top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tanaman untuk Penghijauan dari Relief Candi

    TIGA candi di Yogyakarta mendapat giliran untuk dihijaukan dan diperindah. Tanamannya dipilih berdasarkan referensi yang tersua dalam relief di dinding candi. Kegiatan Candi Darling From Home yang diluncurkan Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) menargetkan 10.000 pohon yang akan ditanami di kawasan Candi Sambisari, Candi Banyunibo, dan Candi Barong. Tanaman itu dipilih dari bibit pohon dan tanaman dari Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Djarum Foundation di Kudus, Jawa Tengah. Abdurrachman Aldila, program associate  Bakti Lingkungan Djarum Foundation, mengatakan pemilihan tanaman dilakukan berdasarkan kecocokan dengan karakteristik tanah lingkungan candi berada. “Candi berdiri di lahan dengan vegetasi berbeda. Jadi, proses pemilihan tanamannya cukup rumit,” kata Aldila dalam acara media gathering  Candi Darling From Home, Rabu,   7 April 2021 . Tanaman-tanaman yang dipilih kemudian diajukan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta untuk mendapat persetujuan. “Sesuai saran dari BPCB, kami harus memilih tanaman yang akarnya tidak terlalu merusak, menghindari tanaman yang memiliki buah dan menarik perhatian burung, dan memilih yang berbunga dan cantik,” kata Aldila. Kendati pemilihan tanaman cukup rumit, Aldila menjelaskan, candi di Jawa kebanyakan berdiri di tanah yang cukup subur. Karenanya banyak tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di lingkungan candi. “Tanaman yang kita pilih adalah tanaman-tanaman lokal dan tidak asing di daerah tersebut, jadi tidak mengganggu ekosistem lainnya di sekitar candi,” kata Aldila. Selain pertimbangan lingkungan, tanaman yang dipilih untuk penghijauan candi juga berdasarkan sejarah dan budaya yang ada pada candi. “Ada berbagai relief yang menceritakan tentang lingkungan di berbagai candi. Candi Darling memperhatikan relief-relief candi untuk mengetahui tanaman apa saja yang bisa ditanam di sekitar candi tersebut,” kata Aldila. Tanaman pada Relief Candi Beberapa candi menyimpan informasi jenis-jenis tanaman. Misalnya,   pohon mangga di relief cerita Kresnayana yang terpahat pada dinding Candi Wisnu, salah satu candi di Kompleks Candi Prambanan. Menurut arkeolog Hari Setyawan dalam “Prasasti dan Naskah Jawa Kuno sebagai Alat Interpretasi Penggambaran Jenis Tanaman pada Relief Cerita Candi Prambanan” yang termuat dalam Menggores Aksara ,  Mengurai Kata ,  Menafsir Makna , pohon mangga diketahui dari bentuk daun, arah tumbuh cabangnya, dan bentuk buahnya. Pohon mangga dan pohon waru juga terpahat di relief cerita Ramayana pada dinding Candi Siwa dan Brahma yang juga di Kompleks Candi Prambanan. Selain pada relief, informasi tanaman juga didapat dari data prasasti sezaman. Misalnya, pohon tanjung tersua dalam Prasasti Siwagrha (778 Saka/856 M). Prasasti Siwagrha diduga merupakan prasasti tentang pembangunan Candi Prambanan.   Di dalamnya disebutkan tentang pohon tanjung yang tumbuh di timur candi induk Siwagrha. Pohon mangga dan pohon tanjung menjadi dua jenis pohon yang ditanam di Kompleks Candi Prambanan pada program Candi Darling 2019. Selain itu, tanaman lain untuk menghijaukan kawasan Candi Prambanan  antara lain pohon t rembesi, flamboyan merah, flamboyan kuning, kecrutan, sawo manila, sawo kecik, melinjo, bodhi, nagasari, kepel, waru merah, kamboja putih, keben, maja, dan cassia javanica . Referensi tanaman juga ditemukan di candi lain. Misalnya,   tanaman asoka  atau  soka  ( Ixora Javanica ),   salah satu tanaman yang sering muncul dalam potongan kisah  Ramayana  di relief Candi Panataran di Blitar. Hingga kini, bunga  soka  masih bisa ditemui. Ia memiliki bunga merah bergerombol, kayu kehitaman, dan berdaun lebat. Selain tanaman hias, dalam relief juga terdapat tanaman budi daya, seperti pohon aren ( Arenga pinnata ) pada relief di pendopo teras Candi Panataran. Seniman pahat menggambarkannya: batang lurus menjulang, daun berhelai-helai, dan buah menggerombol dan menggantung. P ada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur, ada dua jenis tanaman: tanaman pertanian basah yaitu padi dan tanaman pertanian kering antara lain jagung, sukun, pisang, tebu, nangka, mangga, dan aren. “Relief ini sebenarnya harus kita pelajari, karena ke depannya bisa jadi referensi untuk kita. Di relief itu sudah tersematkan soal lingkungan. Jadi dengan ini masyarakat bisa belajar dari candi sekaligus sadar akan lingkungan,” kata Tania Anggriani Arbi, program associate  Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Zaimul Azzah, M.Hum, Plt. Kepala BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan pemeliharaan lingkungan cagar budaya seringkali terkendala pendanaan karena sifatnya tidak bergitu mendesak. Padahal, pelestarian dan pemeliharaan yang menjadi tugas pokok BPCB bukan hanya dilakukan pada bangunannya saja, melainkan lingkungannya. “Kegiatan Candi Darling turut membantu pemerintah dalam menjaga lingkungan dan melestarikan cagar budaya,” kata Zaimul. Candi Darling bisa menjadi wadah bagi generasi muda dan masyarakat luas untuk ikut serta memelihara lingkungan kawasan situs-situs bersejarah termasuk candi. Candi Darling From Home memungkinkan masyarakat luas khususnya generasi muda untuk ikut melestarikan lingkungan walau tetap berada di rumah.  Caranya, Tania menjelaskan, anak-anak muda dan masyarakat luas mengunggah kegiatan bertema peduli lingkungan di akun media sosial masing-masing, cantumkan tagar #CandiDarlingFromHome, dan   tag  akun resmi @siapdarling. Kegiatan cinta lingkungan bisa dengan cara menanam bibit, membawa tempat minum sendiri untuk mengurangi sampah plastik, berlari,   dan bersepeda. “Sekecil apapun usaha masyarakat untuk melindungi lingkungan kami tetap akan konversikan ke bibit tanaman dan pohon,” kata Tania. Setiap satu unggahan yang dibuat oleh masyarakat, penyelenggara akan menghitungnya sebagai donasi satu bibit pohon. Bibit donasi inilah yang akan menjadi tanaman penghijau di kawasan Candi Sambisari, Candi Banyunibo, dan Candi Barong. Kegiatan Candi Darling From Home dimulai sejak April 2021. Sejauh ini sudah ada 171 tanaman yang terkumpul dari target 10.000 tanaman. “Candi Darling From Home akan berhenti jika sudah mencapai 10.000 bibit tanaman,” kata Tania. Kegiatan ini merupakan kelanjutan program Candi Darling yang dijalankan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation sejak 2019. Program Candi Darling telah menghijaukan dan mempercantik beberapa candi di Indonesia di   antaranya Candi Prambanan, Situs Ratu Boko, Candi Ijo, dan Candi Gedong Songo. Dari kawasan Candi Prambanan, Gedong Songo, dan Ratu Boko program ini telah menanam sebanyak 11.037 tanaman semak berbunga. Program Candi Darling akan dilaksanakan hingga tahun 2025. “Sampai candi-candi di seluruh Indonesia habis dihijaukan,” kata Tania.*

  • Mempercantik Candi-candi di Yogyakarta dengan Semak Berbunga

    BAKTI Lingkungan Djarum Foundation melalui program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) meluncurkan kegiatan Candi Darling From Home. Kegiatan ini menantang masyarakat luas, khususnya generasi muda, untuk secara kreatif ikut melestarikan lingkungan di tengah situasi pandemi. "Biasanya kita menanam langsung. Tapi karena ada pembatasan kegiatan sejak 2020 maka diadakan Candi Darling From Home. Jadi, kita tetap bisa ikut melestarikan lingkungan walau tetap di rumah," kata Tania Anggriani Arbi, program associate  Bakti Lingkungan Djarum Foundation dalam acara media gathering Candi Darling From Home, yang diadakan secara daring, Rabu, 7 April 2021. Candi Darling From Home merupakan kelanjutan kegiatan Candi Darling yang sudah dijalankan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation sejak 2019. Program Candi Darling telah menghijaukan dan mempercantik beberapa candi di Indonesia di antaranya Candi Prambanan, Situs Ratu Boko, Candi Ijo, dan Candi Gedong Songo. Dari kawasan Candi Prambanan, Gedong Songo, dan Ratu Boko, program ini telah menanam sebanyak 11.037 tanaman semak berbunga. Kali ini, program Candi Darling From Home menargetkan partisipasi generasi muda sehingga bisa menghimpun tak kurang dari 10 ribu pohon dan tanaman. Pohon dan tanaman itu nantinya akan menghiasi area Candi Sambisari, Candi Banyunibo, dan Candi Barong di Yogyakarta. “Kita memulai dari candi-candi di Jawa Tengah dan DIY. Untuk saat ini, yang bisa kami tanami adalah ketiga candi ini,” kata Tania. Tania menjelaskan, untuk bisa berpartisipasi anak-anak muda dan masyarakat luas bisa mengunggah kegiatan bertema peduli lingkungan di akun media sosial masing-masing. Kemudian cantumkan tagar #CandiDarlingFromHome pada unggahan itu dan tag  akun resmi @siapdarling. Setiap satu unggahan yang dibuat oleh masyarakat, penyelenggara akan menghitungnya sebagai donasi satu bibit pohon. Nantinya bibit donasi inilah yang akan menjadi salah satu tanaman penghijau di kawasan Candi Sambisari, Candi Banyunibo, dan Candi Barong. Tania menambahkan, aksi dan wujud cinta lingkungan ini bisa juga dilakukan dengan kegiatan lari dan bersepeda. Kegiatan ini pun akan dikonversi menjadi satu bibit pohon. “Misalnya dengan menanam bibit, membawa tempat minum sendiri [untuk mengurangi sampah plastik]. Sekecil apapun usaha masyarakat untuk melindungi lingkungan kami tetap akan konversikan ke bibit tanaman dan pohon,” kata Tania. Seluruh bibit pohon dan tanaman berasal dari Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Djarum Foundation di Kudus, Jawa Tengah. Dari sana dipilih tanaman yang sesuai dengan karakteristik dan lingkungan ketiga candi. Abdurrachman Aldila, program associate  Bakti Lingkungan Djarum Foundation, menjelaskan, tanaman hias menjadi pilihan utama dalam program ini. Contohnya tabebuya, glodokan, bunga soka, rowelia, dan bayam-bayaman. “Lebih banyak ke tanaman hias, karena areanya tidak terlalu luas dan menambah estetika. Juga dipilih tanaman yang akarnya tidak merusak atau terlalu besar,” kata Aldila. Selama enam bulan setelah penanaman, Bakti Lingkungan Djarum Foundation masih akan melakukan perawatan terhadap tanaman-tanaman di kawasan candi. “Jika tanaman tersebut sudah bisa dilepas akan diserahterimakan ke BPCB. Jika tanaman tersebut mati, akan diganti dengan yang baru,” kata Aldila. Zaimul Azzah, M.Hum, Plt. Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta, mengapresiasi program ini. Menurutnya, Candi Darling telah ikut membantu pemerintah dalam menjaga lingkungan dan melestarikan cagar budaya. “Generasi muda harus kami libatkan dalam pelestarian cagar budaya. Candi Darling From Home menjadi sebuah solusi di kondisi pandemi Covid-19 ini, sehingga bisa menjangkau generasi muda yang lebih luas untuk memotivasi pelestarian lingkungan sekaligus merawat cagar budaya,” kata Zaimul. Kegiatan Candi Darling From Home dimulai sejak April 2021. Sejauh ini sudah ada 171 tanaman yang terkumpul dari 10.000 tanaman yang ditargetkan. “Candi Darling From Home akan berhenti jika sudah mencapai 10.000 bibit tanaman,” kata Tania. Tania menambahkan, program Candi Darling akan terus dilaksanakan hingga 2025. “Sampai candi-candi di seluruh Indonesia habis dihijaukan,” kata Tania.*

