top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Nanggala dalam Armada Indonesia

    KAPAL selam TNI AL KRI Nanggala  (402) dilaporkan hilang kontak saat melakoni gladi resik latihan di perairan utara Pulau Bali, Rabu (21/4/2021) pagi. Segenap upaya pencarian dilakoni TNI AL, termasuk dengan menurunkan tim penyelam. Mengutip Kumparan , Rabu (21/4/2021), Kadispenal Laksma Julius Widjojono menyebutkan bahwa Nanggala  yang dikomandani Letkol Laut Heri Oktavian mulanya akan turut serta dalam agenda latihan TNI AL pada Kamis (22/4/2021). Nanggala  akan melakoni demonstrasi penembakan torpedo di siang harinya. “Setidaknya terdapat 53 awak di dalam kapal selam tersebut. Sampai saat ini tim masih mencari keberadaan awak kapal selam. Akan tetapi titik koordinat hilangnya kapal selam telah ditemukan di 95 kilometer dari utara Pulau Bali. Dua kapal selam telah diturunkan melakukan pencarian,” ungkap Laksma Julius. Nanggala Kedua Nanggala merupakan kapal selam bertenaga listrik yang dipasok mesin diesel buatan Jerman. Mengutip Jane’s Fighting Ships: 2009-2010 , Nanggala (402) merupakan satu dari dua kapal selam kelas Cakra pesanan TNI AL. Alutsista ini dikembangkan desainer Ulrich Gabler dari Ingenieur Kontor Lübeck pada awal 1970-an sebagai kapal selam Type 209. Gabler mendesainnya bertolak dari desain kapal selam sebelumnya, Type 206. Bedanya, Type 209 dilengkapi beberapa perangkat terbaru, salah satunya adalah baterai berkapasitas tinggi GRP dan baterai pendingin Wilhelm Hagen AG. Kolase  KRI Nanggala  (402). (Facebook Satselhiukencana). Di masanya, Type 209 jadi salah satu kapal selam paling laris dioperasikan di dunia. Uniknya, AL Jerman sendiri tak punya satu pun lantaran pembatasan militernya pasca-Perang Dunia II. Sebelum Indonesia, kapal selam Type 209 lebih dulu dimiliki Argentina, Brasil, Cile, Kolombia, Ekuador, Mesir, Yunani, dan India. “Type 209 adalah kapal selam paling sukses diekspor dari Eropa Barat, walau tak dioperasikan di armada Jerman. Desainnya berdasarkan kapal selam Jerman sebelumnya (Type 206) dengan beberapa komponen yang lebih andal. Type 209 punya layout yang lebih baik dari ruang torpedo sampai kompartemen-kompartemen mesin. Baterai berkapasitas tingginya membolehkan Type 209 punya jarak jelajah dan kecepatan menyelam lebih baik,” ungkap Paul E. Fontenoy dalam Submarines: An Illustrated History of Their Impact. Nanggala (402) dipesan bersamaan dengan Cakra (401) oleh Indonesia pada 2 April 1977. Pembangunannya dipercayakan kepada Howaldtswerke-Deutsche Werft di Kiel, Jerman Barat. Pada 10 September 1980, pembangunannya rampung. Nanggala dan Cakra dikirimkan ke tanah air pada 6 Juli 1981 dan resmi dioperasikan TNI AL pada 21 Oktober 1981. Nanggala punya spesifikasi panjang 59,5 meter dan lebar 6,2 meter serta bobot 1.285 ton saat di permukaan dan 1.390 ton kala menyelam. Dipasok empat mesin diesel MTU yang masing-masing berkekuatan 2.400 tenaga kuda, Nanggala bisa dipacu dalam kecepatan maksimal 11 knot di permukaan dan 21,5 knot saat menyelam. Dilengkapi empat mesin alternator Siemens yang menopang empat mesin diesel di atas, Nanggala punya daya jelajah hingga 8.200 mil laut dan berlayar nonstop selama 50 hari sebelum re-supply . Sistem radar Thomson-CSF dan sonar Atlas Elektronik CSU 3-2 jadi mata dan telinganya untuk mencari dan menghindari musuh. Jika terpaksa bertempur, Nanggala siap dengan delapan tabung torpedo kaliber 21 inci. KRI Cakra  (401) yang juga merupakan kapal selam Kelas Cakra kembaran KRI Nanggala  buatan Jerman. ( tnial.mil.id ). Dalam peresmiannya oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan/Pangab Jenderal M. Jusuf pada 21 Oktober 1981, kapal selam 402 itu diberi nama “Nanggala” sebagaimana sebutan senjata sakti milik Prabu Baladewa dalam kisah pewayangan Jawa. Senjata tersebut berbentuk tongkat sependek lengan orang dewasa yang selalu disandang saudara kandung Prabu Kresna. “Yang luar biasa dari tongkat (Nanggala) ini adalah, berpadu dengan kesaktian Baladewa dengan genggamannya, bisa mengeluarkan sinar berbentuk ular naga. Sinar ular naga yang dapat menjulur sangat panjang dan memagut apa saja sesuai kehendak tuannya, Prabu Baladewa. Setiap benda apa saja yang dipagut sinar naga ini serta merta bisa berkeping-keping hancur. Sedangkan bila mengenai manusia, dalam sekejap bisa terbakar menyala dan langsung jadi abu,” tulis Pitoyo Amrih dalam Baratayuda: Kisah Kabut Merah di Atas Tanah Bersimbah. Sebelum dilaporkan hilang kemarin, Nanggala sudah pernah beberapakali overhaul . Sekali di Kiel pada 1989 dan tiga kali (2004, 2006, dan 2009) di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Pada perbaikan terakhirnya (2009), Nanggala dimodernisasi perangkat sonarnya dari Atlas Elektronik ke sistem sonar LOPAS 8300. Nanggala dari Orde Lama Namun, Nanggala (402) yang hilang kontak di perairan Bali itu faktanya merupakan kapal selam kedua TNI AL yang dinamakan dengan senjata mitos pewayangan itu. Di masa Orde Lama, ALRI punya satu kapal selam Nanggala pula. Kapal selam itu buatan Uni Soviet dan didapat Indonesia pada 1959 dari tangan ketiga, Polandia. Nanggala itu kelas Whiskey yang merupakan kelanjutan program pengembangan kapal selam Soviet setelah kapal selam kelas S pada 1946. Cetak biru kapal selam kelas Whiskey ini sangat dipengaruhi kapal selam canggih Jerman Nazi Type XXI Elektroboot. Selain dioperasikan AL Soviet, kapal selam kelas Whiskey juga dijadikan andalan negara-negara Pakta Warsawa, termasuk Polandia yang menjual dua miliknya ke Indonesia pada September 1959. “Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan kapal selam dengan dua kapal selam kelas Whiskey yang dibeli dari Uni Soviet melalui Polandia pada 1959, RI Tjakra (S-01) dan RI Nanggala (S-02). Baru pada 1962 sepuluh kapal selam kelas Whiskey menyusul seiring modernisasi TNI AL sepanjang 1950-an sampai 1960-an,” ungkap Collin Koh Swee Lean dalam Naval Modernisation in Southeast Asia, Part Two. KRI Pasopati, kapal selam sesama Kelas Whiskey buatan Uni Soviet. (Twitter @monkasel). RI Nanggala (S-02) dengan panjang 76 meter dan lebar 6,3 meter mampu berlayar dengan kecepatan 18,25 knot di permukaan dan 13,1 knot di bawah permukaan dengan ditenagai dua mesin diesel listrik. Kelengkapan tempur Nanggala dilengkapi enam tabung torpedo 21 inci, satu meriam AA 25 mm, serta sepasang meriam AA 57 mm. Dalam catatan operasinya, Nanggala jadi bagian dari Komando Depan Al Mandala (KOPANALA) dalam rangka konflik Irian Barat dengan Belanda. Pada 1972, seiring penyingkiran alutsista-alutsista buatan Uni Soviet di Indonesia, Nanggala dipensiunkan lalu dibesituakan. Yang tersisa hanya kapal selam sejenis, yakni RI Pasopati, yang kemudian dijadikan museum di Surabaya.

