladiyah , artinya kelahiran, yang dimaksud di sini adalah kelahiran Nabi Isa AS, maka angka tahun ini diambil dari angka tahun Masehi,” kata Masyhudi dalam diskusi daring berjudul “Beberapa Jejak Peradaban Asing di Jawa”, Kamis, 15 April 2021. Klaim itu dibantah para ahli filologi. Salah satunya oleh Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah yang juga pengampu Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa). Menurutnya, pembacaan angka tahun Masehi itu tak berdasar. Tanda mim  dalam kolofon atau bagian akhir manuskrip Islam bukanlah berarti Masehi. Tanda itu berarti akhir sebuah teks. “Saya sangat yakin tak ada satupun literatur yang mengatakan mim  artinya Masehi,” kata Oman yang dihubungi Historia.id  melalui sambungan telepon. Dalam manuskrip, huruf mim  artinya tamma . Letaknya di bagian kolofon naskah artinya selesai atau akhir dari sebuah teks. Sementara di dalam ilmu hadis, huruf mim  berarti Matan , artinya teks utama, bukan teks komentar ( syarh ). Dalam tradisi hadis, mim  juga terkadang berarti majhul , artinya hadis itu sanadnya tak diketahui. “Kadang tertulis ta  dan mim , dibaca tamma , yang menunjukkan akhir sebuah teks atau kolofon. Dalam tradisi manuskrip menandakan akhir manuskrip. Sama sekali bukan menunjukkan Masehi,” jelas Oman. Oman menjelaskan, ada dua kemungkinan pembacaan angka tahun pada manuskrip beraksara pegon temuan Balai Arkeologi Yogyakarta itu. Pertama, berdasarkan tahun Jawa. Kedua, berdasarkan tarikh Hijriah, yakni angka tahun 1347 yang apabila dikonversi ke Masehi merujuk pada 1928. “Tahun Jawa itu dimulai dengan angka 1555 atau sama dengan 1633 [awal abad ke-17], jadi tidak mungkin juga angka 1347 itu angka Jawa. Jadi kemungkinan terbesarnya tahun Hijriah,” kata Oman. Sejauh ini, kata Oman, manuskrip Islam selalu menggunakan angka tahun Hijriah. Tahun Masehi baru ada pada era kolonial. Itu pun kebanyakan dalam arsip kolonial. “Tapi kalau dalam manuskrip Islam di Jawa, Melayu, Sunda, Aceh, Bugis, atau lainnya selalu pakai tahun Hijriah,” lanjut Oman. Pun soal penggunaan kertas. Oman menjelaskan, kertas daluwang yang menjadi bahan manuskrip beraksara pegon itu masih diproduksi dan dipakai hingga awal abad ke-20. Jadi, masih masuk akal kalau manuskrip itu berasal dari awal abad ke-20. “Namun, penelitian lebih saksama perlu dilakukan untuk memastikannya, dengan melibatkan para filolog dan kodikolog di bidangnya,” ujar Oman. Yang Tertua Abad ke-17 Sementara dari sisi tradisi aksaranya, manuskrip ini juga tak mungkin dibuat pada abad ke-14. Pasalnya kala itu tradisi penulisan di Nusantara masih menggunakan aksara Kawi. “Dalam beberapa penelitian mutakhir huruf pegon, yaitu huruf Arab dengan bahasa Jawa, itu yang paling tua dari abad ke-17,” jelas Oman. Hasil kajian dosen IAIN Surakarta, yaitu Ismail Yahya (dosen Fakultas Syariah), Farkhan (dosen Fakultas Syariah) dan Abdul Kholiq Hasan (dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) menunjukkan bahwa manuskrip  Masa’il at-Ta‘lim  karya ‘Abdullah Ba Fadl Al-Hadrami (W. 918 H/1529 M) diterjemahkan ke dalam aksara pegon pada abad ke-17 M. Naskah Masa’il at-Ta‘lim diketahui ditulis pada abad ke-17 M berdasarkan bukti angka dan huruf di dalam penanggalan di dalam naskah. Huruf pegon dalam naskah ini pun sekaligus merupakan bentuk tertua yang masih bisa ditemukan. “Bentuk huruf Pegon pada abad ke-17 tidak terdapat perbedaan yang mencolok dengan penulisan pegon dewasa ini,” tulis laman resmi Fakultas Syariah IAIN Surakarta . Sebagaimana disebutkan Oman, tradisi keberagamaan Islam di Nusantara memang telah menguat pada abad ke-13 dan ke-14. Namun, kala itu dakwah masih melalui metode lisan. “Tradisi menulis belum kuat, barulah pada abad ke-15, misalnya ada Hikayat Raja Raja Pasai dan Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu , ” jelas Oman . “Itu pun di Sumatra, di Aceh. Di Jawa malah agak belakangan.”