  • Diplomat Bagaikan Tahanan Kota

    KOLONEL M. Jasin menjabat Panglima Daerah Militer I/Iskandar Muda, Aceh, selama tiga tahun (1960–1963). Dia berhasil menyelesaikan gerakan DI/TII yang dipimpin Teuku Daud Beureuh. Pangkat Jasin pun naik menjadi Brigadir Jenderal dan mendapat penugasan baru sebagai Atase Militer di Moskow. Namun, sebelum bertugas di Uni Soviet, Jasin menjabat Kepala Departemen Masalah Pertahanan Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). “Setelah dua tahun bertugas di Seskoad, pada tahun 1965 Brigjen TNI M. Jasin menerima perintah dari pemerintah untuk berangkat ke negara Rusia bertugas sebagai Atase Militer (Atmil) pada KBRI Moskow,” demikian disebut dalam Sejarah TNI-AD 1945-1973: Riwayat Hidup Singkat Pimpinan TNI AD. Jasin mengatakan, dia seharusnya sudah berangkat ke Moskow pada 1963. Namun, dia harus menunggu kedatangan Brigjen TNI Harun Sohar yang akan digantikannya. “Pada waktu itu, hanya ada dua orang jenderal yang bertugas di luar negeri, yaitu di Amerika Serikat dan Moskow. Selain itu, berpangkat kolonel bertugas di Jerman, Inggris, dan negara-negara lainnya,” kata Jasin dalam memoarnya, “ Saya tidak Pernah Minta Ampun kepada Soeharto ”. Sopir Agen KGB Jasin berangkat ke Moskow pada Juni 1965. Sebagai diplomat, dia merasa tidak bebas bergerak. Pengawasan pemerintah sangat ketat. Tidak dapat keluar Moskow tanpa seizin pemerintah. Dia pernah dikejar mobil petugas ketika mencoba membawa mobil sampai ke perbatasan Moskow. Dia terpaksa kembali lagi. “Diplomat bagaikan tahanan kota,” kata Jasin. “Berbeda dengan di Indonesia, di mana orang asing bebas pergi ke mana mereka suka.” Jasin mempunyai seorang sopir orang Rusia. Orangnya baik, pintar, dan mengerti bahasa Indonesia. Belakangan, dia tahu dari asisten militernya, Subiyakto, bahwa sopir itu agen KGB. Itulah sebabnya, Jasin hanya bicara biasa-biasa saja dengan sopirnya. “Kabar terakhir saya dengar sopir saya itu ditemukan mati,” kata Jasin. Kemana pun Jasin pergi selalu dengan Subiyakto karena dia selalu diikuti orang tidak dikenal di Moskow. “Sampai belanja ke Belanda pun harus minta izin pemerintah, karena memang di Moskow tidak ada apa-apa,” kata Jasin. Sebagai Atase Militer dari Angkatan Darat, Jasin bertugas mencari informasi tentang kemiliteran. Namun, dia tidak boleh mencampuri urusan angkatan lain. Suatu kali, Jasin akan menemani Atase Militer Angkatan Udara Roesmin Nurjadin pergi ke Wladiwostok untuk melihat proyek AURI. Namun, dilarang pemerintah Uni Soviet. “Ternyata, sebagai Atase Militer AD, pemerintah Moskow melarang saya mencampuri urusan AU,” kata Jasin. Menurut Imran Hasibuan, dkk. dalam biografi Marsekal (Purn.) Roesmin Nurjadin, Elang dan Pejuang Tanah Air , Roesmin tiba di Moskow pada Agustus 1965. Dia mendapat tugas untuk memonitor semua kegiatan AURI yang berkaitan dengan Angkatan Udara Uni Soviet.  AURI kebanjiran alutsista canggih dari Uni Soviet, mulai dari pesawat Mig 15, Mig 17, Mig 19, Mig 21, hingga pesawat pengebom Il-28 dan TU-16. Sehingga, para penerbang AURI harus mengikuti latihan terbang di Negeri Beruang Merah itu. Jasin pulang ke Indonesia pada Desember 1965, sekitar tiga bulan setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dia menghadap KSAD Jenderal TNI Soeharto. Tanpa diduga, dia ditunjuk menjadi Panglima Brawijaya menggantikan Mayjen TNI Soemitro. Namun, pengangkatannya ditunda karena Jasin ditugaskan kembali ke Moskow untuk melakukan screening  (pembersihan) terhadap mahasiswa di Eropa Timur yang terindikasi mendukung G30S dan menentang Orde Baru. Jasin juga membawa pesan Jenderal TNI A.H. Nasution bahwa Roesmin Nurjadin sangat dibutuhkan. Roesmin kembali ke Indonesia dan diangkat menjadi KSAU menggantikan Omar Dani yang dituduh terlibat G30S.   Pada tahap pertama pembersihan, Jasin menindak 37 orang dari pegawai KBRI dan mahasiswa. Paspor mereka dicabut pada pertengahan tahun 1966. Sedangkan tahap kedua pembersihan pada November 1966, Jasin mencabut 115 paspor mahasiswa. Mereka kemudian disebut eksil. “Saya tidak hanya mengadakan screening  di Moskow, tetapi sampai pada mahasiswa di seluruh Eropa Timur. Saya tanyakan pada mereka apa cita-citanya, keinginannya, dll. Saya minta mereka mengisi formulir screening . Saya mengambil keputusan, bagi yang hasil screening -nya baik, saya siapkan paspor,” kata Jasin. Bagi yang tidak lulus screening , paspornya dicabut. Meng-orba-kan Jawa Timur Setelah menyelesaikan tugas screening , Jasin kembali ke Indonesia pada Desember 1966. Dia kemudian menjabat Pangdam VIII Brawijaya di Jawa Timur. “Sesuai dengan penugasan Jenderal Soeharto yang saat itu pejabat sementara presiden ketika melantik saya, bahwa pemerintah memerlukan seorang yang keras untuk meng-orba-kan Jawa Timur,” kata Jasin. Upaya Jasin meng-orba-kan Jawa Timur dengan melakukan pembersihan terhadap orang-orang Sukarnois dan komunis. Dia juga memimpin Operasi Trisula untuk menghabisi sisa-sisa PKI di Blitar Selatan. Dukungan terhadap Soeharto dan Orde Baru dikukuhkan dalam kebulatan tekad para panglima se-Jawa pada Oktober 1967 di Malang. Pertemuan yang dihadiri Panglima Kostrad dan Komandan RPKAD (kini Kopassus) ini kelanjutan dari rapat kebulatan tekad panglima se-Jawa pada 7 Juli 1967 di Yogyakarta. Isi pernyataan kebulatan tekad: pertama, mendukung Jenderal Soeharto dan melaksanakan cita-cita Orde Baru. Kedua, mengikis segala penyelewengan Orde Lama dan melaksanakan secara konsekuen cita-cita Pancasila dan UUD ‘45. Namun, beberapa panglima termasuk Jasin kemudian kecewa kepada Soeharto dan Orde Baru. Mereka dan para tokoh terkemuka menandatangani Petisi 50 untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan rezim Orde Baru. Soeharto tak terima dan menindak mereka yang menandatangani petisi itu. “Beberapa tokoh yang menandatangani pernyataan di atas akhirnya harus berhadapan dengan pemerintahan Soeharto, dan mereka harus menghadapi akibat-akibatnya, seperti yang terjadi pada [mantan Pangdam Siliwangi] H.R. Dharsono. Termasuk saya. Orde Baru tidak menjadi Orde Baru lagi untuk saya. Semuanya berubah dalam waktu yang begitu cepat,” kata Jasin.*