  • Mangoenatmodjo, Penyebar Gerakan Islam Abangan

    Selama masa kolonial, sejumlah aliran kepercayaan lokal berkembang. Beberapa ajarannya cenderung mencari kedamaian sehingga dibiarkan oleh pemerintah kolonial. Tetapi sebagian lagi, dianggap cukup konfrontatif terhadap pemerintah dan berbahaya. Salah satunya gerakan Islam Abangan Mangoenatmodjo di Klaten, Jawa Tengah, pada 1920-an. Mangoenatmodjo adalah petani dari desa Karangwungu, Klaten. Pendidikan formalnya hanya setahun bersekolah swasta bumiputra di Surakarta. Tapi dia pandai menulis. Anggitannya, Serat Kalabrasta,  terbit di surat kabar sohor masa itu, Darma Kanda pada 1910 .   Tulisan Mangoenatmodjo tentang interpretasi atas Serat Kalatida karya  Ranggawarsita, pujangga masyhur keraton Surakarta. Karena terbitan itu, dia menjadi terkenal di kalangan pembaca kota. Bersama keterkenalan itu pula, dia mulai menyebarkan ajaran Islam Abangan di kelompok kecil masyarakat desanya. “Menurut keterangan yang diperoleh, ajaran Islam Abangan itu berlandaskan ajaran Seh Siti Djenar, salah seorang Wali pada jaman Kerajaan Demak yang dibunuh oleh Wali Sanga, karena dianggap murtad,” catat surat A.H. Neys, Asisten Residen Klaten kepada A.J.W. Harloff, Residen Surakarta, seperti termuat dalam Laporan-Laporan Tentang Gerakan Protes di Jawa pada Abad XX. Syekh Siti Jenar tak pernah meninggalkan catatan tertulis tentang ajarannya. Lalu bagaimana Mangoenatmodjo mengklaim dasar ajarannya dari Siti Jenar? Menurut Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926 , itu karena dia pernah membaca Serat Siti Djenar anggitan R. Pandji Nataraja. Mangoenatmodjo mengklaim Islamnya sebagai Islam yang sejati. Dia berupaya menyingkap esensi Ketuhanan. “ Gusti Allah punika: embuh. Nanging embuhipun punika boten ateges: ora weruh, katah leregipun dateng ora ana (Bahwa Allah itu: tidak tahu. Tetapi ketidaktahuan itu tidak berarti: tidak lihat, artinya cenderung ke ‘tidak ada’: bahwa Allah itu tidak dapat ditangkap oleh pancaindra dan karenanya tidak ada),” sebut Mangoenatmodjo seperti dikutip Shiraishi. Mangoenatmodjo juga menyatakan semua kitab suci itu palsu. Adanya kitab suci hanya untuk menguasai dan menindas rakyat dengan mudah. Selain itu, dia menyamakan kehidupan setelah mati para nabi, wali, ratu, dan bajingan. “Sesudah mati mereka habis, tidak ada yang tersisa,” lanjut Shiraishi. Tak ada pula hari pengadilan sesudah kematian. Pemerintah kolonial mengendus aktivitas ini. Tapi mereka belum menganggap ajarannya ini membahayakan. Kebijakan pemerintah kolonial cukup terbuka terhadap perkembangan aliran kepercayaan lokal selama tak ada muatan melawan hukum dan mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. Tapi ajaran Mangoenatmodjo berubah konfrontatif pada akhir 1910-an. Mangoenatmodjo mulai mendirikan paguyuban gotong royong bernama Roekoen Desa. “Tindakan ini untuk mendobrak praktik ijon dan menembus benteng perantara dengan memberikan kredit petani yang dibayar dengan hasil panenan padi dan menjual padi itu langsung kepada pedagang dan pemilik lumbung padi Tionghoa di Delanggu,” tambah Shiraishi. Delanggu adalah pusat lumbung beras dan ekonomi di Jawa Tengah. Kala itu harga beras naik, tapi keuntungan dari kenaikan itu tak pernah jatuh ke petani. Keuntungan hanya berputar di pembeli ijon. Ijon artinya membeli padi sewaktu padi masih berwarna hijau. Tindak tanduk Mangoenatmodjo tak disukai oleh para pembeli padi ijon. Sebab itu akan mengikis keuntungan mereka. Penguasa setempat juga meminta Mangoenatmodjo berhenti menolak pembelian padi secara ijon. Tapi dia menolaknya. Akibat penolakan itu, jabatannya sebagai kamituwa (kepala desa) dicabut. Para pengurus tiga organisasi pergerakan nasional (Sarekat Hindia, Sarekat Islam, dan Boedi Oetomo) memuji tindak tanduk Mangoenatmodjo. Mereka pun berusaha mendekati Mangoenatmodjo agar mau masuk ke organisasinya. Mangoenatmodjo memilih bergabung ke Sarekat Islam. Di sini dia menjadi ketua Sarekat Islam cabang Delanggu dibantu oleh dua asistennya: Mangoensoebroto dan Ronowaskito. Dalam rapat-rapat Sarekat Islam Delanggu, Mangoenatmodjo menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam Abangan yang berbeda dari sebelumnya dan lebih agitatif terhadap pemerintah. “Mangoenatmodjo berpikiran bahwa ‘Jawa itu sebenarnya milik orang-orang Jawa’,” tulis Zainul Munasichin dalam Berebut Kiri. Ucapannya itu ditujukan untuk mengingatkan pemerintah kolonial. Jauh sebelum Belanda datang, tanah itu dikelola dan dikuasai oleh masyarakat setempat.   Pokok ajaran lainnya juga bermuatan menyerang pemerintah. Laporan Asisten Residen Klaten menyebut ada delapan poin ajaran lain. Di antaranya penolakan taat kepada penguasa dan polisi jika tak adil; konsepsi tentang kepemilikan bumi, langit, dan air; tuntutan kenaikan upah buruh tani; penolakan terhadap pajak; dan anjuran untuk tak takut mati. “Islam Abangan itu artinya ‘prajurit yang berani’. Islam = prajurit dan Abangan = bendera merah sebagai tanda keberanian,” catat Asisten Residen. Ajaran-ajaran baru ini menarik banyak orang. “Karena ajaran-ajaran Mangoenatmodjo dan teman-temannya itulah pada tanggal 10 Juni 1920, 600 orang petani di wilayah perkebunan Ceper Afdeeling Pangkalan berani mengadakan demonstrasi menuntut kenaikan upah bagi kerja wajib mereka,” lanjut Asisten Residen. Polisi bergerak. Mereka menangkapi pelaku demonstrasi. Tapi Mangoenatmodjo terhindar dari penangkapan karena tak terbukti ikut berdemonstrasi dan menggerakkan massa. Tapi namanya masuk dalam pengawasan pemerintah kolonial. “Demi kepentingan ketenteraman dan ketertiban umum Asisten Residen mengusulkan agar 3 orang tokoh Islam Abangan, yang dianggap berbahaya itu dan kalau keadaan memang mendesak, ditindak atas dasar pasal 47 R.R.,” sebut Asisten Residen. Pasal 47 R.R. ( Regelings Reglement) memuat ketentuan hak istimewa gubernur jenderal untuk menangkap dan membuang seseorang yang dianggap berbahaya. Selama pengawasan itu, Mangoenatmodjo justru berhasil mengumpulkan pengikutnya hingga sekira 12 ribu orang. Para pengikutnya mengidentifikasi diri mereka sebagai pengikut Sarekat Abangan dan mengangkat Mangoenatmodjo sebagai presidennya. Tapi sesungguhnya, Sarekat Abangan bersifat cair. Tak ada keanggotaan resmi, iuran, dan hierarki ketat. “Itulah yang benar-benar menjadi kekuatan sesungguhnya,” singgung Shiraishi. Perkembangan pesat pengikut Mangoenatmodjo mendorong pula pertambahan kasus pemogokan petani. Pemerintah kolonial akhirnya menangkap Mangoenatmodjo dan dua pembantunya pada Mei 1920. Tapi dia lalu dibebaskan karena tak terbukti bersalah. Setelah itu, dia kembali ditangkap, lalu dibebaskan lagi. Berulang-ulang sampai 1921. “Akhirnya tenggelam tanpa aktivitas,” sebut Shiraishi. Hayat Mangoenatmodjo berakhir di Boven Digul, tempat pembuangan di Papua untuk para tahanan politik, pada 1927. Dia hilang di sungai. Terbawa buaya saat sedang mandi.