  • Kamus Sejarah Indonesia Jilid I Segera Direvisi

    Setelah menuai kontroversi terkait kealpaan lema KH Hasyim Asy’ari dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I , Kemendikbud RI menyatakan akan segera melakukan revisi. Semua buku terkait sejarah modern juga akan ditarik untuk disempurnakan. “Untuk memastikan isu ini tidak berlarut, saya sudah instruksikan untuk menurunkan semua buku yang terkait sejarah modern sampai ada penyempurnaan yang lebih cermat,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam siaran pers yang diterima Historia.id , Kamis, 22 April 2021. Hilmar juga menegaskan bahwa tim pengkoreksi akan dibentuk dengan melibatkan berbagai organisasi yang turut membangun negara termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini dilakukan untuk meminimalisir adanya narasi sejarah yang luput dimasukan dalam kamus. Sementara itu, Profesor Susanto Zuhdi yang menjadi salah satu editor kamus tersebut mengatakan bahwa draf Kamus Sejarah Indonesia Jilid I  memang belum sempurna. “Tahun 2017, draf buku kamus ini memang kami simpulkan belum sempurna,” jelas Zuhdi. Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu menambahkan, “Nama KH. Hasyim Asy’ari ada pada uraian pendirian tokoh Nahdlatul Ulama. Bagaimana mungkin kita melupakan tokoh ini ketika berbicara pendirian Nahdlatul Ulama?” Hilmar kembali menegaskan bahwa tidak ada upaya untuk membelokkan atau menghapus sejarah. Meski tidak cermat dan luput memberikan lema tersendiri untuk KH Hasyim Asy’ari, namun namanya disebut dalam beberapa halaman di lema NU dan lema tokoh-tokoh lain. Secara teknis, lanjut Hilmar, meski belum selesai pada 2017, draf kamus tetap dilaporkan karena tahun anggaran telah berakhir. Hal inilah yang membuat kamus tersebut masih banyak kekuarangan termasuk belum dimasukannya lema KH Hasyim Asy’ari. “Penyusunan dimulai tahun 2017 namun belum selesai karena begitu panjangnya perjalanan sejarah Indonesia sejak 1900. Karena pada saat itu tahun anggaran sudah berakhir, sebagai pertanggungjawaban kami tetap melaporkan draf naskah yang belum selesai tersebut dalam format pdf ,” terangnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim juga telah mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta, Kamis, 22 April 2021, untuk meminta maaf. Nadiem diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan mengatakan akan segera merevisi total kamus tersebut. “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami sudah membentuk tim untuk merevisi total kamus tersebut,” kata Nadiem seperti dikutip Nu.or.id. Sekjen PBNU HA Helmy Faishal mengatakan telah memberi kritikan dan masukan terkait beberapa hal yang lalai dalam kamus sejarah tersebut. Selain KH Hasyim Asy’ari, yang juga tak tercantum dalam kamus ialah nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI. “PBNU menyampaikan kritikan dan masukan yang sangat luas sekali kepada Mas Menteri bahwa sejarah berdirinya Indonesia tidak lepas dari peran para kiai dan ulama NU dalam konteks membangun dan merintis berdirinya NKRI,” ucap Helmy. Sementara itu, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengapresiasi niat baik Mendikbud untuk segera merevisi kamus tersebut agar tidak menyebabkan distorsi dalam sejarah. “Kami mengapresiasi Mas Menteri Nadiem yang sudah responsif walaupun peristiwa pembuatan kamus tersebut bukan terjadi di zaman beliau, tapi beliau menunjukkan komitmen untuk memperbaiki dan merevisi,” kata Yenny.