  • Target Pembunuhan Jamaah Imran

    MEMASUKI tahun 1981, Indonesia dikejutkan dengan berbagai aksi teror yang melibatkan Jamaah Imran. Nama itu mengacu kepada suatu kelompok Islam radikal pimpinan Imran bin Muhmmad Zein Sutan Sinaro. Sejarah mencatat, aksi teror mereka dipuncaki dengan penyerangan terhadap Pos Polisi Kosekta 8606 di Cicendo, Bandung dan pembajakan terhadap pesawat Garuda DC-9 Woyla pada 28 Maret 1981. Menurut Ken Conboy dalam Intel II: Medan Tempur Kedua , dari Januari hingga Februari 1981, para anggota Jamaah Imran sangat aktif menjalan upaya penyingkiran orang-orang yang dianggap akan menghalangi kerja-kerja jihad mereka. Kendati gagal total karena seluruh anggota jaringan Jamaah Imran keburu terciduk , namun sejatinya semua rencana itu sempat dijalankan secara serius. Bahkan setelah aksi gagal mereka membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla pada akhir Maret 1981, Im Im (panggilan akrab anggota jamaah tersebut kepada ketuanya) masih sempat memerintahkan agar para anggota-nya melakukan aksi balas dendam kepada pimpinan operasi penumpasan para pembajak yakni Letnan Kolonel Sintong Panjaitan. Berikut sebagian para tokoh agama, politik dan militer Indonesia yang rencananya akan dihabisi oleh anggota Jamaah Imran: K.H. Engking Zainal Muttaqin Kiyai Haji Engking Zainal Muttaqin merupakan ulama senior di Jawa Barat.  Kendati dikenal anti komunis dan pernah dipenjarakan oleh pemerintah Sukarno selama 5 tahun (1961—1966), dia dikenal sebagai tokoh Islam yang memiliki pemikiran keagamaan yang moderat. Demikian menurut buku Jejak Langkah, Cita, dan Alam Pikiran Dr. K.H. E.Z. Muttaqien  karya Agussalim Sitompul. Karena kerap menyiarkan pesan-pesan damai dan mengecam sikap ekstrim dalam beragama, Imam Im memandang Ajengan Engking (panggilan akrab K.H.E.Z. Muttaqin) sebagai ulama yang telah “melacurkan” diri kepada pemerintah Orde Baru. Dia juga menilai ceramah-ceramah Ajengan Engking hanya akan membuat umat Islam menjadi umat yang lemah. Kebencian Imam Im terhadap Ajengan Engking semakin bertambah saat dikabarkan sang ajengan diangkat sebagai penatar program politik pemerintah Orde Baru yakni Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Hal itu diucapkan secara langsung oleh Imam Im saat berceramah di Masjid Istiqomah Bandung pada Agustus 1979. “Model Muttaqin yang gila itu, kalau tahu dia (tidak) gila, mana mau dia ditatar (P4),” ujar Imran seperti dicatat dalam buku Imran dari Hukum Sampai Islam  yang ditulis dan diterbitkan oleh Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta. Tidak hanya cukup dengan mengecam dan menghina, Imran juga memerintahkan pengikutnya untuk membunuh Ajengan Engking. Hal itu pernah diucapkan Imran secara tidak langsung (lewat orang kepercayaannya) kepada salah seorang pengikutnya bernama Amsyurizal, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (UNISBA). “Imam memerintahkan (Ajengan Engking) untuk disandera terlebih dahulu, baru dibunuh,” ungkap lelaki kelahiran tahun 1959 itu. Amir Murtono Tidak jelas benar apa yang menyebabkan Jamaah Imran menyasar Mayor Jenderal TNI (Purn) Amir Murtono untuk dijadikan target pembunuhan. Bisa jadi ide itu tercetus karena nama Ketua Umum Golongan Karya (1973—1983) terdapat dalam selebaran gelap yang beredar di kalangan umat Islam pada akhir 1970-an. Disebutkan dalam selebaran tersebut, Amir bersama Menteri Penerangan Ali Murtopo telah mengadakan sejumlah pertemuan dengan Dewan Gereja Indonesia (DGI) dan Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) untuk secara sistematis menyingkirkan peran umat Islam dalam perpolitikan di Indonesia. Yang jelas, Imran telah memerintahkan Muhammad Jusuf (salah satu orang kepercayaannya di Mojokerto, Jawa Timur) untuk menghabisi nyawa Amir Murtono begitu dia pulang ke Surabaya. Perintah itu kemudian diteruskan kepada M. Amin alias Umar. “Saya diperintahkan oleh Muhammad Jusuf untuk bunuh Amir Murtono,” ungkap lelaki kelahiran Mojokerto pada 1956 itu. Namun untuk menyelidiki Amir Murtono, Muhammad Jusuf langsung melakukannya sendiri. Di hadapan pengadilan  yang menyidangkan kasus Imran pada Februari 1982, sebagai saksi Jusuf menyatakan telah diminta Imran untuk mengecek keberadaan Amir Murtono di rumahnya yang di Surabaya. “(Saya harus mengecek) kapan ia kembali ke Jakarta dan dengan pesawat apa, agar pesawat yang membawanya dapat dibajak,” ujar Jusuf. Ali Murtopo Sama dengan alasan untuk menghabisi Amir Murtono, motivasi rencana untuk membunuh Menteri Penerangan Ali Murtopo sepertinya tercetus dari adanya selebaran gelap yang menyatakan bahwa sang menteri sebagai otak di balik penghancuran umat Islam di Indonesia. Disebutkan oleh Imran bahwa Ali dianggap “berdosa” kepada umat Islam. Selain banyak mengobrak-abrik jaringan perlawanan Islam radikal, juga dia dianggap telah bersepakat dengan orang-orang Kristen untuk menyingkirkan orang-orang Islam dari kancah perpolitikan di Indonesia. Secara langsung, seorang saksi yang bernama Jacob Ishak, pernah mendengar Imran berencana akan memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh Ali Murtopo. Menurut perwira menengah Angkatan Udara yang terlibat dalam Jamaah Imran tersebut, aksi itu akan dilakukan oleh seorang kawan Imran yang bertempat tinggal di sekitar rumah Ali Murtopo. Bahkan lebih jauh Imran meminta kepada Jacob untuk menyediakan 10 pucuk senjata api. Namun permintaan itu ditolak. “Saya beritahu mereka, saya tidak sanggup,” ungkap saksi yang turut ditahan itu. Kolonel Sintong Panjaitan Pedongkelan, Jakarta, 2 April 1981. Begitu mendengar para pembajak pesawat Garuda DC-9 Woyla berhasil ditumpas Komando Pasukan Sandi Yudha Angkatan Darat (Kopassandha AD), Imran langsung melakukan pertemuan mendadak dengan sisa-sisa pengikutnya. “Imran tidak sudi menyerah, ia merencanakan aksi berikutnya,” ungkap Ken Conboy. Imran betul-betul marah kepada Kopassandha. Dia lantas memerintahkan kepada salah satu pengikutnya bernama Hisyam untuk membunuh Letnan Kolonel Sintong Panjaitan (Komandan Satuan Anti Teror Kopassandha) yang dianggap bertanggungjawab atas operasi penumpasan itu. “Kau! Hisyam! Harus menebus darah teman-temanmu yang telah mati syahid itu,” kata Imran seperti disampaikan oleh Jumardi, salah seorang saksi dalam persidangan Imran. Tidak sekadar memerintah, Imran pun ikut mengatur strategi rencana pembunuhan tersebut dengan memberikan saran agar Hisyam dan beberapa kawannya melakukan pengintaian terhadap rumah Sintong Panjaitan di Asrama Kopassandha Cijantung, Jakarta Timur “Kamu (nanti) melamar menjadi seorang pembantu agar dapat membunuh Komandan Pasukan Anti Teror itu,” ujar Imran. Dua hari setelah pertemuan itu, rencana awal pun mereka laksanakan. Namun sebelum pembunuhan itu terjadi, aparat keamanan keburu meringkus tim qisas (pembalasan) tersebut. Beberapa hari kemudian giliran Imran yang diciduk. Setahun kemudian, pada akhirnya sang imam pun harus tewas di hadapan regu tembak. Maka dengan gagalnya operasi qisas itu, gagal pula-lah seluruh mimpi Imran dan para pengikutnya.*

  • Koko Koswara, Pembaharu Karawitan Sunda

    DALAM Festival Pelajar dan Pemuda Sedunia di Moskow tahun 1957, tampil tiga orang Sunda memainkan karawitan Sunda. Ketiga seniman ini meraih medali emas dan perunggu. Mereka adalah Ety Rumiaty sebagai sinden, Parmis sebagai pemain suling, dan yang paling terkenal, Mang Koko, penyanyi sekaligus pemain kecapi. Mang Koko bukan pemain kecapi biasa. Ia merupakan pembaharu musik karawitan Sunda yang telah malang melintang sejak zaman revolusi. Karya-karyanya masih dipakai sebagai rujukan pengembangan musik Sunda modern. Koko Koswara lahir pada 24 November 1917 di Desa Indihiang, Tasikmalaya. Namun untuk keperluan pendaftaran sekolah, tanggal lahirnya tertulis 10 April 1917. Koko mendapat pendidikan Hollandsch Inlandsche II (HIS II) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Tasikmalaya. Semasa sekolah inilah Koko mulai mengembangkan permainan kecapi yang digemarinya sejak kanak-kanak. Setelah tamat, Koko bekerja sebagai pegawai tata usaha di Bale Bale Pemulagan Pasundan, Bagian Pendidikan dan Pengajaran dari Pengurus Pusat Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya. Pada 1940, Koko memutuskan pindah ke Bandung dan bekerja di Javasche Bank. Di Bandung, Koko membentuk band yang memainkan musik-musik Barat bernama The Yop Hawaian Band. Meski demikian, ia juga menggarap musik kecapi modern untuk mengisi siaran radio Volr  dan Perserikatan - Perserikatan Radio Ketimuran (PPRK). Kariernya sebagai pegawai selesai ketika Jepang datang pada 1942. Koko kemudian bekerja sebagai pengurus advertensi di harian Cahaya Shimbun yang dipimpin Otto Iskandardinata. Pasca kemerdekaan, Koko bergabung dengan Suara Merdeka Bandung, kemudian pindah ke Tasikmalaya. Pada 1946, Koko membentuk grup Kanca Indihiang yang mengembangkan kesenian Sekar Jenaka, hiburan rakyat yang memadukan permainan musik dan dialog-dialog jenaka. “Materi lagunya kebanyakan hasil ciptaannya sendiri, sedangkan lirik-lirik lagu yang diangkat umumnya bertemakan kritik sosial dan perjuangan,” tulis Tardy Ruswandi dalam Kawih Sunda Karya Mang Koko. Lantaran desakan tentara Belanda dan Sekutu, Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung harus diungsikan ke Tasikmalaya. Koko bersama Kanca Indihiangpun kerap mengisi siaran. Mereka juga mengisi siaran RRI Priangan Timur. “Maka pada tahun ini pulalah dia mulai memperkenalkan bakatnya itu dengan melalui corong RRI dengan lagu-lagunya yang bersifat mengobarkan semangat pemuda kita dalam melakukan perlawanan terhadap tentara Sekutu dan tentara Belanda,” tulis majalah Minggu Pagi , 14 Januari 1960. Selama masa revolusi, Koko mulai fokus pada modernisasi karawitan Sunda, mulai dari Juru Kawih (penembang, penyanyi) hingga penggubah dan pengarang lagu. Pada 1950, Koko kembali ke Bandung dan bekerja di Jawatan Penerangan Jawa Barat. Bersamaan dengan itu, ia mulai dikenal karena langgam-langgamnya yang khas dengan menambahkan lebih banyak dinamika pada lagu-lagu daerah Sunda. Ia dikenal sebagai pembaharu dan populer dengan nama Mang Koko meskipun kemudian mendapat respon negatif dari seniman-seniman golongan tua. Menurut Deni Hermawan dalam Etnomusikologi: Beberapa Permasalahan dalam Musik Sunda,  Mang Koko merupakan seniman yang memiliki minat humor yang tinggi, ceria, dan dinamis. “Tidak heran apabila lagu-lagunya dalam Kanca Indihiang banyak yang bertemakan kritik sosial yang disampaikan dengan humor dan dalam suasana ceria, misalnya lagu: Ronda Malem, Maen Bal, Resepsi, Badminton, Urang Kampung, dsb,” tulis Deni. Sifat humor dan cerianya juga direpresentasikan Kok dalam lagu anak-anak seperti “Eundeukeundeukan”, “Tokecang”, dan “Ulah Balangah” serta lagu remaja dan dewasa seperti “Mikangen Tengtrem”, “Sempal Guyon” dan “Mih”. Mang Koko juga mengembangkan seni musiknya di dunia pendidikan. Mula-mula ia mendirikan taman kanak-kanak Taman Murangkalih yang kemudian berganti menjadi Taman Cangkurilaeung, khusus anak SD kelas V dan VI. Kemudian pada 1954, ia mendirikan Rampak Sekar Setia Putra, pelatihan koor untuk pelajar sekolah lanjutan di seluruh Jawa Barat. Pada 1956, Koko membentuk ansambel Ganda Mekar yang sering pentas di Bandung dan mengadakan tur Jawa dan Sumatera. Kepopuleran Mang Koko membawanya ke Moskow sebagai perwakilan Jawa Barat dalam rangka Festival Pelajar dan Pemuda Sedunia pada 1957. Dalam festival itu ia meraih medali emas dan perunggu untuk pertunjukan seni musik “Cianjuran” dan kecapi suling. Nama besar Mang Koko menarik perhatian Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Menjelang Kongres Lekra I di Solo pada 1959, cabang-cabang Lekra di berbagai daerah mempersiapkan apa saja yang hendak mereka pamerkan dalam pesta kebudayaan itu. Kala itu, Njoto telah menyinggung mengenai kekayaan budaya daerah yang wajib ditampilkan. Cabang Lekra Jawa Baratpun melirik Mang Koko. “Selain intensif mendiskusikan calon Mukadimah dan Peraturan Dasar baru Lekra, mereka membawa serta Mang Koko dan ‘Wayang Bandung’, ‘Genjring Sulap Rakyat’ yang setara dengan ‘Akrobat Tiongkok’,” tulis Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan dalam Lekra Tak Membakar Buku. Sejak 1961, Mang Koko mengajar untuk Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung. Pada 1966 hingga 1972, ia menjadi direktur KOKAR. Ia juga mengajar untuk Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung hingga 1980. Selama hidup, Mang Koko telah menciptakan kurang lebih 500 lagu Sunda modern. Sekira 66 lagu telah direkam dalam piringan hitam dan kaset dengan iringan gamelan maupun band. Ratusan lagunya telah terhimpun dalam beberapa buku lagu. Koko Koswara mendapat Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1971. Pembaharu karawitan Sunda itu meninggal dunia pada 4 Oktober 1985.*