  • Richard Jewell dalam Kemelut Bom Olimpiade

    SUATU hari pada 1986 di Kantor Biro Usaha Kecil Menengah (UMKM) kota Atlanta, Georgia, Richard Jewell (diperankan Paul Walter Hauser) melakoni rutinitasnya sebagai karyawan toko alat tulis kantor (ATK). Ketika bekerja itulah ia tak sengaja menguping pembicaraan telepon dengan nada tinggi dan kasar seorang staf legal, Watson Bryant (Sam Rockwell). Alih-alih tersinggung ketika pembicaraannya didengar, Watson justru menghargai kejujuran Richard. Keduanya lalu menjalin persahabatan baik yang satu dekade berselang akan sangat berpengaruh pada sebuah kejadian yang menimpa Richard. Alur cerita beralih ke 10 tahun kemudian ketika Watson sudah membuka firma hukum sendiri. Kala itu Richard menjadi satpam di Centennial Olympic Park, taman di bawah naungan Komite Olmpiade Atlanta (ACOG) yang menggelar beragam agenda acara hiburan dalam rangka meramaikan Olimpiade Atlanta 1996. Pada 27 Juli 1996, Richard tugas jaga bersama tim keamanan lain yang terdiri dari personel satpam, kepolisian, dan agen FBI. Sekitar pukul 1 dini hari, Richard mengawasi sekitaran menara tata lampu dan suara dan mendapati sebuah ransel militer hijau mencurigakan di bawah sebuah kursi dekat menara itu. Richard segera memanggil aparat kepolisian. Benar saja, saat dibuka tas itu berisi tiga bom pipa. Richard dan aparat keamanan lain bergegas menjauhkan penonton dari lokasi bom. Keadaan belum aman. Tetiba, “Boom!” Bom itu meledak dan mengempaskan ratusan penonton serta aparat keamanan. Lebih dari 100 orang terluka dan dua meninggal di tempat. Ledakan bom itu melontarkan ribuan paku yang terkandung di dalamnya. Adegan evakuasi jelang meledaknya bom. (Warner Bros. Pictures). Momen kengerian ledakan itu jadi pengantar dalam film biopik Richard Jewell yang digarap Clint Eastwood. Film ini diadaptasi dari dua biografi, American Nightmare: The Ballad of Richard Jewell karya Marie Brenner dan The Suspect: An Olympic Bombing, the FBI, the Media, and Richard Jewell, the Man Caught in the Middle karya Kent Alexander dan Kevin Salwen. Dalam adegan-adegan awal, Richard digambarkan sebagai pahlawan. Pria lugu itu dielu-elukan publik, media, dan bahkan para atlet yang ditemuinya. Dalam waktu singkat, Richard jadi “ media darling ” yang bikin bangga sang ibu, Barbara ‘Bobi’ Jewell (Kathy Bates). Namun seiring bergulirnya alur cerita, kebanggaan Richard hanya bertahan selama tiga hari. Pasalnya penyelidikan FBI yang dipimpin agen lapangan Tom Shaw (Jon Hamm) mengarah ke Richard sebagai tersangka utamanya. Hidup Richard lebih runyam setelah laporan penyelidikan FBI yang masih rahasia itu bocor ke tangan jurnalis suratkabar The Atlanta Journal-Constitution Kathy Scruggs (Olivia Wilde). Kathy berhasil mendapatkannya berkat kelihaiannya merayu Agen Shaw. Dalam sekejap, hidup Richard berubah 180 derajat. Ia diperdaya beragam intrik FBI dalam penyelidikannya. Namanya dicemarkan oleh fitnah dari berita-berita yang dituliskan Kathy. Kathy begitu gencar memberitakan Richard sebagai pelaku pengeboman walau tahu laporan resmi FBI baru menstatuskan Richard sebagai tersangka. Dalam kemelut itu, Richard hanya bisa minta bantuan Watson. Watson bersedia membantu sebagai kuasa hukum Richard setelah memastikan bahwa Richard betul tak bersalah. Bagaimana Richard dan Watson menghadapi situasi getir itu demi membersihkan namanya? Baiknya saksikan sendiri Richard Jewell di aplikasi daring Mola TV . Kathy Scruggs, jurnalis pencari sensasi yang rela "menjalang" demi informasi FBI. (Warner Bros. Pictures). Pembunuhan Karakter Richard Jewell sedikitnya mengajak penonton bernostalgia dengan musik era 1990-an seperti lagu-lagu country dari Kenny Rogers dan R&B karya Jack Mack and the Heart Attack. Lagu-lagu itu diperdengarkan di adegan show di panggung di Centennial Park. Nuansa itu jadi selingan dinamis yang melengkapi music scoring menegangkan di sekitar detik-detik meledaknya bom. Cara pengambilan gambar dengan variasi tone di beberapa adegan penting turut menaikkan tensi penonton, semisal di adegan Richard diintimidasi dan diperdaya agen FBI. Tone temaram melatari adegan Richard ketika diinterogasi, sedangkan tone terang menaungi adegan keseharian Richard yang terpenjara di rumahnya sendiri. Sejumlah kritikus angkat jempol pada cara Eastwood mendramatisasinya. Meski begitu, jangan ragukan soal akurasi risetnya kendati diakui Eastwood bahwa dia harus menyamarkan beberapa nama, utamanya para agen FBI yang terlibat dalam penyelidikan itu. “Cerita yang disajikan Eastwood sangat menarik. Sebuah drama kehidupan yang mengisahkan kembali tentang penyalahgunaan wewenang oleh dua institusi paling kuat di Amerika, pemerintah dan pers,” ungkap kritikus David Stratton yang dimuat The Australian , 20 Februari 2020. Richard Jewell dan ibunya yang kehidupannya hancur oleh permainan FBI dan media. (Warner Bros. Pictures). Selain menguliti intrik dan tipu daya agen FBI dan cara “jalang” seorang wartawati demi jadi yang terdepan dalam mendapatkan breaking news , Eastwood juga dinilai berhasil menyuguhkan sosok naif dan polos Richard Jewell. Sosok yang mulanya begitu mengagumi para penegak hukum itu justru dibunuh karakternya oleh penegak hukum. Untuk ini, Eastwood sengaja memberikan sedikit latar belakang Richard sebagai seorang lugu yang mendambakan bisa jadi penegak hukum namun gagal. “Kita sering melihat cerita tentang orang kuat yang jadi tersangka suatu kasus tapi mereka punya uang, kemudian menyewa pengacara dan lolos dari jeratan hukum. Saya tertarik dengan kisah Richard Jewell karena dia hanya orang biasa. Saya ingin membuat filmnya juga karena ingin mengembalikan kehormatan Richard. Karena dalam kesehariannya, Richard yang ingin jadi polisi demi melayani masyarakat dan melakukan tindakan heroik harus membayar dengan harga mahal. Dia seperti dilemparkan ke kawanan serigala,” ujar Eastwood kepada Indulge Express , 4 Januari 2020.  Upaya membantu membersihkan nama Richard dilakukan Eastwood karena realitas di lapangan menunjukkan, sampai film itu di rilis pun Richard masih disangka banyak orang sebagai pelaku pemboman. Anggapan miring publik sebagai hasil giringan media massa itu bahkan masih kuat meski enam tahun berselang pelaku aslinya, Eric Robert Rudolph, tertangkap dan mengaku. “Publik masih banyak yang belum paham bahwa pelaku sesungguhnya tertangkap enam tahun kemudian dan dia mengakui. Saya berharap penonton bisa belajar dari sini, bahwa mereka sebagai masyarakat bisa menilai dengan lebih baik. Jika kisah Richard bisa jadi pelajaran buat kita, saya pikir itu adalah hal hebat dan Richard benar-benar seorang pahlawan,” imbuhnya. Namun yang menjadi kontradiktif adalah Eastwood sama sekali tak memberi ruang pada sosok Rudolph. Eastwood menghadirkan sosoknya hanya dalam potongan gambar kaki pelaku ketika meletakkan ransel berisi bom pipa itu. Lalu, siapa sebenarnya sosok Rudolph si pembom itu? Clint Eastwood Jr. (kanan) saat mengarahkan Paul Walter Hauser yang memerankan Richard Jewell. (Warner Bros. Pictures). Motif Rasis dan Politis Lahir di Merrit Island, Florida, Amerika Serikat, Rudolph dikenal sebagai mantan tukang kayu dan pecatan Angkatan Darat (AD) Amerika. Sebelum dipecat dengan tidak hormat karena kasus narkoba, Rudolph menyandang pangkat Specialist E-4 atau kopral di Divisi Lintas Udara ke-101. Setelah dipecat, Rudolph terpengaruh gerakan rasis supremasi kulit putih dari kelompok Army of God. Organisasi Kristen itu menentang segala hal yang berbau sosialisme global dan acap meneror. Sebagaimana diungkapkan Anthony Richards, Pete Fussey, dan Andrew Silke dalam Terrorism and the Olympics , isu sosialisme itu meresahkan Rudolph hingga aksi terornya pada 27 Juli 1996 sarat motif politis. Rudolph mengakuinya di dalam penjara. “Di musim panas 1996 dunia berkumpul untuk Olimpiade. Di bawah perlindungan Washington jutaan orang datang merayakan sosialisme global. Bahkan nilai-nilai itu dipromosikan lewat ‘Imagine’ oleh John Lennon sebagai lagu resmi Olimpiade 1996. Serangan 27 Juli adalah klimaks rasa marah dan malu terhadap Washington. Rencana (serangan bom) itu untuk membatalkan olimpiade atau setidaknya menciptakan rasa tidak aman bagi investasi bisnis yang menyokongnya,” kata Rudolph dalam pernyataan tertulisnya bertanggal 13 April 2005, dikutip Richards dkk. Adegan salah satu intrik FBI yang mengintimidasi Richard Jewell. (Warner Bros. Pictures). Rudolph berhasil lolos dari radar FBI usai bomnya meledak. FBI justru menargetkan Richard Jewell sebagai tersangkanya. Kesimpulan FBI, Jewell kemungkinan besar sengaja merekayasa skenario dengan meletakkan bomnya dan kemudian jadi penyelamat demi jadi orang terkenal. Kesimpulan FBI bertolak dari dua kasus serupa. Pertama , kasus ancaman bom di Olimpiade Los Angeles 1984, di mana bomnya ditemukan seorang polisi di sebuah bus. Ketika diinvestigasi, ternyata si polisi penemu itu yang menaruh bomnya. Kedua , kebakaran di sebuah tempat di Atlanta jelang Olimpiade 1996 yang ternyata disulut seorang anggota pemadam kebakaran dengan harapan bisa jadi pahlawan. Namun dalam kasus Jewell, FBI meleset. Setelah 88 hari penyelidikan termasuk menggunakan intimidasi dan persekusi, FBI tetap tak mendapatkan bukti konkret bahwa Jewell pelakunya. Sosok Eric Robert Rudolph, teroris peledakan bom Olimpiade 1996 yang sebenarnya. ( fbi.gov ). Jewell sendiri baru bisa sedikit lega setelah mendapatkan surat dari kejaksaan yang menyatakan pencabutan status tersangkanya. Walau begitu, kejaksaan maupun FBI tak sekali pun menyampaikan permintaan maaf resmiterkait tindakan penyelidikan yang mencemarkan nama Jewell. Pernyataan maaf hanya disampaikan jaksa Janet Reno atas nama pribadi pada Juli 1997. “Saya sangat menyesali apa yang telah terjadi (pada Jewell). Saya pikir kami berutang permintaan maaf kepadanya. Saya menyesali kebocoran (laporan penyelidikan FBI) itu,” terang Reno, dikutip CNN , 31 Juli 1997. Lantaran permintaan maaf itu bukan atas nama institusi, nama Jewell masih dianggap publik sebagai pelaku pengboman. Pun ketika Rudolph berhasil diciduk FBI di kota Murph, North Carolina pada 31 Mei 2003. Di kursi terdakwa, Rudolph mengakui perbuatannya dan mengakui sebagai pelaku bom berantai. Tidak hanya pada ledakan bom di Centennial Olympic Park, pengebomannya juga dilakukan di klinik aborsi di Sandy Springs (16 Januari 1997) dan Birmingham, Alabama (29 Januari 1997), serta sebuah bar lesbian di Atlanta pada 21 Februari 1997. Rudolph kemudian divonis hukuman bui seumur hidup tanpa kemungkinan bebas bersyarat di penjara federal berkeamanan maksimal di Fremont County. Data Film: Judul: Richard Jewell | Sutradara: Clint Eastwood | Produser:  Tim Moore, Jessica Meier, Kevin Misher, Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Jennifer Davisson | Pemain:  Paul Walter Hauser, Olivia Wilde, Jon Hamm, Sam Rockwell, Kathy Bates, Ian Gomez, Nina Arianda  | Produksi:  Malpaso Productions, Appian Way Productions, Misher Films, 75 Year Plan Productions  | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Drama Biopik | Durasi: 129 menit | Rilis: 13 Desember 2019, Mola TV

  • Uang Saku Bung Hatta untuk Rakyat Papua

    Ketika Papua baru bergabung dengan Indonesia, berbagai upaya dilakukan untuk memperkenalkan provinsi baru ini. Salah satunya adalah dengan mendatangkan proklamator kemerdekaan ke bumi cendrawasih. Dari dua tokoh proklamator, baru Bung Karno yang telah mengunjungi Papua pada 1963. Waktu itu, Papua masih bernama Irian Barat. Bung Hatta  yang telah lama menjadi orang sipil belum pernah lagi mengunjungi Papua. Padahal, pada masa kolonial, Bung Hatta pernah diasingkan pemerintah Belanda ke pelosok Papua, tepatnya di Boven Digul, Merauke. Kesempatan itu baru tiba pada 1970, ketika Soemarmo, pejabat Departemen Penerangan mendatangi kediaman Bung Hatta. Soemarmo menawarkan kepada Hatta perjalanan untuk meninjau Papua yang sudah resmi menjadi keluarga besar Republik Indonesia. Hatta sempat menolak tawaran Soemarmo. Pertimbangannya, ongkos perjalanan ke Papua sangat besar dan kesehatannya sudah jauh menurun. Lagi pula, kata Hatta, dirinya bukan lagi pejabat negara. Soemarmo tidak kurang akal dengan meyakinkan Bung Hatta bahwa segala sesuatu yang dibutukan akan dipersiapkan. Semua biaya ditanggung pemerintah.     Singkat cerita, Bung Hatta menerima tawaran Soemarno. Bung Hatta bahkan diperkenankan membawa rombongan, termasuk dokter pribadi mengingat kondisinya yang sudah lanjut usia. Ikut pula mendampingi asisten Bung Hatta, I Wangsa Negara yang kemudian menuturkan kisah perjalanan ini dalam buku Mengenang Bung Hatta. Sampai di Papua, pesawat yang ditumpangi rombongan Bung Hatta mendarat di Bandara Sentani. Gubernur Frans Kaisiepo dan Bupati Anwar Ilmar turut menyambut. Keesokan pagi setelah sempat beristirahat, Seomarmo mendatangi penginapan Bung Hatta. “Saya lihat Mas Marmo membawa amlop ditangannya, saya tidak tahu isi amlop itu,” kenang Wangsanegara. Setelah ngobrol sejenak, Soemarmo menyodorkan amplop yang dibawanya. Bung Hatta secara spontan pun bertanya, “Surat apa ini?” katanya. “Bukan surat, Bung…Uang… Uang saku untuk selama perjalanan Bung Hatta di sini,” kata Soemarmo. “Uang apalagi? Bukankah semua uang perjalanan saya ditanggung pemerintah?” ujar Hatta. “Lho Bung, ini pun uang dari pemerintah, termasuk dalam biaya perjalanan Bung Hatta dan rombongan ini,” balas Soemarmo. “Tidak, itu uang rakyat, saya tidak mau terima. Kembalikan,” tegas Bung Hatta. Soemarmo jadi bingung melihat sikap Bung Hatta. Menurutnya uang saku itu lazim sebagai bekal dalam perjalanan dinas. Uang tersebut tidak dapat dikembalikan karena sudah dianggarkan. Namun, Hatta tidak mengerti. Dapat menginjakan kaki kembali di Papua saja dia sudah bersyukur.   Setelah beberapa hari meninjau beberapa tempat penting di Jayapura, rombongan Bung Hatta berkunjung ke Digul. Sesampai di Tanah Merah, Bung Hatta melepas nostalgia masa-masa pembuangannya zaman pergerakan dulu. Setelah berkeliling, Bung Hatta agak termenung menyaksikan keadaan rakyat di sana yang jauh lebih buruk daripada saat dirinya diasingkan. Menurut keterangan penduduk, mereka kesulitan memperoleh obat-obatan dan kebutuhan pokok dari pemerintah karena distribusi ke daerah itu cukup sulit. Kalau terpaksa, mereka mengirim utusan ke Merauke untuk mendapatkan sekedar apa yang diperlukan.   Saat akan mengakhiri kunjungannya, pemuka masyarakat Digul meminta Hatta menyampaikan wejangan. Dengan senang hati Bung Hatta bersedia. Namun, sebelum berpidato, Hatta setengah berbisik memanggil Soemarmo. Dia menagih kembali amplop berisi uang yang sebelumnya sempat ditolak. Setelah amplop itu diterima, Bung Hatta memberikan wejangan yang tidak terlalu panjang. “Sebelum saya dan rombongan saya meninggalkan daerah Digul ini, saya ingin menitipkan sesuatu. Ini sekedar oleh-oleh dari saya untuk masyakat di sini,” kata Hatta seraya menyerahkan amplop uang sakunya itu kepada camat setempat. Soemarmo dan Wangsanegara agak tercengang menyaksikan kejadian itu. Mereka tidak menyangka Bung Hatta akan menyerahkan uang sakunya kepada masyarakat Digul. Di tengah perjalanan, Bung Hatta sempat berkata, “Nah, apa yang saya katakan tempo hari terbukti, bukan? Saudara lihat sendiri, itu uang berasal dari rakyat, dan kini telah kembali ke tangan rakyat.” Semua anggota rombongan Hatta tersenyum mendengar kata-kata Hatta yang bermakna dalam itu.