  • Kesalahan Teknis dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I

    Tidak dicantumkannya nama KH Hasyim Asy’ari dalam  Kamus Sejarah Indonesia Jilid I yang disusun Kemendikbud RI memunculkan diskusi baru mengenai pembuatan kamus sejarah. Kamus yang dibuat pada 2017 ini memiliki beberapa kesalahan teknis dan terkesan disusun secara buru-buru. Sejarawan Ayang Utriza Yakin dalam Dialog Sejarah “Kisruh Kamus Sejarah” di saluran Youtube  dan Facebook Historia, Jumat, 23 April 2021 menyebut bahwa Kamus Sejarah Indonesia Jilid I  tidak dibuat dengan dengan metodologi sejarah yang ketat. Selain itu, kamus juga tidak ditulis oleh orang yang ahli pada tiap-tiap lema. “Artinya karena ini berbicara mengenai sejarah, seharusnya juga disusun, ditulis oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Secara sederhananya kamus ini menunjukkan satu: keterbatasan pengetahuan para penulis, penyusun, dan penyunting,” kata Ayang. Ayang juga menyoroti perihal teknis penulisan kamus. Pertama, sampul kamus cenderung membingungkan karena menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Judul Kamus Sejarah Indonesia Jilid I, Nation Formation (1900-1950) menimbulkan pertanyaan apakah kamus ini disusun untuk pembaca berbahasa Inggris atau Indonesia. Kesalahan kedua terletak pada ketidakjelasan periode dan tema sejarah dalam kamus. Penyusun tidak menjelaskan mengapa tertulis periode 1900 hingga 1950. Padahal, lanjut Ayang, sejarah Indonesia dimulai antara abad ke-4 dan 5 sesuai dengan temuan bukti tertulis dari Kerajaan Tarumanegara dan Kutai Kertanegara. Selain itu, lanjut Ayang, penyebutan Indonesia pada kamus ini juga menjadi pertanyaan. Jika merujuk pada Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa, sejarahnya baru dimulai sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan jika merujuk pada kata “Indonesia” yang digunakan dalam organisasi sebelum Indonesia merdekapun, tidak dimulai pada tahun 1900. “Terlihat tidak ada metodologi ilmu sejarah dalam penyusunan ini secara ketat,” ujar profesor tamu Kajian Islam Ghent University Belgia itu. Menurut Ayang, kesalahan teknis juga meliputi bentuk kamus itu sendiri yang lebih menyerupai ensiklopedia. Pertama , kamus biasanya lebih singkat dan padat. Sementara ensiklopedia lebih panjang dan lengkap materinya sehingga bisa menjadi rujukan penulis. Lema dalam kamus juga memiliki informasi yang berdiri sendiri. “(Dalam kamus) tidak ada yang namanya saling rujuk atau bahasa Inggrisnya cross references . Kalau di ensiklopedia itu ada saling rujuk atau cross references ,” terangnya. Kemudian, kamus harus memiliki jumlah kata yang pasti dalam setiap lema-nya. Misalnya dijelaskan bahwa setiap lema hanya terdiri dari 25 sampai 50 kata. Sementara dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I , jumlah kata tiap lema tidak memiliki aturan pasti. “Ada tokoh yang ditulis cuma lima baris, enam baris, satu halaman. Ada tokoh yang ditulis sampai lima halaman,” ungkap Ayang. Kamus biasanya juga hanya satu jilid, berisi lema-lema dari abjad A hingga Z. Hal ini karena kamus hanya bersifat sebagai referensi singkat mengenai topik yang hendak dicari seseorang. Sementara informasi lebih lengkap bisa merujuk pada ensiklopedia maupun buku-buku terkait. “Jadi kamus itu hanya pengantar,” jelas Ayang. Ayang menambahkan bahwa kekurangan lain dalam penyusunan kamus sejarah ini dan penulisan sejarah Indonesia pada umumnya adalah kecenderungan berfokus pada sejarah tokoh, organisasi, dan peristiwa politik. Sementara, sejarah kehidupan orang biasa di berbagai daerah di Indonesia jarang sekali dituliskan. “Lagi-lagi, kamus sejarah atau yang ditulis sejarah itu isinya cuma tokoh, organisasi, peristiwa. Rakyat di mana?” kata Ayang. Menurut Ayang, daripada merevisi kamus sejarah yang telah menjadi polemik ini, lebih baik Kemendikbud membuat kamus baru. Kamus baru diharapkan dapat mengangkat sejarah kehidupan orang biasa. Penyusunannya hendaknya juga melibatkan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jurusan sejarah lintas kampus serta sejarawan-sejarawan dari berbagai daerah di Indonesia.  “Saran saya satu, harus dilakukan penulisan ulang kamus sejarah ini,” ujarnya.