  • Monster Perempuan dan Ketakutan Laki-laki

    MEDUSA, pendeta Dewi Athena telah menarik perhatian para dewa di Olympus. Salah satunya   Poseidon. Sayangnya, dewa penguasa lautan itu tak luput dari nafsu. Dia memperkosa gadis itu di dalam kuil Athena.   Medusa yang malang. Daripada menghukum Poseidon, Athena justru marah kepadanya karena dianggap mencemari kuil. Bahkan, Athena mengutuk Medusa menjadi monster mengerikan sehingga tak ada laki-laki yang bakal menginginkannya lagi. Sang dewi perang itu mengubah rambut Medusa menjadi juntaian ular-ular berbisa. Siapapun yang melihat langsung ke mata Medusa,   seketika berubah menjadi batu. Di dunia Yunani Kuno, Medusa menjadi salah satu monster yang paling ditakuti. “Ia mendominasi mitologi Yunani Kuno,” catat Smithsonian Magazine .  Akhir hayat Medusa pun tak indah. Seperti kebanyakan monster di dunia Yunani Kuno, Medusa menemui ajalnya di tangan pahlawan laki-laki. Perseus membunuhnya. Perseus bisa membunuhnya karena mendapat bantuan dari dewa dan dewi. Hermes, sang dewa pembawa pesan, meminjaminya sandal bersayap. Hades, dewa penguasa dunia bawah, membekalinya topi tembus pandang. Dia juga mendapat perisai yang permukaannya seperti cermin dari Athena. Setelah membunuh Medusa, Perseus menjadikan kepalanya sebagai senjata dan menempatkannya pada perisai milik Athena. Selain Medusa, masih banyak mitos klasik yang berkisah tentang monster berwujud perempuan mengerikan mati di tangan pahlawan. Yang paling menonjol adalah mitologi Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno. Jess Zimmerman, kolumnis di The Guardian  dalam bukunya Women and Other Monsters: Building a New Mythology mencermati semua cerita tentang monster perempuan selalu digambarkan terlalu marah, terlalu licik, dan terlalu pintar. Mitos-mitos ini diceritakan oleh laki-laki. Misalnya, yang familiar berasal dari penyair Romawi bernama Ovid. Ada pula Homer, salah satu penyair terpenting yang melahirkan epos Iliad dan Odyssey. Pun Hesiod yang hidup di sekitar masa yang sama dengan Homer. Masyarakat modern mengenal beberapa di antaranya Sphinx dari drama Oedipus gubahan Sophocles yang hidup sekira 496–406 SM. Ada pula Sirens dalam dongeng Odyssey yang bercerita tentang perjalanan Odysseus, raja Ithaca. “Apa yang akan dikatakan Medusa tentang kemalangan yang ia alami sebagai hukuman yang tak adil? Apa yang terjadi ketika kita mengeluarkan Sphinx dari drama Oedipus dan membiarkannya ada sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar penghalang pria? Bagaimana dengan Sirens ketika harus melihat semua orang yang mencoba mencintai mereka mati tenggelam?” tulis Zimmerman.  Laki-laki Penjaga Tatanan Dunia Sepanjang sejarah manusia dan di semua masyarakat kuno, perempuan memiliki kekuatan signifikan, aktif menopang kehidupan. Di Indonesia, Dewi Sri identik dengan dewi ibu atau dewi kesuburan. Ada pula Dewi Hariti yang dipuja sebagai dewi kesuburan dan pelindung anak.  Begitu juga di kawasan sekitar Mediterania, tempat lahirnya peradaban-peradaban kuno. Masyarakatnya memiliki beragam ekspresi simbolik feminin. Misalnya, masyarakat prapertanian Yunani, bergantung pada Gaia, dewi perwujudan dari bumi dalam mitologi Yunani sebelum era kepemimpinan Zeus. Namun, itu berubah seiring perkembangan zaman. Kepemimpinan Zeus sebagai raja para dewa kemudian mendominasi kepercayaan bangsa Yunani Kuno seakan dihubungkan dengan hadirnya stabilitas dunia. Begitu pun di antara manusia, muncul pahlawan yang akan membawa tatanan sosial dengan membersihkan bumi dari makhluk-makhluk mengerikan.  Debbie Felton, peneliti cerita rakyat dalam sastra klasik khususnya tentang supernatural dan monster, punya pendapat terkait itu. Dalam “Rejecting and Embracing the Monstrous in Ancient Greece and Rome” yang terbit dalam  The Ashgate Research Companion to Monsters and the Monstrous , Felton menerangkan bahwa orang Yunani secara teratur mengidentifikasi perempuan dengan keliaran alam yang didefinisikan oleh orang Yunani sebagai apa pun yang ada di luar batas yang teratur. “Monster dalam mitos Yunani cenderung mewakili kekuatan tak beradab dan tanpa hukum, seperti halnya elemen alam liar yang sering diwakili oleh perempuan mengerikan,” kata Felton. “Unsur-unsur ini untuk ditaklukkan dan digantikan oleh laki-laki pembawa budaya.” Contohnya, dongeng Perseus, tokoh pahlawan dari generasi paling awal. Termasuk juga Bellerophon dan Heracles atau Hercules menurut sebutan Romawi. “Mitos awal ini mencerminkan tema masyarakat yang lebih muda dan patriarkal yang menggantikan dunia yang lebih tua,” kata Felton.  Dalam dongeng, setelah membunuh Medusa, Perseus melewati Ethiopia di mana dia melihat putri Andromeda dirantai ke batu. Sang putri akan dikorbankan untuk menenangkan monster. Perseus membunuh makhluk itu dengan pedangnya. “Dengan demikian, dengan memegang lambang budaya yang lebih beradab [pengerjaan logam menjadi pedang], Perseus membuktikan dirinya sebagai pembela masyarakat yang layak,” jelas Felton. Pun dalam dongeng Odiseus. Perjalanan pulangnya dari perang melawan pasukan Troy tak berjalan mulus. Dia dan pasukannya kena marah dewa karena telah menghancurkan kuil-kuil mereka saat membumihanguskan Troy. Amukan para penghuni Gunung Olimpus pun membuat armada Odiseus terombang-ambing di lautan selama sepuluh tahun.  Dalam perjalanannya itu, Odiseus harus berurusan dengan berbagai monster. Di antaranya Sirens. Dalam tradisi pasca-Homer, Sirens digambarkan sebagai perempuan yang memiliki cakar seperti burung. Sirens memikat para pelaut dengan nyanyiannya yang mempesona hingga mereka tak sadar menenggelamkan diri dan mati. “Selain mencerminkan konflik laki-laki dan perempuan yang kita lihat sebelumnya, Sirens juga, mungkin lebih bisa, mewakili bahaya perjalanan laut, bagaimana pelaut tidak boleh membiarkan diri mereka lengah,” tulis Felton. Ada juga Sphinx, sosok yang populer di Mesir, Asia, dan Yunani. Ia digambarkan sebagai campuran dari berbagai makhluk. Di Mesir Kuno, Sphinx adalah patung bertubuh singa penjaga Piramida Agung Giza yang dibangun sekira 2.560 SM. Kemungkinan dirancang sebagai simbol kekuasaan laki-laki. Pada abad ke-5 SM, penulis drama Sophocles menulis kisah Sphinx dalam drama Oedipus Rex sebagai monster betina dengan tubuh kucing, sayap burung, yang memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan. Sphinx bakal melahap siapa saja yang tak bisa menjawab teka-teki dengan benar. Sampai Oedipus bisa menjawab teka-teki itu. Sphinx putus asa dan menjatuhkan diri ke kematian. Ketakutan Laki-laki Kisah-kisah tadi mungkin terdengar fantastis pada masa kini. Tapi sebagai produk imajinasi, makhluk menyeramkan yang diciptakan orang-orang kuno itu menjawab pertanyaan soal apa yang pernah sangat ditakuti manusia pada suatu masa. Makhluk seperti Medusa dan Sirens berada di antara banyak kisah lain yang bercerita tentang ketakutan pria terhadap potensi destruktif perempuan. Awalnya Medusa seorang gadis jelita, tapi akhirnya dianggap berbahaya. Sementara Sphinx, tulis Zimmerman, adalah kesimpulan logis dari budaya yang menghukum perempuan karena menyimpan pengetahuan untuk diri mereka sendiri. “Pengetahuan adalah kekuatan, itulah mengapa dalam sejarah modern, laki-laki mengecualikan perempuan dari akses ke pendidikan formal,” jelasnya. Karenanya, sebagaimana pendapat Felton, sampai batas tertentu, mitos memenuhi fantasi laki-laki untuk menaklukkan dan mengendalikan perempuan. Ini jelas terlihat dalam mitologi Yunani yang berulang kali menampilkan monster berciri perempuan mati ditaklukkan oleh dewa dan manusia (laki-laki). “Kekuatan, tatanan, peradaban, dan patriarki pasti berlaku dalam pemikiran Yunani,” jelas Felton. Zimmerman menyebut bahwa monster perempuan memperkuat ekspektasi tentang tubuh dan perilaku perempuan. “Perempuan telah menjadi monster, dan monster telah menjadi perempuan, dalam kisah berabad-abad,” catatnya. Menurutnya, cerita adalah cara untuk menyandikan harapan dan meneruskannya. Bagaimanapun Yunani memiliki pengaruh pada sastra dan seni masa Renaisans. Lalu seni dan sastra Renaisans juga punya pengaruh besar pada gagasan masyarakat masa kini. Mungkin itu pun menjelaskan mengapa banyak hantu mengerikan yang legendaris di Asia, khususnya Indonesia, berwujud perempuan.*