  • Kapal Selam Mini Masa Revolusi

    Kapal selam milik TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala-402 hilang kontak saat latihan menembakan torpedo di laut Bali pada Rabu, 21 April 2021. Kapal selam buatan Jerman ini membawa 53 prajurit TNI. Indonesia telah meminta bantuan Singapura, Malaysia, dan Australia untuk membantu pencarian kapal selam itu. Indonesia memesan kapal selam Nanggala-402 bersamaan dengan kapal selam Cakra-401 kepada Jerman pada 2 April 1977. Pembangunannya selesai pada 10 September 1980, dikirimkan pada 6 Juli 1981, dan resmi dioperasikan TNI AL pada 21 Oktober 1981. Dalam sejarah revolusi kemerdekaan, Kementerian Pertahanan pernah memesan “senjata rahasia” berupa sebuah kapal selam mini yang mampu menenggelamkan kapal perusak Belanda. Para teknisi Indonesia mengerjakannya di pabrik besi Watson di Yogyakarta. Pabrik itu bernama NV Constructie Atelier der Vorstenlanden (CAV) milik George Watson karenanya lebih dikenal sebagai pabrik Watson. Pada zaman kolonial, pabrik ini beroperasi sebagai bengkel reparasi untuk mesin-mesin pabrik gula. “Pemilik perusahaan ini meninggalkan Indonesia semasa perang dan tidak berniat untuk melanjutkan usahanya. Semasa pendudukan Jepang, pabrik ini dikuasai oleh Jepang dan dilengkapi mesin perkapalan,” tulis Farabi Fakih, dkk. dalam Bersinergi dalam Keistimewaan: Peran Bank Indonesia dalam Pembangunan Ekonomi Yogyakarta. Setelah Jepang kalah, pabrik Watson direbut serikat buruh. “Setelah merdeka, pabrik Yogyakarta CAV yaitu pabrik Watson kembali ke tangan pemiliknya. Tetapi karena kondisi revolusi, maka CAV menjual pabriknya kepada pemerintah Yogyakarta seharga 3 juta rupiah,” tulis Farabi. Baha Uddin, dkk. dalam Masyarakat Pedesaan dan Revolusi Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta  menyebut bahwa gedung [pabrik] ini pada masa agresi militer Belanda II hingga Serangan Umum 1 Maret 1949 digunakan sebagai tempat untuk merakit dan memproduksi senjata. "Perakitan dilakukan di gedung ini karena memiliki beberapa peralatan teknis yang mendukung pembuatan dan modifikasi senjata," tulis Baha Uddin. Adalah Prof. Herman Johanes, salah satu akademisi yang merakit senjata di gedung itu, antara lain granat tekbom, detonator, dan alat peledak. Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2009. Pabrik Watson berubah menjadi Perbedij (PT Perusahaan Besi Daerah Istimewa Jogjakarta). (Repro  Daerah istimewa Jogjakarta ). Selain membuat senjata itu, Kementerian Pertahanan memesan “senjata khusus” berupa kapal selam mini. “Kapal selam mini ini cukup dikendalikan oleh seorang awak kapal saja dan bisa membawa sebuah torpedo yang digantung di bawah tubuh kapal selam tersebut,” tulis Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945 sampai dengan 1949. Moehkardi menyebut perancang kapal selam mini ini adalah J. Ginangan, seorang perwira muda ALRI, tamatan Angkatan Laut Den Helder Belanda. Selama perang, dia menjadi Marinir Belanda lalu pulang setelah Indonesia merdeka. Percobaan pertama kapal selam mini dilakukan di Kalibayem, sebelah barat kota Yogyakarta. Kapal selam yang digerakkan oleh mesin truk ini berhasil bergerak mengapung dan menyelam. Namun, ketika torpedo dilepaskan handel pengikatnya tidak mau lepas sehingga torpedo tetap terikat. “Akibatnya, kapal selam mini itu terseret oleh torpedonya sendiri, sehingga misi untuk menenggelamkan kapal perusak Belanda untuk sementara mengalami kegagalan,” tulis Moehkardi. Kapal selam mini kemudian diperbaiki. Namun, belum selesai perbaikan, tentara Belanda menyerbu Yogyakarta. Kapal selam mini itu pun jatuh ke tangan Belanda. Sementara itu, pemerintah daerah Yogyakarta mengubah pabrik Watson menjadi PT Perusahaan Besi Daerah Istimewa Jogjakarta (Perbedij). Perbedij pernah menjadi bengkel mesin ketiga terbesar di Indonesia. Namun, Perbedij kemudian menghadapi beragam masalah yang akhirnya berhenti beroperasi. Bekas gedungnya kini menjadi Hotel Melia Purosani.

  • Omar Rodriga, Aktor Sandiwara di Medan Laga

    Nama Omar Rodriga tak begitu populer dalam sejarah perfilman Indonesia. Ia hidup pada era sandiwara dan generasi awal film Indonesia, sezaman dengan artis kenamaan Fifi Young (1915-1975). Omar juga absen dari sorot kamera semenjak turut dalam perjuangan revolusi kemerdekaan. Omar Rodriga bernama asli Karel Rodriguez. Ia berasal dari Ambon. Sejak kecil ia mendapat pendidikan layak sehingga fasih berbahasa Belanda dan Inggris. Sebelum Perang Dunia II meletus, Karel muda bergabung dengan rombongan sandiwara Fifi Young’s Pagoda yang dipimpin oleh Njoo Cheong Seng. “Dalam waktu singkat ia dapat memainkan peran-peran penting, seringkali peran utama didampingi Fifi Young. Ia selalu hidup dalam tiap-tiap peran dari segala macam jenis dan corak peran sebagai pahlawan dan peran sebagai pejahat,” tulis Tanu TRh. dalam Majalah Djaja, 17 Agustus 1963. Njoo Cheong Seng kemudian memberi nama baru pada Karel: Omar Rodriga. Nama baru ini kemudian menjadi terkenal di dunia sandiwara. Pada 1939, Njoo Cheong Seng dan Fifi Young bergabung dengan Oriental Film Company. Mereka memulai debut film dalam  Kris Mataram (1940). Film ini ditayangkan perdana pada 29 Juni 1940 di Bioskop Rex, Batavia. “ Kris Mataram merupakan film pertama buat pasangan ini yang dibuat tahun 1940, di mana Fifi Young menjadi pemeran utama, sementara NCS (Njoo Cheong Seng –red. ) menduduki posisi sutradara,” tulis Heri Kusuma Tarupay dalam Gagaklodra Makassar, Detektif Nasionalisme Njoo Cheong Seng. Dalam Kris Mataram , Omar Rodriga didapuk sebagai pemeran utama pria berpasangan dengan Fifi Young. Omar juga kembali dipercaya dalam film-film Njoo berikutnya, seperti Zubaidah (1940) dan Pantjawarna (1941) yang disebut sebagai film musikal Indonesia pertama. Menurut Taufik Abdullah, Misbach Yusa Biran dan S.M. Ardan dalam Film Indonesia: Bagian I (1900-1950), Omar Rodriga termasuk dalam jajaran artis yang tergabung dalam Sarikat Artist Indonesia (SARI) yang diketuai Ferry Kock. Beberapa tokoh ternama yang juga terlibat dalam SARI antara lain M. Sardi, Roekiah, dan Kartolo (orangtua Rahmat Kartolo), hingga Dewi Mada. SARI merupakan embrio dari Persatuan Artis Film dan Sandiwara Indonesia (Persafi); sejak 1956 hingga kini menjadi Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI). Aktivitas Omar di dunia sandiwara dan film semakin berkurang sejak Jepang menduduki Indonesia. Omar juga memiliki pengalaman buruk dengan tentara Jepang yang membuatnya membenci segala bentuk penjajahan. Kisahnya terjadi di tahun 1943, kala Omar datang ke hotel Dharma Nirmala (kini menjadi Bina Graha) untuk menemui petugas perihal pemberitahuan akan diadakannya suatu pertunjukan. Namun saat itu petugas yang dicarinya tidak ada di tempat. Seorang kempeitai lalu memanggil Omar dan tiba-tiba memukulnya. Omar juga ditampar dan ditendang. “Omar sakit hati dibuatnya, lebih-lebih karena ia tidak merasa telah berbuat kesalahan. Ia menaruh dendam dan bertekad untuk menuntut balas. Kalau tidak dapat kepada yang memukul dan menendangnya, boleh juga kepada orang Jepang manapun. Di matanya tiap orang Jepang pada waktu itu adalah personifikasi daripada kekuasaan fasistis yang menindas rakyat Indonesia,” tulis Tanu TRh. Suatu malam, Omar betemu seorang serdadu Jepang dalam keadaan mabuk di lokalisasi Gang Sadar, Jakarta. Tak pikir panjang, Omar langsung menyerang serdadu itu dengan sebuah palang pintu. Ia juga sempat menggoreskan pisau di sisi muka serdadu dan membuatnya jatuh terkapar. Beruntung, peristiwa itu tidak menyeret Omar berurusan lebih lanjut dengan militer Jepang. Pasca-proklamasi, Omar memilih aktif dalam perjuangan bersenjata mempertahankan kemerdekaan ketimbang melanjutkan karier keaktorannya. Pada akhir 1945, Omar telah turut dalam pasukan bersenjata meski masih tergabung dalam sandiwara Pantjawarna. Omar masih turut dalam rombongan Pantjawarna ketika bermain di Bojonegoro pada 1946. Dari Bojonegoro mereka menggunakan keretaapi menuju Solo. Sebuah kejadian menegangkan lalu menimpa Omar dan rombongan Patjawarna. Belum lama menjauh dari stasiun, di tengah persawahan keretaapi mereka dihentikan oleh pasukan Republik. Gerbongpun diperiksa. Omar dan sejumlah artis seperti Basuki Djailani, A.R. Tantos, Corry de Jong hingga Mippi Maringga diperintahkan turun. Mereka kemudian digiring dan ditahan di sebuah rumah tua oleh pasukan Bambu Runcing. “Sangkaan yang dijatuhkan kepada mereka: mata-mata Nica. Yang paling disangka justru Omar,” tulis Tanu. Beruntung, beberapa orang kemudian mengenal mereka. Salah satu dari mereka ternyata adalah aktor S. Poniman. Akhirnya merekapun dibebaskan dan melanjutkan perjalanan ke Solo. Setelah secara resmi bergabung dengan Polisi Tentara (PT), tampaknya Omar melepaskan kegiatan-kegiatannya di dunia sandiwara. Omar pernah ditugaskan menyusup ke Jakarta yang tengah dikuasai NICA. Omarpun diburu NICA karena informasi bocor sehingga ia harus menyamar sebagai anggota Palang Merah Internasional. Ketika Pantjawarna hendak mengadakan pertunjukan di Magelang pada 1947, Omar menyempatkan untuk berkunjung. Omar pun diminta untuk turut bermain dan menyanggupi karena kawan-kawannya berharap dia bisa bermain sandiwara untuk terakhir kalinya. Omar bermain dengan ciamik. Penampilan itu menjadi klimaks dari karier kesandirawaan Omar. “Empat hari kemudian, kami menerima kabar bahwa ia gugur dalam pertempuran terhadap tentara Belanda di Kepanjen, Malang,” kata Djamaluddin Malik kepada Tanu. Omar disebut mengepalai satuan yang menyerbu Kepanjen. Karena terhimpit, Omar nekat masuk ke dalam gudang mesiu musuh dan meledakkannya. Omar tewas dalam peristiwa itu.