  • Scarecrow Press, Penerbit Kamus Sejarah Indonesia

    Kamus Sejarah Indonesia  terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memancing perdebatan panjang lebar. Kamus itu tak memuat lema K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Karuan orang-orang NU protes keras. Sejumlah pihak juga menganggap pembuatan kamus itu kurang transparan dan melibatkan masyarakat. Dalam rilisnya, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), organisasi profesi sejarawan, meminta Kemdikbud menarik kamus itu. Mereka juga mendorong Kemdikbud segera merevisi kamus tersebut dengan melibatkan komunitas kesejarahan, media, leksikografer, dan akademisi. Di sisi lain, MSI mengapresiasi inisiatif pembuatan kamus sejarah. “Langkah penting dalam memajukan pengetahuan sejarah di Indonesia,” tulis MSI. Di Indonesia, penerbit Komunitas Bambu menerjemahkan Kamus Sejarah Indonesia  karya Robert Cribb, sejarawan asal Australia, dan Audrey Kahin, sejarawan asal Amerika Serikat, pada 2012. Kamus ini merupakan bagian dari proyek besar penerbit Scarecrow Press, Amerika Serikat. Didirikan oleh Ralph Robert Shaw pada 1950, penerbit swasta ini mengambil ceruk pasar akademisi dan perpustakaan. Buku-buku yang diterbitkan tak terlalu menarik dari sisi estetika dan tata letak, tapi sangat berbobot dari segi isi. “Kebijakan Scarecrow ketika itu adalah tampilan buku tidak penting... Tak ada sampul hardcover untuk melindungi buku dari debu   karena buku ditujukan terutama untuk pasar perpusatakan. Dan pegawai perpustakaan selalu rutin membersihkan debu dari buku,” catat Anthony Slide dalam “ A Publishing Phenomenon That Begins and Ends With Scarecrow Press” , termuat dalam Film History , Volume 22 Nomor 3, September 2010. Ralph seorang kutu buku yang lebih mementingkan isi ketimbang bentuk. Dia juga tak mau pusing soal biaya tambahan penerbitan. Menurutnya, buku bagus harus terbit walau hanya terjual sebanyak 500 eksemplar. Dia lebih berminat pada distribusi ilmu ketimbang bagaimana memperoleh uang dari terbitan itu. Karena itu Ralph mencari cara agar tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Dia enggan mengeluarkan uang untuk sewa kantor, iklan, dan pengeluaran tak penting lainnya. Jumlah stafnya pun sangat minimalis. Staf pertamanya adalah istrinya sendiri. “Inilah Scarecrow,” kata Ralph. Ralph menerbitkan buku dari ruang bawah tanah tempat kerjanya di Universitas Rutgers. Buku-buku terbitan Ralph ternyata jauh lebih bermutu daripada buku terbitan universitas atau lembaga resmi lainnya. Ketika penerbit ini mulai berkembang, Ralph berpikir untuk menerbitkan seri pengetahuan sejarah umum tentang negara-negara di dunia yang bisa dinikmati banyak kalangan. Inilah apa yang kemudian disebut seri kamus sejarah Scarecrow. Ralph Robert Shaw, pendiri penerbitan Scarecrow Press yang menerbitkan Historical Dictionary  of  Indonesia  karya Robert Cribb yang kemudian diterjemahkan menjadi  Kamus Sejarah Indonesia  terbitan Komunitas Bambu. ( en.wikipedia.org ) Penerbit itu telah menerbitkan kamus-kamus sejarah untuk banyak negara sejak 1967. Tze-chung Li dalam Social Science Reference Sources menyebutseri pertama penerbitan itu adalah kawasan Amerika Latin. Kemudian pada 1970-an menyusul kamus sejarah Afrika, Asia, Eropa, dan Oseania. Khusus untuk kawasan Asia, penerbitan kamus sejarah itu dieditori oleh Jon Woronoff. Dia mengungkapkan pembuatan kamus sejarah seri Asia itu dimulai “dengan kronologi, daftar akronim dan pendahuluan, dan diakhiri dengan lampiran yang berkaitan dengan ekonomi, pemerintahan, daftar raja, presiden, dan sebagainya,” tulis Woronoff dalam “Scarecrow Press: The Asian Historical Dictionary Series”, yang termuat dalam International Institute for Asian Studies News Letter 7, 1996. Bagian utama kamus itu berisi penjelasan tiap entri yang