  • Percy Pantang Kibarkan Bendera Putih

    PERGI ke gereja dan menggarap pertanian milik keluarga turun-temurun di Bruno, Saskatchewan, Kanada jadi rutinitas sehari-hari Percy Schmeiser (diperankan Christopher Walken). Namun ketenangan kehidupan petani sederhana berusia 73 tahun itu dan istrinya, Louise (Robert Maxwell), pada suatu siang di bulan Agustus 1998 terusik dengan datangnya sebuah surat. Setelah membacanya dengan cermat, raut wajah hangat Percy langsung berubah 180 derajat. Surat itu berisi tuntutan hukum perdata dari Monsanto Canada Inc. Percy dianggap telah menyimpan dan menggunakan bibit canola GMO (Genetically Modified Organism) yang telah dipatenkan Monsanto tanpa izin oleh produsen bibit bioteknologi raksasa itu. Kebingungan, Percy pun mencari bantuan pada pengacara lokal Jackson Weaver (Zach Braff). Dari detail surat tuntutan yang dikaji sang pencara, intinya Percy diklaim telah mencuri bibit canola dari Monsanto yang dipatenkan. Percy jelas makin bingung karena tak merasa mencuri. Selama ini Percy menggarap tanaman canola dengan bibit yang ia kembangkan sendiri. Ia mengaku tak mengerti soal paten bibit GMO. Bibit paten itu jika disemprot herbisida merek Roundup Ready produksi Monsanto, hamanya akan mati tanpa rusak tanaman canolanya. Dalam surat itu disebutkan juga bahwa Monsanto berniat untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan jika Percy mengakui bahwa musim panen tahun 1997 ia “mencuri” bibit GMO Monsanto. Monsanto juga menuntut Percy membayar ganti rugi atas pelanggaran paten itu sebesar 19 ribu dolar serta menyerahkan semua bibit yang ia miliki di gudang pertaniannya. Adegan Percy dan istrinya yang mengembangkan bibit canolanya sendiri. (Mongrel Media). Konflik yang membuat geram Percy dan keluarganya itu jadi pembuka drama biopik bertajuk Percy garapan sutradara Kanada-Amerika Clark Johnson. Sang sutradara tak ingin menunda untuk meningkatkan emosi penonton. Adegan beringsut pada sikap Percy yang enggan berkompromi. Ia memberanikan diri membawa isu tersebut ke meja hijau. Problemnya makin pelik ketika Monsanto menyewa tim kuasa hukum beken yang dipimpin Rick Aarons (Martin Donovan). Percy kian runyam ketika Monsanto menyewa dua mantan polisi sebagai detektif partikelir yang berupaya mempengaruhi bahkan sampai mengintimidasi para petani lain di Bruno agar tidak berdiri di belakang Percy. Tetapi Percy tak sendirian. Selain didampingi Jackson, ia mendapat simpati dari Rebecca Salcau (Christina Ricci), aktivis LSM People for Enviromental Protection (PEP) yang berbasis di Amerika Serikat, yang mulanya dicurigai Percy. “Semua tentang gandum. Jika Monsanto menang, mereka juga pasti akan mencoba membuat bibit gandum GMO dan itu tidak baik untuk lingkungan dan kesehatan. Kasus Anda akan jadi sejarah dan penentu,” terang Rebecca. Sadar tak punya banyak pendukung, Percy pun menerima bantuan Rebecca yang berencana membawa kasus klasik “David vs Goliath” itu ke pers, forum-forum diskusi di Amerika, bahkan dalam forum global di India. Donasi dari orang-orang yang bersimpati silih-berganti berdatangan demi menutup kerugian dan kesulitan ekonomi Percy. Pasalnya sejak dua tahun kasusnya berjalan di pengadilan tingkat distrik hingga tingkat provinsi, ia tak bisa lagi menggarap lahannya. Kolase karakter aktivis Rebecca Salcau (kiri) & pengacara Jackson Weaver yang membela Percy melawan Monsanto. (Mongrel Media). Selain intimidasi pihak Monsanto makin mempengaruhi istri Percy, semakin lama persidangan berjalan, tuntutan Mosanto kian meningkat. Sampai dua tahun persidangan, tuntutan perdatanya melonjak hingga 1,2 juta dolar. Sempat terbersit di pikiran Percy untuk menyerah karena jika kalah, tuntutan tinggi itu otomatis akan membuatnya bangkrut lantaran rumah, gudang pertanian, dan lahan pertanian yang diturunkan dari leluhurnya akan disita. Namun, Percy teringat lagi akan surat-surat dukungan kepadanya nan menyentuh hati. Surat-surat itu dari sesama petani di Kanada, Amerika, bahkan petani Pakistan dan India yang jadi korban kerakusan perusahaan raksasa macam Monsanto. Ia juga berkaca dari nasib lebih pedih petani di India yang dihancurkan utang akibat keserakahan perusahaan besar. Bagaimana perjuangan Percy memantapkan hati meneruskan kasusnya ke tingkat mahkamah agung dan bagaimana buah dari keteguhan hati Percy melawan Monsanto berikut banyak intrik di dalamnya? Baiknya Anda tonton sendiri biopik Percy di aplikasi daring Mola TV . Bukan Sembarang Petani Latar belakang Percy sebagai petani dari kota kecil Bruno digambarkan jelas sutradara Clark sedari awal film dengan beberapa pengambilan gambar eye level menggunakan metode konvensional dan bird eye menggunakan drone . Hasilnya berupa scene lahan pertanian luas dengan tone gambar terang. Diiringi irama musik country sebagai music scoring- nya, suasana kota terpencil di wilayah yang berbatasan dengan area Midwest (Montana dan Dakota Utara) Amerika Serikat itu makin terasa. Secara keseluruhan Percy dipuji para kritikus sebagai film yang berhasil menarik emosi penonton terlepas dari gaya cerita klasik “David vs Goliath”. Kritikus Garnet Fraser dalam kolomnya di Toronto Star , 8 Oktober 2020, menyanjung penampilan tiga aktor utamanya: Christopher Walken, Christina Ricci, dan Zach Braff. Pujian juga dialamatkan pada selipan yang membuat cerita lebih berwarna, seperti saat Percy ke India untuk jadi pembicara di forum global tentang perlawanan terhadap perusahaan sejenis Monsanto. “Walken, Braff, dan Ricci meningkatkan emosi yang ada dalam naskah. Terlepas dari sisipan perjalanan yang berwarna ke India, sebenarnya tidak ada hal lain yang luar biasa. Sutradara dan kameramen Luc Montpellier memang memberikan kita penggambaran pertanian yang membentang, namun adegan-adegan di ruang pengadilan justru mengecewakan secara visual dan mengurangi keseruan pertarungan yang penting itu,” tulis Fraser. Kritik lain adalah soal detail penggambaran latar belakang Percy. Sang sineas sama sekali tidak menghadirkan alasan mengapa sosok Percy jadi sosok yang sangat dihormati dan berpengaruh di kota Bruno. Sutradara Johnson seolah diburu durasi hingga langsung menyajikan pertarungan Percy vs Monsanto di pengadilan. Padahal, Percy bukanlah petani sembarangan. Sebelum adanya kasus itu, Percy adalah walikota Bruno periode 1966-1983 sekaligus petani canola. Percy juga pernah terpilih sebagai anggota Majelis Legislatif (MLA) Provinsi Saskatchewan periode 1967-1971 mewakili Partai Liberal Saskatchewan. Sosok asli Percy Schmeiser (kanan) & istrinya, Louise. ( Mary Lou Schechtel/Mongrel Media). Selama menjadi anggota legislatif, Percy menjadi anggota Komite Bendera di MLA yang menentukan bendera Provinsi Saskatchewan. Bendera berwarna dasar hijau dan kuning berhias sekuntum bunga lili di sisi kanan dan lambang provinsi di sisi kiri itu didesain Anthony Drake, seorang guru asal Inggris yang mengajar di Hodgeville, Saskatchewan pada 1966. “(Desain bendera Drake) memberi kehidupan bagi warga Saskatchewan untuk diperlihatkan ke seluruh dunia. Bendera itu memberikan kami sesuatu untuk bisa dipertunjukkan pula ke seantero Kanada, bahwa kami sangat bangga pada warisan leluhur kami,” ujar Percy dalam rangka 50 tahun penetapan bendera itu, dikutip Global News , 19 Juli 2019. Bibit Kematian Insight lain yang disajikan Johnson adalah perkembangan industri pertanian di akhir abad ke-20 yang hendak dimonopoli Monsanto. Johnson menggambarkannya secara lugas dan padat dalam adegan Percy mengunjungi India. Johnson ingin memberikan pemahaman lebih dalam kepada penonton tentang isu perkembangan bibit GMO. Bibit tersebut di satu sisi menggendutkan laba perusahaan bioteknologi pertanian, namun di sisi lain menggencet kaum petani, bahkan berimbas pada bunuh diri massal petani India pada 1995. Memang faktanya Percy sebagai aktivis tidak secara langsung terlibat mendampingi para petani di India. Namun kasusnya melawan Monsanto jadi satu kasus yang menginspirasi gerakan perlawanan terhadap bibit GMO. Percy sampai disanjung sebagai pahlawan bahkan sampai India dan Pakistan. “Pada akhirnya kami juga belajar dari orang India bahwa mereka juga sangat memuja (Percy) Schmeiser. Para petani mengenal siapa dia, mereka punya banyak cerita terkait industri pertanian. Itu sangat mencerahkan kami dan saya percaya hal itu jadi nilai tambah cerita (dalam film),” tutur Johnson kepada Planet S Magazine , 22 Oktober 2020. Kisah tentang bunuh diri massal para petani kapas di India sebetulnya tak hanya terjadi medio 1995 hingga awal 2000-an sebagaimana yang disuguhkan dalam Percy. Kisah getir serupa pernah terjadi pada 1870-an meski penyebabnya berbeda. Pada era 1870-an, para petani kapas bunuh diri karena frustrasi diterpa utang pajak tanah yang tinggi. Keadaan mereka diperparah oleh bunga selangit dari para rentenir. Buah dari kondisi itu adalah Kerusuhan Dekkhan (Mei-Juni 1875) yang dilakukan para petani di 30 desa di Maharashtra dengan target para rentenir. Pemerintahan kolonial Inggris menjawabnya dengan mengeluarkan Dekkhan Agriculturists’ Relief Act pada 29 Oktober 1879. Intinya legislasi itu adalah para petani yang tak bisa membayar utang tak bisa lagi langsung dipenjara. Data NCRB terkait kasus bunuh diri massal petani di India 1995-2015. (NCRB). Kendati begitu, insiden bunuh diri petani tak serta-merta hilang. Setelah India merdeka pun kasus bunuh diri petani gegara jeratan utang masih terjadi di Tamil Nadu (1966) dan Bengali Barat (1979). Angka bunuh diri petani melonjak drastis sejak 1995, di mana hal itu berkaitan dengan Monsanto. Data Biro Catatan Kriminal Nasional India (NCRB) yang dirangkum People’s Archive of Rural India menunjukkan, dalam rentang waktu 1995-2015 ada 296.438 petani yang melakukan bunuh diri. Sekira 60 ribu di antaranya terjadi di Negara Bagian Maharashtra yang mayoritas adalah petani kapas. Mengutip “Farmer-Suicide in India: Debating the Role of Biotechnology” karya Gigesh Thomas dan Johan de Tavernier yang dimuat di Jurnal Life, Sciences, Society and Policy edisi 13 Desember 2017, petaka itu bermula dari perkembangan bibit kapas rekayasa genetika GMO bernama “Bt Cotton” oleh Monsanto pada 1990. Di tahun yang sama, Monsanto berusaha mengajukan uji coba lapangan bibit Bt Cotton di India walau kemudian ditolak Departemen Bioteknologi India. “Akan tetapi pada 1995, (perusahaan pertanian India) Mahyco diizinkan untuk melakukan uji lapangan dengan varietas lokal yang dikawinsilangkan dengan 100 gram gen yang diimpor Mosanto. Segera, Monsanto ikut langsung dalam eksperimennya dengan membeli saham Mahyco,” ungkap Thomas dan De Tavernier. Kolase ilustrasi pertanian kapas di India. (People's Archive of Rural India). Dengan membeli 95 persen saham Mahyco, Monsanto leluasa menyetir perusahaan India itu. Berpegang pada izin dari Komite Peninjauan Rekayasa Genetik di bawah DBT yang sudah didapat Mahyco, dalam waktu singkat Monsanto memonopoli Bt Cotton untuk digunakan para petani kapas di India. Yang jadi pangkal permasalahannya adalah bibit GMO itu dipasarkan dengan harga delapan kali lipat dari harga bibit sebelumnya. Akibatnya petani butuh uang pinjaman lebih besar untuk bertani dan memanen. Mereka pun berpaling ke rentenir. Ketika kesulitan membayar, kesepakatan antara petani dengan rentenir adalah mereka menjual kapas dengan harga lebih murah kepada tengkulak yang bekerjasama dengan rentenir. Jebakan utang pun melilit para petani. Puluhan ribu petani yang tak bisa menahan diri memilih bunuh diri di mana mayoritas menenggak pestisida. Data Film: Judul: Percy | Sutradara: Clark Johnson | Produser: Daniel Bekerman, Ethan Lazar, Ian Dimerman, Garfield Lindsay Miller, Hilary Pryor, Brendon Sawatzky | Pemain: Christopher Walken, Roberta Maxwell, Adam Beach, Christina Ricci, Zach Braff, Martin Donovan, Luke Kirby | Produksi: Deepak Kumar Films, Grashopper + Marks Production, Mansa Productions, Productivity Media, Scythnia Films | Distributor: Mongrel Media | Genre: Drama Biopik | Durasi: 120 menit | Rilis: 16 September 2020, Mola TV