  • Di Balik Pengkhianatan Pangeran Muda Ariffbillah

    Kemarahan rakyat Banjar kepada Pemerintah Hindia Belanda memuncak setelah politik dalam negeri mereka diusik. Mereka dianggap telah mencampuri urusan naik dan turunnya takhta di Kesultanan Banjar. Lebih dari itu, bahkan menempatkan seorang penguasa boneka di takhta tertinggi kesultanan itu. Selama perang berlangsung, muncul tokoh-tokoh terkemuka yang menjadi harapan rakyat Banjar di medan pertempuran. Mereka berusaha keras mengusir para penjajah dari tanah airnya. Sebut saja Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, Haji Bajasin, Tumenggung Antaluddin, dan sebagainya. Di antara banyaknya tokoh yang menjadi pahlawan dalam Perang Banjar, ada seorang penguasa yang dicap sebagai pengkhianat oleh rakyat. Dia adalah Pangeran Muda Ariffbillah. Dia dianggap sebagai kaki tangan Belanda yang berusaha menghabisi Pangeran Hidayatullah dan mengacaukan jalannya perang. Namun di balik tindakan pengkhianatannya terdapat sebuah kisah yang tidak banyak orang tahu. Janji Setia kepada Belanda Serangkaian serangan dilancarkan rakyat Banjar pada 1860-an. Mereka menyasar pos-pos pertahanan Belanda di hampir seluruh wilayah Banjarmasin. Dalang di balik penyerangan tersebut, sebagaimana disebutkan Idwar Saleh dalam Lukisan Perang Banjar 1859-1865, adalah Pangeran Hidayatullah. Pemerintah Belanda pun mengeluarkan perintah penangkapan Pangeran Hidayat. Di tengah upaya tersebut, Pangeran Muda Ariffbillah muncul menawarkan bantuan. Disebutkan Hendrik Herman Juynboll dalam  Catalogus Van de Maleische en Sundaneesche , Ariffbillah merupakan penguasa dari Tjengal, Menunggul, dan Bangkalan. Dalam sebuah pertemuan di Banjarmasin, Ariffbillah menyatakan kesanggupannya menyediakan 2.700 laskar untuk menghadapi pasukan Pangeran Hidayat. Dia lalu meminta kepada Belanda untuk tidak melakukan tindakan apapun selama dirinya mengumpulkan kekuatan. “Pada waktu itu untuk mengumpulkan orang sebanyak 2.700 orang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi karena diketahui bahwa pengumpulan orang itu semata-mata adalah tindakan untuk mengkhianati Pangeran Hidayat,” demikian menurut buku Departemen Penerangan bertajuk  Republik Indonesia: Provinsi Kalimantan. Benar saja, pada waktu yang telah ditentukan Ariffbillah gagal mengumpulkan bala tentara sesuai dengan janjinya. Dia hanya mampu menghimpun 1.000 orang aja. Itu pun setelah disuap dengan mata uang dan mas, serta dijanjikan gelar bangsawan setelah Pangeran Hidayat ditangkap. Belanda yang kecewa secara tegas menolak tawaran Ariffbillah. Tidak berputus asa, Ariffbillah terus berusaha mengambil simpati  orang-orang Belanda. Kali ini dia mencoba mencari tempat persembunyian Pangeran Hidayat yang lokasinya jauh di dalam hutan dan tentara Hindia Belanda tidak mungkin dapat menemukannya. Setelah mencari cukup lama, ang pangeran muda itu berhasil menemukan keberadaan Pangeran Hidayat. Dengan tipu muslihatnya, Ariffbillah mampu meyakinkan Pangeran Hidayat untuk membukakan pintu baginya. Dia juga membawa berbagai macam persenjataan dan keperluan perang untuk pasukan pemberontak. “Pada waktu itu memang pasukan Pangeran Hidayat dalam kesukaran, terutama kekurangan alat-alat persenjataan. Sudah barang tentu tawaran dari Pangeran Muda dapat diterimanya dengan segala senang hati, bahkan tidak timbul kecurigaan dalam hatinya dengan maksud tujuan Pangeran Muda yang sebenarnya,” tulis buku tersebut. Ketika keduanya sedang berunding, Belanda tiba-tiba melakukan penyerbuan. Baik pihak Ariffbillah, maupun Belanda sama-sama tidak mengetahui rencana masing-masing sehingga tentang adanya Ariffbillah di tempat Pangeran Hidayat sama sekali di luar perkiraan tentara Hindia Belanda. Namun nyatanya penyerbuan itu pun tidak berjalan sukses dan berujung pada kekalahan para penyerang.  Orang-orang Belanda lantas menyalahkan Ariffbillah atas kegagalan tersebut. Dia dianggap tidak teliti dan ceroboh, bahkan sampai menyebabkan kecurigaan dari Pangeran Hidayat sehingga kekuatan para pemberontak semakin besar. Dia lalu diberi kesempatan terakhir oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menangkap Pangeran Hidayat. Siasat Pangeran Muda Penyerangan sebelumnya menjadi bumerang bagi Belanda. Pasukan Pangeran Hidayat semakin gencar menggempur pos pertahanan Belanda dan menciduk orang-orang yang diketahui bekerja untuk pemerintah kolonial. Tetapi anehnya, orang-orang Belanda mengetahui kalau Ariffbillah tetap aktif berkirim surat dengan Pangeran Hidayat. Kendati Pangeran Hidayat sadar penyerbuan ke tempatnya bisa saja karena pengkhianatan, Ariffbillah tetap dipercaya oleh Pangeran Hidayat. Dalam sebuah patroli, meski tidak mengetahui lokasi Pangeran Hidayat, Ariffbillah mendapatkan tempat persembunyian para pengikut sang pangeran. Dia juga membawa 135 orang di antaranya ke hadapan Belanda. Mereka dijanjikan pengampunan oleh Ariffbillah jika berhenti berperang dan menyerahkan senjatanya. “Akan tetapi ternyata Belanda berkeberatan memberi pengampunan kepada mereka. Belanda mungkir janji, ia tidak bersedia memberikan ampun kepada orang-orang tawanan itu, bahkan tidak memberi tanda jasa kepada Pangeran Muda, karena Belanda beranggapan setiap pemberontak harus digantung,” jelas buku yang dikeluarkan Departemen Penerangan awal 1950 itu. Ketika para tawanan hendak diadili di ruang persidangan, mereka melakukan perlawanan dengan merebut senjata para penjaga. Perlawanan berhasil diredam. Sejumlah tawanan menjadi korban, sementara lainnya berhasil melarikan diri. Orang-orang Belanda pun merasa curiga jika penyerahan tawanan sengaja dilakukan untuk peristiwa semacam itu. Mereka mulai memperhatikan gerak-gerik sang pangeran muda. Di Banjarmasin, Ariffbillah menuntut hadiah dari pemerintah Hindia Belanda atas jasanya menyerahkan para pemberontak dan memberikan informasi keberadaan para pengikut Pangeran Hidayat. Dia minta orang-orang Belanda menyerahkan pemerintahan sipil kepadanya. Ariffbillah lalu membuktikan bahwa dia bisa memerintah sesuai keinginan mereka, yakni dengan menaikan pajak di wilayah kekuasaannya dan di Margasari. Tetapi tindakan itu membuat rakyat Margasari marah. Mereka tahu bahwa Ariffbillah hanya boneka Belanda dan menolak diperintah olehnya. Bahkan ketika pimpinan tentara Belanda memerintahkan pembuatan benteng di Margasari, rakyat menolak bekerja selama Ariffbillah masih memerintah di sana. Para pemimpin tentara Belanda yang geram segera memanggil pulang Ariffbillah. “Pihak Belanda mengetahui bahwa Pangeran Muda tidak disenangi oleh rakyat dan untuk menghindarkan pertumpahan darah maka ia disuruh pulang ke Banjarmasin. Tetapi Pangeran Muda yang nampaknya seakan-akan mementingkan diri sendiri, adakalanya merugikan sangat kepada Belanda, bahkan bertentangan dengan kehendak Belanda sendiri,” ungkap buku tersebut. Ariffbillah mulai kehilangan kepercayaan pemerintah kolonial. Terlebih setelah dia diketahui melakukan pertemuan rahasia dengan pengikut Pangeran Hidayat. Bahkan pada suatu waktu dia pernah secara paksa melakukan kontrol ke kapal dagang Belanda tanpa izin pejabat pemerintah manapun. Dari waktu ke waktu tindakan-tindakan sang pangeran muda semakin mencurigakan. Dia kerap menghasut penguasa pribumi untuk tidak menandatangi kontrak baru dengan pemerintah Hindia Belanda. Hal itu pernah dilakukan Ariffbillah kepada Sultan Pasir. Diceritakan Arena Wati dalam  Syair Pangeran Syarif Hasyim al-Qudsi , sang pangeran muda menyarankan Sultan Pasir menolak kontrak dari Belanda jika isinya bukan hubungan persahabatan yang saling menguntungkan. Kejadian itu membuat pemerintah Hindia Belanda marah. Mereka memperingatkan Ariffbillah agar tidak mencari masalah. Mereka juga mengganggap sang pangeran muda “berkepala dua”. Orang-orang Belanda sudah tidak yakin bahwa dia masih memiliki niat baik. Ariffbillah sudah terlalu banyak mencari masalah dengan orang-orang Belanda. Puncaknya, pemerintah Hindia Belanda secara tegas memecat Ariffbillah dari jabatan pangeran di Tjengel, Manunggul, dan Bangkalan. Itu dilakukan setelah dia menolak memberi kekuasaan atas tanah kelahirannya kepada pemerintah kolonial. Dia juga menjadi tahanan Belanda di Banjarmasin, sebelum akhirnya diasingkan ke Surabaya pada Juli 1862. “Setelah ia menuju ke tempat pembuangan di Jawa barulah Belanda dapat mengetahui bahwa sebenarnya Pangeran Muda adalah menjalankan politik yang disalurkan oleh Pangeran Hidayat dan kerja sama dengan Belanda itu hanya sekedar untuk menipu Belanda saja,” tulis buku Departemen Penerangan. “Tetapi perbuatannya itu oleh sebagian besar rakyat dikira sebagai suatu perbuatan pengkhianatan,” lanjutnya. Setelah diasingkan ke Jawa, tidak ada yang tahu bagaimana nasib Pangeran Muda Ariffbillah. Apakah dia meninggal di pengasingan atau kembali ke tanah airnya, belum ada literatur yang menjelaskan hal tersebut.