disusun dalam urutan abjad. Entri-entri yang masuk berhubungan dengan sejarah, politik, ekonomi, masyarakat, dan budaya di tiap negara. “Mereka mencakup orang-orang penting, tempat, peristiwa, institusi, dokumen-dokumen dasar, ideologi, dan kebijakan,” lanjut Woronoff. Penjelasan entri tersebut ditekankan pada hal-hal aktual dari masa lalu sehingga masih relevan pada hari ini. “Meskipun ada upaya juga untuk kembali melacak ke asal-usulnya,” lanjut Woronoff. Setiap kamus sejarah itu punya rumusan dasar: “Entri-entri masa lalu yang dekat dengan hari ini adalah entri yang paling banyak dimasukan dan dijelaskan”.    Woronoff menyadari aturan itu membuat kamus-kamus sejarah ini kelihatan kurang menyejarah bagi sebagian orang. Tapi Woronoff menyatakan, kamus-kamus sejarah semacam ini akan sangat berguna bagi para ilmuan politik, jurnalis, guru, dan siswa sekolah. Pada bagian akhir tiap kamus, ada daftar pustaka utama. Tiap sumber penulisan diklasifikasikan berdasarkan subjek. Sumber rujukan itu menyita sekira 50-100 halaman di tiap buku. Satu kamus sejarah bisa memiliki tebal 500-600 halaman. Woronoff kemudian mengisahkan, penentuan subjek kamus dan pedoman kerja jauh lebih mudah daripada pencarian penulisnya. Untuk seri Afrika, Scarecrow Press menghabiskan 25 tahun untuk mencari penulis yang cocok bagi tiap jilidnya. Mengingat saat itu tak banyak orang punya pengetahuan, minat, dan keahlian mendalam tentang Afrika. Historical Dictionary of Indonesia  edisi pertama karya Robert Cribb. Kamus ini merupakan bagian kecil dari proyek penerbitan kamus-kamus sejarah negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Oseania. ( goodreads.com ). Woronoff mengakui, pencarian penulis lebih mudah untuk kamus sejarah kawasan Asia. Tapi Scarecrow Press tak mau kamus itu asal jadi. “Tujuannya bukan hanya untuk menghasilkan buku. Kualitas juga harus diperhatikan dan ini berarti hanya penulis dengan pengetahuan yang mendalam dan luas tentang negara itu yang dapat menunaikannya,” terang Woronoff. Ketika kamus-kamus sejarah itu terbit di tiap negara, tak sedikit cendekiawan setempat menguliti habis-habisan. Ini terungkap dalam David C. Tambo, pakar sejarah perbudakan Afrika dalam “African Historical Dictionaries in Perspective” yang termuat dalam African Studies Association , Volume 6, 1980. Tambo merangkum sejumlah kritik yang berkisar pada kekurangcermatan penjelasan, keseimbangan penulisan, metodologi pemilihan entri, kekurangan referensi silang, dan salah ketik. Woronoff juga mengakui beberapa kelemahan kamus sejarah ini. Tiap kamus ini hanya ditulis oleh satu orang yang punya kemampuan mendalam tentang negara yang bersangkutan. Karena itu, penulisan akan memakan waktu lama. Dan tetap saja kesalahan sangat mungkin terjadi. Menyadari kritik-kritik demikian, Scarecrow kemudian menerbitkan edisi revisi kamus-kamus tersebut. “Tak hanya isinya yang diperbarui, tetapi juga diperluas, guna memberikan informasi tentang periode terakhir dan juga mengisi celah yang telah dilihat oleh pembaca,” tulis Woronoff. Revisi juga bertujuan menjaga kamus sejarah tetap aktual. “Karya tersebut menua dan akhirnya menjadi usang. Kami tak bisa berbuat apa-apa untuk penuaan. Tapi kami dapat menyegarkan buku kami secara berkala,” lanjut Woronoff. Beberapa kamus sejarah yang telah direvisi itu, termasuk Historical Dictionary of Indonesia  karya Robert Cribb dan Audrey Kahin, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa setempat dan telah mendorong orang-orang setempat untuk membuat kamus serupa. Scarecrow hingga sekarang masih menerbitkan kamus-kamus khusus lain terkait ilmu pengetahuan di luar sejarah. Para penulisnya biasanya hanya terdiri dari satu atau dua orang, tapi merupakan pakar di bidangnya masing-masing.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page