  • Pewarta Foto Historia Mendapat Penghargaan APFI

    FERNANDO Randy, pewarta foto Historia.ID , mendapat penghargaan dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2021, ajang tertinggi untuk pewarta foto tanah air. Dia memenangi Foto Esai Terbaik APFI 2021 kategori olahraga lewat artikel “Perjuangan Bangsa di Stadion VIJ”. Fotonya berbicara tentang salah satu lembar sejarah persepakbolaan tanah air. Penghargaan diberikan di Jakarta, Jumat, 2 April 2021. APFI kali ini melombakan 4.400 foto karya pewarta foto lintas media sepanjang 2019–2020. APFI sempat absen tahun lalu karena pandemi Covid-19. Dalam rilisnya, panitia menyebutkan penyelenggaraan APFI tahun ini penuh keterbatasan. Tapi itu tak mengurangi niat mereka untuk mengapresiasi capaian dan karya pewarta foto pada tahun yang berat itu. “ Segala kesulitan dan tantangan di masa pandemi tidak menyurutkan semangat dan komitmen organisasi profesi PFI untuk menghadirkan ajang penghargaan tertinggi jurnalis foto tanah air ini ,” kata panitia APFI. Dewan juri APFI terdiri dari jurnalis dan fotografer senior di media-media ternama. Mereka adalah Agus Susanto, pewarta foto Kompas ; Arief Suhardiman, editor foto The Jakarta Post ; Desi Fitriani, produser MetroTV ; Enny Nurhaeni, jurnalis senior; dan Oscar Motuloh, jurnalis senior. Nama-nama tadi sudah sohor sebagai sosok yang berdedikasi, berpengalaman, berintegritas, dan memiliki kedalaman dalam menghadirkan berita ke masyarakat. “Kualitas jajaran juri berbanding lurus dengan kualitas karya pemenang,” kata panitia APFI dalam rilisnya. Maka menjadi pemenang dalam APFI berarti sebuah capaian istimewa bagi para fotografer dan media yang meraihnya. “Dan yang lebih spesial lagi ternyata di tahun ini per kategori hanya punya satu pemenang. Tidak seperti tahun sebelumnya: satu kategori ada juara 1, 2, 3. Jadi ketat banget,” kata Fernando Randy. Nando, sapaan akrabnya, menuturkan dia sebenarnya masuk dalam dua nominasi pada APFI 2021. Satu karya lainnya juga termuat di Historia.ID  dan mengangkat kisah Ibu Sri Nasti Rukmawati, salah satu penyintas peristiwa pembantaian 1965. Karya ini masuk dalam kategori People in the News. “Walau nominasi, tetap bangga karena ketat sekali,” tutur Fernando. Untuk menghasilkan karya foto-foto stadion VIJ (Voetballbond Indonesia Jacatra), Nando berangkat dari pembacaannya tentang sejarah sepakbola tanah air. Kebetulan dia berdomisili dan bekerja di Jakarta. Dan di sini ada klub sepakbola dengan sejarah panjang: Persija yang punya nama lama VIJ. Karena itu, dia mengulik tonggak-tonggak masa lampau klub ini. Berbekal artikel Persija dari Masa ke Masa  dan Perjuangan MH Thamrin Lewat Sepakbola , Nando menyusuri bekas stadion milik Persija di kawasan Petojo, Jakarta Pusat. “Tempat itu punya cerita, punya sejarah. Terkadang kita hanya memandang tempat di sekitar kita itu biasa. Padahal banyak cerita di dalamnya seperti di VIJ. Dan sebagai sebuah kritik sosial: tempat yang menjadi salah satu perjuangan bangsa tapi tidak terawat,” ungkap Nando. Di tempat inilah dulu Mohammad Hoesni Thamrin, tokoh pergerakan nasional dari Kaoem Betawi, ikut menggelorakan nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonialisme lewat sepakbola. Dia menyumbang uang untuk memperbaiki lapangan Petojo agar bisa dipakai oleh VIJ. Masa itu, polarisasi antara pesepakbola anak negeri dan Eropa sangat kuat. Fasilitas berlebih tersedia untuk pesepakbola Eropa, sedangkan anak negeri hanya mendapat sedikit fasilitas. Akibatnya, kompetisi anak negeri sering terhambat karena ketiadaan stadion yang layak. Kompetisi masa itu juga terbagi dua untuk anak negeri dan Eropa. Karena itulah Thamrin bertekad membantu VIJ agar bisa mendapat fasilitas layak. Dia mengupayakan lapangan dengan tribun penonton dan ruang makan. Harapan itu terwujud pada 1936. Inilah lapangan Pulo Piun. Sampai sekarang masih berdiri dan bernama Lapangan Petojo. Dalam foto-fotonya, Nando menghadirkan suasana stadion VIJ hari ini. Tampak besi-besi berkarat, rumput yang mengering, cat yang kusam, tembok-tembok retak, dan kursi kayu tribun yang reyot. Tapi lapangan ini masih sering dipakai untuk latihan sekolah sepakbola dan klub setempat. Foto-fotonya yang lain memperlihatkan suasana di luar stadion VIJ. Anak kecil yang bersepeda dengan memakai kostum sepakbola dan aktivitas warga mencuci di luar tembok stadion. Bagi Nando, sejarah dan fotografi sesuatu hal yang tak terpisahkan. “Karena fotografi adalah medium komunikasi untuk medokumentasikan peristiwa sejarah yang akhirnya bisa kita pelajari sampai saat ini.” Agus Susanto, anggota dewan juri, berpendapat foto Fernando di Historia.ID telah membuka mata dan berhasil menerawang salah satu babakan sejarah sepakbola di tanah air. “Pencarian ide yang baru, riset dan penguasaan lapangan menjadi kunci foto cerita stadion yang berdiri sejak 1928 ini menarik perhatian juri,” kata Agus kepada Historia.ID . Foto ini juga sekaligus membuktikan bahwa foto olahraga tak melulu soal membekukan gerakan atlet dari kamera yang canggih.*