  • Fernando Signorini "Si Buta" yang Setia Dampingi Maradona

    SUATU pagi di Stadio San Paolo pada musim panas 1985 jelang musim Serie A 1985-1986. Sejumlah pemain SSC Napoli berlatih skema permainan di setengah bidang lapangan. Namun sang bintang Diego Maradona tak ikut. Ia mengkhususkan diri latihan untuk menggenjot stamina di trek lari. Seiring Maradona mengayunkan kaki melintasi trek lari, sesosok pria kurus berkaus kuning, Fernando Signorini, dengan cermat menghitung waktu di jam tangan digitalnya. Setelah mencatatkan sesuatu di buku kecilnya usai Maradona selesai satu putaran, Signorini mengecek denyut nadi di leher Maradona. Begitu seterusnya hingga Maradona tumbang kelelahan. “Fernando Signorini, seorang master, seorang jenius. Fernando tidak hanya mengajarkan caranya berlatih kepada saya tetapi juga bagaimana caranya melatih pikiran saya,” kata Maradona dalam narasi   yang mengiringi footage   yang turut disajikan dalam film dokumenter Diego Maradona: Rebel, Hero, Hustler, God  (2019). Lantas, siapakah Signorini? “Si Buta” yang Setia Walaupun tak punya bakat sepakbola sedari lahir, Signorini tak mau jauh dari olahraga paling populer itu. Maka sejak mudapria kelahiran Lincoln, Buenos Aires, Argentina pada 7 Desember 1950 itu sudah bercita-cita jadi pelatih di dunia sepakbola. Diperguruan tinggi, Signorini memilih program studi pendidikan fisik. KarierSignorini mulai dikenal kalangan sepakbola Argentina setelah jadi teman dekat César Luis Menotti, pelatih Timnas Argentina ketika menjuarai Piala Dunia 1978,kalasang pelatih menukangi Barcelona (1983-1984). “Saat sedang di Barcelona, saya ingin menyaksikan sesi latihan tetapi tak bisa dapat akses. Sampai akhirnya ada seorang teman yang mengenali saya dan memberikan akses masuk. Dia yang mengenalkan saya kepada César. Sejak saat itu pintu (stadion) Camp Nou selalu terbuka bagi saya kapan pun saya mau datang,” tutur Signorini dalam wawancaranya dengan NTR Guadalajara , 12 September 2016. Maradona semasa di Barcelona di bawah asuhan César Luis Menotti. ( fcbarcelona.com ). Saat itu Signorini sudah mengenal Maradona. Perkenalan keduanya terjadi saat  Maradona sedang dalam perawatan akibat cedera engkel kiri pada September 1983. Keduanya kian akrab lantaran istri Signorini adalah instruktur tenis Claudia Villafañe (pacar Maradona) dan Lalo (adik Maradona). Pada suatu kesempatan, Claudia mengundang Signorini dan istrinya untuk bertandang ke rumah Maradona ketika sang pemain tengah dalam masa pemulihan. “Di saat itu juga Signorini ditawari pekerjaan sebagai pelatih pribadi Maradona melalui rekomendasi Claudia. Signorini mengatakan: ‘Saya bilang ke Diego jika merekrut seorang yang belum lama dikenal seperti saya sebagai pelatih pribadi, justru akan membuatnya terbuka pada kritik. Dia bilang tidak peduli dan dia butuh saya. Saya terkesima. Dia menawarkan pekerjaan yang paling diperebutkan semua orang , ’” ungkap Jimmy Burns dalam Maradona: The Hand of God. Signorini selalu mengecek denyut nadi Maradona pascalatihan stamina. (Instagram @signorinifernando). Sempat minta waktu untuk berpikir,Signorini akhirnya setuju mendampingi Maradona. Dia bahkanbersedia mengambil pekerjaan itu sampai durasi panjang tanpa hitam di atas putih. “Dia menawarkan saya untuk menandatangani sebuah kontrak dan saya katakan, ‘tidak.’Karena pekerjaan ini butuh hubungan dengan tingkat kejujuran yang besar, kesetiaan yang besar, jadi kami menghabiskan hampir 11 tahun tanpa menandatangani apapun dan tanpa harus mengklaim sesuatu di antara kami,” imbuh Signorini. “Si Buta” di Balik Kebintangan Maradona Selain berkat dokter tim, pemulihan fisikMaradona bisa lebih cepat berkat latihan-latihan kebugaran yang diberikan Signorini. Makameski cedera parah, Maradona sudah bisa kembali merumput tiga bulan kemudian. Ketika Maradona hijrah ke Napoli, Signorini sebagai pelatih pribadi turut serta. Berkat tangan dingin Signorinilah Maradona mengalami transformasi fisik dan staminauntuk menghadapi gaya permainan di Italia yang masih asing bagi Maradona. “Saya memulai persiapan diri secara fisik –saya paham bahwa untuk menang di sepakbola Italia, saya butuh (kondisi) tubuh yang berbeda. Bek-bek Italia tidaklah seperti bek-bek Spanyol. Saya harus beradaptasi secara perlahan dan di situlah peran pelatih fisik saya, Fernando Signorini, menjadi krusial. Saya memanggilnya dengan sebutan ‘ El Ciego ’ (si buta) karena dia tak bisa melihat seekor sapi di dalam kamar mandi, tetapi dia tahu lebih banyak tentang latihan fisik dari orang lain,” sambung Maradona dalam otobiografinya. Maradona (kanan) di musim kedua sudah dipercaya jadi kapten dan membawa Napoli meroket ke urutan tiga klasemen akhir Serie A 1985-1986. ( fifa.com ). Perlahan, Maradona mulai paham bagaimana caramenyimpan tenaga untuk memaksimalkan tekniknya. Setelah tiga laga pertama berseragam Napoli berakhir dengan hasil buruk, perlahan Maradona mulai mampu menaklukkan bek-bek Italia yang terkenal tangguh lagi keras. “Sepakbola Italia dimainkan dengan ritme berbeda. Permainannya lebih keras. Saya harus beradaptasi, menemukan kecepatan yang berbeda dan timing yang tepat. Saya harus bisa menyimpan tenaga. Karena jika saya berlari cepat maka teknik saya takkan berguna. Saya harus menemukan keseimbangan yang tidak mudah,” tambahnya. Hasil bimbingan Signorini sangat kentara di musim kedua Maradona.Sang bintang mengantarkan Napoli bertengger di urutan ketiga klasemen akhir Serie A 1985-1986. Maradona pun langsung jadi pujaan publik Italia. Namundi sisi lain, Maradona mulai sering foya-foya di kehidupan malam.Dia juga makin kecanduan kokain setelah punya hubungan dekat dengan mafia dari keluarga Giuliano. Maradona di Piala Dunia 1986 yang kondang dengan gol "Tangan Tuhan". ( fifa.com ). Pada titik itulah Signorini melihat anak asuhnya seolah punya kepribadian ganda, antara Diego dan Maradona.Signorini insyaf bahwa dia harus “menetralisir” fisik Maradona yang sudah tercemar narkoba dan memperbaiki gaya hidupnya serta pikirannya yang tak sehat jelang Piala Dunia 1986. Terlebih, pikiran Maradona mulai terusik kabar bahwa pasangan selingkuhannya, Cristiana Sinagra,mengandung anak Maradona. “Di musim kedua peta sepakbola Italia mulai berubah. Napoli berada di posisi tiga klasemen liga dan Diego sudah jadi penyerang top. Akan tetapi saya ingin memberi pengertian ke dalam kepalanya bahwa target utamanya adalah Piala Dunia. Ketika berangkat ke Meksiko Diego juga sudah tahu kehamilan Cristiana. Itu sangat mengganggu pikirannya. Beruntung, saya dibantu ayah Diego yang membuat Diego tetap bisa fokus,” u j ar Signorini. Di Piala Dunia 1986, Maradona diistimewakan pelatihTimnas Argentina Carlos Bilardo. Selain diperbolehkan tetap ditemani Signorini, dia juga diizinkan membawa terapisnya, Victor Galindes. “Sementara pemain lainnya menjalani program latihan ketat seperti biasanya, termasuk aturan istirahat dan jam rekreasi, Maradona diperbolehkan didampingi Signorini dan Galindes, serta izin untuk melakukan latihan yang fleksibel sesuai kebutuhannya demi menjaga pikiran positifnya. Bilardo mengatakan: ‘Saya sadar sedari awal bahwa dia harus menjalani latihan yang beda dari yang lain. Di skuad, ada Maradona dan ada para pemain yang lain,’” tambah Burns. Signorini (kiri) dalam ikut merayakan gelar Scudetto musim 1986-1987. (Instagram @signorinifernando). Hasil penganakemasan Maradona tak sia-sia. Argentina dibawanya juara Piala Dunia 1986 setelah di final mengalahkan Jerman Barat 3-2. Pencapaian Maradona makin sempurna ketika dia membawa Napoli meraihgelar pertamanya di Liga Italia pada 1986-1987. Publik Napoli pun dibuatnya bangga.Maradona makin “disembah”. Namun, pujian besar itu membuat Maradona makin terlena.Selain hura-hura, diakian dalam masuk ke lingkaran setan narkoba. Hal itu membuat Signorini khawatir pada anak asuhnya. “Sudah lama saya menyadari ada sosok Diego dan ada Maradona. Pemujaan terhadapnya membuatnya tidak nyaman. Dia merasa masih sebagai Diego, anak miskin dari Villa Fiorito. Tetapi dengan pemujaan seperti itu, (sosok) Maradona harus mengambil alih. Tetapi makin jelas lewat perilakunya bahwa kokain juga makin mempengaruhinya. Saya bilang padanya bahwa dia butuh bantuan. Maka saya bersama Claudia mendatangi sebuah klinik rehabilitasi. Saya juga melaporkan hal ini kepada Presiden (Napoli, Corrado) Ferlaino,” ujar Signorini. Kolase Signorini mendampingi Maradona melatih kebugaran fisik jelang Piala Dunia 1994. (Instagram @signorinifernando). Pekerjaan berat Signorini kian bertambah karena dia dituntut memulihkan kondisi fisik Maradona jelang Piala Dunia 1990 dan Piala Dunia 1994. Akibatnya, Signorini sampaiharus membawa Maradona ke sebuah tempat terpencil di Argentina jelang persiapanke Piala Dunia 1994. “Saya memilih sebuah tempat terpencil itu demi menggenjot semangat spartannya. Lokasinya tak punya TV yang bagus dan tanpa air panas. Satu-satunya kemewahannya sekadar radio kecil untuk mendengarkan musik dan siaran sepakbola. Saya ingat bicara pada Diego setibanya di tempat itu, jika dia ingin jadi pemain top lagi, dia harus mulai dari bawah, dari tempat seperti Villa Fiorito demi memiliki rasa lapar lagi,” lanjutnya. Sial, di Piala Dunia 1994 pascalaga penyisihan Grup D kontra Nigeria, 25 Juni 1994, Maradona tak lolos drug test dan dinyatakan positif terkandung zat terlarang di sampel urinenya. “Bukan hal mengejutkan urinenya mengandung jejak kokain. Semua orang sudah tahu kecanduannya. Tetapi otoritas sepakbola melihat hal itu sebagai kesempatan sempurna untuk menyingkirkannya,” kenang Signorini. Setelah Maradona, Signorini turut jadi pelatih fisik Juan Román Riquelme & Lionel Andrés Messi (kanan). (Instagram @signorinifernando). Ketika Signorini menyampaikan kabar bahwa Maradona disanksi, bukan main terpukulnya sang bintang. Di kamarnya di Babson College, Boston, Maradona tak berhenti meringkuk dan menangis histeris di lantai kamar mandi. “Ibarat dunia Diego runtuh seketika. Dia menangis dari jiwanya yang terdalam, benar-benar tak terkendali,” ujar Signorini mengingat momen itu. Sejak saat itu, kebintangan Maradona memudar. Setelah publik Italia di Piala Dunia 1990, kini seluruh dunia mulai membenci Maradona. Kendati begitu, Signorini setia di sisi Maradona. Dia terus mendampinginya sampai Maradona mengakhiri kariernya di Boca Juniors 1997. “Kehidupan Diego penuh hal luar biasa dan juga hal buruk. Diego tidak ada hubungannya dengan Maradona. Tetapi Maradona menyeret Diego ke mana-mana,” tandas Signorini .

  • Pertempuran di Bulan Ramadan

    Hari kedua puasa tahun 1946. Seksi Sarmada dari Batalion II Kemal Idris Divisi Siliwangi menerima informasi keberadaan tentara Belanda di sekitar Warungkondang, Cianjur. Letnan Sarmada bergerak membawa pasukannya untuk memeriksa kebenaran berita itu. Setibanya Seksi Sarmada di Cilaku, pasukan Belanda telah bergerak ke arah Cikancana. Seksi Sarmada pun meneruskan gerakannya ke arah Cikancana. Waktu sampai Cijoho sudah masuk magrib, saatnya buka puasa. “Mengingat tugas yang dihadapi, maka anggota-anggota Seksi Sarmada menunda saat berbuka puasa itu, apalagi tiba-tiba tampak seseorang di atas sebuah jembatan,” tulis Siliwangi dari Masa ke Masa . Karena hari sudah mulai gelap, tidak jelas apakah orang itu kawan atau lawan. Untuk mengetahuinya, pasukan Sarmada mengeluarkan teguran. “Jawaban atas teguran itu ternyata segera diperoleh, bukan berupa kata-kata tetapi berbentuk tembakan-tembakan gencar. Dengan demikian, dapatlah dipastikan, bahwa di situ terdapat kedudukan Belanda,” catat Siliwangi … Pasukan Sarmada yang berada dalam posisi siaga membalasnya dengan tembakan lebih gencar lagi. Terjadilah baku tembak. Pertempuran itu mengakibatkan di pihak Belanda jatuh beberapa orang korban. Sedangkan Seksi Sarmada berhasil merampas mortir dan sepucuk stengun beserta pelurunya. Sarmada kemudian kehilangan dua anak buahnya, Kopral Sahibun dan Prajurit Aminin yang ditugaskan melaporkan pertempuran itu ke induk pasukan. Mereka gugur terkena tembakan mortir Belanda yang membabi buta. Dua hari kemudian pada hari keempat puasa, Belanda melancarkan serangan pembalasan. Sekitar dua kompi pasukan Belanda menyerang Seksi Azil Haznam dari Kompi II Sujoto di Kampung Kebonpeuteuy, Gekbrong, Cianjur. Letnan Azil Haznam bersama enam orang anggotanya gugur. Pasukan Belanda yang merasa telah berhasil membalas dendam harus menghadapi serangan hebat dari seksi-seksi lain Kompi Sujoto. Siliwangi dari Masa ke Masa menggambarkan pertempuran itu: “Maka pada dini hari dari hari keempat bulan puasa tahun 1946 terjadilah pertempuran yang dahsyat antara pasukan-pasukan Belanda dengan kita. Pertempuran ini demikian hebatnya sehingga terpaksa dilakukan secara man to man antara anak-anak Siliwangi melawan serdadu-serdadu kolonial Belanda. Granat dari kedua belah pihak beterbangan dan meledak merobek-robek tubuh yang berada di dekatnya ataupun di sekitarnya untuk kemudian dipuncaki oleh pertempuran seorang lawan seorang, sampai pada popor bedil lawan popor bedil yang sengit tanpa ampun dan belas kasihan.” “Sampai di mana kerugian- kerugian yang diderita oleh kedua belah pihak tidak diketahui dengan pasti,” lanjut Siliwangi … “Satuan-satuan dari Kompi Sujoto , mengingat situasi, kemudian mengundurkan diri ke arah Sukalalang. ” Ketika Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, Seksi Sarmada ikut dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia dan Seksi Siradz berhasil membuat komandan batalion Mayor Maladi Jusufmenyerah. Dalam perjalanan karier militernya, Sarmada pernah menjabat komandan Kodim di Serang (kapten), Cianjur (kapten), Karawang (mayor), dan Sukabumi (letnan kolonel). Dia menerima penghargaan Bintang Kartika Eka Paksi Kelas III.

  • Baklava, Kudapan Pencuci Mulut Khas Turki

    Beberapa lembar adonan filo pastry yang tipis ditumpuk satu sama lain. Adonan pastry dibuat dari adonan tepung, air, minyak, cuka, dan kuning telur. Di antara lembaran itu diisi kacang-kacangan yang dicincang. Kacang pistachio, kenari, kacang tanah, atau kacang mede biasanya menjadi pilihan. Kalau bukan kacang-kacangan, bisa pula diisi dengan kurma, parutan kelapa, atau wijen. Sebagai pemanis, madu dan sirup gula disiram di atasnya. Lalu dipanggang untuk mendapatkan tekstur renyah adonan pastry tadi. Begitulah kira-kira proses membuat baklava. Rumit tetapi sebanding dengan rasanya yang renyah berpadu manis dan kacang yang gurih. Baklava menjadi kudapan takjil khas Turki kala Ramadan. Sebagaimana kata Michael Krondl, sejarawan kuliner, dalam Sweet Invention, a History of Dessert,  ia merupakan bagian integral dari budaya Turki.   “Ketika Anda mengunjungi rumah Turki, kemungkinan besar Anda akan disajikan baklava. Upacara pernikahan atau sunatan tidak akan lengkap tanpa makanan penutup. Selama Ramadan, Anda bisa menantikan baklava saat buka puasa,” tulis Krondl.  Sejarah penciptaan baklava panjang. Beberapa kelompok budaya mengklaim negaranya sebagai tempat lahirnya baklava. Timur Tengah, Mediterania Timur, Balkan, Turki, Arab, Yahudi, Yunani, Armenia, dan Bulgaria memperkenalkan baklava sebagai makanan penutup nasional mereka. Tak mengherankan mengingat semua wilayah itupernah menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman. Asal-Usul Baklava Tarun Kapoor, koki Amerika Serikat, berpendapat perkembangan yang terjadi di wilayah Timur Tengah dan Timur Dekat sedikit banyak mempengaruhi cita rasa baklava. Resepnya terus dimodifikasi dan diubah sesuai dengan preferensi makanan dan kebiasaan makan masyarakat.  “Wilayah ini telah menyaksikan banyak budaya dan peradaban tertua di dunia datang dan pergi, masing-masing memodifikasi baklava sesuai keinginan mereka,” catat Kapoor dalam Gulf Time s . Menurut Kapoor, orang Yunani punya peran dalam penciptaan teknik membuat adonan tipis yang menyusun lapisan baklava. Pedagang Armenia di jalur rempah dan sutra di perbatasan timur Kekaisaran Ottoman, kemudian menambahkan kayu manis dan cengkeh ke dalam baklava. Lebih jauh ke timur, orang Arab memperkenalkan air mawar dan air bunga jeruk. Asal nama baklava pun punya banyak versi. Kata baklava dikenal dalam bahasa Inggris pada 1650. Kata ini dipinjam dari bahasa Turki Ottoman. “Sejarawan Turki mengklaim asalnya dari Turki sedangkan beberapa lainnya mengatakan baklava mungkin berasal dari kata Mongolia, bayla , yang berarti mengikat atau membungkus,” jelas Kapoor.  Sementara orang-orang Armenia bersikeras kata baklava berasal dari bahasa Armenia, yakni bakh (prapaskah) dan halvah (manis). Kudapan di Istana Topkapi Meski begitu, koki yang bekerja di istana Ottoman berkontribusi besar pada penyempurnaan seni membuat baklava. Selama lebih dari 500 tahun dapur istana Ottoman di Konstantinopel menjadi pusat kuliner utama kekaisaran. Resep baklava terus disempurnakan, khususnya pada abad ke-15. Menurut Krondl, baklava pertama kali dicatat oleh Kaygusuz Abdal, seorang mistikus dan penyair Turki yang hidup pada paruh pertama abad ke-15. “Dua ratus baki baklava,” catat penyair itu. Disebutkan pula bahwa beberapa baklava itu dibuat dengan almond, sedangkan lainnya dengan lentil. Lalu ada pula laporan tentang baklava di dalam buku catatan dapur Istana Topkapi dari periode yang sama. Menurut laporan ini baklava dipanggang di istana pada 1473. Ini hanya 20 tahun setelah Turki merebut Konstantinopel. Kala itu penguasa Ottoman adalah Sultan Mehmed II atau Muhammad al-Fatih. Penguasa Ottoman ke-7 ini bertakhta pada 1444–1446 dan 1451–1481.  Satu dekade kemudian, keberadaan baklava tercatat kembali. Catatan hidangan yang disajikan saat pesta khitanan putra sultan menyebutkan: “bernampan-nampan baklava berlapis banyak, terbuat dari adonan pastry yang tipis”. Baklava yang identik dengan Ramadan bermula pada abad ke-16. Krondl menjelaskan, saat itu hari ke-15 bulan puasa, bernampan-nampan baklava disajikan dari dapur istana untuk pasukan Janissari. Janissari atau “Pasukan Baru” merupakan salah satu korps utama pasukan Angkatan Darat (Infanteri) Ottoman.  Tradisi itu kemudian dikenal sebagai Prosesi Baklava yang terus dilakukan sampai tahun 1826 , ketika pasukan Janissari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II. Kendati begitu baklava tetap ada di dalam menu masakan di dapur sultan. Sejarawan Turki, Arif Bilgin dan pakar gastronomi Ozge Samanci dalam “Ottoman Istanbul and Palace Cuisine in the Era of Mahmud II” yang terbit dalam II. Mahmud-Yeniden Yapilanma Sürecinde Istanbul/Istanbul in the Process of Being Rebuilt menulis bahwa di dalam buku masak Melceünt-tabbâhîn yang dicetak di Istanbul pada 1844, tertulis banyak informasi tentang variasi makanan yang membentuk masakan Istanbul di zaman Sultan Mahmud II. “Meskipun kitab terakhir dicetak enam tahun setelah Mahmud II wafat, ini adalah karya yang sangat berharga,” jelasnya.  Resep baklava tercatat dalam buku itu. Ada juga resep lokma dan manisan ringan seperti helva, muhallebi, dan puding buah. Pada perkembangan selanjutnya, baklava menjadi menu hantaran masyarakat kelas atas kepada teman atau tetangga. Saat itu pengaruh Kekaisaran Ottoman mulai memudar. Hingga abad ke-19, baklava masih dianggap sebagai barang mewah. Hanya orang-orang kaya yang bisa menyantapnya, bahkan sampai seabad kemudian ketika Kekaisaran Ottoman berakhirpada 1922. Gelar sultan Ottoman dihilangkan. Turki mendeklarasikan diri sebagai negara republik pada 29 Oktober 1923, ketika Mustafa Kemal Ataturk (1881–1938), seorang perwira militer, mendirikan Republik Turki yang merdeka. “Sampai hari ini, ungkapan yang sangat umum di Turki adalah ‘Saya tidak cukup kaya untuk makan baklava setiap hari’,” tulis Kapoor.  Karena baklava dianggap sebagai kudapan mahal, orang-orang Turki hanya akan memanggang baklava ketika ada acara khusus, seperti keagamaan atau pernikahan. “Baklava dikembangkan dari kue sederhana menjadi makanan penutup yang membutuhkan keterampilan untuk menyenangkan para pejabat dan orang kaya,” jelas Kapoor. Tapi kini agaknya telah banyak berubah. Orang bisa membeli bingkisan berisi baklava hanya dengan sekali klik. Bahkan orang Indonesia tak perlu harus ke Turki untuk mencicipi cita rasa baklava. “Anda dapat membeli baklava online kapan saja,” catat Kapoor.