  • Jamaah Imran Mencari Senjata

    AKHIR Maret 1981. Pesawat Garuda DC-9 Woyla dibajak oleh lima lelaki Indonesia yang merupakan anggota Jamaah Imran. Nama itu mengacu kepada suatu kelompok Islam radikal pimpinan Imran bin Muhmmad Zein Sutan Sinaro. Kepada pemerintah Republik Indonesia (RI), para pembajak mengajukan beberapa tuntutan, di antaranya pemerintah RI  harus membebaskan 86 tahanan politik terkait gerakan Islam radikal. “Salah satunya adalah ketua Momok Revolusiener di Sumatra dan juga Abdullah Sungkar, pengkhotbah asal Solo yang (pernah) mengajak para pendukungnya memboikot Pemilu 1977,” ungkap Ken Conboy dalam Intel II: Medan Tempur Kedua. Sekira tiga minggu sebelumnya, Jamaah Imran pun telah melakukan penyerangan ke Pos Polisi Kosekta 8606 di wilayah Cicendo, Bandung. Akibat serangan tersebut, 3 anggota Polri langsung tewas seketika dan satu lainnya terluka parah. Selain itu, para penyerang berhasil membebaskan beberapa tahanan dan merampas dua pistol jenis Colt 38. Menurut Conboy, penyerangan itu dilaksanakan dengan berbekal senjata laras panjang berjenis M1 Garand, sepucuk pistol jenis FN 32 dan beberapa granat tangan. Senjata dan granat-granat tersebut merupakan hasil curian dari gudang senjata Sekolah Angkutan Militer di Cimahi. Sedangkan pistol dicuri dari seorang kolonel yang merupakan ayah dari salah seorang anggota Jamaah Imran. Pistol dari berbagai jenis itulah yang kemudian dipakai oleh lima anggota Jamaah Imran untuk membajak pesawat Garuda Woyla. Selain pistol, mereka pun menggunakan beberapa granat tangan dan dinamit. Awalnya Jamaah Imran melakukan berbagai aksi kekerasan hanya dengan menggunakan bayonet dan golok. Itu pernah mereka jalankan pada saat mereka mengupayakan sejumlah pembunuhan terhadap beberapa tokoh ulama Bandung yang dianggap pro pemerintah RI dan Kopral Dua Nadjamuddin, seorang anggota ABRI yang dianggap anggota intelijen pemerintah yang disusupkan ke jaringan mereka. Semua upaya pembunuhan itu tak pernah berhasil. Kecuali aksi yang dilakukan terhadap Kopral Dua Nadjamuddin yang berhasil ditusuk secara beramai-ramai hingga tewas. Saat itu yang bersangkutan memang sengaja diundang untuk ikut pengajian kecil mereka. Dari berbagai aksi yang gagal itulah, Imam Im (panggilan akrab para pengikut Imran) sampai pada satu kesimpulan bahwa mereka memerlukan senjata api. Maka keluarlah “fatwa” dari sang imam agar para pengikutnya harus mendapatkan senjata api dengan berbagai cara. Upaya pertama dijalankan dengan membuat sendiri sejenis pistol berpeluru jarum beracun. Itu diupayakan oleh seorang anggota Jamaah Imran bernama Muhammad Amin. Lelaki kelahiran Mojokerto pada 1957 itu kemudian meminta kepada Sueb (seorang anggota Jamaah Imran yang pandai merakit senjata) untuk membuatkan “senjata rahasia” yang akan digunakan Amin membunuh sejumlah tokoh pemerintah, termasuk Mayor Jenderal (Purn) Amir Murtono yang saat itu merupakan Ketua Umum Golkar (Golongan Karya). “Saya diperintahkan Haji Yusuf (orang dekat Imran),” ungkap Amin seperti dikutip buku Imran: Dari Hukum sampai Islam  terbitan Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta. Selain membuat sendiri, senjata-senjata maut milik Jamaah Imran juga didapatkan dari hasil mencuri. Secara khusus, Imam Im “mendoktrin” beberapa anggota jamaah-nya yang memiliki ayah yang berprofesi sebagai anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Mereka kemudian diperintahkan untuk menyusup ke gudang senjata milik ABRI atau mencuri secara langsung senjata milik orangtua mereka. Imam Im juga memerintahkan pengikutnya untuk merampas senjata dari para anggota Polisi Lalu Lintas (Polantas) yang tengah menunaikan tugas-nya di jalanan. Cara itu pernah dipraktekkan oleh dua anggota Jamaah Imran yakni Muthalib dan Mahrizal (pimpinan pembajak pesawat Garuda Woyla). Pada suatu hari, sebelum operasi pembajakan dilakukan, Muthalib dan Mahrizal mendatangi Pos Polisi di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Aksi itu terekam dalam dialog antara majelis hakim dengan Muthalib yang merupakan salah satu saksi dalam pengadilan Imran bin Muhammad Zein Sutan Sinaro pada Februari 1982: “Bagaimana hasil mencari senjata di Suropati itu?” tanya Hakim Soebandi, S.H. “Saya disuruh mengintip polisinya, sedang Mahrizal merayap mau menggetok kepala polisi itu,” jawab Muthalib yang langsung disambut tawa riuh penonton sidang. “Ya… Lalu bagaimana?” tanya Hakim lagi. “Lagi asyiknya Mahrizal merayap, saya colek pantatnya, (saya bilang): Sstt! Polisinya melihat saya, awas nanti kita ditembak. Akhirnya kami berlari. Enggak jadi rampok senjata.” Ruang sidang pun kembali dipenuhi tawa riuh. “Apa benar polisinya melihat saudara saksi?” “Tidak Pak Hakim. Cuma karena saya takut, saya kasih tahu begitu. Habis saya ngeri, kaki saya gemetaran,” ungkap Muthalib. Untuk kesekian kalinya, para pengunjung pun tertawa mendengar kepolosan Muthalib.*

  • Ketika Eks KNIL Menyerang Markas APRIS

    KEJADIAN tak terduga terjadi di Mabes Polri, Jakarta, Rabu sore (31/03/2021). Seseorang menerobos masuk dan mengancam petugas polisi dengan senjata api. Dia berkeliaran di sekitar pos jaga, sambil mengacungkan senjatanya. Dari rekaman video amatir di lokasi kejadian, terlihat pelaku beberapa kali mengeluarkan tembakan. Tidak lama pelaku tiba-tiba roboh. Dia berhasil dilumpuhkan oleh petugas. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi mendapati informasi bahwa pelaku merupakan perempuan berusia 25 tahun berinisial ZA. Dia tinggal di Ciracas, Jakarta Timur, bersama kedua orang tuanya. Pelaku adalah eks mahasiswa salah satu kampus swasta, yang  drop out  pada semester lima. Dilansir laman BBC , saat melakukan serangan, ZA membawa map kuning berisi “amplop bertuliskan kata-kata tertentu”. “Dan yang bersangkutan memiliki  Instagram  yang baru dibuat atau diposting 21 jam yang lalu. Di mana di dalamnya ada bendera ISIS dan ada tulisan terkait bagaimana perjuangan jihad,” kata Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Kapolri menerangkan ZA bertindak seorang diri. Dia masuk ke kompleks Mabes Polri dengan berjalan kaki melalui pintu belakang. Sampai di pos utama di gerbang utama Mabes Polri, ZA bertanya letak kantor pos. Petugas yang berjaga lalu menunjukkan arahnya. Tidak lama setelah beranjak dari pos, ZA kembali lagi. Saat itulah penyerangan terjadi. Menurut Kapolri, ZA melakukan enam kali penembakan. Dua kali ke anggota polisi di dalam pos, dua kali di luar, dan tembakan lainnya diarahkan kepada anggota yang ada di belakangnya. Dalam sejarah, peristiwa penyerangan terhadap markas aparat bersenjata juga pernah terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1950. Kala itu, markas Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) dihujani tembakan senjata berat oleh eks anggota KNIL. Meski dilakukan secara berkelompok -tidak seperti kasus ZA di Mabes Polri- kasus penyerangan di markas APRIS juga tergolong nekat karena perbedaan persenjataan di kedua kubu. Ditambah adanya kesamaan rasa simpatik berlebihan kepada kelompok tertentu. Jika ZA kepada kelompok radikal ISIS, eks anggota KNIL memiliki kecintaan berlebih kepada Kerajaan Belanda. Penyerangan terhadap markas APRIS terjadi pada 5 Agustus 1950. Saat penyerangan terjadi, para pembesar militer Indonesia dan Belanda di Makassar sedang melakukan pertemuan. Mereka membahas soal insiden-insiden yang melibatkan bekas tentara Belanda sejak permulaan 1950 yang menimbulkan keresahan, serta menyulut kemarahan rakyat Makassar. Dijelaskan dalam buku  Republik Indonesia: Provinsi Sulawesi , terbitan Kementerian Penerangan RI, selama bulan Mei hingga Juli anggota KNIL terus-menerus memberikan kesulitan bagi rakyat dengan berbagai tindakan kejamnya. “Bendera-bendera kebangsaan disekitar kampemen-kampemen mereka turunkan, dan akhir-akhir ini  (mereka) membunuh dengan kejam seorang perwira Indonesia yang berada di dekat kampemen mereka untuk mengunjungi keluarganya. Pihak pimpinan tentara Indonesia di Makassar selalu mengambil sikap yang bijaksana terhadap tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab itu,” tulis Kementerian Penerangan. Pertemuan para pemimpin militer itu dilakukan untuk meredakan suasana yang selalu memanas di antara kedua kubu. Sekira pukul 4 sore, tercapai kesepakatan antara militer Indonesia dan Belanda. Salah satunya pihak Indonesia bersedia menenangkan rakyat Makassar untuk mengakhiri boikot terhadap orang-orang Belanda. Sementara militer Belanda berjanji mengakhiri teror anggota eks KNIL dan menyerahkan persenjataan yang mereka gunakan unuk mengancam rakyat. Namun menjelang pukul 6 sore, sekelompok orang datang ke markas APRIS. Mereka adalah anggota bekas KNIL yang belakangan menebar teror kepada rakyat, serta bekas pasukan pemberontakan Andi Azis. Jumlahnya cukup banyak, dengan persenjataan yang lengkap. Dalam buku terbitan Subdisjarah Diswatpersau,  Sejarah TNI Angkatan Udara: 1950-1959 , para penyerang juga membawa kendaraan-kendaraan berat, panser,  scout car ,  hamber ,  brencarrier , dan tank. Serangan mereka dimulai dengan menembakkan mortir ke bangunan utama markas dan asrama-asrama militer. Kemudian mereka mengerahkan pasukan infanteri untuk menembus pertahanan markas.  “Bekas-bekas KNIL yang menyerang pada tanggal 5/8/1950 malam menjalankan banyak pembunuhan-pembunuhan yang kejam terhadap rakyat dan anggota tentara Indonesia, merampok toko-toko dan rumah-rumah, dan membakari pula banyak rumah-rumah di Makassar,” imbuh Kementerian Penerangan. Persitiwa penyerangan itu membuat militer Indonesia geram. Pada 6 Agustus 1950, pertempuran antara militer Indonesia dan eks tentara KNIL pecah. Saling balas serangan menggunakan senjata berat terjadi di hampir seluruh wilayah Makassar. Pihak Republik juga segera menerjunkan bantuan besar ke Makassar untuk meredam serangan para pemberontak tersebut. Pada 7 Agustus 1950, Mayor Jenderal Scheffelaar dan Kolonel A.E. Kawilarang tiba di lapangan terbang Mandai. Keduanya datang ke Sulawesi Selatan untuk menghentikan pertempuran yang sedang berlangsung di Makassar. Keesokan harinya, dengan disaksikan peninjau-peninjau militer, serta komisaris Kerajaan Belanda, Kawilarang dan Scheffelaar sepakat menghentikan pertempuran. “Disetujui bahwa anggota KL (KNIL) yang tidak tunduk pada perintah Scheffelaar akan kehilangan kedudukannya sebagai KL dan bahwa anggota-anggota KL segera akan meninggalkan Makassar setelah alat-alat tentara diserahkan kepada tentara Indonesia,” tulis Kementerian Penerangan. Tepat setelah hasil perundingan diumumkan, pada 8 Agustus 1950, pertempuran berhenti. Sebagian anggota eks KNIL yang membangkan diusir dari Makassar, sementara lainnya memilih bertahan untuk tinggal di markas militer Belanda. Sejak itu kondisi di Makassar mulai membaik dan kehidupan rakyat kembali normal.*

  • Ketika Soeharto Bertemu Musso

    SURAKARTA, September 1948. Di jembatan Jurag, hari itu Kapten Imam Sjafi’i dari Brigade ke-13 Kesatuan Reserve Umum (KRU) Divisi Siliwangi menangkap seorang perwira yang dicurigai bagian dari pasukan komunis. Tadinya, Sjafi’i (kelak menjadi menteri urusan keamanan di era Kabinet 100 Menteri), akan langsung mengeksekusi sang opsir tersebut, namun muncul ide untuk meminta izin terlebih dahulu kepada wakil komandan-nya, Mayor Omon Abdurrachman.

  • Safari Ahmad Subardjo di Uni Soviet

    PADA suatu pagi di bulan Oktober 1927, sebuah kapal penumpang berangkat dari kota pelabuhan Stettin menuju lautan Baltik, dengan tujuan akhir Leningrad di Uni Soviet. Hari itu udara begitu dingin, dan angin bertiup cukup kencang. Hawanya semakin menusuk kala kapal bergerak menuju tengah lautan. Gelombang besar silih berganti menghantam badan kapal, membuat isi di dalamnya berguncang dan menghadirkan kengerian bagi para penumpangnya. Pemandangan tersebut juga dirasa cukup menakutkan bagi Ahmad Subardjo, terlebih ketika banyak awak kapal menderita mabuk laut sewaktu sedang makan malam. Ahmad Subardjo saat itu sedang dalam perjalanan menuju Moskow. Dia dan kawannya bernama Sulaiman, mendapatkan undangan dari pemerintah Uni Soviet untuk hadir mewakili Perhimpunan Indonesia dalam acara peringatan ulang tahun ke-10 Uni Soviet pada November 1927. Perayaan tersebut akan dihadiri pula oleh pemimpin-pemimpin gerakan kemerdekaan dari berbagai belahan dunia, tokoh-tokoh terkemuka, serta wakil dari organisasi-organisasi yang turut serta dalam Kongres Brussel. Setelah melewati beberapa malam di atas kapal, Subardjo dan Sulaiman tiba di Leningrad. Sejumlah utusan pemerintah Soviet menyambut kedatangan mereka, dan langsung membawa keduanya ke sebuah gedung besar di pusat kota. Menurut Subardjo dalam keterangan di otobiografinya,  Kesadaran Nasional Sebuah Otobiografi , bangunan megah nan indah yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama di Leningrad itu merupakan rumah bekas bangsawan Rusia zaman Czar. Subardjo lalu diminta mengisi beberapa dokumen, sambil beristirahat, sebelum memasuki acara utama. “Di meja persegi kami duduk berempat, dua pengantar orang Rusia, Sulaiman dan saya. Saya kira pengantar tersebut adalah petugas-petugas rahasia, kesimpulan mana dapat kami ambil, karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menyangkut riwayat hidup, keadaan mental kami dan sebagainya. Akan tetapi mereka sangat sopan dan menerangkan kepada kami mengenai perayaan ulang tahun ke-10 Uni Soviet,” kata Subardjo. Selama tiga hari di Leningrad, Subardjo menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berbagai macam hiburan. Dia pergi ke sebuah pertunjukkan opera musik khas Soviet pada hari pertama, dan menghabiskan malam di sana. Hari berikutnya dia ikut bersama rombongan berwisata ke tempat-tempat bersejarah di kota. Subardjo dan Sulaiman mengunjungi Istana Musim Dingin, tempat bentrokan sewaktu  terjadi Revolusi Oktober; pabrik-pabrik zaman Czar; dan ikon-ikon kota Leningrad lainnya. Hari ketiga, Subardjo bersiap menuju Moskow, tempat dilangsungkannya perayaan HUT Uni Soviet, dengan menumpang kereta api. Setiba di stasiun Moskow, rombongan tamu undangan disambut upacara sederhana dari perwakilan pemerintah Soviet. Sesudah itu, rombongan dibawa ke sebuah hotel di pusat kota, dekat kantor pos Moskow. Di ruang makan hotel, Subardjo berkenalan dengan seorang perwakilan dari Syria, Amir Shakib Arsalan. Amir adalah seorang sarjana muslim tekemuka yang becita-cita menghidupkan kembali kebangkitan Islam. Dari temannya di Aljazair, Subardjo juga mendengar bahwa Amir sangat gigih dalam memperjuangkan kebangkitan kaum Muslimin. Suatu waktu, Subardjo diundang berbicara sebagai salah seorang perwakilan undangan di gedung Teater Bolshoi. Di sana dia berkesempatan mendengar secara langsung gagasan dan pemikiran Amir tentang konsepsi Islam. Dalam sebuah pidato Amir membicarakan tentang pembagian kekayaan antara massa yang bekerja keras. Menurut Subardjo, pidato Amir sangat diplomatis, kalimat yang dilontarkan pun tidak membenturkan ideologi komunis dan Islam. Pidatonya mendapat sambutan meriah dari para hadirin yang hadir, termasuk Sulaiman yang seorang Muslim taat dengan pemikiran anti-komunisnya. Beberapa tahun sesudah pertemuan pertama itu barulah Subardjo mengetahui kalau Amir Shakib Arsalan adalah: “Dewa terkenal dalam kalangan internasional dan tidak hanya seorang ahli besar dalam sejarah Islam, kebudayaan, dan perdaban, akan tetapi berpengalaman dalam menggunakan tidak hanya bahasa-bahasa Timur, tetapi juga bahasa-bahasa Barat. Ia telah mengadakan perjalanan di seluruh dunia, dan mempelajari keadaan orang-orang Muslim dari dekat,” tulis Subardjo. Selain pejuang Muslim dari Syria, Subardjo juga berkawan dengan pejuang, sekaligus bangsawan Rusia terkemuka bernama Georgy Vasilyevich Chicherin dan seorang politisi perempuan Rusia bernama Alexandra Mikhailovna Kolontai. Pertemuan itu terjadi dalam sebuah resepsi malam yang megah di Kremlin. Dalam bahasa Jerman, Chicherin mengatakan kepada Subardjo bahwa dia tertarik dengan Indonesia. Meski belum pernah berkunjung langsung, dia banyak mengetahui kondisi tanah Hindia yang tengah dilanda ketidakadilan dari buku Max Havelaar . Chicherin mempunyai kedudukan penting sebagai bangsawan Rusia. Perasaan kemanusiaannya membuat dia banyak mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat. Chicherin terlibat langsung dalam revolusi Oktober sebagai diplomat di kubu partai Bolshevik. Sama halnya dengan Chicherin, Kolontai juga tergolong kelas atas di kalangan bangsawan Rusia. Dia aktif dalam berbagai gerakan revolusioner di dalam dan di luar Rusia. Sewaktu revolusi pecah, Kolontai ada di kubu orang-orang Bolshevik. Dia memegang jabatan penting pada pemerintah Soviet pertama, yakni Komisaris Departemen Kesejahteraan Sosial. “Dalam berita-berita di Negeri Belanda saya membaca keterangan sejarah dari Nyonya Kolontai. Gambaran saya terhadap nyonya tersebut tidak banyak berbeda pada waktu ia berdiri di depan saya, tersenyum dan berjabat tangan dengan hangat,” terang Subardjo. Selama kurang lebih sepuluh hari tinggal di Soviet, Subardjo menyaksikan secara langsung panasnya situasi politik di negeri berjuluk Beruang Merah tersebut. Rasa simpati dan antipati masyarakat terhadap para pemimpin di sana memberi kesan yang dalam bagi Subardjo. Dia menyebut bahwa kondisi itu terjadi akibat sikap saling mencurigai dan membenci di antara tokoh-tokoh besar Uni Soviet.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page