  • Desersi TNI di Palagan Minahasa

    ANGGOTA pasukan elite Raider 400 (Kodam IV Diponegoro) Prajurit Satu Lucky Y. Matuan alias Lukius akhirnya resmi dianggap sebagai kelana yudha (desersi). Dalam keterangannya kepada pers, Asisten Operasi Kogabwilhan III Brigjen Suswatyo menyatakan bahwa pihaknya sudah memastikan bahwa Lukius telah lari dari kesatuannya dan bergabung dengan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Intan Jaya sejak beberapa hari lalu. “Kalau ketemu ya ditindak tegas karena dia sudah masuk kelompok ekstremis,” ujar Suswatyo seperti dikutip Kompas  (16/4). Aksi desersi yang dilakukan Lukius menjadi kasus kesekian kalinya dalam sejarah militer Indonesia. Terakhir, kala berlaga di palagan Aceh, TNI pun sempat kecolongan ketika diberitakan beberapa anggotanya membelot ke Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Salah satunya bernama Ahmad Kandang, yang kemudian menjadi salah satu panglima GAM legendaris. Saat meletusnya pembangkangan yang dilakukan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), di palagan Minahasa (Sulawesi Utara) pada 1958--1961, hal yang sama juga pernah dilakukan sekelompok anggota TNI. Kisah itu bahkan terbuhul dalam biografi Jenderal (Purn) L.B. Moerdani, Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan yang disusun oleh Julius Pour. Ceritanya menjelang terjadi perlawanan di Sulawesi Utara, sekira satu peleton (60-70 prajurit) pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang merupakan putra Minahasa, dicutikan oleh kesatuannya. Itu dilakukan agar saat pulang kembali ke barak dan asrama, mereka bisa melaporkan situasi obyektif di wilayah yang tengah menghangat tersebut. Namun belum habis masa cuti, pemberontakan Permesta keburu meletus. Terbawa oleh suasana di kampung halaman, mereka pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan pihak pemberontak dan mangkir untuk kembali ke Batujajar, basis RPKAD saat itu. “…kami terpaksa bertempur di pihak pemberontak, karena memang terjebak oleh keadaan,” ungkap Kopral Dua Nicholas Sulu, salah satu dari prajurit RPKAD itu. Menurut Benny, para eks RPKAD itu terbukti memainkan peran penting dalam tubuh ADREV (Angkatan Darat Revolusiener). Rata-rata mereka menjadi instruktur militer yang mumpuni bagi para gerilyawan muda Permesta. Bahkan kala menjalankan praktek, para pelatih eks RPKAD itu tak segan langsung memberi contoh dengan melakukan penyerangan solo terhadap iring-ringan konvoi TNI. Dalam penerapan pelajaran ini, sang pelatih tak jarang berhasil mendapatkan senjata rampasan dan sejumlah alat-alat militer berharga. Menurut Jopie Lasut, eks gerilyawan Permesta, salah satu hasil didikan eks RPKAD itu adalah para gerilyawan Permesta yang berbasis di wilayah Kakaskasen. Di sana hampir tiap waktu, para gerilyawan melakukan penghadangan terhadap konvoi TNI yang hilir mudik dari Manado ke Tomohon, Kawangkoan, Langoan, Amurang dan Bolaang Mangondow. Dari penghadangan itulah, mereka berhasil merampas banyak senjata dan peluru TNI. “Ternyata dua komandan kompi mereka adalah mantan bintara RPKAD yang cuti itu,” ungkap Jopie Lasut dalam otobiografi-nya, Kesaksian Seorang Gerilyawan Permesta—RPI. Di wilayah itu pula mereka pernah menghabisi satu peleton pasukan dari Kodam Brawijaya. Cara mereka menghadang pun terbilang sangat berani: bersembunyi di balik rerumputan atau bertiarap di tengah sawah yang jaraknya dari jalan besar hanya sekira 10—15 meter. “Kalau mereka dikejar, mereka tidak lari ke kampung lain, tapi hanya berputar ke ujung kampung dan kembali melakukan penghadangan di sana…” ujar Jopie. Tak jarang untuk menghadapi mereka, TNI harus menurunkan pasukan RPKAD. Justru hal itu menjadikan “kejengahan” tersendiri bagi pasukan yang ditugasi tersebut. Hal itu diakui sendiri oleh Benny Moerdani. “Pengalaman harus melawan para bekas anak buahnya sendiri ini yang sering membikin Benny tidak begitu enak perasaannya selama berlangsungnya pertempuran di wilayah Sulawesi Utara,” ungkap Julius Pour. Tentu saja di militer Permesta, para eks RPKAD tersebut mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Seperti halnya Kopral Dua Nicholas Sulu, dia diangkat menjadi Letnan Dua dan diserahi tanggungjawab memimpin sebuah peleton ADREV. Selain eks RPKAD, di tubuh Angkatan Perang Revolusiener (APREV) terdapat pula sejumlah kelana yudha yang berasal dari KKo-AL, Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT AU) dan sejumlah pilot pesawat tempur eks AU seperti Muharto dan Hadi Sapandi. Dari eks KKo AL tersebutlah seorang bintara bernama Jolly Manopo. Dia terkenal karena pernah melatih satu kompi gerilyawan Permesta di Langowan. Pasukan inilah yang kemudian termasyhur karena keberanian dan kecerdikannya hingga pernah suatu hari berhasil menghabisi satu peleton TNI.

  • Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon

    Balai Arkeologi Yogyakarta  menemukan naskah pegon di Salatiga pada 2019. Naskah pegon ini ditemukan di Nusa Tenggara Barat. Sempat ada upaya untuk membawa naskah pegon ini ke luar negeri. Beruntung kolektor benda kuno menyelamatkannya ke Salatiga. Peneliti menyakini naskah pegon itu tertua di Jawa, yang diketahui dari angka tahun yang terbaca di dalamnya, yaitu 1347 Masehi. Masyhudi Muhtar, peneliti arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, yang meneliti naskah pegon itu, menjelaskan pada bagian akhir naskah terdapat kalimat puji-pujian dan memohon pertolongan kepada Allah. Puji-pujian itu ditulis dalam bahasa Arab. Di bawahnya terdapat angka Arab yang dibaca 1347 ( bihamdillah wa ‘aunihi sanah 1347 M ), yang di bawahnya terdapat huruf  mim . “ Mim  dalam bahasa Arab itu meladiyah , artinya kelahiran, yang dimaksud di sini adalah kelahiran Nabi Isa AS, maka angka tahun ini diambil dari angka tahun Masehi,” kata Masyhudi  dalam diskusi daring berjudul “Beberapa Jejak Peradaban Asing di Jawa”, Kamis, 15 April 2021. “Jadi, meski naskah berhuruf Arab dari masa Islam, naskah ini memakai angka tahun Masehi, meskipun biasanya banyak yang memakai angka tahun Hijriyah,” lanjut Masyhudi . Tahun 1347 Masehi menunjukkan naskah ini dibuat pada masa Kerajaan Majapahit masih berjaya. Kala itu sudah banyak masyarakat Majapahit yang beragama Islam. Menariknya, naskah itu ditulis menggunakan pegon, yaitu tulisan berbahasa Jawa menggunakan aksara Arab atau huruf hijaiyah . Artinya, pegon sudah dikenal masyarakat Jawa pada abad ke-14. Jejak Awal yang Samar Ibnu Fikri, dosen Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, dalam laporan penelitiannya berjudul “Aksara Pegon: Studi tentang Simbol Perlawanan Islam di Jawa Pada Abad XVIII-XIX”, menjelaskan bahwa pegon menjadi sangat populer pasca masuknya Islam ke Nusantara. Sayangnya, menelusuri jejak awal pegon tidaklah mudah. Belum ada jawaban akurat soal kapan dan di mana aksara itu mulai digunakan. “Beberapa pendapat hanya memprediksi bahwa huruf pegon muncul pada sekira 1200-1300-an Masehi bersamaan dengan masuknya ajaran Islam di Indonesia,” tulis Fikri. Pendapat lain menyebut pegon muncul pada 1400-an. Penggagasnya Raden Rahmat atau Sunan Ampel di pesantren Ampel Denta, Surabaya. “Menurut pendapat lain, penggagas huruf pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon dan Imam Nawawi Banten,” tulis Fikri. Fikri sendiri meyakini pegon kemungkinan muncul setelah Islam masuk dan berkembang di Jawa pada abad ke-14. Waktu itu, aksara Jawa Kuno berangsur surut. Awalnya, pegon hanya digunakan oleh kalangan tertentu, seperti pujangga dan lingkungan keraton. “Di luar keraton, pesisir telah menggunakan bahasa Jawa yang telah dielaborasi dengan beberapa huruf hijaiyah sebagai representasi Islam,” tulis Fikri. Pegon kemudian semakin populer pada abad ke-18 hingga ke-19. Pada masa itu, karya-karya ulama di Jawa ditulis dengan pegon. Fikri menyebut ulama Jawa yang mempopulerkan pegon antara lain KH. Ahmad Rifa’i Kalisasak (1786–1878), KH. Sholeh Darat dari Semarang (1820–1903), KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang (1875–1947), Hasan Mustafa dari Garut (1852–1930), dan KH. Bisri Mustofa dari Rembang (1915–1977). “Hampir seluruh kitab mereka menggunakan huruf pegon. Dengan berbagai kajian mulai dari filsafat, teologi, hadis, fikih, tasawuf, tafsir dan nahwu-shorof (tata bahasa Arab),” tulis Fikri. Produk Akulturasi Fikri berpendapat karya-karya yang ditulis dengan pegon menjadi bukti hadirnya Islam dalam bingkai budaya dan kearifan lokal. Pegon merupakan produk akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal. “Hal ini bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang masih kental dengan kepercayaan sebelumnya,” tulis Fikri. Seiring berkembangnya Islam ke antero Nusantara, orang-orang di luar Jawa juga memakai huruf Arab untuk menuliskan bahasa mereka masing-masing. Misalnya bahasa Bugis di Sulawesi, bahasa Sunda di Jawa Barat, dan bahasa Madura. Sebagai produk akulturasi, pegon masih terjaga dan terlestarikan. Selain pegon, aksara Melayu atau Jawi juga digunakan oleh masyarkat Islam di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunai, dan Thailand Selatan. Fikri menilai kemunculan aksara-aksara itu sebagai barometer kemandirian Islam lokal di Nusantara, khususnya di Jawa sejak berabad silam.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page